Search the web
Sign In
New User? Sign Up
ppiindia · Milis Nasional Indonesia Internasional
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want to share photos of your group with the world? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Menguak Sejarah Ilmu Kentut, Flatologi (Bagian 1 + 2)   Message List  
Reply | Forward Message #95102 of 97132 |
Refleksi : Akan diteruskan dengan sejalah Shitologi :-))

http://www.hidayatullah.com/berita/tafakur/8674-menguak-sejarah-ilmu-kentut-flat\
ologi-bagian-1.html


Menguak Sejarah Ilmu Kentut, Flatologi (Bagian 1)
Friday, 10 July 2009 20:06 usamah

Tak banyak yang tahu sejarah ilmu kentut. Padahal, bidang itu kini diteliti
serius ilmuwan mancanegara.



oleh: Catur Sriherwanto

Hidayatullah.Com - Tertawa, tersenyum, atau perasaan geli. Barangkali itu yang
muncul seketika dalam diri seseorang saat mendengar kata atau bunyi kentut, gas
buangan anus. Setelah itu, orang mungkin melupakan begitu saja bahasan ini,
dijadikan bahan tertawaan dan senda gurau lebih lanjut atau bersikap biasa saja.
Seolah barang yang satu ini tercipta sebagai benda biasa, atau bahkan barang
cemoohan, senda gurau, main-main, sehingga terkesan tanpa makna atau memiliki
arti buruk.

Namun, benarkah demikian? Jika Pencipta gas perut itu adalah Sang Mahakuasa,
Maha Berilmu dan Maha Sempurna, Yang mencipta setiap sesuatu untuk tujuan pasti
yang serius dan bukan untuk main-main, maka sudah pasti sikap mudah mencemooh
barang seperti kentut tidaklah tepat. Sebab, itu berarti mencemooh salah satu
ciptaan Allah yang Dia ciptakan dengan segenap kesempurnaan dan kehebatan luar
biasa. Dan Allah Yang Mahaluas ilmu-Nya menciptakan segenap ciptaan-Nya bukan
untuk tujuan agar dicemoohkan manusia yang pengetahuannya tidak seberapa itu.

Kesempurnaan serta pengetahuan tak terbatas seputar kentut hanya akan didapati
orang-orang yang mau menggunakan akalnya dan berupaya dengan sungguh-sungguh
untuk meneliti gas perut itu. Sebaliknya, kelalaian mensyukuri nikmat akal dan
pikiran, akan membuat orang mudah terlena, tidak menggunakan akalnya sebagaimana
mestinya dengan perilaku tidak serius dan tidak tepat. Bahkan ada yang sampai
menjadikan kentut sebagai bahan olok-olok atau tertawaan.

Uraian di bawah ini mengisahkan sejarah ilmu kentut, atau yang diistilahkan
sebagai Flatologi (Flatology, the science of flatulence). Kemunculan dan
perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhubungan dengan gas
keluaran usus ini menjadi saksi akan segudang hal luar biasa dari kentut,
beserta ilmu dan pengetahuan mahaluas dari sang Penciptanya. Di samping itu,
banyak pelajaran baik darinya yang dapat dijadikan panutan, di antaranya agar
manusia tidak mudah meremehkan ciptaan Allah apa pun, bahkan seremeh kentut.


Sang dokter kentut

Sejarah modern ilmu kentut tidak dapat dilepaskan dari sang perintisnya, Dr.
Michael D. Levitt. Dr Levitt digelari "Dokter Kentut", karena dialah salah
seorang pakar terkemuka dunia di bidang ilmu pengetahuan tentang gas perut itu.
Lebih dari 250 tulisan ilmiah mengenai kentut telah terbit di jurnal-jurnal
kedokteran, di mana Dr. Levitt sebagai penulis utama atau pendamping.

Dr. Levitt adalah seorang ahli gastroenterologi yang tercatat bekerja di the
Veterans Affairs Medical Center, Minneapolis, Amerika Serikat. Gastroenterologi
adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari sistem pencernaan makanan dan
penyakit-penyakit yang berhubungan dengannya. Tak heran jika kentut erat sekali
kaitannya dengan bidang ini pula. Kentut adalah sebuah nikmat luar biasa yang
diciptakan pada manusia, yang dengannya tubuh membebaskan usus besar dari
gas-gas yang tak dikehendaki dan menghilangkan tekanan yang tak diinginkan dari
dalam usus.


Berawal dari kentut bermasalah

Kisah asal mula kemunculan ilmu kentut bukanlah sesuatu yang sengaja dirancang
dari awal. Suatu ketika pada tahun 1976 Dr. Levitt didatangi oleh seorang pasien
yang selama 5 tahun telah menderita kelainan berupa kentut berlebihan. Sejak
tahun 1971, sang pasien yang kala itu berusia 28 tahun mengaku telah melepaskan
gas perut dalam jumlah berlebihan, jauh melebihi yang sebelum-sebelumnya.

Ini bukan sekedar pengakuan lugu sang pasien. Lebih dari itu, layaknya seorang
peneliti, sang pasien mencatat dengan cermat gas keluaran duburnya itu selama 2
tahun belakangan. Ketika catatan ini ia tunjukkan kepada Dr. Levitt, sang dokter
pun terkejut. Betapa tidak, berdasarkan data kentut itu, sang pasien
menyemburkan gas perutnya 34 kali perhari, bahkan beberapa hari bisa mencapai 40
kali.

Dr. Levitt ternyata tidak kuasa menanggapi data-data kentut yang diperlihatkan
sang pasien itu. Mengapa? Sederhana saja, sang dokter tidak memiliki data
mengenai kentut pada orang sehat atau normal. Sehingga dia tidak dapat
membandingkan tingkat keseringan kentut sang pasien itu dengan tingkat
keseringan kentut pada orang sehat. Jadi, sudah pasti sulit mengatakan dengan
penuh keyakinan bahwa si pasien itu sehat atau sakit, mengalami kelainan atau
tidak mengidap penyakit. Ini karena sang dokter tidak tahu, bagaimana data-data
kentut seperti itu kalau pada orang sehat

Untuk mencari jalan keluar, Dr. Levitt pun lalu merekrut sejumlah orang sehat
untuk mengumpulkan data-data penting mengenai kentut mereka (bersambung).

++++

http://www.hidayatullah.com/berita/tafakur/8701-menguak-sejarah-ilmu-kentut-flat\
ologi-bagian-2.html



Menguak Sejarah Ilmu Kentut, Flatologi [Bagian 2]
Sunday, 12 July 2009 12:14

Perkembangan flatologi dimulai dengan meneliti gas perut orang sehat, tentang
jumlah maupun campuran gasnya.


oleh: Catur Sriherwanto

Hidayatullah.Com - Di tulisan bagian ke-1 yang dimuat Hidayatullah.Com
sebelumnya telah diuraikan bagaimana penelitian tentang kentut berawal dari
datangnya seorang pasien penderita kentut berlebihan kepada Dr. Levitt di tahun
1976. Sang pakar yang di kemudian hari digelari "Dokter Kentut" ini tidak mampu
menanggapi data mengenai gas perut yang dicatat oleh si pasien itu sendiri
selama dua tahun terakhir. Ini karena sang dokter tidak memiliki data serupa
untuk orang sehat sebagai bahan perbandingan.

Dr. Levitt tidak mampu memutuskan apakah sang pasien menderita penyakit
pencernaan atau tidak, lantaran data perilaku gas perut untuk orang sehat
belumlah ada kala itu. Inilah yang mendorong penelitian dalam rangka
mengumpulkan informasi ilmiah mengenai seluk beluk kentut orang sehat.

Gasnya orang sehat

Dalam rangka meneliti gangguan buang angin berlebihan, aneka pengetahuan dan
data seputar gas perut yang wajar, yang ada pada orang sehat, perlu didapatkan.
Maka mulailah sang dokter mengumpulkan tujuh orang relawan yang diminta
melakukan pembukuan mengenai seluk beluk gas hembusan bagian bawah tubuh mereka.
Setidaknya selama sepekan mereka diperintahkan mencatat seberapa sering mereka
melakukan pelepasan gas usus, dan kapan letupan itu terjadi.

Ketika data kentut relawan sehat itu telah terkumpul, menjadi jelaslah bahwa
perilaku buang angin ketujuh orang relawan itu berbeda dengan sang pasien. Para
relawan melepaskan gas perutnya rata-rata 13,6 kali per hari, tanpa perbedaan
statistik nyata dikarenakan usia, jenis kelamin atau perbedaan lain. Bahkan
angka tertinggi pelepasan kentut orang normal pun kurang dari 20 kali per hari.
Jadi angka ini benar-benar jauh lebih rendah dari yang dialami sang pasien,
yakni 34 kali per hari. Artinya sang pasien memang mengalami ketidakwajaran,
alias mengidap gangguan kesehatan.

Namun data yang sebatas pada tingkat keseringan dilepaskannya hawa perut ini
tidaklah cukup. Diperlukan data tambahan mengenai besaran atau volume gas yang
dihembuskan oleh salah satu lubang bawah manusia itu pada setiap kali semburan.
Melalui selang yang terhubungkan dengan anus dan tabung suntikan, maka diperoleh
besaran volume gas kentut untuk ukuran orang normal.

Orang ukuran rata-rata membuang angin perutnya sebanyak 500 hingga 2.000
mililiter per hari, kata Dr. Levitt. Jika dihitung, maka didapatkan angka
rata-rata 35 hingga 90 untuk sekali semburan. Dibandingkan dengan angka normal
ini, maka pasien yang sedang ditangani sang dokter itu ternyata memang
memuntahkan gas perut melebihi ambang batas kewajaran, yakni mencapai angka
rata-rata 5.520 mililiter per hari, atau 162 mililiter setiap kali buang angin.

Gara-gara 1%

Dari pembandingan data mengenai tingkat keseringan dan volume gas, jelas bahwa
sang pasien memang mengalami gangguan kesehatan. Namun sebelum melakukan
penanganan kepada pasien itu, Dr. Levitt sadar bahwa ia mesti melakukan
pengkajian lebih lanjut, yakni bukan sekedar mengenai jumlah gas kentut, tapi
juga unsur-unsur alias komposisi atau mutu gas kentut itu.

Menariknya, berdasarkan telaah yang dilakukan Dr. Levitt pada gas perut yang
berhasil ditangkap dan dikumpulkan, gas ini ternyata dapat pula tidak berbau.
Sekitar 99 persennya adalah karbon dioksida, hidrogen, nitrogen, oksigen, dan
metana. Gas-gas ini telah dikenal luas dan sama sekali tidak berbau. Kebanyakan
gas ini berasal dari gas yang kita telan tanpa sengaja di saat memakan makanan
atau gas yang dibebaskan oleh makanan saat makanan itu tercerna di saluran
pencernaan manusia.

Lalu untuk gas beraroma tidak sedap, dari mana sumber bau itu? Ternyata 1%
sisanya itulah yang menyumbangkan biang aroma busuk pada keseluruhan gas
keluaran manusia tersebut. Gas yang jumlahnya sekedar 1% ini memang benar-benar
berbeda, dan berasal dari sumber yang sangat lain pula. Bagaimanakah kisah awal
mula kemunculan gas beraroma tidak sedap itu?

Sampah gas

Sebagaimana makhluk hidup lain, tubuh manusia menjadi tempat hunian jutaan
mikroorganisme yang hidup pada rambutnya, pori-porinya dan bahkan di dalam organ
tubuh bagian dalamnya. Salah satu tempat di mana terdapat banyak sekali mikroba
ini adalah saluran pencernaan manusia, dan jenis mikroba paling terkenal adalah
E. coli, di samping kerabatnya lain yang kurang tenar, yakni Klebsiella dan
Clostridium.

Semua makhluk hidup ini menghuni sebagian besarnya di usus besar, yakni bagian
usus yang paling dekat dengan lubang anus. Di sini, mikroba ini menguraikan dan
memakan makanan-makanan yang belum tercerna di saluran makanan bagian atasnya.
Ketika mengonsumsi makanan tersebut, sang mikroba lalu membuang sampah pula yang
berupa gas. Gas-gas ini ada yang mengandung unsur belerang seperti dimetil
sulfida dan mentantiol. Kedua gas ini memiliki bau tidak sedap.

Ketika terkumpul hingga jumlah tertentu, maka gas limbah yang dihasilkan mikroba
ini akan disemburkan keluar bersama-sama dengan gas-gas lainnya yang ada di usus
besar. Meskipun ada dengan kadar teramat sangat rendah dibandingkan gas
selebihnya yang tidak berbau, gas busuk ini mampu memberi aroma tidak bersahabat
pada keseluruhan campuran gas yang dilepaskan anus. Ini menjadi saksi betapa
unsur gas biang bau itu memiliki tingkat kebusukan luar biasa, serta membuktikan
pula betapa hebatnya kepekaan hidung ciptaan Allah yang mampu dengan segera
mengenali keberadaannya.

Namun tidak semua peristiwa letusan gas perut berdampak penyebaran bau tidak
sedap di sekeliling. Dengan kata lain, sebagian orang leluasa menghembuskan hawa
perutnya yang nyaris tak beraroma sekehendak hati tanpa ada yang tahu. Namun
sebagian lagi melepaskan gas buangannya dengan bau yang bahkan tidak kuasa
ditahan hidungnya sendiri. Lalu, apa yang menyebabkan perbedaan ini, dan juga
perbedaan-perbedaan lain, misalnya dalam hal keseringan dan volume gasnya?
(bersambung)



[Non-text portions of this message have been removed]




Sun Jul 12, 2009 7:23 pm

ambon@...
Send Email Send Email

Forward
Message #95102 of 97132 |
Expand Messages Author Sort by Date

Refleksi : Akan diteruskan dengan sejalah Shitologi :-)) http://www.hidayatullah.com/berita/tafakur/8674-menguak-sejarah-ilmu-kentut-flatologi-bagian-1.html ...
sunny
ambon@...
Send Email
Jul 12, 2009
7:26 pm
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help