Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pesantren · Pesantren Virtual
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want your group to be featured on the Yahoo! Groups website? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 1 - 30 of 933   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#30 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Wed Sep 15, 1999 1:35 am
Subject: Fiqih Keseharian(21): BENCANA ALAM, ANTARA YANG ILMIAH DAN MISTIK
pesantren@...
Send Email Send Email
 

BENCANA ALAM, ANTARA YANG ILMIAH DAN MISTIK
 
Pesantren Virtual
Fiqih Keseharian seri ke-21, 15 September 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Seringnya terjadi bencana alam akhir-akhir ini, termasuk banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah kita Jawa Tengah, mengundang komentar dan penafsiran yang bermacam-macam. Ada yang berbau ilmiah, ada pula yang berbau mistik, bagaimana menurut kacamata Pak Mus?
 
Rukmini
Ngaliyan
 
Jawab:
Wah, kacamata saya itu made in Pesantren, mbak Ruk. Saya melihat bencana-bencana alam yang umumnya di luar kemapuan manusia untuk mengelakkannya itu adakalanya merupakan peringatan atau cobaan dari Allah, adakalanya azab dari-Nya. Kalau itu merupakan peringatan dan cobaan, syukurlah kital berarti kita masih diperhatikan-Nya. Tinggal bagaimana kita mawas diri sebagai hamba-hamba-Nya. Apakah kita menyadari kesalahan-kesalahan yang karenanya kita diperingatkan, lalu kita segera memperbaikinya dan menerima penuh tawakal cobaannya itu, atau tidak? Sebab kalau kita dlurung, hanya terkesiap dan prihatin sebentar kemudian tetap terus dalam kesalahan-kesalahan kita, tidak mustahil yang datang berikutnya tak lagi peringatan, tapi azab. Na'uudzu billaah!
 
Dari ayat-ayat Al-Quran maupun hadis-hadis Nabi Saw. yang saya ketahui, bencana-bencana yang menimpa manusia itu memang "diciptakan" oleh manusia sendiri. Allah memberi nikmat kepada manusia dan manusialah yang mengubahnya menjadi malapetaka. Firman Allah Swr., antara lain:
 
"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS 8. Al-Anfaal: 53)
 

"..Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa (nikmat) yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri..."
(QS 13. Ar-Ra'd: 11)
 
Ada dua sikap manusia yang mengundang siksa Tuhan turun. Pertama, tidak ada saling menegur. Tidak ada yang menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tak ada yang menegur kemungkaran yang dilihatnya. Perzinahan, judi, penggelapan, kesewenang-wenangan, dan kemaksiatan-kemaksiatan lain didiamkan berlaku di depan mata. Dan memang sulit diharapkan adanya saling tegur, saling mengingatkan, saling ber-amar makruf nahi mungkar, dari kelompok manusia yang tidak saling berhubungan secara batini, tidak saling mengasihi, tidak saling ngeman.
 
Kedua, tidak merasa berdosa. Ketika Abu Jahal dengan congkak berkata: 'Ya Tuhan, jika apa yang diajarkan Muhammad ini benar, hujanilah kami bebatuan dari langir atau turunkan azab yang hebat kepada kami!' turunlah ayat 32-33 surah 8. Al-Anfaal:
 

"Ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: 'Ya Tuhan, jika benar (Al-Quran) ini haq dari sisi-Mu, maka hujanilah kami bebatuan dari langit atau datangkanlah kami azab yang sangat pedih. Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selagi kamu (Muhammad) ada di tengah-tengah mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (beristighfar)."
 
Dari sinilah ulama berpendapat bahwa istighfar (minta ampun kepada Allah) bisa untuk menolak balaa. Tapi orang yang  ber-istighfar itu kan yang merasa berdosa.
 
Wallaahu A'lam.[]

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#29 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Tue Sep 14, 1999 11:49 am
Subject: Futuuhul Ghaib(pengantar-lanjutan 2)
pesantren@...
Send Email Send Email
 

Pesantren Virtual
Futuuhul Ghaib (Penyingkap Kegaiban)
 
BELAJAR DI BAGHDAD
Selama belajar di Baghdad, karena sedemikian jujur dan murah hati, ia terpaksa mesti tabah menderita. Berkat bakat dan kesalehannya, ia cepat menguasai semua ilmu pada masa itu. Ia membuktikan diri sebagai ahli hukum terbesar di masanya. Tetapi, kerinduan ruhaniahnya yang lebih dalam gelisah ingin mewujudkan diri. Bahkan di masa mudanya, kala tenggelam dalam belajar, ia gemar musyahadah *).
 
Ia sering berpuasa, dan tak mau meminta makanan dari seseorang, meski harus pergi berhari-hari tanpa makanan. Di Baghdad, ia sering menjumpai orang-orang yang berfikir serba ruhani, dan berintim dengan mereka. Dalam masa pencarian inilah, ia bertemu dengan Hadhrat Hammad, seorang penjual sirup, yang merupakan wali besar pada zamannya.
 
Lambat laun wali ini menjadi pembimbing ruhani Abdul Qadir. Hadhrat Hammad adalah seorang wali yang keras, karenanya diperlakukannya sedemikian keras sufi yang sedang tumbuh ini. Namun calon ghauts ini menerima semua ini sebagai koreksi bagi kecacatan ruhaninya.

LATIHAN-LATIHAN RUHANIAH
Setelah menyelesaikan studinya, ia kian keras terhadap diri. Ia mulai mematangkan diri dari semua kebutuhan dan kesenangan hidup. Waktu dan tenaganya tercurah pada shalat dan membaca Qur'an suci. Shalat sedemikian menyita waktunya, sehingga sering ia shalat shubuh tanpa berwudhu lagi, karena belum batal.
 
Diriwayatkan pula, beliau kerapkali tamat membaca Al-Qur'an dalam satu malam. Selama latihan ruhaniah ini, dihindarinya berhubungan dengan manusia, sehingga ia tak bertemu atau berbicara dengan seorang pun. Bila ingin berjalan-jalan, ia berkeliling padang pasir. Akhirnya ia tinggalkan Baghdad, dan menetap di Syustar, dua belas hari perjalanan dari Baghdad. Selama sebelas tahun, ia menutup diri dari dunia. Akhir masa ini menandai berakhirnya latihannya. Ia menerima nur yang dicarinya. Diri-hewaninya kini telah digantikan oleh wujud mulianya.

DICOBA IBLIS
Suatu peristiwa terjadi pada malam babak baru ini, yang diriwayatkan dalam bentuk sebuah kisah. Kisah-kisah serupa dinisbahkan kepada semua tokoh keagamaan yang dikenal di dalam sejarah; yakni sebuah kisah tentang penggodaan. Semua kisah semacam itu memaparkan secara perlambang, suatu peristiwa alamiah dalam kehidupan.
 
Misal, tentang bagaimana nabi Isa as digoda oleh Iblis, yang membawanya ke puncak bukit dan dari sana memperlihatkan kepadanya kerajaan-kerajaan duniawi, dan dimintanya nabi Isa a.s., menyembahnya, bila ingin menjadi raja dari kerajaan-kerajaan itu. Kita tahu jawaban beliau, sebagai pemimpin ruhaniah. Yang kita tahu, hal itu merupakan suatu peristiwa perjuangan jiwa sang pemimpin dalam hidupnya.
 
Demikian pula yang terjadi pada diri Rasulullah saw. Kala beliau kukuh berdakwah menentang praktek-praktek keberhalaan masyarakat dan musuh-musuh beliau, para pemimpin Quraisy merayunya dengan kecantikan, harta dan tahta. Dan tak seorang Muslim pun bisa melupakan jawaban beliau: "Aku sama sekali tak menginginkan harta ataupun tahta. Aku telah diutus oleh Allah sebagai seorang Nadzir **) bagi umat manusia, menyampaikan risalah-Nya kepada kalian. Jika kalian menerimanya, maka kalian akan bahagia di dunia ini dan di akhirat kelak. Dan jika kalian menolak, tentu Allah akan menentukan antara kalian dan aku."
 
Begitulah gambaran dari hal ini, dan merupakan fakta kuat kemaujudan duniawi. Berkenaan dengan hal ini, ada dua versi kisah tentang Syaikh Abdul Qadir Jailani. Versi pertama mengisahkan, bahwa suatu hari Iblis menghadapnya, memperkenalkan diri sebagai Jibril, dan berkata bahwa ia membawa Buraq dari Allah, yang mengundangnya untuk menghadap-Nya di langit tertinggi.
 
Sang Syaikh segera menjawab bahwa si pembicara tak lain adalah si Iblis, karena baik Jibril maupun Buraq takkan datang ke dunia bagi selain Nabi Suci Muhammad saw. Setan toh masih punya cara lain, katanya: "Baiklah Abdul Qadir, engkau telah menyelamatkan diri dengan keluasan ilmumu."  "Enyahlah!, bentak sang wali." Jangan kau goda aku, bukan karena ilmuku, tapi karena rahmat Allahlah aku selamat dari perangkapmu".

*)   Musyahadah : penyaksian langsung. Yang dimaksud ialah penyaksian akan
segala kekuasaan dan keadilan Allah melalui mata hati.

**) Nadzir : pembawa ancaman atau pemberi peringatan. Salah satu tugas
terpenting seorang Rasul adalah membawa beita, baik berita gembira maupun
ancaman.
(bersambung)


Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#28 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Tue Sep 14, 1999 1:31 am
Subject: Fiqih Keseharian(20): BENCANA ALAM, ANTARA AZAB TUHAN DAN GEJALA ALAM
pesantren@...
Send Email Send Email
 

BENCANA ALAM, ANTARA AZAB TUHAN DAN GEJALA ALAM
 
Pesantren Virtual
Fiqih Keseharian seri ke-20, 14 September 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Pak Mus, akhir-akhir ini bencana alam datang beruntun termasuk yang terjadi di negeri kita. Mulai dari gempa bumi, angin ribut hingga banjir. Baru saja kita dikejutkan oleh bencana besar di Flores, banjir besar datang.
 
Pertanyaannya: Apakah bencana-bencana itu merupakan azab Tuhan kepada manusia yang banyak berdosa atau cobaan Tuhan? Atau hanya merupakan gejala alam saja.
 
Ada juga yang mengatakan itu merupakan peringatan Tuhan kepada kita. Lalu bagaimana kita sebagai orang yang beriman harus bersikap dengan adanya bencana-bencana yang menimpa itu?
 
Terima kasih atas tanggapannya.
 
D Nurhadi
Liman Mukti, Semarang
 
Jawab:
Memang kita prihatin dengan musibah-musibah yang menimpa saudara-saudara kita di beberapa kawasan khususnya di tanah air kita baru-baru ini. Maka kita sangat sangat menghargai mereka yang secara spontan dan tulus mengeluarkan bantuan berupa apapun, termasuk perhatian dan doa untuk ikut meringankan penderitaan mereka yang terkena musibah.
 
Bencana alam atau musibah bisa merupakan peringatan Allah kepada manusia terutama mereka yang lupa diri, lupa asal dan tempat mereka akan kembali. Maka orang yang beriman pun bila terkena musibah akan mengatakan: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un. "Kita semua milik Alllah dan kepada-Nyalah kita kembali."
 
Manusia adalah makhluk Allah yang Ia muliakan dan istimewakan melebihi makhluk-makhluk lain. Ia jadikan khalifah di muka bumi. Lalu manusia --yang agaknya memang kebanyakan tak kuat nyandang anugerah, jabatan, dan kekuasaan-- menjadi lupa diri. Begitu bangga dengan akal --yang lambat laun mereka klaim sebagai milik-- mereka. Dan mereka pun merasa bisa berbuat apa saja di bumi ini seenaknya.
 
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS 30. Ar-Ruum: 41)
 
"Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dnegan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu, Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik." (QS 2. Al-Baqarah: 59)
 
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri." (QS 42. Asy-Syuura: 30)
 
Lebih dari peringatan, bencana juga bisa merupakan azab kemurkaan Allah seperti yang, misalnya, menimpa Bani Israel di zaman dulu akibat perbuatan-perbuatan mereka yang melewati batas, seperti firman Allah Swt., antara lain:
 
"...Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas." (QS 2. Al-Baqarah: 61)
 
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka melampaui batas." (QS 3. Ali-Imran: 112)
 
"Barangsiapa yang membelakangi orang-orang yang kafir (mundur) di waktu itu, kecuali  berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan (sendiri) yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam." (QS 8. Al-Anfaal: 16)
 
Bencana, bagi mereka yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, bahkan merupakan sunnah Allah, atau bisa disebut hukum alam, yang tidak bisa tidak pasti menimpa mereka, seperti dalam firman-Nya, antara lain:
 
"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS 3. Ali-Imran: 137)
 
"Katakanlah kepada ornag-orang yang kafir itu: 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu'" (QS 8. Al-Anfaal: 38)
 
"Dan tidak ada yang menghalangi manusia dari beriman --ketika petunjuk telah datang kepada mereka-- dan memohon ampunan kepada Tuhannya, kecuali (kepastian) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata." (QS 18. Al-Kahfi: 55)
 
Baca juga misalnya, QS 33. Al-Ahzab: 62; 35. Faathir: 43; dan 48. Al-Fath: 22-23.
 
Untuk kaum muslimin, musibah --sebagaimana juga anugerah-- merupakan ujian dan cobaan (fotnah dan bala). Mereka diuji mengenai keislaman, kesungguhan, kesabaran, dan kepasrahan mereka, seperti firman Allah Swr., antara lain:
 
"Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2. Al-Baqarah: 155)
 
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan. Mereka digoncang (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.'" (QS 2. Al-Baqarah: 214)
 
"Apa kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (QS 3. Ali-Imran: 142)
 
Baca pula misalnya firman-firman-Nya dalam QS 29. Al-Ankabut:2-3, dan 47. Muhammad: 31.
 
Maka sebagai kaum muslimin, kita menerima musibah yang menimpa itu sebagai peringatan, agar kita mawas diri dan memperbaiki diri; dan sebagai ujian bagi meningkatkan kesabaran, tawakal dan kedekatan kita kepada Allah. Kita katakan: 'Musibah tidak akan menimpa kita kecuali yang sudah digariskan Allah untuk kita. Dialah Tuhan kita dan kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.'
 
Perlu saya tambahkan di sini, sebuah hadis dari shahabat Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, at-Turmudzi, dan an-Nasai dari hadis dari Sufyan bin Uyainah dengan isnadnya. Shahabat Abu Hurairah r.a. berkata:
 
"Ketika turun ayat 'man ya'mal suuan yujza bihi' (Siapa yang berbuat kesalahan akan mendapat balasannya, QS 4. An-Nisaa: 123), kaum muslimin kelihatan sangat susah. Rasulullah Saw. pun bersabda kepada mereka; 'Bidiklah dan dekat-dekatkan sasaran. Sesungguhnya dalam setiap musibah yang menimpa orang Islam, ada kaffarah sampai pun duri yang mengenainya dan kecelakaan yang menimpanya.'"
 
Artinya, menurut hadis ini, setiap musibah yang mengenai orang Islam, sekecil apa pun, merupakan tebusan bagi kesalahan.
 
Wallaahu A'lam.[]

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#27 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Mon Sep 13, 1999 5:59 am
Subject: Futuuhul Ghaib
pesantren@...
Send Email Send Email
 
 

Pesantren Virtual
Futuuhul Ghaib (Penyingkap Kegaiban)
 
Pengantar Redaksi
 
Insya Allah mulai saat ini akan on-line "FUTUUHUL GHAIB" karya Syeikh Abdul Qadir Jailani. Futuuhul Ghaib berarti "Penyingkap Kegaiban". Buku ini merupakan karya terpenting sang wali - di samping FATH AL-RABBANI dan QASIDAH AL-GHAUTSIYAH. Lepas dari sifatnya yang nyata-nyata mistis, kumpulan delapan puluh wacana tentang berbagai masalah tasawuf ini, mudah dipahami.
 
Pertama tentang Riwayat Hidup beliau. Selanjutnya berupa Risalah-risalah yang telah disampaikan beliau. Insya Allah materi ini akan membantu membersihkan hati kita yang masih banyak nodanya. Semoga juga Allah senantiasa melimpahkan hidayah bagi kita semua, Aamiin.
 
Riwayat Hidup Ghauts Al-Azam Muhyidin Sayyid Abdul Qadir Jailani
 
NASAB
Sayid Abu Muhhad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, pada bulan Ramadhan 470 H, bertepatan dengan th 1077 M. Ayahnya bernama Shahih, seorang yang taqwa keturunan Hadhrat Imam Hasan, r.a., cucu pertama Rasulullah saw, putra sulung Imam Ali ra dan Fatimah r.a., putri tercinta Rasul. Ibu beliau adalah putri seorang wali, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husein, r.a., putera kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian, Sayid Abdul Qadir adalah Hasani sekaligus Huseini.
 
MASA MUDA
Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakkur dan sering melakukan agar lebih baik, apa yang desebut 'pengalaman-pengalaman mistik'. Ketika berusia delapan belas tahun, kehausan akan ilmu dan kegairahan untuk bersama para saleh, telah membawanya ke Baghdad, yang kala itu merupakan pusat ilmu dan peradaban. Kemudian, beliau digelari orang Ghauts Al-Azam atau wali ghauts terbesar.
 
Dalam terminologi kaum sufi, seorang ghauts menduduki jenjang ruhaniah dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan ridha Allah bagi ummat manusia setelah para nabi. Seorang ulama' besar di masa kini, telah menggolongkannya ke dalam Shaddiqin, sebagaimana sebutan Al Qur'an bagi orang semacam itu. Ulama ini mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang terjadi pada perjalanan pertama Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad.
 
Diriwayatkan bahwa menjelang keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang sudah menjanda, membekalinya delapan puluh keping emas yang dijahitkan pada bagian dalam mantelnya, persis di bawah ketiaknya, sebagai bekal. Uang ini adalah warisan dari almarhum ayahnya, dimaksudkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Kala hendak berangkat, sang ibu diantaranya berpesan agar jangan berdusata dalam segala keadaan. Sang anak berjanji untuk senantiasa mencamkan pesan tersebut.
 
Begitu kereta yang ditumpanginya tiba di Hamadan, menghadanglah segerombolan perampok. Kala menjarahi, para perampok sama sekali tak memperhatikannya, karena ia tampak begitu sederhana dan miskin. Kebetulan salah seorang perampok menanyainya apakah ia mempunyai uang atau tidak. Ingat akan janjinya kepada sang ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab: "Ya, aku punya delapan puluh keping emas yang dijahitkan di dalam baju oleh ibuku." Tentu saja para perampok terperanjat keheranan. Mereka heran, ada manusia sejujur ini.
 
Mereka membawanya kepada pemimpin mereka, lalu menanyainya, dan jawabannya pun sama. Begitu jahitan baju Abdul Qadir dibuka, didapatilah delapan puluh keping emas sebagaimana dinyatakannya. Sang kepala perampok terhenyak kagum. Ia kisahkan segala yang terjadi antara dia dan ibunya pada saat berangkat, dan ditambahkannya jika ia berbohong, maka akan tak bermakna upayanya menimba ilmu agama.
 
Mendengar hal ini, menangislah sang kepala perampok, jatuh terduduk di kali Abdul Qadir, dan menyesali segala dosa yang pernah dilakukan. Diriwayatkan, bahwa kepala perampok ini adalah murid pertamanya. Peristiwa ini menunjukkan proses menjadi Shiddiq. Andaikata ia tak benar, maka keberanian kukuh semacam itu
demi kebenaran, dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.
 
(bersambung)
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#26 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Mon Sep 13, 1999 2:15 am
Subject: Fikqih Keseharian(19): KEUTAMAAN MEMBACA AL-QURAN DAN WAQAF DI AKHIR AYAT
pesantren@...
Send Email Send Email
 

KEUTAMAAN MEMBACA AL-QURAN DAN WAQAF DI AKHIR AYAT
 
CATATAN: Juga sebagai ralat atas pengiriman sebelumnya yang salah judul. Mohon maaf, dan mudah-mudahan tidak terjadi lagi.
 
Pesantren Virtual
Fiqih Keseharian seri ke-19, 13 September1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Permasalahan yang saya kedepankan di sini:
Salam suatu pengajian, saya pernah mendengar bahwa hukum membaca Al-Quran itu tidak wajib, melainkan hanya amal yang utama. Hal ini didasarkan hadis nabi, "Waqiraatul Quran fadhiilah wal 'amalu bihi fariidhah". Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah benar statement tersebuut dan bagaimana kalau kita kaitkan dengan kaidah fiqhiyyah yan bunyinya "maa laa yatimmul waajib illaa bihi fahuwa wajiib" yang maksudnya: sesuatu yang tidak akan sempurna kecuali dengannya maka sesuatu itu wajib hukumnya?
 
Demikianlah pertanyaan saya dan atas tanggapannya, saya haturkan sukran jaziilan.
 
Imam Syafii
Magelang
 
Jawab:
Yang namanya Al-Quran itu kan mulai "Al-Fatihah" sampai "minal jinnati wannaas". Kalau yang dimaksud dengan membaca adalah membaca dengan menyimak mushaf boleh jadi ada benarnya pernyataan mubaligh yang Anda ceritakan itu (Tapi masak amal utama kok disebut "hanya". Wah). Padahal begitu banyak hadis mengenai fadilah membaca Al-Quran, seperti misalnya hadis shahih imam Muslim dari Abu Umamah yang berkata:
 

"Bacalah Al-Quran. Karena ia akan datang di hari kiamat menjadi penolong bagi pembaca yang bersangkutan."
 
Namun kalau yang dimaksud adalah sebagian Al-Quran dan yang dimaksud adalah membaca tidak hanya yang dengan menyimak, tentu saja tidak benar. Kita misalnya diwajibkan membaca Al-Quran di dalam salat, di dalam khutbah Jum'at. Dan bahkan ada kesepakatan ulam ayang menetapkan kewajiban menghapal sebagian dari Al-Quran dan hapal persis semua Al-Quran adalah wajib kifayah. (Baca "Ensiklopedi Ijmak", terjemah KHMA. Sahal Mahfudz dan KHA. Mustofa Bisri, Pustaka Firdaus, halaman 536).
 
Apalagi jika dikaitkan dengan kaidah yang Anda sebut:
 

"Sesuatu yang kepadanya tergantung kesempurnaan kewajiban, hukumnya wajib"
 
Kewajiban apa saja yang tidak dapat dipenuhi tanpa membaca Al-Quran, maka Al-Quran menjadi wajib. Begitu kan?
 
Wallaahu A'lam.
 
Tanya:
Mohon dijelaskan:
Apakah jika kita membaca Al-Quran diteruskan (misalnya sampai lima ayat baru berhenti) harus berakhiran "i" semua pada akhir masing-masing ayat, atau tidak? Terima kasih.
 
Pembaca dari Tegal
 
Jawab:
Kenapa semua akhir ayat harus dibaca "i"? Kalau tidak berhenti (tidak waqaf), kita membaca sesuai harakat ("a"/"i"/"u") akhirnya. Misalnya, "Alhamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin. Ar-rahmaanir Rahiim. Maaliki yaumiddiin" kita baca: 'Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiinar Rahmaanir Rahiimi Maaliki yaumiddiin.'. Waba'du; untuk membaca kitab suci Al-Quran, seyogyanya digurokke (dipejari dengan seorang guru yang ahli dalam pembacaan Al-Quran), agar bacaannya bisa pas. Wallaahu A'lam.[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#25 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Mon Sep 13, 1999 1:14 am
Subject: Fiqih Keseharin(19): ALASAN PERCAYA MUHAMMAD RASUL ALLAH
pesantren@...
Send Email Send Email
 
 

ALASAN PERCAYA MUHAMMAD RASUL ALLAH
 
Pesantren Virtual
Fiqih Keseharian seri ke-19, 13 September1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Permasalahan yang saya kedepankan di sini:
Salam suatu pengajian, saya pernah mendengar bahwa hukum membaca Al-Quran itu tidak wajib, melainkan hanya amal yang utama. Hal ini didasarkan hadis nabi, "Waqiraatul Quran fadhiilah wal 'amalu bihi fariidhah". Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah benar statement tersebuut dan bagaimana kalau kita kaitkan dengan kaidah fiqhiyyah yan bunyinya "maa laa yatimmul waajib illaa bihi fahuwa wajiib" yang maksudnya: sesuatu yang tidak akan sempurna kecuali dengannya maka sesuatu itu wajib hukumnya?
 
Demikianlah pertanyaan saya dan atas tanggapannya, saya haturkan sukran jaziilan.
 
Imam Syafii
Magelang
 
Jawab:
Yang namanya Al-Quran itu kan mulai "Al-Fatihah" sampai "minal jinnati wannaas". Kalau yang dimaksud dengan membaca adalah membaca dengan menyimak mushaf boleh jadi ada benarnya pernyataan mubaligh yang Anda ceritakan itu (Tapi masak amal utama kok disebut "hanya". Wah). Padahal begitu banyak hadis mengenai fadilah membaca Al-Quran, seperti misalnya hadis shahih imam Muslim dari Abu Umamah yang berkata:
 

"Bacalah Al-Quran. Karena ia akan datang di hari kiamat menjadi penolong bagi pembaca yang bersangkutan."
 
Namun kalau yang dimaksud adalah sebagian Al-Quran dan yang dimaksud adalah membaca tidak hanya yang dengan menyimak, tentu saja tidak benar. Kita misalnya diwajibkan membaca Al-Quran di dalam salat, di dalam khutbah Jum'at. Dan bahkan ada kesepakatan ulam ayang menetapkan kewajiban menghapal sebagian dari Al-Quran dan hapal persis semua Al-Quran adalah wajib kifayah. (Baca "Ensiklopedi Ijmak", terjemah KHMA. Sahal Mahfudz dan KHA. Mustofa Bisri, Pustaka Firdaus, halaman 536).
 
Apalagi jika dikaitkan dengan kaidah yang Anda sebut:
 

"Sesuatu yang kepadanya tergantung kesempurnaan kewajiban, hukumnya wajib"
 
Kewajiban apa saja yang tidak dapat dipenuhi tanpa membaca Al-Quran, maka Al-Quran menjadi wajib. Begitu kan?
 
Wallaahu A'lam.
 
Tanya:
Mohon dijelaskan:
Apakah jika kita membaca Al-Quran diteruskan (misalnya sampai lima ayat baru berhenti) harus berakhiran "i" semua pada akhir masing-masing ayat, atau tidak? Terima kasih.
 
Pembaca dari Tegal
 
Jawab:
Kenapa semua akhir ayat harus dibaca "i"? Kalau tidak berhenti (tidak waqaf), kita membaca sesuai harakat ("a"/"i"/"u") akhirnya. Misalnya, "Alhamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin. Ar-rahmaanir Rahiim. Maaliki yaumiddiin" kita baca: 'Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiinar Rahmaanir Rahiimi Maaliki yaumiddiin.'. Waba'du; untuk membaca kitab suci Al-Quran, seyogyanya digurokke (dipejari dengan seorang guru yang ahli dalam pembacaan Al-Quran), agar bacaannya bisa pas. Wallaahu A'lam.[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#24 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Thu Sep 9, 1999 1:34 am
Subject: Tanya Jawab(1): HUKUM BERHUBUNGAN BADAN SEBELUM MENIKAH
pesantren@...
Send Email Send Email
 

HUKUM BERHUBUNGAN BADAN SEBELUM MENIKAH
 
Tanya Jawab Masalah Aktual
Seri ke-1, 9 September 1999
 
CATATAN: Seperti yang Anda baca kali ini, Pesantren Virtual menerima pertanyaan dan konsultasi masalah keagamaan untuk ditampilkan di forum ini. Kirim pertanyaan dan masalah Anda ke email pesantren@... beserta permintaan Anda (misal biodata tidak ingin ditampilkan, dsb). Dan jangan lupa untuk selalu mengenalkan Pesantren Virtual ini ke seluruh teman hidup Anda. (tata cara lihat di bawah).
 
Tanya:
Saya ingin menanyakan, apakah hukuman orang yg melakukan hubungan badan sebelum menikah. Dan seandainya kita mau bertaubat bagaimana dan apa yang harus dilakukan agar dosa tersebut agar dapat diampuni Allah.

Anik
Malang

Jawab:
Orang yang melakukan hubungan badan sebelum menikah, berarti telah melakukan zina, melanggar syaria't dan norma-norma dalam Agama Islam, bahkan juga norma-norma sosial kemasyarakatan. Mbak Anik sendiri tahu juga 'kan, orang kita masih menjaga hal-hal seperti itu dengan ketatnya.

Terdapat banyak hadits yang menerangkan tentang hukuman zina, sesuai dengan kategori dan kriterianya. Untuk menanggapi pertanyaan anda, saya hanya menyampaikan satu hadist, yang masuk kategori cukup ringan, karena pelakunya belum menikah.

Rasulullah Saw. penah bersabda: Ya' muru fiiman zanaa walam yukhson jalda
mi'atin wa taghriiba 'aamin.

"Berilah hukuman dera seratus kali dan pengasingan satu tahun terhadap orang yang berzina, tetapi orang tersebut, masih belum menikah (bisa bujang atau perawan)."


Pengertian pengasingan di sini bisa di tafsirkan begini, si pelaku zina, di larang bergaul dengan komunitas, di mana dia terjerumus dengan perbuatan zina, dan selama dia menghindarkan dari pergaulan negative ini, si pelaku harus banyak bredo'a minta ampunan Allah Swt. Seandainya kita mau bertaubat, bagaimana pun dan apa pun kesalahan yang dilakukan asal mau bertobat dapat diampuni Allah Swt. (Baca Juga Fiqih Keseharian 12 & 13 tentang bertobat)

Allah 'Azza wa Jalla sangat pemurah dan Pemaaf kepada Ummatnya, apapun kekeliruan/dosa yang telah di lakukan oleh hambanya terhadap diri sendiri, ketika manusia mau melakukan Taubat dengan sungguh sungguh, tulus dan ikhlas, dilandasi kejujuran anda, yang ingin mengembalikan diri sesuai fitrah manusia. Insya Allah taubatnya akan di kabulkan oleh Allah Swt.
 
Untuk bertaubat memohon perlindungan dan pengampuanan Allah Swt. kita tidak perlu mengeluarkan biaya, cukup melaksanakan ibadah wajib secara continue, beramal shaleh dan membaca Sayyidul Istighfar setiap kesempatan:

Bacaan Sayyidul Istighfar ( Istighfar utama ):
Astaghfirullaahal 'adhim alladzi laailaaha illa huwalhayyul qoyyumu wa atuubu
ilaih
("Saya mohon ampunan kepada Allah Swt. yang maha agung yang tiada Tuhan berhak di sembah dengan sebenarnya, melainkan Dia yang hidup abadi dan berdiri sendiri. Dan saya bertaubat kepadanya.") (HR. Bukhari dan Muslim).

Doa Istighfar di atas sering disebut Sayyidul Istighfar. Doa ini selalu dianjurkan oleh Rasulullah Saw. untuk dibaca, dimengerti, dan diamalkan ummatnya setiap saat. Doa istighfar ini, mengandung pengertian hubungan erat antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan mengandung pengakuan atas kelalaian dan kelengahan manusia dalam melaksanakan kewajiban terhadap Allah Swt. Padahal manusia sejak masih di dalam rahim ibunya (alam ruh) telah mengikat janji dengan Tuhannya, bahwa setelah di alam dunia nanti, akan selalu taat kepada syari'at Islam dan mengabdi kepada Tuhannya. Mengakui segala nikmat yang diberikan oleh Allah, temasuk nikmat Ilmu dan kecantikan (misalnya).

Sebagai manifestasi dari segala kenikmatan yang di berikan Allah, manusia senantiasa mohon perlindungan kepada Allah. Agar nikmat nikmat itu terpelihara dari kehinaan dan kehancuran karena ulah perilaku diri sendiri. Di samping itu dengan mengamalkan Sayyidul Istighfar, manusia mengakui terhadap dosa-dosa yang pernah dilakukan dan mengakui betapa sangat
terbatasnya kewajiban-kewajiban yang bisa di laksanakan. Bila taubat Anda benar-benar timbul dari kesadaran hati nurani yang paling bersih dan dilakukan secara continue, InsyaAllah akan diampuni-Nya.

Renungan 1:
Rosululloh Saw, bersabda: "Barang siapa sedang membaca Sayyidul Istighfar dengan penuh keyakinan, sesuai arti dan tujuan kalimatnya. Kemudian dia meninggal pada hari itu, maka dia termasuk Ahli Surga. Bila dia membaca pada sore hari , kemudian malamnya dia meninggal, maka dia termasuk Ahli Surga.

Renungan 2:
Rosulullah Saw. bersabda: MAN TAWAKKALU LII MAA BAINA RIJLAINI WA MAA BAINA
LACHYAINI TAWAKKALTU LAHU BILJANNATIIN.
"Barang siapa mampu menjaga kehormatan anggota yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) dan anggota yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) niscaya Ku jamin baginya Surga. (HR. Bukhari dan Tarmidzi)

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#23 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Wed Sep 8, 1999 1:24 am
Subject: Fiqih Keseharian(18): DOA MENGUSIR PENYAKIT WAS-WAS
pesantren@...
Send Email Send Email
 

DOA MENGUSIR PENYAKIT WAS-WAS
 
Seri ke-18
Fiqih Keseharian, 8 September 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Saya mempunyai krenteg (keinginan) menulis surat ini setelah membaca uraian-uraian Bapak tentang salat, di mana Bapak menyinggung soal niat yang harus mantap.
 
Soalnya kami mempunyai ayah menderita penyakit "was-was" pada saat melaksanakan ibadah (wudu, salat, bersuci, membaca Al-Quran, dan lain-lain).
 
Untuk melaksanakan ibadah semacam itu, beliau memerlukan waktu yang kadang-kadang cukup lama (± 1 jam) dan hal ini membuat kami sekeluarga terganggu dan prihatin.
 
Keadaan ayah kami yang demikian itu sudah berjalan sejak lama sekali. Berbagai ikhtiar untuk menyembuhkan was-was beliau itu sudah ditempuh. Mulai dari konsultasi dengan alim ulama, ustadz, orang-orang yang pernah was-was, sampai ke psikiater. Namun sejauh ini beluma ada yang berhasil menyembuhkannya.
 
Harapan kami kepada Bapak yang lebih berpengalaman dapatlah mengikhtiarkan baik secara lahir atau mungkin kontak batin, agar ayah kami terbebas dari "penyakit" was-wasnya itu.
 
Putra Pertama
Semarang
 
Jawab:
Pertama-tama saya ikut bersimpati atas "penderitaan" yang dialami ayah Anda. "Was-was" memang cukup merepotkan dan mengganggu.
 
Saya sendiri, ketika di pesantren dulu, mempunyaii kawan yang menderita "was-was". Apabila berwudlu atau bersuci, wah, menghabiskan air. Selalu saja dia merasa belum sempurna membasuh anggota wudlu atau merasa belum bersih bersuci. Bila salat, takbiratul ihramnya berulang-ulang entah berapa kali; sehingga seringkali imam sudah rukuk, dia masih saja "belum berhasil" takbiratul ihram.
 
Dan memang, rupanya hal itu bermula dari sikap hati-hati yang berlebih-lebihan. Menurut pengakuan kawan saya itu, dia selalu merasa khawatir jangan-jangan wudlunya, misalnya tidak diterima Allah, karena ada syarat rukun-rukunnya yang kurang atau bagian anggota wudlunya yang tak terbasuh. Demikian pula bila akan salat.
 
Namun bisa jadi hal itu kemudian --kalau tidak justru sejak mula-- merupakan ulah setan yang memang suka menggoda manusia. Nabi sendiri kan disuruh Allah untuk memohon perlindungan dari jahatnya reridu (godaan) setan. Seperti dalam Al-Quran surah 23. Al-Mukminun: 97:
 

"Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan'. "
 
Maka untuk Ayah Anda, saya hanya bisa menyarankan agar dalam beribadah pun mengikuti cara Nabi, yaitu tidak melebih-lebihkan, tidak njerok-njerokke. Yang wajar sajalah. Tuhan bukanlah majikan yang kejam dan nyinyir. Nabi sendiri pernah mengingatkan jika kita memperberat-berat agama, maka kita sendiri yang pasti kuwalahan ()
 
Untuk "ikhtiar batin"-nya, baiklah saya nukilkan dua hadis dari kumpulan "Shahih al-Kalim ath-Thayyib"-nya Syekh Islam Ibnu Taimiyyah. Ini:
  1. Nabi Saw. bersabda:


    "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaannya, dari tipuannya, dan bisikannya."

    Sebab Allah telah berfirman:

    "Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka berlindunglah kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS 41. Fushshilat: 36)
  2. Utsman bin Abi al-'Ash pernah mengadukan kepada Rasulullah Saw. tentang setan yang menggoda-halanginya ketika salat, dan Rasulullah Saw. pun bersabda:


    "Itulah setan yang bernama Khanzab; jika engkau merasakannya, mohonlah perlindungan Allah daripadanya (A'udzu billaahi minasysyaithaanir rajiim) dan meniuplah ke arah kirimu tiga kali. "Aku lalu mengamalkannya;" kata Utsman, "dan Allah pun menghilangkannya dariku." (HR Muslim)
Demikianlah mudah-mudahan ada manfaatnya.
[]

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#22 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Tue Sep 7, 1999 1:44 am
Subject: Fiqih Keseharian(17): DOA ISTIQAMAH DAN KHASIAT SURAH AL-WAQI'AH
pesantren@...
Send Email Send Email
 

DOA ISTIQAMAH DAN KHASIAT SURAH AL-WAQI'AH
 
Seri ke-17
Fiqih Keseharian, 7 September 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Begini Pak Mus, saya ingin menyampaikan pertanyaan dan mohon dijelaskan.
Apa doa istiqamah dalam penggunaannya?
Demikian pertanyaan saya. Atas jawaban dari Pak Mus saya sampaikan terima kasih.
 
Ima
Gombong
 
Jawab:
Doa istiqamah setahu saya, ialah doa untuk memohon pertolongan Allah agar kita bisa berlaku istiqamah. Segala sesuatu 'kan tak mungkin tanpa pertolongan-Nya. Apalagi istiqamah (jejeg-ajeg) yang begitu berat. Seperti doa-doa yang lain, yang paling afdhol dipanjatkan pada saat-saat mustajab seperti sehabis shalat. Wallaahu A'lam.
 
Tanya:
Saya mau menanyakan kepada Bapak KH. Mustofa Bisri:
Dalam "mujarrabat" terdapat surah Al-Waqi'ah. Saya ingin mengerti khasiatnya.
Demikian pertanyaan dari saya Pak Mus agar dijawab dengan jelas sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
 
Ary Sutrisno
Purwodadi
 
Jawab:
Ada hadis yang diriwayatkan antara lain oleh al-Baihaqi dari shahabat Ibn Mas'ud r.a. yang berkata: 'Aku mendengar Rasulullah bersabda:
 
"Barangsiapa membaca surah Al-Waqi'ah pada setiap malam, maka dia tidak akan menderita kemelaratan."
 
Kata seorang kiai sepuh, asal membacanya sambil memikirkan artinya, insya Allah surah Al-Waaqi'ah ini benar-benar mujarab untuk "menolak kemiskinan".
 
Mudah-mudahan cukup jelas. Wallaahu A'lam.[]

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#21 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Mon Sep 6, 1999 1:23 am
Subject: Fiqih Keseharian(16): ZIKIR MENGGUNAKAN TASBIH
pesantren@...
Send Email Send Email
 
 
ZIKIR MENGGUNAKAN TASBIH
 
Seri ke-16
Fiqih Keseharian, 6 September 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Pak Mus, saya sering melihat terutama di mesjid atau mushalla, orang berzikir dengan menggunakan tasbih. Tapi ada juga yang menggunakan jari-jarinya. Pertanyaannya:
  1. Apakah memang ada dalilnya orang berzikir menggunakan tasbih?
  2. Mana yang lebih afdal berzikir menggunakan tasbih ataukah menggunakan jari-jari tangan? Bagaimana pula dengan berzikir yang tidak menggunakan tasbih atau jari-jari tangan?
Mohon dijelaskan sejelas-jelasnya, sebelumnya saya sampaikan terima kasih.
 
Ngadiono
Ungaran
 
Jawab:
Wah, Anda ini bagaiman? Tasbih itu 'kan sudah digunakan orang sekian lamanya kok sekarang baru Anda tanyakan. Tapi baiklah, asal Anda terus berzikir kepada Allah saja. Akan saya jawab pertanyaan Anda.
  1. Tasbih yang dalam bahasa Arab disebut subhah atau misbahah, dalam bentuknya yang sekarang (untaian manik-manik), memang merupakan produk "baru". Sesuai namanya, tasbih digunakan untuk menghitung bacaan tasbih (Subhaanallah), tahlil (Laa ilaaha illallaah), dan sebagainya.

    Pada zaman Rasulullah Saw. untuk menghitung bacaan dalam berdzikir digunakan jari-jari tangan , kerikil-kerikil, biji-biji kurma, atau tali-tali yang disimpul-simpul. Seperti diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah, Abu Daud, at-Turmudzi, an-Nasai, shahabat Ibn Umar berkata:


    "Pernah kulihat Nabi Saw. menghitung bacaan tasbih dengan tangan kanannya"


    Rasulullah Saw. juga pernah menganjurkan para wanita untuk bertasbih dan bertahlil serta menghitungnya dengan jari-jari, sebagaimana hadis dikeluarkan oleh Ibn Syaibah, Abu Daud, at-Turmudzi, dan al-Hakim sebagai berikut:


    "Wajib atas kalian untuk membaca tasbih, tahlil, dan tahdis. Dan ikatlah (hitunglah bacaan-bacaan itu) dengan jari-jemari, karena sesungguhnya jari-jari itu akan ditanya untuk diperiksa. Janganlah kalian lalai, (jikalau kalian lalai) pasti dilupakan dari rahmat (Allah)."

    Shahabat Abu Hurairah r.a. bila bertasbih menggunakan tali yang disimpul-simpul konon sampai seribu simpul. Shahabat Sa'd bin Abi Waqqaash r.a. diriwayatkan kalau bertasbih menggunakan kerikil-kerikil atau biji-biji kurma. Demikian pula Shahabat Abu Dzarr dan beberapa shahabat lainnya.

    Sedangkan tasbih dalam bentuknya yang sekarang hanyalah merupakan perkembangan alat-alat bantu tersebut.
  2. Memang ada sementara ulama yang berpendapat bahwa menggunakan jari-jemari lebih utama daripada menggunakan tasbih. Pendapat ini didasarkan atas hadis Ibn Umar yang sudah disebutkan di atas.

    Namun dari segi maknanya (untuk sarana menghitung), saya pikir kedua cara itu tidak berbeda. Dari sisi lain, selain untuk menghitung tasbih dan tahlil, sebenarnya tasbih mempunyai manfaat utamanya bagi kita yang sibuk di zaman sibuk ini. Dengan membawa tasbih, seperti kebiasaan orang-orang Timur Tengah (di sana tasbih merupakan asesori macam cincin dan kacamata saja), sebenarnya kita bisa selalu atau sewaktu-waktu diingatkan untuk berdzikir mengingat Allah.

    Artinya, setiap kali kita diingatkan bahwa yang ada di tangan kita adalah alat untuk berdzikir, maka besar kemungkinan kita pun lalu berdzikir.
Wallaahu A'lam. Dan selamat berzikir. []

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#20 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Fri Sep 3, 1999 2:32 am
Subject: Fiqih Keseharian(15): ZIKIR ANTARA MENGINGAT DAN MENYEBUT NAMA ALLAH
pesantren@...
Send Email Send Email
 
 
 
ZIKIR ANTARA MENGINGAT DAN MENYEBUT NAMA ALLAH
 
Seri ke-15
Fiqih Keseharian, 3 September 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Pak Mus, saya ingin ikut mengajukan pertanyaan, mohon dijawab dengan jelas:
  1. Apakah sebenarnya zikir itu? Sebab ada yang mengatakan zikir itu ialah "mengingat Allah", ada juga yang mengatakan "menyebut-nyebut Allah"; mana yang benar.
  2. Ada banyak orang yang pandai (mengerti) tentang agama tapi banyak berbuat dosa (maksiat), ada lagi orang yang bodoh (tidak begitu mengerti) tentang agama tapi rajin dan tekun beribadah; manakah di antara keduanya yang lebih baik?
Atas jawabannya, saya haturkan terima kasih
 
A. Syakur
Magelang
 
Jawab:
  1. Menurut kamus (Arab), zikir berasal dari lafal zakara - yadzkuru - dzikr, bisa berarti: mensucikan dan memuji (Allah); ingat, mengingat, peringatan; menutur; menyebut; dan melafalkan. Di dalam Al-Quran --yang juga disebut Adz-Dzikr-- kita dapat menjumpai lafal itu, di dalam berbagai bentuknya (masdar, fi'il madhi, amar, mudhari', dan sebagainya) lebih dari 200 kali dengan berbagai maknanya termasuk makna istilahi seperti dalam pembicaraan kita sekarang ini.

    Jadi menilik asal maknanya, zikir itu memang bisa berarti "mengingat Allah". Karena itu, menurut ulama, zikir bisa dilakukan dengan hati ("mengingat"), bisa pula dengan lisan ("menyebut-nyebut").

    Di surah 3. Ali-Imran 191 antara lain Allah berfirman:

    "Mereka yang mengingat Allah diwaktu beridir, duduk dan berbaring..."

    Di surah 4. An-Nisaa: 103, antara lain Allah berfirman:

    "Maka apabila kam telah menyelesaikan salat, ingatlah di waktu berdiri, duduk, maupun berbaring...."

    Di dalam hadis shahih riwayat at-Turmudzi dari shahabat Abdullah bin Busr r.a. katanya:

    "Ya rasulullah ajaran-ajaran Islam telah banyak padaku, maka beritahukanlah aku sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan. Rasulullah Saw. pun menjawab: 'Biarkanlah lisanmu terus basah dengan menyebut Allah.'"

    Hadis lain juga riwayat at-Turmudzi dari shahabat Jabir r.a. dia berkata:

    "Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: 'Zikr yang paling utama adalah Laa ilaaha illallaah"

    Namun demikian zikir yang afdhol adalah zikir yang dilakukan sekaligus dengan lisan dan hati. Misalnya lisan menyebut "Laa ilaaha illallaah" dan hati mengesakan-Nya. Lisan menyebut "Subhaanallaah", hati mensucikan-Nya. Dan seterusnya. Banyak berzikir kepada Allah, yang sering dipuji dan diperintahkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya (seperti

    -di surah 8. Al-Anfaal: 45

    "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."

    -di surah 33. Al-Ahzab 35:

    "...orang laki-laki maupun perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar."

    -di surah 62. Al-Jumu'ah 10:

    "Apabila telah kamu tunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.")

    dengan demikian, adalah banyak "menyebut-nyebut" dan sekaligus "mengingat" Allah.

    Karena itu, Imam 'Athaa, seorang faqih dan ahli hadis, mengatakan, orang yang melaksanakan salat lima waktu secara benar sudah termasuk ke dalam firman Allah yang memuji:

    "Wadzdzaakiriinallaaha katsiira wadzdzaakiraati.."
    "Orang laki-laki maupun perempuan yang banyak berdzikir".

    Bahkan beliau juga menyatakan bahwa majelis-majelis yang membicarakan halal-haram, seperti bagaimana seharusnya melakukan jual-beli, salat, puasa, nikah-cerai, haji, dan sebagainya adalah majelis-majelis zikir. Saiid bin Jabir r.a. dan ulama lainnya malah menyatakan bahwa keutamaan zikir tidak terbatas pada membaca tasbih (mensucikan Allah), tahlil (mengesakan Allah), tahmid (memuji Allah), takbir(mengagungkan Allah), dan sebagainya. Tapi siapa pun yang yang melakukan amal perbuatan karena Allah dengan ketaatan kepada-Nya, dia adalah orang yang berzikir. (Lebih lanjut bacalah "Hilyat al-Abraar wa Syi'aar al-Akhyaar" halaman 4-8).
  2. Kedua-duanya tidak baik. Tapi ditinjau dari segi kemasyarakatan, yang pertama (yang pandai ilmu agama tapi banyak berbuat dosa) masih bisa dimanfaatkan ilmunya. Sedangkan yang kedua ibadahnya belum tentu bermanfaat bagi dirinya sendiri, karena tanpa ilmu; apalagi bagi orang lain.
Walaahu A'lam
[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World


#19 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Thu Sep 2, 1999 1:50 am
Subject: Fiqih Keseharian(14): SYARAT BERDOA DAN HITUNGAN TA'AWWUDZ
pesantren@...
Send Email Send Email
 

SYARAT BERDOA DAN HITUNGAN TA'AWWUDZ
 
Seri ke-14
Fiqih Keseharian, 2 September 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Saya ingin mengajukan masalah yang mungkin Bapak dapat memberi penjelasan, yaitu:
Bagaimana cara berdoa yang baik? Haruskah kita utarakan semua yang kita inginkan? Dan apakah harus diucapkan?
Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.
 
M.D.
Wonosobo
 
Jawab:
Saya akan langsung menjawab pertanyaan Anda:
Doa yang baik adalah doa yang memenuhi syarat berdoa dan sesuai etikanya.
 
Di samping itu, waktu berdoa perlu dicari yang mustajab (misalnya habis salat, hari Jumat, saat antara azan dan ikamat, dan tengah malam). Orang yang berdoa makanannya mesti halal, dalam keadaan suci, berdoa dengan menghadap kiblat, benar-benar mantheng (konsentrasi), sepenuh hati, yakin pasti dikabulkan, dan tidak meminta hal-hal yang mustahil.
 
Utarakan semua permohonan Anda dengan suara yang lirih khusuk, jangan terlalu keras tapi jangan pula terlalu berbisik. Sedang-sedanglah!
 
Demikian. Wallaahu A'lam.
 
Tanya:
Untuk menghilangkan keragu-raguan, saya ingin menanyakan sebagai berikut:
 
Soal bacaan "A'uudzubillaahi minasysyaithaanirrajiim", apakah dibaca wajib berulangkali atau hanya sekali (misalnya waktu kita bertahlil)?
 
Heru
Jombang
 
Jawab:
Membaca "ta'awwudz" cukup sekali pada saat akan membaca Al-Quran atau merasa digoda setan. Firman Allah Swt.:
 
"Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS 16. An-Nahl: 98)
 
"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS 7. Al-A'raaf: 200)
 
"Dan jika setan menggangguimu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS 41. Fushshilat: 36)
[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#18 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Wed Sep 1, 1999 1:40 am
Subject: Fiqih Keseharian(13): BERTOBAT DENGAN ZIKIR DAN DOSA BESAR SYIRIK
pesantren@...
Send Email Send Email
 

BERTOBAT DENGAN ZIKIR DAN DOSA BESAR SYIRIK
 
Seri ke-13
Fiqih Keseharian, 1 September 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Saya mohon dengan hormat untuk bisa memperoleh penjelasan sebagai berikut:
Bila kita ingin bertobat, apakah dengan zikir saja sudah bisa menghapuskan dosa kita? Kalau bisa apakah zikir itu kita lakukan berulang-ulang?
 
Ny. Wida Susetyo
 
Jawab:
Karena pertanyaan Anda sudah pernah saya singgung dalam jawaban yang lain(lihat Fiqih Kesehaian 12, red), maka saya tidak akan panjang lebar menjawab.
 
Zikir itu menyebut dan mengingat Allah. Anda bisa beristighfar (membaca zikir: astaghfirullah), misalnya. Namun dalam tobat, yang terpenting adalah rasa penyesalan kita terhadap dosa yang telah terlanjur kita lakukan dan memohon ampunan kepada Allah. Meskipun kita mengulang-ulang zikir, tapi dalam hati kita tidak menyesali dosa yang telah kita perbuat dan tidak memohon ampun kepada Allah, ya namanya belum bertobat.
Wallaahu A'lam.
 
Tanya:
Pak Mus, saya mempunyai persoalan begini:
Bila seseorang telah melakukan kesalahan/dosa besar (syirik) dan kemudian menyadari kesalahannya dengan bertobat (nasuha), diterimakah tobatnya?
 
Demikian pertanyaan saya Pak Mus.
 
Aji Setiono
Kecamatan Kajen, Pekalongan
 
Jawab:
Memang dosa paling besar, menurut Islam, adalah dosa syirik atau mempersekutukan Tuhan. Sampai-sampai Allah berfirman:
 
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa saj ayang Ia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah (syirik), maka sungguh ia telah melakukan dosa yang sangat besar." (QS 4. An-Nisaa: 48)
 
Bagi mereka yang hanya selintas membaca, mungkin ayat ini akan dipahaminya sebagai "vonis" bahwa dosa syirik adalah dosa yang tak terampuni. Bahkan saya pernah benar-benar menjumpai orang yang menerangkan ayat ini dengan tafsiran demikian.
 
Padahal, --wallaahu A'lam-- tidak ada itu dosa yang tidak terampuni oleh Allah.
 
Ayat tersebut hanya menjelaskan betapa besarnya dosa syirik dibanding dosa-dosa yang lain. Tapi tidak menerangkan --seperti mungkin dipahami banyak orang-- bahwa dosa syirik adalah dosa yang tak bisa diampuni.
 
Ayat ini haruslah dipahami --wallaahu A'lam-- begini: Allah tidak akan mengampuni dosa syirik yang tidak ditobati (dimintakan ampun) sampai yang bersangkutan mati dan Dia bisa saja mengampuni dosa-dosa selain syirik itu dengan tanpa ditobati bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.
 
Dengan kata lain, ayat tersebut --sekali lagi wallaahu A'lam-- berbicara tentang dosa-dosa yang tidak terobati sampai yang bersangkutan meninggal.
 
Jadi, syirik pub bisa diampuni Allah asalkan orang yang berdosa syirik itu benar-benar menyesali dosanya itu dan mohon ampunan Allah. Benar-benar bertobat (seperti kata Anda: tubatan nashuuha).
 
Kalau syirik tidak bisa diampuni, lalu bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa para shahabat Nabi yang mulia-mulia itu banyak diantara mereka yang tadinya pernah syirik, menyembah berhala? (Baca juga jawaban saya atas pertanyaan K. Ronggo S, berjudul "Cara Menebus Dosa Sebelum masuk Islam"! (Fiqih Keseharian 12, red).
[]

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#17 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Tue Aug 31, 1999 12:55 am
Subject: Fiqih Keseharian(12): CARA MENEBUS DOSA SEBELUM MASUK ISLAM
pesantren@...
Send Email Send Email
 

CARA MENEBUS DOSA SEBELUM MASUK ISLAM
 
Seri ke-12
Fiqih Keseharian, 31 Agustus 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Pak Mus, perkenankanlah kami ikut-ikutan mohon penjelasan. Pertanyaan kami yaitu:
 
Saya masuk Islam dengan sesungguhnya pada tahun 1977. Sebelum itu banyak kekhilafan dan banyak larangan Islam yang kami langgar dengan sadar, bagaimana cara menebus kesalahan yang lalu itu?
 
Sekian dulu pertanyaan kami, lain kali masih banyak pertanyaan, supaya kami betul-betul tahu pasti akan ajaran Islam yang benar. Terima kasih atas penjelasan Pak Mus.
 
K. Ronggo S.
Asrama Mrican, Semarang
 
Jawab:
Mengenai kesalahan dan pelanggaran yang telah lalu, menebusnya --apabila sudah beriman-- "mudah". Tinggal bertobat kepada Allah, menyesali kesalahan itu dengan sesungguhnya dan berjanji dengan diri sendiri untuk tidak mengulanginya. Allah itu 'kan Maha Pengasih dan Pengampunan. Banyak sekali ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa di hadapan kesalahan dan dosa hamba-Nya, Allah tetap Maha Pengasih dan Maha Pengampun.
 
Allah tidaklah pemarah dan pendendam, bahkan lebih dari itu, menyukai hamba-hamba-Nya yang minta ampun (beristighfar) kepada-Nya. Firman Allah:
 
"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka --dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah-- dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS 3. Ali Imran: 135)
 
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 4. An-Nisaa: 110)
 
"Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 6. Al-An'am: 54)
 
"Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah tobat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 7. Al-A'raaf: 153)
 
"Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertobat dengan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia itu bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya." (QS 25. Al-Furqaan: 70-71)
 
Bahkan kepada Rasulnya, Allah berfirman:
 
"Katakanlah Muhammad,kepada hamba-hamba-Ku yang keterlaluan terhadap diri mereka sendiril Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 39. Az-Zumar: 53)
 
Bila disimpulkan, kunci penebus dosa atau kesalahan adalah: beriman, beristighfar, dan beramal saleh. Wallaahu A'lam.
[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#16 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Mon Aug 30, 1999 1:48 am
Subject: Fiqih Keseharian(11): ANTARA BULAN SURO DAN MAKHLUK HALUS
pesantren@...
Send Email Send Email
 

ANTARA BULAN SURO DAN MAKHLUK HALUS
**Untuk edisi ini, kutipan ayat-ayat Al-Quran mohon Anda baca sendiri dari Al-Quran**
 
Seri ke-11
Fiqih Keseharian, 30 Agustus 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Pak Mus, di zaman modern ini orang ternyata masih sering berbicara mengenai "bongso alus" seperti "tuyul", "kuntilanak", "Nyai Loro Kidul",  dan sebagainya.
 
Bagaimana tanggapan Pak Mus mengenai hal ini dari sudut pandangan Islam? Dan apakah benar bahwa bulan Suro itu "bulannya bongso alus", sehingga kita haru sberhati-hati menghadapinya (jangan sampai ada perbuatan kita yang membikin bongso alus itu marah, lalu mencelakakan kita.
 
M. Tashin
Demak
 
Jawab:
Wah, kalau mengenal makhluk halus, bukan saya pakarnya. Tapi baiklah, karena Anda sudah menanyakan kepada saya, saya akan mencoba menjawab memberikan tanggapan berdasar dan seukur kemampuan yang saya ketahui.
 
Begini, Mas Tashin, menurut Islam, makhluk yang diciptakan Allah itu ada yang tampak, seperti kita manusia ini; ada yang tidak tampak, yaitu sering diistilahkan orang "makhluk halus".
 
Di Al-Quran sendiri misalnya, selain malaikat dan setan, kita mendapat informasi tentang makhluk halus yang disebut jin. Menurut Al-Quran, kalau kira keturunan Adam ini, diciptakan pertama kali dari tanah liat lalu nuftah atau alaqah. Seperti Firman Allah Swt., antara lain:
 
"Dialah yang menciptakan kamu dari tanah.." (QS 6. Al-An'aam: 2)
 
"(Allah) Yang membuat segala sesuatu yang  yang Dia cipatakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah." (QS As-Sajdah: 7)
 
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: 'Sesungguhnya Aku mencipatakan manusia dari tanah.'" (QS 38. Shaad: 71)
 
"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata." (QS 36. Yaasiin: 77)
 
"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah." (QS 96. Al-'Alaq: 2)
 
"Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS 15. Al-Hijr: 27)
 
"Dan Dia menciptakan jin dari nyala api." (QS 55. Ar-Rahmaan: 15)
 
Berbeda dengan malaikat yang selalu baik dan setan yang selalu jahat, jin adalah seperti manusia, bisa baik bisa jahat. Dengan kata lain, jin, sebagaimana manusia, bisa seperti malaikat dan bisa juga seperti setan.
 
Yang menarik, di dalam Al-Quran sendiri, ada beberapa ayat yang menunjukkan bahwa setan itu (bisa) terdiri dari jin dan manusia. Seperti firman Allah Swt.:
 
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah apa yang mereka (setan) kerjakan"  (QS 6. Al-An'aam: 112)
 
"...dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang (membisikkan) kejahatan ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia." (QS 114. An-Naas: 4-6)
 
Jadi, sebenarnya, yang bisa mengganggu kita tidak hanya jin, tapi juga manusia sendiri. Jin yang mengganggu dan mau mencelakakan kita, bisa kita sebut "Jin Setan", sebagaimana manusia yang mengganggu dan mau mencelakakan kita bisa sebut "Manusia Setan".
 
Nah, dari uraian di atas, Anda boleh menyimpulkan, bahwa makhluk halus yang Anda maksud dalam pertanyaan Anda boleh jadi dari golongan jinl baik jin "yang setan" atau bukan.
 
Keberadaan  dan mungkin kelakuan jin itu, sebagaimana manusia tidak pandang zaman. Di zaman primitif atau modern, selalu ada saja jin atau manusia yang baik dan jahat, ada yang pinter dan ada yang bodoh, yang kolot dan yang lebih maju, yang anteng dan yang pencilakan,  yang ngerti aturan atau yang tidak, dan seterusnya, dan seterusnya. Seperti firman Allah Swt. dalam Al-Quran surah Al-Jin, khususnya ayat-ayat sebagai berikut:
 
"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda." (QS 72. Al-Jin:11)
 
"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus." (QS 72. Al-Jin: 14)
 
Memang jin mempunyai "kelebihan" dari kita, manusia, yaitu: umumnya kita tidak bisa melihatnya. Wong namanya saja makhuk halus. Tapi Allah sendiri telah berkehendak ---dan kehendak-Nya di atas segala kehendak--- memuliakan dan mengistimewakan kita melebihi makhluk lain yang banyak itu, termasuk jin. Seperti firman Allah Swt. antara lain:
 
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini.' Mereka berkata:'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'" (QS 2. Al-Baqarah: 30)
 
"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu." (QS 6. Al-An'aam: 165)
 
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS 17. Al-Israa: 70)
 
Kita dikehendaki-Nya sebagai khalifah-Nya, penguasa di bumi-Nya dan untuk itu Ia menciptakan segalanya untuk kita. Seperti misalnya, ayat-ayat tentang penciptaan alam semesta ini, antara lain:
 
"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS 2. Al-Baqarah: 29)
 
Terserah kita yang diberi kemuliaan dan keistimewaan Allah ini. Kita dikehendaki jadi macan, kalau kita sendiri mau jadi kucing atau bahkan katak, bisa saja. Kita dikehendaki jadi makhluk terhormat, kala kita sendiri mau terhina, ya bisa saja. Kita dikehendaki merdeka, tapi kita mau jadi budak, ya bisa saja. Kita dikehendaki masuk sorga, kalau kita mau dan memilih neraka, ya monggo. Dan, bisa Anda teruskan sendiri,
 
Apakah kita harus berhati-hati di bulan Suro terhadap makhluk halus itu? Lho, hati-hati, dalam pengertian yang positif, tidak hanya dianjurkan di bulan Suro dan terhadap makhluk halus saja. Setiap saat kita dituntut untuk selalu berhati-hati bahkan terhadap diri kita sendiri. Untuk itu semua, agama kita sudah menyediakan kiatnya kok. Tinggal kita mau menggunakannya, atau karena sesuatu dan lain hal, kita lebih suka menggunakan kiat lain. Itu saja.
 
Kuncinya; asal kita bersama Allah, pasti selamat. Setan ora doyan, demit ora ndulit. Wallaahu A'lam.
[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#15 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Fri Aug 27, 1999 12:53 am
Subject: Fiqih Keseharian(10): BULAN SURO BULAN GAWAT?
pesantren@...
Send Email Send Email
 

BULAN SURO BULAN GAWAT?
 
Seri ke-10
Fiqih Keseharian, 27 Agustus 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Di Jawa, bulan Muharram disebut bulan Suro. Bagi banyak orang Jawa bulan Suro sepertinya mempunyai makna khusus. Mereka menyambutnya dengan berbagai kegiatan: ada yang nanggap wayang semalam suntuk, lek-lekan, tirakatan, memandikan pusaka-pusaka semacam keris dan tombak, dan sebagainya. Bahkan agaknya bulan Suro dianggap "gawat". Orang punya "gawe" (hajat) misalnya, menghindari bulan tersebut lantaran takut celaka atau mendapat sial. Menurut Pak Mus bagaimana kepercayaan semacam itu? Dan bagaimana pula menurut pandangan Islam?
 
Said
Magelang
 
Jawab:
Wah, terus terang Mas Said,saya tidak tahu persis asal muasalnya. Tapi dugaan saya nama "Suro", seperti nama-nama bulan Jawa yang lain, bermula dari istilah bahasa Arab. Dari kata "Asyuro". Tentang "Asyuro" yang jatuh pada hari ke sepuluh Muharram, mengapa disebut demikian, ulama berbeda pendapat. (Asyuro bersumber dari kata "Asyuro" atau "Asyrah" yang berarti sepuluh).
 
Ada yang mengatakan, disebut demikian karena memang Asyuro itu hari yang ke sepuluh Muharram. Ada yang mengatakan karena hari itu merupakan saat mulia yang ke sepuluh dari sepuluh saat yang dimuliakan oleh Allah (sembilan lainnya adalah: bulan Rajab, Sya'ban, Ramadhan, malam Qadar, Hari Fitri, hari-hari 'Asyar, hari Arafah, hari Nahr, dan hari Jumat). Ada yang mengatakan karena hari Asyuro itu terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan 10 Nabi Allah.
 
Umat Islam sendiri menyambut bulan Muharram (Suro) sebagai awal tahun baru Hijriyah. Sedang di hari Aysuro-nya (tanggal 10 Muharram) melakukan puasa; karena ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. berpuasa pada hari itu, seperti misalnya yang dinyatakan oleh shahabat Ibnu Abbas r.a.:
 
"Ketika Nabi Saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi puasa pada hari Asyura, Nabi Saw. bertanya: 'Hari apa ini?' Jawab mereka: 'Hari ini hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, karena itu Musa mempuasainya.' Sabda Nabi Saw.: 'Aku lebih berhak daripadamu dengan Musa. Karena itu Nabi Saw. mempuasainya dan menyusruh mempuasainya.'" (HR al-Bukhari)
 
Kalau kemudian ada kepercayaan bahwa bulan Suro itu merupakan "bulan gawat" atau "bulan sial", boleh jadi itu ada kaitannya dengan tragedi terbunuhnya sayyidina Huesin bin Ali xa yang terjadi pada hari Asyuro di bulan Muharram. Dalam khazanah kitab kuning sendiri, ada juga pendapat yang menghubung-hubungkan puasa Asyuro dnegan musibah Husein tersebut.
 
Selain itu, maaf, saya tidak tahu. Mengapa orang mengira bulan Suro itu bulan "serem", mengapa orang pada mengeluarkan senjata dan memandikannya, mengapa orang "nyiriki" bulan itu untuk melaksanakan perhelatan dan sebagainya, terus terang saya tidak tahu. Kalau hal itu benar, artinya bulan itu memang bulan "gawat" dan "sial"m ya kasihan orang Jawa dong. Wong yang punya Suro cuma orang Jawa.
 
Dan jika benar, Suro itu berasal dari Asyuro, seperti halnya bulan Muharram, itu saat mulia untuk sementara ulama justru saat yang penuh berkah. Wallaahu A'lam
[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#14 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Thu Aug 26, 1999 2:37 am
Subject: Fiqih Keseharian(9): ILMU SAKTI DAN SIKAP MENGHADAPI KEMUNGKARAN
pesantren@...
Send Email Send Email
 

ILMU SAKTI DAN SIKAP MENGHADAPI KEMUNGKARAN
 
Seri ke-9
Fiqih Keseharian, 26 Agustus 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Dengan ini kami sampaikan persoalan yang belum mampu kami pecahkan dengan harapan sudilah kiranya Pak Mus menyampaikan penjelasannya secara detail:
Ilmu-ilmu kasekten, kekebalan, tenaga dalam, dan sebagainya itu apa memang ada atau dibenarkan menurut ajaran Islam? Kalau memang iya saya akan segera mempelajari karena pada saat ini rasanya masih cukup dibutuhkan untuk sarana dakwah di daerah kami. Tolong berikan dalilnya (aqli/naqli).
 
Atas penjelasannya kami sampaikan jazaakumullahu khairul jazaa, amin.
 
Udin RS.
Weleri, Kendal
 
Jawab:
Ilmu ---termasuk apa yang Anda bilang ilmu kesekten--- itu ibarat senjata. Tergantung di tangan siapa dia berada. Kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana ilmu pengetahuan modern bisa mengangkat peradaban manusia sekaligus mengahancurkannya. Bahkan ilmu yang disebut-sebut orang sebagai ilmu agama pun, di tangan orang yang tak bermoral, bisa sangat berbahaya.
 
Karena itu, perbedaan ulama tentang dibenarkan atau tidak suatu ilmu, bila kita teliti, ternyata lebih didasarkan pada pertimbangan manfaat-madaratnya (bahayanya). Imam Ghazali seperti ditulisnya dalam master piecenya Ihya' Ulumuddin menyebutkan bahwa ilmu yang sama sekali tercela adalah ilmu yang tidak ada manfaat baik ditinjau dari kepentingan agama maupun dunia. (Lebih lanjut baca: al-Ihya I/39-42).
 
Waba'du, kalau Anda sekedar ingin "sakti" dalam arti terlindung dari bahaya dan ancaman, Anda bisa minta perlindungan dari Allah, bukan?! Kalau Anda ingin mendapatkan semacam tambahan untuk lebih meyakinkan permintaan-perlindungan Anda, Anda bisa membaca surah Al-Fatihah dan ayat Kursi. (Hadis tentang kehebatan surah dan ayat ini banyak. Lihatlah misalnya "Jami'al-Ushuul fil-Ahaaditsirrasuul" VIII/465-478). Wallaahu A'lam.
 
Tanya:
Saya ingin menanyakan tentang sesuatu yang meragukan saya dan mungkin juga banyak orang:
Bagaimana hukumnya apabila seseorang mengetahui suatu tindakan yang dilarang agama tetapi tidak bisa menegurnya?
 
Terima kasih.
 
Pembaca dari Tegal
 
Jawab:
Sikap kita terhadap tindakan-tindakan yang dilarang agama tergantung siapakah kita. Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis yang sangat populer bersabda:
 
"Barangsiapa di antara kamu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah berusaha mengubahnya dengan tangannya (termasuk dengan kekuasaan); jika tidak bisa, dengan mulutnya (menegur); jika tidak bisa, dengan hati (ingkar di dalam hati). Yang (terakhir) ini adalah selemah-lemahnya iman" (HR. Muslim dari sahabat Abu Sa'id al0Sudhry).
 
Wallaahu A'lam.
[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke pesantren@...

©1999 Pesantren Virtual, oleh FKDIA, Cyber Nahdliyin Network
Dimohon bantuannya untuk mengenalkan forum dan dakwah metode baru ini ke seluruh kenalan, sahabat, dan relasi anda. Demi tercapainya syi'ar agama Islam di Cyber World

#13 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Tue Aug 24, 1999 3:26 am
Subject: Ta'arruf Pesantren Virtual
pesantren@...
Send Email Send Email
 
Assalamualaikum Wr. Wb.

Yang terhormat rekan-rekan netters yang saya cintai,

Kami, redaksi Pesantren Virtual dan tim FKDIA mengucapkan terima kasih yang
teramat sangat kepada rekan-rekan netters di seluruh pelosok cyber world
yang sampai saat ini setia mengikuti pengajian virtual yang kami adakan
melalui Pesantren Virtual ini. Dan alhamdulillah berkat kerjasama
rekan-rekan sekalian, sampai saat ini member/relawan yang secara ikhlas dan
tanpa paksaan bersedia join/bergabung dengan kita di Pesantren Virtual ini
sudah mencapai 41 orang, sungguh suatu kebahagiaan bagi kita semua.

Lalu, kami ingin memberitahukan sekali lagi bahwa forum kita Pesantren
Virtual ini rencananya akan kami kembangkan sesuai dengan kemampuan dan
kesempatan yang ada untuk pengembangan dakwah ala pesatren tadisionalis
(baca: agak merujuk ke salaf) tapi melalui media modern internet.
Alhamdulillah untuk saat ini, al Mukarrom KH. A. Mustofa Bisri pun telah
sangat setuju sekali dan bersedia membantu dengan jalan menyebarkan
hikmah-hikmah yang beliau sampaikan melalui media ini. Malahan, beliau pun
sempat menantang kami, tim FKDIA dan Pesantren Virtual ini untuk bisa
mewujudkan Pesantren Virtual secara live. Dan sekiranya beliau bisa menjadi
bahan rujukan dan nara sumbernya. Bagaiman rekan-rekan?

Selanjutnya, kami ingin menjelaskan sekali lagi bahwa mailing-list ini
(mailing list, bukan web Pesantren Virtual yang akan kami bentuk) memang
kami design moderated list, sehingga member tidak bisa mengirimkan email dan
pesannya langsung ke list ini. Kami, berharap setting ini tidak memberatkan
aktifitas diskusi kita, yaitu dengan jalan, kami menerima pertanyaan, saran,
dan komentar mengenai diskusi dan ibadah kita ini melalui email redaksi kami
di mailto:pesantren@.... Dan setiap pertanyaan, saran, dan kritikan
yang masuk ke email kami akan kami siarkan siarkan kembali ke member
Pesantren Virtual ini sesuai dengan kapasitasnya.

Mengenai rencananya pengembangan materi Pesantren Virtual ini, dalam waktu
dekat Insya Allah kami akan menambah materi baru yaitu Al-Hikam (salah satu
rujukan tasawwuf terkenal) dan atau Penyingkap Kegaiban (salah satu karya
Syekh Abdul Qadir dari negeri Jailan). Juga kami berencanakan (namun
berhalang dengan waktu dan kesempatan tim redaksi kami) untuk mengembangkan
Pesantren Virtual ini versi web sitenya, mohon do'anya bisa cepat
diwujudkan. Amin.

Kami cukupkan ta'arruf kali ini, semoga perjuangan, diskusi, dan belajar
kita selalu diridlai oleh Allah SWT dan mendapat karunia-Nya. Amin.

Komentar, reply, dan pendapatnya kami tunggu di mailbox kami di
pesantren@....

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Redaksi Pesantren Virtual
Email: pesantren@...

#12 From: "Pesantren Virtual" <pesantren@...>
Date: Tue Aug 24, 1999 2:17 am
Subject: Fiqih Keseharian(7): ANTARA ISRA' DAN MI'RAJ, ROH DAN JASAD, KUIL DAN MESJID, PERINTAH DAN BILANGAN SHALAT
pesantren@...
Send Email Send Email
 
 
ANTARA ISRA' DAN MI'RAJ, ROH DAN JASAD, KUIL DAN MESJID, PERINTAH DAN BILANGAN SHALAT
 
Seri ke-7
Fiqih Keseharian, 24 Agustus 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Kami memohon penjelasan tentang:
  1. Masing-masing alasan mengenai Isra' dan Mi'raj Nabi dengan plus jasad dan roh saja.
  2. Benarkah kisah tersebut berkaitan dengan tawar menawar shalat lima waktu, lantas apakah terdapat perbedaan baik jalan maupun formatnya, antara shalat pra Isra' dan pasca Mi'raj?
  3. Tentang ayat Al-Quran yang hanya menyebut Isra' saja tanpa Mi'raj (QS 17. Al-Israa: 1).
  4. Bolehkah kata mesjid tersebut diterjemahkan dengan kuil, bukankah pada saat tersebut kata "mesjid" bukanlah suatu klaim untuk tempat ibadah bagi muslimin-muslimat.
Demikian terlebih dulu pertanyaan kami, mohon maaf dan terima kasih mendalam kami sampaikan. Jazaakumulullahuahsanal jazaa'.
 
NB: Syukur-syukur almukarram berkenan menguraikan dengan panjang lebar tentang Isra' Mi'raj secara bersambung.
 
Ibnu Shofan Bahruddin
Banyumas
 
Jawab:
  1. Kontroversi mengenai Isra' Mi'raj dialami oleh Rasulullah Saw. dengan jasad dan roh beliau atau hanya dengan roh beliau saja memang merupakan persoalan klasik. Artinya sudah sejak dulu mengenai hal itu diperdebatkan.
    Seperti diketahui mengenai masalah tersebut pada dasarnya ada 3(tiga) pendapat:

    • Pendapat yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw ber-Isra'-Mi'raj  hanya dengan roh beliau saja. Sayyidatina Aisyah r.a. misalnya, berkata: 'Demi Allah, jasad Rasulullah Saw. tidak meninggalkan tempat, tapi beliau dinaikkan dengan rohnya (saja).' Sementara al-Hasan mengatakan: 'Pengalaman Isra' Mi'raj itu terjadi waktu tidur, merupakan mimpi Rasulullah Saw.'
    • Kebanyakan ulama salaf dan khalaf berpendapat, peristiwa besar itu dialami Rasulullah dengan roh dan jasad beliau.
    • Ada pula kelompok yang berpendapat bahwa Isra' Nabi Saw. dengan jasad beliau dan roh (berdasarkan firman Allah di awal surah Al-Israa). Sedangkan Mi'rajnya dengan roh saja.

    Seperti biasa, perbedaan itu semua terjadi disebabkan oleh perbedaan dalil masing-masing  dan terutama berasal dari perbedaan persepsi dan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis, yang dalam hal ini mengenai Isra' Mi'raj. Dan dalil-dalil yang kuat yang berlawanan pun lalu ditakwil dengan hujah atau argumentasi masing-masing secara aqli.

    Pendapat pertama (a), misalnya mengatakan bahwa dalam hadis-hadis tentang peristiwa Isra' Mi'raj itu ada disbeut-sebut mengenai malaikat Jibril dan Mikail yang membelah dada Rasulullah Saw. sebelum di-Isra'-Mi'raj-kan, lalu isi dada dicuci dengan air Zamzam, kemudian diisi dengan sifat-sifat alhilm (lembah-manah = pesantun), ilmu, dan hikmah. Nah, hal ini memperkuat bahwa peristiwa itu hanya dialami Rasulullah dengan rohnya saja. Masak Jibril dan Mikail yang malaikat membedah jisim Nabi Saw., membersihkan memakai air Zamzam dan isi dada beliau dengan alhilm, ilmu, dan hikmah?! Itu semua hanya bisa dibayangkan terjadi secara ruhi atau mimpi saja tidak dengan jasad.

    Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa peristiwa itu dialami Nabi Saw. dengan roh dan jasad (b), di sampinng berdalil dengan beberapa hadis Isra' Mi'raj yang sudah populer itu, mengatakan bahwa kata "abdihi" dalam awal surah Al-Israa, itu merupakah penegasan bahwa Nabi Saw. di-Isra'-kan dengan roh dan jasad. Di samping itu, seandainya peristiwa itu hanya dialami Nabi Saw. dengan roh beliau saja atau hanya terjadi dalam mimpi beliau saja, lalu apa anehnya? Orang kebanyakan pun bisa bermimpi yang mungkin lebih tidak masuk akal lagi. Padahal seperti diketahui, peristiwa Isra' Mi'raj itu ketika diceritakan oleh Nabi Saw. banyak yang menertawakannya tidak percaya, bahkan tidak sedikit orang-orang Islam sendiri yang menjadi murtad mendengarnya. Seandainya itu hanya mimpi, tentu tidak terjadi reaksi yang begitu menggemparkan.

    Tapi apa sih perlunya memperpanjang lebar mengenai kontroversi itu? Apalagi di zaman yang serba aneh dan sekaligus zaman serba tidak ada yang aneh ini. Apakah tidak lebih bijaksana apabila kita bersikap seperti sahabat Abu Bakar r.a. ketika pertama kali diberitahu mengenai peristiwa yang dianggap aneh oleh masyarakat Mekkah tersebuut: 'Kalau Muhammad Saw. mengatakan demikian, saya percaya. Bahakan saya mempercayai yang lebih aneh dari itu. Saya mempercayai berita dari langit'.
  2. Ya, dalam peristiwa besar itulah, Rasulullah Saw. menerima perintah shalat lima waktu yang semula lima puluh. Mengenai "tawar-menawar" jumlah waktu shalat saat ini, dapat diketahui dalam hadis panjang mengenai Isra' Mi'raj yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Sahabat Anas bin Malik. Jadi, shalat lima waktu sepeti yang sekarang ini memang bermula setelah Isra' Mi'raj. Sebelumnya, Rasulullah Saw. melakukan shalat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di malam sore hari, seperti dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim, a.s (Lebih lanjut, misalnya baca Nur al-Yaqiin-nya Syekh Khudhari Bek, hal 69-72).
  3. Memang ada juga yang berpendapat bahwa disamping QS 17. Al-Israa: 1, ayat 60-nya berbicara mengenai Isra' dan Mi'raj.
  4. Kata "mesjid", semula berarti tempat sujud. Saya tidak tahu apakah ada agama lain yang bersujud atau apakah dalam sembahyangnya dilakukan sujud seperti agama kita, Islam. Boleh jadi sebelum Islam, kata "sujud" dan "mesjid" sudah dipergunakan, tapi terang tidak dengan pengertian yang dimaksud Islam. (Tentang perkembangan bahasa Arab dan pengaruh Islam terhadapnya, bacalah misalnya, al-Lughat al 'Arabiyah Ka-inun Hayyun oleh Jarji Zaidan). Sedangkan kuil pun dalam bahasa Aran tidak disebut mesjid tapi bii'ah, shauma'ah, atau ma'bad.
Demikian jawaban saya dan maaf, karena satu dan lain hal saya tidak bisa memenuhi permintaan Anda menulis bersambung tentang Isra' Mi'raj. Tapi jawaban saya ini juga sudah cukup panjang saya kira, terutama jika dibanding dengan biasanya.
 
Wallaahu A'lam
[]
 
NOTE: Buat pembaca serial ini, dimohon bantuannya mengenalkan forum dan wadah ini seluas-seluasnya demi syi'ar dan dakwah ummat ahlussunnah wal jama'ah. Semoga perjuangan kita di ridlai-Nya. Amin.

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke fkdia@...


#11 From: "Arif R. Widianto" <arifrw@...>
Date: Mon Aug 23, 1999 2:28 am
Subject: Fiqih Keseharian(6): GAJAH ABRAHAH DAN KONDISI LINGKUNGAN MEKKAH
arifrw@...
Send Email Send Email
 
 
GAJAH ABRAHAH DAN KONDISI LINGKUNGAN MEKKAH
 
Seri ke-6
Fiqih Keseharian, 23 Agustus 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Dalam surah Al-Fiil diriwayatkan tentang serbuan tentara gajah yang dipimpin oleh Abrahah untuk menghancurkan ka'bah.
 
Pertanyaannya adalah, jika dilihat pada masa sekarang daerah Arab (Mekkah) adalah daerah padang pasir, dan onta adalah kendaraan yang paling layak untuk medan tersebut. Sedangkan Abrahah menggunakan gajah pada waktu itu: Apakah gajah tahan terhadap lingkungan padang pasir? Jika tidak, bagaimana jika ditinjau dari sejarah lingkungan Mekkah pada saat itu hinggah gajah adalah pilihan kendaraan yang digunakan oleh Abrahah?
 
Nama dan alamat pada Redaksi
 
Jawab:
Aneh-aneh saja Anda ini. Gajah yang menggunakan Abraha kok saya yang ditanya. Tapi untuk tidak mengecewakan Anda, akan saya tanggapi pertanyaan Anda.
 
Pertama, surah Al-Fiil seperti yang Anda tahung, mengingatkan tentang kekuasaan dan apa yang telah diperbuat oleh Allah terhadap pasukan bergajah (Abrahah cs).
 
Gajah (Latin: Elephas indicus: Elephas maxinus) termasuk binatang kuno yang menurut tembang pucung kita memang ingon-ingone (peliharaan) sang bupati, binatang peliharaan raja.
 
Barangkali karena tubuhnya yang besar dan penampilan serta perangainya yang sangar, banyak raja ---manusia paling berkuasa di negerinya--- yang menjadikannya sebagai piaraan dan kendaraannya untuk menambah atribut kebesarannya. Raja yang bergajah tentu kelihatan lebih gagah dari raja yang berkuda atau beronta, apalagi raja yang berkeledai. Demikian pula pasukannya. Pasukan bergajah tentu dianggap lebih berwibawa dan menakutkan katimbang misalnya sekedar pasukan berkuda atau beronta yang sudah biasa ketika itu. Apalagi jika yang diserang adalah daerah yang belum banyak mengenal gajah, tentu akan lebih berpengaruh paling tidak secara psikologis. (Ingat saja pesawat dan alat-alat tempur baru yang digunakan sekutu untuk mennghancurkan Irak).
 
Dalam perang Al-Jisr, Persi juga mengerahkan banyak gajah untuk menakut-nakuti pasukan muslimin, terutama kuda-kudanya. Dalam kisah-kisah perwayangan, Anda pun tentu menjumpai banyak raja yang menggunakan gajah dalam peperangannya.
 
Abrahah, si raja dari sebelah selatan jaizarh Arab itu, boleh jadi memang mengimport gajah dari tetangganya Afrika. Tapi pastilah pertimbangan utamanya ya itu tadi, untuk menambah kesan kebesarannya dan untuk memberi kejutan yang menakutkan kepada orang-orang Quraisy, tanpa mempertimbangkan cocok atau tidak cocoknya dengan lingkungan daerah yang diserang.
 
Ah, Anda ini. Kalau semuanya dipertimbangkan cocok tidaknya dengan lingkungan; lha apa Anda kira pakaian jas-dasi misalnya, itu cocok untuk kita di lingkungan tropis ini? Mesjid yang berkubah apa cocok dengan lingkungan rumah joglo kita? Naik mobil mewah untuk turba ke desa-desa apa ya cocok? Dan seterusnya...
 
Oke ya!
[]
 
NOTE: Buat pembaca serial ini, dimohon bantuannya mengenalkan forum dan wadah ini seluas-seluasnya demi syi'ar dan dakwah ummat ahlussunnah wal jama'ah. Semoga perjuangan kita di ridlai-Nya. Amin.

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke fkdia@...


#10 From: "Arif R. Widianto" <arifrw@...>
Date: Fri Aug 20, 1999 12:39 am
Subject: Fiqih Keseharian(5): TANDA-TANDA TAKWA
arifrw@...
Send Email Send Email
 
 
TANDA-TANDA TAKWA
 
Fiqih Keseharian(5), Jum'at 20 Agustus 1999
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Apakah yang menjadi tanda-tanda orang yang bertakwa? Atas jawaban Bapak saya ucapkan terima kasih.
 
Mujayin
Jl. Diponegoro 47 Parakan
 
Jawab:
Tanda-tanda orang yang bertakwa itu antara lain:
  • Beriman kepada yang gaib, yang tak terindera seperti iman terhadap adanya Allah, para malaikat, hari kebangkitan, sorga, neraka, dan sebagainya. (Dan ini tampak dari sikap perbuatan yang sesuai dengan tuntutan iman tersebut);
  • ajeg (rutin) melaksanakan kewajiban salat;
  • mau menafkahkan sebagian hartanya (berzakat), bersedekah, dan sebagainya);
  • beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dan kitab-kitab Allah lainnya yang diturunkan kepada para utusan sebelum Nabi Muhammad Saw;
  • yakin terhadap Hari Kemudian;
  • menyantuni anak yatim dan kaum lemah;
  • bila berjanji selalu menepati;
  • bersyukur bila mendapat kenikmatan dan bersabar bila mendapat cobaan. Seperti dalam Al-Quran surah 2. Al-Baqarah: 1-4:


    "Alif lamm miim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat"
    (QS 2. Al-Baqarah: 1-4)

    Al-Quran surah 2. Al-Baqarah: 177:


    "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang yang orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa"
    (QS 2. Al-Baqarah: 177)
Wallahu A'lam bishshawaab
[]

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran, pertanyaan, dan komentar:
Kirim email anda ke fkdia@...
 

#9 From: "Arif R. Widianto" <arifrw@...>
Date: Thu Aug 19, 1999 2:47 am
Subject: Ralat (Ayat-ayat) ==> Fiqih Keseharian(4): BAIAT ORGANISASI DAN SYAHADAT DIWAKTU KECIL
arifrw@...
Send Email Send Email
 
BAIAT ORGANISASI DAN SYAHADAT DIWAKTU KECIL
 
Fiqih Keseharian(4)
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Kami ingin komentar dan pendapat Bapak berdasarkan Islam sehubungan dengan hal-hal yang sering kami saksikan, sebagai berikut:
  1. Ada teman di perkumpulan bela diri yang berlatar belakang Islam, jika kenaikan tingkat disyaratkan dia harus mau di "baiat"
  2. Teman lain pada suatu kegiatan pengjaian yang diselenggarakan oleh sesuatu golongan, juga harus diharuskan dibaiat terlebih dahulu.
  3. Golongan ini mempunyai amaliah sendiri yang berbeda dengan umumnya orang-orang Islam, misalnya yang wanita berpakaian jilbab dan yang tampak hanya kedua matanya, perkawinan hanya boleh antargolongan sendiri, dan sebagainya.
  4. Ada lagi teman yang tidak mau berjamaah kecuali jika ia menjadi imam, atau imamnya orang yang segolongan. Sehubungan dengan itu pula timbul pertanyaa:
    • Bagaimana dengan masyarakat kita yang tidak mengenal "baiat" dan ber-Islam secara keturunan, bersyahadat waktu kecil di depan ustadz di musholla?
    • Bagaimana dengan orang yang bershyahadat dengan hanya dengan membaca buku dan syahadatnya itu tanpa disaksikan orang lain, padahal mereka konsisten dengan rukun Islam dan iman?
Itulah hal-hal yang kami mintakan pendapat dan jawaban Bapak. Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih
 
Imam Sunardi
Pegundan Petarukan, Pemalang
 
Jawab:
Sudara Imam, Baiat, Bai'at, Bai'ah atau mubaaya'ah (kata kerjanya baaya'a - yubaayi'u) mempunyai arti perjanjian atau baiat. Makna aslinya kira-kira: tukar-menukar sesuatu dengan yang dianggap sebanding. Jual-beli, disamping bai', disebut juga mubaaya'ah (jual-beli kan tukar-menukar barang dengan uang yang seharganya). Perjanjian atau baiat sebenarnya juga mengandung pengertian "tukar-menukar" ini.
 
Di dalam Al-Quran sendiri, "mubaaya'ah" digunakan dengan arti perjanjian/baiat. Firman Allah:
 
Al-Fath: 10
"Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah....." (QS 48. Al-Fath: 10)
 
Al-Fath 18
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon....." (QS 48. Al-Fath: 18)
 
"Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah....." (QS 60. Al-Mumtahanah: 12)
 
dan digunakan dengan arti jual beli. Firman Allah:
 
"Dan persaksikanlah apabila kamu berjual-beli" (QS 2. Al-Baqarah: 282)
 
(Fastabsyiruu bibai'ikumulladzi..) "......Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu" (QS 9. At-Taubah: 111)
 
Ayat 10 dan 18 surah Al-Fath itu berbicara tentang baiat (perjanjian setia) para sahabat (konon sekitar 1.400 orang) kepada Nabi Saw. di bawah pohon, di Hudaibiyah. Waktu itu (tahun ke-6 Hijriyah), Nabi dan kaum muslimin sedang menunggu-nunggu kedatangan shahabat Utsman bin Affan yang dikirim lebih dahulu ke Mekkah untuk memberitahukan maksud kedatangan mereka, ketika terdengar berita bahwa shahabat Utsman ditahan oleh kaum musyrikin; bahkan kemudian tersiar kabar beliau telah dibunuh. Karena itu, Nabi mengajak kaum muslimin melakukan baiat, janji setia untuk bersama Rasulullah, memerangi kaum musyrikin hingga mencapai kemenangan yang dijanjikan. Baiat yang dilakukan di bawah pohon ini, seperti termaktub ayat 18 surah Al-Fath, telah diridlai oleh Allah. Dan kerenanya kemudian terkenal dengan nama Bai'at Ar-Ridhwan.
 
Sedangkan ayat 12 surah Al-Mumtahanah berisi perintah Allah kepada Rasulullah Saw. untuk membaiat dan memohonkan ampunan para wanita mukmin yang berjanji setia tidak akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, dan seterusnya.
 
Di samping itu, di awal-awal masa Islam, sejarah mencatat beberapa kali pembaiatan kepada Nabi oleh kelompok penduduk Madinah yang berjanji setia membela agama Islam dan Rasul-Nya.
 
Nah, kalau kemudian ada kelompok atau organisasi yang "mensyariatkan" baiat (janji setia) untuk para anggotanya terhadap pimpinannya, itu adalah hak mereka.
 
Bahkan adalah juga hak mereka untuk mengatur segala aturan bagi kelompok/organisasi mereka sendiri, asalkan tentu saja hal itutidak bertentangan dengan aturan perundangan yang berlaku di negara kita dan tidak mengganggu kelompok lain yang keberadaannya juga dijamin oleh undang-undang.
 
Sepanjang hal itu menyangkut ajaran agama, kelompok beragama yang "berbaiat" tentu mempunyai dasar dan diyakininya, demikian pula mereka yang tidak menggunakan aturan pembaiatan tentunya juga demikian.
 
Dalam keadaan demikian, saling mengaku benar sendiri atau paling benar, apakah ada gunanya? Dialog mungkin ada manfaatnya. Namun yang paling penting sebelum itu dan sesudahnya, adalah sikap saling menghargai.
 
Selebihnya, menurut saya, adalah soal etika pergaulan beragam dan berbangsa. Sampai di mana pemahaman dan wawasan masing-masing terhadapnya.
 
Adapun pertanyaan Anda mengenai syahadat pada garis besarnya syahadat itu 'kan pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah. Jadi kalau hanya membaca:
 
tanpa mengerti artinya 'kan ya bukan pengakuan namanya.
 
Bagi mereka yang "membaca syahadat" ketika masih kecil dan belum dong, dan sampai dewasa tetap ngugemi (berpegang pada) ajaran Islam, masa iya tidak pernah mengulangi syahadatnya dalam pengertian pengakuan tadi?
 
Saya kira jawaban ini sudah mencakup pula jawaban untuk pertanyaan Anda tentang syahadat berikutnya.
Wallahu A'lam.
 
[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran dan Pertanyaan:
Kirim email anda ke fkdia@...
 
Seri ke-4, 19 Agustus 1999
Serial Fiqih Keseharian
Diasuh oleh KH. A. Mustofa Bisri
Dimaintenance oleh Forum Kajian & Dakwah Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

#8 From: "Arif R. Widianto" <arifrw@...>
Date: Thu Aug 19, 1999 2:02 am
Subject: Fiqih Keseharian(4): BAIAT ORGANISASI DAN SYAHADAT DIWAKTU KECIL
arifrw@...
Send Email Send Email
 
 
BAIAT ORGANISASI DAN SYAHADAT DIWAKTU KECIL
 
Fiqih Keseharian(4)
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Kami ingin komentar dan pendapat Bapak berdasarkan Islam sehubungan dengan hal-hal yang sering kami saksikan, sebagai berikut:
  1. Ada teman di perkumpulan bela diri yang berlatar belakang Islam, jika kenaikan tingkat disyaratkan dia harus mau di "baiat"
  2. Teman lain pada suatu kegiatan pengjaian yang diselenggarakan oleh sesuatu golongan, juga harus diharuskan dibaiat terlebih dahulu.
  3. Golongan ini mempunyai amaliah sendiri yang berbeda dengan umumnya orang-orang Islam, misalnya yang wanita berpakaian jilbab dan yang tampak hanya kedua matanya, perkawinan hanya boleh antargolongan sendiri, dan sebagainya.
  4. Ada lagi teman yang tidak mau berjamaah kecuali jika ia menjadi imam, atau imamnya orang yang segolongan. Sehubungan dengan itu pula timbul pertanyaa:
    • Bagaimana dengan masyarakat kita yang tidak mengenal "baiat" dan ber-Islam secara keturunan, bersyahadat waktu kecil di depan ustadz di musholla?
    • Bagaimana dengan orang yang bershyahadat dengan hanya dengan membaca buku dan syahadatnya itu tanpa disaksikan orang lain, padahal mereka konsisten dengan rukun Islam dan iman?
Itulah hal-hal yang kami mintakan pendapat dan jawaban Bapal. Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih
 
Imam Sunardi
Pegundan Petarukan, Pemalang
 
Jawab:
Sudara Imam, Baiat, Bai'at, Bai'ah atau mubaaya'ah (kata kerjanya baaya'a - yubaayi'u) mempunyai arti perjanjian atau baiat. Makna aslinya kira-kira: tukar-menukar sesuatu dengan yang dianggap sebanding. Jual-beli, disamping bai', disebut juga mubaaya'ah (jual-beli kan tukar-menukar barang dengan uang yang seharganya). Perjanjian atau baiat sebenarnya juga mengandung pengertian "tukar-menukar" ini.
 
Di dalam Al-Quran sendiri, "mubaaya'ah" digunakan dengan arti perjanjian/baiat. Firman Allah:
 
"Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah." (QS 48. Al-Fath: 10)
 
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon..." (QS 48. Al-Fath: 18)
 
"Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah.." (QS 60. Al-Mumtahanah: 12)
 
dan digunakan dengan arti jual beli. Firman Allah:
 
"Dan persaksikanlah apabila kamu berjual-beli" (QS 2. Al-Baqarah: 282)
 
"Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu" (QS 9. At-Taubah: 111)
 
Ayat 10 dan 18 surah Al-Fath itu berbicara tentang baiat (perjanjian setia) para sahabat (konon sekitar 1.400 orang) kepada Nabi Saw. di bawah pohon, di Hudaibiyah. Waktu itu (tahun ke-6 Hijriyah), Nabi dan kaum muslimin sedang menunggu-nunggu kedatangan shahabt Utsman bin Affan yang dikirim lebih dahulu ke Mekkah untuk memberitahukan maksud kedatangan mereka, ketika terdengar berita bahwa shahabat Utsman ditahan oleh kaum musyrikin; bahkan kemudian tersiar kabar beliau telah dibunuh. Karena itu, Nabi mengajak kaum muslimin melakukan baiat, janji setia untuk bersama Rasulullah, memerangi kaum musyrikin hingga mencapai kemenangan yang dijanjikan. Baiat yang dilakukan di bawah pohon ini, seperti termaktub ayat 18 surah Al--fath, telah diridlai oleh Allah. Dan kerenanya kemudian terkenal dengan nama Bai'at Ar-Ridhwan.
 
Sedangkan ayat 12 surah Al-Mumtahanah berisi perintah Allah kepada Rasulullah Saw. untuk membaiat dan memohonkan ampunan para wanita mukmin yang berjanji setia tidak akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, dan seterusnya.
 
Di samping itu, di awal-awal masa Islam, sejarah mencatat beberapa kali pembaiatan kepada Nabi oleh kelompok penduduk Madinah yang berjanji setia membela agama Islam dan Rasul-Nya.
 
Nah, kalau kemudia ada kelompok atau organisasi yang "mensyariatkan" baiat (janji setia) untuk para anggotanya terhadap pimpinannya, itu adalah hak mereka.
 
Bahkan adalah juga hak mereka untuk mengatur segala aturan bagi kelompok/organisasi mereka sendiri, asalkan tentu saja hal itutidak bertentangan dengan aturan perundangan yang berlaku di negara kita dan tidak mengganggu kelompok lain yang keberadaannya juga dijamin oleh undang-undang.
 
Sepanjang hal itu menyangkut ajaran agama, kelompok beragama yang "berbaiat" tentu mempunyai dasar dan diyakininya, demikian pula mereka yang tidak menggunakan aturan pembaiatan tentunya juga demikian.
 
Dalam keadaan demikian, saling mengaku benar sendiri atau paling benar, apakah ada gunanya? Dialog mungkin ada manfaatnya. Namun yang paling penting sebelum itu dan sesudahnya, adalah sikap saling menghargai.
 
Selebihnya, menurut saya, adalah soal etika pergaulan beragam dan berbangsa. Sampai di mana pemahaman dan wawasan masing-masing terhadapnya.
 
Adapun pertanyaan Anda mengenai syahadat pada garis besarnya syahadat itu 'kan pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah. Jadi kalau hanya membaca:
 
tanpa mengerti artinya 'kan ya bukan pengakuan namanya.
 
Bagi mereka yang "membaca syahadat" ketika masih kecil dan belum dong, dan sampai dewasa tetap ngugemi (berpegang pada) ajaran Islam, masa iya tidak pernah mengulangi syahadatnya dalam pengertian pengakuan tadi?
 
Saya kira jawaban ini sudah mencakup pula jawaban untuk pertanyaan Anda tentang syahadat berikutnya.
Wallahu A'lam.
 
[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
Saran dan Pertanya:
Kirim email anda ke fkdia@...
 
Seri ke-4, 19 Agustus 1999
Serial Fiqih Keseharian
Diasuh oleh KH. A. Mustofa Bisri
Dimaintenance oleh Forum Kajian & Dakwah Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

#7 From: "Arif R. Widianto" <arifrw@...>
Date: Wed Aug 18, 1999 5:36 am
Subject: TAFSIR AYAT 67 AT-TAUBAH DAN DZAT TUHAN
arifrw@...
Send Email Send Email
 
 
TAFSIR AYAT 67 AT-TAUBAH DAN DZAT TUHAN
 
Fiqih Keseharian(3)
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Langsung saja pada permasalahan: Dalam Al-Quran Tardjamah Djawi yang dikeluarkan oleh Penjiaran Islam Ngajogjakarta (asli ejaan lama), pada surah At-Taubah ayat 67, saya jumpai kejanggalan tafsir dalam salah satu kalimatnya. Adapun bunyi tafsir lengkapnya pada ayat 67 itu adalah sebagai berikut:
 
"Wong-wong munafik lanang lan wadon iku sawenehe pada prentah laku mungkar (ala) marang saweneh lijane, lan pada njegah saka laku betjik serta pada anggegem tangane (kumet), apa dene pada lali ing Allah. Pandjenengane Allah uga supe marang wong-wong mahu. Satemen wong-wong munafik iku pada duraka"
 
Yang saya anggap janggal adalah kalimat: Pandjenengane Allah uga supe. Allah kok supe (lupa). Padahal Allah adalah: "Dzat yang tidak tidur dan tidak lupa (mboten sare lan mboten supe)."
 
Mohon bapak Kiai berkenan menjelaskannya. Terima Kasih
 
S. Soemanto
Mijen, Semarang.
 
Jawab:
 
Bapak Soemanto, ayat 67 surah 9 At-Taubah yang juga disebut Al-Bara'ah itu berbunyi:
 
 
Ayat ini turun dan berbicara tentang orang-orang munafik yang sikap dan perilakunya bertolak belakang dengan orang-orang mukmin, yang terjemahannya sebagai berikut:
"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sama saja, mereka suka menganjurkan perkara mungkar, mencegah yang makruf, dan menggenggam tangan mereka (kikir). Mereka melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka. Sungguh orang-orang munafiklah orang-orang yang fasik"
Ini adalah terjemahan agak bebas versi saya. Bagaimana? Apakah anda merasa janggal juga membacanya?
 
"Mereka melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka" mungkin tidak begitu berbeda dengan misalnya, "Mereka melupakan Allah; lalu Allah melupakan mereka" (Tafsir Prof. Dr Machmud Yunus), atau dengan "Mereka lupa akan Allah, karena itu (Allah) pun lupa akan mereka". (Terjemah Departemen Agama RI dan Tafsir al-Maraghi).
 
Tapi dengan "apa dene pada lali Allah. Panjenengane Allah uga supe marang wong-wong mahu". Anda barangkali bisa merasakan perbedaannya.
 
Ya, seandainya saya boleh mengusulkan kepada Penyiaran Islam Ngayogyakarta yang menerbitkan tafsir itu, mungkin saya hanya mengusulkan agar setelah kata "supe" diberi keterangan (bisa dalam kurung, bisa langsung); seperti misalnya dalam tafsir al-Ibriz-nya KH Bisri Mustofa: "...pada lali marang Allah, mula deweke pada dilalekke dining Allah ta'ala, tegese ora diwelasi...."
 
Bapak Soemanto, Al-Quran seperti kita maklumi, adalah firman Allah kepada kita, para hamba-Nya yang mempunyai jangkauan pemahaman terbatas ini. Oleh karenanya, kita dalam melihat di dalamnya, banyak ungkapan yang sebenarnya tidak untuk kita dan atau di luar jangkauan kita, menggunakan peristilahan seperti yang kita gunakan untuk dan tentang kita juga. Hal itu ---Wallahu A'lam--- dimaksudkan untuk lebih mendekatkan pemahaman kita terhadap makna firman yang bersangkutan.
 
Di dalam Al-Quran itu misalnya, banyak kita jumpai ungkapan seperti"
Budzullahi ("Tangan Allah"),
Wajhullahi ("Wajah Allah"),
A'yuninaa ("Mata Kami").
Istawaa 'Alal'arsyi ("duduk di atas singgasana")
Tidak mungkin 'kan Allah mempunyai tangan seperti kita, maka para mufassir pun memberi keterangan: yang dimaksud dengan "tangan Allah" adalah kekuasaan-Nya. Demikian pula dengan "wajah" yang berarti Dzat-Nya, "mata" yang berarti pengawasan-Nya dan seterusnya.
 
Di samping itu ada juga firman yang menggunakan ungkapan sekedar "bandingan" seperti misalnya:
 
"Mereka (orang-orang) kafir itu membuat tipu daya dan Allah pun (membalas) membuat tipu daya. dan Allah adalah sehebat-hebat pembuat tipu daya"
(QS 3. Ali Imran: 54)
 
Untuk membandingi tipu daya mereka. Allah pun mengistilahkan cobaan atau adzabnya kepada mereka dengan "tipu daya" pula. Seperti halnya juga istilah "supe" dalam ayat 67 at-Taubah yang kita bicarakan sekarang ini. Karena orang-orang munafik itu pada lupa akan Allah, maka Ia pun melupakan mereka. Mengabaikan dan tak mengindahkan mereka
 
[]
 
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
 
Seri ke-3, 18 Agustus 1999
Serial Fiqih Keseharian
Diasuh oleh KH. A. Mustofa Bisri
Dimaintenance oleh Forum Kajian & Dakwah Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

#6 From: "Arif R. Widianto" <arifrw@...>
Date: Wed Aug 11, 1999 8:55 am
Subject: Fiqih Keseharian(1): ALASAN PERCAYA MUHAMMAD RASUL ALLAH
arifrw@...
Send Email Send Email
 
ALASAN PERCAYA MUHAMMAD RASUL ALLAH
 
Fiqih Keseharian(1)
Oleh Sang Pujangga KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Ingin tanya sedikit Pak Mus.
  1. Alasan apa yang menyebabkan saudara percaya bahwa Muhammad itu rasul Allah, sedangkan yang mengatakan bahwa dia itu rasul Allah, adalah Muhammad itu sendiri, tidak ada yang menyaksikan kebenaran pengangkatan ini?
  2. Apakah agama itu dapat menyelamatkan saudara dari hukuman kekal, dengan alasan apa saudara mengiyakannya?
  3. Maukah saudara menerima Kristus (Isa Almasih) sebagai Tuhan dan juru selamat saudara? Sebab ada tertulis demikian:
"Isaa faa innahu Ruuhullah wa kalimatuhu" (Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan firman-Nya) Hadits Anas bin Malik, Mutiara Hadits hal. 533.
"Innamal masichu Isa bin Maryama Rasulullahi wakalimatuhu alqaaha ila Maryama wa ruuhun minhu" (Sesungguhnya Isa Almasih bin Maryam itu adalah utusan Allah dan firman-Nya yang ditumpahkan-Nya kepada Maryam dan Roh daripada-Nya) Quran surah An-Nisaa 171.
"Innallaha ja'ala Yusu'a hadzalladzi shalabtuhu antum Rabba wa masichan" (Sesungguhnya Allah telah menjadikan  Yesus yang kamu salibkan itu Tuhan dan Kristus) A'malul Rasuli 2: 36
"Akulah jalan kebenaran da hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa (surga), kalau tidak melalui Aku" Yohannes 14:6.
Maaf kalau uraiannya terlalu panjang.
D. Prasetyo Hariono
Ngresep Timur 3/92 Semarang
 
Jawab:
Agar tidak bertele-tele dan, baiklah saya akan menjawab sesuai dengan pertanyaan Anda, urut pernomor.
  1. Banyak alasan yang menyebabkan saya --dan sekian juta manusia normal lainnya-- mempercayai bahwa Muhammad Saw. adaah Rasul Allah. Utusan Allah. Ada persaksian Allah sendiri, persaksian kitab-kitab Allah sebelum Al Quran seperti Taurat dan Injil, persaksian tokoh-tokoh dunia termasuk yang Yahudi dan Nasrani, dan sebagainya. Tapi untuk Anda kiranya cukup satu alasan saja.
    Begini saudara Prasetyo:
    Seribu orang barangkali masih mungkin bersekongkol untuk berbohong. Tapi semua orang yang waras pastilah mengatakan mustahil satu generasi ke generasi bersepakat berbohong. Itulah sebabnya antara lain, hampir semua orang yang mengerti di dunia ini sepakat bahwa kitab suci Al-Quran adalah satu-satunya --setidaknya termasuk salah satulah-- kitab yang paling otentik di dunia. Iap dipercayai oleh jutaan --kalau tidak milyaran-- orang sebagai bersumber dari wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw.
    Kandungan Al-Quran yang begitu sarat dengan mutiara-mutiara ilmu pengetahuan, hikmah, etika, hukum, sejarah, dan sebagainya, sudah sama-sam diketahui orang. Sampai kini orang bisa membacanya sendiri. Saya rasa hanya orang yang tidak pernah membacanya atau orang sakit batinnya saja yang mengingkari kenyataan ini.
    Nah menurut persaksian sejarah (artinya bukan cerita beberapa ribu orang ke beberapa ribu oran, tapi dari generasi ke generasi dan terdiri dari yang mukmin maupun yang bukan), Muhammad SAW. adalah seorang yang buta huruf. Tidak bisa membaca dan tulis. Tidak pernah berguru atau mengaji kepada siapa pun.
    Menurut penalaran yang wajar, adalah tidak mungkin bin mukal orang yang seperti itu bisa berbicara seperti segala yang menjadi kandungan Al-Quran tersebut. kesimpulan logisnya: apa yang disampaikan Muhammad SAW. itu bukan dari dirinya sendiri tapi benar-benar wahyu dari Allah.
    Apalagi jika diingat bahwa --kalau saja Anda tahu bahasa sastra dan Arab-- bahasa Al-Quran sedemikian tinggi nilai sastranya. (Sehingga tantangan Al-Quran sendiri --yang masih terbukan hingga hari kiamat-- kepada siapa pun yang tidak percaya, untuk mendatangkan satu surah saja yang seperti surah dalam Al-Quran, sampai kini tak ada --dan tak bakal ada yang mampu-- "memanfaatkannya" untuk "mempermalukan" Al-Quran dengan memenuhi tantangan itu). Dan Al-Quran, firman Allah itu, menyatakan bahwa Muhammad bin Abdillah Saw adalah utusan-Nya.
  2. Bahwa agama yang menyelamatkan saya maupun Anda. Tapi Allah Sqt., Tuhan kita. Dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkan dari hukuman sementara maupun kekal. Agama adalah tuntutan dan ajaran-Nya dengan mana Ia berkenan dan berjanji menyelamatkan mereka yang mengikutinya.
  3. Anda ini lucu. Jangankan hanya kutipkan beberapa kutipan yang rancu --lafal maupun maknanya-- begitu; suruhlah pujangga dan ahli kitab sedunianya membacakan segala yang ada yang pada mereka kepada saya; selagi akal saya masih waras, mana mungkin saya yang mengakui dan menerima makhluk --siapa pun dia; apakah dia istimewa karen lahir tanpa bapak-ibu seperti Adam; lahir tanpa ibu sperti Hawa (Eve); lahir tanpa ayah seperti Isa, atau beribu-bapak seperti Muhammad--- sebagai Tuhan dan Juru selamat dalam arti secara hakiki dapat menyelamatkan. Naudzu billah min dzaalik!
    Lagi pula tak ada satu pun kutipas Anda ---jika benar Anda mengutipnya atau menafsirkannya--- yang menunjukkan bahwa Isa Al-Masih itu Tuhan. Bahkan Al-Quran surah An-Nisaa 171 yang anda kutip sebagiannya itu justru merupakan teguran kepada Ahlul-Kitab  agar tidak melampaui batas dalam beragama dan tidak mengatakan tentang Allah kecuali yang benar.
    Surah An-Nisaa 171
    "Al-Masih, Isa putra Maryam itu tidak lain hanyalah utusan Allah dan yang diciptakan dengan kalimat-Nya (kun!=jadilah) yang diarahkan-Nya kepada Maryam dan dengan tiupan roh daripada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, "Tuhan itu tida". Berhentilah beranggapan begitu. Itu lebih baik bagimu. Allah tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Allah dari yang mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai penyelamat".(QS. 4. An-Nisaa: 171)


    (Agak lengkap saya memaknai ayat 171 surah An Nisaa yang Anda kutip, sekalian untuk menunjukkan bukti ketinggian bahasa dan sastra Al-Quran. Dengan hanya tahu bahasa Arab, belum tentu orang bisa menafsirkan Al-Quran. Apalagi yang tidak tahu bahasa Arab).
    Pendek kata kutipan-kutipan Anda itu, terlepas dari kerancuannya, tidak manambah dan mengurangi keyakinan saya bahwa Isa Al-Masih bin Maryam tak lebih dari seorang Nabi dan Utusan Allah (Notabene: meskipun saya tidak menyaksikan sendiri keangkatannya).
Demikianlah: mudah-mudahan Allah menunjukkan kita jalan yang benar. Amin[]
 
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
 
Seri ke-1, Kamis 11 Agustus 1999
Serial Fiqih Keseharian
Buah Karya Sang Pujanga KH. A. Mustofa Bisri
Dijalankan oleh Forum Kajian & Diskusi Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

#5 From: "Arif R. Widianto" <arifrw@...>
Date: Wed Aug 11, 1999 8:49 am
Subject: Fiqih Keseharian(1): ALASAN PERCAYA MUHAMMAD RASUL ALLAH
arifrw@...
Send Email Send Email
 
ALASAN PERCAYA MUHAMMAD RASUL ALLAH
 
Fiqih Keseharian(1)
Oleh Sang Pujangga KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Ingin tanya sedikit Pak Mus.
  1. Alasan apa yang menyebabkan saudara percaya bahwa Muhammad itu rasul Allah, sedangkan yang mengatakan bahwa dia itu rasul Allah, adalah Muhammad itu sendiri, tidak ada yang menyaksikan kebenaran pengangkatan ini?
  2. Apakah agama itu dapat menyelamatkan saudara dari hukuman kekal, dengan alasan apa saudara mengiyakannya?
  3. Maukah saudara menerima Kristus (Isa Almasih) sebagai Tuhan dan juru selamat saudara? Sebab ada tertulis demikian:
"Isaa faa innahu Ruuhullah wa kalimatuhu" (Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan firman-Nya) Hadits Anas bin Malik, Mutiara Hadits hal. 533.
"Innamal masichu Isa bin Maryama Rasulullahi wakalimatuhu alqaaha ila Maryama wa ruuhun minhu" (Sesungguhnya Isa Almasih bin Maryam itu adalah utusan Allah dan firman-Nya yang ditumpahkan-Nya kepada Maryam dan Roh daripada-Nya) Quran surah An-Nisaa 171.
"Innallaha ja'ala Yusu'a hadzalladzi shalabtuhu antum Rabba wa masichan" (Sesungguhnya Allah telah menjadikan  Yesus yang kamu salibkan itu Tuhan dan Kristus) A'malul Rasuli 2: 36
"Akulah jalan kebenaran da hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa (surga), kalau tidak melalui Aku" Yohannes 14:6.
Maaf kalau uraiannya terlalu panjang.
D. Prasetyo Hariono
Ngresep Timur 3/92 Semarang
 
Jawab:
Agar tidak bertele-tele dan, baiklah saya akan menjawab sesuai dengan pertanyaan Anda, urut pernomor.
  1. Banyak alasan yang menyebabkan saya --dan sekian juta manusia normal lainnya-- mempercayai bahwa Muhammad Saw. adaah Rasul Allah. Utusan Allah. Ada persaksian Allah sendiri, persaksian kitab-kitab Allah sebelum Al Quran seperti Taurat dan Injil, persaksian tokoh-tokoh dunia termasuk yang Yahudi dan Nasrani, dan sebagainya. Tapi untuk Anda kiranya cukup satu alasan saja.
    Begini saudara Prasetyo:
    Seribu orang barangkali masih mungkin bersekongkol untuk berbohong. Tapi semua orang yang waras pastilah mengatakan mustahil satu generasi ke generasi bersepakat berbohong. Itulah sebabnya antara lain, hampir semua orang yang mengerti di dunia ini sepakat bahwa kitab suci Al-Quran adalah satu-satunya --setidaknya termasuk salah satulah-- kitab yang paling otentik di dunia. Iap dipercayai oleh jutaan --kalau tidak milyaran-- orang sebagai bersumber dari wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw.
    Kandungan Al-Quran yang begitu sarat dengan mutiara-mutiara ilmu pengetahuan, hikmah, etika, hukum, sejarah, dan sebagainya, sudah sama-sam diketahui orang. Sampai kini orang bisa membacanya sendiri. Saya rasa hanya orang yang tidak pernah membacanya atau orang sakit batinnya saja yang mengingkari kenyataan ini.
    Nah menurut persaksian sejarah (artinya bukan cerita beberapa ribu orang ke beberapa ribu oran, tapi dari generasi ke generasi dan terdiri dari yang mukmin maupun yang bukan), Muhammad SAW. adalah seorang yang buta huruf. Tidak bisa membaca dan tulis. Tidak pernah berguru atau mengaji kepada siapa pun.
    Menurut penalaran yang wajar, adalah tidak mungkin bin mukal orang yang seperti itu bisa berbicara seperti segala yang menjadi kandungan Al-Quran tersebut. kesimpulan logisnya: apa yang disampaikan Muhammad SAW. itu bukan dari dirinya sendiri tapi benar-benar wahyu dari Allah.
    Apalagi jika diingat bahwa --kalau saja Anda tahu bahasa sastra dan Arab-- bahasa Al-Quran sedemikian tinggi nilai sastranya. (Sehingga tantangan Al-Quran sendiri --yang masih terbukan hingga hari kiamat-- kepada siapa pun yang tidak percaya, untuk mendatangkan satu surah saja yang seperti surah dalam Al-Quran, sampai kini tak ada --dan tak bakal ada yang mampu-- "memanfaatkannya" untuk "mempermalukan" Al-Quran dengan memenuhi tantangan itu). Dan Al-Quran, firman Allah itu, menyatakan bahwa Muhammad bin Abdillah Saw adalah utusan-Nya.
  2. Bahwa agama yang menyelamatkan saya maupun Anda. Tapi Allah Sqt., Tuhan kita. Dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkan dari hukuman sementara maupun kekal. Agama adalah tuntutan dan ajaran-Nya dengan mana Ia berkenan dan berjanji menyelamatkan mereka yang mengikutinya.
  3. Anda ini lucu. Jangankan hanya kutipkan beberapa kutipan yang rancu --lafal maupun maknanya-- begitu; suruhlah pujangga dan ahli kitab sedunianya membacakan segala yang ada yang pada mereka kepada saya; selagi akal saya masih waras, mana mungkin saya yang mengakui dan menerima makhluk --siapa pun dia; apakah dia istimewa karen lahir tanpa bapak-ibu seperti Adam; lahir tanpa ibu sperti Hawa (Eve); lahir tanpa ayah seperti Isa, atau beribu-bapak seperti Muhammad--- sebagai Tuhan dan Juru selamat dalam arti secara hakiki dapat menyelamatkan. Naudzu billah min dzaalik!
    Lagi pula tak ada satu pun kutipas Anda ---jika benar Anda mengutipnya atau menafsirkannya--- yang menunjukkan bahwa Isa Al-Masih itu Tuhan. Bahkan Al-Quran surah An-Nisaa 171 yang anda kutip sebagiannya itu justru merupakan teguran kepada Ahlul-Kitab  agar tidak melampaui batas dalam beragama dan tidak mengatakan tentang Allah kecuali yang benar.

    Surah An-Nisaa 171

    (Agak lengkap saya memaknai ayat 171 surah An Nisaa yang Anda kutip, sekalian untuk menunjukkan bukti ketinggian bahasa dan sastra Al-Quran. Dengan hanya tahu bahasa Arab, belum tentu orang bisa menafsirkan Al-Quran. Apalagi yang tidak tahu bahasa Arab).
    Pendek kata kutipan-kutipan Anda itu, terlepas dari kerancuannya, tidak manambah dan mengurangi keyakinan saya bahwa Isa Al-Masih bin Maryam tak lebih dari seorang Nabi dan Utusan Allah (Notabene: meskipun saya tidak menyaksikan sendiri keangkatannya).
Demikianlah: mudah-mudahan Allah menunjukkan kita jalan yang benar. Amin[]
 
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
 
Seri ke-1, Kamis 11 Agustus 1999
Serial Fiqih Keseharian
Buah Karya Sang Pujanga KH. A. Mustofa Bisri
Dijalankan oleh Forum Kajian & Diskusi Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

#4 From: "Arif R. Widianto" <arifrw@...>
Date: Thu Aug 12, 1999 3:45 am
Subject: Fiqih Keseharian(2): WAHYU, ALLAH, KAFIR, DAN DOSA
arifrw@...
Send Email Send Email
 
 
WAHYU, ALLAH, KAFIR, DAN DOSA
 
Fiqih Keseharian(2)
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Hampir pada setiap hari Kamis, saya tidak pernah lupa membaca rubrik yang Bapak asuh ini. Dengan ini pula saya ingin ikut mengisi rubrik ini dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
Sebagaimana telah kita percaya bahwa Al-Quran adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw; yang ingin saya tanyakan:
  1. Apakah yang disebut wahyu itu? Kemudian kalau di dalam unsur wahyu ada pengertian gain, maka adakah cek-silang untuk mendeteksi bahwa apa yang dikatakan Nabi Muhammad melalui Al-Quran adalah steril dari kontaminasi pemikiran-pemikiran Nabi Muhammad pribadi. (Contoh: pada QS. 9: 5-6 dan 84: dalam surah ini ada perintah pembunuhan terhadap orang-orang munafik. Adakah perintah itu murni dari Allah tanpa terkontaminir oleh pemikiran dari Nabi Muhammad).
  2. Setiap hari kita melafalkan kata "Allah", apakah sebenarnya arti Allah? Kapan pertama kali diperkenalkan dan siapa yang memperkenalkan?
  3. Apakah sebenarnya kata "kafir" itu dan apa pula sebenarnya "dosa" itu? Siapa yang berkah mengatakan kafir atau dosa terhadap seseorang? apa alasannya?
Demikian pertanyaan-pertanyaan dari saya semoga Bapak berkenan menjawab secara rinci, akurat dan komprehensif. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih.
 
Supriyanto
Jl. Tlogo Mukti Timur I no 878 Semarang
 
Jawab:
Wah, entah mengapa saya kok merasa pertanyaan dan "bahasa" Anda agak aneh. Barangkali ini disebabkan karena apa yang Anda pertanyakan merupakan hal-hal yang sudah lama tidak dipermasalahkan di kalangan umat Islam. Tapi bagaimanapun, karena Anda sudah menanyakan, saya akan berusaha mencoba menjawab, meskipun mungkin tidak seperti yang Anda minta betul: rinci, akuran, dan komprehensif!
  1. Wahyu mempunyai banyak arti; bisa berarti isyarat, ilham, dan sebagainya. Tapi yang Anda tanyakan tentulah "sesuatu yang disampaikan Allah kepada nabi atau utusan-Nya dengan cara-cara tertentu." Tampaknya anda sendiri pun sudah tahu apa yang disebut wahyu itu; cuma mempertanyakan ---atau meragukan--- "kesterilan"-nya (meminjam istilah Anda) dari pencemaran pemikiran Nabi Muhammad Saw. Sampai-sampai Anda menyinggung-tanyakan upaya cek-silang untuk mendeteksi kesterilannya segalah. Wah. Bagaiman saya menjawab, wong saya itu sudah terlanjur percaya apa kata Nabi Muhammad Saw. (Kenapa saya percaya kepada Nabi Muhammad Saw dan segala yang diberitakannya, sudah banyak dijelaskan orang. Serba terbatas, saya pun sudah pernah menjelaskan di rubrik ini, dengan judul "Alasan Percaya Muhammad Rasul Allah"). Dan beliau telah menyampaikan banyak firman Allah yang menyatakan bahwa beliau menyampainkan misalnya, firman Allah:

    QS 53. An-Najm 3-4
    "Dan dia tidak mengucapkan (sesuatu) menurut hawa nafsunya, (ucapannya) semata-mata wahyu yang diwahyukan kepadanya."
    (QS 53. An-Najm: 3-4)

    Mungkin Anda terusik dengan "penggalan" ayat seperti yang Anda sitir (yang agak mirip adalah yang Anda sebut QS 9:5, yang lainnya saya tidak melihat relevansinya dengan pertanyaan Anda), yang mungkin Anda tangkap sebagai perintah membunuh (musyrikin, bukan munafik, seperti yang Anda katakan), lalu Anda pun bertanya-tanya: 'Masa Tuhan kok ujug-ujug (begitu saja) memerintahkan membunuh. 'Apa begitu? Kalau benar begitu, Anda tinggal mengulang membaca Surah At-Taubah (QS 9) itu; tapi secara utuh dan jangan dijujug ujug-ujug (diambil jalan pintas secara tiba-tiba). Insya Allah pemahaman Anda akan lain. Syukur juga Anda lengkapi dengan mengkaji sebab-sebab turunnya ayat, azbaab an-nuzul.
  2. Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, menurut kepercayaan umat Islam. Firman Allah:

    QS 2. Al-Baqarah: 163
    "Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."  (QS 2. Al-Baqarah: 163)

    QS 4. An-Nisaa: 170
    "Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana"
    (QS. 4. An-Nisaa: 170)

    QS 006. Al-An'am: 19
    "Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? Katakanlah: 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah: 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)."
    (QS 6. An-An'am: 19)

    Dan masih banyak lagi surah lainnya. Entah siapa yang pertama kali mempekenalkan, tapi menurut ahli sejarah, "Allah" sudah dikenal sebelum Nabi Muhammad Saw. diutus, pada zaman jahiliyyah. Ahli bahasa pun berbeda pendapat mengenai asal-asal kata agung itu. Ada yang berpendapat itu berasal dari ilahun yang berati Tuhan.
  3. Kata "kafir" kebalikan "mukmin", seperti "kufur" kebalikan dari "iman" . Orang yang tidak percaya terhadap apa-apa yang dipercayai (sebagai sendi-sendi iman) orang mukmin, misalnya tidak percaya terhadap Allah adalah kafir. Sedangkan dosa adalah kesalahan menurut ketentuan dari ajaran Allah. Yang berhak  mengatakan kafir atau dosa, adalah orang yang mengetahuinya. Dan yang paling berhak, tentu saja Allah sendiri. Tapi untuk apa sih Anda menanyakan itu semua?[]
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
 
Seri ke-2, Kamis 12 Agustus 1999
Serial Fiqih Keseharian
Diasuh oleh KH. A. Mustofa Bisri
Dimaintenance oleh Forum Kajian & Dakwah Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

#3 From: "Arif R. Widianto" <arifrw@...>
Date: Thu Aug 12, 1999 3:45 am
Subject: Fiqih Keseharian(1): ALASAN PERCAYA MUHAMMAD RASUL ALLAH
arifrw@...
Send Email Send Email
 
 
ALASAN PERCAYA MUHAMMAD RASUL ALLAH
 
Fiqih Keseharian(1)
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
 
Tanya:
Ingin tanya sedikit Pak Mus.
  1. Alasan apa yang menyebabkan saudara percaya bahwa Muhammad itu rasul Allah, sedangkan yang mengatakan bahwa dia itu rasul Allah, adalah Muhammad itu sendiri, tidak ada yang menyaksikan kebenaran pengangkatan ini?
  2. Apakah agama itu dapat menyelamatkan saudara dari hukuman kekal, dengan alasan apa saudara mengiyakannya?
  3. Maukah saudara menerima Kristus (Isa Almasih) sebagai Tuhan dan juru selamat saudara? Sebab ada tertulis demikian:
"Isaa faa innahu Ruuhullah wa kalimatuhu" (Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan firman-Nya) Hadits Anas bin Malik, Mutiara Hadits hal. 533.
"Innamal masichu Isa bin Maryama Rasulullahi wakalimatuhu alqaaha ila Maryama wa ruuhun minhu" (Sesungguhnya Isa Almasih bin Maryam itu adalah utusan Allah dan firman-Nya yang ditumpahkan-Nya kepada Maryam dan Roh daripada-Nya) Quran surah An-Nisaa 171.
"Innallaha ja'ala Yusu'a hadzalladzi shalabtuhu antum Rabba wa masichan" (Sesungguhnya Allah telah menjadikan  Yesus yang kamu salibkan itu Tuhan dan Kristus) A'malul Rasuli 2: 36
"Akulah jalan kebenaran da hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa (surga), kalau tidak melalui Aku" Yohannes 14:6.
Maaf kalau uraiannya terlalu panjang.
D. Prasetyo Hariono
Ngresep Timur 3/92 Semarang
 
Jawab:
Agar tidak bertele-tele dan, baiklah saya akan menjawab sesuai dengan pertanyaan Anda, urut pernomor.
  1. Banyak alasan yang menyebabkan saya --dan sekian juta manusia normal lainnya-- mempercayai bahwa Muhammad Saw. adaah Rasul Allah. Utusan Allah. Ada persaksian Allah sendiri, persaksian kitab-kitab Allah sebelum Al Quran seperti Taurat dan Injil, persaksian tokoh-tokoh dunia termasuk yang Yahudi dan Nasrani, dan sebagainya. Tapi untuk Anda kiranya cukup satu alasan saja.
    Begini saudara Prasetyo:
    Seribu orang barangkali masih mungkin bersekongkol untuk berbohong. Tapi semua orang yang waras pastilah mengatakan mustahil satu generasi ke generasi bersepakat berbohong. Itulah sebabnya antara lain, hampir semua orang yang mengerti di dunia ini sepakat bahwa kitab suci Al-Quran adalah satu-satunya --setidaknya termasuk salah satulah-- kitab yang paling otentik di dunia. Iap dipercayai oleh jutaan --kalau tidak milyaran-- orang sebagai bersumber dari wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw.
    Kandungan Al-Quran yang begitu sarat dengan mutiara-mutiara ilmu pengetahuan, hikmah, etika, hukum, sejarah, dan sebagainya, sudah sama-sam diketahui orang. Sampai kini orang bisa membacanya sendiri. Saya rasa hanya orang yang tidak pernah membacanya atau orang sakit batinnya saja yang mengingkari kenyataan ini.
    Nah menurut persaksian sejarah (artinya bukan cerita beberapa ribu orang ke beberapa ribu oran, tapi dari generasi ke generasi dan terdiri dari yang mukmin maupun yang bukan), Muhammad SAW. adalah seorang yang buta huruf. Tidak bisa membaca dan tulis. Tidak pernah berguru atau mengaji kepada siapa pun.
    Menurut penalaran yang wajar, adalah tidak mungkin bin mukal orang yang seperti itu bisa berbicara seperti segala yang menjadi kandungan Al-Quran tersebut. kesimpulan logisnya: apa yang disampaikan Muhammad SAW. itu bukan dari dirinya sendiri tapi benar-benar wahyu dari Allah.
    Apalagi jika diingat bahwa --kalau saja Anda tahu bahasa sastra dan Arab-- bahasa Al-Quran sedemikian tinggi nilai sastranya. (Sehingga tantangan Al-Quran sendiri --yang masih terbukan hingga hari kiamat-- kepada siapa pun yang tidak percaya, untuk mendatangkan satu surah saja yang seperti surah dalam Al-Quran, sampai kini tak ada --dan tak bakal ada yang mampu-- "memanfaatkannya" untuk "mempermalukan" Al-Quran dengan memenuhi tantangan itu). Dan Al-Quran, firman Allah itu, menyatakan bahwa Muhammad bin Abdillah Saw adalah utusan-Nya.
  2. Bahwa agama yang menyelamatkan saya maupun Anda. Tapi Allah Sqt., Tuhan kita. Dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkan dari hukuman sementara maupun kekal. Agama adalah tuntutan dan ajaran-Nya dengan mana Ia berkenan dan berjanji menyelamatkan mereka yang mengikutinya.
  3. Anda ini lucu. Jangankan hanya kutipkan beberapa kutipan yang rancu --lafal maupun maknanya-- begitu; suruhlah pujangga dan ahli kitab sedunianya membacakan segala yang ada yang pada mereka kepada saya; selagi akal saya masih waras, mana mungkin saya yang mengakui dan menerima makhluk --siapa pun dia; apakah dia istimewa karen lahir tanpa bapak-ibu seperti Adam; lahir tanpa ibu sperti Hawa (Eve); lahir tanpa ayah seperti Isa, atau beribu-bapak seperti Muhammad--- sebagai Tuhan dan Juru selamat dalam arti secara hakiki dapat menyelamatkan. Naudzu billah min dzaalik!
    Lagi pula tak ada satu pun kutipas Anda ---jika benar Anda mengutipnya atau menafsirkannya--- yang menunjukkan bahwa Isa Al-Masih itu Tuhan. Bahkan Al-Quran surah An-Nisaa 171 yang anda kutip sebagiannya itu justru merupakan teguran kepada Ahlul-Kitab  agar tidak melampaui batas dalam beragama dan tidak mengatakan tentang Allah kecuali yang benar.Surah An-Nisaa 171
    "Al-Masih, Isa putra Maryam itu tidak lain hanyalah utusan Allah dan yang diciptakan dengan kalimat-Nya (kun!=jadilah) yang diarahkan-Nya kepada Maryam dan dengan tiupan roh daripada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, "Tuhan itu tida". Berhentilah beranggapan begitu. Itu lebih baik bagimu. Allah tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Allah dari yang mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai penyelamat".(QS. 4. An-Nisaa: 171)


    (Agak lengkap saya memaknai ayat 171 surah An Nisaa yang Anda kutip, sekalian untuk menunjukkan bukti ketinggian bahasa dan sastra Al-Quran. Dengan hanya tahu bahasa Arab, belum tentu orang bisa menafsirkan Al-Quran. Apalagi yang tidak tahu bahasa Arab).
    Pendek kata kutipan-kutipan Anda itu, terlepas dari kerancuannya, tidak manambah dan mengurangi keyakinan saya bahwa Isa Al-Masih bin Maryam tak lebih dari seorang Nabi dan Utusan Allah (Notabene: meskipun saya tidak menyaksikan sendiri keangkatannya).
Demikianlah: mudah-mudahan Allah menunjukkan kita jalan yang benar. Amin[]
 
 

Berlangganan:
Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com
Berhenti:
Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com
 
Seri ke-, 1999
Serial Fiqih Keseharian
Diasuh oleh KH. A. Mustofa Bisri
Dimaintenance oleh Forum Kajian & Dakwah Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

#2 From: "Mukhlisin" <mukhlisin@...>
Date: Wed Aug 11, 1999 9:15 am
Subject: test
mukhlisin@...
Send Email Send Email
 
test
Salam,
Mukhlisin

#1 From: "Arif Rokhmad Widianto" <arifrw@...>
Date: Wed Aug 11, 1999 8:41 am
Subject: Welcome to the pesantren eGroup
arifrw@...
Send Email Send Email
 

Pesantren Virtual
=================

Marilah kita mengaji dan mencari ilmu selagi kita masih diberi kesempatan oleh-Nya. Kita berusaha memanfaatkan waktu yang ada, fasilitas dan jaringan internet untuk kegiatan dakwah kita.


Group Manager: pesantren-owner@egroups.com

To subscribe, send a message to pesantren-subscribe@egroups.com or go to the e-groups's home page at http://www.egroups.com/group/pesantren/


Messages 1 - 30 of 933   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help