Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pesantren · Pesantren Virtual
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want to share photos of your group with the world? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Pengajian: Mulianya Memaafkan ِ   Message List  
Reply | Forward Message #927 of 933 |
#############################################

Pesantren Virtual - "Pondok Pesantren era Digital"
Website: http://www.pesantrenvirtual.com
Informasi: info@...
Konsultasi: konsultasi@...
#############################################

Pengajian: Mulianya Memaafkan ِ


Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ
وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan
pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A'raf 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا
تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka
bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An
Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan
orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat.
Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih
baik:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ
أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا
لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا
وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ
غَفُورٌ رَحِيمٌ

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh,
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat
memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ
وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ
يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)


Menurut Harun Yahya Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres,
kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang
bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan
bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika
marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya
tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan
terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari
mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang
mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun
perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati
mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap
memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia
diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan
bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan
walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka
tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat
menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa
segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir
tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak
pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang
mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang
diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang
yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar
memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah.
Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala
pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa],
susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah
sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang
Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin
menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan
kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya
keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan
mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin,
kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada
diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah
kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika
Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak
menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran
adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya
sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing
Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober
1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa
menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional
bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang
menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan
kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil
langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan
dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari
hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri
mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan
pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun
terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang
menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut
menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan
sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah
untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini,
dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam
banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang
dikandungnya.

Mulai saat inilah tidak ada kata terlambat bagi kita untuk selalu introspeksi
diri, sejauh mana dada dan hati kita memaafkan kesalahan orang lain atau meminta
maaf atas segala kesalahan kita. Hindari sikap egoisme dalam diri yang membuat
setiap manusia lupa akan hakikat jati dirinya. Karena manusia yang besar adalah
manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada
dan hatinya serta selalu mementingkan kemaslahatan umma.

Oleh : Ustadz Agus Handoko




Fri Apr 24, 2009 3:37 am

niams
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #927 of 933 |
Expand Messages Author Sort by Date

############################################# Pesantren Virtual - "Pondok Pesantren era Digital" Website: http://www.pesantrenvirtual.com Informasi:...
ustadz@...
niams
Offline Send Email
Apr 24, 2009
3:39 am
Advanced

Copyright 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help