Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pendidikan · Pendidikan EGROUP dibuat untuk diskusi dan berita pendidikan - Indonesia
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want your group to be featured on the Yahoo! Groups website? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Tulisan Tabrani Yunis   Message List  
Reply | Forward Message #3190 of 5620 |
Harian Analisa Medan, 06/06/06
**
*BILA GURU MAU MENULIS*

*Oleh Tabrani Yunis*

* *

Beberapa penulis yang telah berpengalaman, seperti Eka Budianta, pernah
mengungkapkan kepada public bahwa menulis itu mudah. Kalau tidak percaya,
baca saja bukunya yang berjudul menggebrak dunia mengarang. Bahkan sang
penulis yang berambut gondrong, yang menerbitkan sebuah tabloid remaja
terkenal
di tanah air, Arswendo Atmowiloto, mengatakan bahwa menulis itu gampang.
Tidak juga percaya ? Baca saja bukunya Menulis itu gampang. Banyak lagi
penulis lain yang selalu memotivasi para remaja,orang tua atau siapa saja
untuk menulis. Hernowo, lelaki kelahiran Magelang yang kini menjadi penulis
best seller di penerbit MLC yang sangat produktif dalam menuliskan kiat-kiat
menulis juga mengatakan menulis itu sangat mudah. Salah satu bukunya yang
masih baru adalah Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Membuat Buku. Berbagai
kiat atau resep menulis ditawarkan kepada guru. Dalam kata pengantar di buku
terbitan MLC itu, Hernowo berpesan berharap" saya ingin para pengajar di
seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para muridnya. Saya ingin sekali
para pengajar itu dapat memperkaya para muridnya dengan cerita-cerita yang
mengasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya tulis mereka. Hernowo
dengan bahasa yang cair itu menyuguhkan cara-cara yang mudah untuk menulis.
Namun, mengapa tidak banyak guru yang maau menulis ?



Banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan
guru. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati
buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak
buku yang ditulis oleh para guru. And membaca surat kabar ? Hitunglah berapa
banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali. Bukan ?





Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis ? Jawabannya
pasti bermacam ragam. Namun dalam realitasnya, memang sangat sedikit guru
yang menulis. Jangankan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang
lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan
pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Padahal, guru harus membuat karya
tulis kalau mau cepat naik pangkat. Ketidak mampuan ini telah melahirkan
sebuah kebohongan baru di dalam diri sebagian guru yang ingin cepat naik
pangkat. Caranya banyak,bisa dengan meminta tanaga orang lain, dengan cara
membayar dan bahkan bahkan dengan melakukan tindakan pemalsuan. Ini sebuah
tindakan memalukan dan merendahkan kredibilitas guru. Padahal, kalau bisa
menulis karya tulis sendiri, aktivitas ini adalah sebuah upaya pengembangan
diri guru dalam mengekspresikan diri. Namun sekali lagi, budaya menulis di
kalangan guru itu sangat rendah. Idealnya, seorang guru harus mau dan
pintar menulis. Mengapa demikian ?



Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan
para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya
memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang system dan model
pembelajaran yang dijalankan. guru bisa menulis tentang indahnya menjadi
guru, atau bisa juga menuliskan soal duka cita menjadi guru. Bisa pula
memaparkan tentang sisi-sisi kehidupan guru dan sebagainya. Di pihak lain,
sebagai objek, selama ini banyak orang menjadikan guru sebagai bahan
perbincangan, sebagai bahan tulisan. Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan
orang dalam tulisan mengenai profesi guru yang semakin marginal ini.
Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru yang semakin langka ini, menjadi
sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru,
kebanyakan tidak ditulis oleh para guru. Padahal,kalau semua ini ditulis
oleh guru, maka penulisan sang guru itu akan menjadi sebuah proses
pembelajaran bagi semua orang.



Betapa banyak hikmah dan keuntungan yang dapat dipetik guru, kalau mereka
mau menulis. Keuntungan-keuntungan itu antara lain: *Pertama*, kegiatan
menulis adalah sebuah aktivitas yang dapat memberikan motivasi tinggi
kepada guru. Ketika tulisan –tulisan (karya tulis) dipublikasikan di media,
kita biasanya sangat senang (fun) serta terdorong untuk menulis lagi. Kita
juga merasa bangga (pride) dengan pemuatan itu. Ini sering menjadi motivasi.
Nah, bila guru banyak menulis, maka sang guru akan sangat termotivasi
bahwakan mendapat nilai tambah (added value) karena bisa digolongkan ke
dalam kelompok intelektual. Ini salah satu nilai positifnya.
*Kedua,*kegiatan menulis bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar
(istilah yang
dipakai penulis Harefa). Karena kalau guru mau atau akan menulis, ia pasti
harus melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti ril seperti membaca
berbagai referensi atau literature dan juga membaca realitas social. Pada
proses ini sang guru yang suka menulis akan terbiasa dengan aktivitas
belajar mengidentifikasi masalah, belajar menganalisisnya serta mengasah
kemampuan mencari solusi. Pembelajaran yang demikian bisa membuat guru
menjadi sosok pendidik yang kritis. Kalau ini dilakukan, kesan guru malas
belajar akan pupus. *Ketiga*, percaya atau tidak, menulis bisa memberikan
keuntungan popularitas. Para penulis yang sering menulis di media massa,
biasanya akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menyajikan
hal-hal yang menarik, pasti para pembaca akan selalu teringat dengan si
penulisnya. Guru juga akan bisa memiliki banyak penggemar di bidang ini.
Sekali lagi, kalau guru mau menulis. Keempat, tak dapat dipungkiri bahwa
menulis sebenarnya bisa menambah *income*. Tidak percaya ? Coba saja kirim
tulisan atau karya tulis ke media. Bila tulisan dimuat, maka kocek akan
bertambah. Bagi guru menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi
para guru yang selama ini dirasakan masih rendah tingkat kesejahteraannya. Dan
Andai guru mau aktif menulis di media atau menulis buku, performance guru
pasti berubah. Hasil menulis di media, bisa lebih besar dibandingkan gaji
guru yang diterima setiap bulannya. Tidak percaya ? Silakan coba. *Kelima*,
ada nilai tambah dari menulis yang bisa dipetik sang guru. Dengan menulis,
guru bisa menambah angka kredit. Kredit ini lebih bergengsi dan jumlahnya
lebih besar dari mengajar selama satu semester. Bayangkan saja, satu artikel
yang dimuat di media massa, nilai kreditnya 2 point. Kalau guru bisa menulis
dengan baik, guru tidak perlu mengeluarkan banyakuang untuk membayar ongkos
menulis sebuah karya tulis untuk kenaikan pangkat. Banyak sekali keuntungan
menulis bagi guru,kalau guru mau menulis. Betapa sayangnya, kalau guru
malas, atau tidak bisaa menulis. Padahal, kata Dylan Thomas "Menulislah,
karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan"



Agaknya, memang tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk mengembangkan
kreativitas menulis. Banyak jalan agar para guru bisa menulis. Bukankah para
guru sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menulis. Guru memiliki
sejuta masalah yang membutuhkan langkah analisis dan solusif ? Bukankah
merubah paradigma pembelajaran itu lebih cepat terjadi kalau guru banyak
membaca dan kemudian mengekspresikan hasil bacaan itu ke dalam sebuah
tulisan, apapun bentuknya. Apakah para guru harus diberikan dorongan ekstra
?



Wah, alangkah bermakna dan berharganya kalau guru mau berlatih, bertlatih
dan berlatih menulis. Betapa terangkatnya martabat guru, kalau guru bisa dan
mau menulis. Kalau guru mau menulis,pasti akan banyak anak didik yang bisa
menjadi penulis andalan. Kiranya tidak ada kata terlambat bagi para guru
untuk menulis. Yang ada mari mencoba, membangun diri dengan menulis Semoga.



Tabrani Yunis

Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh


[Non-text portions of this message have been removed]




Tue Jun 6, 2006 4:54 pm

ccde.aceh@...
Send Email Send Email

Forward
Message #3190 of 5620 |
Expand Messages Author Sort by Date

Harian Analisa Medan, 06/06/06 ** *BILA GURU MAU MENULIS* *Oleh Tabrani Yunis* * * Beberapa penulis yang telah berpengalaman, seperti Eka Budianta, pernah ...
ccde banda aceh
ccde.aceh@...
Send Email
Jun 6, 2006
4:59 pm

saya kirimkan tulisan saya mengenai Sertifikasi Guru, sebagai tambahan bahan diskusi. *KETIKA GURU BERBURU STRATA SATU* *Oleh Tabrani Yunis* Posisi guru...
ccde banda aceh
ccde.aceh@...
Send Email
Aug 4, 2006
2:11 pm

*TUKANG KRITIK ITU DIPINDAH* *Oleh Tabrani Yunis* * * Kritik, dalam masyarakat demokratis adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan. Bagi mamsyarakat yang menganut...
ccde banda aceh
ccde.aceh@...
Send Email
Nov 21, 2006
3:50 pm
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help