Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pendidikan · Pendidikan EGROUP dibuat untuk diskusi dan berita pendidikan - Indonesia
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Revolusi Seks Bangku Sekolah   Topic List   < Prev Topic  |  Next Topic >
Reply | Forward < Prev Message  | 
Revolusi Seks Bangku Sekolah


CIANJUR, bagi siapa pun yang pernah mengenal kota kabupaten di Jawa Barat itu,
pasti punya kesan manis. Kota yang resik, berhawa sejuk, dengan lanskap
pegunungan yang melankolis. Para mojangnya pun ramah renyah, dengan senyuman
yang gampang tersungging di antara pipinya yang kuning ranum.

Lagu Semalam Di Cianjur yang dilantunkan Alfian (almarhum) sudah cukup
menggambarkan semua kesan manis itu, meski liriknya pendek. "Kan kuingat di
dalam hatiku/ betapa indah semalam di Cianjur/ Janji kasih yang tlah kau
ucapkan/ penuh kenangan yang takkan terlupakan....''

Jika Anda bukan orang Sunda, datang ke Cianjur sudah cukup untuk melihat seluruh
nuansa Periangan. Cianjur, sekitar 60 kilometer di barat Bandung, bisa dibilang
jantungnya Tatar Sunda. Bagi orang Sunda sendiri, irama lagu cianjuran dengan
iringan kecapi-sulingnya seolah memberi pengaruh magis yang aneh. Ada yang
bilang, mendengar lagu itu seperti mendadak terkenang ke masa-masa lalu, bahkan
jauh menyelusup ke zaman baheula.

Lirik dan melodinya seolah menerbangkan khayalan ke zaman Pajajaran, masa
peradaban para karuhun Sunda dengan segala nilai Timur-nya yang puritan --ketika
masyarakat masih mengenal pamali, sebagai tabu yang tak boleh dilabrak.

Tapi kini, kenangan itu buyar. Cianjur serta merta menyedot perhatian dalam
kesan yang negatif. Kota Periangan yang selama ini dianggap setia pada
nilai-nilai lama, dan religius, itu telah tercemari peradaban hedonis: seks
bebas.

Seperti ramai diberitakan, 11 siswa dan siswi sekolah menengah umum negeri
(SMUN) II Cianjur telah dipecat awal bulan ini karena terlibat seks bebas yang
pamali itu. Bahkan kini beredar kepingan VCD berisi adegan sepasang pelajar
melakukan, maaf, seks oral di kelas itu.

Masyarakat Cianjur pantas gerah. Kamis pekan lalu, ratusan pelajar dan mahasiswa
se-Cianjur, yang menamakan diri Forum Masyarakat Anti Maksiat berunjuk rasa di
depan kantor DPRD. Mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Cianjur serius
menanggulangi segala bentuk prostitusi dan pornoaksi yang kian marak.

"Kami juga menyerukan masyarakat untuk meningkatkan pendidikan Islam," ujar
Ganesya Arkadi, koordinator aksi, kepada Gatra. Masyarakat Cianjur memang sudah
sepakat menerapkan syariat Islam sejak 26 Maret 2001. Pengunjuk rasa meminta
agar kasus asusila yang terjadi di SMUN II diusut secara hukum.

Ketika Gatra berkunjung ke SMUN II di Jalan Siliwangi Cianjur, Kamis pekan lalu,
kesedihan tergambar pada wajah para guru dan sebagian besar siswanya. "Kami malu
dan trauma," kata Mohamad Iqbal, Ketua OSIS SMUN II Cianjur. Para siswi pun kini
kerap jadi sasaran pelecehan. Ketika menunggu angkutan pulang di dekat
sekolahnya, mereka sering mendapat sindiran dari para awak angkutan umum. "Neng
sabaraha?" kata mereka, menanyakan tarif kencan.

Semuanya berawal dari perbuatan tak senonoh yang dilakukan sepasang pelajar SMUN
II, sebut saja namanya Yuyun dan Didi. Kedua pelajar kelas dua Program Bahasa
itu dituduh telah melakukan seks oral di bangku kelas. Adegan itu bahkan direkam
seorang pelajar lain, panggil saja namanya Cici, dengan telepon selulernya.
Kemudian gambar itu beredar di antara para pelajar pemilik seluler di Cianjur,
beberapa hari menjelang Lebaran.

Menurut penuturan sejumlah siswa kepada Gatra, adegan mesum itu dilakukan Yuyun
dan Didi sekitar pertengahan Oktober, tepat di bulan Ramadan! Mereka
melakukannya saat jam istirahat, sekitar pukul 10.00. Saat itu suasana kelas
sepi, sebagian siswa beristirahat di luar kelas. Suasana senyap itu ternyata
dimanfaatkan Didi dan Yuyun, dua pelajar yang memang dikenal cuek. Apakah
keduanya berpacaran? "Tidak, mereka cuma temenan saja," kata seorang siswa yang
tak mau disebut namanya.

Tak ada yang tahu bagaimana awal kejadian itu. Yang jelas, sewaktu empat orang
siswi lain masuk kelas, Yuyun dan Didi sedang terlena, direkam Cici. Didi duduk
di bangku, sedangkan Yuyun jongkok di lantai. Keempat siswi yang baru masuk itu
kontan berlarian ke luar kelas lagi. "Bahkan ada yang muntah-muntah melihatnya,"
kata siswa tadi. Rekaman peristiwa itu kemudian menyebar dari seluler ke
seluler.

Akhirnya, sampailah kasus itu ke Dewan Guru SMUN II. Tak ayal lagi, para guru
langsung memanggil Yuyun dan Didi. Keduanya konon berterus terang telah
melakukannya. Tapi Didi dan Yuyun tak ingin disalahkan sendirian. Mereka
mengoceh bahwa teman-temannya pun sudah terbiasa melakukan seks bebas.

Ada sejumlah siswi yang, katanya, biasa menjajakan diri kepada para hidung
belang. Tarifnya sekitar Rp 200.000. Di kalangan mereka, siswi nakal itu disebut
"cewek pulsa", yakni cewek yang biasa "jualan" untuk membeli pulsa seluler
prabayar.

Yuyun menyebut delapan nama temannya, yang terlibat perilaku asusila itu. Dua di
antaranya pelajar pria, yang selain pernah melakukan hubungan intim, juga
bertindak sebagai germo. Dewan Guru SMUN II akhirnya mengeluarkan Didi, Yuyun,
Cici, dan kedelapan pelajar tadi.

Belakangan, dari para pelajar yang dipecat itu terungkap aib lain yang lebih
memalukan: seorang guru terlibat kegiatan seks bebas bersama mereka. Guru itu
berinisial DS, pengajar biologi, ayah tiga anak. Menurut penuturan seorang siswa
kepada Gatra, Pak DS ini sempat pula mencicipi Yuyun, sebelum menawarkannya
kepada para pria hidung belang.

DS dijemput polisi Rabu pekan lalu dari rumahnya. "Dia kami jerat dengan Pasal
294 dan 293 KUHP tentang perbuatan cabul," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal
Polres Cianjur, AKP Wardoli. Polisi masih menyelidiki hubungan DS dengan para
siswa SMUN II yang dipecat itu.

Gatra sempat berusaha mencari para pelajar yang sudah dikeluarkan dari
sekolahnya itu. Tapi tak seorang pun bisa ditemui. Mereka ngumpet setelah
peristiwa aib itu mencuat. Yuyun yang tinggal di bilangan Warung Jajar, Cianjur,
dikabarkan mengungsi ke Bandung. Sedangkan Didi kabarnya dipindahkan keluarganya
ke Jakarta. Orangtua Didi yang membuka sebuah toko emas di Jalan Mangunsarkoro,
menolak berbicara dengan Gatra. Mereka diam seolah tak terjadi apa-apa.

Padahal, aib di sekolah itu kini jadi bahan perbincangan di mana-mana. Kalangan
pendidik memprihatinkan akhlak para pelajar Cianjur yang kian bebas. Dedy
Suhendi, seorang guru di sebuah SLTP di Cianjur, mengatakan bahwa kasus di SMUN
II boleh dibilang ibarat fenomena gunung es. "Banyak kenyataan yang tidak
mencuat," katanya. "Banyak anak sekolah lain berperilaku begitu."

Seorang siswi sebuah SMU negeri lain di Cianjur membenarkan pendapat Dedy.
"Kasus ini hanya sebagian kecil," katanya kepada Gatra. Dia menuturkan ada
sejumlah temannya yang juga menjadi "cewek pulsa". Mereka siap dibawa ke
penginapan yang banyak bertebaran di sepanjang jalur wisata ke arah Puncak atau
Sukabumi.

Tapi, pergaulan bebas itu sama sekali bukan monopoli pelajar Cianjur. Para
remaja di kota-kota lain pun, terutama kota besar, kini dinilai cenderung lebih
permisif dalam urusan seks. Seorang siswi sekolah menengah di Jakarta, Pipi
--bukan nama sebenarnya-- mengomentari kasus Cianjur dengan berujar, "Sinting,
ngapain gituan di dalam kelas!"

Pipi tak bermaksud mengatakan dirinya bersih. Ia sendiri mengaku tak aneh dengan
seks. Cuma, tak pernah melakukannya di kelas. Pipi, yang kini duduk di kelas III
sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) di kawasan Cawang, Jakarta Timur, itu
terus terang sudah mengenal seks sejak kelas I.

Gilanya, bagi Pipi dan teman-temannya, seks adalah ''gaul''. Pipi biasa kongkow
dengan tiga kawan sekelasnya. Kadang mereka menonton VCD porno bersama
teman-teman cowoknya. Yang belum mencoba adegan dalam film porno itu dianggap
kurang gaul.

Bagaimana mereka bisa begitu bebas dalam urusan seks? "Awalnya gue dikerjain
pacar," Pipi bertutur. Tapi intim dengan sang pacar itu cuma berumur setahun.
Mereka putus, dan Pipi lalu mencari gebetan baru dengan status anyar: bukan
perawan lagi. Nothing to lose!

Pipi akhirnya tak sungkan lagi melayani pria hidung belang. Sebab, ia butuh duit
untuk membeli handphone --nama beken telepon seluler. Dan "tuntutan pergaulan"
itu terus berlanjut karena tiap bulan pulsa teleponnya habis. Sedangkan
orangtuanya yang pas-pasan tak memberinya jatah duit.

Pipi bersama teman-temannya biasa mejeng di kawasan Cililitan, masih di Jakarta
Timur. Di sanalah kawanan mereka mencegat mobil seorang wartawan Gatra, usai jam
sekolah, suatu hari. Awalnya mereka cuma bilang mau menumpang sampai Kalibata
Mal, tak jauh dari Cililitan. Tapi kemudian mereka tak ragu mengajak
jalan-jalan.

Pipi akhirnya blak-blakan: ia dan tiga temannya siap diajak check in --istilah
untuk bertransaksi seksual, dengan bayaran Rp 1 juta. Berempat sekaligus? "Kalau
mau berdua enam ratus ribu deh," kata Pipi tanpa malu-malu. Yang jelas, gadis
hitam manis itu menolak "melayani" sendiri pria dewasa yang baru dikenalnya.
Kecuali kalau sudah akrab.

Anehnya, dua di antara rombongan gadis nakal itu mengatakan punya pacar tetap.
Noni, misalnya mengaku sering melakukan hubungan intim dengan sang pacar, kapan
saja mereka suka. "Seringnya, ya, di rumah dia," kata warga kawasan Pondokgede,
Bekasi, yang menolak menyebutkan nama aslinya itu. Camer, alias calon mertuanya,
kata Noni, cuek saja kalaupun ia berlama-lama di kamar cowoknya.

Uniknya, uang hasil transaksi birahi yang diperoleh Noni justru sering digunakan
untuk hura-hura bersama sang pacar. Ia memang tak bercerita dari mana
mendapatkan uang itu. Apa pun yang mereka lakukan, seolah sudah jadi rahasia
mereka berempat. Solidaritas di antara keempatnya juga amat tinggi.

Kawanan Pipi tak sendirian. Di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, pada malam
akhir pekan, kerap ditemui para remaja putri --yang juga menganut kebebasan yang
sama-- mejeng. Mereka dikenal dengan sebutan "pekcum" alias perek cuma-cuma.
Sebuah stasiun televisi pernah menayangkan aksi mereka. Sebagian besar dari
mereka mengaku masih duduk di bangku SMU dan rela mengumbar berahi demi
kesenangan.

Para remaja kini betul-betul tersesat ke zaman baru. Menurut seksolog Profesor
Wimpie Pangkahila, pandangan masyarakat tentang seks memang telah berubah jauh.
Seks tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral untuk dibicarakan, bahkan
mulai dianggap sah-sah saja dilakukan meski tanpa ikatan.

"Akibatnya, perilaku seksual masyarakat makin bebas, tidak lagi terikat oleh
norma-norma," kata guru besar Universitas Udayana, Bali, itu. "Dulu hamil
sebelum menikah dianggap kecelakaan. Sekarang orang menikah dengan perut buncit
hal biasa."

Gelombang kebebasan seks terasa kian menggelora setelah internet membumi
pertengahan 1990-an, diikuti teknologi telepon seluler yang kian canggih.
Keduanya memberikan fasilitas baru bagi pergaulan yang nyaris tanpa sekat.

Internet bukan cuma menyuguhkan gambar-gambar seronok lewat situs-situs
pornonya, juga menjadi media untuk mencari kawan baru dengan semangat mesum.
Telepon seluler yang dilengkapi kamera kini cenderung dianggap peranti
dokumentasi baru untuk hal-hal yang paling pribadi. Semuanya telah menjadi alat
gaul baru yang memicu perilaku aneh.

Lihat saja, banyak foto jorok para remaja tersebar dari layar seluler, bahkan
masuk jaringan internet. Yang paling heboh adalah kasus foto telanjang siswa
kelas III sebuah SMU Negeri, di Mojokerto, Jawa Timur, yang juga menjadi Yuk
(Gadis) Mojokerto 2005. Foto-foto bugilnya terpajang di situs smu1puri.cjb.net,
sejak Oktober lalu.

Pose-pose telanjang itu, seperti dilaporkan wartawan Gatra di Surabaya, Rach
Alida Bahaweres, diduga dibuat oleh pacar sang gadis di sebuah penginapan di
Lawang, Malang, pada September lalu. Entah siapa yang kemudian mentransfernya ke
internet dan apa motifnya.

Yang jelas, gadis Mojokerto itu, Endang Christy Handayani, 18 tahun, tetap
menolak mengakui gambar-gambar itu sebagai foto dirinya. Kini, Endang yang cukup
berpretasi di sekolahnya itu menghilang setelah gelar Yuk Mojokertonya dicabut.

Gambar-gambar mesum para gadis lokal lainnya di internet --kadang dalam adegan
panas dengan pasangannya-- tak terjelaskan asal-usulnya. Namun, semuanya
menunjukkan bahwa kebebasan baru sudah lahir: seks terang-terangan.

Revolusi seks yang mencuat di Amerika Serikat dan Eropa pada akhir 1960-an
seolah sudah merambah ke sini, melalui peranti teknologi informasi, dan sarana
hiburan yang makin canggih. Bintang-bintang porno film biru Amerika kini dengan
gampang bisa dinikmati melalui alat pemutar VCD dan DVD.

Yahya Ma'shum, Kepala Divisi Informasi, Edukasi, Motivasi, dan Advokasi
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengatakan, peta seks memang
sudah berubah. "Dibandingkan dengan dua dekade lalu, hubungan seks di kalangan
remaja telah meningkat, dan sudah terang-terangan," katanya kepada Ajeng Ritzki
Pitakasari dari Gatra.

Hasil riset Synote tahun 2004 juga membuktikannya. Riset dilakukan di empat kota
yakni Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dari 450 responden, 44% mengaku
berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Bahkan ada 16 responden
yang mengenal seks sejak usia 13-15 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan
hubungan seks di rumah. Sedangkan 26% melakukannya di tempat kos, dan 20 %
lainnya di hotel.

Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 2.880
remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat pada 2002, juga menunjukkan
angka menyedihkan. Sebanyak 39,65% dari mereka pernah berhubungan seks sebelum
nikah.

Sungguh celaka: para remaja mungkin mengidentikkan kebebasan seks dengan
pergaulan modern. Padahal, menurut seksolog dokter Naek L. Tobing, seks bebas
adalah kehidupan primitif. "Seks bebas terjadi sebelum agama-agama lahir,"
katanya. Ketika peradaban semakin maju, dan ilmu pengetahuan berkembang, seks
bebas ternyata terbukti membawa banyak persoalan. Selain merusak tatanan sosial
juga menyebarkan berbagai penyakit gawat.

Tanpa peran agama, pendidikan dan kontrol keluarga, kebebasan seks bisa jadi
bakal makin menyesatkan.

Endang Sukendar, Rachmat Hidayat, dan Ida Farida (Bandung)
[Laporan Utama, Gatra Nomor 3 Beredar Senin, 28 November 2005]


---------------------------------
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

[Non-text portions of this message have been removed]




Wed Nov 30, 2005 3:08 pm

agus_cahyono...
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
< Prev Message  | 
Expand Messages Author Sort by Date

Revolusi Seks Bangku Sekolah CIANJUR, bagi siapa pun yang pernah mengenal kota kabupaten di Jawa Barat itu, pasti punya kesan manis. Kota yang resik, berhawa...
Agus Cahyono
agus_cahyono...
Offline Send Email
Nov 30, 2005
3:11 pm

Halo Pak Agus, Terima kasih atas kontribusi anda. Mohon membaca beberapa saran sebelumnya, memang topiknya menarik. Re: "Revolusi seks yang mencuat di Amerika...
Phillip Rekdale
prekdale
Offline Send Email
Nov 30, 2005
3:44 pm

Salam. Saya mau ikut nimbrung nih Pak Phillip. Saya sepaham dengan pernyataan (pertanyaan?) anda bahwa, apa betul tidak ada seks bebas di Indonesia sebelum...
R Chandra
rchandra@...
Send Email
Dec 1, 2005
5:31 am

Halo R Chandra dan Teman-Teman Yth, Terima kasih atas saran dan cerita anda. Sangat menarik dan informatif. Saya selalu sedih mendengar generasi-generasi kita...
Phillip Rekdale
prekdale
Offline Send Email
Dec 1, 2005
6:41 am

ronis juga jika flash back pada era 70-an, ternyata bukan hanya ada dijaman sekarang saja anak2 muda yang masih berseragam sekolah bisa melakukan hal2 yang...
Muhammad Ilham Nawawi
muhammad_ilh...
Offline Send Email
Dec 1, 2005
9:41 am

Halo Muhammad Yth, Terima kasi atas kontribusi anda. RE: "Kalau kita ingin maju kita harus mulai dari kejujuran." Saya hanya bilang bahwa kita harus "mulai"...
Phillip Rekdale
prekdale
Offline Send Email
Dec 1, 2005
11:12 am

Bekas Penjahat Insyaf Pak Phillip yth, kalau diperhatikan, masalah seks (bebas) di masyarakat kita ini seperti fenomena bekas penjahat/preman insyaf ya ? Dulu...
R Chandra
rchandra@...
Send Email
Dec 2, 2005
12:49 pm
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help