Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pelita

Group Information

  • Members: 371
  • Category: Countries
  • Founded: Oct 23, 1999
  • Language: English
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Messages

  Messages Help
Advanced
Bersikap Humanis Terhadap ODHA   Message List  
Reply Message #7505 of 10178 |
http://www.indomedia.com/bpost/092004/1/opini/opini1.htm

Bersikap Humanis Terhadap ODHA

Oleh :M Hilmi Faiq dan Romay Adipenas

Laju pertumbuhan pengidap HIV/AIDS benar-benar sulit dikendalikan. Betapa pun
berbagai upaya telah dilakukan, namun jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap
tinggi. Jumlah pengidap HIV dan AIDS selama tiga bulan terakhir (April-Juni
2004) bertambah 231 orang, terbagi atas 113 orang AIDS (penderita sudah
dinyatakan sakit) dan 118 pengidap HIV (penderita masih sehat, namun darahnya
mengandung HIV). Dengan demikian, jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia sejak
1987 hingga Juni 2004 tercatat 4.389 orang yang terdiri atas 1.525 orang AIDS
dan 2.864 pengidap HIV (Kapanlagi.com, 29/7/2004).

Mulanya, HIV/AIDS ditemukan pada kelompok homoseksual di San Fransisco pada 1981
dan menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia pada 1987. Sekarang, bukan
hanya karena homo atau seks bebas, bayi yang tidak tahu apa-apa pun terinveksi.
Konsentrasi virus ini sangat banyak di dalam tubuh, seperti darah, organ kelamin
perempuan (vagina) dan sperma.

Penyebaran tempat tinggal ODHA pun amat sporadis. Penanggulangan HIV/AIDS secara
intensif diprioritaskan di daerah tertentu. Prioritas mencakup enam propinsi,
yakni Papua, Riau, DKI Jakarta, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat. Paling tidak,
ada dua alasan dilakukan penanggulangan berdasarkan prioritas di enam propinsi
tersebut. Pertama, karena keterbatasan dana pemerintah. Kedua, karena di enam
propinsi itu terdapat tanda-tanda penyebaran HIV yang mengkhawatirkan (Kompas,
14/03/2003).

Memang, sampai kini HIV/AIDS masih identik dengan pola hidup metropolis. Namun
bukan berarti, mereka yang hidup di perdesaan aman dari incaran epidemi ini.
Ingat, HIV/AIDS menyerang tanpa pandang bulu. Orang yang memiliki gaya hidup
normal pun dapat terjangkit. Penyebabnya, misalnya karena pasangan hidupnya
(suami, istri atau pacar) memiliki kebiasaan yang tidak sehat atau terjangkit
HIV/AIDS.

Sebagai perbandingan, di Papua, HIV/AIDS telah menjadi epidemi yang sulit
dibendung. Di sana, anak kecil serta orang baik-baik yang jauh dari perbuatan
dosa serta mereka yang tinggal di gubuk reot pun mengidap HIV/AIDS. Untuk itu,
sangat penting bagi kita mewaspadai incaran virus mematikan ini.

Namun demikian, bukan berarti kita harus menyingkirkan ODHA. Selama ini muncul
kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan ODHA. Selain harus berperang
melawan penyakit yang bersarang di tubuhnya, mereka harus dikucilkan, diisolasi,
dicemooh, dilaknat dan disia-siakan masyarakat.

Mengapa hal ini terjadi? Penyebabnya, tidak lain karena minimnya informasi yang
dimiliki publik. Selain itu, informasi yang mereka dapat seputar HIV/AIDS sering
tidak akurat dan bahkan dibumbui dengan mitos. Celakanya, mitos yang berkembang
itu mengesankan bahwa ODHA memang harus dijauhi.

Memang, sebagaimana disinyalir Dadang Hawari, seorang psikiater yang juga
pejuang melawan HIV/AIDS, ODHA umumnya adalah penzina dan pecandu yang lagi
apes. Namun bukan berarti kita harus menyingkirkan mereka sama sekali dari sisi
kemanusiaan. Kondisi ini justru akan memperparah kondisi ODHA. Bahkan, bisa jadi
karena mereka kecewa terhadap prilaku masyarakat terhadapnya, akhirnya dengan
sengaja menyebarkan penyakit yang dideritanya. Ini bisa gawat!

ODHA, sebagaimana juga kita, adalah manusia biasa yang mebutuhkan sentuhan kasih
sayang, kelembutan, perhatian dan pekerjaan. Dalam keputusasaan, ODHA tetap
membutuhkan perhatian, uluran tangan, dukungan moril dan materil.

Bisa dipastikan, seseorang yang divonis positif mengidap HIV/AIDS akan dilanda
kegelisahan. Namun sebagian besar kegelisahan ini, ternyata bukan karena dia
harus berjuang keras melawan penyakit di tubuhnya atau karena harus membeli obat
yang harganya tidak murah. Kegelisahan mereka lebih dikarenakan perasaan gamang
dan takut berbaur dengan masyarakat luas. Mereka sadar, masyarakat masih salah
dalam memahami HIV/AIDS akibat menguatnya stigmatisasi sehingga menghindari
ODHA.

Sebenarnya, kebutuhan mendasar ODHA selain obat adalah afiliasi (afiliation
need). Mereka butuh seseorang untuk berbagi derita yang dialami. Mereka
membutuhkan uluran tangan konselor yang memberi suntikan informasi seputar
HIV/AIDS dan semangat hidup, sehingga hidupnya bisa terjaga dan tidak berbahaya
bagi orang lain.

Itu pun belum cukup. ODHA juga membutuhkan sentuhan dan berbagi dengan
sesamanya. Karenanya, penting bagi masyarakat untuk menfasilitasi sebuah
komunitas ODHA. Dengan adanya komunitas sesama ODHA, setidaknya mereka akan
menemukan semangat baru dalam hidupnya untuk bisa tegar sebagai ODHA. Karena
mereka semakin sadar, penderitaannya juga dirasakan oleh orang lain.

Lebih penting lagi adalah, sudah saatnya kita memberangus stigma seputar ODHA
yang didasarkan informasi salah. Dalam hal ini, media massa memiliki peran yang
tidak kecil. Media dapat membantu mempercepat hilangnya mitos, stigma, maupun
salah paham soal HIV/AIDS, di samping menekan laju peningkatannya. Bagaimana
media mampu menghadirkan informasi seputar HIV/AIDS dengan bersahabat, tidak
menakut-nakuti masyarakat.

Menurut beberapa studi, sebagaimana dipaparkan Cher Jimenez (wartawan peduli
AIDS), cara terbaik adalah memberikan citra positif kepada mereka yang hidup
dengan HIV/AIDS. Ini bukan berarti kita mengeluhkan ODHA, tetapi bagaimana
menghadirkan informasi secara proporsional dan benar sehingga mampu memangkas
stigma serta ketakutan masyarakat yang tidak mendasar itu.

Dari sini diharapkan muncul internalisasi cara pandang yang benar terhadap ODHA.
Kita pun dapat memperlakukannya secara adil tanpa membahayakan diri kita. Dengan
demikian, ODHA dapat hidup secara lebih bermakna dengan segenap deritanya.
Apakah salah, kita memberi kesempatan kepada ODHA untuk hidup bahagia bersama
kita?

Sarjana Psikologi dan Pengamat Sosial, tinggal di Malang

[Non-text portions of this message have been removed]




Wed Sep 1, 2004 5:18 pm

djuni_prist
Offline Offline
Send Email Send Email

Message #7505 of 10178 |
Expand Messages Author Sort by Date

http://www.indomedia.com/bpost/092004/1/opini/opini1.htm Bersikap Humanis Terhadap ODHA Oleh :M Hilmi Faiq dan Romay Adipenas Laju pertumbuhan pengidap...
Djuni Pristiyanto
djuni_prist Offline Send Email
Sep 1, 2004
5:18 pm

http://www.indomedia.com/bpost/092004/1/opini/opini1.htm Bersikap Humanis Terhadap ODHA Oleh :M Hilmi Faiq dan Romay Adipenas Laju pertumbuhan pengidap...
Djuni Pristiyanto
djuni_prist Offline Send Email
Sep 7, 2004
4:25 pm
Advanced

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help