Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pakguruonline · Komunitas guru dan pemerhati pendidikan
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Pendidikan Sekuler di Barat   Message List  
Reply | Forward Message #621 of 7666 |
Pendidikan Sekuler di Barat

Oleh: Dr.-Ing. Fahmi Amhar
Alumnus Vienna University of Technology, Austria

Abstrak

Pendidikan di negara-negara Barat (Eropa, Amerika) sering
dicirikan sebagai pendidikan yang maju, karena memang
berada di dalam siklus sebuah negara industri maju. Namun,
untuk memahami realitas pendidikan di sana, beberapa sisi
harus disorot. Aspek pertama adalah persoalan akses vs
mutu, yang secara langsung berkaitan dengan peran negara di
dalamnya. Di banyak negara, upaya pemerataan akses atas
pendidikan sering kontradiksi dengan mutu yang didapatkan.
Aspek kedua adalah tentang muatan pendidikan, baik dalam
sisi keterampilan hidup, termasuk di dalamnya sains dan
teknologi, maupun pandangan hidup. Yang jelas, realitas
pendidikan di Barat sebenarnya tidak seragam dan tidak
mudah untuk digeneralisasi.

Realitas

Dari 200 perguruan tinggi top di dunia yang disurvei oleh
majalah Times dan dipublikasikan pada November 2004, 62
universitas ada di AS. Inggris mendapat rangking ke-2,
disusul Jerman, Australia, Prancis, dan seterusnya. AS juga
menduduki rangking pertama dilihat dari skor maksimum yang
didapat oleh kampusnya.

Dihitung dari angka skor rata-rata, Swiss menduduki
peringkat tertinggi dengan angka 422. Terlihat, ada suatu
simpangan yang cukup besar dari nilai rata-rata ke minimum
dan maksimum di AS atau Inggris. Sebaliknya, di Jerman,
Swiss, atau Austria nilai simpangan ini sangat kecil, yang
berarti mutu pendidikan di negara-negara itu relatif
merata.

Scoring yang diberikan majalah Times ini meliputi penilaian
dari peer (panel pakar), jumlah fakultas yang "go
intenasional", dan jumlah mahasiswa dari luar negeri (yang
diasumsikan menggambarkan reputasi perguruan tinggi
tersebut sehingga diminati mahasiswa asing), rasio ideal
dari jumlah mahasiswa perfakultas, dan jumlah karya tulis
mereka yang dikutip di dunia ilmiah.

Secara metodologis, nilai skor tidak bisa dibandingkan
secara linear begitu saja, karena hanya sebagai alat
pembeda (differensiasi), bukan kuantifikasi. Artinya,
kampus dengan skor 1000 bukan berarti 10 kali lebih baik
daripada yang skornya 100. Survei ini juga tidak merinci ke
skor perbidang studi yang tentunya akan bisa bervariasi.
Selain itu, indikator yang dipakai tadi tak pelak lebih
menguntungkan negara-negara yang berbahasa Inggris, seperti
AS, Inggris, dan Australia.

Namun, walau bagaimana, daftar itu bisa menjadi cermin
bahwa pada abad ke-21 ini, pendidikan yang bermutu lebih
banyak dijumpai di Barat. Dari Dunia Islam, satu-satunya
negara yang masuk dalam daftar itu hanya Malaysia, yang
diwakili Malaya University dan Sains Malaya University.

Secara umum, memang di Indonesia sendiri, alumni perguruan
tinggi dari Luar Negeri memiliki "daya jual" yang lebih
baik daripada lulusan dalam negeri. Stereotipe yang sering
muncul adalah: lulusan LN memiliki wawasan lebih luas,
memilki attitude (seperti kedisiplinan dan etos kerja) yang
lebih baik, dan lebih cakap berkomunikasi dalam salah satu
bahasa Internasional. Walhasil, banyak anak-anak dari
keluarga kaya yang cenderung pergi sekolah ke Luar Negeri,
atau ke sekolah asing di Indonesia.

Antara Akses dan Mutu

Sebenarnya, jika melihat data di atas, tampak bahwa mutu
pendidikan sangat bergantung pada besarnya dana (anggaran).
Masalahnya, dana tersebut ada yang disediakan pemerintah,
ada yang swadaya.

Pada negara-negara dengan simpangan skore yang besar (AS
atau Inggris), pendidikan tinggi praktis dikelola secara
swadaya. Walhasil, ada PT yang sangat bonafid (dengan skor
1000) seperti Harvard University, yang SPP-nya juga sekitar
US$ 100.000 per semester, namun ada juga yang relatif
rendah (skor 103-walaupun masih masuk Top200), yaitu
Virginia Polytechnic Institute yang disubsidi oleh
pemerintah negara bagian. Di negara-negara dengan simpangan
skor yang kecil (seperti Jerman atau Austria), pendidikan
tinggi hampir seluruhnya didanai oleh negara.

Tampak di sini bahwa sistem pembiayaan pendidikan di Barat
memang tidak seragam sehingga sulit digeneralisasi. Sistem
ini bergantung pada filosofi yang dominan di dalamnya.

Pada negara-negara di mana faham sosialis cukup kuat, yang
diterapkan adalah sistem ekonomi pasar (kapitalis); namun
pada beberapa aspek seperti pendidikan, kesehatan, dan
infrastruktur, negara tetap berperan besar. Sistem ini
sering disebut "social-capitalism" atau
"social-free-market". Di sisi lain, memang ada
negara-negara yang benar-benar menerapkan ekonomi pasar,
termasuk di sektor ini, walaupun levelnya berbeda-beda.

Secara umum, sistem pembiayaan pendidikan di Barat dapat
dibagi ke dalam empat jenis. Jenis pertama adalah subsidi
penuh sehingga pendidikan benar-benar gratis. Sebagai
contoh, di Jerman dan Austria, pendidikan adalah gratis
sejak masuk Sekolah Dasar hingga lulus Doktor (S3).
Walhasil, tidak ada yang tersisih karena persoalan biaya.
Sekolah akan mendapatkan bibit yang terbaik dan siswa yang
memang tidak berbakat atau kecerdasannya kurang memadai
akan terseleksi secara alami.

Jenis kedua adalah mirip jenis pertama, hanya saja untuk
pendidikan tinggi, masa gratis dibatasi misalnya hanya
hingga usia tertentu atau lama studi tertentu. Setelah itu,
mahasiswa dipungut biaya yang akan makin besar jika
lulusnya tertunda. Negeri yang menerapkan ini misalnya
Belanda. Tentu saja di sana selain pujian juga ada kritik
atas sistem ini, karena dianggap mengabaikan kenyataan
bahwa meski sekolah gratis namun biaya hidup cukup tinggi,
dan ada orang-orang yang tidak memiliki biaya hidup yang
cukup sehingga harus sekolah sambil bekerja, sehingga
sekolahnya molor. Memang, meski gratis, yang lebih mampu
memanfaatkan hanya kelas menengah ke atas; masih jarang
yang anak petani atau buruh. Bukan sekadar masalah akses,
namun juga biaya tambahan (untuk hidup).

Jenis ketiga adalah pembiayaan pendidikan gratis hanya
sampai lulus SMA, sedangkan di perguruan tinggi dipungut
biaya SPP, walaupun masih bersubsidi.

Jenis keempat adalah pendidikan membiayai sendiri. Caranya
macam-macam: ada yang dengan melibatkan komunitas atau
alumni, kerjasama dengan industri atau perbankan (kredit
pendidikan), dan atau menjadikan pendidikan sebagai benda
komersil. Contoh ini banyak di Amerika, sekalipun di
Amerika banyak juga model pembiayaan jenis ketiga.

Pendidikan jenis terakhir inilah yang cenderung "dijual"
secara internasional. Kita sering melihat iklan dari
perguruan tinggi Australia, Singapura, atau bahkan Amerika
Serikat. Namun, kita akan jarang melihat iklan sejenis dari
Jerman atau Austria. Andaikata ada, maka ia dipakai untuk:
(1) merekrut calon ilmuwan unggul dari negara Dunia Ketiga;
(2) merekrut calon agen yang akan mempromosikan dan
menyalurkan produk mereka di negara Dunia Ketiga; (3)
mendapatkan tenaga yang lebih murah, minimal selama
pendidikan (karena membayar kandidat PhD jelas lebih murah
daripada membayar pekerja resmi, meski kualifikasi dan yang
dikerjakannya sama); (4) mendapatkan anggaran tambahan dari
pemerintahnya.

Baru Menggarap IQ dan EQ

Dalam masalah muatan pendidikan, aspek IQ (kecerdasan
intelektual) dan EQ (kecerdasan emosi) sama-sama digarap.
Untuk menilainya tentu saja kita harus sadari bahwa di
Indonesia, baru IQ yang diolah. Karena itu, segera akan
terlihat bahwa muatan pendidikan di Indonesia memang kurang
bermutu.

Di Barat pada umumnya siswa atau mahasiswa tidak dibebani
dengan jumlah materi ajar yang terlalu besar sebagaimana di
Indonesia, namun mereka dibekali dengan pisau asah sehingga
mampu mencari dan mengembangkan sendiri ilmu. Sedari kecil
anak dibimbing untuk mampu berpikir logis, kritis, dan
kreatif.

Kecerdasan emosi juga dikembangkan sehingga anak-anak yang
tumbuh di sana relatif lebih percaya diri, lancar
berkomunikasi baik lisan maupun tertulis, dan peka terhadap
lingkungan. Kalau masyarakat di Barat relatif lebih mampu
menjaga kebersihan, rajin bekerja, dan disiplin saat
berlalu-lintas, itu adalah buah dari pendidikan EQ yang
cukup berhasil.

Dari aspek ruhiah (kecerdasan spiritual, SQ), perlakuan
institusi pendidikan tidak sama. Di negara dengan tingkat
sekularisme yang sangat tinggi seperti Prancis, tidak ada
pendidikan agama pada sekolah umum. Pendidikan agama hanya
dimungkinkan pada sekolah swasta berlatar belakang agama.
Di negara dengan kultur agama yang masih kuat (seperti
Katolik di Austria), pendidikan agama diberikan secara umum
di sekolah-sekolah sampai SMU. Untuk siswa yang beragama
lain diberikan juga pendidikan agama dengan guru seagama,
yang semuanya dibayar oleh pemerintah (termasuk guru agama
Islam, yang dikoordinasi oleh Austrian Islamic Society).

Namun, pendidikan agama ini hampir tidak ada pengaruhnya.
Pada penelitian James H. Leuba (psikolog terpandang
Amerika) Th. 1914: 58% dari 1000 ilmuwan Amerika yang
dipilih acak tidak percaya adanya Tuhan. Tahun 1934
jumlahnya naik menjadi 67%. Edward J. Larson (Prof. Hukum &
Sejarah-University of Georgia, Amerika & pemenang Pulitzer
1998) meneliti lebih lanjut pada ilmuwan top anggota
National Academy of Science. Pada pertanyaan, "Apakah
percaya adanya Tuhan," ada jawaban sebagai berikut:

Marketer Sekulerisme

Tampak di sini bahwa budaya sekular-liberal tetap lebih
berkesan dibandingkan dengan pendidikan agama di sekolah
yang cuma beberapa jam seminggu. Persoalan seperti
pergaulan bebas, narkoba, dan kriminalitas di sekolah ada
di mana-mana. Di sisi lain, pandangan terhadap Islam, umat,
dan sejarahnya yang bias hampir ditemui di semua semua
pelajaran (penelitian Susanne Heine: Islam Zwischen
Selbstbild und Klische, Wien, 1995).

Cara pandang dan perilaku sekular-yang tidak harus melalui
indoktrinasi atau pelajaran sekolah-adalah sarana
mempertahankan sistem yang ada di Barat (yakni untuk siswa
mereka sendiri), dan juga mengekspornya ke seluruh dunia
melalui orang-orang asing yang bersekolah di Barat.
Mahasiswa asing ini nantinya diharapkan menjadi "marketer"
tentang keramahan bangsa Barat, kehandalan produk Barat,
dan kemajuan cara pandang Barat.

Pada kasus beasiswa untuk ilmu-ilmu humaniora, pandangan
sekular ini akan tertanam dalam prinsip-prinsip ilmiah yang
dikaji. Penerima beasiswa dari negara-negara berkembang
selama bertahun-tahun, bahkan setelah lulus, diharapkan
menghasilkan paper-paper tentang berbagai hal yang dilihat
dari sudut pandang kapitalis.

Pada beasiswa untuk ilmu-ilmu sains dan teknologi, secara
khusus memang tidak ada pengkondisian sekularisme di
kampus. Namun, realitas kehidupan Barat itu sendiri adalah
cara "dakwah" terbaik tentang sekularisme sehingga tak
sedikit mahasiswa Muslim yang berkesimpulan bahwa sistem di
Barat serba lebih "islami" daripada di negeri Islam
sendiri.

Dengan orang-orang ini, imperialisme dapat dilanjutkan.
Keunggulan sains dan teknologi akan dijadikan alat
imperialisme, misalnya melalui utang LN atau ketergantungan
produk LN, dan ini sering melalui anak-anak kandung umat
Islam sendiri.

Kesimpulan

Pendidikan di Barat secara umum memang saat ini lebih maju
dibandingkan dengan di negeri-negeri Islam, yang memang
belum menerapkan sistem Islam. Dalam pembiayaannya,
ditemukan bahwa ketika negara mendanai penuh pendidikan,
terjadi pemerataan akses, juga mutu. Namun, kurangnya
sentuhan ruhiah, terutama Islam, membuat lulusannya
cenderung ateis dan ter-dehumanisasi. Mereka akan menjadi
alat sekularisme dan imperialisme. ?

sumber : Hizbut Thahrir
(http://hizbut-tahrir.or.id/main.php?page=alwaie&id=55)



Wed Jul 20, 2005 7:23 am

pakguruonline
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #621 of 7666 |
Expand Messages Author Sort by Date

Pendidikan Sekuler di Barat Oleh: Dr.-Ing. Fahmi Amhar Alumnus Vienna University of Technology, Austria Abstrak Pendidikan di negara-negara Barat (Eropa,...
zulfikri
pakguruonline
Offline Send Email
Jul 20, 2005
7:26 am

ATURAN DI SEKOLAH "Di Barat pada umumnya siswa atau mahasiswa tidak dibebani dengan jumlah materi ajar yang terlalu besar sebagaimana di Indonesia, namun...
Fekrynur
fekrynur@...
Send Email
Jul 21, 2005
3:35 pm

Pak Fekry !, Katanya Pak Guru, hubungannya sangat erat dan signifikan sekali terhadap peningkatan mutu disegala lini pemasukkan pendidikan, alasannya dengan ...
Fikon Gurianto
figuri@...
Send Email
Jul 22, 2005
9:45 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help