Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pakguruonline · Komunitas guru dan pemerhati pendidikan
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.

Messages

  Messages Help
Advanced
Etika Orang Minang Semakin Merosot?   Message List  
Reply Message #537 of 7920 |
Etika Orang Minang Semakin Merosot?

Sesungguhnya kuranglah elok rasanya mengkritik sikap
keseharian suku sendiri. Bukankah itu bagaikan menepuk
air di dulang, akan tepercik ke muka sendiri?

Tetapi, masalahnya adalah kenyataan semakin banyaknya
keluhan perantau Minang yang pulang kampung. Mereka
merasakan ada sesuatu yang kurang beres dalam kultur
Minang kontemporer, terutama yang berkaitan dengan
etika dan tatakrama terhadap tamu.

Seorang dirjen asal Minang pernah mengeluh kepada saya
betapa berubahnya masyarakat Minang sekarang; tidak
memedulikan tamu, padahal tamu itu datang untuk
memberikan bantuan. Ini tidak berarti bahwa tamu itu
ingin diperlakukan seperti raja. Tidak! Yang mereka
ingin lihat adalah sikap wajar dari masyarakat
terhadap kedatangannya.

Kewajaran inilah yang semakin punah dari ranah itu.
Mengapa demikian? Tentu perlu penelitian yang
komprehensif tentang faktor-faktor penyebab
kekurangramahan ini.

Keluhan yang mirip saya terima beberapa hari yang lalu
dari seorang petugas PWM [Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah] Sumatra Barat ketika mengantarkan barang
cetakan ke sebuah PDM [Pimpinan Daerah Muhammadiyah]
di suatu kota. Bertanyalah ia kepada polisi tentang
alamat yang sedang dicari. Yang didapatkan adalah
sikap acuh tak acuh dari aparat negara itu, padahal
alamat itu benar-benar diperlukannya.

Tidak saja polisi, rakyat biasa pun punya sikap
serupa. Tidak terlihat sikap ingin membantu orang yang
memerlukan. Tentu tidak semua demikian. Ada saja yang
ramah, tetapi merosotnya etika dan tatakrama sudah
semakin dirasakan di lingkungan masyarakat yang punya
semboyan ''adat basandi syara', syara' basandi
Kitabullah.''

Di mana adat, di mana syara', jika hubungan
antarmanusia sudah gersang dan tandus? Nilai-nilai
budaya berupa keramahan dan sifat suka menolong sudah
semakin hilang dan jauh dari sikap umumnya orang
Minang. Bukankah adat dan syara' mengajarkan hormat
terhadap tamu? Maka, tidaklah mengherankan bila kita
menyaksikan kenyataan tentang semakin panjang saja
daftar perantau yang tidak betah tinggal agak lama di
kampung, padahal ia sangat mencintai tanah
kelahirannya. Dan, tidak sedikit di antara mereka yang
telah menyisihkan sebagian rezekinya, demi kampung.

Adat ''pulang basamo'' masyarakat Sulit Air misalnya
adalah di antara contoh yang menonjol mengenai
kecintaan perantau terhadap kampungnya, sekalipun
sebagian mereka lahir di perantauan. Tetapi, Minang
sekarang sudah seperti sri-gunung; jauh terlihat
rancak (cantik), dekat penuh borok. Masyarakat sudah
larut dalam pragmatisme-materialistik.

''Adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah''
semakin mengawang jauh tinggi di langit, tidak lagi
membumi. Ini realitas pahit yang dikeluhkan oleh
banyak perantau Minang kepada saya. Bukan karena
apa-apa, tetapi semata-mata untuk menunjukkan
keprihatinan mereka yang dalam terhadap suasana
kampung halamannya yang kehilangan rasa persahabatan
yang tulus.

Apakah masjid tidak lagi berfungsi? Masih, tetapi
khutbah dan penerangan agama sudah semakin tidak
efektif. Agama tidak fungsional dalam menuntun
kelakuan umat. Tentu gejala semacam tidak hanya di
Minang, tetapi hampir merata di seluruh Tanah Air,
bahkan di berbagai pojok dunia Muslim yang sedang
jatuh, kehilangan wibawa.

Oleh sebab itu, Minang sebagai bagian dari masyarakat
Muslim universal, secepatnya harus bersedia berkaca
diri, melihat kekurangan dan kelemahan yang ada,
kemudian bulatkan tekad untuk berubah, menuju
pencerahan peradaban lahir-batin. Masa depan ranah ini
tidak boleh dikorbankan oleh kecenderungan
pragmatisme-materialistik, demi raihan
kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek.

Korupsi berjamaah di kalangan sementara politisi,
jangan diulang lagi pada masa-masa yang akan datang.
Ingat senantiasa bahwa Minang adalah wilayah mayoritas
Muslim yang tidak boleh larut dalam arus deras sejarah
yang serba memukau tetapi menghancurkan nilai-nilai
tertinggi dan terdalam yang kita anut selama ini.

Petatah-petitih di kalangan pemuka adat yang padat
makna, tidak boleh hanya singgah sebagai perhiasan
tutur, tetapi perlu penghayatan yang sungguh-sungguh.
Kembali ke surau bermakna kembali kepada akar kultur
kita yang Islami, tidak semata-mata untuk belajar
mengaji.

Waktu sudah sangat tinggi bagi si Minang untuk
berbenah diri, atau terus meluncur menjadi manusia
tunamartabat. Perantau akan terus meratap bila
perbaikan kualitas hidup secara sungguh-sungguh tidak
dimulai sekarang juga, tanpa menunggu dan menanti lagi.

Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Resonansi Republika
Selasa, 21 Juni 2005




Tue Jun 21, 2005 5:25 am

pasput13@...
Send Email Send Email

Message #537 of 7920 |
Expand Messages Author Sort by Date

Etika Orang Minang Semakin Merosot? Sesungguhnya kuranglah elok rasanya mengkritik sikap keseharian suku sendiri. Bukankah itu bagaikan menepuk air di dulang,...
Pasput
pasput13@...
Send Email
Jun 21, 2005
5:51 am

Tulisan Pak Syafei Ma'arif yang dikutip oleh rekan Pasput13 dengan judul : "Etika Orang Minang Semakin Merosot?" Menurut saya adalah suatu kerisauan yang...
Fekrynur
fekrynur@...
Send Email
Jun 21, 2005
3:47 pm
Advanced

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help