Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pakguruonline · Komunitas guru dan pemerhati pendidikan
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want your group to be featured on the Yahoo! Groups website? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
MENAIKKAN GAJI DAN KESEJAHTERAAN GURU, MENGAPA TIDAK?   Message List  
Reply | Forward Message #510 of 7453 |
Berikut artikel yang dikirimkan Pak Suparlan, silahkan bapak dan ibuk baca
dan silahkan ditanggapi (jangan lupa cc-kan ke E-mail Pak Suparlan :
bsuparlan@...)
Wassalam,
Zulfikri
===================
----- Original Message -----
From: basir suparlan
To: Zulfikri
Sent: Monday, June 13, 2005 12:45 PM
Subject: Re: Fw: SKENARIO PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

MENAIKKAN GAJI DAN KESEJAHTERAAN GURU,
MENGAPA TIDAK?

Oleh Suparlan *)

Guru yang baik, yang dengan kurikulum yang tidak terlalu baik pun,
ia akan dapat menghasilkan lulusan yang baik (Analog dengan hakim dan jaksa
yang baik, yang dapat menghasilkan keputusan yang baik)

Semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan, pada akhirnya ditentukan
oleh unsur yang berada di front terdepan, yaitu guru. Hak-hak guru sebagai
pribadi, pemangku profesi keguruan, anggota masyarakat dan warga negara yang
selama ini terabaikan, perlu mendapat prioritas dalam reformasi
(Mohammad Surya)

Tanpa guru yang dapat dijadikan andalannya, mustahil sesuatu sistem
pendidikan berikut acara kurikulernya dapat mencapai hasil sebagaimana
diharapkan.
Maka prasyarat utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses
belajar-mengajar yang menjamin optimalisasi hasil 'pembelajaran' secara
kurikuler
ialah tersedianya guru dengan kualifikasi dan kompetensi yang mampu memenuhi
tuntutan tugasnya
(Fuad Hassan, Kompas, 28 Feburari 2000)

Membicarakan gaji guru pada masa lalu terkesan agak tabu. Seperti malah
merendahkan martabat guru, karena nilainya hanya diukur hanya dengan sesuatu
yang bersifat materi. Pada era transparansi sekarang ini, nilai-nilai sosial
dan etika untuk membicarakan gaji guru tidak perlu harus dianggap tabu.
Dedikasi dan gaji harus dipandang sebagai satu kesatuan yang masing-masing
memiliki nilai yang sama. Dedikasi sangat penting, demikian juga gaji.
Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu
dengan yang lain. Dengan demikian, tidak adil jika guru hanya dituntut untuk
dapat meningkatkan dedikasinya, namun kebutuhan hidupnya tidak dipenuhi
secara layak, yakni dengan gaji yang memadai.

Haruskah gaji pendidik dinaikkan?  Apakah gaji pendidik memang menjadi satu
mata rantai permasalahan pendidikan yang harus dipotong? Apapah gaji dapat
menjadi titik masuk (entry point) untuk meningkatkan mutu pendidk dan tenaga
kependiikan?

Ya, harus! Gaji yang memadai dan layak  bagi kehidupan, bukan dengan konsep
ongkos minimum yang sedang diluncurkan dengan sistem padat karya. Pendidik
bukan tenaga padat karya, melainkan tenaga profesional, yang harus dihargai
selaras dengan bidang pekerjaan dan keahliannya. Ada lima ciri pekerjaan
dapat disebut sebagai profesi, yakni (1) punya fungsi dan signifiaksni bagi
masyarakat, (2) memerlukan bidang keahlian yang spesifik, (3) diperoleh
melalui bidang ilmu pengetahuan tertentu (body of knowledge), (4) memiliki
organisasi profesi dan kode etik profesi,dan (5) memperoleh gaji yang
memadai atas pelaksanaan pekerjaan sebagai pendidik dan tenaga kependidikan.
Dari kelima syarat tersebut, hanya pada aspek gaji yang memamdailah yang
belum sepenuhnya memperoleh perhatian yang secara cukup serius. Salah atu
mata rantai masalah utama pendidik adalah gajinya. Mata rantai masalah
tersebut adalah (1) kekurangan guru, (2) penyebaran guru, (3) mutu guru, dan
(4) gaji guru. Untuk mengatasi masalah guru tersebut, salah satu mata rantai
yang harus diputus untuk dipecahkan adalah gaji guru. Dengan kata lain, gaji
guru dapat dipandang sebagai titik masuk (entry point) untuk memecahkan
permasalahan guru.

Kalau gaji pendidik harus dinaikkan, bagaimana caranya?

Pertama, kenaikan gaji itu harus dilaksnaakan berdasarkan hasil uji
kompetensi secara nasional. Oleh karena itu, instrumen uji kompetensi harus
disiapkan secara matang, bukan hanya aspek akademisnya tetapi keseluruhan
aspek kompetensi. Sudah barang tentu, uji kompetensi nasional ini harus
dilaksanakan secara jujur dan diumumkan secara transparan. Guru yang telah
memenuhi standar kompetensi kemudian dinaikkan gajinya secara nasional.
Memang ada kesulitannya, karena status guru sekarang adalah pegawai daerah.
Jadi, kenaikan gaji tersebut harus dibayarkan melalui anggaran yang
disalurkan kepada pemerintah daerah. Ada masalah pasti ada pemecahannya.

Kedua, hasil uji kompetensi tersebut sekaligus sebagai alat untuk memilih
guru yang akan mengikuti diklat TOT di tingkat nasional (PPPG), di tingkat
provinsi (LPMP), dan di tingkat daerah (Badan Diklat Daerah) atau melalui
organisasi pembinaan profesi seperti Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah
Guru Mata Pelajaran (MGMP), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), dan
Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKKS).

Ketiga, para pendidik dan tenaga kependidikan yang tidak memenuhi standar
diberikan pilihan, berjanji untuk meningkatkan kompetensinya dengan
mengikuti diklat, atau alih profesi ke bidang lain, atau pensiun dini.
Pilihan itu harus menggunakan surat perjanjian.

Keempat, para pendidik dan tenaga kependidikan yang terpaksa harus beralih
profesi atau pensiun dini tersebut harus segera dilakukan rekrutmen secara
jujur dan transparan. Guru bantu diikutkan dalam rekrutmen secara nasional.
Hasil rekrutmen ini segera ditempatkan ke daerah-daerah yang kekurangan
guru. Yang tidak lulus, atau tidak dapat memenuhi standar kompetensi yang
ditetapkan, terpaksa harus mengakhiri masa kontrak sebagai guru bantu, atau
dialihkan ke tenaga kependidikan lain, seperti teknisi sumber belajar,
laboran, pustakawan, dan lain-lain.

Kelima, para guru yang belum memenuhi standar kompetensi, mereka harus
mengikuti diklat di lembaga diklat atau atau pendidikan profesi di LPTK, dan
setelah itu mereka harus disertifikasi atau mengikuti uji kompetensi ulang,
untuk mendapatkan kenaikan gaji secara nasional.

Keenam, kenaikan gaji pada tahap selanjutnya akan mengikuti mekanisme
standar yang berlaku sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kalau perlu
mekanisme kenajikan gaji guru akan ditetapkan dengan ketentuan baru, terkait
dengan standar kompetensinya.

Ketujuh, pembayaran gaji guru akan lebih bermakna jika dilakukan melalui
jasa bank. Potongan gaji untuk asuransi pegawai negeri sipil, atau potongan
lainnya, misalnya ada zakat profesi, semuanya dengan aturan tertulis dengan
jelas. Di Malaysia, ada contoh potongan gaji pekerja yang disebut Kumpulan
Wang Simpanan Pekerja (KWSP), dengan ketentuan 10% gaji ditambah 10% dari
majikan (pemerintah atau swasta). Simpanan pekerja ini dapat diambil jika
pegawai memerlukan dana nonkonsumtif, seperti akan membangun rumah, membayar
uang kuliah anak, dsb.

Kebijakan apa saja yang dapat dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh
dunia usaha dan industri (DUDI) untuk ikut menaikkan kesejahteraan pendidik
dan tenaga kependidikan?

Jika proses pembayaran gaji guru telah mulai lancar, pemerintah perlu
mempersiapkan kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan pendidik dan tenaga
kependidikan, seperti beberapa contoh berikut.

Pertama, memberikan allowance atau tunjangan untuk pembangunan rumah,
kesehatan, istri/suami dan anak-anak, dan sejenisnya. Selama ini, pemerintah
memang sudah mulai meluncurkan program seperti Bapertarum (untuk perumahan
pegawai), asuransi pegawai negeri sipil. Dalam beberapa hal, ada pihak yang
lebih menyukai tunjangan seperti ini dibandingkan dengan menaikkan gaji.
Alasannya karena kebijakan tentang kenaikan gaji sering menjadi faktor
pemicu adanya kenaikan harga. Bahkan, yang justru sering terjadi adalah
harga-harga sudah keburu naik sebelum gajinya naik.

Kedua, selain dari pemerintah, tunjangan dapat dilakukan oleh pihak dunia
usaha dan dunia industri (DUDI). Sebagai contoh, ada bank yang telah
memberikan bantuan modal kerja kepada guru yang berprestasi untuk mengadakan
inovasi dalam pembelajaran, misalnya memberikan modal kepada guru untuk
mengembangkan kerajinan tangan bagi para siswa di sekolah, untuk membuat
berbagai macam boneka yang digunakan untuk media pembelajaran Bahasa Inggris
di sekolah. Contoh di luar negari, di negara tetangga Malaysia, guru yang
akan memberli komputer pribadi, akan memperoleh diskon dari toko elektronik,
asal guru itu dapat menunjukkan bukti bahwa ia masih aktif sebagai guru. Di
Indonesia, bahkan PGRI pernah memberikan surat keterangan kepada guru untuk
mendapatkan diskon untuk naik pesawat terbang dan kapal laut.

Ketiga, salah satu kebutuhan guru yang sering dikeluhkan oleh para guru
adalah kebutuhan anggaran untuk dapat meneruskan pendidikan yang lebih
tinggi. Biaya untuk meneruskan pendidikan seperti itu kebanyakan tidak
didukung oleh kemampuan ekonomi guru. Itulah sebabnya, maka akan lebih baik
jika ada pihak-pihak yang dapat memberikan loan bagi para guru untuk
meneruskan kuliahnya, atau untuk mengambil pendidikan profesi yang
dipersyaratkan dalam profesinya. Lagi-lagi di Malaysia, ada satu lembaga
yang disebut sebagai Jabatan Perkhidmatan Awam (JPA) atau Kantor Pelayanan
Umum yang memberikan beasiswa untuk warga negara Malaysia sendiri maupun
warga negara asing untuk meneruskan pendidikan. Pada saat negara dalam
keadaan krisis, lembaga ini konon mengubah kebijakannya dengan memberikan
loan atau pinjaman lunak jangka panjang. Di beberapa negara juga terdapat
tabungan pendidikan, yang dapat memberikan pinjaman kepada sesiapa yang akan
meneruskan pendidikan. Setelah lulus, mereka akan mengembalikan pinjaman ini
yang dipotong dari gaji di tempat ia bekerja. Di Malaysia, sistem ini dapat
berjalan dengan baik, karena ketentuan hukum telah dapat dilaksankan dengan
cukup baik. Hasil pengembalian loan tersebut secara berkesinambungan dapat
digunakan untuk memberikan loan kepada yang lainnya.

Akhir Kata

Banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan mencapai tujuan, dan yang penting
dilakukan dengan mematuhi segala ketentuan. Banyak upaya dan cara yang dapat
dilakukan untuk menaikkan gaji dan kesejahteraan bagi pendidik dan tenaga
kependidikan. Yang pertama, perlu ada komitmen yang tinggi dari pihak
pemerintah untuk meningkatkan perhatian terhadap pendidik dan tenaga
kependidikan. Kurikulum, fasilitas pendidikan, termasuk buku pelajaran
memang penting. Tapi yang jauh lebih penting dari semuanya itu adalah
pendidik dan tenaga kependidikannya.

Cobalah renungkan kembali apa yang dikemukakan mantan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, yang telah dinukilkan dalam awal tulisan ini. "Tanpa guru yang
dapat dijadikan andalannya, mustahil sesuatu sistem pendidikan berikut acara
kurikulernya dapat mencapai hasil sebagaimana diharapkan. Maka prasyarat
utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses belajar-mengajar yang
menjamin optimalisasi hasil 'pembelajaran' secara kurikuler ialah
tersedianya guru dengan kualifikasi dan kompetensi yang mampu memenuhi
tuntutan tugasnya" (Fuad Hassan, Kompas, 28 Feburari 2000). Mudah-mudahan.

Yogyakarta, 11 Juni 2005
*) E-mail:
bsuparlan@.... Website: www.suparlan.com



Mon Jun 13, 2005 10:41 am

pakguruonline
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #510 of 7453 |
Expand Messages Author Sort by Date

Berikut artikel yang dikirimkan Pak Suparlan, silahkan bapak dan ibuk baca dan silahkan ditanggapi (jangan lupa cc-kan ke E-mail Pak Suparlan : ...
Zulfikri
pakguruonline
Offline Send Email
Jun 13, 2005
10:45 am

Terima kasih Pakguruonline Saya menyampaikan terima kasih ini karena artikel Pak Suparlan yang mengutip Pak Fuad Hasan, mantan mendiknas kita, yang saudara...
Fekrynur
fekrynur@...
Send Email
Jun 13, 2005
3:30 pm
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help