Assalamualaikum WW
Dari milist tetangga yang kelihatan perlu diperhatikan dan kalau perlu
dicontoh.
Sedikit mengenai sampah, yang mana sebetulnya menggambarkan komunity yang
ada disitu. Kelihatannya asal saja penguasa setempat care terhadap sesuatu
(sampah) peraturan dapat dilaksanakan dengan baik. Dengan kata lain asal
hukum ditegakan dengan benar tanpa pandang bulu, kalau panutan yang
melaksanakan duluan, maka aturan tersebut dapat tegak dengan baik. Contoh
yang kecil, sewaktu reuni SMP saya di Bekasi, kami panitia menyediakan
tempat sampah didekat pentas, sebelum makan diberitahu, tolong sampah
dibuang disini. Mungkin karena tempat tersebut bersih, alumni dan keluarga
yang ikut HbH pada mematuhi semuanya.
Orang Indonesia yang berada di Singapore dan Tokyo, nyatanya mengikuti
aturan (persampahan) setempat, dan sebaliknya bila Singaporean datang di
Ina, maka lama-lama akan ikut pula dengan ketidak teraturan.
Wass. WW
> --------------------------------------------------------------------
>
>
> Mendidik 1,3 Miliar Manusia
>
> Ratna Megawangi
>
> MINGGU lalu penulis sempat mengunjungi Lapangan Tiananmen di Beijing.
> Tempat tersebut memang amat terkenal, karena sempat menjadi perhatian
> di seluruh dunia ketika terjadi protes mahasiswa terbesar di Republik
> Rakyat Cina pada Juni 1989. Katanya tempat tersebut selalu ramai,
> bahkan kalau hari-hari libur sulit bagi kita untuk melihat lantainya
> karena begitu banyaknya manusia.
>
> Banyak sekali objek menarik yang dapat kita kunjungi di sana,
> misalnya
> Mausoleum Mao Tse Tung yang jasadnya masih terlihat segar terbujur,
> monumen bersejarah, People's House, museum, dan Forbidden City
> (istana
> yang dibangun lebih 500 tahun yang lalu).
>
> Namun, ada satu hal yang membuat penulis kagum, yaitu dengan puluhan
> ribu orang yang berlalu-lalang di tempat yang begitu luas, tidak ada
> satu pun sampah yang bergeletak di sana. Di seluruh tempat keramaian
> yang penulis kunjungi di Beijing, tidak sekali pun dapat menemukan
> sampah tergeletak di jalan. Padahal, manusianya begitu banyak, dan
> masih banyak penduduk yang miskin.
>
> Di Indonesia, di tempat-tempat keramaian pasti identik dengan sampah
> berserakan. Penulis pernah saksikan di sebuah ruangan seminar di
> Jakarta yang dihadiri para guru yang jumlahnya tidak sampai 100
> orang.
> Setelah seminar berakhir, lantai ruangan penuh berserakan kotak-kotak
> snack, gelas air minum kemasan, dan plastik. Bayangkan, di sebuah
> ruang kecil yang dihadiri para guru yang kerjanya mendidik manusia,
> tetapi sudah bisa mengotori sebuah ruangan!
>
> Penulis jadi tertarik untuk mengetahui, mengapa negara Cina yang
> relatif baru bangkit dari keterpurukan ekonomi, sosial, dan budaya
> akibat Revolusi Kebudayaan yang dijalankan oleh Mao, bisa begitu
> cepat
> mengejar ketertinggalannya? Padahal, pada akhir 1970-an, kita masih
> melihat bagaimana miskinnya rakyat Cina yang masih memakai baju hitam
> atau abu-abu. Terus terang, tidak terasakan adanya perbedaan yang
> menyolok antara ketika penulis sedang di Beijing, dan di Tokyo,
> Seoul,
> Hong Kong, ataupun Singapura.
>
> Kebetulan, ketika sedang transit di Bandara Changi Singapura dalam
> perjalanan ke Beijing, penulis sempat mencari buku tentang sejarah
> Cina, dan menemukan sebuah buku yang ditulis oleh Li Lanqing (mantan
> Wakil PM Cina), berjudul Education for 1.3 Billion (Pearson Education
> and China: Foreign Language Teaching & Research Press, 2005). Setelah
> membaca buku tersebut, bisa dimengerti mengapa Cina bisa begitu cepat
> maju, karena reformasi pendidikan yang dijalankan di Cina tampaknya
> berhasil membentuk SDM yang memang cocok untuk iklim modern.
>
> Terus terang, cukup surprised membaca pemikiran Li Lanqing, seorang
> politikus dan birokrat, tetapi anehnya mempunyai pemahaman yang
> komprehensif dan mendalam tentang pendidikan. Semua kebijakan yang
> diambilnya dalam mereformasi pendidikan di Cina, diinspirasikan oleh
> berbagai buku yang dibacanya, misalnya, ia menguasai bagaimana
> perkembangan hasil riset otak dari sejak tahun 1950-an sampai tahun
> 1990-an, sehingga ia mengerti bahayanya sistem pendidikan yang
> terlalu
> menekankan hapalan, drilling, dan cara mengajar yang kaku, termasuk
> sistem pendidikan yang berorientasi hanya untuk lulus dalam ujian.
>
> Ia juga terinspirasi pemikiran Howard Gardner tentang multiple
> intelligences, yang ia baca buku-bukunya sejak Frames of Minds
> (1983).
> Li Lanqing begitu antusias untuk menerapkan berbagai teori mutakhir
> ke
> dalam sistem pendidikan di Cina, dan menurutnya: "I am interested in
> it because I want to call the attention of our educators and
> scientists ....so that education in this nation can be made to
> enhance
> people's all-round development and tap the potential of human
> resources to the fullest measure" (hal 316-317). Namun, Li Lanqing
> juga masih membawa nilai-nilai luhur Cina ke dalam reformasi
> pendidikannya.
>
> Pendidikan Karakter
>
> Dalam program reformasi pendidikan yang diinginkan oleh Deng Xiaoping
> pada tahun 1985, secara eksplisit diungkapkan tentang pentingnya
> pendidikan karakter: Throughout the reform of the education system,
> it
> is imperative to bear in mind that reform is for the fundamental
> purpose of turning every citizen into a man or woman of character and
> cultivating more constructive members of society (Decisions of Reform
> of the Education System, 1985). Karena itu program pendidikan
> karakter
> telah menjadi kegiatan yang menonjol di Cina yang dijalankan sejak
> jenjang pra-sekolah sampai universitas.
>
> Tentunya, pendidikan karakter adalah berbeda secara konsep dan
> metodologi dengan pendidikan moral, seperti PPKN, budi pekerti, atau
> bahkan pendidikan agama di Indonesia. Pendidikan karakter adalah
> untuk
> mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and
> acting the good, yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek
> kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir
> menjadi
> habit of the mind, heart, and hands.
>
> Sedangkan pendidikan moral, misalnya PPKN dan pelajaran agama, adalah
> hanya melibatkan aspek kognitif (hapalan), tanpa ada apresiasi
> (emosi), dan praktik. Sehingga jangan heran kalau banyak manusia
> Indonesia yang hapal isi Pancasila atau ayat-ayat kitab suci, tetapi
> tidak tahu bagaimana membuang sampah yang benar, berlaku jujur,
> beretos kerja tinggi, dan menjalin hubungan harmonis dengan sesama.
>
> Kebijakan reformasi pendidikan ke arah pembentukan karakter memang
> terus mendapat dukungan secara eksplisit oleh Presiden Jiang Zemin,
> yaitu melalui pidato-pidatonya. Sehingga, seperti yang diungkapkan
> oleh Li Lanqing: "After many years of practice, character education
> has become the consensus of educators and people from all walks of
> life across this nation. It is being advanced in a comprehensive
> way".
> Pendidikan karakter memerlukan keterlibatan semua aspek dimensi
> manusia, sehingga tidak cocok dengan sistem pendidikan yang terlalu
> menekankan hapalan dan orientasi untuk lulus ujian (kognitif). Hampir
> semua pemimpin di Cina, dari Jiang Zemin, Li Peng, Zhu Rongji sampai
> Hu Jianto dan lainnya, sangat prihatin dengan sistem pendidikan yang
> terlalu menekankan aspek kognitif saja, yang dianggap
> dapat "membunuh"
> karakter anak, misalnya PR yang terlalu banyak, pelajaran yang
> terlalu
> berat, orientasi hapalan dan drilling, yang semuanya dapat membebani
> siswa secara fisik, mental, dan jiwa (hal 336).
>
> Bahkan pada tanggal 1 Februari, 2000, Presiden Jiang Zemin
> mengumpulkan semua anggota Politburo khusus untuk membahas bagaimana
> mengurangi beban pelajaran siswa melalui adopsi sistem pendidikan
> yang
> patut secara umur dan menyenangkan, dan pengembangan seluruh aspek
> dimensi manusia; aspek kognitif (intelektual), karakter, aestetika,
> dan fisik (atletik).
>
> Walaupun masih belum sempurna, dengan ideologi komunisnya, tampaknya
> Cina ingin menunjukkan "wajah" yang berbeda dari negara komunis
> lainnya. Mungkin Cina bisa mewujudkan impian para pemikir sosialis
> yang berseberangan dengan pemikiran Karl Marx, seperti Proudhon dan
> Robert Owen, bahwa kesadaran moral sosialis sejati harus menjadi alat
> untuk mencapai tujuan akhir ideologi sosialisme, dan praksisnya
> adalah
> bagaimana menyiapkan manusia untuk mempunyai karakter seorang
> sosialis
> sejati (persaudaraan antarmanusia; saling peduli, dan berkeadilan).
> Karl Marx justru tidak setuju dengan pemikiran itu, karena kesadaran
> moral sosialis baginya adalah hanya tujuan akhir, dan praksisnya
> adalah perubahan struktur masyarakat yang tidak ada kaya-miskin,
> dengan pemaksaan atau kediktatoran (bertentangan dengan moral
> sosialis
> sejati)--- the end justifies the means.
>
> Kekuatan Dahsyat
>
> Apabila Cina bisa berhasil mendidik 1,3 miliar manusianya menjadi
> manusia yang berkarakter (rajin, jujur, peduli, dan sebagainya), maka
> jumlah penduduk sebesar itu akan menjadi kekuatan yang amat dahsyat
> bagi kemajuan Cina. Inilah yang membuat para pakar Amerika Serikat
> deg-degan, seperti kata Bill Bonner yang mengkhawatirkan kondisi AS
> di
> masa depan: "Bisa dibayangkan dalam waktu 20 atau 30 tahun ke depan,
> mungkin akan banyak orang Amerika yang mencari pekerjaan sebagai baby
> sitter di Cina."
>
> Nah, apabila Cina bisa melakukan pendidikan karakter untuk 1,3 miliar
> manusianya, Indonesia tentunya bisa melakukannya. Namun, gaung
> pendidikan karakter belum banyak terdengar dari para pemimpin kita.
> Tentunya, sebagai warga negara yang bertanggung jawab, kita semua
> bisa
> melakukannya di lingkungan terkecil kita; keluarga dan sekolah.
>
> Penulis mengundang Anda untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia
> berkarakter, dan silakan membaca tulisan Pendidikan Karakter: Solusi
> yang Tepat untuk Membangun Bangsa (Indonesia Heritage Foundation,
> 2004) atau website http://ihf-org.tripod.com.
>
> http://www.suarapembaruan.com/News/2005/05/21/Editor/edit02.htm
>