Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pakguruonline · Komunitas guru dan pemerhati pendidikan
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want to share photos of your group with the world? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Fw: [R@ntau-Net] Sumbar Masih Industri Otak   Message List  
Reply | Forward Message #445 of 7453 |
Assalamualaikum, ww
Berikut artikel berjudul "Sumbar Masih Industri Otak" oleh : Yesi Elsandra,
yang merupakan jawaban dari artikel "Ketika Sumbar Tidak Lagi Menjadi
"Industri Otak" Ditulis oleh Silfia Hanani, S.Ag. S.Sos. M.Si"), yang telah
dipostingkan/ditanggapi beberapa hari yang lalu. Silahkan dibaca dan
ditanggapi.
Wassalam,
Zulfikri

----- Original Message -----
From: "Yesi Elsandra" <yelsandra@...>
To: <palanta@...>; <surau@yahoogroups.com>;
<keadilan4all@yahoogroups.com>; <urangawak@yahoogroups.com>;
<univ_bunghatta@yahoogroups.com>
Sent: Monday, May 23, 2005 10:56 AM
Subject: [R@ntau-Net] Sumbar Masih Industri Otak

Sumbar Masih Industri Otak

Oleh : Yesi Elsandra*

Wacana yang berkembang menjelang Pilkada Sumbar saat
ini adalah "Mambangkik Batang Tarandam" Apa maksudnya
ini? Kalau boleh saya mendeskripsikan, kira-kira
begini, Sumbar saat ini boleh dikatakan sedang
mengalami keterpurukan, baik dari segi moral, ekonomi,
pendidikan, budaya dll. Atau Sumbar bagaikan sebuah
batang yang sedang terendam. Untuk itu diperlukan
sebongkah energi untuk mengangkatnya kembali. Energi
itu diharapkan berasal dari seorang pemimpin.

Untuk beberapa hal di atas, saya sepakat. Masyarakat
Sumbar mengalami degradasi dalam segi moral, agama,
dan kebudayaan. Sudah menjadi pemandangan biasa sampai
ke kampung-kampung gadis-gadis mengenakan busana yang
sangat ketat. Bila mengangkat tangan, pusarnya
terlihat dan bila menunduk, maaf, celana dalamnya
terlihat. Gadis-gadis itu tidak malu pada datuk atau
ninik mamak, karena memang datuk atau ninik mamak
fungsinya telah memudar.

Saya juga sepakat, bahwa perekonomian Sumbar belumlah
mengembirakan. Lapangan pekerjaan seperti mencari
jarum yang jatuh di padang pasir. Sulit sekali. Teman
saya yang seorang dokter, hampir stress karena tidak
dapat bekerja di rumah sakit di Sumbar, karena demand
tenaga dokter telah junuh. Akhirnya teman saya itu
eksodus ke propinsi tetanga.

Namun saya tidak sepakat jika Sumbar dikatakan
kehilangan orang-orang cerdas atau penghasil otak
(bukan orak-otaak lo ya:) Zaman telah berubah, jika
dulu Sumbar terkenal karena Buya Hamka, Natsir, Bung
Hatta dan beberapa cendikiawan lainnya, tapi sekarang,
cendikiawan atau orang-orang pintar jumlanya lebih
banyak dari dulu. Walau kapasitasnya berbeda.

Dulu cendikiawan sedikit tapi muncul dalam tataran
nasional dan internasional. Sekarang bukan tidak ada
orang-orang pintar dari Sumbar, banyak, hanya saja
tidak muncul ke permukaan atau lebih tepat, belum
muncul ke permukaan.

Bagi saya, tidak penting top atau terkenal. Buat apa
yang maju cuma ciek duo tigo tapi yang lain miskin
atau kelaparan. Lebih baik kita maju bersama, cerdas
bersama, kaya bersama, sholeh bersama, walau
orang-orang memandang kita bukan lagi seperti
pendahulu kita.

Saya contohkan, di kelas saya, 20% kandidat doktor
saat ini berasa dari Sumbar. Ustad2 di Bandungpun
banyak yang berasal dari Sumbar. Bahkan, IMMPAS
(Ikatan Mahasiswa Muslim Paascasarjana) yang berbasis
di ITB, sebagaian besar berasal dari Sumbar, sehingga
diplestkan teman-teman menjadi Ikatan Mahasiswa Muslim
Padang dan Sekitarnya.

Begitupun dokter, notaris dan Dosen. Subahanllah,
dalam sebuah buku direktori masyarakat Minang di
Bandung, jumlah dokter, pengusaha, notaris dan Dosen
yang berasal dari Sumbar banyak sekali.

Menurut saya, Sumbar tetap penghasil otak atau
manusia-manusia pintar dan cerdas. Masalahnya sekarang
adalah, potensi itu tidak memberi banyak manfaat bagi
Sumbar secara simultan. Kita hanya sukses di
perantauan, mereka berinvestasi di rantau, berbisnnis
di rantau, menyalurkan potensi untuk kemakmuran
propinsi lain. Kenapa itu terjadi? Menurut saya,
karena pemerintaah Sumbar, tidak tanggap akan
potensi otak rakyatnya.

Lalu bagaimana dengan saya? Walaupun di rantau
menjanjikan materi dan karier yang baik, Insya Allah,
saya tetap akan pulang ke Sumbar. Karena bagi saya,
jangan terlalu banyak melihat ke belakang. Lihatlah ke
depan. Seperti supir, sering-sering melihat ke
belakang, yang ada nabrak. Di depan mata terdapat
tantangan global, jika tidak kita menangkan, akan
sangat menyakitkan bagi anak dan cucu kita kelak. Itu
komitmen saya, mohon ingatkan kalau saya lupa.

* Kandidat Doktor Ilmu Manajemen Universitas
Padjadjaran Bandung.

"Bersihkan hati, sucikan jiwa, raih kemenangan"

Yesi Elsandra







Mon May 23, 2005 6:14 am

pakguruonline
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #445 of 7453 |
Expand Messages Author Sort by Date

Assalamualaikum, ww Berikut artikel berjudul "Sumbar Masih Industri Otak" oleh : Yesi Elsandra, yang merupakan jawaban dari artikel "Ketika Sumbar Tidak Lagi...
Zulfikri
pakguruonline
Offline Send Email
May 23, 2005
6:20 am

walaikum salam Pak Zul, kayaknya artikel dan jawabannya belum jelas benar yang dimaksud dengan "industri otak" (emang istilah aneh). Si penulis terdahulu salah...
Bambang
deceng98
Offline Send Email
May 23, 2005
1:00 pm

Assalamualaikum,ww Memang ada perbedaan persepsi diantara kedua artikel tentang "industri otak" di Sumatera Barat. Sumatera Barat dulunya adalah tempat bagi...
Zulfikri
pakguruonline
Offline Send Email
May 23, 2005
1:55 pm
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help