Berita IPTEK
Kamis, 11 November 2004, 12:58:29 Wib
Oleh Dr. Andi Utama
Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kemajuan sains dan teknologinya. Buktinya dapat kita lihat, dimana negara-negara yang dikatakan maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara di Eropa adalah negara-negara yang maju sains dan teknologinya. Di negara-negara maju tersebut, sains dan teknologi benar-benar masuk ke dalam kehidupan masyarakat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Begitu juga dengan pemahaman sainsnya yang tinggi.
Pemahaman sains yang tinggi ini tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan formal mereka. Di Jepang misalnya, kalau kita bicara enzim (bahasa Jepangnya kousou), orang yang hanya lulusan SMU-pun bisa mengerti. Begitu juga kalau kita bicara "virus" dan "bakteri", mereka juga memahami dan mengetahui perbedaannya, sehingga mereka bisa membedakan antara vaksin dan obat antibiotik. Mereka juga mengerti apa itu "DNA" dan apa itu "gen".
Hal yang sama juga dapat dilihat pada petani-petani mereka. Mereka benar-benar memahami apa itu pupuk kimia ada apa itu kompos, termasuk kebaikan dan keburukannya. Mereka juga memahami siklus hidup tanaman serta ancaman-ancaman yang akan terjadi, sehingga mereka bisa mengantisipasi. Pendek kata, tingkat pengetahuan masyarakat di negara maju termasuk Jepang adalah tinggi.
Sebaliknya, di negara-negara berkembang, tidak terkecuali dengan Indonesia, tidak demikian halnya. Sains dan teknologi hanya dimiliki dan dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat. Apalagi kalau kita spesifikasi lagi masalah sains, keadaannya akan lebih parah. Sains hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi, yang jumlahnya sangat sedikit sekali.
Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu diantaranya adalah perbedaan minat dan perhatian masyarakat terhadap sains. Kurangnya minat masyarakat di negara berkembang terhadap sains sangat dipengaruhi oleh kurangnya tulisan sains yang disampaikan secara popular, yang mudah dimengerti masyarakat banyak. Ini dapat kita lihat seberapa banyak tulisan sains popular yang bisa kita temukan baik di buku maupun di media masa. Tentu saja permasalahannya bukan pada media masa-nya, akan tetapi adalah pada penulis sains (science writer) yang jumlahnya masih sangat terbatas.
Karena itu , dalam rangka meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia, khususnya tentang sains, diperlukan science writer (penulis ilmiah) yang bisa menterjemahkan bahasa sains ke dalam bahasa masyarakat. Science writer tersebut, bisa dari kalangan ilmuan (saintis) itu sendiri maupun dari kalangan non-ilmuan.
Belajar dari Jepang
Jepang, sebagai negara maju, memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena minat baca dan rasa ingin tahu masyarakatnya yang tinggi, dan didukung oleh banyaknya bahan bacaan mengenai sains yang dapat dibeli dengan harga yang murah. Buku-buku ini daintaranya ada yang ditulis oleh ilmuwan (saintis) Jepang dan ada yang merupakan terjemahan. Buku-buku ini tidak hanya merupakan "text book" yang digunakan oleh mahasiswa dan pelajar, tetapi juga ada buku sains yang ditulis secara populer, yang ditujukan untuk masyarakat luas.
Selain itu, media masa, baik media cetak maupun media elektronik, juga memberikan kontribusi yang banyak dalam peningkatan pengetahuan masyarakat di Jepang, melalui pemberian informasi di bidang sains. The Asahi Shimbun misalnya, merupakan salah satu koran yang selalu memberikan informasi tentang perkembangan sains yang disampaikan secara popular. Begitu juga koran-koran lainnya.
Media elektronik juga memiliki program-program yang berisikan informasi tentang sains. NHK Education TV (Nippon Housou Kyoku Kyouiku Terebi), adalah stasiun TV milik pemerintah khusus untuk bidang pendidikan. Tujuan pendirian TV ini adalah untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan masyarakat Jepang. Hampir setiap hari ada program pengenalan sains, mulai dari tingkat dasar sampai pada tingkat sains yang mutakhir (advanced). Selain itu, TV swasta lainnya juga menyiarkan program-program yang bersifat saintifik. Semua program ini disajikan sedemikian rupa sehingga orang awampun mudah mengerti.
Dalam penyebaran luasan informasi tentang sains ini, science writer memegang peranan yang penting. Banyaknya buku atau tulisan mengenai sains berbanding lurus dengan jumlah science writer. Karenanya, banyaknya buku sains yang beredar di Jepang menunjukan banyaknya science writer yang ada di Jepang. Walaupun demikian, ternyata pemerintah Jepang masih belum puas dengan kondisi tersebut. Mereka menginginkan jumlah science writer bertambah lagi, terutama dari kalangan saintis itu sendiri.
Untuk tujuan tersebut, baru-baru ini pemerintah Jepang, khususnya Kementrian Pendidikan, memutuskan untuk mendidik calon science writer. Hal ini ditetapkan dengan pertimbangan sains yang semakin lama semakin dalam dan rinci akan sulit dimengerti dan dipahami oleh masyarakat jika tidak diterjemahkan ke dalam bahasa yang merakyat. Science writer ini diharapkan dari kalangan peneliti dan saintis. Mereka diharapkan tidak hanya mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal ilmiah/sains, tetapi juga pada media lain yang mudah didapatkan masyarakat banyak. Dengan demikian, penelitian yang dibiayai oleh rakyat dengan jumlah dana yang besar (\ 180 miliar/tahun = Rp. 14,4 triliun/tahun) dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Harapan kepada pemerintah
Bagaimana dengan Indonesia? Kita harus mengakui bahwa tingkat pengatahuan bangsa Indonesia masih rendah. Salah satu diantara penyebabnya adalah kurangnya informasi mengenai sains yang mudah didapatkan, baik berupa buku, majalah, media masa cetak ataupun informasi yang disajikan oleh media elektronik seperti TV. Kekurangan ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya science writer yang bisa menyajikan informasi tersebut dalam bentuk popular sehingga mudah dimengerti orang banyak.
Akibatnya tidak heran jika masyarakat lebih senang menonton KDI, Indonesian Idol, AFI, dan dan bahkan acara penampakan yang sama sekali tidak ilmiah ketimbang menonton uraian ilmiah dari pakar yang disiarkan di TV. Kurangnya minat masyarakat terhadap sains juga mengakibatkan jarangnya tayangan dan siaran TV yang berisikan sains. Ini merupakan "lingkaran setan" yang akan menurunkan tingkat pengetahuan bangsa Indonesia di bidang sains.
Karena itu sudah saatnya kita menyadari kekurangan ini. Dalam rangka peningkatan tingkat pengetahuan bangsa Indonesia, sewajarnya pemerintah melakukan usaha-usaha konkrit untuk meningkatkan pengetahuan bangsa Indonesia. Hal ini penting karena peningkatan tingkat pengetahuan ini akan meningkatkan kualitas bangsa Indonesia itu sendiri. Diantara usaha-usaha konkrit yang bisa dilakukan adalah; 1) membuat stasiun TV khusus menyiarkan masalah sains, 2) meningkatkan mutu peneliti/saintis melalui peningkatan dana penelitian, 3) memperbanyak jumlah dan melakukan trening terhadap science writer, baik dari kalangan saintis/peneliti maupun dari kalangan non-saintis seperti wartawan, 4) memperkenalkan sains mulai dari tingkat SD. Semoga pemerintah yang baru saja berjalan memperhatikan hal ini.
Dr. Andi Utama, peneliti pada Puslit Bioteknologi-LIPI