Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pakguruonline · Komunitas guru dan pemerhati pendidikan
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Show off your group to the world. Share a photo of your group with us.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
ILMU DI UDARA   Message List  
Reply | Forward Message #310 of 7457 |
ILMU DI UDARA

“Pa,.. Danen takut, pa…, Danen takut….”, teriak anak saya , Danen, suatu ketika. Malam itu cuaca memang tidak seperti biasanya. Setelah sekian bulan hujan tidak pernah muncul di kota Solo, malam itu mendung begitu kentara, angin begitu kencang dan petir menyambar-nyambar.

Rupanya anak saya yang masih berumur dua tahun ini takut dengan gelegar suara petir yang mungkin rada asing baginya. Dia pun lari dan melompat mendekap saya.

“Suara apa sih, itu, Pa…”, gumamnya lirih di telinga saya.

“Itu suara halilintar…”, jawab saya.

“Halilintar itu apa, Pa…..” tanya dia kemudian.

Dari sini kemudian memang tidak mudah untuk memberikan penjelasan. Pilihan yang ada, saya bisa memberikan cerita dongeng tentang raksasa marah yang berteriak-teriak mencari anak nakal misalnya. Atau mencoba memberi penjelasan yang sebenarnya secara ilmiah yang tentunya sangat jauh lebih susah, dimana selain saya harus tahu benar penjelasan fenomena munculnya gemuruh halilintar, saya juga harus mampu membungkus penjelasan tadi dalam bentuk bahasa yang sederhana sehingga bisa dimengerti oleh seorang anak berumur dua tahun!

Dahulu kebanyakan orang tua memang cenderung untuk menjawab pertanyaan tadi dengan cerita sebuah dongeng yang terkadang diberi bumbu-bumbu menyeramkan. Selain karena lebih mudah dalam menjelaskan, hal ini juga bisa berfungsi menjadi semacam alat ‘tawar-menawar’, bila suatu saat si anak berlaku rada susah untuk di atur cerita tadi bisa di-recall sewaktu-waktu sebagai pengingat bahwa ada halilintar yang menakutkan.

Dengan berjalannya waktu, saat ini berdasarkan apa yang saya tahu, kebanyakan ahli perkembangan jiwa anak justru merekomandasikan untuk tidak merespon seperti di atas. Mereka para ahli lebih menyarankan agar kita orang-tua, justru mejelaskan apa yang sebenarnya terjadi secara ilmiah, sederhana, obyektif, tidak perlu ‘disisipi’ maksud menjadi alat tawar-menawar tadi.

Karena hal ini, persoalannya ternyata menjadi tidak mudah bagi orang tua. Karena saya lihat kebanyakan orang tua, jangankan mampu menjelaskan berbagai kejadian alam secara obyektif dan sederhana, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada berbagai fenomena-fenomena alam pun mungkin tidak begitu tahu benar.

Bagi sebagian orang tua mungkin hal tersebut tidaklah begitu penting, toh dikarang-karang sedikit dengan bumbu-bumbu cerita juga bisa, sang anak juga tidak tahu. Tapi saya merasa hal tersebut adalah sangat penting, sehingga hal ini menuntut saya untuk selalu belajar tentang apa saja, apa yang terjadi dengan halilintar, kenapa bola selalu jatuh ke bawah, mengapa balon justru terbang keatas, dan sebagainya. Dan yang juga penting adalah selalu berlatih untuk bisa menjelaskannya dengan bahasa dan pengertian yang sederhana.

Respon yang menuntut saya untuk selalu belajar inilah, yang kemudian saya menganggap anak saya tak ubahnya sebagai guru saya. Tidak secara langsung memberikan ilmu ke saya, tetapi apa saja yang dia lakukan ketika saya kemudian niatkan untuk memotivasi diri agar menjadi orang-tua yang baik baginya, pilihan bagi saya adalah agar saya selalu membuka pikiran saya selebar-lebarnya untuk selalu menambah wawasan saya tentang semua hal semampu saya.

Saya masih ingat, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Emha Ainun Najib pernah memberi gambaran pada salah satu bukunya tentang seorang guru yang terdiri dari dua macam, dengan perumpamaan Kiai Gentong dan Kiai Ceret. Air yang ada didalamnya adalah perumpamaan dari ilmu yang akan kita ‘minum’.

Kiai Gentong – pada tipikal rumah dahulu - biasanya letaknya di pojok belakang rumah, gelap, berdebu, terlupakan, terkadang juga tidak kelihatan karena tertutupi oleh benda-benda tak terpakai yang disimpan di belakang rumah. ‘Ilmu’ (baca: air) yang ada di dalam gentong adalah air mentah yang tidak berasa apa-apa. Guru Kiai Gentong ini jarang sekali kita tahu benar keberadaannya, hampir tidak pernah muncul di media massa, tidak pernah diekspose oleh berita. Ilmunya pun begitu mentah susah untuk dicerna pengertian dan manfaatnya.

Adalah Kiai Ceret, yang membuat ‘ilmu’ yang diambil dari kiai gentong tadi menjadi matang siap untuk diteguk oleh semua orang. Kiai Ceret ini biasanya mampu meramu ‘ilmu’nya, kadang ditambahi teh, kopi, jahe, sehingga begitu enak untuk diteguk oleh setiap orang yang mendengarnya. Kiai Ceret biasanya sangat terkenal, hanya saja kita perlu sadar bahwa kapasitas air Gentong biasanya lebih banyak dari Ceret.

Bagi saya ada macam guru yang ketiga yang tidak lain salah-satunya adalah dari anak-anak kita yang saya umpamakan sebagai Kiai Udara. Kita semua tahu bahwa salah satu komponen udara adalah uap air (baca: ilmu). Hanya saja air di udara ini tidak terlihat, tidak dapat dirasakan, tidak bisa diraba, susah untuk ditangkap. Dibutuhkan kemauan untuk selalu memperkaya pengetahuan untuk bisa merasakan kehadiran dan manfaat air di udara walaupun pada kenyataannya air di udara ada di mana-mana.

Sadar atau tidak, kita sebagai orang tua anak-anak kita akan selalu mendapatkan manfaat dari ‘air’ di ‘udara’. Tinggal masalahnya, adakah kemauan kita untuk belajar sehingga kita punya kesadaran dan pengetahuan akan manfaat tadi….

30 Okt 2004
Pitoyo Amrih
Berdomisili di Solo



Fri Apr 22, 2005 2:45 am

jibakom@...
Send Email Send Email

Forward
Message #310 of 7457 |
Expand Messages Author Sort by Date

ILMU DI UDARA “Pa,.. Danen takut, pa…, Danen takut….”, teriak anak saya , Danen, suatu ketika. Malam itu cuaca memang tidak seperti biasanya. Setelah...
Jibakom
jibakom@...
Send Email
Apr 22, 2005
2:50 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help