|
PERAN PENDIDIKAN
Yang dimaksud dengan pendidikan di sini adalah wahana apa saja yang dapat
dipakai untuk hal-hal sebagai berikut:
1. Pengenalan nilai baru tentang kebersihan.
Sekolah dan lembaga-lembaga kemasarakatan dapat dipakai untuk pengenalan
nilai baru tentang kebersihan lingkungan, melalui cerita-cerita, bacaan dan
pertemuan-pertemuan.
2. Pengasahan kepeka-an
Sekedar mengetahui saja soal kebersihan, tidak cukup. Peserta didik dan
anggota masarakat harus diasah kepeka-annya. Jangan sampai pesertadidik
tidak merasa terganggu dengan sampah berserakan dan terbiasa dengan
lingkungan kotor. Pengasahan tersebut bisa melalui:
3. Wahana percontohan
Semua guru, orang dewasa yang ikut berinteraksi dengan para pesertadidik
harus memberikan contoh tentang bagaimana harus bersikap dalam menjaga
kebersihan lingkungan rumah, sekolah, kantor, tempat-tempat umum.
4. Sosialisasi produk baru dan penyikapan yang benar terhadapnya
Tidak semua sarana dan prasarana kebersihan telah dikuasai cara pemakaiannya
oleh pesertadidik. Kepada mereka mungkin perlu diperkenalkan cara penggunaan
berbagai alat untuk menjaga kebersihan, dan tata cara penanganan sampah;
misalnya dengan melakukan pemilahan, splitting, antara sampah organik dan
an-organik, agar tidak bercampur-baur.
5. Penegakan aturan hukum dan disiplin; sangsi diterapkan , konsisten dan
konsekuen.
Disayangkan, kelima hal diatas sangat mudah untuk disebut, tetapi sulit
untuk dilaksanakan. Semakin tahun, masarakat kita semakin materialistik
dengan gaya hidup komsumtif. Untuk sekedar berbicara dan berdiskusi tentang
kebersihan masih banyak yang bersedia; tapi bila sampai kepada keharusan
bertindak dan menyikapi usaha peningkatan kebersihan, orang kurang tertarik.
Enggan, bukan karena tidak suka dengan kebersihan, tetapi katanya; banyak
hal lain yang lebih penting dari urusan sampah itu. Memenuhi kebutuhan hidup
pagi petang saja susah, mana ada waktu untuk urusan yang begitu-begitu.
Sikap seperti ini telah berkembang dari rakyat kecil sampai kepada para
pejabat.
Dalam budaya kita, walau dikutip dari bahasa jawa, ada adagium: guru, digugu
dan ditiru. Kalau yang dimaksud dengan tokoh guru itu adalah siapa saja,
yang karena status dan jabatannya, sepatutnya menjadi yang diikuti dan
ditiru perangainya, khusus dalam hal persampahan, apakah kita sudah punya
cukup banyak guru dan tokoh di lingkungan peserta didik? Ada berapa juta
guru persampahan dari lebih dua ratus juta penduduk Indonesia?
Di lain pihak ahli pendidikan berpendapat kalau; "Guru yang efektif itu
adalah yang peka terhadap budaya siswanya di kelas, dan menyadari bagaimana
perbedaan latar belakang, siswanya, untuk dapat menyentuh pembelajaran." Mc
Inerney, D.M and Mc Inerney, V. 1996 Page 570.
Bila jumlah guru belum sebanding dengan siswa, maka masalah kebersihan itu
akan tetap seperti suatu kebutuhan mewah, yang katanya hanya layak
dipikirkan oleh orang kaya. Padahal orang kaya lazimnya hanya berpikir agar
mereka bisa bertambah kaya; minimal tidak jatuh miskin.
Kita kebingungan mau memulai dimana dalam hal usaha menciptakan kebersihan,
dan menerapkan disiplin. Suatu saat di tahun 1976, waktu saya mengambil cuti
panjang dari University Hawaii, saya, istri, dan dua anak kecil kami
berjalan-jalan di kota Malang. Kami membeli salak, dan mengajarkan pada
Lana, umur 6 tahun, bagaimana mengupas salak dan memakannya. Kulit kupasan
dia pegang erat dan setelah berjalan cukup lama dia tidak menemukan tong
sampah, akhirnya dia bertanya kepada ibunya Where should I throw these away,
mommy? [Kemana harus saya buang kulit salak ini, Bu?]
Ketika menukar uang di salah satu BNI di Jogyakarta, petugasnya hanya
melihat-lihat saja baru setelah dipanggil dia jalan pelan berlenggang. Lagi
si Lana nyeletuk Why do people here work slowly? [Kenapa orang di sini
bekerja lamban?], Soenjono Dardjowidjojo 2003
Permasalahan Kebersihan Lingkungan Kita
Dari pengamatan, beberapa narasumber yang ditanyai, dan termasuk dari
informasi tertulis yang dimuat berbagai media cetak, dapat disarikan
permasalahan kebersihan sebagai berikut ini:
1. Sampah berserakan dimana-mana; terutama sampah plastik bekas kemasan
makanan dan minuman, kotak dan puntung rokok, serta kulit dan daun berbagai
buah-buahan.
Liputan stasiun televisi saat banjir di perkotaan Indonesia memperlihatkan
sampah mengapung dalam jumlah banyak; berbeda dengan banjir di negara-negara
yang kita kenal bersih. Kadangkala yang terjadi hanya genangan air yang
parah, akibat got mampet disumpal sampah plastik, bukan banjir. harian
Singgalang
2. Tong sampah dan sarana angkut belum tersedia dalam jumlah yang memadai.
Dari duapuluh halte bis yang ada di Jl. Jenderal Sudirman Jakarta hanya ada
tiga buah halte yang punya tong sampah: Soenjono Dardjowidjojo. Kalaupun ada
tong sampah, kadang sudah penuh berlimpah-limpah, dan bertebaran lagi, tidak
diangkat. Akhirnya, sama saja membuang sampah ke tempatnya atau tidak.
3. Tempat pembuangan sampah akhir dan sementara hampir selalu dikeluhkan
warga sekitarnya, malah ada yang dirusak; Bantargebang dan Bojong sebagai
contoh. Ada pula tempat pembuangan sampah akhir yang longsor dan memakan
banyak korban, seperti yang terjadi di Batu Jajar Bandung.
4. Kebanyakan anggota masarakat belum terbiasa memilah-milah sampah
(splitting) untuk dapat diperlakukan atau diproses dengan lebih mudah.
Belum banyak yang paham tentang 'penglolaan sampah produktif' seperti Haji
Abdullah Baseri, ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan Kalimantan Selatan
di Kampung Komplek Ar-Rahim, Teluk Dalam, yang mengelola sampah dengan baik,
menjadi pupuk cair. Harian Singgalang
5. Pemerintah belum serius menangani sampah dengan memprosesnya. Masih
banyak yang beranggapan tempat pembuangan sampah masih luas.
Terbukti dari judulnya tempat pembuangan akhir [TPA], bukan pabrik
pengolahan sampah.
6. Masarakat kita belum terdidik baik perihal kebersihan.
Indikasinya, belum banyak kita dengar warga protes dan menuntut pemerintah
agar lebih memperhatikan kebersihan lingkungan.
7. Aturan dan hukum terkait masalah kebersihan lingkungan belum ditegakkan
secara konsisten.
Apakah ke-tujuh permasalahan diatas tidak mungkin bisa ditangani bangsa ini?
Saya beranggapan kunci masalah sesungguhnya adalah: Pemerintah (kabupaten
dan kota) belum serius menangani usaha pengelolaan sampah dan kebersihan
tempat-tempat umum. Masih banyak yang beranggapan tempat pembuangan sampah
masih tersedia luas.
Berikut sebuah contoh kasus:
Seorang warga, dari kota yang telah sering mendapat penghargaan Adipura,
penghargaan untuk kota terbersih di Indonesia, menulisi walikotanya:
Kota P, 30 Nov. 2004
Yth. Drs.Fulan, M.Si. Walikota P,
Saya, Drs. Funky, M.Ed. pegawai di D P Propinsi, beralamat di kota ini,
mendukung sepenuhnya program penataan kota yang sedang digiatkan Pemko.
Untuk program kebersihan, saya ingin menyumbang saran.
Menurut saya sistem penanganan sampah kota P yang ada sekarang sudah cukup
memadai. Namun karena kurang tersosialisasi, dan jumlah tenaga formal yang
digaji untuk menangani sampah publik tidak sebanding dengan jumlah 'tangan
warga yang mengotorinya', maka penanganan sampah menjadi problema kota yang
tidak akan pernah bisa ditangani sampai tuntas. Untuk itu perlu digerakkan
'sejuta tangan kecil untuk kebersihan', dan perlu perubahan sikap 'semua
warga' dalam menangani sampah.
Saya mengusulkan agar pemko menggerakkan Dinas P Kota untuk merikrut,
menggerakkan semua murid dan siswa sekolah. Mereka bisa memulainya dari
rumah, sekolah dan RT, RW-nya masing-masing dengan menyisihkan sampah
plastik dan non-organik lainnya dari kompos. Dengan begitu, petugas
kebersihan formal yang hanya punya 28 unit armada truk sampah, dari 40 buah
yang dibutuhkan, akan sangat tertolong. Pasalnya 60% dari lebih 300 ton
total sampah publik-tiap hari-- terdiri dari sampah organik yang sebenarnya
diperlukan warga, dapat dimamfaatkannya kalau mereka tahu caranya. Dengan
demikian, sampah itu tidak akan mengotori. Bila itu dilakukan, "pasukan
kuning" akan dapat dikurangi volume kerjanya sampai dengan separohnya saja,
dan penghematan akan bisa terjadi.
Selama ini yang menangani sampah hanya staf dinas terkait, atau petugas
berseragam yang dibayar saja. Bisa saja aparat dan keluarganya tidak
bersikap apalagi berbuat, memberikan contoh dalam penanganan sampahnya
sendiri. Sampah atau limbah itu adalah produk semua orang, makanya problem
penanganan sampah itu harus menjadi tanggungjawab semua orang pula. Problem
publik kalau ditangani bersama, akan lebih mudah, murah dan enteng.
Bila sejuta, atau lebih, tangan kecil untuk kebersihan bisa dirikrut oleh
Dinas P bekerjasama dengan dinas terkait lain; selokan dan sungai-sungai
akan bersih. Pantai yang indah akan lebih bisa dinikmati warga, bahkan bisa
'dijual'.
Dengan begitu semakin kecil keharusan kita untuk menyiapkan 'orang
berseragam kuning' dari generasi anak keponakan kita. Karena kota tidak lagi
memerlukan banyak tukang sapu.
Majulah P kota tercinta, kau kujaga dan kubela.
Terima kasih
Funky
Surat ditanggapi dengan basa-basi. Yang menyurati di minta untuk berbicara
di depan berbagai Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kota (LPMK) berbagai
kecamatan, dan dinas terkait, yang mengirim pejabat yang mewakili kepala
dinasnya. Itu saja.
Menurut salah satu kepala bahagian di Bappeda; Urusan surat usulan dari
warga itu hanya sampai di situ, tidak ada ditindak lanjuti atau disikapi;
sehingga,usaha pemeliharaan kebersihan gaya tradisional berjalan seperti
biasa.
Kesimpulan dan Saran
Sampah, terutama sampah an-organik, plastik, telah menjadi permasalahan
negeri yang indah ini. Kita bersyukur karena sumberdaya manusia Indonesia
yang menyadari kalau ini merupakan permasalahan cukup banyak, bahkan tenaga
ahli persampahan tidak kurang. Ada pula berbagai kantor dinas dan instansi
seperti dinas pendidikan, dinas pekerjaan umum dan permukiman, dinas
kebersihan dan pertamanan, dinas kesehatan, dinas pasar. Tetapi mereka
belum didayagunakan, atau belum diberdayakan. Khusus, kantor atau instansi
baru sekedar diperintah-perintah oleh pejabat di atasnya, walikota, bupati
atau gubernur. Mereka yang memahami teknis permasalahan belum menjadi motor
penggerak sendiri penanganan persampahan. Dengan kata lain sistem belum ada.
Pemikiran bahwa, lahan pembuangan sampah kita masih tersedia luas dan aman,
ternyata keliru. Namun disayangkan, pemerintah kabupaten dan kota belum
memahami, bahkan jauh dari meyakini, kalau penanganan sampah dengan sistem
adalah suatu keharusan. Pemerintah cenderung lebih tertarik kepada proyek
pengadaan peralatan penanganan sampahnya daripada pembenahan sistem.
Oleh sebab itu, untuk pemecahan masalah persampahan ini dapat disarankan
beberapa hal sebagai berikut:
1. Tetap pelihara keinginan sebahagian warga, di lingkungan kita
masing-masing yang telah sadar akan kebersihan, dengan meningkatkan
apresiasi terhadap keberadaan mereka; bentuk kelompok atau jaringan
non-formal.
2. Desak pemerintah kota, kabupaten dan propinsi untuk lebih memperhatikan
kebersihan lingkungan dengan menggunakan berbagai lembaga sosial
kemasyarakatan, formal non formal, yang ada.
3. Himbau dan himpun warga yang sadar lingkungan untuk bersatu secara
politis memenangkan calon yang berkomitmen kuat kepada peningkatan:
pendidikan, kebersihan lingkungan dan fasilitas umum dalam pilkadal
walikota, bupati dan gubernur mendatang.
4. Tetap berikan dorongan dan dukungan maksimal kepada perhatian sekecil
apapun terhadap usaha peningkatan kebersihan lingkungan, dari pemerintah.
Daftar Kepustakaan
* Dardjowidjojo, Soenjono 2003. Rampai Bahasa, Pendidikan, dan Budaya,
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
* Crowl, Thomas K. 1996. Foundation of Educational Research; Ethnographic
Research, Brown&Benchmark Publishers.
* Mc Inerney, D.M and Mc Inerney, V. 1996 Educational psychology:
constructing learning: Sydney, Prentice Hall.
* Zainuddin, Hasan, artikel: Menggali 'Harta Karun' dari Tumpukan Sampah,
harian Singgalang, 19 Juli 2003
* Artikel: "Riol Menampung Air dari Segala Arah" , harian Singgalang, 20
Agustus 2003
Fekrynur St.Palindih,
Jln Seb.Padang Utara I/21A
Padang
|
"Fekrynur" <fekrynur@...>
fekrynur@...
Send Email
|