Budaya Hidup Bersih
Fekrynur*
Abstract
Environmental cleanliness may become something that all communities are
longed for, despite the fact that not all community members can achieve
this quality to their wish. Although say, most city citizens wish to take
environmental cleanliness as their symbol of observed local values, in
reality quite often, they fail to achieve the standard of cleanliness they
dream of. This failure or feeling of dissatisfaction are even to be
swallowed by citizens of cities that have won the national award for
cleanliness [Adipura] many times. Despite their believe in the religious
slogan, cleanliness is among components of your devotion and surrender to
the God, many citizens feel hopeless thinking to make their surrounding
clean. I believe, it is the duty of everyone, without exception, to achieve
the wills to create such life quality. This paper is trying to discuss
about the environmental cleanliness, who to do, what to do and how.
I PENDAHULUAN
Hampir semua orang suka, bahkan mendambakan, kebersihan lingkungan di mana
mereka hidup menetap, tinggal sementara, ataupun sekedar untuk datang
berkunjung sehari-dua. Lingkungan tinggal yang kotor, tidak terpelihara
kebersihannya tidak pernah menjadi tempat yang ingin dikunjungi orang untuk
kedua kali-nya. Kalau bukan karena terpaksa keadaan, warga biasanya ingin
pindah dari lingkungan kumuh. Tapi mau pindah kemana, kalau rata-rata
begitu?
Ada berbagai alasan yang menyebabkan tempat, lingkungan, kota dan
bahkan negara yang terkenal kekotoran lingkungannya tidak menjadi menarik
untuk dikunjungi: bisa karena alasan kesehatan sanitasi lingkungan;
kesemrautan dan estetika yang rendah; dan bisa karena, lingkungan sosial
pemerintahan yang kurang menarik. Akibatnya, lingkungan kota dan bahkan
negara itu tidak akan pernah bisa dijual untuk pariwisata.
Bagaimana dengan tingkat kebersihan lingkungan dan kota-kota di
Indonesia?
Mungkin tidak semua orang bisa menilai, dengan objektif, tingkat kebersihan
lingkungan dan kota di negaranya. Sebabnya antara lain: tingkat kebersihan
itu sendiri relatif; nilai estetika masing-masing orang bisa berbeda-beda.
Itu semua bisa dipengaruhi oleh pengalaman individu, dan tingkat kepekaannya
terhadap kebersihan. Pengalaman yang dimaksud di sini adalah; pernah atau
tidaknya seseorang tinggal di lingkungan kota yang lebih terpelihara
kebersihannya. Dengan begitu ada pengalaman pembanding sehingga kepekaannya
tersentuh.
Rustam, 54 , orang Indonesia juga seperti kita, telah tiga kali ke
Kualalumpur Malaysia untuk urusan familinya yang warga negara jiran itu. K
Andrianus, 57 dan Elita Taibin, 53 telah ke Jeddah, Mekah dan Madinah, dalam
rangka haji. Elen Yohannes, 44 menetap di Okayama Jepang, 1994 - 2000. Liza
M., 43 dan suaminya Agustian menetap di Strasbourg Prancis 1991-1994,
Bustari, 48 dua kali ke Calgary, Edmonton, Toronto di Canada. Yunelfis, 48
berkunjung ke Stavanger Norwegia tahun 2004. Zifirdaus Adnan, 46 lebih dari
separuh hidupnya tinggal di berbagai kota di Australia sampai sekarang.
Semua mereka itu sepakat mengakui negara yang dikunjunginya, atau
ditempatinya, itu jauh lebih bersih dari Indonesia!
*Drs. Fekrynur, M.Ed., dosen luar biasa FIB
Mereka punya berbagai cerita tentang bagaimana orang menjaga kebersihan
lingkungannya, dan punya pengalaman masing-masing tentang bagaimana mereka
bisa menjadi bahagian dari mereka dan harus meniru tuan rumah menjaga
lingkungan kota mereka. Mereka lebih kurang sependapat kalau: pendidikan,
sarana persampahan, taatnya warga kepada aturan, disiplin pekerja yang
menangani sampah, dan komitmen pemerintah serta seluruh warga telah
berkontribusi signifikan dalam membuat negara itu rata-rata jauh lebih
bersih. Warga negara Indonesia yang belum melihat langsung kaca pembanding,
negara asing, tidak punya pendapat; atau mungkin menerima saja kondisi yang
kumuh.
Kenapa di kita, kebersihan itu belum terwujud? Padahal, cukup banyak sudah
warga negara Indonesia ini yang mempelajari hal kebersihan itu di luar
negeri. Para pemimpin kita juga. Mungkin, yang belum pernah ke luar-negeri
hanyalah: pak RT, pak lurah dan pak camat saja. Yang lain, pak bupati dan
walikota beserta staf dekatnya sudah pernah studi-banding semua. Mana dampak
studi-banding itu kepada kebersihan lingkungan daerah kekuasaannya?
BUDAYA HIDUP
"... Budaya berisi sekelompok orang yang memainkan peran dan berperangai
menurut apa yang diatur oleh kebiasaan dan adat yang unik atau spesifik
milik kelompok itu: Crowl, Thomas K. 1996. page 213. Kalau kita artikan
budaya hidup itu sebagai kebiasaan tindak hidup maka semua orang , tanpa
kecuali, punya budaya hidup. Ada budaya kumuh bagi orang yang tidak peduli
dengan kebersihan; budaya anggap enteng bagi orang yang tidak serius
menghadapi setiap permasalahannya; budaya malu bagi orang yang sangat segan
kalau terlanjur berbuat yang tidak senonoh; budaya malas, bagi yang
mengedepankan rasa malas dan tidak punya inisiatif, dan berbagai budaya
lain-nya. Budaya bisa bernilai positif maupun negatif. Pertanyaannya
sekarang, bila pembaca sepakat dengan Crowl mengenai arti kata budaya,
setuju tidak; Anda dianggap satu budaya dengan mereka yang menerima saja
kekumuhan di lingkungannya?
LINGKUNGAN BERSIH
Pengertian lingkungan bersih adalah lingkungan yang terbebas dari sampah
berserakan di jalan, selokan, ruang terbuka umum; lingkungan mempunyai
toilet umum bersih, sebanding dengan jumlah warga dan pengunjungnya.
Sedangkan warga masarakatnya diharapkan bisa mengubah paradigma sampah
dibuang [dioper-oper] menjadi sampah ditangani bersama, sehingga dengan
jumlah petugas kebersihan yang terbatas, namun bertanggungjawab kota tetap
tampil bersih. Dengan begitu, warga dan pengunjung kota merasa nyaman, dan
berdampak kepada siswa mau makan pagi sebelum pergi ke sekolah; tidak takut
lagi harus 'be-ol' di toilet sekolah dan atau di toilet umum lainnya dalam
perjalanan.
II KOTA BERSIH DILAHIRKAN ATAU DICIPTAKAN?
Anak kecil saja tahu...! Ihsan, seorang murid SMP mengatakan: Budaya bersih
diciptakan...!
Bagaimana caranya?
"Dengan tidak membuang sampah sembarangan." Mudah-mudahan Ihsan
benar.
Kalau kota bersih dilahirkan; maka malang sekalilah kita menjadi warga kota,
yang kotanya telah terlanjur kotor. Kota yang telah ada tidak akan pernah
bisa terlahir kembali sebagai kota bersih. Dalam sejarah, kota yang bisa
lahir kembali itu tidak banyak; diantaranya hanyalah: Meulaboh di Aceh,
Nagasaki, dan Hirosima di Jepang.
Kalau diciptakan; apa yang mesti kita lakukan agar lingkungan atau
kota kita bisa menjadi bersih? Inilah pertanyaan sederhana yang harus kita
jawab bersama.
Harus dijawab bersama karena, keinginan untuk menciptakan lingkungan bersih,
dan sekalian memelihara kebersihannya tidak mungkin dilakukan
sendiri-sendiri. Harus dibuat sistem atau jaringan yang efektif untuk itu.
Barangkali inilah tugas para pemimpin, dan orang yang duduk di pemerintahan;
yaitu merancang sistem menerapkan, dan memeliharanya. Tanpa sistem yang
benar dengan sarana dan prasarana yang memadai, mustahil satu lingkungan
akan terpelihara kebersihannya.
Fekrynur St.Palindih,
Jln Seb.Padang Utara I/21A
Padang