Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pakguruonline · Komunitas guru dan pemerhati pendidikan
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want to share photos of your group with the world? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
SUDAHKAH KITA PEDULI DENGAN HAK-HAK ANAK KITA..?   Message List  
Reply | Forward Message #240 of 7449 |
SUDAHKAH KITA PEDULI DENGAN HAK-HAK ANAK KITA..?

Setiap orang dewasa yang mampu berpikir secara sehat, dapat dipastikan akan selalu menginginkan segala hal akan selalu menjadi lebih baik. Sehingga konsekuensi terhadap hal ini tentunya akan selalu berpulang bahwa semua pilihan hidup kita terhadap apa yang akan kita lakukan selalu dikembalikan kepada pengertian bahwa sampai dimana kita berkontribusi terhadap proses ‘menjadi baik’, pada kehidupan kita pribadi, dan juga pada seluruh umat manusia di dunia tentunya.

Lalu bagaimana caranya? Setiap orang pastilah bisa jadi akan berbeda-beda dalam mengartikan sesuatu hal yang dikatakan ‘lebih baik’ dalam hidup ini. Juga tentunya dalam mengartikan bagaimana kita musti bertindak untuk menjadikan segala hal menjadi ‘lebih baik’.

Saya sendiri punya penglihatan sendiri dalam hal melihat sesuatu sehingga dikatakan ‘lebih baik’. Saya melihat bahwa apa pun cara pandang orang selama hal itu secara tulus diniatkan sebagai mewujudkan tata cara kehidupan yang diterima semua pihak dalam kita berbagi bersama semua hal di atas bumi kita ini secara seimbang, apa pun itu, adalah sesuatu usaha untuk menjadi ‘lebih baik’. Hanya saja menurut saya semua hal itu akan terasa egois bagi generasi kita yang saat ini mendiami bumi ini apa pun profesi anda, bila apa pun yang kita lakukan itu, tanpa sedikit pun memikirkan apa sebaiknya pilihan kita agar generasi setelah kita menjadi lebih baik dari kita.

Dan bagi setiap orang yang karya hidupnya juga diniatkan untuk berkontribusi terhadap upaya memberi pilihan yang lebih baik terhadap generasi setelah kita – entah itu kontribusi terhadap dunia pendidikan, usaha kontribusi terhadap tatanan sosial yang lebih baik di masyarakat, pembangunan yang berwawasan lingkungan untuk menjamin kepastian sumber daya alam bagi generasi setelah kita, dan lain sebagainya - , bagi saya akan menjadi sedikit lucu ketika kita justru mengesampingkan kepentingan pemberdayaan generasi sesudah kita yang paling dekat dengan kita, yaitu anak-anak kita sendiri, generasi anak-anak kita di lingkungan tempat kita tinggal, termasuk juga sumber daya manusia semua orang yang berinteraksi dengan mereka anak-anak kita.

Saya mencoba untuk mengungkapkan apakah yang seharusnya menjadi hak-hak mereka anak-anak kita. Karena pada dasarnya hak-hak mereka adalah tuntutan kewajiban kita sebagai orang tua, yang saya melihat tidak sepenuhnya itu semua dilakukan oleh kita para orang tua. Dan bentuk kewajiban itu tidak hanya ketika secara fisik berinteraksi dengan anak-anak kita, bahkan bentuk kewajiban itu sudah ada jauh sebelum anak-anak kita lahir, bahkan mungkin jauh sebelum seseorang berencana untuk membangun sebuah rumah tangga.

Hak-hak bakal calon anak-anak kita
Mungkin anda merasa geli dengan judul yang saya ambil di atas. Tapi itulah secara harfiah saya ungkapkan seperti yang saya maksudkan.

Suatu saat beberapa bulan yang lalu pernah saya sekedar melewatkan suatu sore bersama anak saya pada sebuah warung yang menjajakan makanan kecil di sebuah pemukiman di selatan kota Yogya. Kebetulan warung itu letaknya ditengah-tengah sebuah pemukiman penduduk yang mayoritas rumah-rumah di situ dimanfaatkan sebagai tempat kost bagi kalangan mahasiswa. Sehingga hampir bisa dipastikan para konsumen warung yang datang ke situ adalah pemuda-pemudi usia duapuluhan, berasal dari luar kota Yogya, dan berpredikat pelajar atau mahasiswa.

Warung itu, pada sore itu cukup ramai dikunjungi para mahasiswa. Saya yang ngobrol dengan anak saya yang masih berusia dua setengah tahun sambil mendengar celotehannya, sesekali juga menebarkan pandangan ke sekeliling warung dan juga sesekali mendengarkan pembicaraan orang-orang di situ.

Suatu saat pandangan saya tertuju pada seseorang perempuan muda, yang dari penampilan dan cara bicaranya bisa dipastikan dia seorang mahasiswi. Apa yang menjadi perhatian saya saat itu adalah betapa saya harus merasa sedih ketika melihat dia sambil ngobrol dengan temannya, sesekali menghisap rokok!

Memang secara hakiki, seharusnya tidak ada orang didunia ini yang berhak untuk melarang kebebasan seseorang untuk merokok. Saat itu kesedihan saya adalah sebuah ungkapan protes dari bakal calon anaknya kelak, yang pada saat ini tentunya tidak bisa secara langsung menyampaikan protesnya kepada calon ibunya itu. Karena memang, bisa jadi keputusan perempuan tadi merokok sekarang, akan berpengaruh terhadap kesehatan anaknya kelak, siapa pun dia.

Inilah yang saya maksudkan sebagai perhatian kita semua kepada hak-hak bakal calon anak-anak kita. Secara ilmiah mungkin hal ini bisa dikaitkan dengan sampai seberapa jauh kita sebagai manusia dewasa pada usia produktif, peduli dalam menjaga kesehatan organ-organ reproduksi kita. Bisa jadi memang setiap orang tidak selalu harus suatu saat di dalam hidupnya untuk memilih mempunyai seorang anak. Tapi menurut saya hal ini bukan sebagai alasan bagi kita untuk tidak begitu peduli pada kesehatan organ reproduksi tubuh kita sendiri! Karena bagaimana pun juga ketika suatu saat kemudian Tuhan mempercayakan sebuah karunia seorang anak, kita tidak bisa meminta Tuhan untuk memberi kesempatan kita mengulangi kehidupan kita sehingga lebih mempersiapkan diri terutama dalam hal menjaga kesehatan organ reproduksi.

Dan bila kita melihat sekeliling kita, kita bisa menilai betapa masih rendahnya kepedulian terhadap kesehatan organ-organ reproduksi kita sendiri. Dengan kata lain yang lebih sederhana adalah kepedulian kita terhadap hak-hak bakal calon anak-anak kita!

Kita lihat disekeliling kita, terjadi pada orang-orang pada usia produktif baik ketika masih pada masa pra nikah maupun pasca pernikahan. Pada kelompok pra nikah, hampir selalu pemuda yang saya jumpai adalah seorang perokok. Karena dari sisi kesehatan sudah jelas bahwa untuk menjamin kesehatan janin, sebaiknya rokok sudah ditinggalkan baik oleh sang ayah maupun ibu, paling tidak setahun sebelum hamil.

Belum lagi kasus yang ‘menjangkiti’ generasi muda pada masa pra nikah mereka, seperti konsumsi alkohol, narkoba dan sex bebas, yang jelas-jelas akan berpengaruh pada kesehatan tubuh, terutama kesehatan organ-organ reproduksi.

Saya cukup merasa lega ketika pemerintah beberapa bulan terakhir ini mulai memikirkan untuk memasukkan pendidikan sex dan kesehatan organ reproduksi pada kurikulum sekolah. Yang walaupun hal penting ini sempat tercecer dan terbengkalai tidak menjadi perhatian, saya mulai melihat komitmen pemerintah terhadap hal ini.

Hal yang cukup memprihatinkan juga terjadi pada generasi kita yang telah berada pada masa pasca-nikah, baik mereka orang tua yang belum memiliki anak maupun yang sudah. Mereka yang seharusnya pada pengertian yang lebih mempedulikan kesehatan organ reproduksi mereka, banyak para orang tua yang masih memilih untuk tetap merokok, mengkonsumsi minuman keras atau pun berhubungan dengan orang lain yang bukan istri atau suami mereka.

Karena bagaimana pun apapun yang menjadi alasan yang mendasari mereka memutuskan untuk berlaku demikian, menurut saya akan selalu saya nilai sebagai sikap yang egois ketika kita harus melihat kewajiban kita terhadap tuntutan hak-hak anak-anak kita, sebelum dan sesudah anak-anak kita dilahirkan ke dunia ini.

Sehingga terkadang juga saya merasa heran, ketika Pemda Jakarta memulai sosialisasi pembatasan merokok di tempat umum, yang mungkin juga salah satu pertimbangannya adalah apa yang saya utarakan di atas, pada beberapa mail-list saya pernah menjumpai ada saja reaksi negatif terhadap hal itu, entah apa alasannya…

27 Februari 2005
Pitoyo Amrih
Berdomisili di Solo



Fri Apr 1, 2005 1:03 pm

jibakom@...
Send Email Send Email

Forward
Message #240 of 7449 |
Expand Messages Author Sort by Date

SUDAHKAH KITA PEDULI DENGAN HAK-HAK ANAK KITA..? Setiap orang dewasa yang mampu berpikir secara sehat, dapat dipastikan akan selalu menginginkan segala hal...
Jibakom
jibakom@...
Send Email
Apr 1, 2005
1:10 pm

Pak Pitoyo, Saya sependapat dengan Anda soal melarang orang merokok di tempat umum. Baiknya, yang perokok merokok dulu sepuas-puasnya di rumahnya masing-masing...
Fekrynur
fekrynur@...
Send Email
Apr 3, 2005
6:18 am

Terima kasih pak Fekry atas dukungannya, marilah kita mulai dari diri kita, anak-anak kita dan keluarga kita didalam memahami dan melatih kepedulian kepada...
Jibakom
jibakom@...
Send Email
Apr 3, 2005
1:37 pm
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help