TAQWIYATU RUHIT-TADHHIYAH
(Memperkuat Jiwa Pengorbanan)
Apa yang membedakan pecinta sejati dengan pecinta gombal? Yang membedakannya
adalah pengorbanan. Semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula
pengorbanan yang ia berikan untuk sang kekasihnya atau sesuatu yang
dicintainya itu.
Soal pengorbanan bagi kecintaan juga berlaku dalam kancah dakwah. Lihat, apa
yang dilakukan Abu Bakar Shiddiq untuk membela yang paling dicintainya yakni
Rasulullah saw dan dakwah. Saat genting-gentingnya situasi menjelang hijrah
Rasulullah saw. ke Madinah, Abu Bakar semoga Allah meridhoinya- tampil
dengan segala pengorbanan untuk menyelamatkan dakwah. Ia pasang badan untuk
menjadi tameng Rasulullah saw. dari segala kemungkinan buruk yang
direncanakan oleh orang-orang kafir Quraisy. Ia korbankan pula hartanya.
Bahkan ia kerahkan anggota keluarganya untuk turut berkontribusi bagi
dakwah. Apa yang beliau lakukan itu sesuai benar dengan ungkapannya sendiri,
"Hal yanqushud-dinu wa ana hayyun" (Tidak boleh Islam berkurang sementara
saya masih hidup).
Kepada orang seperti itulah pujian Allah swt ditujukan:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan
Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang
benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang
lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan
jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar"
(QS. 9:111)
Dan semangat itu pula yang ingin ditumbuhkan kembali oleh Ustadz Hasan
Al-Banna ke dalam jiwa para da'i, sebagaimana tercantum dalam risalah 'Ilaa
Ayyi Syai-in Nad'un-Nas' (Ke mana Kita Mengajak Manusia?). Pesan itu
menegaskan: jika kita ingin menempa umat, membuat mereka bangkit untuk
mencapai cita-cita mereka, yaitu kejayaan dan kemenangan, maka kita harus
memiliki quwwatun nafsiyyah (kekuatan jiwa). Dan kekuatan jiwa, menurut
pendiri Jamaah Ikhwanul Muslimin itu tercermin pada empat hal yang salah
satunya adalah pengorbanan.
Meski demikian, keempat hal ini saling berjalin berkelindan, hingga satu
sama sama lain tidak dapat dipisahkan, yakni:
1.Motivasi kuat yang tidak terjangkiti keloyoan.
Modal dasar pengorbanan adalah kekuatan motivasi. Ia juga merupakan syarat
mutlak bagi perjuangan untuk kebangkitan dan kejayaan umat. Allah tidak akan
menurunkan kemenangan kepada bangsa yang bermental kalah. Surga pun hanya
akan menjadi milik orang yang memiliki kekuatan motivasi: "Hai orang-orang
yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah
yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. niscaya Allah akan
mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di
surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain
yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat
(waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman"
(QS. As-Shaf / 61: 10-13)
Saat kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan Quraisy dalam perang Badar,
Rasulullah saw. mengatakan kepada para sahabat, "Bangkitlah kalian menuju
surga yang luasnya seluas langit dan bumi!" Demi mendengar kalimat itu,
Umair bergumam, surga seluas langit dan bumi? Wah, wah! Mendengar itu
Rasulullah saw. bertanya, Apa yang membuatmu mengucapkan kata itu?Umair
menjawab, Tidak apa-apa, saya cuma ingin termasuk penghuninya. Rasulullah
saw. menjawab, Ya kamu termasuk penghuninya. Umair yang tengah memakan kurma
pun lantas berkata, Sungguh terlalu lama bila saya harus menunggu habisnya
kurma ini. Maka ia pun meletakkan kurma-kurma di tangannnya lalu menyeruak
masuk ke tengah barisan musuh untuk bertarung hingga mati syahid. (Kisah ini
diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
2. Kesetiaan yang tangguh yang tidak dihinggapi kepura-puraan dan
pengkhianatan.
Kekuatan pengorbanan tidak hanya diukur dengan pengorbanan fisik dan
material. Kesetiaan, kesabaran dan konsistensi dalam memperjuangkan
kebenaran juga merupakan wujud pengorbanan. "Dan orang-orang yang sabar
dalam rangka mengharap wajah Tuhan mereka dan mendirikan shalat serta
menginfakkan sebagian yang Kami rizkikan secara sembunyi-sembunyi dan
terang-terangan, bagi mereka itulah tempat tinggal akhir yang baik" (Ar-Rad
22)
Kualitas pengorbanan seseorang tidak diukur oleh semangat semata-mata namun
juga oleh wafa tsabit (kesetiaan yang tangguh). Sejarah merekam orang-orang
yang memiliki wafa tsabit itu bahkan dalam kondisi yang paling menyakitkan
dalam hidupnya, hingga bumi yang luas ini dirasakan sempit olehnya.
3.Pengorbanan agung yang tidak terganjal oleh ketamakan dan kekikiran.
Pemuliaan itu adalah pengorbanan. Ini pula yang disampaikan Rasulullah saw
kepada seorang sahabat bernama Basyir Bin Al-Khashashiyyah. Ia datang kepada
Rasulullah saw. untuk berbai'at atas Islam. Rasulullah saw. mensyaratkan
kepadanya untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad
adalah hamba dan utusan-Nya; melaksanakan shalat lima waktu; berpuasa di
bulan Ramadhan; mengeluarkan zakat; menunaikan haji; dan berjihad di jalan
Allah. mendengar itu semua, Basyir menyahut, Ya Rasulullah, yang dua hal
(terakhir itu), saya tidak mampu. Tentang zakat, saya tidak punya harta
selain sepuluh ekor unta. Dan itu adalah andalan dan kendaraan keluarga
saya. Sedangkan tentang jihad, saya dengar orang-orang mengatakan bahwa
siapa yang lari dari medan jihad maka ia akan mendapatkan murka Allah. Dan
saya memang orang yang penakut. Mendengar itu Rasulullah menarik kembali
tangannya kemudian menggerak-gerakkannya seraya mengatakan, Wahai Basyir,
tanpa shadaqah dan tanpa jihad? Lalu dengan apa kamu akan masuk surga?
Basyir akhirnya menjawab, Jika demikian, saya berbai'at untuk semua itu.
(Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al- Baihaqi, dan lain-lain)
4.Memahami, meyakini, dan menghargai prinsip.
Ada banyak kasus soal kelunturan dan pencairan idealisme. Begitu pula
semangat mengebu-gebu dan pengorbanan yang ternyata hanya bertahan semusim
saja. Salah satu penyebabnya karena semangat dan pengorbanan itu tidak
disertai dengan pemahaman, melainkan muncul hanya kerena terkompori
lingkungan atau oleh situasi yang menghimpit. Akibatnya semangat tersebut
tidak mengakar dan hanya menjadi letupan-letupan emosi yang bersifat
reaksional.
Oleh karena itu, perjuangan dan pengorbanan harus berangkat dari pemahaman
terhadap segala sisi Islam. Dengan kata lain pemahaman ini harus bersifat
syamil (integral dan komprehensip).
Apa yang menyebabkan kaum muslimin generasi awal begitu tangguh dan
konsisten saat diterpa badai ujian dan fitnah? Salah satu sebabnya karena
mereka memahami Islam secara murni seperti apa yang diajarkan oleh
Rasulullah saw. Maka segala badai ujian justeru menambah kokoh dan kuatnya
iman dan pengorbanan mereka. "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah
membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) bagaikan pohon yang
baik. Akarnya menghujam bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu
memberikan buahnya pada setiap saat dengan seizin Tuhannya" (Ibrahim 25)
Pengorbanan generasi-generasi terdahulu telah ditorehkan. Atas izin Allah,
dengan pengorbanan mereka Islam mendapatkan jalan untuk merambah relung hati
dan jiwa manusia. Lalu, apa pengorbanan kita?
sumber : http://www.ummigroup.co.id/?pilih=lihat&id=88