Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pakguruonline · Komunitas guru dan pemerhati pendidikan
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Show off your group to the world. Share a photo of your group with us.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Fw: [cfbe] Fwd: Memenjarakan Anak dengan Kebebasan [Email Checked   Message List  
Reply | Forward Message #188 of 7453 |
Memenjarakan Anak dengan Kebebasan

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Saya nyaris tak percaya ketika datang seorang anak yang wajahnya
tampak linglung. Raut mukanya mengingatkan saya pada anak-anak yang
idiot atau debil. Wajah yang tidak memancarkan semangat. Di matanya,
yang ada hanya tatapan kosong tanpa cita-cita.

Rasanya sulit percaya bahwa anak itu hadir ketika saya baru saja
menuliskan kata linglung untuk prolog buku "Menuju Kreativitas"
karya sahabat saya, Mas Wahyudin. Awalnya saya kira anak yang putih
bersih itu, mengalami keterbelakangan mental bawaan sejenis idiot.
Tetapi ketika melihat reaksi-reaksi di wajahnya, saya mulai
menangkap bahwa anak ini sebenarnya normal. Pengasuhanlah yang telah
membuat ia kehilangan kekayaan yang paling berharga: "jiwa yang
sehat dan hidup".

Lalu, apa yang membuat anak itu sampai begitu mengenaskan jiwanya?
Beban apa yang memberatkan dirinya sehingga ham pir-hampir tak
sanggup lagi untuk berpikir?

Bukan kemiskinan yang membuat tatapan matanya kosong dan hampa.
Bukan kesusahan yang menjadikan jiwanya penat dan lelah. Tetapi
kebebasan untuk bermain game, kapan pun ia mau. Anak sekecil itu, di
usianya yang baru berkisar 8-9 tahun, telah menghabiskan sepertiga
dari usianya setiap hari untuk hanyut dalam permainan video-game
yang menegangkan. Seluruh energinya seakan telah habis untuk
memelototkan di depan layar komputer, berpacu dengan suara perang-
perangan yang mendebarkan.

Saya segera teringat dengan tulisan yang belum selesai saya ketik.
Di prolog itu, sempat saya bercerita sejenak tentang Milton Chen.
Dalam bukunya berjudul The Smart Parent's Guide to KIDS' TV, Chen
menunjukkan bahwa waktu menonton yang cukup sehat adalah berkisar 8-
10 jam seminggu. Dengan kata lain, lamanya waktu menonton sebaiknya
berada pada rentang 1 jam 9 menit sampai dengan 1 jam 25 menit. Itu
pun dengan catatan tayangannya masih cukup sehat. Jika tayangannya
benar-benar sangat edukatif dan merangsang daya nalar anak, mereka
bisa menonton maksimal 15 jam seminggu. Lebih dari itu sudah tidak
sehat. Apalagi kalau acaranya banyak menayangkan kekerasan,jam
menonton harus dipersingkat.

Banyak yang menarik dari buku Milton Chen. Tentang bagaimana
tayangan kekerasan merangsang agresivitas anak, tentang bagaimana TV
menumpulkan perasaan dan kasih-sayang kepada orang lain, atau
tentang bagaimana TV merampas waktu anak yang paling berharga.
Tetapi saya tidak ingin menyibukkan Anda dengan hasil-hasil
penelitian itu. Cukuplah kita merenung sejenak tentang waktu yang
kita berikan untuk anak-anak kita. Barangkali banyak di antara kita
yang merasa aman dengan kebebasan yang kita berikan pada anak untuk
menonton, padahal 4 jam sehari (28 jam seminggu) di depan TV
ternyata sudah termasuk kategori membahayakan. Benar-benar mengancam
mental dan kepribadian anak. Apalagi kalau tayangan itu berupa video-
game yang dari detik ke detik hanya menyajikan kekerasan, keganasan
dan cuma memancing reaksi impulsif anak.

Diam-diam saya merasa khawatir, jangan-jangan banyak di antara kaum
muslimin -bahkan dari mereka yang punya komitmen dakwah-mengizinkan
anaknya duduk manis di depan TV lebih dari 4 jam sehari. Kalau itu
terjadi, akan lahir di sekeliling kita anak-anak yang tak punya
inisiatif, tumpul otaknya dan mati gagasannya -meskipun IQ-nya
sangat tinggi. Akan lahir anak-anak yang hatinya beku dan jiwanya
mati, sementara syahwat besar berkobar-kobar. Mereka inilah yang
bisa terkena robopath sebelum dewasa, semacam patologi jiwa yang
membuat mereka seperti robot. Bertindak tanpa pikiran, bergerak
tanpa jiwa.
Yang ada hanya jebakan aktivitas yang membelenggu.

Dampak ini akan lebih terasa jika yang dipelototi anak bukan lagi
TV, tetapi video-game berat. Anak yang hanyut dengan video-game
sampai tingkat yang sangat menguras energi psikis, cenderung sangat
pasif atau just ru sebaliknya amat agresif. Mereka bisa seperti
orang linglung. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Bisa juga sangat
ganas. Mereka berperilaku sangat agresif karena pengaruh adegan yang
disaksikan. Bukan karena dorongan kecerdasan.

Setiap kali memainkan video-game, anak juga terangsang bertindak
impulsif.
Kalau tidak ada kegiatan penyeimbang yang memadai, anak-anak itu
bisa kehilangan kendali emosi. Mereka tidak mampu mengembangkan
kecakapan emosi yang sehat, normal dan baik. Bahkan bisa terjadi,
anak-anak itu mengalami cacat emosi (emotionally handicapped),
meskipun pada awalnya normal. Anak yang saya ceritakan di awal
tulisan ini merupakan contoh bagaimana video-game telah
menjadikannya seperti anak idiot. Ia tidak nyaman berada di
lingkungan yang tidak dikenal karena keterampilan emosi dan
sosialnya telah rusak.

Bagaimana bisa demikian? Anak ini memelototi video game berat yang
ada di komputernya rata-rata delapan jam sehari!!! Apalagi pada
waktu libur, bisa lebih lama lagi. Kalau dihitung delapan jam saja,
berarti lebih dari separo waktu jaganya digunakan untuk duduk
terpaku. Ia hanya berinteraksi dengan kekerasan, gambar yang
bergerak cepat, ancaman yang setiap detik selalu bertambah besar,
serta dorongan untuk membunuh secepat-cepatnya. Anak mengembangkan
naluri membunuh yang impulsif, sadis dan ngawur. Ia tekan apa saja
secara membabi-buta seraya memuntahkan serangan maya secepat mungkin.

Andaikan sesudah memelototi video-game otak anak bisa segar, delapan
jam sehari sudah terlalu banyak. Jauh lebih banyak daripada titik
bahaya nonton TV, yakni 4 jam sehari! Padahal, video game menyerap
energi psikis anak lebih besar daripada TV. Beberapa jam sesudah
memelototi TV, otak anak masih tetap dibebani oleh permainan yang
ada di video game. Anak dikejar oleh bayang-bayang untuk menuntaskan
permainan dan memenangkan pertarungan.
Praktis, anak tidak siap menerima rangsangan lainnya. Lebih-lebih
rangsangan yang daya tariknya lemah dan tidak memberi aktivitas
menantang, akan sulit menyentuh wilayah psikis anak. Nah, proses
belajar akademis termasuk rangsangan yang cenderung tidak menantang,
monoton dan lamban - dalam hal ini bagi anak-anak yang kecanduan
video-game.

Kalau ini terjadi, mereka akan merasakan suasana kelas seperti
penjara bagi jiwanya. Tubuhnya ada di kelas, tetapi pikirannya,
rasa penasarannya dan keinginannya ada di video-game. Ada suara-
suara guru yang masuk ke telinga, tetapi tak ada yang terekam.
Ibarat komputer, registrynya sedang error.
Tampaknya sedang belajar, tetapi pikirannya sibuk mengolah bayang-
bayang game yang mendebarkan. Inilah yang menyebabkan anak tidak
bisa memproses pelajaran yang diberikan kepadanya. Sama seperti
komputer, sistemnya macet (system halted). Hang. Tidak bekerja.

Apa yang bisa dilakukan jika akibatnya sudah separah itu? Terapi.
Ini berarti orangtua tidak bisa melakukan sendiri, kecuali jika
orangtua adalah psikolog anak yang ber pengalaman. Bisa jadi proses
terapinya tidak bisa dilakukan oleh satu orang. Harus melibatkan
ahli-ahli lain untuk mengembalikan anak pada kondisi normal, bisa
belajar berpikir dengan baik, mampu beradaptasi dengan lingkungan
sosial dan sekolah, serta dapat mengikuti proses belajar-mengajar di
sekolah dengan wajar. Terapi juga diarahkan agar anak bisa belajar
mengelola emosinya, mampu menghidupkan perasaannya dengan baik dan
sehat, serta belajar menumbuhkan inisiatif positif. Itu pun dengan
catatan, proses terapi tidak bisa menjamin selalu berhasil dengan
sempurna. Selalu ada kemungkinan proses terapi itu masih
meninggalkan masalah, meskipun kecil, terutama jika orangtua tidak
dapat diajak bekerjasama dengan baik. Tentu saja, sangat mungkin
proses terapi akan mampu mengatasi masalah dengan sempurna. Tetapi
berhati-hati agar tidak timbul persoalan yang berat, adalah jauh
lebih baik.

Persoalannya, kenapa sebagian orangtua dengan mudah menyediakan alat-
alat permainan sem acam itu? Banyak kemungkinan. Pertama, orangtua
tidak mau repot dengan anak. Mereka belikan anak apa pun yang dapat
membuatnya diam.Kadang tanpa sadar, orangtua melakukan dengan
melemahkan rasa sayang anak pada orangtua. Ketika anak rewel,
orangtua segera menyodorkan TV, VCD,video-game atau apa pun yang
dapat membuat anak diam. Padahal cara ini bisa berdampak pada
lemahnya keterampilan emosi anak. Mereka tidak belajar bagaimana
mengelola keinginan atau mengambil pertimbangan.

Pada sebuah kasus, seorang anak mempunyai gejala persis seperti anak
pengidap autisme. Setelah ditulusuri, anak ini ternyata pada
dasarnya normal. Pola asuh orangtuanya yang membuat anak cacat
emosi. Kedua orangtua bekerja dan begitu tiba di rumah, mereka sibuk
melepas lelah dengan menutup di kamar. Setiap anak rewel, orangtua
menyodorkan tawaran-tawaran berupa VCD dan game. Tak ada sentuhan.

Kedua, orangtua tanpa orientasi pendidikan yang baik. Mereka
memberikan mainan apa saja asalkan an ak senang. Mereka bisa
terlibat dalam permainan.
Hanya saja mereka tidak memiliki arah, sehingga apa pun yang sedang
trend akan diberikan kepada anak. Sedihnya, sekolah pun ternyata tak
sedikit yang miskin orientasi.

Ketiga, semangat tanpa ilmu. Mereka belikan anak berbagai bentuk
alat permainan, termasuk video game, karena menginginkan anaknya
maju, modern dan kreatif. Mereka memberi alat permainan karena
mendengar bahwa kegiatan bermain sangat penting untuk merangsang
kecerdasan, kreativitas, inisiatif dan semangat anak. Sayangnya,
mereka lupa bahwa alat permainan -atau yang dianggap sebagai alat
permainan-tidak sama dengan bermain.

Kegiatan bermain akan menyegarkan pikiran anak, menyenangkan dan
menggugah anak untuk lebih aktif. Tetapi alat permainan tidak
selalu positif. Sebagian alat permainan bisa berfungsi sebagai alat
terapi atas berbagai jenis gangguan psikis anak. Sebagian justru
bisa mengganggu.

Masalah ketiga ini agaknya perlu saya te kankan. Saya pernah merasa
sangat sedih ketika suatu hari seorang guru mengajarkan tepuk sambal
kepada anak.
Atas nama kreativitas dan fun, guru mengajarkannya. Padahal dari
segi isi kalimat maupun gerak, nyaris tak ada yang bisa dipetik.

Termasuk semangat tanpa ilmu adalah perkataan sebagian orangtua
tentang kebebasan. Mereka pernah membaca tulisan yang cuma sekilas
bahwa anak perlu diberi kebebasan agar anak cerdas, kreatif dan
penuh inisiatif.
Mereka akhirnya benar-benar belajar "menghargai" setiap keinginan
dan pendapat anak. Tetapi rupanya menghargai dianggap sama dengan
menuruti tanpa kendali.
Walhasil, inginnya memberi kebebasan pada anak, yang terjadi justru
memenjarakan anak dengan kebebasan. Bermula dari kebebasan tanpa
arah, anak kehilangan saat berharga untuk belajar bersosialisasi.
Anak tak punya kesempatan untuk belajar mengelola emosinya.

Agaknya, ada yang perlu kita renungkan tentang cara kita mendidik
anak.

----- Original Message -----
From: Petrus Purwana
Sent: Sunday, March 06, 2005 9:51 PM
Subject: [cfbe] Fwd: Memenjarakan Anak dengan Kebebasan [Email Checked -
APAC]





Mon Mar 7, 2005 3:51 am

pakguruonline
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #188 of 7453 |
Expand Messages Author Sort by Date

Memenjarakan Anak dengan Kebebasan Oleh Mohammad Fauzil Adhim Saya nyaris tak percaya ketika datang seorang anak yang wajahnya tampak linglung. Raut mukanya...
Zulfikri
pakguruonline
Offline Send Email
Mar 7, 2005
4:09 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help