Search the web
Sign In
New User? Sign Up
pakguruonline · Komunitas guru dan pemerhati pendidikan
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Show off your group to the world. Share a photo of your group with us.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.

Messages

  Messages Help
Advanced
Sekolah yang Efektif dan yang Berkembang (1)   Message List  
Reply Message #156 of 7920 |
 

Sekolah yang Efektif dan yang Berkembang 
( 1 )

Oleh :

Dr. Aria Jalil
(Konsultan QA pada Proyek Pertuasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jakarta) 

PENDAHULUAN 

Saya mulai uraian ini dengan mengetengahkan apa makna pendidikan atau "education". Asal-usul kata "education" adalah "educo", yang mengandung makna: "to lead out; to take out with one to one's province; to bring out a ship from the haibour; to put to sea; to assist at birth; to nourish and support" (Lewis & Short Latin Dictionary).  

Dikaitkan dengan peran seorang guru, maka guru  dilukiskan sebagai pemimpin, pembimbing, pendorong, pembantu, bidan, pemelihara, dan pendukung.  

Menjadi guru masa kini perlu memberi bentuk baru dalam hubungannya dengan anak didiknya, yaitu dan bentuk "power relationship" ke bentuk "shared relationship", yaitu dari posisi mengontrol ke posisi kerjasama. lsu yang kritikal dalam pendidikan bukan lagi bagaimana agar guru mampu mengontrol kelasnya, tetapi bagaimana agar anak didik kita terlibat langsung atau aktif dalam pern belajaran.  

Prinsip ini mengingatkan kita bahwa seorang anak didik hanya tertarik untuk ikut aktif dalam pembelajaran jika pengajaran itu relevan. Pengajaran hanya akan relevan jika dihubungkan dengan konteks sosial dimana anak didik itu berada. Siswa aktif dalam konteks sosial yang relevan merupakan empat kata kunci sebagai bekal anak didik dalam menghadapi "rapid pervasive change" atau perubahan yang merembes dan meluber amat cepat dan "increasing interconnectedness" atau meningkatnya saling keterkaitan antar lembaga, individu, masyarakat, dan bahkan antar negara. 

Inilah beberapa kiat bagaimana sebaiknya seorang guru bersikap dan bertindak, agar anak didiknya terlibat aktif secara konstruktif dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain bagaimana agar terjadi "effective instruction" atau pengajaran yang efektif (Townsed & Otero, 1999). 

1)           Pembelajaran teqadi pada puncaknya jika ekspektasi atau harapan dipusatkan pada keberhasilan.

2)           Rasa takut bukanlah pemicu belajar yang efektif

3)           Perubahan harus diyakini sebagai sesuatu yang selalu mungkin dicapai.

4)           Kontrol hanyalah suatu ilusi.

5)           Saling tergantung atau "interdependensi merupakan kunci menuju sukses. 

Di antara lima kiat di atas, saya akan memberikan penjelasan tambahan pada kiat pertama yaitu yang berkaitan dengan "ekspektasi", karena kata ekspektasi memuat konsep yang sangat penting di dalam pembelajaran. 

Colin Rogers (2002) mengungkapkan, selama sekitar 30 tahun, psikologi sosial pendidikan tak henti-hentinya  menempatkan "teacher expectation" (harapan guru) sebagai pemegang peran yang sentral. Para peneliti yang memusatkan permasalahan penelitian mereka pada isu "sekolah yang efektif dan berkembang", mengamati "ekspektasi" sebagai kunci pendidikan dan pengajaran yang efektif.  

Urnumnya mereka berkesimpulan bahwa ada hubungan yang kuat (powerful relationship) antara harapan yang tinggi dengan belajar yang efektif.  

Rogers mengungkapkan "harapan yang tinggi" antara lain ditandai oleh adanya ketentuan mengenai "grade" atau niiai minimal yang harus dicapai anak didik dan jumlah hari kehadiran murid di kelas. Guru dan sekolah yang menetapkan kriteria harapan yang tinggi dalam kriteria murid, biasanya akan membuat perencanaan, strategi, aturan, dan tindakan yang efektif untuk memenuhi harapan tersebut.  

De Bono, penulis yang membahas tentang berpikir lateral dan kreatif, merujuk Singapura sebagai salah satu negara yang berkembang sangat pesat, karena menurut pengamatannya Singapura mempunyai "the strong determination to succeed" atau dorongan yang sangat kuat untuk berhasil. Bukankah "keinginan yang kuat untuk bertiasil" sama sebangun dengan "high expectation"? 

GAMBARAN SEKOLAH PADA MASA MENDATANG 

Saya akan mengutip ungkapan Townsend (1998) ketika ia mebayangkan bagaimana sebaiknya sekolah di masa yang akan datang. Saya terjemahkan secara bebas:  

"Dalam pandangan saya pendidikan terbaik yang kita harapkan bagi anak-anak kita, bagi keluarga kita... adalah pendidikan lokal,  yaitu yang berakar dan masyarakat setempat, dan juga global, yang menyediakan akses terhadap-sumber ilmu pengetahuan diseluruh dunia). Pendidikan yang berpijak di masyarakat di mana saya hidup, tetapi juga mnghadirkan sebuah dunia yang menjanjikan kemungkinan yang hampir tanpa batas. Sifatnya edukatif dan juga sosial. Pendidikan itu memberikan saya keterampilan yang saya butuhkan sekarang dan memungkinkan saya untuk akses lagi, di belakang hari, jika ada keterampilan yang saya perlukan. Setiap saat, dimanapun saya berada di muka planet bumi ini, saya selalu dipertautkan dengan pendidikan. Anak-anak seusia saya, seluruh keluarga saya, tetangga saya, dan teman-temana saya dapat berpartisipasi dengan saya. Kami semua menginginkan agar sekolah yang terbaik ada di daerah kami. Pendek kata, lembaga yang baru ini menjadi sebuah fasilitas masyarakat dan dalam saat tertentu juga digunakan bagi pendidikan anak-anak. Lembaga pendidikan yang baru ini juga dimaksudkan untuk menggantikan sekolah yang tidak berfungsi sebagai fasilitas masyarakat, yang pada masa lalu hanya dipakai sekali-kali untuk pendidikan anak-anak". 

Menurut Townsend dan Otero (1999) pembaharuan pendidikan dan pembelajaran hendaknya didudukkan di atas empat pilar;

1)       pendidikan untuk kelangsungan hidup;

2)       pemahaman terhadap kedudukan atau tempat kita di dunia;

3)       pemahaman tentang hakekat masyarakat - bagaimana diri kita dan lainnya saling terkait; dan

4)      pemahaman terhadap tanggung jawab dan memahami bahwa setiap anggota masyarakat dunia membawa tanggung-jawab dan hak-haknya masing-masing. 

1)           Pendidikan untuk kelangsungan hidup ferdiri atas:

·   literasi dan numerasi

·   kemampuan teknologi

·   keterampilan komunikasi

·   kemampuan dalam menyusun dan mengembangkan rencana

·   ketrampilan berpikir kritis

·   penyesuaian diri atau adaptabiliti. 

2)           Pemahaman terhadap kedudukan atau tempat kita di dunia terdiri atas :

·   tukar-menukar gagasan

·   pengalaman kerja dan sikap wiraswasia

·   kesadaran dan appresiasi terhadap budaya

·   pengembangan sosial, emosional dan fisikal

·   kemampuan berkerasi

·   berwawasaan luas dan berpandangan terbuka

·   kesadaran bahwa adalah hak seseorang untuk menentukan

pilihannya 

3)           Pemahaman tentang hakekat masyarakat terdiri atas:

·   kemampuan untuk bekerjasama dalam suatu tim

·   kajian kewarganegaraan

·   pengabdian masyarakat

·   pendidikan masyarakat

·   kesadaran global

·   pengembangan aset anak didik (misalnya kemampuan,

kecerdasan, hobby yang telah dimiliki murid) 

4)           Pemahaman terhadap tanggungjawab diri terdiri atas:

·   komitmen terhadap pengembangan diri melalui proses belajar

seumur hidup

·   pengembangan sistim nilai diri

·   kemampuan kepemimpinan

·   komitmen terhadap pembangunan masyarakat dan

perkembangan global

·   komitmen terhadap kesehatan diri dan kesehatan masyarakat. 

Membaca sederetan daftar panjang di atas, sekali lagi Anda melihat betapa pentingnya pendidikan dengan basis yang luas. Secara singkat, jika dikaitkan dengan pembaharuan pembelajaran, maka proses pembelajaran masa kini dan yang akan datang harus diarahkan untuk:

·      mengembangkan "collaborafive learning" atau pembelajaran kolaborasi pada tingkat lokal, nasional dan global.

·       menerima dan menerapkan konsep belajar seumur hidup

·   mengembangkan "learning comunities" bukan "communities of learners" (masyarakat yang gemar belajar, bukan sekedar kumpulan para pembelajar)

·    menekankan keterampilan proses lebih tinggi daripada sekedar penguasaan ilmu yang spesifik; lebih menekankan ketrampilan pada jenjang yang lebih tinggi daripada sekedar penguasaan faktual. 

RISET TENTANG PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF 

Pembaharuan pembelajaran, selain dilandasi oleh prinsip yang filosofis, haruslah juga dilandasi oleh temuan-temuan empiris yaitu riset yang memusatkan kajiannya pada sekolah. Scheerens (1990 dalam Townsend & Otero) mengidentifikasi empat kategori besar riset persekolahan.

·         Yang mengkaji "outcomes" pendidikan

·         Yang mengkaji fungsi produksi pendidikan

·         Yang mengkaji sekolah yang efektiif

·         Yang mengkaji instruksional yang efektif 

Kategori pertama biasanya mengkaji hubungan antara latar belakang sosial-ekonomi murid dengan hasil beiajar. Salah satu yang terkenal adalah laporan yang disampaikan oleh Coleman dkk (1966), Mereka menyimpulkan pengaruh yang paling dominan terhadap prestasi akademik murid adalah fatar betakang sosial ekonomi murid. Riset kategori ini tidak banyak gunanya bagi pembaharuan pembelajaran. Bukankah di luar jangkauan guru untuk meningkatkan sosial-ekonomi anak didik?  

Kategori ke dua biasanya mengkaji hubungan antara input (sarana, perasarana, alat dan perlengkapan, dan lain-lain) dengan hasil beiajar. Inipun juga kurang berguna untuk pembaharuan pembelajaran. Kaji ulang terhadap laporan Riset Kategori 2 itu menyimpulkan bahwa tidak diketemukan hubungan yang konsisten antara input dan hasil belajar. Jika ada di antara kita yang berpikir bahwa prestasi murid akan naik secara signifikan jika gedung sekolah bertambah besar dan bagus, halaman bertambah luas, perpustakaannya lengkap, lemari bukunya bagus, dan bahkan gaji guru naik lima kali lipat, maka ada baiknya kita berkontemplasi atau merenung sejenak. Yang banyak gunanya bagi pembaharuan pembelajaran adalah Riset Kategori 3, dan lebih-lebih lagi

Kategori 4. Mengapa menurut Anda? Riset Kategori 3 dan 4 percaya bahwa hasil belajar tidak sekedar dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi anak/orangtua dan bahkan tidak pula ditentukan oleh banyaknya input yang diberikan atau dipunyai sekolah.  

Sebagai guru dan pendidik kita harus yakin bahwa peran guru dan pengajaran jauh lebih penting dan kuat pengaruhnya daripada latar belakang sosial-ekonomi anak didik dan input material dan fisik. Jika hal ini tidak diyakini, lalu apa gunanya guru datang ke sekolah dan berada di dalam kelas? Apa gunanya guru mengikuti SPG, PGSU; kemudian D2-PGSD, dan saat ini S2-PGSD?  

Riset Kategori 3 ditujukan untuk membuka kotak hitam atau "black box" - yaitu segala sesuatu yang terjadi di sekolah dan kelas?. Kita ingat bukan apa gunanya "black box" bagi sebuah pesawat terbang? Jika ada sebuah pesawat terbang yang jatuh, maka yang paling dicari-cari adalah "black

box''nya, karena disitulah terekam infromasi yang dapat dipakai untuk mengetahui mengapa pesawat itu jatuh. Begitulah pula halnya dengan pendidikan. Di kelaslah banyak terekam infomnasi mengenai mengapa mutu pendidikan dan pengajaran kita jatuh terjerembab. Kelas adalah ibarat sebuah "block box" bagi sebuah pesawat terbang.  

Riset Kategori 4 bahkan lebih dalam lagi memasuki kotak hitam kelas, karena memusatkan perhatiannya untuk menemukan cara-cara mengajar (instructional strategies) yang berpengaruh positif dan signrfikan terhiadap hasil belajar. Para guru akan banyak memetik manfaat dari Riset Kotegori 4 ini.  

Karena ruang yang terbatas saya hanya mengetengahkan kembali beberapa temuan empins Riset Kategori 3 dan 4. Saya harapkan, temuan ini menjadi masukan bagi guru untuk meperbaiki dan mencari bentuk baru dalam pembelajaran. 

Hasil kajian Scheerens (1990;1992) antara lain mengungkapkan bahwa: 1) budaya sekolah: 2) organisasi sekolah; dan 3) aplikasi teknologi kependidikan, efektif untuk meningkafkan hasil belajar murid. Budaya sekolah yang menjunjung tinggi disiplin waktu, menaruh respek terhadap murid yang berprestasi (bukan karena ia diantar-jemput dengan mobil yang mewah, atau karena murah hati dalam memberikan kado bagi guru), menjadikan sekolah dan kelasnya tertata rapi dan sekaligus menjadi sumber belajar, maka budaya sekolah seperti ini akan cenderung mendorong prestasi belajar murid. 

Scheerens juga mengungkapkan: 1) pengajaran yang terstruktur; 2) jumlah jam belajar efektif yang tinggi; 3) peluang berlajar yang besar; 4) dorongan untuk berhasil yang kuat; 5) harapan atau target yang tinggi; dan 6) keterlibatan orongtua secara aktit dalam program sekolah adalah merupakan karakteristik sekolah dan kelas yang efektif. 

Creemers (1992) mengingatkan semua pihak yang berkepentingan dengan sekolah agar mengerahkan segala sumber daya untuk mendukung terlaksananya proses pengajaran sebagai kunci untuk meningkatkan hasil belajar murid. 

Sumber daya dimaksud tidak hanya terbatas 3M (Man, Money, Materiel) sebagaimana selama ini kita ketahui. Pengertian sumber daya dalam cakupan yang lebih luas terdiri dari (Caldwell&Spink, 1998):

·         knowledge (pengetahuan -kurikulum, tujuan sekolah dan pengajaran)

·         technology (media, teknik, dan alat pembelajaran)

·         power ( kekuasaan, wewenang)

·         materiel (fasilitias, supplies, peralatan)

·         people (tenaga kependidikan, adminisirotif, dan staf pendukung lainnya)

·         time ( alokasi waktu pertahun, perminggu, perhari, perjam pelajaran)

·         finance (alokasi dana). 

(bersambung)



Thu Feb 17, 2005 4:58 am

pakguruonline
Offline Offline
Send Email Send Email

Message #156 of 7920 |
Expand Messages Author Sort by Date

Sekolah yang Efektif dan yang Berkembang ( 1 ) Oleh : Dr. Aria Jalil (Konsultan QA pada Proyek Pertuasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jakarta) PENDAHULUAN Saya...
Zulfikri
pakguruonline
Offline Send Email
Feb 17, 2005
5:03 am
Advanced

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help