--- Pada Jum, 4/12/09, WIYOSO HADI <wiyoso.hadi@...> menulis: Dari: WIYOSO HADI <wiyoso.hadi@...> Judul: [SUARA] RE: Fw: [plbpm] Re: (7) Indonesia : Proyek Nasionalisme YgBlmSelesai Kepada: "suaraSUARA"
Amiin
ya Allah karuniakanlah kepada kami hiasi lah pribadi kami, perkokohlah jiwa kami dengan tekad :
Semangat Taubat sempurna Nabi Aadam as, dan Semangat Penyucian Diri Nabi Idriis as, dan Semangat Ketekunan tiada menyerah Nabi Nuuh as, dan Semangat Pengabdian sepenuhnya di jalan-MU Nabi Huud as, dan Semangat Kesalehan Nabi Shaalih as, dan
Semangat Kelembutan Hati Nabi Ibraahiim as, dan Semangat Menolong tiada pamrih Nabi Luuth as, dan Semangat Pengorbanan tulus tiada takut Nabi Ismaa'iil as, dan Semangat Kehalusan Budi Nabi Is-haaq as, dan Semangat Kekeluargaan Nabi Ya'quub as, dan
Semangat Kesabaran dan pengendalian diri Nabi Yuusuf as, dan Semangat Berbicara hanya yang baik dan benar Nabi Syu'ayb as, dan Semangat Perjuangan dan Menuntut Ilmu Nabi Muusaa as, dan Semangat
Dapat Dipercaya Nabi Haaruun as, dan Semangat Kebersihan hati Nabi Khidhr as, dan Semangat Ikhlas diuji sebagaimana Nabi Ayyuub as, dan
Semangat Keberanian tiada takut mati Nabi Daawuud as, dan Semangat Cinta Kebajikan Nabi Sulaymaan as, dan Semangat Kerendahan hati Nabi 'Ilyaas as, dan Semangat Kesederhanaan Hidup Nabi Al-yasa'a as, dan Semangat Kehati-hatian Nabi Dzul-Kifli as,dan
Semangat Kejujuran Nabi Yuunus as, dan Semangat Ibadah dan Zikir Nabi Zakariyyaa as, dan Semangat Keteguhan Hati dan Jiwa Nabi Yahyaa as, dan Semangat Belas Kasih dan Keruhanian Nabi 'Iysaa as, dan Semangat Kepemimpinan Diri Nabi Muhammad saw,
Semoga itu semua menjadi tekad kita yg diawali dg kita sendiri melakukan dg sungguh2 dan dg prnuh kejujuran.
Wass
WAP
-----Original Message----- From: WIYOSO HADI <wiyoso.hadi@...> Date: Thu, 3 Dec 2009 17:19:38
Yth. Prof Widi dkk semua yang saya sayangi dan muliakan
berdasarkan pengalaman pribadi, hemat saya:
1. Untuk Meningkatkan Profesionalisme maka wajib adanya Penerapan Reward & Punishment yang BAKU/ terstandarisasi untuk semua departemen, semua ditjen dibawah departemen2 itu yang diterapkan secara Serentak, Adil, Konsekuen dan Berkelanjutan, jangan
yang satu departemen atau ditjen sudah menerapkan namun di departemen atau ditjen lainnya baru setengah-setengah atau malah belum sama sekali.
2. Untuk Meningkatan ketulusan dalam mengabdi kepada nusa, bangsa dan negara, ini masalah kesadaran tidak bisa di-upgrade hanya dengan penerapan sistem Reward & Punishment yang adil dan konsekuen.. perlu keteladanan nasional yang bisa menginspirasi, membuka hati atau minimal mengetuk hati saudara-saudari-nya senusa sebangsa untuk mengabdi lebih ikhlas kepada nusa, bangsa dan negara. Siapa dari Bapak/Ibu/Saudara/Saudari yang mau melopori :-)
3. Untuk Meningkatkan integritas moral, ini dimulai dengan "terus" meningkatkan kesalehan pribadi masing-masing, 'insya Allah walau tidak semua tapi pasti ada di sekitar kita yang akan terinspirasi atau tergerak untuk meningkatkan integritas moral-nya mengikuti atau bahkan ingin lebih saleh melampaui kesalehen kita.. Bagi yang muslim mari memperbaiki terus
kesalehan kita sesuai dengan apa-apa yang telah difirmankan melalui qur'an dan diteladankan oleh Rasulullah saw melalui hadits-hadits. Bagi yang non-muslim silahkan perbaiki terus kesalehan sesuai kitab atau nabi-nabi atau teladan-teladan suci masing-masing.
kelihatannya sederhana, tapi semua harus "Dimulai dari Keteladanan dan Penerapan Reward & Punishment yang adil dan konsekuen." Keteladanan itu sendiri hanya memiliki efek kuat kepada orang di sekitar kita pabila keteladanan itu dilakukan dengan hati tulus ikhlas bersih hanya harap ridho/ perkenaan Allah semata.
saya pribadi selalu berusaha bercermin kepada para nabi, semakin jauh kesalehan saya dari kesalehan para nabi berarti semakin payah jelek bobrok hina saya ini.. astaghfirullah.. hingga saya pernah menulis khususnya untuk mengingatkan diri saya agar bisa lebih saleh dan lebih bermoral lagi sbb:
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Para nabi: Idriis, Nuuh, Huud, Shaalih, Ibraahiim, Luuth, Ismaa'iil, Is-haaq, Ya'quub, Yuusuf, Syu'ayb, Muusaa, Haaruun, Daawuud, Sulaymaan, 'Ilyaas, Ilyasa'a, Yuunus, Zakariyyaa, Yahyaa, 'Iysaa putra Maryam, Muhammad (saw) adalah teladan-teladan utama terbaik reformator moral sepanjang zaman. Apa yang dapat dipetik? Jangan berkoar-koar gerakan reformasi moral sebelum Jiwa tobat, Hati suci, dan Pribadi bersih dari segala cacat moral. Apabila tidak, maka koar-koar itu tak lain sandiwara, kebohongan publik, sebatas alat menjaring suara belaka ..sekedar komoditas dagang politik. ( Copy paste dari Catatan Harian Membuka Hati )
mohon maaf bila tak berkenan, silakan tambahkan atau koreksi bila ada
yang kurang dan mari kita terus saling memperbaiki diri dengan memperbaiki dulu, menyucikan dulu Hati, Jiwa, Pikran, kata-kata, perilaku sehari2 dan keseluruhan Akhlak Moral kita sendiri terlebih dahulu.
" Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. ( QS. Al-Ankabuut, ayat ke-69 )
amiin
________________________________________ From: wapratik Sent: Thursday, December 03, 2009 2:36 PM
Yth mas Yos dkk
:
Yg mas Yos sampaikan sngt betul. Perlu di fikirkan tatacara implementasinya. Tmksh.
Wass.
WAP
-----Original Message----- From: WIYOSO HADI <wiyoso.hadi@...> Date: Wed, 2 Dec 2009 12:37:26 Subject: [SUARA] RE: Fw: [plbpm] Re: (7) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai
Salam,
Kalau menurut pemikiran sederhana saya Prof.
ketimpangan pusat daerah yang utama bukan pada masalah sistem pemerintahan ataupun pada bentuk semangat nasionalisme-nya tapi lebih pada masalah profesionalisme dan akhlak moral SDM-nya..
seperti sederhananya ( maaf ini sekedar contoh agar lebih mudah untuk menyimpelifikasikannya )
"..Sebuah tim sepakbola sebagus apa pun sistem serangan dan pertahananya bila pemain-pemainnya tdk profesional sulit menang bahkan
bisa kebobolan terus.. sebaliknya sebuah tim sepakbola yang pemain2nya profesional semua, walaupun datang dari latar belakang etnik, nasionalisme dan keyakinan/kepercayaan agama YANG BERBEDA-BEDA SEMUA, bisa tetap menang atau minimal UNGGUL dengan bentuk "sistem" serangan dan pertahananya APAPUN."
Maka hemat saya, aparat yang Kompeten baik di pusat maupun di daerah mesti punya "minimal" 3 hal: 1. Profesionalisme dalam Ilmu maupun Praktek ( Kinerja ) 2. Niat TULUS mengabdi pada negara, kalau perlu berkurban kenyamanan hidup sendiri ( harta benda, karier, jabatan, kekuasaan, keluarga, kelompok golongan-organisasinya sendiri, raga dan jiwa ) demi negara, nusa dan bangsa, sebagai wujud ibadah sosial 3. Intregritas Moral yang tinggi yang hanya bisa dicapai 100% oleh orang-orang yang benar-benar "Mukhlisin" yaitu orang-orang yang berperilaku saleh bukan untuk dipuji, pamrih dunia ataupun akhirat tapi benar-benar
hanya UNTUK DIA YANG MAHAPENGASIH semata, sebagai wujud CINTA SUCI IKHLAS MURNI kepada-Nya.
Kalau sudah demikian, pakai sistem pemerintahan dan semangat kebangsaan APAPUN sukses! 'insya Allah..
Itulah mengapa Pembangunan Bangsa Seutuhnya ataupun Reformasi NASIONAL pada umumnya tiada mungkin capai TUJUAN IDEAL-nya atau PUNCAKNYA pabila tidak disertai dengan Reformasi AKHLAK MORAL di segala bidang/sektor, dimulai dari diri-diri kita sendiri..
" Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya ( orang-orang seluruhnya di dunia ), kecuali hamba-hamba Engkau yang MUKHLIS di antara mereka". Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku ( yang saleh/salehah, bertakwa dan suci ) tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat." ( QS. Al-Hijr, ayat ke-39 sd. ke-42 )
amiin
________________________________________ From: SuaraHati On Behalf Of wapratik Sent: Monday, November 09, 2009 5:39 AM To: Suara; SuaraHati; InaNCalumni; Aimron;
Dmr; Harun; Laily; Rum Subject: [SuaraHati] Fw: [plbpm] Re: (7) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai
Dari mail list tetangga, perlu kita renungi utk kebaikan nkri :
Milisters ysh, Kemunculan negara-negara baru yang homogen di Eropa kerap dimotori oleh state-seeking nationalism .......suatu klaim dari perwakilan politik yg tdk mendapat akses kontrol atas suatu 'state' ...lalu mengklaim otonomi politik ...atau bahkan memisahkan diri ...atas dasar perbedaan identitas budaya... Menurut Tilly, sebelum tahun 1800, rata-rata corak nasionalisme adalah state-led, tetapi setelah tahun itu, state-seeking nationalism menjadi motor dari revolusi di
Eropa....
Belajar pada kenyataan sejarah itu, konon katanya seyogyanya format nasionalisme kita harus memberi tempat kepada kebaruan..... dlm hal ini mendemokratisasikan hubungan pusat dan daerah ...termasuk menurut Nezar Patria (jg pernah oleh Amien Rais) "keberanian menguji bentuk federalisme" ...tapi disini saya kira Nezar (jg Amien) telah bermain api tak mau menghitung bgmn resikonya kalau federalisasi di Indonesia nanti menjadi balkanisasi spt Soviet dan Yugoslavia ...lalu NKRI ini tercabik2 menjadi bbrp negara yg terpisah2 (pdhal memang ada analisis intelijen ttg skenario balkanisasi NKRI itu oleh AS)....
Kedua, dengan munculnya kekerasan komunal yang dipicu oleh konflik agama atau etnis di berbagai wilayah nusantara ...atau dlm derajat lebih kualitatif adalah mengerasnya ethno-nationalism ....maka nasionalisme Indonesia harus dikembalikan menjadi 'proyek bersama' yg urgent.... Pemberian otonomi yang luas atau bahkan
'self-government' kepada wilayah bergolak adalah cara untuk tetap membuat warga daerah tetap ambil bagian dari 'proyek bersama' Indonesia ...selain itu, arah pembangunan ekonomi yang berkeadilan menjadi prioritas ...krn federalisme atau otonomi yang miskin, sama saja dengan perubahan yang nihil....
Ketiga, nasionalisme baru Indonesia konon katanya harus pula mampu menghadapi kecenderungan global... krn itu "civic nationalism" atau nasionalisme kewargaan konon harus menjadi agenda dari 'proyek bersama'....
Nasionalisme ini disebut 'civic' karena dia adalah antitesa dari nasionalisme berbasiskan etnik ...nasionalisme yang 'civic' mampu menempat Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Pada hari Rabu tanggal 9 Desember 2009, bertepatan dengan peringatan Hari Internasional Anti Korupsi akan dilancarkan berbagai macam kegiatan besar-besaran di Jakarta dan di berbagai kota di seluruh Indonesia untuk memperingati hari internasional ini. Di negeri kita, peringatan ini mempunyai arti yang lebih penting dari pada yang sudah-sudah berhubung dengan heboh besar yang sudah mengguncang seluruh negeri berkaitan dengan masalah kriminalisasi KPK (Bibit-Chandra) dan perampokan Bank Century.
Karena itu, dalam peringatan 9 Desember yad banyak sekali golongan masyarakat yang akan ikut serta dalam berbagai kegiatan secara besar-besaran ini, sebagai manifestasi kemarahan, ketidakpuasan, dan perlawanan mereka terhadap masalah korupsi dan panelikungan atau penggembosan Pansus Hak Angket DPR oleh kartel politik koalisi yang dikuasai oleh Partai Demokrat dan Golkar, yang dibentuk tanggal 4 Desember ini. (Harap baca kumpulan berita di bawah ini, dan juga berita-berita lainnya dalam website http://umarsaid.free.fr/)
Mengingat sangat pentingnya dan gawatnya situasi sebagai akibat perkembangan persoalan-persoalan tersebut, maka websitehttp://umarsaid.free.fr/berusaha menyajikan bahan-bahan informasi terbaru setiap harinya mengenai hal-hal tersebut.
Di bawah berikut ini adalah sebagian dari contoh-contoh berita yang dapat disimak dalam rubrikSkandal raksasa Bank Century danHak Angket DPR soal Bank Century.
Suatu tulisan khusus tentang Hari Internasional Anti Korupsi di Indonesia juga akan disajikan sebelum tanggal 9 Desember 2009 untuk ikut menyambut gerakan besar-besaran yang akan datang ini.
A.Umar Said
* * *
Presiden Dinilai 'Mengancam' Gerakan Bongkar Skandal Century
Sabtu, 05 Desember 2009 TEMPO Interaktif, Jakarta - Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa akan ada gerakan sosial pada Hari Antikorupsi Rabu pekan depan dinilai sebagai ancaman secara halus. Dalam pernyataannya kemarin, Yudhoyono mengatakan gerakan sosial itu memiliki motivasi politik tertentu dan tak berhubungan dengan semangat pemberantasan korupsi. Masyarakat diancam akan ada keributan, ada infiltrasi dalam aksi, kata Arbi Sanit, pengamat politik dari Universitas Indonesia, saat dihubungi, Sabtu (5/12).
Arbi menduga pernyataan Yudhoyono adalah bagian dari strategi melumpuhkan gerakan yang menginginkan skandal Bank Century diusut tuntas. Cara pertama, kata dia, membuat kerja panitia angket Century tidak efektif. Dengan mendudukkan orang dari partai pendukung pemerintah sebagai Ketua Panitia Khusus Angket Century. Cara kedua, dia melanjutkan, mengadukan pihak-pihak yang membuka borok Century ke polisi. Adapun cara terakhir adalah mengancam secara halus. Menakut-takuti sekaligus meminta dikasihani.
Yudhoyono lewat Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto meminta pernyataannya tak diartikan macam-macam. (Motivasi) politik dalam arti memberantas korupsi, harus sinergis dengan pemerintah memanfaatkan momentum tanggal 9 Desember, ujarnya. Jangan dibaca lain." Pemerintah, kata Djoko, tak mengkhawatirkan akan ada gerakan massa yang besar pada Hari Antikorupsi. "Bukan kekhawatiran, membangkitkan kewaspadaan sama-sama," kata dia menandaskan.
* *
Barter Kasus Dinilai Hambat Pansus Century
Sabtu, 05 Desember 2009 TEMPO Interaktif, Jakarta - Barter kasus di kalangan politisi dinilai menghambat kinerja Panitia Khusus Angket Bank Century. Partai membentuk kartel yang membuat kesepakatan di belakang layar. "Deal di belakang layar tidak hanya menaikkan posisi tawar partai, tapi juga akses terhadap sumber ekonomi," ujar pengamat politik Lembaga Survei Indonesia Burhanudin Muhtadi via telepon, Sabtu (5/12).
Kartel ini, kata dia, justru menyandera partai karena masing-masing memegang kartu truf lawan-lawan politiknya. Akibatnya, partai memilih membarter kasus untuk saling menyelamatkan diri. Burhanudin berpendapat hal tersebut terlihat pada kasus Bulog Gate II dan Bank Bali.
"Strategi ini merugikan publik karena misteri Century tetap tak terungkap, dan menambah daftar panjang skandal keuangan yang melibatkan percaloan politik yang hanya berhenti di kambing hitam," tuturnya.
Ia menambahkan, ada dua lagi hambatan yang bisa menggembosi panitia khusus, yakni tirani koalisi dan tirani fraksi. Burhanudin menghitung, tirani koalisi secara matematika politik menguasai 75,6 persen kursi di parlemen.
Adapun tirani fraksi dinilainya telah terlihat sejak penentuan nama anggota panitia oleh partai. "Yang kritis tidak terpilih. Dominannya kepentingan politik fraksi membuat anggota panitia khusus tidak merdeka menyampaikan sikap dan hati nuraninya." Kemarin, legislator Partai Golkar Idrus Marham telah terpilih sebagai Ketua panitia khusus ini. Ia menang dalam pemilihan suara yang dilakukan setelah lobi antar perwakilan fraksi tak membuahkan hasil.
* * *
Pengamat: Panitia Angket Century Ibarat Bayi Lahir Lumpuh
Sabtu, 05 Desember 2009
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, menilai terpilihnya politikus Partai Golkar, Idrus Marham, sebagai Ketua Panitia Khusus Angket Bank Century dapat memandulkan kerja panitia angket.
Ini seperti bayi yang lahir dalam keadaan lumpuh. Kerja panitia angket tak akan efektif, kata Arbi saat dihubungi, Sabtu (5/12).
Arbi beralasan, Partai Golkar telah membuat kontrak politik sebagai partai pendukung pemerintah. Partai terikat kontrak. Meski berbeda pendapat tapi tak akan berbeda sikap, ujarnya.
Dia menduga, bila keputusan panitia angket kelak diambil lewat voting, suara Golkar tetap akan condong ke pemerintah. Harapan rakyat bahwa panitia angket bisa menyibak skandal Century jadi sirna.
Lewat voting di Dewan Perwakilan Rakyat semalam, Idrus Marham terpilih memimpin panitia khusus angket. Ia menang telak dengan mengantongi 19 suara dari 30 suara panitia angket.
* * *
Suara Pembaruan 4 Desember 2009
Penggembosan Kian Nyata
Pansus Hak Angket Century Dibentuk
[JAKARTA] Kecurigaan bakal adanya penggembosan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Skandal Bank Century, makin nyata. Dorongan agar Idrus Marham dari Fraksi Partai Golkar memimpin Pansus, disinyalir buah dari lobi Partai Demokrat agar penyelidikan Pansus tidak menyentuh pimpinan nasional.
Isyarat penggembosan lainnya tampak dari tersingkirnya empat anggota Tim Sembilan dari keanggotaan Pansus. Padahal empat legislator itu, yakni Mukhamad Misbachun (FPKS), Candra Tirtawijaya (FPAN), Lily Wahid (FPKB), dan Ahmad Kurdi Mukri (FPPP), merupakan inisiator. Di samping itu, dari 30 anggota Pansus, hanya 10 yang merupakan penandatangan awal usulan hak angket.
Pengamat politik dari Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti meyakini ada upaya penggembosan Pansus Century, dengan melihat pencalonan Idrus Marham oleh fraksi koalisi pendukung SBY-Boediono. Idrus bertarung dengan Gayus Lumbuun (FPDI-P) dan Mahfudz Shidiq (FPKS) untuk dapat memimpin Pansus.
"Kita bisa lihat track record Idrus Marham sejak pilpres lalu bahwa dia bukan pendukung setia Jusuf Kalla (JK), dan terlihat netral. Juga pada Munas Golkar, dia berada di kubu Akbar Tandjung yang berseberangan dengan JK. Padahal kasus ini (Bank Century) tidak lepas dari dorongan JK sendiri," ujar Ray, di Jakarta, Jumat (4/12).
Kemudian, kata Ray, dalam perjalanan hak angket ini, praktis peran Idrus tidak terlihat sama sekali. Padahal sebagian besar anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) adalah pendukung hak angket.
"Sangat layak dicurigai Idrus adalah titipan, buah kompromi politik antara Partai Demokrat dan Partai Golkar. Jelas tujuannya adalah penggembosan terhadap Pansus Bank Century," kata dia.
Kecurigaan yang sama dinyatakan ekonom senior Kwik Kian Gie dan Dradjad H Wibowo. Menurut Kwik, ada kesepakatan antara Partai Demokrat dan Partai Golkar mengusung Idrus Marham menjadi Ketua Pansus Century, agar SBY dan Boediono tak tersentuh. "Saya berani mengatakan, Pansus yang belum ditentukan anggotanya itu sudah tidak banyak manfaatnya," katanya.
Menurut Kwik, tanpa memanggil SBY dan Boediono, kerja Pansus tidak akan tuntas, dan skandal Bank Century tak mungkin diungkap tuntas.
"Kita harus perhatikan, mengapa rapat di Departemen Keuangan itu berlangsung dari pukul 00.15 hingga pukul 05.00 subuh. Waktu itu sama dengan pukul 12.15 di Washington, dan Presiden SBY sedang berada di sana," ujar Kwik menyoroti rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) di Depkeu yang berlangsung pada 21 November 2008.
Dalam rapat itulah KSSK memutuskan menyelamatkan Century, dan meminta Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) mengucurkan dana talangan (bailout) hingga mencapai Rp 6,7 triliun yang kini bermasalah.
Kwik khawatir dengan prospek kinerja Pansus ke depan. Untuk itu, menurutnya, fungsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi sangat penting. "Jika nanti Chandra dan Bibit kembali ke KPK, mereka berdua harus mampu bekerja dengan benar mengusut Century. Mereka berdua hendaknya tidak mengecewakan rakyat yang begitu gencar mendukung mereka," ujar mantan politisi PDI-P tersebut.
Dradjad juga merasakan ada upaya penggembosan Pansus melalui komposisi anggota dan penentuan pimpinan. Karena itu, dia berharap anggota Tim 9, baik yang menjadi anggota Pansus maupun yang di luar, tetap solid, serta terus berkoordinasi dengan tokoh-tokoh masya- rakat.
"Kontrol seperti ini sangat diperlukan agar Pansus tidak 'masuk angin'," ujar mantan anggota DPR dari Fraksi PAN ini.
Berpikir Positif
Menanggapi tuduhan tersebut, Idrus, yang juga Sekjen Partai Golkar meminta semua pihak berpikir positif, dan tidak memulai dengan rasa curiga. "Jangan memulai semua itu dengan saling curiga. Saya akan buktikan itu," kata dia.
Idrus membantah rumors adanya kesepakatan FPG dengan fraksi-fraksi koalisi pemerintah di DPR, terutama Fraksi Partai Demokrat (FPD), untuk tidak memanggil Boediono dalam pengusutan kasus ini oleh Pansus.
"Saya tidak tahu itu. Tak ada kesepakatan seperti itu. Dan saya kira biarkanlah pansus ini mengalir, mengungkap semua data-data yang ada. Kita harus mulai dari niat baik," katanya.
Sumber SP menyebutkan, pada Kamis (3/12) malam, fraksi-fraksi koalisi pemerintah yang dipimpin FPD bertemu untuk mendukung Idrus Marham menjadi ketua pansus, serta membahas kemungkinan tak memanggil Boediono.
Ketika ditanya apakah Boediono harus dipanggil, Idrus tidak mau menjawab secara tegas. "Saya kira yang penting kita mulai dari sistemnya dulu. Setelah ini akan mengalir dengan sendirinya siapa-siapa yang mesti dipanggil," jawabnya
Secara terpisah, Ketua DPP Partai Golkar, Priyo Budi Santoso menjamin, jika Idrus terpilih sebagai Ketua Pansus, semua target yang sudah dirumuskan inisiator hak angket, tetap akan diproses.
"Kita tidak punya kepentingan apapun lewat angket ini. Kami berikhtiar mencari solusi yang baik untuk membongkar kasus ini, agar tidak hanya menjadi rumors, tapi betul-betul jelas," kata Priyo yang juga Wakil Ketua DPR ini.
Sedangkan Ketua FPD Anas Urbaningrum membantah adanya kesepakatan fraksinya dengan koalisi pemerintah di DPR, untuk tak memanggil Boediono. "Itu tidak benar," tegasnya.
Soal ketua pansus, Anas menegaskan, bagi FPD bergantung pada siapa yang diajukan. "Demokrat tetap mengajukan calon, tapi kalau kurang dipercaya, lebih baik yang lain," katanya.
Sementara itu, salah satu anggota Tim 9 yang gagal menjadi anggota Pansus, Kurdi Mukri menilai, jika tak memanggil Boediono, kredibilitas Pansus akan hancur. "Boediono adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini," katanya.
Panggil Pejabat
Sementara itu, rapat paripurna DPR pada Jumat pagi mengesahkan Pansus Hak Angket Kasus Bank Century. Pansus itu beranggotakan 30 orang, mewakili sembilan fraksi yang ada di DPR (lihat tabel). Meskipun pada Jumat (4/12) DPR mengakhiri masa sidangnya, Pansus tetap akan bekerja di masa reses, mengingat masa kerja Pansus hanya 60 hari.
Terkait hal itu, anggota Pansus dari PDI-P, Maruarar Sirait mengungkapkan, sejumlah pejabat yang akan dimintai keterangan, di antaranya Wapres Boediono, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Hussein, dan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Firdaus Djaelani.
"Pansus juga harus memanggil mantan Kabareskrim Polri Irjen Susno Duaji. Dia salah satu saksi kunci dalam kasus ini," katanya seusai rapat paripurna pengesahan pembentukan Pansus.
Sekretaris Fraksi PPP M Romahumuzy, yang juga anggota Pansus mengatakan, ada tiga fokus penting yang mesti dilihat dalam penyelidikan nanti. Ketiganya yaitu proses penetapan Bank Century sebagai bank gagal, aliran dana talangan Rp 6,7 triliun, serta indikasi pelanggaran pidana dan penyalahgunaan wewenang. [M-16/M-5/J-9/H-15/J-9]
Masih dari buku alumnus ITB LiemSiokLan (Menembus Batas), Aneka Ilmu, 2009.
BUMR, Badan Usaha Milik Rakyat, wujud baru gabungan unsur (senyawaan) BUMN, Koperasi, serta manajemen-tekno-biz dan keuangan mutakhir, itulah landasan Indonesia Inc. Jadi mustahil tambal
sulam. Rakyat harus dilibatkan dalam swakelola infrastruktur publik, sebagai pengguna dan pemilik, menikmati hasil usaha. Ada simbiosa mutualistis dengan wiraswasta dalam linkage win-win dalam kesetaraan ekonomi dan politik. Merdeka dalam kesetaraan. Di negara asal liberalisme, perlindungan kepada si kecil sudah terjabar dan terlaksana, mengapa di Indonesia justru lebih ganas praktek ekonominya menjerat rakyat ? Karena pemimpin kurang fasih mengubah masalah menjadi peluang dan tantangan. Kini kita punya SEMBILAN PERSOALAN mendasar yang menjadi biang terpuruk tanpa mampu mengubahnya : (1) demokrasi tak sistemik, maka menjadi semrawut mabrut, Inefisiensi besar-besaran, tumpang tindih lembaga, siklus korupsi dan digoyang, tiada lagi efektivitas administrasi de-fakto. (2) tarik-menarik pusat-daerah dalam otonomi setengah mentah, daerah tak tahu dan tak mampu berbuat apa, sampai-sampai bikin klinik pun gelagapan cari investor, sementara keunggulan
sumberdaya lokalnya tak digarap. (3)BUMN menjadi sapi perahan elite, dikelola secara salah-urus, melupakan rakyat majikannya, BUMN membebani rakyat. Jasa bagi masyarakat yang diadakan BUMN, dari kebutuhan pokok sampai harga pulsa telepon, menggila. (4) partai politik mengisap sumberdaya rakyat, mirip tingkahlaku vampire. Fund raising demi Pemilu merampoki bidang impor, BBM, telkom sampai pasar modal dan banyak lagi, belum perampokan atas swasta yang kian mencekik. (5) nasib rakyat terlantar tak ditangani di segala bidang, Negara sawit terbesar kerap keplintir dalam hal harga minyak goreng yang dibeli rakyat. Kita sumber batubara, tapi harga listrik yang dibayar rakyat lebih mahal daripada di negara yang membelinya dari kita. (6) menguapnya berbagai peluang global, melimpahnya dana akibat ekonomi spekulatif pun tak sanggup digunakan. Dana bantuan manca yang sudah dipledge buat membantu rakyat yang tertimpa bencana pun tak termanfaatkan optimal. Korupsi
makin gila-gilaan merata, country risk bagi investasi sangat tinggi. (7)ketertinggalan berat ipteknya, peneliti bermental birokrat, antisipasi dan penerapan teknologi informasi mendasar saja acak-adut. (8) kerusakan moral hampir sempurna, pemimpin dan elite makin elegan (santun halus), efisien serta sistematis dalam MENGHANCURKAN Indonesia. Perpolitikan makin berciri politik mob. Ekonomi remuk redam, sektor riil punah, kluster-kluster industri omong kosong, timpang beratnya penguasaan sumberdaya dan tebaran pendapatan di masyarakat, pertanian dan kelautan diacak-acak. Katanya ekonomi syariah, padahal isinya bagi-bagi kapling diantara elite. Dalam sedasawarsa terakhir, moral pejabat makin habis! (9) ancaman disintegrasi, tantangan visi baru nasionalisme. Indonesia kini di ujung tanduk. Warisan semangat juang para founding fathers dicampakkan, PANCASILA fondasi berbangsa bernegara ditelikung dari keseharian. Konflik mempersoalkan cara dibesar-besarkan,
dipakai untuk mengalihkan perhatian dari tujuan sebenar, agar elite dapat makin banyak merampas dan merampok, mumpung berkuasa. Josep Stiglitz nobelis telah mengritik paradigma serta tata kelola ekonomi dan globalisasi telah menghasilkan kemiskinan merata dan absolut, gejolak sosial dimana-mana, erosi nilai budaya lokal. Padahal mestinya globalisasi bisa dimanfaatkan oleh si miskin juga. Buktinya di China (industri kimia dan mesin) dan juga India (informatika) itu. Nelayan bisa meningkat penghasilannya dengan future trading. Tengkulak dan makelar makin dibatasi karena informasi update terakses oleh rakyat. Bahkan nilai-nilai lokal yang semula tersembunyi dan dikangkangi elite penjajah bangsa sendiri, kini dapat langsung dipantau dan akses dari ujung dunia lain. Jadi di berbagai bidang, globalisasi dapat dimanfaatkan pula. Chossudovsky dan banyak lagi sudah membikin benderang betapa biang globalisasi kemiskinan adalah IMF dan Bank Dunia. Dan kini
tengah berlangsung revolusi cara berpikir di dunia. Maka betapa saru dan tak pantas kalau kita lantas hanya mencari kambing hitam pada badan-badan itu dan menggerutui masa lalu, sementara tak berbuat apapun selagi roda zaman makin cepat menggelinding. Indonesia makin dibikin menjadi Ngendonsia (jongkok), oleh kita sendiri. Oleh elite bangsa ini tampak makin digiring menjadi PARANOID dan MUNAFIK. Kalau kini kita terpuruk di sudut, itu adalah kesalahan kita sendiri. Jangan menyalahkan globalisasi pula. Mau disimak pakai kacamata Anthony Giddens (the Third way), atau Victoria Tauli-Corpuz atau lainnya siapapun, kita jangan salah duduk. Justru globalisasi dapat ditunggangi, digunakan, demi kemajuan bangsa ini. Ambruknya aneka pranata jangan dibingungi, adalah karena polah kita sendiri di masa orba lalu maupun di era reformasi acak-kiblat sekarang. Para pemimpin sendiri kini tak peduli bahwa dunia sudah berubah. Elite masih demen jongkok, sambil senang
melihat kekayaan sumberdaya dikeruk bukan untuk rakyat, bahkan terus mendorong warganya untuk menikmati rejeki remah yang sifatnya TIGA-D yakni dangerous-dirty-difficult, jauh dari SMART. Ekspor tenaga kerja kacangan sampai ekspor bahan baku adalah bukti mloho betapa pemerintah jauh dari sukses. Hancurnya sistem ekonomi konglomerat sampai perampokan BLBI, tidak diambil hikmahnya. Sistem ekonomi INDONESIA masih juga dicokoli paradigma mummi. Cara-cara monopoli pun masih diterus-teruskan, lupa bahwa sistem monopolistis sebagaimana dalam komunis sudah berkeping-keping. Sumberdaya keuangan diboroskan namun tak dilihat peluang-peluang barunya. Katanya menggalakkan UMKM, eh bank-bank makin culas justru menganggap kredit kendaraan dan kartu kredit dalam kategori UMKM; sungguh absurd yang disengaja pula. Masyarakat makin dijebloskan. Rusak-rusakan. Jangan heran kalau barang impor makin dirajakan di INDONESIA masa kini. Factory Outlets di Bandung saja
menjajakan barang-barang bikinan RRC atau Thailand, bukan lagi karya bangsa. Industri logam dan mesin-mesin kecil kita bergelimpangan. Nyaris segenap cabang industri dan sektor riil kita lumat! PHK dan pengangguran berkepanjangan, jalan terus. Inilah salah urus. Rakyat dengan ekonomi gurem dan kecilnya, yang menyelamatkan bangsa sehingga kita tetap bertahan diterjang aneka krisis, masih juga diabaikan sekarang. Boro-boro bikin dan laksanakan sistem welfare berkeadilan. Yang ada justru pemerintah bikin repot : pengusaha diperas, perizinan masih juga bermasalah, infrastruktur dan energi tidak puguh. Dan coba lihat, perangai para TIBUM, Satpol PP dll, sama sekali tampak tak terintegrasi dalam program pemajuan kesejahteraan rakyat. Maka jangan mudah menyalahkan kita didikte inilah itulah dari luar. Dikte mendikte itu lumrah, kita pun boleh kalau mampu. Masalahnya globalisasi (yang sejatinya sudah lama ada) apakah cerdas dijadikan peluang dan
tantangan kreatif-inovatif belum ? China dan India bisa, mengapa pemerintah kita gembos ? Begitupun soal hutang yang konon warisan orba, padahal hutang yang dibuat sekarangpun sudah mengerikan besar pemborosannya. VICTOR ATAU VICTIM ? Di tengah globalisasi, bangsa ini tak patut mengalami disorientasi, bingung dan ragu terus-terusan berlanjut. PERUBAHAN yang niscaya, walau kini ada saja yang menentang. Ini bukan mustahil, walau tidak gampang memperjuangkannya. Yang jelas, kaum elite dan partai yang di masa lalu sangat egois dan hanya berpikir kelompoknya, pasti akan makin sulit. Bila masyarakat makin jeli dan pandai menata masa depan secara obyektif rasional, akan terkawal dan terjaminlah KETERBUKAAN. Ini akan mencegah rayap-rayap untuk memperluas atau mempertahankan sumber FUND RAISING atau praktek KORUPTIF tabiat mereka. Transparansi dan openness adalah tanda kekuatan sejati. Tak mungkin mengharap kalangan BINNEN semua berkomitmen ke
kemajuan bangsa. Tetapi harus makin muncul para pemimpin baru, yang KUAT, yang sungguh mengerti dan mau melaksanakan tugas zaman. Pemimpin begitu pasti tidak boleh mudah bingung dan ragu, namun juga bukan yang sekadar berani. Harus diambil hikmah pula betapa dalam sejarah kita, banyak pemimpin termakan dan dinihilkan oleh sistem yang dibuat sendiri, bila hal itu mandeg. Pemimpin harus punya KONSEP dan LAKU (praxis) yang terus dinamis, membaru dan terbarukan, sungguh visioner dan memecahkan masalah bangsa. Pemimpin harus mampu MENGELOLA (bukan berkonsep belaka) kepentingan nasional dalam harmonisasi kepentingan global. Pemimpin kedepan tak boleh yang dihinggapi paranoia dendam masa lalu dan yang tak mampu membuat sejarah baru. Melanjutkan saja sungguh tidak cukup, kerdil, dan membius! Persoalan bangsa yang menumpuk, adalah peluang dan tantangan. Bukan dengan melanjutkan perangai koruptif sistemik, termasuk dalam ekonomi. Kunci baru PEOPLE CYBERNOMICS,
dalam rupa BUMR Badan Usaha Milik Rakyat, yang canggih dilandasi teknologi/informatika kiwari dan manajemen efektif, niscaya dianut. Bukan BUMN, koperasi atau swasta yang berparadigma lama sarat kepentingan parsial/sektarian, namun KOOPETITIF dan jejaringnya, sesuai amanah para founding fathers bangsa-negara INDONESIA. Ekonomi Jaringan Kerakyatan atau sibernomik rakyat itu adalah ANTITESIS paradigma ekonomi konglomerasi basis produksi masal (Taylorisme), sekaligus SINTESIS tiga faktor aktual kita : realitas bangsa bhinneka dan mayoritas pelaku usaha adalah UMKM, faktor pendorong global dan pasar, serta dorongan IPTEK termasuk teknologi informasi. Hanya dengan itu INDONESIA bukan menjadi korban (victim), namun justru calon pemenang (victor) dinamika proses global kini dan nanti. Sibernomik kerakyatan ini berjejaring pimpul-simpul inovasi, produksi, dan kemandirian, baik ONLINE maupun lewat aneka forum usaha, yang arasnya sampai mendunia. Sibernomik
kerakyatan ini juga bercorak koperasi masyarakat konsumen terbuka. Artinya siklus kinerja efisien lantaran pembeli/pengguna juga pemilik. Sibernomik kerakyatan juga didukung teknologi informasi terkini dalam segala geraknya. Internet, parabola, semua dipadukan, dan terakses oleh semua warga di pelosok sekalipun. Dalam pengelolaan pertanian dan kekayaan alam lainnya, sibernomik kerakyatan harus meninggalkan paradigma egois lama. Keterpaduan bidang dan zona/regional harus nyata, dalam plot peningkatan infrastruktur serasi, selain pengelolaan lingkungan yang lestari merupakan prioritas. Business linkage dengan enterpreneur swasta harus win-win, sinergis, dalam kemitraan strategis konkret. Realisasi kemandirian energi adalah prasyarat pertama, agar jejaring efektif. Strategi Samudera Biru niscaya dijalankan pemerintah, tiada pilihan lain. Solusi masalah harus diarahkan ke peluang pasar sehingga kompetitor menjadi tak relevan. Apalagi
pemerintah relatif mudah melakukannya dalam aras legitimasi kekuasaan. Bila hal ini tak disadari dan dilakukan, dia akan tergerus zaman. Landasan manajemen INDONESIA INC. berciri : aneka peluang usaha berbasis AGLOMERASI (bukan konglomerasi) kerakyatan berdukungan iptek efisien-efektif dalam bakutindak global. Juga bahwa perancangan pengembangan daerah harus berbasis keunggulannya (potensi sumberdaya, local genius dll) agar masyarakat makin terlibat dan menikmati peningkatan kesejahteraan nyata. Ketiga, pusat harus secara bijak-adil menciptakan kompetisi sehat antar kooperasi (KOOPETITIF) dengan simpul-simpul percontohan yang konkret dan terKOORDINASI (informasi internet) bukan sekadar himbauan atau selebaran. Platformnya SIBERNOMIK KERAKYATAN. BUMR terorganisasi secara cerdas. Terkait pula disini, kesadaran dan kekuatan baru dalam kerangka pergeseran pendekatan (analisis menjadi sintesis), masyarakat (mekanistik menjadi organik), cara pandang
(reduksionis menjadi holistik). Menjadi korban atau pemenang, dalam kaitan globalisasi, adalah tergantung atas kesadaran akan aset-aset yang dimiliki (ingat Hernando deSoto). Aset harus diubah menjadi modal produktif penggerak ekonomi, bertujuan akhir kesejahteraan rakyat. Belajarlah dari China : penduduk bermilyar berhasil dilihat dan ditangkap sebagai modal sekaligus pasar. Zaman mesin berevolusi ke zaman sistem, namun bukan taken for granted, sebaliknya : terus diperjuangkan tanpa jeda! Masa depan itu peluang dan tantangan. Semua keberhasilan adalah dengan laku (praxis), bukan hanya konsep (wacana, aksara/ayat). Kegigihan hidup adalah pertanda kematangan iman. Pengabdian kepada Allah SWT dan sesama manusia, menembus batas, adalah metrum spiritualitas, dan religiusitas sejati. Dengan penggalakan KOPERASI KOOPETITIF KORPORASI, ditopang jejaring sosial dan IPTEK, menjadikan pemberdayaan INDONESIA INCORPORATED bukan lagi angan-angan siang
bolong. Jangan lanjutkan keadaan dogol-dagel-degil mummi betapapun santun tampaknya, bila tidak mensejahterakan rakyat. Tinggalkan paradigma dan praxis lama, sambut kehadiran yang baru. Hanya dengan begitu INDONESIA menjadi pemenang, victor, bukan victim alias korban sia-sia... BHINNEKA TUNGGAL IKA, disitu letak kekuatan dan sinergi keberdayaan. * * *
Garis bawah : KOPERASI DENGAN IPTEK, tantangan menzaman.
----------------------------------------------------------------------------------------- Sumber BEYOND BOUNDARIES, wawancara - Liem Siok Lan, Aneka Ilmu, Semarang 2009. (bab 15) Kontak : 024-6582901, 6580335. Liem Siok Lan adalah alumnus ITB (dan manca).
KERANGKA HOLISTIK KOPERASI KOOPETITIF KOMUNIKASI-SOSIAL IDAMAN (1) ASAH-ASIH-ASUH MENUJU INDONESIA INC.
(lagi source gagas BUKU adik kita ALUMNUS ITB madam LIEM SIOK LAN arek malang sejati, 2009) BEYOND BOUNDARIES, Aneka Ilmu, Semarang : 024-6580335, 024-6582901
Cepetlah pesen, bagus dibaca, jangan sampai kehabisan. Salam.
Dear all, manakala orang bermental JONGOS, makin tinggi derajat posisinya, GM atau Presdir, sering makin gaptek dia. Mengapa, lantaran boss mesti feodal dilayani ajudan atau unthul-unthul iain, apa-apa disiapkan. Malas nge-draft atau nge-browse sendiri, apalagi soal teh kopi. Rasanya kita pernah mengalaminya di satu kala. Heheho. Padahal bagaimana bikin usaha bengkel bila ukuran mur baut saja pekok ya. Mana bisa urus agro, kalau kaki pun enggan terendam lumpur sawah , mengaduk tahi sapi
kambing, atau malah kena lintah atau scorpio sesekali ? Itulah situasi negeri Indonesia nan kini terpuruk...Hahihu. Semelekete! Orang kini banyak disihir dua kutub buku : Francis Fukuyama & Samuel Huntington. Kontroversi atau tidak, tergantung kentosnya tentu. Globalisasi punya jamaksegi, dari homogenisasi sampai hegemonisasi. Core dan perifer dipelototi. Malah kinipun sudah bernuansa PARADOKS, antara globalisasi dan pascamodern yang dironai desentralisasi dan kebhinnekaan. Makin mengglobal, kian melokal. Indonesia ? Dengan PANCASILA, Indonesia punya kedewasaan berbangsa yang tinggi. Maka dalam soal Aceh saja, dari kerangka globalisasi bersandar ekonomi, titik temu bisa diraih. Lalu apa dengan keterpurukan berat di era/rezim kini, apa tesis Huntington berpeluang ? Sebentar, kalau Indonesia pecah, COSTnya sangat mengerikan besar. Bosnia yang kecil saja bikin geger, tak kunjung kelar urusan, apalagi kalau terjadi di Nusantara. Dan rasanya,
SUMPAH PEMUDA 1928 landasan kokoh. Tetapi perlu lebih : asalkan pemerintah pusat sanggup berubah, MENSEJAHTERAKAN RAKYAT serta mengarahkan agar otonomi tetap konvergen-konsisten ke bingkai segar SMART INDONESIA INCORPORATED! Artinya, Fukuyama lebih afdol, asal politik ekonominya dirumus berbasis KERAKYATAN, akumulasi modal pun didistribusikan ke rakyat. Globalisasi itu gejala TRI-DINAMIKA : globalisasi modal dan integrasi ekonomi, kemajuan teknologi (transportasi-informasi), serta konvergensi kepentingan mengelompok/korporasi multinasional pemadu kekuatan sosial aras global. Lalu INDONESIA ? Akan lunturkah nation-state ? Nanti dulu! Memang globalisasi menguji lagi konsep dan kekukuhan bentuk negara-bangsa di dunia. Menurut founding father kita Bung Karno - TRISAKTI : merdeka politis, mandiri ekonomi, budaya berkepribadian. Dan dalam wacana ekonomis, segala bangsa terdorong menata NATION-STATE CORP. Pemerintah niscaya berbenah
merumuskan peranan. Apa efisien ? Apa kebijakannya justru membebani keseluruhan sistem lantaran tak sanggup menjaga kesetimbangan ? Kekuatan market vs kekuatan pemerintah bukan impian siang bolong! Pemerintah yang KORUP dan tak efisien akan dihadang langsung oleh prasyarat efisiensi, cost reduction, dan layanan prima di dunia kini dan nanti. BIROKRASI biaya tinggi menginjak rakyat. Dan rakyat tidak bodo! Rakyat berwenang dan berhak memilih. Bila pemerintah tetap lamban menyikapi, negara gagal bukanlah dongeng akhir pekan. Pemerintah tak punya pilihan, pemerintah harus manut zaman. Take it atau matilah kau (the death of government). Birokrat korup menyengsarakan rakyat, dan matinya pemerintah tinggal soal waktu. Pemerintah tetap bergaya feodal, atau mau menjadi manajemen pelayanan publik. Itulah persoalannya. Dalam lingkar ekonomi, mestinya pemerintahlah penyetimbang. Pemerintah adalah pembela dan pelindung LAPISAN masyarakat TERBAWAH, menyediakan
aneka insentif program kesejahteraan. Caranya : menyiapkan dan mendukung melalui KORPORASI KERAKYATAN terorganisir dengan sistem berbasis MULTIMEDIA-INFORMATIKA agar rakyat merasakan manfaat adanya, tanpa melalui tangan dan agen elite atau partai belaka. Maka cara dan hampiran sumbangan pajak dari yang kuat saja (seperti paradigma Sri kini) adalah sungguh bayek alias cingkrang. Bukan itu welfare program yang benar. Dalam globalisasi (Ali Mazrui) ada 4 engine : agama, teknologi, ekonomi dan imperium (politik). Yang menonjol ialah globalisasi oleh TEKNOLOGI, yang mendorong penetrasi modal ke tempat yang paling basah. Indonesia mau apa ? Indonesia mesti sadar laku/praxis (bukan konsep semata) bahwa diatas peta GEOGRAFISnya niscaya ditumpangsuhkan peta EKONOMI. Ekonomi sumberdaya mesti makin dijelujuri dan diarahkan ke ekonomi berkekuatan IPTEK. Kalau berkutat hanya di resource economy saja, sumberdaya mineral misalnya, apa lacur ? Fakta, 80% volum
perdagangan antar negara (ekspor impor)nya oleh multinasional. Parah lagi kalau itu yang dijadikan sandaran hitungan indikator-indikator ekonomi makro karuhun semisal GNP, GDP dll yang absurd itu. Pemerintah kurang pintar, pasti rakyat yang sengsara. Padahal mestinya pemerintah justru harus serius di lapangan membenahi sektor informal serta kecil yang melibatkan 99.9% warga negara! Pemerintah yang cerdas, melihat masalah sebagai tantangan dan peluang. Kalau terus menggenggam paradigma lama, mana mungkin mencipta pasar baru ala Blue Ocean Strategy ? Padahal bagi pemerintah, pasarnya jelas : RAKYAT. Ini yang jeli ditangkap China, juga India menyusul. Meladeni kebutuhan pasar rakyat, dengan mengacu MDG (goal millennium), tidak usah mbulet! Pemerintah nyaris tak punya kompetitor, tak seperti korporasi swasta. Jadi mestinya enteng, asalkan pemerintahnya tidak boten-boten alias bloon. Ada lagi sarana lain agar Indonesia dapat menangkap peluang globalisasi
: network LSM, aneka prakarsa dan gerakan, oleh rakyatnya. Masalahnya : strategi baru ini harus dimulai dari PEMIMPIN PUNCAKnya. Kalau mampu bagus, kalau bingung dan ragu ya jongkok melulu. Perlu REVOLUSI cara berpikir. Bila elite enggan beringsut dari pola lama, jangan heran bila yang ada sekadar residu masa lalu bagi generasi penerus. Mental JONGOS sungguh lebih jahat daripada dajjal laiknya. Pemimpin sejati masa kini niscaya paham paradoks globalisasi, sekaligus mewujudkan upaya dan gerakan berbasis model-model segar IDEOLOGI KERAKYATAN, dengan tetap waskita dinamika lokal-globalnya. Bila pemimpinnya tidak becus, bukan mustahil pemerintah menjadi beban, bahkan menyengsarakan rakyatnya. KOPERASI KOOPETITIF KORPORASI Jangan kagetan dan gumunan. Bukan mustahil akan lahir nation-state baru lain, berbasis wire-society. Persaingan pelayanan masyarakat kian canggih, kok pemda-pemda masih pekok jua ? Negara incorporated adalah keniscayaan. Ingat,
semacam koperasi di Spanyol (Mondragon/MCC) juga India dll skala besar milik rakyat, manajemen nearly-zero-cost via internet. Aliran-aliran baru demikian kini makin trendy. Tak relevan lagi isyu-isyu kampungan semisal etnis agama SARA dan gender, yang selama ini melekati masyarakat kuno-sesat-terpuruk ! Mengapa ? Program dan komputer, iptek, tidak kenal diskriminasi goblog begitu! INDONESIA jangan lala-lama lah, puas jongkok bodoh diuntal zaman. Pemimpin dan penggerak juga faktornya. Maka jangan salah lagi. Dalam sistem pasar ada pula KOPERASI KORPORASI. Paradigma baru EKONOMI JARINGAN meniscayakan infrastruktur politik telkom-multimedia, wajib dimiliki setiap individu penduduk tanpa pandang buku. Ini dapat dibayangkan seperti jiwa-komunitas ala Atlantis dulu juga. Indonesia konon letak Atlantis Lemuria, maka sungguh sayang kalau manusianya kini malah tambah loyo bodo. Infrastruktur telekomunikasi, komputer internet parabola,
KOMUNIKASI SOSIAL, harus digulati dan wujudkan, disediakan bagi RAKYAT semurah mungkin. Jangan malah PULSA saja begitu mahal dibandingkan negara lain, karena patgulipat oligopolis telkom yang miskin moral. Knowledge-based BUSINESS berlipat nilai tambahlah KUNCI. Dijaga jangan sampai ada monopoli/oligopoli koperasi berteknologi begini : ciptakan kompetisi. Artinya KOOPERATIF sekaligus KOMPETITIF, hasilnya KOOPETITIF. Repotnya, di INDONESIA justru keruk-kerukan untung pemegang saham, jelas itu melawan ARUS ZAMAN. Bila diLANJUTKAN, pasti MASUK JURANG bangsa ini! Bentuk KOOPETITIF ini pula yang dipikirkan para PENDIRI REPUBLIK dulu, Bung Karno, Bung Hatta dll. Dulu pemahamannya dalam bentuk BUMN dan KOPERASI. Apa ini masih cocok ? Masih cocok jiwa KOOPETITIFnya, tetapi lebih gambalng berupa BUMR : BADAN USAHA MILIK RAKYAT. Jadi bukan BUMN yang selama ini tak lebih sekadar OBYEK SAPI PERAHAN rezim berkuasa sampai partai politik! BUMN (dan Koperasi) masa
kini yang berparadigma degil, hanya sebagai ajang kekuasaan dan sawah segelintir, adalah PENGKHIANATAN kemerdekaan dan jasa pahlawan, laiknya! BISNIS KERAKYATAN berbasis DIGITAL inilah bentuk demokrasi yang terjabar dalam SILA 4 dan 5 PANCASILA, bila dipahami secara genuine. Dengan MANAJEMEN dan TEKNOLOGI, rakyat siap bertarung global, menjadi PLATFORM masyarakat digital masa depan. Itulah hakikat PEOPLE CYBERNOMICS. Itu yang mestinya dikembangkan di otak para insinyur yang sadar panggilan bangsanya. Itu yang harusnya disiapkan dan disediakan oleh pemerintah yang BUKAN mental JONGOS rakus kuasa ibarat TONGTONGSOT Petruk Dadi Ratu, yang hanya menyusahkan rakyat. Hanya dengan kerangka SIBERNOMIK RAKYAT begitulah ada kesetaraan POLITIK, EKONOMI, dan BUDAYA. Kearifan dan jenius lokal akan bermekaran tiada tara. Inilah makna PEMBERDAYAAN, bukan rebutan tulang dan daging di elite. BUMN DAN SWASTA BESAR ? Dalam PANCASILA ada KEADILAN SOSIAL BAGI
SELURUH RAKYAT INDONESIA. Camkan itu, jangan cengengesan! Baca buku-buku BUNG KARNO dan BUNG HATTA, sebelum berani mengurus rakyat atau koperasi. Dengan jiwa itu pula dulu didirikan lebih 150 BUMN yang ditugasi MENSEJAHTERAKAN RAKYAT. Sekarang ? Direktur-direktur utama BUMN (banyak yang insinyur) pada pekok! Tak tahu tugas atau tak mampu mengejawantahkan tugas dari pendiri republik! Bersama jutaan KOPERASI (tepatnya KOOPETISI), mereka BUMN itu baru berhak menjadi SOKO GURU EKONOMI INDONESIA. Bisnis harus dengan MORAL. Bukan berarti SWASTA tak ada peran atau digusur! Para pengusaha besar pun dapat berguna : para enterpreneur kreatif inovatif kompetitif, punya hak hidup. Caranya ? SINERGI dan WIN-WIN. Perusahaan RAKSASA di Indonesia ada juga, tetapi apakah pemiliknya mengerti TUGAS ZAMANnya ? BerSINERGI dalam business linkage konstruktif-produktif, juga dengan MEKANISME PENJAMINAN oleh pengusaha berpengalaman agar layak memperoleh fasilitas permodalan,
serta aman. Begitulah SEGENAP komponen masyarakat harmonis tertata dalam bingkai KORPORASI INDONESIA BARU. Akan terjelanglah INDONESIA RAYA, bukan Ngendonsia yang banyak hak-haknya saja diaku oleh tetangga! STRATEGI SAMUDERA BIRU niscaya dikembangkan dalam the New Indonesia Incorporated, yakni BUMR Badan Usaha Milik Rakyat. Jadi bukan BUMN sapi perahan elite atau KOPERASI manasuka atau SWASTA obyek oknum birokrat bejat. Jelas pula, bukan EKONOMI ala NEOLIBS yang supra-rakus melampaui DASAMUKA! ...
----- Forwarded Message ---- Subject: Fwd: KOPERASI-KOOPETITIF INDONESIA : LIEM SIOK LAN (3)
--- In ITB_:
KERANGKA HOLISTIK KOPERASI KOOPETITIF KOMUNIKASI-SOSIAL IDAMAN (1) ASAH-ASIH-ASUH MENUJU INDONESIA INC.
(lagi source gagas BUKU ALUMNUS ITB madam LIEM SIOK LAN arek malang sejati, 2009) BEYOND BOUNDARIES, Aneka Ilmu, Semarang : 024-6580335, 024-6582901
Cepetlah pesen, bagus dibaca, jangan sampai kehabisan. Salam.
Dear all, manakala orang bermental JONGOS, makin tinggi derajat posisinya, GM atau Presdir, sering makin gaptek dia. Mengapa, lantaran boss mesti feodal dilayani ajudan atau unthul-unthul iain, apa-apa disiapkan. Malas nge-draft atau nge-browse sendiri, apalagi soal teh kopi. Rasanya kita pernah mengalaminya di satu kala. Heheho. Padahal bagaimana bikin usaha bengkel bila ukuran mur baut saja pekok ya. Mana bisa urus agro, kalau kaki pun enggan terendam lumpur sawah , mengaduk tahi sapi kambing, atau malah kena lintah atau scorpio sesekali ? Itulah situasi negeri Indonesia nan kini
terpuruk...Hahihu. Semelekete! Orang kini banyak disihir dua kutub buku : Francis Fukuyama & Samuel Huntington. Kontroversi atau tidak, tergantung kentosnya tentu. Globalisasi punya jamaksegi, dari homogenisasi sampai hegemonisasi. Core dan perifer dipelototi. Malah kinipun sudah bernuansa PARADOKS, antara globalisasi dan pascamodern yang dironai desentralisasi dan kebhinnekaan. Makin mengglobal, kian melokal. Indonesia ? Dengan PANCASILA, Indonesia punya kedewasaan berbangsa yang tinggi. Maka dalam soal Aceh saja, dari kerangka globalisasi bersandar ekonomi, titik temu bisa diraih. Lalu apa dengan keterpurukan berat di era/rezim kini, apa tesis Huntington berpeluang ? Sebentar, kalau Indonesia pecah, COSTnya sangat mengerikan besar. Bosnia yang kecil saja bikin geger, tak kunjung kelar urusan, apalagi kalau terjadi di Nusantara. Dan rasanya, SUMPAH PEMUDA 1928 landasan kokoh. Tetapi perlu lebih : asalkan pemerintah pusat sanggup
berubah, MENSEJAHTERAKAN RAKYAT serta mengarahkan agar otonomi tetap konvergen-konsisten ke bingkai segar SMART INDONESIA INCORPORATED! Artinya, Fukuyama lebih afdol, asal politik ekonominya dirumus berbasis KERAKYATAN, akumulasi modal pun didistribusikan ke rakyat. Globalisasi itu gejala TRI-DINAMIKA : globalisasi modal dan integrasi ekonomi, kemajuan teknologi (transportasi-informasi), serta konvergensi kepentingan mengelompok/korporasi multinasional pemadu kekuatan sosial aras global. Lalu INDONESIA ? Akan lunturkah nation-state ? Nanti dulu! Memang globalisasi menguji lagi konsep dan kekukuhan bentuk negara-bangsa di dunia. Menurut founding father kita Bung Karno - TRISAKTI : merdeka politis, mandiri ekonomi, budaya berkepribadian. Dan dalam wacana ekonomis, segala bangsa terdorong menata NATION-STATE CORP. Pemerintah niscaya berbenah merumuskan peranan. Apa efisien ? Apa kebijakannya justru membebani keseluruhan sistem lantaran
tak sanggup menjaga kesetimbangan ? Kekuatan market vs kekuatan pemerintah bukan impian siang bolong! Pemerintah yang KORUP dan tak efisien akan dihadang langsung oleh prasyarat efisiensi, cost reduction, dan layanan prima di dunia kini dan nanti. BIROKRASI biaya tinggi menginjak rakyat. Dan rakyat tidak bodo! Rakyat berwenang dan berhak memilih. Bila pemerintah tetap lamban menyikapi, negara gagal bukanlah dongeng akhir pekan. Pemerintah tak punya pilihan, pemerintah harus manut zaman. Take it atau matilah kau (the death of government). Birokrat korup menyengsarakan rakyat, dan matinya pemerintah tinggal soal waktu. Pemerintah tetap bergaya feodal, atau mau menjadi manajemen pelayanan publik. Itulah persoalannya. Dalam lingkar ekonomi, mestinya pemerintahlah penyetimbang. Pemerintah adalah pembela dan pelindung LAPISAN masyarakat TERBAWAH, menyediakan aneka insentif program kesejahteraan. Caranya : menyiapkan dan mendukung melalui KORPORASI
KERAKYATAN terorganisir dengan sistem berbasis MULTIMEDIA-INFORMATIKA agar rakyat merasakan manfaat adanya, tanpa melalui tangan dan agen elite atau partai belaka. Maka cara dan hampiran sumbangan pajak dari yang kuat saja (seperti paradigma Sri kini) adalah sungguh bayek alias cingkrang. Bukan itu welfare program yang benar. Dalam globalisasi (Ali Mazrui) ada 4 engine : agama, teknologi, ekonomi dan imperium (politik). Yang menonjol ialah globalisasi oleh TEKNOLOGI, yang mendorong penetrasi modal ke tempat yang paling basah. Indonesia mau apa ? Indonesia mesti sadar laku/praxis (bukan konsep semata) bahwa diatas peta GEOGRAFISnya niscaya ditumpangsuhkan peta EKONOMI. Ekonomi sumberdaya mesti makin dijelujuri dan diarahkan ke ekonomi berkekuatan IPTEK. Kalau berkutat hanya di resource economy saja, sumberdaya mineral misalnya, apa lacur ? Fakta, 80% volum perdagangan antar negara (ekspor impor)nya oleh multinasional. Parah lagi kalau itu yang
dijadikan sandaran hitungan indikator-indikator ekonomi makro karuhun semisal GNP, GDP dll yang absurd itu. Pemerintah kurang pintar, pasti rakyat yang sengsara. Padahal mestinya pemerintah justru harus serius di lapangan membenahi sektor informal serta kecil yang melibatkan 99.9% warga negara! Pemerintah yang cerdas, melihat masalah sebagai tantangan dan peluang. Kalau terus menggenggam paradigma lama, mana mungkin mencipta pasar baru ala Blue Ocean Strategy ? Padahal bagi pemerintah, pasarnya jelas : RAKYAT. Ini yang jeli ditangkap China, juga India menyusul. Meladeni kebutuhan pasar rakyat, dengan mengacu MDG (goal millennium), tidak usah mbulet! Pemerintah nyaris tak punya kompetitor, tak seperti korporasi swasta. Jadi mestinya enteng, asalkan pemerintahnya tidak boten-boten alias bloon. Ada lagi sarana lain agar Indonesia dapat menangkap peluang globalisasi : network LSM, aneka prakarsa dan gerakan, oleh rakyatnya. Masalahnya : strategi baru ini
harus dimulai dari PEMIMPIN PUNCAKnya. Kalau mampu bagus, kalau bingung dan ragu ya jongkok melulu. Perlu REVOLUSI cara berpikir. Bila elite enggan beringsut dari pola lama, jangan heran bila yang ada sekadar residu masa lalu bagi generasi penerus. Mental JONGOS sungguh lebih jahat daripada dajjal laiknya. Pemimpin sejati masa kini niscaya paham paradoks globalisasi, sekaligus mewujudkan upaya dan gerakan berbasis model-model segar IDEOLOGI KERAKYATAN, dengan tetap waskita dinamika lokal-globalnya. Bila pemimpinnya tidak becus, bukan mustahil pemerintah menjadi beban, bahkan menyengsarakan rakyatnya. KOPERASI KOOPETITIF KORPORASI Jangan kagetan dan gumunan. Bukan mustahil akan lahir nation-state baru lain, berbasis wire-society. Persaingan pelayanan masyarakat kian canggih, kok pemda-pemda masih pekok jua ? Negara incorporated adalah keniscayaan. Ingat, semacam koperasi di Spanyol (Mondragon/MCC) juga India dll skala besar milik rakyat, manajemen
nearly-zero-cost via internet. Aliran-aliran baru demikian kini makin trendy. Tak relevan lagi isyu-isyu kampungan semisal etnis agama SARA dan gender, yang selama ini melekati masyarakat kuno-sesat-terpuruk ! Mengapa ? Program dan komputer, iptek, tidak kenal diskriminasi goblog begitu! INDONESIA jangan lala-lama lah, puas jongkok bodoh diuntal zaman. Pemimpin dan penggerak juga faktornya. Maka jangan salah lagi. Dalam sistem pasar ada pula KOPERASI KORPORASI. Paradigma baru EKONOMI JARINGAN meniscayakan infrastruktur politik telkom-multimedia, wajib dimiliki setiap individu penduduk tanpa pandang buku. Ini dapat dibayangkan seperti jiwa-komunitas ala Atlantis dulu juga. Indonesia konon letak Atlantis Lemuria, maka sungguh sayang kalau manusianya kini malah tambah loyo bodo. Infrastruktur telekomunikasi, komputer internet parabola, KOMUNIKASI SOSIAL, harus digulati dan wujudkan, disediakan bagi RAKYAT semurah mungkin. Jangan malah
PULSA saja begitu mahal dibandingkan negara lain, karena patgulipat oligopolis telkom yang miskin moral. Knowledge-based BUSINESS berlipat nilai tambahlah KUNCI. Dijaga jangan sampai ada monopoli/oligopoli koperasi berteknologi begini : ciptakan kompetisi. Artinya KOOPERATIF sekaligus KOMPETITIF, hasilnya KOOPETITIF. Repotnya, di INDONESIA justru keruk-kerukan untung pemegang saham, jelas itu melawan ARUS ZAMAN. Bila diLANJUTKAN, pasti MASUK JURANG bangsa ini! Bentuk KOOPETITIF ini pula yang dipikirkan para PENDIRI REPUBLIK dulu, Bung Karno, Bung Hatta dll. Dulu pemahamannya dalam bentuk BUMN dan KOPERASI. Apa ini masih cocok ? Masih cocok jiwa KOOPETITIFnya, tetapi lebih gambalng berupa BUMR : BADAN USAHA MILIK RAKYAT. Jadi bukan BUMN yang selama ini tak lebih sekadar OBYEK SAPI PERAHAN rezim berkuasa sampai partai politik! BUMN (dan Koperasi) masa kini yang berparadigma degil, hanya sebagai ajang kekuasaan dan sawah segelintir, adalah PENGKHIANATAN
kemerdekaan dan jasa pahlawan, laiknya! BISNIS KERAKYATAN berbasis DIGITAL inilah bentuk demokrasi yang terjabar dalam SILA 4 dan 5 PANCASILA, bila dipahami secara genuine. Dengan MANAJEMEN dan TEKNOLOGI, rakyat siap bertarung global, menjadi PLATFORM masyarakat digital masa depan. Itulah hakikat PEOPLE CYBERNOMICS. Itu yang mestinya dikembangkan di otak para insinyur yang sadar panggilan bangsanya. Itu yang harusnya disiapkan dan disediakan oleh pemerintah yang BUKAN mental JONGOS rakus kuasa ibarat TONGTONGSOT Petruk Dadi Ratu, yang hanya menyusahkan rakyat. Hanya dengan kerangka SIBERNOMIK RAKYAT begitulah ada kesetaraan POLITIK, EKONOMI, dan BUDAYA. Kearifan dan jenius lokal akan bermekaran tiada tara. Inilah makna PEMBERDAYAAN, bukan rebutan tulang dan daging di elite. BUMN DAN SWASTA BESAR ? Dalam PANCASILA ada KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA. Camkan itu, jangan cengengesan! Baca buku-buku BUNG KARNO dan BUNG HATTA, sebelum
berani mengurus rakyat atau koperasi. Dengan jiwa itu pula dulu didirikan lebih 150 BUMN yang ditugasi MENSEJAHTERAKAN RAKYAT. Sekarang ? Direktur-direktur utama BUMN (banyak yang insinyur) pada pekok! Tak tahu tugas atau tak mampu mengejawantahkan tugas dari pendiri republik! Bersama jutaan KOPERASI (tepatnya KOOPETISI), mereka BUMN itu baru berhak menjadi SOKO GURU EKONOMI INDONESIA. Bisnis harus dengan MORAL. Bukan berarti SWASTA tak ada peran atau digusur! Para pengusaha besar pun dapat berguna : para enterpreneur kreatif inovatif kompetitif, punya hak hidup. Caranya ? SINERGI dan WIN-WIN. Perusahaan RAKSASA di Indonesia ada juga, tetapi apakah pemiliknya mengerti TUGAS ZAMANnya ? BerSINERGI dalam business linkage konstruktif-produktif, juga dengan MEKANISME PENJAMINAN oleh pengusaha berpengalaman agar layak memperoleh fasilitas permodalan, serta aman. Begitulah SEGENAP komponen masyarakat harmonis tertata dalam bingkai KORPORASI INDONESIA
BARU. Akan terjelanglah INDONESIA RAYA, bukan Ngendonsia yang banyak hak-haknya saja diaku oleh tetangga! STRATEGI SAMUDERA BIRU niscaya dikembangkan dalam the New Indonesia Incorporated, yakni BUMR Badan Usaha Milik Rakyat. Jadi bukan BUMN sapi perahan elite atau KOPERASI manasuka atau SWASTA obyek oknum birokrat bejat. Jelas pula, bukan EKONOMI ala NEOLIBS yang supra-rakus melampaui DASAMUKA! ...
Di kalangan spiritualis, sudah dirembug lama kepindahan ke pusat budaya Daya. Mari pindah dari Chaos ke Order, menata ENTROPI, recycling holistik. Jakarta sudah gak beres. Secara kimia, matematika sampai astronomi pun OK. Simak pula keatlantisannya. Mari siapkan lahannya sekalian. Salam, satuhu
----- Forwarded Message ---- Pemindahan Pusat Pemerintahan (Ibukota)
Bangsa ini telah lama dan tengah memikirkan lokasi baru pusat pemerintahan. Kalau seperti Malaysia itu tanggung dan setengah hati. Cuma 40 km. Sehingga sebagian tidak pindah rumah dan akhirnya
jadi jauh dan macet.
Harusnya seperti Brazil yang memindahkan ibukotanya begitu jauh dari Rio de Janeiro ke Brasilia, atau Amerika Serikat dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin.
Karena jauh akhirnya pada pindah rumah. Kalau dekat, misalnya di Jonggol atau Sentul, niscara orang Tangerang, Bogor, Jakarta, Bekasi, Depok tetap tinggal di rumahnya dan berkantor di ibukota baru. Jalan jauh dan kemacetan pun terus berlangsung.
Pemindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta
Pertama-tama kita harus sadar bahwa pemindahan ibukota dari satu kota ke kota lain adalah hal yang biasa dan pernah dilakukan. Sebagai contoh, Amerika Serikat pernah memindahkan ibukota mereka dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin, sementara Brazil memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro ke
Brasilia. Indonesia sendiri pernah memindahkan ibukotanya dari Jakarta ke Yogyakarta.
Over Populasi (Jumlah penduduk melebihi daya tampung) merupakan penyebab utama kenapa banyak negara memindahkan ibukotanya. Sebagai contoh saat ini Jepang dan Korea Selatan tengah merencanakan pemindahan ibukota negara mereka. Jepang ingin memindahkan ibukotanya karena wilayah Tokyo Megapolitan jumlah penduduknya sudah terlampau besar yaitu: 33 juta jiwa. Korsel pun begitu karena wilayah kota Seoul dan sekitarnya jumlah penduduknya sudah mencapai 22 juta. Bekas ibukota AS, New York dan sekitarnya total penduduknya mencapai 22 juta jiwa. Jakarta sendiri menurut mantan Gubernur DKI, Ali Sadikin, dirancang Belanda untuk menampung 800.000 penduduk. Namun ternyata di saat Ali menjabat Gubernur jumlahnya membengkak jadi 3,5 juta dan sekarang membengkak lagi hingga daerah Metropolitan Jakarta yang meliputi Jabodetabek mencapai total 23 juta jiwa.
Jadi
pemindahan ibukota bukanlah hal yang tabu dan sulit. Soeharto sendiri sebelum lengser sempat merencanakan pemindahan ibukota Jakarta ke Jonggol.
Kenapa kita harus memindahkan ibukota dari Jakarta? Apa tidak repot? Apa biayanya tidak terlalu besar? Jawaban dari pertanyaan ini harus benar-benar tepat dan beralasan. Jika tidak, hanya buang-buang waktu, tenaga, dan biaya.
Pertama kita harus sadar bahwa ibukota Jakarta di mana lebih dari 80% uang yang ada di Indonesia beredar di sini merupakan magnet yang menarik penduduk seluruh dari Indonesia untuk mencari uang di Jakarta. Arus urbanisasi dari daerah ke Jakarta begitu tinggi. Akibatnya jika penduduk Jakarta pada zaman Ali Sadikin tahun 1975-an hanya sekitar 3,5 juta jiwa, saat ini jumlahnya sekitar 10 juta jiwa. Pada hari kerja dengan pekerja dari wilayah Jabotabek, penduduk Jakarta menjadi 12 juta jiwa.
Jumlah penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan sekitar
23 juta jiwa. Padahal tahun 1986 jumlahnya hanya sekitar 14,6 juta jiwa (MS Encarta). Jika Jakarta terus dibiarkan jadi ibukota, maka jumlah ini akan terus membengkak dan membengkak. Akibatnya kemacetan semakin merajalela. Jumlah kendaraan bertambah. Asap kendaraan dan polusi meningkat sehingga udara Jakarta sudah tidak layak hirup lagi. Pohon-pohon, lapangan rumput, dan tanah serapan akan semakin berkurang diganti oleh aspal dan lantai beton perumahan, gedung perkantoran dan pabrik. Sebagai contoh berbagai hutan kota atau tanah lapang di kawasan Senayan, Kelapa Gading, Pulomas, dan sebagainya saat ini sudah menghilang diganti dengan Mall, gedung perkantoran dan perumahan.
Hal-hal di atas akan mengakibatkan: Jakarta akan jadi kota yang sangat macet Dengan banyaknya orang bekerja di Jakarta padahal rumah mereka ada di pinggiran Jabotabek, akan mengakibatkan pemborosan BBM. Paling tidak ada sekitar 6,5 milyar liter BBM dengan nilai sekitar Rp
30 trilyun yang dihabiskan oleh 2 juta pelaju ke Jakarta setiap tahun. Dengan kemacetan dan jauhnya jarak perjalanan, orang menghabiskan waktu 3 hingga 5 jam per hari hanya untuk perjalanan kerja. Stress meningkat akibat kemacetan di jalan. Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) juga meningkat karena orang berada lama di jalan dan menghisap asap knalpot kendaraan Banjir dan kekeringan akan semakin meningkat karena daerah resapan air terus berkurang. Jumlah penduduk Indonesia akan terpusat di wilayah Jabodetabek. Saat ini saja sekitar 30 juta dari 200 juta penduduk Indonesia menempati area 1500 km2 di Jabodetabek. Atau 15% penduduk menempati kurang dari 1% wilayah Indonesia. Pembangunan akan semakin tidak merata karena kegiatan pemerintahan, bisnis, seni, budaya, industri semua terpusat di Jakarta dan sekitarnya. Tingkat Kejahatan/Kriminalitas akan meningkat karena luas wilayah tidak mampu menampung penduduk yang terlampau
padat. Timbul bahaya kelaparan karena over populasi dan sawah berubah jadi rumah, kantor, dan pabrik. Saat ini pulau Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia 7 x lipat lebih padat daripada RRC. Kepadatan penduduk di Jawa 1.007 orang/km2 sementara di RRC hanya 138 orang/km2. Tak heran di pulau Jawa banyak orang yang kelaparan dan makan nasi aking.
Untuk itu diperlukan penyebaran pusat kegiatan di berbagai kota di Indonesia. Sebagai contoh, di AS pusat pemerintahan ada di Washington DC yang jumlah penduduknya hanya 563 ribu jiwa. Sementara pusat bisnis ada di New York dengan populasi 8,1 juta. Pusat kebudayaan ada di Los Angeles dengan populasi 3,9 juta. Pusat Industri otomotif ada di Detroit dengan jumlah penduduk 911.000 jiwa.
Di AS kegiatan tersebar di beberapa kota. Tidak tertumpuk di satu kota. Sehingga pembangunan bisa lebih merata.
Indonesia juga harus begitu. Semua kegiatan jangan terpusat di Jakarta. Jika tidak, maka
jumlah penduduk kota Jakarta akan terus membengkak. Dalam 10-20 tahun, Jakarta akan jadi kota yang mati/semrawut karena jumlah penduduk yang terlampau banyak (saat ini saja kemacetan sudah luar biasa).
Biarlah Jakarta cukup menjadi pusat bisnis. Untuk pusat pemerintahan, sebaiknya dipindahkan ke Kalimantan Tengah.
Kenapa Kalimantan Tengah? Kenapa tidak di Jawa, Sulawesi, atau Sumatra?
Pertama Jawa adalah pulau kecil yang sudah terlampau padat penduduknya. Luas pulau Jawa hanya 134.000 km2 sementara jumlah penduduknya sekitar 135 juta jiwa. Kepadatannya sudah mencapai lebih dari 1.000 jiwa per km2. Apalagi pulau Jawa yang subur dengan persawahan yang sudah mapan seharusnya dipertahankan tetap jadi lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan di Indonesia. Kalau dipaksakan di Jawa, maka luas sawah akan berkurang sebanyak 50.000 hektar! Produksi beras/pangan lain akan berkurang sekitar 200 ribu ton per tahun! Indonesia akan
semakin kekurangan pangan karenanya. Selama ibukota tetap di Jawa, pulau Jawa akan semakin padat dan pembangunan tidak tersebar ke seluruh Indonesia. Jawa sudah kebanyakan penduduk/over-crowded!
Ada pun pulau Sumatera letaknya relatif agak di Barat. Dengan jumlah penduduk lebih dari 42 juta, pembangunan di Sumatera sudah cukup lumayan.
Sulawesi dengan luas 189.000 km2 dan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa masih terlalu kecil wilayahnya. Sumatera dan Sulawesi adalah pulau yang subur dan cocok untuk pertanian. Jadi sayang jika pertumbuhan jumlah penduduk dipusatkan di situ. Belum lagi kedua wilayah ini rawan dengan gempa bumi dan tsunami.
Ada pun Kalimantan luasnya 540.000 km2 dengan jumlah penduduk hanya 12 juta jiwa. Pulau Kalimantan jauh lebih luas dibanding pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dan jumlah penduduknya justru paling sedikit.
Di pulau Kalimantan juga tidak ada gunung berapi dan merupakan pulau yang
teraman dari gempa. Sementara di pesisir Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan Laut Jawa juga ombak relatif tenang dan aman dari Tsunami. Ini cocok untuk jadi tempat ibukota Indonesia yang baru.
Jika iya, apakah ibukota memakai kota yang sudah ada seperti Palangkaraya atau membuat kota baru sama sekali?
Jika membuat ibukota dari kota yang sudah ada seperti Palangkaraya, ini akan menimbulkan 2 kendala besar. Pertama perencanaan pembangunan jadi tidak fleksibel. Sulit untuk merencanakan tata ruang baru karena ruang yang ada sudah terpakai. Sebagai contoh, sulit untuk membuat jalan protokol selebar jalan Thamrin dan Sudirman karena jalan yang sudah ada ukurannya kecil. Jika dipaksakan, harus menggusur gedung-gedung di sekelilingnya. Ini jumlahnya banyak sekali dan biayanya juga tentu sangat besar.
Kedua, karena tanah yang diperlukan sudah ada yang memiliki, akan ada banyak spekulan tanah yang menjual tanahnya dengan harga yang
sangat tinggi. Per meter persegi bisa 2-3 juta lebih. Biaya pembangunan ibukota bisa meroket dengan tinggi. Untuk pelebaran jalan, gedung pemerintahan dan rumah dinas seluas total 50 km2 saja bisa mencapai Rp 500 trilyun rupiah lebih.
Oleh karena itu lebih mudah dan lebih murah membangun ibukota baru dari tanah kosong milik negara. Idealnya ibukota baru ini memakai lahan bekas HPH yang sudah gundul dan terletak di pinggir sungai. Jarak ke pantai sebaiknya tidak lebih dari 50 km sehingga bisa jadi pusat pelabuhan.
Dengan cara ini, seandainya harus ada pembebasan lahan, biayanya tak lebih dari 10 ribu / m2. Jadi seandainya lahan yang diperlukan 500 km2, maka biaya pembebasan lahan hanya Rp 5 trilyun.
Ibukota Brazil, Brasilia dibangun dari tanah kosong / awal. Dari situ dirancang dan dibangun semuanya dari awal oleh para ahli tata kota. Ibukota lainnya yang dirancang dan dibangun dari awal untuk jadi ibukota adalah Washington DC,
Canberra, dan Islamabad: Islamabad rancangan kotanya disiapkan tahun 1960, pembangunan konstruksi pertama tahun 1961, dan selesai tahun 1966. Selesai dalam 6 tahun. Umumnya ibukota baru dibangun tidak jauh dari kota sekitarnya (di bawah 400 km jaraknya). Brasilia sejak jadi ibukota tahun 1957 sekarang jumlah penduduknya sekitar 2,5 juta jiwa, Canberra 350 ribu jiwa dan Washington DC sekitar 563 ribu jiwa.
Apakah negara akan rugi karena biaya pembangunan ibukota sangat tinggi?
Pembangunan ibukota biayanya memang cukup tinggi. Tapi akan lebih tinggi lagi biayanya baik dari segi kesehatan mau pun biaya jika kita tetap memakai Jakarta sebagai ibukota. Selain itu pemerintah bisa memakai pembangunan ibukota baru sebagai sarana untuk mendapatkan uang. Bagaimana caranya?
Dari 500 km2 luas ibukota baru, tidak semuanya dipakai pemerintah. Pemerintah hanya memakai 50 km2 untuk jalan, gedung pemerintah, dan rumah dinas. 100 km2 bisa dipakai
untuk hutan dan taman kota. Sisanya 350 km2 bisa dijual untuk bisnis dan umum dengan harga Rp 500.000-1.000.000 /m2. Paling tidak pemerintah bisa mendapat 175 hingga 350 trilyun rupiah dari penjualan lahan. Ini bisa dilakukan secara bertahap. Beberapa kota swasta seperti Lippo City, Lippo Karawaci, dan juga BSD sudah menerapkan hal ini.. Pemerintah dengan dukungan dana APBN seharusnya juga bisa. Jadi dari sisi dana seharusnya tidak masalah.
Total pembangunan gedung pemerintah sendiri paling hanya sekitar Rp 20 trilyun. Ini cukup untuk 200 gedung @ Rp 100 milyar. Total biaya diperkirakan mencapai Rp 150 trilyun. Jika dilakukan secara bertahap dalam 5 tahun maka biayanya Rp 30 trilyun per tahun atau kurang dari 4% jumlah APBN yang mencapai sekitar Rp 800 trilyun. Biaya ini bisa ditutup nantinya dengan dana dari hasil penjualan lahan senilai Rp 175-350 trilyun.
Ibukota baru ini sebaiknya berjarak tidak lebih dari 200 km dari kota yang sudah
ada, sehingga bisa mendapat dukungan logistik dari kota tersebut selama ibukota masih dalam pembangunan. Ibukota baru ini juga akan menghidupkan kota-kota di sekelilingnya.
Usulan Lokasi Ibukota Baru
Usulan saran saya ibukota baru ini dinamakan Kota Merdeka. Diharapkan Indonesia dengan kota ini benar-benar merdeka secara ekonomi dan politik. Letaknya 30 km dari kota Pangkalanbun dan terletak di tepi sungai yang lebarnya 1-2 km (lihat peta) dan berjarak 40 km dari laut. Jadi kota ini bisa jadi kota pelabuhan, aman dari tsunami. Kondisinya seperti kota London yang jaraknya dari laut sekitar 40 km. Dengan posisi agak jauh dari laut, kota ini relatif lebih aman dari bahaya invasi secara mendadak. Selain itu dengan sungai yang lebar akan ada pemandangan River View ala kota-kota Eropa, AS, dan Australia, di mana kapal-kapal besar bisa masuk melewati sungai. Sebagian Kota ini juga ada di dataran tinggi antara 50-500 meter dari permukaan
tanah.
Kota ini jaraknya 670 km dari Jakarta. Jadi kurang lebih sama dengan jarak kota Surabaya-Jakarta. Dengan pesawat terbang dapat ditempuh kurang dari satu jam.
Diharapkan dengan adanya ibukota baru ini, Jakarta tetap menjadi pusat bisnis, sementara kota yang baru (Kota Merdeka?) menjadi pusat pemerintahan pembangunan dan penyebaran penduduk di Indonesia lebih merata.
Memang pemindahan ibukota tidak harus dilakukan sekarang. Tapi dalam 10 tahun ke depan mau tidak mau harus pindah. Jadi harus dipikirkan dan direncanakan mulai dari sekarang. Jika tidak pindah, apa jadinya jika jumlah penduduk Jabodetabek mencapai 30-40 juta jiwa pada tahun 2018?
Koalisi tambun yang tak disiplin, disfungsi presiden, dan gejala presiden
mengambang adalah sisi-sisi yang sungguh mencemaskan berkaitan dengan kabinet
Yudhoyono-Boediono dan masa depannya. Menegasnya sisi-sisi ini hari-hari ini
membikin siapa pun sebaiknya tak terlalu tergesa membuat proyeksi mengenai masa
depan yang jauh dari kabinet ini. Sebab, jangan-jangan kabinet ini sudah harus
menjalani masa suram dalam masa depannya yang sangat dekat.
Dipetik dari artikel Eep Saefulloh Fatah ”Proyeksi Politik 2010: Koalisi
Tambun, Presiden Mengambang” di Majalah Tempo
Mengingat besarnya
magnitudo skandal itulah beberapa pekan terakhir muncul reaksi keras dari
berbagai kalangan, termasuk unjuk rasa mahasiswa. Mereka kekuatan moral,
intelektual, dan sosial yang berpihak kepada hati nurani rakyat.
Unjuk rasa mereka—juga oleh kalangan lain—bisa memicu people’s power (kekuatan
rakyat) yang positif karena gagal ditunggangi pihak ketiga.
…………
People’s power dibutuhkan
ketika kekuasaan membangun tembok pelindung dirinya. Persis 30 tahun lalu pada
hari-hari ini people’s power merobohkan tembok kekuasaan, termasuk Tembok Berlin, yang membentengi
rezim-rezim otoriter di Eropa Timur dengan jalan damai.
Melancarkan people’s power melalui metode power to the people, tentu
membelajarkan, menyadarkan, dan memberdayakan rakyat agar tidak terkelabui oleh
skandal Century.
Dipetik dari Kolom Politik-Ekonomi Budiarto Shambazy ”People’s Power” di Harian
Kompas.
Cerita sukses people power umumnya terjadi pada rezim otoriter dengan kapasitas
rendah. Skandal, baik korupsi atau
pemilu, membuka peluang gerakan massa
menyeruak karena kemampuan rezim dalam mengendalikan teritori dan menggunakan
instrumen kekerasan terbatas. Belum lagi jika secara internal timbul keretakan
di kalangan elit. Dengan struktur kesempatan politik yang lebih terbuka,
perubahan rezim menjadi niscaya.
Untuk Asia Tenggara, “berlaku” siklus people power dalam merontokkan rezim
predator--dimulai dari Filipina merambat ke Thailand dan singgah di Indonesia.
Dengan dimotori para veteran people power sebelumnya, Filipina berhasil
menggulingkan Joseph Estrada dan Thailand mengusir Thaksin Sinawatra. Dengan
tipologi rezim hybrid, berkapasitas rendah, serta cenderung lamban dalam
mengambil keputusan, tentunya membuka peluang bagi gerakan people power di
Indonesia. Akankah siklus ini berputar sempurna?
Dipetik dari artikel Luky Djani People Power dan Pergantian Rejim
(pemilu.liputan6.com yang dimuat kembali di indoprogress)
.................Banyak gossip dan rumors beredar tentang keterlibatan
presiden pribadi dalam kasus pelemahan KPK. Banyak juga yang mengaitkan dengan
kasus bail-out Bank Century. Yudhoyono tidak bisa mengabaikan semua ini dengan
dalih tidak mau mencampuri proses hukum. Seharusnya dia pun tahu bahwa proses penegakan
hukum itu sudah dibajak oleh para predator model Susno, Danuri, Ritonga,
Situmeang, Anggoro-Anggodo, dan lain-lainnya itu. Yudhoyono tidak bisa
berpura-pura tidak tahu akan hal ini.
Untuk itu, sulit untuk memberikan benefit of the doubt [keyakinan bahwa
seseorang itu memiliki itikad yang baik ditengah keraguan apakah dia baik atau
jahat] kepada Yudhoyono. Mungkin Yudhoyono harus tahu bahwa dia sudah
menghabiskan semua trust-capital-nya, karena membiarkan semua ini
berlarut-larut dengan terus menerus menjaga image (jaim). Mungkin harus lebih banyak orang berteriak, “Mr.
President, either you’re with us or against us!”***
Dipetik dari artikel
Antonius Made Tony Supriatma Kedaulatan Para Pemangsa (Predators)di Indoprogress
.......jika terus
mengandalkan aspek penegakan hukum seperti yang selama dilakukan, sangat tidak
memadai. Gerakan anti korupsi lantas menjadi gerakan mengejar koruptor dan
menjeblosan ke penjara. Kelemahan utama dari strategi ini terletak pada
lingkungan hukum itu sendiri. Lembaga, aparatur, perangkat perundangan dan prosedur
beracara masih sangat rapuh dan jelas tidak kebal intervensi baik politik,
finansial maupun tekanan secara fisik. Untuk itu perlu ada gerakan yang secara
sistematis berupaya untuk menggantikan elite pemangsa ini dan kemudian merombak
struktur yg mendiskriminasi dan mendominasi. Memang di banyak tempat,
bermunculan upaya gerakan alternatif baik yang bertumpu pada politik elektoral
maupun non-elektoral. Pengorganisasian kelompok korban, marginal, maupun
kepentingan (publik) perlu dijadikan fokus, agar kelompok terorganisir ini
dapat mengimbangi elite pemangsa yngg selama ini mengakuisisi ruang politik.
Tanpa ada perubahan struktur politik (dan ekonomi), level lapangan permainan
antar kelompok kepentingan, agenda pemberantasasn korupsi selalu tergantung kepada
belas kasih elite. Lebih tepatnya, kita hanya bertumpu pada keinginan politik
penguasa.
Petikan pernyataan Luky Djani saat diwawancarai Coen dari Indoprogress
Namun ada perbedaannya dengan kasus 1998. Pada tahun itu, terdapat barisan
atau organisasi pelopor (vanguard organization), sedangkan di tahun 2009, yang ada
hanyalah kelompok penekan (pressure group). Kedua hal itu jelas berbeda.
Barisan atau organisasi pelopor terus berusaha memimpin dan menaikkan derajat
perlawanan hingga sampai pada isu tertinggi yang bisa dicapai. Sementara
kelompok penekan, hanya akan tetap peduli pada isu reformis biasa. Praktiknya
nyata di lapangan, kelompok pelopor terus mengancam rezim dengan gelombang aksi
massa yang besar dan seringkali berakhir dengan bentrokan, maka aksi kelompok
penekan hanyalah sampai pada penggalangan massa, membaca pernyataan sikap, lalu
duduk atau berdiri sambil berjoget atau sambil menonton acara musik.
dipetik dari
artikel Putut EA di Indoprogress, “Akankah SBY Jatuh?”
Masyarakat kelas menengah yang bergerak juga masih terbatas pada pekerja
pers, aktivis mahasiswa, dan lembaga swadaya masyarakat dengan beragam motif
yang berserak. Bandingkan dengan gerakan 1998, yang melibatkan pekerja-pekerja
berdasi (white collar), para buruh, sampai kaum tani yang tidak lagi bisa
membeli pupuk. Teori stabilitas ekonomi mutlak berlaku, yakni apabila mahasiswa
masih bisa membeli pulsa dan membayar kamar-kamar kosnya, serta tidak membuat
dapur umum di kampus-kampus dengan menu Indomie, maka kolaborasi gerakan kelas
menengah dengan kelas bawah tidak akan terjadi. Krisis ekonomipolitik 1998
menyebabkan banyak mahasiswi tidak lagi bisa membeli bakso, apalagi\ bedak dan
tiket nonton. Bayangkan juga bagaimana kaum ibu bergerak membawa panci, sendok,
dan garpu ke jalanjalan dengan tujuan menurunkan harga. Di kalangan aktivis,
harga dipelesetkan menjadi "Soeharto dan keluarga".
dipetik dari artikel Indra J. Piliang di Koran Tempo ”Utak-atik People Power”
Situasi kacau kelembagaan negara akibat perseteruan ”buaya lawan cicak”
secara cerdik sedang dimanfaatkan oleh istana....
Langkah-langkah catur istana itu mengesankan bahwa SBY sengaja menghindari
keterlibatan langsung dalam situasi konflik yang terjadi. Dengan posisi yang
seolah membela semua pihak yang terlibat konflik, SBY ingin menunjukkan dirinya
adalah pengayom, baik bagi KPK, DPR, Polri, maupun kejaksaan.
Bahkan, dalam penyelesaian konflik kelembagaan itu pun SBY menghindari
menggunakan langsung tangannya, tetapi lebih memilih membentuk Tim Delapan.
Selain menjalankan tugas mencari fakta dan klarifikasi proses hukum
kriminalisasi KPK, Tim Delapan sekaligus menjadi bemper istana dalam berhadapan
dengan masyarakat dan semua lembaga yang sedang berseteru.
Dengan
cara ini, Presiden SBY tak akan tersentuh dan bersentuhan langsung dengan arena
perseteruan. Jika istana sengaja menciptakan langkah catur itu, drama ”Buaya
lawan Cicak” justru sedang memasuki fase baru yang lebih anarkistis. Situasi
ini harus diwaspadai karena akan membuka peluang bagi lahirnya pola pengelolaan
kekuasaan yang antidemokrasi.
dipetik dari artikel Wawan Mas’udi di
harian Kompas "Langkah Catur Istana"
Dari perkembangan isu kriminalisasi KPK dan skandal
bank century, sebuah potensi oposisi sosial secara lebar muncul. Penyebabnya,
banyak pihak yang merasa kecewa dengan sikap lamban dan mengambang SBY,
khususnya kalangan menengah dan atas. Akibat dari ketidaktegasan tersebut,
sebuah pesimisme terhadap keterpurukan institusi penegak hukum dan masa depan
pemberantasan korupsi, telah berkembang menjadi ketidakpercayaan terhadap
pemerintahan secara umum.
Ketidakpercayaan ini berhasil mengikis posisi
hegemonik ideologi neoliberal, yakni sebuah sistim ekonomi yang disebut-sebut
sangat memerangi korupsi. Pada kenyataannya, murid-murid terbaik dan paling
setia mereka justru tersangkut paut dalam skandal perbankan yang berbau
kriminal. Sementara SBY-Budiono, yang sempat melejit dengan isu pemerintahan bersih,
kini terdegradasi karena disangka melindungi koruptor dan penegak hukum nakal.
Dipetik dari artikel Rudi Hartono Isu Korupsi dan Prospek
Gerakan Anti Neoliberal
Partai catch-all tidak memerlukan massa. Untuk dipilih ia memerlukan
teknik untuk memanipulasi. Itu dilakukan lewat image. Tidak begitu mengherankan, jika pengeluaran partai yang
paling besar adalah untuk biaya iklan, konsultan, dan kontraktor politik.
Partai ini tidak perlu
kelas menengah, apalagi kelas buruh militan. Tidak juga ideologi. Kalaupun
mungkin perlu label ideologi, maka pragmatisme adalah ideologinya.
Pada akhirnya, yang
hilang di sini adalah massa-rakyat.
Dipetik dari
artikel A. Made Tony Supriatma Politik Yang Tidak Perlu Massa-rakyat di
Indoprogress.
Mengakhiri Sandiwara Politik; Merebut Panggung Politik
2014
........gerakan sosial
perlu melakukan upaya serius setidaknya untuk lima tahun mendatang, agar
sandiwara politik ini tidak terulang lagi. Berkaca pada kelemahan gerakan
sosial yang terjadi sekarang, dibutuhkan setidaknya, pertama, karena keterputusan antara NGO dan massa, maka
dibutuhkan aksi kolektif dari organisasi yang bermain di aras ruang antara
untuk menyiapkan sebuah organisasi koalisi strategis yang mengombinasikan
pembentukan identitas politik kolektif ala NSM (new
social movement-NSM), dengan optimalisasi
potensi struktural untuk merebut ruang politik melalui pengorganisasian ala RMT
((resource mobilization theory-RMT).
Dengan tersedianya identitas kolektif dan ruang politik, maka energi politik
yang dihasilkan akan semakin besar. Kedua,
dibutuhkan wilayah kerja yang tidak terlalu luas. Upaya pembangunan koalisi
besar selama ini terbukti gagal, karena luasnya cakupan isu maupun sektor
kerja. Selain itu, wilayah kerja yang sangat luas juga adalah faktor utama
kegagalan ini.
Dipetik
dari artikel Saiful Haq di indoprogress “Mengakhiri Sandiwara Politik : Gerakan
Sosial dan Insiatif Politik Lokal”
----- Forwarded Message ---- Subject: Fwd: kataklisme atlantis (2) membaca tanda zaman yang tersirat, meraut hikmat
--- In ITB_: Reuni Atlantis, Ganesha & Aquarius (2) ala nir-sibayek
Dan siapakah AQUARIUS, coba ? Dialah PANGERAN KENCANA yang disebut-sebut Virgilus dalam karya tenarnya ECLOGUE IV,yang merupakan nubuatan terdahsyat MiLLENNIUM ini.
Sajak Virgilus dimulai dengan kata-kata : IAM REDIT ET VIRGO! LIHAT, SANG PERAWAN KEMBALI! Ya, AQUARIUS adalah keduanya, baik PANGERAN KENCANA maupun PUTRI KENCANA, karena dia Androgini. Leburnya kedua jenis kelamin adalah REUNI antara kedua ATLANTIS yang telah terpisah sejak mulabuka zaman. Kini mereka bersatu. DOMBA dan SERIGALA menyatu, menikmati 1000 tahun waktu terakhir yang dijatahkan bagi zaman ini, dan kembalinya ZAMAN KENCANA, keemasan. Nubuatan datang karena dia memenuhi dirinya sendiri. Dia adalah personifikasi damba, Egregora dan Kamarupa,yang ada bagi yang percaya. Malanglah orang yang tak
percaya, karena AQUARIUS mustahil tercuri.
Arysio Nunes dos Santos, 1997
KATAKLISME DAN ATLANTIS
• Buku OERA LINDA, koleksi tradisi Frisian terkait Air Bah, menggambarkan kataklisme dahsyat skala kosmis yang terjadi di zaman purba meluluhlumatkan Atland : jutaan kali lebih menggelegar daripada sekadar tayangan film 2012...yang menggelikan itu. • Mitos sangkanparan bangsa MAYA menyebutkan mereka berasal dari pulau/kepulauan AZTLAN. Mereka lari dari letusan dahsyat global gunung berapi. Tanah air asli mereka kemudian dilahap samudera. Mereka datang ke benua baru melalui laut, Pasifik Selatan, berangsur bertahun lewat berbagai pulau, menggunakan rakit dan catamaran mereka. Perjalanan samudera mereka terekam dalam CODEX BOTURINI dan dokumen-dokumen sejarah lainnya. Aztlan itulah Atlantis. Letak Aztlan di
sebelah barat mereka, karena mereka menyusuri lautan ke arah timur. Maka FIRDAUS YANG HILANG itu terletak di wilayah Timur Jauh. Ini kiranya kini wilayah INDONESIA. • Tradisi Hindu bicara tentang ATALA, FIRDAUS yang tenggelam di Timur Jauh. Atala adalah salah satu dari tujuh loka neraka orang Hindu. Ini adalah ARCHETYPE dari Tujuh Pulau Blest (budaya Yunani) dan Tujuh Pulau Atlantik (tradisi abad pertengahan). ATALA kerap dipadankan dengan SUTALA (Tanah Landasan) yakni nama Hindu bagi Firdaus pristin-nya. Dalam bahasa Sanskerta nama itu bermakna Tanah Antah-berantah atau Tanah yang Tenggelam. Etima ini serupa dengan tradisi Yunani UTOPIA atau tradisi Gnostik EREWHON. Artinya, aneka tradisi Firdaus Tenggelam semisal ELYSIUM (kepulauan Blest) Yunani, ARMENTI atau PUNT bangsa Mesir, EDEN/Firdaus bangsa Yahudi, atau DILMUN Babilonia, semua tan kecuali berpangkal dari HINDU purba Atala atau Sutala. •
Peta dunia purba atau zaman pertengahan mencantumkan Kepulauan Atlantis. Kepulauan ini biasanya ada tujuh, disamakan dengan Tujuh Pulau blest tradisi Yunani atau Tujuh DVIPA (pulau-pulau Firdaus) orang Hindu. Dalam kenyataan, hal ini terkait sisa-sisa Atlantis yang tenggelam. Ini adalah puncak-puncak gunung-gunung berapi raksasa pada benua yang tenggelam itu. Tradisi occult, pelayar-pelayar purba dari bangsa Phoenician dan bangsa-bangsa kuno lainnya berniaga teratur dengan Kepulauan Indies (Indonesia) purba, dan rute-rutenya dirahasiakan sepanjang sejarah untuk keamanan dan pengamanan. • Lautan Atlantik meminjam nama dari Atlantis, yang gagah berani menjelajah samudera tepi yang ditakuti berbagai bangsa lain. Hanya bangsa Atlantis yang menguasai Pelayaran-pelayaran Celestial yang menjadi prasyaratnya. Berbeda dari apa yang diterima sekarang, nama Samudera Atlantik (Samudera bangsa Atlantis) dulu adalah segala Lautan yang
mengelilingi Dunia Lama (Eurasia dan Afrika). Ia terdiri atas perjumpaan lautan Atlantik dan Lautan Hindia. Samudera Atlantis purba juga dinamai Lautan Ujung, Lautan Luar, Lautan Kronius, Mare Oceanum, Mare Magnum, Samudera Pengitar Dunia, nama-nama yang menyiratkan kitaran atas bumi. • Bukan hanya PLATO, namun juga para penulis sezaman seperti HERODOTUS, ARISTOTELES, HECATEUS Miletus, SKYLAX Carianda, secara eksplisit menyebut Samudera Atlantik yang berasal dari zaman sebelum Plato. Plato yang secara khusus menyebut pertaliannya dengan ATLAS dan Atlantis/Atlantean. Penulis-penulis terdahulu semacam HOMERUS sampai HESIODUS bicara perihal Samudera Pengitar/Pengeliling dunia lama yang merupakan letak pulau dan benua tenggelam yang terkait Atlantis. Pengertian itu sampai ke Mesir dan Yunani, berasal dari tradisi kuno India AXAYANA (Lautan Pengitar Dunia) dan Firdaus Tenggelam semisal Pulau-pulau Putih (SAKA
DVIPA). • Tradisi HINDU bicara tentang Firdaus Tenggelam dalam berbagai nama : Atala, Patala, SHVETA Dvipa (pulau Murni), atau Saka Dvipa (kepulauan murni). Kepulauan Firdaus ini adalah sisa-sisa benua tenggelam yang mereka sebut RUTA. Benua tenggelam ini terletak di samudera pengitar dunia (lama). Tenggelamnya benua ini tersangkut dengan hancur leburnya GUNUNG SUCI, yakni MERU atau ATALA. Kehancuran ini menyebabkan langit roboh (hujan debris) dan menimpa kepulauan yang tenggelam oleh lautan. Kejatuhan yang berjuta kali lebih dahsyat dari secuil ambrolnya menara kembar New York oleh teroris atau bahkan letusan Krakatau abad 19 itu. Dari sumber Hindu hancurnya Gunung Suci Meru mite Atala inilah orang Yunani memperoleh mite ATLAS dan ATANTIS yang tenar itu. • Mite Yunani menceritakan Legenda ATLANTIDES, ketujuh putri cantik ATLAS TITAN, pendiri Atlantis. Atlantides juga dinamai PLEIADES atau HESPERIDES,
merupakan personifikasi ketujuh pulau BLEST yang berada di ujung Laut Tepi. Pulau Blest ini dirancukan dengan kepulauan CANARY. Tetapi kepulauan Canary ini terlalu gamblang dan dekat, sedangkan Atlantis tak jelas dimana pula adanya di peta-peta purba. Tetapi tradisi mereka tetap setia merawat adanya Tujuh Pulau (via Atlantides) yang merupakan sisa-sisa benua yang hilang/tenggelam. • Dalam mite Yunani, Ketujuh PLEIADES (atau ATLANTIDES) berubah menjadi gugusan tujuh pulau di tengah Samudera Ujung, memilih lebih baik mati daripada ditangkap ORION, si Pemburu. Sedangkan HESPERIDES, ketujuh gadis bersaudara itu adalah Pelindung Ketujuh Pulau BLEST, di tempat kokoh berdirinya TAMAN ATLAS, ayah mereka. Taman Hesperides, menurut EUSTASIUS, terletak di AGRO ATLANTIS, sawah ladangAtlas/ Atlantis, di dekat Gunung Atlas. Taman ini adalah TAMAN EDEN/Firdaus dalam tradisi Yuda-Kristiani (disitir dalam Islam ?). Taman ini adalah Taman
AVALON (Celtik), Taman IDUN (Jerman), Taman HADES / Blest (Yunani kuno) dll. Semua ini menyamarkan ATLANTIS-nya Plato yang setelah tenggelam, menjadi Dunia Orang Mati, kepulauan firdausi yang dipadankan dengan Neraka.
ATLANTIS DALAM TRADISI-TRADISI DI DUNIA
• Sudah jelas, orang YUNANI kuno mengkopi legenda Atlas dan Atlantis mereka dari HINDU perihal ATALAS (Shiva) dan ATALA Firdaus nan Tenggelam itu. Sebagaimana dalam tradisi Yunani, dalam Hindu ATALAS (Sanskerta berarti PILAR) adalah Pilar Dunia, sebagaimana Atlas di Yunani. Atala seperti Atlantis adalah benua yang tenggelam akibat kejamnya kataklisme yang adanya di Samudera Luar. Lantaran sumber legenda Yunani adalah tradisi Hindu, maka sia-sia percum-tak-bergun bila mencari peradaban Atlantis di lautan yang kini namanya Samudera Atlantik. Mencari peninggalan peradaban Atlantean / Atlantis haruslah di loka yang oleh orang Hindu disebut di
Lautan Atlantean, yakni Samudera Hindia / Indonesia / Indies kini. • Banyak tradisi Hindu menyebutkan adanya benua firdausi hilang tenggelam yang merupakan asal-usul Manusia dan Peradaban mulianya, bukan di padang gurun. Salah satunya ialah TRIPURA, Tri-kota. Atlantis adalah tiga kota dengan dinding logam kencana bertatahkan rajabrana, artinya kedua tradisi yang berjauhan itu merujuk pada SATU hal yang sama. Sebagaimana warga Atlantis, warga TRIPURA semula ramah tamah, baik budi, mulia pekerti, gotong-royong ambeg paramaarta. Tetapi lama-kelamaan seiring waktu mereka menjadi jahat, dengki, suka berkelahi, ego dimajukan, komunitas diabaikan, adigang-adigung-adiguna, maka akhirnya SHIVA marah dan mereka dilumatlebur. Itu sebab Shiva dinamai TRIPURANTAKA, Sang Penghancur Tripura. Sebagaimana Lanka (Alengka) maupun Atlantis, kota Tripura pun mahligai yang dibangun di puncak gunung, hingga dikatakan : bertahta di atas
langit! • Legenda Hindu lain tentang tenggelamnya kerajaan archetype Atlantis yakni LANKA, secara rinci dipaparkan dalam RAMAYANA. Saga peluluhlantakan Lanka oleh baginda Rama dan Hanuman (Anoman) adalah sumber karya Homerus : ILLIAD. Seperti Ramayana berkisah tentang Lanka dan penyelamatan dewi Shita (SHINTA) pasangan rama yang dibajak culik oleh Ravana (RAHWANA), maka ILLIAD bercerita tentang penghancuran TROYA dan penyelamatan HELENA yang diculik oleh PARIS. Troya dengan dinding-dinding tembaga kencananya adalah satu lagi ALEGORI Atlantis. Berbeda jauh dari ditemukannya desa kecil di pedalaman Turki (oleh Schliemann) yang konon tempat Troya, TROYA sejati terletak di Samudera Luar. Troya adalah kota terkubur lautan setelah rusaknya. Terlalu banyak kesejajaran antara kisah Troya dan Atlantis, dan Atlantis Plato dengan Lanka pun tak kurang samanya, dan letaknya di TIMUR JAUH, dibawah Samudera, bukan di Timur Dekat
atau wilayah Laut Tengah. Bila hendak mencari TROYA dan Atlantis sejati, adanya di Nusantara, bukan padang gurun wilayah tengahan... Di timurlah asalmula Manusia dan Peradaban Dunia. Jangan salah raba agar tak bingung ibarat para jongos laiknya. • MAHABHARATA, saga klasik Hindu yang melengkapi RAMAYANA, berkisah tentang kerajaan misuwur KRISHNA (Kresno) dan kehancurannya dalam mahapralaya antara keluarga Lunar/bulan (KURU) dengan famili Solar/surya (PANDU). Perang besar akbar ini seperti Lanka dan Troya, adalah landasan dan sumber Plato bertutur perihal Atlantis. HASTINAPURA, ibukota kekaisaran Pandu adalah KOTA PILAR (hastinapura) atau Kota NAGA. Keduanya adalah epitet terkait Atalntean dan Pilar Surga sejatinya timur jauh. Mahabharata juga berkisah tentang DVARAKA, ibukota Krishna (Dwarawati) yang terletak di sebuah pulau ditengah lautannya. Ibukota Dvaraka tenggelam ke dasar laut saat para pahlawan surgawi avatar
meninggal di perang tanding mirip yang diceritakan Plato dalam hal Atlantis. • Tradisi DRAVIDA bicara tenggelamnya benua di tenggara India bernama RUTA. Orang Dravida mengaku pindah ke India dari benua yang tenggelam dalam kataklisme akbar bumi. Ruta berkaitan dengan akar kata Sanskerta RUDH (merah), rudha, dan bahasa Dravida RUTA (memerah, membakar). Etima ini memunculkan PULAU API, pulau merah yang merupakan nama mistik tradisi kuno Atlantis. Memang, bangsa DRAVIDA mengaku sebagai bangsa KSATRIA (penggempur, militer) yang warna keagungannya MERAH. Merah itu sejatinya warna Timur (buktikan Merahmu). • Bangsa PHOENICIAN (artinya MERAH dalam bahasa Yunani) seperti halnya bangsa DRAVIDA, mengaku juga berasal dari Pulau Api yang terletak dibalik Samudera India (ERYTHRAEAN, merah darah). Artinya Idies, kepulauan Nusantara, Lautan Merah (Erythraean). Tanah air orang Phoenician sama dengan Ruta
orang Dravida. Orang MESIR pun mengaku diri BANGSA MERAH, atau Rot, atau Khem, di lidah mereka. Dan semua berasal dari Samudera Hindia (Erythraean). Apakah berbagai tradisi aneka penjuru bumi ini berdusta ? Atau kita yang salah menafsirkan mite-mite mereka ? Sejarah mesti diluruskan, bukan menuruti selera yang sedang bertahta atau berloudspeaker. • Orang CELTIK, seperti pun bangsa-bangsa lain, mengaku berasal dari pulau jauh yang tenggelam karena kataklisme. Nama tanah air Firdaus mereka ialah PULAU KACA (gelas) atau YNIS WYDR, juga Pulau Wanita, AVALON, Emhain, Ys dst. Legenda tenggelamnya pulau Ys, sangat mirip dengan tenggelamnya Atlantis pada saat konflagrasi gunung berapi digdaya yang dilaporkan Plato. Orang Celtik juga mengaku tanah air asli mereka ialah CANTREF GWAELOD, atau Negeri Alas, Daratan Dasar, menurut Jean Markale, tokoh pengkaji Celtik itu. Persis seperti ATALA, Firdaus tenggelam
bangsa Hindu kuno. ATALA adalah archetype Atlantis Plato, a-tla. • Dalam MABINOGION, buku asal-muasal Celtik, disebutkan bahwa orang Celt berasal dari pulau DEFROBANI, atau Negeri Musim Panas, Negeri Cimmerian, dan para hali menyimpulkan itu Pulau TAPROBANE, letak Firdaus dunia dan JATUHNYA ADAM : yaitu PULAU SUMATERA kini ! Disitulah letak Atlantis pula. • Orang Cimmerian, leluhur bangsa Celtik, adalah bangsa DAERAH BERKABUT (mirip hasil ulah tebang bakar hutan parah?), dan Homerus mengumpamakannya seperti keadaan Neraka. Dalam banyak tradisi kuno disebutkan bahwa cuaca berkabut itu akibat LETUSAN gunung berapi yang melingkupi Atlantis sangat lama juga setelah hancurnya. Cimmeria itu sama dengan TARTARUS Gelap atau EREBUS (erebodes = kegelapan) Hesiodus dan Homerus yang menyamakannya dengan Abode Negeri Orang Mati. Dalam karya Homerus, SCHERIA PHAEACIAN semacam Firdaus bertempat di balik
kabut Gunung EREBUS, sedangkan pusaran arus samuderanya analog dengan Atlantis. • Serupa pula, bangsa MESIR bicara tentang HANEBUT (haunebut) misterius, orang-orang yang tinggal melampaui batas Samudera Hindia, di daerah AMENTI (atau PUNT, punta). Hanebut artinya Bangsa Kabut atau Bangsa Pilar Atlas. HAU-NABHA dalam bahasa Sanskerta dan Dravida, akhiran t dalam bahasa Mesir menyatakan jenis kelamin wanita/betina (at). Bangsa hanebut tinggal di daerah berkabut sehingga cahaya mataharipun tak mampu menembus, seperti di Cimmeria. Sedangkan perihal PUNT dan AMENTI, orang Mesir mengaku bahwa tempat itu benar ada dan dapat dikunjungi (dan mereka sering kesana pula). Daerah HANEBUT atau bangsa PUNT yang sebagaimana orang Gerzean, menyerang dan menguasai MESIR HULU di zaman pra-Dinasti dan akhirnya dapat diusir setelah Mesir disatukan oleh raja MENES, yang orang Yunani. Bukan mengada-ada kalau perang besar ini mirip yang digambarkan Plato
dalam Perang Atlantis, saat orang Mesir dan Yunani bersatu mengusir penyerang Atlantis. • Bangsa-bangsa kuno lain menyebut-nyebut tentang bangsa dan Negeri Berkabut akibat asap gunung berapi yang meletus. Orang POLINESIA bicara tentang HAWAIKI, pulau besar atau benua di sebelah barat, melampaui Samudera Pasifik. HAWAIKI adalah tanah air mereka yang hancur, INDONESIA, terpuruk, padahal sebelumnya adalah FIRDAUS dunia. Kataklisme gunung berapi menyulap daratannya, tenggelam ke dasar lautan, meninggalkan asap dan kabut. Hancurnya HAWAIKI bertepatan dengan usainya perang besar, sebagaimana dialami Atlantis. • Sisa-sisa Hawaiki, FIRDAUS POLINESIA, hanyalah puing dan asap kabut, dan tenggelam, menjadi bak NERAKA, seperti halnya ditutur-tuliskan dalam legenda-legenda Yunani dll. Di barat, Firdaus ada di Timur, sedangkan di Polinesia Lautan Teduh, Timur Jauh dan Oseania, letak Firdaus
ada di sebelah Barat. Jadi, tradisi universal menyatakan dengan gamblang bahwa FIRDAUS dan sisa-sisa NERAKA darinya, tak lain tak bukan adalah INDONESIA kini. Indonesia Nusantara itulah PUSAR DUNIA (udel, navel). Orang INDIAN Amerika, yang bermukim di tengah-tengah, bingung dibuatnya : FIRDAUS itu di barat atau di timur (yang pasti bukan di tengah gurun). Yang di pantai Pasifik menunjuk arah barat, yang di tepi Atlantik menunjuk timur. Namun semua menunjuk : INDONESIA itu letaknya. • Bangsa ROMA (lebih tepat leluhur mereka, bangsa ETRUSCAN) juga memiliki hikayat asal-usul leluhur karuhun yang di benua tenggelam segera setelah perang besar berakhir. Dipimpin oleh AENEA mereka melarikan diri dengan kapal-kapal dari daerah diluar PILAR HERCULES. Aenea datang ke tanah Terjanji di Roma, dari daerah antah-berantah TROYA, di Lautan Pinggir. Juga dikisahkan mereka berasal dari gunung IDA, Firdaus
primordial orang Yunani dan Romawi, yang serupa pula dengan tradisi EDEN orang Yuda-Kristiani. • Letak TROYA sebenarnya sama sekali bukan di Turki sebagaimana terkadang diucapkan para arkeolog. Troya itu diluar Samudera (Hindia) sebagaimana berbagai tulisan Homerus, Virgilus dsb. Troya di seberang lautan, artinya bukan halnya Hissarlik. Lagi pula, Troya adalah metropolis dengan dinding-dinding kota metalik dan besar-besar, bukan kampung kecil kumuh macam yang diketemukan Schliemann di Turki. Juga, Troya Homerus, sebagaimana Aenea namun bertentangan dengan Hissarlik, ada di pesisir, sebuah bandar pelabuhan besar, yang dikunjungi pula oleh orang-orang Yunani. Troya yang sebenarnya sudah tenggelam di dasar lautan, bukan diatas tanah apalagi di kampung pelosok Turki. • Hal serupa dalam hal kisah SICILIA itu, tempat beranjak Aenea kedua kalinya. Sicilia disitu bukanlah Sicilia kota yang kita kenal
kini. Sicilia yang asli adalah THRINACIA di Laut Luar yang disinggahi Oddysseus, Argonaut dan para pahlawan purba lainnya. Nama itu berarti Trident, Triwaja (tiga gigi) yang melukiskan tiga gunung di Lanka (Gunung Trikuta), bukan kota Sicilia yang berbentuk segitiga. Kurang pintarlah Virgilus yang mengatakan bahwa Aenea berangkat dari Sicilia dan mengarungi lautan berangkat ke Roma. Bukankah Sicilia ke Roma hanya beberapa kilometer jaraknya ? Atau kita yang sesungguhnya keliru tafsir selama ini. • Legenda THRINACIA ini dibawa orang Yunani dan Roma ke Sicilia. Akibatnya kacau pemahamannya......bukan ?
Beberapa gelintir kalangan, diantaranya Alumni Kebumian Keindustrian Konstruksi dll dari ITB Bandung, saat ini telah dan sedang terus berjuang menjelajah pula, melakukan kegiatan terkait sejarah Peradaban Manusia, utamanya yang berpangkal Sundaland Nusantara INDONESIA. Sementara sebagian lainnya,
seraya mulai menggeluti dan mendalami PERTANIAN sampai ENTROPI. BerVISI, berMISI, kemanusiaan, dikobari semangat merdeka GANESH sejati tercerahi adanya. Bukan sekadar bermental jongos sudra sampai polprak juragan trader waisya atau omdo paria yang lumayan destruktif menjilat-jilat calon korban belaka... (reportase sudah ke Kompas dsb tetapi ngabar...weleh) Bagaimana pula selanjutnya ?
(BERSAMBUNG)
Catatan : kabar terkini -- Prof. Arysio SANTOS yang aslinya ilmuwan fisika nuklir, namun akhirnya ilmuwan top tentang ATLANTIS, telah wafat tahun ini, dan kajiannya dilanjutkan oleh Roberto anaknya. Manusia berziarah peradaban, Alpha Omega, Ha-Nga, satuhu. Tulisan ini saduran parsial dari tulisan Prof.Santos. cc Pieter Zwitser et al.(how are you?) ANDA SUDAH MEMBACA BUAH KARYA PARA SOBAT PERSON ALUMNI ITB BERIKUT ? : (1) POKOK-POKOK PIKIRAN,
MENUJU MASYARAKAT BERBUDI LUHUR (versi Kearifan Lokal Indonesia),2009(alumnus FTI) (2) TURANGGA SETA (DILENGKAPI PEMBAGIAN ZAMAN PERADABAN MANUSIA, VERSI NUSANTARA), 2008 (alumnus Fak. Kebumian ITB) (3) Dll. (4) Cari dapatkan dan baca : buku Prof. SANTOS, ATLANTIS Sayang terjemahan belum ada, penerbit lokal nyenyak molor.
Tidak baik dan sama sekali bukan bijak, cenderung absurd, bila hanya merujuk pada teman alumni ITB yang "sukses duniawi temporer" di birokrasi, politik kekuasaan, dagang, pabrik dsb. Jiwa GANESHA bukan memilih-memilah, namun mencerahi ke segala segi kehidupan. Berkacamata kuda profesi yang dekaden hanya akan membingkiskan perangai dan sikap jongos aneka bentuk. Patut dikasihani bila begitu.
Kontak mudah bagi alumni ITB seminat misalnya lewat sms : (+62)(0) 816 1990 432, 0888 1578 874, 0816 933 118 dll.
TIP : Ngelem tak identik memuji/apresiasi hati.
kami melayani kebutuhan imajinatif edukatif anak-cucu anda : KISAH-KISAH DARI DUNIA WAYANG YAYASAN PUSTAKA NUSATAMA Jalan Sawit
21 Sawitsari, Yogyakarta 55283, telp.0274-885471, 882959 eMail : ypn-ykt@...
----- Forwarded Message ---- Subject: Fwd: memunculkan wayang Kosasih dkk : BSet YBD et al ? --- In ITB_:
RAKSASA JANGAN SAKITI RAKYATMU...(ingat wayang BSet-JBD) ..... Gatutkaca melihat dari kejauhan, tampak seorang tua dikejar oleh dua raksasa. Gatutkaca segera menukik turun di hadapan kedua raksasa itu. Berhenti, jangan sakiti pak tua ini! tegur Gatutkaca..... ...sesampainya di rumah, pak tua tersebut menceritakan
apa yang terjadi di desa tempat pak tua itu tinggal. Pak tua itu menceritakan bahwa semua perkebunan di desa itu direbut oleh Raja raksasa Baureksa, ia menempatkan penjaga di wilayah perkebunan tersebut. Pak tua terpaksa mengambil buah dari perkebunan karena tidak mempunyai makanan bagi keluarganya. Jadi perkebunan di desa ini direbut oleh Raja Baureksa ? timpal Gatutkaca. Ya tuan, tolonglah penduduk desa ini, pinta pak tua. ...sementara itu di kerajaan Baureksa, raja raksasa hidup dalam kelimpahan. Hari itu kerajaan sedang mengadakan pesta pora, para pejabat kerajaan dan prajurit berpesta dengan makanan dan minuman berlimpah... ...Siapa kamu, berani mengganggu pestaku ?! Aku Gatutkaca, dari Pringgodani, hai Raja Baureksa. Kamu telah menyengsarakan rakyat, kembalikanlah tanah perkebunan rakyat yang kamu rebut! tukas Gatutkaca.... Baik. Aku tantang engkau bertanding. Jika kamu menang, tanah kepunyaan rakyat aku kembalikan. Jika kamu
kalah, kau harus menjadi budakku!.... (maka terjadilah perang tanding) Baiklah aku menyerah. Aku akan mengembalikan tanah rakyat desa, janji Raja Baureksa. Kamu juga harus bersikap adil terhadap rakyatmu, tambah Gatutkaca..... ...Satu minggu kemudian Gatutkaca datang melihat keadaan di desa tempat tinggal pak tua. Tampak para petani sudah kembali bekerja di kebunnya masing-masing. Raja Baureksa juga hadir disitu membagikan uang dan makanan. Melihat kedatangan Gatutkaca, Raja Baureksa menyambut gembira. Terimakasih Gatutkaca, kamu mengajariku untuk memperhatikan rakyatku, ucap Raja Baureksa. Ya, sebagai pemimpin, kita harus mempedulikan nasib rakyat, kata Gatutkaca.... ------------------ Dari : Sariwasta, RADEN ARJUNA YANG RENDAH HATI, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta, 2004
Membolak-balik buku begini, jadi ingat betapa gencar diskusi saat itu tentang WAYANG (Kosasih dll.) koleksi Bambang Setiawan, Yosef
Dwiyono dll. Masih segar di memori, ya ? Masyarakat kini KEHAUSAN buku-buku WAYANG pembina watak dan moral ksatria-brahmana. Bagus juga kalau koleksi kuno, yang sudah lewat masa hak cipta, disadur dan edit, rombak ulang, lalu disebarkan ke masyarakat, syukur menjadi bagian dari kegiatan ITB_ dalam memperhatikan dan berbuat bagi pendidikan watak dan moral bangsa, ya ? Mumpung masih ada waktu kita semua. Mari kita dukung bersama, karena jiwa Ganesha niscaya merasuki segenap segi kehidupan masyarakat. Jangan sampai alumni ITB disangka hanya yang komplotan birokrat politisi nyonyor itu.
Salam Ganesh. Bila mau Gramedia GPU : greti@... GWI : ybs@...
lain lagi : kami melayani kebutuhan imajinatif edukatif anak-cucu anda:
KISAH-KISAH DARI DUNIA WAYANG YAYASAN PUSTAKA NUSATAMA Jalan Sawit 21 Sawitsari, Yogyakarta 55283, telp.0274-885471, 882959 eMail : ypn-ykt@...
kami menerima naskah bacaan/komik anak-anak bernafas kearifan budaya lokal INDONESIA menulis buku pustaka bagi bangsa adalah komitmen komunikasi sosial yang didambakan
Sudah berhari-hari televisi dan pers Indonesia dibanjiri oleh berita atau tulisan-tulisan yang mencerminkan bahwa negeri kita memang sedang dirundung berbagai masalah yang parah, dan rumit, dan penuh misteri atau rekayasa yang berlatar belakang korupsi besar-besaran dalam kasus KPK dan Bank Century. Selain itujuga banyak diberitakancerita menyedihkan tentang hukuman bagi bu Minah yang mencuri 3 kakao, atau pencurian satu semangka (di Kediri) yang diancam hukuman 5 tahun,dan pemenjaraankeluarga miskin (di Jawa Tengah) karena mencuri dua kilo kapas.
Banyak orang juga telah dibikin marah atau trenyuh olehpemandangan yang memilukan hati di layar televisi tentang banyaknya orang-orang yang berdesak-desakan sampai ada yang terinjak-injak dan jatuh pingsan ketika antri untuk mendapat pembagian daging kurban di Mabes Polri atau di mesjid besar Istiqlal. Semuanya inimenambah lagi banyaknya indikasi atau bukti bahwa negeri kita memang betul-betul sedang sakit parah akibat kebejatan moral kalangan elitnya
Tetapi, di samping itu ada juga banyak indikasi lainnya, yang menunjukkan bahwa negeri kita sedang bergolak dengan penuh gejolak besar oleh banyaknya aksi-aksi di banyak kota dan daerah, oleh perlawanan dan perjuangan berbagai kalangan di masyarakat luas, untuk mendesak dibongkarnya skandal besar Bank Century dan tuntutan dihukumnya Anggodo dan pejabat-pekjabat tinggi yang korup.
Menyangkut lapisan atas negeri kita
Ini semua adalah perkembangan situasi yang sangat menggembirakan. Sebab, gemuruhnya gerakan yang diadakan secara luas sekarang ini merupakan pertanda bahwa banyak kalangan rakyat tidak relanegeri inidirusak terusoleh bedebah-bedebah yang terdiri dari pejabat-pejabat tinggi yang tersangkut dengan kasus kriminalisasi KPK atau perampokan Bank Century secara besar-besaran sebanyak Rp 6,7 triliun, dan kejahatan-kejahatan lainnya oleh para mafia hukum, mafia peradilan, mafia kekuasaan, mafia ekonomi, mafia pengacara dan mafia markus.
Hiruk-pikuk kasus kriminalisasi KPK (Bibit-Chandra) mulai kelihatan mengendor dengan dihentikannya pengajuan perkara ini ke pengadilan, yang diumumkan hari Selasa tanggal 1 Desember 2009 ini. Sudah tentu, berita tentang dibebaskannya Bibit-Chandra dari tuduhan menerima suap atau memeras Anggoro telah diterima dengan gembira dan kelegaan oleh banyak kalangan.
Tetapi sebenarnya masih banyak persoalan yang sama sekali belum selesai. Karena, bagaimanapun juga, persoalan KPK (Bibit-Chandra) ada kaitannya dengan skandal raksasa berupa perampokan besar-besaran Bank Century, yang diduga menyangkut pertanggungan jawab banyak pejabat-pejabat tertinggi di negeri kita (antara lain Wakil Presiden Budiono, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan bahkan ada desas-desus bahwa mungkin termasuk juga presiden SBY sendiri).
Seperti yang kita saksikan bersama, persoalan kasus perampokan Bank Century sebesarRp 6,7 triliun sekarang ini sudah menjadi heboh besar di banyak kalangan masyarakat luas, dan juga di lapisan atas bidang eksekutif, legislatif, yudikatif negeri kita.Bisalah kiranya dikatakan bahwa heboh besar ini sudah menggoncang negeri kita, lebih hebat dari pada banyak goncangan-goncangan sebelumnya, walaupun tidak sehebat peristiwa G30S yang memungkinkan jenderal Suharto akhirnya mengkhianati dan meggulingkan Bung Karno, atau peristiwa 1998 yang menyebabkan turunnnya Suharto dari kekuasaannya.
Munculnyahak angket DPR
Hebatnya heboh sekitar Bank Century ini, yang sudah menyulut kegeraman ataumengobarkan kemarahan kalangan muda di seluruh negeri, danmenimbulkan kemuakan di kalangan intelektual, serta menimbulkan berbagai reaksi di kalanganpartai-partai politik, menjadi lebih heboh lagi di DPR dengan munculnya soal hak angket DPR untuk menyelidiki kasus Bank Century, yang mulai dibicarakan tanggal 1 Desember ini.
Tanpa menaruh harapan (atau ilusi) yang terlalu besar terhadap keberhasilan DPR dalam menjalankan hak angket mengenai Bank Century -- berdasarkan kegagalan-kegagalan yang sudah dihadapi berkali-kali oleh DPR di masa-masa yang lalu kita perlu bersama-sama seluruh kekuatan demokratis di negeri ini untuk mendorong, dan mengawasi atau mengawal supaya upaya-upaya (dari fihak manapun juga !)untukmenggagalkan hak angket ini, atau memacetkannya, dengan berbagai rekayasa atau manuvre, tidak akan berhasil.
Kita sudah bisa meramalkan bahwa masalah hak angket DPR soal Bank Century akan makan waktu berbulan-bulan (paling sedikit 3 bulan) untuk diselesaikan, dan itu pun kalau berjalan mulus dan tanpa halangan atau sabotase. Sebab, walaupun ada berita-berita bahwa usul hak angket ini sekarang (sebelum tanggal 1 Desember) sudah disetujui oleh semua partai di DPR, tetapi masih bisa saja terjadi surprise-surprise yang baru. Maklum, persoalan Bank Century ini menyangkut persoalan penggelapan atau perampokan dana yang besar sekali (Rp 6,7 triliun), dan melibatkan banyak orang-orang penting di berbagai bidang.
Karena adanya kemungkinan-kemungkinan bahwa pembongkaran kasus Bank Century ini akan dihalang-halangi atau dipersulit oleh oknum-oknum korup yang bersekongkol denganmafia hukum, mafia peradilan, mafia kekuasaan, mafia ekonomi, maka aksi-aksi massa atau gerakan rakyat untuk memberantas korupsi yang sudah marak dimana-mana akhir-akhir ini perlu didukung bersama-sama atau didorong terus supaya lebih berkembang lebih luas dan lebih menggelora lagi.
Kesedaran politik rakyat makin meninggi
Adalah gejala-gejala yang sangat menggembirakan dengan adanya aksi-aksi yang diadakan oleh KOMPAK (Komisi Masyarakat Sipil Antikorupsi) di Bunderan Hotel Indonesia, dan aksi berkemah dan mogok makan oleh kalangan mahasiswa/pemuda di pelataran gedung KPK selama hampir sebulan, serta demo-demo yang digelar di Bandung, Jogya, Solo, Makassar, Padang, Medan, Palangkaraya, dan berbagaikota lainnya.
Televisi sering menyiarkan tayangan aksi-aksi kalangan muda ibukota di depan Istana, gedung DPR, gedung PPATK dll. Yang juga merupakan perkembangan yang penting dan menarik adalahterjunnya HMI dan PMII dalam berbagai aksi ini, dan pernyataan Din Syamsudin, Syafii Maarifdan Amien Rais (tokoh-tokoh Muhammadiah) yang mendukung aksi-aksi mengenai Bank Century . Semua aksi atau berbagai kegiatan masyarakat luas ini merupakan gerakan extra-parlementer yang sangat penting yang akan ikut mengawasi jalannya hak angket DPR.
Patut diamati bersama bahwa berbagai siaran televisi (terutama Metro TV dan TV One) tiap hari menyajikan berita, reportase, perdebatan, interview tentang persoalan kriminalisasi KPK (Biibit-Chandra) dan Bank Century. Itu semua merupakan pendidikan politik yang sangat penting dan besar tiap harinya bagi puluhan juta orang di seluruh Indonesia. Dari banyaknya partisipasi para pemirsa televisi dalam berbagai siaran mengenai masalah-masalah politik tercerminlah ukuran betapa tingginya kesedaran politik banyak pemirsa dewasa ini. Ini merupakan perkembangan penting yang sangat menggembirakan, yang menunjukkan bahwa banyak orang sudah tidak seperti di jaman Orde Baru lagi, dan berani mengemukakan fikiran mereka secara bebas dan berani.
Dengan mengamati berkembangnya gerakan berbagai kalangan masyarakat sekitar heboh besar tentang kasus kriminalisasi KPK dan kasus perampokan Bank Century, maka nyatalah bahwa situasi sekarang ini sudah makin tidak menguntungkan lagi bagi sisa-sisa kekuatan politik yang pro-Orde Barunya Suharto. Dengan kalimat lain, bolehlah kiranya dikatakan bahwa perkembangan persoalan kriminalisasi KPK dan perampokan Bank Century menunjukkan bahwa angin tidak menguntungkan lagi kubu golongan pendukung pola berfikir Suharto lagi.
Jalan Orde Baru adalah jalan buntu
Sebab, makin banyak orang yang melihat bahwa kekisruhan di berbagai bidang yang bersumber dari kerusakan moral yang sama-sama kita saksikansekarang ini, adalah akibat ulah dari orang-orang atau oknum-oknum yang pada dasarnya (dan pada umumnya)menganut politik atau pola berfikir yang dianut oleh para pendukung Orde Baru, yang anti rakyat, yang anti Bung Karno atau anti kiri. Di antara mereka ini masih banyak yang terus menganggap Suharto adalah pemimpin yang patut dihormati, dan yang juga masih terus anti Bung Karno dan anti ajaran-ajaran revolusionernya.
Kiranya, patutlah kita amati bahwa dengan adanya korupsi besar-besaran dan kerusakan moralkalangan elite yang meluas, yang hanya sebagian kecilnya saja telah dan sedang dipertontonkan oleh heboh Polri-Kejaksaan-KPK dan oleh kasus Bank Century, maka berbagai kalangan mulai mempertanyakan kemampuan dan keabsahan pemerintahan SBY-Budiono untuk bisa membawa negeri kita ini ke arah perbaikan fundamental yang betul-betul mementingkan kepentingan rakyat banyak.
Sebab, politik yang dianut oleh pemerintahan SBY-Budiono pada dasarnya adalah pro-neoliberal dan anti-rakyat yangterlalu menguntungkan kaum koruptor atau elite yang tidak bermoral. Kalau politik yang demikian ini terus ditempuh pemerintahan SBY-Budiono maka merupakan jalan sesat yang akan mencelakakan negara danbangsa. Dan perkembangan situasi di Indonesia di kemudian hari akan membuktikan bahwa jalan yang ditempuh dengan arah yang demikian itu adalah jalan buntu bagi cita-cita masyarakat adil dan makmur, seperti buntunya jalan yang ditempuh Orde Baru selama puluhan tahun.
Kekosongan pimpinan nasional yang seperti Bung Karno
Dalam situasi yang demikian ini, makin kelihatan jelasbagi banyak orang bahwa bangsa kita memerlukan adanya pimpinan yang bisa membawa negeri kita ke arah yang benar-benar pro rakyat banyak, yang anti-neoliberalisme, yang bisa mendorong rakyat seluruh negeri untuk bersama-sama berjuang menciptakan masyarakat adil dan makmur, seperti yang dicita-citakan oleh Bung Karno beserta para pendukungnya.
Kekosongan adanya pimpinan nasional yang betul-betul pro-rakyat ini tidak hanya terasa sekarang saja, melainkan sejak digulingkannya-- secara khianat !!! -- presiden Sukarno oleh jenderal Suharto. Jelas sekalilah bagi banyak kalangan dan golongan di Indonesia bahwa tidak ada satu pun tokoh Indonesia yang bisa menjadi pemimpin yang kewibawaan politik dan moralnya seagung Bung Karno.
Bung Karno merupakan sumber inspirasi besar bagi semua orang yang mau sungguh-sungguh berjuang untuk kepentingan rakyat banyak. Bung Karno adalah satu-satunya pemimpin bangsa yang telah menjadi pedoman moral (moral guidance) bagi banyak kalangan dan golongan. Bung Karno adalah tokoh agung satu-satunya yang telah menciptakan pedoman politik dan pedoman perjuangan yang bisa mempersatukan seluruh bangsa (ingat, antara lain : Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Mesjid Istiqlal, Monas, Berdikari, Di bawah Bendera Revolusi, Revolusi Belum Selesai, dll dll dll).
Mengingat itu semuanya, kiranya kita bisa melihat bahwa persoalan besar mengenai KPK dan Bank Century telah membuka mata dan fikiran banyak orang bahwa rakyat atau bangsa kita sudah harus membuangjauh-jauh sekali ilusi terhadapsistem politik yang selama ini sudah ditrapkan sejak jaman Orde Baru dan yang juga terbukti sekarang gagal dalam banyak bidang.
Artinya, kita bisa juga melihat bahwa kebejatan moral atau kerusakan akhlak yang dipertontonkan sejak lama sampai sekarang (dengan kasus KPK dan Bank Century) ini merupakan cambuk bagi seluruh kekuatan demokratis dalam masyarakat tidak peduli dari golongan atau aliran politik yang mana pun juga ! -- untuk menyokong berkembangnya gerakan ekstra-parlementer dalam membela kepentingan rakyat, terutama rakyat miskin. Gerakan extra-parlementer yang luas dan kuat adalah senjata sekaligus pelindung bagi perjuangan rakyat, ketika dari DPR, dari DPD, dari pemerintah, dan dari partai-partai politik, sudah tidak bisa diharapkan lagi adanya tindakan-tindakan yang sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan rakyat banyak.
Gerakan extra-parlementer untuk perubahan besar
Gerakan extra-parlementer yang dewasa ini kelihatan mulai muncul dimana-mana adalah investasi penting untuk munculnya di kemudian hari kekuatan politik yang bisa mendorong terjadinya perubahan-perubahan fundamental bagi kepentingan rakyat banyak di negeri kita yang berpenduduk lebih dari 230 juta ini. Perubahan besar dan fundamental tidak bisa lagi diharapkan, atau tidak boleh terus-menerus digantungkan, dari kekuatan-kekuatan politik yang selama 32 tahun (dan juga sesudahnya) sudah terbukti membikin rusaknya bangsa dan negara kita.
Dan, ikut sertanya secara aktif dan secara besar-besaran generasi muda kita dalam berbagai macam gerakan extra parlementer di seluruh negeri dewasa inimenimbulkan harapan bahwa hari kemudiannegara dan bangsa kita akan ada di tangan orang-orang yang tidak bermental korup, atau berakhlak bejat atau bermoral busuk, seperti yang kita saksikan sekarang di kalangan DPR dan di kalangan aparat negara atau badan-badan pemerintahan kita, termasuk di kalangan pemuka-pemuka masyarakat.
Berbagai macam aksi dan kegiatan yang dilancarkan oleh kalangan muda di seluruh negeri dewasa ini merupakan darah segar bagi kehidupan bangsa kita, yang sudah terlalu lama diracuni atau dibikin busuk oleh Orde Baru beserta para pendukung setianya. Gerakan yang meluas oleh kalangan muda dewasa ini merupakan pertanda penting yang menunjukkan adanya perpecahan antara generasi muda dengan partai-partai politik, dan juga mencerminkan ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintahan SBY. Kelihatannya, generasimuda kita mulai melihat lebih jelas bahwa jalan yang harus mereka tempuh untuk menyongsong hari kemudian bangsa bukanlah jalan buntu (jalan mati) yang sudah ditempuh oleh Suharto beserta pendukung-pendukungnya,
Dan, rupanya, kasus skandal raksasa Bank Century (dan heboh soal KPK) telah mempertinggi kesadaran politik tidak saja kalangan generasi muda kita, melainkan juga sebagian besar rakyat kita.
Sungguh, ini semua adalah perkembangan situasi yang menggembirakan kita semua !
Simak Press Release dan Kajian Lengkap ICW serta Ringkasan Hasil Audit
BPK
(Press Release
ICW – Kasus Bank Century : Berdasarkan Hasil Audit BPK – 20 November 2009)
Petikan Bagian Kesimpulan :
1) Kasus Bank Century menyangkut kisah yang panjang sejak penggabungan (merger)
3 buah Bank yang terjadi sejak tahun 2001.
2) Kasus Bank Century
menunjukan lemahnya pengawasan terhadap perbankan yang dilakukan oleh Bank
Indonesia.
3) Terdapat indikasi kuat kecerobohan di balik keputusan pengucuran dana FPJP
sejak November 2008, yang berlanjut dengan pengucuran dana oleh LPS berdasarkan
keputusan KSSK dengan total Rp 6,762 triliun.
4) Terdapat indikasi kuat korupsi terkait pengucuran dana ini karena diputuskan
dengan dasar hukum yang lemah, terkesan dikondisikan sedemikian rupa, baik di
dalam perubahan Peraturan BI (PBI) maupun terkait dikeluarkannya Peraturan
Pemerintah Pengganti UU (Perpu) No. 4 tahun 2008 Jaring Pengaman Sektor
Keuangan (JPSK) yang melegitimasi KSSK yang pada saat yang sama belum
mendapatkan persetujuan DPR RI.
5) Dalam kasus Bank Century, LPS terancam rugi dan uang pemerintah serta dana
yang dikumpulkan dari nasabah terancam hilang dan justru dipergunakan untuk
menyubsidi para deposan Bank Century. Hal ini sudah barang tentu menimbulkan
ketidakadilan karena kebijakan pemerintah terkesan lebih menguntungkan
segelintir orang kaya.
6) Transparansi tentang informasi nasabah juga sangat penting karena praktek
korupsi diduga telah terjadi dalam kasus pencairan dana nasabah. Beberapa waktu
lalu, seorang petinggi Mabes Polri diduga terlibat kasus korupsi. Oleh karena
itu sudah ada indikasi awal terjadinya tindak pidana korupsi dalam pencairan
dana deposan Bank Century. Oleh karena itu, KPK harus didorong untuk berani
mengungkap dugaan korupsi di Bank Century.
7) Pelibatan polisi di dalam memproses kasus ini harus ditolak karena
mengandung konflik kepentingan. Hal ini juga untuk menghindari terjadinya
pengalaman yang sama dengan kasus BLBI yang banyak mandeg di tengah jalan
ketika kepada polisi, jaksa dan pengadilan umum.
8) KPK dan PPATK harus segera
bergerak untuk mendorong penuntasan kasus ini.
Kajian Lengkap ICW Terhadap Hasil Audit BPK Terhadap Kasus Bank Century
Public Accountability Review – Kasus Bank Century : SKEMA INDIKASI KORUPSI
KASUS BANK CENTURY1 (Berdasarkan Hasil Audit BPK – 20 November 2009)
Diantaranya mencakup : Skema Status Bank Century, Daftar Pelanggaran Terkait
Proses Penggabungan 3 Bank. Kronologi di Balik Kebijakan FPJP (Penyaluran
Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek), Perubahan PBI tentang FPJP untuk Bank Umum,
SKEMA ALIRAN FPJP, Indikasi Pelanggaran dan Penyalahgunaan Wewenang, SKEMA
ALIRAN FPJP dan PMS (Penyaluran Penyertaan Modal Sementara)
44 nama, 44 pribadi pembawa rahmat bagi dunia: 1. Yang terkasih Baginda Rasul Muhammad (bin 'Abdullah) saw. 2. Sayyidah Fatimah az-Zahra menikah dengan Sayyidina 'Ali 3. Sayyidina Hussayn bin 'Ali bin Abi Thalib 4. Sayyidina 'Ali Zayn-ul 'Abidin, dimakamkan di Madinah 5. Sayyidina Muhammad al-Baqir, dimakamkan di Madinah al-Munawwaroh 6. Sayyidina Ja'far as-Shadiq, dimakamkan di Madinah al-Munawwaroh 7. Sayyidina 'Ali al-'Uraidhi, dimakamkan di kota 'Uraidh, Madinah 8. Maulana Sayyid Muhammad
an-Naqib, dimakamkan di Basrah, Iraq 9. Maulana Sayyid 'Isa ar-Rumi, dimakamkan di Basrah 10. Maulana Sayyid Ahmad al-Muhajir, dimakamkan di Husaysah, Hadhramawt 11. Maulana Sayyid 'Abdullah 'Ubaydillah di Hadhramawt,
Yaman 12. Maulana Sayyid 'Alwi (al-'Awali al-Awwal), Sahal 13. Maulana Sayyid Muhammad Sahibus Saumiah, Bayt Jubayr 14. Maulana Sayyid 'Alawi at-Tsani, dimakamkan di Bayt Jubayr 15. Maulana Sayyid 'Ali Khali'Qasam, dimakamkan di Tarim 16. Maulana Sayyid Muhammad Shahib Mirbath di Zhufar 17. Maulana Sayyid 'Alawi Ammu al-Faqih di Tarim, Hadhramawt 18. Maulana Sayyid Malik al-Azhmat Khan di Nashrabad 19. Maulana Sayyid 'Abdullah, dimakamkan di Nashrabad, Delhi (kini India) 20. Maulana Sayyid Ahmad Jalal'uddin Syah al-Khan di Nashrabad 21. Maulana Sayyid Husain Jum'adil Kubro dimakamkan di Bugis 21.1 Maulana Sayyid Ibrahim Jum'adil Kubro dimakamkan di Wajo, Bugis 21.1.1 Maulana Sayyid Ishaq bin Sayyid Ibrahim Jum'adil Kubro 21.1.1.1 Maulana Sayyid Raden