Apakah 'pikiran/berpikir' itu?
Pandangan modern:
Encyclopaedia Britannica: "Thought (thinking) is a covert, symbolic
RESPONSE to external and internal STIMULI."
("Pikiran (berpikir) adalah TANGGAPAN yang bersifat tertutup dan simbolik
terhadap RANGSANGAN dari luar dan dari dalam."
Ini jelas sesuai dengan ajaran Buddha.
Ajaran Sang Buddha:
HANYA di dalam Mulapariyaya-sutta (Majjhima Nikaya, 1), Sang Buddha
menjelaskan proses terjadinya pikiran dalam batin (A) seorang biasa
(puthujjana), (B) seorang yang sedang berlatih (sekha), dan (C) seorang
arahat/buddha.
(A) Pada seorang puthujjana, pikiran muncul melalui 6 tahap:
(1) 'sanjanati' (persepsi) = ada RANGSANGAN (apa saja(*)) muncul dalam
batin - ini masih belum pikiran/berpikir;
'
(2 - 5): 'mannati' = (konseptualisasi, berpikir, pikiran) sebagai
TANGGAPAN terhadap #1; di dalam 'mannati' muncul subjek (atta), yang
kemudian berhadapan dengan objek & membentuk relasi dengan objek;
(6) 'abhinandati' = ("bersenang hati"), emosi yang mengikuti #5.
(*) Proses (1-6) ini terjadi bila ada rangsangan APA SAJA: melalui kelima
pancaindra maupun ingatan (batin), yang konkrit maupun abstrak.
(B) Kepada seorang yang sedang berlatih (sekha), Sang Buddha menganjurkan
agar proses batin hanya berhenti sampai #1 ('abhijanati' - persepsi murni)
saja, dan tidak berlanjut menjadi #2 ... dst. Dengan kata lain, Sang
Buddha menganjurkan kepada orang yang sedang berlatih agar waspada
terhadap timbulnya konseptualisasi alias pikiran.
(C) Sang Buddha menyatakan bahwa dalam batin seorang arahat/buddha TIDAK
ADA LAGI 'mannati' (konseptualisasi, pikiran, berpikir); semua rangsangan
yang masuk ke dalam kesadaran berhenti sampai #1 ('abhijanati', persepsi
murni) saja.
Apakah seorang arahat/buddha tidak berpikir? - Dalam Mulapariyaya-sutta
itu Sang Buddha menyatakan dengan tegas, bahwa seorang arahat/buddha tidak
lagi berpikir sebagaimana seorang puthujjana berpikir, yakni melalui
konseptualisasi yang sekaligus menciptakan subjek/aku/diri/atta.
Lalu, bagaimana Sang Buddha dan para arahat bisa bicara, berkhotbah dsb? -
Di dalam ajaran Theravada, Sang Buddha menyatakan: "Ada SESUATU yang tidak
terlahirkan (ajatam), tidak tercipta (akatam), tak mewujud (abhutam), tak
terkondisi (asankhatam)." Inilah yang kemudian dalam ajaran Mahayana
berkembang menjadi 'batin Buddha' (Tathagata-garbha), dalam ajaran
Vajrayana menjadi 'rigpa' dsb. Inilah yang oleh Krishnamurti diberi
berbagai sifat: 'tak dikenal' (unknown), 'mahaluas' (immensity),
'intelligence' (kearifan), 'love' (cinta) (re: 'Mahaprajna-Karuna' dalam
Mahayana), 'berkah' (benediction), 'tanpa nama' (nameless), 'tak terukur'
(immeasurable), 'tanpa waktu' (timeless) dsb. - Jadi jelas, berhentinya
pikiran puthujjana bukan berarti seorang arahat/buddha mundur menjadi
tumbuhan.
Krishnamurti mengajarkan bahwa pikiran menciptakan aku/diri (Buddhis:
atta), dan ini adalah sumber konflik & penderitaan (Buddhis: dukkha).
Dengan demikian, lenyapnya penderitaan hanya bisa tercapai dengan
berhentinya pikiran beserta diri/aku.
Menurut hemat saya, ajaran Krishnamurti persis sama dengan ajaran Buddha
dalam Mulapariyaya-sutta, Bahiya-sutta & Malunkyaputta-sutta, yakni
'vipassana murni' (mengatasi segala doktrin, termasuk doktrin Buddhisme).
Sang Buddha sering kali berkata: "Para bhikkhu, aku hanya mengajarkan
DUKKHA dan LENYAPNYA`DUKKHA."
Sekadar info untuk Rekan Robert Wijaya, ikutilah Chat Minggu Malam
(28/06/09) tentang "Kesadaran, Pikiran, Ketakutan dll." di Forum Diskusi
MMD (Meditasi Mengenal Diri) pada URL di bawah ini.
Salam,
Hudoyo
Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org
Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com
--- In samaggiphala@yahoogroups.com, "robertwijaya38"
wrote:
>
> Sdr Sumedho yang baik,
> Terimakasih banyak atas pembetulannya. Kalau boleh saya coba perbaiki,
mohon
dibetulkan lagi kalau ada yang tidak sesuai.
>
> Mungkin masalahnya ada pada penjelasan istilah "diam/berhentinya pikiran".
Maksud diam/berhentinya pikiran tentulah bukan seperti mayat. Tidak ada
rasa, tidak ada lapar, haus, dll. Istilah dan kata selalu rancu karena
memang tidak bisa mendeskripsikan dengan tepat kenyataan, apalagi hal di
luar kenyataan sehari-hari seperti nibbana. Jadi perlu diselidiki untuk
diketahui maksudnya.
>
> Saya menangkap maksud Krishnamurti adalah padamnya atta/aku. Dan karena
atta/aku menciptakan subyek-obyek -> dualisme -> hubungan antar
subyek-obyek ->
kelekatan, maka bersama padamnya atta lepas pula subyek-obyek, dualisme,
hubungan antar subyek-obyek, dan kelekatan. Di sinilah pengalaman atas
kenyataan
yang baru muncul, karena selama ini kita tidak pernah berpikir dan
mengalami kenyataan di luar hubungannya dengan atta, subyek-obyek,
dualisme, kelekatan. Hal ini banyak dibahas di buku-buku Krishnamurti.
Ehipassiko tentunya tidak hanya untuk ajaran Buddha. Selama itu mengarah
kepada kelepasan...
>
> Mungkin mengapa istilahnya adalah padamnya pikiran, karena semua pikiran
pada
seorang putujjhana (orang biasa), *tidak ada yang tidak terkontaminasi
oleh atta/aku*. Maka adalah hal logis bahwa bagi seorang putujjhana yang
"belajar" untuk tercerahkan untuk "mendiamkan" pikiran. Yang pada
kenyataannya adalah sebuah cara untuk tidak tidak mengidentifikasi diri
atau melekat pada semua pikirannya yang pasti terkontaminasi atta.
Bukankah Buddha juga berkata, semua
produk pikiran adalah tipuan? Tentunya di sini maksudnya semua pikiran
putujjhana yang *pasti* terkontaminasi atta.
>
> Kesimpulan saya dari semua teknik meditasi Buddhis - Mahasi, Goenka, Pa
Auk,
Acahrn Mun, Ajahn Brahm, Shwe O Min (?) - pada dasarnya adalah pelepasan
pikiran
(yang pasti terkontaminasi atta). Pemusatan pikiran di tahap awal dan
tengah adalah seperti analogi menyapu semua sampah pikiran di satu titik
untuk sekaligus dibuang. Dengan kata lain "pikirannya padam". Saat semua
pikiran (yang
terkontaminasi atta) dibuang semua, terjadilah keadaan tanpa pikiran atau
lebih
tepatnya tanpa atta (anatta). Mengalami anatta sesekali atau berkali-kali,
pikiran lain yang muncul setelahnya dengan muatan atta akan dikenali
dengan baik
dan tergantung paraminya cepat atau lambat, atta itu punah. Sekali lagi
bukan tidak ada pikiran sama sekali secara harafiah.
>
> Semua pikiran dan gerak yang timbul lewat 6 indra yang ada pada si robot
hidup
ini, dilampaui oleh yang tercerahkan walaupun ia masih "tinggal" di dalam
badan
si robot. Yang tercerahkan (nibbana) tidak lagi menganggap dirinya si
robot ini
atau mengidentifikasi diri dengan apapun yang terjadi pada si robot. Si
robot tentunya tetap berfungsi lewat 6 indra, buang hajat kapan dan
dimana, isi baterai kapan dan dimana, muncul rasa nikmat/siksa saat kabel
sensor dirangsang
dll. Tapi semua nikmat/siksa hanya sampai situ saja, tidak ada reaksi
berantai,
karena tidak ada atta yang "menikmati/menderita" yang memicu reaksi
berantai. Tidak ada masalah saat si robot habis baterainya dan mati
(parinibbana).
>
> Analogi robot saya kira menarik. Misalnya sensor robot menyatakan baterai
hampir habis atau lapar. Pada keadaan atta, akan muncul ingatan makan apa
yang
enak yang diikuti sampai tuntas. Pada keadaan anatta, tidak ada pikiran
itu, penilaian enak-tidak enak adalah produk atta, moha dan dosa. Lalu
ngapain ikutan
ajaran Buddha, hambar sekali rasanya arahat itu ? Sayang sekali saya rasa
keadaan arahat tidak bisa dijelaskan dengan analogi apapun.
>
> "Di dalam keheningan itu ada keluasan rasa ruang dan keindahan serta enerji
luarbiasa. Sesudahnyalah hadir yang selamanya sakral, tanpa waktu, yang
bukan merupakan hasil dari peradaban, bukan hasil dari pikiran." - J.
Krishnamurti.
>
> Maksud saya sama sekali bukan membandingkan ajaran Krishnamurti dengan
ajaran
Sang Pelatih Tiada Banding. Saya cuma ingin menyampaikan bahwa dengan satu
atau
lain cara, ajaran Krishnamurti bisa berguna (bagi keadaan dan kondisi
putujjhana
tertentu) dalam mendalami dan memahami ajaran Sang Pelatih Tiada Banding.
>
> Mohon dikoreksi. Metta...
>
> --- In samaggiphala@yahoogroups.com, Sumedho Benny wrote:
> >
> > Pak Robert Wijaya yang baik,
> >
> > Nibbana bukanlah diam/berhentinya pikiran. Itu hanya "pembenaran"
ajaran Jiddu Krishnamurti melalui Buddhisme. Sang Buddha jelas2x
menjelaskan Nibbana adalah hilangnya
kebodohan/ketidaktahuan/ignorance/ moha
sehingga hilangnya kemelekatan yang merupakan "bensin"/penyebab dari
kelahiran
kembali. Seseorang yang sudah mencapai Nibbana masih lengkap panca
khanda-nya,
masih berpikir dan ada sensasi/vedana.
> >
> > Pelepasan total itu bukanlah padamnya pikiran.
> >
> > Sati,
> > Sumedho
==========================================
Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org
Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com