From: Institute Green Aceh <greenaceh.institute@...>
-----------------------
Tiga Kabupaten Banjir
* Ribuan Rumah Terendam
http://www.serambinews.com/news/tiga-kabupaten-banjir
CALANG - Hujan deras yang mengguyur Pidie Jaya (Pijay), Rabu (4/11)
sore, disusul hujan di Aceh Besar dan Aceh Jaya pada Kamis (5/11)
kemarin, menyebabkan beberapa kawasan di tiga kabupaten itu dilanda
banjir. Ribuan rumah terendam di Ulee Gle, Pijay, 300-an unit di Lhoong,
Aceh Besar, sedangkan di Aceh Jaya terjadi pula longsor yang menyebabkan
lintas Calang-Lamno lumpuh.
Cuaca yang tidak bersahabat juga menyebabkan Kapal Motor (KM) Putri
Meutuah yang sedang mencari ikan di perairan Kota Lhokseumawe tenggelam
diterjang badai, Kamis (5/11) subuh. Ke-32 awaknya selamat, namun
kerugian materiil mencapai Rp 1 miliar. Dari Aceh Jaya dilaporkan,
hubungan darat Calang-Lamno, Kamis sore hingga tadi malam lumpuh setelah
ruas jalan yang dibangun pada masa tanggap darurat pascatsunami di
Meudang Ghon, Kecamatan Jaya, itu dilanda banjir. Sebelumnya, wilayah
itu diguyur hujan lebat sejak dua hari lalu.
Banjir setinggi 80 cm itu menyebabkan puluhan mobil dari Banda Aceh ke
Calang terjebak di Lamno, karena tidak bisa melintasi genangan air.
Sebelumnya, mobil-mobil tersebut bisa melewati jalur alternatif
menggunakan rakit Lambeuso, di Kecamatan Jaya. Tapi, karena debit air di
sungai itu pun meninggi serta deras, awak rakit tak berani
mengoperasikannya. Alhasil, para pengemudi hanya bisa pasrah menunggu
air surut.
Kadis Pekerjaan Umum (PU) Aceh Jaya, Ir Nurman DS, yang menghubungi
Serambi tadi malam melaporkan, banjir itu menyebabkan ruas jalan Meudang
Ghon tak bisa dilalui. Ironisnya lagi, jalur alternatif melalui rakit
pun tak bisa dilewati. “Para awak mobil tertahan sejak pukul 17.00 WIB,”
jelas Nurman. Dua jam kemudian, pukul 19.00 WIB, Nurman melaporkan lagi
bahwa mobil dinas jenis double cabin yang dia tumpangi bersama sopir
tertimbun longsor di Gunung Babah Awe, Kecamatan Sampoiniet.
Mobil itu sedang dalam perjalanan pulang dari Lamno ke Calang. Tiba-tiba
tebing bukit longsor setinggi 10 meter di Babah Awe, Kecamatan
Sampoiniet. Longsoran tersebut menimbun mobilnya. “Alhamdulilah, saya
dan sopir berhasil lolos dari musibah saat bongkahan tanah menimpa mobil
saya,” kata Nurman.
Untuk mengevakuasi mobil dinasnya, Nurman meminta tolong kepada awak PT
Samgyong untuk menariknya. Perusahaan asal Korea itu memang mempunyai
alat berat, karena sedang mengerjakan jalan yang didanai USAID di tempat
yang tak jauh dari lokasi longsor tersebut. Menurutnya, banjir yang
melanda Meudang Ghon sering terjadi manakala turun hujan deras. Dia
berharap, pihak USAID bisa mendorong percepatan pembangunan jalan di
lintasan itu.
300 Rumah terendam
Dari Aceh Besar dilaporkan, sekitar 300 rumah di tiga desa dalam
Kemukiman Glee Bruek, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Kamis sore, terendam
banjir. Air yang tumpah ruah dari atas Gunung Geurutee itu membuat
ratusan warga di tiga desa yang terendam banjir, meliputi Desa Meunasah
Lhok, Gampong Pasi, dan Gampong Puding.
Info tentang banjir di Kecamatan Lhoong itu pertama kali diperoleh
Serambi dari Kepala Divisi Kajian dan Advokasi Kebijakan Publik Gerakan
Rakyat Antikorupsi (GeRAK) Aceh, Isra Safril, yang baru pulang dari
Meulaboh, ibu kota Aceh Barat. Menurut Isra, sore itu air tampak
mengucur deras dari atas Gunung Geurutee. Selain merendam rumah warga,
air juga masuk ke masjid serta sebuah sekolah dasar. “Kalau kita lihat
kondisi warga cukup memprihatinkan. Sebagian besar dari mereka
mengungsi. Sementara, bantuan belum juga sampai,” ujar Isra pukul 17.33
WIB kemarin.
Menurutnya, meski ada sebuah sungai di antara tiga desa itu, tapi debit
air yang begitu besar turun dari perbukitan itu, membuat sungai tersebut
tak mampu menampung. Akhirnya, air meluber ke rumah warga dan fasilitas
umum lainnya. Camat Lhoong, Drs Sabirin MD, mengakui ratusan rumah di
tiga desa dalam Kecamatan Lhoong, terendam banjir, kemarin. Menurutnya,
ketiga desa itu memang paling sering dilanda banjir. Sebab, rumah warga
di tiga desa itu umumnya dekat dengan kaki Gunung Geurutee. Tiap kali
turun hujan, air langsung mengucur dari bukit dan meluber ke rumah-rumah
penduduk.
Selain itu, ungkap Sabirin, selokan yang dibangun donatur di tiga desa
itu tak berfungsi dan tak terawat dengan baik. Dampaknya, setiap turun
hujan, air dari atas bukit tidak tertampung dan teraliri dengan baik.
Untuk menyikapi masalah itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas
Sosial dan Kesbang Linmas Aceh Besar.
Ulee Gle terparah
Sementara itu, hujan deras pada Rabu (4/11) petang menyebabkan sejumlah
sungai di Pidie Jaya (Piday) meluap, sehingga banjir. Yang terparah
justru di Ulee Gle, Kecamatan Bandardua. Di sini, selain ribuan rumah
dan tanaman, sejumlah ruas jalan juga digenangi banjir. Beberapa harta
benda penduduk juga ikut rusak.
Akibat meluapnya Krueng Jeulanga dan Krueng Ulim, belasan gampong
sepanjang daerah aliran sungai (DAS) di dua sungai itu terendam. Antara
lain, Alue Keutapang, Babah Krueng, Pohroh, Seunong, Blang Kuta, Alue
Me, Jeulanga Barat, Alue Sane, dan Gampong Drien Tujoh. Bahkan untuk
menuju Blang Kuta menjadi sangat sulit, karena di beberapa titik badan
jalan terendam banjir hingga 0,5 meter. Bupati Pijay, Drs HM Gade Salam,
didampingi beberapa kadis terkait, Kamis (5/11) pagi, turun ke lokasi
banjir. Hasil pantauan tim menyimpulkan, secara umum kerusakan masih
pada tingkat ringan. Namun begitu, bisa jadi jika kawasan itu kembali
diguyur hujan kondisinya akan berubah dan pemkab menyatakan tak akan
tinggal diam untuk membantu para korban.
Sejumlah warga Alue Keutapang yang ditemui Serambi menyebutkan,
permukiman mereka terendam akibat meluapnya Krueng Jeulanga. Untuk
menghindari korban jiwa, mereka terpaksa mengungsi ke tempat yang
dianggap aman, termasuk ke meunasah. Sejauh ini belum ada laporan
tentang korban jiwa, kecuali puluhan ayam dan itik dilaporkan mati dan
hanyut, serta beberapa jenis tanaman pertanian rusak.
Sulaiman (55), warga Alue Keutapang menyebutkan sekitar 100 rumah di
desanya dan sebagian Desa Babah Krueng digenangi banjir. Kondisi serupa
juga dialami ratusan warga Pohroh, Seunong, Blang Kuta, dan Desa Alue
Sane. “Hanya dalam sekejap, hampir semua rumah warga tergenang,” ujar
Kepala SMK Alaziziyah Bandardua itu.
Boat tenggelam
Dilaporkan juga, sebuah boat jenis lingga bernama KM Putri Meutuah,
tenggelam diterjang badai saat mencari ikan di perairan Lhokseumawe.
Meski dalam peristiwa Kamis subuh itu tak ada korban jiwa, tapi kerugian
diperkirakan Rp 1 miliar. Pemilik KM Putri Meutuah, Abdul Manaf Sulaiman
(45), warga Pusong Baro, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe,
menceritakan boat miliknya itu melaut untuk mencari ikan sekitar empat
hari lalu. Mengangkut 32 anak buah kapal (ABK) di bawah Pawang Idris.
Semua mereka warga Idi, Aceh Timur.
Informasi bahwa kapal itu tenggelam baru dia ketahui pukul 08.00 WIB,
setelah seorang ABK yang tiba di darat mengabarinya. Posisi boat sebelum
tenggelam berada di atas perairan Kota Lhokseumawe. Sedangkan badai dan
hujan lebat disertai ombak besar baru terjadi pukul 05.00 WIB. Tak lebih
satu jam, air sudah memenuhi palka dan boat itu pun karam. Semua awaknya
terjun ke laut.
Tak lama kemudian, setelah badai reda, beberapa boat kecil lewat. Semua
awak Putri Meutuah yang mengapung di laut itu diselamatkan. “Hanya dua
awak boat saya yang pingsan, mungkin karena lelah kelamaan di dalam air.
Kini semunya telah pulang ke Idi,” ujar Manaf. Dalam upaya pencarian,
tambah Manaf, dia telah mengerahkan dua boat ke lokasi boatnya
tenggelam, dengan harapan sekurang-kurangnya dapat ditemukan pukat yang
ada pelampungnya. “Akibat kejadian ini saya rugi sekitar 1 miliar
rupiah,” ujar Manaf. (riz/mir/ag/bah)
===========
Institute GreenACEH
Rumoh Pineung, Jln. T. Bintara Pineung No. 23 Gampong Pineung, Banda Aceh
Telp./Fax. (0651) 7551048
Email: greenaceh@..., greenaceh.institute@...
Web: www.greenaceh.org
Blog: www.green-aceh.blogspot.com
Mailinglist: greenaceh@googlegroups.com
Facebook:
Institute Green Aceh (page)
Green Aceh Society (group)