wh kayaknya seru t mbak monitoring migrasi burung pemangsa...
boleh ikutan g mba?? sekalian mau belajar masalah burung2 migran...
________________________________
From: Irma Dana <
irma.dana@...>
To:
greenlifestyle@googlegroups.com;
lingkungan@yahoogroups.com
Sent: Fri, November 6, 2009 9:42:25 AM
Subject: [Lingk] Migrasi Burung Pemangsa, Setiap Tahun Perlu di Cek Populasinya
---------- Forwarded message ----------
From: Irma Dana <
irma.dana@...>
Date: 2009/11/5
Subject: Migrasi Burung Pemangsa, Setiap Tahun Perlu di Cek Populasinya
To:
sbi-info@yahoogroups.com,
etfnarasi@yahoogroups.com
Migrasi Burung Pemangsa, Setiap Tahun Perlu di Cek Populasinya Tak bosan
rasanya mendengar cerita di Obrolan Kamis Sore. Selalu ada berita baru yang
terjadi di ranah konservasi. Pada pertemuan ketiga, tepatnya tanggal 15
Oktober 2009, Asman Adi Purwanto dari International Animal Rescue (IAR)
bercerita tentang “Migrasi Burung Pemangsa”. Topik yang menarik. Pas betul
dengan kondisi alam saat ini, Oktober adalah bulannya burung-burung pemangsa
(raptor) dan burung pantai bermigrasi dari belahan bumi utara menuju
selatan. Dalam presentasinya, Asman menjelaskan tentang migrasi raptor
secara umum, pola migrasi, serta waktu migrasi. Beberapa jenis raptor yang
setiap tahunnya melintas di kawasan Puncak, Bogor, seperti Sikep-madu asia (
*Pernis ptilorhynchus*), Elang-alap cina (*Accipiter soloensis*), Elang-alap
jepang (*Accipiter gularis*), Elang kelabu (*Butastur indicus*), dan Baza
hitam (*Aviceda leuphotes*).
Berkaitan dengan fenomena alam tersebut, pengamat burung di Bogor mengadakan
monitoring di Bukit Paralayang, Puncak, setiap Sabtu dan Minggu, selama
bulan Oktober. Selain mengamati, mereka juga menghitung jumlah burung-burung
pemangsa yang melintas di kawasan tersebut . Tergantung cuacanya, jika
mendung, burung-burung tersebut seakan enggan menampakan diri, melewati
Puncak. Tapi, saat cuaca cerah, dengan panas matahari, burung-burung itu,
bisa puluhan sekali melintas di atas kepala.
“Mengamati migrasi burung pemangsa, sebetulnya bisa merupakan bisnis
tersendiri, bila dikaitkan dengan kegiatan ekowisata,” jelas Asman,
mengingat fenomena ini amat langka dan beberapa pengamat burung dari luar
negeri sudah mulai ikut mengamati migrasi ini di kawasan Puncak.
Selama pengamatan di Puncak kadang ditemukan pula jenis burung pantai
seperti Terik asia dalam rombongan migrasi raptor tersebut, namun hal ini
dimungkinkan (bahkan burung ini juga beberapa kali pernah terlihat di
kawasan perkotaan di Bogor) karena jenis tersebut merupakan burung pemakan
serangga yang banyak terdapat di daratan. Penghitungan jumlah dan jenis
raptor yang melintas di kawasan Puncak juga dilakukan. Penghitungan ini bisa
dengan metode hitung langsung atau dengan pembandingan jumlah individu yang
terlihat dalam bulatan lensa (binocular) vs jumlah bulatan lensa dalam suatu
kelompok burung. Penghitungan dengan metode terakhir juga bisa dilakukan
secara tidak langsung, artinya kelompok burung tersebut dibuat
dokumentasinya (foto/video) terlebih dahulu. Namun bila menggunakan cara ini
memerlukan jenis kamera/videocam yang cukup baik, agar kelompok burung
tersebut bisa terlihat jelas.
Di Jawa, pada saat datang kelompok raptor ini selalu menggunakan jalur
migrasi yang sama (sebelah utara) tetapi saat kembali, jalur migrasinya
terpecah (ada yang lewat selatan). Jalur yang dilalui raptor biasanya
mengikuti punggungan bukit, agar memudahkan mereka mendapat makanan dan
beristirahat di hutan-hutan. Informasi rinci mengenai jalur yang pasti
dilalui oleh raptor ini masih dalam penyusunan dan masih memerlukan banyak
informasi lagi. Karenanya diperlukan suatu koordinasi dalam melakukan
pengamatan migrasi raptor ini pada seluruh pengamat burung di Indonesia.
Di Indonesia sendiri ada beberapa jenis raptor yang menetap (resindent).
Jenis ini tidak melakukan migrasi, walaupun kadang mereka terlihat berbiak
di suatu tempat, dan di saat lainnya tidak terlihat. Jenis-jenis ini hanya
berkelana di dalam daerah teritorinya saja (home range). Bagi sebagian
pengamat burung, perilaku ini dikategorikan dalam migrasi lokal. Kegiatan
berpindah tempat itu sendiri bisa disebut migrasi bila ada tekanan (misalnya
berkurangnya jumlah pakan saat musim dingin) dan sifatnya teratur.
Di penghujung Obrolan Kamis Sore, Hasudungan Pakpakan, menggelitik Raptor
Indonesia [RAIN] melalui Asman tentang trend migrasi burung pemangsa, di
mana saja lokasi singgahnya dan apakah setiap tahun populasinya bertambah
atau berkurang? “Seperti halnya negara Cina, mereka lebih peduli dalam
mengamati raptor, karena kalau jumlah populasi raptor yang kembali ke
negaranya semakin menurun, mereka kuatir populasi tikusnya akan melonjak
berkali lipat ….,”. Mungkin komentar ini patut dipertimbangkan bagi para
pengamat raptor di Indonesia agar lebih serius dalam mengumpulkan informasi
mengenai migrais raptor ini. [Irma Dana & Jeni Shannaz]
--
Irma Dana
http://dawala.wordpress.com [lagi belajar nulis
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===== Petunjuk Milis Lingkungan ===========
Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa
Berlangganan:
lingkungan-subscribe@yahoogroups.com
Berhenti :
lingkungan-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Lingkungan tidak menerima segala bentuk ATTACHMENT, bila ada
yang akan kirim ATTACH harap di-COPY & PASTE di BADAN EMAIL.
===== Motto:Lestari dan berseri Indonesiaku ======
Arsip berita-berita lingkungan di Indonesia :
http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/
Berlangganan :
berita-lingkungan-subscribe@...! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]