Salam
Maaf Mas Harno, setahu saya orang mau membangun kebun sawit itu biasanya
menghindari daerah rendahan/rawa, walaupun areal yang dimilki terdapat rawa
seringkali ditinggalkan atau di enclave. Sebab tanaman sawit sendiri akan
busuk jika terendam terlalu lama dan tidak mungkin menanam tanaman sawit diatas
tanah timbunan, sebab jika hal ini bisa maka ini akan menjadi hal yang positif
dimana areal kubangan bekas tambang batu bara ditimbun dan ditanami sawit saja
Biasanya yang membuka rawa dan kemudian menimbunnya adalah kegiatan usaha
perumahan, banyak contohnya : mis pantai indah pulau kapuk, termasuk perumahan
tempat tinggal saya
Wasalam
Norman
--- On Fri, 7/10/09, Harno <harno@...> wrote:
From: Harno <harno@...>
Subject: [Lingk] Ekspansi Kebun Sawit Mengkhawatirkan
To: walhinews@yahoogroups.com
Cc: lingkungan@yahoogroups.com
Date: Friday, July 10, 2009, 10:07 PM
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/10/03592189/ekspansi.kebun.sawit.mengkh\
awatirkan
KOMPAS/10 JULI 2009
ALIH FUNGSI LAHAN
Ekspansi Kebun Sawit Mengkhawatirkan
Palembang, Kompas - Perkebunan kelapa sawit tak hanya merambah hutan
produktif dan daerah aliran sungai, tetapi juga mulai mengepung kawasan
pinggiran Kota Palembang. Ekspansi berupa pengurukan lahan dikhawatirkan
memicu masalah lingkungan karena ekosistem rawa dalam yang merupakan
habitat flora fauna sekaligus menjadi daerah resapan berkurang.
Pantauan pada Kamis (9/7), alih fungsi ekosistem rawa dalam menjadi
lahan sawit terlihat di sejumlah titik di ruas jalan lingkar Kota
Palembang, mulai dari Jembatan Musi II dan Simpang Alang-alang Lebar.
Setidaknya ada tiga areal perkebunan sawit baru dibuka yang luasnya
lebih dari 150 hektar.
Menurut Abu Bakar (43), warga Alang-alang Lebar, aktivitas pembukaan
lahan perkebunan kelapa sawit di kawasan ini belum ada setahun. ”Saya
heran kebun sawit bisa masuk ke pinggiran kota,” katanya.
Sejak rawa ditimbun dan berubah menjadi kebun sawit, Abu Bakar dan
sejumlah warga lain tidak bisa memancing ikan lagi. Sebelum ditimbun, di
rawa itu banyak ikan gabus, sepat, dan seluang. Selain untuk lauk, warga
mencari ikan untuk dijual sebagai tambahan penghasilan.
Momon Sodik Imanuddin, peneliti rawa dari Universitas Sriwijaya,
menyayangkan alih fungsi rawa dalam menjadi perkebunan kelapa sawit.
Alasannya, rawa dalam merupakan habitat hidup bagi berbagai hewan
serangga dan amfibi, selain flora.
Dia menilai, pengurukan rawa di Palembang terus berlangsung karena
pemerintah daerah belum secara ketat menerapkan sanksi hukum terhadap
pihak yang mengubah fungsi lahan tanpa izin. ”Pusat Studi Rawa Unsri
sedang menggagas konsep wisata rawa. Rawa di kawasan bandara, misalnya,
sangat sesuai untuk kawasan konservasi untuk pariwisata,” katanya.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Sumsel Anwar Sadat
menyatakan, alih fungsi rawa menjadi kebun sawit bisa memicu persoalan
lingkungan baru. Selain mengancam beberapa jenis flora fauna, alih
fungsi juga bisa mengakibatkan bencana banjir. ”Rawa dalam merupakan
kawasan alami untuk menampung air hujan,” katanya. (ONI)
================
------------------------------------
===== Petunjuk Milis Lingkungan ===========
Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa
Berlangganan: lingkungan-subscribe@yahoogroups.com
Berhenti : lingkungan-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Lingkungan tidak menerima segala bentuk ATTACHMENT, bila ada
yang akan kirim ATTACH harap di-COPY & PASTE di BADAN EMAIL.
===== Motto:Lestari dan berseri Indonesiaku ======
Arsip berita-berita lingkungan di Indonesia :
http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/
Berlangganan : berita-lingkungan-subscribe@...! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]