Diskusi Pameran: Rabu, 2 Agustus 2006, Pk. 14.00 WIB
Pameran terbuka untuk umum tanggal 2 s/d 13 Agustus 2006, Pk. 09.00-21.00 WIB
Seni lukis pinggir jalan adalah seni lukis yang dapat dilihat sehari-harimanakala kita berjalan-jalan di sepanjang trotoar jalan Gajah Mada ataupun di sepanjang trotoarPasar Baru di depan Gedung Kesenian Jakarta, dan di beberapa tempat lainnya yang dapat ditemui di Jakarta ini.
Seni lukis pinggir jalan adalah fenomena kota. Bentuk seni lukis ini, yang umumnya menggambar potret atau menyalin potret-potret orang terkenal, apakah kaum selebritis ataupun tokoh-tokoh negara, hidup di tengah hiruk pikuk kota metropolitan dengan kecongkakannya. Berbeda dengan pertumbuhan sebagian seni lukis atas yang sibuk dengan "nilai-nilai" , seni lukis pinggir jalan berhadapan dengan realitas sehari-hari pelakunya, dan kebutuhan-kebutuhan praktis pembutuhnya.
Dalam menjalani kegiatan sehari sebagai pelukis pinggir jalan, tak jarang persoalan yang mereka hadapi seperti pengalaman para pedagang di kaki lima yang senantiasa terancam oleh petugas ketertiban umum. Namun di sisi lain, mereka juga sering berhadapan dengan para pembutuhdari kalangan pejabat-pejabat penting yang memesan lukisan dari mereka.
Sebagai pelukis pinggir jalan, mereka senyatanya adalah seniman pinggiran yang tentu kurang mendapat tempat di galeri-galeri
di pusat-pusat kota yang kian hari kian marak pertumbuhannya. Padahal, jika kita mau meluangkan perhatian mengkaji teknik dan semangat kerja yang mereka tuangkan, banyak karya-karya mereka yang tidak kalah kuatnya dari segi teknik dari karya-karya pelukis modern lainnya. Selain itu, sebagai pelukis yang memiliki kemampuan yang memadai, mereka dapat memandang hidup secara lebih realistis dan bijak. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka membuat lukisan "pesanan", namun dalam waktu luangnya, mereka membuat karya-karya yang lebih memperlihatkan ungkapan "bebas" mereka sebagai pribadi.
Dengan mempertimbangkan potensi-potensi mereka yang dapat diolah dan berkembang, Dewan Kesenian Jakarta telah membuat agenda tersendiri untuk memamerkan karya-karya mereka dengan tajuk "Warna Trotoar"
sejak tahun 2005 lalu, yang melibatkan sekitar 50 pelukis pinggir jalan yang ada di Jakarta ini. Kini, pada awal Agustus 2006 ini, DKJ kembali mengggelar pameran mereka dengan tajuk "Warna Trotoar 2" yang
melibatkan 22 pelukis pinggir jalan.Menurunnya jumlah peserta adalah karena DKJ ingin menyaratkan kualifikasi, agar pameran ini tidak sekedar kelihatan rame, tapi juga terseleksi.
DKJ berharap pameran semacam ini dapat menjaring potensi-potensi baru yang tumbuh dari pelukis-pelukis pinggir jalan ini, juga agar dapat memberi semangat bagi
yang lainnya.
Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku “Mite Harry Potter”(2005, Jalasutra)
Alkisah, Nasruddin Hoja kehilangan cincin di kamarnya yang gelap dan tak berlampu. Dalam kegelapan, Nasruddin mencari-cari cincin itu, tapi tak ketemu. Suasana kamar yang gelap menyulitkannya menemukan cincin itu, ia hanya bisa meraba-raba dan tak bisa melihat dengan jelas. Kemudian ia menengok
keluar kamar. Ia melihat cahaya terang di luar kamar. Terbersitlah dalam pikirannya, mengapa tidak mencari cincin di sana? Maka iapun mencari cincin itu di luar kamar. Seorang sahabat yang mengetahui bahwa cincin itu hilang di kamar, bertanya: “Mengapa kau tidak mencari cincin itu di dalam kamar?” Nasruddin menjawab: “Karena di kamar gelap, maka aku mencarinya di luar, di tempat yang ada cahaya terang. Bukankah lebih mudah menemukan jika ada cahaya?”
Mungkin anekdot Nasruddin Hoja tersebut sudah sering Kita dengar. Mungkin pula Kita serta merta merasa geli dengan
‘kebodohan’ Nasruddin. Tapi tunggu dulu, jika Kita mau merefleksikan anekdot tersebut, bisa jadi Kitapun kerap melakukan kebodohan yang sama dengan Nasruddin Hoja. Kita mungkin sering terpesona terhadap cahaya terang-benderang dari berbagai ‘spectacle’ yang ‘spectacular’, yang justru menjadikan Kita tak melihat kebenaran yang semestinya Kita cari.
Bisa jadi Kita tak ubahnya seperti laron yang terpesona oleh cahaya, mendatangi gemerlap selebrasi kebenaran di tayangan-tayangan religi, di panggung-panggung Misa yang telah disulap menjadi entertaintment, di
panggung-panggung KKR dengan show nubuat spektakuler, di panggung-panggung dakwah sejuta janji; yang semuanya justru menjauhkan Kita dari ‘kebenaran’ hidup Kita masing-masing, yang sejatinya gelap dan penuh ketakpastian serta selalu dalam kondisi pencarian. Kita enggan untuk terus menerus mencari dalam kegelapan dan ketakpastian, lalu memilih mengambil tawaran-tawaran ilusif bahwa hidup itu seolah ‘pasti’, bisa diperoleh hanya jika melakukan rutinitas ritual tertentu. Tawaran-tawaran tersebut banyak dihadirkan dalam gemerlap selebrasi agama.
Kisah hidup manusia,
sejatinya adalah ‘kisah mencari cincin di dalam kamar gelap [masing-masing]’. Ini karena kesejatian dari kehidupan itu adalah ketakpastian itu sendiri. Seperti sering diucapkan [namun belum tentu disadari] bahwa satu-satunya kepastian dalam kehidupan adalah ketakpastian itu sendiri. Maka, pencarian ‘kebenaran’ dalam hidup adalah sebuah pencarian dalam ketakpastian, yang dalam kisah Nasruddin disimbolkan sebagai pencarian dalam kamar gelap. Bahkan bisa jadi cincin [kebenaran] itu tak akan pernah bisa diketemukan sepanjang perjalanan hidup manusia, bukan karena cincin itu tak ada, tapi justru karena cincin itu Ada dalam Ke-Tiada-annya, ada dalam ketakpastiannya, ada dalam Kamar Gelap.
Semua manusia sebenarnya adalah ‘pencari cincin dalam kamar gelapnya masing-masing’, namun tak semua manusia tahan dan berani berkata “Ya”pada pencarian itu. Ini karena pencarian dalam kamar gelap itu adalah pencarian dalam situasi kaotik. Bisa saja dalam kegelapan terantuk lemari, membentur kolong tempat tidur, dan sebagainya. Banyak orang lantas memilih keluar dari kamar gelapnya masing-masing dan mencari di luar. Mereka adalah orang-orang yang berusaha lari dan bersembunyi dalam bentuk-bentuk kepastian ilusif, seolah dengan demikian hidupnya benar-benar menjadi pasti. Seolah hidup yang sirkular, yang mencari berputar-putar dalam kamar yang gelap, bisa digantikan oleh bentuk pencarian yang seolah memberikan kepastian, bentuk pencarian yang linier. Jika X maka Y, jika ada cahaya maka lebih mudah menemukan cincin.
Kita dapat melihat kontekstualisasi pada sejumlah liniearitas yang janak terjadi di kultur masyarakat. Salah satunya bisa Kita lihat pada contoh berikut: Saat masih kuliah, orang akan bertanya: “Kapan Lulus?”; Saat sudah lulus kuliah, orang akan bertanya: “Sudah kerja?”; Saat sudah bekerja, orang akan bertanya: “Kapan menikah?”; Saat sudah menikah, orang akan bertanya: “Kapan punya anak?”; Saat sudah punya anak orang akan bertanya: “Kapan anak yang kedua?”; dan seterusnya. Orangpun banyak yang berusaha agar tetap berada dalam liniearitas itu agar kesejatian hidup yang tak pasti bisa tertutupi.
Agar diperoleh semacam ketentraman sementara.
Sejumlah orang mungkin ‘dipaksa’ oleh peristiwa untuk keluar dari linieritas tersebut. Bisa itu pada momen setelah lulus kuliah tidak mendapat pekerjaan, bisa setelah bekerja belum menikah dan umur terus bertambah, bisa setelah menikah yang dilandasi prinsip ‘seiman’ tetapi ternyata kemudian mengalami perceraian, bisa setelah menikah tidak punya anak dan mulai timbul masalah karenanya, bisa jadi ketika pasangan selingkuh, bisa jadi ketika patah hati, bisa pula dipecat setelah belasan tahun bekerja dan sebagainya.
Itulah momen-momen di mana orang keluar dari liniearitas dan dianggap tidak normal oleh kultur, sehingga ia bisa jadi bahan pergunjingan, menjadi sasaran pertanyaan dari orang-orang yang sebenarnya tidak ada urusannya, dan seterusnya. Momen lain yang bisa membuat kehidupan tidak linier juga bisa Kita lihat pada mereka yang mengalami sesuatu yang bahkan tak terduga sama sekali, misalnya: bencana alam, peperangan, kenaasan, kecelakaan, dsb. Momen-momen in, sebenarnya adalah sapaan untuk kembali ‘mencari cincin di kamar gelap’ karena di situlah cincin itu jatuh. Seperti manusia yang juga jatuh secara begitu saja di dunia [faktizitat] dan mesti melakukan pencarian dan perjalanan di tempat ia jatuh yang sejatinya merupakan kegelapan kaotik, bukan di awang-awang, bukan dengan memandang bintang yang berkedip-kedip di langit.
Ketika dunia kisah terperangkap di dalam dunia cahaya, pencahayaan dan iluminasi dari tatanan kultur [populer] yang di dalamnya Kita, para pengisah, ‘harus’ menyesuaikan diri dan menerima begitu saja ketika orang lain mengatakan: “Inilah Kisahmu!”, maka di situlah Kita terjebak dalam cahaya, pantulan, citraan, yang justru mengalienasikan Kita dari pencarian Kita yang sebenarnya. Gemerlap cahaya citraan-citraan tersebut bukanlah cahaya yang benar-benar mampu memberikan pencerahan atau penyingkapan ‘kebenaran’, tetapi justru menjauhkan dari ‘kebenaran’. Horizon kehidupan dibingkai oleh horizon citra dengan menutupi serta menafikan horizon lainnya.
Inilah yang disebut Heidegger sebagai pembingkaian [Ge-Stell], bingkai yang membatasi, tidak saja mereduksi horizon kehidupan--yang plural dan penuh ketakpastian—menjadi horizon layar [yang selalu berada dalam framing] tetapi juga horizon pemikiran manusia, yang dibingkai oleh pandangan yang telah ditentukan oleh ‘cara-tertentu-untuk-memandang’ yang doktrinatif dan dogmatis, yang menjauhkan orang dari pemahaman tentang keseluruhan ‘Ada’. Ge-Stell menurut Heidegger adalah cara menghadirkan yang nyata
dengan cara memperlihatkan yang nyata itu dalam sebuah cara pembingkaian horizonnya, sehingga melalui cara penghadiran dan pembatasan horizon tersebut, ia sekaligus adalah penyembunyian. Pembingkaian horizon tersebut sekaligus pembingkaian manusia, yang terperangkap di dalam bingkai-bingkai ‘cara-melihat-dunia’ yang seolah pasti, dan melupakan perenungan eksistensialnya.
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Forum Pembaca Kompas, Creative Circle, BeCeKa, Mediacare, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi
Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG SIAPAPUN YANG TERTARIK UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
Camhalim? dikotomi timur dan barat kadang menipu, dan mungkin lebih tepat disebut munafik. Apa yang saya maksud dengan kultur timur di dunia pendidikan adalah kultur timur Indonesia yang berkedok tata krama, paternalisme, dan segala moralitas tua yang ikut serta bersamanya. Sama seperti manusia-manusia akademik yang selalu menciptakan separasi untuk segala hal, seakan-akan semua ini tidak berhubungan satu sama lain. Dan akhirnya darisinipun barat dan timur terlihat kabur? Akan tetapi, lokalitas selalu menyumbangkan warnanya sendiri di dalam perkembangan kebudayaan masyarakatnya, dan sayangnya, untuk Indonesia, sedikit yang bisa dijadikan acuan menuju perubahan kualitatif yang berarti. Dan kalaupun itu ada, kebanyakan sudah digilas habis oleh logika dominan yang dekaden ini. Galileo, pernah berkata, kalau ilmu pengetahuan ditujukan untuk mempermudah hidup manusia. Dan disitu kita dapat melihat kalau seorang kerja fisik dan kerja intelek tidak terpisah perannya di
dalam masyarakat, Galileo sadar posisi dan perannya di dalam kehidupan. Diskusi recehan? berarti diskusi dolaran/uang kertas/ ada donk buat seorang Camhalim? saya tantang anda berbicara hal seperti ini di jalanan, di kampung, di depan wajah para manusia-manusia marjinal dan mengatakan kepada mereka yang tidak bisa berbicara seperti bahasa anda sebagai orang-orang yang cuma bisa diskusi recehan? Kaum akademik memang menyedihkan.
Adinto Fajar <adinto@...> wrote:
Hehehe,
usulan yang bagus itu dari sodara cacamhalim.
memang sudah sepantasnya menggunakan kata-kata yang jelas. sejauh ini belum ada yang merespons usulan sodara, mungkin karena sodara sendiri nggak menjelaskan artinya 'diskusi recehan', kayak duit aja, ya.
usulan yang bagus itu dari sodara cacamhalim. memang sudah sepantasnya menggunakan kata-kata yang jelas. sejauh ini belum ada yang merespons usulan sodara, mungkin karena sodara sendiri nggak menjelaskan artinya
'diskusi recehan', kayak duit aja, ya.
Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku “Mite Harry Potter”(2005, Jalasutra)
Apa pentingnya sebuah nama? Jawabannya akan sangat relatif, tergantung sudut pandang yang diambil. Shakespeare memang pernah mengatakan: “Apalah artinya sebuah nama?”. Artinya, sebuah bunga yang indah, tak akan berkurang keindahannya, entah ia diberi nama “Mawar”, “Rose”, atau apapun. Tapi, sebuah nama, bisa pula menunjukkan keotentikan seseorang. Nama masing-masing dari Kita, merujuk pada suatu otentisitas yang membuat Kita tak bisa direduksi menjadi sekedar ‘kerumunan orang’. Dalam dunia marketing, nama juga penting karena ia sekaligus merupakan ‘brand’, salah satu elemen strategi marketing selain: Positioning, differentiating, targetting, pricing, dsb, yang penting untuk menentukan eksistensi suatu produk di pasaran. Tetapi, apakah semua hal di kehidupan ini memang bisa dinamai? Apakah semua memang perlu dinamai? Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menuangkan perenungan saya atas pertanyaan tersebut.
Bagi sebagian orang, ‘Nama’ telah tercerabut dari apa yang dinamai. Setidaknya itu saya lihat pada sejumlah fenomena belakangan ini, ketika orang begitu suka menyebut nama ‘ayah-ayah simbolik’ mereka untuk berbagai persoalan pribadi/kelompok, sehingga seolah persoalan itu adalah hal penting bagi
banyak orang atau bahkan semua orang. Dalam pertikaian dua orang yang sedang bercerai dan tengah berebut hak asuh anak, masing-masing berargumentasi dengan menambahkan”Demi [nama] Allah’. Di berbagai tempat, berbagai nubuatan dibuat manusia-manusia fana dengan menambah embel-embel: “Dalam Nama Yesus”. Belum lagi mereka yang rela mati dan membunuh demi nama-nama: “Allah”, “Tuhan”, “Kristus” dsb. Akhir-akhir ini, di saat melihat pemberitaan berbagai peristiwa bencana, nama-Nya bisa jadi disebut-sebut dengan berbagai ‘kata’ yang berbeda mengingat kejadian-kejadian tersebut tersebar di berbagai pelosok yang memiliki bahasa berbeda satu sama lain. Di Jawa, mungkin nama “Gusti” atau ‘Gusti Allah” yang sering disebut, entah apa sebutannya di Gorontalo, daerah lain di Sulawesi, Kalimantan, Bali atau sejumlah tempat lainnya.
Fenomena itu, membuat saya merenung lebih dalam. Siapakah sebenarnya ‘entitas’ yang mereka namai itu? Adakah memang itu adalah ‘entitas’ yang sama, yang konon begitu ‘maha’ sehingga tak bisa ternamai hanya dengan satu kata yang berarti sama bagi semua, sehingga harus menghadirkan begitu banyak nama bagiNya seperti saya contohkan di atas? Ataukah memang ada banyak ‘entitas’, sebanyak nama yang ada? Atau justru memang Ia sebenarnya [sebaiknya] tak ternamai, karena tak ada satupun kata yang bisa menjelaskannya tanpa mereduksinya?
Jacques Lacan, psikoanalis Perancis, pernah mengemukakan tentang kerinduan anak manusia untuk kembali pada ‘yang-tak-ternamai’; yang konon digambarkan sebagai sesuatu yang pernah dialami semua manusia pada suatu fase sebelum manusia menyadari keberadaannya di dunia. Fase ini diistilahkan Lacan sebagai fase Real, suatu fase di mana tak ada bahasa, karena semua kebutuhan terpenuhi. Bahasa, konon muncul ketika manusia mulai merasakan adanya kebutuhan yang mesti dipenuhi. Fase Real adalah suatu fase di mana manusia merasa dirinya utuh, penuh tak berkekurangan suatu apa. Ketika manusia lahir ke dunia dan beranjak memasuki fase berikutnya setelah fase Real, yaitu fase imajiner, saat itulah ia mulai merasa dirinya terpisah dari fase Real, dari suatu tempat yang begitu membahagiakannya. Inilah awal perjalanan manusia, yang
diliputi kerinduan untuk kembali pada Yang-Tak-Ternamai.
Tapi, kerinduan itu tak mungkin terpenuhi semenjak manusia terlahir ke dunia. Sejak saat itu anak manusia jatuh dalam kolam citraan yang diintrodusir oleh relasi cermin. Suatu momen simbolik ketika anak melihat citraan dirinya di cermin dan Liyan [M/Other] mengatakan: “Itulah dirimu!”. Sejak saat itulah anak manusia mulai mengambil citraan-citraan yang bukan dirinya, pantulan citra dari agama, etnis, dsb. Situasi ini diperparah oleh hadirnya Ayah-Simbolik ketika anak masuk dalam fase simbolik. Ayah-Simbolik ini adalah ayah yang mengancam si anak
dengan hukuman [kastrasi] sehingga anak makin melupakan kerinduannya untuk membuat dirinya utuh penuh dengan kembali pada Yang-tak-ternamai dan justru memuja ayah-ayah simbolik tersebut.
Inilah momen yang kemudian membuat manusia lupa akan kerinduannya kembali pada ‘Yang-Tak-Ternamai’ dan [justru] menyibukkan diri meneriakkan nama-nama bagi ‘Yang-Tak-Ternamai’. Nama-nama ‘Ayah-Simbolik’. Berpikir bahwa dalam ‘nama’ yang diteriakkannya itulah terdapat kesejatian ‘Yang-Tak-Ternamai’. Berpikir bahwa [yang sekedar] nama-nama itu memberi garansi terhadap kehidupan manusia dengan ilusi-ilusi yang dilekatkan
pada masing-masing nama tersebut. Manusia, lalu sibuk pada ‘Nama’ dan bukan inspirasi penuntun jalan hidup yang ada di balik nama itu. Maka jangan heran, walau berasal dari akar mitologi yang sama: ‘Isa’ bukan ‘Jesus’, ‘Allah Bapa’ bukan ‘Allah’, ‘Siti Maryam’ bukan ‘Maria’, dsb. Dan mereka semua diklaim dalam kebenarannya pada masing-masing namanya, bukan pada makna yang hadir dalam kisahnya. Tak jarang untuk mempertahankan kebenaran pada masing-masing nama itu, satu sama lain saling membunuh.
Saya mencoba merenungkan lebih dalam lagi. Apa pentingnya ia bernama Isa, Allah, Jesus, Buddha, Muhammad,
YHWH atau Marijan, jika dalam hadirnya nama-nama itu, hadir pula sebuah makna yang tak terbahasakan di balik kisah-kisah mereka, yang sebenarnya menyiratkan adanya suatu entitas dengan kekuatan besar, entitas Yang-tak-ternamai, yang kekuatannya melampaui nama-nama mereka yang mengisahkannya? Apa pentingnya diberi nama apa jika tanpa diberi nama pun orang bisa menangkap ‘ada’nya, entitas yang hadir membawa pesan, inspirasi, harapan, arah untuk kehidupan yang lebih bermakna bagi dirinya?. Sayang, selama ini orang justru banyak berusaha mencari, meritualkan, memuja nama dan bukan berusaha menemukan makna yang muncul dari sesuatu yang tak ternamai di balik nama-nama tersebut.
Saya sampai pada perenungan bahwa entitas itu jualah yang saat ini hadir menyapa dan mengajak untuk merenungkan kembali pencarian menuju Yang-Tak-Ternamai, melalui serentetan peristiwa bencana dan kepedihan yang melanda negeri ini. Ia hadir bukan dalam nama-nama, namun pada sebuah ajakan untuk meng-alam-i. Ya, meng-alam-i, karena semuanya terkait bagaimana alam bergerak dan mengajak manusia meng-alam-i alam tersebut. Entitas yang melalui alam, mengajak manusia menghadapi ketakpastian hidupnya dengan menghadapkan pada kemungkinan untuk hidupnya, menyatu dengan kemungkinan untuk mati, melalui serentetan peristiwa bencana. Hidup, seolah hanya menunggu giliran, karena bisa saja satu jam lagi, besok atau lusa, bencana akan muncul dan merubah kehidupan anda. Entitas Tak-Ternamai yang mengajak manusia untuk sadar bahwa Transendensi dari entitas tersebut, bukan berada di awang-awang nu jauh di sana,
tapi justru ada dalam imanensi manusia. Entitas Tak-Ternamai yang bukan [seperti dikira banyak orang] bersembunyi di balik kotak-kotak amal atau tabernakel-tabernakel, melainkan hadir dalam keseharian manusia dalam kemungkinan-kemungkinan kehidupan dari masing-masing Kita. Kemungkinan ‘Ada’, yang sekaligus kemungkinan ‘Tiada’.
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Forum Pembaca Kompas, Creative Circle, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, BeCeKa, Mediacare, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG SIAPAPUN YANG TERTARIK
UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs.
Try it free.
Konfiden mengundang rekan-rekan untuk menghadiri pemutaran film dalam program “Kami, Jogja Kita” pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 29 Juli 2006
Pukul : 16.00 WIB
Tempat : Gedung 28
Jl. Kemang Utara no. 28, Jakarta
Acara pemutaran film akan diikuti dengan kegiatan diskusi dengan tema “Sinema dalam Keadaan Krisis” yang akan dipandu oleh para kurator program (Alex Sihar, Tomy Taslim, Daniel Rudy Haryanto dan Agus Mediarta).
Kegiatan pemutaran tidak dipungut bayaran.
Info lengkapnya juga dapat diperoleh melalui http://www.konfiden.or.id/ atau
telp: 021-719 6608 (CP: T. Lintang G.)
Kami
mengharapkan partisipasi dan kehadiran rekan-rekan dalam kegiatan ini.
Daftar Film
Sesi 1
Berdiri di Atas Kaki Sendiri | Dokumenter | 22 menit 7 detik | 2006 Sutradara: BW Purba Negara, Yuli Andari Merdikaningtyas Penata Musik: Otto Muharom Produksi: Benang Merah, limaenamfilms Sinopsis: Usaha masyarakat Bantul, Gunung Kidul, dan Klaten untuk tetap berusaha hidup dan memulihkan keadaan setelah gempa.
--------------------------------------------------------------------- Apel 5,9 (5,9 SR Video Project #5) | Fiksi -- Animasi | 55 detik |
2006 Animator: Anis Ekowindu Produksi: GOING MAD Anime Sinopsis: Sebuah interpretasi atas gempa yang terjadi di Jogja. Bahwa kejadian buruk yang terjadi pasti memiliki maksud baik, gempa memaksa masyarakat untuk kembali membangun kebersamaan yang sebelumnya dilupakan.
--------------------------------------------------------------------- Trimbil lan Bratil | Dokumenter | 20 menit 53 detik | 2006 Produksi: SATUVISI INDONESIA Produser Eksekutif: Kusen, d.h.ra, Tomy Taslim Produser: Kusen, d.h.ra, Tomy Taslim Sutradara: Tomy Taslim Sinopsis: Trimbil
dan Bratil mewarnai hari-harinya dengan caranya sendiri.., hari-hari yang tidak biasa.
Mereka telah memulainya sejak 27 Mei 2996 di Jogja, hari-hari yang tidak biasa.
Kru Produksi Kamerawan: Tomy Taslim dan Y. Aditya Riset Lapangan: Tomy Taslim Editor: Taufik Arifianto Supervisi Editing: Kusen, d.h.ra Lagu: "Ono Bocah" (Ki Slamet Gundono) Vokal: Gunawan Maryanto Translator: Agus Hw --------------------------------------------------------------------- 5,9 SR Video Project #6 | Fiksi -- Animasi | 1 menit 51 detik | 2006 Animator: Asa Rahmana Fotografer: Bram Musik: Teguh Hari Editor: Chandra Sinopsis: Film instruksional, Sebuah ajakan untuk menyiapkan kebutuhan obat dan pangan darurat untuk menghadapi segala situasi.
--------------------------------------------------------------------- Aku Oke #1 | Dokumenter | 17 menit | 2006 Kameramen, Editing: Nunuk Ambarwati, Dwi Rahmanto Musik: R.E.M. Produksi: Cemeti Art Foundation & Papermoon Sinopsis: Cemeti Art Foundation & Papermoon mengadakan sebuah program "Aku Oke" bagi anak-anak yang
tertimpa bencana gempa di Jogja. Yang pertama diadakan di kawasan Dusun Tegal Kebonagung, Imogiri, Bantul, sebuah daerah di Jogja yang menderita kerusakan sebesar 99%. Program "Aku Oke" ini diadakan untuk membangkitkan semangat anak-anak tersebut supaya tidak tenggelam dalam trauma dan kesedihan yang berlarut akibat kehilangan orang-orang dan benda-benda yang mereka sayangi, melalui berbagai macam kegiatan (mulai dari permainan tradisional sampai belajar membuat wayang kertas dan pertunjukannya). Tujuan besar dari kegiatan ini adalah membawa mereka kembali dalam dunia yang seharusnya mereka tinggali, yaitu dunia anak-anak. Film ini menunjukkan hasil dari program "Aku Oke", bagaimana anak-anak tersebut bisa tertawa hanya dengan sedikit hiburan dan aktivitas.
5,9 SR Video Project #4 | Fiksi -- Animasi | 2 menit 21 detik | 2006 Animator: Pandu Mahendra Musik: Heru 'Papa.T' Teks: Tiar, Memet 'dub youth' Editor: Chandra Sinopsis: Sebuah gambaran lugas mengenai apa yang telah terjadi di Jogja dan apa yang harus dilakukan untuk bangkit kembali.
Sesi 2
5,9 SR Video Project #1 | Fiksi | 2 menit 43 detik | 2006 Sutradara: Eko Nugroho Pemain: Iwank Sinopsis: Seorang pria pulang ke rumah dini hari dan tertidur.
Tiba-tiba gempa terjadi. Untung saja dia tidak panik dan mendengarkan pengarahan dari radio.
--------------------------------------------------------------------- Bayi Fitri | Dokumenter | 29 menit 51 detik | 2006 Produksi: Komunitas Matahati Produser: K. Ardi, Aditya Sanjaya Manajer Produksi: Tafsiyah Sutradara, Riset, dan Penulis Skenario: K. Ardi Sinopsis: Cerita tentang bayi yang mengalami gempa, mengungsi, dan hidup di pengungsian dalam
gendongan ibunya.
--------------------------------------------------------------------- Evakuasi Bersama Superwan (5,9 SR Video Project #2) | Fiksi -- Animasi | 2 menit | 2006 Animator: Anis Ekowindu Narator: Anis Ekowindu Produksi: GOING MAD Anime & 5,9sr video project Sinopsis: Film instruksional, sebuah petunjuk sederhana untuk menyelamatkan orang yang tertimpa reruntuhan akibat
gempa.
--------------------------------------------------------------------- Gigih Gayuh Yo... Bar Gempa! | Fiksi | 9 menit 5 detik | 2006 Produksi: The 2 Orang Films Sutradara dan Cerita: Hery Sasangko, Silmi Rosda
Producer: Silmi Rosda
Kameramen dan Editor: Hery Sasongko
Pemain: Yulia Fidza
Narator: Dian Ekawati
Sinopsis: Obsesi menjadi penyanyi dangdut terkenal sempat teredam setelah gempa terjadi. Tetapi, sebuah gitar butut pemberian almarhumah ayah dan sebuah pesan dari sang manajer berhasil membangkitkan kembali semangat untuk tetap berusaha meraih obsesi tersebut.
--------------------------------------------------------------------- 5,9 SR Video Project #3 |
Fiksi -- Animasi | 1 menit 37 detik | 2006 Animasi: Andy Seno Aji Musik: Teguh Hari Editor: Chandra Sinopsis: Film ini memberikan pengarahan sederhana untuk persiapan menghadapi gempa susulan. Apa-apa saja yang harus dilakukan ketika gempa tersebut terjadi.
--------------------------------------------------------------------- Nyanyian dari Surga | Fiksi | 17 menit 14 detik | 2006 Produser, Penulis, Sutradara: Eddie Cahyono Eksekutif Produser: Fourcolours Films Co-Produser: Ifa Isfansyah, Narina Saraswati Pemain: Muhammad Fendi Riyadi, Nuryanto "Congo" Sinopsis: Trauma seorang anak menyebabkan ia tidak bisa menerima kematian ayahnya.
Kru Produksi Penata Fotografi: Budi Arifianto Chief Lighting: Sri "Kelik" Nugroho Lightingman: Ali Purma Ass. Camera: Danang, Bowo Editor: Eddie Cahyono Ass. Editor: Greg Arya Musik: Krisna Purna Ratmara Art Director: Arga Aghasa Ass. Art Director: Nur "Koclok" Hadi, Teguh, Bagus Sumartono Technical Director: Tri "Si Te" Widiyanto Ass. Sutradara: Adi "Koplo" Marsono Make-up dan Wardrobe: Winta, Retno Production Manager: Yosi Arifianto Unit Manager: Citra Dewi Pembantu Umum: Andi Dalang: Busyairi Penembang: Panji Kusuma Driver: Pak Rebo Musik: "Nyanyian dari Surga" (Krisna Purna Ratmara), "Kuldesak" (Ahmad Dani), "Dunia" (Koesplus),
"Pran's theme" (Mike Oldfield), "Truth about Human" (Govinda), "Opening" (Vangelis), "Alibaba" (Karunesh)
--------------------------------------------------------------------- Nomor Penting (5,9 SR Video Project #7) | Fiksi -- Animasi | 1 menit 48 detik | 2006 Animator: Andy Seno Aji Sinopsis: Film instruksional, sebuah petunjuk sederhana yang berisi nomor-nomor telepon penting yang dibutuhkan ketika sebuah bencana terjadi.
saya minta tolong untuk diberitahukan tentang
film-film yang membahas tentang hippies...karena saya
sedang penelitian tentang hippies....
thanx a lot, saya sangat sedang butuh....=)
-ririen-
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Saya
mohon bantuan dari rekan-rekan semua untuk mengapresiasi artikel saya ini,
dengan menjawab pertanyaan:
Apa yang paling
mengesankan dari artikel ini?
Apa yang harus
dilakukan penulis agar tulisan ini dapat menjelaskan tentang Appreciative
Inquiry dan menggugah orang untuk mempelajari Appreciative Inquiry?
Jawaban
dapat melalui milis atau via japrike bukikpsi@...
Rencananya
artikel ini akan menjadi pengantar buku terjemahan Appreciative Inquiry.
Mengapa Muhammad dapat melakukan perubahan? Mengapa
Gandhi dapat menggerakkan rakyat India? Mengapa Sukarno dapat
menggerakkan rakyat Indonesia?
Mengapa Martin Luther King didengarkan dan diikuti oleh jutaan orang?
Ada
banyak penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti mereka adalah
manusia pilihan tuhan atau kharisma mereka yang besar. Tetapi, ada persamaan yang
jelas diantara mereka, yakni lahir dan datang dengan membawa inspirasi kepada
masyarakatnya. Dengan kekuatan kata-kata, mereka menyentuh hati, menggugah
kesadaran, dan memberi pencerahan kepada orang-orang disekitarnya. Dengan
kekuatan kata-kata, mereka mewujudkan apa yang tidak mungkin menjadi suatu
kenyataan. Bahkan, jauh setelah meninggal, kisah mereka tetap menjadi inspirasi
bagi ribuan bahkan jutaan orang, mencerahkan mereka yang tenggelam, tak
berdaya, dalam kekelaman kehidupan.
Inspirasi
mereka telah menjadi kekuatan pengubah dunia. Bukan karena rasionalitas dibalik
inspirasi tersebut. Tetapi, inspirasi itu menyentuh hati, emosi, dan jiwa
orang-orang yang mendengarkannya. Inspirasi tentang sebuah visi kehidupan atau
image masa depan disampaikan, digambarkan, dan diterangkan melalui cerita,
melalui kata-kata. Jadilah cerita inspiratif yang menumbuhkan semangat dan
harapan akan kehidupan masa depan yang diimpikan.
Kisah
Muhammad sebagai orang yang dapat dipercaya (Al-Amin) telah tersebar luas
sebelum Muhammad menyampaikan ayat-ayat-Nya dan melahirkan kepercayaan
masyarakat yang begitu besar. Pidato Sukarno yang berkobar-kobar membakar
ketertundukan jiwa rakyat Indonesia.
Pidato Martin Luther King tentang impiannya membuka kesadaran pendengarnya
tentang adanya kemungkinan kehidupan yang jauh lebih baik. Kata-kata Gandhi
melahirkan kesabaran yang luar biasa pada pengikutnya untuk menerima pukulan
fisik pasukan Inggris tanpa sama sekali membalas.
Apa
yang sebenarnya terjadi? Apakah kata-kata dan kisah inspiratif orang besar
tersebut merupakan mantra yang mempunyai daya magis? Banyak penelitian
psikologi yang menunjukkan bahwa kata-kata memang mempunyai kekuatan yang luar
biasa, sekalipun itu kata-kata orang biasa. Kata bukanlah sekedar penjelasan
terhadap suatu realitas, tetapi pembentuk realitas itu sendiri. Makna dibentuk
dalam percakapan. Realitas diciptakan dalam komunikasi.
Guru
yang meyakini dan mengatakan murid-muridnya sebagai orang yang bodoh dan malas
maka akan benar-benar mendapatkan nilai hasil belajar muridnya yang buruk.
Orang tua yang terus menerus menyatakan anaknya sebagai anak nakal maka begitu
pula jadinya kemudian. Pasang surut sebuah kebudayaan dibentuk oleh percakapan
diantara anggota budaya tersebut. Percakapan yang positif dan antusias akan
menciptakan budaya yang penuh dengan vitalitas. Percakapan yang pesimis dan
pesimis akan membentuk suatu budaya yang dekaden dan menuju ambang kematiannya.
Coba ingat, kapan terakhir kali bangsa Indonesia dipenuhi oleh percakapan
yang positif dan antusias?
Kata
dan kisah yang inspiratif telah lama menghilang dari percakapan bangsa ini.
Kita lebih suka menunggu datangnya sebuah jawaban, menanti sebuah kisah besar.
Jawaban yang memuaskan keingintahuan kita. Kisah besar yang
"menghibur" kita. Apalagi berbicara tentang perubahan, kita lebih memilih
pasif mengikuti orang-orang besar yang dilahirkan untuk melakukan perubahan.
Sayangnya, orang besar biasanya adalah mahluk langka, sangat jarang ada.
Pilihan bagi kita adalah terus menunggu atau melakukan pencarian kisah-kisah
inspiratif dari orang-orang biasa.
Tunggu dulu. Apakah mungkin orang biasa mempunyai
kisah inspiratif? Setiap manusia pada dasarnya merupakan sumber inspirasi dan
pembelajaran yang tidak pernah ada habisnya. Ada pelajaran atau hikmah dalam setiap tahap
kehidupan manusia. Lihatlah bagaimana buku Chichen Soup beserta serialnya laris
manis dibeli masyarakat. Atau yang terbaru, buku Chocolate diserbu pembaca.
Padahal isi kedua buku tersebut bukanlah resep sukses dari pakar, bukanlah
kisah seorang tokoh besar. Kedua buku itu memuat cerita ribuan kisah inspiratif
dari orang-orang biasa.
Kisah inspiratif orang biasa dalam kedua buku tersebut
tetaplah mempunyai daya magis yang dapat menyentuh sisi emosi dan menggugah
kesadaran manusia. Tidak sedikit pembaca yang trenyuh bahkan menangis membaca
kisah-kisah itu dan selanjutnya menimbulkan semangat yang luar biasa. Mereka
yang tertekan akan terbebaskan dari beban kehidupan. Mereka yang putus asa
menemukan kembali cahaya harapan. Mereka kembali bersemangat menjalani hidup, gial
kembali dalam bekerja.
Tetapi buku semacam itu sesungguhnya masih menempatkan
masyarakat sebagai pihak yang pasif, menunggu adanya kisah inspiratif orang
biasa yang disajikan untuk mereka. Padahal apabila kisah orang biasa bisa
begitu inspiratif, maka sebenarnya banyak kisah-kisah inspiratif di sekitar
kita, kisah inspiratif dari orang-orang disekeliling kita.
***
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara kita
mendapatkan kisah inspiratif dari orang-orang disekeliling kita? Bagaimana cara
menjadikan kisah inspiratif sebagai sumber energi perubahan dunia?
Pertama,
kita harus apresiatif terhadap kehidupan manusia. Apresiatif berarti
menghargai, memberi nilai tambah, mengambil pelajaran. Praktek apresiatif akan
membuat kita menjadi mahluk yang menghargai segala sesuatunya, termasuk
menghargai hal-hal kecil disekeliling kita.
Prinsip apresiatif ini sudah sangat langka di dunia
kita yang didominasi oleh wacana defisit. Dalam kehidupan sehari-hari, kita
lebih sering memandang sisi negatif, sisi lemah dan kekurangan dari orang lain.
Coba saja. Apa yang kita perbincangkan mengenai pemimpin kita? Apa yang kita
perbincangkan mengenai rekan kerja kita? Apa yang kita perbincangkan tentang Indonesia?
Apa yang dibicarakan dalam rapat? Apa yang kita bicarakan dengan suami/isteri
kita? Sisi positif atau sisi negatif? Kekuatan atau kelemahan? Kebaikan atau
keburukan? Impian masa depan atau persoalan? Sangat wajar apabila kita menjawab
sisi negatif, kelemahan, keburukan atau persoalan. Luar biasa dan sangat langka
apabila kita menjawab sisi positif, kekuatan, kebaikan dan impian masa depan.
Wacana defisit ini pun sudah merasuk dalam dunia
keilmuan kita. Dalam manajemen, semua orang pasti paham benar dengan konsep
problem solving. Identifikasi masalah. Identifikasi penyebab. Analisis solusi.
Tentukan solusi dan implementasikan. Pembahasan yang diawali dengan
identifikasi masalah pasti akan mendapatkan masalah dan selalu masalah. Program
dan langkah yang diambil seringkali terjebak pada perbaikan demi perbaikan,
dari persoalan yang satu ke persoalan yang lain. Bahkan, seorang direktur
pernah mengatakan, "kalau pegawai melakukan sesuatu yang positif kan sudah seharusnya
tidak perlu diperhatikan. Pegawai yang melakukan sesuatu yang negatiflah yang
harus disorot".
Ilmu psikologi selama puluhan tahun pun tenggelam
dalam penyelidikan-penyelidikan terhadap kasus penyimpangan negatif. Pada tahun
1998, Dr. Martin Seligman, presiden American Psychological Association,
meninjau kembali seluruh penelitian yang dilakukan organisasinya. Hasil sangat
luar biasa. Dari tahun 1970 sampai 2000, ada 45.000 penelitian tentang depresi,
psikosis, dan berbagai bentuk penyakit mental lainnya. Selama jenjang waktu
yang sama hanya ada 300 penelitian yang dilakukan mengenai topik yang berkaitan
dengan kesenangan, kesehatan mental, dan kesejahteraan manusia.
Seligman sendiri tidak menduga akan menemukan hasil
yang demikian. Penelitian psikologi begitu terfokus pada penyakit dan patologi.
Dia menyimpulkan bahwa bidang psikologi telah menyimpang jauh dari tujuan
awalnya-untuk mendefinisikan apa yang terbaik bagi manusia-untuk menyembuhkan
penyakit, dan untuk membantu orang-orang hidup lebih baik, hidup lebih bahagia.
Apa dampaknya bagi psikologi? Para psikolog terlalu
terfokus pada pendefinisian "penyakit-penyakit baru" yang diidap manusia.
Para psikolog kemudian miskin pengetahuan
mengenai cara menuju bahagia, karena lebih tekun mencari cara menyembuhkan
penyakit.
Dalam kedokteran dan ilmu pengobatan, wacana defisit
diusung oleh dunia barat yang berseberangan dengan wacana positif yang diyakini
oleh dunia timur. Perbedaan wacana ini tercermin dari istilah yang digunakan
yaitu "medicine" versus "healing". Medicine yang berati
mengobati atau menyembuhkan tentu sangat berlawanan dengan pengertian
menyehatkan dari healing. Dengan pengobatan, fokus utama kita adalah terhadap
penyakit dan dengan sendirinya mengurangi perhatian terhadap manusia secara
menyeluruh. Sementara, wacana penyehatan, yang seringkali dimarginalisasi
dengan sebutan pengobatan alternatif, justru lebih terfokus pada manusia dan
upaya-upaya untuk menyehatkan manusia agar tahan menghadapi penyakit.
Dalam dunia pertanian, peptisida dan pupuk organik
yang disarankan oleh para pakar bukannya semakin meningkatkan kualitas tanah
dan pertanian tetapi justru membuat tanah dan pertanian semakin rusak,
tergantung dari formula yang satu ke formula yang lain. Alih-alih menciptakan
pertanian yang sehat, upaya menyelesaikan suatu penyakit melalui penggunaan zat
kimia justru melahirkan penyakit-penyakit baru karena adanya resistensi dan kreativitas
mahluk hidup yang disebut sebagai penyakit oleh manusia. Tak heran kemudian
saat ini banyak petani yang kembali melakukan dan mengembangkan pertanian
organik.
Apa dampak penggunaan paradigma defisit dalam
kehidupan kita? Berdasarkan hasil rangkuman beberapa tulisan dan refleksi
pengalaman pribadi, ada beberapa kesimpulan tentang dampak dari wacana defisit
ini, yaitu:
·Menimbulkan rasa sakit karena
orang dipaksa untuk mengingat kembali kesalahan di masa lalu
·Melahirkan sikap defensif seperti
saling tuding, lempar tanggung jawab dan mencari kambing hitam
·Membuat orang tidak percaya diri
untuk melakukan tindakan positif, karena apapun tindakannya akan dilihat sisi
kelemahan dan kekurangannya
·Jarang melahirkan visi baru karena
hanya terfokus pada kenyataan, jarang merefleksikan tujuannya
·Seringkali upaya menyelesaikan
persoalan tidak pernah benar-benar menyelesaikan, hanya memindahkan persoalan
atau justru menimbulkan persoalan baru
Dampak wacana defisit yang demikian luas, menuntut
kita untuk melakukan loncatan kesadaran menuju wacana apresiatif. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Albert Einstein, "Tidak ada persoalan yang dapat
diselesaikan oleh suatu kesadaran yang menciptakan persoalan tersebut. Kita
harus belajar memandang dunia dan manusia dengan cara pandang baru". Loncatan kesadaran menunjukkan bahwa
antara wacana defisit dan wacana apresiatif bukanlah relasi yang dikotomis,
bersifat hitam-putih. Kedua wacana tersebut merupakan alternatif-alternatif
kesadaran manusia. Ibaratnya, berganti kacamata hijau menjadi kacama merah. Ada bagian dari kehidupan
kita yang jauh lebih menarik apabila kita menggunakan wacana defisit dalam
bertindak, terutama situasi yang terbatas oleh waktu, atau tindakan-tindakan
yang bertujuan teknis-instrumental.
Semisal, kita harus mengapresiasi
kehadiran ular dalam komunitas sawah secara luas karena perannya penting dalam
menjaga keseimbangan alam. Ketika kita memusnahkan ular maka terjadilah bencana
alam karena terganggunya keseimbangan alam. Tikus merajalela dimana-mana. Dalam
konteks makro tersebut, maka saya harus menggunakan wacana apresiatif dalam
memandang ular. Akan berbeda, apabila kita berjumpa dengan ular saat berjalan
di tengah sawah dan ular tersebut membahayakan kehidupan kita maka kita dihadapkan
pada pilihan untuk menggunakan wacana apresiatif atau wacana defisit. Kita
tetap mengapresiasi dan bersahabat dengan ular tersebut atau kita menganggap
ular tersebut sebagai masalah yang harus kita atasi. Entah lari atau menyakiti
ular tersebut. Pilihan tetap berada di tangan kita. Tetapi untuk melakukan
appreciative inquiry maka kita harus mengalihkan mode mentalitas kita menjadi
apresiatif.
Ketika
membicarakan tentang wacana apresiatif, pertanyaan yang seringkali diajukan
adalah apa yang kita lakukan terhadap yang negatif atau persoalannya? Bedakan
berpikir apresiatif dengan berpikir positif, berpikir afirmatif atau berpikir
anti-kritik. Berpikir apresiatif bukan berarti menafikkan apa yang negatif.
Bukan membutakan diri terhadap kelemahan. Bukan tidak mengakui kekurangan.
Setiap orang pasti pernah salah. Setiap keluarga pasti punya aib. Setiap
organisasi pasti pernah mengalami kegagalan.
Berpikir
apresiatif adalah upaya menghargai apa yang ada pada diri kita, mengambil
hikmah dari setiap kejadian yang kita lalui. Kita diajak untuk lebih terfokus
pada apa yang terbaik dari manusia dan sistem manusia, apa yang memberi nafas
kehidupan. Semisal, seburuk apapun Indonesia
tetap kita harus mengakui bahwa Indonesia
telah bertahan puluhan tahun. Pasti ada sesuatu yang membuat Indonesia tetap bertahan, sesuatu yang
meng"hidup"kanIndonesia. Sesuatu itulah yang akan
dihargai dengan berpikir apresiatif dan yang akan menjadi pijakan dalam
melakukan perubahan yang mendasar.
Kedua,
kita harus terus menerus melakukan penyelidikan (inquiry) terhadap kehidupan manusia. "Jangan banyak
bertanya", "Jangan beri kami pertanyaan, beri kami jawaban", adalah
ucapan yang sering kita dengar mulai dari para siswa maupun pekerja ketika
mereka difasilitasi untuk melakukan pembelajaran. Keyakinan adanya sebuah
kebenaran tunggal membuat kita seringkali berpikir untuk apa repot-repot
mengajukan pertanyaan, sampaikan saja kebenaran itu.
Itu juga sangat jelas tercermin dalam sistem pendidikan kita yang lebih
terfokus pada mengetahui "jawaban yang benar". Siswa yang sukses
adalah siswa yang bisa mengakses jawaban yang benar tersebut secara cepat dan
tepat. Penekanan yang berlebih pada jawaban membuat perhatian kita berkurang
terhadap pertanyaan. Sehingga, sistem pendidikan kita menekankan pengetahuan
yang dihafalkan dan statis sifatnya daripada upaya pencarian
kemungkinan-kemungkinan baru melalui pertanyaan yang dinamis. Bayangkan apa
jadinya bila kita memberikan jawaban yang benar atas pertanyaan yang salah?
Prinsip
inquiry memandang manusia sebagai mahluk yang terus bertanya. Mengubah manusia
dewasa yang menerima begitu saja segalanya menjadi anak yang penuh dengan
pertanyaan. Manusia dewasa yang menganggap tahu segalanya menjadi anak yang terus
menerus belajar. Tepat, pertanyaan merupakan ciri terjadinya pembelajaran.
Ingat teori gravitasi lahir dari sebuah pertanyaan sederhana tentang fenomena
apel jatuh, sebuah fenomena yang sudah tidak pernah dipertanyakan lagi oleh
orang-orang pada jamannya. Sebuah pertanyaan sederhana dapat melahirkan sebuah
teori dan menghasilkan perubahan dunia. Semakin beragam pertanyaannya maka
semakin banyak yang dipelajari seseorang.
***
Kedua prinsip tersebut, appreciative dan inquiry, yang
kemudian membentuk Appreciative Inquiry. Sebagaimana fusi antara hidrogen dan
oksigen, seperti reaksi fusi inti nuklir, penggabungan antara appreciative dan
inquiry melahirkan sebuah energi dahsyat yang mengkatalisasikan perubahan yang
luas biasa. Proses fusi tersebut akan menyatukan energi dari setiap orang,
mengikat energi itu dan mengubah menjadi daya dorong yang tidak terbayangkan.
Forum yang awalnya dingin berubah menjadi hangat, seolah-olah energi alam
melinggkupi forum tersebut, ketika orang-orang melakukan wawancara apresiatif
dan bertukar cerita inspiratif.
Secara sederhana, Appreciative Inquiry dapat diartikan
sebagai seni dan praktek bertanya yang memperkuat kapasitas manusia dan sistem
manusia untuk menciptakan masa depan yang penuh dengan harapan. Secara lebih
serius, Appreciative Inquiry adalah sebuah metode yang mentransformasikan
kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada
pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan. Appreciative
Inquiry dapat diterapkan di berbagai bidang selama fokusnya adalah manusia dan
sistem manusia. Sistem manusia dapat berarti keluarga, komunitas, kelompok,
organisasi dan bahkan kota.
Appreciative Inquiry dikembangkan pertama kali oleh David
Cooperrider dan Suresh Srivastva di Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio.
Mereka berdua melakukan uji coba berbagai pendekatan action research untuk
mengembangkan Cleveland Clinic, sebuah fasilitas perawatan kesehatan
bertaraf-internasional. Mereka berdua melakukan wawancara yang terfokus pada faktor-faktor
yang memberikan kontribusi bagi efektivitas organisasi. Proses wawancara ini
kemudian memancing seluruh anggota organisasi membicarakan kisah-kisah
keberhasilan organisasi secara antusias. Keberhasilan pendekatan awal ini yang
kemudian menyebarluas ke seluruh penjuru dunia.
Dalam sepuluh tahun terakhir, Appreciative Inquiry
menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia, seperti
untuk mengubah budaya sebuah organisasi, melakukan transformasi komunitas,
menciptakan pembaharuan organisasi, mengarahkan proses merger dan akusisi dan
menyelesaikan konflik. Dalam bidang sosial, Appreciative Inquiry digunakan
untuk memberdayakan komunitas pinggiran, perubahan kota, membangun pemimpin religius, dan
menciptakan perdamaian (Chapagai, 2000; der Haar dan Hosking, 2004; Bushe, 2005;
Watkins, J., Mohr, B., 2001; Whitney, D., & Trosten-Bloom, A., 2002).
Dalam dunia pendidikan, Appreciative Inquiry digunakan
untuk perubahan budaya, penyusunan rencana strategis dan perubahan proses
pembelajaran. Dalam pengelolaan SDM, Appreciative Inquiry diterapkan untuk
melakukan wawancara seleksi, membentuk model kompetensi, penilaian kinerja,
coaching dan mentoring, serta membentuk tim kerja. Selain itu, Appreciative
Inquiry diterapkan juga untuk penciptaan keluarga, desain pendidikan anak,
terapi individu dan terai kelompok (Bushe, 1998; Bushe dan Kassam, 2005; Watkins,
J., Mohr, B., 2001; Whitney, D., & Trosten-Bloom, A., 2002).
***
Mari
kita kembali pada pencarian kisah inspiratif, kembali pada perubahan dunia.
Bagaimana cara appreciative inquiry menggali kisah inspiratif? Bagaimana cara
appreciative inquiry menjadikan kisah inspiratif sebagai energi pengubah dunia?
Cara appreciative inquiry ibarat penambang mencari dan mengubah biji emas untuh
menciptakan dunia yang indah. Siklus cara appreciative inquiry biasa disebut
sebagai siklus 5-D yaitu Definition,
Discovery, Dream, Design
dan Destiny.
Layaknya
seorang penambang, langkah awalnya adalah menentukan apa yang menjadi fokus
penambangan, apa yang mau ditambang? Langkah awal ini akan menentukan
keseluruhan proses. Bila penambang itu menentukan emas maka emas yang akan
didapatkan. Akan berbeda ketika ia memilih perak, perunggu, atau tanah.
Penambang selanjutnya akan mempersiapkan proses penambangan. Menyiapkan
alat, orang, tempat dan yag lainnya. Begitu juga dg appreciative inquiry
menyiaplan pertanyaan sbg alat untuk melakukan penggalian, menentukan siapa
yang mewawancarai, dan siapa yang diwawancarai. Penambang akan lebih terfokus
pada bijih emas yang besar dan lebih mengkilap.
Setelah melakukan penambangan, tentu penambang akan mendapatkan bijih
emas. Lalu bagaimana? Penambang akan berimajinasi tentang bentuk yang
diinginkannya. Dengan segala bijih emas yang dimiliki, kondisi ideal macam apa
yang dapat tercapai? Penambang akan berimajinasi, semisal tentang bentuk
perhiasanan atau artefak lainnya dengan segala keindahan.
Penambang melanjutkan langkahnya. Ia menyusun desain untuk mengolah
bijih emas menjadi bentuk yang dimpikan, mulai dari desain proses pembentukan,
organisasi produksi, sistem jaminan mutunya dan yang lainnya. Apabila segalanya
telah tersedia dan dipersiapkan, maka penambang mulai beraksi untuk mewujudkan
impian dalam kehidupan nyata. Ia akan merayakan setiap keberhasilan dan
mengembangkan keberhasilan itu.
Sebagaimana
cerita penambang diatas, begitu pula langkah dasar dalam Appreciative Inquiry.
Diawali dengan pemilihan pemilihan topik afirmatif, fokus perubahan yang
diinginkan. Sebagaimana namanya, topik ini harus memancing minat semua untuk
mencari tahu, mempelajari dan mengembangkan topik tersebut. Topik yang
membangkitkan gairah, menyulut semangat kehidupan. Topik ini menjadi arah
perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud. Beberapa topik
afirmatif adalah kepuasan kerja yang mengikat, penciptaan kehidupan yang
harmonis, pembelajaran yang inspiratif.
Ambil contoh kita memilih topik afirmatif pasangan yang luar biasa.
Langkah berikutnya, kita akan memasuki tahap Discovery yaitu melakukan wawancara
apresiatif, aktivitas appresiatif inquiry yang tak tergantikan, seputar topik
afirmatif. Tujuan utama wawancara ini adalah mengungkap dan mengapresiasikan
sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang, pekerjaan dan
organisasinya. Kreativitas praktisi appresiatif inquiry sangat diperlukan untuk
menciptakan pertanyaan yang tajam, provokatif dan memancing lahirnya kisah
inspiratif.
Semisal,
“Ingatlah ketika aku dan kamu pertama kali jatuh cinta satu satu sama
lain. Ceritakan pengalaman ketika engkau jatuh cinta pertama kali padaku! Apa
yang membuatmu jatuh cinta?” Atau, “Setelah melewati beberapa
waktu, perkawinan kita telah mengalami momen terbaik. Ceritakan mengenai
momen-momen terbaik yang ingin kamu bekukan dan kamu ingin kembali mengalami
momen tersebut. Apa yang kita lakukan? Apa yang membuat momen itu menjadi
sempurna?”
Percaya atau tidak, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat mengungkapkan
kemisteriusan kehidupan manusia. Kita akan mendapatkan banyak jawaban-jawaban,
biasanya dalam bentuk cerita, yang tidak terduga, yang luar biasa, yang
“aneh”, yang “ajaib “, sisi lain yang tidak pernah
terungkap sebelumnya. Kita terkadang terharu, terkadang geli, terkadang
tergugah ketika mendengarkan berbagai cerita tersebut. Cerita tersebut
mengandung jiwa kehidupan bagi individu maupun organisasi, mengandung sesuatu
yang membuat individu atau organisasi menjadi “hidup”. Jawaban atau
cerita inspiratif ini kemudian kita kristalisasikan menjadi inti positif, aspek
dalam sejarah kita yang paling berharga dan ingin dikembangkan di masa depan.
Setelah
mendapatkan “emas” berupa cerita inspiratif, kita ditantang untuk
berimajinasi tentang masa depan yang ideal. Proses tahap Dream ini biasanya
dipandu dengan pertanyaan impian, sebagai pemancing untuk berimajinasi bebas.
Semisal, “Pejamkan mata anda! Bayangkan kamu mengalami tidur panjang dan
baru terbangun 10 tahun kemudian. Selama engkau tidur, dunia dan keluarga ini
telah mengalami perubahan yang sangat positif, seluruh impian dan harapan anda
terwujud. Ketika anda terbangun, apa yang engkau saksikan? Ceritakan secara
rinci! Bagaimana pasanganmu, bagaimana anak kita, bagaimana keluarga kita?“
Pertanyaan
impian ini harus memperluas kesadaran secara ruang dan waktu, mendorong orang
berimajinasi tentang kehidupan bersama yang diimpikan pada masa yang akan
datang. Pertanyaan impian ini biasanya menggugah, terkadang pula mengguncang,
kesadaran kita semua. Dalam beberapa kejadian, pertanyaan impian ini tidak
langsung terjawab. Walau demikian, pertanyaan impian ini seakan-akan
menghentikan waktu kehidupan kita, dan mendorong kita untuk berpikir tentang arah
kehidupan di masa mendatang.
Discovery
dan Dream adalah dua tahap yang paling emosional dalam Appreciative Inquiry.
Seluruh energi emosional dari peserta yang terlibat akan berkumpul dan mengubah
pertemuan atau aktivitas yang berlangsung menjadi penuh dengan gairah
kehidupan. Gabungan energi ini yang akan menjadi daya dorong bagi tahap-tahap
selanjutnya. Dalam salah satu kesempatan, saya menawarkan kepada salah seorang
sahabat serangkaian pertanyaan appreciative inquiry tentang pasangan yang luar
biasa. Dan komentarnya sungguh luar biasa,
“……..pada
saat yang sama aku juga bilangin kalo aku senang sekali waktu lihat dia main
piano lagu Love Story sambil sesekali nengok ke aku...kayaknya gimana gitu...kamu
tahu Bud....efeknya sampe sekarang untuk satu pertanyaan itu....kita jadi bermemori...ngingat
masa lalu..dan sikap dia ke aku..wuih..(meski ga pake kata-kata sayang, wong
dia gak bisa untuk hal itu) tapi body languangenya itu. Seperti saat tidur,
care banget sama aku….suka usap-usap punggung...(hi..hi..) kalo kebangun
tengah malam, nyempet-nyempetin cium kening aku sebelum dia lanjutin tidur
lagi....weleh....
Aduh mengingat ini aku
gigiku jadi ngilu...hi..hi...hi......”
(Email pada Kamis, 13
April 2006)
Reaksi berbeda terjadi
pada orang yang berbeda. Seorang mahasiswa menuturkan bagaimana ia dicurigai
pacarnya ketika mengajukan pertanyaan apresiatif. “apa maksudnya?”.
“Nanti kamu GR kalau kujawab”. Akan tetapi pada akhirnya,
“….saya
mencoba menerapkan berbicara AI dengan pasangan, hasilnya WOW !!!! luar biasa,
saya jadi enak berbicara dengan pasangan saya, dan pasangan saya pun jadi enak
mendengarnya, bahkan sampai keluar air mata terharu yang LUAR BIASA!!!”
(Email pada Kamis, 13
Juli 2006)
Selanjutnya,
berdasarkan apa yang terbaik di masa lalu dan masa kini, serta impian kehidupan
masa depan, maka kita kemudian mulai mendesain arsitektur kehidupan bersama
kita. Kita menyusun prinsip-prinsip tentang bentuk organisasi, nilai, proses, hubungan
antar pihak dan yang lainnya. Hasil dari tahap ini adalah sejumlah prinsip
panduan, yang biasa disebut sebagai proposisi provokatif, untuk menentukan aksi
atau tindakan yang akan kita lakukan.
Pada
tahap terakhir dari siklus 5D, setiap anggota dibebaskan dan diberdayakan untuk
mengajukan ide inovatif yang sesuai dengan hasil tahap sebelumnya. Ide inovatif
yang disepakati didukung secara menyeluruh baik oleh anggota yang lain maupun
oleh organisasi. Setiap anggota yang berminat mulai melakukan aksi dalam kehidupan
nyata. Pada akhirnya, setiap keberhasilan dirayakan, disebarluaskan, dan
dikembangkan pada keseluruhan organisasi.
Langkah
siklus 5D Appreciative Inquiry sebenarnya sederhana. Selama kita bisa
melepaskan diri dari wacana defisit dan mengubah cara pandang menjadi
apresiatif. Kita bisa melakukan pembandingan antara langkah Appreciative
Inquiry dengan langkah problem solving untuk semakin memudahkan pemahaman,
sebagaimana bagan berikut:
Praktek
appreciative inquiry adalah praktek yang mudah. Praktek itu dapat dilakukan
oleh siapapun dan dimanapun. Tidak perlu waktu dan ruang khusus. Bagi mereka
yang pemula, bisa mencobanya di meja makan ketika makan malam bersama keluarga,
dan mengubah makan malam itu menjadi pertemuan keluarga yang menggugah. Bisa
dilakukan ketika kencan bersama pasangan, dan jadilah kencan paling romantis.
Atau mulailah rapat dengan mengajukan pertanyaan, apa pengalaman terbaik dan
keberhasilan kita minggu ini? Rapat akan berubah menjadi pertemuan yang menarik.
Praktek
appreciative inquiry adalah praktek yang mudah. Setiap orang bisa mencari
kisah-kisah inspiratif. Setiap orang bisa membangkitkan semangat kehidupan
lingkungan sekitarnya. Setiap orang bisa mengajak orang-orang disekelilingnya
menciptakan visi kehidupan mendatang. Setiap orang bisa mengubah dunia sesuai
daya yang dimiliki dan terarah pada impian masa depan yang diinginkan. Tepat
kiranya bila appreciative inquiry disebut sebagai jalan setiap orang untuk
mengubah dunia, dan terus mengubah dunia. Pertanyaan apresiatif yang kita
ajukan akan memframing orang lain, jawaban orang tersebut akan menginspirasi
kita dan berputar berkembang begitu terus.
***
Buku ini adalah buku pengantar menuju pemahaman
sekaligus buku panduan praktek Appreciative Inquiry. Pemaparan tentang penjelasan
teoritis yang ringkas memudahkan pembaca untuk mengerti tentang Appreciative
Inquiry secara cepat. Panduan praktis tentang cara melakukan langkah demi
langkah appreciative inquiry yang diperkaya dengan ilustrasi dan contoh menjadikan
buku ini sebagai buku panduan bagi siapa saja yang ingin melakukan Appreciative
Inquiry. Kualitas buku ini terjamin juga berkat penulisnya yang merupakan
praktisi appreciative inquiry di berbagai tempat, sehingga cermat terhadap
setiap lekuk Appreciative Inquiry. Walau buku ini ditulis pada setting bisnis,
tetapi pembaca dapat mengambil pelajaran untuk dipraktekkan di bidang kehidupan
lainnya.
Bagi
pembaca yang ingin belajar lebih lanjut tentang appreciative inquiry, dapat
bergabung bersama kami dalam komunitas apresiatif. Silahkan mengirimkan email
kosong ke apprecitivecommunity@yahoogroups.com. Ada banyak literatur, sharing pengalaman dan
aktivitas menarik tentang appreciative inquiry yang dapat ditemukan dalam milis
ini.
Damai di Bumi
Budi Setiawan
Fakultas
PsikologiUniversitas Airlangga
Apakah Anda Yahoo!? Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
Sahwat Lelaki boleh meluap membanjiri setiap tempat dan waktu
Dan anak-nak gadisku sah untuk diperkosa
Sah jadi api industrialisasi a-moral
Sah jadi bulan-bulanan kemunafikan
Diludahi, diejek, dikejar-kejar,
Bahkan diundang-undangkan
Lahir cantik….
Diusia balita Jamila digadaikan ayahmya
Pada mucikari
Seperti melawan badai, ia terhempas-hempas
Sendirian, terjebak dan hanyut….
Jamila, adalah satu dari puluhan juta anak-anak senasib
Korban perdagangan seks anak-anak dibawah umur
Korban kemunafikan, ketamakan, dan kemiskinan tanpa akhir
Hadirilah Pertunjukkan teater Satu Merah Panggung karya ke-66 Ratna
Sarumpaet "JAMILA DAN SANG PRESIDEN" (judul Asli: Pelacur dan Sang
Presiden)
25 Juli- 28 Juli 2006 di Gedung Kesenian Jakarta, Pk. 20.00 WIB
Harga Tiket:
25 Juli 2006 seharga Rp.250.000,- (Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah)
Akan disumbangkan ke korban Bencana Alam DI Yogyakarta dan Jawa
Tengah.
26-28 Juli 2006, Rp. 40.000,- dan Rp.50.000,-
Keterangan lebih lanjut:
Satu Merah Panggung
Jl.Kampung Kecil V/24, Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan
Telp. 021-8291657, 70295367
Alin 0818819944, Rey 081808333533
Alangkah baiknya kalau istilah yang digunakan dalam forum ini jelas.
Maaf, saya tidak terlalu percaya dengan istilah "cultur
timur", "generasi otak tumpul" dsb. Pertama apa yang kita
kategorikan Timur? Rasnya kah, peradapannya kah, sejarahnya
kah, ...tanpa batasan yang jelas istilah-istilah seperti itu sukar
diterima. Dalam kaitan pendidikan, apa yang kita sebut cultur
pendidikan timur? Bukankan lebih baik mengisolasi satu topik yang
agar punya koridor untuk didiskusikan. Kalau tidak. Maaf, ini
diskusi kelas recehan...
--- In kunci-l@yahoogroups.com, rage eat <perangkelas@...> wrote:
>
> Argumen tentang dunia pendidikan kok bisa se-amnesia ini?
Bukankah memang secara institusional pendidikan yang ada dan
dominan sekarang ini hanya berfungsi mencetak sebagian kecil sumber
daya manusia dari sekian banyak populasi orang Indonesia, agar
divisi kerja juga berfungsi? ngapain juga pake konsep ibnu k. yang
aneh banget itu dan malah ngebuat kita ngeliat seakan-akan gerak
sejarah itu idealis? kayak versi suharto sebagai bapak pembangunan
itu misalnya? generasi pendobraklah-pembangunan-lah-penikmat-
lah..saya pikir tidak perlu dibanalkan begitu mas. Fungsi institusi
pendidikan indonesia yang digabungkan sama konsep kultur timur yang
sama sekali tidak dikritisi memang hanya akan menghasilkan generasi-
generasi otak tumpul alias tidak kritis, tidak kreatif, bahkan
reaktif dan hanya manut kemana gerigi akan berputar.. kalau
sekarang banyak generasi yang cuman bisa ngelongo di depan televisi
itu juga merupakan hasil dari gerak sejarah masa lalu, dan harus
> diakui kalau sejarah indonesia itu juga momen amnesia yang
kronik sehingga yang bisa kita ketahui hanya kisah tuan tanah
feodal macam pangeran diponegoro? dan sekarang, para generasi tua
malah memperburuk generasi muda dengan membebani mereka kebijakan-
kebijakan struktural yang berat sebelah. Seakan-akan generasi muda
merupakan generasi yang paling payah.-penikmat? gak ada salahnya
menikmati sesuatu, hanya saja di dunia konsumeris, kita tidak
memiliki pilihan beragam selain apa yang telah disodorkan, kita
tidak perlu berpikir cukup media yang menjelaskan. Terus terang
saya sama sekali tidak pernah respek pada generasi tua... saya
pikir tugas generasi muda sekarang kalau mereka memang ingin bebas
dari semua ini, adalah dengan membakar hangus nilai generasi tua.
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> See the all-new, redesigned Yahoo.com. Check it out.
>
Rabu Video Club Wednesday, 26 July 2006, 7 PM at ruangrupa VIDEOLAB
This month we’ll present you a collection from VIDEOLAB Bandung.
For this July 2006, we will present two video makers who work as a graphic designer. They are Dodi Mustafa ( Domus ), a bachelor from Printmaking studio of Art and Design Faculty in ITB, graduated in 2004 and Muhammad Yudi Suhairi (Gorky), a bachelor of Visual Communication of Design ( DKV ) in faculty of Arts and Design UNIKOM, graduated in 2005.
As a graphic designer, Domus used to make many experimental video works during his study in ITB. Some of his video works showed in many places of an exhibition or a video screening in Indonesia and internationally. Started in 2003 when he participated in a video workshop from Video centre of Tokyo in ruangrupa, Jakarta then he worked with videoworks for an exhibition and screenings, like in Re-inventing Bandung at Selasar Sunaryo Art Space, Beyond Panopticon Art and Global Media Project in Electronic Mall in 2004, video screenings in common room which brought his videos internationally.
And now, he work with video passively, but more with graphic design works. Different with Gorky, as a graphic designer, he participated in some graphic works workshops and exhibitions, like with Julian Opie in national gallery, Jakarta in 2005.
He started to make a short film for his task during his study then he made some TV Ad and participated in short film festival at AACC (Asia Africa Cultural Centre), Bandung in 2004. And now, more videoworks or moving images he made, the last works are music video of Rachel Jacobs ('Productive Vampires'), a video profile for a private university in Bandung.
Herra Pahlasari
Program // Database VIDEOLAB
VIDEOLAB – share and play your motion thoughs
A group that focus on local and international video collection as database, and research on video art in Indonesia.
Sebagai upaya membantu tetap tumbuhnya penulis muda (bidang seni visual) Cemeti Art Foundation kembali membuka program kursus menulis singkat (seni visual) "AksarA" Gelombang II, III dan IV. Program ini dirancang bagi Anda yang berusia maksimal 24 tahun.
Untuk setiap angkatan berlangsung per-3 bulan (10 kali pertemuan), dengan instruktur-instruktur yang telah berkompeten di bidangnya. Hanya tersedia maksimal 15 kursi untuk setiap angkatan.
Biaya pendaftaran: Rp 50.000, - (limapuluh ribu rupiah)
Fasilitas:
ØSnack dan minum
ØSertifikat
Syarat Peserta:
ØMenguasai bahasa Indonesia
ØTertarik untuk menulis tentang seni visual
ØTidak buta huruf
ØMenguasai alat ketik/komputer
ØBersedia mengikuti kursus hingga selesai
Ø Angkatan I: Mei - Juli 2006
Instruktur: Kris Budiman
Kelas sudah selesai.
Ø Angkatan II: Agustus – Oktober 2006
Instruktur: Antariksa
Setiap hari Rabu pukul 19:00-21:00 WIB
Kelas dimulai: (informasi menyusul)
Pendaftaran paling lambat, 1 Agustus 2006
Tempat: Yayasan Seni Cemeti
ØAngkatan III: November 2006-Januari 2007 (info lebih lengkap menyusul)
Calon instruktur lainnya adalah: Ugoran Prasad
ØAngkatan IV: Februari-April 2007 (info lebih lengkap menyusul)
Calon instruktur lainnya adalah: Puthut E A
Bagi Anda yang benar-benar tertarik dan serius ingin mengikuti program ini silahkan hubungi:
Agustina Tri W [Tina]
di Yayasan Seni Cemeti
***************************************************** Cemeti Art Foundation | Yayasan Seni Cemeti Jalan Patehan Tengah No. 37 Yogyakarta 55133, INDONESIA Tel. +62.274.375 247, Tel./Fax. +62.274.372 095 Email: artysc@... doc@... URL: www.cemetiartfoundation.org
Opens Monday - Friday, 9.00 am - 5.00 pm
Cemeti Art Foundation (CAF) is a non profit organization, which empowers visual arts infrastructure in Indonesia. Its core activities are documentation, research, and education. In implementing its programs and projects, CAF also builds networks with equal partner, in the scope of local, regional, as well as international | Yayasan Seni Cemeti (YSC) adalah sebuah lembaga nirlaba, yang mendorong pemberdayaan infrastruktur seni visual di Indonesia. Bidang utamanya adalah dokumentasi, riset, dan pendidikan. Dalam kerjanya, YSC juga membangun jaringan kerja dengan mitra sejajar, baik dalam lingkup lokal, regional, maupun internasional.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
salam.......
kami dari Fascho center For Indiciplinary Studies (
FCIS)
yakni forom yang menkaji persoalan budaya, politik,
agama dan filsafat. berminat mendapatkan buletin anda.
alamat kami JL: TIRTO UTOMO Gg VII NO. 3 Landungsari.
DAU. MALANG
Terima kasih
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
kami masukkan dulu nama anda
dalam daftar calon peserta AKSARA angkatan II
anda bisa melengkapi data diri (nama lengkap/TTL/alamat/email/telepon/profesi/universitas) dan dikirim ke alamat email kami. akan kami hubungi anda kemudian.
Sebagai upaya membantu tetap tumbuhnya penulis muda (bidang seni visual) Cemeti Art Foundation kembali membuka program kursus menulis singkat (seni visual) "AksarA" Gelombang II, III dan IV. Program ini dirancang bagi Anda yang berusia maksimal 24 tahun.
Untuk setiap angkatan berlangsung per-3 bulan (10 kali pertemuan), dengan instruktur-instruktur yang telah berkompeten di bidangnya. Hanya tersedia maksimal 15 kursi untuk setiap
angkatan.
Biaya pendaftaran: Rp 50.000, - (limapuluh ribu rupiah)
Fasilitas:
ØSnack dan minum
ØSertifikat
Syarat Peserta:
ØMenguasai bahasa Indonesia
ØTertarik untuk menulis tentang seni visual
ØTidak buta huruf
ØMenguasai alat ketik/komputer
ØBersedia mengikuti kursus hingga selesai
Ø Angkatan I: Mei - Juli 2006
Instruktur: Kris Budiman
Kelas sudah selesai.
Ø Angkatan II: Agustus – Oktober 2006
Instruktur: Antariksa
Setiap hari Rabu pukul 19:00-21:00 WIB
Kelas dimulai: (informasi menyusul)
Pendaftaran paling lambat, 1 Agustus 2006
Tempat: Yayasan Seni Cemeti
ØAngkatan III: November 2006-Januari 2007 (info lebih lengkap menyusul)
Calon instruktur lainnya adalah: Ugoran Prasad
ØAngkatan IV: Februari-April 2007 (info lebih lengkap menyusul)
Calon instruktur lainnya adalah: Puthut E A
Bagi Anda yang benar-benar tertarik dan serius ingin mengikuti program ini silahkan hubungi:
Agustina Tri W [Tina]
di Yayasan Seni Cemeti
***************************************************** Cemeti Art Foundation | Yayasan Seni Cemeti Jalan Patehan Tengah No. 37 Yogyakarta 55133, INDONESIA Tel. +62.274.375 247, Tel./Fax. +62.274.372 095 Email: artysc@... doc@... URL: www.cemetiartfoundation.org
Opens Monday - Friday, 9.00 am - 5.00 pm
Cemeti
Art Foundation (CAF) is a non profit organization, which empowers visual arts infrastructure in Indonesia. Its core activities are documentation, research, and education. In implementing its programs and projects, CAF also builds networks with equal partner, in the scope of local, regional, as well as international | Yayasan Seni Cemeti (YSC) adalah sebuah lembaga nirlaba, yang mendorong pemberdayaan infrastruktur seni visual di Indonesia. Bidang utamanya adalah dokumentasi, riset, dan pendidikan. Dalam kerjanya, YSC juga membangun jaringan kerja dengan mitra sejajar, baik dalam lingkup lokal, regional, maupun internasional.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Kepada Yth: Moderator
Kami mengharap izin dari moderator untuk sekiranya
meloloskan posting ini agar di masa mendatang ketika
proyek ini semakin luas berguna bagi banyak orang;
tindakan plagiat, copy&paste contek menyontek dlsb
dapat dihindari sehingga kami bisa lebih fokus pada
penelitian kami yang bisa digunakan oleh masyarakat
umum bukan sekedar untuk kaum pe-monopoli standart
akademis saja seperti perkembangan ilmupengetahuan
yang umum terjadi di Indonesia… Thx Vincent Liong
E-BOOK dapat didownload secara Cuma-Cuma di:
<http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati/files>
Deklarasi Ilmu Baru Kompatiologi
e-link:
<http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/16550>
Ditulis oleh: Drs. Juswan Setyawan <juswan@...>
Pada tanggal 20 Juli 2006, penemu logika dan
praxis Komunikasi Empati, Vincent Liong, dalam artikel
Mukadimah mengumumkan berdirinya ilmu baru
Kompatiologi. Kompatiologi tegas-tegas menolak
dikategorikan sebagai ranting dari Ilmu Komunikasi
maupun ranting dari Ilmu Biologi atau Ilmu Psikologi.
Dalam diskusi lepas dengan pakar sosiologi Dr.
Hubertus Ubur, seorang dosen Sosiologi pada Unika
Atmajaya dan Gunadharma, terungkapkan fakta bahwa
semua cabang Ilmu Pengetahuan secara organik dan
sosiologis dimulai dengan dan dari suatu Konsep yang
secara evolusioner barulah kemudian dikembangkan dan
diperkaya dengan berjalannya waktu oleh tokoh yang
berbeda-beda secara piramidal. Tidak ada cabang Ilmu
Pengetahuan yang begitu timbul telah terbentuk secara
sempurna dan sekali jadi. Metodik dan sistematika –
bahkan Nama resmi dari suatu ilmu baru selalu
dikembangkan lebih hilir dalam kontinuum waktu
perjalanan eksistensinya. Zaman dan kondisi telah
berubah total dan segalanya menjadi semakin instant
sehingga tidak ada salahnya justru dilakukan hal yang
justru sebaliknya yaitu memberi nama baru kepada
Komunikasi Empati ini sebagai Ilmu Kompatiologi.
Sifatnya yang dominan praxis membuat Ilmu Kompatiologi
dengan nama ataupun tanpa nama, walau dengan nama
apapun ilmu Kompatiologi telah terbukti dapat dikuasai
dan telah diterapkan secara individual ke dalam
berbagai bidang ilmu pengetahuan dan bidang profesi di
dalam masyarakat seperti kedokteran umum, kedokteran
hewan, kedokteran gigi, salesmanship, dsb.
Pada abad ke 15 misalnya belum ada yang
namanya ilmu Sosiologi, ilmu Anthropologi, ilmu
Manajemen, ilmu Psikologi apalagi Ilmu Teknik
Informasi dan Telematika. Tetapi ilmu-ilmu seperti
ilmu Filsafat, ilmu Hukum, ilmu Kedokteran relatif
lebih tua dan sudah terbentuk sejak abad-abad pertama
tarikh Masehi. Ilmu filsafat sendiri, menurut Dr.
Hubertus Ubur pada awalnya sama sekali bukan ilmu
melainkan melulu rumusan hasil refleksi tentang
hakekat zat dan tentang apa itu makna kebenaran. Orang
mengamati fenomen atau gejala alam seperti api, air,
angin dan ingin mencoba memahami dan merumuskan
hakekatnya. Semestinya hal-hal seperti itu termasuk
Ilmu Fisika namun pada awal mulanya semua ilmu
berpangkal pada Ilmu Filsafat, karena semua ilmu
selalu bersifat mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti the “WHAT” dan
“WHY” serta kemudian diikuti ‘HOW”. Kata filsafat itu
sendiri berasal dari dua kata bahasa Yunani yaitu
‘philia’ dan ‘sophia’, yang masing-masing berarti
‘cinta’ dan ‘kebenaran’, sehingga filsafat ialah ilmu
yang mencintai kebenaran - tetapi mana ada ilmu
pengetahuan formal yang membenci kebenaran? Filsafat
juga tidak dibangun oleh satu orang karena selain nama
Socrates yang kerap disebut-sebut dan dianggap bapak
Ilmu Filsafat karena dipaksa minum racun akibat
penemuan barunya itu, kita juga mengenal nama-nama
seperti Plato, Stoa, Euclides dsb. misalnya.
Ilmu Theologia juga baru timbul setelah orang-orang
dari pelbagai zaman mempelajari ajaran-ajaran agama
yang diturunkan ke dunia ini dari sudut pandangan
tertentu yang serba theo-sentris. Dan pada gilirannya
ilmu Moral baru terbentuk kemudian mengikuti ilmu
Theologia.
Bila kebanyakan ilmu pengetahuan memerlukan
waktu yang sangat panjang dan lama untuk perumusan dan
pengembangannya, maka Kompatiologi akan memerlukan
waktu yang relatif lebih pendek karena didukung oleh
mereka yang pakar dalam bidang-bidang penerapannya
masing-masing. Kompatiologi pada hakekatnya bukan ilmu
teori umum melainkan lebih bersifat ilmu terapan
secara praxiologis. Maka dari itu kompatiologi secara
langsung serta merta telah dapat diterapkan ke dalam
berbagai bidang ilmu pengetahuan, namun para pakar
dari ilmu pengetahuan yang bersangkutanlah yang akan
berkontribusi untuk mengembangkan Ilmu Kompatiologi
itu sendiri. Misalnya, Cornelia Istiani, M.Si.
seorang strata dua Ilmu Psikometri bertugas merumuskan
dasar-dasar psikometrik daripada ilmu Kompatiologi.
Apakah deklarasi ini terlalu dini, terlalu
ambisius dan terlalu bombastis? Bukanlah tugas penemu
ilmu Kompatiologi itu sendiri untuk menjawabnya.
Justru para pemerhati, peminat dan partisipan dalam
ilmu Kompatiologi, mereka itulah yang akan
melaksanakan tugas-tugas sekunder seperti itu.
Hal ini dapat dipermudah dan dipercepat - menurut Dr.
Hubertus Ubur yang pakar mengenai sejarah perkembangan
ilmu pengetahuan disorot dari ilmu Sosiologi.
Dasar-dasar teoretik, metodik serta metode
pengembangan dari ilmu Kompatiologi sedang disusun
dalam waktu yang tidak terlalu lama mengingat
dasar-dasar ilmu Kompatiologi itu sendiri baru
dirumuskan tiga bulan sejak medio April 2006 yang
lalu. Dengan atmosfir yang sangat kondusif dan
terbuka karena arus deras globalisasi dan luasnya
cakupan teknik-teknik telekomunikasi dan sibernetika
maka garis waktu dapat “dilipat” menjadi sangat
pendek. Sama seperti dua titik terminal suatu garis
lurus yang digambarkan pada selembar kertas dapat
dipertemukan dengan cara melipat kertas tersebut dan
menempatkan kedua titik terminal itu pada satu posisi
yang sama.
Pada hari Jum’at, 21 Juli 2006, telah diadakan
presentasi dan diskusi kelompok di ruang rapat Ilmu
Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas
Tarumangara dengan para dokter dosen - antar generasi
- membahas selama tiga jam penuh tentang kemungkinan
aplikasi ilmu Kompatiologi ke dalam sistem pendidikan
Ilmu Kedokteran. Walaupun terlalu pagi untuk
menerapkan ilmu ini dalam skala umum dan menyeluruh
namun hampir semua partisipan menganggap –
setidak-tidaknya tidaklah menolak bahwa ilmu
Kompatiologi sebagai sesuatu yang baru, unik dan
menarik, yang mungkin memang sesuatu yang selama ini
sedang dicari-cari untuk turut menyempurnakan
kurikulum Fakultas Kedokteran. Hal ini justru karena
praktek komunikasi yang empatik sudah merupakan suatu
“conditio sine qua non” bagi para praktisi zaman
sekarang yang benar-benar menginginkan terbentuknya
suatu relasi interpersonal yang mampu menghasilkan
output yang mutual dan maksimal.
Mang Iyus
(Drs. Juswan Setyawan)
Jakarta, Sabtu, 22 Juli 2006
E-BOOK dapat didownload secara Cuma-Cuma di:
<http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati/files>
MUKADIMAH
Komunikasi Empati sebagai Payung dari Cabang Ilmu di
dalam-nya…
e-link:
<http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/16525>
Ditulis oleh: Liong Vincent Christian / Vincent Liong
Pendahuluan
Saya merasa kurang bilamana saya tidak
menceritakan apa yang akan saya tuliskan dalam esai
ini. Sebenarnya saya tidak mau / menghindari diri
untuk menulis hal-hal tentang Komunikasi Empati
(KomPati). Bagi saya masterpiece terbaik saya bulankah
dari tulisan-tulisan saya baik tentang KomPati atau
karya-karya saya sebelumnya yang sekedar
‘aplikasi’(menerapkan kemampuan / ilmupengetahuan /
metodologi tertentu yang saya kuasai) selalu
subjective dan individualistis karena memang saya
penulis yang bercerita hal biasa tentang hidup saya
sendiri yang oleh karena tulisannya menjadi suatu hal
yang menarik.
Masterpiece dari karya saya menurut karya saya
sendiri adalah bagaimana keberhasilan saya,
mentranformasi proses mengalami dan menghayati
pengalaman-pengalaman dalam petualangan-petualangan
yang saya alami menjadi basic sistem sederhana tetapi
bukan kacangan yang bisa dipahami, dijalani dalam
hidup siapa saja tanpa terkecuali yang berniat dan
tulus untuk mengalami petualangan sejenis dalam
kehidupannya sendiri, yang tentunya akan tetap sebagai
hal yang unique, individualistis yang melekat pada
orangnya masing-masing, sebagai senimannya untuk diri
sendiri.
Banyak seniman tulisan seperti Pramoedya Ananta Tour
yang belum lama meninggal dunia, pelukis seperti
Leonardo Da Vinci, atau ilmuan seperti Carl Gustav
Jung dan Sigmund Freud yang dimana setelah si tokoh
utama meninggal dunia karyanya hanya menjadi kenangan
untuk dibahas, diperbincangkan dan dikritisi.
Memang banyak ahli bergelar sesuai standart
bermunculan mulai dari ahli sastra, ahli seni lukis
sampai ahli Psikologi, tetapi ahli-ahli ini hanya
menjadi seorang discoverer seperti anda yang menonton
discovery channel menonton apa hal yang sebenarnya
sudah ada, sekedar anda sedikit lebih tahu dari
sebelum anda menontonnya. Jarang sekali dari kalangan
para ahli ini yang benar-benar menjadi inventor
menemukan sesuatu dari ketidaktahuan samasekali, tanpa
punya kesempatan untuk menonton dari televisi atau
membaca buku atau mengikuti seri kuliah sehingga
karena banyak mendengar dalam standart tertentu
dianggap lulus.
Yang menjadi masalah, menonton itu beda dengan
mengalami proses pengalaman pencerahan atas suatu
pembentukan karya seni tsb. Kita tidak menonton
discovery channel atau national geograpic soal
Leonardo Da Vinci misalnya dimana Da Vinci sendiri
yang bercerita di sana. Bilamana demikian pun,
seberapa detail pengalaman seumur hidup tsb bisa dia
ceritakan dalam sebuah seri film dokumenter yang
durasinya kurang dari satu atau dua jam.
Apalagi bilamana si pencerita bukan orang yang sama,
sudut pandang bisa saja berbeda, bahkan alat penilai
dan pemetaan bahasa yang digunakan untuk menceritakan
sudah tentu berbeda. Misalnya dalam fakultas Psikologi
kita menemui Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung.
Kuliah Psikologi, hanya bersifat menceritakan
discovery atau bahkan gawatnya malah seperti pelajaran
sejarah dimana kronologis dan point-point hasil akhir
penemuannya saja yang dibahas, proses pembentukan yang
sedikit-semi sedikit itu tidak dibahas. Yang lebih
gawat lagi, sistem berpikir mendasar yang dipakai
untuk membahas ilmupengetahuan warisan Sigmund Freud
dan Carl Gustav Jung jelas berbeda dengan sistem
mendasar yang Freud dan Jung gunakan. Freud dan Jung
adalah ilmuan yang basic ilmunya bersifat pengertian
proses keseluruhan pengalaman (memori base) yang
sifatnya lebih konstan, misalnya soal
Psikoanalisa-nya. Sedangkan sistem mendasar yang
digunakan oleh hirarki Psikologi adalah sistem
stimulus & response (reward & punishment / right &
guilt feeling).
Hal ini sama seperti bilamana kita membahas
sebuah kapal yang melepas jangkarnya di tengah laut
yang dalam. Bilamana kita menggunakan sistem pemikiran
mendasar yang base on stimulus dan response, maka yang
dibahas adalah frekwensi gerak badan kapal akibat
hempasan gelombang dan tiupan angin. Bilamana kita
menggunakan sistem pemikiran mendasar yang base on
pengertian proses keseluruhan pengalaman (memori
base), maka yang kita nilai adalah letak kapal
terhadap garis lintang dan bujur bumi yang tetap
karena kapal tsb tertambat di satu tempat tertentu
karena adanya jangkar. Bilamana kita membahas letak
kapal terhadap garis lintang dan bujur bumi dengan
memperhatikan frekwensi gerak kapal akibat angin dan
gelombang saja maka tentu data hasil penilaian yang
diperoleh akan jelas salah.
Dalam Psikologi, sistem berpikir mendasar yang berbeda
ini membuat Psikoanalisa dianggap sulit dipelajari dan
digunakan sehingga tidak / jarang dipakai di dunia
Psikologi. Lalu mengapa Psikologi masih memonopoli
bahwa Psikoanalisa Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung
adalah bagian dari ilmu Psikologi?
Blok Barat atau Blok Timur
Dulu saya ketika diceritakan di kelas sejarah
soal blok barat dan blok timur, saya tidak begitu
mengerti dan membenarkan saja ketika diceritakan soal
perang antara Kapitalis VS Komunis. Dulu ketika
mendengar cerita mereka, saya dengan gampang bisa
menganggap Komunis itu jahat.
Hal itu berubah ketika saya hidup bersama anak-anak
dari aparat kedutaan Korea Utara di Jakarta yang makan
pagi bersama saya 5 hari dalam seminggu selama 2
tahun. Saya baru mengerti bahwa perbedaan sistem
pemikiran mendasar tsb mempengaruhi banyak hal.
Ilmupengetahuan itu sifatnya seperti hirarki dari satu
akar bisa tumbuh beberapa batang dan dari setiap
batang bisa tumbuh ranting yang lebih kecil dan lebih
kecil lagi,demikian seterusnya. Bagaimana kita bisa
membahas, berusaha mengerti dan menguasai suatu
ranting bilamana aturan main, sistem pemikiran
mendasar yang digunakan dari akar atau batang berbeda.
Kalau kita lihat dari pemimpin negara sosialis
seperti misalnya Kim Il Sung dan Mao Zedong maka
tampak di data sejarah bahwa mereka memiliki ikatan
yang kuat dengan agama Kristen. Tetapi mengapa mereka
kok menjadi musuh blok barat dan cenderung
dipropagandakan sebagai atheis? Rupanya cara mereka
menghayati Yesus berbeda dengan cara blok barat.
Ilmupengetahuan logis yang saat ini kita gunakan
awalnya dikembangkan oleh gereja-gereja Katholik.
Mengapa gereja yang seharusnya mengurus agama mengurus
ilmu?! Ada dua cara memahami Yesus; Memahami Yesus
berdasarkan kitab suci yang dipilih berdasarkan
kesepatakan politis, diantara yang ada dan ‘sebagian
besar lainnya dimusnahkan’ (seperti nasib gospel of
Judas, Gospel of Maria Magdalena, dlsb). Atau sekedar
menghidupkan tokoh Yesus sang mesias dengan menerapkan
ajaran cinta kasih dalam keseharian kita.
Jadi kita bisa menganggap Yesus itu jauh di sana
sebagai hal yang bersifat iman (intuitive) yang tidak
bisa kita capai tetapi seperti orang yang bisa kita
lihat dari jauh yang bisa melihat kita dari jauh. Maka
dari itu yang ada di depan mata kita dan dapat kita
jamah adalah hal-hal logis seperti kenyataan bahwa
ilmupengetahuan logis yang saat ini kita gunakan
awalnya dikembangkan oleh gereja-gereja Katholik.
Dalam pembahasan ilmupengetahuan-nya maka
pembahasan-nya hanya menganggap kerja otak kiri
(logika) yang penting dan mengabaikan hal yang
berkaitan dengan otak kanan (intuitive).
Ilmupengetahuan diamati seperti kita menonton
Discovery Channel di TV Cable yang dimana harus ada
jarak yang memisahkan antara penonton, ilmu, penemunya
dan penerusnya.
Kita juga bisa menganggap Yesus sebagai manusia yang
hidup sebagai sesama dan secara inheren menitiskan
dirinya, ada di sekitar kita melalui tokoh pemimpin
kita, orang yang kita kagumi atau bahkan ayah dan ibu
kita. Bilamana pemahaman yang dipilih seperti ini maka
hal logis dan hal intuitive tidak kita tabukan untuk
hadir bersama-sama dalam kehidupan kita sehari-hari.
Pembahasan tentang Tuhan juga tidak lagi sekedar tokoh
mitos melainkan orang biasa yang masih hidup dan ada
di sekitar kita. Dalam pembahasan ilmupengetahuan-nya
maka pembahasan dan penerapan sistem pemikiran dasar
sejak kecil hingga kita dewasa secara seimbang
mendalami kerja otak kiri (logika) dan otak kanan
(intuitive). Ilmupengetahuan dialami tiap prosesnya
dimana individu sebagai inventor, dikembangkan dan
disebarluaskan dalam bentuk system cell kecil seperti
keluarga, Yesus dengan dua belas rasulnya, dengan
ranting-ranting (murid-murid dari tiap rasul) yang
membentuk kelompok independent sendiri-sendiri.
Penutup
Kembali ke soal KomPati, maka dari itu dalam
tulisan ini saya menekankan bahwa saya tidak setuju
bilamana KomPati disebut sebagai bagian dari ilmu
Psikologi atau ilmu yang lain yang base on sistem
pemikiran dasarnya blok barat (stimulus & response
base). Psikologi berdasarkan makna dasarnya sebenarnya
tidak salah, tetapi Psikologi sebagai hirarki,
organisasi ilmu. Saya tidak ada kebencian secara
pribadi. Yang menjadi masalah adalah tindakan itu
hanya akan menghalangi perkembangan ilmu Komunikasi
Empati, seperti halnya ilmu Psikoanalisa Sigmund Freud
dan Carl Gustav Jung termonopoli oleh keorganisasian
Psikologi, tetapi terhambat perkembangannya dan
cenderung akan salah dimengerti sehingga tampak sulit,
mistik dan tidak berguna.
KomPati akan kami kembangkan secara
independent sebagai ilmu yang memiliki akarnya sendiri
dengan batang dan ranting-ranting yang telah tumbuh
atau akan tumbuh di kemudian hari yang tetap berpijak
para aturan main, sistem pemikiran mendasar akar yang
sama. Kami membuka kesempatan untuk ilmu kami
digunakan di institusi-institusi dan bidang keilmuan
yang telah ada dengan persyaratan bahwa dalam
penggunaan dan pengembangannya, sistem pemikiran
mendasar kami tidak diubah-ubah agar sesuai hirarki
yang meminjam hasil kerja kami. Bilamana tetap
dipaksakan, maka tidak akan mampu mendapatkan manfaat
atau tidak secara benar menggunakan ilmupengetahuan
yang menjadi cabang ilmu dari KomPati. Bisa saja hanya
mereduksi efisiensi ilmu ini atau malah samasekali
tidak memberikan hasil apa-apa.
Note: Untuk keberhasilan penggunaan dan pengembangan
Komunikasi Empati maka Mukadimah ini wajib dibaca,
dimengerti dan dijalankan dengan baik.
ttd,
Liong Vincent Christian / Vincent Liong
Jakarta, Rabu, 19 Juli 2006
Definisi
Mukadimah = Landasan yang paling mendasar yang
memberikan arti untuk segala kegiatan yang dilakukan.
Segala macam hal bisa diubah tetapi mukadimah tidak
bisa diubah. Bilamana mukadimah diubah artinya
semuanya bubar.
Undangan Bergabung di maillist
Komunikasi_Empati@googlegroups.comKomunikasi_Empati@yahoogroups.com
Netters,
Telah dibentuk milis baru dengan nama
Komunikasi_Empati@googlegroups.comKomunikasi_Empati@yahoogroups.com
e-link:
<http://groups.google.com/group/komunikasi_empati/about>
<http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati>
Tujuan pembentukannya ialah sebagai wadah untuk
berdiskusi segala aspek yang berhubungan dengan
Komunikasi Empati. Kami yakin bahwa bidang
spesialisasi baru dalam Ilmu Komunikasi ini akan
menjadi ‘trend setter’ untuk masa-masa dekade yang
akan datang karena manusia pada dasarnya ingin
diperlakukan sebagai manusia dan bukan sebagai
pesakitan atau nomor belaka. Segala bidang ilmu
humaniora yang berhubungan dengan manusia akan
dipengaruhi oleh logika dan komunikasi empati ini.
Kami yakin benar akan hal itu.
Milis baru ini adalah milis yang serius dan mengundang
para pemerhati dan peminat yang serius pula untuk
bersama-sama mengamati, mempelajari, mencermati,
mengasuh serta mengembangkan bayi yang namanya
Komunikasi Empati ini. Walaupun milis ini bersifat
unmoderated dan terbuka untuk oublik namun hanya
tulisan-tulisan yang berhubungan dengan bidang
Komunikasi Empati yang akan ditayangkan. Tulisan yang
bersifat ‘out of context’ akan diabaikan. Hal ini
dimaklumkan di muka untuk mencegah salah pengertian
yang tidak perlu yang mungkin dapat timbul di kemudian
hari.
Terima kasih atas perhatian dan tanggapan positif
kawan-kawan. Selamat datang di rumah kita yang baru.
ttd,
Moderator,
Juswan Setyawan
Sekilas Sejarah Komunikasi Empati
Dua bulan yang lalu saya sama sekali tidak tahu menahu
seluk beluk apapun tentang Komunikasi Empati.
Segalanya dimulai setelah saya mengikuti Seminar
dengan Vincent Liong sebagai pembicara tunggal tetapi
yang dibantu oleh rekan setianya Leonardo Rimba
berjudul “Logika dan Komunikasi Empati”. Seminar
setengah hari itu diadakan di ruangan kuliah pasca
sarjana Universitas Sahid.
Konsep komunikasi saya tahu, Empati saya juga tahu.
Tetapi bila kedua kata itu disambung jadi satu maka
konsep saya mengenai hal baru itu ternyata belum ada.
Kemudian saya diajak – bahkan sedikit ditantang - oleh
Vincent Liong untuk menulis sesuatu tentang Komunikasi
Empati tersebut. Saya bingung juga harus mulai dari
mana dan membahas soal apa? Memori saya tentang
Komunikasi Empati masih vacum – kosong blong - dan
saya harus mulai mengerahkan segenap energi batin saya
untuk memulai proyek idealis ini.
Saya berdiskusi dengan Vincent tentang bagaimana harus
mulai. Saya terpikir akan Kitab Kejadian di mana
dikatakan “bumi belum berbentuk dan kosong: gelap
gulita menutupi samudera raya, dan roh Allah
melayang-layang di atas permukaan air...”
Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa segala sesuatu
apapun rupanya dimulai dari “kekosongan” yang tanpa
bentuk dan tanpa wujud dan yang chaos. “In principium
erat verbum...” Pada mulanya adalah kata-kata... atau
logos. Semuanya masih gelap gulita artinya tidak ada
petunjuk apapun, tidak ada titik terang sedikitpun
yang dapat dijadikan pedoman. Kegelapan itu sifatnya
tak terbatas, ibaratnya samudera raya yang entah di
mana ujung pesisirnya karena tidak tampak dalam
kegelapan itu. Roh Allah melayang-layang di atas
permukaan air... yang melayang-layang itu tentunya
adalah “elemen angin”. Anginlah yang akan membawa
kata-kata seperti angin pula yang menerbangkan
daun-daun ke mana-mana. Maka dari itu kami sepakat
bahwa Komunikasi Empati harus dimulai dengan
menorehkan kata-kata pada Kitab Angin. Tidak mungkin
kami mulai dengan Kitab Tanah seperti ilmu-ilmu yang
sudah mapan - berikut institusi-institusinya yang
sudah mengkristal dan tidak sedikit yang sudah membatu
bahkan merapuh seperti bangunan kuno; ilmu yang sudah
memiliki fundamen yang kokoh bagi sosok bangunannya
dan bagi perluasan ruangan-ruangannya.
Secara berkala kami terus berkomunikasi dan
berdiskusi. Begitu ada ide langsung ditangkap dan
dituangkan dalam tulisan dan dikirimkan ke milis.
Kadang-kadang dalam satu hari dapat ditulis lebih dari
satu artikel sesuai dengan deras lambatnya arus
inspirasi yang masuk. Maka dari itu tulisan-tulisan
tersebut tidak menunjukkan adanya sekuens yang pasti.
Kadang-kadang timbul ide tentang empati dan di lain
waktu tentang dekonstruksi dan sebagainya. Perhatikan
saja tanggal yang tertulis di bawah setiap posting
yang tidak urut dengan sistematika pasal-pasalnya. Ada
tulisan yang sangat belakangan tetapi “terpaksa”
diposisikan pada bagian awal buku tersebut. Maka
terjadilah semacam “growing e-book’ yang setiap saat
muncul ranting yang baru pada pokoknya entah di
sebelah sisi yang menghadap ke mana.
Namun, akhirnya kami merasa apa yang tertulis sudahlah
cukup. Elaborasinya akan dilanjutkan dalam Kitab Tanah
yang lebih berbobot, medalam dan dilengkapi
kepustakaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Lain
halnya dengan Kitab Angin yang berfungsi sebagai semi
entertaining sehingga ditulis secara naratif dalam
bahasa pop. Sementara itu Kitab Api juga sedang
ditulis. Artikel-asrtikelnya bersifat panas membakar.
Melakukan bermacam-macam dekonstruksi. Baik tentang
institusi dan fungsi ilmu psikologi, termasuk perilaku
pakarnya; tentang Oedipus Complex; tentang post-V;
tentang legenda dan mithos Nabi Musa; terakhir baru
sampai V-Abject...
Sesuatu yang terasa sangat ketinggalan ialah Kitab
Air. Tetapi kita semua sama-sama dapat memakluminya.
Memang sudah sifat “elemen air” untuk “menunggu dengan
sabar” sampai saat yang tepat untuk menimbulkan
“gelombang tsunami” atau “banjir bandang”.
Jakarta, 28 Juni 2006.
Mang Iyus
Silahkan bergaung juga pada beberapa maillist kami
yang lain diantaranya:
* vincentliong@yahoogroups.com,
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/joinpsikologi_transformatif@yahoogroups.com,
* psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join
Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
mbak nuraini, saya wiwin. mbak, kemarin saya ke KUNCI cari buku Chafetz tapi mbak Andari tidak tahu punya atau tidak dan mbak Andari merekomendasikan saya untuk email ke mbak untuk tanya tentang buku chafetz mengenai studi/penelitian beliau tentang 7 area maskulinitas (karena katanya, mbak pernah menulis/penelitian tentang maskulinitas). aku mau tanya tentang buku tersebut apakah mbak atau KUNCI punya?
aku sudah tahu mengenai 7 area tersebut tetapi aku disuruh dosenku cari konsep tentang apa itu agresif, apa itu berani, apa itu tegas, dsb. apakah mbak bisa membantu??
kami masukkan dulu nama anda dalam daftar calon peserta AKSARA angkatan II
anda bisa melengkapi data diri (nama lengkap/TTL/alamat/email/telepon/profesi/universitas) dan dikirim ke alamat email kami. akan kami hubungi anda kemudian.
Sebagai upaya membantu tetap tumbuhnya penulis muda (bidang seni visual) Cemeti Art Foundation kembali membuka program kursus menulis singkat (seni visual) "AksarA" Gelombang II, III dan IV. Program ini dirancang bagi Anda yang berusia maksimal 24 tahun.
Untuk setiap angkatan berlangsung per-3 bulan (10 kali pertemuan), dengan instruktur-instruktur yang telah berkompeten di bidangnya. Hanya tersedia maksimal 15 kursi untuk setiap angkatan.
Biaya pendaftaran: Rp 50.000, - (limapuluh ribu rupiah)
Fasilitas:
ØSnack dan minum
ØSertifikat
Syarat Peserta:
ØMenguasai bahasa Indonesia
ØTertarik untuk menulis tentang seni visual
ØTidak buta huruf
ØMenguasai alat ketik/komputer
ØBersedia mengikuti kursus hingga selesai
Ø Angkatan I: Mei - Juli 2006
Instruktur: Kris Budiman
Kelas sudah selesai.
Ø Angkatan II: Agustus – Oktober 2006
Instruktur: Antariksa
Setiap hari Rabu pukul 19:00-21:00 WIB
Kelas dimulai: (informasi menyusul)
Pendaftaran paling lambat, 1 Agustus 2006
Tempat: Yayasan Seni Cemeti
ØAngkatan III: November 2006-Januari 2007 (info lebih lengkap menyusul)
Calon instruktur lainnya adalah: Ugoran Prasad
ØAngkatan IV: Februari-April 2007 (info lebih lengkap menyusul)
Calon instruktur lainnya adalah: Puthut E A
Bagi Anda yang benar-benar tertarik dan serius ingin mengikuti program ini silahkan hubungi:
Agustina Tri W [Tina]
di Yayasan Seni Cemeti
***************************************************** Cemeti Art Foundation | Yayasan Seni Cemeti Jalan Patehan Tengah No. 37 Yogyakarta 55133, INDONESIA Tel. +62.274.375 247, Tel./Fax. +62.274.372 095 Email: artysc@... doc@... URL: www.cemetiartfoundation.org
Opens Monday - Friday, 9.00 am - 5.00 pm
Cemeti Art Foundation (CAF) is a non profit organization, which empowers visual arts infrastructure in Indonesia. Its core activities are documentation, research, and education. In implementing its programs and projects, CAF also builds networks with equal partner, in the scope of local, regional, as well as international | Yayasan Seni
Cemeti (YSC) adalah sebuah lembaga nirlaba, yang mendorong pemberdayaan infrastruktur seni visual di Indonesia. Bidang utamanya adalah dokumentasi, riset, dan pendidikan. Dalam kerjanya, YSC juga membangun jaringan kerja dengan mitra sejajar, baik dalam lingkup lokal, regional, maupun internasional.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Sekedar info tambahan saja. Kalau judulnya "Vespa concours d'elegance" maka kegiatannya tidak cuma pawai, tapi lomba. Kata concours dalam bahasa Belanda berarti kompetisi, lomba, atau kejuaraan. Pakai kata d'elegance pula, nah pasti adu cantik, adu anggun, adu keren, yang jelas adu elegance. Maka pakai putri-putrian segala. Putri vespa begini lebih masuk akal karena jelas kaitannya dengan keindahan vespa. Bandingkan dengan Putri Indonesia, Miss Indonesia.....tapi wajahnya bule dan body gesture-nya juga bule. Jauuuh dari vespa, apalagi gempa.
Subject: Re: [kunci-l] Ap iya???matinya sub-kultur klub motor
halo halo
wah di jogja sekarang semakin banyak klub motor. atau sepeda. semua punya klub. klub sepeda onthel. klub mio. klub tiger. klub yamaha vega. klub kawasaki. klub mobil taruna. klub vespa. semuanya punya klub.
dan jadi ingat. waktu kunci bikin pameran gondomanan project tempo hari, salah satu riset kami adalah tentang benda-benda yg ada di gondomanan. hmmm dan kami menulis tentang becak, sepeda motor, vespa. menarik. kehadiran klub2 vespa misalnya samasekali bukan hal baru. tahun 1950an di jogja sudah ada vespa concours d'elegance. semacam pawai-pawai begitulah. dan ada pemilihan putri-putri vespa segala. menarik sekali.
melihat iklan2 lama pun, pada masa 1950an jenis2 vespa atau lambretta yg dipasarkan di jogja atau indonesia, hampir bersamaan dengan yg terjadi di italia sana. jadi pada tahun2 itu, jogja tdk kalah hip dengan kota-kota di eropa.
makanya heran waktu liat tulisan di kompas ttg klub vespa. kalau gak salah kompas minggu bulan juni. tanggalnya lupa. disitu dikesankan seolah klub vespa adalah sesuatu yg baru di indonesia. baru apanya? lha wong tahun 50an di jogja saja sdah ada pawai vespa...
Sebagai bagian dari HUT Kota ke 250, kami menyelenggarakan Jogja-Netpac Asian Film Festival. Setelah bencana gempa pada 27 Mei 2006 kemarin, kami menyusun ulang serangkaian rencana.Adakah pertautan antara krisis dan festival film?
Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) barangkali bisa memberi sejumput jawaban. Festival ini lahir di tengahtragedi gempa bumi yang mengguncang Jogja pada. Sebagaimana sejumlah festival film internasional besar yang tercatat dalam sejarah, Cannes, Berlin diselenggarakan sebagai bagian dari ikhtiar membangun kembali kota-kota di Eropa setelah diluluhlantakkan oleh Perang Dunia II. Karena itu, JAFF diniatkansebagai bentuk dukungan moral bagi masyarakat Jogja yang tengahbangkit dan membangun kembali kotanya. Tak aneh, jika tema yang diusung JAFF adalah “Sinema di Tengah Krisis”(Cinema in the Midst of Crisis).
Festival ini akan diselenggarakan pada 7-12 Agustus 2006 di Benteng Vredenburg, LIP, Studio 21 Ambarukmo Plaza dan Bioskop Mataram. Kami akan mendatangkan 18 film dari seluruh
Asia yang bercerita tentang tragedi dan harapan masa depan. Sejumlah film dari Timur Tengah seperti Irak, Iran, Lebanon dan Afganistan akan memberi kejutan bagi penonton Indonesia yang pasti belum terlalu banyak menonton dari wilayah yang terus bergolak itu. Film Asia timur seperti dari Cina, Korea, Taiwan dan Hongkong tentu menawarkan corak yang berbeda dengan film-film Asia yang biasa kita tonton di televisi. Film-film yang kami datangkan menawarkan wajah lain Asia Timur.Film dari negara tentangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand terlalu sayang untuk dilewatkan. Tak ketinggalan, surga film Asia yaitu India akan membuat kita memikirkan ulang Bollywood.
Selain dari luar negeri, kami juga akan memutar
film-film terbaru karya anak negeri. Beberapa film yang baru beberapa hari keluar dari ruang editing akan disuguhkanuntuk pertama kali untuk publik Yogya. Sebut saja film “Koper” arahan sutradara Richard Oh, “Foto, Kotak dan Jendela”, karya Angga Dwimas Sasongko, dan tentu saja film “Opera Jawa” karya sutradara kenamaan Indonesia Garin Nugroho; yang akan kami daulat menjadi film pembuka pada festival ini.
Selain pemutaran film, kami juga akan menyelenggarakan sejumlah seminar dan workshop. Seminar Internasional bekerjasama dengan Pusat Studi Asia Tenggara UGM bertema “Cinema in The Midst of Crises”akan menghadirkan Wong Tuk Cheong dan Viktor Silakong. Sejumlah produser, sutradara, pengamat film nasional seperti Chand Parwez, Ronny (Video Ezzy), JB Kristanto dan Hanung Bramantyo akan dihadirkan pada seminar “Film Indonesia Keluar dari Kemelut Krisis”.Sejumlah sutradara asing seperti John Torres dan Teoh Guy Hianakan mengisi sesi workshop kami selain sejumlah pelaku film dari tanah air.
kami masukkan dulu nama anda dalam daftar calon peserta AKSARA angkatan II
anda bisa melengkapi data diri (nama lengkap/TTL/alamat/email/telepon/profesi/universitas) dan dikirim ke alamat email kami. akan kami hubungi anda kemudian.
Sebagai upaya membantu tetap tumbuhnya penulis muda (bidang seni visual) Cemeti Art Foundation kembali membuka program kursus menulis singkat (seni visual) "AksarA" Gelombang II, III dan IV. Program ini dirancang bagi Anda yang berusia maksimal 24 tahun.
Untuk setiap angkatan berlangsung per-3 bulan (10 kali pertemuan), dengan instruktur-instruktur yang telah berkompeten di bidangnya. Hanya tersedia maksimal 15 kursi untuk setiap angkatan.
Biaya pendaftaran: Rp 50.000, - (limapuluh ribu rupiah)
Fasilitas:
ØSnack dan minum
ØSertifikat
Syarat Peserta:
ØMenguasai bahasa Indonesia
ØTertarik untuk menulis tentang seni visual
ØTidak buta huruf
ØMenguasai alat ketik/komputer
ØBersedia mengikuti kursus hingga selesai
Ø Angkatan I: Mei - Juli 2006
Instruktur: Kris Budiman
Kelas sudah selesai.
Ø Angkatan II: Agustus – Oktober 2006
Instruktur: Antariksa
Setiap hari Rabu pukul 19:00-21:00 WIB
Kelas dimulai: (informasi menyusul)
Pendaftaran paling lambat, 1 Agustus 2006
Tempat: Yayasan Seni Cemeti
ØAngkatan III: November 2006-Januari 2007 (info lebih lengkap menyusul)
Calon instruktur lainnya adalah: Ugoran Prasad
ØAngkatan IV: Februari-April 2007 (info lebih lengkap menyusul)
Calon instruktur lainnya adalah: Puthut E A
Bagi Anda yang benar-benar tertarik dan serius ingin mengikuti program ini silahkan hubungi:
Agustina Tri W [Tina]
di Yayasan Seni Cemeti
***************************************************** Cemeti Art Foundation | Yayasan Seni Cemeti Jalan Patehan Tengah No. 37 Yogyakarta 55133, INDONESIA Tel. +62.274.375 247, Tel./Fax. +62.274.372 095 Email: artysc@... doc@... URL: www.cemetiartfoundation.org
Opens Monday - Friday, 9.00 am - 5.00 pm
Cemeti Art Foundation (CAF) is a non profit organization, which empowers visual arts infrastructure in Indonesia. Its core activities are documentation, research, and education. In implementing its programs and projects, CAF also builds networks with equal partner, in the scope of local, regional, as well as international | Yayasan Seni Cemeti (YSC) adalah sebuah lembaga nirlaba, yang mendorong pemberdayaan infrastruktur seni visual di Indonesia. Bidang utamanya adalah dokumentasi, riset, dan pendidikan. Dalam kerjanya, YSC juga membangun jaringan kerja dengan mitra sejajar, baik dalam lingkup lokal, regional, maupun internasional.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Saya mohon informasi dari rekan-rekan tentang kegiatan seni yang akan dilaksanakan sepanjang bulan Agustus – Desember 2006merespon bencana gempa di Jogja, baik berupa kegiatan pameran seni rupa atau penyelenggaraan workshop (komik, partisipatory video,film, dll) dalam rangka recovery pasca gempa di Jogja.
Informasi ini akan sangat berguna dan kami (Cemeti Art Foundation) kompilasi dalam rubrik Agenda Seni untuk newsletter SURAT volume 28 “Kerja Kesenian Merespon Gempa di Jogja” yang saat ini sedang dalam tahap pengumpulan materi. Diharapkan newsletter ini nanti dapat menjadi catatan penting dan media yang informatif yang akan kami distribusikan secara luas dan gratis.
Informasi agenda seni tersebut dapat langsung dikirim ke email pribadi saya di tovicraharja@... atau email lembaga di artysc@.... Kami menerima informasi dalam bentuk apapun. Atas kerjasama rekan-rekan saya mengucapkan terima kasih.
Salam,
Tovic D. Raharjo.
***************************************************** Cemeti Art Foundation | Yayasan Seni Cemeti Jalan Patehan Tengah No. 37 Yogyakarta 55133, INDONESIA Tel. +62.274.375 247, Tel./Fax. +62.274.372 095 Email: artysc@... doc@... URL: www.cemetiartfoundation.org
Opens Monday - Friday, 9.00 am - 5.00 pm
Cemeti Art Foundation (CAF) is a non profit organization, which empowers visual arts infrastructure in Indonesia. Its core activities are documentation, research, and education. In implementing its programs and projects, CAF also builds networks with equal partner, in the scope of local, regional, as well as international | Yayasan Seni Cemeti (YSC) adalah sebuah lembaga nirlaba, yang mendorong pemberdayaan infrastruktur seni visual di Indonesia. Bidang utamanya adalah dokumentasi, riset, dan pendidikan. Dalam kerjanya, YSC juga membangun jaringan kerja dengan mitra sejajar, baik dalam lingkup lokal, regional, maupun internasional.
Dengan Hormat,
Saya tengah membantu saudara mencari bahan untuk sebuah
karya tulis berjudul "KOMODIFIKASI IDEOLOGI GERAKAN SOSIAL
MELALUI KAOS (ANALISIS SEMIOTIK PADA DESAIN KAOS FIREBOLT
YANG BERTEMA ENVIROMENTAL DEFENCE).
Adakah teman-teman yang mau membantu ? Terima kasih.
Boim
================================================================================\
========
Netkuis piala dunia segera berakhir pada tanggal 14 juli 2006, segera kumpulkan
poin di http://netkuis.telkom.net/pialadunia
================================================================================\
========
Saya jadi teringat the selfish gene-nya Dawkins, yang
digunakan untuk menerangkan meme oleh Brodi. Kalau
saya berpendapat, konsep meme lebih cocok unuk
menggambarkan terbentuknya tiga generasi tersebut.
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan pendidikan?
Apakah terbatas pada bentuk formal yang keluarannya
memberikan murid-muridnya selembar kertas menyatakan
kelulusan, atau pendidikan sebenarnya merupakan proses
pembelajaran tiada henti.
Ketika definsi pendidikan disempitkan dalam wilayah
institusi formal, maka adalah sah ketika televisi
menayangkan asusila di layar kaca. Wilayah publik
diserahkan sepenuhnya pada keinginan pasar, dan tidak
dikenai tanggungjawab untuk mendidik masyarakat.
Padahal melihat gejala yang ada, anak-anak lebih mudah
terpengaruh oleh televisi. Belum lagi pemberitaan
pemerkosaan akibat baru menonton film porno.
Saya lebih senang melihat permasalahan pendidikan kita
sebagai masalah budaya, karena negara-negara yang
tertinggal terlihat bisa maju akibat adanya sebuah
visi yang kuat, dan hal itu tampak pada seluruh elemen
kehidupan mereka, tidak hanya dari hitung-hitungan
angka yang terkait langsung dengan pendidikan formal.
Salam,
Shlink
--- Adinto Fajar <adinto@...> wrote:
> Wah, wah,
>
> saya sama sekali tidak setuju dengan paparan anda,
> mas.
> Faktor heredis dalam kualitas manusia itu ya
> berkaitan secara
> biologis, atau secara genetis: jadi, ya nonsense
> menyamakan
> faktor heredis itu dengan tahapan historis Ibnu
> Khaldun. Kalau
> toh dipaksakan tesis anda itu, jadinya tetep keliru,
> karena dengan
> demikian, anda secara tidak langsung mengatakan
> bahwa generasi penikmat
> terjadi karena mendapat gen-gen penikmat dari
> generasi pendobrak.
> (lihat Cambridge International Dictionary of
> English, heredity: the
> process by which characteristics are able to be
> given from a parent to
> their child through the GENES.)
>
> Kedua, generasi penikmat saya akui memang ada dan
> sangat akut.
> Bahwasanya merupakan suatu kecenderungan global.
> Semua orang masuk ke
> konsumerisme, kan. Penduduk di seluruh dunia
> digempur oleh iklan yang
> masuk sampai ke hal-hal kecil (kalau kita naik bus
> way di Jakarta,
> gantungan tangan itu sudah ada iklan pasta giginya,
> weleeh).
>
> Hanya saja, konsumerisme apakah benar-benar
> disebabkan oleh pendidikan
> kita? Generasi penikmat yang ada di hampir penduduk
> seluruh dunia itu
> apa ya gara-gara pendidikan di negara mereka
> masing-masing saja?
>
> Pada tanggal 06/07/12, agussyafii
> <agussyafii@...> menulis:
> > Problem Dunia Pendidikan Kita
> >
> > Sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh dua
> hal:
> >
> > Pertama, oleh faktor hereditas, faktor keturunan.
> Manusia Indonesia
> > dewasa ini adalah terunan langsung manusia
> Indonesia generasi 45 dan
> > cucu gerenasi 1928, cicitnya generasi 1912.
> Menurut Ibn Khaldun,
> > jatuhnya bangun bangsa ditandai oleh lahirnya tiga
> generasi.
> > Pertama, generasi pendobrak. Kedua, generasi
> pembangun. Ketiga,
> > generasi penikmat. Jika pada bangsa ini sudah
> banyak kelompok
> > generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik
> menikmati
> > pembangunan, maka itu satu tanda bahwa bangsa itu
> mengalami
> > kemunduran. Proses datang perginya tiga generasi
> itu menurut Ibnu
> > Khaldun berlangsung dalam kurun satu abad, yang
> menyedihkan pada
> > bangsa kita dewasa ini bahwa baru setengah abad
> lebih, ketika
> > generasi pendobrak masih satu dua yang hidup,
> ketika generasi
> > pembangun masih belum selesai bongkar pasang dalam
> membangun, sudah
> > muncul sangat banyak generasi penimat dan mereka
> bukan hanya kurang
> > terpelajar tetapi justru kebanyakkan kelompok
> terpelajar. Salah
> > didikkah mereka?
> >
> > Kedua, Dipengaruhi oleh faktor pendidikan.
> Pendidikanlah yang bisa
> > membangun jiwa bangsa Indonesia. Lalu apa yang
> salah pada pendidikan
> > generasi ini? Sekurangnya ada sembilan poin
> kekeliruan pendidikan
> > nasional kita selama ini, meliputi:
> >
> > (a) Pengelolaan pendidikan dimasa lampau terlalu
> berlebihan pada
> > aspek kognitif, mengabaikan dimensi lainnya
> sehingga buahnya
> > melahirkan generasi split personality, kepribadian
> yang pecah.
> >
> > (b) Pendidikan terlalu sentralistik sehingga
> melahirkan generasi
> > yang hanya memandang Jakarta (Ibukota) sebagai
> satu-satunya tumpuan
> > harapan tanpa mampu melihat peluang dan potensi
> besar didaerah
> > masing-masing.
> >
> > (c) Gagal melahirkan lulusan SDM yang siap
> berkompetisi didunia
> > global.
> >
> > (d) Pendidikan gagal meletakkan sendi-sendi dasar
> pembangunan
> > masyarakat yang berdispilin.
> >
> > (e) pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan
> demokratisasi dan
> > Hak-Hak Azasi Manusia. Sebagai contoh, pada masa
> orde baru, guru
> > negeri disekolah lingkungan diknas mencapai 1 guru
> untuk 14 siswa,
> > namun di madrasah (depag) 1 guru negeri untuk 2000
> siswa. Anggaran
> > pendidikan SMA Negeri mencapai Rp.400.
> ribu/siswa/tahun sementara
> > madrasah Aliyah hanya 4.000/siswa/tahun.
> >
> > (f)Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan
> pendidikan dan SDM
> > dikalahkan oleh uniformitas yang sangat
> sentralistik. Kreatifitas
> > masyarakat dalam pengembangan pendidikan menjadi
> tidak tumbuh.
> >
> > (g)Sentralisasi pendidikan nasional mengakibatkan
> tumpulnya gagasan-
> > gagasan otonomi daerah.
> >
> > (h) Pendidikan nasional kurang menghargai
> kemajemukan budaya,
> > bertentangan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.
> >
> > (i) Muatan indoktrinasi nasionalisme dan
> patriotisme yang dipaksakan
> > melalui PPKN terlalu kering sehingga
> kontraproduktif.
> >
> > Sembilan kesalahan dalam pengelolaan pendidikan
> nasional ini
> > sekarang telah melahirkan buahnya yang pahit,
> yakni:
> >
> > 1. generasi muda yang langitnya rendah, tidak
> memiliki imanjinasi
> > idealistik.
> > 2. Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi
> dalam lapangan kerja
> > pasar global.
> > 3. Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif.
> > 4. Masyarakat luas mudah bertindak anarkis.
> > 5. Sumber daya alam (terutama Hutan) yang rusak
> parah.
> > 6. Cendikiawan yang hipokrit.
> > 7. Pelaku ekonomi yang tidak siap bermain fair.
> > 8. Hutang luar negeri yang tak tertanggungkan.
> > 9. Merajalelanya tokoh pemimpin yang bermoral
> rendah.
> > 10. pemimpin daerah yang kebingungan . Bupati
> daerah minus tetap
> > berharap kucuran dari pusat, bupati plus
> menghambur-hamburkan untuk
> > hal-hal yang tidak strategis.
> >
> > Wassalam,
> > agussyafii
> > http://labschoolcinere.net
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > To visit KUNCI Cultural Studies Center website, go
> to:
> > http://kunci.or.id
> >
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> --
> Adinto Fajar
> DEWANTO HOUSE
>
=== message truncated ===
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
wah di jogja sekarang semakin banyak klub motor. atau sepeda. semua punya klub. klub sepeda onthel. klub mio. klub tiger. klub yamaha vega. klub kawasaki. klub mobil taruna. klub vespa. semuanya punya klub.
dan jadi ingat. waktu kunci bikin pameran gondomanan project tempo hari, salah satu riset kami adalah tentang benda-benda yg ada di gondomanan. hmmm dan kami menulis tentang becak, sepeda motor, vespa. menarik. kehadiran klub2 vespa misalnya samasekali bukan hal baru. tahun 1950an di jogja sudah ada vespa concours d'elegance. semacam pawai-pawai begitulah. dan ada pemilihan putri-putri vespa segala. menarik sekali.
melihat iklan2 lama pun, pada masa 1950an jenis2 vespa atau lambretta yg dipasarkan di jogja atau indonesia, hampir bersamaan dengan yg terjadi di italia sana. jadi pada tahun2 itu, jogja tdk kalah hip dengan kota-kota di eropa.
makanya
heran waktu liat tulisan di kompas ttg klub vespa. kalau gak salah kompas minggu bulan juni. tanggalnya lupa. disitu dikesankan seolah klub vespa adalah sesuatu yg baru di indonesia. baru apanya? lha wong tahun 50an di jogja saja sdah ada pawai vespa...
salam,
nuning
edi dwi riyanto <redi_dwi@...> wrote:
asyik juga, ya menyimak relasi kita dengan macam-macam kendaraan. kalau ada info-info lebih lanjut akan sangat menarik. bisa jadi sebetulnya mungkin ada 'sub kultur' klub' ini. bisa saja. karena selama ini belum terkuak, mungkin.
omong-omong, tahun 1990-an dulu pernah ada demam sepeda Dames, sepeda tinggi besar model kolonial. demam ini saya 'nikmati' terutama di Jogja dan sekitarnya. harga sepeda ini menjadi melangit. bukan hanya itu, 'aksesoris'
hindi yang lain juga ikutan nimbrung seperti helm/topi kolonial. kayaknya demam itu sekedar demam, setelah cuaca berubah demam pun hilang.
nuwuuun.
>From: miftahul ulum >Reply-To: kunci-l@yahoogroups.com >To: kunci-l@yahoogroups.com >Subject: Re: [kunci-l] Ap iya???matinya sub-kultur klub motor >Date: Thu, 6 Jul 2006 12:27:17 -0700 (PDT) > >salam, > Mencari keaslian sub-kultur klub-motor di Ind bisa dipastikan tidak >mungkin. Karena kendaraan bermotor bukan asli produk ind. Sehingga ada >benarnya pendapat mas ronny bahwa keberadaan klub itu hanya meniru di >negara barat utamanya. > > Saya pernah mendengar, di AS ada dua geng motor besar; pagan dan hell >angels, keduanya mempunyai peraturan, nilai, dan simbol-simbol yang berlaku >di lingkungannya. Mereka mempunyai bisnis, untuk menghidupi klubnya >tersebut, bahkan mereka membentuk
organisasi. Ada semangat melawan dalam >kelompok ini, utamanya dalam jenis dan gaya kendaraan. > > Di Indonesia, saya menemui beragam jenis klub sepeda motor. Dari motor >tua berhaga 2 jtaan, sampai berharga ratusan juta. > > Sejujurnya saya salut dengan klub motor tua, smisal vespa atau honda CB. >Tidak jarang untuk mempertahankan nyawa kendaraannya merka harus kanibal >kompenen kendaraan lain, bahkan membuat sendiri kalau mungkin. Mereka juga >yang relatif berbda dengan kendaraan umumnya. Mereka juga mampu membentuk >semnagat kekluargaan pada klubnya "brotherhood", di bawah perasaan senasib. > > Memang varian dalam klub vespa dan Cb sangat banyak, dan sangat susah >menggolong2 kan. Tetapi yang jelas saya salut ketika mereka tidak terbuai >dengan tersedianya onderdil ready stock di toko, salut dengan semangat >bertahan. > > sampai disini membedah keberadaan klub
motor akan menghasilkan banyak >pertanyaan lagi; smisal pelepasan hasrat (hasrat berbeda, hasrat melawan >hukum), mengganti ruang domestik yang tergusur (kekeluargaan), dsb...dsb. > > pernah teman saya bilang bosan dengan kendaraannya. Pertama ia beli, ia >gatal modif, jadilah ia modif. beberapa waktu berselang trend ganti, >tentunya ia berkeinginan berganti model pula. sampai suatu saat ia >marah-marah karena merasa telah dihisap kendaraannya. sekarang ia gunakan >kendaraannya semaksimal mungkin (tidak dirawat). katanya "seakarang ganti >aku yang menghisap kendaraaan"...:) > > salam > >Ronny Simatupang wrote: > Halo Saudara Miftahul, > Jadi menurut Anda, "sub-kultur klub motor" di Indonesia sudah tidak >mencerminkan sub kultur aslinya? > Boleh saya tahu di mana dan siapa pencetus dan pewaris budaya atau sub >budaya klub motor dan
apa-apa saja yang menjadi esensi dan ciri khas dari >budaya atau sub budaya lub motor? > > Jika memang di Indonesia seperti yang Anda hipotesiskan, apakah ini >tidak lepas dari "kebiasaan" orang Indonesia yang hanya bisa ikut-ikutan, >instant, tidak menghargai proses dan esensi serta hanya terpesona oleh >fenomena? > > Yang penting asal bisa tampil beda...mirip dengan...bisa menunjukkan >superioritas dengan melaju kencang dan meliuk-liuk tanpa ada yang bisa >menghalangi, baik itu perangkat peraturan (Lampu Lalu Lintas dan Marka >Jalan), perangkat penegak peraturan (Aparat kepolisian), perangkat sosial >(kendaraan lain dan pejalan kaki), bahkan mungkin Tuhan...? > > Sepertinya mirip dengan iring-iringan atau "konvoi" mobil dan motor >pengantar jenazah...saya pernah baca atau dengar, di Indonesia...kapan lagi >berkendaraan bisa ugal-ugalan atau seenaknya selain kalau ada
2 event >yaitu: Mengantar jenzah dan Saat Kampanye Partai. > Karena 2 event itu jarang, sekarang sepertinya ingin di "ekstent" yaitu: >iringan klub motor dan iringan pendemo. > Belum ditambah yang official, yaitu kalau pejabat lewat atau kalau ada >hajatan pejabat dan kerabat keluarganya. > > Suatu negara di mana kekuasaan dan nafsu pribadi menjadi panglima. > > Bagaimana menurut Anda, > > Regards, > Ronny. > >miftahul ulum wrote: > Klub motor merupakan perwujudan perlawanan budaya. Dengan nilai-nilai >yang sama antar anggota klub motor menjelma menjadi sub-kultur. Kelompok >yang lain dari budaya dominan. > > Saat ini, di Indonesia utamanya, pandangan itu tidak menemukan >relevansinya. Bagaimana tidak, klub motor sekarang menjadi tenaga pemasar >sukarela dari perusahaan. > > Lihat saja; tanpa malu-malu mereka
memampang logo, merek, simbol >perusahaan otomotif tertentu pada identitas kelompoknya. Di sebut apa kalau >bukan perpanjangan tangan pemasaran perusahaan. > > Tidak hanya tenaga pemasar, klub motor juga pecinta produk yang ready >stock. Siap pasang asal uang tersedia, dan tongkrongan kendaraan pun >menjadi beda. > > Sependek pengetahuan saya; klub motor sub-kultur adalah yang dengan >lantang menyuarakan fuck'in stock. Menolak barang jadi siap pasang. Menolak >melakukan apa yang semua orang berpunya dapat melakukan, beli, beli dan >beli. Tetapi di Indonesia, sikap seperti ini semakin sedikit ditemui. > > Apakah kita sudah sangat lelap tertidur dalam ranjang kapitalisme? >Ditambah kenikmatan yang tiada tara seolah kita enggan untuk bangun dan >terbangun. Selamat tidur panjang klub motor. Have a nice dream. > >--------------------------------- > Ring'em or
ping'em. Make PC-to-phone calls as low as 1¢/min with Yahoo! >Messenger with Voice. > > >--------------------------------- > Do you Yahoo!? >Next-gen email? Have it all with the all-new Yahoo! Mail Beta. > > > > >--------------------------------- >Sneak preview the all-new Yahoo.com. It's not radically different. Just >radically better.
_________________________________________________________________ Don't just search. Find. Check out the new MSN Search! http://search.msn.com/
To visit KUNCI Cultural Studies Center website, go to: http://kunci.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kunci-l/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to: kunci-l-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject
to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Argumen tentang dunia pendidikan kok bisa se-amnesia ini? Bukankah memang secara institusional pendidikan yang ada dan dominan sekarang ini hanya berfungsi mencetak sebagian kecil sumber daya manusia dari sekian banyak populasi orang Indonesia, agar divisi kerja juga berfungsi? ngapain juga pake konsep ibnu k. yang aneh banget itu dan malah ngebuat kita ngeliat seakan-akan gerak sejarah itu idealis? kayak versi suharto sebagai bapak pembangunan itu misalnya? generasi pendobraklah-pembangunan-lah-penikmat-lah..saya pikir tidak perlu dibanalkan begitu mas. Fungsi institusi pendidikan indonesia yang digabungkan sama konsep kultur timur yang sama sekali tidak dikritisi memang hanya akan menghasilkan generasi-generasi otak tumpul alias tidak kritis, tidak kreatif, bahkan reaktif dan hanya manut kemana gerigi akan berputar.. kalau sekarang banyak generasi yang cuman bisa ngelongo di depan televisi itu juga merupakan hasil dari gerak sejarah masa lalu, dan
harus diakui kalau sejarah indonesia itu juga momen amnesia yang kronik sehingga yang bisa kita ketahui hanya kisah tuan tanah feodal macam pangeran diponegoro? dan sekarang, para generasi tua malah memperburuk generasi muda dengan membebani mereka kebijakan-kebijakan struktural yang berat sebelah. Seakan-akan generasi muda merupakan generasi yang paling payah.-penikmat? gak ada salahnya menikmati sesuatu, hanya saja di dunia konsumeris, kita tidak memiliki pilihan beragam selain apa yang telah disodorkan, kita tidak perlu berpikir cukup media yang menjelaskan. Terus terang saya sama sekali tidak pernah respek pada generasi tua... saya pikir tugas generasi muda sekarang kalau mereka memang ingin bebas dari semua ini, adalah dengan membakar hangus nilai generasi tua.
Wah, wah,
saya sama sekali tidak setuju dengan paparan anda, mas.
Faktor heredis dalam kualitas manusia itu ya berkaitan secara
biologis, atau secara genetis: jadi, ya nonsense menyamakan
faktor heredis itu dengan tahapan historis Ibnu Khaldun. Kalau
toh dipaksakan tesis anda itu, jadinya tetep keliru, karena dengan
demikian, anda secara tidak langsung mengatakan bahwa generasi penikmat
terjadi karena mendapat gen-gen penikmat dari generasi pendobrak.
(lihat Cambridge International Dictionary of English, heredity: the
process by which characteristics are able to be given from a parent to
their child through the GENES.)
Kedua, generasi penikmat saya akui memang ada dan sangat akut.
Bahwasanya merupakan suatu kecenderungan global. Semua orang masuk ke
konsumerisme, kan. Penduduk di seluruh dunia digempur oleh iklan yang
masuk sampai ke hal-hal kecil (kalau kita naik bus way di Jakarta,
gantungan tangan itu sudah ada iklan pasta giginya, weleeh).
Hanya saja, konsumerisme apakah benar-benar disebabkan oleh pendidikan
kita? Generasi penikmat yang ada di hampir penduduk seluruh dunia itu
apa ya gara-gara pendidikan di negara mereka masing-masing saja?
Pada tanggal 06/07/12, agussyafii <agussyafii@...> menulis:
> Problem Dunia Pendidikan Kita
>
> Sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh dua hal:
>
> Pertama, oleh faktor hereditas, faktor keturunan. Manusia Indonesia
> dewasa ini adalah terunan langsung manusia Indonesia generasi 45 dan
> cucu gerenasi 1928, cicitnya generasi 1912. Menurut Ibn Khaldun,
> jatuhnya bangun bangsa ditandai oleh lahirnya tiga generasi.
> Pertama, generasi pendobrak. Kedua, generasi pembangun. Ketiga,
> generasi penikmat. Jika pada bangsa ini sudah banyak kelompok
> generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik menikmati
> pembangunan, maka itu satu tanda bahwa bangsa itu mengalami
> kemunduran. Proses datang perginya tiga generasi itu menurut Ibnu
> Khaldun berlangsung dalam kurun satu abad, yang menyedihkan pada
> bangsa kita dewasa ini bahwa baru setengah abad lebih, ketika
> generasi pendobrak masih satu dua yang hidup, ketika generasi
> pembangun masih belum selesai bongkar pasang dalam membangun, sudah
> muncul sangat banyak generasi penimat dan mereka bukan hanya kurang
> terpelajar tetapi justru kebanyakkan kelompok terpelajar. Salah
> didikkah mereka?
>
> Kedua, Dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikanlah yang bisa
> membangun jiwa bangsa Indonesia. Lalu apa yang salah pada pendidikan
> generasi ini? Sekurangnya ada sembilan poin kekeliruan pendidikan
> nasional kita selama ini, meliputi:
>
> (a) Pengelolaan pendidikan dimasa lampau terlalu berlebihan pada
> aspek kognitif, mengabaikan dimensi lainnya sehingga buahnya
> melahirkan generasi split personality, kepribadian yang pecah.
>
> (b) Pendidikan terlalu sentralistik sehingga melahirkan generasi
> yang hanya memandang Jakarta (Ibukota) sebagai satu-satunya tumpuan
> harapan tanpa mampu melihat peluang dan potensi besar didaerah
> masing-masing.
>
> (c) Gagal melahirkan lulusan SDM yang siap berkompetisi didunia
> global.
>
> (d) Pendidikan gagal meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan
> masyarakat yang berdispilin.
>
> (e) pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan demokratisasi dan
> Hak-Hak Azasi Manusia. Sebagai contoh, pada masa orde baru, guru
> negeri disekolah lingkungan diknas mencapai 1 guru untuk 14 siswa,
> namun di madrasah (depag) 1 guru negeri untuk 2000 siswa. Anggaran
> pendidikan SMA Negeri mencapai Rp.400. ribu/siswa/tahun sementara
> madrasah Aliyah hanya 4.000/siswa/tahun.
>
> (f)Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan SDM
> dikalahkan oleh uniformitas yang sangat sentralistik. Kreatifitas
> masyarakat dalam pengembangan pendidikan menjadi tidak tumbuh.
>
> (g)Sentralisasi pendidikan nasional mengakibatkan tumpulnya gagasan-
> gagasan otonomi daerah.
>
> (h) Pendidikan nasional kurang menghargai kemajemukan budaya,
> bertentangan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.
>
> (i) Muatan indoktrinasi nasionalisme dan patriotisme yang dipaksakan
> melalui PPKN terlalu kering sehingga kontraproduktif.
>
> Sembilan kesalahan dalam pengelolaan pendidikan nasional ini
> sekarang telah melahirkan buahnya yang pahit, yakni:
>
> 1. generasi muda yang langitnya rendah, tidak memiliki imanjinasi
> idealistik.
> 2. Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja
> pasar global.
> 3. Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif.
> 4. Masyarakat luas mudah bertindak anarkis.
> 5. Sumber daya alam (terutama Hutan) yang rusak parah.
> 6. Cendikiawan yang hipokrit.
> 7. Pelaku ekonomi yang tidak siap bermain fair.
> 8. Hutang luar negeri yang tak tertanggungkan.
> 9. Merajalelanya tokoh pemimpin yang bermoral rendah.
> 10. pemimpin daerah yang kebingungan . Bupati daerah minus tetap
> berharap kucuran dari pusat, bupati plus menghambur-hamburkan untuk
> hal-hal yang tidak strategis.
>
> Wassalam,
> agussyafii
> http://labschoolcinere.net
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> To visit KUNCI Cultural Studies Center website, go to:
> http://kunci.or.id
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
--
Adinto Fajar
DEWANTO HOUSE
Jln. Kramat VII/25
JAKARTA 10430