|
Pramuka. Saya sempat cengengesan ketika mendengar atau menuliskan
lagi kata ini. Oh, oh, setelah saya tengok sana-sini, tanya-tanya
sebelah, dan sok-sokan merenung sekian tahun kemudian setelah tak
lagi bergelut di dalamnya, rupanya Pramuka memang menjadi
bagian "kekerasan" (bangsa) kita. Ya, lagi-lagi kita mesti
mengarahkan telunjuk kita ke arah orde baru.
Syahdan, ia-atau mereka-lah yang menyemati gerakan yang aslinya
mewarisi semangat organisasi kepanduan ini menjadi semata-mata
sebagai instrumen kekuasaan. Eufismisme, hipokrisi, feodalisme, dan
embel-embel perabotan ala militer kian sarat dilesakkan pada Pramuka.
Padahal, konon, nama Pramuka sendiri diambil dari kosakata Rusia oleh
Soekarno ketika melihat gerakan kepanduan di Uni Soviet. Dan orba
lantas dengan lancang mengimbuhkan akronim mulia nan eufimistik
itu :praja muda karana...
Sekarang, setelah sedikit mudeng duduk perkaranya, jika membayangkan
betapa getol-getolnya saya di organisasi ini sewaktu sama dulu, saya
hanya bisa menyisakan geli.Juga kangen.
Pada pramuka, pramuka inti smu3smg, KS 149, beserta mereka yang
pernah bersolah tingkah di dalamnya, terutama angkatan ketujuh, saya
cuma ingin berbagi kabar, bertukar kenangan. Yah, mumpung masih tahun
baru, bulan januari, di mana Janus bukan hanya menatap mantap ke
depan, tapi juga menilik lirih ke yang telah silam...Mumpung masih
sempat mengingat saat-saat menjadi (k)anak-(k)anak, yang bermain-
main, mempermainkan, mempersetankan segala, dan lupa kelak bisa
dewasa/tua atau jadi amat berbeda...
Saya undang rekan-rekan semua, cah-cah KS. Tu-Mpat-
Smbilan...Ngggggiiiiiiittt. Itu saja.
Tabik,
Arif 'Koes' Hernawan
|