Sejak dulu sdr. Simson Gintings yang kita kenal sangat kreatif (mungkin agak langka lah). Membaca Talk Show - nya di Milist ini, sangat mengesankan, secara gamblang dapatr kita tarik esensinya.
Media electronik seperti e-mail memang sangat praktis dimanfaatkan untuk sarana komunikasi, karena hampir tidak dfibatasi oleh jarak, akan tetapi mungkin baru dimanfaatkan oleh sebagian "kecil" dari masyarakat "karo" i belang-belang doni.
Komunikasi, selain materi tentunya tergantung pada sarana dan cara penyajiannya. Dalam hal yang terakhir sdr. Simson sudah tidak diragukan lah. Hanya dalam sarana penyampaian, selain lewat internet, kuakap benci lebih memasyarakat adi "talk Show" ndu e baci i upayaken untuk dapat diterbitkan secara berkala (mis seminggu sekali) dalam media cetak, nisalnya salah satu koran yang diterbitkan di Sumut.
Kita tunggu "Talk Show" episode II dst.
Mejuah-juah, jaga kesehatandu, maka "talk show" banci tersaji bas milist enda, adi banci setiap week end.
Petrus Sitepu
simson gintings <uncleiting2002@...> wrote:
--- In Perkumpulan-Karo-Eropah@yahoogroups.com, simson ginting <uncleiting2002@y...> wrote:
Perkede baru saja kembali dari kota Tulln setelah 3 hari berada di sana dalam rangka acara peringatan Sumpah Pemuda yang diprakarsai oleh Perki Eropa. Rombongan paling banyak adalah dari Belanda (35 orang) termasuk Simon Sobron Aidit. Lainnya Roy, yang pernah kulihat dalam video acara Malam Budaya Manado dan Sumut ketika Jasa Tarigan dan Yoe Anto Ginting datang ke Belanda tempo hari. Peserta yang menonjol Tapanuli dan Manado. Ada juga seorang dari Wuppertal.
NAMO RAMBE CAFE
Senja telah lama turun. Lampu petromaks bergoyang ditiup angin, berusaha menghalau udara dingin bulan Oktober. Perkede sedang asyik membaca. Tiga pendekar dan Guru Khalsa baru kembali dari sungai sehabis mandi. Mereka mandi sebulan sekali, pada setiap
mingu ketiga. Tidak heran apabila malam ini mereka nampak dua mingggu lebih muda dari usia mereka yang sesungguhnya
"Ngogei lalap" Tan Beng San buka suara. Persoalan dengan beru Karo tempo hari masih berbekas. Tidak heran apabila nada suaranya sinis. "Ada yang menarik, Perkede?" Guru Khalsa duduk di depan Perkede. Ia sangat menaruh hormat kepada orang yang suka membaca. "Jelas lit. Soal "talk show". Teh kena kai ertina talk show?" Perkede memandang ke arah 3 pendekar yang menjadi tujuan dari pertanyaan itu.
"Jadahen talk show e pe eteh kami" sahut Laga Man dengan enteng. "Kalak cengamen kap pe termasuk talk show" Tamburakrak berkata sambil merapikan rambutnya dengan "suri kutu" pemberian pacaranya yang baru, penduduk desa di kaki bukit "Jering Siadi ". "Suara ngorok kita tiap malam juga termasuk talk show" Tan Beng San ikut berpatisipasi ngeledek Perkede.
Dengan sabar Perkede menjelaskan cerita Ita Sembiring
(novelis) soal acara talk show di tv. Ketiga pendekar berlagak acuh tak acuh, hanya Guru Khalsa yang penuh atensi. Maklum, ia seorang mantan guru kursus bahasa Inggris yang berpengalaman. Cara berpikirnya sangat maju, kadang terlalu maju malah.
"Uga bicara si cubaken simulasi talk show?" Perkede mengajukan usul. "Bagus" sahut Guru Khalsa "Ngenehen ombangna" sahut Laga Man lalu duduk di samping Guru Khalsa. "Laga Man jadi bupati" ujar Perkede. "Jadi tukang balok? Eaak yah, labo dalih" "Tamburakrak jadi ketua DPRD" "Banci. Aku berbakat jadi ketua DPRD" "Tan Beng San jadi konglomerat" "Bole, bole...memang aku cocok jadi kalak bayak. Hayaaa" "Guru Khalsa jadi ketua partai CIPAN" "Mantap" "Perkede jadi penonton??" Tan Beng San kembali ngenyek. "Adi lalit pewawancara kai ertina kena masuk tv?" "Ei tuhu ariii!" "Aku jadi pewawancara. Enggo siap kena?" "Ndubem siap"
******* Perkede : Selamat petang permirsa. Telah
hadir di "Namo Rambo Television Network" Bapak Bupati Laga Man, Ketua DPRD Bapak Tamburakrak, Ketua Partai CIPAN Guru Salsa eh maaf Guru Khalsa dan pengusaha ternama Tan Beng San. Saya mulai dengan Bapak Bupati.
Bapak Lagaman, sebagai bupati bapak sudah paham betul mengenai seluk- beluk bisnis perkayuan. Bagaimana sekarang pasaran?
Laga Man : Saudara Perkede, berbicara tentang kayu atau pohon-pohon tumbang yang siap untuk dipasarkan, harganya selalu bagus. Itu sungguh menggembirakan (tersenyum lebar).
Perkede : Tidakkah Bapak terganggu dengan keluh kesah rakyat? Lagaman : Keluh kesah rakyat? Ah, dari dulu rakyat mengeluh saja kerjanya. Perkede : Tidak terganggu? Lagaman : Oo tidak. Saya tabah.
Tawakal. Perkede : Tawa kal kam? Lagaman : Ha ha ha ha ha... Perkede ini ada-ada saja deh (suaranya besar/galang) Perkede : Bapak Ketua DPRD Tamburakrak. Bapak Lagaman rajin menebangi pohon.Dengan terang-terangan pula. Bagaimana reaksi bapak? Tmbrkk : Marah. Kami anggota dewan o ohoo.. semua kami marah. Tapi karena Lagaman suka bagi-bagi rejeki, kami berhasil menjadi orang sabar. Lagipula orang pemarah kan lekas tua. Kami tak mau lekas tua. Nanti tak laku pula. Man tahan..! Perkede : Tan Beng San, sebagai seorang saudagar Bapak banyak
bekerjasama dengan Lagaman soal urusan dagang kayu.Benarkah itu? TBS : Benar. Namanya cari makan, dengan siapapun saya mau bekerjsama. Termasuk dengan Perkede. Kalau tidak, mana bisa makan roti hitam dalam tiap hari..nyam..nyamm.... Perkede : Husss. Ini wawancara tv..Tan Beng San! TBS : Sorry...
Perkede : Guru Khalsa, sebagai ketua Partai CIPAN, bagaimana anda melihat perosalan ini? GK : Pertama, ada krisis moral. Semua orang mau cipan saja. Artinya, apa saja yang bisa dimakan
akan dimakan. Kedua, tidak ada pengawasan. Karena pengawas pun mau cipan. Terusa terang, partai saya pun demikian. Perkede : Dapat bagian? GK : Ssst. Jangan keras-keras. Perkede : Bapak Bupati Lagaman, terbetik berita vcd "Pertangisen Beru Dayang : Garut Menda Sekin" telah beredar dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat Karo. Bagaimana reaksi bapak? Lagaman : Hmmm... vcd itu memang bagus. Kalau saya tak silap itu proyek Perkoeah.Merinding bulu romawi orang yang nontonnya. Perkede : Bapak sendiri? Lagaman : Saya
tidak punya bulu romawi! Sudah lama saya cukur habis. Melinang. Perekde : Oh begitu? Lagaman : Jadi, saya tidak terpengaruh. Never. Perkede : Tebal muka?. Lagaman : La muka ngenca tebal. Dompet pe tebal. Mekapallll!. Perkede : Pemirsa, demikianlah bicang-bincang kami malam ini. Lagaman : Nusur ndube aku.. erkiteken.. eeei eeeee..... Tmbrrk : Enggo kal mbulaken ... nini o niningku..... Perkede : Pemirsa, dengar terdengarnya lagu "PBD:GMS" maka berakhir pulalah acara talk show pada malam hari ini. Sebelum anda berangkat ke peraduan, periksalah dulu kompor, jendela, garasi mobil, sandal, jemuran, termasuk jemuran
tetangga, siapa tahu ada rejeki nomplok....
****
Catatan :
Tamburakrak = tokoh dalam salah satu komik Troy Ts Lagaman = tokoh dalam dongeng lisan Karo Tan Beng San = Raja Pedang, karya Khoo Ping Hoo Guru Khalsa = tokoh fiktif yang sering muncul di Namo Rambe Cafe. Ia mantan guru kursus bahasa Inggeris Perekede = Pemiliki Namo Rambe Cafe (NRC)- termasuk UKM
To unsubscribe from this group, send an email to: komunitaskaro-unsubscribe@yahoogroups.com
--- In Perkumpulan-Karo-Eropah@yahoogroups.com, simson ginting
<uncleiting2002@y...> wrote:
Perkede baru saja kembali dari kota Tulln setelah 3 hari berada di
sana dalam rangka acara peringatan Sumpah Pemuda yang diprakarsai
oleh Perki Eropa. Rombongan paling banyak adalah dari Belanda (35
orang) termasuk Simon Sobron Aidit. Lainnya Roy, yang pernah kulihat
dalam video acara Malam Budaya Manado dan Sumut ketika Jasa Tarigan
dan Yoe Anto Ginting datang ke Belanda tempo hari. Peserta yang
menonjol Tapanuli dan Manado. Ada juga seorang dari Wuppertal.
NAMO RAMBE CAFE
Senja telah lama turun. Lampu petromaks bergoyang ditiup angin,
berusaha menghalau udara dingin bulan Oktober. Perkede sedang asyik
membaca. Tiga pendekar dan Guru Khalsa baru kembali dari sungai
sehabis mandi. Mereka mandi sebulan sekali, pada setiap mingu ketiga.
Tidak heran apabila malam ini mereka nampak dua mingggu lebih muda
dari usia mereka yang sesungguhnya
"Ngogei lalap" Tan Beng San buka suara. Persoalan dengan beru Karo
tempo hari masih berbekas. Tidak heran apabila nada suaranya sinis.
"Ada yang menarik, Perkede?" Guru Khalsa duduk di depan Perkede. Ia
sangat menaruh hormat kepada orang yang suka membaca.
"Jelas lit. Soal "talk show". Teh kena kai ertina talk show?"
Perkede memandang ke arah 3 pendekar yang menjadi tujuan dari
pertanyaan itu.
"Jadahen talk show e pe eteh kami" sahut Laga Man dengan enteng.
"Kalak cengamen kap pe termasuk talk show" Tamburakrak berkata sambil
merapikan rambutnya dengan "suri kutu" pemberian pacaranya yang baru,
penduduk desa di kaki bukit "Jering Siadi ".
"Suara ngorok kita tiap malam juga termasuk talk show" Tan Beng San
ikut berpatisipasi ngeledek Perkede.
Dengan sabar Perkede menjelaskan cerita Ita Sembiring (novelis) soal
acara talk show di tv. Ketiga pendekar berlagak acuh tak acuh, hanya
Guru Khalsa yang penuh atensi. Maklum, ia seorang mantan guru kursus
bahasa Inggris yang berpengalaman. Cara berpikirnya sangat maju,
kadang terlalu maju malah.
"Uga bicara si cubaken simulasi talk show?" Perkede mengajukan usul.
"Bagus" sahut Guru Khalsa
"Ngenehen ombangna" sahut Laga Man lalu duduk di samping Guru Khalsa.
"Laga Man jadi bupati" ujar Perkede.
"Jadi tukang balok? Eaak yah, labo dalih"
"Tamburakrak jadi ketua DPRD"
"Banci. Aku berbakat jadi ketua DPRD"
"Tan Beng San jadi konglomerat"
"Bole, bole...memang aku cocok jadi kalak bayak. Hayaaa"
"Guru Khalsa jadi ketua partai CIPAN"
"Mantap"
"Perkede jadi penonton??" Tan Beng San kembali ngenyek.
"Adi lalit pewawancara kai ertina kena masuk tv?"
"Ei tuhu ariii!"
"Aku jadi pewawancara. Enggo siap kena?"
"Ndubem siap"
*******
Perkede : Selamat petang permirsa. Telah hadir di "Namo Rambo
Television Network" Bapak Bupati Laga Man, Ketua DPRD Bapak
Tamburakrak, Ketua Partai CIPAN Guru Salsa eh maaf Guru Khalsa dan
pengusaha ternama Tan Beng San. Saya mulai dengan Bapak Bupati.
Bapak Lagaman, sebagai bupati bapak sudah paham betul mengenai seluk-
beluk bisnis perkayuan. Bagaimana sekarang pasaran?
Laga Man : Saudara Perkede, berbicara tentang kayu atau pohon-pohon
tumbang yang siap untuk dipasarkan, harganya selalu bagus.
Itu sungguh menggembirakan (tersenyum lebar).
Perkede : Tidakkah Bapak terganggu dengan keluh kesah rakyat?
Lagaman : Keluh kesah rakyat? Ah, dari dulu rakyat mengeluh saja
kerjanya.
Perkede : Tidak terganggu?
Lagaman : Oo tidak. Saya tabah. Tawakal.
Perkede : Tawa kal kam?
Lagaman : Ha ha ha ha ha... Perkede ini ada-ada saja deh (suaranya
besar/galang)
Perkede : Bapak Ketua DPRD Tamburakrak. Bapak Lagaman rajin
menebangi pohon.Dengan terang-terangan pula. Bagaimana
reaksi bapak?
Tmbrkk : Marah. Kami anggota dewan o ohoo.. semua kami marah. Tapi
karena Lagaman suka bagi-bagi rejeki, kami berhasil
menjadi orang sabar. Lagipula orang pemarah kan lekas tua.
Kami tak mau lekas tua. Nanti tak laku pula. Man tahan..!
Perkede : Tan Beng San, sebagai seorang saudagar Bapak banyak
bekerjasama dengan Lagaman soal urusan dagang
kayu.Benarkah itu?
TBS : Benar. Namanya cari makan, dengan siapapun saya mau
bekerjsama. Termasuk dengan Perkede. Kalau tidak, mana
bisa makan roti hitam dalam tiap hari..nyam..nyamm....
Perkede : Husss. Ini wawancara tv..Tan Beng San!
TBS : Sorry...
Perkede : Guru Khalsa, sebagai ketua Partai CIPAN, bagaimana anda
melihat perosalan ini?
GK : Pertama, ada krisis moral. Semua orang mau cipan saja.
Artinya, apa saja yang bisa dimakan akan dimakan. Kedua,
tidak ada pengawasan. Karena pengawas pun mau cipan.
Terusa terang, partai saya pun demikian.
Perkede : Dapat bagian?
GK : Ssst. Jangan keras-keras.
Perkede : Bapak Bupati Lagaman, terbetik berita vcd "Pertangisen
Beru Dayang : Garut Menda Sekin" telah beredar dan
mendapat sambutan hangat dari masyarakat Karo. Bagaimana
reaksi bapak?
Lagaman : Hmmm... vcd itu memang bagus. Kalau saya tak silap itu
proyek Perkoeah.Merinding bulu romawi orang yang nontonnya.
Perkede : Bapak sendiri?
Lagaman : Saya tidak punya bulu romawi! Sudah lama saya cukur habis.
Melinang.
Perekde : Oh begitu?
Lagaman : Jadi, saya tidak terpengaruh. Never.
Perkede : Tebal muka?.
Lagaman : La muka ngenca tebal. Dompet pe tebal. Mekapallll!.
Perkede : Pemirsa, demikianlah bicang-bincang kami malam ini.
Lagaman : Nusur ndube aku.. erkiteken.. eeei eeeee.....
Tmbrrk : Enggo kal mbulaken ... nini o niningku.....
Perkede : Pemirsa, dengar terdengarnya lagu "PBD:GMS" maka berakhir
pulalah acara talk show pada malam hari ini. Sebelum anda
berangkat ke peraduan, periksalah dulu kompor, jendela,
garasi mobil, sandal, jemuran, termasuk jemuran tetangga,
siapa tahu ada rejeki nomplok....
****
Catatan :
Tamburakrak = tokoh dalam salah satu komik Troy Ts
Lagaman = tokoh dalam dongeng lisan Karo
Tan Beng San = Raja Pedang, karya Khoo Ping Hoo
Guru Khalsa = tokoh fiktif yang sering muncul di Namo Rambe Cafe.
Ia mantan guru kursus bahasa Inggeris
Perekede = Pemiliki Namo Rambe Cafe (NRC)- termasuk UKM
MARI BERSATU SAUDARAKU SEBANGSA*
Suatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri bersama di negara kita
Republik Indonesia ini masih ada suatu/beberapa kelompok yang *
sangat
rindu menguasai negara tercinta ini demi untuk menyalurkan aspirasi
politiknya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan cara-cara
tertentu.
Kita mulai saja dari sejarah waktu perjuangan gigih untuk bersatu
terbebas
dari penjajahan bangsa asing dan membentuk Negara Kesatuan Republik
Indonesia
*( NKRI ), setelah melalui perjuangan yang panjang dan banyak
pengorbanan maka
terbentuklah negara ini dengan asas Negara Pancasila dan dasarnya
UUD 1945.
Dalam perjalanannya negara ini telah beberapa kali berganti periode
dengan
gaya kepemimpinan masing-masing. Tidak perlu saya tuliskan secara
mendetail
karena itu tentunya sudah kita ketahui bersama. Tapi dalam setiap
periode
banyak kali terjadi hal-hal yang sangat kontraversial dan
bertentangan dengan
pemahaman dan asas bernegara yang kita pakai.
Sebut saja hal-hal kontraversial tersebut adalah pemaksaan oleh
kelompok ter
tentu guna menjalankan aspirasi mereka. Seperti piagam
Jakarta/Jakarta Charter
dipaksa dimasukkan ke dalam UUD 1945, Selain itu juga ada usaha-
usaha untuk
menjadikan hukum agama ( Syariat Islam ) sebagai Undang-undang
negara.
Tidak kalah pentingnya adalah dengan pengesahan RUU Sikdiknas
menjadi undang-
undang. Ini adalah hal-hal yang sangat kontraversial terjadi dalam
setiap
periode kepemimpinan.
Semua hal-hal yang tidak sesuai dengan UUD 1945 harusnya menjadi
perhatian kita
bersama khususnya perhatian dari pihak pemerintah Negara Indonesia
tercinta ini.
Hal itu untuk menjaga agar tidak kecolongan. Begitu banyak pihak-
pihak yang
ingin terjadi perpecahan terhadap bangsa ini untuk kepentingan
mereka.
Apabila kita sebagai warga negara yang berdaulat dan pemerintahan
kita sampai
lengah maka bisa-bisa terjadi kecolongan yang menyebabkan
penderitaan dan
perpecahan. Mari bersatulah bangsaku, janganlah kita membedakan satu
dengan
yang lainnya. Sadarlah bahwa perbedaan itu adalah kekayaan bangsa
ini, jangan
lah kita mudah terhasut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung
jawab.
Menyangkut pernyataan Bapak Menteri Agama bahwa pemberlakuan Syariat
Islam
tidak ada yang menghalangi, memang benar sebab kebebasan beragama
dilindungi
oleh negara dan tidak ada yang dapat bisa menghalanginya. Janganlah
pemahaman agama yang kita anut diartikan dalam arti yang sempit.
Bisa-bisa
pemahaman yang sempit itu bisa dijadikan alat oleh kelompok tertentu
untuk
mengadu domba dan memecah negara ini. Janganlah lupa kita beragama
supaya
bisa hidup saling berdampingan dan dengan hidup berdampingan kita
bisa
berbuat hal-hal yang benar dan dengan demikian kita punya tabungan
di akhirat,
kita semua tahu persis bahwa setiap agama mengajarkan kasih.
Masalah akan timbul jika hukum agama jika kita jadikan produk undang-
undang
negara ini. Karena itu sangat bertentangan dengan asas Negara Kita
ini yakni
Negara Pancasila dan dasarnya adalah UUD 1945.
Berdasarkan pembagian wewenang antara agama dan negara, maka Allah
punya
wewenang menyangkut cara-cara beribadah kepada-Nya. Negara tidak
boleh
mengadakan intervensi. Jangan lupa negara ini terbentuk karena atas
kasih-Nya
karena dia tidak membiarkan umat-Nya tetap dibawah perbudakan bangsa
asing.
Tidak mungkin negara menetapkan cara-cara orang beribadah sebab tiap-
tiap
kelompok beragama menyusun sendiri tata cara ibadahnya ; 1001
kelompok
agama punya 1001 tata cara beribadah.
Apa yang terjadi seandainya hukum agama di undangkan, cotohnya yang
menentukan
pelanggaran agama adalah ulama karena pelanggaran itu harus ditinjau
dari
segi pemahaman Kitab Suci, negara tidak bisa menilainya. Berikut
bagaimana
menentukan sanksi atas sesuatu pelanggaran, negara juga tidak dapat
juga
menetapkannya karena hanya para ulama yang bisa. Jadi negara hanya
dapat
memberi hukuman atas saran dari para ulama.
Lebih ironis lagi kalau ditinjau dari segi pemahaman Agama yang saya
anut,
Agama Kristen. Dari segi pemahaman Kristen, iman Kristiani mengenal
hukum
kasih. Hukum kasih tidak mengenal menghakimi karena Tuhan Yesus
Kristus
mengajarkan dan memerintahkan kepada kita untuk memberi ampun untuk
orang
yang menyakiti kita, bahkan kita harus mengampuni sampai tujuhpuluh
tujuh kali.
*Matius 18:22 . Bahkan sebagai umat Kristiani dituntut harus bisa
mendoakan
musuh-musuhnya. Ironis bukan ?
Sejauh pemahaman saya, Allah orang Kristen adalah juga Allah warga
Muslim dan
semua agama lain. Dari semua agama perbedaan yang menyolok adalah
tata cara
beribadah mereka. Persamaanya adalah sama-sama punya Allah yang sama
dan sama-
sama INGIN SELAMAT DI AKHERAT. Ingat itu saudaraku Sebangsa!.
Apakah tidak terasa ganjil bila saudara ulama menghukum seorang
jemaah yang
melanggar suatu peraturan keagamaan *( bukan hukum Allah ) padahal
Allah
memaafkan kesalahan saudara terhadap Allah ?.
Kesaksian Al-Qur'an : Ali Imran : 3 , Dia menurunkan Al-Qur'an
kepadamu
dengan sebenarnya, menurunkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya
dan menurunkan Taurat dan Injil. Setahu saya di kitab suci agama
Islam
ada tertulis Isa Almasih yang di kitab agama Kristen diakui sebagai
Yesus
Kristus sang Penyelamat. Jadi marilah kita sama-sama lebih memahami
ajaran
agama kita masing-masing demi terciptanya rasa pesaudaraan dan
persatuan.
Janganlah kita mau lagi di jajah dan diadu domba dengan memanfaatkan
agama yang kita anut, karena agama itu sakral saudara. Agama mengatur
hubungan dengan yang Diatas yaitu Sang Pencipta bukan mengatur
Negara.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air marilah kita lupakan
permusuhan
diantara kita, jangan lagi kita mau dijajah dan diadu domba untuk
kepentingan
politik tertentu. Cukuplah penderitaan yang kita alami saat ini,
jadi marilah
kita coba hidup rukun dan damai lupakan masalah keagamaan. Mari kita
berdoa
bersama supaya konflik yang melanda negara ini cepat selesai
khususnya;
konflik yang melanda saudara sebangsa kita warga Aceh. (
Bersambung )
Boyran Gintings A.md
Sanitasi Jeruk Cegah Serangan Lalat Buah
MEDAN (Waspada): Ketua Kelompok Peneliti Sosial Ekonomi (Kelsi) dari
Balai Pengkajian Tenologi Pertanian Gedong Johor Ir Elianor
Sembiring, MSi mengungkapkan empat cara mengatasi penyebaran serangan
dan perkembangbiakan serangan lalat buah paling efektif agar tidak
merugikan petani jeruk.
''Empat metode itu yakni, cara perangkap, membunuh, mencegah dan
sanitasi,''kata Elianor kepada Waspada di kantornya BPTP Gedong Johor
Medan, Kamis (26/12), berkaitan dengan ribuan hektar areal kebun
jeruk terkena serangan lalat buah di Tanahkaro.
Dari keempat metode tersebut, katanya, metode sanitasi merupakan cara
paling andal dan jitu mengurangi tingkat kerugian petani jeruk.
Sistem sanitasi yakni menjaga kebersihan areal perkebunan jeruk dari
kotoran yang menumpuk di sekitar pohon.
''Paling perlu diperhatikan petani jeruk Tanahkaro yakni menjaga
kebersihan pohon dari buah busuk,''ujarnya. Petani jeruk mempunyai
kebiasaan membiarkan buah jeruk yang jatuh ke tanah membusuk agar
menjadi pupuk.
Kondisi seperti ini, ujarnya, memiliki korelasi yang cukup erat
dengan tingkat serangan lalat buah yang akan berkembang biak dengan
cepat di daerah yang tidak bersih dengan aroma yang menyengat. ''Buah
busuk menjadi media lalat buah untuk berkembang biak dengan cepat
sehingga akhirnya merugikan petani.''
Sebaiknya, buah jeruk yang jatuh dan telah membusuk, di tanam dalam
satu tempat agar tidak menjadi media bagi lalat buah. Elianor
menyebutkan, lalat buah ini mirip serangan nyamuk malaria bagi
manusia.
Namun Elianor mengakui sistem sanitasi ini tidak bisa dilakukan
sendiri-sendiri karena tidak efektif dan tetap merugikan
petani. ''Lebih baik sistem sanitasi dilakukan secara serentak dalam
satu hamparan agar penyebaran serangan lalat buah bisa
diminimalisir,''ujarnya.
Meski sistem sanitasi terlihat mudah dan gampang, namun sulit
dilakukan secara serentak dan tidak gampang diterapkan di lapangan.
Untuk itu, perlu ada kesadaran bersama mengatasi pencegahan terhadap
serangan lalat buah agar bisa diatasi bersama.
Setelah kebersihan di sekitar areal perkebunan jeruk dilakukan, perlu
dilakukan proteksi pohon dengan melakukan pembunuhan terhadap lalat
buah. ''Jangan anggap remeh terhadap serangan lalat buah yang bisa
mengurangi kualitas dan kuantitas jeruk hingga 40 persen.''
Kemudian melakukan perangkap lalat buah. Perangkap tersebut bisa
dibuat dari botol minuman plastik ukuran sedang yang ujungnya di
balik. Mulut botol minuman dipotong hingga bisa dibalik dan
dimasukkan ke dalam botol, selanjutnya disediakan kapas serta diberi
etil eugenol.
Perangkap yang telah tersedia itu bisa di tempatkan di pinggiran
pohon jeruk ataupun di tengah-tengah pohon jeruk. Aroma etil eugenol
yang mirip bau lalat betina akan memancing lalat betina mendekatinya
sehingga mencegah perkembangbiakan lalat betina.
Kata Elianor, sistem perangkap untuk mengurangi populasi lalat jantan
berkeliaran di areal perkebunan jeruk. Pasalnya, lalat betina
memiliki umur pendek dan akan mati jika dalam 2 hari tidak di buahi.
Sebaliknya, lalat buah betina akan mencari tempat berkembang biak
salah satunya di dalam buah jeruk jika telah dibuahi. ''Jika proses
perkawinan telah dilakukan, lalat buah akan mencari media bertelur
yakni di buah jeruk.''
Sistem bertelur lalat buah di dalam jeruk bisa menghambat proses
pertumbuhan jeruk karena langsung menuju buahnya. Lalat jeruk akan
melubangi jeruk dan menyimpan hasil perkawinan itu di dalam
jeruk. ''Jika penyimpanan telur dilakukan di dalam jeruk muda maka
jeruk itu akan mati.'' Petani akan rugi besar jika lalat buah
mendapatkan media jeruk yang siap panen sehingga mengurangi mutu
jeruk.
Untuk itu, Elianor menyarankan kepada petani pentingnya menjaga areal
perkebunan jeruknya dari buah busuk dan secepatnya melakukan
pencegahan dini terhadap serangan tersebut. (m47) sh
Opini - Surat Pembaca
07 Sep 02 02:42 WIB
Para Pendaki Di Gunung Sibayak Resah
Pungutan yang meresahkan terlihat semakin semarak dilakukan oknum-
oknum tertentu kepada para pendaki gunung yang ingin menikmati
indahnya kawasan puncak Gunung Sibayak. Kejadian itu berlangsung
kepada siapa saja yang ingin mendaki Gunung Sibayak-Brastagi,
terutama melalui jalur Brastagi menuju puncak Gunung Sibayak.
Hal itu dilmulai oleh salah satu klub pecinta alam bernama PUALAM
(Pemuda Lintas Alam) kota Medan yang bermarkas di kawasan Kecamatan
Medan Tembung. Pada Minggu, 18 Agustus 2002 lalu, sejumlah 20 orang
anggota PUALAM berangkat dengan tujuan long march dari Brastagi
menuju puncak Sibayak. Tepat di pintu masuk Gundaling-Brastagi, mobil
yang ditumpangi anggota PUALAM distop oleh petugas jaga retribusi (di
pintu masuk Gundaling). Oleh petugas resmi, rombongan PUALAM
dikenakan retribusi masuk sebesar Rp 1.500 per orang.
Karena memang dikenakan retribusi resmi yang dikeluarkan oleh Pemkab
Karo bersama Dinas Pariwisata Karo anggota PUALAM membayar karcis
masuk. Sayangnya oleh petugas hanya diberikan satu lembar karcis saja
dan dibubuhi tulisan lunas. Padahal, rombongan PUALAM sudah membayar
Rp 35.000/rombongan. Begitu ditanya kepada petugas, oleh petugas
mengatakan, "itu sudah biasa, kalau rombongan karcisnya cukup
selembar saja," ujar petugas yang berpakaian resmi petugas di pintu
masuk Gundaling.
Uniknya lagi, ketika rombongan PUALAM tiba di kaki Gunung Sibayak
melalui jalur Brastagi, oleh pemuda setempat tepatnya di salah satu
warung kopi di kaki Gunung Sibayak, dikoordinir pemuda berinisial
Jeck, juga melakukan pengutipan terhadap anggota PUALAM dengan
retribusi Rp 1.500 per orang dan hanya mengeluarkan selembar karcis
yang serupa ketika di pintu masuk Gundaling. Saat diprotes, Jack
membantah, sembari mengatakan, "kalau tidak bayar retribusi tak
dibolehkan mendaki !"
Untuk itu, PUALAM kota Medan menyatakan protes keras kepada Pemkab
Karo dan Dinas Pariwisata Karo yang menempatkan petugas di pintu
masuk Gundaling dan Perlakuan Pemuda setempat yang dikoordinir Jack.
Kalau aksi "pungli" itu terus dibiarkan, lambat laun bakal tak akan
ada lagi pecinta alam yang ingin mendaki Gunung Sibayak. PUALAM kota
Medan memohon instansi terkait untuk menghentikan aksi pungli di
kawasan Gunung Sibayak.
Peran Serta Masyarakat Karo Dalam Perjuangan
Nama Biak Ersada Ginting mulai muncul ke permukaan ketika dia menjadi
nara sumber beberapa tulisan tentang Kerajaan Aru dan legenda Putri
Hijau yang dimuat di Harian Kompas.
Kita tentu merasa bahagia, ternyata masih ada saksi sejarah yang
hidup dan menguasai kisah-kisah lama bernilai sejarah. Kemunculan
nama Biak Ersada Ginting tentu tidak terlepas dari Darwan Prints, SH,
ahli budaya Karo yang suka menggali sejarah daerah asalnya.
Membaca buku mengenai sejarah memang selalu menarik, apalagi jika
sejarah itu menceritakan tentang perihal yang dekat dengan diri kita.
Sebagaimana buku sejarah yang ditulis oleh penulis buku ini H Biak
Ersada Ginting.
Di dalam buku setebal 194 halaman yang dilengkapi gambar-gambar
dokumentasi lama, penulis berupaya menguak sejarah dan peperangan
yang terjadi di Kota Medan serta daerah-daerah di Kabupaten Karo.
Khusus perjuangan masyarakat Karo dari buku ini terlihat betapa besar
jasa-jasa mereka sebab selama ini hal itu kurang terungkap, walau
peresensi sering mendengar nama-nama sejumlah pejuang dari almarhum
ayahanda peresensi (salah seorang pejuang dari T. Karo). Besarnya
peran serta masyarakat Karo dalam perjuangan tidak bisa dinafikan
sebab wilayahnya utamanya Kecamatan Tigabinanga merupakan jalan
lintasan umum menuju Kutacane, Aceh Tenggara.
Kita penting mengetahui perjuangan di daerah kita sendiri. Seperti
dikatakan oleh Prof. Hj. Rehngena Purba, SH, MS, (mantan Dekan
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan kini dosen pasca
sarjana USU) dalam kata sambutannya bahwa kita perlu mengenal sejarah
setiap daerah untuk bahan-bahan penyusunan sejarah nasional Negara
Kesatuan RI. Dengan cara demikian terciptalah saling pendekatan dan
pengertian antara suku-suku Bangsa Indonesia dalam mempererat
persatuan dan kesatuan sesamanya, untuk mencapai kemajuan serta
kesejahteraan bersama.
Peresensi bahkan sangat terkejut saat membaca buku ini sebab di situ
tertulis beberapa nama yang sangat dekat dengan diri penulis, yakni
seorang kurir pemuda bernama Abdul Razak (tidak disertai marga
Tarigan, hal. 64) dari Abdul Karim MS ditugasi menggali keterangan
dari Dr M Amir perihal Proklamasi Kemerdekaa RI. Walau tidak disertai
marganya peresensi yakin ini adalah nama ayahanda peresensi sebab
beliau adalah seorang pejuang yang di jaman penjajahan Jepang menjadi
Heiho dan di masa agresi ke II Belanda, beliau menjadi Komandan
Lasykar Hizbullah - Sabilillah T Karo, yang melatih perang para
pemuda (lasykar rakyat) di desanya Kecamatan Tiga Binanga. Di masa
perjuangan beliau juga setidaknya dua kali menjadi kurir untuk
menjumpai Teungku Daud Beureueh di Aceh (selaku Gubernur Militer
untuk Aceh, Langkat dan T. Karo). Bersama Selamat Ginting dan Jamin
Ginting pula di Pematangsiantar, Abdul Razak Tarigan dianugerahi
pangkat Mayor.
Begitu pula nama Arab Sebayang (paman peresensi, hal. 132) yang tewas
dalam pertempuran di Kandibata, T. Karo dan dimakamkam di TMP
Kabanjahe berdekatan dengan makam Rakutta Berahmana (juga paman yang
di jaman pemerintahan Soekarno menjabat sebagai Bupati Karo, Walikota
P Siantar). Megawati Soekarnoputri (sebelum menjadi presiden) dan
Taufik Kiemas pernah berziarah ke TMP Kabanjahe dibawa oleh Wakil
Bupati Karo, Djidin Sebayang, SH.(adik dari Arab Sebayang). Juga nama
Selamat Ginting yang di daerah Karo disebut 'Pa Kilap,' karena dia
bisa berjalan dan menghilang seperti kilap (cahaya petir) tidak asing
bagi penulis karena masih ada hubungan keluarga.
Cerita tewasnya Arab Sebayang, pemuda gagah yang berperawakan seperti
orang Arab ini membuat bulu kuduk bergidik, setelah terkena tembakan
dan tidak bisa lari dia dan teman-temannya digilas tank Belanda.
Namun ibunya Tabehate Br Bangun masih bisa mengenali putra
kesayangannya yang berwatak keras ini dari kain sarung yang
dililitkannya di pundaknya. Ketika hendak ikut berjuang sebenarnya
keluarga melarangnya sebab usianya saat itu belum usia wajib militer,
tapi dia bersikeras dan ikut dalam beberapa pertempuran di wilayah
Karo. Saat peresensi menziarahinya, ada hal aneh, tanah yang
peresensi pijak bergetar seperti ada gempa, namun yang lainnya tidak
merasakan apa-apa.
Dengan membaca buku karya H Biak Ersada Ginting ini kita tidak hanya
akan mengetahui sejarah perjuangan merebut kemerdekaan dari
penjajahan Belanda, Jepang dan agresi II Belanda, tapi juga sejarah
lama seperti Kerajaan Aru I sampai Kerajaan Aru VII beserta sejumlah
peperangan yang menyertainya. Perang, perang dan perang memang tidak
bisa dipisahkan dari kehidupan umat manusia, mulai jaman Nabi Adam
hingga dunia ini berakhir kelak manusia akan tetap saling berperang.
Jika tidak bisa lagi bermufakat bagaimanapun perang merupakan jalan
terakhir meraih kemenangan.
Siapakah penulis yang terkesan mendadak muncul ini?
Biak Ersada Ginting Munte (Haji) adalah kelahiran tahun 1928 di Desa
Pertumbuken, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo dan saat ini
tinggal di Jalan Pasar Peringgan 3 Medan Baru. Beliau mengenyam
pendidikan Sekolah Rakyat pada 1945, Sekolah Guru Bawah (SGB) 1948,
SGA 1951, Perguruan Tinggi Ilmu Kewartawanan dan Politik (PTIKP)
1958, sempat berprofesi menjadi guru Bahasa Inggeris di Yogjakarta
serta menjadi penulis di Harian Patriot, Harian Waspada, Mercu Suar,
Majalah Waktu, Dunia Wanita (1961 - 1971). Dia juga menulis buku
Pelajaran Agama Islam (1966) serta makalah/buletin,"Sejarah Karo."
Melihat tahun kelahiran dan profesi yang digelutinya wajar sekali
beliau menguasai sejarah perjuangan yang berlangsung di Medan dan
daerah asalnya (Tanah Karo) karenanya kita masih menanti tulisan-
tulisan beliau. Erma Miraza Tarigan sh
MASYARAKAT KARO & PELESTARIAN BUDAYA
Suku Karo menghargai dan menjungjung tinggi adat-istiadat. Setiap
kegiatan sosial bila menjunjung pihak anak beru dan kalimbubu adat
maka adat menjadi berperan. Pada umumnya kegiatan pada suku Karo
didominasi kegiatan pesta perkawinan, mengket rumah dan
kegatan/upacara kematian.
Suatu kegiatan yang berlandaskan adat istiadat bila terdapat
kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlangsung sejak lama dilaksanakan
agar kegiatan sosial tersebut menjadi tertib dan teratur. Disini ada
kebiasaan , dilaksanakan secara berulang-ulang tertib dan teratur
serta mempunyai nilai. Maba belo selambar atau Nungkun kata sebuah
kegiatan pada pra perkawinan dan pelaksanaannya setiap kali ada orang
kawin pada suku Karo dan dilaksanakan secara tertib dan teratur.
Orang Karo dimana saja dan kapan saja, untuk sebagian besar
melaksanakan adat dengan penuh rasa tanggung jawab . Tiap-tiap
komunal mempunyai anak beru dan kilimbubu. Dan masing-masing komunal
menjaga hubungan baik dengan anak beru dan kalimbubunya." Saya"
berbeda dengan adik saya. Kami memiliki komunal untuk kegiatan besar
sama dan hanya sebagian kecil yang berbeda, yaitu istri. Dengan
adanya istri maka fungsi dan tugas serta kewajiban "Saya" berbeda
dengan saudara-saudara saya yang lain.
Orang Karo di Jakarta, Semarang dan Surabaya serta tempat-tempat lain
di Indonesia in masih menjaga nilai-nilai tradisi adat tersebut.
Mungkin dia lebih tersinggung dituduh tidak beradat dari pada tidak
beragama. Kalau kita tidak beradat (bayangkan saja seorang tidak
beradat ) mungkin lebih mirip kehidupannya dengan manusia primitif
pada zaman dahulu. Sebagian besar pejabat-pejabat Kalak Karo sangat
menghargai adat-istiadat, walau tidak sebagai pelaku. Untuk menjadi
pelaku didalam adat punya "talenta" tersendiri karena tidak semua
kita menjadi anak beru si ngerna atau cekoh baka.
Ada banyak jamburdi Meda, Halilintas, Ernala, Pemere,
Tenaga,Namaken,Bukit Permai, Sibayak, Gedung wanita Karo, Diakonia.
Dan lain-lain. Setiap pekan penuh dengan kegiatan pesta , dua atau
tiga kali setiap pekan ada kegiatan adat.
Siapakah yang memiliki kehendak untuk melaksanakan adat ini ? kalau
tidak dilaksanakan bagaimana ? kalau dilaksanakan secara adat apa
keuntungannya ? memang sering akhir-akhir ini sering terdengar suara-
suara minor bahwa adat tidak efesien dan tidak berfaedah. Bahkan ada
yang lebih extrim, ada beberapa sekte Kristen menuduh adat adalah
sumber dosa. Karena itu yang melaksanakan adat hukumannya adalah
neraka.
Pertanyaannya adalah kalu tidak dilaksanakan secara adat lalu
bagaimana pelaksanaannya ? bukankah adat itu suatu sistem yang
mempunyai nilai keteraturan dan ketertiban. Kalau sebuah perkawinan
dilaksanankan tanpa adat , bagaimana mengaturnya ? Apakah bisa tata
tertib sebuah agama tanpa adat ? Agama tanpa dilandasi adat adalah
bencana. Masyarakat menjasi chaos sebab tidak ada pegangan.
Adanya tuduhan bahwa adat kurang efesien dan kurang bermanfaat kerena
faktor pelaku. Adat itu sendiri sudah cukup baik tapi pelakunya yang
tidak mampu melaksanakannya sesuai dengan asas manfaat dan efesien.
Dewasa ini , anak beru yang melakukan potong lembu, memasak nasi,
membuat sayur , jelas tidak efesien. Karena kehidupan kota serba
sibuk, waktu yang terbatas sehingga tidak ada cukup waktu untuk
melaksanakan adat. Karena itu anak beru mengontrak " pemilik
katering" sebab katering sudah professional, sehingga biaya lebih
murah dan waktu lebih tepat. Didesa-desa "catering" belum ada maka
anak beru, handai tolan masih berperan aktif.
Orang Karo menghargai adat dan mejunjung tinggi adat-istiadat karena
adat itu membuat manusia menjadi tertib dan teratur. Bagaimana kalau
ada orang Karo yang tidak lagi bersedia melaksanakan adat ? harus
hati-hati , Karen keluar dari adat ada banyak resiko yang harus di
terima. Pertama-tama dia akan mengalami kesulitan kalau dia masih
berada dalam kelompok Karo. Dimanakah posisi dan statusnya dalam
kelompok itu kalau dia tidak beradat ? maih layakkah dia
dipanggil "bengkila" mama/bibi/mami ? Kedua untuk melaksanakan
upacara selanjutnya pun nanti akan sulit. Kalau anak kawin, kalau dia
meniggal, tetap ada keterikatan dalam adat. Menurut saya orang yang
tidak punya famili. Dia sebatang Kara dan tidak tahu lagi siapa sanak
saudaranya.
Sampai saat ini orang Karo sangat menghargai adat. Orang-orang Karo
yang maju dan moderen baik di pemerintahan maupun swasta dan militer
semua menjunjung tinggi adat dan menghargainnya.Adat Karo adalah
sebuah sistem nilai yang menghargai hak asasi manusia dan menentukan
peran sosial setiap individu. ( Pt.Ir.Perdana Gintings, Msi /
Maranatha edisi 150 )
SITUASI PENDIDIKAN DI BASUKUM SIMALEM
Desa Cinta Rakyat atau yang lebih terkenal dengan nama Basukum adalah
sebuah desa terpencil yang terdaftar sebagai sebuah desa di wilayah
kecamatan Sibolangit, kabupaten Deli serdang- Sumatra Utara. Terletak
kurang lebih 12 Km kearah timur Bandar baru yang dihuni oleh 61 KK (
Sudah termauk Lau Palau, 1 Km dari Basukum. Satu hal yang ingin saya
informasikan kepada seluruh netter @Tanahkaro!com ( red ) tentang
situasi pendidikan yang sangat memprihatinkan.
Didesa ini terdapat sebuah sekolah dasar negri yang sudah banyak
mencetak pemikir-pemikiran yang saat ini telah tersohor di berbagai
penjuru tanah air. Saat ini SD yang kita cintai ini memiliki 80 orang
murid yang dating dari beberapa desa di sekitar Basukum, yakni Lau
Pulau 1 Km dari Basukum. Negri Suah 2 Km dari Basukum. Negri Gugung 4
km dari Basukum, pagar Batu 2 Km dari Basukum dan dari Basukum
sendiri mereka diajar oleh 2 orang guru ( keduannya adalah guru agama
yakni guru agama Protestan dan Katolik ) serta kepala sekolah yang
kadang-kadang juga merangkap sebagai pengajar.
Akibat dari fakta data diatas, situasi pendidikan di SD ini tidak
dapat berjalan dengan semestinya, para murid hanya menerima ilmu yang
jauh dibawah standart pendidikan sekolah dasar. Bayangkan saja ,
murid kelas IV tidak mampu menyelesaikan soal mencari luas empat
persegi panjang, bujur sangkar, lingkaran dan sebagainya.belum lagi
ditambah dengan pecahan desimal , pecahan biasa dan sejenisnya.
Mereka menjadi pusing dan malas sekolah. Pantas saja ketika beranjak
ke SLTP, adik-adik yang kita kasihi ini memilih berhenti ketimbang
melanjut sekolah, ditambah lagi situasi ekonomi yang tidak
bersahabat. Jangankan ingin melanjut , yang sudah duduk di bangku
SLTP pun beberapa tahun belakangan ini banyak yang pulang kampung
(PULKAM) dengan berbagai alasan. Banyak yang tidak percaya diri
karena tidak mampu menangkap pelajaran sekolah yang disajikan oleh
gurunya . Pantas dan wajar-wajar saja ada guru yang berkata "
Tertandan murid e ija nari kutana ! "
Dari pengamatan saya, walau bukan hasil yang paling akurat para murid
yang berasal dari Basukum kurang mampu mencerna pelajaran pada
sekolah lanjutan bukanlah disebabkan oleh kebodohan mereka, memang
karena level mutu pendidikan yang sangat jauh berbeda. Ibaratnya,
Mereka terlalu sering mengkonsumsi " bubur saring ", akibatnya
ketika mereka harus mengkonsumsi " nasi keras " perur mereka mual,
muntah dan mencret yang menambah pendertaan bagi mereka. Sayang tidak
selamanya penderitaan membentuk kedewasaan sebab ada yang sekaligus
menghantar kepada kematian. Artinya banyak murid yang memilih
berhenti sekolah ketika diperhadapkan kepada persoalan tersebut.
Jika demikian bagaimana masa depan pendidikan mereka ? Apakah kita
harus katakana " karena dosa mereka sehingga terlahir dalam situasi
demikian adanya ? " Tidak, mereka tentu harus diperjuangkan, sebab
mereka adalah bahagian dari generasi kita yang benar-benar harus
diperhitungkan . Ini merupakan pergumulan yang entah kapan namun
pasti akan dipecahkan.
Menurut pengakuan kepala sekolah N.Sembiring,pihaknya teah beberapa
kali membuat usulan penamhahan guru pengajar, namun hingga kini belum
mendapat jawaban yang berarti. Secara lisan juga pernah kami
bicarakan dengan pihak dinas pendidikan di Suka Makmur tentang hal
yang sama, namun hanya mendapat suatu jawaban yang sebenarnya tidak
dibutuhkan " Tidak ada guru, kita tunggu saja" Pertanyaan berikutnya
muncul, wajar dan memenuhi syaratkah sebuah sekolah hanya memiliki
guru agama ? Tidak ada guru atau tidak ada guru yang bersedia di
tempatkan di SD Negri Basukum ? Jalannya rusak parah, kata ( DPR )
perbaikan jalan mulai bulan Mei 2003, nyatanya hingga kini belum ada
tanda-tanda sebenarnya.
Inilah sebagian kecil pergumulan dari desa "tercinta"
Basukum"Simalem" yang dapat diinformasikan. ( Vic J.T Manik/PkPW GBKP
Rg.Basukum/Maranatha Edisi 148/Agustus 2003 )
TELEMATIKA @TANAHKARO
Luar daerah Tanah Karo sekitar 2.127.25 Km˛, dengan tempratur 16ş -
27ş Tanah Karo berada diatas ketinggian berkisar 150-1400m diatas
permukaan laut.
Tanah Karo adalah salah satu kabupaten/ daerah tingkat II di Sumatra
Utara yang dipimpin oleh seorang Bupati. Saat ini bupati yang
menjabat adalah Bapak Sinar Perangin-angin ( periode 2000-2004).
Pengaplikasian Telematika ( Teknologi informasi merupakan salah satu
factor pendorong terjadinya arus cepat globalisasi. Karena dengan
adanya teknologi informasi kita bisa saling berinteraksi dengan
sesama orang Karo yang berjauhan daerah dan tempat ataupun juga
dengna bangsa dan negara lainnya di berbagai belahan dunia tentunya
dengan penambahan bekal bahasa asing ( Bahasa Inggris ). Aplikasi
Teknologi informasi ini adalah Internet yang sangat mudah dalam
pemakaiannya.
Banyak yang kita dapat lakukan dengan adanya internet ditengah-tengah
kita masyarakat Karo, seperti mencari data dan informasi melalui
search engine, melihat-lihat ( browsing) ngobrol online ( chating)
Surat-menyurat elektronik ( Email ) Belajar dan diskusi interaktif
online ( milis ).
Kesemua hal tadi diatas tadi yang memacu kemajuan secara global tanpa
batas. Tapi kedawasaan kita juga cukup dituntut didalam melibatkan
diri di dunia internet ( dunia maya tersebut ) karena bisa bisa kita
tersesat karena suguhan informasi yang diberikan sangat beraneka
ragam, ada yang baik juga ada yang jahat.
Dunia pendidikan sekarang sudah banyak mulai berbasi teknologi
informasi , hal ini telah di implementasikan diberapa perguruan
tinggi dalam maupun luar negri. Termasuk perguruan tinggi negri
swasta maupun perguruan tinggi negri. Ini beberapa perguruan tinggi
negri yang anda bisa lihat informasinya di internet :
- www.usu.ac.id
- www.ui.ac.id
- www.unila.ac.id
- www.itb.ac.id
- www.unair.ac.id
- www.undip.ac.id
Untuk seputar ke kristenan Karo / GBKP kita juga bisa lihat di situs
mereka www.gbkp.or.id .
Untuk lebih lengkapnya anda bisa bergabung di milis komunitas Tanah
Karo di Yahoogroup. http://yahoogroups.com/group/komunitaskaro/
disini kita bisa saling berinteraksi dan bertukar pendapat tentang
kemajuan Tanah Karo juga Kalak Karo saat ini. Jadi partisipasi anda
sekalian cukup kami perlukan demi kita bersama-sama.
Untuk menjadi anggota milis cukup mudah :
1. Kirimkan email kosong anda ( tanpa berita ) ke komunitaskaro-
subscribe@yahoogroups.com
2. Kurang dari 5 menit ( tergantung dari kecepatan akses internet di
tempat anda ) anda akan merima dari yahoogrups, lalu klik Relpy lalu
send tanpa mengubah apapun juga di email konfirmasi tersebut.
3. Selamat anda telah menjadi anggota komunita milis Tanah Karo
online secara otomatis.
> Hi senina,
> menurut aku itu semua kuncinya adalah "KOMUNIKASI"
> karena komunikasi itu penting, mgk bisa aku kasih contoh
> di kelurga kami, bapak dan mamak selalu diskusikan segala hal
> yang menurut mereka perlu masukan dan perlu diketahui kami
> anak2nya... dan jika saran itu bisa mereka terima mereka
> jalankan... dan yang terindah dalam keluarga kami, kekompakan
> dalam segala hal, kami selalu bersama baik dalam menghadiri
> pesta adat spt embah belo selambar, nganting manuk sampe mata kerja
> Bapak dan mamak selalu kenalkan kami kekeluarga dan menjelaskan
> hubungan kekerabatan dengan sodara2, dan Bapak yang paling aktif
> dalam hal adat, dia selalu ajarkan aku, kenapa harus panggil mama
> kenapa harus panggil bengkila kenapa harus panggil impal dan senina
> dan saya pribadi juga merasa haus akan informasi adat karo.
sibarem
mejuah- juah
karo_sekali1974@...
--- In komunitaskaro@yahoogroups.com, "komunitaskaro"
<komunitaskaro@y...> wrote:
> ingin menanyakan ttg masalah keharmonisan hub orang tua-anak dgn
> menjadi teladan dlm peradatan karo
> Posted by David on October 22, 2003, 2:56:43
> 203.128.72.180
>
> jika kita mau belajar & mau menjadi teladan dalam peradatan karo
> (selalu hadir dikala orang duka, selalu mengikuti runggu2 yg ada,
> selalu mengikuti kerja adat sabtu-minggu, selalu mengikuti pjj).
> hal itu semua diatas memang baik.
> tapi disatu sisi kita yg mempunyai kepadatan aktivitas setiap
hari ;
> bagaimana caranya untuk menjalin dan memelihara hubungan dalam
> keluarga
> ( suami, istri dan anak ).
> misalnya antara teori hubungan orang tua-anak nya 'Kak Seto' dengan
> peradatan kalak karo.
> mohon taggapan.
> Bujur.........
ingin menanyakan ttg masalah keharmonisan hub orang tua-anak dgn
menjadi teladan dlm peradatan karo
Posted by David on October 22, 2003, 2:56:43
203.128.72.180
jika kita mau belajar & mau menjadi teladan dalam peradatan karo
(selalu hadir dikala orang duka, selalu mengikuti runggu2 yg ada,
selalu mengikuti kerja adat sabtu-minggu, selalu mengikuti pjj).
hal itu semua diatas memang baik.
tapi disatu sisi kita yg mempunyai kepadatan aktivitas setiap hari ;
bagaimana caranya untuk menjalin dan memelihara hubungan dalam
keluarga
( suami, istri dan anak ).
misalnya antara teori hubungan orang tua-anak nya 'Kak Seto' dengan
peradatan kalak karo.
mohon taggapan.
Bujur.........
-----Original Message----- From: komunitaskaro [mailto:komunitaskaro@...] Sent: Saturday, October 18, 2003 3:12 PM To: komunitaskaro@yahoogroups.com Subject: [komunitaskaro] kenapa kalak karo merasa lebih baik dari suku lain
Posted by david on October 15, 2003, 4:34:53 203.128.95.66
kenapa kalak karo merasa lebih baik dari suku lain, contohnya jika mencari jodoh. kata orang2 karo sebaiknya cari jodoh dgn orang karo juga. tapi kalo aku perhatikan kalak karo itu kan orangnya pemarah, pendendam, suka berantem, galak, suka menggunjingkan orang dan suka memperbesarkan suatu masalah. mohon tanggapan. bujur......
david@...
To unsubscribe from this group, send an email to: komunitaskaro-unsubscribe@yahoogroups.com
Posted by Eferaim on September 11, 2003, 9:12:17
203.130.222.23
salam Mejuah -juah
uga nge nake lang e sidiate kutata (tanah Karo simalem)
Kami dari mahasiswa Karo bogor minta partisifasi teman teman
mahasiswa dalam gerakan peduli tanah karo yang membahas tentang
Masalah kerusakan Hutan, Penjualan kompos dan peredaran pupuk palsu.
marilah kita ras ras memperjuangkan tanah karo simalem Bujur
Batak Karo. One of several dialects of language spoken by the Batak
people of Island of Sumatra in Indonesia. 600,000 total speakers.
Central and northern, west and northwest of Lake Toba. Austronesian,
Malayo-Polynesian, Western Malayo-Polynesian, Sundic, Sumatra,
Batak, Northern.
Tanah karo adalah Tanahkemulihen Orang Karo. Tanah leluhur,Tanah
yang begitu subur karunia yang Maha besar dari Sang
Pencipta. Maka marilah kita jaga bersama - sama
supaya tetap terpelihara dan menjadi kebanggan dan tempat
bernaung bagi anak
dan cucu kita nantinya.
Tanah Tinggi Karo berjarak 90 menit perjalanan dari Medan, Ibu
kota Sumatra utara. Di ketinggian 1400 meter ( 4.594
feet ) diatas permukaan laut, dimana berhawa sejuk.
Disini banyak tempat menarik yang bisa kita dapati
di Tanahkaro seperti Berastagi, Desa Lingga, Desa Barusjahe,
Desa Tongging, Desa Peceren, Danau Lau kawar, Air terjun
Sikulikap, Air terjun sipiso - piso dan Lau Sidebuk - debuk
dengan pemandangan alamnya yang sangat sejuk. Tanahkaro memiliki
dua gunung yang masih aktif yakni Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak
(2000 m )
Ibukota : Kabanjahe
Luas Wilayah : 2.127 km ˛
Letak : 140 - 1,400 m diatas permukaan laut
Jumlah Penduduk : 271.900
Kepadatan Penduduk : 128 jiwa/km ˛
PDRB/Kapita : US$ 491
Iklim : Tropis basah,
Curah hujan 1.000 - 4.000 mm/tahun,
Suhu udara 16°C - 27°C,
Kelembaban udara 82%.
Potensi : Komoditas sayur-mayur, buah-buahan
Sumber daya hutan (kayu gergajian, log pinus, log rimba)
Sumber daya perkebunan (kopi, kemiri, kemenyan)
Sektor perikanan darat
Bahan galian C (dolomit dan belerang, batu, pasir)
Sektor pariwisata (pemandangan alam, udara yang sejuk, bukit-bukit)
Peluang : Industri pengolahan buah-buahan dan sayur-mayur
Investasi Industri hasil hutan (kayu lapis)
Pembangunan kawasan wisata, hotel dan restoran
Sbr : Bappeda Sumut.
Posted by Berita Karo on July 19, 2003, 2:38:05
202.155.116.70
KETERPINGGIRAN penggunaan bahasa ibu terjadi di mana-mana di
Indonesia. Apalagi untuk generasi yang tumbuh besar di luar kampung
halaman, dengan pengaruh globalisasi yang kian terasa, kemampuan
berbahasa daerah asal adalah hal yang pelan-pelan terkikis.
Keadaan itu menggelisahkan seorang pria dari etnis Karo, Darwin
Peranginangin (49). Laki-laki kelahiran Buah Raja, Tanah Karo,
Sumatera Utara (Sumut), ini merasakannya saat ia merantau ke Pulau
Jawa.
"Mungkin dari sekian banyak warga masyarakat Karo yang tinggal di
Jakarta, hanya sekitar 60 persennya yang bisa berbahasa Karo," ujar
Darwin, saat ditemui di Medan, Selasa (14/1).
Karo sering disalahpahami sebagai bagian dari etnis Batak. Seperti
halnya orang Sunda yang menolak disebut sebagai orang Jawa, warga
suku Karo juga menolak jika dimasukkan ke dalam subetnis.
Beberapa literatur tentang suku Karo menyebutkan masyarakat Karo
berasal dari sebuah kerajaan bernama Haru. Wilayah kerajaan yang
berdiri sekitar tahun 1250 itu terbentang dari Siak (Riau) sampai ke
Sungai Wampu di Langkat (Sumut). Ketika kerajaan ini bubar, warganya
tersebar ke berbagai wilayah Sumut, seperti di daerah Asahan,
Simalungun, dataran tanah tinggi Karo, Deli Serdang, bahkan sampai
ke perbatasan Aceh (Gayo-Alas). Kata Darwin, "Oleh karena itu lah
bahasa Karo kaya dengan dialek yang berbeda-beda,"
DARWIN beruntung dilahirkan dalam keluarga Karo yang masih terikat
pada tradisi. Ia merupakan salah satu keturunan Sebayak Sebuluh,
Raja Karo yang diasingkan Belanda pada tahun 1908. Sejak kecil ia
dan saudara kembarnya, Darwan, selalu diajak ayah mereka dalam
setiap pertemuan dan acara adat masyarakat Karo sehingga ia cukup
paham dengan adat- istiadat sukunya. Sebelum ia menyusun kamus Karo
bersama saudara kembarnya, Darwin telah menulis buku Sejarah dan
Kebudayaan Karo yang terbit pada tahun 1996.
Kekhawatiran bahwa generasi Karo berikutnya akan makin terasing dari
bahasa daerah mereka, mengganggunya. Ia yakin, salah satu hambatan
generasi muda Karo untuk kembali mengakrabi bahasa ibu karena
kurangnya semacam panduan berbahasa. Sarjana hukum lulusan
Universitas Parahiyangan, Bandung, ini memandang perlu ada sebuah
kamus bahasa Karo yang lengkap sebagai acuan.
"Kamus Karo yang lengkap harus ada sebagai pegangan, senyampang
bahasa ini masih banyak dipakai minimal di Tanah Karo. Jangan sampai
ada kata yang akhirnya hilang sama sekali digantikan ungkapan-
ungkapan global nantinya," kata Darwin, ayah dari tiga anak ini.
Ia berpendapat, kamus-kamus Karo yang telah ada dan kebanyakan
ditulis di masa penjajahan Belanda sudah ketinggalan zaman. Bahkan,
tidak sedikit yang telah melenceng dari konteks arti sebenarnya.
Katanya, "Banyak kata-kata dalam kamus lama, yang kalau dimasukkan
ke dalam percakapan, tidak sesuai dengan jiwa berbahasanya saat ini."
PENGAYAAN kosa kata juga datang dari penutur bahasa Karo yang
tinggal di berbagai tempat. Seringkali didapati kata yang hanya
dikenal pada masyarakat Karo yang menempati wilayah tertentu.
Sebagai contoh, kata blangke, yang berarti bambu, hanya dikenal oleh
masyarakat Karo di Kabupaten Langkat.
Proyek pembuatan kamus Karo itu kemudian menjadi sebuah obsesi
Darwin yang memakan waktu hampir 10 tahun dalam pengerjaannya. Waktu
10 tahun itu mungkin malah lebih jika masa awalnya dihitung dari
niat laki-laki berperawakan kecil ini yang sudah muncul saat ia
masih berstatus mahasiswa di akhir tahun 1970-an.
Darwin menggunakan semua kamus Karo yang pernah diterbitkan, baik
itu kamus Karo-Belanda maupun Karo-Indonesia, sebagai acuan awal. Ia
menyadari modal yang dimilikinya hanya pengetahuannya sebagai
penutur asli bahasa Karo, itu pun ada keterbatasan.
"Bahkan, untuk kosa kata bahasa Belanda, awalnya hanya mengandalkan
kemampuan saya membaca literatur hukum semasa kuliah," ujarnya
seraya tertawa.
Maka, untuk meyakinkan setiap kata yang pengertiannya hanya dipahami
sejauh yang ia tahu, ia menanyakannya pada orang-orang tua. "Benar
atau tidak jika penerjemahannya seperti ini," kata Darwin memberi
contoh.
Bahasa Karo kaya dialek. Satu patah kata bisa memiliki lima cara
pengucapan. Untuk meyakinkan keabsahan penerjemahan sebuah kata, ia
tak ragu-ragu untuk menanyakan itu pada belasan orang. Di halaman
akhir kamusnya, Darwin mencantumkan 45 nama orang-orang tua Karo
yang menjadi nara sumbernya. Selain itu, segala sesuatu yang bisa
dijadikan bahan untuk memahami penggunaan suatu kata dalam bahasa
Karo juga menjadi pelengkap, termasuk undangan acara pesta dan
rekaman perkawinan orang Karo zaman dulu.
PROSES pembuatan kamus Karo itu menjadi sebuah perjalanan panjang.
Suami dari Theresia Hutagaol ini mengerjakan proyek pembuatan kamus
tersebut di sela-sela kesibukannya sebagai pegawai negeri di Kantor
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Jakarta. "Kalau di sela-sela
pekerjaan tiba-tiba ada kata yang terlintas, buru-buru saya catat di
kertas apa saja sebelum lupa, begitu terus setiap hari," kenangnya.
Catatan kata-kata itu begitu banyaknya sehingga bisa dikatakan, di
mana ada Darwin, di situ ada tumpukan kertas yang berisikan catatan
kata-kata Karo.
Rekan-rekan kerjanya kemudian mengetahui juga 'proyek gila' Darwin
tersebut, dan beberapa dari mereka dengan antusias ikut
membantu. "Banyak teman yang mengerti bahasa Belanda membantu
menerjemahkan., katanya.
Posted by david on October 15, 2003, 4:34:53
203.128.95.66
kenapa kalak karo merasa lebih baik dari suku lain, contohnya jika
mencari jodoh.
kata orang2 karo sebaiknya cari jodoh dgn orang karo juga.
tapi kalo aku perhatikan kalak karo itu kan orangnya pemarah,
pendendam, suka berantem, galak, suka menggunjingkan orang dan suka
memperbesarkan suatu masalah.
mohon tanggapan.
bujur......
david@...
DPRDSU Minta Poldasu dan Polres Karo Periksa Bupati dan Ketua DPRD
Medan (SIB): DPRD Sumut meminta Poldasu maupun Polres Karo memeriksa
Bupati Karo dan Ketua DPRD Karo, karena diduga ikut terlibat dalam
kasus perambahan hutan di Kabupaten tersebut, berdasarkan banyaknya
pengaduan maupun laporan dari masyarakat Tanah Karo sendiri. Akibat
perambahan yang dilakukan, hampir semua desa mengalami kekeringan.
Desakan itu dilontarkan anggota Komisi I DPRD Sumut Drs Antoni
Sembiring, dalam dengar pendapat dengan anggota DPRD Karo, Polres
Karo, Pemerhati dan Masyarakat Tanah Karo, Poldasu, Dinas Kehutanan
Sumut dan Dinas Kehutanan Tanah Karo, dipimpin Ketua Komisi II Victor
Sumut dan Dinas Kehutanan Tanah Karo, dipimpin Ketua Komisi II Victor
Simamora didampingi Wakil Ketua Komisi II H Nailul Amali, Selasa
(14/10) di gedung DPRD Sumut.
Ditegaskan Antoni, tuntutan rakyat agar Bupati Karo yang diduga ikut
terlibat perambahan hutan diperiksa, sudah cukup banyak, sehingga
harus ditindaklanjuti dan dilaksanakan Kapolres Tanah Karo.
Karena, lanjut Antoni, masalah perambahan hutan di Tanah Karo juga
pernah dibahas dalam rapat gabungan DPRD Sumut tahun 2000, tapi
hingga kini tidak lanjutnya tidak jelas. Akibat gundulnya hutan di
Tanah Karo, tidak hanya rakyat di Tanah Karo yang menjadi korban,
tapi juga rakyat Sumut mendapat malapetaka, seperti bencana alam
banjir.
Ditambahkan anggota Komisi II H Amran YS, permasalahan perambahan
hutan di Karo harus diupayakan proses yuridisnya ke tingkat lebih
tinggi, apakah ke Poldasu. Dan kalau perlu diajukan ke Kapolri, agar
tidak ada orang yang merasa kebal hukum, memiliki koneksi atau
kekuasaan tertentu.
Dalam pertemuan yang berlangsung `memanas' itu, anggota DPRD Sumut
kecewa terhadap Kadishut Karo Ir Juki Tarigan. Selain kapasitas
kehadirannya tidak resmi mewakili Bupati Karo, juga tidak dapat
mempersiapkan data maupun bahan yang lengkap tentang kondisi hutan
lindung di Tanah Karo yang selama ini dihebohkan dirambah oleh mafia,
bekerjasama dengan oknum pejabat Pemkab Karo.
Menurut Jonner, model pertemuan pembahasan permasalahan yang tidak
dilengkapi dengan data atau bahan lengkap, tidak bisa dipertanggung
jawabkan. "Mohon dipertimbangkan kehadiran Kadishut Karo resmi atau
inisiatifnya, karena inti permasalahan yang harus dibahas, adanya
dugaan bahwa Bupati Karo sebagai perambah. Mampukah Kadishut Karo
memberi jawaban dengan konsekuensi hukum. Jika tidak, rapat masalah
Bupati Karo diskorsing," tandas Jonner.
Demikian halnya Baskami Ginting kecewa atas ketidakhadiran Bupati
Karo dalam rapat itu dan menuding Bupati tidak hanya telah melecehkan
institusi yang hadir, tapi juga pertemuan resmi. "Ketidakhadiran
Bupati sudah melecehkan, karena kita ingin klarifikasi dari Bupati
langsung atas keterlibatannya merambah hutan di Karo, tapi beliau
tidak hadir. Sementara kehadiran Kadishut Karo bukan izin dari
Bupati," tandas Baskami.
Pada pertemuan itu, pemerhati hutan Karo Dr Robert Valentino Tarigan
menyempatkan memutar CD/film tentang kondisi penebangan hutan lindung
secara liar di Desa Barus Jahe, Desa Siosar, Desa Kuta Kendit dan
Desa Kacinambun dan dikuatkan dengan laporan dari warga Barus Jahe
Pendapeten Tarigan.
Menurut Robert Valentino, puluhan ribu hektare hutan di Karo habis
dirusak dan digunduli, di antaranya di Siosar ada izin penebangan
dari Bupati 100 Ha kenyataannya 500 Ha hutan pinus dan kayu-kayu
besar ditebangi. Kemudian hutan-hutan di desa lainnya telah terjadi
kezaliman yang luar biasa, karena banyak preman-preman yang ikut
terlibat.
Demikian halnya warga Barusjahe Pendepeten Tarigan menyatakan kecewa
adanya penebangan hutan di Tanah Karo Simalem, karena kebutuhan air
minum warga Barus Jahe tepat pada kawasan hutan yang digunduli. Untuk
menyelamatkan hutan itu, kami menanami bibit hutan kembali, tapi ada
preman melarang dan main pukul. "Hal ini sudah dilaporkan kepada
Bupati dan DPRD Karo, tapi tidak ada tindakan hukum," ujarnya.
Sementara itu anggota DPRD Karo Adil Bangun akhirnya mengakui ada
perambahan hutan di Tanah Karo, setelah anggota Komisi II DPRD Sumut
H Amran YS SSos mendesak dan mempertanyakan secara langsung. Tapi
anggota dewan dari Komisi B DPRD Karo itu tidak berani menyatakan
adanya mafia dalam kasus perambahan hutan di kabupatennya.
Adil Bangun juga terkesan masih ragu-ragu menyatakan Bupati Karo
terlibat dalam perambahan hutan. "Saya tidak bela siapapun. Kalau ada
perambahan di Karo tangkap pelakunya. Kita tidak pernah merekomendasi
merambah hutan. Sudah berulang-ulang pertemuan dengan Dishut Karo.
Kita jangan bohongi publik dengan memberi informasi, tapi lihat ke
lapangan, apa yang terjadi sebenarnya," tandasnya.
Dalam pertemuan itu, Irwasda Poldasu Drs A Simanjuntak dan Kapolres
Karo Drs DL Tobing SH mengatakan, ada 4 kasus perambahan hutan sedang
ditangani Polres Karo, yaitu kasus di Desa Siosar, Kuta Kendit, Barus
Jahe dan Kacinambun yang masih dalam penyidikan. Namun Kapoldasu
berjanji akan menindaklanjuti seluruh laporan masyarakat dan meminta
masyarakat maupun pihak lain bersedia menjadi saksi tanpa diminta.
Dikatakannya, dugaan indikasi perambahan hutan di Kabupaten itu masih
terbungkus kebijakan politik, seperti penebangan untuk membuka jalan
tembus di Barus Jahe dan dalih investor menggunkan lahan. "Jadi kami
bukan lipat tangan dengan yang terjadi di Karo, tapi sampai sekarang
belum ada pelaku ditangkap, karena masih dalam penyidikan," ujar
Tobing.
Kapolres Karo juga menegaskan, tidak ditemukan kasus pencurian kayu.
Jangan salahkan polisi, karena pencurian kayu tugas polisi
kehutanan. "Kalau mereka tidak sanggup, kami yang akan turun," tegas
Tobing yang disambut kecewa masyarakat dalam pertemuan itu.
Menanggapi adanya pro-kontra tentang ada tidaknya perambahan hutan di
Tanah Karo, Ketua Komisi II Victor Simamora menegaskan, pihaknya akan
turun ke lapangan melakukan kroscek laporan dan data yang diperoleh,
baik dari masyarakat maupun dinas kehutanan, serta Polres Tanah Karo.
Mejuah-juah Komunitaskaro
Mejuah-juah Hennita Kaban
Pertama lebe sikataken bujur man moderatorta (BG),
bagenda enggo ka i usahakenna memperbaharui milis
bagepe web. La kuidah erngadi-ngadi i
usahekenna gelah erdalan milis bagepe web,
ngepkep tanehkaro ras kalak Karo ndai. Gia mbarenda
enggo ka bagi 'simacat' tapi enda iteruskenna ka janah
ngarapken ras-ras kita kerina ngalo-ngalo ras
ndorong ngepkep Karonta ndai. Enda me cita-cita/sura-sura simulia
labo terraguken. 'sipertahanken kehijauan tapi sikembangken SDM na'
enda payo kel kuakap. Jelas kai siman kembangenken kai siman
pertahanenken. Arah enda me dalanta miara Tanehta, Indonesia bagepe
dunia. Bujur MODERATOR!
Ibas SDM enda ndai melala denga kal si banci sikembangken. Sada
contoh si tulis br Kaban Hennita Jakarta nari. Engkai maka kalak Karo
enggo seh bage perkembangenna, tentu melala nge latar belakangna, adi
terdauhen ka, sejarahna. Tapi sada si pasti lit ka nge pengaruh
sistem (politik)bagepe keadaan aktuel i negerinta, misalna ibas zaman
orba berlaku kapken 'hukum' singayak-ngayak jangna saja. Siapa lu
siapa gua, nina pepatah lama, secara dasar la sesuai ras adatta ras
cara berpikirta. Gundari enca kita seh ibas era reformasi enda enggo
me lit 'space' je kita banci janah mungkin erbahan kemungkinan
perkembangan sideban. Organisasi etnis si bermunculan enca ngadi
perang dingin, enggo melala nuduhken dalan, iseluruh dunia. Gerakan
etnis iseluruh dunia labo kapken ibahan-bahan. Enda perkembangan
sejarah si la terelakken. 'Ethnic-revival' nina melala kalak beluh
dunia. Globalisasi enda salah sada pendorong sejarahna.
Ijenda me janah gundari enda me sigunaken ngoreksi ras ngembangken si
mehuli bas kita kalak Karo. Labo lit isepe si ndalankenca selain
kalak Karo, terutama kam anak-anak mudanta penerus generasinta.
Tradisi ras adatta mehuli kal kuakap. Perkade-kadenta ibas TRITUNGGAL
Karo (anakberu-senina-kalimbubu), ije lit demokrasi horizontal,
pimpinan horizontal, bagepe hierarki kolektif, ije lit struktur
keadilan, ije lit tanggungjawab, kebanggaan ras selfrespect/dignity
kalak Karo.
Adat ras tradisinta simehuli enda sipake denga, sebab enda me kapken
kebutuhan kemanusiaan. Butuh denga kita, sebab sinanami denga
kegunaanna. Ingetndu denga kin uga adi kerja adat i kuta sangan
pulung tritunggal ndai. Ije lit si erdahin, simada kerja, ras
kalimbubu penungkunen. Anakberu adah ndai meriahkapna jadi anak beru,
pegara api, erdakan, nggule, gia ntah labo pernah ndahi sibagedi
secara 'indonesia', tapi secara Karo terpaksa janah alu meriah ukur.
Adi ibas kerja si sendah aku nggestungi api, ibas kesempaten sideban
banci ka jadi kalimbubu, ntahpe sukut simada kerja.
Lit nge dasar-dasar simehuli ibas adatta ndai. Simehuli enda si
kembangken ibas kerina komunitas Karo ijapape kita. I Jakarta bagepe
i Eropah. Permulaan perkembangan enda enggo me lit kuperdiateken bas
organisasi kalak Karo i Eropah (PERKOEAH). Ije banci si idah janah
sinanami uga perkade-kaden KARO ENDA NDAI.
Enda me sitik tanggapenku br Karo, (Hennita). Aku i Swedia nari,
Ginting bere-bere Karo, erbengkila me kam bangku sope lenga sitteh
pagi terdauhen.
Bujur ras mejuah-juah milis komunitaskaro
Malem Ukur Ginting
--- In komunitaskaro@yahoogroups.com, "komunitaskaro"
<komunitaskaro@y...> wrote:
> From: hennita kaban <henny_ce_cantiek@y...>
>
> To: webmaster@t...
>
> Subject: uga carana
>
> Date: Wed, 13 Aug 2003 03:46:55 -0800
>
> aku nungkun teku kam kerina pengurus siapape kam la erndobah
> aku henny aku tading i jakarta
> aku pengen kenalan ras kalak karo si warga karo.com
> uga carana aku bandi eamil2lan kerina
> terutama si impalku ia
> la pe impalku labo dalih
> sipenting banci aku kenalan ras kena kerina
> soalna kalak karo ibas jakarta enda sombong2 kerina
> tempa enggo ia kel sibayakna jenda
> emaka aku pengen nambah kelanan ras kena kerina
> tolong i balas yaaaaaaaaa
> mbue bujur
Cara Pencapaian Puncak
Untuk mencapai puncak Gunung Sibayak dapat dilakukan dari Kota
Berastagi menuju kampung Doulu lk 6 km, kemudian dilanjutkan menuju
desa semangat Gunung dengan jarak sekitar 1000 m yang dapat ditempuh
dalam waktu sekitar 15 menit. Untuk mencapai puncak G.Sibayak,
Pendakian dapat dilakukan dari desa Semangat Gunung dengan jarak
tempuh sekitar 3 jam melalui jalan besar yang cukup baik. Kota
terdekat Kota terdekat lainnya adalah kota Kaban Jahe yang merupakan
ibukota Kabupaten Tanah Karo, terletak sekitar 12 km dari kota
Berastagi.
Demografi Kabupaten Tanah Karo dipimpin oleh seorang Bupati yang
berkedudukan di Ibukota Kabupaten, yaitu Kaban Jahe dengan Jarak
sekitar 78 km dari kota Medan, termasuk dalam Propinsi Sumatera
Utara. Beberapa kelompok etnis tinggal di propinsi ini, mulai dari
suku Melayu yang tinggal di sepanjang pantai timur dan suku Batak
yang dapat dibagi menjadi 5 kelompok sub. Etnis yaitu : Karo,
Simalungun, Angkola Mandailing, Pakpak Dairi dan Toba. Yang terakhir
adalah yang terbesar, dan suku bangsa yang lain adalah orang – orang
Nias di Pulau Nias.
Populasi yang beraneka ragam suku dan agama merupakan propinsi yang
paling padat diluar Jawa, dengan penduduk lebih dari 11 juta orang.
Pekerjaan masyarakat Kabupaten Tanah Karo umumnya sebagai petani,
karena daerah ini dikenal sebagi pusat buah – buahan segar, sehingga
mendapat julukan sebagai kota Markisa untuk Brastagi. Inventarisasi
Sumber daya Gunungapi Wisata
Brastagi terletak di dataran tinggi Tanah Karo, berjarak sekitar 7 km
di selatan Gunung Sibayak. Brastagi adalah kota yang paling dekat
dengan gunungapi tersebut. Daerah ini memiliki hawa yang sejuk dan
dikelilingi oleh barisan gunungapi dan hamparan perladangan dan
pertanian yang indah dan hijau. Kota ini merupakan daerah tujuan
wisata yang memiliki fasilitas lengkap di Tanah Karo, seperti hotel
berbintang, restoran, sarana olah raga seperti lapangan Golf dan
lainnya. Brastagi dikenal juga dengan julukan kota Markisa.
Kawasan G. Sibayak terdapat beberapa potensi wisata yang cukup
menarik, seperti wisata alam dan budaya. Wisata alam hasil aktifitas
G. Sibayak di masa lampau menjadikan kawasan ini mempunyai panorama
yang indah, terdapat juga mata air panas, fumarola dan solfatara.
Dibagian tenggara G. Sibayak lk. 5 km ke arah Medan, terdapat Taman
nasional Tongkoh yang diberi nama Tahura Bukit Barisan.Wisata budaya
dapat dinikmati berupa tarian tradisional Batak Karo dan rumah
tradisional Batak Karo, diperkirakan berumur 250 tahun, terdapat di
kampung Lingga. Disamping itu dapat dikunjung Museum Karo Lingga,
koleksi yang dipamerkan khusus benda budaya yang berasal dari leluhur
etnis Batak karo.
Potensi Air G.Sibayak Potensi sumber air dingin didaerah gunungapi
selain untuk kebutuhan air untuk penduduk daerah setempat, diharapkan
bisa menunjang adanya sumber panas di kedalaman sebuah gunungapi dan
dapat mengetahui latar belakang unsur-unsur yang terdapat dalam air
panas itu sendiri. Hasil analisa dari beberapa conto air sungai dan
danau yang terdapat di sekitar G.Sibayak menunjukkan keasaman (PH)
yang normal yaitu sekitar 6 - 7, sedangkan untuk air panas
keasamannya mencapai 5 - 7. Debit untuk air sungai berkisar antara
55 – 700 lt/dtk dan debit air panasnya berkisar antara 1.2 - 1.4
lt/dt. Kandungan kadar chlorida untuk air dingin berkisar 1.99 –
13.99. Kadar clorida yang mengandung diatas 10 ppm, merupakan nilai
anomali kandungan clorida didalam air sungai. Sumber air dingin di
sekitar G.Sibayak yang mempunyai clorida diatas 10 ppm, terdapat pada
lokasi 3 dan 5 (peta lokasi air G.Sibayak). Kadar clorida yang
berkisar antara 4 - 6 ppm dengan ketinggian tempat yang lebih tinggi
dari 500 m diatas permukaan laut menandakan tidak terjadi kebocoran
atau rembesan larutan clorida yang berasal dari bawah tanah.
Temperatur air panas di daerah G.Sibayak termasuk dalam katagori
rendah, yaitu berkisar antara 35 – 64 oC, kemungkinan sudah terkena
pengaruh pendinginan air sungai
disekitarnya.
Uraian Potensi objek wisata Gunung Sibayak Gunung Sibayak Gunung
Sibayak dengan ketinggian lk. 2.094 meter diatas permukaaqn laut
bertipe strato termasuk kedalam gunungapi tipe B, merupakan gunung
yang mempunyai panorama yang sangat indah dengan udara sejuk dan
segar, hal itulah yang menjadikan daerah ini banyak dikunjungi oleh
para wisatawan domestik dan mancanegara. Alternatif yang bisa
ditempuh untuk menuju ke kawah G.Sibayak adalah dari desa Semangat
gunung di bagian selatan G.Sibayak. Sarana jalan cukup baik ,
lebarnya mencapai 6 meter sampai pada ketinggian 1.500 dpl.
Gunung Sibayak sangat berpotensi bagi para pendaki gunung (hiking),
lintas alam, dan camping area, karena kondisi hutannya masih alami.
Di Kawasan kawah Sibayak terdapat danau kawah yang luasnya lk 200 x
200 meter, disekitarnya terdapat solfatara yang memproduksi belerang.
Pengukuran suhu solfatara bulan Oktober 1999 adalah 119,6 oC dan suhu
udara saat itu 21 oC. Di sekitar kawah didominasi oleh batuan lava
andesit. Dari bagian barat gunung Sibayak terlihat gunung Sinabung
yang merupakan sebuah gununapi tipe B lainnya, dengan ketinggian lk
2.451 meter dpl. Gunungapi ini juga mempunyai panorama yang sangat
indah dengan hutan alamnya dan banyak dikunjungi oleh pendaki
gunungapi.
Air Panas Lau Debuk-DebukDaerah wisata gunungapi ini terletak pada
ketinggian lk 1500 meter dpl. dan berada di bagian selatangunungapi
Sibayak, termasuk ke dalam desa Daulu dan Semangatgunung, Kabupaten
Dati II Karo. Kawasan ini sudah merupakan wilayah objek wisata
gunungapi dan merupakan Lintas alam untuk pendakian menuju gunungapi
Sibayak. Lokasi ini dapat ditempuh dari kota Brastagi dengan
menggunakan kendaraan roda 4. Mata air panas muncul melalui retakan
dari aliran lava di daerah selatan lereng gunungapi Sibayak. Mata air
panas ini kemudian ditampung didalam kolam. Pengelolaan kolam
pemandian ini dilakukan oleh Pemerintah Daerah Dati II Karo dan
masyarakat setempat.Kolam pemandian air panas yang dikelola Pemda
Dati II Karo, terletak di desa Daulu. Kolam pemandian terdapat 5 buah
dengan temperatur air 35 0C dan temperatur udara saat itu sekitar 27
0C .
Terdapat beberapa kolam di desa ini seperti pemandian kolam air panas
alam Sibayak, yang dikelola oleh masyarakat setempat dan saat ini
ramai dikunjungi pengunjung. Sebagian pendaki banyak memanfaatkan
kolam-kolam air panas ini untuk melepaskan kepenatannya selama
pendakian dengan cara berendam di dalam kolam tersebut. Objek
Wisata Pembangkit Listrik tenaga Panasbumi (PLTP)Lokasi objek
pemboran panasbumi ini terletak di desa Semangatgunung berdekatan
dengan objek wisata kolam pemandian air panas Lau Debuk-Debuk pada
ketinggian 1500 meter dpl. Selama tahap eksplorasi yang dimulai dari
tahun 1990 Geothermal Sibayak Area, Brastagi telah melakukan pemboran
sebanyak 9 buah sumur bor dengan kedalaman 1500 sampai 2300 yang
dibagi dalam 3 kelompok sumur ekplorasi dan 6 sumur pengembangan.
Lima buah (5) sumur berada dalam kelompok A, 3 sumur di kelomok B dan
sebuah sumur berada dalam kelompok C. Sumur Sibayak 1 pemborannya
selesai pada tahun 1992.
Saat ini sedang dipersiapkan lokasi pengeboran baru pada ketinggian
1600 meter dpl. Beberapa sumur tersebut telah memproduksi uap dari
reservoar panasbumi. umumnya sumur-sumur tersebut belum bisa
dikembangkan secara komersial.
Panasbumi dapat dikembangkan sebagai pembangkit tenaga listrik. Saat
ini, penggunaan panas bumi meningkat secara besar – besaran, karena
energi panas bumi dianggap bersih lingkungan . Listrik yang
dihasilkan dari uap panas bumi memberikan energi yang bebas polusi
pada atmosfir ataupun pada air, bahkan tidak mengandung radioaktif.
Sumber – sumber mata air panas yang mempunya temperatur lebih tinggi
dari 300 0F (150 0C) biasanya dapat digunakan sebagai sumber
pembangkit tenaga listrik, sedangkan sumur-sumur yang mempunyai
temperatur lebih rendah dapat digunakan untuk menghangatkan rumah,
industri pertanian, mengawetkan makanan dan kayu, pengembangan benih
ikan, dan penyediaan air untuk masak dan mandi. Objek wisata
teknologi ini sangat menarik untuk dikunjungi, apalagi pada saat
dilakukan pemboran.
Objek Wisata Taman Hutan Raya Bukit BarisanIstilah taman hutan raya
di Indonesia mulai dikenal sejak tahun 1985, saat diresmikan Taman
Hutan Raya Ir. H. Juanda seluas 590 Ha yang berlokasi di Bandung,
Jawa Barat dan merupakan taman hutan raya pertama di Indonesia.
Kemudian pada tahun 1986 taman hutan raya kedua diresmikan di
Sumatera Barat dengan nama Taman Hutan Raya Dr. Mohammad Hatta dengan
luas 240 Ha. Selanjutnya merupakan taman hutan raya ketiga di
Indonesia adalah Taman Hutan Raya Bukit Barisan yang berlokasi di
Sumatera Utara dan ditetapkan dengan Keputusan Presiden No. 48 Tahun
1988 tanggal 19 Nopember 1988.
Pintu gerbang utama Taman Hutan Raya Bukit Barisan terletak di
Tongkoh, berada di pinggir jalan raya Medan-Brastagi (Km 60). Tongkoh
dipilih karena lokasinya relatif dekat dengan berbagai objek wisata
lain, seperti Gunung Sibayak, mata air panas Lau Debuk-Debuk, kota
wisata Brastagi, dan lain sebagainya.
Objek Wisata Bukit GundalingBukit Gundaling dengan ketinggian 1.575
meter dari permukaan laut berjarak 3 km dari kota Brastagi. Untuk
mencapai bukit ini dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau
menggunakan sado. Di bukit ini terdapat taman yang indah, tempat
bersantai dan sarana jalan setapak untuk olahraga yang mengitari
puncak bukit Gundaling. Dari puncak bukit dapat dinikmati panorama
gunungapi Sibayak dan gunungapi Sinabung yang mengagumkan.
Objek Wisata BudayaObjek wisata budaya terdapat di kampung Lingga lk
16 km ke arah selatan kota Brastagi. Sarana jalan cukup baik, dan
transportasi umum tersedia. Kampung Lingga memiliki bangunan
tradisional seperti: rumah adat, jambur, geriten, lesung, sapo page
dan museum karo.
Geriten, digunakan sebagai tempat penyimpanan kerangka mayat keluarga
tertentu yang dianggap istimewa. Rumah adat karo mempunyai ciri serta
bentuk yang sangat khusus, didalamnya terdapat ruangan yang besar dan
tidak mempunyai kamar-kamar. Satu rumah dihuni 8 atau 10 keluarga.
Rumah adat berupa rumah panggung, tingginya kira-kira 2 meter dari
tanah yang ditopang oleh tiang, umumnya berjumlah 16 buah dari kayu
ukuran besar.
Kolong rumah sering dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan kayu dan
sebagai kandang ternak. Rumah ini mempunyai dua buah pintu, satu
menghadap ke barat dan satu lagi menghadap ke sebelah timur. Di depan
masing-masing pintu terdapat serambi, dibuat dari bambu-bambu bulat
(disebut ture). Ture ini digunakan untuk tempat bertenun, mengayam
tikar atau pekerjaan lainnya. Atap rumah dibuat dari ijuk. Pada kedua
ujung atapnya terdapat segitiga, disebut ayo-ayo. Pada puncak ayo-ayo
terdapat tanduk atau kepala kerbau dengan posisi menunduk ke bawah.
Selain itu Jambur ini digunakan sebagai tempat musyawarah, tempat
mengadili orang-orang yang melanggar perintah raja dan adat yang
berlaku.
Objek Wisata TonggingTongging berada di sebelah selatan lebih kurang
35 km dari Brastagi terletak persis dipinggiran danau Toba. Dari
lokasi ini sangat bebas dan indah memandang hamparan air danau Toba
yang biru dikelilingi untaian bukit dan gunung hingga mengitari pulau
Samosir. Panorama yang khas ini diperindah lagi dengan puncak gunung
sipiso-piso dan air terjun Tongging disebelah kiri dan kanannya,
memperlihatkan panorama yang menakjubkan.
Objek Agro WistaPotensi agro wisata di daerah Karo cukup besar,
dengan bermacam komoditi yang dapat dinikmati, antara lain : Vanilla,
Cengkeh, Kayu Manis, Nenas, Jeruk, Markisa dan Bunga, lokasinya
berada di sekitar kota wisata Berasta
Daftar Acuan :Mawardi, R dan Iman K.S.,1999, Laporan Kegiatan
Inventarisasi Potensi Wisata Gunungapi Sibayak Tanah Karo, Sumatera
Utara.Sinuraya, R, 1983, Laporan Monitoring G.Sibayak, Kab. Karo,
Kantor Wilayah Pertambangan dan Energi, Prop. Sumatera Utara.
Enter your vote today! A new poll has been created for the
komunitaskaro group:
Apa WebPortal tanah Karo!
WWW.TANAHKARO.COM Gampang di buka dan
di Ingat ?
o Ya
o Tidak
o Tidak tahu
To vote, please visit the following web page:
http://groups.yahoo.com/group/komunitaskaro/surveys?id=11324396
Note: Please do not reply to this message. Poll votes are
not collected via email. To vote, you must go to the Yahoo! Groups
web site listed above.
Thanks!
From: hennita kaban <henny_ce_cantiek@...>
To: webmaster@...
Subject: uga carana
Date: Wed, 13 Aug 2003 03:46:55 -0800
aku nungkun teku kam kerina pengurus siapape kam la erndobah
aku henny aku tading i jakarta
aku pengen kenalan ras kalak karo si warga karo.com
uga carana aku bandi eamil2lan kerina
terutama si impalku ia
la pe impalku labo dalih
sipenting banci aku kenalan ras kena kerina
soalna kalak karo ibas jakarta enda sombong2 kerina
tempa enggo ia kel sibayakna jenda
emaka aku pengen nambah kelanan ras kena kerina
tolong i balas yaaaaaaaaa
mbue bujur
Serangan Lalat Buah Masih Salah Satu Persoalan Utama Petani Jeruk
Tanah Karo
Lapoaran : Herry Suranta Surbakti, Wartawan SIB
Jeruk Tanah Karo yang sudah terkenal itu ternyata pemasarannya
kebanyakan masih dijual di pasaran dalam negeri seperti Medan, Batam,
Pekanbaru dan Jawa. Sedikit sekali yang mampu menembus pasaran luar
negeri. Salah satu penyebabnya adalah mutu jeruk Tanah Karo yang
dinilai masih kalah bersaing dengan produksi luar. Tak mengherankan
bila Menteri Pertanian Prof Bungaran Saragih dalam suatu kunjungan
kerja di Tongkoh Kabupaten Karo pada 1 Juni 2002 lalu menyatakan
bahwa jeruk Karo ditargetkan mampu menembus pasar internasional pada
tahun 2006 ini.
Diakui atau tidak, salah satu faktor utama penyebab rendahnya daya
tawar produk jeruk Karo di pasar luar negeri seperti di Jepang dan AS
adalah persoalan mutu. Dalam hal ini, masih hangat (aktual) di
kalangan petani jeruk Tanah Karo bahwa serangan hama lalat buah
dinilai masih jadi salah satu permasalahan yang menyebabkan rendahnya
mutu selain menurunnya produksi. Bahkan menurut hasil penelitian yang
dilakukan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTPH)
Medan pada 2002 lalu, kerugian akibat serangan lalat buah tersebut
adalah terjadi kehilangan dan penurunan produksi yang mencapai 30
persen atau total Rp 159.655.000 per hektar/tahun.
Artinya, serangan hama lalat buah yang menyerang tanaman jeruk sejak
beberapa tahun terakhir ini ternyata masih menjadi salah satu
persoalan utama petani jeruk Karo. Bayangkan saja, sesuai hasil
penelitian yang dilakukan BPTPH Medan, sepasang lalat buah saja mampu
merusak 75 hingga 80 buah jeruk per hari. Dapat dihitung kira-kira
berapa kerugian yang akan dialami petani bila serangan hama lalat
buah ini dibiarkan makin merajalela dan tidak disegera diatasi.
Untuk mengatasi serangan hama lalat buah ini sesuai literatur dan
teknis pertanian sebenarnya ada beberapa cara, antara lain sanitasi
kebun (pengumpulan buah yang telah terserang untuk kemudian
dimusnahkan), penggunaan perangkap dan atraktan, pemanfaatan musuh
alami, penggunaan tanaman perangkap, teknik serangga mandul, eradiksi
dan pestisida.
Selama ini, pengendalian hama lalat buah yang dilakukan petani
dinilai kurang efektif karena terlalu mengandalkan pestisida sehingga
sering yang terjadi malah kerugian semakin bertambah akibat
penggunaan pestisida yang tidak tepat sasaran. Salah satu penyebab
kurang efektifnya pengendalian hama lalat buah dengan menggunakan
pestisida, menurut penelitian, adalah karena lalat buah itu sangat
lincah, dan tidak memakan daun jeruk, melainkan buahnya. Selain itu
larva-nya berada dalam daging buah dan pupa-nya di dalam tanah.
Praktis, penggunaan pestisida secara melulu masih kurang efektif
dalam mengatasi serangan ini karena hama lalat buah pindah ke areal
yang tidak disemprot dan kebanyakan tidak terperangkap.
Memang, sebelum ini sebagian petani jeruk masih beranggapan
penggunaan cara perangkap dan atraktan kurang maksimal karena
mengundang hama lalat buah oleh aroma atraktan dari dalam perangkat
di dalam botol aqua itu.
Akan tetapi pihak Dinas Pertanian dengan seluruh jajarannya
menyimpulkan teknik yang lebih ampuh dalam pengendalian serangan hama
lalat buah ini adalah dengan penggunaan perangkap dan zat atraktan
yang dilanjutkan dengan sanitasi. Artinya, lalat buah yang menyerang
itu `dihabisi' dengan menggunakan perangkap dan zat atraktan
selanjutnya buah yang telah terserang hama dikumpulkan dan
dimusnahkan sebagai upaya sanitasi.
Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Karo hingga akhir tahun
2002 lalu, tercatat luas tanaman jeruk di Tanah Karo mencapai 7.596
hektar yang tersebar di berbagai pelosok desa dan kecamatan dengan
total produksi mencapai 372.695 ton per tahun. Tercatat 6 kecamatan
penghasil jeruk utama atau sentra produksi di Kabupaten Karo adalah
Kecamatan Simpang Empat, Kabanjahe, Barusjahe, Berastagi, Merek dan
Tigapanah.
Berangkat dari itu Dinas Pertanian Karo selama hampir dua minggu,
terhitung mulai 22 September hingga 3 Oktober ini
melaksanakan `Gerakan Pengendalian Hama Lalat Buah Secara Massal pada
Tanaman Jeruk di Kabupaten Karo' yang dilakukan secara serentak di
110 desa yang meliputi enam Kecamatan penghasil utama jeruk di
Kabupaten Karo tersebut. Gerakan pengendalian hama lalat buah secara
massal yang melibatkan secara aktif petani dan lembaga terkait itu
dimulai di Desa Rumah Kabanjahe, Raya dan Rumah Berastagi (dua yang
terakhir adalah Kecamatan Berastagi) serta akan berakhir di Desa
Kubucolia Kecamatan Tigapanah. Direncanakan hadir pada hari penutupan
gerakan pengendalian hama lalat buah secara massal itu adalah
Direktur Perlindungan Hortikultura Pusat Ir Daryanto MM, pihak Dinas
Pertanian dan jajarannya di Medan serta Bupati Karo Sinar
Peranginangin.
Sebagaimana diketahui, gerakan pengendalian hama lalat buah telah
dicanangkan oleh Menteri Pertanian Bungaran Saragih pada 29 September
2002 lalu di Desa Paribun Kecamatan Barusjahe. Malah di desa tersebut
telah dibentuk Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) Lalat
Buah yang diasuh oleh sejumlah dosen dari Fakultas Pertanian USU
Medan dan staf dari BPTPH Medan, sebagai sarana edukasi bagi petani
jeruk di sana dalam usaha melawan serangan lalat buah.
Menurut Kadis Pertanian Karo Ir Sidharta Pinem yang didampingi
stafnya Naomi Sinuhaji dan Rusli dalam suatu perbincangan dengan
wartawan di Kabanjahe baru-baru ini, tujuan gerakan yang dilakukan
itu adalah untuk meningkatkan kesadaran petani jeruk dalam usaha
pengendalian secara massal terhadap serangan hama lalat buah,
sehingga perkembangan populasi dan tingkat serangan lalat buah dapat
ditekan. Dengan demikian, diharapkan tingkat populasi dan intensitas
serangan hama itu akan menurun hingga titik terendah.
Disebutkan, di 110 desa sentra jeruk yang meliputi 6 kecamatan
penghasil utama jeruk di Karo itu diturunkan petugas pertanian
lapangan (PPL) sebanyak 41 orang untuk membantu gerakan massal ini.
Rinciannya, di Kecamatan Simpang Empat terdapat 42 desa sentra jeruk
dan diturunkan 11 petugas pertanian lapang, Tigapanah 29 desa sentra
jeruk dengan 5 PPL, Kabanjahe 7 desa dengan 6 PPL, Barusjahe 22 desa
dengan 6 PPL, Berastagi 5 desa sentra jeruk dengan 5 PPL serta
Kecamatan Merek 5 sentra jeruk dengan 6 PPL.
Pada dua hari pertama (22-23 September) dilaksanakan gerakan
pengendalian hama lalat buah secara massal ini di 24 desa di 5
Kecamatan, yakni Desa Rumah Kabanjahe, Kaban, Raya, Rumah Berastagi,
Guru Singa, Gundaling I, Gundaling II, Tigapanah, Kuta Bale,
Sukadame, Mulawari, Bunuraya, Kuta Kepar, Kubu Simbelang, Manuk
Mulia, Dusun Salit, Ndokum Siroga, Surbakti, Ndeskati, Merdeka,
Gajah, Semangat, Ndokan dan Muliarayat.
"Pada prinsipnya perlindungan tanaman menjadi tanggung jawab petani
sendiri sementara pihak pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator
dan bimbingan teknis pengendalian," kata Kadis Pertanian Karo Ir
Sidharta Pinem.
Maka pertanyaan yang kemudian tersisa adalah : seberapa mampukah cara
dan gerakan massal ini dalam mengatasi serangan hama lalat buah di
kalangan petani jeruk Tanah Karo? Sepertinya, kita masih harus
menunggu hingga berakhirnya nanti gerakan pengendalian lalat buah
secara massal oleh Dinas Pertanian Karo ini dengan melihat langsung
hasilnya serta pendapat dan jawaban dari petani jeruk sendiri. Namun
upaya ini harus diacungi jempol bagi pihak Pemkab Karo dengan Dinas
Pertanian Karo yang telah berupaya maksimal menanggulangi serangan
hama lalat buah. Sebab, petani jeruk Karo saat ini memang sangat
butuh bantuan dan perhatian dari berbagai pihak, utamanya pemerintah
"Andung-andung" dari Tanah Karo...
LIRIK lagu yang menjeritkan kerinduan akan Tanah Karo Si Malem (Tanah
Karo yang sejuk) terasa menyayat, ketika warga Barusjahe tidak mampu
menghentikan penebangan hutan di kawasan hutan lindung Siosar,
Kecamatan Merek.
Namun, spirit hidup etnik Batak-termasuk Batak Karo, kesedihan dan
ratapan yang dinyatakan lewat andung-andung itu tidak boleh berlarut-
larut. Satu saat harus dihentikan. Dalam tor-tor (tari) Batak jelas
tampak, jeritan seruling bambu dan dendang kesedihan hati tak
berlangsung lama. Cukup satu babak, atau meminjam istilah sekarang,
satu putaran.
Setelah itu, ulos di kepala yang juga dipakai menutupi wajah selama
melakoni tor-tor kesedihan, langsung disibakkan. Air mata dan hidung
yang basah pun diseka. Dan dengan lantang peraga tor-tor tadi
berseru, "Selesailah sudah kesedihan, datanglah kegembiraan..."
Gendang dan tagading pun dipalu dalam irama cepat. Tor-tor, dari
lekuk gemulai dan pelan, berubah menjadi goyangan pinggul yang
indah. "Menjuah-juah, menjuah-juah..." sambut subetnik Karo. Horas,
horas..., seru subetnik Toba. Tidak hanya kesedihan, dendam dan
kebencian juga harus dilenyapkan. Sejak saat itu, tidak ada lagi
ganjalan di dalam hati.
"Celakanya, dalam konteks penebangan hutan Siosar, kesedihan warga
Barusjahe berlanjut menjadi sikap keras," tutur Hitler Siahaan,
seorang anggota DPRD Sumatera Utara dalam percakapan dengan Kompas,
pekan kedua September di Jakarta. Siahaan khusus datang ke Jakarta
membawa kasus hutan lindung tersebut dan membicarakannya
dengan "orang-orang pusat" yang dia anggap bisa menghentikan
penebangan. "Soalnya, warga sudah marah," ungkapnya.
Agar tidak terjadi bentrokan fisik, dia berinisiatif mencari solusi
ke Jakarta. Kata Siahaan, awalnya protes warga disampaikan dengan
lembut agar penebangan dihentikan. Dipilih kata-kata yang menurut
warga bisa menggugah hati nurani para pengambil keputusan.
"Hentikan penebangan agar kita bisa mewariskan mata-air dan bukan air-
mata kepada anak-cucu," kata warga. Kalimat itu mungkin juga tepat
melukiskan penderitaan sebagian besar warga Indonesia yang kesulitan
air bersih di musim kemarau sekarang ini. Rakyat telah menjadi
korban, atau memang dikorbankan demi keuntungan sesaat bagi
sekelompok manusia Indonesia dengan cara merusak hutan.
Hutan yang rusak telah mengubah ekosistem. Menurut data yang diajukan
Forest Watch Indonesia, laju degradasi hutan di Indonesia pada 1999
mencapai 1,7 juta hektar per tahun. Sebelumnya masih di bawah satu
juta hektar per tahun.
Data Departemen Kehutanan menyebutkan pula, luas hutan yang rusak
atau tidak lagi dapat berfungsi secara optimal pada 2003 mencapai 43
juta hektar dari total 120,35 juta hektar luas hutan. Laju degradasi
menurut catatan Departemen Kehutanan, 2,1 juta hektar per tahun.
Salah satu dampaknya yang secara jelas dapat dilihat dan dirasakan
sekarang ini, jutaan manusia Indonesia kekurangan air.
PETANI Karo, kata Siahaan, menyadari betul hal itu. Hutan Siosar
adalah segala-galanya bagi mereka. Sumber air kehidupan dan
pertanian. Karena itu, setelah perjuangan damai yang dilancarkan
warga, dipimpin seorang tokoh muda asal Karo, dr Robert Valentino
Tarigan SPd, muncullah kemarahan.
"Tiap satu batang yang ditebang, satu nyawa sebagai imbalannya," kata
Siahaan mengutip ungkapan kemarahan warga yang dikumandangkan akhir
Agustus lalu.
Menurut Siahaan, penebangan masih terus berlanjut hingga dia
meninggalkan Medan, medio September. "Syukurlah, tidak terjadi hal-
hal buruk menyusul ungkapan kemarahan warga tersebut," katanya.
Karena itulah, sebelum terlambat, kasus penebangan tersebut segara
dapat dihentikan.
Dia telah berupaya membawa persoalan ke Departemen Kehutanan dan
Departemen Dalam Negeri. Cuma, belum ada hasilnya. Siahaan mengakui,
otonomi daerah yang memberikan "kekuasaan" besar pada pemerintah
daerah menjadi sangat rawan apabila para pelaksana kebijakan setempat
tidak arif membaca situasi.
Contohnya, kasus Siosar. Ide dasar cukup baik, yakni membangun jalan
sepanjang tiga kilometer agar satu kawasan seluas 1.000 hektar lebih
bisa dimanfaatkan. Selama ini lahan tersebut, yang terhampar di
antara batas hutan lindung dan Lau (sungai) Balang merupakan lahan
tidur. Pembukaan jalan itu oleh Bupati Tanah Karo, Sinar Perangin-
angin, dilaksanakan dalam program TMMD (TNI Membangun Masyarakat
Desa). "Program itu disambut gembira oleh rakyat," tutur Siahaan.
Pekerjaan di lapangan pun dimulai sekitar Mei 2003.
Namun, dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan. Hutan yang dibuka
untuk membangun jalan tidak melintasi lahan tidur-bahkan
bersinggungan pun tidak-tetapi melenceng ke utara "memasuki" areal
hutan lindung. Dan, panjangnya pun berubah, dari sebelumnya tiga
kilometer menjadi sembilan kilometer. Protes pun muncul dari
masyarakat.
Dan celakanya lagi, tambah Siahaan, di antara ruas jalan yang baru
dibuka itu sedikitnya terlihat sembilan jalan arteri menuju jantung
hutan lindung. "Rakyat melihat kayu-kayu besar dikeluarkan lewat
jalan arteri itu," ungkap Siahaan. Kayu-kayu besar itu pastilah
ditebang dari jantung hutan lindung.
Penyimpangan ini telah dilaporkan kepada Bupati Tanah Karo, Sinar
Perangin-angin. "Namun, tidak ada tindakan. Penebangan terus
melanjut," tambah Valentino Tarigan dan Hitler Siahaan secara
terpisah. Valentino adalah tokoh peduli lingkungan dari Pemuda
Pelopor Sumatera Utara yang tinggal di Medan.
Valentino menambahkan, dia telah menghubungi sejumlah pejabat di
Departemen Kehutanan di Jakarta, menanyakan apakah pernah
mengeluarkan izin penebangan kayu di hutan lindung Siosar. "Tidak
pernah," kata Valentino menirukan kembali jawaban yang dia dapat.
Hutan lindung Siosar termasuk gugusan hutan lindung Deleng (gunung)
Sibuaten yang berbatasan dengan Kabupaten Dairi. Merupakan areal
tangkapan hujan untuk Danau Toba, sekaligus pensuplai air bagi warga
dan pertanian warga Barusjahe. Sebelum penebangan, Barusjahe tidak
pernah kekurangan air. Siosar juga terkait dengan ekosistem Taman
Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang sebagian besar arealnya berada di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Menurut data yang dihimpun Forum petani Karo, penebangan bukan hanya
di Siosar. Hampir semua hutan lindung telah digarap. Saat ini,
sedikitnya seluas 2.800 hektar hutan di Tanah Karo sudah gundul
akibat penebangan. Tersebar di 13 kecamatan, antara lain di Kecamatan
Brastagi, Lau Balang, dan Kecamatan Merek.
Izin penebangan ada yang berupa rekomendasi pimpinan DPRD Tanah Karo,
atau izin tertulis Bupati Tanah Karo. "Inilah contoh betapa
berkuasanya para pejabat di daerah tingkat dua setelah berlaku
otonomi daerah," papar Siahaan.
Luas Tanah Karo, 212.725 hektar. Sebelum perang kemerdekaan,
sepertiganya adalah kawasan hutan. "Saat ini luas hutan lindung
kurang dari sepertujuh luas wilayah," kata Siahaan.
Agaknya, Tanah Karo Si Malem-Tanah Karo yang indah dan sejuk-tidak
terlalu lama lagi akan merana, dan hanya akan meninggalkan air mata
bagi generasi selanjutnya. Maka andung-andung pun akan semakin
mengiris dan menyayat hati.... (BOB HUTABARAT)