Man-teman NU di manapun anda berada,
Ide pembentukan Universitas Internasional NU ini betul-betul ide
cemerlang. Saya sangat mendukung.
Di samping itu, saya juga punya ide lain: NU harus punya Pesantren
Doktoral. Seperti kita ketahui, hampir semua pesantren NU masih
berkutat dengan level SMP dan SMA saja. Ini pernah disinggung secara
sekilas oleh Zamahsari Dhofier dalam disertasi doktor yang kemudian
dialih-bahasakan: "Tradisi Pesantren". Temuan ini --meminjam bahasa
Mbah Nadir saat-saat menggelitiki saya-- adalah 'Research Question'
penting yang diajukan oleh Zamahsari.
Temuan Zamahsari Dhofier lainnya adalah, kenapa sepeninggal
Hadlaratul Syaikh Hasyim Asy'ari banyak pesantren NU 'turun level',
hanya berkutat SMP dan SMA? Tentu saja sample yang dipakai oleh
Zamahsari adalah pesantren Tebuireng. Kalopun Tebuireng kemudian ada
universitasnya, itupun hanya setingkat S1. Kenapa nasib pesantren
kelas doktoral zaman Hadlaratul Syaikh menghilang? Universitas
seperti Tebuireng itu, saya berasumsi --mudah-mudahan salah--,
sepertinya sulit mencetak kader-kader ulama yang diharapkan. Ma'had
Aly Situbondo, barangkali lebih baik.
Pertanyaan saya, Ma'had Aly Situbondo ini, kenapa tidak ditingkatkan
menjadi 'pesantren dirasah ulya'? Nah, cak Moqsith harus menjawab.
Dulu, santri-santri 'doktoral' Hadlaratul Syaikh hampir pasti
mendirikan pesantren besar lainnya selepas 'boyongan'. Pesantren-
pesantren besar milik santri-santri doktoral mbah Asy'ari ini
tersebar hampir di pelosok pulau Jawa.
Menariknya, temuan Zamahsari Dhofier mengenai kondisi ini adalah,
disebabkan oleh menurunkan kualitas pewaris pesantren Tebuireng
sepeninggal Hadlaratul Syaikh. Jika itu masalahnya, saya menemukan
titik lain: bagaimana kalo nasib pesantren doktoral tersebut
ditentukan bukan oleh kyai pengasuh, tetapi oleh sistem. Saya
melihat, penentu di titik ini adalah silabus pengajaran. Al Azhar,
tempat Gus Ghofur lagi ngerampungin Dukturah-nya, tidak akan
terganggu oleh kondisi apapun karena sistem dan silabus yang sudah
mapan. Kenapa kalangan NU tidak bisa membuat pesantren doktoral
setaraf Al Azhar?
Saya menghayal, jika pesantren doktoral NU ini bisa diwujudkan, maka
regenerasi ulama di kalangan NU bukan barang sulit. Selain itu, kalo
saja ulama-ulama NU masa depan adalah jebolan pesantren tingkat
tinggi ini, maka sudah pasti bakalan tidak akan ada fatwa-fatwa
menggelikan lagi.
Bagaimana caranya? Untuk langkah awal adalah, salah satunya, bekerja-
sama dengan Al Azhar, Mesir. Bisa juga dengan menggandeng universitas-
universitas di Timur Tengah lainnya, seperti Iraq, Tunisia, Maroko,
Syria, Lybia, atau bahkan universitas-universitas di Barat.
Kekurangan tenaga pengajar? Untuk sementara waktu, saya kira, Azhar
dan Iraq bisa menyediakan sampai satu persatu anak-anak NU netas, Gus
Ghofur misalnya. Gus Ghofur, syuriah NU masa depan, sudah menyatakan
kesediaannya untuk menghubungkan pihak NU dengan Al Azhar.
Kalo NU bisa bekerjasama dengan Azhar, separuh masa kuliah santri
dukturah NU dihabiskan di Azhar. Wow, keren. Jebolan Pesantren
Doktoral NU ini bakalan setaraf dengan mahasiswa dukturah jebolan
Azhar atau universitas Timur Tengah lainnya.
Saya mengusulkan, santri-santri dukturah ini adalah santri-
santri 'brightest', diambil dari setiap pesantren-pesantren milik NU.
Pesantren ini betul-betul mencetak ulama-ulama model NU masa depan.
Kalo sekarang banyak orang Indonesia masih berkiblat ke Yusuf
Qardhowi, atau ulama-ulama Wahabi Saudi, atau ulama-ulama Salafi
Timur Tengah lainnya, itu karena ulama-ulama Indonesia, menurut
sebagian umat Islam Indonesia, kualitasnya masih di bawah ulama-ulama
non Indonesia tersebut.
Mulai sekarang, saya kira, NU harus memenuhi kekosongan pengkaderan
ulama yang berjiwa keindonesiaan.
Salam,
Riz.
===
--- In
kmnu2000@yahoogroups.com, "Aang Asy'ari" <myaang@l...> wrote:
> Kawan2 sekalian, ide pendirian Univ. NU sebetulnya juga pernah
dilontarkan
> tahun kemarin, saat saya haji, dalam pertemuan yg sama. Saat ini
yang hadir
> antara lain KH Hafidz Usman dan Manarul H.
>
> Peserta semuanya tampak antusias, dan tahun ini, keinginan itu
muncul lagi.
> Pertanyaannya sekarang; siapa yang mau bergerak membumikan ide
mulia itu???
> Bisa gak, misalnya forum milist ini membuat semacam rekomendasi
atau apa
> istilahnya ke PBNU, untuk menindakanjuti ide di atas??? Atau PCI-
PCI yang
> mau mendesak??? Bacaan sementara saya para penggede NU itu rata
sepakat
> dengan ide diatas. Tapi terus terang klo, ide ini hanya akan
menjadi ide
> belaka klo tak ada yang mo gerak. Marilah kita pikirkan bersama;
siapa yang
> akan memulainya (man yu'aliq al-jaras)???
>
> Saat muktamar kemarin, NU Mesir juga usul untuk memu'adalahkan
(persamaan)
> LP Maa'rif dengan Univ al-Azhar, saya gak tahu kelanjutannya. Tapi,
klo LP
> Maa'rif mau, insya Allah NU mesir siap memperjuangkannya. Anda nggak
> diantara peserta milist ini yang bisa berhubungan langsung dam
mendesak
> elite pengurus LP Maa'rif, tuk nenindaklanjuti gagasan ini. Nggak
ruwet kok
> urusannya.
>
> Gimana Mas Nadzir, Om Rizqon, Mas Faishal, kang Faqih, kang Asep,
Mbah Ulil,
> dll?????
>
>
> Salam Damai,
> Ang, Mesir
>
>
>