Re: [Klub Guru Indonesia] Menyontek, Awal Menuju Korupsi?
Dear Ibu Mei,
Saya setuju sekali bahwa sebagai orang tua, kita yang seharusnya berada digaris terdepan mengajarkan anak tentang sebuah kejujuran. Intinya adalah memeberikan teladan bukan hanya ucapan. Contoh yang diberikan mengenai telepon itu yang kelihatannya sederhana namun sangat mendasar.
Dan kembali ke soal anak sudah mengakui dengan jujur bahwa dia telah berbuat sesuatu, tetap dimarahi orang tua menurut saya juga akan mempengaruhi mental anak untuk berpikir tidak ada gunanya melanjutkan kejujuran, toh tetap harus menerima akibat yang tidak baik yaitu dimarahi orang tua.
Jika saya boleh memberikan saran , ada baiknya kita sebagai orang tua mulai merubah cara bertanya kali yah ?
coba diubahdari Siapa yang memecahkan ..... menjadi bagaimana pot ini bisa pecah ?
Saya yakin anak pasti akan lebih terbuka dan tidak merasa dihakimi, kita sebagai orang tua juga bisa tahu kenapa hal itu terjadi, dan bisa menjadi bahan diskusi apa efeknya dan nanti bahkan bisa dapat kesimpulan dari si anak sendiri apakah yang akan datang mau diulangi lagi atau tidak.
Semoga berguna....
Salam
Melly kiong
From: mei hendra darma <solution.minddev@...> To: klubguruindonesia@yahoogroups.com Sent: Friday, January 2, 2009 8:13:12 AM Subject: Re: [Klub Guru Indonesia] Menyontek, Awal Menuju Korupsi?
Menyontek adalah salah satu akibat yang disebabkan oleh "ketidakjujuran" . Sumber awal yang harus dibenahi adalah masalah kejujuran sedangkan menyontek adalah salah satu cara yang dilakukan untuk menutupi kejujuran dalam mencapai sesuatu. Jujur adalah sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Tetapi sebenarnya jujur bisa "dirasakan" di setiap nurani setiap individu berapapun usianya.
Makna kejujuran haruslah ditanamkan sejak dini khususnya di dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah & mingkungan masyarakat. Terlebih adalah di dalam keluarga. Jika kita menginginkan bangsa ini berubah, maka sebagai orang tua kita haruslah berubah dengan menghargai & mengajarkan sebuah "kejujuran" kepada anak-anak kita. Sebagai contoh sederhana, pernahkah anak-anak kita memecahkan vas bunga tanpa disengaja misalnya & kita sebagai orang tua tidak mengetahuinya? Atau mobil kita dicoret-coret oleh anak kita sehingga tergores & kita tdk mengetahuinya? Apa respon kita?
Biasanya sebagai orang tua kita akan menanyakan : Siapa yg bikin ulah ini? Memecahkan vas bunga? menggores mobil? dst .dst .. Dan disaat anak kita dengan jujur mengakuinya apa yg biasanya kita perbuat? Ya betul sekali pastilah kita memarahinya, membentaknya, menghukumnya dsb.. dsb.. Inilah awal terciptanya sebuah mind set yg salah akan kejujuran. Si anak beranggapan bahwa berbuat "jujur" mengakui apa adanya adalah sesuatu yg menyakitkan. Dan pada akhirnya ia berusaha untuk selalu membuat pengingkaran atas kejujuran jika dirasa kejujuran hanya mendatangkan sebuah penderitaan.
Belum contoh-contoh yg lain, dimana ortu menginginkan anaknya jujur tetapi tidak memberikan sebuah contoh kejujuran. Misalnya kita ortu sedang ditelepon teman, dan saat itu kita sedang sibuk sehingga tidak sempat untuk bicara, biasanya kebanyakan ortu menyusruh anaknya untuk mengatakan bapak/ibu sedang pergi, sedang tidur atau lainnya. Ya ini juga awal sebuah pembelajaran akan pengingkaran kejujuran dan masih banyak lagi.
Demikian juga dengan menyontek. Disaat anak kita memperoleh nilai yang kurang memuaskan, kita sebagai ortu seringkali langsung "menghukum" menganggap anak kita bodoh dst .dst., bukankah kecerdasan seorang anak tidak hanya dilihat dari nilai akademis saja? Perilaku-perilaku ortu tsb pada akhirnya membuat si anak untuk berbuat apa saja demi mendapatkan penghargaan. Padahal sesungguhnya berapapun nilai yang didapat si anak yang dilakukan dengan sungguh-sungguh haruslah diberikan sebuah penghargaan. JIka nilainya masih dibawah rata-rata bukankah tugas kita untuk memotivasi lebih giat belajar misalnya dg perkataan yg lebih menyentuh seperti : " Nak nilai (walau dpt 2 misalnya) kamu cukup bagus, bapak/ibu bangga dengan hasil berapaun yang kau capai. Kamu sdh merelakan nilai yang lebih tinggi diraih oleh temanmu, tapi lain kali gantian ya nilaimu harus bisa lebih tinggi dibanding temanmu."
Banyak hal yg membuat pada akhirnya kita tidak percaya diri atas kemampuan kita sendiri, yg disebabkan oleh hal-hal kecil yang tidak disadari oleh orang tua. Disaat ada tugas ketrampilan dari sekolah cenderung orang tua yang membuatkan, mereka merasa bangga saat tugas yang dikumpulkan oleh anaknya bisa memuaskan gurunya walaupun sebenarnya bukan kreatifitas si anak. Hal ini pada akhirnya membuat diri si anak menjadi tidak percaya diri atas kemampuannya.
Kesimpulannya adalah buatlah karakter-karakter yang jujur bagi putra-putri kita, anak didik kita dengan selalu memberikan penghargaan atas nilai kejujuran yang dibawanya.
--- On Thu, 1/1/09, Abdul Rohim <peduli_klaten@ yahoo.com> wrote:
From: Abdul Rohim <peduli_klaten@ yahoo.com> Subject: [Klub Guru Indonesia] Menyontek, Awal Menuju Korupsi? To: media-klaten@ yahoogroups. com Date: Thursday, January 1, 2009, 1:08 PM
Ditulis Oleh Achsin
"Sstt, soal bab II, nomor 1 apa jawabannya?" Weeer ..., kertas dilempar. Seeer..., kertas ujian digeser, tulisan di meja dan bangku tampak kecil-kecil, njelimet.
Itu hanya sebagian contoh dari bentuk penyontekan. Tulisan tidak hanya dibuat di meja. Namun juga di dinding, penggaris mika, kertas yang dilipat di bawah kalkulator, tisu, telapak tangan.
Kalau diamati, orang yang menyontek memang kadang memperoleh nilai yang tinggi daripada orang yang diconteki. Jika kita memberikan jawaban, berarti kita mengajari dia untuk membodohi dirinya sendiri. Aspek lain yang muncul, siswa yang belajar sungguh-sungguh kecewa. Sebab, hasilnya malah lebih rendah dari orang yang menyontek.
Dengan menyontek, bukan memberikan motivasi untuk belajar. Tetapi, membiarkan teman bermalas-malasan tanpa mau berusaha sendiri.
Saya kira alanglah baiknya, jika tata tertib (tatib) yang ada di sekolah juga mengatur kedisiplinan siswa termasuk
menyontek. Dalam tatib tersebut, diatur bagaimana tatib melakukan ujian.
Begitu pula dengan sanksi yang akan diberikan jika ada murid yang kedapatan membawa krepekan atau sontekan. Selama ini, sanksi yang diberikan sangat ringan. Seperti mengerjakan tugas atau hukuman fisik lainnya.
Bahkan kalau ketahuan membawa contekan, paling-paling contekannya dibuang. Atau, ditegur lain kali jangan menyontek lagi. Itu saja.
Apa dampaknya? Siswa tak akan takut lagi menyontek. Paling-paling ditegur atau dibuang kertas contekannya. Akhirnya, perilaku sejenis menyontek itu terbawa saat siswa dewasa. Saat dewasa, ia punya jabatan di pemerintah, di politik, dan di BUMN. Akhirnya, yang bersangkutan suka berhobong, menipu atau mengakali anggaran untuk cari tambahan penghasilan.
Menyontek dan korupsi hampir sama nilainya. Sama-sama ingin hasil yang baik atau besar dalam waktu cepat, tanpa mau berusaha dengan jalan atau langkah sesuai prosedur.
Korupsi, menipu dan berbohong dianggap biasa seperti waktu sekolah dulu.
Tak ada hukuman dan tak ada norma yang membatasinya. Jelas, dalam menyontek akan membuat siswa dan mahasiswa menjadi ˇkebal˘. "Nggak apa-apa, besok nyontek lagi. Paling cuma ketahuan dan diambil kepekannya," kata seorang mahasiswa dengan bangga. Akhirnya, menyontek dianggap perbuatan biasa.. Bukan hal yang memalukan dan rendah.
Ke depan sanksi bagi pelajar dan mahasiswa yang menyontek harus memberi efek jera. Artinya, jika dihukum waktu menjadi pelajar atau mahasiswa, maka ia takut untuk mengulanginya.
Mengapa menyontek? Dalam kacamata psikologi, perilaku seseorang dipengaruhi oleh cara orang tersebut melihat faktor yang mempengaruhi kehidupannya atau yang disebut sebagai locus of control (pusat kendali).
Orang yang dominan dikendalikan pusat kendali internal mempercayai, bahwa kemajuan dalam hidup ditentukan oleh faktor
dari dalam diri sendiri.
Mereka senang bekerja keras, mempunyai cita-cita tinggi, ulet dan menganggap kemajuan dirinya disebabkan ia bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya.
Sebaliknya, orang yang lebih dominan dikendalikan faktor dari luar dirinya (eksternal) mempercayai bahwa keberhasilannya ditentukan oleh hal di luar dirinya seperti nasib baik, adanya koneksi dan bukan karena kerja keras diri sendiri.
Orang yang mempunyai pusat kendali eksternal cenderung beranggapan bahwa kerja keras, menepati waktu, bekerja penuh disiplin bukan faktor utama penyebab keberhasilan.
Untuk menghindarinya, siswa disarankan meyakini bahwa menyontek merupakan pintu gerbang dari perbuatan berbohong yang lebih besar, seperti korupsi. Selanjutnya, belajar mengenali diri sendiri dan setiap potensi yang dimiliki.
Menurut saya, untuk menghindari tindakan menyontek itu cukup mudah. Antara lain, percaya diri sendiri, hidup harus dimulai
motivasi diri sendiri, belajar jangan dianggap beban, keadaan sekolah pun membuat iklim belajar yang sehat.
Tak kalah penting, perlu mengetahui penyebab siswa mempunyai kecenderungan menyontek. Dalam hal ini, sebagian besar malas belajar, belajar mendadak, materi tidak selesai dipelajari dan kurang percaya diri. Tidak sedikit pula yang ˇcemburu˘.
Kelemahan guru/dosen secara tidak langsung memberi andil dalam siswa/mahasiswa menyontek. Bukan rahasia lagi bila banyak guru/dosen yang punya pekerjaan sampingan, demi kontinuitas dan kualitas ˇasap dapurnya˘ karena tidak dapat mengandalkan pemasukan dari satu sektor saja.
Waktu untuk persiapan mengajar, mengoreksi pekerjaan siswa/mahasiswa, membuat soal ulangan/ujian dan tugas, memikirkan variasi pengajaran serta menyediakan alat peraga hampir tidak ada.
Belum lagi tuntutan orangtua ingin anaknya meraih prestasi tinggi. Tuntutan semacam itu dapat menimbulkan keinginan anak
untuk menyontek, agar dapat nilai baik dan tidak dimarahi orangtuanya.
Sudah waktunya sistem pendidikan kita bersifat two way communication antara guru/dosen dan siswa/mahasiswa. Kelompok kerja makalah, presentasi, pembuatan alat peraga, studi lapangan (misalnya ke pabrik salah satu orangtua siswa) kiranya lebih digiatkan daripada menimbuni siswa/mahasiswa dengan soal tapi dikerjakan dengan menyontek.
Tak ada salahnya, kita cermati pendapat Dr Syamsu Yusuf MPd N, kepala Unit Pelayanan Teknis Lembaga Bimbingan dan Konseling UPI. Menurut ia, aktivitas menyontek merupakan wujud rasa tidak percaya diri, permalasan, spekulasi, kecurangan, irasional, dll.
Tujuan belajar mendapatkan ilmu pengetahuan dan nilai baru secara apektif, kognitif, maupun motorik. Hal itu memerlukan evaluasi untuk mendapatkan report, sejauhmana proses pembelajaran telah terjadi pada seseorang.
Namun dengan menyontek, proses evaluasi menjadi kabur.
Ukuran kemampuan yang tengah dievaluasi menjadi tidak jelas.
Menurut ia, selain menipu, menyontek merupakan aktivitas spekulasi yang tinggi dan suatu bentuk sikap ingin segera mendapatkan hasil yang instan.
Kebiasaan kecil ini akan mengkristal dan menjadi cara seseorang mencapai sesuatu dan mencari jalan keluar terhadap masalah yang dihadapinya. Hal ini yang harus disadari oleh siswa didik dan pendidik, agar etos kerja pendidikan tercapai. Bila budaya instan yang terbentuk, maka rasa malas akan timbul dan membentuk sikap ingin serba mudah.
Saat ini memang perlu penelitian untuk meyakinkan tentang dampak buruk menyontek. Namun saya yakin, semua pihak akan setuju jangan sampai sistem pendidikan kita melahirkan white collar crimers.
Ditulis Oleh Achsin   "Sstt, soal bab II, nomor 1 apa jawabannya?" Weeer ..., kertas dilempar. Seeer..., kertas ujian digeser, tulisan di meja dan bangku...
Menyontek adalah salah satu akibat yang disebabkan oleh "ketidakjujuran". Sumber awal yang harus dibenahi adalah masalah kejujuran sedangkan menyontek adalah...
Dear Ibu Mei, Saya setuju sekali bahwa sebagai orang tua, kita yang seharusnya berada digaris terdepan mengajarkan anak tentang sebuah kejujuran. Intinya...
melly kiong
melly_kiong@...
Jan 2, 2009 3:27 am
Yth. Pak Abdul Rahim, saya akan iskut diskusi tentang hal ini: Begitu pula dengan sanksi yang akan diberikan jika ada murid yang kedapatan membawa krepekan...
Asep Suhendar
asepsuhendar07@...
Jan 2, 2009 9:46 am
Yth. Pak Abdul Rahim, saya akan iskut diskusi tentang hal ini: Begitu pula dengan sanksi yang akan diberikan jika ada murid yang kedapatan membawa krepekan...
Asep Suhendar
asepsuhendar07@...
Jan 2, 2009 9:46 am
Teman-teman guru Ini yang terjadi di sekolah tempat saya mengajar. Jika ada siswa yang ketahuan menyontek saat itu juga soal dan lembar jawaban diambil. Orang...
“Saya sebenarnya juga tidak tahu pasti apakah ini kebijaksanaan yang cukup relevan atau tidak saat ini.” Yang jelas saya pasti lebih ga tahu Mba Vina,...
Asep Suhendar
asepsuhendar07@...
Jan 2, 2009 5:42 pm
... mungkin agak telat saya nimbrung dalam masalah nyontek ini, karena baru sekarang punya kebebasan waktu tuk membaca seluruh postingan rekan-rekan. Sejak...
Manik Mughni
barry_mr_1@...
Jan 3, 2009 7:14 pm
Yth Ibu Manik Mughni, Mudah saja Bu biar jawabanya PR ga sama, soalnya beda. hehe Ma'af canda Bu, tapi asli kalo matematika bisa, nah kalo pelajaran yang lain ...
Asep Suhendar
asepsuhendar07@...
Jan 3, 2009 11:33 pm
Sebenarnya bisa dikatakan siswa menyontek karena malas juga, Pak. Sebab kalau saya membuat soal berbeda-beda, dan itu memang yang paling sering saya lakukan...
Manik Mughni
barry_mr_1@...
Jan 4, 2009 1:52 pm
Yth. Ibu Manik Mughni, Memang saya menulis tadi bukan berarti saya sudah terbebas dari masalah ini Bu, bahkan saya yakin Ibu lebih baik dan berpengalaman, cuma...