Search the web
Sign In
New User? Sign Up
jakartasbookworms · Jakarta's Book Worms - kutubuku@jakarta
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 1 - 30 of 528   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#30 From: amang1984
Date: Mon Oct 23, 2000 5:13 pm
Subject: Re: keluar kota
amang1984
Send Email Send Email
 
Oleh-oleh? Barangkali kau hanya mendapatkan
celoteh panjang tentang laut, malam hitam dengan taburan
bintang, dlsb.<br><br>Tapi yang pasti, waktu aku lihat
laut yang kususuri dengan perahu kecil dengan ombak
besar di kiri kanan lambung kapal mengingatkan pada
buku karangan Ernest Hemingway, berjudul "The Old Man
and The Sea" -- yang diterjemahkan dengan amat
buruknya dengan judul "Lelaki Tua dan Laut" oleh (kalau
nggak salah) Penerbit Djambatan, 1976 dengan sampul
keras dan berwarna hijau.<br><br>Apalagi tangan-tangan
kuat para nelayan di P. Untung Jawa itu dan
gurat-gurat di tubuh karena asinnya garam dan teriknya
matahari memang betul-betul mirip visualisasi tokoh dalam
novelnya.<br><br>Cuma, sayangnya yang mampir di kepala hanya isi buku
itu.

#29 From: amang1984
Date: Mon Oct 23, 2000 5:13 pm
Subject: Re: keluar kota
amang1984
Send Email Send Email
 
Oleh-oleh? Barangkali kau hanya mendapatkan
celoteh panjang tentang laut, malam hitam dengan taburan
bintang, dlsb.<br><br>Tapi yang pasti, waktu aku lihat
laut yang kususuri dengan perahu kecil dengan ombak
besar di kiri kanan lambung kapal mengingatkan pada
buku karangan Ernest Hemingway, berjudul "The Old Man
and The Sea" -- yang diterjemahkan dengan amat
buruknya dengan judul "Lelaki Tua dan Laut" oleh (kalau
nggak salah) Penerbit Djambatan, 1976 dengan sampul
keras dan berwarna hijau.<br><br>Apalagi tangan-tangan
kuat para nelayan di P. Untung Jawa itu dan
gurat-gurat di tubuh karena asinnya garam dan teriknya
matahari memang betul-betul mirip visualisasi tokoh dalam
novelnya.<br><br>Cuma, sayangnya yang mampir di kepala hanya isi buku
itu.

#28 From: suehadj
Date: Mon Oct 23, 2000 5:38 am
Subject: Re: keluar kota
suehadj
Send Email Send Email
 
gak mauuuuuuuu<br><br>kecuali dibawain oleh-oleh heheh...<br><br>:P

#27 From: amang1984
Date: Sat Oct 21, 2000 3:58 am
Subject: keluar kota
amang1984
Send Email Send Email
 
bung/nona,<br><br>untuk 2-3 hari, aku akan keluar
kota nih. mau berlibur di pulau kecil, sambil makan
ikan, mandi di pantai, main jetski, pesta-pora...
hehehe...<br><br>sori ya, untuk sementara<br>posisi supir klub aku oper
ke nona susan<br>...<br><br>thanks<br>mang-Q

#26 From: amang1984
Date: Wed Oct 18, 2000 3:37 pm
Subject: Petikan Kahlil untuk member baru...
amang1984
Send Email Send Email
 
"Kehidupan itu seperti seekor kuda di malam
hari;<br>semakin cepat larinya, semakin dekatlah pagi
hari."<br><br>Kahlil Gibran<br><br>===================<br>Selamat
datang untuk Yurike
(happypokemon70@...)<br><br>Yuk, bagi-bagi cerita tentang buku yang paling
kamu
suka.<br><br>=)<br>mang-Q

#25 From: suehadj
Date: Wed Oct 18, 2000 12:03 pm
Subject: Re:
suehadj
Send Email Send Email
 
&gt; bener ini saya yang nggak jadi ke Boston. Ortu yang nggak sepakat. Mas
Fredy malah nggak tahu-menahu lho :)<br><br>ooo...it's ok, gpp, kelarin kuliah
aja dulu...

#24 From: indra_krishnamurti
Date: Mon Oct 16, 2000 1:34 pm
Subject: Re: Hikayat Kadiroen
indra_krishnamurti
Send Email Send Email
 
Mbak Susan, bener ini saya yang nggak jadi ke
Boston. Ortu yang nggak sepakat. Mas Fredy malah nggak
tahu-menahu lho :).<br><br>Walah, yang kemarin kan bukan
review, cuman kesan pertama aja... :)<br><br>Betul kata
Amang tentang wacana sentralisme demokratik itu. Saya
cuma mau menunjukkan bahwa tidak selalu "kur-pol"
dilakukan dengan menjelaskan sentralisme demokratik.
<br><br>BTW, aneh nggak sih bahwa tidak ada referensi ke
"keberhasilan" revolusi demikian di USSR, padahal baru dua tahun
berlalu?<br><br>Nah, kalau tentang buku Shiraishi itu, lha mbok ya aku
pinjem, Mang?<br><br>***<br><br>Sebenarnya ada juga
'blank spot' lain dalam sejarah kesusastraan Indonesia:
periode akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, yaitu
sastra Melayu Pasar/Melayu Tionghoa. Tokohnya antara
lain H. Pangemannan, Tio Ie Soei, dll. Ini nggak
pernah muncul dalam mata pelajaran "sastra" di
sekolah-sekolah, paling tidak waktu saya dulu
bersekolah.<br><br>Sastra masa ini biasanya berupa "hikayat", lazimnya
masih pro-kolonial, etnosentris (cenderung rasis=anti
pribumi, anti Islam).<br><br>Ada beberapa sumber untuk
sastra dari masa itu: Tempo Doeloe, terbitan Hasta Mitra
yang diedit Pram, beberapa tahun lalu (1980-an), juga
satu lagi tentang Sastra Melayu Tionghoa (judul
aslinya lupa).<br><br>Ada satu cerita menarik dalam Tempo
Doeloe, berjudul: Hikajat Nji Paina, semacam cerita
Cinderella, tapi anehnya tokoh antagonisnya adalah seorang
Belanda manager pabrik gula, yang tidak saja korup, tapi
juga mata keranjang...<br><br>Salam,<br><br>Indra

#23 From: suehadj
Date: Mon Oct 16, 2000 8:33 am
Subject: Re: WELCOME TO INDRA & VICTOR
suehadj
Send Email Send Email
 
hi indra, bram, met gabung...<br><br>indra mana
nih? yg nolak kerja di amrik
ya?<br>hahaha...<br>kenapa sih dra? yg di boston & kita disini pada kecewa
loh :(<br>gak diijinin ortu sama mas fredy
ya??<br><br><br>&gt; Kalau si botak jelek itu, yang suka si Suhaedj...
hehehe... mungkin karena mirip Detektif Kojak kali
ye...<br><br>hah?? enak aja...<br>cakepan juga telly
savalas<br><br>* tokoh/buku yg berpengaruh??<br>kalo filsafat sih
gak ada...gue cuma suka baca aja, gak sampe idolain
seseorang...<br>karna menurut gue nobody knows
everything....<br>semuanya punya kekurangan/kelebihan...<br><br><br>tapi
kalo sastra gue suka yg klasik, biasanya pengarang
eropa/amrik, buku buku sastra yg baru, gue juga suka sih, tapi
karna import, muaahal bo !<br><br>(ada yg mo minjemin
bukunya toni morrison gak??)<br><br><br>penulis sastra
klasik yg paling hebat menurut gue victor hugo....2
bukunya les mis. sama hunchb.fr.notredame... bener-bener
ninggalin kesan yg mendalaaam di hati
(ceileeee)<br><br><br>sastra indonesia??<br>kalo yg klasik sebagian besar udah
baca, selain wajib waktu sekolah dulu...gampang cari di
perpus.<br><br>kalo yg baru...gue terus terang ampir ampir gak pernah
baca, kecuali nh dini (tapi termasuk lama juga kali
ya...)...<br><br>tapi setahun terakhir gue udah baca 2 buku, bukunya
ayu utami sama remi silado...thanks buat erolore yg
udah minjemin & ingetin gue kalo indonesia juga punya
karya sastra yg bagus-bagus....hehehe...<br><br>'gak
boleh ngeliat ke barat terus seharusnya....malah
civilization itu datang dari timur....bener kan??<br><br>gue
pengeeeeen banget baca bukunya pramudya...ada gak yg punya
dan rela minjemin??<br><br><br>sue

#22 From: amang1984
Date: Mon Oct 16, 2000 6:05 am
Subject: Re: Hikayat Kadiroen
amang1984
Send Email Send Email
 
Sastra-sastra di jaman Belanda memang ajaib. Saya
merasa beruntung bisa kembali menikmati Student Hidjo,
Hikayat Kadiroen... <br><br>Namun, ada beberapa hal yang
terlalu cepat disimpulkan oleh Indra. Sepertinya salah
tuh kalau mengharapkan Semaoen menjelaskan
"sentralisme demokratik". Bukankah baru pada periode tersebut,
yakni 7 tahun setelah berdirinya Sarekat Islam, ia
menyusup ke sana untuk mengembangkan wacana pergerakan.
Tugas Semaoen bukanlah mempropagandakan
marxisme-leninisme, tetapi (semoga saya tidak salah) memasukkan
kerangka perjuangan nasional melawan kapitalis kolonialis
yang masih bercokol.<br><br>ISDV/PKI (partai komunis
hindia) waktu itu masih kecil dan belum cukup memiliki
pengaruh yang kuat. Kondisi ini akan terus sama hingga
tahun 1926, ketika PKI untuk pertama kali memberontak
terhadap Belanda.<br><br>Model majelis juga dipakai dalam
politik partai komunis. kalau sekarang mungkin apa yang
disebut dengan dewan rakyat yang terdiri dari dewan
nasional, lalu turun hingga ke penggalangan tingkat
sektoral dengan nama dewan buruh, dewan tani, dlsb. Tidak
cukup bukti bahwa model pengorganisiran ini semata
dipakai oleh para anarkis (rev. spanyol?)<br><br>Oleh
karena itu, konsep majelis negara itu pun tetap dalam
kerangka upaya memenangkan perjuangan terhadap kapitalis
kolonialis dengan melakukan perjuangan legal di dalam
Volksraad. <br><br>Nah, ini rekomendasi saya: Sangat baik
sebetulnya membaca novel-novel sastra jaman Belanda dengan
berbekal sebuah buku sejarah pergerakan yang ditulis oleh
Takashi Shiraisi yang berjudul "Zaman Bergerak:
Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926"..... abis itu, mantap
punya men bikin reviewnya. hehehehe =)<br><br>amang

#21 From: indra_krishnamurti
Date: Sun Oct 15, 2000 1:29 pm
Subject: Hikayat Kadiroen
indra_krishnamurti
Send Email Send Email
 
Teman-teman sudah baca "Hikayat Kadiroen"
belum?<br><br>Ini buku yang menarik, meskipun secara kesusastraan
biasa-biasa aja. Yang jelas, penerbitan buku ini oleh Bentang
(Yogya) bisa memberikan perspektif baru bagi kita-kita
yang tahunya sastra masa Hindia Belanda itu hanya
"Sitti Nurbaya" (yang tokoh protagonisnya [Syamsul
Bahri] anggota "Marechausse" dan tokoh antagonisnya
[Datoe' Maringgih] anggota pemberontak) saja.<br><br>Buku
ini ditulis Semaoen (tokoh awal PKI) pada tahun 1919.
Isinya tipikal sastra masa itu, penuh dengan kebetulan,
tokoh-tokoh yang "hitam putih" dsb. Namun bukan itu yang
ingin saya bahas.<br><br>Bagian menarik buku ini ada di
sebagian Bab VI (hal. 103-135), yang pada hakekatnya
isinya "kursus politik" tentang ideologi Partij
Kommunist.<br><br>Ada tiga jalan yang disampaikan Toean Tjitro, tokoh
yang bertindak sebagai orator yang mempengaruhi
Kadiroen, yaitu: koperasi, serikat sekerja (Vakbond) dan
yang ketiga, pergerakan politik = bagaimana
orang-orang bisa "mengurus dan mengatur negeri" (hal. 125).
Sasaran perjuangannya adalah kemerdekaan (hal.
126-127).<br><br>Ia juga menjelaskan tentang model majelis (yang
malah mirip-mirip model pengorganisasian kaum anarkis)
di hal. 129-131. Mulai dari organisasi di tingkat
sekerja (Vakken), misalnya majelis pabrik cita, majelis
buruh tram. Lalu majelis wilayah (desa), kemudian ke
kota, lalu afdeeling (provinsi) dan negara.
<br><br>Semaoen anehnya tidak menjelaskan "sentralisme
demokratik" sebagaimana saya harapkan dari seorang tokoh
Marxis-Leninis, atau justru memang pada masa itu belum
berkembang, saya tidak tahu. Juga menariknya, ia tidak
berbicara sama sekali tentang PARTAI komunis secara "an
sich", hanya organisasi politik yang tidak secara
eksplisit ia jelaskan. <br><br>Lalu apa saya menyatakan
Semaoen sebagai tokoh anarkisme Indonesia pertama? Tidak
juga. Konsepnya tentang "majelis negara" jelas-jelas
bukan anarkis. Demikian pula, tentang perlunya mengurus
dan mengatur negara -- yang tidak dijelaskan, apa
dengan masuk ke Volksraad atau cara lain -- lebih
mendekati alur pemikiran Marxis-Leninis.<br><br>Jadi
singkatnya? Buku-buku seperti Student Hidjo, Hikayat
Kadiroen, menarik bukan karena mereka karya sastra, namun
karena mereka memberikan gambaran lain mengenai sastra
Indonesia masa itu, dan juga pemikiran politik yang
berkembang di dalamnya.<br><br>Salam dari ratusan kilometer
di timur Jakarta,<br><br>Indra

#20 From: amang1984
Date: Sat Oct 14, 2000 3:47 pm
Subject: WELCOME TO INDRA & VICTOR
amang1984
Send Email Send Email
 
Hai Indra dan Victor,<br><br>Senang kalian
bergabung di klub-ku yang sederhana ini. Kita-kita lagi
ngobrolin tokoh-tokoh menarik, sebagai pemanasan dan ajang
saling kenal, siapa suka Orwell, siapa yang suka Camus,
siapa yang suka Nietzsche, lalu siapa yang suka
Foucault. Kalau si botak jelek itu, yang suka si Suhaedj...
hehehe... mungkin karena mirip Detektif Kojak kali
ye...<br><br>Nah, siapa sih tokoh yang paling berpengaruh padamu?
Lalu, buku-buku mana yang menurutmu bagus untuk
diketahui dari karya-karya mereka?<br><br>Salam kutu
buku,<br>Mang-Q

#19 From: suehadj
Date: Thu Oct 12, 2000 5:18 am
Subject: Re: Nietzsche dan Atheisme
suehadj
Send Email Send Email
 
hahahah...kirain...<br><br>seret hendrik kesini dong<br>kalo ketemu tanya
emailnya ya...<br><br>susah nih dapet member yg mau join disini...<br>sabar ya
bapak-bapak... :b

#18 From: amang1984
Date: Tue Oct 10, 2000 5:05 pm
Subject: Re: Nietzsche dan Atheisme
amang1984
Send Email Send Email
 
Foucault? si botak jelek yg bikin gara-gara di
asrama putri thn '68 itu???<br><br>Satu-satunya yang
menarik darinya adalah otak ngeresnya itu... hehehe...
yang menyatukan antara aktivitas seksual dengan
kekuasaan.<br><br>Did i like HIM? I never said I did.<br>I'm amazed.
that's all. maybe you're the one who love him so much...
=)

#17 From: suehadj
Date: Tue Oct 10, 2000 9:25 am
Subject: Re: Nietzsche dan Atheisme
suehadj
Send Email Send Email
 
i thought you like foucould.. :)<br><br>silahkan lanjutin diskusinya, gue lagi
nyari member....

#16 From: damar_juniarto
Date: Mon Oct 9, 2000 6:58 pm
Subject: Re: Mite Sisifus - Albert Camus
damar_juniarto
Send Email Send Email
 
&gt;Tetapi aku juga lebih sepaham dengan Amang,
&gt;bahwa Camus itu 'hanya' eksistensialis, yang &gt;tidak
mengikuti kecenderungan di atas itu tadi. &gt;Malahan
menurutku, eksistensialismenya Camus itu &gt;adalah konklusi
atau implikasi dari &gt;skeptisismenya. Jadi bukan
kebalikannya.<br><br>Singkat saja: justru karena ia merasa eksistensialismenya
sebagai suatu jalan keluar (konklusi) -- atau babakan
penutup, ia seperti orang yang mengobok-obok air tempat ia
biasa bercermin, lalu menunggu hingga air itu kembali
tenang.<br><br>Ia, Albert Camus, adalah penulis yang (ke)payah(an)!!

#15 From: amang1984
Date: Sun Oct 8, 2000 8:01 pm
Subject: Nietzsche dan Atheisme
amang1984
Send Email Send Email
 
Agaknya ini masa-masa yang baik untuk mulai
membuka-buka atau mulai mencari buku-buku yang ditulis oleh
Nietzsche, filsuf yang amat menawan hati. Orang seringkali
hanya mendengar frase pendek ini: "Tuhan telah mati",
tetapi tidak pernah tahu dari goresan pena siapakah dan
bagaimana pula duduk perkaranya.<br><br>Barangkali hasrat
ingin tahu itulah yang membawa saya pertamakali membaca
karyanya di awal umur 20-an. Dan kutipan ini yang selalu
saya goreskan: "kebenaran hanyalah suatu kesalahan
besar yang dilegitimasi oleh kerakusan akan kekuasaan"
... yang barangkali di suatu diskusi saya lontarkan
terlalu keras hingga memperkarakan perihal "ada tidaknya
kebenaran yang abadi" dan cap ATHEIS itu begitu mudah
ditempelkan di dahi dan saya bawa seolah membawa roh
Nietzsche kemana-mana.<br><br>Rekomendasi kalau ingin
memulai membaca Nietzsche:<br>1. Sabda Zarathustra<br>2.
Senjakala Berhala dan Anti-Krist<br>3. Ecce Homo<br><br>ini
links dari erolore:
<a href=http://www.geocities.com/thenietzschechannel
target=new>http://www.geocities.com/thenietzschechannel</a>

#14 From: erolore
Date: Mon Oct 2, 2000 6:53 am
Subject: Re: Mite Sisifus - Albert Camus
erolore
Send Email Send Email
 
Kalau aku masih bisa memaklumi mereka yang
memandang Camus sebagai seorang nihilis. Karena seperti
kamu katakan sendiri, Amang, kaum eksistensialis
adalah kaum yang mudah berpuas diri. Kecenderungannya
memang begitu. Kalau kecenderungan itu diteruskan , bisa
berlanjut lagi sampai menerima keadaan baik atau buruk sama
saja, atau buruk tidak berbeda sama sekali dengan baik.
Karena baik dan buruk sudah sama saja artinya, maka
kemungkinan besar keduanya tidak ada artinya sama sekali.....
sampai juga ke paham nihilis. Jadi itu memang
konsekwensi logisnya eksistensialis, kalau mengikuti
kecenderungan2 seperti yang di atas itu.<br><br>Tetapi aku juga
lebih sepaham dengan Amang, bahwa Camus itu 'hanya'
eksistensialis, yang tidak mengikuti kecenderungan di atas itu
tadi. Malahan menurutku, eksistensialismenya Camus itu
adalah konklusi atau implikasi dari skeptisismenya. Jadi
bukan kebalikannya.

#13 From: suehadj
Date: Mon Oct 2, 2000 5:07 am
Subject: Re: Mite Sisifus - Albert Camus
suehadj
Send Email Send Email
 
&gt; optimist : "the glass is half full"<br>&gt;
pesimist : "the glass is half empty"<br>&gt; nihilist :
"so what?"<br><br>yeeaa, got it
now....<br><br>&gt;itulah asiiknya filsafat, kita bisa liat macem-macem
orang dgn cara pandangnya sendiri-sendiri terhadap
dunia<br>&gt;tapi kenapa ya, kebanyakan sangat suram, pesimis,
fatalis... <br><br>"Can an ass be tragic? To perish under a
burden one can neither bear nor throw off? - The case of
the philosopher." (F. Nietzsche) <br><br>iya,
or..<br><br> like king solomon said (in ecclesiastes)<br> the
more i know the more i hurt<br> the more i understand
the more i suffer...<br> <br>'cos everything under
the sun is senseless, so enjoy your life and
everything that God has given to you...

#12 From: amang1984
Date: Sat Sep 30, 2000 11:50 am
Subject: Buku ttg. Kartini
amang1984
Send Email Send Email
 
Betapa Besar Pun Sebuah Sangkar: Hidup, Suratan,
dan Karya Kartini<br>Elizabeth Keesing, Mien Joebhar
(penerjemah)<br>Penerbit Djambatan dan KITLV, 1999<br><br>Siapakah
Kartini? Elizabeth Keesing merasa terpanggil untuk menulis
"tentang diri dan pekerjaan" Kartini dengan mencoba
"mengungkapkan pandangan Kartini sendiri tentang
dunianya."<br>Keistimewaan Keesing adalah kemampuannya dalam memadukan
ulasan dan observasi lintas budaya, bukan hanya tentang
Kartini, tapi juga tentang orang-orang di sekitarnya serta
Jawa dan Belanda, dengan narasi yang menghidupkan para
tokoh tersebut. Keesing membiarkan Kartini berbicara
melalui kata-katanya sendiri, tetapi dengan cerdik ia
menggarisbawahi kontras keadalaman batin serta luasnya wawasan
hidup Kartini dengan "lingkungan sempit yang
mengagunkan segi lahiriah, yang hidup dari gunjingan, dengan
gunjingan, dan demi gunjingan." Dengan cara seperti ini pula
Keesing menampilkan sosok antagonis dalam buku ini,
seperti Pangeran Hadiningrat, paman Kartini, seorang
tokoh pembela rakyat yang disegani tetapi sangat
menindas keponakannya sendiri karena gensi, harga diri,
dan nilai-nilai tradisional yang
patriarkis.<br><br>Empati penulis buku ini membuat pembaca dapat ikut
merasakan gejolak batin Kartini sebagai seorang perempuan
"yang ingin bebas, tidak ditindas oleh kaum lelaki"
tetapi harus mengalami kebimbangan dan kekecewaan karena
yang menindasnya adalah orang-orang yang paling
dicintainya, termasuk bapaknya sendiri. Masalahnya, menurut
Keesing, sang anak yang cerdas dan tajam penglihatannya
itu memahami "kedukaan dan frustasi" ayahnya, yang
terjepit di antara kesadaran intelektual dan posisi
sebagai pejabat pangreh praja yang terhormat. Sebaliknya,
sang ayah tidak memahami kesedihan dan rasa frustasi
putrinya. Bahkan, semua yang bersimpati padanya, pada titik
tertentu, entah atas nama nilai tata nilai, agama, budaya,
kehormatan keluarga, atau kepentingan negara, mengatakan
"tidak" atau "jangan" pada keinginan meluap-luap gadis
berusia 16 tahun ini untuk mengembangkan
dirinya.<br><br>Buku ini mencatat pemberontakan-pemberontakan kecil
Kartini terhadap kuasa patriarki yang menekan, misalnya,
keberhasilan Kartini menghilangkan pengharusan bahasa kromo
adik-adik kepada kakaknya.<br><br>Berbeda dengan
biografi-biografi terdahulu, Keesing memberikan porsi yang cukup
besar terhadap peran kedua ibu Kartini, yakni Raden Ayu
Moeryam, ibu tirinya, dan Ibunda Ngasirah, ibu kandungnya,
termasuk ketegangan di antara kedua istri bupati Jepara
itu. Dengan menafsirkan kata 'mama' sebagai sebutan
untuk Raden Ayu dan 'Ibu' untuk Ngasirah. Keesing
menunjukkan keterlibatan kedua perempuan itu sepanjang hidup
Kartini.<br><br>Biografi ini merupakan bacaan yang tidak hanya menyentuh,
tapi juga informatif. Antusiasme di luar negeri
berkontras tajam dengan penerimaan di dalam negeri.
<br><br>Bagaimana penerimaan atau reaksi terhadap Kartini pada
zaman sekarang? "Untuk selanjutnya," kata Keesing,
"bagi kebanyakan orang, Kartini hanyalah sebuah nama,
sebuah pengertian yang apat diperlakukan sekehendak
hati." Keesing menyebut toko, rumah makan, dan kap salon
yang memakai nama Kartini. Keesing bahkan menilai
biografi-biografi Kartini lainya dengan tak kalah kritisnya. Yang
diciptakan hanya "mitos versi mereka sendiri berdasarkan
kewajaran zaman mereka sendiri."<br><br>Apakah kritik ini
tidak berlaku untuk Keesing? Sebab, sebagus apapun
usaha untuk menampilkan Kartini menurut "kata-katanya
sendiri", itu merupakah sebuah rekonstruksi yang pada
akhirnya tak bisa tidak menghadirkan subyektivitas
penafsiran.<br><br>"Semakin Kartini menjadi lambang, semakin sirna pula
kenangan tentang hidupnya, pemikirannya yang sesungguhnya,
dan hakikat dirinya. karena terselimut oleh
gagasan-gagasan orang lain." Di sini, Keesing benar bahwa lambang
yang kosong cenderung mendangkalkan pemahaman.

#11 From: amang1984
Date: Thu Sep 28, 2000 4:26 pm
Subject: Yuk, bertemu dengan NH Dini
amang1984
Send Email Send Email
 
Ini undangan tak resmi, undangan resminya ada di
dalam kalender klub. <br><br>Iya, kenal kan NH Dini,
penulis roman Pada Sebuah Kapal, Sebuah Lorong di Kotaku,
Negeri Trans, dll. Dulu waktu SMA, aku sangat
menyukainya... aku tuntaskan semua koleksi NH Dini sampai puas.
Puas, dalam arti: senang dengan gaya bertuturnya yang
menceritakan segala kisah ttg. perang dalam kacamata seorang
(anak) perempuan. Lain sekali bila membandingkannya
dengan tulisan Hemingway, Camus, Mohtar Toha ttg.
perang.<br><br>Nah, besok ini (Jumat, 29 Sept 2k) di F. Sastra Univ.
INdonesia gd. 9 Auditorium, ada kesempatan untuk bertatap
muka dan berdiskusi bersama mulai dari jam 13.00
sampai selesai. <br><br>Yang ada waktu, yuk ikutan....

#10 From: amang1984
Date: Thu Sep 28, 2000 4:17 pm
Subject: Re: Mite Sisifus - Albert Camus
amang1984
Send Email Send Email
 
Ini perbincangan tadi siang dengan kawan-kawan di
sebuah meja makan. Lagi-lagi kita membahas Camus...
setelah lelah ikutan diskusi buku Saskia (Penghancuran
Gerakan Perempuan di Indonesia).<br><br>Obrolan terbagi
dua kubu, antara yang memandang Camus sebagai seorang
eksistensialis dan mereka yang memandang dia sebagai seorang
nihilis. Aku ada di kubu yang memandang dia seorang
eksistensialis. Dan "i hate to say this..." menurutku kaum
eksistensialis adalah kaum yang mudah berpuas diri.<br><br>amang

#9 From: erolore
Date: Thu Sep 28, 2000 8:46 am
Subject: Re: Mite Sisifus - Albert Camus
erolore
Send Email Send Email
 
By: suehadj<br>Date: 9/26/00 6:48 am
<br>.....<br>.....<br>&gt;kayaknya dia memang gak nihilist kok
camus...<br>&gt;pesimis iya...<br>&gt;nihilist sama dengan pesimist gak
sih?<br><br>optimist : "the glass is half full"<br>pesimist : "the
glass is half empty"<br>nihilist : "so
what?"<br><br>.......<br>.......<br>&gt;itulah asiiknya filsafat, kita bisa liat
macem-macem
orang dgn cara pandangnya sendiri-sendiri terhadap
dunia<br>&gt;tapi kenapa ya, kebanyakan sangat suram, pesimis,
fatalis... <br><br>"Can an ass be tragic? To perish under a
burden one can neither bear nor throw off? - The case of
the philosopher." (F. Nietzsche)

#8 From: amang1984
Date: Tue Sep 26, 2000 5:48 pm
Subject: Fasilitas yg disediakan klub
amang1984
Send Email Send Email
 
Kami baru saja menambahkan beberapa fasilitas
yang bisa dimanfaatkan anggota:<br><br>1. Album
foto:<br>a. Pengarang Idola: Pramudya A. Toer, M. Sobary
<br>b. Buku-buku baru<br><br>2. Link ke sejumlah sumber
buku:<br>a. <a href=http://www.k-1.com/Orwell/bio.htm
target=new>http://www.k-1.com/Orwell/bio.htm</a><br> - Sumber
Literatur ttg. George Orwell <br><br>b.
<a href=http://202.158.66.10/buku/indie/
target=new>http://202.158.66.10/buku/indie/</a><br> - Portal Buku di
Detik.com<br><br>c.
<a href=http://www.bibliomania.com target=new>http://www.bibliomania.com</a><br>
- Literatur Sastra Klasik <br><br>(lainnya
menyusul)<br><br>Mau ikutan nambahin atau punya usulan, jangan sungkan
posting atau menambahnya sendiri.<br><br>Thanks.

#7 From: amang1984
Date: Tue Sep 26, 2000 3:39 pm
Subject: Re: Animal Farm - George Orwell (Sinopsi
amang1984
Send Email Send Email
 
Orwell sosialis atau
tidak?<br>===========================<br><br>Meskipun ia tinggal di Inggris,
tidak ada catatan bahwa ia
anggota Socialist Worker Party (SWP). Dari
gagasan-gagasan yang ia tuangkan di dalam novelnya justru yang
kuat itu bukan kesan ia seorang sosialis, tetapi
pengkritik atas kebijakan-kebijakan Stalin (pemimpin Rusia
setelah Lenin). Kritik-kritik berikutnya yang ia tulis
dalam berbagai esainya memang ditujukan kepada para
penulis kaum kiri Eropa yang sloganistis. Tetapi apakah
hal itu cukup kuat untuk melegitimasi dirinya sebagai
seorang sosialis, saya rasa kok tidak.<br><br>Untuk
sementara posting saya tidak akan menjawab hal ini dulu...
mungkin ada yg mau memberi pendapat dulu?<br><br>Mang-Q

#6 From: suehadj
Date: Tue Sep 26, 2000 10:48 am
Subject: Re: Mite Sisifus - Albert Camus
suehadj
Send Email Send Email
 
gue udah pernah baca essay ini (thanks alot yg
udah minjemin), tapi bukunya sendiri belum.
kapan-kapan pinjem..<br><br>gue juga udah baca kumpulan
essaynya 'krisis kebebasan' (terima kasih lagi buat yg
udah baik banget, minjemin)...<br><br>kayaknya dia
memang gak nihilist kok camus...<br>pesimis
iya...<br>nihilist sama dengan pesimist gak sih?<br><br>baca
tulisannya: apalagi yg backgroundnya perang dunia, keliatan
banget pesimisnya<br>jaman itu kayaknya yg bikin dia
memandang hidup seperti itu...<br><br>itulah asiiknya
filsafat, kita bisa liat macem-macem orang dgn cara
pandangnya sendiri-sendiri terhadap dunia<br>tapi kenapa ya,
kebanyakan sangat suram, pesimis, fatalis...

#5 From: suehadj
Date: Tue Sep 26, 2000 10:21 am
Subject: Re: Animal Farm - George Orwell (Sinopsi
suehadj
Send Email Send Email
 
thanks mang, gue kayaknya gak perlu baca bukunya
ya...udah diceritain dan emang gak sempet<br>kalo gitu
vcdnya aja dulu deh gue pinjem...<br><br>orwell itu
socialist/bukan?<br>soalnya ceritanya penuh sindiran begitu

#4 From: amang1984
Date: Mon Sep 25, 2000 7:02 am
Subject: Mite Sisifus - Albert Camus
amang1984
Send Email Send Email
 
Potret Moral Seorang Pemberontak<br>Mite Sisifus:
Pergulatan dengan Absurditas<br>Albert Camus<br>Apsanti
(penerjemah)<br>Jakarta: PT Gramedia, 1999<br><br>"Kiri" adalah kebutuhan
tak tercegah. Itu kritik filsuf Jean Paul Sartre atas
sastrawan Albert Camus. Pada tahun 1952 hampir semua media
di Perancis menyoroti perdebatan antara Camus dan
Sartre soal komunisme seetelah Camus menerbitkan buku
L'homme Revolte setahun sebelumnya. Buku ini bisa
dikatakan memuat penolak Camus atas komunisme. Sikap Camus
itu oleh Sartre dikecam berada di luar
sejarah.<br><br>Pada waktu itu, marxisme seolah jadi spirit zaman.
Banyak intelektual yang menggebu menganut paham itu dan
lantas berubah jadi partisan. Tapi, Camus memandang
tawaran pembebasan marxisme semacam tawaran penyelamatan
semu. Camus seorang agnotis. Ia mengkritik konsep
gerakan kiri yang bagi dia tak banyak berbeda dengan
ziarah eskatologis kristiani: sama-sama menuntun manusia
ke pengharapan apokaliptik.<br><br>Terhadap
kekuasaan, sikap Camus -yang tak pernah jadi "neutral man"-
tidaklah diragukan. Saat Perancis diduduki oleh Jerman, ia
menerbitkan sebuah jurnal perlawanan, Combat. Sebagaimana
dapat kita baja terjemahan Inggrisnya yang berjudul
Night of Truth, Blood of Freedom, Letter to a German
Friend, artikel-artikelnyua itu pendek-pendek tetapi
menggugah. Ia juga mengecam rezim Franco di Spanyol, menolak
melakukan perjalanan ke Spanyol, dan keluar dari UNESCO
karena badan dunia itu mengakui rezim Franco. Dalam
pidato penerimaan Nobel Sastra 1957, ia menegaskan bahwa
sastrawan tidak hanya menulis, tetapi
"terlibat".<br><br>Seluruh aktivitasnya menentang pemerintahan totaliter itu
tidak berangkat dari ideologi politik atau iman
tertentu, tetapi berdasar suatu sikap moral "nekat"
tertentu. Bangunan moral itulah yang dapat kita baca dalam
Le Myte de Sysyphe (Mite Sisifus), yang pertama kali
terbit pada tahun 1942. Inilah buku kumpulan esai yang
mendasari pemikiran L'homme Revolte atau L'Etranger (1954)
dan La Peste (1956) -dua novel terbesar yang
membuatnya diganjar hadiah Nobel.<br><br>Dalam buku ini
terbentang argumentasi Camus mengapa dunia ini bagi dia
tanpa makna. Bagi Camus, sesuatu yang absurd terjadi
ketika pikiran manusia tak terbentung membutuhkan suatu
kejalasan sampai ke lubuk hati terdalamnya tapi justru
tidak mendapatkannya. Fakta kematian adalah fakta
absurditas terbesar. Karena itu, memahami kematian adalah
kesia-siaan. Kodrat manusia sesungguhnya mengalami penderitaan
absurd. Tapi, Camus tidak melakukan seperti Nietzsche
yang "membunuh Tuhan".<br><br>Sebagai gantinya, ia
menyerukan pemberontakan. Bagi Camus, tidak adanya hari esok
justru titik tolak kebebasan yang mendalam. Ia meminjam
kisah mitologi Yunani, Sisifus, yang menggelindingkan
batu ke puncak bukit yang tidak pernah ia capai.
Setiap kali ia hendak sampai puncak, batu itu terguling,
tapi kemudian ia mengulanginya lagi, demikian
seterusnya. Sisifus menyadari itu sebagai kesia-siaan, tetapi
dia terus berjuang.<br><br>Manusia, menurut Camus,
seperti Sisifus: harus pertama-tama mengerti
ketidakrasionalan dirinya. Kemudian, ketidakrasionalan itu harus
dijadikan titik tolak pemberontakan yang berani. Berani di
sini artinya berani berkonfrontasi dan bersikap
terhadap kegelapannya sendiri. Pandangan ini dapat dilihat
pada sikap tokoh-tokoh novelnya.<br><br>Terbitnya
terjemahan utuh Le Myte de Sysyphe ini membuat kita dapat
mencerna nada dasar pemikirannya yang sesungguhnya
optimis, tidak lagi nihilis seperti yang disangkakan
banyak esais. Timbulnya penafsiran Camus adalah seorang
nihilis dan pesimistis bisa jadi lantaran Camus
menganjurkan bunuh diri di beberapa bagian buku ini. Soal ini
harus dibaca hati-hati. Sebab, yang ia maksudkan dengan
bunuh diri bukanlah bunuh diri karena kekecewaan atau
keputusasaan yang baginya merupakan pelarian, melainkan bunuh
diri dalam arti prinsip gairah untuk mati yang sejajar
dengan gairah untuk hidup.

#3 From: amang1984
Date: Mon Sep 25, 2000 6:50 am
Subject: Animal Farm - George Orwell (Sinopsis 2)
amang1984
Send Email Send Email
 
Beberapa waktu kemudian, Pak John datang kembali
ke lahan pertanian bersama beberapa orang untuk
menduduki kembali Lahan Pertanian itu. Tapi usahanya
digagalkan oleh para binatang yang bertempur secara berani.
Snowball dan Boxer yang terluka menerima penghargaan
karena bertempur dengan gagah berani. Tapi Napoleon yang
tak bertempur sama sekali juga mendapat penghargaan.
Ini yang kemudian jadi sebab mengapa Snowball dan
Napoleon sering berantem. Ketika Snowball mengusulkan agar
dibangun sebuah kincir angin yang bisa menghasilkan
listrik dan meringankan beban kerja binatang lain,
Napoleon memanggil 9 anjing untuk menyerang Snowball.
Snowball akhirnya diusir keluar dari Lahan Pertanian.
Lalu, Napoleon menjelaskan bahwa Snowball itu
bekerjasama dengan Pak John dan juga ia tak berhak
mendapatkan medali penghargaan karena ia cuma pura-pura
bertempur melawan Pak John. <br><br>Tanpa Snowball,
binatang-binatang mulai membangun kincir angin. Tanpa henti mereka
bekerja, seiring itu persediaan makanan menyusut.
Sementara binatang lain kekurangan makanan, tapi babi-babi
makin gemuk saja. Kepada yang lain, mereka menjelaskan
bahwa mereka butuh makanan yang baik seperti susu dan
keju, karena mereka harus mengelola seluruh Lahan
Pertanian. Di kemudian hari, babi-babi kembali menjelaskan
ke binatang lain bahwa mereka harus berdagang dengan
Lahan Pertanian tetangga. Tentu saja, binatang lain
kecewa, karena setelah revolusi, ‘kan ada keputusan untuk
tidak berdagang dengan manusia. Namun, para babi
menyakinkan bahwa tidak ada keputusan seperti itu. Kalaupun
ada, itu cuma akal-akalan Snowball saja. Tak lama,
para babi pindah ke rumah Pak John. Para binatang
kembali protes, bukankah juga ada Perintah yang melarang
binatang tidur di kasur. Tapi setelah mereka pergi ke
pintu kandang, mereka terkejut karena isi perintah
sudah berubah menjadi, “Tak boleh ada binatang yang
tidur di kasur dengan selimut.” Tak cuma itu, ada juga
perintah lain yang berubah menjadi, “Tak boleh membunuh
sesama binatang tanpa alasan”, dan “Tak boleh ada
seekorpun yang minum minuman keras/alkohol secara
berlebihan.” <br><br>Lagi-lagi Pak John menyerang Lahan
Pertanian, dan kali ini sasarannya kincir angin. Akhirnya
kincir angin itu hancur lebur. Napoleon menuding itu
sabotase Snowball dan karenanya Snowball harus dihukum
mati. Akhirnya kincir dibangun lagi, tetapi para babi
mengurangi jatah makan. Boxer, pekerja paling setia,
akhirnya ambruk kecapekan. Ia dijual ke tukang jagal, tapi
Napoleon berbohong dengan mengatakan Boxer dibawa ke RS
dan mati di sana.<br><br>Tiga tahun kemudian, kincir
angin jadi. Selama itu pula Napoleon tergantung dengan
Lahan Pertanian tetangga. Suatu kali, Napoleon
mengundang pemilik lahan pertanian tetangga untuk merayakan
keberhasilan pertaniannya, sementara binatang lain bekerja
terlalu keras dengan makanan yang minim. Ketika perayaan
itu berlangsung, para binatang melihat dari jendela
rumah, dan mereka tercengang karena sulit membedakan
antara manusia dan Napoleon dkk.

#2 From: amang1984
Date: Mon Sep 25, 2000 6:48 am
Subject: Animal Farm - George Orwell (Sinopsis)
amang1984
Send Email Send Email
 
Animal Farm<br>George Orwell<br><br>Animal Farm
saya baca pertama kali tahun 1997. Itu artinya, 52
tahun setelah diterbitkan oleh Eric Blair, si empunya
nama George Orwell. Bagiku, semoga ini benar, Animal
Farm merupakan sindiran halus terhadap revolusi Rusia
dan Stalinisme yang tidak mampu membendung
Kapitalisme. Suatu kritik yang bagus untuk gerakan kiri dan
juga hantaman keras di pantat untuk kaum kapitalis.
Simak saja… Kalau mau pinjam boleh, hub saja
amang1984@...<br><br>Sinopsis<br>=========================================\
=====<br>Cerita bermula dari sebuah lahan pertanian milik Pak
John (Jones). Pak John itu seorang pemabuk, pemalas,
dan sering menelantarkan binatang-binatang di Lahan
Pertanian. Seringkali ia lupa memberi makan mereka, dan
lebih senang ke bar bersama teman-temannya untuk
minum-minum. Nah, pada suatu hari babi paling tua di Lahan
Pertanian itu, yang bernama Old Major (si Mayor Tua),
memanggil semua binatang untuk bertemu dalam sebuah rapat
rahasia. Ia menuturkan mimpinya tentang revolusi melawan
Pak John yang kejam. Revolusi itu akan membebaskan
binatang-binatang untuk makan apa yang mereka suka, tanpa harus
menunggu Pak John yang pemabuk itu. Sayang si Mayor Tua
itu mati, tetapi pidatonya yang menggebu-gebu memberi
binatang-binatang lain cara pandang baru, yakni membebaskan diri
dari penindasan manusia. Karena ingin mencapai
revolusi, maka mulailah mereka membagi tugas. Babi-babi,
sebagai binatang paling cerdas dibanding binatang lain,
mengatur binatang lain.<br><br>Selama persiapan revolusi
terhadap manusia, ada dua babi yang sangat menonjol
peranannya, yakni Napoleon dan Snowball. Napoleon itu besar,
bukan orator yang baik, sedangkan Snowball pintar
berorasi, punya banyak ide, dan sangat cerdas. Bersama satu
ekor babi lagi yang bernama Squealer, orator terhebat,
mereka merumuskan teori yang diberi nama
“Animalisme/Paham Kebinatangan”. Pemberontakan dimulai beberapa
bulan kemudian, ketika lagi-lagi Pak John mabuk berat,
dan lupa memberi makan para binatang. Mereka merusak
pintu kandang dan menyerbu rumah Pak John. Akhirnya Pak
John lari tunggang-langgang lari dari pertanian.
Setelah berhasil mengusir manusia, mereka merusak semua
alat-alat yang digunakan untuk memaksa mereka seperti
cambuk, rantai, dll Lalu, mereka merayakan kemenangan
dengan berpesta-pora. <br><br>Babi-babi kemudian menulis
7 Perintah di pintu Lahan Pertanian. Isinya adalah
sebagai berikut: 1. Siapapun yang berkaki dua itu musuh;
2. Siapapun yang berkaki empat atau memiliki sayap
itu teman; 3. Tidak boleh ada binatang yang memakai
baju; 4. Tidak boleh ada binatang yang tidur di kasur;
5. Tidak boleh ada binatang yang minum minuman
keras/alkohol; 6. Tidak boleh ada yang membunuh sesama
binatang.; 7. Semua binatang itu setara. <br><br>Para
binatang itu juga setuju bahwa tak seekor pun boleh masuk
ke rumah Pak John dan tak boleh ada yang berhubungan
dengan manusia. Perintah ini kemudian disederhanakan
jadi kalimat: “Si Kaki Empat itu baik, si Kaki Dua itu
jahat”.

#1 From: (Sender unknown)
Date: Fri Dec 18, 2009 11:50 pm
Subject: (No subject)
 
Welcome to the Yahoo! Message Board for Jakarta's Book Worms

Messages 1 - 30 of 528   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help