Search the web
Sign In
New User? Sign Up
islam_alternatif · DISKUSI ISLAMALTERNATIF
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want to share photos of your group with the world? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 11153 - 11182 of 11182   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#11182 From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...>
Date: Sun Nov 22, 2009 8:37 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
abdulrahmanriza@...
Send Email Send Email
 
Salam,

Dalam menjelaskan hal ini di buku Bersama Orang2 Benar (Liyakuuna Ma'as Shaadiqiin) Prof Tijani menjelaskan setelah bersyahadat adalah sunnah juga bersaksi dalam mengimani Malaikat itu ada, Hari Akhir itu ada, Kitab Allah benar. Logika ini tidak mendapat resistensi yang besar.

Yang jadi masalah kalau ditambahkan Imam Ali apalagi syahadah keempat mengenai Fatimah az-Zahra menjadi resistensi yang besar... tanya kenapa...

Riza


Assalamu'alaikum wr. wb

Mohon maaf, saya hanya orang awam di milist ini (yg dengan kata lain, pengetahuan agamanya masih sedikit sekali, bukan ustad maupun pelajar agama). Saya melihat diskusi mengenai azan ketiga ini kok terhenti setelah beberapa hari.

Saya takut diskusi ini lalu menghilang begitu saja tanpa adanya suatu kesimpulan yg jelas. Terus terang bagi saya yg orang awam, diskusi yg berhenti di tengah jalan, malah jadi membingungkan daripada yg menjadi tujuan sebenarnya, mencerahkan.

Saya pikir kalo ada orang2 yg sekelas dengan saya di milist ini ( kecuali kalo ternyata cuman saya saja yg awam disini, yg lainnya adalah ustad atau pelajar agama, kalo begitu yah nasib :-) ) juga setuju bahwa diskusi mengenai topik ini jangan sampai hilang begitu saja, dan kalo bisa secepatnya mencapai suatu kesimpulan.

Jadi saya mohon kepada ustad Saleh maupun ustad2 lainnya agar diskusi ini jangan putus di tengah jalan, namun agar diteruskan sampai mencapai kesimpulan yg terang benderang. Kalo memang tidak mau dilanjutkan diskusinya, mohon agar langsung saja diberikan penjelasan yg lengkap dan jelas, agar kami yg awam2 ini bisa mendapatkan pencerahan dan bukan sebaliknya, kebingungan.

Kecuali kalau memang milist ini hanya untuk orang2 yg sudah cukup dalam ilmu agamanya, yah berarti mungkin saya tidak cocok berada di milist ini :)

Terima kasih.
Wassalam

Apriyano Oscar


--- On Mon, 11/16/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@...> wrote:

From: saleh lapadi <saleh_lapadi@...>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Monday, November 16, 2009, 12:50 PM


Salam,

Bib Anis, apa yang antum dan Bung Arief sampaikan mengenai masalah tambahah itu benar. Antum berbicara pada tatanan teori bahwa tambahan itu tidak bermasalah bila sah. Sementara pendapat Bung Arief lebih mengarah pada aspek praksisnya. Di mana bila tolok ukurnya adalah sah saja, maka ibadah kita akan terus bertambah dan akhirnya pertambahan itu menjadi liar bila tidak diatur.

Saya, Antum dan siapa saja bakal kewalahan ketika kita menyaksikan ada orang yang dalam beribadah, menambahkan hal-hal lain hanya dengan alasan itu sah. Bila fenomena ini sudah menyebar, apa yang bisa kita lakukan untuk meluruskan masalah ini? Maksud saya, Antum perlu juga memikirkan dampaknya.

Sebenarnya ada satu cara menguji kebenaran teori kita dengan membenturkannya pada dampaknya. Bila ternyata dalam pengamalannya mengalami kesulitan bahkan bertentangan dengan tujuan semula, maka teori kita juga tidak dapat diterima. Dalam istilahnya disebut Naqdhul Gharad (penegasian tujuan).

Maksud saya kita juga harus memberikan hak bagi mereka yang punya kekhawatiran seperti ini.

Dengan demikian, kita tidak saja membicarakan aspek teori dari istilah bid'ah, tapi juga sudah masuk dalam kasus. Ini tentu saja sangat bernilai dalam membicarakan masalah syahadah ketiga dalam azan.

Oh iya, sebelum saya lupa, Bib Anis, saya pernah menyaksikan dialog Ayatollah Hassan Zadeh Amoli di televisi Iran. Dia berbicara lebih dari yang tengah kita diskusikan di sini. Mungkin agak asing tapi ternyata beliau punya keyakinan untuk menambahkan syahadah keempat dalam azan dan itu terkait dengan Sayyidah Fathimah Zahra as. Sejumlah dalil hadis dan mukasyafah disampaikannya.

Saat menyaksikan tayangan itu saya sangat terkejut sekali. Boleh dikata shock!!! Gejala apa ini?

Saya merasa kekhawatiran saya ini sama dengan Bung Arief.

Wassalam

Saleh Lapadi

NB.
Setelah ini saya akan mencoba menjelaskan agak luas mengenai masalah taqrir yang dikaitkan dengan masalah ini dan yang paling penting seperti apa prosesnya kita menerima ini sebagai dalil dan bagaimana juga berargumentasi dengan masalah ini. Semoga dengan demikian, kita mampu menyelesaikan kasus-kasus yang sama bila muncul.


From: Muhammad Anis <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, November 10, 2009 9:52:01 AM
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

Salam,

Antum mengatakan, Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi Tidak ada hadits Nabi yang melarang, akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan.

Saya rasa masalahnya bukan pada ada-tidaknya tambahan atau banyak-sedikitnya tambahan. Melainkan, masalahnya terletak pada apakah tambahan tersebut sah atau tidak.

Dengan mengacu pada uraian antum, saya berpendapat bahwa ketika kita tidak menjumpai hadis-hadis yang melarang praktik syahadah ketiga, sementara teks-teks agama lainnya (dengan dukungan akal dan pertimbangan maslahat) memberi indikasi tentang dibolehkannya praktik tersebut, maka bisa saja praktik tersebut dilakukan. Sebagai contoh, kita semua tahu bahwa Quran menegaskan wilayah Ali, hadis-hadis juga banyak sekali yang menegaskannya, Bila penegasan ini dikawinkan dengan kewajiban syiar, dan pertimbangan maslahat mendukung, maka ini bisa dijadikan indikasi untuk membolehkan praktik syahadah ketiga tersebut. Kecuali, bila ada hadis yang secara tegas melarang praktik tersebut.

Meskipun, kenyataannya terdapat hadis-hadis yang jelas sekali berisi pembolehan Nabi saw terhadap praktik syahadah ketiga dalam azan. Hadis-hadis tersebut pernah dikirimkan ke milis ini beberapa waktu yang lalu.

Namun demikian, meninjau sebuah praktik dari sudut pandang Quran dan akal tentu bukan pekerjaan mudah yang bisa dilakukan setiap orang. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi di bidang hukum fikih, yaitu orang yang telah menguasai metodologi istinbat hukum dan memenuhi syarat untuk melakukannya, yang populer disebut mujtahid atau marja.


Dengan demikian, dalam permasalahan hukum syahadat ketiga ini, sudah semestinya kita pertama sekali merujuk pada pandangan marja. Pada posting pertama, saya telah menyampaikan pandangan Syaikh Lutfullah Gulpaygani dan Sayid Ali Khamenei. Keduanya merupakan marja taklid, yang membolehkan praktik syahadat ketiga dalam azan, sebatas dilakukan dalam rangka syiar, tanpa disertai niat menjadikannya sebagai bagian azan yang disyariatkan. Wallahu Alam.

Wassalam,

Muh. Anis



--- On Mon, 11/9/09, Khairun Arief <husein_irun@ yahoo.com> wrote:

From: Khairun Arief <husein_irun@ yahoo.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 9, 2009, 9:26 PM

Ustad, pada awal mula, kita mendiskusikan mengenai azan ketiga, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi mengenai definisi Bid'ah. Kemudian, ustad Saleh Lapadi memeberikan penjelasan mengenai Taqrir yang berarti diamnya Nabi atas sebuah masalah. Kongklusi dari metodologi tersebut adalah, segala sesuatu yang didiamkan oleh Nabi, sebetulnya tidak bisa dikatakan sebagai Bid'ah. Logikanya, jika sebuah perkara memang dilarang, sudah tentu Nabi Muhammad SAWW tidak akan berdiam diri saja toh?? Sampai titik ini saya masih setuju..

Namun demikian, ketika kita mencoba mengaplikasikan metodologi ini dalam konteks ibadah, kita harusnya sudah memiliki bukti awal terlebih dahulu dong bahwa Nabi memang "Berdiam Diri" dalam sebuah persoalan sehingga kita bisa mengatakan bahwa benar nabi "Diam saat itu". Kita tidak patut mengatakan bahwa Nabi berdiam diri terhadap sebuah perkara ibadah yang betul-betul baru hanya karena kita mengatakan: "Tidak menemukan sebuah Hadits yang menceritakan bahwa Nabi melarangnya" . Karena masalahnya, bisa saja kita tidak akan menemukan Hadits Nabi yang melarang perkara tersebut, karena toh memang tidak ada orang yang melakukan hal tersebut dimasa Nabi. Masalahnya, saya belum menemukan sebuah indikasi yang meyakinkan bahwa Azan Ketiga itu sudah diaplikasikan dizaman nabi dan saat itu Nabi membiarkannya. .Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi "Tidak ada hadits Nabi yang melarang", akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan. Menurut saya, yang bijak adalah berasumsi bahwa Nabi Tidak mencontohkan. .Oleh karena itu, tidak perlu kita melakukan. Bila Allah dan rasul merasa perlu untuk memerintahkan sebuah ritus, pastilah sebuah hal akan diperintahkan. .Masalahnya, toh tidak ada perintah definitif demikian?

Dengan demikian, metodologi Taqrir itu, baru akan relevan bila dilakukan untuk perkara-perkara diluar Ibadah ataupun Hal-hal lain yang sudah definitif.. Secara tehnis, metodologi tersebut dapat kita eksplorasi dengan cara "Menabrakkan" kondisi sosial objektif masyarakat saat itu dengan Hadits-hadits sahih dan kemudian melihat semua itu dari sudut pandang Quran..

Dengan demikian ustad, Taqrir Nabi menyangkut wilayah ibadah..tidak bijak bila kita tempatkan dalam wilayah asumsi..

Nb: Ustad Anis, menurut saya, hadits itu adalah "Kabar".Kabar mengenai Sunnah Rasul . Namun demikian, Sunnah Rasul sendiri terdiri dari 1) Perkataan; 2) perbuatan; 3) Diamnya Nabi; 4) Sikap Mental Nabi; dalam menyikapi sebuah masalah yang semua itu dirujukkan beliau kepada Kitabullah. Masalahnya,ketika sebuah riwayat dibakukan dan dibukukan menjadi Hadits dalam sebuah kitab ataupun cerita orang, konteks-konteks sosial yang melatar belakanginya, asumsi-asumsi dibalik terjadinya dan sikap mental yang mengiringi sebuah kejadian tidak mutlak ( tapi bukan tidak mungkin ya..) ikut terbakukan dalam tulisan atau cerita. Itulah akhirnya, sebuah hadits jadinya hanyalah sebuah bahan mentah untuk kita membangun pemahaman mengenai perilaku nabi..Cara kita membangun pemahaman atas perilaku nabi itu, dapat dilakukan dengan menganalisis segala sesuatu dari sudut pandang Quran, dan merujuknya kepada para A'immah (Itulah relevansi hadits Tsaqalain). Namun demikian, ketika Nabi dan para A'immah juga tidak bersama kita saat ini, kita harus merujuk segala sesuatu terrmasuk hadits dari sudut pandang Quran dan Akal. Mekanisme akal dalam merujuk Hadits adalah dengan menganalisanya dari sudut pandang Kemungkinan saat itu dan situasi objektif konteks yang melatarbelakanginya yang relevan dengan semangat qurani itu sendiri. .Dengan demikian, hadits yang berkaitan dengan A'immah yang mengizinkan adanya azan ketiga, tentu saja jadi tidak masuk akal. Karena, bagaimana mungkin para A'immah akan menambahan sendiri ibadah yang tidak dicontohkan Nabi sementara kita menjadikannya sebagai tempat bertanya dan penjelas mengenai Quran dan penjelas mengenai sunnah rasul?? Arti penting para A'immah, menurut saya bukan karena mereka orang-orang yang membuat risalah baru setelah nabi, melainkan mereka sendiri adalah sunnah rasul yang hidup diantara manusia.Dengan demikian, gema para A'immah adalah Gema Rasul..bukan sinaran mereka sendiri.Oleh karena itu, bila ada sebuah hadits mengenai A'immah yang melakukan sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh seorangpun dizaman nabi melainkan hanya melalui asumsi, maka sudah seharusnya kita mengatakan bahwa Hadits tersebut tertolak..

"Sesungguhnya Allah itu tidak Tidur dan Lupa"

Wallahu a'lam..


From: maulachela <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, November 10, 2009 8:11:58 AM
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

Salam,

Supaya tidak salah pengertian, menurut antum apa definisi "hadis"? Karena, saya menangkap dari uraian antum, seolah ada dua entitas yang berbeda: hadis dan taqrir. Sementara, yang saya pahami, taqrir itu bagian dari hadis. Keif ustad?

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Bis Anis, saya tidak menafikan dari sisi pengakuan Ahli Sunnah akan taqrir, tapi dalam kenyataannya masalah ini hampir tidak banyak dibahas dan dijadikan salah satu sumber hukum setara dengan hadis dan perbuatan Nabi. Dalam Ushul Fiqih Syiah masalah ini dikaji secara serius dan tercermin dalam argumentasi- argumentas Fiqih.
>
> Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, bahwa sekilas kita akan beranggapan mengamalkan taqrir lebih mudah, karena dengan tidak ada dalil sudah cukup bagi kita untuk beramal atau menyebut satu perilaku atau apa saja sebagai Islam dan sesuai syariat Islam. Tapi pada tataran mengargumentasikann ya dibutuhkan kemampuan menguasai sejumlah kaidah dalam berargumentasi yang diajarkan dalam Ushul Fiqih dan memahami maksud dari ribuan hadis yang ada, jangan-jangan memberikan konotasi pelarangan terhadap satu perbuatan. Jadi sekalipun tampak sederhananya tidak ada hubungan dengan hadis dan perbuatan Nabi, tapi pada hakikatnya adalah pengertian sebaliknya dari hadis dan perilaku Nabi itu sendiri.
>
> Mengenai pernyataan kedua Antum, dalam pernyataan saya itu seharusnya dipahami ketika orang lain lebih mementingkan perkataan dan perbuatan Nabi, tapi melupakan taqrir, saya mencoba mengingatkan pentingnya taqrir yang dipahami Antum seakan-akan mengeluarkan taqrir dari Sunnah. Saya tebalkan karena Antum menyebut hadis yang jelas hanya berkaitan dengan perkataan dan tidak termasuk perbuatan apa lagi taqrir, sekadar meluruskan.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: maulachela <maulachela@ ...>
> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> Sent: Fri, November 6, 2009 11:09:39 AM
> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
>
>
> Salam,
>
> Sungguh penjelasan yang cerdas ustad.
>
> Tetapi sekadar catatan, pada kalimat antum "Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi", terkesan bahwa hanya Syiah yang memilikinya. Padahal, Sunni juga memasukkan taqrir dalam pengertian Sunnah Nabi saw.
>
> Selain itu, pada kalimat antum "Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis", seolah antum mengeluarkan taqrir dari bagian hadis. Padahal, setahu saya, hadis itu meliputi aqwal (perkataan), af'al (perbuatan), dan taqrir.
>
> Wallahu 'Alam
>
> Wassalam,
> Muh. Anis
>
> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >
> > Salam,
> >
> > Bung Reza, ada poin penting yang ingin saya katakan dengan mencoba mengetengahkan masalah taqrir Nabi.
> >
> > Mengapa? Karena dengan membicarakan masalah bid'ah dengan definisi "Sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw", saya menangkap pembahasan masalah bid'ah tidaknya syahadah ketiga dalam azan itu hanya menekankan pada perbuatan dan ucapan Rasulullah saw sebagai bagian dari Sunnah Nabi. Padahal, sebagaimana kita ketahui, Sunnah Nabi itu tidak terbatas pada keduanya, tapi juga mencakup taqrir.
> >
> > Patut diketahui, bila perbuatan dan ucapan Rasulullah itu kita artikan dimensi positif, sementara taqrir adalah dimensi negatif Sunnah, karena ia dikategorikan Sunnah ketika tidak bersikap.
> >
> > Bagi mereka yang menyebut syahadah ketiga dalam azan itu bid'ah karena melihatnya tidak disebutkan baik dalam perbuatan dan ucapan Nabi? Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan taqrir?
> >
> > Maksud saya, dengan teropong taqrir, apakah ada sikap Nabi, atau para Imam yang menolak syahadah ketiga dalam azan? Sehingga bukan saja masalah ini tidak disebutkan oleh Nabi dan Imam, tapi juga ada sikap menolak dari mereka.
> >
> > Sebenarnya, dengan memahami masalah ini lebih dalam, kita dapat meraih satu cara pandang umum dan bijaksana dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk agama atau tidak. Di sini kita akan menemukan seberapa sempit dan luas agama kita dalam menyikapi pelbagai hal yang terjadi saat ini.
> >
> > Saya pernah membahas masalah ini dalam salah satu tulisan saya, tapi sayangnya sudah tidak bisa ditemukan lagi dalam arsip situs ISLAT. Di sana ada pembahasan mengenai suatu perbuatan itu bagaimana disebut sebagai perbuatan agama dan berlandaskan syariat? Ini bahkan bisa menjadi landasan bagi dikotomi adanya ilmu Islam dan non-Islam, atau bahkan bisa menjadi salah satu referensi dalam upaya "Islamisasi Ilmu-Ilmu".
> >
> > Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi. Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis. Apa saja yang tidak disebut di dalamnya langsung kita definisikan bid'ah dan keluar dari agama. Kita membuat agama kita menjadi sempit. (Saya mencoba membahasnya dengan tetap mempertahankan alur pembahasan kita) Sebagian bahkan untuk keluar dari perangkap bid'ah yang disebut Nabi sebagai sesat, mencoba membaginya menjadi bid'ah sesat dan baik. Ini muncul dari kesalahan cara pandang terhadap masalah.
> >
> > Dalam Syiah menilai agama Islam ini lebih luas saat ingin menghukumi sesuatu itu termasuk Islam atau bukan. Dan hal ini dengan sederhana dilakukan dengan bertumpu pada taqrir yang jarang dibahas. Untuk itu saya coba berikan kaidahnya.
> >
> > Bila kita hanya mencukupkan diri dengan poin positif Sunnah Nabi, dalam istilah fiqih disebut "'Ilm Bil 'Adam" (kita mengetahui ketidakadaannya dalam Islam). Bila saya contohkan, dalam kasus syahadah ketiga dalam azan itu kita beramal dengan kaidah ini. Artinya, Kita punya pengetahuan bahwa tidak ada hadis atau perbuatan Nabi tentang hal ini. Dengan demikian, perbuatan ini menjadi haram, karena tidak ada ilmunya (dalilnya)
> >
> > Namun ada satu kaidah lain lagi dalam fiqih yang disebut "'Adamul 'Ilm" (tidak ada ilmu). Bila dicontohkan, kita tidak punya pengetahuan tentang masalah adanya pelarangan dari syariat, baik Al-Quran, Nabi maupun Imam (tidak ada dalil yang melarang). Dengan demikian, perbuatan mengucapkan azan menjadi boleh karena tidak ada larangan dari syariat.
> >
> > Sederhananya, yang pertama sisi positif bahwa kita punya ilmu tentang tidak adanya dalil syariat, sementara yang kedua sisi negatif bahwa kita tidak punya ilmu adanya dalil syariat yang melarang.
> >
> > Dengan penjelasan ringkas ini dan semoga tidak membingungkan, dampak praktis dari kaidah pertama, agama kita sempit dan pada gilirannya menciptakan dualisme agama dan non-agama, namun hal itu tidak terjadi pada kaidah kedua, bahkan memberikan keluasan dalam memahami agama.
> >
> > Kaidah kedua ini memberikan kita wawasan luas menjadikan kita lebih arif menilai satu perbuatan yang dilakukan orang lain. Lihat, bagaimana sebuah teori mampu memberikan cara pandang dan sikap kepada manusia.
> >
> > Maaf, bila saya sudah mulai keluar dari pembahasan.
> >
> > Dengan penjelasan ini, saya berharap diskusi ini dilanjutkan dengan tetap memperhatikan tema yang didiskusikan.
> >
> > Wassalam
> >
> > Saleh Lapadi
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...>
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Sent: Tue, November 3, 2009 6:32:12 PM
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >
> >
> > Ust Saleh,
> >
> > Mengacu pada ayat "Taatilah Allah, Rasul dan Uulil Amri diantara kamu" sudah jelas kata terakhir mengacu pada hadits 12 Khalifah Qurays yang sangat mutawatir dalam kutubun sittah pegangan Ahlu Sunnah.
> >
> > Dahulu Ust Saleh pernah mengutip 4 Naib pada masa sufara merupakan pembelajaran mengenai Marjaiyah yang kemudian pada masa keghaiban kubra menjadi Marjaiyah al-A'la sampai metamorfosisnya sekarang menjadi Wilayat al-Faqih.
> >
> > Singkat cerita, merujuk kepada 4 Naib pada masanya dan marja A'lam saat ini secara tidak langsung merupakan bentuk ketaatan kepada Uulil Amri yang berarti juga bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sebagaimana pesan Imam Mahdi AFS, "Mengenai permasalahan kalianrujuklah kepada yang meriwayatkan hadits-hadits kami"... juga "Kepada orang yang wara', berilmu dan meninggalkan hawa nafsunya maka wajiblah bagi orang awam untuk merujuk padanya"
> >
> > Demikianlah yang saya fahami mengenai pesan beliau AFS, "Mencari manfaat dariku ibarat mencari manfaat matahari ketika tertutup awan"
> >
> > Jika garis komandonya sudah jelas maka mudahlah agama ini bagi orang awam. Namun menjadi permasalahan jika ada yang bertanya, "Nenek moyang saya di kampung sampai sekarang mengadakan tahlilan, ratiban, tabuik husein yang merupakan tradisi Syi'ah... Apakah saya juga Syi'ah Ali .. ??
> >
> > Dapatkah dijelaskan bahwa Syi'ah2 zaman dahulu di Nusantara termasuk pembawa tari Saman di Aceh berafiliasi dengan Marjaiyah al-A'la atau terisolasi garis komandonya? Jika hal ini jelas maka dengan mudah menjawab isu2 bahwa ratiban dan tabuik huseyn tidak bid'ah karena jelas jalur komandonya.
> >
> > Salam,
> > Riza
> >
> >
> >
> > 2009/11/3 saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > >
> > >>
> > >Salam,
> > >
> > >Sampai di sini ketiba berbicara mengenai definisi bid'ah, tidak ada yang menyinggung sedikitpun mengenai taqrir Nabi. Sebagaimana diketahui, taqrir termasuk sunnah nabi yang bukan ucapan dan perbuatannya, tapi sikap diam nabi menyaksikan perbuatan dan amalan ibadah sahabat sebagai tanda setuju.
> > >
> > >Bila ini dikembangkan hingga kepada para imam, bagaimana korelasinya dengan masalah yang tengah kita bicarakan?
> > >
> > >Katakanlah di masa para imam juga hal yang seperti ini, mengapa kita mendekati masalah ini lewat taqrir?
> > >
> > >Bila bisa, lalu bagaimana penjelasannya?
> > >
> > >Menjawab pertanyaan-pertanya an ini bakal membuka sebuah wawasan yang dalam mengenai hukum Islam. Dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas, cara pandang kita tidak akan sempit, seperti apa yang dipikirkan Wahhabi
> > > dan siapa saja yang ingin melihat masalah secara lebih dalam.
> > >
> > >Kita lanjutkan diskusi kita...
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >Saleh Lapadi
> > >
> > >
> > >
> > >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: farah izadi <farah_izadi@ yahoo.com>
> > >
> > >To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >Sent: Sat, October 31, 2009 11:15:01 AM
> > >
> > >Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >
> > >
> > > >
> > >>Salam
> > >
> > >Sambil menyimak...
> > >
> > >Ada pertanyaan yg mungkin bisa menjadi bahan renungan: Apakah tolok ukur Bid'ah-Sunnah hanya prilaku Rasul saja, sehingga peran khalifah Arrasyidin al-Mahdiyiin (para imam suci Ahlul Bait) murni ikut prilaku Rasul dgn segala kondisi zamannya? Dalam arti, apakah setiap yang dilakukan Rasul adalah Sunnah dan apakah setiap yang tidak pernah dilakukan Rasul adalah Bid'ah? Sehingga kita sewaktu makan Soto berkuah umpamanya untuk mengikuti sunah Rasul harus menggunakan tiga jari (padahal di Arab zaman Rasul gk pernah ada Soto berkuah)...kapan selesainya? :D
> > >
> > >Apakah adanya 'dalil umum' (bukan khusus) menyinggung
> > > dan dapat diterapkan pada satu perbuatan mungkinkah ia bisa dijadikan 'pembenar' (dalil) akan kelegalan (masyru'iyat) sebuah perbuatan sehingga dia tidak dikategorikan Bid'ah?
> > >
> > >Saya harap kajian ini
> > > berlanjut terus oleh bapak-bapak itu.
> > >Krn kajian ini (syahadah ketiga dalam azan; bid'ah atau sunnah?) akan juga dapat menjawab ttg isu bid'ah Tahlil, Baca Maulud Nabi, Baca Ratib, Baca Manaqib, Shalat Terawih....dan beberapa amalan lainnya.
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >
> > >--- On Sat, 10/31/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:
> > >
> > >
> > >>From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>
> > >>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>Date: Saturday, October 31, 2009, 5:53 AM
> > >>
> > >>
> > >>>>
> > >>
> > >>
> > >> >>
> > >>>>Bid'ah itu "sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasul" atau "sesuatu yang bertentangan dengan Ma'shumin (termasuk a'immah as.)"? (sebagaimana definisi hadis dalam Ahlul Bait, kalau tidak salah, "ucapan dari Ma'shumin as.")
> > >>
> > >>Kalau bid'ah adalah definisi yang kedua di atas, dan terdapat hadis atau perintah dari para imam as. tentang syahadah ketiga dalam azan, maka tidak menjadi bid'ah (??)
> > >>
> > >>NB: Maaf ngelantur :)
> > >>
> > >>Dahulukan Islam di Atas Mazhab
> > >>
> > >>--- On Fri, 10/30/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>
> > >>
> > >>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> > >>>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Date: Friday, October 30, 2009, 12:19 PM
> > >>>
> > >>>
> > >>>>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>Salam,
> > >>>
> > >>>Sejauh ini saya melihat diskusi yang ada sangat menarik. Dari hanya sekadar pernyataan singkat Ejajufri yang menyebut masalah ini adalah bid'ah dan dikembangkan argumentasinya oleh Bung Arief membuat masalah ini sebenarnya mulai menajam. Dan terima kasih kepada moderator yang mengapresiasi usulan saya untuk mulai membahasnya dari bid'ah.
> > >>>
> > >>>Saya punya alasan untuk coba minggir dan membahas tentang defisini bid'ah terlebih dahulu, dikarenakan ini adalah awal bercabangnya masalah yang ingin kita bahas. Bila kita telah masuk lebih jauh ke pembahasan syahadah ketiga dalam azan dan ini tidak diselesaikan dahulu, walaupun secara singkat, akan membuat pembahasan kita nantinya akan terseok-seok.
> > >>>
> > >>>Untungnya bila kita dahulu menyelesaikan masalah bid'ah ini, bila memang benar syahadah
> > >>> ketiga dalam azan termasuk bi'dah, maka kita tidak perlu bersusah payah mengkaji masalah selanjutnya seperti yang dinukilkan Bung Reza dari fatwa Ayatullah Sistani. Namun bila kita sepakat akan definisi bid'ah dan tidak meyakini syahdah ketiga dalam azan merupakan contoh lain dari bid'ah, maka kita masih dapat melanjutkan pembahasan ini dengan menyimak alasan mereka yang menyetujui penambahan itu (tentu dengan syarat-syaratnya) dan mereka yang tidak menyetujui.
> > >>>
> > >>>Artinya, untuk tidak setuju memasukkan syahadah ketiga ini ke dalam azan tidak harus dengan berlandaskan dalil bid'ah, tapi apa? Mungkin itu yang sempat dilontarkan oleh Bung Ejajufri dengan ucapannya, "Mungkin tidak bid'ah karena memang tidak disyariatkan tapi bermasalah karena tidak dipraktikkan Nabi."
> > >>>
> > >>>Ok, sampai di sini apa yang telah kita miliki?
> > >>>
> > >>>Menurut saya kita punya dua kesepakatan (setidaknya dari pendapat yang sudah ada), pertama bid'ah definisinya adalah "Sesuatu
> > >>> yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw". Dan kedua, bid'ah itu sesat. Nah, sekarang yang tengah dibahas oleh Bung Arief dan Anis terkait masalah apakah syahadah ketiga dalam azan ini termasuk bid'ah atau tidak.
> > >>>
> > >>>Bung Arief meyakininya sebagai bid'ah dan Bung Anis mengakuinya sebagai tidak bid'ah. Ada yang lain?
> > >>>
> > >>>Wassalam
> > >>>
> > >>>Saleh Lapadi
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Sent: Wed, October 28, 2009 11:40:53 AM
> > >>>Subject: >>> [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>
> > >>>Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
> > >>>
> > >>>
> > >>>--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:
> > >>>
> > >>>
> > >>>>From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>>Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> > >>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>>>>Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>Assalamualaikum wr wb
> > >>>>
> > >>>>Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> > >>>>
> > >>>>Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> > >>>>
> > >>>>Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
> > >>>>
> > >>>>Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
> > >>>>
> > >>>>Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu.
> > >>>>
> > >>>>Wassalam wr wb
> > >>>>
> > >>>>Moderator
> > >>>>MT
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> > >>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>>>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> > >>>>>
> > >>>>>Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> > >>>>>
> > >>>>>Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> > >>>>>
> > >>>>>Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?
> > >>>>>
> > >>>>>Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun
> > >>>>> cukup lengkap dari Bib Anis.
> > >>>>>
> > >>>>>Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.
> > >>>>>
> > >>>>>Bagaimana?
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam
> > >>>>>
> > >>>>>Saleh Lapadi
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: maulachela <maulachela@ yahoo. com>
> > >>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> > >>>>>Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.
> > >>>>>
> > >>>>>Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> > >>>>>
> > >>>>>Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa
> > >>>>> Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.
> > >>>>>
> > >>>>>Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak
> > >>>>> boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:
> > >>>>>
> > >>>>>1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain
> > >>>>> Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> > >>>>>
> > >>>>>3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Wallahu A'lam.
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam,
> > >>>>>Muh. Anis
> > >>>>>
> > >>>>>--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Salam,
> > >>>>>>
> > >>>>>> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku
> > >>>>> saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
> > >>>>>>
> > >>>>>> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
> > >>>>>>
> > >>>>>> Wassalam
> > >>>>>>
> > >>>>>> Saleh Lapadi
> > >>>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>
> > >
> > >
> >
>







#11181 From: Apriyano Oscar <radiant2408@...>
Date: Sat Nov 21, 2009 3:11 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
radiant2408
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Assalaamu'alaykum,

Mohon maaf, saya hanya orang awam di milist ini (yg dengan kata lain, pengetahuan agamanya masih sedikit sekali, bukan ustad maupun pelajar agama). Saya melihat diskusi mengenai azan ketiga ini kok terhenti setelah beberapa hari.

Saya takut diskusi ini lalu menghilang begitu saja tanpa adanya suatu kesimpulan yg jelas. Terus terang bagi saya yg orang awam, diskusi yg berhenti di tengah jalan, malah jadi membingungkan daripada yg menjadi tujuan sebenarnya, mencerahkan.

Saya pikir kalo ada orang2 yg sekelas dengan saya di milist ini ( kecuali kalo ternyata cuman saya saja yg awam disini, yg lainnya adalah ustad atau pelajar agama, kalo begitu yah nasib :-) ) juga setuju bahwa diskusi mengenai topik ini jangan sampai hilang begitu saja, dan kalo bisa secepatnya mencapai suatu kesimpulan.

Jadi saya mohon kepada ustad Saleh maupun ustad2 lainnya agar diskusi ini jangan putus di tengah jalan, namun agar diteruskan sampai mencapai kesimpulan yg terang benderang. Kalo memang tidak mau dilanjutkan diskusinya, mohon agar langsung saja diberikan penjelasan yg lengkap dan jelas, agar kami yg awam2 ini bisa mendapatkan pencerahan dan bukan sebaliknya, kebingungan.

Kecuali kalau memang milist ini hanya untuk orang2 yg sudah cukup dalam ilmu agamanya, yah berarti mungkin saya tidak cocok berada di milist ini :)

Terima kasih.
Wassalam

Apriyano Oscar

--- On Mon, 11/16/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@...> wrote:

From: saleh lapadi <saleh_lapadi@...>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Monday, November 16, 2009, 12:50 PM

 

Salam,

Bib Anis, apa yang antum dan Bung Arief sampaikan mengenai masalah tambahah itu benar. Antum berbicara pada tatanan teori bahwa tambahan itu tidak bermasalah bila sah. Sementara pendapat Bung Arief lebih mengarah pada aspek praksisnya. Di mana bila tolok ukurnya adalah sah saja, maka ibadah kita akan terus bertambah dan akhirnya pertambahan itu menjadi liar bila tidak diatur.

Saya, Antum dan siapa saja bakal kewalahan ketika kita menyaksikan ada orang yang dalam beribadah, menambahkan hal-hal lain hanya dengan alasan itu sah. Bila fenomena ini sudah menyebar, apa yang bisa kita lakukan untuk meluruskan masalah ini? Maksud saya, Antum perlu juga memikirkan dampaknya.

Sebenarnya ada satu cara menguji kebenaran teori kita dengan membenturkannya pada dampaknya. Bila ternyata dalam pengamalannya mengalami kesulitan bahkan bertentangan dengan tujuan semula, maka teori kita juga tidak dapat diterima. Dalam istilahnya disebut Naqdhul Gharad (penegasian tujuan).

Maksud saya kita juga harus memberikan hak bagi mereka yang punya kekhawatiran seperti ini.

Dengan demikian, kita tidak saja membicarakan aspek teori dari istilah bid'ah, tapi juga sudah masuk dalam kasus. Ini tentu saja sangat bernilai dalam membicarakan masalah syahadah ketiga dalam azan.

Oh iya, sebelum saya lupa, Bib Anis, saya pernah menyaksikan dialog Ayatollah Hassan Zadeh Amoli di televisi Iran. Dia berbicara lebih dari yang tengah kita diskusikan di sini. Mungkin agak asing tapi ternyata beliau punya keyakinan untuk menambahkan syahadah keempat dalam azan dan itu terkait dengan Sayyidah Fathimah Zahra as. Sejumlah dalil hadis dan mukasyafah disampaikannya.

Saat menyaksikan tayangan itu saya sangat terkejut sekali. Boleh dikata shock!!! Gejala apa ini?

Saya merasa kekhawatiran saya ini sama dengan Bung Arief.

Wassalam

Saleh Lapadi

NB.
Setelah ini saya akan mencoba menjelaskan agak luas mengenai masalah taqrir yang dikaitkan dengan masalah ini dan yang paling penting seperti apa prosesnya kita menerima ini sebagai dalil dan bagaimana juga berargumentasi dengan masalah ini. Semoga dengan demikian, kita mampu menyelesaikan kasus-kasus yang sama bila muncul.


From: Muhammad Anis <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, November 10, 2009 9:52:01 AM
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

 

Salam,

Antum mengatakan, “Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi ‘Tidak ada hadits Nabi yang melarang’, akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan.”

 

Saya rasa masalahnya bukan pada ada-tidaknya “tambahan” atau banyak-sedikitnya “tambahan”. Melainkan, masalahnya terletak pada apakah “tambahan” tersebut sah atau tidak.

 

Dengan mengacu pada uraian antum, saya berpendapat bahwa ketika kita tidak menjumpai hadis-hadis yang melarang praktik syahadah ketiga, sementara teks-teks agama lainnya (dengan dukungan akal dan pertimbangan maslahat) memberi indikasi tentang dibolehkannya praktik tersebut, maka bisa saja praktik tersebut dilakukan. Sebagai contoh, kita semua tahu bahwa Quran menegaskan wilayah Ali, hadis-hadis juga banyak sekali yang menegaskannya,  Bila penegasan ini dikawinkan dengan kewajiban syiar, dan pertimbangan maslahat mendukung, maka ini bisa dijadikan indikasi untuk membolehkan praktik syahadah ketiga tersebut.  Kecuali, bila ada hadis yang secara tegas melarang praktik tersebut. 

 

Meskipun, kenyataannya terdapat hadis-hadis yang jelas sekali berisi pembolehan Nabi saw terhadap praktik syahadah ketiga dalam azan. Hadis-hadis tersebut pernah dikirimkan ke milis ini beberapa waktu yang lalu.

 

Namun demikian, meninjau sebuah praktik dari sudut pandang Quran dan akal tentu bukan pekerjaan mudah yang bisa dilakukan setiap orang. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi di bidang hukum fikih, yaitu orang yang telah menguasai metodologi istinbat hukum dan memenuhi syarat untuk melakukannya, yang populer disebut mujtahid atau marja’.


Dengan demikian, dalam permasalahan hukum syahadat ketiga ini, sudah semestinya kita pertama sekali merujuk pada pandangan marja’. Pada posting pertama, saya telah menyampaikan pandangan Syaikh Lutfullah Gulpaygani dan Sayid Ali Khamenei. Keduanya merupakan marja’ taklid, yang membolehkan praktik syahadat ketiga dalam azan, sebatas dilakukan dalam rangka syiar, tanpa disertai niat menjadikannya sebagai bagian azan yang disyariatkan. Wallahu A’lam.

 

Wassalam,

Muh. Anis



--- On Mon, 11/9/09, Khairun Arief <husein_irun@ yahoo.com> wrote:

From: Khairun Arief <husein_irun@ yahoo.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 9, 2009, 9:26 PM

 

Ustad, pada awal mula, kita mendiskusikan mengenai azan ketiga, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi mengenai definisi Bid'ah. Kemudian, ustad Saleh Lapadi memeberikan penjelasan mengenai Taqrir yang berarti diamnya Nabi atas sebuah masalah. Kongklusi dari metodologi tersebut adalah, segala sesuatu yang didiamkan oleh Nabi, sebetulnya tidak bisa dikatakan sebagai Bid'ah. Logikanya, jika sebuah perkara memang dilarang, sudah tentu Nabi Muhammad SAWW tidak akan berdiam diri saja toh?? Sampai titik ini saya  masih setuju..

Namun demikian, ketika kita mencoba mengaplikasikan metodologi ini dalam konteks ibadah, kita harusnya sudah memiliki bukti awal terlebih dahulu dong bahwa Nabi memang "Berdiam Diri" dalam sebuah persoalan sehingga kita bisa mengatakan bahwa benar nabi "Diam saat itu". Kita tidak patut mengatakan bahwa Nabi berdiam diri terhadap sebuah perkara ibadah yang betul-betul baru hanya karena kita mengatakan: "Tidak menemukan sebuah Hadits yang menceritakan bahwa Nabi melarangnya" .  Karena masalahnya, bisa saja kita tidak akan menemukan Hadits Nabi yang melarang perkara tersebut, karena toh memang tidak ada orang yang melakukan hal tersebut dimasa Nabi. Masalahnya, saya belum menemukan sebuah indikasi yang meyakinkan bahwa Azan Ketiga itu sudah diaplikasikan dizaman nabi  dan saat itu Nabi membiarkannya. .Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi "Tidak ada hadits Nabi yang melarang", akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan. Menurut saya, yang bijak adalah berasumsi bahwa Nabi Tidak mencontohkan. .Oleh karena itu, tidak perlu kita melakukan. Bila Allah dan rasul merasa perlu untuk memerintahkan sebuah ritus, pastilah sebuah hal akan diperintahkan. .Masalahnya, toh tidak ada perintah definitif demikian?

Dengan demikian, metodologi Taqrir itu, baru akan relevan bila dilakukan untuk perkara-perkara diluar Ibadah ataupun Hal-hal lain yang sudah definitif.. Secara tehnis, metodologi tersebut dapat kita eksplorasi dengan cara "Menabrakkan" kondisi sosial objektif masyarakat saat itu dengan Hadits-hadits sahih dan kemudian melihat semua itu dari sudut pandang Quran..

Dengan demikian ustad, Taqrir Nabi menyangkut wilayah ibadah..tidak bijak bila kita tempatkan dalam wilayah asumsi..

Nb: Ustad Anis, menurut saya, hadits itu adalah "Kabar".Kabar mengenai Sunnah Rasul . Namun demikian, Sunnah Rasul sendiri terdiri dari 1) Perkataan; 2) perbuatan;          3) Diamnya Nabi; 4) Sikap Mental Nabi; dalam menyikapi sebuah masalah yang semua itu dirujukkan beliau kepada Kitabullah.  Masalahnya,ketika sebuah riwayat dibakukan dan dibukukan menjadi Hadits dalam sebuah kitab ataupun cerita orang, konteks-konteks sosial yang melatar belakanginya, asumsi-asumsi dibalik terjadinya dan sikap mental yang mengiringi sebuah kejadian tidak mutlak ( tapi bukan tidak mungkin ya..) ikut terbakukan dalam tulisan atau cerita. Itulah akhirnya, sebuah hadits jadinya hanyalah sebuah bahan mentah untuk kita membangun pemahaman mengenai perilaku nabi..Cara kita membangun pemahaman atas perilaku nabi itu, dapat dilakukan dengan menganalisis segala sesuatu dari sudut pandang Quran, dan merujuknya kepada para A'immah (Itulah relevansi hadits Tsaqalain). Namun demikian, ketika Nabi dan para A'immah juga tidak bersama kita saat ini, kita harus merujuk segala sesuatu terrmasuk hadits dari sudut pandang Quran dan Akal. Mekanisme akal dalam merujuk Hadits adalah dengan menganalisanya dari sudut pandang Kemungkinan saat itu dan situasi objektif  konteks yang melatarbelakanginya yang relevan dengan semangat qurani itu sendiri. .Dengan demikian, hadits yang berkaitan dengan A'immah yang mengizinkan adanya azan ketiga, tentu saja jadi tidak masuk akal. Karena, bagaimana mungkin para A'immah akan menambahan sendiri ibadah yang tidak dicontohkan Nabi sementara kita menjadikannya sebagai tempat bertanya dan penjelas mengenai Quran dan penjelas mengenai sunnah rasul??  Arti penting para A'immah, menurut saya bukan karena mereka orang-orang yang  membuat risalah baru setelah nabi, melainkan mereka sendiri adalah sunnah rasul yang hidup diantara manusia.Dengan demikian, gema para A'immah adalah Gema Rasul..bukan sinaran mereka sendiri.Oleh karena itu, bila ada sebuah hadits mengenai A'immah yang melakukan sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh seorangpun dizaman nabi melainkan hanya melalui asumsi, maka sudah seharusnya kita mengatakan bahwa Hadits tersebut tertolak..

"Sesungguhnya Allah itu tidak Tidur dan Lupa"

Wallahu a'lam..


From: maulachela <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, November 10, 2009 8:11:58 AM
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

 

Salam,

Supaya tidak salah pengertian, menurut antum apa definisi "hadis"? Karena, saya menangkap dari uraian antum, seolah ada dua entitas yang berbeda: hadis dan taqrir. Sementara, yang saya pahami, taqrir itu bagian dari hadis. Keif ustad?

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Bis Anis, saya tidak menafikan dari sisi pengakuan Ahli Sunnah akan taqrir, tapi dalam kenyataannya masalah ini hampir tidak banyak dibahas dan dijadikan salah satu sumber hukum setara dengan hadis dan perbuatan Nabi. Dalam Ushul Fiqih Syiah masalah ini dikaji secara serius dan tercermin dalam argumentasi- argumentas Fiqih.
>
> Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, bahwa sekilas kita akan beranggapan mengamalkan taqrir lebih mudah, karena dengan tidak ada dalil sudah cukup bagi kita untuk beramal atau menyebut satu perilaku atau apa saja sebagai Islam dan sesuai syariat Islam. Tapi pada tataran mengargumentasikann ya dibutuhkan kemampuan menguasai sejumlah kaidah dalam berargumentasi yang diajarkan dalam Ushul Fiqih dan memahami maksud dari ribuan hadis yang ada, jangan-jangan memberikan konotasi pelarangan terhadap satu perbuatan. Jadi sekalipun tampak sederhananya tidak ada hubungan dengan hadis dan perbuatan Nabi, tapi pada hakikatnya adalah pengertian sebaliknya dari hadis dan perilaku Nabi itu sendiri.
>
> Mengenai pernyataan kedua Antum, dalam pernyataan saya itu seharusnya dipahami ketika orang lain lebih mementingkan perkataan dan perbuatan Nabi, tapi melupakan taqrir, saya mencoba mengingatkan pentingnya taqrir yang dipahami Antum seakan-akan mengeluarkan taqrir dari Sunnah. Saya tebalkan karena Antum menyebut hadis yang jelas hanya berkaitan dengan perkataan dan tidak termasuk perbuatan apa lagi taqrir, sekadar meluruskan.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: maulachela <maulachela@ ...>
> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> Sent: Fri, November 6, 2009 11:09:39 AM
> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
>
>
> Salam,
>
> Sungguh penjelasan yang cerdas ustad.
>
> Tetapi sekadar catatan, pada kalimat antum "Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi", terkesan bahwa hanya Syiah yang memilikinya. Padahal, Sunni juga memasukkan taqrir dalam pengertian Sunnah Nabi saw.
>
> Selain itu, pada kalimat antum "Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis", seolah antum mengeluarkan taqrir dari bagian hadis. Padahal, setahu saya, hadis itu meliputi aqwal (perkataan), af'al (perbuatan), dan taqrir.
>
> Wallahu 'Alam
>
> Wassalam,
> Muh. Anis
>
> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >
> > Salam,
> >
> > Bung Reza, ada poin penting yang ingin saya katakan dengan mencoba mengetengahkan masalah taqrir Nabi.
> >
> > Mengapa? Karena dengan membicarakan masalah bid'ah dengan definisi "Sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw", saya menangkap pembahasan masalah bid'ah tidaknya syahadah ketiga dalam azan itu hanya menekankan pada perbuatan dan ucapan Rasulullah saw sebagai bagian dari Sunnah Nabi. Padahal, sebagaimana kita ketahui, Sunnah Nabi itu tidak terbatas pada keduanya, tapi juga mencakup taqrir.
> >
> > Patut diketahui, bila perbuatan dan ucapan Rasulullah itu kita artikan dimensi positif, sementara taqrir adalah dimensi negatif Sunnah, karena ia dikategorikan Sunnah ketika tidak bersikap.
> >
> > Bagi mereka yang menyebut syahadah ketiga dalam azan itu bid'ah karena melihatnya tidak disebutkan baik dalam perbuatan dan ucapan Nabi? Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan taqrir?
> >
> > Maksud saya, dengan teropong taqrir, apakah ada sikap Nabi, atau para Imam yang menolak syahadah ketiga dalam azan? Sehingga bukan saja masalah ini tidak disebutkan oleh Nabi dan Imam, tapi juga ada sikap menolak dari mereka.
> >
> > Sebenarnya, dengan memahami masalah ini lebih dalam, kita dapat meraih satu cara pandang umum dan bijaksana dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk agama atau tidak. Di sini kita akan menemukan seberapa sempit dan luas agama kita dalam menyikapi pelbagai hal yang terjadi saat ini.
> >
> > Saya pernah membahas masalah ini dalam salah satu tulisan saya, tapi sayangnya sudah tidak bisa ditemukan lagi dalam arsip situs ISLAT. Di sana ada pembahasan mengenai suatu perbuatan itu bagaimana disebut sebagai perbuatan agama dan berlandaskan syariat? Ini bahkan bisa menjadi landasan bagi dikotomi adanya ilmu Islam dan non-Islam, atau bahkan bisa menjadi salah satu referensi dalam upaya "Islamisasi Ilmu-Ilmu".
> >
> > Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi. Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis. Apa saja yang tidak disebut di dalamnya langsung kita definisikan bid'ah dan keluar dari agama. Kita membuat agama kita menjadi sempit. (Saya mencoba membahasnya dengan tetap mempertahankan alur pembahasan kita) Sebagian bahkan untuk keluar dari perangkap bid'ah yang disebut Nabi sebagai sesat, mencoba membaginya menjadi bid'ah sesat dan baik. Ini muncul dari kesalahan cara pandang terhadap masalah.
> >
> > Dalam Syiah menilai agama Islam ini lebih luas saat ingin menghukumi sesuatu itu termasuk Islam atau bukan. Dan hal ini dengan sederhana dilakukan dengan bertumpu pada taqrir yang jarang dibahas. Untuk itu saya coba berikan kaidahnya.
> >
> > Bila kita hanya mencukupkan diri dengan poin positif Sunnah Nabi, dalam istilah fiqih disebut "'Ilm Bil 'Adam" (kita mengetahui ketidakadaannya dalam Islam). Bila saya contohkan, dalam kasus syahadah ketiga dalam azan itu kita beramal dengan kaidah ini. Artinya, Kita punya pengetahuan bahwa tidak ada hadis atau perbuatan Nabi tentang hal ini. Dengan demikian, perbuatan ini menjadi haram, karena tidak ada ilmunya (dalilnya)
> >
> > Namun ada satu kaidah lain lagi dalam fiqih yang disebut "'Adamul 'Ilm" (tidak ada ilmu). Bila dicontohkan, kita tidak punya pengetahuan tentang masalah adanya pelarangan dari syariat, baik Al-Quran, Nabi maupun Imam (tidak ada dalil yang melarang). Dengan demikian, perbuatan mengucapkan azan menjadi boleh karena tidak ada larangan dari syariat.
> >
> > Sederhananya, yang pertama sisi positif bahwa kita punya ilmu tentang tidak adanya dalil syariat, sementara yang kedua sisi negatif bahwa kita tidak punya ilmu adanya dalil syariat yang melarang.
> >
> > Dengan penjelasan ringkas ini dan semoga tidak membingungkan, dampak praktis dari kaidah pertama, agama kita sempit dan pada gilirannya menciptakan dualisme agama dan non-agama, namun hal itu tidak terjadi pada kaidah kedua, bahkan memberikan keluasan dalam memahami agama.
> >
> > Kaidah kedua ini memberikan kita wawasan luas menjadikan kita lebih arif menilai satu perbuatan yang dilakukan orang lain. Lihat, bagaimana sebuah teori mampu memberikan cara pandang dan sikap kepada manusia.
> >
> > Maaf, bila saya sudah mulai keluar dari pembahasan.
> >
> > Dengan penjelasan ini, saya berharap diskusi ini dilanjutkan dengan tetap memperhatikan tema yang didiskusikan.
> >
> > Wassalam
> >
> > Saleh Lapadi
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...>
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Sent: Tue, November 3, 2009 6:32:12 PM
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >
> >
> > Ust Saleh,
> >
> > Mengacu pada ayat "Taatilah Allah, Rasul dan Uulil Amri diantara kamu" sudah jelas kata terakhir mengacu pada hadits 12 Khalifah Qurays yang sangat mutawatir dalam kutubun sittah pegangan Ahlu Sunnah.
> >
> > Dahulu Ust Saleh pernah mengutip 4 Naib pada masa sufara merupakan pembelajaran mengenai Marjaiyah yang kemudian pada masa keghaiban kubra menjadi Marjaiyah al-A'la sampai metamorfosisnya sekarang menjadi Wilayat al-Faqih.
> >
> > Singkat cerita, merujuk kepada 4 Naib pada masanya dan marja A'lam saat ini secara tidak langsung merupakan bentuk ketaatan kepada Uulil Amri yang berarti juga bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sebagaimana pesan Imam Mahdi AFS, "Mengenai permasalahan kalianrujuklah kepada yang meriwayatkan hadits-hadits kami"... juga "Kepada orang yang wara', berilmu dan meninggalkan hawa nafsunya maka wajiblah bagi orang awam untuk merujuk padanya"
> >
> > Demikianlah yang saya fahami mengenai pesan beliau AFS, "Mencari manfaat dariku ibarat mencari manfaat matahari ketika tertutup awan"
> >
> > Jika garis komandonya sudah jelas maka mudahlah agama ini bagi orang awam. Namun menjadi permasalahan jika ada yang bertanya, "Nenek moyang saya di kampung sampai sekarang mengadakan tahlilan, ratiban, tabuik husein yang merupakan tradisi Syi'ah... Apakah saya juga Syi'ah Ali .. ??
> >
> > Dapatkah dijelaskan bahwa Syi'ah2 zaman dahulu di Nusantara termasuk pembawa tari Saman di Aceh berafiliasi dengan Marjaiyah al-A'la atau terisolasi garis komandonya? Jika hal ini jelas maka dengan mudah menjawab isu2 bahwa ratiban dan tabuik huseyn tidak bid'ah karena jelas jalur komandonya.
> >
> > Salam,
> > Riza
> >
> >
> >
> > 2009/11/3 saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > >
> > >>
> > >Salam,
> > >
> > >Sampai di sini ketiba berbicara mengenai definisi bid'ah, tidak ada yang menyinggung sedikitpun mengenai taqrir Nabi. Sebagaimana diketahui, taqrir termasuk sunnah nabi yang bukan ucapan dan perbuatannya, tapi sikap diam nabi menyaksikan perbuatan dan amalan ibadah sahabat sebagai tanda setuju.
> > >
> > >Bila ini dikembangkan hingga kepada para imam, bagaimana korelasinya dengan masalah yang tengah kita bicarakan?
> > >
> > >Katakanlah di masa para imam juga hal yang seperti ini, mengapa kita mendekati masalah ini lewat taqrir?
> > >
> > >Bila bisa, lalu bagaimana penjelasannya?
> > >
> > >Menjawab pertanyaan-pertanya an ini bakal membuka sebuah wawasan yang dalam mengenai hukum Islam. Dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas, cara pandang kita tidak akan sempit, seperti apa yang dipikirkan Wahhabi
> > > dan siapa saja yang ingin melihat masalah secara lebih dalam.
> > >
> > >Kita lanjutkan diskusi kita...
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >Saleh Lapadi
> > >
> > >
> > >
> > >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: farah izadi <farah_izadi@ yahoo.com>
> > >
> > >To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >Sent: Sat, October 31, 2009 11:15:01 AM
> > >
> > >Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >
> > >
> > > >
> > >>Salam
> > >
> > >Sambil menyimak...
> > >
> > >Ada pertanyaan yg mungkin bisa menjadi bahan renungan: Apakah tolok ukur Bid'ah-Sunnah hanya prilaku Rasul saja, sehingga peran khalifah Arrasyidin al-Mahdiyiin (para imam suci Ahlul Bait) murni ikut prilaku Rasul dgn segala kondisi zamannya? Dalam arti, apakah setiap yang dilakukan Rasul adalah Sunnah dan apakah setiap yang tidak pernah dilakukan Rasul adalah Bid'ah? Sehingga kita sewaktu makan Soto berkuah umpamanya untuk mengikuti sunah Rasul harus menggunakan tiga jari (padahal di Arab zaman Rasul gk pernah ada Soto berkuah)...kapan selesainya? :D
> > >
> > >Apakah adanya 'dalil umum' (bukan khusus) menyinggung
> > > dan dapat diterapkan pada satu perbuatan mungkinkah ia bisa dijadikan 'pembenar' (dalil) akan kelegalan (masyru'iyat) sebuah perbuatan sehingga dia tidak dikategorikan Bid'ah?
> > >
> > >Saya harap kajian ini
> > > berlanjut terus oleh bapak-bapak itu.
> > >Krn kajian ini (syahadah ketiga dalam azan; bid'ah atau sunnah?) akan juga dapat menjawab ttg isu bid'ah Tahlil, Baca Maulud Nabi, Baca Ratib, Baca Manaqib, Shalat Terawih....dan beberapa amalan lainnya.
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >
> > >--- On Sat, 10/31/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:
> > >
> > >
> > >>From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>
> > >>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>Date: Saturday, October 31, 2009, 5:53 AM
> > >>
> > >>
> > >>>>
> > >>
> > >>
> > >> >>
> > >>>>Bid'ah itu "sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasul" atau "sesuatu yang bertentangan dengan Ma'shumin (termasuk a'immah as.)"? (sebagaimana definisi hadis dalam Ahlul Bait, kalau tidak salah, "ucapan dari Ma'shumin as.")
> > >>
> > >>Kalau bid'ah adalah definisi yang kedua di atas, dan terdapat hadis atau perintah dari para imam as. tentang syahadah ketiga dalam azan, maka tidak menjadi bid'ah (??)
> > >>
> > >>NB: Maaf ngelantur :)
> > >>
> > >>Dahulukan Islam di Atas Mazhab
> > >>
> > >>--- On Fri, 10/30/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>
> > >>
> > >>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> > >>>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Date: Friday, October 30, 2009, 12:19 PM
> > >>>
> > >>>
> > >>>>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>Salam,
> > >>>
> > >>>Sejauh ini saya melihat diskusi yang ada sangat menarik. Dari hanya sekadar pernyataan singkat Ejajufri yang menyebut masalah ini adalah bid'ah dan dikembangkan argumentasinya oleh Bung Arief membuat masalah ini sebenarnya mulai menajam. Dan terima kasih kepada moderator yang mengapresiasi usulan saya untuk mulai membahasnya dari bid'ah.
> > >>>
> > >>>Saya punya alasan untuk coba minggir dan membahas tentang defisini bid'ah terlebih dahulu, dikarenakan ini adalah awal bercabangnya masalah yang ingin kita bahas. Bila kita telah masuk lebih jauh ke pembahasan syahadah ketiga dalam azan dan ini tidak diselesaikan dahulu, walaupun secara singkat, akan membuat pembahasan kita nantinya akan terseok-seok.
> > >>>
> > >>>Untungnya bila kita dahulu menyelesaikan masalah bid'ah ini, bila memang benar syahadah
> > >>> ketiga dalam azan termasuk bi'dah, maka kita tidak perlu bersusah payah mengkaji masalah selanjutnya seperti yang dinukilkan Bung Reza dari fatwa Ayatullah Sistani. Namun bila kita sepakat akan definisi bid'ah dan tidak meyakini syahdah ketiga dalam azan merupakan contoh lain dari bid'ah, maka kita masih dapat melanjutkan pembahasan ini dengan menyimak alasan mereka yang menyetujui penambahan itu (tentu dengan syarat-syaratnya) dan mereka yang tidak menyetujui.
> > >>>
> > >>>Artinya, untuk tidak setuju memasukkan syahadah ketiga ini ke dalam azan tidak harus dengan berlandaskan dalil bid'ah, tapi apa? Mungkin itu yang sempat dilontarkan oleh Bung Ejajufri dengan ucapannya, "Mungkin tidak bid'ah karena memang tidak disyariatkan tapi bermasalah karena tidak dipraktikkan Nabi."
> > >>>
> > >>>Ok, sampai di sini apa yang telah kita miliki?
> > >>>
> > >>>Menurut saya kita punya dua kesepakatan (setidaknya dari pendapat yang sudah ada), pertama bid'ah definisinya adalah "Sesuatu
> > >>> yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw". Dan kedua, bid'ah itu sesat. Nah, sekarang yang tengah dibahas oleh Bung Arief dan Anis terkait masalah apakah syahadah ketiga dalam azan ini termasuk bid'ah atau tidak.
> > >>>
> > >>>Bung Arief meyakininya sebagai bid'ah dan Bung Anis mengakuinya sebagai tidak bid'ah. Ada yang lain?
> > >>>
> > >>>Wassalam
> > >>>
> > >>>Saleh Lapadi
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Sent: Wed, October 28, 2009 11:40:53 AM
> > >>>Subject: >>> [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>
> > >>>Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
> > >>>
> > >>>
> > >>>--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:
> > >>>
> > >>>
> > >>>>From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>>Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> > >>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>>>>Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>Assalamualaikum wr wb
> > >>>>
> > >>>>Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> > >>>>
> > >>>>Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> > >>>>
> > >>>>Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
> > >>>>
> > >>>>Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
> > >>>>
> > >>>>Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu.
> > >>>>
> > >>>>Wassalam wr wb
> > >>>>
> > >>>>Moderator
> > >>>>MT
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> > >>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>>>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> > >>>>>
> > >>>>>Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> > >>>>>
> > >>>>>Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> > >>>>>
> > >>>>>Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?
> > >>>>>
> > >>>>>Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun
> > >>>>> cukup lengkap dari Bib Anis.
> > >>>>>
> > >>>>>Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.
> > >>>>>
> > >>>>>Bagaimana?
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam
> > >>>>>
> > >>>>>Saleh Lapadi
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: maulachela <maulachela@ yahoo. com>
> > >>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> > >>>>>Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.
> > >>>>>
> > >>>>>Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> > >>>>>
> > >>>>>Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa
> > >>>>> Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.
> > >>>>>
> > >>>>>Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak
> > >>>>> boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:
> > >>>>>
> > >>>>>1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain
> > >>>>> Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> > >>>>>
> > >>>>>3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Wallahu A'lam.
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam,
> > >>>>>Muh. Anis
> > >>>>>
> > >>>>>--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Salam,
> > >>>>>>
> > >>>>>> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku
> > >>>>> saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
> > >>>>>>
> > >>>>>> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
> > >>>>>>
> > >>>>>> Wassalam
> > >>>>>>
> > >>>>>> Saleh Lapadi
> > >>>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>
> > >
> > >
> >
>






#11180 From: Ardi Nugraha <nugraha.ardi@...>
Date: Fri Nov 20, 2009 4:53 pm
Subject: Daging sembelihan; Halal dan kosher?
ynugraha
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Sebentar lagi kita akan merayakan Idul Adha. Hewan Qurban-pun sudah
banyak bermunculan untuk dijajakan.

Berkaitan dengan hewan kurban ini, selain tata cara menyembelih, apakah
ada sunnah yang mengajarkan bagaimana daging sembelihan itu mesti
diperlakukan?

Sebagai perbandingan, "saudara kita" umat Yahudi yang juga diharamkan
mengkonsumsi darah, mengajarkan agar daging yang sudah disembelih
dilumuri dulu dengan garam yang kasar; mereka menyebutnya kosher salt.
Katanya garam yang kasar ini berfaedah untuk mengeluarkan sebanyak
mungkin kandungan darah yang masih tersisa di dalam potongan daging.
Coba lihat:
http://kitchensavvy.typepad.com/journal/2007/02/what_makes_salt.html dan
http://ask.yahoo.com/20030310.html

Salam
Ardi

#11179 From: Ibnu Ardhi <ibnu_ardhi@...>
Date: Fri Nov 20, 2009 1:34 am
Subject: Fakta di Balik Kriminalisasi KPK dan Keterlibatan SBY
ibnu_ardhi
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Bila hal ini benar, akankah berujung pada "people power" seperti tahun 1998?
 
Ibnu Ardhi
 
Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY
By dreweight
Oleh : Rina Dewreight
Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.
Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.
 Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.
Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.
Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.
Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.
Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk “melenyapkan” Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].
Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk “menghabisi Antasari “ adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.
Nyatanya, tidak semua wartawan itu “hitam”, namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.
Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan “alat” untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.
Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.
Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.
Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.
Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.
Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.
Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus “dipaksa KPK”. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan “terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.
Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.
Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.
Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.
Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.
Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.
Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).
Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.
Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

#11178 From: Ahsa <ahmadsahidin@...>
Date: Thu Nov 19, 2009 2:41 am
Subject: resensi novel Galaksi Kinanthi: Menakar Cinta, Menembus Cita
ahmadsahidin...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
TASARO GK dengan suara yang datar mengatakan, novel karyanya sampai November 2009 ini sudah dicetak sebanyak tiga kali. Ketika berkunjung ke kantor redaksi Seputar Indonesia (SI) di suatu sore dia pun langsung menyodorkan novel kebanggaannya, Galaksi Kinanthi. Bukunya cukup tebal berisi sekitar 432 halaman dan sampul depan bergambar sesosok perempuan di atas kapal menatap purnama dengan latar belakang patung liberty dan gedung-gedung bertingkat.

Ketika dibalik, ternyata sampulnya memiliki dua sisi berbeda dan terlipat apik. Di sisi dalam ada sosok lelaki yang berdiri di atas geladak kapal. Letaknya tak jauh dari sosok perempuan pada sampul muda. Di sisi lain, tergambar seorang lelaki berbaring di padang rumput sedang memandang purnama yang sama. Ide yang unik dan nyentrik.

Beberapa nama kondang penulis, seniman, dan sutradara tanah air pun menghiasi sampul depan dan belakang. Mulai Dewi “Dee” Lestari sampai Helvy Tiana Rosa, dari Gola Gong hingga Imam Tantowi, memberikan sanjungan untuk Galaksi Kinanthi. Saat melangkah ke daftar isi, saya mendapatkan judul-judul yang tak biasa namun sederhana.

Bertengger di daftar pertama Virgo (Sang Perawan), berturut-turut ada Cancer (Kepiting), Leo (Singa), Lyra (Dawai). Ada Crux (Layang-layang), Pavo (Merak), Pengasus (Kuda Terbang), Ara (Altar), dan terakhir Perseus (Pahlawan). Semua ada 16 judul dengan penamaan yang unik mengambil kata-kata dalam mitologi Yunani.

Sepintas, setelah melihat penampilan luar yang menarik, cukup membetot keinginan saya untuk memulai mengarungi lembar-lembar Galaksi Kinanthi. “Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta”, begitu membaca kalimat pertama yang tersaji, saya menebak ini novel tentang cinta atau seseorang yang mempertanyakan cinta.

Tak terlalu meleset, sebab selanjutnya saya seperti dihamburi kalimat puitis bercita rasa futuristik dan imajinasi yang mengalaksi. “Berkasih mesra dengan konstelasi Crux. Sejari telunjuk dari rasi bintang Centaurus dan Musca…Di sana hidup para hati yang terjebak dalam ruang tunggu tanpa tepi waktu”.

Pada bagian pertama kita dipertemukan dengan tokoh utama yang bernama Prof Kinanti Hope. Perempuan yang matang berusia sekitar 27-28 tahun, cerdas, cantik, berasal dari Indonesia. Dia begitu serius berdiskusi dengan Zhaki, lelaki modern, tampan, seorang editor penerbitan sukses di New York, berasal dari Tibet..

Pada bagian kedua, kita ditarik dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Gunung Kidul, Yogyakarta, yang masih tradisional. Di sini bertemu dengan Kinanti kecil yang menggendong adiknya menemani Ajuj, anak lelaki berusia 12 tahun, berburu kepiting. Seperti anak desa kebanyakan, Ajuj kulitnya kecokelatan, baik hati, dan senang mendendangkan Kinanthi.

Bab selanjutnya, mulai mengalir keterikatan Kinanthi dan Ajuj, sampai konflik yang pelik khas masyarakat pedesaan yang miskin, lugu, namun tetap menyimpan cita-cita. Kita disuguhkan kisah ‘pengembaraan’ Kinanthi untuk mengangkat harkat dan derajat keluarganya di desa yang miskin dan susah. Perjalanan dari Gunung Kidul, ke Bandung, Jakarta, Arab Saudi, Kuwait, sampai akhirnya mengantar Kinanthi ke Amerika Serikat.

Penderitaan, kepedihan, dan nestapa yang dialami Kinanthi menjelma menjadi tempaan dirinya menjadi seorang perempuan cerdas, cantik, dan mapan. Sampai akhirnya dia begitu ingin kembali ke desanya dan berusaha menemukan cinta sejatinya yang mulai bersemai sejak kecil.

Meskipun Galaksi Kinanthi merupakan karya fiksi, di dalamnya kita disuguhkan kisah yang penuh petualangan dan penuh ‘petuah’ tentang perjuangan mewujudkan cinta dan cita-cita. Bukan sekadar menegaskan bahwa cinta dan cita-cita harus diperjuangkan, melainkan bagaimana kita menakar cinta sejati dan menembus cita-cita.

Memang saya tak sampai menitikan air mata mengikuti kisah Kinanthi, gadis kecil yang lemah ini dijual keluarganya, disiksa bahkan diperkosa ketika menjadi TKW, sampai akhirnya menjadi profesor dan penulis hebat. Namun, ketika keangkuhannya hatinya runtuh oleh cinta yang sederhana, saya harus mengakui hati saya ikut meleleh ketika membaca novel ini.

Jadi, tak heran bila novel ini sudah cetak tiga kali dan mendapat pujian para penulis, seniman, dan tokoh kondang. Saya pikir, Anda pun jangan sampai melewatkan novel ini untuk menemukan semangat dalam memperjuangan cinta dan cita-cita. 

Judul Buku : Galaksi Kinanthi
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : Salamadani
Tebal : 432 Halaman
Terbit : 2009

 (Wasis Wibowo/http://resensibukubaru.com)





>>>www.ahmadsahidin.wordpress.com<<<


Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!


Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!

#11177 From: Ahsa <ahmadsahidin@...>
Date: Tue Nov 17, 2009 2:51 am
Subject: Cinta Pengikut Yesus kepada Muhammad
ahmadsahidin...
Offline Offline
Send Email Send Email
 

(Testimoni untuk Fahd Djibran, Tasaro GK, dan Sang Penggenggam Hujan: Sebuah Novel tentang Muhammad)

Setiap manusia bertanggung jawab pada segala hal yang dipahaminya dalam level teori; cinta dan hal beriman kepada Tuhan. Setiap hari pikiran manusia menumpuk berbagai konsep tentang cinta dan Tuhan. Kita tak pernah lelah menganalisa kejadian demi kejadian yang kita alami, menjadi hakim atasnya yang dengan sesuka hati memutuskan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang seharusnya terjadi dan mana yang tidak perlu terjadi. Cinta dan Tuhan pun kemudian menjadi sesuatu yang berbeda dalam setiap kepala. Keduanya memang tak perlu sama. Saya punya konsep dan teori sendiri yang mungkin berbeda dengan yang anda miliki, demikian sebaliknya.

Ribuan bahkan mungkin jutaan buku sudah dan sepertinya tetap akan ditulis sebagai dedikasi untuk cinta dan Tuhan. Hingga saat ini, bahkan kelak jika ramalan Nostradamus tentang kiamat 2012 terbukti benar, kedua hal itu sepertinya tetap akan menjadi sesuatu yang tidak bisa digeneralisasi. Sesuatu yang tidak bisa dikalimatkan dalam satu konfigurasi kata-kata absolut yang disepakati bersama oleh semua kepala yang pernah merumuskannya.

Saya seorang Kristen; pengikut Yesus yang mengimani Dia sebagai manusia dengan citra Tuhan seutuhnya. Butuh semua keberanian dan ketulusan hati yang saya punya untuk menuliskan kalimat itu. Beberapa tahun belakangan bahkan hingga detik ini, saya masih hidup dalam pergumulan dengan itu. Mengimani Yesus sebagai inkarnasi Tuhan. Tak jarang saya bahkan mengingkari dan menafikanNya sementara tanpa tak kenal malu saya selalu mengatakan ‘Kristen’ ketika ada yang menanyakan agama yang saya anut.

Ketika mendengar Islam, tahukah anda apa yang muncul di kepala saya? Dengan segenap kejujuran saya mengatakan bahwa ‘poligami’, ‘terorisme’, ‘puasa yang dipamer-pamerkan’, ‘jihad’, dan ‘azan yang mengganggu tidur siang’ adalah imej yang selalu saya kaitkan dengan Islam. Sebuah agama yang menganggap kami, orang Kristen, sebagai kaum kafir calon penghuni neraka. Ini membuat saya agak takut bergaul dengan kaum Muslimin. Namun, saya yakin ada yang salah dalam pemikiran saya. Saya mengamini bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, namun saya harus jujur mengatakan bahwa Islam yang saya tahu tidak seperti itu.

Beberapa bulan yang lalu, saya mendatangi seorang Muslim di Yogyakarta.. Saya mengenal pemikiran-pemikirannya lewat sebuah blog. Dengan sedikit nekat, saya menawarkan untuk janjian bertemu. Di sebuah café, kami mengobrol santai selama dua jam lebih. Dan tahukah anda apa yang saya rasakan saat itu? Saya kesulitan menjelaskannya secara rinci. Ketika menceritakannya kepada beberapa kawan Kristen saya, mereka malah menganggap saya sedang berencana menjadi mualaf. Kami membincangkan banyak hal tentang Tuhan; Kristen dan Islam. Saya mengajukan protes tentang beberapa ajaran Islam yang membuat saya tidak nyaman. Bukan bantah-bantahan bukan pula debat kusir yang kemudian terjadi, saya malah (alhamdulillah) mendapatkan begitu banyak konfirmasi yang menyamakan persepsi yang semula keliru. Trinitas menjadi kongruen dengan Nur Muhammad. Saya melihat iman Kristen melalui penjelasan Islami. Menurut beliau, Islam adalah berserah. Bagi saya, itu tidak ada bedanya secara esensi dengan Kristen yang saya pahami; saya adalah manusia berdosa dan membutuhkan seorang Juruselamat untuk mendapatkan keselamatan. Dan itu sudah diberikan Tuhan lewat pengorbanan Kristus di kayu salib. Anda boleh tidak percaya, tapi ketika berbincang tentang Tuhan dengan beliau, saya melihat pendaran cahaya halus membungkus tubuhnya.

Beberapa bulan kemudian, lewat sebuah cara yang sangat tidak lazim dan hingga kini kadang masih tidak saya sangka, saya berkenalan dengan seorang Muslim yang lain. Sekalipun saya sudah mendapat ‘pencerahan’ lewat diskusi dengan Fahd Djibran di Yogyakarta tentang Islam, tetap saja saya masih punya keberatan-keberatan tentang Islam. Muslim dari dunia maya ini kemudian menjadi seseorang di mana saya bercermin; guru, sahabat, motivator, sekaligus saudara kembar non-biologis. Dengannya, saya menggila.. Deretan caci maki dan umpatan kasar saya berikan padanya, bahkan ketika membincangkan agama kami masing-masing. Anda tahu reaksinya seperti apa? Beliau memeluk saya hingga remuk. Suatu malam di Bandung – mungkin salah satu durasi singkat di mana saya berada dalam kondisi paling sadar sepanjang hidup saya – saya hanya sanggup berbahasa dalam isak tangis dan derai tawa yang silih berganti. Kemanusiaan saya terasa sungguh tak ada artinya. Saya merasa ada sesuatu – entah Apa entah Siapa – yang hadir. Beliau memegang pundak saya dan berkata, “Kamu melihat Yesus, bukan?” Saat itu, sekujur tubuh saya merinding dalam kebahagiaan yang tak terkira, hanya sanggup terespon berupa isak tangis yang makin menjadi-jadi. Lirik lagu Amazing Grace saya lantunkan dalam melodi yang tidak karuan, tumpang tindih dengan isak tangis yang sangat tidak harmonis. Seorang muslim menunjukkan kepada saya bahwa Yesus itu benar-benar ada.

Saat ini, ‘cermin’ itu, Tasaro GK, sedang menulis sebuah buku. Saya sungguh terhormat mendapat kesempatan membaca draft awalnya dan sedikit-sedikit menjadi editor dadakan meski hanya sekadar mengedit kata-kata yang salah ketik. Muhammad, seorang Nabi yang kehadiranNya dinubuatkan oleh kitab suci agama-agama lain termasuk Kristen. Membacanya membuat saya lebih mengenal Muhammad, seorang suami bagi beberapa istri. Konsep poligami yang saya pahami sebelumnya berubah total. Ajaran tentang ‘kasihilah musuhmu’ yang dulu setahu saya hanya ada dalam Kristen, ternyata juga ada dalam Islam. Saya mengetahuinya lewat novel itu. Sebagi sebuah novel, buku ini tidak lepas dari keindahan alur cerita dan kejutan-kejutan yang menurut saya pribadi sebaiknya ada di setiap novel. Namun, yang lebih bermakna dari itu adalah saya lebih nyaman memelajari Islam yang dikemas dalam bentuk novel dibandingkan dengan membaca buku-buku tentang Islam lainnya dalam format yang berbeda.

Mengenal kedua orang di atas adalah anugerah yang luar biasa bagi saya. Saya bisa memelajari Islam tanpa perlu merasa sedang di-Islamkan. Membaca ‘Sang Penggenggam Hujan’ adalah kebahagiaan tak terhingga bagi saya. Saya dikenalkan dengan Muhammad tanpa harus menafikan ke-Tuhanan Yesus. Saya mengamini kalimat Syahadat tanpa perlu meragukan kebenaran Pengakuan Iman Rasuli.

Mungkin ada yang akan bertanya, kenapa tidak masuk Islam? Jika ada, saya akan balik bertanya, kenapa harus masuk Islam? Masalah beragama bagi saya adalah soal kenyamanan. Hingga saat ini, saya masih sangat nyaman dengan Kristen. Dan, berbicara tentang kenyamanan, adakah standar umum yang bisa dipakai? Saya kira tidak ada. Kenyamanan sangat subjektif. Mungkin terlalu naïf jika alasan saya belum berpikiran untuk pindah agama adalah karena saya masih merindukan Natal yang syahdu, masih sering merinding mendengar dan menembangkan sendiri kidung puji-pujian bagi Yesus. Semoga itu cukup.

Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Begitu pula dengan teori tanpa praktik. Saat ini, sebagian besar keimanan saya masih ada dalam fase teori, masih jauh dari ranah praktis. Butuh keberanian bagi saya untuk menuliskan testimoni ini. Sebuah ‘tantangan’ bagi saya untuk berhenti mengonsep dan lebih banyak berbuat. Kadang terbersit dalam pikiran saya untuk berhenti menumpuk teori. Lebih baik tidak tahu daripada tahu tapi tidak sanggup mempraktikkannya. Namun, sepertinya kita tidak bisa memilih untuk itu. Masalahnya bukan bagaimana menolak semua teori masuk ke dalam kepala, melainkan bagaimana teori yang ada dalam kepala kita mewujud dalam kehidupan nyata lewat kata-kata, pikiran, dan perbuatan.

Testimoni ini pun adalah teori, sebuah konsep yang ada dalam kepala saya. Menuliskannya tidak bermaksud untuk menunjukkan bahwa saya tahu sesuatu, entah apa itu. Kekristenan saya masih jauh dari citra Kristen yang sesungguhnya. Entah darimana saya mendapatkan keberanian untuk memelajari agama lain sementara agama saya sendiri belum saya amalkan dengan baik. Membandingkan Islam dengan Kristen tidak saya lakukan untuk mencari mana yang lebih benar. Saya hanya ingin lebih bisa toleran terhadap Islam, juga agama dan kepercayaan yang lain. Semoga tidak ada yang salah dengan setiap pencarian yang saya lakukan. Lewat testimoni ini, saya ingin mengekspresikan ungkapan syukur saya kepada hidup yang secara tidak kebetulan sudah mengenalkan saya dengan Fahd Djibran, Tasaro GK dan ‘Sang Penggenggam Hujan’.


-Rampa Maega-
Sebuah tempat di rimba Kalimantan.


>>>www.ahmadsahidin.wordpress.com<<<


Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini!


Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!

#11176 From: saleh lapadi <saleh_lapadi@...>
Date: Mon Nov 16, 2009 12:50 pm
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
saleh_lapadi
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Salam,

Bib Anis, apa yang antum dan Bung Arief sampaikan mengenai masalah tambahah itu benar. Antum berbicara pada tatanan teori bahwa tambahan itu tidak bermasalah bila sah. Sementara pendapat Bung Arief lebih mengarah pada aspek praksisnya. Di mana bila tolok ukurnya adalah sah saja, maka ibadah kita akan terus bertambah dan akhirnya pertambahan itu menjadi liar bila tidak diatur.

Saya, Antum dan siapa saja bakal kewalahan ketika kita menyaksikan ada orang yang dalam beribadah, menambahkan hal-hal lain hanya dengan alasan itu sah. Bila fenomena ini sudah menyebar, apa yang bisa kita lakukan untuk meluruskan masalah ini? Maksud saya, Antum perlu juga memikirkan dampaknya.

Sebenarnya ada satu cara menguji kebenaran teori kita dengan membenturkannya pada dampaknya. Bila ternyata dalam pengamalannya mengalami kesulitan bahkan bertentangan dengan tujuan semula, maka teori kita juga tidak dapat diterima. Dalam istilahnya disebut Naqdhul Gharad (penegasian tujuan).

Maksud saya kita juga harus memberikan hak bagi mereka yang punya kekhawatiran seperti ini.

Dengan demikian, kita tidak saja membicarakan aspek teori dari istilah bid'ah, tapi juga sudah masuk dalam kasus. Ini tentu saja sangat bernilai dalam membicarakan masalah syahadah ketiga dalam azan.

Oh iya, sebelum saya lupa, Bib Anis, saya pernah menyaksikan dialog Ayatollah Hassan Zadeh Amoli di televisi Iran. Dia berbicara lebih dari yang tengah kita diskusikan di sini. Mungkin agak asing tapi ternyata beliau punya keyakinan untuk menambahkan syahadah keempat dalam azan dan itu terkait dengan Sayyidah Fathimah Zahra as. Sejumlah dalil hadis dan mukasyafah disampaikannya.

Saat menyaksikan tayangan itu saya sangat terkejut sekali. Boleh dikata shock!!! Gejala apa ini?

Saya merasa kekhawatiran saya ini sama dengan Bung Arief.

Wassalam

Saleh Lapadi

NB.
Setelah ini saya akan mencoba menjelaskan agak luas mengenai masalah taqrir yang dikaitkan dengan masalah ini dan yang paling penting seperti apa prosesnya kita menerima ini sebagai dalil dan bagaimana juga berargumentasi dengan masalah ini. Semoga dengan demikian, kita mampu menyelesaikan kasus-kasus yang sama bila muncul.


From: Muhammad Anis <maulachela@...>
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Sent: Tue, November 10, 2009 9:52:01 AM
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

 

Salam,

Antum mengatakan, “Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi ‘Tidak ada hadits Nabi yang melarang’, akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan.”

 

Saya rasa masalahnya bukan pada ada-tidaknya “tambahan” atau banyak-sedikitnya “tambahan”. Melainkan, masalahnya terletak pada apakah “tambahan” tersebut sah atau tidak.

 

Dengan mengacu pada uraian antum, saya berpendapat bahwa ketika kita tidak menjumpai hadis-hadis yang melarang praktik syahadah ketiga, sementara teks-teks agama lainnya (dengan dukungan akal dan pertimbangan maslahat) memberi indikasi tentang dibolehkannya praktik tersebut, maka bisa saja praktik tersebut dilakukan. Sebagai contoh, kita semua tahu bahwa Quran menegaskan wilayah Ali, hadis-hadis juga banyak sekali yang menegaskannya,  Bila penegasan ini dikawinkan dengan kewajiban syiar, dan pertimbangan maslahat mendukung, maka ini bisa dijadikan indikasi untuk membolehkan praktik syahadah ketiga tersebut.  Kecuali, bila ada hadis yang secara tegas melarang praktik tersebut. 

 

Meskipun, kenyataannya terdapat hadis-hadis yang jelas sekali berisi pembolehan Nabi saw terhadap praktik syahadah ketiga dalam azan. Hadis-hadis tersebut pernah dikirimkan ke milis ini beberapa waktu yang lalu.

 

Namun demikian, meninjau sebuah praktik dari sudut pandang Quran dan akal tentu bukan pekerjaan mudah yang bisa dilakukan setiap orang. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi di bidang hukum fikih, yaitu orang yang telah menguasai metodologi istinbat hukum dan memenuhi syarat untuk melakukannya, yang populer disebut mujtahid atau marja’.


Dengan demikian, dalam permasalahan hukum syahadat ketiga ini, sudah semestinya kita pertama sekali merujuk pada pandangan marja’. Pada posting pertama, saya telah menyampaikan pandangan Syaikh Lutfullah Gulpaygani dan Sayid Ali Khamenei. Keduanya merupakan marja’ taklid, yang membolehkan praktik syahadat ketiga dalam azan, sebatas dilakukan dalam rangka syiar, tanpa disertai niat menjadikannya sebagai bagian azan yang disyariatkan. Wallahu A’lam.

 

Wassalam,

Muh. Anis



--- On Mon, 11/9/09, Khairun Arief <husein_irun@ yahoo.com> wrote:

From: Khairun Arief <husein_irun@ yahoo.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 9, 2009, 9:26 PM

 

Ustad, pada awal mula, kita mendiskusikan mengenai azan ketiga, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi mengenai definisi Bid'ah. Kemudian, ustad Saleh Lapadi memeberikan penjelasan mengenai Taqrir yang berarti diamnya Nabi atas sebuah masalah. Kongklusi dari metodologi tersebut adalah, segala sesuatu yang didiamkan oleh Nabi, sebetulnya tidak bisa dikatakan sebagai Bid'ah. Logikanya, jika sebuah perkara memang dilarang, sudah tentu Nabi Muhammad SAWW tidak akan berdiam diri saja toh?? Sampai titik ini saya  masih setuju..

Namun demikian, ketika kita mencoba mengaplikasikan metodologi ini dalam konteks ibadah, kita harusnya sudah memiliki bukti awal terlebih dahulu dong bahwa Nabi memang "Berdiam Diri" dalam sebuah persoalan sehingga kita bisa mengatakan bahwa benar nabi "Diam saat itu". Kita tidak patut mengatakan bahwa Nabi berdiam diri terhadap sebuah perkara ibadah yang betul-betul baru hanya karena kita mengatakan: "Tidak menemukan sebuah Hadits yang menceritakan bahwa Nabi melarangnya" .  Karena masalahnya, bisa saja kita tidak akan menemukan Hadits Nabi yang melarang perkara tersebut, karena toh memang tidak ada orang yang melakukan hal tersebut dimasa Nabi. Masalahnya, saya belum menemukan sebuah indikasi yang meyakinkan bahwa Azan Ketiga itu sudah diaplikasikan dizaman nabi  dan saat itu Nabi membiarkannya. .Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi "Tidak ada hadits Nabi yang melarang", akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan. Menurut saya, yang bijak adalah berasumsi bahwa Nabi Tidak mencontohkan. .Oleh karena itu, tidak perlu kita melakukan. Bila Allah dan rasul merasa perlu untuk memerintahkan sebuah ritus, pastilah sebuah hal akan diperintahkan. .Masalahnya, toh tidak ada perintah definitif demikian?

Dengan demikian, metodologi Taqrir itu, baru akan relevan bila dilakukan untuk perkara-perkara diluar Ibadah ataupun Hal-hal lain yang sudah definitif.. Secara tehnis, metodologi tersebut dapat kita eksplorasi dengan cara "Menabrakkan" kondisi sosial objektif masyarakat saat itu dengan Hadits-hadits sahih dan kemudian melihat semua itu dari sudut pandang Quran..

Dengan demikian ustad, Taqrir Nabi menyangkut wilayah ibadah..tidak bijak bila kita tempatkan dalam wilayah asumsi..

Nb: Ustad Anis, menurut saya, hadits itu adalah "Kabar".Kabar mengenai Sunnah Rasul . Namun demikian, Sunnah Rasul sendiri terdiri dari 1) Perkataan; 2) perbuatan;          3) Diamnya Nabi; 4) Sikap Mental Nabi; dalam menyikapi sebuah masalah yang semua itu dirujukkan beliau kepada Kitabullah.  Masalahnya,ketika sebuah riwayat dibakukan dan dibukukan menjadi Hadits dalam sebuah kitab ataupun cerita orang, konteks-konteks sosial yang melatar belakanginya, asumsi-asumsi dibalik terjadinya dan sikap mental yang mengiringi sebuah kejadian tidak mutlak ( tapi bukan tidak mungkin ya..) ikut terbakukan dalam tulisan atau cerita. Itulah akhirnya, sebuah hadits jadinya hanyalah sebuah bahan mentah untuk kita membangun pemahaman mengenai perilaku nabi..Cara kita membangun pemahaman atas perilaku nabi itu, dapat dilakukan dengan menganalisis segala sesuatu dari sudut pandang Quran, dan merujuknya kepada para A'immah (Itulah relevansi hadits Tsaqalain). Namun demikian, ketika Nabi dan para A'immah juga tidak bersama kita saat ini, kita harus merujuk segala sesuatu terrmasuk hadits dari sudut pandang Quran dan Akal. Mekanisme akal dalam merujuk Hadits adalah dengan menganalisanya dari sudut pandang Kemungkinan saat itu dan situasi objektif  konteks yang melatarbelakanginya yang relevan dengan semangat qurani itu sendiri. .Dengan demikian, hadits yang berkaitan dengan A'immah yang mengizinkan adanya azan ketiga, tentu saja jadi tidak masuk akal. Karena, bagaimana mungkin para A'immah akan menambahan sendiri ibadah yang tidak dicontohkan Nabi sementara kita menjadikannya sebagai tempat bertanya dan penjelas mengenai Quran dan penjelas mengenai sunnah rasul??  Arti penting para A'immah, menurut saya bukan karena mereka orang-orang yang  membuat risalah baru setelah nabi, melainkan mereka sendiri adalah sunnah rasul yang hidup diantara manusia.Dengan demikian, gema para A'immah adalah Gema Rasul..bukan sinaran mereka sendiri.Oleh karena itu, bila ada sebuah hadits mengenai A'immah yang melakukan sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh seorangpun dizaman nabi melainkan hanya melalui asumsi, maka sudah seharusnya kita mengatakan bahwa Hadits tersebut tertolak..

"Sesungguhnya Allah itu tidak Tidur dan Lupa"

Wallahu a'lam..


From: maulachela <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, November 10, 2009 8:11:58 AM
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

 

Salam,

Supaya tidak salah pengertian, menurut antum apa definisi "hadis"? Karena, saya menangkap dari uraian antum, seolah ada dua entitas yang berbeda: hadis dan taqrir. Sementara, yang saya pahami, taqrir itu bagian dari hadis. Keif ustad?

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Bis Anis, saya tidak menafikan dari sisi pengakuan Ahli Sunnah akan taqrir, tapi dalam kenyataannya masalah ini hampir tidak banyak dibahas dan dijadikan salah satu sumber hukum setara dengan hadis dan perbuatan Nabi. Dalam Ushul Fiqih Syiah masalah ini dikaji secara serius dan tercermin dalam argumentasi- argumentas Fiqih.
>
> Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, bahwa sekilas kita akan beranggapan mengamalkan taqrir lebih mudah, karena dengan tidak ada dalil sudah cukup bagi kita untuk beramal atau menyebut satu perilaku atau apa saja sebagai Islam dan sesuai syariat Islam. Tapi pada tataran mengargumentasikann ya dibutuhkan kemampuan menguasai sejumlah kaidah dalam berargumentasi yang diajarkan dalam Ushul Fiqih dan memahami maksud dari ribuan hadis yang ada, jangan-jangan memberikan konotasi pelarangan terhadap satu perbuatan. Jadi sekalipun tampak sederhananya tidak ada hubungan dengan hadis dan perbuatan Nabi, tapi pada hakikatnya adalah pengertian sebaliknya dari hadis dan perilaku Nabi itu sendiri.
>
> Mengenai pernyataan kedua Antum, dalam pernyataan saya itu seharusnya dipahami ketika orang lain lebih mementingkan perkataan dan perbuatan Nabi, tapi melupakan taqrir, saya mencoba mengingatkan pentingnya taqrir yang dipahami Antum seakan-akan mengeluarkan taqrir dari Sunnah. Saya tebalkan karena Antum menyebut hadis yang jelas hanya berkaitan dengan perkataan dan tidak termasuk perbuatan apa lagi taqrir, sekadar meluruskan.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: maulachela <maulachela@ ...>
> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> Sent: Fri, November 6, 2009 11:09:39 AM
> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
>
>
> Salam,
>
> Sungguh penjelasan yang cerdas ustad.
>
> Tetapi sekadar catatan, pada kalimat antum "Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi", terkesan bahwa hanya Syiah yang memilikinya. Padahal, Sunni juga memasukkan taqrir dalam pengertian Sunnah Nabi saw.
>
> Selain itu, pada kalimat antum "Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis", seolah antum mengeluarkan taqrir dari bagian hadis. Padahal, setahu saya, hadis itu meliputi aqwal (perkataan), af'al (perbuatan), dan taqrir.
>
> Wallahu 'Alam
>
> Wassalam,
> Muh. Anis
>
> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >
> > Salam,
> >
> > Bung Reza, ada poin penting yang ingin saya katakan dengan mencoba mengetengahkan masalah taqrir Nabi.
> >
> > Mengapa? Karena dengan membicarakan masalah bid'ah dengan definisi "Sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw", saya menangkap pembahasan masalah bid'ah tidaknya syahadah ketiga dalam azan itu hanya menekankan pada perbuatan dan ucapan Rasulullah saw sebagai bagian dari Sunnah Nabi. Padahal, sebagaimana kita ketahui, Sunnah Nabi itu tidak terbatas pada keduanya, tapi juga mencakup taqrir.
> >
> > Patut diketahui, bila perbuatan dan ucapan Rasulullah itu kita artikan dimensi positif, sementara taqrir adalah dimensi negatif Sunnah, karena ia dikategorikan Sunnah ketika tidak bersikap.
> >
> > Bagi mereka yang menyebut syahadah ketiga dalam azan itu bid'ah karena melihatnya tidak disebutkan baik dalam perbuatan dan ucapan Nabi? Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan taqrir?
> >
> > Maksud saya, dengan teropong taqrir, apakah ada sikap Nabi, atau para Imam yang menolak syahadah ketiga dalam azan? Sehingga bukan saja masalah ini tidak disebutkan oleh Nabi dan Imam, tapi juga ada sikap menolak dari mereka.
> >
> > Sebenarnya, dengan memahami masalah ini lebih dalam, kita dapat meraih satu cara pandang umum dan bijaksana dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk agama atau tidak. Di sini kita akan menemukan seberapa sempit dan luas agama kita dalam menyikapi pelbagai hal yang terjadi saat ini.
> >
> > Saya pernah membahas masalah ini dalam salah satu tulisan saya, tapi sayangnya sudah tidak bisa ditemukan lagi dalam arsip situs ISLAT. Di sana ada pembahasan mengenai suatu perbuatan itu bagaimana disebut sebagai perbuatan agama dan berlandaskan syariat? Ini bahkan bisa menjadi landasan bagi dikotomi adanya ilmu Islam dan non-Islam, atau bahkan bisa menjadi salah satu referensi dalam upaya "Islamisasi Ilmu-Ilmu".
> >
> > Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi. Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis. Apa saja yang tidak disebut di dalamnya langsung kita definisikan bid'ah dan keluar dari agama. Kita membuat agama kita menjadi sempit. (Saya mencoba membahasnya dengan tetap mempertahankan alur pembahasan kita) Sebagian bahkan untuk keluar dari perangkap bid'ah yang disebut Nabi sebagai sesat, mencoba membaginya menjadi bid'ah sesat dan baik. Ini muncul dari kesalahan cara pandang terhadap masalah.
> >
> > Dalam Syiah menilai agama Islam ini lebih luas saat ingin menghukumi sesuatu itu termasuk Islam atau bukan. Dan hal ini dengan sederhana dilakukan dengan bertumpu pada taqrir yang jarang dibahas. Untuk itu saya coba berikan kaidahnya.
> >
> > Bila kita hanya mencukupkan diri dengan poin positif Sunnah Nabi, dalam istilah fiqih disebut "'Ilm Bil 'Adam" (kita mengetahui ketidakadaannya dalam Islam). Bila saya contohkan, dalam kasus syahadah ketiga dalam azan itu kita beramal dengan kaidah ini. Artinya, Kita punya pengetahuan bahwa tidak ada hadis atau perbuatan Nabi tentang hal ini. Dengan demikian, perbuatan ini menjadi haram, karena tidak ada ilmunya (dalilnya)
> >
> > Namun ada satu kaidah lain lagi dalam fiqih yang disebut "'Adamul 'Ilm" (tidak ada ilmu). Bila dicontohkan, kita tidak punya pengetahuan tentang masalah adanya pelarangan dari syariat, baik Al-Quran, Nabi maupun Imam (tidak ada dalil yang melarang). Dengan demikian, perbuatan mengucapkan azan menjadi boleh karena tidak ada larangan dari syariat.
> >
> > Sederhananya, yang pertama sisi positif bahwa kita punya ilmu tentang tidak adanya dalil syariat, sementara yang kedua sisi negatif bahwa kita tidak punya ilmu adanya dalil syariat yang melarang.
> >
> > Dengan penjelasan ringkas ini dan semoga tidak membingungkan, dampak praktis dari kaidah pertama, agama kita sempit dan pada gilirannya menciptakan dualisme agama dan non-agama, namun hal itu tidak terjadi pada kaidah kedua, bahkan memberikan keluasan dalam memahami agama.
> >
> > Kaidah kedua ini memberikan kita wawasan luas menjadikan kita lebih arif menilai satu perbuatan yang dilakukan orang lain. Lihat, bagaimana sebuah teori mampu memberikan cara pandang dan sikap kepada manusia.
> >
> > Maaf, bila saya sudah mulai keluar dari pembahasan.
> >
> > Dengan penjelasan ini, saya berharap diskusi ini dilanjutkan dengan tetap memperhatikan tema yang didiskusikan.
> >
> > Wassalam
> >
> > Saleh Lapadi
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...>
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Sent: Tue, November 3, 2009 6:32:12 PM
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >
> >
> > Ust Saleh,
> >
> > Mengacu pada ayat "Taatilah Allah, Rasul dan Uulil Amri diantara kamu" sudah jelas kata terakhir mengacu pada hadits 12 Khalifah Qurays yang sangat mutawatir dalam kutubun sittah pegangan Ahlu Sunnah.
> >
> > Dahulu Ust Saleh pernah mengutip 4 Naib pada masa sufara merupakan pembelajaran mengenai Marjaiyah yang kemudian pada masa keghaiban kubra menjadi Marjaiyah al-A'la sampai metamorfosisnya sekarang menjadi Wilayat al-Faqih.
> >
> > Singkat cerita, merujuk kepada 4 Naib pada masanya dan marja A'lam saat ini secara tidak langsung merupakan bentuk ketaatan kepada Uulil Amri yang berarti juga bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sebagaimana pesan Imam Mahdi AFS, "Mengenai permasalahan kalianrujuklah kepada yang meriwayatkan hadits-hadits kami"... juga "Kepada orang yang wara', berilmu dan meninggalkan hawa nafsunya maka wajiblah bagi orang awam untuk merujuk padanya"
> >
> > Demikianlah yang saya fahami mengenai pesan beliau AFS, "Mencari manfaat dariku ibarat mencari manfaat matahari ketika tertutup awan"
> >
> > Jika garis komandonya sudah jelas maka mudahlah agama ini bagi orang awam. Namun menjadi permasalahan jika ada yang bertanya, "Nenek moyang saya di kampung sampai sekarang mengadakan tahlilan, ratiban, tabuik husein yang merupakan tradisi Syi'ah... Apakah saya juga Syi'ah Ali .. ??
> >
> > Dapatkah dijelaskan bahwa Syi'ah2 zaman dahulu di Nusantara termasuk pembawa tari Saman di Aceh berafiliasi dengan Marjaiyah al-A'la atau terisolasi garis komandonya? Jika hal ini jelas maka dengan mudah menjawab isu2 bahwa ratiban dan tabuik huseyn tidak bid'ah karena jelas jalur komandonya.
> >
> > Salam,
> > Riza
> >
> >
> >
> > 2009/11/3 saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > >
> > >>
> > >Salam,
> > >
> > >Sampai di sini ketiba berbicara mengenai definisi bid'ah, tidak ada yang menyinggung sedikitpun mengenai taqrir Nabi. Sebagaimana diketahui, taqrir termasuk sunnah nabi yang bukan ucapan dan perbuatannya, tapi sikap diam nabi menyaksikan perbuatan dan amalan ibadah sahabat sebagai tanda setuju.
> > >
> > >Bila ini dikembangkan hingga kepada para imam, bagaimana korelasinya dengan masalah yang tengah kita bicarakan?
> > >
> > >Katakanlah di masa para imam juga hal yang seperti ini, mengapa kita mendekati masalah ini lewat taqrir?
> > >
> > >Bila bisa, lalu bagaimana penjelasannya?
> > >
> > >Menjawab pertanyaan-pertanya an ini bakal membuka sebuah wawasan yang dalam mengenai hukum Islam. Dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas, cara pandang kita tidak akan sempit, seperti apa yang dipikirkan Wahhabi
> > > dan siapa saja yang ingin melihat masalah secara lebih dalam.
> > >
> > >Kita lanjutkan diskusi kita...
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >Saleh Lapadi
> > >
> > >
> > >
> > >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: farah izadi <farah_izadi@ yahoo.com>
> > >
> > >To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >Sent: Sat, October 31, 2009 11:15:01 AM
> > >
> > >Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >
> > >
> > > >
> > >>Salam
> > >
> > >Sambil menyimak...
> > >
> > >Ada pertanyaan yg mungkin bisa menjadi bahan renungan: Apakah tolok ukur Bid'ah-Sunnah hanya prilaku Rasul saja, sehingga peran khalifah Arrasyidin al-Mahdiyiin (para imam suci Ahlul Bait) murni ikut prilaku Rasul dgn segala kondisi zamannya? Dalam arti, apakah setiap yang dilakukan Rasul adalah Sunnah dan apakah setiap yang tidak pernah dilakukan Rasul adalah Bid'ah? Sehingga kita sewaktu makan Soto berkuah umpamanya untuk mengikuti sunah Rasul harus menggunakan tiga jari (padahal di Arab zaman Rasul gk pernah ada Soto berkuah)...kapan selesainya? :D
> > >
> > >Apakah adanya 'dalil umum' (bukan khusus) menyinggung
> > > dan dapat diterapkan pada satu perbuatan mungkinkah ia bisa dijadikan 'pembenar' (dalil) akan kelegalan (masyru'iyat) sebuah perbuatan sehingga dia tidak dikategorikan Bid'ah?
> > >
> > >Saya harap kajian ini
> > > berlanjut terus oleh bapak-bapak itu.
> > >Krn kajian ini (syahadah ketiga dalam azan; bid'ah atau sunnah?) akan juga dapat menjawab ttg isu bid'ah Tahlil, Baca Maulud Nabi, Baca Ratib, Baca Manaqib, Shalat Terawih....dan beberapa amalan lainnya.
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >
> > >--- On Sat, 10/31/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:
> > >
> > >
> > >>From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>
> > >>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>Date: Saturday, October 31, 2009, 5:53 AM
> > >>
> > >>
> > >>>>
> > >>
> > >>
> > >> >>
> > >>>>Bid'ah itu "sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasul" atau "sesuatu yang bertentangan dengan Ma'shumin (termasuk a'immah as.)"? (sebagaimana definisi hadis dalam Ahlul Bait, kalau tidak salah, "ucapan dari Ma'shumin as.")
> > >>
> > >>Kalau bid'ah adalah definisi yang kedua di atas, dan terdapat hadis atau perintah dari para imam as. tentang syahadah ketiga dalam azan, maka tidak menjadi bid'ah (??)
> > >>
> > >>NB: Maaf ngelantur :)
> > >>
> > >>Dahulukan Islam di Atas Mazhab
> > >>
> > >>--- On Fri, 10/30/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>
> > >>
> > >>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> > >>>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Date: Friday, October 30, 2009, 12:19 PM
> > >>>
> > >>>
> > >>>>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>Salam,
> > >>>
> > >>>Sejauh ini saya melihat diskusi yang ada sangat menarik. Dari hanya sekadar pernyataan singkat Ejajufri yang menyebut masalah ini adalah bid'ah dan dikembangkan argumentasinya oleh Bung Arief membuat masalah ini sebenarnya mulai menajam. Dan terima kasih kepada moderator yang mengapresiasi usulan saya untuk mulai membahasnya dari bid'ah.
> > >>>
> > >>>Saya punya alasan untuk coba minggir dan membahas tentang defisini bid'ah terlebih dahulu, dikarenakan ini adalah awal bercabangnya masalah yang ingin kita bahas. Bila kita telah masuk lebih jauh ke pembahasan syahadah ketiga dalam azan dan ini tidak diselesaikan dahulu, walaupun secara singkat, akan membuat pembahasan kita nantinya akan terseok-seok.
> > >>>
> > >>>Untungnya bila kita dahulu menyelesaikan masalah bid'ah ini, bila memang benar syahadah
> > >>> ketiga dalam azan termasuk bi'dah, maka kita tidak perlu bersusah payah mengkaji masalah selanjutnya seperti yang dinukilkan Bung Reza dari fatwa Ayatullah Sistani. Namun bila kita sepakat akan definisi bid'ah dan tidak meyakini syahdah ketiga dalam azan merupakan contoh lain dari bid'ah, maka kita masih dapat melanjutkan pembahasan ini dengan menyimak alasan mereka yang menyetujui penambahan itu (tentu dengan syarat-syaratnya) dan mereka yang tidak menyetujui.
> > >>>
> > >>>Artinya, untuk tidak setuju memasukkan syahadah ketiga ini ke dalam azan tidak harus dengan berlandaskan dalil bid'ah, tapi apa? Mungkin itu yang sempat dilontarkan oleh Bung Ejajufri dengan ucapannya, "Mungkin tidak bid'ah karena memang tidak disyariatkan tapi bermasalah karena tidak dipraktikkan Nabi."
> > >>>
> > >>>Ok, sampai di sini apa yang telah kita miliki?
> > >>>
> > >>>Menurut saya kita punya dua kesepakatan (setidaknya dari pendapat yang sudah ada), pertama bid'ah definisinya adalah "Sesuatu
> > >>> yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw". Dan kedua, bid'ah itu sesat. Nah, sekarang yang tengah dibahas oleh Bung Arief dan Anis terkait masalah apakah syahadah ketiga dalam azan ini termasuk bid'ah atau tidak.
> > >>>
> > >>>Bung Arief meyakininya sebagai bid'ah dan Bung Anis mengakuinya sebagai tidak bid'ah. Ada yang lain?
> > >>>
> > >>>Wassalam
> > >>>
> > >>>Saleh Lapadi
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Sent: Wed, October 28, 2009 11:40:53 AM
> > >>>Subject: >>> [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>
> > >>>Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
> > >>>
> > >>>
> > >>>--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:
> > >>>
> > >>>
> > >>>>From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>>Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> > >>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>>>>Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>Assalamualaikum wr wb
> > >>>>
> > >>>>Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> > >>>>
> > >>>>Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> > >>>>
> > >>>>Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
> > >>>>
> > >>>>Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
> > >>>>
> > >>>>Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu.
> > >>>>
> > >>>>Wassalam wr wb
> > >>>>
> > >>>>Moderator
> > >>>>MT
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> > >>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>>>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> > >>>>>
> > >>>>>Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> > >>>>>
> > >>>>>Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> > >>>>>
> > >>>>>Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?
> > >>>>>
> > >>>>>Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun
> > >>>>> cukup lengkap dari Bib Anis.
> > >>>>>
> > >>>>>Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.
> > >>>>>
> > >>>>>Bagaimana?
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam
> > >>>>>
> > >>>>>Saleh Lapadi
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: maulachela <maulachela@ yahoo. com>
> > >>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> > >>>>>Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.
> > >>>>>
> > >>>>>Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> > >>>>>
> > >>>>>Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa
> > >>>>> Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.
> > >>>>>
> > >>>>>Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak
> > >>>>> boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:
> > >>>>>
> > >>>>>1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain
> > >>>>> Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> > >>>>>
> > >>>>>3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Wallahu A'lam.
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam,
> > >>>>>Muh. Anis
> > >>>>>
> > >>>>>--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Salam,
> > >>>>>>
> > >>>>>> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku
> > >>>>> saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
> > >>>>>>
> > >>>>>> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
> > >>>>>>
> > >>>>>> Wassalam
> > >>>>>>
> > >>>>>> Saleh Lapadi
> > >>>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>
> > >
> > >
> >
>





#11175 From: Yusuf Ind <yusufind@...>
Date: Mon Nov 16, 2009 12:24 pm
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
yusufind@...
Send Email Send Email
 
salam,

seperti yang telah dijelaskan secara gambalang oleh saudara mohammad zen mengenai bid'ah, maka mungkin penjelasan mengenai turbah pun gak jauh darinya... kan orang syiah meyakini bahwa pekerjaan imam maksum ataupun qaulna berarti sunnahnya wal hasil pasti rasulpun ridha terhdapnya , termasuk turbah, kalau yang saya tahu wajibnya sih di tanah kalau turbah karbala sih utama.

Bid'ah sudah trus gimana nih penjelasan menenai sunnah sama taqrirnya...??

makasih



--- On Mon, 11/16/09, ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomingvenus@...> wrote:

From: ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomingvenus@...>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Monday, November 16, 2009, 6:30 AM

 

salam,

Seharusnya sudah gamblang, kalau lebih utama sujud diatas Ardh (tanah/batu. ..)

yah... memang seperti itu adanya. Cuman kebiasaan umum muslim sunni yang meninggalkan sunnah Rasulullah (saaw) itu membuat sunnah yang biasa dilakukan Rasulullah itu menjadi (tampak) tidak biasa ketika dilakukan. Tapi tidak berarti tidak bisa, karena ada juga sebagian dari mereka yang (mulai) kembali melakukan sunnah Rasulullah itu, misalnya di Sidoarjo.

tentu tidap perlu dibid'ahkan tanah berasal dari Karbala. Apa orang di Indonesia ketika sujud di Jakarta menjadi bid'ah karena bukan tanah dari Madinah?

Yah... memang begitu. Apakah Rasulullah (saaw) yang berwudhu dengan air dari Makkah, Madinah, dan tempat2 lainnya di Hijaz yg pernah digunakan oleh Rasulullah, menjadikan wudhu kita yang menggunakan air dari tempat2 di Indonesia adalah bid`ah... memang aneh.

Tetapi yang saya tangkap dan pahami dari pembicaraan teman saya waktu itu adalah:
1. Awal mula muslim syi`ah melakukan sujud di atas tanah berasal dari apa yang dicontohkan oleh Imam Zainal`abidin `Ali Al-Sajjad (as);
2. sementara itu, apa yang diperbuat, diucapkan, dan yang didiamkan A'immah ttg Islam itu berasal dari perbuatan, ucapan, dan diamnya Rasulullah (saaw).
3. dengan begitu seharusnya apa yang dicontohkan oleh Imam Al-Sajjad itu memiliki akar hingga ke Rasulullah (saaw): dari Imam Al-Sajjad dari Imam Sayyidussyuhada dari Rasulullah (saaw);
4.karena sujud `ala turbati Al-Husayn itu bermula dari Imam Al-Sajjad, teman saya itu menganggap perbuatan itu sebagai bid`ah. Kecuali jika saya bisa membuktikan klo Rasulullah (saaw) juga melakukan atau pernah melakukan hal itu.

....hmm

Tapi Tragedi Karbala belum terjadi ketika Rasulullah (saaw) masih hidup....
gak papa lah yang penting saya sudah sujud di atas tanah dan sujud `ala turbati Al-Husayn itu bukan suatu keharusan (kewajiban) tetapi hanya sesuatu yang lebih diutamakan.
Tinggal diperjelas aja, apa bid`ah itu....

wa salam

dee

--- On Mon, 11/9/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 9, 2009, 9:43 PM

 

Seharusnya sudah gamblang, kalau lebih utama sujud diatas Ardh (tanah/batu. ..) tentu tidap perlu dibid'ahkan tanah berasal dari Karbala. Apa orang di Indonesia ketika sujud di Jakarta menjadi bid'ah karena bukan tanah dari Madinah?

2009/11/9 rasahgelo <rasahgelo@yahoo. com>

ora nyambung blas ....


--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...> wrote:
>
> Rasulullah SAWW juga tidak pernah email2an..
>
> 2009/11/9 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@.. .>

>
> >
> >
> > Salam,
> >
> > Sujud di atas tanah itu memang dicontohkan oleh Rasulullah (saw) bahkan
> > bisa dilacak ke berbagai sumber dari pihak Ahlussunnah. Saya juga pernah
> > membaca dalam buku "Sifat Shalat Nabi" Nasr Al-Din Al-Albani, bahwa
> > Rasulullah itu lebih sering bersujud di atas tanah daripada di atas
> > khumrah atau hasir.
> >
> > Cuman yang kemudian dipermasalahkan oleh teman saya adalah:
> >
> > Dengan asumsi bahwa Para Imam (as) itu adalah generasi salaf yang shalih di
> > mana semua ucapan, perbuatan, dan taqrir Aimmah Ma`shumin (as) mengenai
> > Islam itu didasarkan kepada ucapan, perbuatan, dan taqrir dari Rasulullah
> > (saw). Maka--menurut teman saya: aneh bila ada riwayat di mana Imam
> > Al-Sajjad melakukan sesuatu (sujud) yang sebelumnya tidak pernah dilakukan
> > oleh Rasulullah (saw) yaitu `ala turbati Al-Husayn. Bukankah perbuatan
> > Imam itu tidak pernah menyalahi perbuatan Rasulullah (saw)?
> >
> > Dari asumsi tersebut kemudian teman saya itu menganggap bahwa perbuatan
> > sujud `ala turbati al-Husayn itu sebagai bid`ah (termasuk saya sendiri
> > yang sujud `ala turbatil Al-Husayn adalah pembid`ah :( )
> >
> > wa salam.
> >
> > DD
> >
> >
> >
> > --- On *Tue, 11/3/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>* wrote:
> >
> >
> > From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>

> >
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Date: Tuesday, November 3, 2009, 12:04 AM
> >
> >
> >
> >
> > *وَلَوْ سَجَدَ على رَأْس�ه� ولم ي�م�سَّ شيئا منجَبْهَت�ه� الْأَرْضَ لم
> > يَجْز�ه� السّ�ج�ود� وَإ�نْ سَجَدَ على رَأْس�ه� �َمَاسَّ شيئا منجَبْهَت�ه�
> > الْأَرْضَ أَجْزَأَه� السّ�ج�ود� إنْ شَاءَ اللَّه� تَعَالَى*
> >
> > Imam Syafi'i bilang gini, â€Å"Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali

> > tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak cukup dianggap sah.
> > Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (*al-ardh*),
> > maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Ta’ala.� (*Al-Umm*,

> > 1/114)
> >
> >
> > http://ejajufri. wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud-
> > di-atas-tanah/<http://ejajufri. .wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud- di-atas-tanah/>
> >
> > Powered by: Dahulukan Islam di Atas Mazhab <http://ejajufri. wordpress. com>

> >
> > --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>*wrote:
> >
> >
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Date: Monday, November 2, 2009, 7:05 AM
> >
> >
> >
> > Berikut terdapat di Bukhari-Muslim- Tirmidzi- Nasa;i
> >
> > ج�علت ليالأرض مسجدا وطهورا
> > Tinggal diperjelas apakah الأرض termasuk karpet, ubin, pelepah pisang

> > dll...
> >
> > 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
> >
> >>
> >>
> >> waktu itu mesjid rasul berlantaikan tanah yang keras. Saya belum pernah
> >> ketemu mesjid yang berlantaikan tanah. disekitar ka'bah apakah berlantaikan
> >> tanah atau ubin ?
> >>
> >> salam,
> >>
> >>
> >> --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>*wrote:
> >>
> >>
> >> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> >> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >> Date: Monday, November 2, 2009, 1:10 PM
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> â€Å"Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang sujud di atas sorbannya, maka

> >> beliau saw memberi isyarat dengan tangannya: 'Angkatlah sorbanmu dan
> >> memberi isyarat ke dahinya, sujudlah dengan dahimu.� (Sunnah Baihaqi juz

> >> 2 hal. 105 , Ishabah juz 2 hal. 201)
> >>
> >>
> >> 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=arismunawar@ ...>

> >> >
> >>
> >>>
> >>> salam,
> >>>
> >>> Apakah sujud diatas karpet/sajadah bid'ah karena nabi tidak pernah
> >>> melakukannya ? saya kalo terpaksa sekali sujud diatas tangan sendiri,
> >>> bagaimana hukumnya. afwan
> >>>
> >>> wass,
> >>> aris
> >>>
> >>> --- On *Sun, 11/1/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=abdulrahmanri za@...>
> >>> >* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=abdulrahmanri za@...>

> >>> >
> >>> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >>>
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=islam_ alternatif@ yahoogroups. com>

> >>> Date: Sunday, November 1, 2009, 6:37 PM
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Berikut riwayat dari shahih Bukharih setelah shalat tanah masih menempel
> >>> di dahi beliau SAWW berati Nabi SAWW sujud di atas tanah bukan karpet.
> >>>
> >>> *Volume 3, Book 33, Number 256: *
> >>>
> >>> Narrated Abu Said:
> >>> We practiced Itikaf with Allah's Apostle in the middle ten days (of
> >>> Ramadan). In the morning of the twentieth (of Ramadan) we shifted our
> >>> baggage, but Allah's Apostle came to us and said, "Whoever was m Itikaf
> >>> should return to his place of Itikaf, for I saw (i.e. was informed about the
> >>> date of) this Night (of Qadr) and saw myself prostrating in mud and water."
> >>> When I returned to my place the sky was overcast with clouds and it rained.
> >>> By Him Who sent Muhammad with the Truth, the sky was covered with clouds
> >>> from the end of that day, and the mosque which was roofed with leaf-stalks
> >>> of date palm trees (leaked with rain) and I saw the trace of mud and water
> >>> over the nose of the Prophet and its tip.
> >>>
> >>>
> >>> Mengenai tanah dari Karbala karena adalah tempatnya syahidnya pemimpin
> >>> para Syuhada dan merupakan tanah yang lebih utama.
> >>>
> >>> Adapun point yang perlu diperhatikan adalah *"Sujud ila turbah"* berbeda
> >>> dengan *"Sujud 'ala turbah"*
> >>>
> >>> Riza
> >>>
> >>> 2009/11/1 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo.
> >>> com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=whentheearthb ecomingvenus@ ...>

> >>> >
> >>>
> >>>
> >>>> salamun `alaikum,
> >>>>
> >>>> sekalian bahas 'syahadah ketiga' gimana klo temen2 juga bahas ttg *sujud-di-atas-
> >>>> turbah-karbala. *
> >>>> **
> >>>> setau saya akar-akar dimulainya praktik sujud di atas tanah karbala itu
> >>>> berasal dari Imam `Ali al-Sajjad:
> >>>>
> >>>> After the martyrdom of Imam Husayn (a), his son *Imam Zayn al-'Abidin*( a) picked some up, declared it to be sacred dust, and kept it in a bag. The
> >>>> Imams (a) *used to perform prostrations on it* and make a *tasbih* out
> >>>> of it, and recited Allah's praises on it.
> >>>>
> >>>> [Ibn Shahrashub, al-Manaqib, vol. 2, p. 251]
> >>>>
> >>> http://www.al- islam.org/ nutshell/ laws_practices/<http://www.al- islam.org/ nutshell/ laws_practices/>

> >>>
> >>> tapi yang jadi pertanyaan (titipan teman) saya adalah: karena *para Imam
> >>> Ma'shum melakukan sesuatu itu pasti ada contohnya dari Rasulullah Suci
> >>> (saww)*, apakah ada suatu riwayat yang berasal dari Rasulullah (saww)
> >>> yang menyatakan bahwa sujud di atas tanah karbala itu lebih utama/afdhal/
> >>> baik? Jika tidak ada: Apakah lebih memilih sujud di atas tanah Karbala itu
> >>> dapat dikatakan *ahdats/ bid`ah*?
> >>>
> >>>
> >>> Jazakumullah
> >>>
> >>> wassalam
> >>> dee
> >>>
> >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=moderatorium@ ...>
> >>> >* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=moderatorium@ ...>

> >>> >
> >>> Subject: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >>>
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=islam_ alternatif@ yahoogroups. com>

> >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 5:10 PM
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang
> >>> tertulis.
> >>>
> >>>
> >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>*wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> >>> Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> >>>
> >>>
> >>> Assalamualaikum wr wb
> >>>
> >>> Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member
> >>> Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> >>>
> >>> Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi
> >>> pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih
> >>> dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam
> >>> Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> >>>
> >>> Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa
> >>> menambah, menyangkal bahkan menolak.
> >>>
> >>> Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa
> >>> menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di
> >>> Download.
> >>>
> >>> Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu..
> >>>
> >>> Wassalam wr wb
> >>>
> >>> Moderator
> >>> MT
> >>>
> >>>
> >>> --- On *Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> >>> Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga
> >>> dalam Azan
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> >>>
> >>> Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> >>>
> >>> Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada
> >>> moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak
> >>> dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena
> >>> dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan
> >>> secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> >>>
> >>> Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua
> >>> pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah
> >>> saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut
> >>> bid'ah?
> >>>
> >>> Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit
> >>> penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada
> >>> permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama
> >>> penjelasan ringkas namun cukup lengkap dari Bib Anis.
> >>>
> >>> Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau
> >>> diatur langsung oleh moderator.
> >>>
> >>> Bagaimana?
> >>>
> >>> Wassalam
> >>>
> >>> Saleh Lapadi
> >>>
> >>> ------------ --------- ---------
> >>> *From:* maulachela <maulachela@yahoo. com>
> >>> *To:* islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> *Sent:* Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> >>> *Subject:* [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga
> >>> dalam Azan
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas
> >>> antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing,
> >>> mudah-mudahan tidak ngelantur.
> >>>
> >>> Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan
> >>> Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan.
> >>> Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah.
> >>> Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia
> >>> agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal
> >>> seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il
> >>> al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> >>>
> >>> Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia
> >>> berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan
> >>> wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada
> >>> Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah". Kemudian
> >>> dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu
> >>> anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw
> >>> semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru
> >>> merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana
> >>> golongan yang batil.
> >>>
> >>> Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah
> >>> dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh
> >>> Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar"
> >>> hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan
> >>> demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan
> >>> diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis
> >>> juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah
> >>> beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam
> >>> melakukannya tidak boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat:
> >>> Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin
> >>> al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali
> >>> Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> >>>
> >>> Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT
> >>> telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya
> >>> dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai
> >>> berikut:
> >>>
> >>> 1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain
> >>> Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui
> >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat
> >>> Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62;
> >>> dan lain-lain]
> >>>
> >>> 2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait
> >>> al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain Allah,
> >>> Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni
> >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah
> >>> al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> >>>
> >>> 3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya
> >>> dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww
> >>> bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha
> >>> Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku
> >>> perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful
> >>> Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> >>>
> >>> Wallahu A'lam.
> >>>
> >>> Wassalam,
> >>> Muh. Anis
> >>>
> >>> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com<http://us.mc396. mail.yahoo. com/mc/compose? to=islam_ alternatif% 40yahoogroups. com>,

> >>> saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >>> >
> >>> > Salam,
> >>> >
> >>> > Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku saya buku saku dan tipis
> >>> yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih
> >>> syahadah ketiga itu?
> >>> >
> >>> > Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu
> >>> Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> >>> >
> >>> > Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita
> >>> sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang
> >>> ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah
> >>> diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> >>> >
> >>> > Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas
> >>> menjadi jelas.
> >>> >
> >>> > Wassalam
> >>> >
> >>> > Saleh Lapadi
> >>> >
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >
> >
> >
> >
>





#11174 From: ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomingvenus@...>
Date: Mon Nov 16, 2009 6:30 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
whentheearth...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
salam,

Seharusnya sudah gamblang, kalau lebih utama sujud diatas Ardh (tanah/batu. ..)

yah... memang seperti itu adanya. Cuman kebiasaan umum muslim sunni yang meninggalkan sunnah Rasulullah (saaw) itu membuat sunnah yang biasa dilakukan Rasulullah itu menjadi (tampak) tidak biasa ketika dilakukan. Tapi tidak berarti tidak bisa, karena ada juga sebagian dari mereka yang (mulai) kembali melakukan sunnah Rasulullah itu, misalnya di Sidoarjo.

tentu tidap perlu dibid'ahkan tanah berasal dari Karbala. Apa orang di Indonesia ketika sujud di Jakarta menjadi bid'ah karena bukan tanah dari Madinah?

Yah... memang begitu. Apakah Rasulullah (saaw) yang berwudhu dengan air dari Makkah, Madinah, dan tempat2 lainnya di Hijaz yg pernah digunakan oleh Rasulullah, menjadikan wudhu kita yang menggunakan air dari tempat2 di Indonesia adalah bid`ah... memang aneh.

Tetapi yang saya tangkap dan pahami dari pembicaraan teman saya waktu itu adalah:
1. Awal mula muslim syi`ah melakukan sujud di atas tanah berasal dari apa yang dicontohkan oleh Imam Zainal`abidin `Ali Al-Sajjad (as);
2. sementara itu, apa yang diperbuat, diucapkan, dan yang didiamkan A'immah ttg Islam itu berasal dari perbuatan, ucapan, dan diamnya Rasulullah (saaw).
3. dengan begitu seharusnya apa yang dicontohkan oleh Imam Al-Sajjad itu memiliki akar hingga ke Rasulullah (saaw): dari Imam Al-Sajjad dari Imam Sayyidussyuhada dari Rasulullah (saaw);
4.karena sujud `ala turbati Al-Husayn itu bermula dari Imam Al-Sajjad, teman saya itu menganggap perbuatan itu sebagai bid`ah. Kecuali jika saya bisa membuktikan klo Rasulullah (saaw) juga melakukan atau pernah melakukan hal itu.

....hmm

Tapi Tragedi Karbala belum terjadi ketika Rasulullah (saaw) masih hidup....
gak papa lah yang penting saya sudah sujud di atas tanah dan sujud `ala turbati Al-Husayn itu bukan suatu keharusan (kewajiban) tetapi hanya sesuatu yang lebih diutamakan.
Tinggal diperjelas aja, apa bid`ah itu....

wa salam

dee

--- On Mon, 11/9/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Monday, November 9, 2009, 9:43 PM

 

Seharusnya sudah gamblang, kalau lebih utama sujud diatas Ardh (tanah/batu. ..) tentu tidap perlu dibid'ahkan tanah berasal dari Karbala. Apa orang di Indonesia ketika sujud di Jakarta menjadi bid'ah karena bukan tanah dari Madinah?

2009/11/9 rasahgelo <rasahgelo@yahoo. com>

ora nyambung blas ....


--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...> wrote:
>
> Rasulullah SAWW juga tidak pernah email2an..
>
> 2009/11/9 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@.. .>

>
> >
> >
> > Salam,
> >
> > Sujud di atas tanah itu memang dicontohkan oleh Rasulullah (saw) bahkan
> > bisa dilacak ke berbagai sumber dari pihak Ahlussunnah. Saya juga pernah
> > membaca dalam buku "Sifat Shalat Nabi" Nasr Al-Din Al-Albani, bahwa
> > Rasulullah itu lebih sering bersujud di atas tanah daripada di atas
> > khumrah atau hasir.
> >
> > Cuman yang kemudian dipermasalahkan oleh teman saya adalah:
> >
> > Dengan asumsi bahwa Para Imam (as) itu adalah generasi salaf yang shalih di
> > mana semua ucapan, perbuatan, dan taqrir Aimmah Ma`shumin (as) mengenai
> > Islam itu didasarkan kepada ucapan, perbuatan, dan taqrir dari Rasulullah
> > (saw). Maka--menurut teman saya: aneh bila ada riwayat di mana Imam
> > Al-Sajjad melakukan sesuatu (sujud) yang sebelumnya tidak pernah dilakukan
> > oleh Rasulullah (saw) yaitu `ala turbati Al-Husayn. Bukankah perbuatan
> > Imam itu tidak pernah menyalahi perbuatan Rasulullah (saw)?
> >
> > Dari asumsi tersebut kemudian teman saya itu menganggap bahwa perbuatan
> > sujud `ala turbati al-Husayn itu sebagai bid`ah (termasuk saya sendiri
> > yang sujud `ala turbatil Al-Husayn adalah pembid`ah :( )
> >
> > wa salam.
> >
> > DD
> >
> >
> >
> > --- On *Tue, 11/3/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>* wrote:
> >
> >
> > From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>

> >
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Date: Tuesday, November 3, 2009, 12:04 AM
> >
> >
> >
> >
> > *وَلَوْ سَجَدَ على رَأْس�ه� ولم ي�م�سَّ شيئا منجَبْهَت�ه� الْأَرْضَ لم
> > يَجْز�ه� السّ�ج�ود� وَإ�نْ سَجَدَ على رَأْس�ه� �َمَاسَّ شيئا منجَبْهَت�ه�
> > الْأَرْضَ أَجْزَأَه� السّ�ج�ود� إنْ شَاءَ اللَّه� تَعَالَى*
> >
> > Imam Syafi'i bilang gini, â€Å"Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali

> > tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak cukup dianggap sah.
> > Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (*al-ardh*),
> > maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Ta’ala.� (*Al-Umm*,

> > 1/114)
> >
> >
> > http://ejajufri. wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud-
> > di-atas-tanah/<http://ejajufri. .wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud- di-atas-tanah/>
> >
> > Powered by: Dahulukan Islam di Atas Mazhab <http://ejajufri. wordpress. com>

> >
> > --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>*wrote:
> >
> >
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Date: Monday, November 2, 2009, 7:05 AM
> >
> >
> >
> > Berikut terdapat di Bukhari-Muslim- Tirmidzi- Nasa;i
> >
> > ج�علت ليالأرض مسجدا وطهورا
> > Tinggal diperjelas apakah الأرض termasuk karpet, ubin, pelepah pisang

> > dll...
> >
> > 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
> >
> >>
> >>
> >> waktu itu mesjid rasul berlantaikan tanah yang keras. Saya belum pernah
> >> ketemu mesjid yang berlantaikan tanah. disekitar ka'bah apakah berlantaikan
> >> tanah atau ubin ?
> >>
> >> salam,
> >>
> >>
> >> --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>*wrote:
> >>
> >>
> >> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> >> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >> Date: Monday, November 2, 2009, 1:10 PM
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> â€Å"Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang sujud di atas sorbannya, maka

> >> beliau saw memberi isyarat dengan tangannya: 'Angkatlah sorbanmu dan
> >> memberi isyarat ke dahinya, sujudlah dengan dahimu.� (Sunnah Baihaqi juz

> >> 2 hal. 105 , Ishabah juz 2 hal. 201)
> >>
> >>
> >> 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=arismunawar@ ...>

> >> >
> >>
> >>>
> >>> salam,
> >>>
> >>> Apakah sujud diatas karpet/sajadah bid'ah karena nabi tidak pernah
> >>> melakukannya ? saya kalo terpaksa sekali sujud diatas tangan sendiri,
> >>> bagaimana hukumnya. afwan
> >>>
> >>> wass,
> >>> aris
> >>>
> >>> --- On *Sun, 11/1/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=abdulrahmanri za@...>
> >>> >* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=abdulrahmanri za@...>

> >>> >
> >>> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >>>
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=islam_ alternatif@ yahoogroups. com>

> >>> Date: Sunday, November 1, 2009, 6:37 PM
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Berikut riwayat dari shahih Bukharih setelah shalat tanah masih menempel
> >>> di dahi beliau SAWW berati Nabi SAWW sujud di atas tanah bukan karpet.
> >>>
> >>> *Volume 3, Book 33, Number 256: *
> >>>
> >>> Narrated Abu Said:
> >>> We practiced Itikaf with Allah's Apostle in the middle ten days (of
> >>> Ramadan). In the morning of the twentieth (of Ramadan) we shifted our
> >>> baggage, but Allah's Apostle came to us and said, "Whoever was m Itikaf
> >>> should return to his place of Itikaf, for I saw (i.e. was informed about the
> >>> date of) this Night (of Qadr) and saw myself prostrating in mud and water."
> >>> When I returned to my place the sky was overcast with clouds and it rained.
> >>> By Him Who sent Muhammad with the Truth, the sky was covered with clouds
> >>> from the end of that day, and the mosque which was roofed with leaf-stalks
> >>> of date palm trees (leaked with rain) and I saw the trace of mud and water
> >>> over the nose of the Prophet and its tip.
> >>>
> >>>
> >>> Mengenai tanah dari Karbala karena adalah tempatnya syahidnya pemimpin
> >>> para Syuhada dan merupakan tanah yang lebih utama.
> >>>
> >>> Adapun point yang perlu diperhatikan adalah *"Sujud ila turbah"* berbeda
> >>> dengan *"Sujud 'ala turbah"*
> >>>
> >>> Riza
> >>>
> >>> 2009/11/1 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo.
> >>> com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=whentheearthb ecomingvenus@ ...>

> >>> >
> >>>
> >>>
> >>>> salamun `alaikum,
> >>>>
> >>>> sekalian bahas 'syahadah ketiga' gimana klo temen2 juga bahas ttg *sujud-di-atas-
> >>>> turbah-karbala. *
> >>>> **
> >>>> setau saya akar-akar dimulainya praktik sujud di atas tanah karbala itu
> >>>> berasal dari Imam `Ali al-Sajjad:
> >>>>
> >>>> After the martyrdom of Imam Husayn (a), his son *Imam Zayn al-'Abidin*(a) picked some up, declared it to be sacred dust, and kept it in a bag. The
> >>>> Imams (a) *used to perform prostrations on it* and make a *tasbih* out
> >>>> of it, and recited Allah's praises on it.
> >>>>
> >>>> [Ibn Shahrashub, al-Manaqib, vol. 2, p. 251]
> >>>>
> >>> http://www.al- islam.org/ nutshell/ laws_practices/<http://www.al- islam.org/ nutshell/ laws_practices/>

> >>>
> >>> tapi yang jadi pertanyaan (titipan teman) saya adalah: karena *para Imam
> >>> Ma'shum melakukan sesuatu itu pasti ada contohnya dari Rasulullah Suci
> >>> (saww)*, apakah ada suatu riwayat yang berasal dari Rasulullah (saww)
> >>> yang menyatakan bahwa sujud di atas tanah karbala itu lebih utama/afdhal/
> >>> baik? Jika tidak ada: Apakah lebih memilih sujud di atas tanah Karbala itu
> >>> dapat dikatakan *ahdats/ bid`ah*?
> >>>
> >>>
> >>> Jazakumullah
> >>>
> >>> wassalam
> >>> dee
> >>>
> >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=moderatorium@ ...>
> >>> >* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=moderatorium@ ...>

> >>> >
> >>> Subject: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >>>
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com<http://us.mc1105. mail.yahoo. com/mc/compose? to=islam_ alternatif@ yahoogroups. com>

> >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 5:10 PM
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang
> >>> tertulis.
> >>>
> >>>
> >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>*wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> >>> Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> >>>
> >>>
> >>> Assalamualaikum wr wb
> >>>
> >>> Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member
> >>> Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> >>>
> >>> Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi
> >>> pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih
> >>> dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam
> >>> Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> >>>
> >>> Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa
> >>> menambah, menyangkal bahkan menolak.
> >>>
> >>> Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa
> >>> menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di
> >>> Download.
> >>>
> >>> Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu..
> >>>
> >>> Wassalam wr wb
> >>>
> >>> Moderator
> >>> MT
> >>>
> >>>
> >>> --- On *Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> >>> Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga
> >>> dalam Azan
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> >>>
> >>> Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> >>>
> >>> Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada
> >>> moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak
> >>> dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena
> >>> dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan
> >>> secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> >>>
> >>> Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua
> >>> pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah
> >>> saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut
> >>> bid'ah?
> >>>
> >>> Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit
> >>> penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada
> >>> permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama
> >>> penjelasan ringkas namun cukup lengkap dari Bib Anis.
> >>>
> >>> Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau
> >>> diatur langsung oleh moderator.
> >>>
> >>> Bagaimana?
> >>>
> >>> Wassalam
> >>>
> >>> Saleh Lapadi
> >>>
> >>> ------------ --------- ---------
> >>> *From:* maulachela <maulachela@yahoo. com>
> >>> *To:* islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> *Sent:* Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> >>> *Subject:* [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga
> >>> dalam Azan
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas
> >>> antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing,
> >>> mudah-mudahan tidak ngelantur.
> >>>
> >>> Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan
> >>> Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan.
> >>> Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah.
> >>> Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia
> >>> agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal
> >>> seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il
> >>> al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> >>>
> >>> Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia
> >>> berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan
> >>> wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada
> >>> Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah". Kemudian
> >>> dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu
> >>> anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw
> >>> semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru
> >>> merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana
> >>> golongan yang batil.
> >>>
> >>> Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah
> >>> dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh
> >>> Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar"
> >>> hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan
> >>> demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan
> >>> diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis
> >>> juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah
> >>> beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam
> >>> melakukannya tidak boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat:
> >>> Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin
> >>> al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali
> >>> Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> >>>
> >>> Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT
> >>> telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya
> >>> dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai
> >>> berikut:
> >>>
> >>> 1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain
> >>> Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui
> >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat
> >>> Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62;
> >>> dan lain-lain]
> >>>
> >>> 2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait
> >>> al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain Allah,
> >>> Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni
> >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah
> >>> al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> >>>
> >>> 3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya
> >>> dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww
> >>> bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha
> >>> Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku
> >>> perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful
> >>> Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> >>>
> >>> Wallahu A'lam.
> >>>
> >>> Wassalam,
> >>> Muh. Anis
> >>>
> >>> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com<http://us.mc396. mail.yahoo. com/mc/compose? to=islam_ alternatif% 40yahoogroups. com>,

> >>> saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >>> >
> >>> > Salam,
> >>> >
> >>> > Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku saya buku saku dan tipis
> >>> yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih
> >>> syahadah ketiga itu?
> >>> >
> >>> > Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu
> >>> Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> >>> >
> >>> > Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita
> >>> sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang
> >>> ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah
> >>> diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> >>> >
> >>> > Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas
> >>> menjadi jelas.
> >>> >
> >>> > Wassalam
> >>> >
> >>> > Saleh Lapadi
> >>> >
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >
> >
> >
> >
>




#11173 From: Ahsa <ahmadsahidin@...>
Date: Mon Nov 16, 2009 3:29 am
Subject: Ahmad Mansur: Ulama adalah Pelaku Utama Sejarah Indonesia!
ahmadsahidin...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
ALHIKMAHONLINE.COM -- Bagi Sejarawan -cum- penulis buku 'Api Sejarah', Ahmad Mansur Suryanegara, pelaku utama sejarah Indonesia adalah ulama. Beberapa peristiwa penting tak lepas dari peran serta para ulama.

Ahmad Mansur Suryanegara mengungkapkannya di sela-sela diskusi buku ‘Api Sejarah’ di aula H.U. Pikiran Rakyat, Bandung, Selasa (10/11/09).

Bagi Mansyur, buku pertama ini bercerita mengenai fakta sejarah Islam yang hilang. Selama ini, menurut Mansur, Indonesia kehilangan jati dirinya akibat pemahaman sejarah yang keliru. 

“Orang-orang Barat telah membalik-balikan kondisi Indonesia dari kenyataan yang sebenarnya. Indonesia yang sebenarnya kaya dianggap miskin. Indonesia yang super dianggap lemah. Tentu ini, sebagai bentuk perlawanan terhadap kondisi kita. Jika kita di mesjid di suruh berdiri, mereka berdiri di gereja. Kita disuruh puasa siang hari, mereka menganjurkan puasa di malam hari,” paparnya. 

Sejarah Indonesia bagi Mansur sangat ditentukan oleh yang namanya Ulama. “Tak akan mungkin Soekarno naik jadi Presiden tanpa persetujuan ulama. Tak akan mungkin ada Monas tanpa Ulama. Ulama adalah titik tolak bangsa Indonesia,” tegas Mansur. 

Ulama menjadi bagian yang menentukan sejarah Indonesia. Meski mereka hanya 1/19-nya saja dari umat, namun ulama adalah kalangan yang mencatat sejarah negeri ini. 

"Tentu, tidak semua ulama. Apalagi ulama yang lahir di era modern ini, banyak ternyata ulama yang tidak paham dengan ke-ulamaannya. Ulama yang bisa memenangkan ummat adalah ulama yang tidak melupakan sejarah awalnya,” tambah Mansur. 

Ia mengajak kepada semua untuk menghormati ulama, karena mereka telah menciptakan Sejarah Indonesia. “Tidak akan ada yang menghentikan gerak langkah Islam di Indonesia. Ini seperti halnya mudik. Orang berbondong-dondong pulang kampung, meski tanpa uang dan harta berlebih. Tapi kekuatan mudik mengalahkan segalanya. Begitupun dengan Islam dan Ulama, sejarah bangsa ini telah mencatatnya,” pungkas Mansur.  

(Siro/Alhikmahonline) http://www.alhikmahonline.com/content/view/736/15/


>>>www.ahmadsahidin.wordpress.com<<<


Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

#11172 From: "Vendra" <cahaya.benings@...>
Date: Fri Nov 13, 2009 5:19 am
Subject: Sarkozy Menentang Penggunaan Jilbab di Perancis
cahaya.benings@...
Send Email Send Email
 

Presiden Perancis, Nicholas Sarkozy, hari Kamis (12/10) menekankan status sekuler pada masyarakat negaranya dan menyatakan bahwa pakaian jilbab yang dikenakan para muslimah tidak mempunyai tempat di negara ini. Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita AFP, Sarkozi dalam pidato pentingnya terkait identitas bangsa Perancis, mengatakan, "Perancis adalah sebuah negara yang tidak ada tempat bagi jilbab."

 

Di Perancis, sebuah tim khusus yang terdiri atas 32 perancang undang-undang ditugaskan membahas undang-undang larangan berjilbab bagi ummat Islam. Pada bulan Juni, Sarkozy mengatakan, "Jilbab bukan simbol keimanan seseorang beragama." Untuk itu , ia menyatakan bahwa jilbab di negara ini tidak akan mendapat sambutan.

 

Pada tahun 2004, Perancis sengaja meratifikasi larangan berjilbab dan simbol-simbol agama lainnya dalam rangka mempertahankan sistem sekular. Di saat isu jilbab diangkat di Perancis, masalah imigran dan identitas nasional negara ini menjadi isu yang terhangat di negara ini. Kelompok oposisi sosialis Perancis menuding pemerintah sengaja menimbulkan sentimen anti-imigran dalam rangka menarik dukungan lebih besar dari kelompok kanan dalam pemilu daerah yang akan digelar bulan Maret. [irib].


#11171 From: Ahsa <ahmadsahidin@...>
Date: Fri Nov 13, 2009 4:06 am
Subject: Fakta-fakta yang Terungkap sangat Jarang Diulas pada Buku Sejarah lainnya
ahmadsahidin...
Offline Offline
Send Email Send Email
 

Salam... kemarin saat search menemukan resensi ini. Terimakasih buat yg udah nulis resensi, ulasannya sangat bermanfaat. Wassalam...

Judul : Api Sejarah
Penulis : Ahmad Mansur Suryanegara
Penerbit : Salamadani
Tahun: Cetakan 2, Oktober 2009
Tebal : 584 Halaman
Harga: Rp125.000


BUKU ini ingin mengangkat sejarah dari perspektif orang pribumi (khususnya pribumi Islam) agar tidak dikelabuhi penulisan sejarah oleh penjajah tentang perjuangan bangsa. Penulisan sejarah bagi penjajah dengan maksud menghilangkan kesadaran umat Islam dalam perjuangan bangsanya. Salah satunya adalah merancukan saat datangnya Islam dan masa perkembangannya di bumi nusantara.

Selama ini yang populer diketahui bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Aceh pada abad ke-13. Buktinya adalah Kerajaan Samudra Pasai yang menganut ajaran Islam. Tapi menurut Ahmad Mansur, ada fakta lain yang lebih sahih karena tidak mungkin masuknya Islam langsung mendirikan kekuasaan politik di Kerajaan Pasai. Ahmad Mansur menyebutkan bahwa pada abad ke-11 di Pulau Jawa telah berdiri kekuasaan politik Islam di Leran, Gresik, Jawa Timur yang didirikan oleh Fatimah binti Maimun. Pendirian kekuasaan politik Islam tersebut bersamaan waktunya dengan tahta kekuasaan politik Hindu di Kediri, Jawa Timur dibawah Raja Airlangga. Berdirinya kekuasaan politik Islam di Gresik jauh sebelum Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur pada 1294.

Dari fakta sejarah tergambar bahwa kekuasaan politik Islam, Budha dan Hindu dapat dikatakan hampir mempunyai kesamaan waktu keberadaannya di Indonesia. Hanya dalam perjalanan sejarah berikutnya, Agama Islam berhasil memenangkan massa mayoritas. Jadi kemunculan Islam di Indonesia jauh melebihi dari yang ditulis versi penjajah.

Demi memperkuat argumentasi, Ahmad Mansur memetakan Indonesia dalam konteks global. Dia membahas lebih dahulu perkembangan Islam di timur tengah, asia, afrika, dan eropa sebelum dan sesudah meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun 632 H. Setelah itu barulah masuk ke pembahasan masuknya Islam di Indonesia. Pembahasan seperti itu perlu dilakukan karena segenap perubahan yang terjadi di Timur Tengah, Asia-Afrika, dan Eropa pada masa Nabi Muhammad dan sesudah wafatnya sangat berpengaruh terhadap masuk dan perkembangan Islam di Indonesia.

Pada saat mengulas tentang Eropa, Ahmad Mansur membahas perihal imperialisme Barat. Pada saat pudarnya kekuasaan Hindu dan Budha serta berkembangnya kekuasaan politik Islam, datanglah orang-orang Barat yang diawali masuknya Portugis menduduki Malaka pada 1511 diikuti Belanda yang menduduki Jayakarta pada 1619. Menyebarnya imperialisme Barat adalah bentuk usaha untuk menaklukkan Islam berdasarkan ide yang dibangun dari Vatikan, Portugis dan Spanyol pada abad ke-15 M. Pihak Vatikan memberikan kewenangan kepada Kerajaan Portugis untuk menguasai dunia belahan timur, sedang Kerajaan Spanyol diberikan diberikan kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat.

Dalam perkembangannya, gerakan komunis menentang imperialisme Barat tersebut. Karena itu Karl Marx, pengajur komunisme menyerukan menolak ajaran agama (Kristen) karena menganggapnya agama para penjajah. Karl Marx menilai agama Kristen sebagai candu dan menjadi alat penjajahan untuk menidurkan rakyat yang tertindas oleh para penjajah Barat yang didukung oleh Vatikan untuk merealisasikan tujuannya yaitu tiga G: God, Glory dan Gospel.

Ketika Imperialisme Barat menjajah Indonesia mencoba menaklukkan masyarakat Muslim. Dari sinilah lahir embrio nasionalisme Indonesia menentang penjajah dari spirit kaum Muslim Indonesia sehingga banyak perlawanan-perlawanan di berbagai daerah yang berbasis penduduk Muslim. Salah satu upaya menaklukkan masyarakat Muslim adalah menghancurkan situs-situs Islam dan menonjolkan situs-situs Hindu dan Budha seperti memugar Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Salah satu situs Islam yang dibiarkan terbengkalai adalah situs Kerajaan Banten yang dibiarkan rata dengan tanah. Pada masa Kerajaan Banten berdiri megah, kerajaan Belanda sangat mengkhawatirkan kekuasaannya yang berpusat di Jayakarta (sekarang Jakarta).

Buku yang sangat tebal ini mencoba memaparkan sejarah Islam Indonesia dari kemunculannya hingga pada tahun 1950. Kelebihan buku ini adalah fakta-fakta yang terungkap dalam buku ini sangat jarang diulas pada buku sejarah Islam Indonesia lainnya..

SUMBER: http://id.shvoong.com/humanities/h_history/1942224-api-sejarah/


>>>www.ahmadsahidin.wordpress.com<<<


Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis. Download Yahoo! Toolbar sekarang .

#11170 From: Mohammad zen <zenhusein@...>
Date: Wed Nov 11, 2009 3:41 pm
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
zenhusein
Offline Offline
Send Email Send Email
 
assalamualaikum
Semakin hangat juga pembahasan ikut menikmati juga nih...
mungkin ada baiknya kita bahas dulu mengenai bid'ah selanjutnya sunnah dan taqrir...
sebelumnya saya selipin dulu tentang bid'ah mudah2an bermanfaat:..

Bid’ah menurut kamus bahasa dan kata yang terdapat dalam alquran:

 البدعةberasal dari kata  بدع yang dalam fi’il madhinya salah satunya bermakna ابتدع الشيء, وبدع الشيء yang artinya : استنبطه ، وأحدثه mencipta (sesuatu yang belum pernah ada) atau pun dari الابداع yang salah satu artinya  الجديدالمحدث yang artinya perkara baru.  Ataupun dengan bentuk kata

بدع الشيء ، یبدعه ، بدعا ، وابتدعه  . memiliki makna   أنشأه (mengadakan , menjadikan, menciptakan)بدأه (mulai,memulai). Dan

والبدیع والبدع yakni   الشيء الذي یکون أولا (Sesuatu yang pertama kali adanya)1

 

Seperti halnya dalam Al-Quran:

قُلْ ما كُنْتُ بِدْعاً مِنَ الرُّسُلِ وَما أَدْري ما يُفْعَلُ بي‏ وَلا بِكُمْ

Katakanlah, “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara para rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu...2

والله بدیع السماوات والأرض

“Dan Allah menciptakan langit dan bumi” 3

Bid’ah di berbagai pendapat :

1. Dalam Sumber kitab-kitab Ahlussunnah:

a. Hadits

-  كل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار

“Seluruh bid’ah adalah sesat, dan seluruh yang sesat dineraka”(Sunan Nasai)4. hal senada pula  terdapat di Shahih  Muslim walaupun tanpa mendzikirkan  وكل ضلالة في النار5

 b. Pendapat Para Ulama Ahlussunnah :

Al-Syafei : Al-Rabi' juga meriwayatkan hal yang sama bahwa Imam Al-Shâfi`î berkata kepada kami:

Perkara baru yang diciptakan  itu dua jenis (al-muh dathâtu min al-umûri darbâin):

Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah atau atsar Sahabat atau ijmâ’ para ulama’, maka bid‘ah itu adalah sesat.

ما أحدث مما یخالف کتابا ، أو سنة ، أو أثراها ، أو إجماعا ، فهذه البدعة الضلالة

Kedua, ialah perkara baru yang diadakan dari kebaikan (mâ uhditha min al-khayr) yang tidak bertentangan dengan sumber-sumber yang telah disebutkan  di atas, dan ini bukan bid‘ah yang buruk (wa hâdhihi muhdathatun ghayru madhmûmah).

`Umar berkata mengenai shalat Terawih berjamaah di bulan Ramadhan:“Alangkah bagusnya bid‘ah ini!”maksudnya ‘perkara baru’ yang diciptakan yang belum ada sebelumnya, tetapi tidak bertentangan dengan perkara diatas (Al-Qur’an, Sunnah, atsar Sahabat dan Ijma’).’”6

Nada serupa pula terdapat pada pendapat ulama suni lainnya , yang dimana mereka umumnya membagi dua bid’ah dan mereka mendefinikan dengan makna bertentangan (یخالف) 7 seperti halnya pula pendapat ulama Al-Ghazali Al-Ghazzâlî 8 dan Qadi Abu bakar ibn Al-Arabi Almaliki9 ibnu hazm Al-Zahiri10, Ibnu Aljauzi (Kitab talbis Iblis), atau yang tidak sesuai dengan qaidah Syari’yyah11, dll, dan ada juga yang berpendapat sangat ekstrem dari kaum salafi atau wahabi dengan menafikan seluruh dari bentuk bid’ah dan seluruhnya bid’ah yang telah disebutkan diatas12 dengan mengambil dari hadits An-Nasai dengan Sunannya :Seluruh bid’ah sesat dan setiap yang sesat di neraka.

 

2. a. Hadits dari sumber kitab-kita Syiah : salah satu hadits dari mazhab syiah yang mejelaskan mengenai bid‘ah terdapat dalam Mustadrak Al-Wasail13, bersabda rasulullah saww : Wahai sekalian manusia tidak ada sunnah setelah sunnahku (nabi saww dan imam maksum as merupakan bagian dari sunnah yang diyakini mazhab Syiah dengan bersumber pada Alquran dan hadits rasulullah saww14), dan barangsiapa yang mengklaim (perkara yang bid’ah) serta mengajak orang lain kedalam perkara tersebut, dan hal itu termasuk bid’ah serta  orang yang melakukannya masuk neraka. Hal yang serupa juga terdapat dalam kitab lainnya semisal nahjul balaghah  : bid’ah itu adalah membuat sesuatu yang baru berdasar hawa nafsunya, dan tidak bersandar kepada sumber-sumber yang haq (yakni quran dan sunnah).15

b.  Pendapat ulama syiah

- Ibn Hajar ‘asqalani : Maksud dari bid’ah adalah apa-apa yang baru dan tidak terdapat di dalam syar’i, akan tetapi apa-apa yang padanya terdapat dalam syar’i dan berdalil dengannya maka hal tersebut bukanlah bid’ah.16

-  Alamah majlisi :Bid’ah dalam syar’i adalah apa-apa yang baru setelah Rasulullah saww dan tak terdapat secara khusus pada nash. Dan tidak terdapat pula di dalam sebagian yang umum, atau terdapat larangan padanya secara khusus atau umum.17

Simpulan Singkat

Pada dasarnya suni dengan syiah berpendapat sama pada sebagian definisi yaitu bahwa bid’ah adalah sesuatu yang tidak ada di zaman nabi dan baru di zaman sekarang tetapi perbedaannya ada pada masalah :

1. Sebagian pendapat suni berpendapat bahwa bid’ah adalah perkara yang tidak ada di zaman nabi saww tetapi pada zaman sekarang dilakukan . Dan bid’ah itu sendiri terbagi dua : tak bertentangan dengan nash (bid’ah hasanah) ataupun yang bertentangan (Dalalah/sayyi’ah). Disini telihat adanya makna yang bertentangan (kontradiktif) dengan hadits dari sumber mereka sendiri seperti yang tertulis dalam sahih muslim ataupun sunan nasai yang mengatakan semua bid’ah adalah sesat.

2. Sebagian lagi pendapat salafi dan wahabi, pada umumnya berpendapat bahwa semua perkara yang tidak ada di zaman nabi dan ada di zaman sekarang secara qaul dan perbuatan rasul saww maka hal tersebut dikatakan bid’ah tanpa membedakan mana yang baik dan yang buruk, akan tetapi ketika berhadapan dengan masalah tarawih yang difatwakan Umar, dan masalah lainnya, mereka menjawab bahwa Dalil dari para sahabat Nabi saww merupakan salah satu nash mereka, jadi hal tersebut tidak dikatakan bid’ah, walaupun di zaman nabi tidak dilakukannya, karena mereka berpendapat semua yang dilakukan sahabat(terutama Khalifah yang empat) merupakan hujjah juga bagi mereka. Sebagian lain menjawab bahwa hal tersebut adalah bid’ah lughawiah bukan  Syar’iyyah karena bid’ah syar’iyyah adalah haram.18 Maksudnya mereka berpendapat bahwa terawih secara lughawi adalah bid’ah akan tetapi secara af’al syar’iyyah adalah bukanlah bid’ah karena telah dicontohkan oleh sahabat nabi saww. Dalam kenyataannya mereka akan terjebak terhadap masalah hukum dizaman sekarang yang tak ada di kedua zaman tersebut baik itu dizaman Nabi atau para sahabatnya. Sehingga Ijtihad yang keluar dari pendapat ulama mereka merupakan ijtihad yang bersumber dari pemikiran sendiri keluar dari sumber-sumber nash yang mereka yakini. Atau konsekuensi kedua adalah mereka harus menghapuskan perkara yang tak ada di kedua zaman tersebut yang ada di zaman sekarang, walaupun perkara tersebut banyak manfaatnya untuk ummat di zaman sekarang dan tak bertentangan dengan nash.

3. Dengan memperhatikan keyakinan dalam mazhab Syiah bahwa seluruh perkara sudah ada hukumnya (dalam kitabullah dan sunnah nabinya)19 baik berupa khusus ataupun hanya hukum yang umum, maka bid’ah disini adalah yang bertentangan dengan sumber hukum tersebut seperti halnya pendapat masyhur ulama bahwa dalam melihat bid’ah kita harus melihat kaidah umum wa khas , karena sebagian ada yang berupa umum belum ada khususnya di zaman nabi saww dan imam maksum as, sebagian lagi ada yang sampai khusus di zaman nabi dan imam maksum as. Baik berupa qaulnya, amalnya, maupun takrirnya. Jikalau bertentangan dengan ushul Syari’ah dan sunnah (nabi saww maupun imam maksum as) maka hal tersebut dikatakan bid’ah artinya jikalau perkara yang tidak bercabang dan bertentangan dengan yang umum maka hal tersebut dikatakan bid’ah, seperti yang telah dijelasan oleh Alamah Majlisi. tanpa membagi bid’ah hasanah ataupun dalalah, karena di satu sisi Syiah juga meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat20. Oleh sebab itu dalam mencari hukum sesuatu yang seakan-akan baru di zaman sekarang ketika masa ghaibnya imam zaman maka harus merujuk kepada sumber nashnya , dan hal ini memerlukan upaya istibath hukum oleh orang-orang yang paham dibidangnya. Dari hal tersbut bisa disimpulkan sementar bahwa sesuatu yang seakan-akan baru di zaman sekarang tetapi merupakan bagian  yang khas dari yang umum tak bertentangan dgn nash maka hal tersebut tidak dikatakan baru pada hakikanya (artinya memang maksud nabi dan aimmah as seperti itu juga) dan hal terseut tak dikatakan bid'ah.

Dafar Pustaka:

1. Lisanul Arab, Kamus Al-Munawir

2. Qs:46:9

3. Qs:2:17, Qs:6:101

4. Sunan nasai jilid 2, hal 188-189

5. Shahih  Muslim jilid 2, hal 592

6.  dari al-Rabî` oleh al-Bayhaqî dalam Madkhal dan Manâqib al-Shâfi`î beliau (1:469) dengan sanad sahih seperti yang disahkan oleh Ibn Taymiyyah dalam Dâr’ Ta`ârud al-`Aql wa al-Naql (hal. 171).

7. Qawa’idul ahkam fi masailil anam 2/172

8. Ihyâ’ `Ulûm al-Dîn 1:276

9. Ibn al-`Arabî, `A rid at al-Ahwadhî 10:146-147

10. Ibn Hazm, al-Ihkâm fî Usûl al-Ahkâm 1:47

11. Al-‘Itisham 1/37

12. Al-‘Itiqad ‘ala mazahib Al-Salaf , 114, ‘ahd jadid

13. Mustadrak Al-Wasail jilid 11 hal 87

14. Dalil Bahwa Imam maksum as (ahlulbait nabi as) adalah sunnahnya nabi saww yang harus diikuti :

a. Ayat Ath-Thahrir : Qs Al-Ahzab : 33 diamana ahlulbait disini adalah Imam maksum as menurut sumber hadits suni dan syiah dan mereka adalah maksum dan kemaksuman merupakan salah satu dalil untuk diikuti, karena maksum berarti tak ditemukannya kesalahan baik pikiran, keyakinan, ataupu perbuatan dan hal itu berarti sesuai dengan keinginan Allah dan rasulNya saww.

b. Ayat Ulil Amri : Qs Annisa 59 . dimana kita harus mentaati Allah dan rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu, Yang dimaksud ulil amri disini adalah Imam maksum terkhusus kepada Imam Ali as (bersumber dari tafsir Al-Quran Suni dan Syiah). Dan ketaatan disana merupakan ketaan tanpa syarat serupa dengan ketaatan kepad Allah dan rasul-Nya, sehingga keniscayaan bahwa ketaatan tanpa syarat menunjukkan kemaksuman dari imam maksum tersebut.

c. Hadits Tsaqalain : dengan berbagai seumber dari suni dan syiah yang berisi bahwa Rasul meninggalkan dua pusaka yaitu Al-Quran dan Itrahnya, dimana kalau kita berpegang kepada mereka maka tak akan tersesat selama-lamanya. Itrah disini adalah imam Maksum as.

d. dan masih banyak lagi hadits yang lain disini hanya digambarkan beberapa saja.

15. Al-Maktabah Al-Shamilah hal 50 juz 1

16. Fathul bari , jilid 13, halaman 212

17. Biharul Anwar, jilid 71 halaman 202-203

18. Al-bahits ‘ala inkar Al-bid’i wa al hawaditsi halaman 93-95

19. Al-Kafi jilid 1, hal. 62.

اكل شيء في كتاب الله و سنة نبيه او تقولون فيه ؟ فقال : بل كل شيء في كتا ب الله و سنة نبيه  

20. Al-Maktabah Al-Shamilah, Tahzibul Ahkam, juz 61 halaman 14.

وإن كل بدعة ضلالة وكل ضلالة سبيلها إلى النار



MANGGA JURAGAN , LANJUT DISKUSINYA....

MOHAMMAD ZEN
--- On Tue, 11/10/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Tuesday, November 10, 2009, 9:32 AM

 

Salam,

Pak Khairun Arief,

Anda mengakui hadits Tsaqalayn dan kita akui tidak ada nash yang mengatakan Nabi SAWW berpesan, "Berpeganglah kepada Al-Qur'an dan Shahih Bukhari".

Secara statistik, pandangan umum, bagi orang2 yang awam ilmu rijal hadits adalah benar secara statistik Syeikh Bukhari tidak merujuk kepada riwayat Imam Ja'far as-Shadiq padahal ahli hadits Sufyan Tsauri, ahli matetamatik Jabir bin Hayyan, Imam Mazhab Abu Hanifah dll berguru kepada beliau AS.

Oleh karena itu apabila ada riwayat yang dikutip Pak Muhammad Zen ketika Abu Dzar menambahkan Syahadat ketiga dan Nabi SAWW tidak keberatan maka sudah membuka celah hal tersebut tidak bid'ah meskipun tidak ada di shahih Bukhari.

Adalah lumrah dan natural pada saat itu bila ada yang menambahkan riwayat Syahadat ketiga dalam kitabnya ya beresiko dipenggal kepalanya. Namun berbeda dengan riwayat 12 khalifah Quraysh tetap ada karena toh Bani Umayyah dan Bani Abbas juga dari kalangan Quraysh, jadi ga akan dipenggal kepala orang yang meriwayatkan riwayat demikian.

Salam,
Riza

2009/11/10 Khairun Arief <husein_irun@ yahoo.com>

Ustad, pada awal mula, kita mendiskusikan mengenai azan ketiga, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi mengenai definisi Bid'ah. Kemudian, ustad Saleh Lapadi memeberikan penjelasan mengenai Taqrir yang berarti diamnya Nabi atas sebuah masalah. Kongklusi dari metodologi tersebut adalah, segala sesuatu yang didiamkan oleh Nabi, sebetulnya tidak bisa dikatakan sebagai Bid'ah. Logikanya, jika sebuah perkara memang dilarang, sudah tentu Nabi Muhammad SAWW tidak akan berdiam diri saja toh?? Sampai titik ini saya masih setuju..

Namun demikian, ketika kita mencoba mengaplikasikan metodologi ini dalam konteks ibadah, kita harusnya sudah memiliki bukti awal terlebih dahulu dong bahwa Nabi memang "Berdiam Diri" dalam sebuah persoalan sehingga kita bisa mengatakan bahwa benar nabi "Diam saat itu". Kita tidak patut mengatakan bahwa Nabi berdiam diri terhadap sebuah perkara ibadah yang betul-betul baru hanya karena kita mengatakan: "Tidak menemukan sebuah Hadits yang menceritakan bahwa Nabi melarangnya". Karena masalahnya, bisa saja kita tidak akan menemukan Hadits Nabi yang melarang perkara tersebut, karena toh memang tidak ada orang yang melakukan hal tersebut dimasa Nabi. Masalahnya, saya belum menemukan sebuah indikasi yang meyakinkan bahwa Azan Ketiga itu sudah diaplikasikan dizaman nabi dan saat itu Nabi membiarkannya. .Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi "Tidak ada hadits Nabi yang melarang", akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan. Menurut saya, yang bijak adalah berasumsi bahwa Nabi Tidak mencontohkan. .Oleh karena itu, tidak perlu kita melakukan. Bila Allah dan rasul merasa perlu untuk memerintahkan sebuah ritus, pastilah sebuah hal akan diperintahkan. .Masalahnya, toh tidak ada perintah definitif demikian?

Dengan demikian, metodologi Taqrir itu, baru akan relevan bila dilakukan untuk perkara-perkara diluar Ibadah ataupun Hal-hal lain yang sudah definitif.. Secara tehnis, metodologi tersebut dapat kita eksplorasi dengan cara "Menabrakkan" kondisi sosial objektif masyarakat saat itu dengan Hadits-hadits sahih dan kemudian melihat semua itu dari sudut pandang Quran..

Dengan demikian ustad, Taqrir Nabi menyangkut wilayah ibadah..tidak bijak bila kita tempatkan dalam wilayah asumsi..

Nb: Ustad Anis, menurut saya, hadits itu adalah "Kabar".Kabar mengenai Sunnah Rasul . Namun demikian, Sunnah Rasul sendiri terdiri dari 1) Perkataan; 2) perbuatan; 3) Diamnya Nabi; 4) Sikap Mental Nabi; dalam menyikapi sebuah masalah yang semua itu dirujukkan beliau kepada Kitabullah. Masalahnya,ketika sebuah riwayat dibakukan dan dibukukan menjadi Hadits dalam sebuah kitab ataupun cerita orang, konteks-konteks sosial yang melatar belakanginya, asumsi-asumsi dibalik terjadinya dan sikap mental yang mengiringi sebuah kejadian tidak mutlak ( tapi bukan tidak mungkin ya..) ikut terbakukan dalam tulisan atau cerita. Itulah akhirnya, sebuah hadits jadinya hanyalah sebuah bahan mentah untuk kita membangun pemahaman mengenai perilaku nabi..Cara kita membangun pemahaman atas perilaku nabi itu, dapat dilakukan dengan menganalisis segala sesuatu dari sudut pandang Quran, dan merujuknya kepada para A'immah (Itulah relevansi hadits Tsaqalain). Namun demikian, ketika Nabi dan para A'immah juga tidak bersama kita saat ini, kita harus merujuk segala sesuatu terrmasuk hadits dari sudut pandang Quran dan Akal. Mekanisme akal dalam merujuk Hadits adalah dengan menganalisanya dari sudut pandang Kemungkinan saat itu dan situasi objektif konteks yang melatarbelakanginya yang relevan dengan semangat qurani itu sendiri. .Dengan demikian, hadits yang berkaitan dengan A'immah yang mengizinkan adanya azan ketiga, tentu saja jadi tidak masuk akal. Karena, bagaimana mungkin para A'immah akan menambahan sendiri ibadah yang tidak dicontohkan Nabi sementara kita menjadikannya sebagai tempat bertanya dan penjelas mengenai Quran dan penjelas mengenai sunnah rasul?? Arti penting para A'immah, menurut saya bukan karena mereka orang-orang yang membuat risalah baru setelah nabi, melainkan mereka sendiri adalah sunnah rasul yang hidup diantara manusia.Dengan demikian, gema para A'immah adalah Gema Rasul..bukan sinaran mereka sendiri.Oleh karena itu, bila ada sebuah hadits mengenai A'immah yang melakukan sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh seorangpun dizaman nabi melainkan hanya melalui asumsi, maka sudah seharusnya kita mengatakan bahwa Hadits tersebut tertolak..

"Sesungguhnya Allah itu tidak Tidur dan Lupa"

Wallahu a'lam..


Sent: Tue, November 10, 2009 8:11:58 AM

Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

Salam,


Supaya tidak salah pengertian, menurut antum apa definisi "hadis"? Karena, saya menangkap dari uraian antum, seolah ada dua entitas yang berbeda: hadis dan taqrir. Sementara, yang saya pahami, taqrir itu bagian dari hadis. Keif ustad?

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Bis Anis, saya tidak menafikan dari sisi pengakuan Ahli Sunnah akan taqrir, tapi dalam kenyataannya masalah ini hampir tidak banyak dibahas dan dijadikan salah satu sumber hukum setara dengan hadis dan perbuatan Nabi. Dalam Ushul Fiqih Syiah masalah ini dikaji secara serius dan tercermin dalam argumentasi- argumentas Fiqih.
>
> Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, bahwa sekilas kita akan beranggapan mengamalkan taqrir lebih mudah, karena dengan tidak ada dalil sudah cukup bagi kita untuk beramal atau menyebut satu perilaku atau apa saja sebagai Islam dan sesuai syariat Islam. Tapi pada tataran mengargumentasikann ya dibutuhkan kemampuan menguasai sejumlah kaidah dalam berargumentasi yang diajarkan dalam Ushul Fiqih dan memahami maksud dari ribuan hadis yang ada, jangan-jangan memberikan konotasi pelarangan terhadap satu perbuatan. Jadi sekalipun tampak sederhananya tidak ada hubungan dengan hadis dan perbuatan Nabi, tapi pada hakikatnya adalah pengertian sebaliknya dari hadis dan perilaku Nabi itu sendiri.

>
> Mengenai pernyataan kedua Antum, dalam pernyataan saya itu seharusnya dipahami ketika orang lain lebih mementingkan perkataan dan perbuatan Nabi, tapi melupakan taqrir, saya mencoba mengingatkan pentingnya taqrir yang dipahami Antum seakan-akan mengeluarkan taqrir dari Sunnah. Saya tebalkan karena Antum menyebut hadis yang jelas hanya berkaitan dengan perkataan dan tidak termasuk perbuatan apa lagi taqrir, sekadar meluruskan.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: maulachela <maulachela@ ...>
> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> Sent: Fri, November 6, 2009 11:09:39 AM
> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
>
>
> Salam,
>
> Sungguh penjelasan yang cerdas ustad.
>
> Tetapi sekadar catatan, pada kalimat antum "Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi", terkesan bahwa hanya Syiah yang memilikinya. Padahal, Sunni juga memasukkan taqrir dalam pengertian Sunnah Nabi saw.
>
> Selain itu, pada kalimat antum "Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis", seolah antum mengeluarkan taqrir dari bagian hadis. Padahal, setahu saya, hadis itu meliputi aqwal (perkataan), af'al (perbuatan), dan taqrir.
>
> Wallahu 'Alam
>
> Wassalam,
> Muh. Anis
>
> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >
> > Salam,
> >
> > Bung Reza, ada poin penting yang ingin saya katakan dengan mencoba mengetengahkan masalah taqrir Nabi.
> >
> > Mengapa? Karena dengan membicarakan masalah bid'ah dengan definisi "Sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw", saya menangkap pembahasan masalah bid'ah tidaknya syahadah ketiga dalam azan itu hanya menekankan pada perbuatan dan ucapan Rasulullah saw sebagai bagian dari Sunnah Nabi. Padahal, sebagaimana kita ketahui, Sunnah Nabi itu tidak terbatas pada keduanya, tapi juga mencakup taqrir.
> >
> > Patut diketahui, bila perbuatan dan ucapan Rasulullah itu kita artikan dimensi positif, sementara taqrir adalah dimensi negatif Sunnah, karena ia dikategorikan Sunnah ketika tidak bersikap.
> >
> > Bagi mereka yang menyebut syahadah ketiga dalam azan itu bid'ah karena melihatnya tidak disebutkan baik dalam perbuatan dan ucapan Nabi? Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan taqrir?
> >
> > Maksud saya, dengan teropong taqrir, apakah ada sikap Nabi, atau para Imam yang menolak syahadah ketiga dalam azan? Sehingga bukan saja masalah ini tidak disebutkan oleh Nabi dan Imam, tapi juga ada sikap menolak dari mereka.
> >
> > Sebenarnya, dengan memahami masalah ini lebih dalam, kita dapat meraih satu cara pandang umum dan bijaksana dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk agama atau tidak. Di sini kita akan menemukan seberapa sempit dan luas agama kita dalam menyikapi pelbagai hal yang terjadi saat ini.
> >
> > Saya pernah membahas masalah ini dalam salah satu tulisan saya, tapi sayangnya sudah tidak bisa ditemukan lagi dalam arsip situs ISLAT. Di sana ada pembahasan mengenai suatu perbuatan itu bagaimana disebut sebagai perbuatan agama dan berlandaskan syariat? Ini bahkan bisa menjadi landasan bagi dikotomi adanya ilmu Islam dan non-Islam, atau bahkan bisa menjadi salah satu referensi dalam upaya "Islamisasi Ilmu-Ilmu".
> >
> > Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi. Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis. Apa saja yang tidak disebut di dalamnya langsung kita definisikan bid'ah dan keluar dari agama. Kita membuat agama kita menjadi sempit. (Saya mencoba membahasnya dengan tetap mempertahankan alur pembahasan kita) Sebagian bahkan untuk keluar dari perangkap bid'ah yang disebut Nabi sebagai sesat, mencoba membaginya menjadi bid'ah sesat dan baik. Ini muncul dari kesalahan cara pandang terhadap masalah.
> >
> > Dalam Syiah menilai agama Islam ini lebih luas saat ingin menghukumi sesuatu itu termasuk Islam atau bukan. Dan hal ini dengan sederhana dilakukan dengan bertumpu pada taqrir yang jarang dibahas. Untuk itu saya coba berikan kaidahnya.
> >
> > Bila kita hanya mencukupkan diri dengan poin positif Sunnah Nabi, dalam istilah fiqih disebut "'Ilm Bil 'Adam" (kita mengetahui ketidakadaannya dalam Islam). Bila saya contohkan, dalam kasus syahadah ketiga dalam azan itu kita beramal dengan kaidah ini. Artinya, Kita punya pengetahuan bahwa tidak ada hadis atau perbuatan Nabi tentang hal ini. Dengan demikian, perbuatan ini menjadi haram, karena tidak ada ilmunya (dalilnya)
> >
> > Namun ada satu kaidah lain lagi dalam fiqih yang disebut "'Adamul 'Ilm" (tidak ada ilmu). Bila dicontohkan, kita tidak punya pengetahuan tentang masalah adanya pelarangan dari syariat, baik Al-Quran, Nabi maupun Imam (tidak ada dalil yang melarang). Dengan demikian, perbuatan mengucapkan azan menjadi boleh karena tidak ada larangan dari syariat.
> >
> > Sederhananya, yang pertama sisi positif bahwa kita punya ilmu tentang tidak adanya dalil syariat, sementara yang kedua sisi negatif bahwa kita tidak punya ilmu adanya dalil syariat yang melarang.
> >
> > Dengan penjelasan ringkas ini dan semoga tidak membingungkan, dampak praktis dari kaidah pertama, agama kita sempit dan pada gilirannya menciptakan dualisme agama dan non-agama, namun hal itu tidak terjadi pada kaidah kedua, bahkan memberikan keluasan dalam memahami agama.
> >
> > Kaidah kedua ini memberikan kita wawasan luas menjadikan kita lebih arif menilai satu perbuatan yang dilakukan orang lain. Lihat, bagaimana sebuah teori mampu memberikan cara pandang dan sikap kepada manusia.
> >
> > Maaf, bila saya sudah mulai keluar dari pembahasan.
> >
> > Dengan penjelasan ini, saya berharap diskusi ini dilanjutkan dengan tetap memperhatikan tema yang didiskusikan.
> >
> > Wassalam
> >
> > Saleh Lapadi
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...>
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Sent: Tue, November 3, 2009 6:32:12 PM
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >
> >
> > Ust Saleh,
> >
> > Mengacu pada ayat "Taatilah Allah, Rasul dan Uulil Amri diantara kamu" sudah jelas kata terakhir mengacu pada hadits 12 Khalifah Qurays yang sangat mutawatir dalam kutubun sittah pegangan Ahlu Sunnah.
> >
> > Dahulu Ust Saleh pernah mengutip 4 Naib pada masa sufara merupakan pembelajaran mengenai Marjaiyah yang kemudian pada masa keghaiban kubra menjadi Marjaiyah al-A'la sampai metamorfosisnya sekarang menjadi Wilayat al-Faqih.
> >
> > Singkat cerita, merujuk kepada 4 Naib pada masanya dan marja A'lam saat ini secara tidak langsung merupakan bentuk ketaatan kepada Uulil Amri yang berarti juga bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sebagaimana pesan Imam Mahdi AFS, "Mengenai permasalahan kalianrujuklah kepada yang meriwayatkan hadits-hadits kami"... juga "Kepada orang yang wara', berilmu dan meninggalkan hawa nafsunya maka wajiblah bagi orang awam untuk merujuk padanya"
> >
> > Demikianlah yang saya fahami mengenai pesan beliau AFS, "Mencari manfaat dariku ibarat mencari manfaat matahari ketika tertutup awan"
> >
> > Jika garis komandonya sudah jelas maka mudahlah agama ini bagi orang awam. Namun menjadi permasalahan jika ada yang bertanya, "Nenek moyang saya di kampung sampai sekarang mengadakan tahlilan, ratiban, tabuik husein yang merupakan tradisi Syi'ah... Apakah saya juga Syi'ah Ali .. ??
> >
> > Dapatkah dijelaskan bahwa Syi'ah2 zaman dahulu di Nusantara termasuk pembawa tari Saman di Aceh berafiliasi dengan Marjaiyah al-A'la atau terisolasi garis komandonya? Jika hal ini jelas maka dengan mudah menjawab isu2 bahwa ratiban dan tabuik huseyn tidak bid'ah karena jelas jalur komandonya.
> >
> > Salam,
> > Riza
> >
> >
> >
> > 2009/11/3 saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > >
> > >>
> > >Salam,
> > >
> > >Sampai di sini ketiba berbicara mengenai definisi bid'ah, tidak ada yang menyinggung sedikitpun mengenai taqrir Nabi. Sebagaimana diketahui, taqrir termasuk sunnah nabi yang bukan ucapan dan perbuatannya, tapi sikap diam nabi menyaksikan perbuatan dan amalan ibadah sahabat sebagai tanda setuju.
> > >
> > >Bila ini dikembangkan hingga kepada para imam, bagaimana korelasinya dengan masalah yang tengah kita bicarakan?
> > >
> > >Katakanlah di masa para imam juga hal yang seperti ini, mengapa kita mendekati masalah ini lewat taqrir?
> > >
> > >Bila bisa, lalu bagaimana penjelasannya?
> > >
> > >Menjawab pertanyaan-pertanya an ini bakal membuka sebuah wawasan yang dalam mengenai hukum Islam. Dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas, cara pandang kita tidak akan sempit, seperti apa yang dipikirkan Wahhabi
> > > dan siapa saja yang ingin melihat masalah secara lebih dalam.
> > >
> > >Kita lanjutkan diskusi kita...
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >Saleh Lapadi
> > >
> > >
> > >
> > >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: farah izadi <farah_izadi@ yahoo.com>
> > >
> > >To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >Sent: Sat, October 31, 2009 11:15:01 AM
> > >
> > >Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >
> > >
> > > >
> > >>Salam
> > >
> > >Sambil menyimak...
> > >
> > >Ada pertanyaan yg mungkin bisa menjadi bahan renungan: Apakah tolok ukur Bid'ah-Sunnah hanya prilaku Rasul saja, sehingga peran khalifah Arrasyidin al-Mahdiyiin (para imam suci Ahlul Bait) murni ikut prilaku Rasul dgn segala kondisi zamannya? Dalam arti, apakah setiap yang dilakukan Rasul adalah Sunnah dan apakah setiap yang tidak pernah dilakukan Rasul adalah Bid'ah? Sehingga kita sewaktu makan Soto berkuah umpamanya untuk mengikuti sunah Rasul harus menggunakan tiga jari (padahal di Arab zaman Rasul gk pernah ada Soto berkuah)...kapan selesainya? :D
> > >
> > >Apakah adanya 'dalil umum' (bukan khusus) menyinggung
> > > dan dapat diterapkan pada satu perbuatan mungkinkah ia bisa dijadikan 'pembenar' (dalil) akan kelegalan (masyru'iyat) sebuah perbuatan sehingga dia tidak dikategorikan Bid'ah?
> > >
> > >Saya harap kajian ini
> > > berlanjut terus oleh bapak-bapak itu.
> > >Krn kajian ini (syahadah ketiga dalam azan; bid'ah atau sunnah?) akan juga dapat menjawab ttg isu bid'ah Tahlil, Baca Maulud Nabi, Baca Ratib, Baca Manaqib, Shalat Terawih....dan beberapa amalan lainnya.
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >
> > >--- On Sat, 10/31/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:
> > >
> > >
> > >>From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>
> > >>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>Date: Saturday, October 31, 2009, 5:53 AM
> > >>
> > >>
> > >>>>
> > >>
> > >>
> > >> >>
> > >>>>Bid'ah itu "sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasul" atau "sesuatu yang bertentangan dengan Ma'shumin (termasuk a'immah as.)"? (sebagaimana definisi hadis dalam Ahlul Bait, kalau tidak salah, "ucapan dari Ma'shumin as.")
> > >>
> > >>Kalau bid'ah adalah definisi yang kedua di atas, dan terdapat hadis atau perintah dari para imam as. tentang syahadah ketiga dalam azan, maka tidak menjadi bid'ah (??)
> > >>
> > >>NB: Maaf ngelantur :)
> > >>
> > >>Dahulukan Islam di Atas Mazhab
> > >>
> > >>--- On Fri, 10/30/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>
> > >>
> > >>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> > >>>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Date: Friday, October 30, 2009, 12:19 PM
> > >>>
> > >>>
> > >>>>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>Salam,
> > >>>
> > >>>Sejauh ini saya melihat diskusi yang ada sangat menarik. Dari hanya sekadar pernyataan singkat Ejajufri yang menyebut masalah ini adalah bid'ah dan dikembangkan argumentasinya oleh Bung Arief membuat masalah ini sebenarnya mulai menajam. Dan terima kasih kepada moderator yang mengapresiasi usulan saya untuk mulai membahasnya dari bid'ah.
> > >>>
> > >>>Saya punya alasan untuk coba minggir dan membahas tentang defisini bid'ah terlebih dahulu, dikarenakan ini adalah awal bercabangnya masalah yang ingin kita bahas. Bila kita telah masuk lebih jauh ke pembahasan syahadah ketiga dalam azan dan ini tidak diselesaikan dahulu, walaupun secara singkat, akan membuat pembahasan kita nantinya akan terseok-seok.
> > >>>
> > >>>Untungnya bila kita dahulu menyelesaikan masalah bid'ah ini, bila memang benar syahadah
> > >>> ketiga dalam azan termasuk bi'dah, maka kita tidak perlu bersusah payah mengkaji masalah selanjutnya seperti yang dinukilkan Bung Reza dari fatwa Ayatullah Sistani. Namun bila kita sepakat akan definisi bid'ah dan tidak meyakini syahdah ketiga dalam azan merupakan contoh lain dari bid'ah, maka kita masih dapat melanjutkan pembahasan ini dengan menyimak alasan mereka yang menyetujui penambahan itu (tentu dengan syarat-syaratnya) dan mereka yang tidak menyetujui.
> > >>>
> > >>>Artinya, untuk tidak setuju memasukkan syahadah ketiga ini ke dalam azan tidak harus dengan berlandaskan dalil bid'ah, tapi apa? Mungkin itu yang sempat dilontarkan oleh Bung Ejajufri dengan ucapannya, "Mungkin tidak bid'ah karena memang tidak disyariatkan tapi bermasalah karena tidak dipraktikkan Nabi."
> > >>>
> > >>>Ok, sampai di sini apa yang telah kita miliki?
> > >>>
> > >>>Menurut saya kita punya dua kesepakatan (setidaknya dari pendapat yang sudah ada), pertama bid'ah definisinya adalah "Sesuatu
> > >>> yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw". Dan kedua, bid'ah itu sesat. Nah, sekarang yang tengah dibahas oleh Bung Arief dan Anis terkait masalah apakah syahadah ketiga dalam azan ini termasuk bid'ah atau tidak.
> > >>>
> > >>>Bung Arief meyakininya sebagai bid'ah dan Bung Anis mengakuinya sebagai tidak bid'ah. Ada yang lain?
> > >>>
> > >>>Wassalam
> > >>>
> > >>>Saleh Lapadi
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Sent: Wed, October 28, 2009 11:40:53 AM
> > >>>Subject: >>> [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>
> > >>>Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
> > >>>
> > >>>
> > >>>--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:
> > >>>
> > >>>
> > >>>>From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>>Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> > >>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>>>>Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>Assalamualaikum wr wb
> > >>>>
> > >>>>Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> > >>>>
> > >>>>Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> > >>>>
> > >>>>Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
> > >>>>
> > >>>>Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
> > >>>>
> > >>>>Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu.
> > >>>>
> > >>>>Wassalam wr wb
> > >>>>
> > >>>>Moderator
> > >>>>MT
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> > >>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>>>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> > >>>>>
> > >>>>>Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> > >>>>>
> > >>>>>Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> > >>>>>
> > >>>>>Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?
> > >>>>>
> > >>>>>Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun
> > >>>>> cukup lengkap dari Bib Anis.
> > >>>>>
> > >>>>>Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.
> > >>>>>
> > >>>>>Bagaimana?
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam
> > >>>>>
> > >>>>>Saleh Lapadi
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: maulachela <maulachela@ yahoo. com>
> > >>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> > >>>>>Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.
> > >>>>>
> > >>>>>Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> > >>>>>
> > >>>>>Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa
> > >>>>> Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.
> > >>>>>
> > >>>>>Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak
> > >>>>> boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:
> > >>>>>
> > >>>>>1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain
> > >>>>> Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> > >>>>>
> > >>>>>3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Wallahu A'lam.
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam,
> > >>>>>Muh. Anis
> > >>>>>
> > >>>>>--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Salam,
> > >>>>>>
> > >>>>>> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku
> > >>>>> saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
> > >>>>>>
> > >>>>>> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
> > >>>>>>
> > >>>>>> Wassalam
> > >>>>>>
> > >>>>>> Saleh Lapadi
> > >>>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>
> > >
> > >
> >
>





#11169 From: "Vendra" <cahaya.benings@...>
Date: Wed Nov 11, 2009 4:24 am
Subject: Kritik Jerman Atas Unilateralisme AS
cahaya.benings@...
Send Email Send Email
 

Written by mel   

Tuesday, 10 November 2009

 

Upacara peringatan 20 tahun perobohan tembok Berlin kemarin (9/11) digelar di kawasan Gerbang Brandenburg, Berlin dan dihadiri oleh sejumlah petinggi negara-negara Barat. Topik utama yang diangkat dalam peringatan kali ini masih berkaitan dengan isu kebebasan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM). Dalam kultur politik Barat, tembok Berlin merupakan simbol antara dunia liberal dengan sistem komunis yang tertutup. Runtuhnya tembok Berlin juga diartikan sebagai kemenangan dunia liberal terhadap kediktatoran komunisme.

 

Kanselir Jerman, Angela Merkel dalam pidatonya pada peringatan 20 tahun dirobohkannya tembok Berlin, berupaya menegaskan kembali peran utama Jerman di Eropa. Kendati Merkel dikenal dekat dengan politik AS, namun dalam pidatonya kali ini ia melontarkan kritikan tajam terhadap Washington. Merkel mendesak AS untuk menyerahkan sebagian dari kekuatannya kepada lembaga-lembaga internasional untuk menciptakan sebuah sistem global. Kanselin Jerman ini menyatakan, "Kami secara suka rela menyerahkan sebagian dari kekuatan kami kepada Brussel dan Uni Eropa. Namun bagi sekutu kami, AS sangat sulit untuk menyerahkan kekuatannnya pada Dana Moneter Internasional (IMF) atau lembaga internasional lain".

 

Pasca runtuhnya tembok Berlin yang disusul dengan tumbangnya Uni Soviet dan blok Komunis di Eropa Timur, George Bush Senior, Presiden AS di saat itu melontarkan ide Tatanan Dunia Baru dibawah komando AS. Suatu ide yang bertentangan dengan pandangan negara-negara besar Eropa. Keberadaan komunisme sebagai ancaman bersama merupakan faktor yang menjadikan AS dan negara-negara Eropa berada dalam satu front saat perang dingin terjadi. Karena itu, dengan runtuhnya Uni Soviet maka filosofi dibentuknya Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tak lagi relevan dipertahankan. Sebab ancaman komunis telah berakhir. Hal inilah yang mendorong Perancis dan Jerman mengusulkan supaya NATO dibubarkan sebagaimana pembubaran Pakta Warsawa.

 

Namun kegagalan Eropa dalam mengelola dampak krisis pasca runtuhnya blok Komunis, justru dimanfaatkan AS untuk terus mempertahankan hegemoni politik dan militernya di Eropa. Munculnya rangkaian perang di Semenanjung Balkan dan intervensi AS untuk mengakhiri perang tersebut, merupakan salah satu contoh nyata ketidakberdayaan negara-negara Eropa untuk bermain lebih aktif di kancah politik dan pertahanan regional.

 

Meski demikian, dibanding 20 tahun lalu, Eropa menilai kondisi dunia kini jauh lebih kondusif untuk mewujudkan tatanan dunia multipolar. Muncul krisis ekonomi global belakangan ini juga bisa dijadikan sebagai indikator nyata runtuhnya era keemasan ekonomi AS. Karena itu, ajakan Angela Merkel kepada AS untuk menerapkan pendekatan multilateral di tingkat global, sejatinya merupakan peringatan bagi Washington bahwa era hegemoni AS telah berakhir. [irib].


#11168 From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...>
Date: Tue Nov 10, 2009 2:32 pm
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
abdulrahmanriza@...
Send Email Send Email
 
Salam,

Pak Khairun Arief,

Anda mengakui hadits Tsaqalayn dan kita akui tidak ada nash yang mengatakan Nabi SAWW berpesan, "Berpeganglah kepada Al-Qur'an dan Shahih Bukhari".

Secara statistik, pandangan umum, bagi orang2 yang awam ilmu rijal hadits adalah benar secara statistik Syeikh Bukhari tidak merujuk kepada riwayat Imam Ja'far as-Shadiq padahal ahli hadits Sufyan Tsauri, ahli matetamatik Jabir bin Hayyan, Imam Mazhab Abu Hanifah dll berguru kepada beliau AS.

Oleh karena itu apabila ada riwayat yang dikutip Pak Muhammad Zen ketika Abu Dzar menambahkan Syahadat ketiga dan Nabi SAWW tidak keberatan maka sudah membuka celah hal tersebut tidak bid'ah meskipun tidak ada di shahih Bukhari.

Adalah lumrah dan natural pada saat itu bila ada yang menambahkan riwayat Syahadat ketiga dalam kitabnya ya beresiko dipenggal kepalanya. Namun berbeda dengan riwayat 12 khalifah Quraysh tetap ada karena toh Bani Umayyah dan Bani Abbas juga dari kalangan Quraysh, jadi ga akan dipenggal kepala orang yang meriwayatkan riwayat demikian.

Salam,
Riza

2009/11/10 Khairun Arief <husein_irun@...>

Ustad, pada awal mula, kita mendiskusikan mengenai azan ketiga, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi mengenai definisi Bid'ah. Kemudian, ustad Saleh Lapadi memeberikan penjelasan mengenai Taqrir yang berarti diamnya Nabi atas sebuah masalah. Kongklusi dari metodologi tersebut adalah, segala sesuatu yang didiamkan oleh Nabi, sebetulnya tidak bisa dikatakan sebagai Bid'ah. Logikanya, jika sebuah perkara memang dilarang, sudah tentu Nabi Muhammad SAWW tidak akan berdiam diri saja toh?? Sampai titik ini saya masih setuju..

Namun demikian, ketika kita mencoba mengaplikasikan metodologi ini dalam konteks ibadah, kita harusnya sudah memiliki bukti awal terlebih dahulu dong bahwa Nabi memang "Berdiam Diri" dalam sebuah persoalan sehingga kita bisa mengatakan bahwa benar nabi "Diam saat itu". Kita tidak patut mengatakan bahwa Nabi berdiam diri terhadap sebuah perkara ibadah yang betul-betul baru hanya karena kita mengatakan: "Tidak menemukan sebuah Hadits yang menceritakan bahwa Nabi melarangnya". Karena masalahnya, bisa saja kita tidak akan menemukan Hadits Nabi yang melarang perkara tersebut, karena toh memang tidak ada orang yang melakukan hal tersebut dimasa Nabi. Masalahnya, saya belum menemukan sebuah indikasi yang meyakinkan bahwa Azan Ketiga itu sudah diaplikasikan dizaman nabi dan saat itu Nabi membiarkannya..Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi "Tidak ada hadits Nabi yang melarang", akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan. Menurut saya, yang bijak adalah berasumsi bahwa Nabi Tidak mencontohkan..Oleh karena itu, tidak perlu kita melakukan. Bila Allah dan rasul merasa perlu untuk memerintahkan sebuah ritus, pastilah sebuah hal akan diperintahkan..Masalahnya, toh tidak ada perintah definitif demikian?

Dengan demikian, metodologi Taqrir itu, baru akan relevan bila dilakukan untuk perkara-perkara diluar Ibadah ataupun Hal-hal lain yang sudah definitif.. Secara tehnis, metodologi tersebut dapat kita eksplorasi dengan cara "Menabrakkan" kondisi sosial objektif masyarakat saat itu dengan Hadits-hadits sahih dan kemudian melihat semua itu dari sudut pandang Quran..

Dengan demikian ustad, Taqrir Nabi menyangkut wilayah ibadah..tidak bijak bila kita tempatkan dalam wilayah asumsi..

Nb: Ustad Anis, menurut saya, hadits itu adalah "Kabar".Kabar mengenai Sunnah Rasul . Namun demikian, Sunnah Rasul sendiri terdiri dari 1) Perkataan; 2) perbuatan; 3) Diamnya Nabi; 4) Sikap Mental Nabi; dalam menyikapi sebuah masalah yang semua itu dirujukkan beliau kepada Kitabullah. Masalahnya,ketika sebuah riwayat dibakukan dan dibukukan menjadi Hadits dalam sebuah kitab ataupun cerita orang, konteks-konteks sosial yang melatar belakanginya, asumsi-asumsi dibalik terjadinya dan sikap mental yang mengiringi sebuah kejadian tidak mutlak ( tapi bukan tidak mungkin ya..) ikut terbakukan dalam tulisan atau cerita. Itulah akhirnya, sebuah hadits jadinya hanyalah sebuah bahan mentah untuk kita membangun pemahaman mengenai perilaku nabi..Cara kita membangun pemahaman atas perilaku nabi itu, dapat dilakukan dengan menganalisis segala sesuatu dari sudut pandang Quran, dan merujuknya kepada para A'immah (Itulah relevansi hadits Tsaqalain). Namun demikian, ketika Nabi dan para A'immah juga tidak bersama kita saat ini, kita harus merujuk segala sesuatu terrmasuk hadits dari sudut pandang Quran dan Akal. Mekanisme akal dalam merujuk Hadits adalah dengan menganalisanya dari sudut pandang Kemungkinan saat itu dan situasi objektif konteks yang melatarbelakanginya yang relevan dengan semangat qurani itu sendiri. .Dengan demikian, hadits yang berkaitan dengan A'immah yang mengizinkan adanya azan ketiga, tentu saja jadi tidak masuk akal. Karena, bagaimana mungkin para A'immah akan menambahan sendiri ibadah yang tidak dicontohkan Nabi sementara kita menjadikannya sebagai tempat bertanya dan penjelas mengenai Quran dan penjelas mengenai sunnah rasul?? Arti penting para A'immah, menurut saya bukan karena mereka orang-orang yang membuat risalah baru setelah nabi, melainkan mereka sendiri adalah sunnah rasul yang hidup diantara manusia.Dengan demikian, gema para A'immah adalah Gema Rasul..bukan sinaran mereka sendiri.Oleh karena itu, bila ada sebuah hadits mengenai A'immah yang melakukan sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh seorangpun dizaman nabi melainkan hanya melalui asumsi, maka sudah seharusnya kita mengatakan bahwa Hadits tersebut tertolak..

"Sesungguhnya Allah itu tidak Tidur dan Lupa"

Wallahu a'lam..


Sent: Tue, November 10, 2009 8:11:58 AM

Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

Salam,


Supaya tidak salah pengertian, menurut antum apa definisi "hadis"? Karena, saya menangkap dari uraian antum, seolah ada dua entitas yang berbeda: hadis dan taqrir. Sementara, yang saya pahami, taqrir itu bagian dari hadis. Keif ustad?

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Bis Anis, saya tidak menafikan dari sisi pengakuan Ahli Sunnah akan taqrir, tapi dalam kenyataannya masalah ini hampir tidak banyak dibahas dan dijadikan salah satu sumber hukum setara dengan hadis dan perbuatan Nabi. Dalam Ushul Fiqih Syiah masalah ini dikaji secara serius dan tercermin dalam argumentasi- argumentas Fiqih.
>
> Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, bahwa sekilas kita akan beranggapan mengamalkan taqrir lebih mudah, karena dengan tidak ada dalil sudah cukup bagi kita untuk beramal atau menyebut satu perilaku atau apa saja sebagai Islam dan sesuai syariat Islam. Tapi pada tataran mengargumentasikann ya dibutuhkan kemampuan menguasai sejumlah kaidah dalam berargumentasi yang diajarkan dalam Ushul Fiqih dan memahami maksud dari ribuan hadis yang ada, jangan-jangan memberikan konotasi pelarangan terhadap satu perbuatan. Jadi sekalipun tampak sederhananya tidak ada hubungan dengan hadis dan perbuatan Nabi, tapi pada hakikatnya adalah pengertian sebaliknya dari hadis dan perilaku Nabi itu sendiri.

>
> Mengenai pernyataan kedua Antum, dalam pernyataan saya itu seharusnya dipahami ketika orang lain lebih mementingkan perkataan dan perbuatan Nabi, tapi melupakan taqrir, saya mencoba mengingatkan pentingnya taqrir yang dipahami Antum seakan-akan mengeluarkan taqrir dari Sunnah. Saya tebalkan karena Antum menyebut hadis yang jelas hanya berkaitan dengan perkataan dan tidak termasuk perbuatan apa lagi taqrir, sekadar meluruskan.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: maulachela <maulachela@ ...>
> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> Sent: Fri, November 6, 2009 11:09:39 AM
> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
>
>
> Salam,
>
> Sungguh penjelasan yang cerdas ustad.
>
> Tetapi sekadar catatan, pada kalimat antum "Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi", terkesan bahwa hanya Syiah yang memilikinya. Padahal, Sunni juga memasukkan taqrir dalam pengertian Sunnah Nabi saw.
>
> Selain itu, pada kalimat antum "Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis", seolah antum mengeluarkan taqrir dari bagian hadis. Padahal, setahu saya, hadis itu meliputi aqwal (perkataan), af'al (perbuatan), dan taqrir.
>
> Wallahu 'Alam
>
> Wassalam,
> Muh. Anis
>
> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >
> > Salam,
> >
> > Bung Reza, ada poin penting yang ingin saya katakan dengan mencoba mengetengahkan masalah taqrir Nabi.
> >
> > Mengapa? Karena dengan membicarakan masalah bid'ah dengan definisi "Sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw", saya menangkap pembahasan masalah bid'ah tidaknya syahadah ketiga dalam azan itu hanya menekankan pada perbuatan dan ucapan Rasulullah saw sebagai bagian dari Sunnah Nabi. Padahal, sebagaimana kita ketahui, Sunnah Nabi itu tidak terbatas pada keduanya, tapi juga mencakup taqrir.
> >
> > Patut diketahui, bila perbuatan dan ucapan Rasulullah itu kita artikan dimensi positif, sementara taqrir adalah dimensi negatif Sunnah, karena ia dikategorikan Sunnah ketika tidak bersikap.
> >
> > Bagi mereka yang menyebut syahadah ketiga dalam azan itu bid'ah karena melihatnya tidak disebutkan baik dalam perbuatan dan ucapan Nabi? Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan taqrir?
> >
> > Maksud saya, dengan teropong taqrir, apakah ada sikap Nabi, atau para Imam yang menolak syahadah ketiga dalam azan? Sehingga bukan saja masalah ini tidak disebutkan oleh Nabi dan Imam, tapi juga ada sikap menolak dari mereka.
> >
> > Sebenarnya, dengan memahami masalah ini lebih dalam, kita dapat meraih satu cara pandang umum dan bijaksana dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk agama atau tidak. Di sini kita akan menemukan seberapa sempit dan luas agama kita dalam menyikapi pelbagai hal yang terjadi saat ini.
> >
> > Saya pernah membahas masalah ini dalam salah satu tulisan saya, tapi sayangnya sudah tidak bisa ditemukan lagi dalam arsip situs ISLAT. Di sana ada pembahasan mengenai suatu perbuatan itu bagaimana disebut sebagai perbuatan agama dan berlandaskan syariat? Ini bahkan bisa menjadi landasan bagi dikotomi adanya ilmu Islam dan non-Islam, atau bahkan bisa menjadi salah satu referensi dalam upaya "Islamisasi Ilmu-Ilmu".
> >
> > Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi. Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis. Apa saja yang tidak disebut di dalamnya langsung kita definisikan bid'ah dan keluar dari agama. Kita membuat agama kita menjadi sempit. (Saya mencoba membahasnya dengan tetap mempertahankan alur pembahasan kita) Sebagian bahkan untuk keluar dari perangkap bid'ah yang disebut Nabi sebagai sesat, mencoba membaginya menjadi bid'ah sesat dan baik. Ini muncul dari kesalahan cara pandang terhadap masalah.
> >
> > Dalam Syiah menilai agama Islam ini lebih luas saat ingin menghukumi sesuatu itu termasuk Islam atau bukan. Dan hal ini dengan sederhana dilakukan dengan bertumpu pada taqrir yang jarang dibahas. Untuk itu saya coba berikan kaidahnya.
> >
> > Bila kita hanya mencukupkan diri dengan poin positif Sunnah Nabi, dalam istilah fiqih disebut "'Ilm Bil 'Adam" (kita mengetahui ketidakadaannya dalam Islam). Bila saya contohkan, dalam kasus syahadah ketiga dalam azan itu kita beramal dengan kaidah ini. Artinya, Kita punya pengetahuan bahwa tidak ada hadis atau perbuatan Nabi tentang hal ini. Dengan demikian, perbuatan ini menjadi haram, karena tidak ada ilmunya (dalilnya)
> >
> > Namun ada satu kaidah lain lagi dalam fiqih yang disebut "'Adamul 'Ilm" (tidak ada ilmu). Bila dicontohkan, kita tidak punya pengetahuan tentang masalah adanya pelarangan dari syariat, baik Al-Quran, Nabi maupun Imam (tidak ada dalil yang melarang). Dengan demikian, perbuatan mengucapkan azan menjadi boleh karena tidak ada larangan dari syariat.
> >
> > Sederhananya, yang pertama sisi positif bahwa kita punya ilmu tentang tidak adanya dalil syariat, sementara yang kedua sisi negatif bahwa kita tidak punya ilmu adanya dalil syariat yang melarang.
> >
> > Dengan penjelasan ringkas ini dan semoga tidak membingungkan, dampak praktis dari kaidah pertama, agama kita sempit dan pada gilirannya menciptakan dualisme agama dan non-agama, namun hal itu tidak terjadi pada kaidah kedua, bahkan memberikan keluasan dalam memahami agama.
> >
> > Kaidah kedua ini memberikan kita wawasan luas menjadikan kita lebih arif menilai satu perbuatan yang dilakukan orang lain. Lihat, bagaimana sebuah teori mampu memberikan cara pandang dan sikap kepada manusia.
> >
> > Maaf, bila saya sudah mulai keluar dari pembahasan.
> >
> > Dengan penjelasan ini, saya berharap diskusi ini dilanjutkan dengan tetap memperhatikan tema yang didiskusikan.
> >
> > Wassalam
> >
> > Saleh Lapadi
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...>
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Sent: Tue, November 3, 2009 6:32:12 PM
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >
> >
> > Ust Saleh,
> >
> > Mengacu pada ayat "Taatilah Allah, Rasul dan Uulil Amri diantara kamu" sudah jelas kata terakhir mengacu pada hadits 12 Khalifah Qurays yang sangat mutawatir dalam kutubun sittah pegangan Ahlu Sunnah.
> >
> > Dahulu Ust Saleh pernah mengutip 4 Naib pada masa sufara merupakan pembelajaran mengenai Marjaiyah yang kemudian pada masa keghaiban kubra menjadi Marjaiyah al-A'la sampai metamorfosisnya sekarang menjadi Wilayat al-Faqih.
> >
> > Singkat cerita, merujuk kepada 4 Naib pada masanya dan marja A'lam saat ini secara tidak langsung merupakan bentuk ketaatan kepada Uulil Amri yang berarti juga bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sebagaimana pesan Imam Mahdi AFS, "Mengenai permasalahan kalianrujuklah kepada yang meriwayatkan hadits-hadits kami"... juga "Kepada orang yang wara', berilmu dan meninggalkan hawa nafsunya maka wajiblah bagi orang awam untuk merujuk padanya"
> >
> > Demikianlah yang saya fahami mengenai pesan beliau AFS, "Mencari manfaat dariku ibarat mencari manfaat matahari ketika tertutup awan"
> >
> > Jika garis komandonya sudah jelas maka mudahlah agama ini bagi orang awam. Namun menjadi permasalahan jika ada yang bertanya, "Nenek moyang saya di kampung sampai sekarang mengadakan tahlilan, ratiban, tabuik husein yang merupakan tradisi Syi'ah... Apakah saya juga Syi'ah Ali .. ??
> >
> > Dapatkah dijelaskan bahwa Syi'ah2 zaman dahulu di Nusantara termasuk pembawa tari Saman di Aceh berafiliasi dengan Marjaiyah al-A'la atau terisolasi garis komandonya? Jika hal ini jelas maka dengan mudah menjawab isu2 bahwa ratiban dan tabuik huseyn tidak bid'ah karena jelas jalur komandonya.
> >
> > Salam,
> > Riza
> >
> >
> >
> > 2009/11/3 saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > >
> > >>
> > >Salam,
> > >
> > >Sampai di sini ketiba berbicara mengenai definisi bid'ah, tidak ada yang menyinggung sedikitpun mengenai taqrir Nabi. Sebagaimana diketahui, taqrir termasuk sunnah nabi yang bukan ucapan dan perbuatannya, tapi sikap diam nabi menyaksikan perbuatan dan amalan ibadah sahabat sebagai tanda setuju.
> > >
> > >Bila ini dikembangkan hingga kepada para imam, bagaimana korelasinya dengan masalah yang tengah kita bicarakan?
> > >
> > >Katakanlah di masa para imam juga hal yang seperti ini, mengapa kita mendekati masalah ini lewat taqrir?
> > >
> > >Bila bisa, lalu bagaimana penjelasannya?
> > >
> > >Menjawab pertanyaan-pertanya an ini bakal membuka sebuah wawasan yang dalam mengenai hukum Islam. Dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas, cara pandang kita tidak akan sempit, seperti apa yang dipikirkan Wahhabi
> > > dan siapa saja yang ingin melihat masalah secara lebih dalam.
> > >
> > >Kita lanjutkan diskusi kita...
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >Saleh Lapadi
> > >
> > >
> > >
> > >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: farah izadi <farah_izadi@ yahoo.com>
> > >
> > >To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >Sent: Sat, October 31, 2009 11:15:01 AM
> > >
> > >Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >
> > >
> > > >
> > >>Salam
> > >
> > >Sambil menyimak...
> > >
> > >Ada pertanyaan yg mungkin bisa menjadi bahan renungan: Apakah tolok ukur Bid'ah-Sunnah hanya prilaku Rasul saja, sehingga peran khalifah Arrasyidin al-Mahdiyiin (para imam suci Ahlul Bait) murni ikut prilaku Rasul dgn segala kondisi zamannya? Dalam arti, apakah setiap yang dilakukan Rasul adalah Sunnah dan apakah setiap yang tidak pernah dilakukan Rasul adalah Bid'ah? Sehingga kita sewaktu makan Soto berkuah umpamanya untuk mengikuti sunah Rasul harus menggunakan tiga jari (padahal di Arab zaman Rasul gk pernah ada Soto berkuah)...kapan selesainya? :D
> > >
> > >Apakah adanya 'dalil umum' (bukan khusus) menyinggung
> > > dan dapat diterapkan pada satu perbuatan mungkinkah ia bisa dijadikan 'pembenar' (dalil) akan kelegalan (masyru'iyat) sebuah perbuatan sehingga dia tidak dikategorikan Bid'ah?
> > >
> > >Saya harap kajian ini
> > > berlanjut terus oleh bapak-bapak itu.
> > >Krn kajian ini (syahadah ketiga dalam azan; bid'ah atau sunnah?) akan juga dapat menjawab ttg isu bid'ah Tahlil, Baca Maulud Nabi, Baca Ratib, Baca Manaqib, Shalat Terawih....dan beberapa amalan lainnya.
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >
> > >--- On Sat, 10/31/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:
> > >
> > >
> > >>From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>
> > >>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>Date: Saturday, October 31, 2009, 5:53 AM
> > >>
> > >>
> > >>>>
> > >>
> > >>
> > >> >>
> > >>>>Bid'ah itu "sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasul" atau "sesuatu yang bertentangan dengan Ma'shumin (termasuk a'immah as.)"? (sebagaimana definisi hadis dalam Ahlul Bait, kalau tidak salah, "ucapan dari Ma'shumin as.")
> > >>
> > >>Kalau bid'ah adalah definisi yang kedua di atas, dan terdapat hadis atau perintah dari para imam as. tentang syahadah ketiga dalam azan, maka tidak menjadi bid'ah (??)
> > >>
> > >>NB: Maaf ngelantur :)
> > >>
> > >>Dahulukan Islam di Atas Mazhab
> > >>
> > >>--- On Fri, 10/30/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>
> > >>
> > >>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> > >>>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Date: Friday, October 30, 2009, 12:19 PM
> > >>>
> > >>>
> > >>>>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>Salam,
> > >>>
> > >>>Sejauh ini saya melihat diskusi yang ada sangat menarik. Dari hanya sekadar pernyataan singkat Ejajufri yang menyebut masalah ini adalah bid'ah dan dikembangkan argumentasinya oleh Bung Arief membuat masalah ini sebenarnya mulai menajam. Dan terima kasih kepada moderator yang mengapresiasi usulan saya untuk mulai membahasnya dari bid'ah.
> > >>>
> > >>>Saya punya alasan untuk coba minggir dan membahas tentang defisini bid'ah terlebih dahulu, dikarenakan ini adalah awal bercabangnya masalah yang ingin kita bahas. Bila kita telah masuk lebih jauh ke pembahasan syahadah ketiga dalam azan dan ini tidak diselesaikan dahulu, walaupun secara singkat, akan membuat pembahasan kita nantinya akan terseok-seok.
> > >>>
> > >>>Untungnya bila kita dahulu menyelesaikan masalah bid'ah ini, bila memang benar syahadah
> > >>> ketiga dalam azan termasuk bi'dah, maka kita tidak perlu bersusah payah mengkaji masalah selanjutnya seperti yang dinukilkan Bung Reza dari fatwa Ayatullah Sistani. Namun bila kita sepakat akan definisi bid'ah dan tidak meyakini syahdah ketiga dalam azan merupakan contoh lain dari bid'ah, maka kita masih dapat melanjutkan pembahasan ini dengan menyimak alasan mereka yang menyetujui penambahan itu (tentu dengan syarat-syaratnya) dan mereka yang tidak menyetujui.
> > >>>
> > >>>Artinya, untuk tidak setuju memasukkan syahadah ketiga ini ke dalam azan tidak harus dengan berlandaskan dalil bid'ah, tapi apa? Mungkin itu yang sempat dilontarkan oleh Bung Ejajufri dengan ucapannya, "Mungkin tidak bid'ah karena memang tidak disyariatkan tapi bermasalah karena tidak dipraktikkan Nabi."
> > >>>
> > >>>Ok, sampai di sini apa yang telah kita miliki?
> > >>>
> > >>>Menurut saya kita punya dua kesepakatan (setidaknya dari pendapat yang sudah ada), pertama bid'ah definisinya adalah "Sesuatu
> > >>> yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw". Dan kedua, bid'ah itu sesat. Nah, sekarang yang tengah dibahas oleh Bung Arief dan Anis terkait masalah apakah syahadah ketiga dalam azan ini termasuk bid'ah atau tidak.
> > >>>
> > >>>Bung Arief meyakininya sebagai bid'ah dan Bung Anis mengakuinya sebagai tidak bid'ah. Ada yang lain?
> > >>>
> > >>>Wassalam
> > >>>
> > >>>Saleh Lapadi
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Sent: Wed, October 28, 2009 11:40:53 AM
> > >>>Subject: >>> [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>
> > >>>Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
> > >>>
> > >>>
> > >>>--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:
> > >>>
> > >>>
> > >>>>From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>>Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> > >>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>>>>Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>Assalamualaikum wr wb
> > >>>>
> > >>>>Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> > >>>>
> > >>>>Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> > >>>>
> > >>>>Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
> > >>>>
> > >>>>Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
> > >>>>
> > >>>>Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu.
> > >>>>
> > >>>>Wassalam wr wb
> > >>>>
> > >>>>Moderator
> > >>>>MT
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> > >>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>>>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> > >>>>>
> > >>>>>Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> > >>>>>
> > >>>>>Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> > >>>>>
> > >>>>>Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?
> > >>>>>
> > >>>>>Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun
> > >>>>> cukup lengkap dari Bib Anis.
> > >>>>>
> > >>>>>Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.
> > >>>>>
> > >>>>>Bagaimana?
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam
> > >>>>>
> > >>>>>Saleh Lapadi
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: maulachela <maulachela@ yahoo. com>
> > >>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> > >>>>>Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.
> > >>>>>
> > >>>>>Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> > >>>>>
> > >>>>>Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa
> > >>>>> Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.
> > >>>>>
> > >>>>>Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak
> > >>>>> boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:
> > >>>>>
> > >>>>>1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain
> > >>>>> Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> > >>>>>
> > >>>>>3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Wallahu A'lam.
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam,
> > >>>>>Muh. Anis
> > >>>>>
> > >>>>>--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Salam,
> > >>>>>>
> > >>>>>> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku
> > >>>>> saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
> > >>>>>>
> > >>>>>> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
> > >>>>>>
> > >>>>>> Wassalam
> > >>>>>>
> > >>>>>> Saleh Lapadi
> > >>>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>
> > >
> > >
> >
>




#11167 From: Muhammad Anis <maulachela@...>
Date: Tue Nov 10, 2009 6:22 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
maulachela
Offline Offline
Send Email Send Email
 

Salam,

Antum mengatakan, “Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi ‘Tidak ada hadits Nabi yang melarang’, akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan.”

 

Saya rasa masalahnya bukan pada ada-tidaknya “tambahan” atau banyak-sedikitnya “tambahan”. Melainkan, masalahnya terletak pada apakah “tambahan” tersebut sah atau tidak.

 

Dengan mengacu pada uraian antum, saya berpendapat bahwa ketika kita tidak menjumpai hadis-hadis yang melarang praktik syahadah ketiga, sementara teks-teks agama lainnya (dengan dukungan akal dan pertimbangan maslahat) memberi indikasi tentang dibolehkannya praktik tersebut, maka bisa saja praktik tersebut dilakukan. Sebagai contoh, kita semua tahu bahwa Quran menegaskan wilayah Ali, hadis-hadis juga banyak sekali yang menegaskannya,  Bila penegasan ini dikawinkan dengan kewajiban syiar, dan pertimbangan maslahat mendukung, maka ini bisa dijadikan indikasi untuk membolehkan praktik syahadah ketiga tersebut.  Kecuali, bila ada hadis yang secara tegas melarang praktik tersebut. 

 

Meskipun, kenyataannya terdapat hadis-hadis yang jelas sekali berisi pembolehan Nabi saw terhadap praktik syahadah ketiga dalam azan. Hadis-hadis tersebut pernah dikirimkan ke milis ini beberapa waktu yang lalu.

 

Namun demikian, meninjau sebuah praktik dari sudut pandang Quran dan akal tentu bukan pekerjaan mudah yang bisa dilakukan setiap orang. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi di bidang hukum fikih, yaitu orang yang telah menguasai metodologi istinbat hukum dan memenuhi syarat untuk melakukannya, yang populer disebut mujtahid atau marja’.


Dengan demikian, dalam permasalahan hukum syahadat ketiga ini, sudah semestinya kita pertama sekali merujuk pada pandangan marja’. Pada posting pertama, saya telah menyampaikan pandangan Syaikh Lutfullah Gulpaygani dan Sayid Ali Khamenei. Keduanya merupakan marja’ taklid, yang membolehkan praktik syahadat ketiga dalam azan, sebatas dilakukan dalam rangka syiar, tanpa disertai niat menjadikannya sebagai bagian azan yang disyariatkan. Wallahu A’lam.

 

Wassalam,

Muh. Anis



--- On Mon, 11/9/09, Khairun Arief <husein_irun@...> wrote:

From: Khairun Arief <husein_irun@...>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Monday, November 9, 2009, 9:26 PM

 

Ustad, pada awal mula, kita mendiskusikan mengenai azan ketiga, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi mengenai definisi Bid'ah. Kemudian, ustad Saleh Lapadi memeberikan penjelasan mengenai Taqrir yang berarti diamnya Nabi atas sebuah masalah. Kongklusi dari metodologi tersebut adalah, segala sesuatu yang didiamkan oleh Nabi, sebetulnya tidak bisa dikatakan sebagai Bid'ah. Logikanya, jika sebuah perkara memang dilarang, sudah tentu Nabi Muhammad SAWW tidak akan berdiam diri saja toh?? Sampai titik ini saya  masih setuju..

Namun demikian, ketika kita mencoba mengaplikasikan metodologi ini dalam konteks ibadah, kita harusnya sudah memiliki bukti awal terlebih dahulu dong bahwa Nabi memang "Berdiam Diri" dalam sebuah persoalan sehingga kita bisa mengatakan bahwa benar nabi "Diam saat itu". Kita tidak patut mengatakan bahwa Nabi berdiam diri terhadap sebuah perkara ibadah yang betul-betul baru hanya karena kita mengatakan: "Tidak menemukan sebuah Hadits yang menceritakan bahwa Nabi melarangnya" .  Karena masalahnya, bisa saja kita tidak akan menemukan Hadits Nabi yang melarang perkara tersebut, karena toh memang tidak ada orang yang melakukan hal tersebut dimasa Nabi. Masalahnya, saya belum menemukan sebuah indikasi yang meyakinkan bahwa Azan Ketiga itu sudah diaplikasikan dizaman nabi  dan saat itu Nabi membiarkannya. .Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi "Tidak ada hadits Nabi yang melarang", akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan. Menurut saya, yang bijak adalah berasumsi bahwa Nabi Tidak mencontohkan. .Oleh karena itu, tidak perlu kita melakukan. Bila Allah dan rasul merasa perlu untuk memerintahkan sebuah ritus, pastilah sebuah hal akan diperintahkan. .Masalahnya, toh tidak ada perintah definitif demikian?

Dengan demikian, metodologi Taqrir itu, baru akan relevan bila dilakukan untuk perkara-perkara diluar Ibadah ataupun Hal-hal lain yang sudah definitif.. Secara tehnis, metodologi tersebut dapat kita eksplorasi dengan cara "Menabrakkan" kondisi sosial objektif masyarakat saat itu dengan Hadits-hadits sahih dan kemudian melihat semua itu dari sudut pandang Quran..

Dengan demikian ustad, Taqrir Nabi menyangkut wilayah ibadah..tidak bijak bila kita tempatkan dalam wilayah asumsi..

Nb: Ustad Anis, menurut saya, hadits itu adalah "Kabar".Kabar mengenai Sunnah Rasul . Namun demikian, Sunnah Rasul sendiri terdiri dari 1) Perkataan; 2) perbuatan;          3) Diamnya Nabi; 4) Sikap Mental Nabi; dalam menyikapi sebuah masalah yang semua itu dirujukkan beliau kepada Kitabullah.  Masalahnya,ketika sebuah riwayat dibakukan dan dibukukan menjadi Hadits dalam sebuah kitab ataupun cerita orang, konteks-konteks sosial yang melatar belakanginya, asumsi-asumsi dibalik terjadinya dan sikap mental yang mengiringi sebuah kejadian tidak mutlak ( tapi bukan tidak mungkin ya..) ikut terbakukan dalam tulisan atau cerita. Itulah akhirnya, sebuah hadits jadinya hanyalah sebuah bahan mentah untuk kita membangun pemahaman mengenai perilaku nabi..Cara kita membangun pemahaman atas perilaku nabi itu, dapat dilakukan dengan menganalisis segala sesuatu dari sudut pandang Quran, dan merujuknya kepada para A'immah (Itulah relevansi hadits Tsaqalain). Namun demikian, ketika Nabi dan para A'immah juga tidak bersama kita saat ini, kita harus merujuk segala sesuatu terrmasuk hadits dari sudut pandang Quran dan Akal. Mekanisme akal dalam merujuk Hadits adalah dengan menganalisanya dari sudut pandang Kemungkinan saat itu dan situasi objektif  konteks yang melatarbelakanginya yang relevan dengan semangat qurani itu sendiri. .Dengan demikian, hadits yang berkaitan dengan A'immah yang mengizinkan adanya azan ketiga, tentu saja jadi tidak masuk akal. Karena, bagaimana mungkin para A'immah akan menambahan sendiri ibadah yang tidak dicontohkan Nabi sementara kita menjadikannya sebagai tempat bertanya dan penjelas mengenai Quran dan penjelas mengenai sunnah rasul??  Arti penting para A'immah, menurut saya bukan karena mereka orang-orang yang  membuat risalah baru setelah nabi, melainkan mereka sendiri adalah sunnah rasul yang hidup diantara manusia.Dengan demikian, gema para A'immah adalah Gema Rasul..bukan sinaran mereka sendiri.Oleh karena itu, bila ada sebuah hadits mengenai A'immah yang melakukan sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh seorangpun dizaman nabi melainkan hanya melalui asumsi, maka sudah seharusnya kita mengatakan bahwa Hadits tersebut tertolak..

"Sesungguhnya Allah itu tidak Tidur dan Lupa"

Wallahu a'lam..


From: maulachela <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, November 10, 2009 8:11:58 AM
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

 

Salam,

Supaya tidak salah pengertian, menurut antum apa definisi "hadis"? Karena, saya menangkap dari uraian antum, seolah ada dua entitas yang berbeda: hadis dan taqrir. Sementara, yang saya pahami, taqrir itu bagian dari hadis. Keif ustad?

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Bis Anis, saya tidak menafikan dari sisi pengakuan Ahli Sunnah akan taqrir, tapi dalam kenyataannya masalah ini hampir tidak banyak dibahas dan dijadikan salah satu sumber hukum setara dengan hadis dan perbuatan Nabi. Dalam Ushul Fiqih Syiah masalah ini dikaji secara serius dan tercermin dalam argumentasi- argumentas Fiqih.
>
> Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, bahwa sekilas kita akan beranggapan mengamalkan taqrir lebih mudah, karena dengan tidak ada dalil sudah cukup bagi kita untuk beramal atau menyebut satu perilaku atau apa saja sebagai Islam dan sesuai syariat Islam. Tapi pada tataran mengargumentasikann ya dibutuhkan kemampuan menguasai sejumlah kaidah dalam berargumentasi yang diajarkan dalam Ushul Fiqih dan memahami maksud dari ribuan hadis yang ada, jangan-jangan memberikan konotasi pelarangan terhadap satu perbuatan. Jadi sekalipun tampak sederhananya tidak ada hubungan dengan hadis dan perbuatan Nabi, tapi pada hakikatnya adalah pengertian sebaliknya dari hadis dan perilaku Nabi itu sendiri.
>
> Mengenai pernyataan kedua Antum, dalam pernyataan saya itu seharusnya dipahami ketika orang lain lebih mementingkan perkataan dan perbuatan Nabi, tapi melupakan taqrir, saya mencoba mengingatkan pentingnya taqrir yang dipahami Antum seakan-akan mengeluarkan taqrir dari Sunnah. Saya tebalkan karena Antum menyebut hadis yang jelas hanya berkaitan dengan perkataan dan tidak termasuk perbuatan apa lagi taqrir, sekadar meluruskan.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: maulachela <maulachela@ ...>
> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> Sent: Fri, November 6, 2009 11:09:39 AM
> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
>
>
> Salam,
>
> Sungguh penjelasan yang cerdas ustad.
>
> Tetapi sekadar catatan, pada kalimat antum "Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi", terkesan bahwa hanya Syiah yang memilikinya. Padahal, Sunni juga memasukkan taqrir dalam pengertian Sunnah Nabi saw.
>
> Selain itu, pada kalimat antum "Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis", seolah antum mengeluarkan taqrir dari bagian hadis. Padahal, setahu saya, hadis itu meliputi aqwal (perkataan), af'al (perbuatan), dan taqrir.
>
> Wallahu 'Alam
>
> Wassalam,
> Muh. Anis
>
> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >
> > Salam,
> >
> > Bung Reza, ada poin penting yang ingin saya katakan dengan mencoba mengetengahkan masalah taqrir Nabi.
> >
> > Mengapa? Karena dengan membicarakan masalah bid'ah dengan definisi "Sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw", saya menangkap pembahasan masalah bid'ah tidaknya syahadah ketiga dalam azan itu hanya menekankan pada perbuatan dan ucapan Rasulullah saw sebagai bagian dari Sunnah Nabi. Padahal, sebagaimana kita ketahui, Sunnah Nabi itu tidak terbatas pada keduanya, tapi juga mencakup taqrir.
> >
> > Patut diketahui, bila perbuatan dan ucapan Rasulullah itu kita artikan dimensi positif, sementara taqrir adalah dimensi negatif Sunnah, karena ia dikategorikan Sunnah ketika tidak bersikap.
> >
> > Bagi mereka yang menyebut syahadah ketiga dalam azan itu bid'ah karena melihatnya tidak disebutkan baik dalam perbuatan dan ucapan Nabi? Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan taqrir?
> >
> > Maksud saya, dengan teropong taqrir, apakah ada sikap Nabi, atau para Imam yang menolak syahadah ketiga dalam azan? Sehingga bukan saja masalah ini tidak disebutkan oleh Nabi dan Imam, tapi juga ada sikap menolak dari mereka.
> >
> > Sebenarnya, dengan memahami masalah ini lebih dalam, kita dapat meraih satu cara pandang umum dan bijaksana dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk agama atau tidak. Di sini kita akan menemukan seberapa sempit dan luas agama kita dalam menyikapi pelbagai hal yang terjadi saat ini.
> >
> > Saya pernah membahas masalah ini dalam salah satu tulisan saya, tapi sayangnya sudah tidak bisa ditemukan lagi dalam arsip situs ISLAT. Di sana ada pembahasan mengenai suatu perbuatan itu bagaimana disebut sebagai perbuatan agama dan berlandaskan syariat? Ini bahkan bisa menjadi landasan bagi dikotomi adanya ilmu Islam dan non-Islam, atau bahkan bisa menjadi salah satu referensi dalam upaya "Islamisasi Ilmu-Ilmu".
> >
> > Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi. Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis. Apa saja yang tidak disebut di dalamnya langsung kita definisikan bid'ah dan keluar dari agama. Kita membuat agama kita menjadi sempit. (Saya mencoba membahasnya dengan tetap mempertahankan alur pembahasan kita) Sebagian bahkan untuk keluar dari perangkap bid'ah yang disebut Nabi sebagai sesat, mencoba membaginya menjadi bid'ah sesat dan baik. Ini muncul dari kesalahan cara pandang terhadap masalah.
> >
> > Dalam Syiah menilai agama Islam ini lebih luas saat ingin menghukumi sesuatu itu termasuk Islam atau bukan. Dan hal ini dengan sederhana dilakukan dengan bertumpu pada taqrir yang jarang dibahas. Untuk itu saya coba berikan kaidahnya.
> >
> > Bila kita hanya mencukupkan diri dengan poin positif Sunnah Nabi, dalam istilah fiqih disebut "'Ilm Bil 'Adam" (kita mengetahui ketidakadaannya dalam Islam). Bila saya contohkan, dalam kasus syahadah ketiga dalam azan itu kita beramal dengan kaidah ini. Artinya, Kita punya pengetahuan bahwa tidak ada hadis atau perbuatan Nabi tentang hal ini. Dengan demikian, perbuatan ini menjadi haram, karena tidak ada ilmunya (dalilnya)
> >
> > Namun ada satu kaidah lain lagi dalam fiqih yang disebut "'Adamul 'Ilm" (tidak ada ilmu). Bila dicontohkan, kita tidak punya pengetahuan tentang masalah adanya pelarangan dari syariat, baik Al-Quran, Nabi maupun Imam (tidak ada dalil yang melarang). Dengan demikian, perbuatan mengucapkan azan menjadi boleh karena tidak ada larangan dari syariat.
> >
> > Sederhananya, yang pertama sisi positif bahwa kita punya ilmu tentang tidak adanya dalil syariat, sementara yang kedua sisi negatif bahwa kita tidak punya ilmu adanya dalil syariat yang melarang.
> >
> > Dengan penjelasan ringkas ini dan semoga tidak membingungkan, dampak praktis dari kaidah pertama, agama kita sempit dan pada gilirannya menciptakan dualisme agama dan non-agama, namun hal itu tidak terjadi pada kaidah kedua, bahkan memberikan keluasan dalam memahami agama.
> >
> > Kaidah kedua ini memberikan kita wawasan luas menjadikan kita lebih arif menilai satu perbuatan yang dilakukan orang lain. Lihat, bagaimana sebuah teori mampu memberikan cara pandang dan sikap kepada manusia.
> >
> > Maaf, bila saya sudah mulai keluar dari pembahasan.
> >
> > Dengan penjelasan ini, saya berharap diskusi ini dilanjutkan dengan tetap memperhatikan tema yang didiskusikan.
> >
> > Wassalam
> >
> > Saleh Lapadi
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...>
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Sent: Tue, November 3, 2009 6:32:12 PM
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >
> >
> > Ust Saleh,
> >
> > Mengacu pada ayat "Taatilah Allah, Rasul dan Uulil Amri diantara kamu" sudah jelas kata terakhir mengacu pada hadits 12 Khalifah Qurays yang sangat mutawatir dalam kutubun sittah pegangan Ahlu Sunnah.
> >
> > Dahulu Ust Saleh pernah mengutip 4 Naib pada masa sufara merupakan pembelajaran mengenai Marjaiyah yang kemudian pada masa keghaiban kubra menjadi Marjaiyah al-A'la sampai metamorfosisnya sekarang menjadi Wilayat al-Faqih.
> >
> > Singkat cerita, merujuk kepada 4 Naib pada masanya dan marja A'lam saat ini secara tidak langsung merupakan bentuk ketaatan kepada Uulil Amri yang berarti juga bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sebagaimana pesan Imam Mahdi AFS, "Mengenai permasalahan kalianrujuklah kepada yang meriwayatkan hadits-hadits kami"... juga "Kepada orang yang wara', berilmu dan meninggalkan hawa nafsunya maka wajiblah bagi orang awam untuk merujuk padanya"
> >
> > Demikianlah yang saya fahami mengenai pesan beliau AFS, "Mencari manfaat dariku ibarat mencari manfaat matahari ketika tertutup awan"
> >
> > Jika garis komandonya sudah jelas maka mudahlah agama ini bagi orang awam. Namun menjadi permasalahan jika ada yang bertanya, "Nenek moyang saya di kampung sampai sekarang mengadakan tahlilan, ratiban, tabuik husein yang merupakan tradisi Syi'ah... Apakah saya juga Syi'ah Ali .. ??
> >
> > Dapatkah dijelaskan bahwa Syi'ah2 zaman dahulu di Nusantara termasuk pembawa tari Saman di Aceh berafiliasi dengan Marjaiyah al-A'la atau terisolasi garis komandonya? Jika hal ini jelas maka dengan mudah menjawab isu2 bahwa ratiban dan tabuik huseyn tidak bid'ah karena jelas jalur komandonya.
> >
> > Salam,
> > Riza
> >
> >
> >
> > 2009/11/3 saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > >
> > >>
> > >Salam,
> > >
> > >Sampai di sini ketiba berbicara mengenai definisi bid'ah, tidak ada yang menyinggung sedikitpun mengenai taqrir Nabi. Sebagaimana diketahui, taqrir termasuk sunnah nabi yang bukan ucapan dan perbuatannya, tapi sikap diam nabi menyaksikan perbuatan dan amalan ibadah sahabat sebagai tanda setuju.
> > >
> > >Bila ini dikembangkan hingga kepada para imam, bagaimana korelasinya dengan masalah yang tengah kita bicarakan?
> > >
> > >Katakanlah di masa para imam juga hal yang seperti ini, mengapa kita mendekati masalah ini lewat taqrir?
> > >
> > >Bila bisa, lalu bagaimana penjelasannya?
> > >
> > >Menjawab pertanyaan-pertanya an ini bakal membuka sebuah wawasan yang dalam mengenai hukum Islam. Dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas, cara pandang kita tidak akan sempit, seperti apa yang dipikirkan Wahhabi
> > > dan siapa saja yang ingin melihat masalah secara lebih dalam.
> > >
> > >Kita lanjutkan diskusi kita...
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >Saleh Lapadi
> > >
> > >
> > >
> > >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: farah izadi <farah_izadi@ yahoo.com>
> > >
> > >To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >Sent: Sat, October 31, 2009 11:15:01 AM
> > >
> > >Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >
> > >
> > > >
> > >>Salam
> > >
> > >Sambil menyimak...
> > >
> > >Ada pertanyaan yg mungkin bisa menjadi bahan renungan: Apakah tolok ukur Bid'ah-Sunnah hanya prilaku Rasul saja, sehingga peran khalifah Arrasyidin al-Mahdiyiin (para imam suci Ahlul Bait) murni ikut prilaku Rasul dgn segala kondisi zamannya? Dalam arti, apakah setiap yang dilakukan Rasul adalah Sunnah dan apakah setiap yang tidak pernah dilakukan Rasul adalah Bid'ah? Sehingga kita sewaktu makan Soto berkuah umpamanya untuk mengikuti sunah Rasul harus menggunakan tiga jari (padahal di Arab zaman Rasul gk pernah ada Soto berkuah)...kapan selesainya? :D
> > >
> > >Apakah adanya 'dalil umum' (bukan khusus) menyinggung
> > > dan dapat diterapkan pada satu perbuatan mungkinkah ia bisa dijadikan 'pembenar' (dalil) akan kelegalan (masyru'iyat) sebuah perbuatan sehingga dia tidak dikategorikan Bid'ah?
> > >
> > >Saya harap kajian ini
> > > berlanjut terus oleh bapak-bapak itu.
> > >Krn kajian ini (syahadah ketiga dalam azan; bid'ah atau sunnah?) akan juga dapat menjawab ttg isu bid'ah Tahlil, Baca Maulud Nabi, Baca Ratib, Baca Manaqib, Shalat Terawih....dan beberapa amalan lainnya.
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >
> > >--- On Sat, 10/31/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:
> > >
> > >
> > >>From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>
> > >>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>Date: Saturday, October 31, 2009, 5:53 AM
> > >>
> > >>
> > >>>>
> > >>
> > >>
> > >> >>
> > >>>>Bid'ah itu "sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasul" atau "sesuatu yang bertentangan dengan Ma'shumin (termasuk a'immah as.)"? (sebagaimana definisi hadis dalam Ahlul Bait, kalau tidak salah, "ucapan dari Ma'shumin as.")
> > >>
> > >>Kalau bid'ah adalah definisi yang kedua di atas, dan terdapat hadis atau perintah dari para imam as. tentang syahadah ketiga dalam azan, maka tidak menjadi bid'ah (??)
> > >>
> > >>NB: Maaf ngelantur :)
> > >>
> > >>Dahulukan Islam di Atas Mazhab
> > >>
> > >>--- On Fri, 10/30/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>
> > >>
> > >>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> > >>>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Date: Friday, October 30, 2009, 12:19 PM
> > >>>
> > >>>
> > >>>>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>Salam,
> > >>>
> > >>>Sejauh ini saya melihat diskusi yang ada sangat menarik. Dari hanya sekadar pernyataan singkat Ejajufri yang menyebut masalah ini adalah bid'ah dan dikembangkan argumentasinya oleh Bung Arief membuat masalah ini sebenarnya mulai menajam. Dan terima kasih kepada moderator yang mengapresiasi usulan saya untuk mulai membahasnya dari bid'ah.
> > >>>
> > >>>Saya punya alasan untuk coba minggir dan membahas tentang defisini bid'ah terlebih dahulu, dikarenakan ini adalah awal bercabangnya masalah yang ingin kita bahas. Bila kita telah masuk lebih jauh ke pembahasan syahadah ketiga dalam azan dan ini tidak diselesaikan dahulu, walaupun secara singkat, akan membuat pembahasan kita nantinya akan terseok-seok.
> > >>>
> > >>>Untungnya bila kita dahulu menyelesaikan masalah bid'ah ini, bila memang benar syahadah
> > >>> ketiga dalam azan termasuk bi'dah, maka kita tidak perlu bersusah payah mengkaji masalah selanjutnya seperti yang dinukilkan Bung Reza dari fatwa Ayatullah Sistani. Namun bila kita sepakat akan definisi bid'ah dan tidak meyakini syahdah ketiga dalam azan merupakan contoh lain dari bid'ah, maka kita masih dapat melanjutkan pembahasan ini dengan menyimak alasan mereka yang menyetujui penambahan itu (tentu dengan syarat-syaratnya) dan mereka yang tidak menyetujui.
> > >>>
> > >>>Artinya, untuk tidak setuju memasukkan syahadah ketiga ini ke dalam azan tidak harus dengan berlandaskan dalil bid'ah, tapi apa? Mungkin itu yang sempat dilontarkan oleh Bung Ejajufri dengan ucapannya, "Mungkin tidak bid'ah karena memang tidak disyariatkan tapi bermasalah karena tidak dipraktikkan Nabi."
> > >>>
> > >>>Ok, sampai di sini apa yang telah kita miliki?
> > >>>
> > >>>Menurut saya kita punya dua kesepakatan (setidaknya dari pendapat yang sudah ada), pertama bid'ah definisinya adalah "Sesuatu
> > >>> yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw". Dan kedua, bid'ah itu sesat. Nah, sekarang yang tengah dibahas oleh Bung Arief dan Anis terkait masalah apakah syahadah ketiga dalam azan ini termasuk bid'ah atau tidak.
> > >>>
> > >>>Bung Arief meyakininya sebagai bid'ah dan Bung Anis mengakuinya sebagai tidak bid'ah. Ada yang lain?
> > >>>
> > >>>Wassalam
> > >>>
> > >>>Saleh Lapadi
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Sent: Wed, October 28, 2009 11:40:53 AM
> > >>>Subject: >>> [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>
> > >>>Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
> > >>>
> > >>>
> > >>>--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:
> > >>>
> > >>>
> > >>>>From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>>Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> > >>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>>>>Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>Assalamualaikum wr wb
> > >>>>
> > >>>>Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> > >>>>
> > >>>>Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> > >>>>
> > >>>>Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
> > >>>>
> > >>>>Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
> > >>>>
> > >>>>Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu.
> > >>>>
> > >>>>Wassalam wr wb
> > >>>>
> > >>>>Moderator
> > >>>>MT
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> > >>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>>>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> > >>>>>
> > >>>>>Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> > >>>>>
> > >>>>>Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> > >>>>>
> > >>>>>Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?
> > >>>>>
> > >>>>>Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun
> > >>>>> cukup lengkap dari Bib Anis.
> > >>>>>
> > >>>>>Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.
> > >>>>>
> > >>>>>Bagaimana?
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam
> > >>>>>
> > >>>>>Saleh Lapadi
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: maulachela <maulachela@ yahoo. com>
> > >>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> > >>>>>Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.
> > >>>>>
> > >>>>>Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> > >>>>>
> > >>>>>Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa
> > >>>>> Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.
> > >>>>>
> > >>>>>Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak
> > >>>>> boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:
> > >>>>>
> > >>>>>1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain
> > >>>>> Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> > >>>>>
> > >>>>>3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Wallahu A'lam.
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam,
> > >>>>>Muh. Anis
> > >>>>>
> > >>>>>--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Salam,
> > >>>>>>
> > >>>>>> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku
> > >>>>> saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
> > >>>>>>
> > >>>>>> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
> > >>>>>>
> > >>>>>> Wassalam
> > >>>>>>
> > >>>>>> Saleh Lapadi
> > >>>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>
> > >
> > >
> >
>




#11166 From: Estu Suherman <estu.suherman@...>
Date: Tue Nov 10, 2009 2:40 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah (OOT)
estu.suherman
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Ya CAPS nya nggak usah di lock, Mas...:-)
 
Afwan,
Estu

--- Pada Sen, 9/11/09, Deddy Prihambudi <puripagesangan@...> menulis:

Dari: Deddy Prihambudi <puripagesangan@...>
Judul: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
Kepada: islam_alternatif@yahoogroups.com
Tanggal: Senin, 9 November, 2009, 5:33 PM

 
SEKEDAR INFO. DI SIDOARJO, ADA UMMAT AHLUSSUNNAH WAL JAMA;AH YANG MERASA AFDHAL, SUJUD DI ATAS TANAH. MAKA, MASJID YANG MEREKA BIKIN, SAMA SEKALI TANPA UBIN, LANGSUNG MENYATU DENGAN TANAH. SELAINNYA, MEREKA TETAP MELAKUKAN SHALAT SEBAGAIMANA DIAJARKAN OLEH MADZHAB SYAFII.

UNIKNYA LAGI, AKSI MEREKA DIDIAMKAN AJA OLEH JUMHUR ULAMA DI JAWA TIMUR. PADAHAL, INI MASUK POTENSI ANCAMAN "DISESATKAN' OLEH PIHAK LAIN.

DASAR `ARGUMENTASI MEREKA JUGA BISA DIKEMBALIKAN KEPADA KITAB KITAB FIQH KHAS ASWAJA.

AFWAN SALAM DARI JATIM. 

--- On Mon, 9/11/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, 9 November, 2009, 1:40 PM

 
Rasulullah SAWW juga tidak pernah email2an..

2009/11/9 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo. com>
 
Salam,

Sujud di atas tanah itu memang dicontohkan oleh Rasulullah (saw) bahkan bisa dilacak ke berbagai sumber dari pihak Ahlussunnah. Saya juga pernah membaca dalam buku "Sifat Shalat Nabi" Nasr Al-Din Al-Albani, bahwa Rasulullah itu lebih sering bersujud di atas tanah daripada di atas khumrah atau hasir.

Cuman yang kemudian dipermasalahkan oleh teman saya adalah:

Dengan asumsi bahwa Para Imam (as) itu adalah generasi salaf yang shalih di mana semua ucapan, perbuatan, dan taqrir Aimmah Ma`shumin (as) mengenai Islam itu didasarkan kepada ucapan, perbuatan, dan taqrir dari Rasulullah (saw). Maka--menurut teman saya: aneh bila ada riwayat di mana Imam Al-Sajjad melakukan sesuatu (sujud) yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah (saw) yaitu `ala turbati Al-Husayn. Bukankah perbuatan Imam itu tidak pernah menyalahi perbuatan Rasulullah (saw)?

Dari asumsi tersebut kemudian teman saya itu menganggap bahwa perbuatan sujud `ala turbati al-Husayn itu sebagai bid`ah (termasuk saya sendiri yang sujud `ala turbatil Al-Husayn adalah pembid`ah :( )

wa salam.

DD



--- On Tue, 11/3/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:

From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>

Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, November 3, 2009, 12:04 AM


 

وَلَوْ سَجَدَ على رَأْسِهِ ولم يُمِسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ لم يَجْزِهِ السُّجُودُ وَإِنْ سَجَدَ على رَأْسِهِ فَمَاسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ أَجْزَأَهُ السُّجُودُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

Imam Syafi'i bilang gini, “Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak cukup dianggap sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (al-ardh), maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Ta’ala.” (Al-Umm, 1/114)


http://ejajufri. wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud- di-atas-tanah/

Powered by: Dahulukan Islam di Atas Mazhab

--- On Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:


From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 2, 2009, 7:05 AM

 
Berikut terdapat di Bukhari-Muslim- Tirmidzi- Nasa;i
جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا
Tinggal diperjelas apakah الأرض  termasuk karpet, ubin, pelepah pisang dll...

2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
 
waktu itu mesjid rasul berlantaikan tanah yang keras. Saya belum pernah ketemu mesjid yang berlantaikan tanah. disekitar ka'bah apakah berlantaikan tanah atau ubin ?
 
salam,


--- On Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 2, 2009, 1:10 PM


 

“Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang sujud di atas sorbannya, maka beliau saw memberi isyarat dengan tangannya: 'Angkatlah sorbanmu dan memberi isyarat ke dahinya, sujudlah dengan dahimu.” (Sunnah Baihaqi juz 2 hal. 105 , Ishabah juz 2 hal. 201)



2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
 
salam,
 
Apakah sujud diatas karpet/sajadah bid'ah karena nabi tidak pernah melakukannya ? saya kalo terpaksa sekali sujud diatas tangan sendiri, bagaimana hukumnya. afwan
 
wass,
aris

--- On Sun, 11/1/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah Date: Sunday, November 1, 2009, 6:37 PM

 
Salam,

Berikut riwayat dari shahih Bukharih setelah shalat tanah masih menempel di dahi beliau SAWW berati Nabi SAWW sujud di atas tanah bukan karpet.

Volume 3, Book 33, Number 256:
Narrated Abu Said:
We practiced Itikaf with Allah's Apostle in the middle ten days (of Ramadan). In the morning of the twentieth (of Ramadan) we shifted our baggage, but Allah's Apostle came to us and said, "Whoever was m Itikaf should return to his place of Itikaf, for I saw (i.e. was informed about the date of) this Night (of Qadr) and saw myself prostrating in mud and water." When I returned to my place the sky was overcast with clouds and it rained. By Him Who sent Muhammad with the Truth, the sky was covered with clouds from the end of that day, and the mosque which was roofed with leaf-stalks of date palm trees (leaked with rain) and I saw the trace of mud and water over the nose of the Prophet and its tip.

Mengenai tanah dari Karbala karena adalah tempatnya syahidnya pemimpin para Syuhada dan merupakan tanah yang lebih utama.

Adapun point yang perlu diperhatikan adalah "Sujud ila turbah" berbeda dengan "Sujud 'ala turbah"

Riza

2009/11/1 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo. com>

 
salamun `alaikum,
 
sekalian bahas 'syahadah ketiga' gimana klo temen2 juga bahas ttg sujud-di-atas- turbah-karbala.
 
setau saya akar-akar dimulainya praktik sujud di atas tanah karbala itu berasal dari Imam `Ali al-Sajjad:
 
After the martyrdom of Imam Husayn (a), his son Imam Zayn al-'Abidin (a) picked some up, declared it to be sacred dust, and kept it in a bag. The Imams (a) used to perform prostrations on it and make a tasbih out of it, and recited Allah's praises on it.

[Ibn Shahrashub, al-Manaqib,  vol. 2, p. 251]

 
tapi yang jadi pertanyaan (titipan teman) saya adalah: karena para Imam Ma'shum melakukan sesuatu itu pasti ada contohnya dari Rasulullah Suci (saww), apakah ada suatu riwayat yang berasal dari Rasulullah (saww) yang menyatakan bahwa sujud di atas tanah karbala itu lebih utama/afdhal/ baik? Jika tidak ada: Apakah lebih memilih sujud di atas tanah Karbala itu dapat dikatakan ahdats/ bid`ah?
 
 
Jazakumullah
 
wassalam
dee

--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:

From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
Subject: [islamalternatif] Definisi Bid'ah Date: Wednesday, October 28, 2009, 5:10 PM


 

Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
 

--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:

From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM

 
Assalamualaikum wr wb
 
Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
 
Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
 
Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
 
Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
 
Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu..
 
Wassalam wr wb
 
Moderator
MT
 
 
--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:

From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM

 
Salam,

Wah pakarnya turun gunung juga nih...

Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...

Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.

Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?

Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun cukup lengkap dari Bib Anis.

Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.

Bagaimana?

Wassalam

Saleh Lapadi


From: maulachela <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan

 
Salam,

Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.

Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].

Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.

Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]

Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:

1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]

2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]

3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]

Wallahu A'lam.

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
>
> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
>
> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
>
> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>















Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.


Akses email lebih cepat.
Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)

#11165 From: Khairun Arief <husein_irun@...>
Date: Tue Nov 10, 2009 2:26 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
husein_irun
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Ustad, pada awal mula, kita mendiskusikan mengenai azan ketiga, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi mengenai definisi Bid'ah. Kemudian, ustad Saleh Lapadi memeberikan penjelasan mengenai Taqrir yang berarti diamnya Nabi atas sebuah masalah. Kongklusi dari metodologi tersebut adalah, segala sesuatu yang didiamkan oleh Nabi, sebetulnya tidak bisa dikatakan sebagai Bid'ah. Logikanya, jika sebuah perkara memang dilarang, sudah tentu Nabi Muhammad SAWW tidak akan berdiam diri saja toh?? Sampai titik ini saya  masih setuju..

Namun demikian, ketika kita mencoba mengaplikasikan metodologi ini dalam konteks ibadah, kita harusnya sudah memiliki bukti awal terlebih dahulu dong bahwa Nabi memang "Berdiam Diri" dalam sebuah persoalan sehingga kita bisa mengatakan bahwa benar nabi "Diam saat itu". Kita tidak patut mengatakan bahwa Nabi berdiam diri terhadap sebuah perkara ibadah yang betul-betul baru hanya karena kita mengatakan: "Tidak menemukan sebuah Hadits yang menceritakan bahwa Nabi melarangnya".  Karena masalahnya, bisa saja kita tidak akan menemukan Hadits Nabi yang melarang perkara tersebut, karena toh memang tidak ada orang yang melakukan hal tersebut dimasa Nabi. Masalahnya, saya belum menemukan sebuah indikasi yang meyakinkan bahwa Azan Ketiga itu sudah diaplikasikan dizaman nabi  dan saat itu Nabi membiarkannya..Bila kita berkeras untuk menambahkan sebuah perkara baru dalam agama hanya karena asumsi "Tidak ada hadits Nabi yang melarang", akan banyak sekali ibadah yang kita tambah-tambahkan. Menurut saya, yang bijak adalah berasumsi bahwa Nabi Tidak mencontohkan..Oleh karena itu, tidak perlu kita melakukan. Bila Allah dan rasul merasa perlu untuk memerintahkan sebuah ritus, pastilah sebuah hal akan diperintahkan..Masalahnya, toh tidak ada perintah definitif demikian?

Dengan demikian, metodologi Taqrir itu, baru akan relevan bila dilakukan untuk perkara-perkara diluar Ibadah ataupun Hal-hal lain yang sudah definitif.. Secara tehnis, metodologi tersebut dapat kita eksplorasi dengan cara "Menabrakkan" kondisi sosial objektif masyarakat saat itu dengan Hadits-hadits sahih dan kemudian melihat semua itu dari sudut pandang Quran..

Dengan demikian ustad, Taqrir Nabi menyangkut wilayah ibadah..tidak bijak bila kita tempatkan dalam wilayah asumsi..

Nb: Ustad Anis, menurut saya, hadits itu adalah "Kabar".Kabar mengenai Sunnah Rasul . Namun demikian, Sunnah Rasul sendiri terdiri dari 1) Perkataan; 2) perbuatan;          3) Diamnya Nabi; 4) Sikap Mental Nabi; dalam menyikapi sebuah masalah yang semua itu dirujukkan beliau kepada Kitabullah.  Masalahnya,ketika sebuah riwayat dibakukan dan dibukukan menjadi Hadits dalam sebuah kitab ataupun cerita orang, konteks-konteks sosial yang melatar belakanginya, asumsi-asumsi dibalik terjadinya dan sikap mental yang mengiringi sebuah kejadian tidak mutlak ( tapi bukan tidak mungkin ya..) ikut terbakukan dalam tulisan atau cerita. Itulah akhirnya, sebuah hadits jadinya hanyalah sebuah bahan mentah untuk kita membangun pemahaman mengenai perilaku nabi..Cara kita membangun pemahaman atas perilaku nabi itu, dapat dilakukan dengan menganalisis segala sesuatu dari sudut pandang Quran, dan merujuknya kepada para A'immah (Itulah relevansi hadits Tsaqalain). Namun demikian, ketika Nabi dan para A'immah juga tidak bersama kita saat ini, kita harus merujuk segala sesuatu terrmasuk hadits dari sudut pandang Quran dan Akal. Mekanisme akal dalam merujuk Hadits adalah dengan menganalisanya dari sudut pandang Kemungkinan saat itu dan situasi objektif  konteks yang melatarbelakanginya yang relevan dengan semangat qurani itu sendiri. .Dengan demikian, hadits yang berkaitan dengan A'immah yang mengizinkan adanya azan ketiga, tentu saja jadi tidak masuk akal. Karena, bagaimana mungkin para A'immah akan menambahan sendiri ibadah yang tidak dicontohkan Nabi sementara kita menjadikannya sebagai tempat bertanya dan penjelas mengenai Quran dan penjelas mengenai sunnah rasul??  Arti penting para A'immah, menurut saya bukan karena mereka orang-orang yang  membuat risalah baru setelah nabi, melainkan mereka sendiri adalah sunnah rasul yang hidup diantara manusia.Dengan demikian, gema para A'immah adalah Gema Rasul..bukan sinaran mereka sendiri.Oleh karena itu, bila ada sebuah hadits mengenai A'immah yang melakukan sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh seorangpun dizaman nabi melainkan hanya melalui asumsi, maka sudah seharusnya kita mengatakan bahwa Hadits tersebut tertolak..

"Sesungguhnya Allah itu tidak Tidur dan Lupa"

Wallahu a'lam..


From: maulachela <maulachela@...>
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Sent: Tue, November 10, 2009 8:11:58 AM
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah

 

Salam,

Supaya tidak salah pengertian, menurut antum apa definisi "hadis"? Karena, saya menangkap dari uraian antum, seolah ada dua entitas yang berbeda: hadis dan taqrir. Sementara, yang saya pahami, taqrir itu bagian dari hadis. Keif ustad?

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Bis Anis, saya tidak menafikan dari sisi pengakuan Ahli Sunnah akan taqrir, tapi dalam kenyataannya masalah ini hampir tidak banyak dibahas dan dijadikan salah satu sumber hukum setara dengan hadis dan perbuatan Nabi. Dalam Ushul Fiqih Syiah masalah ini dikaji secara serius dan tercermin dalam argumentasi- argumentas Fiqih.
>
> Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, bahwa sekilas kita akan beranggapan mengamalkan taqrir lebih mudah, karena dengan tidak ada dalil sudah cukup bagi kita untuk beramal atau menyebut satu perilaku atau apa saja sebagai Islam dan sesuai syariat Islam. Tapi pada tataran mengargumentasikann ya dibutuhkan kemampuan menguasai sejumlah kaidah dalam berargumentasi yang diajarkan dalam Ushul Fiqih dan memahami maksud dari ribuan hadis yang ada, jangan-jangan memberikan konotasi pelarangan terhadap satu perbuatan. Jadi sekalipun tampak sederhananya tidak ada hubungan dengan hadis dan perbuatan Nabi, tapi pada hakikatnya adalah pengertian sebaliknya dari hadis dan perilaku Nabi itu sendiri.
>
> Mengenai pernyataan kedua Antum, dalam pernyataan saya itu seharusnya dipahami ketika orang lain lebih mementingkan perkataan dan perbuatan Nabi, tapi melupakan taqrir, saya mencoba mengingatkan pentingnya taqrir yang dipahami Antum seakan-akan mengeluarkan taqrir dari Sunnah. Saya tebalkan karena Antum menyebut hadis yang jelas hanya berkaitan dengan perkataan dan tidak termasuk perbuatan apa lagi taqrir, sekadar meluruskan.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: maulachela <maulachela@ ...>
> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> Sent: Fri, November 6, 2009 11:09:39 AM
> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
>
>
> Salam,
>
> Sungguh penjelasan yang cerdas ustad.
>
> Tetapi sekadar catatan, pada kalimat antum "Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi", terkesan bahwa hanya Syiah yang memilikinya. Padahal, Sunni juga memasukkan taqrir dalam pengertian Sunnah Nabi saw.
>
> Selain itu, pada kalimat antum "Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis", seolah antum mengeluarkan taqrir dari bagian hadis. Padahal, setahu saya, hadis itu meliputi aqwal (perkataan), af'al (perbuatan), dan taqrir.
>
> Wallahu 'Alam
>
> Wassalam,
> Muh. Anis
>
> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >
> > Salam,
> >
> > Bung Reza, ada poin penting yang ingin saya katakan dengan mencoba mengetengahkan masalah taqrir Nabi.
> >
> > Mengapa? Karena dengan membicarakan masalah bid'ah dengan definisi "Sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw", saya menangkap pembahasan masalah bid'ah tidaknya syahadah ketiga dalam azan itu hanya menekankan pada perbuatan dan ucapan Rasulullah saw sebagai bagian dari Sunnah Nabi. Padahal, sebagaimana kita ketahui, Sunnah Nabi itu tidak terbatas pada keduanya, tapi juga mencakup taqrir.
> >
> > Patut diketahui, bila perbuatan dan ucapan Rasulullah itu kita artikan dimensi positif, sementara taqrir adalah dimensi negatif Sunnah, karena ia dikategorikan Sunnah ketika tidak bersikap.
> >
> > Bagi mereka yang menyebut syahadah ketiga dalam azan itu bid'ah karena melihatnya tidak disebutkan baik dalam perbuatan dan ucapan Nabi? Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan taqrir?
> >
> > Maksud saya, dengan teropong taqrir, apakah ada sikap Nabi, atau para Imam yang menolak syahadah ketiga dalam azan? Sehingga bukan saja masalah ini tidak disebutkan oleh Nabi dan Imam, tapi juga ada sikap menolak dari mereka.
> >
> > Sebenarnya, dengan memahami masalah ini lebih dalam, kita dapat meraih satu cara pandang umum dan bijaksana dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk agama atau tidak. Di sini kita akan menemukan seberapa sempit dan luas agama kita dalam menyikapi pelbagai hal yang terjadi saat ini.
> >
> > Saya pernah membahas masalah ini dalam salah satu tulisan saya, tapi sayangnya sudah tidak bisa ditemukan lagi dalam arsip situs ISLAT. Di sana ada pembahasan mengenai suatu perbuatan itu bagaimana disebut sebagai perbuatan agama dan berlandaskan syariat? Ini bahkan bisa menjadi landasan bagi dikotomi adanya ilmu Islam dan non-Islam, atau bahkan bisa menjadi salah satu referensi dalam upaya "Islamisasi Ilmu-Ilmu".
> >
> > Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi. Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis. Apa saja yang tidak disebut di dalamnya langsung kita definisikan bid'ah dan keluar dari agama. Kita membuat agama kita menjadi sempit. (Saya mencoba membahasnya dengan tetap mempertahankan alur pembahasan kita) Sebagian bahkan untuk keluar dari perangkap bid'ah yang disebut Nabi sebagai sesat, mencoba membaginya menjadi bid'ah sesat dan baik. Ini muncul dari kesalahan cara pandang terhadap masalah.
> >
> > Dalam Syiah menilai agama Islam ini lebih luas saat ingin menghukumi sesuatu itu termasuk Islam atau bukan. Dan hal ini dengan sederhana dilakukan dengan bertumpu pada taqrir yang jarang dibahas. Untuk itu saya coba berikan kaidahnya.
> >
> > Bila kita hanya mencukupkan diri dengan poin positif Sunnah Nabi, dalam istilah fiqih disebut "'Ilm Bil 'Adam" (kita mengetahui ketidakadaannya dalam Islam). Bila saya contohkan, dalam kasus syahadah ketiga dalam azan itu kita beramal dengan kaidah ini. Artinya, Kita punya pengetahuan bahwa tidak ada hadis atau perbuatan Nabi tentang hal ini. Dengan demikian, perbuatan ini menjadi haram, karena tidak ada ilmunya (dalilnya)
> >
> > Namun ada satu kaidah lain lagi dalam fiqih yang disebut "'Adamul 'Ilm" (tidak ada ilmu). Bila dicontohkan, kita tidak punya pengetahuan tentang masalah adanya pelarangan dari syariat, baik Al-Quran, Nabi maupun Imam (tidak ada dalil yang melarang). Dengan demikian, perbuatan mengucapkan azan menjadi boleh karena tidak ada larangan dari syariat.
> >
> > Sederhananya, yang pertama sisi positif bahwa kita punya ilmu tentang tidak adanya dalil syariat, sementara yang kedua sisi negatif bahwa kita tidak punya ilmu adanya dalil syariat yang melarang.
> >
> > Dengan penjelasan ringkas ini dan semoga tidak membingungkan, dampak praktis dari kaidah pertama, agama kita sempit dan pada gilirannya menciptakan dualisme agama dan non-agama, namun hal itu tidak terjadi pada kaidah kedua, bahkan memberikan keluasan dalam memahami agama.
> >
> > Kaidah kedua ini memberikan kita wawasan luas menjadikan kita lebih arif menilai satu perbuatan yang dilakukan orang lain. Lihat, bagaimana sebuah teori mampu memberikan cara pandang dan sikap kepada manusia.
> >
> > Maaf, bila saya sudah mulai keluar dari pembahasan.
> >
> > Dengan penjelasan ini, saya berharap diskusi ini dilanjutkan dengan tetap memperhatikan tema yang didiskusikan.
> >
> > Wassalam
> >
> > Saleh Lapadi
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...>
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Sent: Tue, November 3, 2009 6:32:12 PM
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >
> >
> > Ust Saleh,
> >
> > Mengacu pada ayat "Taatilah Allah, Rasul dan Uulil Amri diantara kamu" sudah jelas kata terakhir mengacu pada hadits 12 Khalifah Qurays yang sangat mutawatir dalam kutubun sittah pegangan Ahlu Sunnah.
> >
> > Dahulu Ust Saleh pernah mengutip 4 Naib pada masa sufara merupakan pembelajaran mengenai Marjaiyah yang kemudian pada masa keghaiban kubra menjadi Marjaiyah al-A'la sampai metamorfosisnya sekarang menjadi Wilayat al-Faqih.
> >
> > Singkat cerita, merujuk kepada 4 Naib pada masanya dan marja A'lam saat ini secara tidak langsung merupakan bentuk ketaatan kepada Uulil Amri yang berarti juga bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sebagaimana pesan Imam Mahdi AFS, "Mengenai permasalahan kalianrujuklah kepada yang meriwayatkan hadits-hadits kami"... juga "Kepada orang yang wara', berilmu dan meninggalkan hawa nafsunya maka wajiblah bagi orang awam untuk merujuk padanya"
> >
> > Demikianlah yang saya fahami mengenai pesan beliau AFS, "Mencari manfaat dariku ibarat mencari manfaat matahari ketika tertutup awan"
> >
> > Jika garis komandonya sudah jelas maka mudahlah agama ini bagi orang awam. Namun menjadi permasalahan jika ada yang bertanya, "Nenek moyang saya di kampung sampai sekarang mengadakan tahlilan, ratiban, tabuik husein yang merupakan tradisi Syi'ah... Apakah saya juga Syi'ah Ali .. ??
> >
> > Dapatkah dijelaskan bahwa Syi'ah2 zaman dahulu di Nusantara termasuk pembawa tari Saman di Aceh berafiliasi dengan Marjaiyah al-A'la atau terisolasi garis komandonya? Jika hal ini jelas maka dengan mudah menjawab isu2 bahwa ratiban dan tabuik huseyn tidak bid'ah karena jelas jalur komandonya.
> >
> > Salam,
> > Riza
> >
> >
> >
> > 2009/11/3 saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > >
> > >>
> > >Salam,
> > >
> > >Sampai di sini ketiba berbicara mengenai definisi bid'ah, tidak ada yang menyinggung sedikitpun mengenai taqrir Nabi. Sebagaimana diketahui, taqrir termasuk sunnah nabi yang bukan ucapan dan perbuatannya, tapi sikap diam nabi menyaksikan perbuatan dan amalan ibadah sahabat sebagai tanda setuju.
> > >
> > >Bila ini dikembangkan hingga kepada para imam, bagaimana korelasinya dengan masalah yang tengah kita bicarakan?
> > >
> > >Katakanlah di masa para imam juga hal yang seperti ini, mengapa kita mendekati masalah ini lewat taqrir?
> > >
> > >Bila bisa, lalu bagaimana penjelasannya?
> > >
> > >Menjawab pertanyaan-pertanya an ini bakal membuka sebuah wawasan yang dalam mengenai hukum Islam. Dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas, cara pandang kita tidak akan sempit, seperti apa yang dipikirkan Wahhabi
> > > dan siapa saja yang ingin melihat masalah secara lebih dalam.
> > >
> > >Kita lanjutkan diskusi kita...
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >Saleh Lapadi
> > >
> > >
> > >
> > >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: farah izadi <farah_izadi@ yahoo.com>
> > >
> > >To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >Sent: Sat, October 31, 2009 11:15:01 AM
> > >
> > >Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >
> > >
> > > >
> > >>Salam
> > >
> > >Sambil menyimak...
> > >
> > >Ada pertanyaan yg mungkin bisa menjadi bahan renungan: Apakah tolok ukur Bid'ah-Sunnah hanya prilaku Rasul saja, sehingga peran khalifah Arrasyidin al-Mahdiyiin (para imam suci Ahlul Bait) murni ikut prilaku Rasul dgn segala kondisi zamannya? Dalam arti, apakah setiap yang dilakukan Rasul adalah Sunnah dan apakah setiap yang tidak pernah dilakukan Rasul adalah Bid'ah? Sehingga kita sewaktu makan Soto berkuah umpamanya untuk mengikuti sunah Rasul harus menggunakan tiga jari (padahal di Arab zaman Rasul gk pernah ada Soto berkuah)...kapan selesainya? :D
> > >
> > >Apakah adanya 'dalil umum' (bukan khusus) menyinggung
> > > dan dapat diterapkan pada satu perbuatan mungkinkah ia bisa dijadikan 'pembenar' (dalil) akan kelegalan (masyru'iyat) sebuah perbuatan sehingga dia tidak dikategorikan Bid'ah?
> > >
> > >Saya harap kajian ini
> > > berlanjut terus oleh bapak-bapak itu.
> > >Krn kajian ini (syahadah ketiga dalam azan; bid'ah atau sunnah?) akan juga dapat menjawab ttg isu bid'ah Tahlil, Baca Maulud Nabi, Baca Ratib, Baca Manaqib, Shalat Terawih....dan beberapa amalan lainnya.
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >
> > >--- On Sat, 10/31/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:
> > >
> > >
> > >>From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>
> > >>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>Date: Saturday, October 31, 2009, 5:53 AM
> > >>
> > >>
> > >>>>
> > >>
> > >>
> > >> >>
> > >>>>Bid'ah itu "sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasul" atau "sesuatu yang bertentangan dengan Ma'shumin (termasuk a'immah as.)"? (sebagaimana definisi hadis dalam Ahlul Bait, kalau tidak salah, "ucapan dari Ma'shumin as.")
> > >>
> > >>Kalau bid'ah adalah definisi yang kedua di atas, dan terdapat hadis atau perintah dari para imam as. tentang syahadah ketiga dalam azan, maka tidak menjadi bid'ah (??)
> > >>
> > >>NB: Maaf ngelantur :)
> > >>
> > >>Dahulukan Islam di Atas Mazhab
> > >>
> > >>--- On Fri, 10/30/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>
> > >>
> > >>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> > >>>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Date: Friday, October 30, 2009, 12:19 PM
> > >>>
> > >>>
> > >>>>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>Salam,
> > >>>
> > >>>Sejauh ini saya melihat diskusi yang ada sangat menarik. Dari hanya sekadar pernyataan singkat Ejajufri yang menyebut masalah ini adalah bid'ah dan dikembangkan argumentasinya oleh Bung Arief membuat masalah ini sebenarnya mulai menajam. Dan terima kasih kepada moderator yang mengapresiasi usulan saya untuk mulai membahasnya dari bid'ah.
> > >>>
> > >>>Saya punya alasan untuk coba minggir dan membahas tentang defisini bid'ah terlebih dahulu, dikarenakan ini adalah awal bercabangnya masalah yang ingin kita bahas. Bila kita telah masuk lebih jauh ke pembahasan syahadah ketiga dalam azan dan ini tidak diselesaikan dahulu, walaupun secara singkat, akan membuat pembahasan kita nantinya akan terseok-seok.
> > >>>
> > >>>Untungnya bila kita dahulu menyelesaikan masalah bid'ah ini, bila memang benar syahadah
> > >>> ketiga dalam azan termasuk bi'dah, maka kita tidak perlu bersusah payah mengkaji masalah selanjutnya seperti yang dinukilkan Bung Reza dari fatwa Ayatullah Sistani. Namun bila kita sepakat akan definisi bid'ah dan tidak meyakini syahdah ketiga dalam azan merupakan contoh lain dari bid'ah, maka kita masih dapat melanjutkan pembahasan ini dengan menyimak alasan mereka yang menyetujui penambahan itu (tentu dengan syarat-syaratnya) dan mereka yang tidak menyetujui.
> > >>>
> > >>>Artinya, untuk tidak setuju memasukkan syahadah ketiga ini ke dalam azan tidak harus dengan berlandaskan dalil bid'ah, tapi apa? Mungkin itu yang sempat dilontarkan oleh Bung Ejajufri dengan ucapannya, "Mungkin tidak bid'ah karena memang tidak disyariatkan tapi bermasalah karena tidak dipraktikkan Nabi."
> > >>>
> > >>>Ok, sampai di sini apa yang telah kita miliki?
> > >>>
> > >>>Menurut saya kita punya dua kesepakatan (setidaknya dari pendapat yang sudah ada), pertama bid'ah definisinya adalah "Sesuatu
> > >>> yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw". Dan kedua, bid'ah itu sesat. Nah, sekarang yang tengah dibahas oleh Bung Arief dan Anis terkait masalah apakah syahadah ketiga dalam azan ini termasuk bid'ah atau tidak.
> > >>>
> > >>>Bung Arief meyakininya sebagai bid'ah dan Bung Anis mengakuinya sebagai tidak bid'ah. Ada yang lain?
> > >>>
> > >>>Wassalam
> > >>>
> > >>>Saleh Lapadi
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Sent: Wed, October 28, 2009 11:40:53 AM
> > >>>Subject: >>> [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>
> > >>> >>>
> > >>>
> > >>>Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
> > >>>
> > >>>
> > >>>--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:
> > >>>
> > >>>
> > >>>>From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>>Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> > >>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>>>>Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>Assalamualaikum wr wb
> > >>>>
> > >>>>Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> > >>>>
> > >>>>Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> > >>>>
> > >>>>Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
> > >>>>
> > >>>>Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
> > >>>>
> > >>>>Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu.
> > >>>>
> > >>>>Wassalam wr wb
> > >>>>
> > >>>>Moderator
> > >>>>MT
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> > >>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>>>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> > >>>>>
> > >>>>>Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> > >>>>>
> > >>>>>Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> > >>>>>
> > >>>>>Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?
> > >>>>>
> > >>>>>Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun
> > >>>>> cukup lengkap dari Bib Anis.
> > >>>>>
> > >>>>>Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.
> > >>>>>
> > >>>>>Bagaimana?
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam
> > >>>>>
> > >>>>>Saleh Lapadi
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: maulachela <maulachela@ yahoo. com>
> > >>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> > >>>>>Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.
> > >>>>>
> > >>>>>Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> > >>>>>
> > >>>>>Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa
> > >>>>> Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.
> > >>>>>
> > >>>>>Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak
> > >>>>> boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:
> > >>>>>
> > >>>>>1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain
> > >>>>> Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> > >>>>>
> > >>>>>3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Wallahu A'lam.
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam,
> > >>>>>Muh. Anis
> > >>>>>
> > >>>>>--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Salam,
> > >>>>>>
> > >>>>>> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku
> > >>>>> saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
> > >>>>>>
> > >>>>>> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
> > >>>>>>
> > >>>>>> Wassalam
> > >>>>>>
> > >>>>>> Saleh Lapadi
> > >>>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>
> > >
> > >
> >
>



#11164 From: "maulachela" <maulachela@...>
Date: Tue Nov 10, 2009 1:11 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
maulachela
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Salam,

Supaya tidak salah pengertian, menurut antum apa definisi "hadis"? Karena, saya
menangkap dari uraian antum, seolah ada dua entitas yang berbeda: hadis dan
taqrir. Sementara, yang saya pahami, taqrir itu bagian dari hadis. Keif ustad?

Wassalam,
Muh. Anis


--- In islam_alternatif@yahoogroups.com, saleh lapadi <saleh_lapadi@...> wrote:
>
> Salam,
>
> Bis Anis, saya tidak menafikan dari sisi pengakuan Ahli Sunnah akan taqrir,
tapi dalam kenyataannya masalah ini hampir tidak banyak dibahas dan dijadikan
salah satu sumber hukum setara dengan hadis dan perbuatan Nabi. Dalam Ushul
Fiqih Syiah masalah ini dikaji secara serius dan tercermin dalam
argumentasi-argumentas Fiqih.
>
> Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, bahwa sekilas kita akan
beranggapan mengamalkan taqrir lebih mudah, karena dengan tidak ada dalil sudah
cukup bagi kita untuk beramal atau menyebut satu perilaku atau apa saja sebagai
Islam dan sesuai syariat Islam. Tapi pada tataran mengargumentasikannya
dibutuhkan kemampuan menguasai sejumlah kaidah dalam berargumentasi yang
diajarkan dalam Ushul Fiqih dan memahami maksud dari ribuan hadis yang ada,
jangan-jangan memberikan konotasi pelarangan terhadap satu perbuatan. Jadi
sekalipun tampak sederhananya tidak ada hubungan dengan hadis dan perbuatan
Nabi, tapi pada hakikatnya adalah pengertian sebaliknya dari hadis dan perilaku
Nabi itu sendiri.
>
> Mengenai pernyataan kedua Antum, dalam pernyataan saya itu seharusnya dipahami
ketika orang lain lebih mementingkan perkataan dan perbuatan Nabi, tapi
melupakan taqrir, saya mencoba mengingatkan pentingnya taqrir yang dipahami
Antum seakan-akan mengeluarkan taqrir dari Sunnah. Saya tebalkan karena Antum
menyebut hadis yang jelas hanya berkaitan dengan perkataan dan tidak termasuk
perbuatan apa lagi taqrir, sekadar meluruskan.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>
>
>
>
> ________________________________
> From: maulachela <maulachela@...>
> To: islam_alternatif@yahoogroups.com
> Sent: Fri, November 6, 2009 11:09:39 AM
> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
>
>
> Salam,
>
> Sungguh penjelasan yang cerdas ustad.
>
> Tetapi sekadar catatan, pada kalimat antum "Kita di Syiah tidak seperti yang
dilakukan oleh sebagian umat Islam yang hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan
artinya dua sisi positifnya saja; perbuatan dan ucapan Nabi", terkesan bahwa
hanya Syiah yang memilikinya. Padahal, Sunni juga memasukkan taqrir dalam
pengertian Sunnah Nabi saw.
>
> Selain itu, pada kalimat antum "Karena dengan demikian, agama kita menjadi
sempit pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis", seolah antum
mengeluarkan taqrir dari bagian hadis. Padahal, setahu saya, hadis itu meliputi
aqwal (perkataan), af'al (perbuatan), dan taqrir.
>
> Wallahu 'Alam
>
> Wassalam,
> Muh. Anis
>
> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...>
wrote:
> >
> > Salam,
> >
> > Bung Reza, ada poin penting yang ingin saya katakan dengan mencoba
mengetengahkan masalah taqrir Nabi.
> >
> > Mengapa? Karena dengan membicarakan masalah bid'ah dengan definisi "Sesuatu
yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw", saya menangkap pembahasan
masalah bid'ah tidaknya syahadah ketiga dalam azan itu hanya menekankan pada
perbuatan dan ucapan Rasulullah saw sebagai bagian dari Sunnah Nabi. Padahal,
sebagaimana kita ketahui, Sunnah Nabi itu tidak terbatas pada keduanya, tapi
juga mencakup taqrir.
> >
> > Patut diketahui, bila perbuatan dan ucapan Rasulullah itu kita artikan
dimensi positif, sementara taqrir adalah dimensi negatif Sunnah, karena ia
dikategorikan Sunnah ketika tidak bersikap.
> >
> > Bagi mereka yang menyebut syahadah ketiga dalam azan itu bid'ah karena
melihatnya tidak disebutkan baik dalam perbuatan dan ucapan Nabi? Pertanyaannya,
lalu bagaimana dengan taqrir?
> >
> > Maksud saya, dengan teropong taqrir, apakah ada sikap Nabi, atau para Imam
yang menolak syahadah ketiga dalam azan? Sehingga bukan saja masalah ini tidak
disebutkan oleh Nabi dan Imam, tapi juga ada sikap menolak dari mereka.
> >
> > Sebenarnya, dengan memahami masalah ini lebih dalam, kita dapat meraih satu
cara pandang umum dan bijaksana dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk agama
atau tidak. Di sini kita akan menemukan seberapa sempit dan luas agama kita
dalam menyikapi pelbagai hal yang terjadi saat ini.
> >
> > Saya pernah membahas masalah ini dalam salah satu tulisan saya, tapi
sayangnya sudah tidak bisa ditemukan lagi dalam arsip situs ISLAT. Di sana ada
pembahasan mengenai suatu perbuatan itu bagaimana disebut sebagai perbuatan
agama dan berlandaskan syariat? Ini bahkan bisa menjadi landasan bagi dikotomi
adanya ilmu Islam dan non-Islam, atau bahkan bisa menjadi salah satu referensi
dalam upaya "Islamisasi Ilmu-Ilmu".
> >
> > Kita di Syiah tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang
hanya bertumpu pada Sunnah Nabi dengan artinya dua sisi positifnya saja;
perbuatan dan ucapan Nabi. Karena dengan demikian, agama kita menjadi sempit
pada Al-Quran dan puluhan ribu atau ratusan ribu hadis. Apa saja yang tidak
disebut di dalamnya langsung kita definisikan bid'ah dan keluar dari agama. Kita
membuat agama kita menjadi sempit. (Saya mencoba membahasnya dengan tetap
mempertahankan alur pembahasan kita) Sebagian bahkan untuk keluar dari perangkap
bid'ah yang disebut Nabi sebagai sesat, mencoba membaginya menjadi bid'ah sesat
dan baik. Ini muncul dari kesalahan cara pandang terhadap masalah.
> >
> > Dalam Syiah menilai agama Islam ini lebih luas saat ingin menghukumi sesuatu
itu termasuk Islam atau bukan. Dan hal ini dengan sederhana dilakukan dengan
bertumpu pada taqrir yang jarang dibahas. Untuk itu saya coba berikan kaidahnya.
> >
> > Bila kita hanya mencukupkan diri dengan poin positif Sunnah Nabi, dalam
istilah fiqih disebut "'Ilm Bil 'Adam" (kita mengetahui ketidakadaannya dalam
Islam). Bila saya contohkan, dalam kasus syahadah ketiga dalam azan itu kita
beramal dengan kaidah ini. Artinya, Kita punya pengetahuan bahwa tidak ada hadis
atau perbuatan Nabi tentang hal ini. Dengan demikian, perbuatan ini menjadi
haram, karena tidak ada ilmunya (dalilnya)
> >
> > Namun ada satu kaidah lain lagi dalam fiqih yang disebut "'Adamul 'Ilm"
(tidak ada ilmu). Bila dicontohkan, kita tidak punya pengetahuan tentang masalah
adanya pelarangan dari syariat, baik Al-Quran, Nabi maupun Imam (tidak ada dalil
yang melarang). Dengan demikian, perbuatan mengucapkan azan menjadi boleh karena
tidak ada larangan dari syariat.
> >
> > Sederhananya, yang pertama sisi positif bahwa kita punya ilmu tentang tidak
adanya dalil syariat, sementara yang kedua sisi negatif bahwa kita tidak punya
ilmu adanya dalil syariat yang melarang.
> >
> > Dengan penjelasan ringkas ini dan semoga tidak membingungkan, dampak praktis
dari kaidah pertama, agama kita sempit dan pada gilirannya menciptakan dualisme
agama dan non-agama, namun hal itu tidak terjadi pada kaidah kedua, bahkan
memberikan keluasan dalam memahami agama.
> >
> > Kaidah kedua ini memberikan kita wawasan luas menjadikan kita lebih arif
menilai satu perbuatan yang dilakukan orang lain. Lihat, bagaimana sebuah teori
mampu memberikan cara pandang dan sikap kepada manusia.
> >
> > Maaf, bila saya sudah mulai keluar dari pembahasan.
> >
> > Dengan penjelasan ini, saya berharap diskusi ini dilanjutkan dengan tetap
memperhatikan tema yang didiskusikan.
> >
> > Wassalam
> >
> > Saleh Lapadi
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ ...>
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Sent: Tue, November 3, 2009 6:32:12 PM
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >
> >
> > Ust Saleh,
> >
> > Mengacu pada ayat "Taatilah Allah, Rasul dan Uulil Amri diantara kamu" sudah
jelas kata terakhir mengacu pada hadits 12 Khalifah Qurays yang sangat mutawatir
dalam kutubun sittah pegangan Ahlu Sunnah.
> >
> > Dahulu Ust Saleh pernah mengutip 4 Naib pada masa sufara merupakan
pembelajaran mengenai Marjaiyah yang kemudian pada masa keghaiban kubra menjadi
Marjaiyah al-A'la sampai metamorfosisnya sekarang menjadi Wilayat al-Faqih.
> >
> > Singkat cerita, merujuk kepada 4 Naib pada masanya dan marja A'lam saat ini
secara tidak langsung merupakan bentuk ketaatan kepada Uulil Amri yang berarti
juga bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sebagaimana pesan Imam Mahdi AFS,
"Mengenai permasalahan kalianrujuklah kepada yang meriwayatkan hadits-hadits
kami"... juga "Kepada orang yang wara', berilmu dan meninggalkan hawa nafsunya
maka wajiblah bagi orang awam untuk merujuk padanya"
> >
> > Demikianlah yang saya fahami mengenai pesan beliau AFS, "Mencari manfaat
dariku ibarat mencari manfaat matahari ketika tertutup awan"
> >
> > Jika garis komandonya sudah jelas maka mudahlah agama ini bagi orang awam.
Namun menjadi permasalahan jika ada yang bertanya, "Nenek moyang saya di kampung
sampai sekarang mengadakan tahlilan, ratiban, tabuik husein yang merupakan
tradisi Syi'ah... Apakah saya juga Syi'ah Ali .. ??
> >
> > Dapatkah dijelaskan bahwa Syi'ah2 zaman dahulu di Nusantara termasuk pembawa
tari Saman di Aceh berafiliasi dengan Marjaiyah al-A'la atau terisolasi garis
komandonya? Jika hal ini jelas maka dengan mudah menjawab isu2 bahwa ratiban dan
tabuik huseyn tidak bid'ah karena jelas jalur komandonya.
> >
> > Salam,
> > Riza
> >
> >
> >
> > 2009/11/3 saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >  >
> > >>
> > >Salam,
> > >
> > >Sampai di sini ketiba berbicara mengenai definisi bid'ah, tidak ada yang
menyinggung sedikitpun mengenai taqrir Nabi. Sebagaimana diketahui, taqrir
termasuk sunnah nabi yang bukan ucapan dan perbuatannya, tapi sikap diam nabi
menyaksikan perbuatan dan amalan ibadah sahabat sebagai tanda setuju.
> > >
> > >Bila ini dikembangkan hingga kepada para imam, bagaimana korelasinya dengan
masalah yang tengah kita bicarakan?
> > >
> > >Katakanlah di masa para imam juga hal yang seperti ini, mengapa kita
mendekati masalah ini lewat taqrir?
> > >
> > >Bila bisa, lalu bagaimana penjelasannya?
> > >
> > >Menjawab pertanyaan-pertanya an ini bakal membuka sebuah wawasan yang dalam
mengenai hukum Islam. Dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas, cara pandang
kita tidak akan sempit, seperti apa yang dipikirkan Wahhabi
> > > dan siapa saja yang ingin melihat masalah secara lebih dalam.
> > >
> > >Kita lanjutkan diskusi kita...
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >Saleh Lapadi
> > >
> > >
> > >
> > >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: farah izadi <farah_izadi@ yahoo.com>
> > >
> > >To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >Sent: Sat, October 31, 2009 11:15:01 AM
> > >
> > >Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >
> > >
> > >  >
> > >>Salam
> > >
> > >Sambil menyimak...
> > >
> > >Ada pertanyaan yg mungkin bisa menjadi bahan renungan: Apakah tolok ukur
Bid'ah-Sunnah hanya prilaku Rasul saja, sehingga peran khalifah Arrasyidin
al-Mahdiyiin (para imam suci Ahlul Bait) murni ikut prilaku Rasul dgn segala
kondisi zamannya? Dalam arti, apakah setiap yang dilakukan Rasul adalah Sunnah
dan apakah setiap yang tidak pernah dilakukan Rasul adalah Bid'ah? Sehingga kita
sewaktu makan Soto berkuah umpamanya untuk mengikuti sunah Rasul harus
menggunakan tiga jari (padahal di Arab zaman Rasul gk pernah ada Soto
berkuah)...kapan selesainya? :D
> > >
> > >Apakah adanya 'dalil umum' (bukan khusus) menyinggung
> > > dan dapat diterapkan pada satu perbuatan mungkinkah ia bisa dijadikan
'pembenar' (dalil) akan kelegalan (masyru'iyat) sebuah perbuatan sehingga dia
tidak dikategorikan Bid'ah?
> > >
> > >Saya harap kajian ini
> > > berlanjut terus oleh bapak-bapak itu.
> > >Krn kajian ini (syahadah ketiga dalam azan; bid'ah atau sunnah?) akan juga
dapat menjawab ttg isu bid'ah Tahlil, Baca Maulud Nabi, Baca Ratib, Baca
Manaqib, Shalat Terawih....dan beberapa amalan lainnya.
> > >
> > >Wassalam
> > >
> > >
> > >--- On Sat, 10/31/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:
> > >
> > >
> > >>From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>
> > >>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>Date: Saturday, October 31, 2009, 5:53 AM
> > >>
> > >>
> > >>>>
> > >>
> > >>
> > >>  >>
> > >>>>Bid'ah itu "sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasul" atau "sesuatu
yang bertentangan dengan Ma'shumin (termasuk a'immah as.)"? (sebagaimana
definisi hadis dalam Ahlul Bait, kalau tidak salah, "ucapan dari Ma'shumin as.")
> > >>
> > >>Kalau bid'ah adalah definisi yang kedua di atas, dan terdapat hadis atau
perintah dari para imam as. tentang syahadah ketiga dalam azan, maka tidak
menjadi bid'ah (??)
> > >>
> > >>NB: Maaf ngelantur :)
> > >>
> > >>Dahulukan Islam di Atas Mazhab
> > >>
> > >>--- On Fri, 10/30/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>
> > >>
> > >>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>
> > >>>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Date: Friday, October 30, 2009, 12:19 PM
> > >>>
> > >>>
> > >>>>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>  >>>
> > >>>Salam,
> > >>>
> > >>>Sejauh ini saya melihat diskusi yang ada sangat menarik. Dari hanya
sekadar pernyataan singkat Ejajufri yang menyebut masalah ini adalah bid'ah dan
dikembangkan argumentasinya oleh Bung Arief membuat masalah ini sebenarnya mulai
menajam. Dan terima kasih kepada moderator yang mengapresiasi usulan saya untuk
mulai membahasnya dari bid'ah.
> > >>>
> > >>>Saya punya alasan untuk coba minggir dan membahas tentang defisini bid'ah
terlebih dahulu, dikarenakan ini adalah awal bercabangnya masalah yang ingin
kita bahas. Bila kita telah masuk lebih jauh ke pembahasan syahadah ketiga dalam
azan dan ini tidak diselesaikan dahulu, walaupun secara singkat, akan membuat
pembahasan kita nantinya akan terseok-seok.
> > >>>
> > >>>Untungnya bila kita dahulu menyelesaikan masalah bid'ah ini, bila memang
benar syahadah
> > >>> ketiga dalam azan termasuk bi'dah, maka kita tidak perlu bersusah payah
mengkaji masalah selanjutnya seperti yang dinukilkan Bung Reza dari fatwa
Ayatullah Sistani. Namun bila kita sepakat akan definisi bid'ah dan tidak
meyakini syahdah ketiga dalam azan merupakan contoh lain dari bid'ah, maka kita
masih dapat melanjutkan pembahasan ini dengan menyimak alasan mereka yang
menyetujui penambahan itu (tentu dengan syarat-syaratnya) dan mereka yang tidak
menyetujui.
> > >>>
> > >>>Artinya, untuk tidak setuju memasukkan syahadah ketiga ini ke dalam azan
tidak harus dengan berlandaskan dalil bid'ah, tapi apa? Mungkin itu yang sempat
dilontarkan oleh Bung Ejajufri dengan ucapannya, "Mungkin tidak bid'ah karena
memang tidak disyariatkan tapi bermasalah karena tidak dipraktikkan Nabi."
> > >>>
> > >>>Ok, sampai di sini apa yang telah kita miliki?
> > >>>
> > >>>Menurut saya kita punya dua kesepakatan (setidaknya dari pendapat yang
sudah ada), pertama bid'ah definisinya adalah "Sesuatu
> > >>> yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw". Dan kedua, bid'ah itu
sesat. Nah, sekarang yang tengah dibahas oleh Bung Arief dan Anis terkait
masalah apakah syahadah ketiga dalam azan  ini termasuk bid'ah atau tidak.
> > >>>
> > >>>Bung Arief meyakininya sebagai bid'ah dan Bung Anis mengakuinya sebagai
tidak bid'ah. Ada yang lain?
> > >>>
> > >>>Wassalam
> > >>>
> > >>>Saleh Lapadi
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > >>>
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>Sent: Wed, October 28, 2009 11:40:53 AM
> > >>>Subject: >>> [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > >>>
> > >>>  >>>
> > >>>
> > >>>Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang
tertulis.
> > >>>
> > >>>
> > >>>--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:
> > >>>
> > >>>
> > >>>>From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > >>>>Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> > >>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>>>>Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>Assalamualaikum wr wb
> > >>>>
> > >>>>Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member
Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> > >>>>
> > >>>>Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi
pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan
tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan
kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> > >>>>
> > >>>>Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa
menambah, menyangkal bahkan menolak.
> > >>>>
> > >>>>Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa
menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
> > >>>>
> > >>>>Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu.
> > >>>>
> > >>>>Wassalam wr wb
> > >>>>
> > >>>>Moderator
> > >>>>MT
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:
> > >>>>
> > >>>>
> > >>>>>From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> > >>>>>Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah
Ketiga dalam Azan
> > >>>>>>>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> > >>>>>
> > >>>>>Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> > >>>>>
> > >>>>>Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan
kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak
dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari
postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara
tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> > >>>>>
> > >>>>>Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada
dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah
saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?
> > >>>>>
> > >>>>>Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit
penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada
permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan
ringkas namun
> > >>>>> cukup lengkap dari Bib Anis.
> > >>>>>
> > >>>>>Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau
diatur langsung oleh moderator.
> > >>>>>
> > >>>>>Bagaimana?
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam
> > >>>>>
> > >>>>>Saleh Lapadi
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > ____________ _________ _________ __
> >  From: maulachela <maulachela@ yahoo. com>
> > >>>>>To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > >>>>>Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> > >>>>>Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga
dalam Azan
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>Salam,
> > >>>>>
> > >>>>>Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan
bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing,
mudah-mudahan tidak ngelantur.
> > >>>>>
> > >>>>>Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna
`Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang
disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan
iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat
manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan
hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il
al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> > >>>>>
> > >>>>>Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia
berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah.
Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada
kalimat "Asyhadu an Laa
> > >>>>> Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada
Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu
kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah
pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang
benar dan mana golongan yang batil.
> > >>>>>
> > >>>>>Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan
wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan
oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar"
hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan
demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan
diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga
meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as.
Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya
tidak
> > >>>>> boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh
Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi,
"Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei,
"Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT
telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan
nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai
berikut:
> > >>>>>
> > >>>>>1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain
Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali
bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani
Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan
lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait
al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain
> > >>>>> Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui
wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i,
"Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> > >>>>>
> > >>>>>3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya
dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww
bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa
dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat
melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir
ath-Thabari; dan lain-lain]
> > >>>>>
> > >>>>>Wallahu A'lam.
> > >>>>>
> > >>>>>Wassalam,
> > >>>>>Muh. Anis
> > >>>>>
> > >>>>>--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@
...> wrote:
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Salam,
> > >>>>>>
> > >>>>>> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku
> > >>>>> saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah
ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
> > >>>>>>
> > >>>>>> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan
Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita
sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang
ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah
diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> > >>>>>>>>>>>
> > >>>>>> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak
jelas menjadi jelas.
> > >>>>>>
> > >>>>>> Wassalam
> > >>>>>>
> > >>>>>> Saleh Lapadi
> > >>>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>>
> > >>>>
> > >>>
> > >>>
> > >>
> > >
> > >
> >
>

#11163 From: "rasahgelo" <rasahgelo@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 2:07 pm
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
rasahgelo
Offline Offline
Send Email Send Email
 
jawaban yang begini akan jelas. paling tidak jauh lebih jelas dari jawaban
sebelumnya.

--- In islam_alternatif@yahoogroups.com, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...>
wrote:
>
> Seharusnya sudah gamblang, kalau lebih utama sujud diatas Ardh
> (tanah/batu...) tentu tidap perlu dibid'ahkan tanah berasal dari Karbala.
> Apa orang di Indonesia ketika sujud di Jakarta menjadi bid'ah karena bukan
> tanah dari Madinah?
>
> 2009/11/9 rasahgelo <rasahgelo@...>
>
> >
> >
> > ora nyambung blas ....
> >
> > --- In islam_alternatif@yahoogroups.com<islam_alternatif%40yahoogroups.com>,
> > Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@> wrote:
> > >
> > > Rasulullah SAWW juga tidak pernah email2an..
> > >
> > > 2009/11/9 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomingvenus@>
> >
> > >
> > > >
> > > >
> > > > Salam,
> > > >
> > > > Sujud di atas tanah itu memang dicontohkan oleh Rasulullah (saw) bahkan
> > > > bisa dilacak ke berbagai sumber dari pihak Ahlussunnah. Saya juga
> > pernah
> > > > membaca dalam buku "Sifat Shalat Nabi" Nasr Al-Din Al-Albani, bahwa
> > > > Rasulullah itu lebih sering bersujud di atas tanah daripada di atas
> > > > khumrah atau hasir.
> > > >
> > > > Cuman yang kemudian dipermasalahkan oleh teman saya adalah:
> > > >
> > > > Dengan asumsi bahwa Para Imam (as) itu adalah generasi salaf yang
> > shalih di
> > > > mana semua ucapan, perbuatan, dan taqrir Aimmah Ma`shumin (as) mengenai
> > > > Islam itu didasarkan kepada ucapan, perbuatan, dan taqrir dari
> > Rasulullah
> > > > (saw). Maka--menurut teman saya: aneh bila ada riwayat di mana Imam
> > > > Al-Sajjad melakukan sesuatu (sujud) yang sebelumnya tidak pernah
> > dilakukan
> > > > oleh Rasulullah (saw) yaitu `ala turbati Al-Husayn. Bukankah perbuatan
> > > > Imam itu tidak pernah menyalahi perbuatan Rasulullah (saw)?
> > > >
> > > > Dari asumsi tersebut kemudian teman saya itu menganggap bahwa perbuatan
> > > > sujud `ala turbati al-Husayn itu sebagai bid`ah (termasuk saya sendiri
> > > > yang sujud `ala turbatil Al-Husayn adalah pembid`ah :( )
> > > >
> > > > wa salam.
> > > >
> > > > DD
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > --- On *Tue, 11/3/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@>* wrote:
> > > >
> > > >
> > > > From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@>
> >
> > > >
> > > > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > > > To: islam_alternatif@yahoogroups.com<islam_alternatif%40yahoogroups.com>
> > > > Date: Tuesday, November 3, 2009, 12:04 AM
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > *وَلَوْ
سَجَدَ
على
> >
رَأْس�ه�
ولم
> > ي�م�سَّ
شيئا Ù…Ùâ€
> >
جَبْهَت�Ã\
™â€¡Ã™ï¿½
> >
الْأَرْض\
™Å½ لم
> > > > ÙÅ
َجْز�ه�
> >
السّ�ج�و\
د� ÙˆÙŽØ¥Ù�Ùâ€
Ù’
> > سَجَدَ
على
رَأْس�ه�
> >
�َمَاسَّ
شيئا Ù…Ùâ€
> >
جَبْهَت�Ã\
™â€¡Ã™ï¿½
> > > >
الْأَرْض\
™Å½
> >
أَجْزَأَÙâ\
¡Ã™ï¿½
> >
السّ�ج�و\
د� إنْ
> > شَاءَ
اللَّه�
> > تَعَالَى*
> > > >
> > > > Imam Syafi'i bilang gini, â€Å"Apabila seseorang sujud dan
dahinya
> > sama sekali
> >
> > > > tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak cukup dianggap sah.
> > > > Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah
> > (*al-ardh*),
> > > > maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah
> > Ta’ala.� (*Al-Umm*,
> >
> > > > 1/114)
> > > >
> > > >
> > > > http://ejajufri. wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud-
> > > > di-atas-tanah/<
> > http://ejajufri..wordpress.com/2009/10/26/sudahkah-anda-sujud-di-atas-tanah/
> > >
> > > >
> > > > Powered by: Dahulukan Islam di Atas Mazhab <
> > http://ejajufri.wordpress.com>
> >
> > > >
> > > > --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com
> > >*wrote:
> > > >
> > > >
> > > > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> > > > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > > > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > > > Date: Monday, November 2, 2009, 7:05 AM
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Berikut terdapat di Bukhari-Muslim- Tirmidzi- Nasa;i
> > > >
> > > > ج�علت لي
الأرض
> > مسجدا
وطهورا
> > > > Tinggal diperjelas apakah الأرض
termasuk karpet, ubin,
> > pelepah pisang
> >
> > > > dll...
> > > >
> > > > 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
> > > >
> > > >>
> > > >>
> > > >> waktu itu mesjid rasul berlantaikan tanah yang keras. Saya belum
> > pernah
> > > >> ketemu mesjid yang berlantaikan tanah. disekitar ka'bah apakah
> > berlantaikan
> > > >> tanah atau ubin ?
> > > >>
> > > >> salam,
> > > >>
> > > >>
> > > >> --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com
> > >*wrote:
> > > >>
> > > >>
> > > >> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> > > >> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > > >> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > > >> Date: Monday, November 2, 2009, 1:10 PM
> > > >>
> > > >>
> > > >>
> > > >>
> > > >> â€Å"Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang sujud di atas
> > sorbannya, maka
> >
> > > >> beliau saw memberi isyarat dengan tangannya: 'Angkatlah sorbanmu dan
> > > >> memberi isyarat ke dahinya, sujudlah dengan dahimu.�
(Sunnah
> > Baihaqi juz
> >
> > > >> 2 hal. 105 , Ishabah juz 2 hal. 201)
> > > >>
> > > >>
> > > >> 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com<
> > http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=arismunawar@>
> >
> > > >> >
> > > >>
> > > >>>
> > > >>> salam,
> > > >>>
> > > >>> Apakah sujud diatas karpet/sajadah bid'ah karena nabi tidak pernah
> > > >>> melakukannya ? saya kalo terpaksa sekali sujud diatas tangan sendiri,
> > > >>> bagaimana hukumnya. afwan
> > > >>>
> > > >>> wass,
> > > >>> aris
> > > >>>
> > > >>> --- On *Sun, 11/1/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com<
> > http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=abdulrahmanriza@>
> > > >>> >* wrote:
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com<
> > http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=abdulrahmanriza@>
> >
> > > >>> >
> > > >>> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > > >>>
> > > >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com<
> >
http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=islam_alternatif@yahoogroups.com
> > >
> >
> > > >>> Date: Sunday, November 1, 2009, 6:37 PM
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> Salam,
> > > >>>
> > > >>> Berikut riwayat dari shahih Bukharih setelah shalat tanah masih
> > menempel
> > > >>> di dahi beliau SAWW berati Nabi SAWW sujud di atas tanah bukan
> > karpet.
> > > >>>
> > > >>> *Volume 3, Book 33, Number 256: *
> > > >>>
> > > >>> Narrated Abu Said:
> > > >>> We practiced Itikaf with Allah's Apostle in the middle ten days (of
> > > >>> Ramadan). In the morning of the twentieth (of Ramadan) we shifted our
> > > >>> baggage, but Allah's Apostle came to us and said, "Whoever was m
> > Itikaf
> > > >>> should return to his place of Itikaf, for I saw (i.e. was informed
> > about the
> > > >>> date of) this Night (of Qadr) and saw myself prostrating in mud and
> > water."
> > > >>> When I returned to my place the sky was overcast with clouds and it
> > rained.
> > > >>> By Him Who sent Muhammad with the Truth, the sky was covered with
> > clouds
> > > >>> from the end of that day, and the mosque which was roofed with
> > leaf-stalks
> > > >>> of date palm trees (leaked with rain) and I saw the trace of mud and
> > water
> > > >>> over the nose of the Prophet and its tip.
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> Mengenai tanah dari Karbala karena adalah tempatnya syahidnya
> > pemimpin
> > > >>> para Syuhada dan merupakan tanah yang lebih utama.
> > > >>>
> > > >>> Adapun point yang perlu diperhatikan adalah *"Sujud ila turbah"*
> > berbeda
> > > >>> dengan *"Sujud 'ala turbah"*
> > > >>>
> > > >>> Riza
> > > >>>
> > > >>> 2009/11/1 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin
> > gvenus@yahoo.
> > > >>> com<
> > http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=whentheearthbecomingvenus@
> > >
> >
> > > >>> >
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>>> salamun `alaikum,
> > > >>>>
> > > >>>> sekalian bahas 'syahadah ketiga' gimana klo temen2 juga bahas ttg
> > *sujud-di-atas-
> > > >>>> turbah-karbala. *
> > > >>>> **
> > > >>>> setau saya akar-akar dimulainya praktik sujud di atas tanah karbala
> > itu
> > > >>>> berasal dari Imam `Ali al-Sajjad:
> > > >>>>
> > > >>>> After the martyrdom of Imam Husayn (a), his son *Imam Zayn
> > al-'Abidin*(a) picked some up, declared it to be sacred dust, and kept it in
> > a bag. The
> > > >>>> Imams (a) *used to perform prostrations on it* and make a *tasbih*
> > out
> > > >>>> of it, and recited Allah's praises on it.
> > > >>>>
> > > >>>> [Ibn Shahrashub, al-Manaqib, vol. 2, p. 251]
> > > >>>>
> > > >>> http://www.al- islam.org/ nutshell/ laws_practices/<
> > http://www.al-islam.org/nutshell/laws_practices/>
> >
> > > >>>
> > > >>> tapi yang jadi pertanyaan (titipan teman) saya adalah: karena *para
> > Imam
> > > >>> Ma'shum melakukan sesuatu itu pasti ada contohnya dari Rasulullah
> > Suci
> > > >>> (saww)*, apakah ada suatu riwayat yang berasal dari Rasulullah (saww)
> > > >>> yang menyatakan bahwa sujud di atas tanah karbala itu lebih
> > utama/afdhal/
> > > >>> baik? Jika tidak ada: Apakah lebih memilih sujud di atas tanah
> > Karbala itu
> > > >>> dapat dikatakan *ahdats/ bid`ah*?
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> Jazakumullah
> > > >>>
> > > >>> wassalam
> > > >>> dee
> > > >>>
> > > >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com<
> > http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=moderatorium@>
> > > >>> >* wrote:
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com<
> > http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=moderatorium@>
> >
> > > >>> >
> > > >>> Subject: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > > >>>
> > > >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com<
> >
http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=islam_alternatif@yahoogroups.com
> > >
> >
> > > >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 5:10 PM
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang
> > > >>> tertulis.
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com
> > >*wrote:
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> > > >>> Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> > > >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > > >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> Assalamualaikum wr wb
> > > >>>
> > > >>> Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh
> > member
> > > >>> Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi
> > islamalternatif.
> > > >>>
> > > >>> Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi
> > > >>> pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang
> > tindih
> > > >>> dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga
> > dalam
> > > >>> Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu
> > Bid'ah.
> > > >>>
> > > >>> Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa
> > > >>> menambah, menyangkal bahkan menolak.
> > > >>>
> > > >>> Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa
> > > >>> menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di
> > > >>> Download.
> > > >>>
> > > >>> Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu..
> > > >>>
> > > >>> Wassalam wr wb
> > > >>>
> > > >>> Moderator
> > > >>> MT
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> --- On *Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>*
> > wrote:
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> > > >>> Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah
> > Ketiga
> > > >>> dalam Azan
> > > >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > > >>> Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> Salam,
> > > >>>
> > > >>> Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> > > >>>
> > > >>> Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> > > >>>
> > > >>> Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan
> > kepada
> > > >>> moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau
> > tidak
> > > >>> dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu,
> > karena
> > > >>> dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan
> > dan
> > > >>> secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> > > >>>
> > > >>> Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada
> > dua
> > > >>> pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak.
> > Mungkinkah
> > > >>> saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini
> > disebut
> > > >>> bid'ah?
> > > >>>
> > > >>> Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit
> > > >>> penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali
> > pada
> > > >>> permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama
> > > >>> penjelasan ringkas namun cukup lengkap dari Bib Anis.
> > > >>>
> > > >>> Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik
> > kalau
> > > >>> diatur langsung oleh moderator.
> > > >>>
> > > >>> Bagaimana?
> > > >>>
> > > >>> Wassalam
> > > >>>
> > > >>> Saleh Lapadi
> > > >>>
> > > >>> ------------------------------
> > > >>> *From:* maulachela <maulachela@yahoo. com>
> > > >>> *To:* islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > > >>> *Sent:* Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> > > >>> *Subject:* [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah
> > Ketiga
> > > >>> dalam Azan
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>> Salam,
> > > >>>
> > > >>> Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan
> > bernas
> > > >>> antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing,
> > > >>> mudah-mudahan tidak ngelantur.
> > > >>>
> > > >>> Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna
> > `Aliyyan
> > > >>> Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang
> > disyariatkan.
> > > >>> Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan
> > iqamah.
> > > >>> Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat
> > manusia
> > > >>> agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw.
> > Dan hal
> > > >>> seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il
> > > >>> al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> > > >>>
> > > >>> Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa
> > dia
> > > >>> berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan
> > dengan
> > > >>> wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah)
> > kepada
> > > >>> Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah". Kemudian
> > > >>> dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat
> > "Asyhadu
> > > >>> anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca
> > Rasulullah saw
> > > >>> semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru
> > > >>> merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan
> > mana
> > > >>> golongan yang batil.
> > > >>>
> > > >>> Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan
> > wilayah
> > > >>> dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah
> > disyariatkan oleh
> > > >>> Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum
> > al-Dar"
> > > >>> hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum".
> > Dengan
> > > >>> demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad
> > pengakuan
> > > >>> diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara
> > otomatis
> > > >>> juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as
> > setelah
> > > >>> beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan,
> > dan dalam
> > > >>> melakukannya tidak boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan.
> > [Lihat:
> > > >>> Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan
> > Waizin
> > > >>> al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8";
> > Sayyid Ali
> > > >>> Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> > > >>>
> > > >>> Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT
> > > >>> telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah
> > nama-Nya
> > > >>> dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah
> > sebagai
> > > >>> berikut:
> > > >>>
> > > >>> 1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain
> > > >>> Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan
> > melalui
> > > >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal
> > Surat
> > > >>> Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab
> > 62;
> > > >>> dan lain-lain]
> > > >>>
> > > >>> 2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait
> > > >>> al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain
> > Allah,
> > > >>> Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui
> > wazir-nya yakni
> > > >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i,
> > "Mawaddah
> > > >>> al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> > > >>>
> > > >>> 3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan-
> > Nya
> > > >>> dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul
> > saww
> > > >>> bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah
> > Yang Maha
> > > >>> Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku
> > yang Aku
> > > >>> perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir
> > "Kasyful
> > > >>> Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> > > >>>
> > > >>> Wallahu A'lam.
> > > >>>
> > > >>> Wassalam,
> > > >>> Muh. Anis
> > > >>>
> > > >>> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com<
> >
http://us.mc396.mail.yahoo.com/mc/compose?to=islam_alternatif%40yahoogroups.com
> > >,
> >
> > > >>> saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> > > >>> >
> > > >>> > Salam,
> > > >>> >
> > > >>> > Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku saya buku saku dan
> > tipis
> > > >>> yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih
> > > >>> syahadah ketiga itu?
> > > >>> >
> > > >>> > Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan
> > Asyhadu
> > > >>> Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan
> > Waliyullah.
> > > >>> >
> > > >>> > Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita
> > > >>> sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa
> > yang
> > > >>> ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga
> > pernah
> > > >>> diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu
> > mengikutinya.
> > > >>> >
> > > >>> > Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak
> > jelas
> > > >>> menjadi jelas.
> > > >>> >
> > > >>> > Wassalam
> > > >>> >
> > > >>> > Saleh Lapadi
> > > >>> >
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>>
> > > >>
> > > >>
> > > >>
> > > >>
> > > >>
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> >
> >
> >
>

#11162 From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 12:43 pm
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
abdulrahmanriza@...
Send Email Send Email
 
Seharusnya sudah gamblang, kalau lebih utama sujud diatas Ardh (tanah/batu...) tentu tidap perlu dibid'ahkan tanah berasal dari Karbala. Apa orang di Indonesia ketika sujud di Jakarta menjadi bid'ah karena bukan tanah dari Madinah?

2009/11/9 rasahgelo <rasahgelo@...>
 

ora nyambung blas ....


--- In islam_alternatif@yahoogroups.com, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...> wrote:
>
> Rasulullah SAWW juga tidak pernah email2an..
>
> 2009/11/9 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomingvenus@...>

>
> >
> >
> > Salam,
> >
> > Sujud di atas tanah itu memang dicontohkan oleh Rasulullah (saw) bahkan
> > bisa dilacak ke berbagai sumber dari pihak Ahlussunnah. Saya juga pernah
> > membaca dalam buku "Sifat Shalat Nabi" Nasr Al-Din Al-Albani, bahwa
> > Rasulullah itu lebih sering bersujud di atas tanah daripada di atas
> > khumrah atau hasir.
> >
> > Cuman yang kemudian dipermasalahkan oleh teman saya adalah:
> >
> > Dengan asumsi bahwa Para Imam (as) itu adalah generasi salaf yang shalih di
> > mana semua ucapan, perbuatan, dan taqrir Aimmah Ma`shumin (as) mengenai
> > Islam itu didasarkan kepada ucapan, perbuatan, dan taqrir dari Rasulullah
> > (saw). Maka--menurut teman saya: aneh bila ada riwayat di mana Imam
> > Al-Sajjad melakukan sesuatu (sujud) yang sebelumnya tidak pernah dilakukan
> > oleh Rasulullah (saw) yaitu `ala turbati Al-Husayn. Bukankah perbuatan
> > Imam itu tidak pernah menyalahi perbuatan Rasulullah (saw)?
> >
> > Dari asumsi tersebut kemudian teman saya itu menganggap bahwa perbuatan
> > sujud `ala turbati al-Husayn itu sebagai bid`ah (termasuk saya sendiri
> > yang sujud `ala turbatil Al-Husayn adalah pembid`ah :( )
> >
> > wa salam.
> >
> > DD
> >
> >
> >
> > --- On *Tue, 11/3/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>* wrote:
> >
> >
> > From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>

> >
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > To: islam_alternatif@yahoogroups.com
> > Date: Tuesday, November 3, 2009, 12:04 AM
> >
> >
> >
> >
> > *وَلَوْ سَجَدَ على رَأْس�ه� ولم ي�م�سَّ شيئا من جَبْهَت�ه� الْأَرْضَ لم
> > يَجْز�ه� السّ�ج�ود� وَإ�نْ سَجَدَ على رَأْس�ه� �َمَاسَّ شيئا من جَبْهَت�ه�
> > الْأَرْضَ أَجْزَأَه� السّ�ج�ود� إنْ شَاءَ اللَّه� تَعَالَى*
> >
> > Imam Syafi'i bilang gini, â€Å"Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali

> > tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak cukup dianggap sah.
> > Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (*al-ardh*),
> > maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Ta’ala.� (*Al-Umm*,

> > 1/114)
> >
> >
> > http://ejajufri. wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud-
> > di-atas-tanah/<http://ejajufri..wordpress.com/2009/10/26/sudahkah-anda-sujud-di-atas-tanah/>
> >
> > Powered by: Dahulukan Islam di Atas Mazhab <http://ejajufri.wordpress.com>

> >
> > --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>*wrote:
> >
> >
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Date: Monday, November 2, 2009, 7:05 AM
> >
> >
> >
> > Berikut terdapat di Bukhari-Muslim- Tirmidzi- Nasa;i
> >
> > ج�علت لي الأرض مسجدا وطهورا
> > Tinggal diperjelas apakah الأرض termasuk karpet, ubin, pelepah pisang

> > dll...
> >
> > 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
> >
> >>
> >>
> >> waktu itu mesjid rasul berlantaikan tanah yang keras. Saya belum pernah
> >> ketemu mesjid yang berlantaikan tanah. disekitar ka'bah apakah berlantaikan
> >> tanah atau ubin ?
> >>
> >> salam,
> >>
> >>
> >> --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>*wrote:
> >>
> >>
> >> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> >> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >> Date: Monday, November 2, 2009, 1:10 PM
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> â€Å"Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang sujud di atas sorbannya, maka

> >> beliau saw memberi isyarat dengan tangannya: 'Angkatlah sorbanmu dan
> >> memberi isyarat ke dahinya, sujudlah dengan dahimu.� (Sunnah Baihaqi juz

> >> 2 hal. 105 , Ishabah juz 2 hal. 201)
> >>
> >>
> >> 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=arismunawar@...>

> >> >
> >>
> >>>
> >>> salam,
> >>>
> >>> Apakah sujud diatas karpet/sajadah bid'ah karena nabi tidak pernah
> >>> melakukannya ? saya kalo terpaksa sekali sujud diatas tangan sendiri,
> >>> bagaimana hukumnya. afwan
> >>>
> >>> wass,
> >>> aris
> >>>
> >>> --- On *Sun, 11/1/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=abdulrahmanriza@...>
> >>> >* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=abdulrahmanriza@...>

> >>> >
> >>> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >>>
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=islam_alternatif@yahoogroups.com>

> >>> Date: Sunday, November 1, 2009, 6:37 PM
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Berikut riwayat dari shahih Bukharih setelah shalat tanah masih menempel
> >>> di dahi beliau SAWW berati Nabi SAWW sujud di atas tanah bukan karpet.
> >>>
> >>> *Volume 3, Book 33, Number 256: *
> >>>
> >>> Narrated Abu Said:
> >>> We practiced Itikaf with Allah's Apostle in the middle ten days (of
> >>> Ramadan). In the morning of the twentieth (of Ramadan) we shifted our
> >>> baggage, but Allah's Apostle came to us and said, "Whoever was m Itikaf
> >>> should return to his place of Itikaf, for I saw (i.e. was informed about the
> >>> date of) this Night (of Qadr) and saw myself prostrating in mud and water."
> >>> When I returned to my place the sky was overcast with clouds and it rained.
> >>> By Him Who sent Muhammad with the Truth, the sky was covered with clouds
> >>> from the end of that day, and the mosque which was roofed with leaf-stalks
> >>> of date palm trees (leaked with rain) and I saw the trace of mud and water
> >>> over the nose of the Prophet and its tip.
> >>>
> >>>
> >>> Mengenai tanah dari Karbala karena adalah tempatnya syahidnya pemimpin
> >>> para Syuhada dan merupakan tanah yang lebih utama.
> >>>
> >>> Adapun point yang perlu diperhatikan adalah *"Sujud ila turbah"* berbeda
> >>> dengan *"Sujud 'ala turbah"*
> >>>
> >>> Riza
> >>>
> >>> 2009/11/1 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo.
> >>> com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=whentheearthbecomingvenus@...>

> >>> >
> >>>
> >>>
> >>>> salamun `alaikum,
> >>>>
> >>>> sekalian bahas 'syahadah ketiga' gimana klo temen2 juga bahas ttg *sujud-di-atas-
> >>>> turbah-karbala. *
> >>>> **
> >>>> setau saya akar-akar dimulainya praktik sujud di atas tanah karbala itu
> >>>> berasal dari Imam `Ali al-Sajjad:
> >>>>
> >>>> After the martyrdom of Imam Husayn (a), his son *Imam Zayn al-'Abidin*(a) picked some up, declared it to be sacred dust, and kept it in a bag. The
> >>>> Imams (a) *used to perform prostrations on it* and make a *tasbih* out
> >>>> of it, and recited Allah's praises on it.
> >>>>
> >>>> [Ibn Shahrashub, al-Manaqib, vol. 2, p. 251]
> >>>>
> >>> http://www.al- islam.org/ nutshell/ laws_practices/<http://www.al-islam.org/nutshell/laws_practices/>

> >>>
> >>> tapi yang jadi pertanyaan (titipan teman) saya adalah: karena *para Imam
> >>> Ma'shum melakukan sesuatu itu pasti ada contohnya dari Rasulullah Suci
> >>> (saww)*, apakah ada suatu riwayat yang berasal dari Rasulullah (saww)
> >>> yang menyatakan bahwa sujud di atas tanah karbala itu lebih utama/afdhal/
> >>> baik? Jika tidak ada: Apakah lebih memilih sujud di atas tanah Karbala itu
> >>> dapat dikatakan *ahdats/ bid`ah*?
> >>>
> >>>
> >>> Jazakumullah
> >>>
> >>> wassalam
> >>> dee
> >>>
> >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=moderatorium@...>
> >>> >* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=moderatorium@...>

> >>> >
> >>> Subject: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >>>
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=islam_alternatif@yahoogroups.com>

> >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 5:10 PM
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang
> >>> tertulis.
> >>>
> >>>
> >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>*wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> >>> Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> >>>
> >>>
> >>> Assalamualaikum wr wb
> >>>
> >>> Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member
> >>> Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> >>>
> >>> Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi
> >>> pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih
> >>> dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam
> >>> Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> >>>
> >>> Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa
> >>> menambah, menyangkal bahkan menolak.
> >>>
> >>> Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa
> >>> menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di
> >>> Download.
> >>>
> >>> Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu..
> >>>
> >>> Wassalam wr wb
> >>>
> >>> Moderator
> >>> MT
> >>>
> >>>
> >>> --- On *Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> >>> Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga
> >>> dalam Azan
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> >>>
> >>> Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> >>>
> >>> Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada
> >>> moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak
> >>> dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena
> >>> dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan
> >>> secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> >>>
> >>> Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua
> >>> pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah
> >>> saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut
> >>> bid'ah?
> >>>
> >>> Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit
> >>> penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada
> >>> permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama
> >>> penjelasan ringkas namun cukup lengkap dari Bib Anis.
> >>>
> >>> Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau
> >>> diatur langsung oleh moderator.
> >>>
> >>> Bagaimana?
> >>>
> >>> Wassalam
> >>>
> >>> Saleh Lapadi
> >>>
> >>> ------------------------------
> >>> *From:* maulachela <maulachela@yahoo. com>
> >>> *To:* islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> *Sent:* Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> >>> *Subject:* [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga
> >>> dalam Azan
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas
> >>> antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing,
> >>> mudah-mudahan tidak ngelantur.
> >>>
> >>> Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan
> >>> Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan.
> >>> Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah.
> >>> Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia
> >>> agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal
> >>> seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il
> >>> al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> >>>
> >>> Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia
> >>> berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan
> >>> wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada
> >>> Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah". Kemudian
> >>> dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu
> >>> anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw
> >>> semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru
> >>> merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana
> >>> golongan yang batil.
> >>>
> >>> Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah
> >>> dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh
> >>> Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar"
> >>> hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan
> >>> demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan
> >>> diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis
> >>> juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah
> >>> beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam
> >>> melakukannya tidak boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat:
> >>> Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin
> >>> al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali
> >>> Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> >>>
> >>> Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT
> >>> telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya
> >>> dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai
> >>> berikut:
> >>>
> >>> 1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain
> >>> Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui
> >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat
> >>> Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62;
> >>> dan lain-lain]
> >>>
> >>> 2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait
> >>> al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain Allah,
> >>> Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni
> >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah
> >>> al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> >>>
> >>> 3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya
> >>> dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww
> >>> bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha
> >>> Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku
> >>> perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful
> >>> Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> >>>
> >>> Wallahu A'lam.
> >>>
> >>> Wassalam,
> >>> Muh. Anis
> >>>
> >>> --- In islam_alternatif@ yahoogroups. com<http://us.mc396.mail.yahoo.com/mc/compose?to=islam_alternatif%40yahoogroups.com>,

> >>> saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >>> >
> >>> > Salam,
> >>> >
> >>> > Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku saya buku saku dan tipis
> >>> yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih
> >>> syahadah ketiga itu?
> >>> >
> >>> > Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu
> >>> Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> >>> >
> >>> > Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita
> >>> sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang
> >>> ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah
> >>> diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> >>> >
> >>> > Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas
> >>> menjadi jelas.
> >>> >
> >>> > Wassalam
> >>> >
> >>> > Saleh Lapadi
> >>> >
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >
> >
> >
> >
>



#11161 From: "rasahgelo" <rasahgelo@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 12:39 pm
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
rasahgelo
Offline Offline
Send Email Send Email
 
ora nyambung blas ....

--- In islam_alternatif@yahoogroups.com, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...>
wrote:
>
> Rasulullah SAWW juga tidak pernah email2an..
>
> 2009/11/9 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomingvenus@...>
>
> >
> >
> > Salam,
> >
> > Sujud di atas tanah itu memang dicontohkan oleh Rasulullah (saw) bahkan
> > bisa dilacak ke berbagai sumber dari pihak Ahlussunnah. Saya juga pernah
> > membaca dalam buku "Sifat Shalat Nabi" Nasr Al-Din Al-Albani, bahwa
> > Rasulullah itu lebih sering bersujud di atas tanah daripada di atas
> > khumrah atau hasir.
> >
> > Cuman yang kemudian dipermasalahkan oleh teman saya adalah:
> >
> > Dengan asumsi bahwa Para Imam (as) itu adalah generasi salaf yang shalih di
> > mana semua ucapan, perbuatan, dan taqrir Aimmah Ma`shumin (as) mengenai
> > Islam itu didasarkan kepada ucapan, perbuatan, dan taqrir dari Rasulullah
> > (saw). Maka--menurut teman saya: aneh bila ada riwayat di mana Imam
> > Al-Sajjad melakukan sesuatu (sujud) yang sebelumnya tidak pernah dilakukan
> > oleh Rasulullah (saw) yaitu `ala turbati Al-Husayn. Bukankah perbuatan
> > Imam itu tidak pernah menyalahi perbuatan Rasulullah (saw)?
> >
> > Dari asumsi tersebut kemudian teman saya itu menganggap bahwa perbuatan
> > sujud `ala turbati al-Husayn itu sebagai bid`ah (termasuk saya sendiri
> > yang sujud `ala turbatil Al-Husayn adalah pembid`ah :( )
> >
> > wa salam.
> >
> > DD
> >
> >
> >
> > --- On *Tue, 11/3/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>* wrote:
> >
> >
> > From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>
> >
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > To: islam_alternatif@yahoogroups.com
> > Date: Tuesday, November 3, 2009, 12:04 AM
> >
> >
> >
> >
> > *وَلَوْ سَجَدَ على
رَأْس�ه� ولم
ي�م�سَّ شيئا من
جَبْهَت�ه�
الْأَرْضَ لم
> > يَجْز�ه�
السّ�ج�ود� وَإ�نْ
سَجَدَ على رَأْس�ه�
�َمَاسَّ شيئا من
جَبْهَت�ه�
> > الْأَرْضَ
أَجْزَأَه�
السّ�ج�ود� إنْ
شَاءَ اللَّه�
تَعَالَى*
> >
> > Imam Syafi'i bilang gini, â€"Apabila seseorang sujud dan dahinya sama
sekali
> > tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak cukup dianggap sah.
> > Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (*al-ardh*),
> > maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Ta’ala.�
(*Al-Umm*,
> > 1/114)
> >
> >
> > http://ejajufri. wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud-
> >
di-atas-tanah/<http://ejajufri..wordpress.com/2009/10/26/sudahkah-anda-sujud-di-\
atas-tanah/>
> >
> > Powered by: Dahulukan Islam di Atas Mazhab <http://ejajufri.wordpress.com>
> >
> > --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>*wrote:
> >
> >
> > From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> > Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> > To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> > Date: Monday, November 2, 2009, 7:05 AM
> >
> >
> >
> > Berikut terdapat di Bukhari-Muslim- Tirmidzi- Nasa;i
> >
> > ج�علت لي الأرض مسجدا
وطهورا
> > Tinggal diperjelas apakah الأرض  termasuk karpet, ubin,
pelepah pisang
> > dll...
> >
> > 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
> >
> >>
> >>
> >>   waktu itu mesjid rasul berlantaikan tanah yang keras. Saya belum pernah
> >> ketemu mesjid yang berlantaikan tanah. disekitar ka'bah apakah berlantaikan
> >> tanah atau ubin ?
> >>
> >> salam,
> >>
> >>
> >> --- On *Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>*wrote:
> >>
> >>
> >> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
> >> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >> Date: Monday, November 2, 2009, 1:10 PM
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> â€"Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang sujud di atas sorbannya,
maka
> >> beliau saw memberi isyarat dengan tangannya: 'Angkatlah sorbanmu dan
> >> memberi isyarat ke dahinya, sujudlah dengan dahimu.� (Sunnah Baihaqi
juz
> >> 2 hal. 105 , Ishabah juz 2 hal. 201)
> >>
> >>
> >> 2009/11/2 aris munawar <arismunawar@
yahoo.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=arismunawar@...>
> >> >
> >>
> >>>
> >>>     salam,
> >>>
> >>> Apakah sujud diatas karpet/sajadah bid'ah karena nabi tidak pernah
> >>> melakukannya ? saya kalo terpaksa sekali sujud diatas tangan sendiri,
> >>> bagaimana hukumnya. afwan
> >>>
> >>> wass,
> >>> aris
> >>>
> >>> --- On *Sun, 11/1/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@
gmail.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=abdulrahmanriza@...>
> >>> >* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@
gmail.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=abdulrahmanriza@...>
> >>> >
> >>> Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >>>
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups.
com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=islam_alternatif@yahoogroups.c\
om>
> >>> Date: Sunday, November 1, 2009, 6:37 PM
> >>>
> >>>
> >>>  Salam,
> >>>
> >>> Berikut riwayat dari shahih Bukharih setelah shalat tanah masih menempel
> >>> di dahi beliau SAWW berati Nabi SAWW sujud di atas tanah bukan karpet.
> >>>
> >>> *Volume 3, Book 33, Number 256: *
> >>>
> >>> Narrated Abu Said:
> >>> We practiced Itikaf with Allah's Apostle in the middle ten days (of
> >>> Ramadan). In the morning of the twentieth (of Ramadan) we shifted our
> >>> baggage, but Allah's Apostle came to us and said, "Whoever was m Itikaf
> >>> should return to his place of Itikaf, for I saw (i.e. was informed about
the
> >>> date of) this Night (of Qadr) and saw myself prostrating in mud and
water."
> >>> When I returned to my place the sky was overcast with clouds and it
rained.
> >>> By Him Who sent Muhammad with the Truth, the sky was covered with clouds
> >>> from the end of that day, and the mosque which was roofed with leaf-stalks
> >>> of date palm trees (leaked with rain) and I saw the trace of mud and water
> >>> over the nose of the Prophet and its tip.
> >>>
> >>>
> >>> Mengenai tanah dari Karbala karena adalah tempatnya syahidnya pemimpin
> >>> para Syuhada dan merupakan tanah yang lebih utama.
> >>>
> >>> Adapun point yang perlu diperhatikan adalah *"Sujud ila turbah"* berbeda
> >>> dengan *"Sujud 'ala turbah"*
> >>>
> >>> Riza
> >>>
> >>> 2009/11/1 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo.
> >>>
com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=whentheearthbecomingvenus@...>
> >>> >
> >>>
> >>>
> >>>>     salamun `alaikum,
> >>>>
> >>>> sekalian bahas 'syahadah ketiga' gimana klo temen2 juga bahas ttg
*sujud-di-atas-
> >>>> turbah-karbala. *
> >>>> **
> >>>> setau saya akar-akar dimulainya praktik sujud di atas tanah karbala itu
> >>>> berasal dari Imam `Ali al-Sajjad:
> >>>>
> >>>> After the martyrdom of Imam Husayn (a), his son *Imam Zayn al-'Abidin*(a)
picked some up, declared it to be sacred dust, and kept it in a bag. The
> >>>> Imams (a) *used to perform prostrations on it* and make a *tasbih* out
> >>>> of it, and recited Allah's praises on it.
> >>>>
> >>>> [Ibn Shahrashub, al-Manaqib,  vol. 2, p. 251]
> >>>>
> >>>  http://www.al- islam.org/ nutshell/
laws_practices/<http://www.al-islam.org/nutshell/laws_practices/>
> >>>
> >>> tapi yang jadi pertanyaan (titipan teman) saya adalah: karena *para Imam
> >>> Ma'shum melakukan sesuatu itu pasti ada contohnya dari Rasulullah Suci
> >>> (saww)*, apakah ada suatu riwayat yang berasal dari Rasulullah (saww)
> >>> yang menyatakan bahwa sujud di atas tanah karbala itu lebih utama/afdhal/
> >>> baik? Jika tidak ada: Apakah lebih memilih sujud di atas tanah Karbala itu
> >>> dapat dikatakan *ahdats/ bid`ah*?
> >>>
> >>>
> >>> Jazakumullah
> >>>
> >>> wassalam
> >>> dee
> >>>
> >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@
yahoo.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=moderatorium@...>
> >>> >* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@
yahoo.com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=moderatorium@...>
> >>> >
> >>> Subject: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
> >>>
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups.
com<http://us.mc1105.mail.yahoo.com/mc/compose?to=islam_alternatif@yahoogroups.c\
om>
> >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 5:10 PM
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang
> >>> tertulis.
> >>>
> >>>
> >>> --- On *Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>*wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
> >>> Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM
> >>>
> >>>
> >>>    Assalamualaikum wr wb
> >>>
> >>> Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member
> >>> Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
> >>>
> >>> Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi
> >>> pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih
> >>> dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam
> >>> Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
> >>>
> >>> Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa
> >>> menambah, menyangkal bahkan menolak.
> >>>
> >>> Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa
> >>> menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di
> >>> Download.
> >>>
> >>> Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu..
> >>>
> >>> Wassalam wr wb
> >>>
> >>> Moderator
> >>> MT
> >>>
> >>>
> >>> --- On *Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>* wrote:
> >>>
> >>>
> >>> From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
> >>> Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga
> >>> dalam Azan
> >>> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM
> >>>
> >>>
> >>>  Salam,
> >>>
> >>> Wah pakarnya turun gunung juga nih...
> >>>
> >>> Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...
> >>>
> >>> Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada
> >>> moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak
> >>> dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena
> >>> dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan
> >>> secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.
> >>>
> >>> Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua
> >>> pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah
> >>> saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut
> >>> bid'ah?
> >>>
> >>> Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit
> >>> penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada
> >>> permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama
> >>> penjelasan ringkas namun cukup lengkap dari Bib Anis.
> >>>
> >>> Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau
> >>> diatur langsung oleh moderator.
> >>>
> >>> Bagaimana?
> >>>
> >>> Wassalam
> >>>
> >>> Saleh Lapadi
> >>>
> >>>  ------------------------------
> >>> *From:* maulachela <maulachela@yahoo. com>
> >>> *To:* islam_alternatif@ yahoogroups. com
> >>> *Sent:* Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
> >>> *Subject:* [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga
> >>> dalam Azan
> >>>
> >>>
> >>> Salam,
> >>>
> >>> Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas
> >>> antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing,
> >>> mudah-mudahan tidak ngelantur.
> >>>
> >>> Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan
> >>> Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan.
> >>> Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah.
> >>> Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat
manusia
> >>> agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan
hal
> >>> seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il
> >>> al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].
> >>>
> >>> Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia
> >>> berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan
> >>> wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada
> >>> Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah". Kemudian
> >>> dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu
> >>> anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah
saw
> >>> semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru
> >>> merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana
> >>> golongan yang batil.
> >>>
> >>> Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah
> >>> dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan
oleh
> >>> Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar"
> >>> hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan
> >>> demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad
pengakuan
> >>> diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis
> >>> juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah
> >>> beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan
dalam
> >>> melakukannya tidak boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat:
> >>> Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan
Waizin
> >>> al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali
> >>> Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]
> >>>
> >>> Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT
> >>> telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya
> >>> dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah
sebagai
> >>> berikut:
> >>>
> >>> 1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain
> >>> Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan
melalui
> >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat
> >>> Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62;
> >>> dan lain-lain]
> >>>
> >>> 2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait
> >>> al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain Allah,
> >>> Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya
yakni
> >>> Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah
> >>> al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]
> >>>
> >>> 3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya
> >>> dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww
> >>> bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang
Maha
> >>> Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang
Aku
> >>> perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful
> >>> Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]
> >>>
> >>> Wallahu A'lam.
> >>>
> >>> Wassalam,
> >>> Muh. Anis
> >>>
> >>> --- In islam_alternatif@ yahoogroups.
com<http://us.mc396.mail.yahoo.com/mc/compose?to=islam_alternatif%40yahoogroups.\
com>,
> >>> saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
> >>> >
> >>> > Salam,
> >>> >
> >>> > Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku saya buku saku dan tipis
> >>> yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih
> >>> syahadah ketiga itu?
> >>> >
> >>> > Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu
> >>> Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
> >>> >
> >>> > Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita
> >>> sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang
> >>> ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah
> >>> diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
> >>> >
> >>> > Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas
> >>> menjadi jelas.
> >>> >
> >>> > Wassalam
> >>> >
> >>> > Saleh Lapadi
> >>> >
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >
> >
> >
> >
>

#11160 From: Deddy Prihambudi <puripagesangan@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 10:35 am
Subject: Re: [islamalternatif] Menegakkan Hukum atau Keadilan?
puripagesangan
Offline Offline
Send Email Send Email
 
wah, bisa panjang diskusinya nanti. sekedar catatan, mahasiswa FH se Indonesia hampir tidak pernah memperoleh mata kuliah Filsafat Hukum, di mana teori teori Keadilan diajarkan di dalamnya.

baru menginjak Strata 2, mereka akan mendalami 'dengan lebih baik'.

silakan para ahli Islam mengungkapn teori teori keadilan dan hukum di ruang ini.

--- On Mon, 9/11/09, Ibnu Ardhi <ibnu_ardhi@...> wrote:

From: Ibnu Ardhi <ibnu_ardhi@...>
Subject: [islamalternatif] Menegakkan Hukum atau Keadilan?
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Monday, 9 November, 2009, 11:51 AM

 

Salam,

Manakah yang lebih utama, Menegakkan Hukum ataukah Menegakkan Keadilan? 

Mungkin pertanyaan ini salah atau tidak tepat, namun hal ini berangkat dari keprihatinan atas kasus kriminalisasi KPK dimana kepolisian sebagai Penegak Hukum tidak bisa berbuat banyak terhadap tokoh utamanya, Anggodo dengan alasan "demi hukum" walaupun pada saat yang sama hal ini menciderai rasa keadilan rakyat/masyarakat.

Mohon pencerahan dari para pakar di milis kita tercinta ini.

Wassalam
Ibnu Ardhi


New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

#11159 From: Deddy Prihambudi <puripagesangan@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 10:33 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
puripagesangan
Offline Offline
Send Email Send Email
 
SEKEDAR INFO. DI SIDOARJO, ADA UMMAT AHLUSSUNNAH WAL JAMA;AH YANG MERASA AFDHAL, SUJUD DI ATAS TANAH. MAKA, MASJID YANG MEREKA BIKIN, SAMA SEKALI TANPA UBIN, LANGSUNG MENYATU DENGAN TANAH. SELAINNYA, MEREKA TETAP MELAKUKAN SHALAT SEBAGAIMANA DIAJARKAN OLEH MADZHAB SYAFII.

UNIKNYA LAGI, AKSI MEREKA DIDIAMKAN AJA OLEH JUMHUR ULAMA DI JAWA TIMUR. PADAHAL, INI MASUK POTENSI ANCAMAN "DISESATKAN' OLEH PIHAK LAIN.

DASAR `ARGUMENTASI MEREKA JUGA BISA DIKEMBALIKAN KEPADA KITAB KITAB FIQH KHAS ASWAJA.

AFWAN SALAM DARI JATIM. 

--- On Mon, 9/11/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Monday, 9 November, 2009, 1:40 PM

 

Rasulullah SAWW juga tidak pernah email2an..

2009/11/9 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo. com>
 

Salam,

Sujud di atas tanah itu memang dicontohkan oleh Rasulullah (saw) bahkan bisa dilacak ke berbagai sumber dari pihak Ahlussunnah. Saya juga pernah membaca dalam buku "Sifat Shalat Nabi" Nasr Al-Din Al-Albani, bahwa Rasulullah itu lebih sering bersujud di atas tanah daripada di atas khumrah atau hasir.

Cuman yang kemudian dipermasalahkan oleh teman saya adalah:

Dengan asumsi bahwa Para Imam (as) itu adalah generasi salaf yang shalih di mana semua ucapan, perbuatan, dan taqrir Aimmah Ma`shumin (as) mengenai Islam itu didasarkan kepada ucapan, perbuatan, dan taqrir dari Rasulullah (saw). Maka--menurut teman saya: aneh bila ada riwayat di mana Imam Al-Sajjad melakukan sesuatu (sujud) yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah (saw) yaitu `ala turbati Al-Husayn. Bukankah perbuatan Imam itu tidak pernah menyalahi perbuatan Rasulullah (saw)?

Dari asumsi tersebut kemudian teman saya itu menganggap bahwa perbuatan sujud `ala turbati al-Husayn itu sebagai bid`ah (termasuk saya sendiri yang sujud `ala turbatil Al-Husayn adalah pembid`ah :( )

wa salam.

DD



--- On Tue, 11/3/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com> wrote:

From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@yahoo. com>

Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, November 3, 2009, 12:04 AM


 

وَلَوْ سَجَدَ على رَأْسِهِ ولم يُمِسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ لم يَجْزِهِ السُّجُودُ وَإِنْ سَجَدَ على رَأْسِهِ فَمَاسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ أَجْزَأَهُ السُّجُودُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

Imam Syafi'i bilang gini, “Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak cukup dianggap sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (al-ardh), maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Ta’ala.” (Al-Umm, 1/114)


http://ejajufri. wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud- di-atas-tanah/

Powered by: Dahulukan Islam di Atas Mazhab

--- On Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 2, 2009, 7:05 AM

 

Berikut terdapat di Bukhari-Muslim- Tirmidzi- Nasa;i

جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا

Tinggal diperjelas apakah الأرض  termasuk karpet, ubin, pelepah pisang dll...

2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
 

waktu itu mesjid rasul berlantaikan tanah yang keras. Saya belum pernah ketemu mesjid yang berlantaikan tanah. disekitar ka'bah apakah berlantaikan tanah atau ubin ?
 
salam,


--- On Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 2, 2009, 1:10 PM


 

“Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang sujud di atas sorbannya, maka beliau saw memberi isyarat dengan tangannya: 'Angkatlah sorbanmu dan memberi isyarat ke dahinya, sujudlah dengan dahimu.” (Sunnah Baihaqi juz 2 hal. 105 , Ishabah juz 2 hal. 201)



2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
 
salam,
 
Apakah sujud diatas karpet/sajadah bid'ah karena nabi tidak pernah melakukannya ? saya kalo terpaksa sekali sujud diatas tangan sendiri, bagaimana hukumnya. afwan
 
wass,
aris

--- On Sun, 11/1/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah Date: Sunday, November 1, 2009, 6:37 PM

 
Salam,

Berikut riwayat dari shahih Bukharih setelah shalat tanah masih menempel di dahi beliau SAWW berati Nabi SAWW sujud di atas tanah bukan karpet.

Volume 3, Book 33, Number 256:
Narrated Abu Said:
We practiced Itikaf with Allah's Apostle in the middle ten days (of Ramadan). In the morning of the twentieth (of Ramadan) we shifted our baggage, but Allah's Apostle came to us and said, "Whoever was m Itikaf should return to his place of Itikaf, for I saw (i.e. was informed about the date of) this Night (of Qadr) and saw myself prostrating in mud and water." When I returned to my place the sky was overcast with clouds and it rained. By Him Who sent Muhammad with the Truth, the sky was covered with clouds from the end of that day, and the mosque which was roofed with leaf-stalks of date palm trees (leaked with rain) and I saw the trace of mud and water over the nose of the Prophet and its tip.

Mengenai tanah dari Karbala karena adalah tempatnya syahidnya pemimpin para Syuhada dan merupakan tanah yang lebih utama.

Adapun point yang perlu diperhatikan adalah "Sujud ila turbah" berbeda dengan "Sujud 'ala turbah"

Riza

2009/11/1 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo. com>

 
salamun `alaikum,
 
sekalian bahas 'syahadah ketiga' gimana klo temen2 juga bahas ttg sujud-di-atas- turbah-karbala.
 
setau saya akar-akar dimulainya praktik sujud di atas tanah karbala itu berasal dari Imam `Ali al-Sajjad:
 
After the martyrdom of Imam Husayn (a), his son Imam Zayn al-'Abidin (a) picked some up, declared it to be sacred dust, and kept it in a bag. The Imams (a) used to perform prostrations on it and make a tasbih out of it, and recited Allah's praises on it.

[Ibn Shahrashub, al-Manaqib,  vol. 2, p. 251]

 
tapi yang jadi pertanyaan (titipan teman) saya adalah: karena para Imam Ma'shum melakukan sesuatu itu pasti ada contohnya dari Rasulullah Suci (saww), apakah ada suatu riwayat yang berasal dari Rasulullah (saww) yang menyatakan bahwa sujud di atas tanah karbala itu lebih utama/afdhal/ baik? Jika tidak ada: Apakah lebih memilih sujud di atas tanah Karbala itu dapat dikatakan ahdats/ bid`ah?
 
 
Jazakumullah
 
wassalam
dee

--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:

From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
Subject: [islamalternatif] Definisi Bid'ah Date: Wednesday, October 28, 2009, 5:10 PM


 

Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
 

--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:

From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM

 
Assalamualaikum wr wb
 
Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
 
Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
 
Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
 
Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
 
Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu..
 
Wassalam wr wb
 
Moderator
MT
 
 
--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:

From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM

 
Salam,

Wah pakarnya turun gunung juga nih...

Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...

Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.

Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?

Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun cukup lengkap dari Bib Anis.

Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.

Bagaimana?

Wassalam

Saleh Lapadi


From: maulachela <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan

 
Salam,

Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.

Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].

Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.

Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]

Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:

1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]

2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]

3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]

Wallahu A'lam.

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
>
> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
>
> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
>
> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>















Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.

#11158 From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 6:40 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
abdulrahmanriza@...
Send Email Send Email
 
Rasulullah SAWW juga tidak pernah email2an..

2009/11/9 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomingvenus@...>
 

Salam,

Sujud di atas tanah itu memang dicontohkan oleh Rasulullah (saw) bahkan bisa dilacak ke berbagai sumber dari pihak Ahlussunnah. Saya juga pernah membaca dalam buku "Sifat Shalat Nabi" Nasr Al-Din Al-Albani, bahwa Rasulullah itu lebih sering bersujud di atas tanah daripada di atas khumrah atau hasir.

Cuman yang kemudian dipermasalahkan oleh teman saya adalah:

Dengan asumsi bahwa Para Imam (as) itu adalah generasi salaf yang shalih di mana semua ucapan, perbuatan, dan taqrir Aimmah Ma`shumin (as) mengenai Islam itu didasarkan kepada ucapan, perbuatan, dan taqrir dari Rasulullah (saw). Maka--menurut teman saya: aneh bila ada riwayat di mana Imam Al-Sajjad melakukan sesuatu (sujud) yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah (saw) yaitu `ala turbati Al-Husayn. Bukankah perbuatan Imam itu tidak pernah menyalahi perbuatan Rasulullah (saw)?

Dari asumsi tersebut kemudian teman saya itu menganggap bahwa perbuatan sujud `ala turbati al-Husayn itu sebagai bid`ah (termasuk saya sendiri yang sujud `ala turbatil Al-Husayn adalah pembid`ah :( )

wa salam.

DD



--- On Tue, 11/3/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@...> wrote:

From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>

Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Tuesday, November 3, 2009, 12:04 AM


 

وَلَوْ سَجَدَ على رَأْسِهِ ولم يُمِسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ لم يَجْزِهِ السُّجُودُ وَإِنْ سَجَدَ على رَأْسِهِ فَمَاسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ أَجْزَأَهُ السُّجُودُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

Imam Syafi'i bilang gini, “Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak cukup dianggap sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (al-ardh), maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Ta’ala.” (Al-Umm, 1/114)


http://ejajufri. wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud- di-atas-tanah/

Powered by: Dahulukan Islam di Atas Mazhab

--- On Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 2, 2009, 7:05 AM

 

Berikut terdapat di Bukhari-Muslim- Tirmidzi- Nasa;i

جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا

Tinggal diperjelas apakah الأرض  termasuk karpet, ubin, pelepah pisang dll...

2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
 

waktu itu mesjid rasul berlantaikan tanah yang keras. Saya belum pernah ketemu mesjid yang berlantaikan tanah. disekitar ka'bah apakah berlantaikan tanah atau ubin ?
 
salam,


--- On Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 2, 2009, 1:10 PM


 

“Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang sujud di atas sorbannya, maka beliau saw memberi isyarat dengan tangannya: 'Angkatlah sorbanmu dan memberi isyarat ke dahinya, sujudlah dengan dahimu.” (Sunnah Baihaqi juz 2 hal. 105 , Ishabah juz 2 hal. 201)



2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
 
salam,
 
Apakah sujud diatas karpet/sajadah bid'ah karena nabi tidak pernah melakukannya ? saya kalo terpaksa sekali sujud diatas tangan sendiri, bagaimana hukumnya. afwan
 
wass,
aris

--- On Sun, 11/1/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah Date: Sunday, November 1, 2009, 6:37 PM

 
Salam,

Berikut riwayat dari shahih Bukharih setelah shalat tanah masih menempel di dahi beliau SAWW berati Nabi SAWW sujud di atas tanah bukan karpet.

Volume 3, Book 33, Number 256:
Narrated Abu Said:
We practiced Itikaf with Allah's Apostle in the middle ten days (of Ramadan). In the morning of the twentieth (of Ramadan) we shifted our baggage, but Allah's Apostle came to us and said, "Whoever was m Itikaf should return to his place of Itikaf, for I saw (i.e. was informed about the date of) this Night (of Qadr) and saw myself prostrating in mud and water." When I returned to my place the sky was overcast with clouds and it rained. By Him Who sent Muhammad with the Truth, the sky was covered with clouds from the end of that day, and the mosque which was roofed with leaf-stalks of date palm trees (leaked with rain) and I saw the trace of mud and water over the nose of the Prophet and its tip.

Mengenai tanah dari Karbala karena adalah tempatnya syahidnya pemimpin para Syuhada dan merupakan tanah yang lebih utama.

Adapun point yang perlu diperhatikan adalah "Sujud ila turbah" berbeda dengan "Sujud 'ala turbah"

Riza

2009/11/1 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo. com>

 
salamun `alaikum,
 
sekalian bahas 'syahadah ketiga' gimana klo temen2 juga bahas ttg sujud-di-atas- turbah-karbala.
 
setau saya akar-akar dimulainya praktik sujud di atas tanah karbala itu berasal dari Imam `Ali al-Sajjad:
 
After the martyrdom of Imam Husayn (a), his son Imam Zayn al-'Abidin (a) picked some up, declared it to be sacred dust, and kept it in a bag. The Imams (a) used to perform prostrations on it and make a tasbih out of it, and recited Allah's praises on it.

[Ibn Shahrashub, al-Manaqib,  vol. 2, p. 251]

 
tapi yang jadi pertanyaan (titipan teman) saya adalah: karena para Imam Ma'shum melakukan sesuatu itu pasti ada contohnya dari Rasulullah Suci (saww), apakah ada suatu riwayat yang berasal dari Rasulullah (saww) yang menyatakan bahwa sujud di atas tanah karbala itu lebih utama/afdhal/ baik? Jika tidak ada: Apakah lebih memilih sujud di atas tanah Karbala itu dapat dikatakan ahdats/ bid`ah?
 
 
Jazakumullah
 
wassalam
dee

--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:

From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
Subject: [islamalternatif] Definisi Bid'ah Date: Wednesday, October 28, 2009, 5:10 PM


 

Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
 

--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:

From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM

 
Assalamualaikum wr wb
 
Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
 
Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
 
Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
 
Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
 
Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu..
 
Wassalam wr wb
 
Moderator
MT
 
 
--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:

From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM

 
Salam,

Wah pakarnya turun gunung juga nih...

Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...

Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.

Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?

Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun cukup lengkap dari Bib Anis.

Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.

Bagaimana?

Wassalam

Saleh Lapadi


From: maulachela <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan

 
Salam,

Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.

Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].

Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.

Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]

Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:

1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]

2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]

3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]

Wallahu A'lam.

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
>
> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
>
> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
>
> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>














#11157 From: ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomingvenus@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 5:59 am
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
whentheearth...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Salam,

Sujud di atas tanah itu memang dicontohkan oleh Rasulullah (saw) bahkan bisa dilacak ke berbagai sumber dari pihak Ahlussunnah. Saya juga pernah membaca dalam buku "Sifat Shalat Nabi" Nasr Al-Din Al-Albani, bahwa Rasulullah itu lebih sering bersujud di atas tanah daripada di atas khumrah atau hasir.

Cuman yang kemudian dipermasalahkan oleh teman saya adalah:

Dengan asumsi bahwa Para Imam (as) itu adalah generasi salaf yang shalih di mana semua ucapan, perbuatan, dan taqrir Aimmah Ma`shumin (as) mengenai Islam itu didasarkan kepada ucapan, perbuatan, dan taqrir dari Rasulullah (saw). Maka--menurut teman saya: aneh bila ada riwayat di mana Imam Al-Sajjad melakukan sesuatu (sujud) yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah (saw) yaitu `ala turbati Al-Husayn. Bukankah perbuatan Imam itu tidak pernah menyalahi perbuatan Rasulullah (saw)?

Dari asumsi tersebut kemudian teman saya itu menganggap bahwa perbuatan sujud `ala turbati al-Husayn itu sebagai bid`ah (termasuk saya sendiri yang sujud `ala turbatil Al-Husayn adalah pembid`ah :( )

wa salam.

DD



--- On Tue, 11/3/09, Ali Reza Aljufri <ejajufri@...> wrote:

From: Ali Reza Aljufri <ejajufri@...>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Tuesday, November 3, 2009, 12:04 AM

 

وَلَوْ سَجَدَ على رَأْسِهِ ولم يُمِسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ لم يَجْزِهِ السُّجُودُ وَإِنْ سَجَدَ على رَأْسِهِ فَمَاسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ أَجْزَأَهُ السُّجُودُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

Imam Syafi'i bilang gini, “Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak cukup dianggap sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (al-ardh), maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Ta’ala.” (Al-Umm, 1/114)


http://ejajufri. wordpress. com/2009/ 10/26/sudahkah- anda-sujud- di-atas-tanah/

Powered by: Dahulukan Islam di Atas Mazhab

--- On Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 2, 2009, 7:05 AM

 

Berikut terdapat di Bukhari-Muslim- Tirmidzi- Nasa;i

جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا

Tinggal diperjelas apakah الأرض  termasuk karpet, ubin, pelepah pisang dll...

2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
 

waktu itu mesjid rasul berlantaikan tanah yang keras. Saya belum pernah ketemu mesjid yang berlantaikan tanah. disekitar ka'bah apakah berlantaikan tanah atau ubin ?
 
salam,


--- On Mon, 11/2/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, November 2, 2009, 1:10 PM


 

“Bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang sujud di atas sorbannya, maka beliau saw memberi isyarat dengan tangannya: 'Angkatlah sorbanmu dan memberi isyarat ke dahinya, sujudlah dengan dahimu.” (Sunnah Baihaqi juz 2 hal. 105 , Ishabah juz 2 hal. 201)



2009/11/2 aris munawar <arismunawar@ yahoo.com>
 
salam,
 
Apakah sujud diatas karpet/sajadah bid'ah karena nabi tidak pernah melakukannya ? saya kalo terpaksa sekali sujud diatas tangan sendiri, bagaimana hukumnya. afwan
 
wass,
aris

--- On Sun, 11/1/09, Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com> wrote:

From: Abdul Rahman Riza <abdulrahmanriza@ gmail.com>
Subject: Re: [islamalternatif] Definisi Bid'ah Date: Sunday, November 1, 2009, 6:37 PM

 
Salam,

Berikut riwayat dari shahih Bukharih setelah shalat tanah masih menempel di dahi beliau SAWW berati Nabi SAWW sujud di atas tanah bukan karpet.

Volume 3, Book 33, Number 256:
Narrated Abu Said:
We practiced Itikaf with Allah's Apostle in the middle ten days (of Ramadan). In the morning of the twentieth (of Ramadan) we shifted our baggage, but Allah's Apostle came to us and said, "Whoever was m Itikaf should return to his place of Itikaf, for I saw (i.e. was informed about the date of) this Night (of Qadr) and saw myself prostrating in mud and water." When I returned to my place the sky was overcast with clouds and it rained. By Him Who sent Muhammad with the Truth, the sky was covered with clouds from the end of that day, and the mosque which was roofed with leaf-stalks of date palm trees (leaked with rain) and I saw the trace of mud and water over the nose of the Prophet and its tip.

Mengenai tanah dari Karbala karena adalah tempatnya syahidnya pemimpin para Syuhada dan merupakan tanah yang lebih utama.

Adapun point yang perlu diperhatikan adalah "Sujud ila turbah" berbeda dengan "Sujud 'ala turbah"

Riza

2009/11/1 ketika bumi menjadi venus <whentheearthbecomin gvenus@yahoo. com>

 
salamun `alaikum,
 
sekalian bahas 'syahadah ketiga' gimana klo temen2 juga bahas ttg sujud-di-atas- turbah-karbala.
 
setau saya akar-akar dimulainya praktik sujud di atas tanah karbala itu berasal dari Imam `Ali al-Sajjad:
 
After the martyrdom of Imam Husayn (a), his son Imam Zayn al-'Abidin (a) picked some up, declared it to be sacred dust, and kept it in a bag. The Imams (a) used to perform prostrations on it and make a tasbih out of it, and recited Allah's praises on it.

[Ibn Shahrashub, al-Manaqib,  vol. 2, p. 251]

 
tapi yang jadi pertanyaan (titipan teman) saya adalah: karena para Imam Ma'shum melakukan sesuatu itu pasti ada contohnya dari Rasulullah Suci (saww), apakah ada suatu riwayat yang berasal dari Rasulullah (saww) yang menyatakan bahwa sujud di atas tanah karbala itu lebih utama/afdhal/ baik? Jika tidak ada: Apakah lebih memilih sujud di atas tanah Karbala itu dapat dikatakan ahdats/ bid`ah?
 
 
Jazakumullah
 
wassalam
dee

--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:

From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
Subject: [islamalternatif] Definisi Bid'ah Date: Wednesday, October 28, 2009, 5:10 PM


 

Maaf salah ketik. seharusnya Definisi bukan Devinisi sebagaimana yang tertulis.
 

--- On Wed, 10/28/09, ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com> wrote:

From: ISLAM ALTERNATIF <moderatorium@ yahoo.com>
Subject: [islamalternatif] Devinisi Bid'ah
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:08 AM

 
Assalamualaikum wr wb
 
Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak kepada seluruh member Islat yang sampai sekarang masih aktif di ruang diskusi islamalternatif.
 
Menanggapi usulan saudara Saleh Lapadi, saya berusaha untuk membagi pembahasan dalam dua tema supaya tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan tema lain. Oleh karena itu pembahasan tentang Syahadah Ketiga dalam Azan akan kita bahas setelah menyepakati pembahasan awal yaitu Bid'ah.
 
Dan alhamdulillah Sayid Anis sudah memulai dan semoga yang lain bisa menambah, menyangkal bahkan menolak.
 
Kami berharap pembahasan ini bisa tuntas sehingga tim kami bisa menyeleksi pembahasan ini dan akan kita bikinkan Ebook yang bisa di Download.
 
Oleh karena itu semoga pembahasan ini bisa sampai pada titik temu..
 
Wassalam wr wb
 
Moderator
MT
 
 
--- On Tue, 10/27/09, saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote:

From: saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com>i
Subject: Re: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, October 27, 2009, 6:37 AM

 
Salam,

Wah pakarnya turun gunung juga nih...

Apa kabar Bib Anis, semoga Antum dalam keadaan sehat walafiat...

Tampaknya diskusinya mulai menarik, namun kalau boleh saya usulkan kepada moderator agar kita bahas sebentar mengenai apakah ini bid'ah atau tidak dengan mendefinisikan lebih dahulu bid'ah. Hal ini saya rasa perlu, karena dari postingan yang sudah ada tampaknya sudah masuk dalam pembahasan dan secara tersirat menerima masalah ini tidak termasuk bid'ah.

Oleh karena Khairun Arief menilai hal ini adalah bid'ah, berarti ada dua pandangan berbeda sejak awal, apakah ini bid'ah atau tidak. Mungkinkah saudara khairun Arief mau memberikan alasannya mengapa hal ini disebut bid'ah?

Kalau ternyata tidak ada komentar tentang masalah ini, dengan sedikit penjelasan dari teman-teman mengenai bid'ah, setelah itu kita kembali pada permasalahan sebagaimana telah dipostingkan oleh tiga rekan, terutama penjelasan ringkas namun cukup lengkap dari Bib Anis.

Tentu saja dengan minta persetujuan moderator dan akan lebih baik kalau diatur langsung oleh moderator.

Bagaimana?

Wassalam

Saleh Lapadi


From: maulachela <maulachela@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tue, October 27, 2009 4:43:14 PM
Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan

 
Salam,

Keif halukum ustad Saleh? Sudah lama tulisan-tulisan dan tanggapan bernas antum tidak muncul di milis ini. Kalau boleh, ana mau ikutan sharing, mudah-mudahan tidak ngelantur.

Penambahan lafad "Asyhadu Anna `Aliyyan Waliyullah, Asyhadu Anna `Aliyyan Hujjatullah" pada azan dan iqamah sama sekali bukan hal yang disyariatkan. Dengan kata lain, kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan dan iqamah. Ini hanyalah sekadar pengakuan diri dan sekaligus syiar kepada umat manusia agar berwilayah kepada para Imam Ahlul Bait as sepeninggal Nabi saw. Dan hal seperti ini diperbolehkan oleh Aimmah as [Lihat: al-Amili, "Wasa'il al-Syi'ah", jil. 5, bab "Adzan dan Iqamah", hal. 428].

Memang, kalau kita amati urutan lafad azan, maka kita dapati bahwa dia berisi seruan akan pokok-pokok agama (ushuluddin) yang berkenaan dengan wilayah. Diawali dengan pengakuan tauhid dan ketundukan (wilayah) kepada Allah SWT, pada kalimat "Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah". Kemudian dilanjutkan pengakuan wilayah kepada Rasulullah saw, pada kalimat "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah". Karena itu, isu kepemimpinan pasca Rasulullah saw semestinyalah juga disampaikan, karena wilayah pasca Rasul saw justru merupakan isu penting yang menentukan mana golongan yang benar dan mana golongan yang batil.

Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan subjek dan simbol penegakan wilayah dan imamah sepeninggal Rasul saw, yang mana hal ini telah disyariatkan oleh Rasul saw sendiri sejak awal dakwah Islam, pada peristiwa "Yaum al-Dar" hingga menjelang kewafatan beliau saw pada peristiwa "Ghadir Khum". Dengan demikian, sangat wajar bila dalam azan dan iqamah disertakan lafad pengakuan diri dan syiar wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as, yang secara otomatis juga meniscayakan pengakuan wilayah pada para Imam Ahlul Bait as setelah beliau as. Namun, sekali lagi ini bukan sesuatu yang disyariatkan, dan dalam melakukannya tidak boleh disertai niat bahwa hal itu disyariatkan. [Lihat: Syaikh Lutfullah Gulpaygani, "Understanding of The Religion"; Sultan Waizin al-Syirazi, "Peshawar Nights", bab "Sesi Kesembilan, bagian 8"; Sayyid Ali Khamenei, "Ajwibat al-Istifta'at" , bab "Shalat"; dan lain-lain]

Ditambah lagi dengan banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah menuliskan wilayah Ali bin Abi Thalib as di `Arsy, setelah nama-Nya dan nama Rasulullah saw. Di antaranya, dari jalur ahlusunnah, adalah sebagai berikut:

1. Rasul saww bersabda, "Telah tertulis di Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku beri pertolongan melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Suyuthi, "Durr al-Mantsur", pada awal Surat Bani Israil; Muhammad bin Yusuf asy-Syafi'i, "Kifayah al-Thalib", bab 62; dan lain-lain]

2. Rasul saww bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku sampai di Bait al-Muqaddas, aku melihat batu yang bertuliskan: 'Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah yang Aku beri pertolongan melalui wazir-nya yakni Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Mir Sayid Ali Faqih asy-Syafi'i, "Mawaddah al-Qurba", bab "Mawaddah VIII"]

3. Ketika turun ayat: 'Dialah Yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan (pertolongan) kaum mukminin.' (Q.S. al-Anfal: 62), Rasul saww bersabda, "Aku melihat tulisan di `Arsy: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang Aku perkuat melalui Ali bin Abi Thalib.'" [Lihat: Tsa'labi, Tafsir "Kasyful Bayan"; Tafsir ath-Thabari; dan lain-lain]

Wallahu A'lam.

Wassalam,
Muh. Anis

--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, saleh lapadi <saleh_lapadi@ ...> wrote:
>
> Salam,
>
> Semalam iseng-iseng saya melihat di rak buku saya buku saku dan tipis yang membicarakan tentang masalah syahadah ketiga dalam azan. Apa sih syahadah ketiga itu?
>
> Bila dalam azan setelah membaca Ayhadu Alla Ilaaha Illallah dan Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dibaca juga Asyahdu Anna Aliyan Waliyullah.
>
> Tentu saja banyak pandang mengenai hal ini, mungkin lebih baik kita sharing bersama dan saya akan memandu sambil menukil sedikit dari apa yang ditulis dalam buku tersebut. Di Madrasah Imam Khomeini Qom juga pernah diseminarkan tentang masalah ini, sayangnya tidak ada waktu mengikutinya.
>
> Dengan sharing tema ini mungkin ada hal-hal yang selama ini tidak jelas menjadi jelas.
>
> Wassalam
>
> Saleh Lapadi
>













#11156 From: Ibnu Ardhi <ibnu_ardhi@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 4:51 am
Subject: Menegakkan Hukum atau Keadilan?
ibnu_ardhi
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Salam,

Manakah yang lebih utama, Menegakkan Hukum ataukah Menegakkan Keadilan?

Mungkin pertanyaan ini salah atau tidak tepat, namun hal ini berangkat dari keprihatinan atas kasus kriminalisasi KPK dimana kepolisian sebagai Penegak Hukum tidak bisa berbuat banyak terhadap tokoh utamanya, Anggodo dengan alasan "demi hukum" walaupun pada saat yang sama hal ini menciderai rasa keadilan rakyat/masyarakat.

Mohon pencerahan dari para pakar di milis kita tercinta ini.

Wassalam
Ibnu Ardhi


New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

#11155 From: Ibnu Ardhi <ibnu_ardhi@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 4:27 am
Subject: Ganyang Mafia Ganyang Kemunafikan
ibnu_ardhi
Offline Offline
Send Email Send Email
 

Ganyang Mafia Ganyang Kemunafikan
Senin, 09 November 2009 00:01 WIB 20, Media Indonesia

Di tengah suasana batin publik yang sedang tercabik-cabik oleh sepak terjang Anggodo Widjojo yang amat perkasa mengatur kepolisian dan kejaksaan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan program kerja seratus hari Kabinet Indonesia Bersatu II.

Program penting itu menjadi tidak penting di mata publik yang sedang terperangah oleh kedahsyatan sepak terjang mafia peradilan yang diperankan seorang Anggodo. Padahal, salah satu target kerja 100 hari kabinet SBY adalah Ganyang Mafia. Ironis!!!

Sungguh ironis memang. Program Ganyang Mafia dilancarkan pada saat dua lembaga penegak hukum kepolisian dan kejaksaan digerayangi dengan amat leluasa oleh para mafia.
Bahkan tidak cuma digerayang. Seorang bernama Anggodo kini diberi gelar baru 'Super-Anggodo' oleh Effendi Ghazali, ahli komunikasi politik, ketika berorasi di Bundaran HI, kemarin, dalam pawai besar antikorupsi.

Mengapa Anggodo demikian super? Karena tidak ada kekuasaan di negeri ini yang mampu menjeratnya. Padahal, dia sampai detik ini di tangan dan dilindungi polisi. Ganyang Mafia, dengan demikian, tidak semata akselerasi perang terhadap korupsi, tetapi lebih dari itu, adalah pengakuan bahwa kita sesungguhnya kalah dalam perang melawan para bandit dan mafia korupsi itu sendiri. Anggodo adalah bukti yang amat telanjang.

Mengapa kalah? Kita mengakui dijajah mafia korupsi, tetapi pikiran dan konstruksi penegak hukum terpaku pada konstruksi prosedural. Adalah kekonyolan luar biasa bila seorang mafia mau meninggalkan bukti. Kalau bukti tercecer di mana-mana, bukan mafia namanya.
Adalah tugas mafia untuk bekerja rapi. Tugas mereka adalah berbohong. Tugas polisi adalah membongkar kebohongan.

Kita gagal memberantas korupsi karena--seperti yang sangat telanjang dipertontonkan dalam kasus Anggodo--aparat penegak hukum bersahabat dengan mafia. Mereka, para penegak hukum itu, dibiayai negara, tetapi mengabdi pada mafia.

Mafia, dengan demikian, bisa diberantas hanya bila ada keberanian untuk menggunakan kekerasan hukum yang dikomandoi nurani dan akal budi. Tidak dikerdilkan oleh rezim bukti dan prosedur.

---------------

Tidak berlebihan bila dikatakan inilah Ironi Republik Cukong. Apakah kasus bank Century akan juga digagahi oleh binatang ironi alias kemunafikan ini?

wass
Ibnu Ardhi


New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

#11154 From: Deddy Prihambudi <puripagesangan@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 3:44 am
Subject: RE: [islamalternatif] Kasus Century Lebih Mengerikan
puripagesangan
Offline Offline
Send Email Send Email
 
hari ini, akan ada briefing khusus dari para pakar kepada "kami" tentang kasus tersebut. pokoknya, pengalihan dana deposito menjadi jaminan bank, jelas menyalahi Peraturan BI. nah, anehnya, PBI ini diubah, sehari, menjelang bail out Bank tsb. perhatikan pula, siapa nasabah terbesar dari Bank tsb.

khusus kepada para Basijan Imam Ali AS, yang membaca email sederhana ini , ana mau tanya : dimana kalian, wahai ikhwan ? Negeri kita, yang adalah juga Wakaf Imam Mahdi AF, sudah dirampok Imperialis, dan dikangkangi para Mafioso.

Dimana kalian ? dimana kita ?
 

--- On Mon, 9/11/09, a_ghofy@... <a_ghofy@...> wrote:

From: a_ghofy@... <a_ghofy@...>
Subject: RE: [islamalternatif] Kasus Century Lebih Mengerikan
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Monday, 9 November, 2009, 10:44 AM

 

Little correction, 6.7 Triliun. Sementara hanya punya uang 2 Triliun.
Kemarin Boediono diberitakan sepakat dengan BLBI ke century, karena kondisi bank itu sekarang sedang bagus, dan kalau dijual nilainya bisa lebih dari BLBI, dan kedepan rencana mau dijual...
Hayooo, siapa yang mau mengurai benang ini?


From: islam_alternatif@ yahoogroups. com [mailto:islam_ alternatif@ yahoogroups. com] On Behalf Of Deddy Prihambudi
Sent: Monday, November 09, 2009 10:22 AM
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Subject: Re: [islamalternatif] Kasus Century Lebih Mengerikan

 

6.7 milyard. baunya sudah dimana mana. tampaknya Cikeas akan kena imbas juga.

--- On Mon, 9/11/09, Ibnu Ardhi <ibnu_ardhi@yahoo. com> wrote:

From: Ibnu Ardhi <ibnu_ardhi@yahoo. com>
Subject: [islamalternatif] Kasus Century Lebih Mengerikan
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, 9 November, 2009, 8:15 AM

 


09/11/2009 - 07:32

Kasus Century Lebih Mengerikan
Dukungan Bibit-Chandra Gembos

INILAH.COM, Jakarta - Beberapa kelompok aktivis pro reformasi mulai menggeser agenda. Mereka tidak lagi mendorong dukungan pada Bibit-Chandra. Tapi, mendesak agar kasus Century segera diungkap.

Rencananya, hari ini, Senin (9/11) sekitar pukul 10.00, para aktivis pro reformasi akan mendatangi KPK. Mereka mendesak agar lembaga itu untuk segera mengungkap kasus Century.

Persoalan Bibit-Chandra, dianggap sudah masuk ke ranah hukum. Yang diperlukan adalah agar kasus Bibit-Chandra segera dibawa ke pengadilan. Di situ bisa dibuktikan tentang kebenaran klaim-klaim yang selama ini menjadi titik perseteruan antara KPK-Polri.

Ditambah lagi, saat ini ada Tim 8 yang sudah melakukan berbagai verifikasi terhadap kasus Bibit-Chandra dan konflik kepentingan antara KPK dan Polri.

Menurut informasi, target para aktivis ini adalah pengungkapan kasus Century yang disinyalir melibatkan banyak kekuatan politik besar di republik ini. Bibit-Chandra hanya target antara, yang juga dimobilisasi untuk mengalihkan isu century.[ims]


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.409 / Virus Database: 270.13.115/2403 - Release Date: 09/29/09 17:56:00


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

#11153 From: <a_ghofy@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 3:44 am
Subject: RE: [islamalternatif] Kasus Century Lebih Mengerikan
a_ghofy@...
Send Email Send Email
 
Little correction, 6.7 Triliun. Sementara hanya punya uang 2 Triliun.
Kemarin Boediono diberitakan sepakat dengan BLBI ke century, karena kondisi bank itu sekarang sedang bagus, dan kalau dijual nilainya bisa lebih dari BLBI, dan kedepan rencana mau dijual...
Hayooo, siapa yang mau mengurai benang ini?


From: islam_alternatif@yahoogroups.com [mailto:islam_alternatif@yahoogroups.com] On Behalf Of Deddy Prihambudi
Sent: Monday, November 09, 2009 10:22 AM
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Subject: Re: [islamalternatif] Kasus Century Lebih Mengerikan

 

6.7 milyard. baunya sudah dimana mana. tampaknya Cikeas akan kena imbas juga.

--- On Mon, 9/11/09, Ibnu Ardhi <ibnu_ardhi@yahoo.com> wrote:

From: Ibnu Ardhi <ibnu_ardhi@yahoo.com>
Subject: [islamalternatif] Kasus Century Lebih Mengerikan
To: islam_alternatif@yahoogroups.com
Date: Monday, 9 November, 2009, 8:15 AM

 


09/11/2009 - 07:32

Kasus Century Lebih Mengerikan
Dukungan Bibit-Chandra Gembos

INILAH.COM, Jakarta - Beberapa kelompok aktivis pro reformasi mulai menggeser agenda. Mereka tidak lagi mendorong dukungan pada Bibit-Chandra. Tapi, mendesak agar kasus Century segera diungkap.

Rencananya, hari ini, Senin (9/11) sekitar pukul 10.00, para aktivis pro reformasi akan mendatangi KPK. Mereka mendesak agar lembaga itu untuk segera mengungkap kasus Century.

Persoalan Bibit-Chandra, dianggap sudah masuk ke ranah hukum. Yang diperlukan adalah agar kasus Bibit-Chandra segera dibawa ke pengadilan. Di situ bisa dibuktikan tentang kebenaran klaim-klaim yang selama ini menjadi titik perseteruan antara KPK-Polri.

Ditambah lagi, saat ini ada Tim 8 yang sudah melakukan berbagai verifikasi terhadap kasus Bibit-Chandra dan konflik kepentingan antara KPK dan Polri.

Menurut informasi, target para aktivis ini adalah pengungkapan kasus Century yang disinyalir melibatkan banyak kekuatan politik besar di republik ini. Bibit-Chandra hanya target antara, yang juga dimobilisasi untuk mengalihkan isu century.[ims]


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.409 / Virus Database: 270.13.115/2403 - Release Date: 09/29/09 17:56:00


Messages 11153 - 11182 of 11182   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help