Orang setuju dengan definisi yang diberikan oleh Aristoteles dan Ibn Sina bahwasannya manusia adalah animalia rationalis (rational animal). Lengkapnya, animalia individua substantia rationalis sui iuris, artinya makhluk berjiwa yang tak terbagi namun terbedakan dari yang lain, berdiri sendiri dan mempunyai kemampuan rasional serta kesadaran akan hak-hak dasarnya untuk hidup. Dari unsur animalia, manusia memang makhluk yang mempunyai jiwa (anima). Karena itu ia selalu bergerak. Kodrat manusia memang begitu. Dari unsur individua, bisa dimengrti bahwa manusia itu adalah pribadi yang utuh, tidak terbagi-bagi, kesatuan jiwa raga dan roh. Karena tak terbagi, maka ia juga terbedakan dari yang lain. Karena itu, orang tidak bisa memperlakukan secara sama. Pasti harus mengkhusus. Dari unsur substantia, kita bisa temukan bahwa manusia itu punya kehendak dan berdiri sendiri. Karena itu, setiap pribadi adalah subyek dari perbuatannya sendiri. Mengapa orang harus bertanggung
jawab, alasannya bisa ditemukan di sini. Makanya lempar batu sembunyi tangan merupakan pelangggaran kodrat kemanusiaan. Dari unsur rationalis, semua orang yakin bahwa setiap orang mempunyai kemampuan berpikir dan karena itu mempunyai hak untuk mengungkapkan apa yang dipikirnya, atau mengatakannya. Sui iuris artinya with hak-hak yang cocok dengan kodratnya.
Apa kesamaannya dengan binatang (beast)? Sama-sama animalia, sama-sama individua, sama-sama substantia, sama-sama mempunyai hak hidup. Tetapi ada berbedanya. Apa yang membuatnya berbeda dari binatang? Binatang tidak rational. Karena tidak rational maka tidak mempunyai tanggung jawab atas apapun yang diperbuatnya. Binatang, tehrefore, dipandu bukan oleh akal budi, meskipun mempunyai otak, melainkan digerakkan oleh impulse dan naluri (basic instinct). Daya hidup binatang mengalir dari nalurinya. Salah satu naluri itu ialah naluri beranak pinak. Ini dimiliki oleh semua makhluk berjiwa, termasuk manusia. Dalam
hal membangaun family ini, Kita lihat ada sesuatu yang menarik yang bisa ditemukan di dunia binatang. Dalam grup monyet (sipanse, gorilla, baboon dll), hanya ada beberapa jagoan. Atau bahkan hanya ada satu pejantan. Ada banyak betina. Di dunia harimau dan singa, juga sama. Si raja bisa mengkawini betina-betina. Di dunia ayam juga sama. Di dunia tikus juga sama. Pendek kata bisa dikatakan bahwa ada semacam "original form" family: patriarkal, poligamy.
Karena manusia termasuk dalam kelas animalia, maka apa yang ada dalam dunia animalia juga ada dalam dunia manusia. Setiap pria itu potential jadi bandot-bandot. Dari segi tertentu juga bisa dikatakan bahwa para pria baik di dunia hewan maupun di dunia manusia adalah penebar benih. Nah dari kaca mata basic instinct, poligamy adalah sangat natural dalam arti terjadi menurut potensi yang memang telah ada karena kodrat animalia.
Masalahnya, apakah poligaminya manusia dan poligaminya hewan sama?
Dari sudut tertentu sama dan dari sudut yang lain completely berbeda. Kita lihat samanya.
Untuk bisa mendapatkan betina, si pejantan harus tampil menjadi yang paling kuat (singa harimau, bandot, gorilla, baboon, dlll). Makanya, kalau seseorang tampak lembek, lemah dari sisi fisik dan finansial ekonomi, tidak akan bakalan bisa berpoligami. Si pejantan harus tampak indah (dunia burung, misalnya ayam jago, cendrawasih kakaktua dlll), Makanya, di dunia manusia, seorang pejantan pelihara jenggot bagus-bagus, bersolek, pakai jaket kulit, kacamata hitam pakai semprotam Axe dan rupa-rupa pengharum. Tentu saja itu semua dilakukan bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk orang-orang di luarnya terutama para perempuan. Pejantan harus bisa menawarkan dan memberikan perlindungan kepada para betina. Itu sebabnya, para pria berolahraga, makan banyak dan latihan-latihan kesaktian. Biar hebat. Orang juga membuat dirinya hebat dengan macam-macam specialisasi. Ada yang dikagumi
banyak betina karena mahir silat, pinter sepak bola, pinter nyanyi, pinter sembahyang, pinter membaca dan menafsirkan kitab suci dlll. Jadi, semakin komplete unsur-unsur atraktif yang dimiliki, semakin dia bisa ngrentengi betina-betina. Dari sisi ini Edmund Freud memang benar. Manusia, apapun bentuk aktivitasnya, semata-mata didorong oleh naluri seksual.
Bedanya, para pejantan binatang itu memang memberikan perlindungan kepada familinya (para betina dan anak-anak keturunannya), tetapi dunia hewan tidak memberikan uang belanja kepada para betinanya, meskipun kerapkali si pejantan kerja keras untuk berburu.
Bedanya lagi, binatang hanya melindungi si anak-anak dan keturunannya sampai si anak-anak itu bisa cari makan sendiri. Manusia tidak begitu. Manusia mendidik anak-anaknya sampai kapanpun. Tidak ada bekas orang tua dan tidak ada bekas anak. Tanggung jawab orang tua tidak pernah berhenti.
Bedanya lagi, karena tidaklah mudah untuk
mencarikan uang belanja bagi si betina maka si jantan dalam dunia manusia juga mikir-mikir, apakah ia akan menarik betina-betina baru dalam lingkup otoritasnya. Di sini jelas beda bahwa manusia tidak hanya mempergunakan pertimbangan kemampuan seksualnya saja dalam merekrut betina-betina baru melainkan juga mempergunakan pertimbangan akal. Ini karena kodratnya yang mengandung impetus of responsibility. Kalau mampu memberikan makan dan belanja kepada betina-betina dan kebutuhannya, maka perekrutan wanita-wanita bisa terus. Secara animalia tidak menyalahi kodrat.
Hanya saja, manusia itu ternyata lebih dari binatang. Dengan akal budinya dan dan kehendaknya ia mempunyai konsep happiness, joy, peace, perfection. Secara bersamaan juga mempunyai konsep tentang suffering, gelisah, sedih. Belajar dari semua fakta hidup yang terjadi, manusia menyimpulkan bahwa meskipun berada dalam kelas binatang, manusia absolutely different from. Karena itu manusia
bisa ngitung-itung. Mau nambah perempuan atau tidak. Jadi ia tidak lagi melulu dikendalikan oleh naluri reproduktifnya saja. Ada hal yang lain, yakni moralitas, yakni kebijaksanaan hidup yang dipetik dari kebiasaan-kebiasan dan pengalaman hidup konkret. Tentu saja pernyataan ini tidak mempunyai arti bahwa yang berpoligami itu tidak bermoral. Maksud dari pernyataan itu ialah: dengan melihat suffering yang ditimbulkan oleh kegagalan poligami manusia sampai pada pengakuan bahwa seksualitas kaum jantan bukanlah power utama untuk menjadi semakin manusia.
Sampai di taraf ini si manusia merangkak lebih jauh. Tidak sekedar menuruti libido melainkan love. Love ini sebuah energi yang membuat manusia abadi, dikenang selam-lamanya oleh semua generasi. Karena itulah, orang-orang yang love pada negaranya, keluarganya, kawan-kawannya..... lestari sampai kapanpun... dan ini pula yang membuat manusia lebih tinggi dari binatang, mekipun kasih sayang dalam dunia binatang
juga ada.
Dalam kasus poligami, meskipun ada kemungkinan bahwa si pejantan ini bisa mengkawini semua perempuannya dan kuat untuk itu, belum tentu kalau daya rationalnya absent seperti dalam dunia binatang. Dikatakan oleh ilmu psikology persetubuhan, pejantan akan tuli, buta dan mati rasa saat bersetubuh dengan betinanya. Manusia pejantan akan belajar dari peristiwa yang terjadi sesudah persetubuhan. Tidak seperti pejantan binatang. Mereka tidak memikirkan sekolahnya anak-anak, gizi, masa depan dll. Karena itu setelah persetubuhan cuma lonjak-lonjak, sementara dalam dunia manusia, setelah persetubuhan hadirlah kecemasan-kecemasan, meskipun ada juga happines. Karena itu manusia berakal budi dan ber-roh serta mempunyai energi cinta itu merajut kesatuan relasi dengan para betinanya dalam bentuk bangunan sebuah family. Lagi-lagi kebijaksanaan hidup yang dirumuskan berdasarkan pengalaman konkret mereka mengajarkan bahwa ada prinsip-prinsip tertentu
yang harus ditaati oleh setiap anggota keluarga. Makanya, relasi kekeluargaan itu dilindungi dengan ikatan perkawinan. Orang yang dikawini dan mengkawini mempunyai ikatan erat dan melindungi ikatan itu dengan hukum masyarakat, supaya betina-betina yang sudah direntengi tidak direbut oleh pejantan-pejantan lain. Masalahnya ialah, manusia betina tidak sama dengan binatang betina. Meskipun memang memiliki unsur lemah dan harus dilindungi, manusia betina toh mempunyai akal budi, individualitas dan juga energi hidup yang disebut cinta. Manusia betina bukan sekedar pasangan seksualnya manusia jantan seperti pasangan antara gembok dan kunci. Manusia betina ini juga mempunyai kepribadian, tidak bisa disamakan dengan yang lain atau diperlakukan sama, mempunyai kehendak dan pendirian serta tanggung jawab, mempunyai kebebasan untuk menuangkan pikiran dan keinginan personal dan sama-sama mempunyai hak hidup atau mengatur kehidupannya sendiri. Pemasungan terhadap apapun yang menjadi
sui iurisnya adalah penyangkalan akan kodrat kemanusiaannya. Sadar akan hal ini, manusia pejantan sadar bahwa manusia betina tidak sama dengan binatang betina. Artinya, tidak gampang kok memelihara manusia betina dalam bentuk ramai-ramai ombyokan. Mengapa? Individualitasnya bisa membuatnya menuntut hak-hak dasarnya, intelektualitasnya juga tidak bisa dibendung... singkatnya, manusia jantan tidak bisa berkuasa atas manusia betina. Berhentinya poligami, biasanya karena hal ini.
Di masyarakat di mana perempuan dipandang rendah akan bertumbuh poligami. Sebaliknya di masyarakat yang menaruh pengakuan pada equality, poligami sangat minim. Mengapa?
Dari sudut keadilah dan fairness, poligami lebih riskan daripada monogami. Orang tidak bisa mengobral cinta karena cinta selalu mengandaikan kesetiaan. Dan normalnya orang tidak bisa membagi-bagi kesetiaan. Kebutuhan manusia bukan hanya kebutuhan untuk memenuhi perut seperti dalam binatang. Lebih daripada itu.
Jadi kesetiaan manusia betina pada manusia binatang bukan karena didasarkan pada alasan bahwa ia telah dijamin makanannya. Ada hal lain yang sulit dipenuhi, yakni personalitas, intimacy, kasih sayang, kedamaian batin dan happiness. Makanya poligami bukan menjadi pilihan lagi. Dalam hal ini agama dan nilai-nilai yang ditawarkannya bersifat meneguhkan values yang diperas dari kehidupan konkret. Legitimasi dari kebijaksanaan ilahi akan membuat pilihan untuk bermonogami atau berpoligami mempunyai daya desak yang menyeluruh. Di masyarakat di mana jumlah para perempuan jauuuuhhhh lebih banyak daro pada jumlah kaum laki-laki, misalnya di tempat di mana peperangan bayak terjadi, berpoligami barangkali bisa menjadi satu hal yang valuable karena bisa menyelamatkan kehidupan banyak perempuan yang sengsara dan membutuhkan perlindungan. Agama yang berkembang dalam konteks masyarakat yang demikian akan memandang bahwa ploigami adalah suatu ibadah. Tetapi dalam konteks masyarakat
monotheistic seperti dalam Judaisme dan berlanjut dalam kristianisme, anjuran monogami menemukan titik tolak atau dasar argumentasinya: monogami menggambarkan kekhasan relasi antara bangsa kaum Israel atau orang kristen dengan Allah mereka. Bagi kedua bangsa ini, pengakuan tiada Tuhan selain Allah dilambangkan dengan monogami mereka.
Jadi, tidak perlu bantah-bantahan soal monogami dan poligami. Di masyarakat kita, Indonesia, bagaimana? Kita bisa merefleksikan sendiri-sendiri. Yang jelas, masyarakat kita masih ada unsur: kaum perempuan bergantung pada kaum laki-laki dalam soal penghidupan.; ada unsur kemajuan, dalam arti dewasa ini semakin banyak juga jumlah wanita yang tidak lagi menggantungkan diri kepada kekuatan laki-laki. Malah banyak kaum laki-laki yang takut sama perempuan karena penghasilannya jauh lebih banyak dari pada si laki-laki. Di Indonesia juga mulai disadari bahwa dari dulu wanita selalu dijajah pria. Kesadaran ini juga mulai meluas. Gerakan
feminisme di Indonesia juga cukup berpengaruh. Saya kira pesan dari perkembangan masyarakat Indonesia sendiri akan lebih memberikan legitimasi rational kepada keputusan untuk berpoligami atau bermonogami daripada dengan mengandalkan referensi atau penjelasan agamis.
Salam dari London-Finchley
Sedaqah
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!