Search the web
Sign In
New User? Sign Up
indonesianschoollibrarian · INDONESIAN SCHOOL LIBRARIAN (ISL)

Group Information

  • Members: 330
  • Category: Bilingual
  • Founded: Oct 6, 2005
  • Language: English
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Messages

  Messages Help
Advanced
Konsorsium, , kolaborasi, kerjasama atau jaringan perpustakaan seko   Message List  
Reply Message #5 of 2954 |
Konsorsium, , kolaborasi, kerjasama atau jaringan perpustakaan
sekolah?
Sulistyo-Basuki

1. Pendahuluan
Berbagai istilah di atas memang membingungkan karena
maknanya tergantung pada periode, kemajuan teknologi serta wawasan
para penulis. Kerjasama diartikan sebagai kerjasama antara 2
perpustakaan sekolah atau lebih dengan tujuan saling menguntungkan
para peserta kerjasama.
Pengertian kerjasama perpustakaan sekolah artinya kerjasama yang
melibatkan 2 perpustakaan sekolah atau lebih. Kerjasama ini
diper¬lukan karena tidak satu pun perpustakaan sekolah dapat berdiri
sendiri dalam arti koleksinya mampu memenuhi kebutuhan informasi
pemakainya. Perpustakaan sebesar Library of Congress pun dengan
butir koleksi sebesar 95 000 000 pun masih mengandalkan pada
kerjasama antarperpustakaan untuk memenuhi informasi pemakainya.
Dengan demikian bagi perpustakaan sekolah yang lebih kecil
koleksinya, kerjasama antarperpustakaan sekolah merupakan syarat
mutlak untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakainya. Kerjasama
perpustakaan sekolah dilakukan berdasarkan konsep bahwa kekuatan dan
efektivitas kelompok perpustakaan sekolah akan lebih besar
dibandingkan dengan kekuatan dan efektivitas perpustakaan sekolah
masing-masing. Prinsip ini dikenal dengan sinergi artinya gabungan
beberapa kekuatan akan lebih besar daripada kekuatan masing-masing.
Misalnya ada 4 pustakawan (A,B,C dan D), masing-masing hanya kuat
memanggul beras seberat 50 kilogram jadi jumlahnya 200 kg. Namun
bila A, B, C dan D bersama-sama mengangkat beras, maka jumlah beras
yang dipanggulnya lebih dari 200 kg katakanlah 220 kg.
Demikian pula dengan konsep kerjasama perpustakaan sekolah
dapat dirumuskan sebagai berikut:
K (P1 + P2 + ... + Pn> K P1 + KP2 + ... +K Pn
dengan pengertian bahwa K adalah kekuatan dan efektivitas, P1 + P2
+ ... + Pn adalah masing-masing kekuatan dan efektivitas masing-
masing perpustakaan sekolah. Bila kekuatan dan efektivitas kelompok
lebih besar daripada kekuatan dan efektivitas masing-masing
perpustakaan sekolah maka kerjasama perlu dilakukan. Bilamana
efektivitas dan kekuatan gabungan perpustakaan sekolah sama dengan
kekuatan dan efektivitas masing-masing perpustakaan sekolah, maka
kerjasama perpustakaan sekolah perlu ditanyakan. Situasi itu
dirumuskan sebagai berikut:
K (P1 + P2 + ... + Pn) = K P1 + KP2 + ... +K Pn
Dalam hal kekuatan dan efektivitas gabungan perpustakaan sekolah
lebih kecil daripada kekuatan dan efektivitas masing-masing
perpustakaan sekolah, maka kerjasama tidak perlu dilakukan. Situasi
tersebut dirumuskan sebagai
K (P1 + P2 + ... + Pn) < K P1 + KP2 + ... +K Pn
2. Jaringan
Jaringan adalah kerjasama antara perpustakaan dengan badan lain di
luar perpustakaan untuk menyediakan data dan informasi bagi pemakai
dengan tidak memandang asal data dan informasi tersebut. Jaringan
ini dapat bersifat formal maupun informal. Jaringan informasi
informal terdapat pada berbagai jaringan dokumentasi daninformasi di
Indonesia, yang bekerja sama tanpa ada pernyataan tertulis di antara
peserta. Jaringan ini sudah ada di Indonesia sejak tahun
1971,walaupun dalam kenyatannya tidak semua berjalan. Jaringan
informasi formal di Indonesia terdapat pada misalnya Jaringan
Perpustakaan APTIK yang bekerja sama secara formal setelah ada
persetujuan tertulis di antara pimpinan yang membawahi perpustakaan
(baca rektor dan yayasan).

3. Komponen jaringan informasi
Jaringan informasi tidak saja terdiri dari berbagai unit sistem
informasi seperti perpustakaan khusus, pusat dokumentasi dan lain
lain, melainkan juga harus memiliki komponen lain seperti tujuan,
rencana. Bila komponen tujuan dan rencana dinyatakan sebagai
komponen jaringan informasi, maka seluruh kom¬ponen terdiri dari :
(i) Struktur organisasi.
Struktur ini harus dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai
sudut seperti dari segi hukum, perencanaan serta pengambilan
kebijakan.
(ii) Rencana kerjasama
Rencana kerjasama ini dibagi atas rencana jangka pendek
biasanya mencakup kegiatan 1 tahun, jangka menengah antara 2-3 tahun
dan jangka panjang biasanya mencakup waktu 5 tahun mendatang.
(iii) Simpul (nodes)
Simpul adalah peserta jaringan yang terdiri dari berbagai unit
informasi (perpustakaan, pusat dokumentasi dll). Dari berbagai
simpul ini dapat dikembangkan spesialisasi koleksi, bentuk jaringan
maupun pola kerjasama.
(iv) Pemakai.
Pemakai adalah anggota simpul sehingga terdapat berbagai
jenis pemakai, mulai dari pemakai perpustakaan umum (siapa saja)
hingga ke pemakai yang terbatas, misalnya dari perpustakaan khusus.
(v) Tingkat jasa peserta.
Karena simpul terdiri dari berbagai sistem informasi dengan
kemampuan jasa berbeda, maka jaringan perlu menentukan jasa apa saja
yang ditawarkan oleh masing masing simpul, untuk siapa (apakah untuk
umum atau hanya peneliti saja), bagaimana bentuknya (misalnya hanya
jasa rujukan belaka, penyerahan dokumen, data dan informasi).
(vi) Sistem komunikasi antara simpul.
Bagaimana cara komunikasi antar simpul, apakah langsung menghubungi
simpul lain ataukah melalui koordinator. Pada jaringan informasi
berstruktur hirarkis, simpul yang berada pada bagian bawah tidak
boleh menghubungi langsung simpul lain yang tidak termasuk jaringan,
simpul harus menghubungi koordinatornya. Misalnya perpustakaan umum
di kota Jayapura memerlukan informasi yang terdapat di perpustakaan
umum di Vaniamo di Papua Nugini. Dalam hal ini perpustakaan umum di
Jayapura harus menghubungi Perpustakaan Nasional terlebih dahulu,
baru diteruskan ke rekannya yang berada di Papua Nugini.
(vii) Kode pesan/berita antar simpul yang baku dengan tujuan
tercapai pembakuan pengertian.
(viii) Katalog induk terpusat untuk mengetahui di mana saja dokumen
disimpan di antara simpul. Cakupan katalog induk dapat berupa buku,
majalah maupun bahan audiovisual.
Ciri utama katalog induk ialah adanya kode lokasi perpustakaan yang
memiliki buku atau majalah. Penentuan kode lokasi ini untuk
Indonesia mengalami perubahan. Katalog induk terbitan Indonesia
tahun 50an hingga 80an memuat kode lokasi berdasarkan kode nomor
mobil seperti B untuk Jakarta, D untuk Parahiangan, F untuk Bogor,
AD untuk Yogya dan seterusnya. Sejak akhir tahun 1980an dengan
keluarnya Indonesian Machine Readable Catalogue (INDOMARC ), kode
lokasi diseragamkan. Urut-urutan awal adalah 2 huruf sebagai kode
pengenal provinsi, menyusul 2 huruf kode jenis perpustakaan baru
menyusul 1-5 huruf untuk nama perpustakaan.(baca bab 7 Kerjasama
perpustakaan)
(ix) Jalur komunikasi dengan (peserta) jaringan lain.
Jalur ini dapat digambarkan sebagai hirarkis, melalui lembaga khusus
ataupun bebas. Pada struktur hirarkis sebuah perpustakaan desa tidak
dapat menghubungi perpustakaan lain selain melalui perpustakaan
kabupaten. Contoh perpustakaan umum tidak boleh menghubungi
perpustakaan umum di luar provinsi, perpustakaan umum harus melalui
Perpustakaan Daerah Pada struktur lembaga khusus, sebuah
perpustakaan yang terkait pada sebuah jaringan tidak boleh
menghubungi perpustakaan lain terkecuali melalui lembaga khusus.
Contoh sebelum tahun 1990, perpustakaan fakultas kedokteran di
Indonesia tidak boleh menghubungi SEAMIC (South East Asia Medical
Information Centre) di Tokyo, Jepang untuk meminta fotokopi artikel,
semuanya harus melalui Koordinator Jaringan Dokumentasi dan
Informasi Kesehatan. Sesudah tahun 1992, masing-masing perpustakaan
bebas meminta langsung ke SEAMIC, ini contoh bebas berhubungan.
(x) Pedoman pemilihan dokumen apa saja yang akan disimpan oleh
peserta jaringan. Peserta bersepakat mengenai dokumen yang akan
disimpan masing-masing baik berdasarkan format maupun subjek. Maka
ada anggota jaringan yang mengkhususkan diri dalam misalnya peta,
yang lain khusus untuk sastra. Demikian seterusnya.
(xi) Prosedur evaluasi unjuk kerja jaringan. Dari evaluasi ini
diharapkan diperoleh masukan dari para pemakai serta penyelenggara.
Masukan ini berguna untuk kajian
terhadap jaringan, perubahan yang diperlukan.
(xii) Program pelatihan bagi para pemakai serta peserta jaringan.
Pelatihan bagi pemakai dilaksanakan sebagai bagian dari
program pendidikan pemakai untuk semua anggota simpul. Pendidikan
pemakai dirasakan penting artinya bagi simpul yang melayani banyak
pemakai seperti perpustakaan perguruan tinggi, umum dan sekolah.

4. Jaringan perpustakaan sekolah
Jaringan perpustakaan sekolah yang ada di Indonesia masih terbatas,
itupun bersifat informal serta pada saat ini menekankan pada tahap
pelatihan. Adapun bentuk jaringan perpustakaan sekolah yang ada
terbagi atas bebarapa kategori sebagai diuraikan di bawah ini.
4.1. Jaringan berbasis geografis
Kategori jaringan berbasis geografis pada tahap pelatihan
dan pendidikan menyelenggarakan pelatihan terbatas pada sebuah lokal
atau regional saja. Bentuk ini paling banyak terdapat di Indonesia.
Contoh pelatihan perpustakaan sekota Jakarta Timur, Surabaya dan
sekitarnya, atau se Indonesia sebagaimana sering dilaksanakan oleh
Dep.Pendidikan Nasional. Pada sekolah swasta dilakukan misalnya oleh
Komisi Pendidikan Keuskupan Agung palembang yang melibatkan sekolah
Katolik di provinsi Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi.
4.2. Berbasis denominasi
Jaringan dilaksanakan oleh masing-masing denominasi misalnya
Yayasan Penabur yang menyelenggarakan pelatihan untuk sekolah
Kristen, penataran madrasah oleh Dep. Agama, penataran sekolah Hindu
di Bali.
4.3. Berbasis kategorial
Pelatihan dilselenggarakan untuk kepala sekolah saja, banyak
diselenggarakan oleh Dep. Pendidikan Nasional walaupun nyatanya
materi mengarah ke soal teknis. Pelatihaan untuk guru pengelola
perpustakaan yang banyak diselenggarakan di Indonesia, baik oleh
pemerintah maupun oleh swasta.
4.4. Berbasis perpustakaan umum
Pelatihan dilaksanakan oleh perpustakaan umum
kabupaten/kota, terbatas pada wilayah administratif masing-masing,
pesertanya campur.Ada yang berbentuk penataran, namun tidak jarang
menggunakan nama lebih keren seperti rapat kerja teknis atau rapat
kerja koordinasi.
4.6. Berbasis Perpustakaan Nasional
Diselenggarakan oleh Perpustakaan nasional, pesertanya
seluruh Indonesia. Tidak ada kategori perpustakaan apa saja yang
akan dikkutsertakan.

Bentuk kerjasama yang ada mencakup :
4.7. Pertukaran informasi.
Sifatnya informal, pustakawan ataupun apapun namanya, saling
tukarinformasi atau menanyakan sesuatu pada pustakawan lain.
4.8. Latihan kerja
Sebuah perpustakaan menerima karyawan perpustakaan lain untuk
melakukan praktik kerja, pengalaman di lapangan (hands-on-
experience).
4.9. Kerjasama antarpustakawan
Pertemuan informal antara sesama pustakawan sebagaimana dilakukan
pada hari ini.

5. Penutup
Jaringan perpustakaan sekolah di Indonesia masih terbatas pada
pelatihan, pertemuan informal. Jaringan sebagai upaya menyediakan
data dan informasi untuk kepentingan pemakai masih berada pada tahap
dini dan informal.

Bibliografi


Goyette, Betty et al
Building the habit of reading: how public librarians and
school library media
specialists support and enhance early reading initiatives.
Loertscher, David
"The digital school library: a world-wide development and a
facscinating
challenge." Teacher Librarian, 30 (5) 2003
http://proquest.umi.com/pqdweb?index... 26-9-2005
Sulistyo-Basuk.
Pengantar ilmu perpustakaan dan informasi. Dalam proses
penerbitan.







Tue Oct 11, 2005 4:07 am

h_naldi2001
Offline Offline
Send Email Send Email

Message #5 of 2954 |
Expand Messages Author Sort by Date

Konsorsium, , kolaborasi, kerjasama atau jaringan perpustakaan sekolah? Sulistyo-Basuki 1. Pendahuluan Berbagai istilah di atas memang membingungkan karena ...
Henri Naldi
h_naldi2001 Offline Send Email
Oct 11, 2005
4:07 am
Advanced

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help