Sabtu, 09 Februari 2008
Nusa
Nasib Gelandangan Tua yang Dibuang ke Tepi Hutan
NGANJUK - Tatapan mata 20 orang berusia lanjut itu kosong. Raut wajah
mereka tidak membersitkan senyum. Bajunya kumal, lusuh, bahkan tak
terurus. Suratmi, salah seorang gelandangan berusia 65 tahun itu,
sesekali menyeka air matanya dengan kain kumal yang melingkar di
lehernya. "Kami ditangkap polisi PP Jombang dan dibuang ke sawah dekat
hutan," ujarnya dalam bahasa Jawa saat ditemui di Panti Unit Pelayanan
Sosial Bina Karya Kertosono, Nganjuk, dua hari lalu.
Suratmi menuturkan dia dan 19 rekannya diturunkan secara paksa dari
truk terbuka oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Jombang di
malam buta pada Selasa lalu di persawahan sepi pinggir hutan dekat
Desa Ketawang, Gondang, Nganjuk, Jawa Timur. Tak ada perlawanan karena
tangan-tangan kekar yang menarik mereka turun dari truk lebih kuat
dibanding tubuh renta mereka. Dengan pandangan mata yang kabur, mereka
tertatih-tatih mencari jalan di malam gelap diiringi hujan deras.
Beruntung sejumlah warga menemukan mereka pada malam keesokan harinya
di kawasan hutan Ketawang. Di malam buta itu warga membawa mereka ke
balai desa dan memberi mereka makan. Warga bersama pamong desa
setempat lalu melapor ke kantor Kepolisian Sektor Gondang dan kemudian
menitipkan mereka ke Panti Sosial Bina Karya di Kertosono, Nganjuk.
"Salah kulo niki nopo tho, Mas? Kulo pancen kere, tapi kulo sanes
maling (Salah saya ini apa, Mas? Saya memang kere, tapi bukan maling).
Mengapa kami diperlakukan seperti ini," ujar Suratmi di tempat
penampungan sementara itu. Suratmi mengaku tidak dendam diperlakukan
seperti ini. "Tapi mesti wonten balesane (tapi kelak akan ada
balasannya)," ujarnya.
Kepala Panti Sosial Bina Karya Kertosono, Marnoto, heran melihat
kejadian ini. "Meski gelandangan dan pengemis, mereka juga manusia.
Apalagi usia mereka sudah lanjut," ujarnya. Sejatinya, kata Marnoto,
pantinya tidak bisa menampung mereka. Sebab, pantinya bertugas
memberikan bekal keterampilan kepada gelandangan dan pengemis yang
masih bisa hidup mandiri. Sedangkan para jompo jelas tidak mungkin.
Tapi Marnoto akan berkoordinasi dengan panti yang bisa menampung mereka.
Adapun Kepala Seksi Pengendalian dan Operasional Satpol PP Jombang,
Jawa Timur, Wiko F. Diaz, saat dimintai konfirmasi mengatakan sejumlah
gelandangan dan pengemis berusia tidak produktif atau 55 tahun ke atas
telah diturunkan di daerah perbatasan Jombang-Nganjuk, tepatnya di
Kertosono. "Kami tidak mungkin tega membuang mereka begitu saja,"
ujarnya saat dihubungi kemarin
Menurut dia, ini berawal saat petugas Satpol PP merazia berbagai sudut
kota di Jombang pada Selasa lalu. Sebanyak 32 gelandangan dan pengemis
terjaring. Di antara mereka dikembalikan di rumah singgah, dijemput
keluarga, dan sebagian diantar ke perbatasan Jombang, Nganjuk. Para
gelandangan itu diturunkan ke daerah perbatasan dengan harapan agar
mereka pulang ke kampung halamannya di luar Kota Jombang. Lagi pula,
kata Wiko, pihaknya telah memberikan uang saku untuk transportasi
kepada para gelandangan itu. "Kami memberi ala kadarnya," ujarnya.
DWIDJO U MAKSUM | DINI MAWUNTYAS
koran