Salam speleo
Ini ada salinan berita dari Koran Tempo ttg ekspedisi bioslepeleologi di Sangkulirang.
Sayang nama Cahyo Rahmadi alias Aok kok nggak ada ya?
Salam
SW
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kecoa Terbesar di Dunia Ditemukan di Indonesia
---------------------
Koran Tempo
---------------------
Koran Tempo
Jumat, 24 Desember, Halaman B8
---------------------
---------------------
Jakarta - Kecoa terbesar di dunia yang menjadi salah satu spesies hewan langka dan eksotis ditemukan di Indonesia. Temuan ini didapat oleh tim ekspedisi yang berisi pakar dai Inggris, Prancis, Indonesia, dan Venezuela di sebuah gua Semenanjung Sangkulirang Kalimantan Timur.
Menurut Scott Stanley, ahli ekologi dan konservasi alam yang ikut dalam tim, mengatakan, mereka juga berhasil menemukan serangkaian spesies baru mulai ikan, serangga, siput dan berbagai tanaman yang hidup di antara struktur batuan gua. Stanley yang juga menjadi manajer program Kalimantan, sebuah organisasi konservasi yang berbasis di Amerika Serikat, menyatakan masih banyak spesies lain yang belum dapat mereka identifikasi. Semuanya hampir merupakan spesies hewan atau tanaman yang terancam punah, termasuk kecoa raksasa tadi.
"Kami mengakui bahwa kecoa terbesar di dunia itu tidak seberapa karismatik. Tapi ia merupakan representasi atau bagian dari ekosistem ceruk dan jika anda bawa ia keluar dari sana, akan memberi efek domino dalam sistem rantau makanan secara keseluruhan."
Ekspedisi di gua-gua di perbukitan kapur Semenanjung Sangkulirang itu dilakukan selama enam pekan dan berkhir pada September silam. "Para peneliti takjub dengan kereagaman hayati yang mereka temukan di sana," kata Stanley.
Kawasan pegunungan kapur Semenanjung Sangkulirang seluas 9.000 hektare itu memang kaya akan keanekaragaman hayati. Mereka memiliki spesies endemik yang luar biasa banyaknya. "Sangkulirang tampaknya memiliki keragaman spesies gua yang paling langka di bumi," ujar Louis DeHarveng, pakar entomologi dari French Academy of Scicendem yang ikut dalam ekspedisi. afp