Search the web
Sign In
New User? Sign Up
fordian · Forum Dian
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want your group to be featured on the Yahoo! Groups website? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 12428 - 12457 of 12457   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#12457 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Fri Dec 11, 2009 12:50 am
Subject: Respons thd Buku MISQUOTING JESUS (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 

Respons terhadap Buku MISQUOTING JESUS

 

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

 

 

 

Dewasa ini sering bermunculan buku-buku yang mendiskreditkan Kekristenan (atau paling tidak menyerang Kekristenan injili/ortodoks). Yang termasuk buku semacam ini antara lain novel Da Vinci Code (Dan Brown), terjemahan Injil Yudas, Dinasti Yesus (James Tabor) dan Misquoting Jesus (Bart D. Ehrman). Tidak tertutup kemungkinan akan muncul buku-buku lain yang sejenis. Semua buku ini bukan diterbitkan oleh penerbit Kristen. Dari hal ini kita dengan mudah bisa menduga motif di balik penerjemahan dan penerbitan buku-buku tersebut, yaitu sekadar strategi bisnis untuk mengeruk keuntungan besar dari isu kontroversial (dan disukai banyak orang) atau tendensi ideologis lain yang turut berperan di dalamnya.

 

Sejauh ini respons orang Kristen di Indonesia terhadap fenomena di atas bisa dibilang cukup bijaksana. Mereka tidak mau mengintimidasi maupun menuntut para penerbit tersebut secara hukum. Dalam era kebebasan pers, orang Kristen memang sudah sepatutnya memiliki wawasan yang luas. Yang harus dilakukan adalah memperdalam pemahaman terhadap kebenaran Alkitab, sehingga tidak dibingungkan oleh berbagai ajaran yang menyimpang. Bukankah Yesus sendiri pernah mengatakan bahwa penyesatan memang harus ada (Mat. 18:7//Luk. 17:1)? Bukankah hal itu justru bermanfaat untuk menguji siapa yang sungguh-sungguh percaya kepada kebenaran dan siapa yang tidak sungguh-sungguh (1Yoh. 2:19)?

 

Dalam makalah kali ini, kita hanya akan menyoroti buku Misquoting Jesus karya theolog liberal yang bernama Bart D. Ehrman yang diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, tahun 2006. Buku yang mulai diterbitkan pada tanggal 1 November 2005 ini bukanlah satu-satunya buku karya Ehrman yang menyerang Kekristenan injili. Dia sebelumnya sudah menulis dua buku yang memiliki semangat sama, walaupun topik yang dibahas berbeda, yaitu Lost of Christianities: The Battles for Scripture and the Faith We Never Knew dan Lost Scriptures: Books that Did Not Make It into the New Testament. Dia juga yang memberikan rekomendasi dalam buku Dinasti Yesus karya James Tabor. Buku Ehrman yang lain yang paling berkaitan dengan Misquoting Jesus adalah The Orthodox Corruption of Scripture.

 

 

Popularitas Misquoting Jesus

Buku Misquoting Jesus terus menuai popularitas sejak penerbitan pada tanggal 1 November 2005. Ehrman diundang ke berbagai acara talk-show TV ternama. Dalam tempo 3 bulan penjualan buku ini sudah mencapai 100 ribu buku dan terus menanjak menempati posisi sebagai salah satu buku best-seller pada tahun 2006. Popularitas ini sangat istimewa jika dikaitkan dengan topik yang dibahas. Buku Misquoting Jesus membahas tentang kritik teks, yaitu penyelidikan terhadap berbagai salinan kuno Alkitab guna merekonstruksi autografa (naskah asli) Alkitab sampai sedekat mungkin. Topik seperti ini biasanya termasuk dalam salah satu matakuliah yang paling membosankan bagi mahasiswa theologi. Bagaimanapun, gaya penulisan Ehrman yang sederhana dan situasi pasar telah berhasil membuat topik yang membosankan ini menjadi sangat digemari.

 

Popularitas Misquoting Jesus sangat berhubungan dengan situasi pasar secara umum. Segala sesuatu yang kontroversial seputar kehidupan Yesus dewasa ini merupakan isu yang paling dicari oleh orang-orang postmodernisme. Pemilihan judul “Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why” juga dilakukan atas pertimbangan komersial. Judul asli yang disukai Ehrman adalah Lost In Transmission, tetapi penerbit memutuskan untuk mengubah usulan ini (mungkin karena kuatir dianggap sebagai buku tentang balap mobil!?). Judul yang ada sekarang dianggap tampak lebih menarik perhatian banyak orang, karena secara langsung menampilkan Yesus yang berbeda dengan Yesus menurut kalangan Kekristenan ortodoks. Dari sisi kaidah penulisan, judul ini justru tidak sesuai dengan isi buku. Dari beberapa kata Alkitab yang keaslian diperdebatkan oleh Ehrman dalam buku ini, tidak ada satu pun yang berisi perkataan Yesus.

 

Kehadiran Misquoting Jesus turut memberi dukungan mental bagi mereka yang memang sejak semula meragukan kredibilitas Alkitab. Mereka sebelumnya telah memiliki bekal untuk meneguhkan ketidakpercayaan mereka terhadap Alkitab melalui berbagai buku yang mengajarkan bahwa kisah-kisah dalam Alkitab hanyalah mitos Hellenis tentang Yesus yang diciptakan para penulis Alkitab untuk memenuhi kebutuhan gereja pada jaman mereka. Sekarang mereka mendapat peneguhan baru melalui penyelidikan kritik teks yang tampak sangat meragukan kredibilitas Alkitab. Berbagai salinan yang ada – menurut Ehrman – ternyata telah banyak diubah-ubah oleh kalangan Kekristenan ortodoks supaya sesuai dengan doktrin yang mereka anut. Kekristenan sejak awal dipercaya terdiri dari berbagai aliran yang berbeda dan saling berkontradiksi.

 

 

Rangkuman Isi Misquoting Jesus

Menurut Ehrman, buku Misquoting Jesus terasa lebih spesial dibandingkan yang lain, karena buku ini merupakan kristalisasi dari pergumulan iman dan akademisnya selama 30 tahun (hlm. xi). Dia lalu menceritakan bagaimana pergumulannya dari seorang Kristen injili akhirnya menjadi seperti sekarang. Apakah cerita singkat tentang pergumulan ini hanya berguna sebagai pendahuluan bagi buku tersebut ataukah dia memiliki motif/pesan yang tersembunyi di baliknya, misalnya “seorang Kristen yang serius dengan kebenaran pasti akan berakhir seperti dia”? Kita tidak pernah mengetahui dengan pasti.

 

Dalam lingkungan akademis, apa yang disampaikan dalam buku Misquoting Jesus sebenarnya tidak ada hal yang baru. Hampir semua yang ditulis sudah menjadi rahasia umum para theolog biblika. Hal yang baru dalam buku ini adalah keberanian Ehrman untuk membawa diskusi tentang kritik teks (naskah) ke dalam wilayah populer (orang Kristen awam), sebagaimana yang dia akui di halaman xxx. Hal baru lain (yang menurut saya cukup mengagetkan) adalah konklusi negatif dari studi kritik teks yang dilakukan Ehrman. Banyak ahli yang mendalami kritik teks – beberapa di antara mereka bahkan lebih kompeten dan diakui daripada Ehrman – tetapi hasil studi tersebut tidak membuat kepercayaan mereka terhadap ketidakbersalahan Alkitab hilang.

 

Apakah inti yang ingin disampaikan oleh Ehrman dalam bukunya? Bagaimana alur berpikir Ehrman yang telah membawa dia pada konklusi yang negatif terhadap Alkitab? Dua pertanyaan di atas dapat dengan mudah dijawab hanya dengan membaca bagian kata pengantar dari buku Misquoting Jesus (bab-bab selanjutnya hanyalah penjelasan detil dari pokok pikiran yang sudah dituangkan di bagian awal). Ehrman ingin menunjukkan bahwa Alkitab yang sekarang ada bukanlah firman Allah yang tidak bisa salah, karena ribuan manuskrip yang ada telah mengalami modifikasi oleh para penyalin, sehingga sulit diketahui apakah manuskrip yang ada mencerminkan autografa Alkitab yang sampai sekarang tidak ditemukan. Menurut Ehrman, “hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah kembali ke versi seawal mungkin, tidak soal apakah kita telah mencapai naskah “asli” itu atau tidak” (hlm. 57). Dia sendiri secara eksplisit menyamakan signifikansi Alkitab dengan tulisan Kristen lain di abad-abad berikutnya, bahkan tulisan non-Kristen lain pada jaman itu, misalnya tulisan Josephus, Lusian Samosata dan Plutarkh (hlm. xxix).

 

Untuk membuktikan hal itu, Ehrman memiliki alur pemikiran yang dapat digambarkan sebagai berikut: (1) tidak ada autografa Alkitab yang ditemukan; (2) manuskrip-manuskrip yang ada saling berlainan dan tidak bisa dipercaya, karena sudah diubah berkali-kali, baik secara tidak sengaja maupun disengaja dengan berbagai motivasi tertentu. Motivasi pengubahan yang tampaknya ditekankan Ehrman adalah motivasi melawan bidat atau penyalahgunaan teks autografa oleh para bidat; (3) tidak ada cara untuk mencapai naskah asli, sehingga Alkitab yang ada sekarang tidak bisa dipercaya, termasuk doktrin-doktrin Kristen yang penting yang didasarkan pada teks-teks yang bermasalah; (4) semua ini menunjukkan Alkitab bukan firman Allah. Mengapa? Kalau Allah memang berfirman, maka Ia akan melakukan mujizat untuk menjaga agar autografa firman-Nya tidak musnah atau menjaga para penyalin Alkitab dari segala bentuk kesalahan. Faktanya, ribuan manuskrip Alkitab mengandung kesalahan, karena itu autografanya pasti bukan firman Allah (hlm. xxv).

 

Sehubungan dengan autografa – yang tidak mungkin direkonstruksi dan bukan firman Allah – Ehrman menjelaskan bahwa autografa sendiri sangat mungkin mengandung berbagai kesalahan dan kontradiksi, karena para penulisnya memang tidak diinspirasikan oleh Allah. Dengan asumsi seperti ini dia tidak berusaha mengharmonisasikan beberapa teks Alkitab yang sekilas tampak sulit diterima maupun berkontradiksi. Sebaliknya, dia berpendapat bahwa memang ada kemungkinan (dan sudah terbukti) kalau para penulis Alkitab melakukan kesalahan atau saling kontradiktif.

 

 

Ketidakadaan Autografa

Sebelum menganalisa kelemahan dalam buku Misquoting Jesus, hal pertama yang perlu dibahas adalah ketidakadaan autografa. Mengapa Allah tidak menjaga keberadaan autografa Alkitab? Apakah hal itu merupakan hal yang sangat serius sekaligus membuktikan bahwa autografa tersebut tidak diilhamkan?

 

Sehubungan dengan pertanyaan pertama, Allah memang memiliki maksud tertentu dengan tidak melestarikan autografa Alkitab. Dia tidak ingin orang Kristen terjebak pada penyembahan berhala dengan cara mengagungkan bentuk fisik firman Allah itu (tulisan) daripada isinya. Alkitab dan sejarah gereja memberikan banyak contoh dari bahaya seperti ini. Baju efod Gideon disembah oleh bangsa Israel (Hak. 8:27). Terjemahan Alkitab Vulgata dan King James Version saja diperlakukan secara berlebihan oleh orang-orang Kristen seolah-olah firman Tuhan hanya terdapat dalam versi tersebut.

 

Apakah ketidakadaan autografa merupakan permasalahan yang sangat serius? Tidak seserius yang dipikirkan Ehrman, kecuali kalau alur berpikir Ehrman diaplikasikan secara konsisten, maka hal itu baru akan membawa implikasi yang serius. Di dunia ini tidak ada satu buku kuno atau kitab suci apa pun yang autografanya ditemukan. Kita hanya memiliki berbagai salinan kuno. Seandainya ketidakadaan autografa meruntuhkan kredibilitas autografa tersebut, maka keberadaan dan kebenaran semua buku kuno dan kitab suci juga harus diragukan. Dalam hal inilah inkonistensi Ehrman terlihat dengan jelas. Dia berkali-kali mengutip kitab-kitab kuno di luar Alkitab dan mengasumsikan bahwa kutipan itu pasti benar, padahal semua kutipan itu juga dia dapatkan dari salinan-salinan (tidak ada autografa dari kitab-kitab tersebut yang ditemukan). Mengapa dia tidak mengaplikasikan prinsip ini kepada Alkitab?

 

Ketika suatu autografa tidak ditemukan lagi, maka jembatan untuk menuju autografa tersebut hanyalah terletak pada berbagai terjemahan kuno dan salinan. Seberapa jauh terjemahan kuno dan salinan kuno tersebut dapat merekonstruksi autografa dapat diukur berdasarkan tes bibliografi (bibliographical test). Manuskrip yang lebih banyak dan lebih dekat dengan waktu penulisan autografa adalah yang lebih bisa dipercaya. Jika diuji memakai kriteria yang objektif ini, maka manuskrip-manuskrip Alkitab tampak sangat unggul dibandingkan kitab-kitab lain, sebagaimana terlihat dari tabel berikut ini:

 

 

Analisa Kritis terhadap Misquoting Jesus

Hal positif dalam buku ini adalah pemaparan tentang introduksi umum kritik teks yang dibahas di bab I-IV. Apa yang ditulis Ehrman di bagian itu bisa disebut sebagai sebuah pengantar yang cukup baik, sekalipun ada beberapa detil yang masih bisa diperdebatkan dan perlu dibaca dengan kritis. Pengantar itu juga sangat sederhana dan enak untuk dibaca, sehingga bisa dikonsumsi oleh orang awam. Persoalannya, Ehrman ternyata tidak konsisten dan kurang jeli dalam menerapkan berbagai prinsip kritik teks maupun menarik konklusi dari data yang ada.

 

Pertama, pernyataan Ehrman bahwa “jumlah perbedaan yang terdapat di antara manuskrip-manuskrip kita lebih banyak daripada jumlah kata-kata dalam Perjanjian Baru” (hlm. xxiv) terlalu bias dan bisa menimbulkan kesan yang salah. Kesan yang timbul adalah “hampir setiap kata dalam Perjanjian Baru diperdebatkan keasliannya”. Kesan ini tentu saja merupakan sesuatu yang tidak benar. Para theolog biblika sudah mengetahui bahwa jumlah kata dalam Perjanjian Baru adalah sekitar 138.000 dan  perbedaan variasi bacaan yang ada di berbagai manuskrip mencapai sekitar 400.000, namun hal ini bukanlah sesuatu yang signifikan. Mengapa? Karena berbagai variasi itu hanya berhubungan dengan ayat-ayat tertentu yang jumlahnya hanya sekitar 1% dari keseluruhan kata dalam Perjanjian Baru.

 

Kedua, Ehrman tidak memberikan perbandingan manuskrip secara detil untuk ayat-ayat yang dia bahas. Ia hanya menyebutkan adanya perbedaan bacaan dalam suatu ayat tanpa menjelaskan manuskrip mana yang lebih bisa dipercaya dalam konteks tersebut. Ketidakadaan penjelasan semacam ini menimbulkan kesan kalau salinan yang berbeda tersebut memiliki peluang yang seimbang, padahal aplikasi kritik teks dengan mudah dapat menunjukkan salinan/bacaan mana yang sesuai dengan autografa. Ketidakadaan penjelasan ini mungkin disengaja oleh Ehrman agar dia mampu menyeret pembaca dengan mudah kepada apa yang dia percayai.

 

Ketiga, secara umum Ehrman telah menyalahi prinsip dasar dari kritik teks, yaitu membandingkan kata per kata, bukan membandingkan manuskrip per manuskrip. Dari awal pembahasan Ehrman terkesan hanya ingin menekankan perbedaan secara umum antar manuskrip yang ada.. Hal ini memang benar. Tidak ada dua manuskrip yang sama 100%. Bagaimanapun, hal itu tidak berarti bahwa semua manuskrip itu secara keseluruhan tidak bisa dipercayai. Kita harus membandingkan kata per kata dan menentukan kata mana yang lebih sesuai dengan autografa.

 

Keempat, tidak ada hubungan logis antara ketidakadaan autografa dan penolakan terhadap doktrin inspirasi Alkitab. Inspirasi berkaitan dengan dorongan dan bimbingan Roh Kudus kepada para penulis Alkitab (2Tim. 3:16; 2Ptr. 1:20-21). Hal ini tidak ada kaitan sama sekali dengan salinan maupun terjemahan kuno Alkitab. Sekalipun semua manuskrip mengandung perubahan – entah sedikit atau banyak – bukankah manuskrip-manuskrip itu dalam taraf tertentu tetap menyiratkan autografa? Dengan kata lain, kita tetap akan menemukan bagian dari autografa dalam berbagai manuskrip tersebut.

 

Kelima, Ehrman telah melakukan kesalahan fatal ketika dia menganggap kritik teks telah berpengaruh besar terhadap doktrin-doktrin penting dalam Kekristenan, seolah-olah hasil kritik teks menuntut diadakannya reformasi doktrin Kekristenan ortodoks. Dia menyoroti beberapa ayat yang dipermasalahkan secara kiritk tekstual, yaitu Matius 24:36; Markus 1:41; Ibrani 2:8-9; Markus 16:9-20; Yohanes 1:18; dan Yohanes 7:53-8:11. Mari kita mengambil salah satu contoh dari 1 Yohanes 5:7-8. Menurut Ehrman, bagian ini tidak terdapat dalam autografa, dengan demikian hal ini meruntuhkan doktrin Tritunggal, karena “hanya di bagian itulah ajaran Tritunggal disebut bahwa ada tiga pribadi ilahi dan ketiganya membentuk satu Allah” (hlm. 81).

 

Dari semua ayat yang disorot Ehrman, beberapa bisa dipastikan memang tidak ada dalam autografa (Yoh. 7:53-8:11; 1Yoh. 5:7-8) atau kemungkinan besar tidak ada dalam autografa (Mrk. 16:9-20), karena semua ayat itu tidak ditemukan dalam manuskrip-manuskrip kuno; kalaupun ditemukan, ayat-ayat itu hanya ditemukan di bagian margin, diberi tanda khusus yang menunjukkan keraguan penyalinan atau diletakkan di tempat yang berbeda-beda dalam Alkitab. Bagaimanapun, hal ini tidak akan mengubah doktrin Kristen secara mendasar. Kita masih memiliki banyak ayat lain yang mengajarkan nilai teologis yang sama. Seandainya kisah kebangkitan dan perintah Yesus sesudah kebangkitan-Nya di Injil Markus memang tidak asli, kita masih memiliki kisah kebangkitan dan perintah tersebut di kitab-kitab injil lain (Mat. 28; Luk. 24; Yoh. 20). Seandainya kisah perempuan berzinah di Injil Yohanes tidak asli, kita masih bisa mendapatkan figur Yesus yang sama di bagian lain, yaitu figur yang berhikmat (Mat. 22:15-22) dan mengasihi orang berdosa (Luk. 15:1-3; 19:10). Seandainya 1 Yohanes 5:7-8 tidak asli, kita masih memiliki banyak ayat yang mengajarkan Tritunggal (misalnya Mat. 3:16-17; 28:19-20) dan ayat-ayat lain yang meneguhkan keilahian Yesus (misalnya Yoh. 20:28) maupun Roh Kudus (misalnya Kis. 5:4, 9).

 

Selain tiga ayat di atas, ayat-ayat lain yang dipermasalahkan Ehrman dapat dipastikan ada dalam autografa (Mat. 24:36; Yoh. 1:18; dan Ibr. 2:8-9) atau masih bisa diperdebatkan (Mrk. 1:41). Sekalipun – misalnya – dalam Markus 1:41 kata yang benar bukan “tergeraklah hati-Nya dengan belas kasihan”, tetapi “sambil marah” (seperti yang diusulkan Ehrman), apakah hal ini mempengaruhi figur Yesus secara keseluruhan dalam Injil Markus maupun Alkitab? Bukankah di tempat lain Yesus juga beberapa kali diceritakan marah kepada orang-orang lain (Mrk. 3:5; 8:33; 10:14)? Jadi, baik penyembuhan yang Yesus lakukan didasarkan pada “belas kasihan” (mayoritas versi) maupun “kemarahan” (karena orang kusta itu mungkin meragukan kebaikan-Nya), ayat itu tetap tidak mengubah doktrin Kristologi.

 

Keenam, penolakan Ehrman terhadap Alkitab sebagai firman Allah dan sikap dia yang menyamakan Alkitab dengan berbagai kitab lain merupakan sikap yang tidak bisa dipertahankan. Alkitab dan berbagai kitab kuno itu kadangkala (bahkan sering kali) berkontradiksi satu dengan yang lainnya. Seandainya Ehrman memperlakukan semua kitab itu secara sama – yaitu sebagai tulisan manusia belaka – standar kebenaran apa yang dia pakai untuk mengevaluasi kontradiksi tersebut?

 

 

Konklusi

Apa yang dipaparkan dalam Misquoting Jesus sebagian berisi pendapat tekstual Ehrman yang tidak tepat. Pada beberapa kasus ketika dia mengambil keputusan tekstual yang tepat, ia menafsirkan hal tersebut secara berlebihan. Lebih parah lagi, tafsiran ini sering kali lebih didasarkan pada presuposisi teologis daripada bukti yang objektif.

 

Akhirnya, kita perlu memberikan respek kepada Ehrman atas usahanya untuk membawa isu akademis menjadi wacana publik. Sikap ini akan sangat bermanfaat dalam mendidik jemaat lebih memepelajari Alkitab jika diterapkan oleh theolog Injili.

 

 

 

Sumber:

Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, 24 April 2007

http://www.gkri-exodus.org/page.php?RES-Misquoting_Jesus

 

 

 

 

Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:

Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di  Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.

 

 

 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Berselancar lebih cepat.
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)

#12456 From: Johan Chandra <johan.chandra@...>
Date: Thu Dec 10, 2009 4:17 pm
Subject: Undangan Natal 2009
johan.chandr...
Offline Offline
Send Email Send Email
 

Hadirilah......

Ajak Keluarga, Rekan kerja, Tetangga saudara untuk menerima berkat Firman Tuhan.

 

   Kebaktian & Perayaan Natal 2009

 

      "Kristus Menjadi Miskin Supaya Kita Menjadi Kaya” 

                                   

Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.

Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America.

 

Hari Minggu Tgl. 13 Desember 2008

Pk. 17.00 sore

Tempat : Jl. Dinoyo 19 b Lt 3

S U R A B A Y A

 

Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus,

bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin,

sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya

oleh karena kemiskinan-Nya.

2Co 8:9

 

 

NB.

- Ada acara perjamuan kasih / makan bersama jemaat Golgotha

- Pembagian Kalender Tahun 2010

 

 

Contact Persons :

Sdr Rio - 081-8030-46-550
Bp. Cahaya : Star One 031-60395293

Bp. Rizal : Flexi 031-71060304                                             

Bp. Rudy : Flexi 031-71736955, 77014779

                                   

e-mail address  : : golgotha_ministry0@...                     

Base URL: http://www.golgothaministry.org     

            

Tuhan Memberkati

 



Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!

#12455 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Thu Dec 10, 2009 6:41 am
Subject: 11 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya."
(Yes 48:17-19; Mat 11:16-19)

"Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang
duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu,
tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak
berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka
berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum,
dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut
cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." (Mat
11:16-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
 Orang yang suka  berkomentar atau mengritik orang lain pada umumnya lebih suka
bicara atau ngomong daripada berbuat atau bertindak, lebih mengutamakan wacana
daripada perilaku, sebagaimana diumpamakan oleh Yesus bagaikan `anak-anak yang
duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya'. Dengan kata lain orang yang
demikian itu kurang atau tidak pernah menghayati imannya, melainkan hanya
omong-omong atau diskusi saja, dan demikian ia tidak berhikmat. Sabda hari ini
mengingatkan kita bahwa `hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya', artinya
beriman kepada Allah pertama-tama dan terutama dapat dilihat atau disaksikan
dalam perilaku atau cara bertindaknya. Di dalam masa Adven ini kita diajak untuk
mawas diri: sejauh mana kita menghayati iman kita dalam hidup sehari-hari atau
hidup `membumi', berpartisipasi dalam seluk-beluk, hal ikwal duniawi, dalam
rangka mempersiapkan pesta Natal, kenangan akan Allah yang menjadi manusia, yang
`membumi, misteri inkarnasi'. Misteri inkarnasi merupakan acuan atau pedoman
bagi siapapun yang beriman kepada Yesus dalam hidup dan bekerja untuk hidup
mendunia atau membumi. Jika dicermati secara teliti dan tepat hemat saya
mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hati kita fungsikan untuk mengurus atau
mengelola hal-hal duniawi, maka baiklah kita mawas diri: apakah dengan demikian
kita juga semakin kudus atau suci. Dengan kata lain sabda hari ini mengingatkan
dan mengajak kita untuk mengusahakan kekudusan atau kesucian dengan terlibat
pada pengurusan atau pengelolaan hal-hal duniawi. Semakin mendunia atau membumi
diharapkan semakin beriman dan suci; mendunia tanpa iman akan amburadul
akibatnya. Maka marilah entah belajar atau bekerja kita hayati bagaikan sedang 
beribadat kepada Tuhan.
 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah,
yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.Sekiranya engkau
memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai
yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti
gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti" (Yes 48:17-18), demikian
kata-kata penghiburan Yesus yang penuh pengharapan. Kita diharapkan melakukan
apa yang berfaedah bagi kesejahteraan dan kebahagiaan kita, yaitu senantiasa
memperhatikan dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan. Perintah-perintah Tuhan
di dunia ini antara lain menjadi nyata dalam aneka tatanan dan aturan hidup
bersama, entah yang di jalanan, rumah tangga, tempat kerja maupun masyarakat
pada umumnya. Dalam berbagai sarana-prasarana, misalnya kendaraan, juga terdapat
aturan atau petunjuk bagaimana merawat dan memfungsikan kendaraan, agar pengguna
selamat dan bahagia. Di jalanan dan di tempat kerja juga ada aturan dan petunjuk
yang harus ditaati dan dilaksanakan. Dst.. Jika kita dapat mentaati dan
melaksanakan aturan atau petunjuk yang jelas dan duniawi tersebut dengan baik,
maka kita akan terbantu untuk mendengarkan dan mentaati perintah-perintah Tuhan.
Marilah kita taati dan laksanakan aneka aturan, petunjuk atau tatanan yang
terkait dengan keberadaan kita, entah di jalanan, tempat kerja, tempat rekreasi,
di rumah dst Kami berharap pada  mereka yang berpengaruh  dalam hidup dan kerja
bersama dapat menjadi teladan dalam hal mentaati dan melaksanakan aneka aturan,
tatanan atau petunjuk. Secara khusus kami berharap pada orangtua atau bapak-ibu
dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya di dalam keluarga, karena pengalaman
yang diperoleh dalam dan melalui keluarga merupakan modal dan kekuatan untuk
hidup bersama di masyarakat. Kita semua mendambakan kesejahteraan dan
kebahagiaan sejati, maka marilah kita saling mengingatkan dan membantu dalam hal
mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan serta petunjuk, sebagai
`terjemahan perintah-perintah Allah'.

"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak
berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu
siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang
menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang
diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang
ditiupkan angin" (Mzm 1:1-4).

Jakarta, 11 Desember 2009

#12454 From: "Suhadi M." <ha812dian@...>
Date: Thu Dec 10, 2009 2:36 am
Subject: Mendalami Kitab Bilangan : Umat Yang Sedang Pindah (11/13)
ha812dian
Offline Offline
Send Email Send Email
 

******************************************
Silakan Ikuti Pelajaran Alkitab "Temukanlah"
Terdiri dari 26 pelajaran dengan seorang pembimbing untuk Anda. GRATIS!
(Pelajaran dikirim secara pribadi, tidak lewat milis ini)
Silakan daftar ke : admin@dianweb.org . Sertifikat bagi yang tamat.
Bergabunglah dengan ratusan pelajar lainnya !
****************************************************

Program"Kabar Baik" on air
Radio Heartline 100.6 FM setiap hari Senin pk 20.00-21.00  
Kesehatan : setiap hari Minggu ke 1, 3, dan 5 : pk 07.00--08.00

Club Sehat
Klub khusus untuk orang-orang yang mengidap kanker, mengajarkan pola hidup sehat untuk bertahan dan melawan kanker,
kesaksian pribadi dan renungan kekuatan dari Firman Tuhan. Setiap Sabtu pk 16.00-18.00 di Cideng - Jakarta Barat.
Keterangan lebih lanjut hubungi (021) 91-300-234 atau 912-63363.

 

 

OKTOBER—DESEMBER 2009

Pelajaran 11 Kwartal 4, 5 - 12 Desember 2009

Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra

 

Immortalitas di Perbatasan

 

“Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, s

ehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.”(1 Cor. 10:8, NKJV).

  

Sabbath

5 DESEMBER

Bilangan 25

1 Raja 1-10; 11:1-13

Pendahuluan

Kebangkitan dan Kejatuhan Raja Salomo

 

 

 

 

Pada waktu Salomo mulai bertakhta, dia mengakui kekuasaan dan kebijaksanaan Allah.  Pada waktu Allah datang ke Salomo dan meminta apa yang diinginkannya, dia meminta satu hal yang tidak ada raja sebelum dan sesudahnya lakukan—Kebijaksanaan.  Tuhan mengabulkan permintaannya dan memberkatinya lebih dari yang dimintanya karena dia telah meminta satu hal yang akan membawa kemuliaan dan kehormatan bagi Allah.  Dalam peristiwa itu, kita melihat Salomo merendahkan dirinya dan mengakui keinginannya untuk melayani Allah dan ketidak mampuannya untuk melakukannya tanpa bantuan Allah.

Untuk sementara waktu, tidak ada yang dilakukan Salomo tanpa berkonsultasi dengan Allah.  Orang memandangnya sebagai orang yang murah hati dan penguasa yang luar biasa.  Bangsa-bangsa disekelilingnya terkagum-kagum akan kesuksesannya.  Mereka bahkan datang kepadanya untuk belajar kenapa dia sedemikian suksenya, dan pada awalnya, dia menyatakan ini adalah berkat Tuhan dari sorga.  Jadi, dia dapat menjadi saksi bagi Allah.

Tetapi Salomo, menjadi sombong akan pencapaiannya dan mulai percaya bahwa dengan kemampuannya sendiri yang menyanggupkan dia mendapatkan semuanya dan karenaya layak untuk mendapatkan pujian.  Kesombongan dan kepercayaan inilah yang mengakibatkan kejatuhannya.  “Dalam mencari cara untuk memuliakan dirinya sendiri dihadapan dunia, dia menjual kehormatan dan integritasnya . . . .. . .  . Hati nurani, roh yang penuh pertimbangan yang menjadi cirinya dalam berhadapan dengan bangsanya pada awal pemerintahannya, sekarang berobah.  Dari penguasa yang bijaksana dan penuh belas kasihan, dia turun menjadi seorang tiran.”*  Dia juga mengawini banyak wanita dari berbagai bangsa yang tidak menyembah Allah.  Sebagai akibatnya, dia kehilangan pandangan akan Allah yang Hidup yang memberikan segalanya kepadanya.  Sayang sekali dia telah menjadi seperti nenek moyangnya

Sementara anda mempelajari tentang ketidak patuhan anak-anak Israel minggu ini, tanyai dirimu sendiri apakah kita menjalani jalan yang sama saat ini:  Apakah kita menyalah gunakan karunia yang diberikan Allah yang dimaksudkan untuk membuat kita lebih dekat kepada Allah?

____________

*Prophets and Kings, pp. 55, 56.

 

Samba Chiseya, Cape Town, South Africa


Minggu

6 DESEMBER

 

Logos

Sedemikian Dekat tapi masih Jauh

Bilangan 25; 31;

Ulangan. 21:10–14;

1 Kor. 10:1–14;

Wahyu. 2:14

 

 

Terbujuk Melanggar oleh Wanita Asing (Bilangan 25)

 

Bangsa Israel mulai berzinah dengan anak-anak perempuan Moab.  Wanita Midian mempengaruhi pria Ibrani untuk menyembah Baal peor.  Hal ini membuat Allah marah terhadap orang Israel.  Setelah diperintahkan oleh Allah, Musa mengatakan kepada para hakim Israel untuk membunuh para pria yang bergabung dengan Baal-peor dan mengantung kepala mereka diterik matahari agar kemarahanNYA dapat dipadamkan.  Sebagai akibatnya duapuluh empat ribu orang mati.

Sementara anak-anak Israel menangis di pintu mezbah, Zimri membawa PSK Midian ke kemah didepan Musa dan orang ramai.  Pinehas bangkit dan mengambil tombak dan menombak Zimri dan PSK Midian tersebut.  Karena Pinehas telah berani membela Allah, dia menerima perjanjian damai.  Kemarahan Allah reda dan berpaling dari anak-anak Israei.

Kombinasi dosa perzinahan dan berhala di Bilangan 25 terjadi karena Ide Bileam (lihat Bil. 31:16; Wahyu 2:14).  Bileam yang sama yang telah memberkati orang Israel yang telah ada disisi mereka.  Adalah amat mudah melihat bagaimana orang Israel telah dibelokan, karena Bileam tampaknya telah mengatakan dan melakukan hal yang baik . . . . . . . . Sampai Bileam melakukan hal yang merusak mereka, barulah orang Israel menyadari dia tamak dan menggunakan guna-guna, dan ikut serta  dalam praktek agama kekafiran.  Kita mesti berhati-hati untuk menimbang kata-kata dan kelakuan yang mengatakan dapat memberikan bantuan rohani.1

 

Orang Midian Dikalahkan Bangsa Israel (Bilangan 31)

Seribu pria dipilih dari setiap 12 suku Israel untuk berperang dengan orang Midian.  Orang Israel membunuh semua pria Midian dan juga lima rajanya.  Mereka menangkap wanita dan anak-anak, bersama-sama lembu dan ternak mereka.  Mereka juga menghancurkan kota-kotanya.  Musa menjadi marah kepada mereka karena telah menyelamatkan para wanita yang telah mengakibatkan anak-anak Israel menyembah Baal-peor.  Dia dia memerintahkan setiap anak laki-laki dan wanita yang belum kawin untuk dibunuh.

Dia juga memerintahkan orang Israel jika mereka membunuh orang atau menyentuh mayatnya, mereka mesti tinggal diluar perkemahan selama tujuh hari untuk memurnikan diri mereka pada hari ketiga dan ketujuh.  Mereka juga mesti menyucikan semua perlengkapan dan semua yang terbuat dari kulit dan rambut kambing, dan juga segala sesuatu yang terbuat dari kulit dan kayu.  Hanya dengan itu saja mereka bisa menjadi suci dan mengizinkan mereka kembali ke kemah.

Saat ini, hal seperti itu tampak amat kejam dan bahkan barbarik.  Tetapi, “bila kita menemukan dosa dalam hidup kita, kita mesti menghabisinya secara total.  Pada waktu orang Israel kemudian memasuki Tanah Perjanjian, ketidak pekaan mereka terhadap dosalah yang akhirnya membuat mereka hancur.  Musa menghadapi dosa dengan tegas dan secara menyeluruh.  Apabila Allah menunjukan dosa, langsunglah bergerak untuk mencampakannya dari hidupmu2

Jangan Biarkan Sejarah Berulang (1 Kor. 10:1–14)

Bangsa Israel akan segera mengambil alih tanah yang Allah telah janjikan kepada Abraham berabad-abad sebelumnya.  Mereka dituntun oleh tangan Allah yang mahakuasa, dan karenanya dijamin sukses karean Allah tidak pernah bisa dikalahkan. Bagian mereka hanyalah membiarkan Allah membantu mereka menjadi umat yang suci.  Tetapi, tingkah laku mereka dan kerinduan mereka mengalahkan mereka sendiri.  Berhala dan perzinahan menghancurkan mereka.

Kita berada diperbatasan Tanah Perjanjain Sorga.  Karenanya, marilah kita belajar dari kesalahan yang dibuat bangsa Israel agar kita tidak jatu ke lobang yang sama.

 

REAKSI:

1. Tingkah dan motif apa yang menyebabkan orang Israel ambil bagian dalam penyembahan berhala dan perzinahan?  Bagaimana tingkah dan motif ini berlaku saat ini di gereja dan masyarakat?  Apa yang dapat kita lakukan untuk hal ini?

2. Langkah apa yang dapat kita ambil agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama?

____________

1. New International Version: Life Application Study Bible (Wheaton, Ill.: Tyndale House, 1997), p. 259.

2. Ibid., p. 267..

 

Solwazi Khumalo, Pretoria, South Africa


 

Text Box: Senin

7 DESEMBER

 

Kesaksian

Berdiri Tegak Seperti Pemberani

1 Kor. 10:11−13

 

“Adalah pada waktu orang Israel berada dalam kondisi kemudahan dan keamanan, mereka terperosok ke dalam dosa.  Mereka gagal membuat Allah selalu di depan, lupa berdoa dan memupuk roh pemuasan diri sendiri.  Kemudahan dan roh pemuasan diri membuat jiwa tidak terlindungi, dan pemikiran yang aneh-aneh menemukan jalan masuknya.  Penghianat dalam dinding yang mencampakan prinsip teguh dan menghianati orang Israel kedalam kuasa setan. Setan masih tetap berusaha menjatuhkan banyak jiwa.  Suatu proses persiapan yang lama, tak dikenal dunia, berlanjut di dalam hati sebelum sebelum orang Kristen melakukan dosa.  Pikiran kita tidak tiba-tiba turun secara mendadak dari kesucian dan kemurnian kepada keadaan yang jahat dan  tak bermoral.  Perlu waktu untuk menurunkan derajat yang diciptakan dalam rupa Allah kearah kebrutalan.  Dengan memupuk pikiran yang tidak murni manusia dengan demikian mendidik pikirannya bahwa dosa yang sebelumnya dibencinya akan menjadi suatu kesukaan baginya.”1

Dosa orang Israel di Baal-peor membuat Allah memberikan penghakiman kepada mereka, dan walaupun dosa yang sama tidak secepat itu dihukum saat ini, tapi hal itu pasti akan mendapatkan balasannya.  ‘Jika manusia mengotori Bait Allah, akan dimusnahkan Allah’. (1 Kor. 3:17).    Allah telah menyiapkan hukuman mengerikan akan kejahatan ini—hukuman yang cepat atau lambat, akan diterima setiap orang yang melanggar.  Dosa-dosa inilah lebih dari yang lain yang telah mengakibatkan penurunan generasi mengerikan bangsa kita, dan timbanglah penyakit dan kesulithan yang diakibatkannya.”2

“Kita mesti berpegang kepada pengaruh Roh Kudus, yang akan membawa pikiran keatas, dan mengakibatkan kebiasaan kita berpegang pada hal-hal yang murni dan suci.  Dan kita mesti mempelajari firman Allah lebih giat lagi.”3

 

REAKSI

Teman kelasmu mengkonfrontasi anda dengan ide bahwa semua orang tampaknya telah melakukan seks pra-nikah, jadi kenapa anda mesti bertindak berbeda?  Apa nasehat anda?

____________

1. Patriarchs and Prophets, p. 459.

2. Ibid., p. 461.

3. Ibid., p. 460.

Teclah P. Khumalo, Pretoria, South Africa


SS

 
Selasa

8 DESEMBER 8

 

1 Kor. 10:8

Bukti

Dengan Berpegang Kita Bisa Berobah

 

Buku Bilangan dimulai dengan perintah Tuhan untuk mensensus orang Israel sesuai dengan sukunya untuk persiapan menduduki Kanaan.  Beberapa hal yang digaris bawahi dalam buku ini termasuk pemeriksaan Tanah Perjanjian oleh 12 orang pengintai, pemberontakan Korah, Dathan, dan Abiram, perzinahan orang Israel; dan ular yang ganas.  Minggu ini, kita berfokus pada perzinahan dengan orang Moab.

Walaupun cerita dosa orang Israel di Sitim sudah lama terjadi, kita dapat belajar dari kegagalan mereka diperbatasan Tanah Perjanjian, karena kita berada diperbatasan Kanaan sorgawi. Sayangnya Setan berhasil mencegah orang Israel masuk ke Tanah Perjanjian dengan mengumpani mereka tindakan imoralitas seksual dengan orang Moab.  Demikian pula, orang Advent saat ini menghadapi bahaya memakan umpan melakukan dosa yang mencegah mereka memasuki sorga.

Di perkemahan Sitim, hanya sungai Yordan yang memisahkan orang Israel dan Kanaan.  Kepastian kehadiran Allah terlihat dalam bentuk tiang awan dan api pada malan hari.  Jadi kenapa mereka tidak mempunyai iman untuk menyeberang?

1.        Mereka hidup dalam “Kemudahan dan keamanan.”1   Mereka “mengabaikan Tuhan dan memupuk roh percaya diri.

2.       Mereka membentuk persahabatan dengan orang sekitarnya, yang akhirnya memperlemah moralitas dan mengakibatkan kejatuhan mereka.

Umat Allah saat ini menghadapi bahaya yang serupa.  Banyak tanda-tanda yang menunjukan segeranya kedatangan Tuhan telah digenapi.  Seberapa banyak lagi kita perlu belajar dan berdoa?  Kita tidak selalu sadar akan perangkap yang disiapkan setan.  Karenanya, kita tidak boleh mempercayai diri sendiri (1Kor. 10:12).  Tetapi Yesus telah menjanjikan keamanan bagi yang berdoa dan berjaga (Mat. 26:41).  Akan ada masanya pada waktu Allah akan memusnahkan dosa dan orang yang berpegang padanya.  KasihNYA, tentu saja, akan mengelilingi mereka yang telah menerima hadiah keselamatanNYA.  Marilah kita berdoa tanpa berkesudahan (1Tes. 5:17).

 

REAKSI

What are ways the Bible gives us for resisting temptation?.   Cara-cara apa yang diberikan Alkitab untuk menolah pencobaan? Fil. 4:8; Maz. 119:9, 11; Yakobus 4:7, 8

____________

1. Patriarchs and Prophets, p. 459.

2. Ibid.

 

Lucile Nonhlanhla Mlalazi, Cape Town, South Africa

 


Rabu

9 DESEMBER

 

Bagaimana

Berdiri Ditengah Kemurtadan

 

Bilangan. 25:1, 2; Yakobus 4:4

 

Setelah suatu perjalanan yang sulit anak-anak Israel akhirnya sampai diperbatasan Tanah Perjanjian.  Hanya sedikit saja tersisa khayalannya.  Pemandangan dataran yang menghampar dan pandangan yang menakjubkan dari berbagai jenis tanaman telah menginspirasi mereka untuk menuntut Tanah Perjanjian Allah.  Sayangnya, mereka mengizinkan diri mereka ditangkapa oleh skema setan.

Sama seperti orang Israel, Setan juga akan menggoda kita untuk mengomel, berkeluh kesah, dan meragukan kebaikan Allah.  Apabila segala sesuatu yang telah disiapkannya bagi kita berada didepan mata, sementara kita berada di perbatasan kanaan sorgawi, kita, juga, mempunyai risiko untuk melakukan hal yang sama.

Untuk memastikan bahwa kita termasuk diantara yang sampai dengan selamat di Kanaan sorgawi, setiap kita perlu untuk berdoa sungguh-sungguh untuk membuat kita selalu siaga terhadap setan dengan mengenakan segenap persenjataan iman.  Karena melalui sifat kecil setan dapat merajut jaringan jahatnya, adalah penting bagi kita untuk tetap waspada.  Tiga langkah berikut akan membantu kita melakukannya.

Hindari menganggur.  Adakalanya kita meninggalkan hal-hal sorgawi dan pikiran kita jadi menganggur.  Hal ini mungkin merupakan hasil dari berbagai umpan duniawi yang melintas didepan kita.  Indera kita menjadi tumpul terhadap hal-hal sorgawi.  Filipi 4:8, Paulus mendorong kita untuk memikirkan semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Hindari kejahatan.  Dosa mengelilingi kita setiap hari.  Tetapi, kita tidak dapat menggunakan hal ini sebagai alasan untuk memaafkan diri bila dikuasai sijahat.  Yohanes 17:15, Yesus berdoa agara kita dilindungi dari pada yang jahat.

Ambil Tindakan terhadap dosa.  Dosa berusaha untuk tinggal di antara kita. Berusahalah sebisa mungkin untuk  menjauh dari dosa. Sekali dia bercokol, akan sulit mengusirnya.  Dalam Yohanes 8, Kritus memberikan teladan bagaimana menghadapi dosa. 

Dosa bukanlah hanya melakukan sesuatu yang salah.  Motif dan kerinduan yang mengakibatkan kita berdosa juga adalah hal yang jahat.  Kristus menawarkan untuk membersihkan kita dari motif dan kerinduan jahat ini.  Daud menawarkan doa yang tertulis di Mazumr 51, meminta Allah mencipta ulang.

 

REAKSI

Penghancuran orang Midian amat luas dan menyeluruh.  Apa signifikansinya bagi kita?

 

Sincengani Mabhena Ncube, Pretoria, South Africa


Kamis

10 DESEMBER

 

Yudas 17−22

Pendapat

Tak Banyak Yang Telah Berubah

 

 

Orang Israel mempunyai masalah bebas dari immoralitas seksual dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian.  Dengan setiap tempat, dengan setiap pria dan wanita yang baru, kebiasaan baru, dan alat baru, orang Israel tampakyna tidak bisa menahan diri.  Walaupun mereka hidup beribu tahun lalu, apakah kita mempunyai banyak perbedaan dibanding mereka?  Perhatikan sekelilingmu dengan seksama—pemimpin agama dimasukan ke penjara karena pelecehan seksual, para pendeta mengakui kecanduan pornografi; para anggota gereja secara rahasia bergumul dengan dosa tersembunyi.  Kita tidak kebal terhadap dosa.

Buku Yudas memberikan perspektif menarik tentang bagaimana melawan imoralitas dengan kasih karunia Allah.  Pada waktu dulu, terdapat orang yang menyesatkan kasih karunia Allah dengan memberikan umpan kepada orang percaya untuk meyakini bahwa mereka boleh melakukan dosa karena Allah telah menyelamatkan mereka.  Tetapi sebaliknya, justru  karena kita telah diselamatkan maka tidak ada tempat bagi imoralitas dalam hidup kita.  Pertahanan kita yang terus menerus terhadap perangkap yang diletakan Setan adalah dengan membungkus diri kita sendiri dengan persenjataan Allah.  Bagi orang percaya, konsep itu bukanlah hal yang baru.  Tetapi, apakah kita menanggapinya secara serius?

Yudas 17—23 mengatakan, “Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.  Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: "Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka."  Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.  Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.  Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.  Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

Kita tidak sendiri dalam pergumulan untuk tetap pada jalan yang benar.  Seperti orang Israel sebelum kita, kita berdosa dan mempunyai kekurangan dari rencana Kristus bagi kita.  Syukurnya, penebusan dan arahnya telah tersedia untuk kita ambil?

 

REAKSI

1. Apakah baru-baru ini adalah skandal dalam lingkung Kristen yang anda ketahui yang benar-benar mengejutkanmu?  Bagaimana reaksimu terhadapnya?

2. Terpisah dari menyiapkan diri dengan persenjataan Kristus, apalagi yang dapat kita lakukan untuk tetap berada dalam kemurnian moral?

 

Wilona Karimabadi, Ellicott City, Maryland, U.S.A.


Jum’at

11 DESEMBER

 

Eksplorasi

Sekali lagi Diperbatasan

1 Kor. 10:6–11

 

KESIMPULAN

Anak-anak Israel duduk diam ditepi Tanah Perjanjian.  Selama 40 tahun, mereka telah bersiap untuk kejadian ini, merindukan pemenuhan akan perjanjian ini.  Dalam keputus asaan, Satan melancarakan serangan terakhirnya dan hampir saja mendapatkan hasilnya dari mereka.  Cerita keterbujukan perzinahan rohani kepada imoralitas dan berhala telah didokumentasikan untuk memperkuat kita yang telah berdiri ditepi kekekalan.  Dengan Kanaan Sorgawi dalam pandangan, kita dapat belajar dari kesalahan dan kelemahan orang Ibrani dan menjaga diri kita sendiri melawan penggodaan yang sama yang pasti akan datang.

 

RENUNGKAN

·         Periksalahan informasi seks pra-nikah di Internet dan bersungguh-sungguh berdoa dan merenungkan “keuntungan Absen melakukannya” dan “strategi dan pedoman” yang tertulis di situs tersebut.  Buatlah daftarmu sendiri untuk alasan kenapa anda memilih untuk menyelamatkan dirimu sendiri secara fisik bagi seseorang yang anda nikahi.

·         Tuliskankan kembali Bilangan 25 dengan setting zaman moderen.  Bagaimana bujuk rayu dan berhala rohani terlihat saat ini?

·         Pintalah seseorang dalam kelasmu untuk berbagi kenapa mereka memilih untuk tetap perawan sampai menikah dan kenapa mereka tidak menyesal akan pilihan tersebut.

·         Tulislah suatu syair tentang kerinduanmu untuk menghormati Allah dengan tubuh dan rohmu.

·         Buatlah diagram immoralitas orang yang mengikuti jejak Yesus dan bagaimana Dia memperlakukan mereka.

·         Diskusikan pernyataan berikut di klas Sekolah Sabatmu atau kelompok diskusi Alkitab: “Dosa adalah pemenuhan kehendak dengan cara yang salah dari kerinduan yang sah.”  Bagaimana konsep ini dihubungkan dengan imoralitas seksual?  Bagaimana caranya kita mempunyai sikap yang sehat terhadap karunia Seks yang Allah berikan dan masih tetap menentang penyalah gunaannya?

 

HUBUNGKAN

Dannah Gresh, And the Bride Wore White: The Seven Secrets to Sexual Purity;

P. Roger Hillerstrom, Intimate Deception: Escaping the Trap of Sexual Impurity;

Elizabeth Elliott, Passion and Purity.

 

Sonia Huenergardt, Bishop, California, U.S.A.


#12453 From: "dianasihotang.poenya.web" <dianasihotang.poenya.web@...>
Date: Thu Dec 10, 2009 1:42 am
Subject: NYANYI2 yukkk...k - Thursday / 10dec09
dianasihotang.poenya.web@...
Send Email Send Email
 
untuk semuanya, HORAS, PAGI BAIK dan SYALOM kembali tentunya!

bagi mereka yang,
* ber-Ulang Tahun, SELAMAT ULANG TAHUN yaaa...
* memulai berkarya, TETAP SEMANGAT & SELAMAT BERKARYA untuk hari ini...
nnnn...
* JANGAN PERNAH LUPA bahwa KESUKSESAN selalu untuk teman/sahabat semuanya...!?

Masa ADVEN adalah Masa Penantian kita bagi MESIAS. Banyak perkara pada diri kita SUDAH dan MASIH terjadi untuk menyambut PENANTIAN tersebut!
Bagi teman/sahabat yang saat ini dalam keadaan ter-'cengkeram' dalam masalah, apapun itu, kiranya pujian hari ini menambah kekuatan dan terang...
Semoga!


HALLELUJAH!

Jesus always blesses you all...

~*~*~*~*~




(1) Maha terpuji ALLAH-ku
IA lepaskan kita
Dari kuasa seteru
Dan segenap derita
Tanda selamat diberi
Membuat wajah berseri
MESIAS akan datang!
Kini terkabul dan genap
Janji nubuat Alkitab
Yang lama didambakan

(2) Yang dalam nista tercengkram
Akan dibebaskannya
Janji-NYA pada Abraham
Kini menjadi nyata
Umat-NYA bersejahtera
'kan beribadah pada-NYA
dan hidup bagi DIA
Nabi Yohanes, kau seg'ra
'kan meratakan jalan-NYA
SANG RAJA yang mulia!

(3) Agar umat-NYA mengerti
Hidup kekal sentosa
Yang Maha kasih memberi
Rahmat ampunan dosa
SANG SURYA PAGI t'lah dekat!
Orang yang jalannya gelap
Melihat cahaya-NYA
Kita tak lagi bersedih
Tapi berjalan ke neg'ri
Yang damai selamanya!

~*~*~*~*~

salam kasih hangat & persahabatan untuk Anda,


peace & love
~ds/dianasihotang
><><><><><><><><><><><><><><><><><
IM = dianasihotang
private mail = dianabrsihotang@...
><><><><><><><><><><><><><><><><><

#12452 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Wed Dec 9, 2009 2:41 pm
Subject: Resensi Buku: KNOWING GOD (Prof. J. I. Packer, D.Phil.)
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 

…Dapatkan segera…

 

 

 

 

Buku

KNOWING GOD:

TUNTUNAN PRAKTIS UNTUK MENGENAL ALLAH

(Dilengkapi Panduan Studi Pribadi dan Diskusi Kelompok)

 

oleh: Prof. James Innell Packer, D.Phil.

 

Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta, 2008

 

Penerjemah: Johny The

 

 

 

 

 

Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:

Dunia kita adalah dunia postmodern yang ditunggangi oleh spirit relativisme dicampur mistisisme ala Gerakan Zaman Baru yang tidak lagi mementingkan Kebenaran hakiki, namun menekankan kebenaran subyektif dan relatif. Gejala ini ternyata memengaruhi Kekristenan sehingga mayoritas orang Kristen yang beres sudah beralih dari percaya kepada Allah dengan sungguh-sungguh menjadi percaya kepada Allah dengan konsep yang kacau. Lalu, bagaimana kita bisa kembali kepada iman Kristen yang beres? Dengan bahasa yang mudah dimengerti, Prof. James Innell Packer, D.Phil. di dalam bukunya Knowing God mengajak kita kembali kepada iman Kristen yang beres dengan kembali mengenal Pribadi Allah dengan konsep Alkitabiah. Buku ini dibagi menjadi 3 bagian: Mengenal Allah, Lihat Allahmu!, dan Jika Allah Di Pihak Kita. Di awal bab buku ini (di bagian pertama), Dr. Packer membedakan dua hal: mengenal Allah vs mengenal tentang Allah. Mengenal tentang Allah adalah sebuah tindakan mengenal Allah secara kognitif, namun mengenal Allah adalah sebuah tindakan mengenal Allah secara menyeluruh. Dari konsep ini, Dr. Packer membawa kita menyelusuri konsep Pribadi Allah: Allah Tritunggal, Inkarnasi Allah, dan Saksi Allah (Roh Kudus). Di bagian kedua buku ini, Dr. Packer membawa kita sebagai pembaca untuk menelusuri lebih tajam dan dalam lagi tentang Pribadi dan karya Allah, mulai dari ketidakberubahan Allah, keagungan Allah, bijaksana Allah, hikmat Allah, firman Allah yang adalah Kebenaran, kasih Allah, kasih karunia Allah, Allah sebagai Hakim, murka Allah, kemurahan dan kekerasan-Nya, dan juga kecemburuan Allah. Di dalam bagian kedua ini, berbagai topik iman Kristen orthodoks dibahas yaitu tentang predestinasi, keselamatan, dll. Kemudian, di bagian terakhir, Dr. Packer membahas tentang Injil, doktrin adopsi, tuntunan Allah, hambatan-hambatan kita mengenal Allah dengan konsep yang benar, dan kecukupan Allah. Di bagian akhir buku ini disediakan panduan studi pribadi dan diskusi kelompok untuk mereview ke-22 bab buku Dr. Packer ini.

 

 

 

 

Apresiasi:

“Kebenaran yang dibawanya membakar hati. Setidaknya kebenaran itu membakar saya dan memaksa saya memilih untuk menyembah dan berdoa.”

Rev. Dr. John Robert Walmsley Stott, C..B.E.

(Pendeta di the Church of All Souls, Langham Place, U.K.)

 

“Buku ini makanan yang keras. Membaca dan mencernanya merupakan pengalaman tak terlupakan bagi pembaca yang bijaksana.”

Church Times

 

“Dr. Packer berkemampuan langka untuk berhubungan menyeluruh dengan kebenaran spiritual dasar dalam tataran praktik. Kemampuannya makin langka karena hal itu diluangkan dalam tulisan yang menarik. Buku ini akan membantu setiap pembaca memahami lebih tepat salah satu kebenaran terbesar Alkitab: kita dapat mengenal Allah secara pribadi karena Allah menginginkan kita mengenal-Nya.”

Rev. Dr. William F. (Billy) Graham

(Penginjil internasional)

 

“Memang banyak buku lain yang membahas keinginan, kehidupan, atau pencarian akan Allah. Namun Knowing God mengupasnya dengan sederhana dan terbaik.”

Joni Eareckson Tada

 

“Dengan hati gembala, pemahaman theolog, dan perasaan nabi, J. I. Packer membawa pembaca bertemu Allah yang hidup.”

Charles Cholson

 

 

 

 

 

 

 

Profil Dr. J. I. Packer:

Prof. James Innell Packer, D.Phil. yang lahir di Gloucester, Inggris, 22 Juli 1926 adalah Board of Governors’ Professor of Theology at Regent College di Vancouver, Canada. Beliau juga adalah kontributor dan editor eksekutif majalah Christianity Today. Beliau juga terlibat sebagai salah satu yang menandatangani Chicago Statement on Biblical Inerrancy yang menegaskan ketidakbersalahan Alkitab. Selain itu, beliau juga melayani sebagai editor umum Alkitab English Standard Version (ESV). Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.); Master of Arts (M.A.); dan Doctor of Philosophy (D.Phil.) di Corpus Christi College, Oxford University, U.K. Buku-buku yang pernah beliau tulis, di antaranya:

·                Fundamentalism and the Word of God (1958; reprinted 1984)

·                Keep In Step With The Spirit: Finding Fullness In Our Walk With God (1984, dicetak ulang 2005)

·                Knowing God (1973, dicetak ulang 1993) ISBN 0-8308-1650-X

·                Evangelism and the Sovereignty of God (1961 by Inter-Varsity Fellowship) (dicetak ulang 1991)

·                A Quest for Godliness: The Puritan Vision of the Christian Life (1994)

·                Concise Theology: A Guide to Historic Christian Beliefs (2001) 

·                One Faith: The Evangelical Consensus bersama Thomas Oden (2004)

·                Collected Shorter Writings in four volumes

·                The Redemption and Restoration of Man in the Thought of Richard Baxter (2003, berdasarkan disertasi beliau di Oxford pada tahun 1954)

·                Christianity: The True Humanism bersama Thomas Howard (1985)

 


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!

#12451 From: MANG UCUP <mang.ucup@...>
Date: Wed Dec 9, 2009 1:28 pm
Subject: GOd vs GOogle ! - Bag. 3/3
mangucup88
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Seperti yang saya uraikan dalam tulisan sebelumnya, bahwa Allah itu
memiliki tiga atribute yang lebih dikenal dengan -Three Os Atribute-
ialah:
1. Omnipotence = Maha Kuasa
2. Omnisience = Maha Mengetahui
3. Omniprecence = Maha Hadir
tetapi tanyalah sama diri sendiri apa manfaatnya bagi saya secara
pribadi, apabila saya mengetahui bahwa Allah itu Maha Kuasa, Maha
Mengetahui ataupun Maha Hadir. Tidak Ada!

Sama seperti juga apabila kita memiliki seorang ayah yang memiliki
jabatan tinggi, kekuasaan, maupun kekayaan yang berlimpah ruah, bahkan
gelar yang berderet, tetapi tidak memiliki rasa kasih. Ia bukanlah
ayah saya! Tanyalah sama diri sendiri, apakah Anda mengasihi ayah
Anda, karena kekayaan atau jabatannya? Saya yakin tidak ! Saya pribadi
lebih mengutamakan ayah yang memiliki penuh rasa kasih; daripada
seorang ayah yang super kaya maupun super kuasa, tetapi tidak memiliki
rasa kasih sama sekali.

Hal inilah yang banyak dilupakan orang, bahwa Allah juga memiliki
atribute lainnya yang menurut saya jauh lebih penting daripada ketiga
atribute tersebut diatas ialah: - OMNIBEVOLENCE  Allah itu Maha Baik
dan Maha Pengasih maupun Maha Penyayang (Ar-Rahim & Ar-Rahman).

Hal ini yang tidak dimiliki oleh komputer/Google. Maka dari itu
bagaimana maju maupun hebatnya komputer, hingga kapanpun juga ia tidak
akan bisa memiliki perasaan, karena komputer adalah benda mati tanpa
jiwa. Komputer tidak akan bisa menjadi Omibevolence  Ar-Rahim &
Ar-Rahman, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Komputer hanya tertarik
akan duit kita, no money no computer !

Kita mengetahui dan juga pernah merasakan maupun menerima berkat dari
Allah yang berlimpah di dalam kehidupan ini, tetapi kenyataannya kita
lebih mengutamakan dan lebih mementingkan komputer daripada Allah,
bahkan kita mau diperbudak oleh Facebook.

Kita tidak bisa menyembah dan mengabdi kepada dua illah, Allah dan
berhala (komputer); Tuhan dan Hantu. Hal inilah yang mendorong saya
untuk menulis artikel ini dimana mulai hari ini saya tidak mau
dibelenggu atau diperbudak lagi oleh Facebook, Twiter, ataupun
Friendster. Dan tanyalah apakah kagak capek tuh ngurusi Facebook terus
menerus? Hal inilah yang mendorong Mang Ucup menyatakan talak tiga
alias Farewell Facebook, sehingga dengan mana semua message yang
dikirim ke Facebook ataupun Twitter untuk Mang Ucup, tidak akan
digubris lagi oleh saya.

Saya mengakui, bahwa saya memiliki hobby baca maupun menulis, tetapi
mulai hari ini saya pribadilah yang menentukan kapan saya nulis
ataupun baca bukannya ditentukan oleh Facebook, Gmail ataupun Yahoo.
Saya ingin lebih banyak meluangkan waktu untuk mendekatkan diri kepada
Allah daripada kepada komputer.

Karena kasih-Nya Tuhan telah bersedia mengorbankan Putera-Nya. Tuhan
Yesus yang telah dilahirkan menjadi manusia, untuk menyelamatkan umat
manusia. Ia dilahirkan dipalungan kandang sapi s/d akhirnya Ia disalib
khusus untuk menebus dosa-dosa kita. Maka dari itu perayaan Natal ini
sebenarnya adalah hari perayaan untuk mengingat betapa besarnya Kasih
Allah.

Tuhan Yesus bisa menerima Mang Ucup yang penuh dosa dan segala
kekurangan saya. Ia mau menerima saya apa adanya, bahkan mau menebus
semua dosa-dosa saya. Hanya sayangnya mang Ucup tidak bisa melihat
maupun menyadari kasih yang sedemikian besarnya ini. Boro-boro bisa
menyadari, menghargai saja tidak.

Hal ini bisa dilihat dari prilaku saya sendiri, dimana kenyataannya
saya lebih banyak mengabdi dan lebih banyak meluangkan waktu untuk
komputer/Google daripada untuk Tuhan. Bahwa Allah itu Omnibevolence 
Maha Pengasih; bukanlah sekedar slogan kosong, karena kita semua telah
dapat merasakan anugerah maupun rasa kasih-Nya yang maha besar.

Sesuai dengan lirik dari lagu Joy Tobing: Allah itu Kasih
Dari-Mu Yesus, Tuhan
Kurindu semua yang Kau lakukan
Membuat dunia mengerti
Kau menunjukkan Allah itu kasih

Yang menjadi pertanyaan apakah kita bisa menghargai Kasih-Nya? Apakah
kita berada didalam Kasih-Nya? Kita telah mengenal dan telah percaya
akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih dan barangsiapa tetap
berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di
dalam dia. (1Yoh 4:16)

Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com
Homepage: www.mangucup.org

#12450 From: Batak Muda Worship <batakmudaworship@...>
Date: Wed Dec 9, 2009 9:21 am
Subject: NATAL bersama BatakMudaWorship
batakmudaworship@...
Send Email Send Email
 
HORAS dongans milis Fordian,


NATAL sudah dekat! Nuansa dan suasana NATAL sudah bisa kita rasakan dimana-mana, bagaimana persiapan para dongans? Bagi yg bermudik ke kampung halaman, jangan berkecil hati karena tidak bisa merayakan NATAL bersama teman-teman Batak SeJabodetabek yaaa ... tapi bisa gabung dengan kami, BatakMudaWorship (BMW) loooohhhh ... !

Acara NATAL BMW akan dibuat dengan tema "... karna Ku cinta Kau ... " [Yoh.3:16] dan mengangkat unsur "BERBAGI KASIH NATAL" untuk penggalangan dana bagi Panti Asuhan Yayasan Bersinar [terlampir dibawah adalah profile Panti Asuhan Bersinar], mereka sedang berupaya mengumpulkan dana untuk pembelian dan renovasi tempat yang layak untuk adik-adik kita di Panti Asuhan, tempat mereka yang sekarang ini masa kontraknya akan berakhir pada
06 Januari 2010, namun telah diperpanjang hanya untuk 6 bulan kedepan, 06 Juli 2010.

Oleh karenanya, yuk! mari berbagi yuk ... ! dana yang mereka butuhkan sebesar Rp. 172,000,000 (terbilang: Seratus Tujuh Puluh Dua Juta Rupiah) ... wow ! bukan jumlah yang kecil yaaahhh ... yuuuukkk ... !

Donasi dapat melalui:
Bank MANDIRI - KCP Tangerang Ahmad Yani
a/c no. 1 5 5 - 0 0 0 0 6 6 0 4 4 - 2
a/c name: Mutiara Rialin Gultom QQ Batak Muda Worship

BCA KCU Pekanbaru
a/c no. 0 3 4 1 5 3 7 8 5 1
a/c name: Doan Hotasi Tambun

Dan acara penyerahan Donasi yang telah terkumpul akan dilaksanakan pada:

Sabtu, 16 Januari 2010
Jam: 17.00 - selesai
Tempat:
Pondok Panti Asuhan Bersinar
Jl. Pembangunan / Swadaya Raya No. 18 / 36
Kel. Kelapa Dua Wetan
Kec. Ciracas
Jakarta Timur 13730
PS: ketentuan lain akan diberitahukan menjelang hari H dan mengingat kondisi maka pendaftaran juga akan diperlukan

Untuk konfirmasi penyerahan donasi dan info lebih lanjut atau terbeban ingin terjun langsung bekerja menggalangkan dana bersama dengan BMW dapat menghubungi salah satu dari kami sbb:

Chissy br. Simanjuntak: (021) 333 30 113 / 0812 135 9177
Elizabeth br. Butar-butar: 0816 188 4829

atau email ke: batakmudaworship@...
dan bertanya melalui FB BMW: Batak Mudaworship <www.facebook.com/batakmudaworship>

Jangan ragu yaaa angka Dongans sahabat
BatakMudaWorship untuk ikutan acara ini ... GRATIS!
Datang aja dan ajak teman-temannya



Mauliate Godang!
Sampai ketemu di acara kami.


Tetaplah Menyala-nyala !! (Roma 12:11)
-
BatakMudaWorship
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Profile Panti Asuhan Bersinar
VISI - Menjadikan anak yang memiliki masa depan dan mengasihi Tuhan

MISI - Meningkatkan Harkat dan Martabat serta memberikan masa depan yang lebih baik kepada anak-anak yang kurang mampu, dengan bentuk pelayanan social, fisik, mental dan spiritual serta pelayanan penunjang lainnya seperti pelatihan dan keterampilan, sehingga mereka siap menghadapi Era Globalisasi"

MOTTO - Menjadi alat anugrah Tuhan untuk Menyatakan Kasih bagi sesame dan dapat dipercaya Tuhan maupun Manusia.

SEJARAH DAN KAPASITAS - Berdiri pada tanggal 1 Juli 2003, pelayanan Panti Asuhan Bersinar lahir dari wujud kepedulian Pendiri akan masalah-masalah sosial yang terjadi akibat Krisis Moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1998. Krisis multidimensi dan meningkatnya jumlah anak putus sekolah serta pengangguran semakin menggenapi krisis ekonomi dan politik negara pada saat itu. Panti Asuhan Bersinar dibawah naungan Yayasan Bersinar bagi Bangsa membidangi penanganan anak khususnya yatim-piatu, fakir-miskin anak terlantar, korban bencana alam dan korban kerusuhan, dengan memberikan wadah bagi mereka untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial mereka. Saat ini Panti Asuhan Bersinar dipercayakan mengasuh 37 orang anak, dengan usia 4 tahun sampai dengan 17 tahun. Saat ini semua anak telah duduk dibangku pendidikan antara lain: TK, SD, SLTP, SMK, bagi yang berprestasi akan diberikan kesempatan ke jenjang Perguruan Tinggi, ke depannya kami juga berharap setiap anak bisa memiliki kesempatan bekerja.

HARAPAN DUKUNGAN - Keterbatasan kami dalam hal pendanaan kiranya tidak menjadi penghambat bagi kita untuk membantu mensejahterakan saudara terkasih kita yang kurang beruntung, adapun yang menjadi dasar bagi kami yaitu mengingat daya tampung Panti Asuhan Bersinar yang saat ini tidak lagi memadai. Terus bertambahnya jumlah anak asuh yang dipercayakan bagi kami saat ini, membuat ruang gerak pelayanan ini kurang optimal dalam menyediakan fasilitas yang diperlukan. Dampak kesehatan untuk anak-anakpun menjadi salah satu masalah yang cukup mendasar bagi kami dan mengigat mereka juga membutuhkan tempat yang lebih layak untuk mencapai tumbuh kembang mereka yang optimal. Adapun harapan dan dukungan yang kami ajukan yaitu untuk mengajak serta Bapak/Ibu/Sdr-i agar kiranya dapat membantu Program Pembelian tanah ini dengan cara berkontribusi dalam hal Doa, Dana dan Material Bangunan untuk merealisasikan Program Pengadaan Tempat Operasional Panti Asuhan - Januari 2010 yang diperkirakan mencapai Rp. 172,000,000 (terbilang: Seratus Tujuh Puluh Dua Juta Rupiah), berhubung kontrak gedung Panti Asuhan akan berakhir 06 Juli 2010.

#12449 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Wed Dec 9, 2009 11:02 am
Subject: 10 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya".
(Yes 41:13-20; Mat 11:11-15)

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh
perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes
Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.
Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan
orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.Sebab semua nabi dan kitab Taurat
bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan -- jika kamu mau menerimanya -- ialah
Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar" (Mat
11:11-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
 Yohanes Pembaptis diimani sebagai nabi yang terbesar, lebih-lebih di dalam
pandangan dunia, yang mempersiapkan jalan atau kedatangan Penyelamat Dunia,
"namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya". Kerajaan
Sorga berarti Sorga atau Allah yang meraja atau menguasai, berarti berbeda atau
berlawanan dengan kerajaan dunia. Sebagai orang  beriman, dan juga khususnya
anggota Gereja, kita juga menjadi anggota Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah ,
dengan demikian diharapkan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.
Yang terbesar dalam hidup beriman atau menggereja adalah mereka yang
melaksanakan kehendak atau perintah dalam hidup sehari-hari. Allah meraja dan
bekerja terus menerus di dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya di bumi ini, dan
kita sebagai orang beriman dipanggil untuk `mendengarkan' karya Allah tersebut
serta mengikutiNya. Salah satu cirikhas karya Allah dalam ciptaan-ciptaanNya
ialah menumbuh-kembangkan, memperbaharui dan membahagiakan, maka kita sebagai
orang beriman atau umat Allah dipanggil untuk menumbuh-kembangkan, memperbaharui
dan membahagiakan saudara-saudari atau sesama kita dalam dan melalui cara hidup
dan cara bertindak kita. Agar kita dapat `mendengarkan' Allah yang berkarya
melalui ciptaan-citpaanNya, kita hendaknya bersikap dan bertindak dengan rendah
hati. Kerendahan hati merupakan keutamaan dasar dan menjadi cirikhas orang
beriman, anggota Kerajaan Allah, umat Allah. Dengan ini kami mengingatkan dan
mengajak mereka yang terlibat dalam pelayanan pastoral di tingkat manapun atau
dalam karya apapun untuk menjadi teladan dalam hal kerendahan hati.
 "Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu:
"Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau" (Yes 41:13). Berbagai tantangan,
masalah dan hambatan dalam hidup beriman masa kini memang dapat membuat orang
menjadi takut untuk menjadi saksi iman dalam hidup sehari-hari. Apa yang
dikatakan oleh nabi Yesaya di atas ini kiranya dapat menjadi pegangan cara hidup
dan cara bertindak kita sebagai orang  beriman, dimana Tuhan senantiasa
mendampingi dan menolong kita kapanpun dan dimanapun. Tuhan hadir dan berkarya
dimana saja dan kapan saja , tanpa  batas, maka dimana dan kapan saja kita dapat
menghayati pendampingi dan pertolonganNya. Memang pendampingan dan
pertolonganNya akhirnya menjadi nyata dalam diri ciptaan-ciptaanNya, terutama
dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Maka
menghayati pendampingan dan pertolongan Tuhan berarti dengan rendah hati siap
sedia didampingi dan ditolong oleh saudara-saudari atau sesama kita. Jika kita
jujur mawas diri kiranya masing-masing dari kita telah menerima pendampingan dan
pertolongan dari orang lain, tentu saja pertama-tama dan terutama dari orangtua
kita serta para pendidik kita, secara melimpah ruah. Marilah kita akui dan
hayati pendampingan dan pertolongan dari orangtua dan pendidik kita. Jika kita
dapat menghayati atau mengimani pendampingan dan pertolongan orangtua dan
pendidik dengan baik, maka dengan mudah kita juga akan mengakui dan menghayati
pendampingan dan pertolongan dari saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun.
Ketika kita dapat hidup dan bertindak demikian itu, maka sedikit banyak kita
mempersiapkan pesta Natal yang akan datang, yang antara lain diwarnai
persaudaraan atau persahabatan sejati, solidaritas Allah pada manusia yang lemah
dan berdosa. Dengan kata lain saya mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah
kita kenangkan kebaikan-kebaikan orang lain pada diri kita sejak dilahirkan
sampai saat ini.

"TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang
dijadikan-Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN,
dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan
kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk
memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak
kerajaan-Mu"
(Mzm 145:9-12)

Jakarta, 10 Desember 2009

#12448 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Wed Dec 9, 2009 11:01 am
Subject: KKR Natal Akbar & KKR Natal Pemuda Remaja 2009 (Pdt. Dr. Stephen Tong)
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



--- Pada Sel, 8/12/09, Wijaya Subekti <wsubekti@...> menulis:

Dari: Wijaya Subekti <wsubekti@...>
Judul: [Metamorphe] KKR Natal Akbar & KKR Pemuda Remaja 2009
Kepada: METAMORPHE@yahoogroups.com
Tanggal: Selasa, 8 Desember, 2009, 3:46 AM

 

 

 

Undangan

KKR Natal Akbar 2009:
BINTANG YANG MEMIMPIN

Pembicara: Pdt. Dr. Stephen Tong



Untuk Umum:
24 Desember 2009 Pk.19.00

Untuk Pemuda Remaja:
24 Desember 2009 Pk.16.00


di Katedral Mesias
Gereja Reformed Injili Indonesia
Jl. Industri Blok B14 Kav.1 Kemayoran


KKR Umum 2009


KKR Pemuda Remaja 2009

 

 



Berselancar lebih cepat.
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)

#12447 From: L Hutabalian <hutabalian72@...>
Date: Wed Dec 9, 2009 5:58 am
Subject: TUHAN ADALAH GEMBALAKU-2
hutabalian72
Offline Offline
Send Email Send Email
 

”Takkan kekurangan aku” berbicara tentang kecukupan atau terpenuhi. Daud percaya bahwa dia tidak akan pernah kekurangan apabila ia ada dalam penggembalaan Tuhan.  Dia sangat percaya bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang bertanggung jawab atas kehidupan domba-domba-Nya.

Dulu, dalam kurangnya pengenalan saya akan Tuhan, saya sering mengalami stress memikirkan kehidupan ini. Ketika anak saya yang kedua akan lahir, saya sedang dalam status PBB alias pengangguran besar-besaran. Terpaksa saya utang sana-utang sini untuk memenuhi biaya bersalin yang harus melalui operasi. Dalam keadaan yang susah itu, saya malah sering menggunakan akal pikiran saya yang terbatas ini untuk mimikirkan segala sesuatu. Saya sering berharap kepada manusia. Berharap hamba Tuhan melihat keadaan kami dan mengasihani kami. Tapi kenyataannya adalah kekecewaanlah yang saya dapat.

Ada masa sekitar dua tahun saya tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang jelas, ditengah tuntutan biaya hidup yang tinggi di perantauan. Tetapi saya bersyukur bahwa selama masa pengangguran ini, Tuhan kemudian membimbing saya untuk kembali kepada firman-Nya, dan semakin rajin untuk membaca firman Tuhan dan bersekutu dengan Dia. Saya diteguhkan dengan firman Tuhan (Maz. 37:25) :” Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

Hal yang luar biasa terjadi, Dia menuntun saya untuk mengambil tindakan apa yang harus saya ambil. Ide-ide mengalir dalam otak saya. Dan Saya belajar percaya sungguh-sungguh kepada-Nya. Dan semenjak itu kami tidak pernah kekurangan dalam kebutuhan sehari-hari; sandang dan pangan, karena ada saja jalan yang Tuhan tunjukkan, bahkan kadang-kadang diluar dugaan saya.

Daud menggambarkan tindakan Tuhan dalam memelihara domba-domba-Nya seperti gembala yang membaringkan di rumput yang hijau (fresh), membimbing ke air yang tenang, menyegarkan jiwa dan menuntun di jalan yang benar. Kalau mau dimaknai secara ”radikal”, ”membaringkan di rumput yang hijau” bisa berarti memberi kesempatan makan sambil berbaring. Ini pernah saya lihat. Sebagai mantan gembala kambing, saya melihat ada kalanya sang kambing berbaring nyamping, sambil mulutnya meraih rumput yang ada disekitarnya. Ini terjadi karena ada banyak rumput segar disekitarnya. Tentu yang dimaksudkan disini bukanlah menyuruh anak-anak Tuhan hidup bermalas-malasan, karena sang domba ketika berbaringpun, kepala dan mulutnya masih harus berusaha untuk meraih rerumputan yang ada disekitarnya.  Tapi yang dimaksud adalah bahwa Tuhan akan menolong dan mempermudah setiap usaha-usaha kita.  Intinya dari yang digambarkan oleh Daud adalah berkat yang selalu baru setiap hari, baik itu berkat jasmani dan juga berkat rohani.

Lomser Hutabalian

http://hutabalian72.wordpress.com/2009/12/07/tuhan-adalah-gembala-ku-bagian-kedua/




#12446 From: L Hutabalian <hutabalian72@...>
Date: Wed Dec 9, 2009 5:36 am
Subject: TUHAN ADALAH GEMBALAKU-1
hutabalian72
Offline Offline
Send Email Send Email
 

Mungkin bagi sebagian orang, pekerjaan seorang gembala dianggap sebagai pekerjaan yang hina dan dipandang sebelah mata, namun kalau kita merenungkan lebih dalam, tugas seorang gembala adalah tugas yang berat dan mulia. Karena jaminan kehidupan seluruh domba sangat bergantung kepada gembala. Oleh karena itulah raja Daud mengumpamakan Tuhan sebagai Gembala dimana jaminan kelangsungan hidup umat-umat sebagai domba sangat bergantung kepada-Nya. 

Mazmur 23: 1-4 berkata :”..Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku dipadang yang berumput hijau, ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau bersertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Daud, pada masa mudanya adalah seorang gembala domba. Oleh karena itu dia tahu betul bagaimana tugas seorang gembala, dan bagaimana hubungan antara gembala dengan domba-dombanya.. Dalam hal ini apa yang ditulis dalam kitab Mazmur bukan sekedar teori tetapi juga didasari oleh pengalamannya sendiri sebagai gembala. Tanpa gembala maka domba-domba akan tersesat, liar dan tidak tahu arah. Tanpa gembala tidak ada jaminan keselamatan bagi domba-domba terhadap serangan binatang buas, juga tidak ada jaminan terhindar dari pencurian.

Kata ”ku” pada gembalaku menunjukkan relasi yang sangat pribadi antara Daud dengan Tuhan.  Hubungan yang dekat dan rasa memiliki yang kuat. Umat Tuhan perlu mengalami sendiri pribadi Allah itu dalam hidupnya, sehingga kesaksiannya mendasar dan kuat, bukan berdasarkan pada ”kata orang” atau ”kata pendeta” saja.

Jujur, saya kadang merasa ”terganggu” mendengar ucapan jemaat ketika bersaksi di gereja yang mengatakan ”Tuhan Yang Maha Esa” untuk menyebut pribadi Tuhan itu. Sebutan Tuhan Yang Maha Esa adalah sebutan yang berlaku umum (general), dimana setiap orang beragama dan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menyebut demikian. Tidak ada sesuatu yang terlalu istimewa dalam sebutan itu dibandingkan dengan agama-agama lain. Padahal dalam kekristenan kita mengalami keistimewaan dari Allah, dimana Allah kita berkenan untuk menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan, Gembala, Bapa dan Sahabat.

Tentu tidak ada yang salah dengan sebutan Tuhan Yang Maha Esa, karena memang Tuhan yang kita sembah adalah Esa adanya. Namun sebutan itu terlalu umum dan  tidak mencerminkan relasi yang specifik (dekat) dengan Tuhan.  Sebutan: ”Tuhan kita”, ”Bapa kita yang baik”, ”Tuhan, Gembala hidup kita”, dll., menunjukkan relasi yang spesifik dan dekat. (bersambung).

 

Lomser Hutabalian.



#12445 From: Yahoogroup11 GMail <Yahoogroup11@...>
Date: Wed Dec 9, 2009 3:39 am
Subject: Re: Dilarang pakai kalung Salib
rudismg2000
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Pendapat saya ... "gitu aja koq repot".

Kalung salib bukan identik dengan ke-Kristen-an sekarang.
Yang gondrong, pake narkoba, free sex, mabuk2an mereka juga pake ...
karena ketularan band2 rock yang pake simbol salib sebagai asesories
...


Ayo kita jangan bahas hal-hal yang kurang bermutu ...
Tingkatkan iman dan mutu rohani kita lebih dari cuma memakai asesoris
Kristen ... doa, puasa, baca Firman dan lakukan ...

Senyum yang semanis dan setulus senyum Yesus ...
Tenaga yang ringan membantu seperti tangan Yesus ...
Hati yang mengasihi semua umat manusia baik bagi orang percaya maupun
orang yan BELUM percaya ...

Iman yang kuat mengiring TUHAN ...

Senyum, tenaga, hati, iman yang tidak kelihatan tapi berguna bagi
Kerajaannya ... Kerajaanya penuh DAMAI SEJAHTERA dan SUKACITA.

Masih mau ribut masalah sepele ... gak lah yaoaoou!

Peace man !
Tuhan Yesus Kristus tetap berkuasa, meski salibnya
diumpetin di balik baju .... ! Karena powernya ada di KASIH yag DIA
berikan untuk kita manusia .... !!!!

SEMANGAT !!!!!!!



Hello MANG,

Wednesday, December 9, 2009, 2:49:46 AM, you wrote:

> Di negara-negara uni Eropa termasuk Italy dilarang menggantungkan
> lambang Salib di dalam sekolahan umum. Hal ini mungkin masih bisa
> ditoleransi, mengingat bukan anak-anak Kristen saja yang sekolah
> disana.

> Tetapi yang lebih edan lagi seorang Kondektur Bis Kota Amsterdam
> Belanda  Mr Aziz Mikel sudah dua kali diskors dari pekerjaannya
> karena memakai kalung Salib. Hari ini ia disidang oleh pengadilan di
> Amsterdam - Belanda: Apakah orang boleh memakai kalung Salib di tempat
> umum? Vonis hasil dari keputusan pengadilan akan diberikan minggu yang
> akan datang.

> Di Indonesia banyak sekali perempuan Kristen memakai kalung Salib di
> tempat umum termasuk di kantor tempat mereka bekerja. Hal ini mungkin
> nantinya akan dilarang di Belanda. Pakai kalung boleh, tetapi lambang
> Salibnya harus disembunyikan dibawah pakaian. Agar orang yang tidak
> beragama Kristen tidak merasa terganggu karenanya.

> Bagaimana menurut pendapat Anda?

> Mang Ucup
> Email: mang.ucup<at>gmail.com


> ------------------------------------

> ----------------------------------------------------
> "FirmanMu Pelita bagi kakiku dan Terang bagi jalanku"
> -----------------------------------------------------


> Post message : fordian@yahoogroups.com
> Subscribe    : fordian-subscribe@yahoogroups.com
> Unsubscribe  : fordian-unsubscribe@yahoogroups.com
> Moderator    : fordian-owner@yahoogroups.com (Suhadi, Herschel, dkk)
> File messages: http://groups.yahoo.com/group/fordian
> Website Dian : http://dianweb.org
> Yahoo! Groups Links





--
Best regards,
  Yahoogroup11                            mailto:Yahoogroup11@...

#12444 From: Bagus Pramono <sarapanpagi@...>
Date: Wed Dec 9, 2009 12:14 am
Subject: KORUPSI
kebaikan2001
Offline Offline
Send Email Send Email
 


KORUPSI


ImagePeringatan Hari Anti-Korupsi Sedunia, 9 Desember :
INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI, BUDAYAKAN MALU KORUPSI! "koruptor lebih kejam dari penjajah". Mendukung cita-cita mulia ini dengan pasukan doa. Indonesia harus bersih. Satu suara dari tiap-tiap orang untuk perubahan. Perjuangan bangsa Indonesia sekarang bukan lagi merdeka atau mati, tetapi :
INDONESIA HARUS BERUBAH ATAU PUNAH!!





KORUPSI DI MASYARAKAT KITA


Sungguh memprihatinkan, negara Indonesia mempunyai masyarakat yang religius tetapi banyak korupsi. Gereja setiap ada ibadah penuh, Masjid juga penuh, tetapi korupsi jalan terus. Ini karena ajaran agama salah dihayati. Korupsi adalah penyakit yang ditimbulkan oleh pemisahan ajaran agama dari perilaku keseharian manusia. Memang, korupsi bisa saja dilakukan semua orang baik yang beragama maupun yang tidak beragama, tetapi ajaran-ajaran agama dengan jelas mengajarkan moralitas yang baik, dengan jelas pula meng-haram-kan praktek-praktek korupsi, mencuri dan sejenisnya. China, negara komunis juga pernah menderita akibat praktek korusi, namun semenjak PM Zhu Rong Zi menjabat, ditegakkan suatu hukum yang ketat untuk membasmi korupsi. Bahkan dengan tegas ia mengatakan kalau saja ada yang bisa membuktikan dia korupsi, dia bersedia dihukum mati. Dan dengan kejelasan hukum itu menjadi salah-satu tonggak kemajuan The New Modern China saat ini.

Korupsi adalah merupakan masalah yang kompleks. Ia berakar dan bercabang di seluruh masyarakat. Entah di organisasi yang berorientasi keagamaan maupun sekuler. Dalam arti luas, korupsi mencakup praktek penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruh. Bentuk korupsi yang paling umum adalah nilep dana. Mencuri (menilep) uang kas, mark-up dana proyek dsb. Hal tersebut sudah biasa dilakukan di negara kita ini. Dan dimata internasional negara ini tidak bisa mengelak bahwa Indonesia termasuk negara yang terkorup nomor sekian. Tidak ada bidang kehidupan di negara ini yang belum tercemar virus korupsi jenis ini, baik yang kecil maupun yang besar.

Belum lagi model korupsi yang sifatnya suap atau sogok yaitu memberi sesuatu kepada pejabat agar ia melakukan sesuatu yang sebenarnya wajib dilakukannya secara cuma-cuma. Pemberian itu tidak terbatas pada uang, tetapi bisa berbentuk mobil, tanah, perhiasan, rumah, seks, makanan dan minuman, emas, batu mulia, saham, dll. umumnya yang dihargai oleh si pejabat. Suap semacam ini lazim oleh orang Jepang disebut peanut, artinya peanut (kacang) itu kecil nilainya, yang sebenarnya tidak layak jika dibanding dengan dampak yang diderita negara/rakyat secara keseluruhan.

Pembenaran suap beragam coraknya. Ada yang berpendapat bahwa suap itu sebenarnya sekadar hadiah di antara kawan, sebagai balasan atas kemurah-hatian yang tidak ada hubungan dengan jabatan si penerima. Bahwa hal-hal itu merupakan imbalan pengganti tenaga dan pikiran yang telah diberikan oleh si pejabat. Azas timbal-balik adalah norma dasar yang dianuti setiap kebudayaan di sepanjang masa. Lazimnya, penerima hadiah merasa berhutang pada pemberi hadiah. Menolak hadiah, atau menerima hadiah tetapi kemudian tidak membalas dianggap sikap permusuhan. Namun demikian memberi hadiah kepada seorang pejabat tinggi juga dinilai negatif, yaitu sebagai upaya menjilat, menjalin hubungan, atau mempengaruhi. Seorang penguasa yang menerima sogokan dan tidak membalasnya dengan jasa, dianggap tidak bijaksana, dan tidak adil.

Ada sementara anggapan bahwa sogok atau suap baru dianggap tidak bermoral apabila ia disoroti dan dikecam oleh masyarakat luas. Bila tidak terjadi pengecaman, maka suap cuma dianggap sebagai cara yang praktis untuk memperoleh tanggapan positif atas suatu permohonan dan upaya untuk memuluskan suatu usaha tertentu.

Kasus yang terkenal pada jaman Yesus ini adalah "suap" kepada Yudas Iskariot, ia menerima 30 keping uang perak untuk harga seorang Mesias. Meskipun pada waktu itu istilah suap mungkin belum muncul, tetapi inilah salah satu model suap. Dan kemudian penerima suap melakukan sesuatu seperti yang diingini oleh pemberi suap. Transaksi ini mirip dengan jual-beli.

Penegakan moral anti-suap jarang terjadi. Yang terjadi hanya sekedar kasak-kusuk pembicaraan atau gossip, di negara ini belum ada rujukan Hukum yang pasti mengenai suap ini. Yang dikecam adalah yang menerima suap, sedangkan yang memberi suap bebas dari kutukan masyarakat. Hal biasanya terjadi ialah seorang penyuap akan kecewa tatkala penerima suap tidak melakukan sesuai yang dikehendakinya.



KORUPSI MENCURI

Akibat korupsi, hanya akan ada kekacauan hukum dan kekerasan, karena orang menjadi serigala bagi sesamanya, karena orang mau menjajah sesama warga masyarakat atau warga negara lainnya. Praktek-praktek korupsi yang kita jumpai di negara ini adalah justru dilakukan oleh orang-orang yang terpilih untuk mengemban amanat rakyat (wakil-wakil rakyat) dan para pejabat. Praktek ini telah begitu mewabah dan mungkin sudah menjadi tradisi di hampir seluruh lapisan masyarakat yang memegang jabatan.

Korupsi bisa disamakan dengan mencuri, karena mereka telah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Indonesia adalah negara yang berketuhanan, dan setiap agama tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan hal ini. Dengan demikian memberantas korupsi menjadi tugas seluruh lapisan masyarakat termasuk kaum agamawan yang selama ini dianggap umat masyarakat mempunyai otoritas memberikan pengajaran dan teladan bagi umat. Keadaan sekarang menuntut mereka untuk tidak hanya sekedar menyampaikan hal-hal bersifat ritualistik tetapi penting para pembina rohani itu mengajar dalam bentuk dorongan moral. Paradigma lama yang menganggap pemberantasan korupsi tidak terlalu penting harus segera diubah. Melalui keyakinan bahwa memberantas korupsi menjadi jihad/ perang rohani/ perang moral dan perlu diterapkan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat aktif.

Negara ini sudah terlalu lama menderita, rakyat berharap negara ini maju, yaitu rakyat bebas dari segala penderitaan dan dapat menikmati kesejahteraan. Sayangnya, justru penderitaannya diteruskan karena cita-cita bangsa dengan segala aspirasinya dikorupsi oleh kelompok bangsanya sendiri


KORUPSI DALAM GEREJA

Yang menarik adalah bahwa korupsi atau penyalahgunaan dana yang bukan haknya terjadi pula dalam dunia "suci" seperti dana urusan naik haji di Depag, misalnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa "Kekuasaan cenderung korup, kekuasaan mutlak selalu korup!" Keadaan semacam itu terjadi juga dalam sejarah gereja.

Ketika Kaisar Constantine memeluk agama Kristen, kemudian Istitusi Gereja dan Imperium Romawi menyatu dan kekuasaan Gereja Katolik Roma mulai menggusur bentuk-bentuk kekuasaan yang lain. Pada saat itu pula praktek suap mulai berbentuk jual-beli jabatan gereja. Transaksi jual-beli kedudukan dalam birokrasi gereja atau simoni tak tersentuh hukum. Mereka menganggap hukuman hanya diberikan di akhirat. Di dunia, seorang yang bersalah paling sial hanya diusir dari gereja, atau dipecat dari jabatannya. Pada saat itu pula terjadi jual-beli surat pengampunan dosa yang merajalela. Praktek yang menyebar pesat ini merupakan sumber penghasilan gereja yang amat penting.

Bahwa ada bagian dari Yudas Iskariot dalam setiap pribadi kita umat Allah, mungkin diantara anda tidak setuju dengan pendapat ini. Tetapi mari kita pelajari karakter Yudas ini yang dikenal sebagai salah-satu murid Yesus yang memegang uang-kas pelayanan Yesus bersama murid-muridNya. Alkitab dengan jelas menulis bahwa ia adalah seorang pencuri.

* Yohanes 12:6
.. karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.



Berapapun besarnya kekuasaan/wewenang atau seberapa terbatasnya kekuasaan, korupsi adalah salah satu penyalahgunaan kekuasaan. Yudas diberi wewenang untuk mengelola uang kas, dan ia menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepadanya. Yudas dipanggil Yesus untuk menjadi muridNya, tetapi kedekatannya dengan Yesus tidak juga membawanya menjadi baik, karena memang ia sengaja menjauhkan dirinya daripada mengikuti teladan-teladan yang diajarkan Yesus. Yudas membawa-bawa uang kas, itu sama dengan anda dan saya, bukan?. Kita diberi berkat dari Allah secara materi, namun apakah kita lebih mencintai harta daripada Tuhan sendiri, sehingga kita mungkin punya kecenderungan menjadi pencuri seperti Yudas.

Yang kita jumpai sekarang ini, betapa banyak Hamba Tuhan (pendeta, diaken, pengurus, dll) yang menyarankan jemaat untuk setia memberi persembahan, membayar perpuluhan rutin dan menyantuni orang miskin, namun pada akhirnya justru mereka para penghimpun dana gereja ini jatuh dalam dosa pencurian terhadap uang kas gereja. Bahkan tidak jarang uang persembahan itu menjadi asset pribadi. Mereka menghimpun dana diakonia dari jemaat, tetapi giliran ada jemaat/orang miskin/orang sakit yang butuh disantuni, mereka akan berdalih banyak-banyak dengan menggunakan strategi birokrasi gereja yang bertele-tele, padahal dana diakonia itu dipersembahkan para jemaat dengan hati yang tulus. Bukankah ini sering kita temui?

Memang, Tuhan memandang perlu akan pentingnya uang untuk pelayanan, dan setiap hamba Tuhan yang melayani jemaat berhak mendapatkan upahnya (1 Korintus 9:9-14). Tetapi tidak sedikit para pelayan Tuhan ini terjangkit penyakit "cinta uang" dan itu jahat dimata Tuhan (Roma 16:17-19).


Mengapa korupsi juga melanda gereja?

Ada permasalahan teologis terletak di sini, yaitu gereja secara keseluruhan belum memberi pemahaman yang alkitabiah tentang Salib. Pengertian Salib ialah Yesus yang menderita untuk keselamatan ciptaan-Nya. Orang yang bersedia menderita dengan tidak mengikut cara duniawi untuk memperoleh kehidupan layak, mewah, serba wah itulah hidup dalam Salib. Salib berarti menderita. Untuk mencapai kepuasan di dunia, kita tidak mengikuti arus duniawi. Korupsi, jelas merupakan tindakan yang menanggalkan dan membuang jauh penghayatan kita tentang Salib. Sebab kebahagiaan/ kepuasan tidak dapat terpenuhi hanya dari segi materi saja.

Tuhan Yesus sudah memberi teladan bagi kita bagaimana hidup yang berarti bagi orang lain yaitu melalui jalan salib untuk mana kitapun diundang mengikutinya. Yesus Kristus dalam pengajaranNya yang sangat terkenal Kotbah di Bukit menyatakan "Berbahagialah orang yang menderita oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 5:10).

Tindak korupsi, apalagi yang dilakukan didalam lingkungan gereja oleh para hamba Tuhan, itu jelas bukan suatu pengabaran tentang Injil Salib!.

* Ibrani 13:5
"Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman:Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."




PENANGGULANGAN KORUPSI

Muncul ide dari beberapa pakar agar budaya korupsi itu pelan-pelan dihilangkan lewat pendidikan. Mungkinkah? Apakah pendidikan kita dapat menjadi sarana untuk menekankan nilai "anti korupsi" pada orang-orang kita?

Romo Magnis pernah berpendapat bahwa agama telah gagal menjadi pembendung moral bangsa dalam mencegah korupsi karena perilaku masyarakat yang memeluk agama itu sendiri. Mereka mengangap bahwa agama hanya berkutat pada masalah bagaimana cara beribadah saja, sehingga agama nyaris tidak berfungsi dalam memainkan peran sosial. Karena perannya tidak berarti, pesan-pesan/ ajaran-ajaran agama hanya sebatas seruan saja. Karena hanya sebatas seruan saja, agama tidak memiliki pengaruh apapun terhadap persoalan korupsi. Semestinya agama/gereja bisa memainkan peran yang lebih besar dalam konteks kehidupan sosial dibanding institusi lainnya. Sebab agama mempunyai korelasi atau hubungan emosional dengan para pemeluknya. Jika diterapkan dengan benar, maka kekuatan relasi emosional yang dimiliki agama bisa menyadarkan umat, bahwa korupsi bisa membawa dampat yang sangat buruk. Dampak itu bukan saja kepada kondisi masyarakat, bangsa dan negara saja, tetapi terlebih kepada beban rohani setiap pemeluknya dimana mereka harus mempertanggung-jawabkan dosa itu kepada Tuhan.
Selain itu Romo Magnis berpendapat bahwa, musti pula diciptakan opini publik bahwa korupsi tidak sejalan dengan misi agama. Korupsi berdampak buruk dilihat dari sudut pandang ajaran agama. Dengan demikian kiranya opini tersebut dapat mempengaruhi keberanian para politisi dalam memungkinkan terjadinya korupsi.

Kita perlu seorang pemimpin atau politisi yang mempunyai komitment anti korupsi dan menciptakan hukum yang jelas terhadap tindak korupsi apapun, seperti mantan Perdana Mentri China Mr. Zhu Rong Zi, tetapi beliau ini sampai sekarang sepertinya masih komunis (atheis)


Ironis, bukan?! :roll:

 
Image


Blessings in Christ,
Bagus Pramono



New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.

Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger

#12443 From: MANG UCUP <mang.ucup@...>
Date: Tue Dec 8, 2009 7:49 pm
Subject: Dilarang pakai kalung Salib
mangucup88
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Di negara-negara uni Eropa termasuk Italy dilarang menggantungkan
lambang Salib di dalam sekolahan umum. Hal ini mungkin masih bisa
ditoleransi, mengingat bukan anak-anak Kristen saja yang sekolah
disana.

Tetapi yang lebih edan lagi seorang Kondektur Bis Kota Amsterdam
Belanda  Mr Aziz Mikel sudah dua kali diskors dari pekerjaannya
karena memakai kalung Salib. Hari ini ia disidang oleh pengadilan di
Amsterdam - Belanda: Apakah orang boleh memakai kalung Salib di tempat
umum? Vonis hasil dari keputusan pengadilan akan diberikan minggu yang
akan datang.

Di Indonesia banyak sekali perempuan Kristen memakai kalung Salib di
tempat umum termasuk di kantor tempat mereka bekerja. Hal ini mungkin
nantinya akan dilarang di Belanda. Pakai kalung boleh, tetapi lambang
Salibnya harus disembunyikan dibawah pakaian. Agar orang yang tidak
beragama Kristen tidak merasa terganggu karenanya.

Bagaimana menurut pendapat Anda?

Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com

#12442 From: "Laut Sinaga" <laut.sinaga@...>
Date: Tue Dec 8, 2009 11:16 pm
Subject: [Devotional Morning] BUNUH DIRI SECARA ROHANI
laut.sinaga@...
Send Email Send Email
 

BUNUH DIRI SECARA ROHANI

 

 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." Yohanes 12 : 31,32

 

Setan dan kerajaan kegelapan yang atasnya ia berkuasa selalu menimbulkan tantangan dan ancaman terhadap keefektifan dan stabilitas orang percaya. Dia ekstrim yang harus dengan cermat dihindari. Ekstrim yang pertama adalah kencenderungan untuk mengabaikan musuh ini dan menganggap enteng seluruh masalah demonologi.

 

Salah satu strategi Setan yang cerdik adalah membuat kita tetap mengabaikan kuasa dan pekerjaannya. Seorang pendeta teman saya menyatakan kepada saya di dalam keyakinannya bahwa jika ia mau menyibukkan dirinya dengan Injil, memenangkan jiwa-jiwa, dan Pribadi Tuhan Yesus Kristus, ia tidak perlu terlalu khawatir terhadap Setan

 

Pandangan seperti ini kedengarannya sangat saleh dan spritual, tetapi sangat tidak Alkitabiah dan berbahaya. Setiap orang yang percaya yang memutuskan untuk menyibukkn dirinya dengan Injil, memenangkan mereka yang terhilang, dan mengenal Tuhan Yesus Kristus akan menjadi sasaran khusus Setan. Megabaikan senjata perang yang disediakan oleh Tuhan untuk melawan Setan dan kerajaannya berarti bunuh diri secara spritual. Kita akan segera menemui kehancuran spiritual jika kita mengabaikan musuh ini.

 

Ekstrim lain yang harus dihindari adalah terlalu dipenuhi ketakutan terhadap Setan dan kerajaanya. Walaupun mengakui kuasa dan kelicikan Setan yang menakjubkan, seluruh Kitab Suci menegaskan bahwa Setan adalah musuh yang telah dikalahkan.


#12441 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Tue Dec 8, 2009 8:33 am
Subject: 9 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu"
(Yes 40:25-31; Mat 11:28-30)

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi
kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku
lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang
Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat 11:28-30), demikian kutipan
Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
 Ketika orang hanya mengikuti keinginan atau kehendak sendiri, pada umumnya di
awal langkah hidup atau kerja sangat bergairah, tetapi seiring dengan jalannya
waktu akan menjadi letih lesu dan tak bergairah, atau bahkan frustrasi. Orang
yang demikian itu adalah orang sombong. Sabda Yesus hari ini mengajak dan
mengingatkan kita semua untuk `memikul kuk yang dipasang Tuhan' melalui atasan
atau pemimpin kita serta mengerjakan dengan lemah lembut dan rendah hati. Untuk
itu marilah kita lihat, baca dan fahami kembali aneka tatanan atau aturan yang
terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, dan kemudian
kita hayati dalam hidup sehari-hari, atau kita kenangkan janji-janji yang pernah
kita ikrarkan. Sebagai orang yang telah dibaptis, marilah kita kenangkan janji
baptis serta beberapa aturan yang terkait dengan hidup iman atau
kekristenan/kekatolikan kita. Ketika dibaptis kita berjanji hanya mau mengabdi
Tuhan saja dan menolak semua godaan setan, dan untuk menghayati janji tersebut
antara lain ada 10 (sepuluh) perintah Allah dan 5 (lima) aturan atau tuntunan
Gereja. Dari 10 (sepuluh) perintah Allah yang konkret antara lain: "Hormatilah
ibu-bapamu, Jangan membunuh,. Jangan berbuat cabul,. Jangan mencuri,  Jangan
bersaksi dusta pada sesamamu manusia, Jangan ingin akan milik sesamamu ".
Sedangkan 5 (lima perintah) Gereja adalah :  " Rayakanlah hari raya yang
disamakan dengan hari Minggu, Ikutlah Perayaan ekaristi pada hari Minggu dan
hari raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada
hari itu., Berpuasalah dan berpantanglah pada hari yang ditentukan.,
Mengaku-dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun, Sambutlah Tubuh Tuhan pada
Masa Paskah. " (PS no 7). Marilah kita mawas diri sejauh mana kita setia dan
melaksanakan perintah-perintah atau aturan tersebut? Jika kita setia menghayati
perintah atau aturan tersebut, maka jiwa kita akan senantiasa tenang adanya.
 "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang
tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh
tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan
baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;
mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah"
(Yes 40:29-31), demikian kata-kata penghiburan Yesaya yang penuh pengharapan
kepada saudara-saudarinya, kepada kita semua. Kita sedang menantikan Hari Raya
Natal, Kenangan akan Kelahiran Penyelamat Dunia; apakah kita mendapat kekuatan
baru, bersemangat baru? Orang yang sedang menanti-nantikan pada umumnya butuh
kesabaran, daya tahan dan kegairahan hidup serta dengan rendah hati mentaati
aneka aturan dan tatanan yang terkait, meskpun demikian ia `tidak menjadi lesu
dan tidak menjadi lelah'. Dengan kata menanti-nantikan juga butuh matiraga atau
lakutapa. Maka marilah kita mawas diri apakah diri kita layak disebut sebagai
yang sedang menanti-nantikan pesta Hari Natal, Kenangan akan Kelahiran
Penyelamat Dunia. Matiraga secara harafiah berarti mematikan gairah/nafsu raga,
dan maksudnya tidak lain adalah mengendalikan raga atau anggota tubuh sedemikian
rupa sehingga tidak melakukan dosa atau berbuat jahat. Mengendalikan raga atau
anggota tubuh kita sendiri kiranya lebih sulit daripada mengendalikan orang
lain. Raga atau anggota tubuh yang mungkin baik kita refleksikan adalah mata,
telinga, kepala/otak dan kaki maupun tangan: sejauh mana anggota tubuh ini
berfungsi semakin mendekatkan saya dengan Tuhan maupun saudara-saudari kita?
Ketika kita dapat mengendalikan diri dengan baik, maka dalam rangka
menanti-nantikan kita tetap bergairah serta tidak akan melakukan dosa atau
perbuatan jahat.  Ketika kita terbiasa dapat mengendalikan diri dengan baik,
maka kita juga tidak mudah menjadi lelah dan lesu.  Ada kemungkinan ketika
sedang menanti-nantikan orang merasa kelebihan waktu, maka manfaatkan waktu
tersebut untuk berdoa atau membaca apa-apa yang baik dan berguna.
"Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!
Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang
mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang
menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan
rahmat," (Mzm 103:1-4)
Jakarta, 9 Desember 2009

#12440 From: "Yovita Wijaya" <yovita.wijaya@...>
Date: Mon Dec 7, 2009 4:36 pm
Subject: Buku "Sandal Jepit Gereja" Sudah Ketinggalan Jaman
winieew
Offline Offline
Send Email Send Email
 

Buku "Sandal Jepit Gereja" Sudah Ketinggalan Jaman

 

Sore ini, saya bertemu dengan Pak Totok. Seperti biasa, dia masih setia dengan topi dan sepeda tuanya. "Mau kemana Pak Totok? Cari nasi ya?" tanya saya. Pak Totok tersenyum lebar sambil menghentikan sepedanya. "Ya biasa lah," jawab dia ramah. Saya sengaja menggunakan kata 'cari nasi' dan bukannya 'beli makan' karena memang hanya nasilah yang bakal dia beli. Saya sudah hapal itu. Setiap menjelang magrib dia pasti membeli nasi untuk anjingnya, kecuali hari Kamis karena pada hari itu anjingnya berpuasa. Pak Totok sendiri jarang makan nasi. Paling banter seminggu tiga kali saja dia menikmati nasi. Bahkan mungkin kini dia semakin jarang makan nasi sejak dia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai satpam oleh pengurus RT tanpa sebab. Bahkan empat bulan gajinya yang hanya Rp. 300.00 per bulan pun dikemplang pengurus RT.

"Maaf ya kemarin saya nggak bisa ikut sembahyangan," tutur Pak Totok masih dengan senyumnya. "Lho Pak Totok malam Minggu kemarin juga nggak ikut sembahyangan masa advent to?" tanya saya. "Saya juga nggak datang kok Pak Totok. Anak saya -Si Fani- dilantik jadi Putri Sangkristi jadi saya musti datang mengantar sekaligus nonton dia dilantik." papar saya.
Pak Totok mengucapkan 'O' panjang.
"Lha Pak Totok emang kemarin kemana? Kan biasanya rajin ikut sembahyangan?" tanya saya.
"Anu.. anak saya nikah," jawab Pak Totok singkat namun memancarkan suatu kebahagiaan yang sengaja tidak ingin dia perlihatkan.
Pak Totok punya anak? Hemm, soal ini tidak banyak yang tahu. Saya tahu pun belum lama tahu. Kalau tidak salah, Pak Totok punya dua atau tiga anak. Satu kerja di BCA, dan satu lagi di RS Elizabeth, Bekasi.
"Yang mana yang nikah, Pak? yang kerja di BCA?"
"Iya... wah saya malu datang di acara nikahan," jawab Pak Totok sambil tersipu.
"Lha, anak nikah kok malu?" tanya saya sambil ikutan nyengir.
"Lha masak saya pakai disuapin segala. Padahal saya sudah ngumpet bahkan nggak niat mau datang. Eh.. malah pakai dijemput segala.." papar Pak Totok.
"Itu kan tandanya dia sayang saya Pak Totok," lanjut saya.

Pak Totok memang misterius. Bukan cuma kemiskinannya yang tidak ketulungan, tinggal di gubuk yang lebih jelek dari pada kandang ayam, tidak pernah protes walau sejak sekian tahun lalu digaji hanya Rp.300.000 per bulan sebagai satpam -dan uang itu kerap dia pakai untuk mengganti lampu jalan sepanjang empat gang yang sering mati dan warganya tidak pernah peduli untuk menggantinya-. Sampai akhirnya pertengahan tahun ini dia diberhentikan dari profesinya sebagai satpam tanpa tahu sebab musababnya.

Anda yang sudah membaca buku "Sandal Jepit Gereja" khususnya cerita berjudul "Pondok Untuk Pak Totok" tentu sudah mafhum betapa akhirnya Pak Totok bersyukur karena kami -berbekal kekurangan yang kami miliki- berhasil melakukan bedah rumah dan bisa memberikan satu rumah sederhana untuk Pak Totok yang miskin, tua, tidak menikah, dan misterius ini.

Sekali waktu saya pernah memergoki Pak Totok dibonceng seorang cewek sepulang gereja. Pak Totok selingkuh? Tentu tidak, karena Pak Totok tidak menikah hingga usianya nyaris kepala tujuh (atau malah sudah kepala tujuh?). Belakangan saya baru tahu, cewek yang memberi tumpangan Pak Totok adalah salah satu dari beberapa anak angkat Pak Totok! Dua yang masih saya ingat tentang anak angkat Pak Totok adalah kesuksesan mereka kini, menjadi karyawan BCA dan karyawan RS. Elizabeth, Bekasi.

Dan hari Sabtu kemarin Pak Totok yang memiliki masa lalu misterius, yang sedemikian miskin namun penuh kepasrahan pada penyelenggaraan Allah, telah menyaksikan salah seorang anak angkatnya menikah. Pak Totok terlihat sangat bergairah menceritakan hal itu. "Yang datang di nikahan sampai lima perusahaan." paparnya. Saya pun mengangguk-angguk ikut senang.

Saya biarkan Pak Totok melanjutkan kayuhan sepedanya karena Adzan magrib sudah berkumandang dan mungkin anjingnya sudah lapar menanti nasi yang harus dia beli setiap petang. Saya bersyukur mengenal dan semakin dekat dengan sosok tua itu. Yang rela menghabiskan uang recehnya untuk membeli nasi bagi anjingnya walau dia sendiri tak punya cukup sisa untuk membeli makan untuk dirinya sendiri. Yang menolak untuk tinggal bersama anak-anak angkatnya dan iklas mendiami rumah sederhana tanpa plesteran yang dua setengah tahun lalu kami buatkan.

Pertemuan sore ini dengan Pak Totok membuat saya mensyukuri bahwa buku saya "Sandal Jepit Gereja" telah ketinggalan jaman karena kisah hidup Pak Totok tidak lagi sebatas belasan paragraf yang saya rangkai dalam tulisan berjudul "Pondok Untuk Pak Totok". Moga-moga -kalau bisa- 22 kisah lainnya, entah itu yang berjudul "Murtad", "Anak di Luar Nikah", Selingkuhlah Kau Kutunggu" maupun kisah lainnya, juga bakal ketinggalan jaman karena ada ending lanjutan hasil skenario sang Ilahi yang tidak pernah berhenti!

Salam,
Anang Y.B.


Catatan: Anda yang belum membaca buku "Sandal Jepit Gereja" bisa mengenal Pak Totok lewat artikel versi online di sini http://anangyb.blogspot.com/2007/06/pondok-untuk-pak-totok.html
Judulnya sama juga kok yakni "Pondok Untuk Totok". Kisah ini adalah satu dari beberapa kisah dalam buku "Sandal Jepit Gereja" yang masih juga membuat saya menangis setiap kali membaca ulang.
Tulisan "Pondok Pak Totok" pernah memenangi kontes bertema "Why I'm So Special" yang diadakan oleh sahabat saya Jennie S. Bev.

 

Dikutip dari Facebook penulis Anang Y.B

http://www.facebook.com/note.php?note_id=205429610016

 

 

 

 

 

 

Items
Sendal Jepit Gereja
Anang, Y.B.
Harga retail :Rp. 27.500,-
Harga kami :Rp. 24.750,-
Anda menghemat :Rp. 2.750,-   (10%)

http://www.senakel.com/productDetails.asp?id=839&sub=1

 

 

SUDAHKAH ANDA MEMILIKI ZIARAH BATIN 2010….???

 

Items
ZIARAH BATIN 2010
kumpulan
Harga retail :Rp. 45.000,-
Harga kami :Rp. 40.500,-
Anda menghemat :Rp. 4.500,-   (10%)

Terima kasih atas kepercayaan dan kesetiaan Anda berbelanja online di toko buku rohani Kristen Katolik - www. senakel.com

 

 

Salam hangat dari ruang atas!

 

www.Senakel.com

Inspiring Your Spiritual Growth

 

SENAKEL berasal dari kata latin Cenaculum atau dalam bahasa Inggris disebut The Upper Room, yang berarti ruang atas tempat Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama para muridNya. Ruangan atas ini adalah juga tempat yang dipakai oleh para murid dan Bunda Maria untuk berkumpul dan berdoa memohon dicurahkannya Roh Kudus kepada mereka ( peristiwa Pentakosta)

 

Free Delivery Cost untuk pembelian diatas Rp.100.000 khusus wilayah JABODETABEK

Free Delivery Cost untuk pembelian diatas  Rp. 250.000 khusus PULAU JAWA

Discount 50% Delivery Cost untuk pembelian diatas Rp.250.000 khusus LUAR P. JAwa

 



__________ Information from ESET Smart Security, version of virus signature database 4614 (20091117) __________

The message was checked by ESET Smart Security.

http://www.eset.com

#12439 From: "dianasihotang.poenya.web" <dianasihotang.poenya.web@...>
Date: Tue Dec 8, 2009 12:22 am
Subject: Masa Adven - Menanti Dengan Iman
dianasihotang.poenya.web@...
Send Email Send Email
 
Semoga bermanfaat dan Selamat Masa Adven!
Jesus always blesses you all

~*~*~*~*~

Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Alah turut bekerja sama dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Masa Adven adalah masa penantian. Aku tahu apa arti menanti. Menanti menjadi sesuatu yang lazim dalam hidupku sejak anak-anakku masih kecil.
Aku pernah mengalami penantian yang menghasilkan sukacita saat melahirkan anak-ku dengan selamat.
Aku pernah duduk di samping tempat tidur rumah sakit sambil menunggu hasil pemeriksaan CAT scan anak-ku yang berusia tiga tahun.
Aku pernah menanti dengan cemas anak-anakku yang baru memperoleh SIM pulang dengan selamat.
Aku pernah menangis sepanjang malam sambil menantikan kedamaian dari Allah agar hatiku mampu menerima perlakuan buruk yang ditimpakan atas anak-anakku.

Aku sudah kenyang menanti, dan ini benar-benar tidak mudah.
Secara mendalam, dunia penah menantikan kedatangan Kristus. Allah menjadi manusia dan atang ke dunia ini. Berkat kelahiran dan kehidupan Kristus, penantian kita memperoleh makna baru. Kelahiran seorang anak merupakan kesempatan untuk berbagi Kabar baik dengan generasi lain. Penyakit merupakan kesempatan untuk mendekatkan diri pad akasih dan belas kasihan Allah. Malam-malam yang mencekam mampu mengajar kita bahwa segala sesuatu bisa mendatangkan kebaikan sebab kita mengasihi Allah dan Ia mengasihi kita.

Bila kita menanti dengan iman, kita tidak penah sendirian.

(Saat Teduh BPK Gunung Mulia)

#12438 From: "dianasihotang.poenya.web" <dianasihotang.poenya.web@...>
Date: Tue Dec 8, 2009 12:26 am
Subject: Masa Adven - Allah Menyanyi!
dianasihotang.poenya.web@...
Send Email Send Email
 
Semoga bermanfaat dan Selamat Masa Adven!
Jesus always blesses you all

~*~*~*~*~


Sulit bagiku untuk mengingat bahwa Allah mengasihiku. Aku mengucapkannya dengan bibir dan pikiranku mengetahuinya, tetapi hatiku tetap saja melupakannya. Aku berusaha keras menjadi orang baik, seseorang yang bisa dibanggakan Allah, tetap seperti banyak orang, di tengah upayaku itu aku lupa bahwa Allah mengasihiku seperti apa adanya. Aku sedang mencari-cari thema bagi persiapan Adven pribadiku, dan hal berikut ini terus menerus muncul dalam benakku.

Melalui percakapan, musik dan bahan-bahan bacaan, Roh Kudus terus berusaha menyampaikan pesan bahwa aku dikasihi. Namun, baru sesudah aku jatuh sakit dan sedang membaca Alkitabku, pesan ini akhirnya aku pahami.

Waktu aku membaca Zefanya 3:17
[TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.],
aku membayangkan Allah melihat ke bawah dan bernyanyi serta bersorak karena aku. Allah sedang bernyanyi tentang sukacita saat menciptakan aku, dan bukannya tentang semua hal yang telah kulakukan. Sukacita Allah timbul karena mengasihi ciptaan-Nya - aku!
Inilah tugasku semasa Adven: menikmati kasih Allah dan mengingat bahwa Ia bersukacita karena aku.

Allah bersukacita karena aku.

Marilah kita berdoa untuk seseorang yang merasa tidak layak menerima kasih.
(unknown)

~*~*~*~*~

salam kasih hangat & persahabatan untuk Anda,


peace & love
~ds/dianasihotang
><><><><><><><><><><><><><><><><><
IM = dianasihotang
private mail = dianabrsihotang@...
><><><><><><><><><><><><><><><><><

#12437 From: "Laut Sinaga" <laut.sinaga@...>
Date: Mon Dec 7, 2009 11:15 pm
Subject: [Devotional Morning] PERBUDAKAN DOSA
laut.sinaga@...
Send Email Send Email
 

PERBUDAKAN DOSA

 

Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini, sebab perintah-perintah-Mu tidak kulupakan. Mazmur 119:176

 

Hampir setiap orang yang pernah secara fisik kecanduan sesuatu akan mengatakan pada Anda bahwa semua itu dimulai dari langkah kecil yang tampaknya tidak berdosa - hanya satu kecap atau satu keteledoran sesaat. Lalu pengalaman itu berangsur-angsur mengambil alih pikiran dan keinginan serta tubuhnya, sampai kecanduan itu menguasai perhatiannya siang malam tanpa henti.

 

Mungkin ini pernah Anda alami atau mungkin masih. Dan kecanduan secara fisik bukanlah satu-satunya jebakan yang menguasai; setiap jenis dosa atau keinginan yang salah dapat membawa pada perbudakan emosional dan spritual. Yang begitu membawa kehancuran sehubungan dengan belenggu dosa adalah bahwa dosa itu pada mulanya maju secara perlahan-lahan, memberikan Anda kesempatan untuk merasionalisasikan dan membenarkan apa yang Anda anggap sebagai kebutuhan Anda. Saat Anda memahami apa yang sedang terjadi, masalah Anda telah berkembang menjadi lebih serius.

 

Raja Daud mengalami proses ini di dalam hidupnya ketika ia berdosa dengan Batsyeba, suatu pelanggaran yang dimulai ketika ia melihatnya sedang mandi di atap rumahnya (2 Samuel 11). Ketika ia sadar betapa ia telah berdosa, ia segera bertobat, mengakui dosanya kepada Allah, dan merasa kan kasih karunia Allah yang baru. Daud memahami benar bagaimana dosa bekerja.

 

Ia berdoa:

Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu

dan janganlah segala kejahatan berkuasa atasku

bebaskanlah aku darpada pemerasan manusia

supaya aku berpegang pada titah-titah-Mu. (Mazmur 119:133,134)


#12436 From: Batak Muda Worship <batakmudaworship@...>
Date: Mon Dec 7, 2009 4:16 am
Subject: BatakMudaWorship (BMW) Gathering! 12 Des 09
batakmudaworship@...
Send Email Send Email
 
HORAS dongans ... ! *ijin yaahh modie*
reminder nih ... pengingat massal ... biar ndak kelupaan tuk gabung dengan kami yaaahhhh ... *maaf kalo yg terganggu dengan inbox2 nya*

PS: tambahan info tuk acara ini adalah:
- tiket masuk dan transport dan akomodasi lainnya adalah tanggung jawab masing2 peserta
- tuk memudahkan para dongans menemukan kami tim pekerja BMW, kami menggunakan atasan berwarna merah (kaos/kemeja) dan berkumpul di McD Ancol

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

HORAS dongans!
kabar sehat?! puji Tuhan!

dongans, dalam acara tutup tahun 2009, BMW mau ngajak-ngajak nih ... tuk melepas penat dalam 1 tahun ini *kesan nya berat banget yaaahhh* :D

gimana kalo kita ke ANCOL! di pantai nya, kita bikin acara gathering tuk semuahan member BMW groups yg ada di Jakarta *maaf yaaa yg tuk di luar Jakarta, doakan saja BMW bisa merambah ke kota2 kalian* :D

acara nya kita yg bikin seru ... ! kapan ?
tgl. 12 Desember 2009, jam 18.00
meeting point: McDonald di Pantai Karnaval

mau ikutan? telpon2 laaa yaaa hami na manggokhon:

Chissy br.Simanjuntak: 0812 135 9177 / 021 333 30 113
Dulce br.Hutauruk: 0812 9936 721
Melda br.Siregar: 0817 9429 842
David Silalahi: 021 9955 4968

syarat dan ketentuan *dah macam promo kartu kredit* :D
- range harga kado: minimum Rp.20,000 [# dua puluh ribu rupiah #]
- kado tidak berupa makanan
- kado berupa general gender (NO GENDER)
- kado dibungkus kertas koran
- masing2 bawa 1 kado ajah *kecuali ada yg mau kasih kado special ke tim kerja BMW* ngarep.com! :D
- tiket masuk dan transport dan akomodasi lainnya adalah tanggung jawab masing2 peserta
- tuk memudahkan para dongans menemukan kami tim pekerja BMW, kami menggunakan atasan berwarna merah (kaos/kemeja) dan berkumpul di McD Ancol

baiklah ... kami tunggu!
PS: tuk konsumsi, kami tidak menolak jika ada yg berbaik hati tuk membawakan makanan (bc: sistem potluck) :D


keep on fire
a/n BatakMudaWorship

#12435 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Sun Dec 6, 2009 9:44 am
Subject: 7 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?"
(Yes 35:1-10; Luk 5:17-26)
"Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli
Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan
Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat
menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh
di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di
hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan
banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu,
dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak
tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai
saudara, dosamu sudah diampuni." Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
berpikir dalam hatinya: "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang
dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Akan tetapi Yesus
mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu
pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni,
atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di
dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang
lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan
pulanglah ke rumahmu!" Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu
mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua
orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: "Hari
ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan."(Luk 5:17-26),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Ambrosius, Uskup dan
Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
 Dalam kisah hari ini ada tiga tokoh yang ditampilkan, yaitu: Orang Farisi dan
ahli Taurat, Yesus serta seorang lumpuh. Dalam keyakinan iman masa itu siapapun
yang menderita sakit berarti berdosa, dengan kata lain dosa merupakan sumber
penyakit, maka kepada orang lumpuh yang mohon penyembuhan dari Yesus, Ia
bersabda: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni". Orang Farisi dan ahli Taurat
tidak percaya bahwa  Yesus adalah Allah, maka mereka berpikiran jahat dan
menuduh Yesus menghojat Allah karena yang dapat mengampuni dosa hanya Allah.
Orang yang tidak percaya memang pada umumnya berpikiran jahat, sedangkan mereka
yang percaya akan sembuh dari aneka macam penyakit serta tidak pernah berpikiran
jahat kepada orang lain melainkan memuliakan Allah melalui sesamanya dan
doa-doanya. Maka baiklah di masa adven ini kita mawas diri: apakah kita seperti
orang Farisi dan ahli Taurat atau orang lumpuh yang percaya dan disembuhkan.
Kami mendambahkan bahwa kita adalah orang lumpuh yang mohon penyembuhan dari
Allah, dan dengan demikian dengan rendah hati siap sedia untuk dinasihati,
ditegor, dituntun dan diperintah orang lain, yang membantu penyembuhan kita.
Marilah kita sadari kelumpuhan kita, entah dalam hati, jiwa, akal budi atau
tubuh, dan kemudian dengan rendah hati mohon penyembuhan dan kasih pengampunan
dari Allah maupun saudara-saudari kita.
 "Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah" (Yes
35:3). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi yang kuat
dan sehat dengan ajakan untuk menguatkan yang lemah lesu dan meneguhkan yang
goyah. Marilah kita cermati lingkungan hidup dan kerja kita: adakah yang lemah
lesu dan goyah imannya sehingga kurang bergairah  dalam hidup maupun kerja
karena harus menghadapi banyak tantangan, masalah maupun hambatan. Mungkin
mereka tidak hanya lesu dan goyah, tetapi juga frustrasi dan putus asa. Sebagai
yang kuat dan sehat kita diharapkan kemanapun pergi dan dimanapun berada dapat
menjadi penguat dan peneguh bagi yang lain dan dengan demikian cara hidup dan
cara bertindak kita menjadi pengharapan bagi orang  lain. Cara memperkuat dan
meneguhkan dapat ditempuh dengan berbagai cara, tergantung dari situasi dan
kondisi, maka bagi kita yang akan memperkuat dan meneguhkan diharapkan
senantiasa siap sedia dan rela untuk berkorban dan boros waktu, tenaga dan dana
bagi mereka yang lesu dan goyah. Memperkuat yang lesu dan meneguhkan yang goyah
merupakan wujud cintakasih, dan cintakasih sejati mengandaikan adanya pemborosan
waktu dan tenaga bagi yang terkasih. Marilah di masa adven ini kita saling
memperkuat dan meneguhkan harapan kita masing-masing, sehingga kita sungguh
dapat hidup dengan bergairah, dinamis dan ceria.  Bukankah siapapun yang hidup
dan berperilaku  bergairah, dinamis dan ceria senantiasa menarik, memikat dan
mempesona alias menjadi harapan banyak orang?

"Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan
Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu,
keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari
bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan
kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya " (Mzm 85:10-13)

Jakarta, 7 Desember 2009

#12434 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sun Dec 6, 2009 7:23 am
Subject: Iman Kristen Vs Lebay-isme (Bagian 1) oleh: Denny Teguh Sutandio
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 

IMAN KRISTEN VS LEBAY-ISME:

Perspektif Kristen Menyoroti Sesuatu yang Berlebih-lebihan

 

oleh: Denny Teguh Sutandio

 

 

 

I.         PENDAHULUAN DAN PRESUPOSISI

A.       Konsep Sekular Mengenai Manusia

Siapa sih manusia? Dunia kita memiliki berbagai konsep tentang siapakah manusia:

1.             Manusia adalah Makhluk Ciptaan Tuhan

Di abad modern, asal-usul manusia diperdebatkan. Banyak saintis atheis ber“iman” bahwa manusia itu ada melalui teori evolusi dari kera. Lambat laun, kemajuan zaman membuktikan bahwa teori itu salah. Charles Darwin sendiri, sebagai pencetus teori evolusi, menjelang kematiannya menyadari kesalahannya, namun itu sudah terlambat. Maka di era sesudah zaman modern ini, manusia hampir bisa dipastikan tidak lagi memercayai teori evolusi, namun kembali kepada teori penciptaan. Semua orang dari berbagai agama meyakini bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa manusia diciptakan Tuhan secara unik yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya, seperti binatang dan tumbuhan. Oleh karena itulah, manusia disebut sebagai makhluk religius, karena di dalam diri manusia sudah ada bibit Tuhan di dalamnya. Sehingga tidak heran kita melihat kucing tidak bisa berdoa, melainkan manusia yang berdoa.

 

2..             Manusia adalah Makhluk Sosial

Selain sebagai makhluk religius, manusia juga disebut sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia harus bersosialisasi dengan sesama. Mereka pada umumnya tidak mau hidup sendiri, karena mereka membutuhkan orang lain di dalam hidupnya. Di dalam hidup kita, kita menjumpai realitas ini. Seorang anak kecil tidak mungkin bisa melakukan segala sesuatu jika tidak dibantu oleh orangtuanya.. Namun sayang, manusia berdosa sering kali menyalahgunakan konsep ini ke dalam dua konsep ekstrem yang tidak bertanggungjawab:

a.              Tidak lagi membutuhkan bantuan orang lain ketika seseorang beranjak dewasa

Ketika masih kecil, orang biasanya mengandalkan bantuan orang lain, khususnya orangtua. Mengapa? Karena orang tersebut masih KECIL yang tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, ketika orang tersebut beranjak dewasa, sering kali mereka MERASA tidak lagi membutuhkan bantuan orang lain. Saya menyoroti hal ini dari dua sisi. Dari sisi pertama, hal ini tentu baik. Tidak mungkin seorang dewasa masih membutuhkan bantuan orangtuanya untuk mengganti pakaiannya atau membuatkan susu untuknya. Itu jelas tidak masuk akal. Namun, di sisi lain, karena keberdosaan manusia, maka manusia dewasa sudah merasa mampu berbuat segala sesuatu dan cenderung hampir membuang orang lain yang mau membantunya. Mengapa bisa demikian? Karena mungkin sekali dia trauma dan curiga dengan bantuan orang lain yang belum tentu bertanggungjawab. Hal ini bisa dimaklumi, tetapi tidak boleh diekstremkan. Memang benar bahwa ada orang yang membantu orang lain kadangkala tidak 100% bermotivasi membantu, namun bermotivasi lain yang jahat. Tetapi tidak bisa dibenarkan jika karena alasan ini, maka seseorang membuang semua bantuan orang lain. Itu sama dengan mengeneralisasi segala sesuatu. Hal ini termasuk salah satu lebay-isme yang akan saya bahas di Bagian II. Kembali, orang yang terlalu curiga dan melihat keburukan orang lain biasanya hampir tidak pernah melihat keburukan diri sendiri, yang lebih parah, bukannya tidak mau melihat keburukan diri, malahan menyanjung diri sendiri yang tidak seperti orang lain yang jahat. Inilah dunia kita yang benar-benar mengerikan.

Bukan hanya membuang bantuan orang lain, pendapat orang lain pun dibuangnya. Orang ini bisa mengajari orang lain bahwa semua saran itu ditampung, yang baik diambil, yang buruk dibuang. Namun sayangnya orang yang sama yang mengajari orang lain adalah orang yang tidak mau menerima saran dari orang lain, khususnya saran yang tidak sesuai dengan konsep berpikirnya. Bagi orang ini, konsepnya sendiri yang paling hebat, pandai, dan bijaksana. Meskipun ada beberapa hal yang mungkin benar (ada beberapa konsepnya yang cukup bijaksana), tetapi kesombongannya (baik yang diakui/disadarinya atau tidak) mengakibatkan orang lain akan mencibir dia. Sejujurnya, saya sangat muak dengan orang seperti ini.

 

b.       Membutuhkan bantuan dan membantu orang lain untuk mencari keuntungan bagi dirinya.

Ekstrem kedua adalah ada kecenderungan orang dewasa mungkin membutuhkan bantuan orang lain, namun sayangnya motivasi membutuhkan bantuan itu adalah motivasi jahat, yaitu ingin mencari keuntungan bagi dirinya. Biasanya konsep ini berlaku di banyak perusahaan yang sudah diracuni oleh filsafat materialisme dan humanisme atheis. Biasanya di perusahaan tersebut, bos-bos membutuhkan bantuan dari orang lain khususnya karyawan untuk memajukan perusahaannya. Meskipun hal ini tidak selalu salah, namun sering kali motivasi ini diekstremkan. Dengan bertujuan memajukan perusahaannya, maka tidak jarang bos-bos menekan para karyawannya. Kesejahteraan karyawan ditekan dan hampir dihilangkan, sementara bos-bos hidup dengan enak dan bermewah-mewah. Yang lebih parah lagi, kalau bos “Kristen” yang melakukan hal tersebut.

Bukan hanya membutuhkan bantuan orang lain yang bermotivasi jahat, orang membantu orang lain pun tidak menutup kemungkinan bermotivasi jahat. Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. pernah mengajar hal ini dan memberikan contoh di dalam dunia realitas, yaitu tentang salesman. Meskipun tidak semua saleman bermotivasi jahat, namun banyak salesman bermotivasi tidak beres. Beliau mencontohkan, kalau di mal atau plaza, para salesman bank atau air minum jenis tertentu mempromosikan, maka isi promosinya selalu baik-baik. Misalnya, “kami mau membantu bapak”, “ini untuk kesehatan bapak”, dll. Tetapi benarkah semua isi promosi tersebut bermotivasi baik? Pdt. Sutjipto berkata TIDAK, mengapa? Karena yang mereka inginkan bukan mau membantu kita, tetapi ingin membantu si penjual dan perusahaan di tempat si penjual bekerja. Di balik kata-kata “kami mau membantu bapak”, sebenarnya terkandung makna, “kami mau membantu bapak sejauh/asalkan bapak membantu kami.” Empat kata di belakang yang saya garis bawahi di atas tidak disebutkan, mengapa? Karena justru itulah yang merupakan realitas asli si salesman.

 

 

 

 

B.        Konsep Alkitab Mengenai Manusia

Jika konsep dunia hanya mengerti manusia secara umum, maka Kekristenan jauh lebih mengerti konsep manusia dengan lebih limpah. Selain diciptakan oleh Tuhan, Alkitab mengajar satu prinsip penting tentang manusia yaitu manusia adalah dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah. Artinya:

1.             Manusia: dari Allah

Pertama, manusia adalah dari Allah. Artinya, manusia itu diciptakan oleh Allah. Apakah cukup konsep ini? TIDAK. Manusia itu dari Allah, bukan sekadar manusia diciptakan oleh Allah, namun juga keseluruhan hidupnya adalah dari Allah. Nafasnya dari Allah, tubuhnya dari Allah, kepandaian dan kebijaksanaannya dari Allah, dll. Karena segala sesuatu di dalam diri manusia adalah milik Allah, maka sesungguhnya TIDAK ada satu manusia pun yang boleh membanggakan diri atas apa pun yang dimilikinya. Di dalam prinsip theologi Reformasi dan Reformed, konsep ini disebut Sola Gratia (hanya oleh anugerah Allah). Meskipun konteks prinsip theologi ini berlaku untuk doktrin keselamatan, namun konsep ini sebenarnya juga berlaku bagi seluruh aspek kehidupan Kristen. Inilah bedanya theologi yang berpusat kepada Allah vs “theologi” yang berpusat kepada manusia (meskipun seolah-olah kelihatannya berpusat kepada Allah). Perbedaan ini bukan sekadar perbedaan konsep doktrinal, namun juga memengaruhi perbedaan gaya hidup dan kehidupan sehari-hari. Orang yang beriman beres yang memusatkan hidupnya hanya kepada Allah akan terus-menerus menyadari bahwa apa pun di dalam diri dan hidupnya adalah dari Allah, anugerah Allah, sehingga ia tidak akan berani memegahkan dirinya sendiri atau bahkan menyanjung diri sendiri lebih hebat dari orang lain. Jika ia melayani Tuhan bahkan secara penuh waktu baik sebagai penginjil, pendeta, dll, ia terus menyadari bahwa pelayanan yang dilakukannya adalah dari Allah, hanya oleh anugerah-Nya saja. Hal ini mengakibatkan kita makin rendah hati hidup dan melayani-Nya. Perhatikan bagaimana Alkitab mengajar hal ini dengan begitu jelas melalui teladan hidup seorang rasul Kristus yang paling tersohor, yaitu Rasul Paulus. Paulus adalah seorang rasul Kristus yang sangat brilian, namun rendah hati. Orang seperti ini makin jarang kita jumpai di abad postmodern. Biasanya kita menjumpai orang yang rendah hati namun bodoh atau orang yang sangat brilian namun sombongnya bukan main atau yang lebih parah lagi sudah bodoh, sombong pula, heheheJ. Kembali, ketika kita melihat pengajaran Paulus di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, kita akan makin merasakan kerendahan hati yang dia tunjukkan di dalam hidup dan pelayanan-Nya. Semuanya itu bisa dilakukannya karena Paulus menyadari bahwa segala sesuatu baik hidup dan pelayanannya adalah anugerah Allah. Maka dapat disimpulkan bahwa: konsep anugerah di dalam doktrin keselamatan yang Paulus tekankan memengaruhi konsep anugerah di dalam kehidupannya sehari-hari dan terakhir memengaruhi kerendahan hati yang dimilikinya. Mari kita telusuri pengajaran dan kehidupan Paulus ini.

Di dalam Roma 3:23-24, dengan jelas Paulus mengajar, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Di ayat 24 ini, Paulus TIDAK mengatakan, “dan oleh kasih karunia dan perbuatan baik telah dibenarkan dengan cuma-cuma…” Jika Paulus mengatakan bahwa kita dibenarkan melalui anugerah dan perbuatan baik, maka ia tidak konsisten, karena ia menyebutkan “dengan cuma-cuma.” Pernyataan “dengan cuma-cuma” (King James Version, International Standard Version, Revised Version, Modern King James Version, dan beberapa terjemahan Inggris lainnya menerjemahkannya: freely) menyatakan bahwa tidak ada sesuatu di dalam diri manusia yang bisa berkenan di hadapan Allah sehingga Allah membenarkan manusia. Tetapi puji Tuhan, Paulus adalah rasul Kristus yang konsisten, maka ia mengatakan bahwa kita dibenarkan dari dosa-dosa kita oleh anugerah Allah dengan cuma-cuma. Jadi, meskipun tidak ada tambahan kata “saja” atau “hanya” di ayat 24 ini, artinya tetap sama, yaitu kita dibenarkan oleh Allah oleh anugerah Allah (bukan melalui perbuatan baik atau ditambah perbuatan baik). Mengapa bisa sama? Karena ada pernyataan terakhir di ayat 24, “dengan cuma-cuma.”

Konsep anugerah di dalam doktrin keselamatan yang Paulus ajarkan memengaruhi konsep anugerah di dalam kehidupan sehari-harinya. Di dalam Roma 7:1-25, kita membaca penjelasan Paulus secara panjang lebar kaitan antara hukum (Taurat) dengan dosa yang membelenggu kehidupan Paulus dan manusia. Dengan adanya hukum tidak menjamin manusia tidak berdosa, bahkan mungkin sekali bisa mengakibatkan manusia lebih sering berdosa. Mengapa demikian? Karena hukum diberikan bukan untuk menjamin manusia tidak berdosa, namun sebagai standar moral tentang apa yang baik dan jahat. Ringkasan semua pergumulan ini diungkapkan Paulus di ayat 24-25, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Dan terakhir, semua konsep anugerah ini mengakibatkan Paulus makin rendah hati di dalam hidup dan pelayanannya. Dengan kata lain, ia bermegah hanya di dalam Tuhan. Konsep bermegah di dalam Tuhan ini saja ditekankan 2x oleh Paulus di dalam surat Korintus. Di dalam 1 Korintus 1:31 (bdk. 2Kor. 10:17), Paulus mengutip Yeremia 9:24, “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” Sebenarnya di dalam Yeremia 9:23-24, Tuhan berfirman, “Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." Di dalam dua ayat ini, Tuhan membawa kita untuk melihat tiga kehebatan manusia yang sering manusia banggakan lalu dikontraskan dengan kedahsyatan Allah. Tiga kehebatan manusia itu adalah: kebijaksanaan, kekuatan, dan kekayaan. Ketiga kehebatan manusia itu dianggap sampah oleh Tuhan, karena Allah adalah Allah yang jauh melebihi ketiga kehebatan tersebut (bdk. 1Kor. 1).

Sedangkan orang (bahkan tidak menutup kemungkinan banyak orang “Kristen” di dalamnya) yang memusatkan hidupnya pada filsafat manusia berdosa selalu memiliki konsep berpikir, gaya hidup, dan pola hidup duniawi. Jangan heran, biasanya orang ini selalu menampilkan kehebatan diri karena melebihi orang lain. Kalau pun orang lain tidak mau mengakui kelebihannya, ia akan menonjolkan dan menyanjung diri. Sebenarnya orang ini sangat mengasihankan dan perlu dirawat di rumah sakit karena mungkin orang ini mengidap penyakit narsis yang susah disembuhkan, heheheJ

Bagaimana dengan kita sendiri? Kita telah mempelajari teladan hidup Paulus yang rendah hati karena dipengaruhi oleh konsep anugerah dalam keselamatan dan kehidupan sehari-hari. Apa yang menjadi respons kita? Apakah kita terlalu banyak mengamini konsep anugerah di dalam doktrin keselamatan yang telah kita pelajari baik dari buku maupun kuliah theologi, namun tidak lagi mengamini dan mengaplikasikan konsep anugerah itu di dalam kehidupan kita sehari-hari? Yang paling menakutkan adalah orang Kristen bahkan hamba Tuhan yang sudah kuliah theologi bahkan bergelar theologi, kemudian tidak lagi rendah hati karena merasa sudah tahu banyak theologi.

 

2.             Manusia: oleh Allah

Setelah menyadari bahwa hidup umat Tuhan adalah anugerah Allah, maka orang Kristen harus menyadari juga bahwa hidupnya itu oleh Allah. Berarti segala sesuatu di dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan ada di dalam kontrol Allah yang berdaulat. Kontrol Allah yang berdaulat ini TIDAK mengakibatkan manusia menjadi robot. Kontrol Allah yang berdaulat tetap mengizinkan bahkan menuntut tanggung jawab manusia jika manusia tidak taat kepada-Nya. Kontrol Allah yang berdaulat juga menuntun kita untuk TIDAK berfokus pada kehendak kita, tetapi lebih kepada Allah dan kehendak-Nya yang berbeda dari kehendak kita. Hal ini membuat kita pun tidak sombong dan terus berpaut kepada-Nya, karena segala hal yang kita pikirkan, katakan, dan perbuat yang tidak kita duga sebelumnya dan yang memuliakan-Nya adalah hasil karya Allah yang berdaulat. Mari kita simak contoh nyatanya di dalam Alkitab. Setelah menjelaskan bahwa kita harus bermegah di dalam Tuhan (1Kor. 1:31), Paulus langsung mengimplikasikan contohnya melalui apa yang ia perbuat di dalam 1 Korintus 2:1-5, “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” Paulus menyadari bahwa segala perkataan dan tindakannya adalah murni Allah yang berkarya.

Bukan hanya perkataan dan tindakan, di dalam pelayanan pun, Paulus mengalami cara kerja Allah yang di luar dugaannya. Perhatikan kisahnya di dalam Kisah Para Rasul 16:5-10, “Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya. Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!” Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.” Di dalam 5 ayat ini, ada dua kali dikatakan bahwa Roh Kudus (atau Roh Yesus) mencegah atau tidak mengizinkan mereka (Paulus dan Silas). Berarti, kehendak Paulus dan Silas yang ingin memberitakan Injil di daerah Asia dilarang oleh Roh Kudus. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah bertanya, mengapa Roh Kudus melarang/mencegah orang memberitakan Injil. Dari jawaban beliau, saya menangkap satu kesimpulan bahwa alasannya adalah karena Roh Kudus jauh lebih mengerti ketimbang apa yang manusia mengerti. Mengutip Pdt. Dr. Stephen Tong, Roh Kudus mengetahui bahwa jika Petrus yang diutus ke daerah Eropa, maka ia tidak akan bisa berkhotbah dan berdebat dengan orang-orang di sana, karena Petrus bukan orang yang menguasai filsafat Yunani, sedangkan Paulus adalah rasul Kristus yang menguasai filsafat Yunani, sehingga ia bisa berdebat dan beradu argumen di dalam penginjilan kepada orang-orang Yunani di Atena (Kis. 17:16-34).

Bagaimana dengan kita? Masihkah hidup kita difokuskan hanya bagi diri sendiri, meskipun kita mengklaim diri “Kristen” bahkan aktivis gereja? Orang Kristen yang beres selain menyadari bahwa hidupnya dari Allah, ia harus menyadari bahwa hidupnya oleh Allah. Artinya, ia harus merelakan hidupnya terus diproses oleh Allah untuk menggenapkan kehendak-Nya. Merelakan hidup diproses-Nya membutuhkan suatu kerelaan hati dan kesiapan hati melihat cara kerja Allah yang jauh melampaui cara kerja manusia. Cara kerja manusia biasanya selalu statis, namun tidak demikian dengan cara kerja Allah. Cara kerja Allah meskipun didasarkan pada rencana kekal-Nya, Ia bekerja dengan cara dinamis bagi umat-Nya. Hubungan Allah dengan umat-Nya tidak didasarkan pada hubungan statis, namun dinamis. Ini bukan hanya konsep saja, saya sendiri mengalami apa yang dikerjakan Allah benar-benar mencengangkan bagi saya dan di luar pikiran saya. Kadang Ia mendadak mencerahkan saya beberapa prinsip dan membentuk saya. Itu semua di luar kendali saya. Tetapi JANGAN pakai alasan ini, lalu menerapkan semuanya secara tidak bertanggungjawab di dalam struktur organisasi. Ada hamba Tuhan yang suka mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong tentang “dinamis”, lalu menerapkannya di dalam struktur organisasi, akibatnya, hampir tidak ada bedanya antara dinamis dengan tidak ada rencana atau bahkan lupa. Gereja memang tidak boleh memutlakkan struktur organisasi lebih daripada pentingnya Firman, tetapi tidak berarti struktur organisasi bisa seenaknya sendiri dipermainkan (apalagi dengan rasionalisasi: “dinamis”). Seorang rekan saya yang adalah pendeta yang bertheologi Reformed dari Gereja Bethel Tabernakel mengeluh kepada saya bahwa ia sangat sulit mengundang hamba Tuhan dari gereja tertentu yang berdenominasi Reformed karena ia pernah mengundang hamba Tuhan tertentu dari gereja tersebut namun mendadak hamba Tuhan itu menelpon rekan saya ini untuk membatalkannya. Ada juga hamba Tuhan di gereja yang berdenominasi Reformed tersebut yang mengaku kepada saya bahwa ia pernah diundang berkhotbah di sebuah kampus Kristen terkenal di Surabaya dan ia menyanggupinya. Undangan itu sudah dia terima cukup lama, namun mendadak karena urusan organisasi gereja yang mengharuskan ia mengutamakan pelayanan di gereja di tempat dia melayani, maka undangan berkhotbah di kampus Kristen tersebut terpaksa dibatalkan. Dalam hal ini, saya TIDAK menyalahkan si hamba Tuhan, tetapi menyalahkan struktur organisasi yang tidak beres dan egois! Apakah ini yang dinamakan dinamis? Atau sebenarnya tidak ada rencana atau bahkan mungkin lupa? Saya ngeri melihat beberapa orang Kristen bahkan Reformed (bahkan ada juga hamba Tuhan dan anak majelis/pengerja gereja) yang sembarangan memakai istilah agung demi keuntungannya sendiri (baik disengaja maupun tidak disengaja). Belajarlah untuk tidak mengkambinghitamkan istilah-istilah agung di dalam rohani, seperti: bergumul, dinamis, dll untuk menutupi ketidakbertanggungjawaban dan nafsu diri yang berdosa! Jika lupa, katakan lupa, jangan pakai alasan “dinamis.” Kalau memang itu hasrat diri yang berdosa yang ingin cari pasangan hidup yang beda agama, bicaralah terus terang dan jujur, jangan pakai istilah “lagi bergumul.” Yang seperti itu tidak perlu bergumul, karena jelas-jelas melawan Alkitab! Bergumul adalah tindakan seseorang yang sudah tahu kebenaran dan siap berisiko di dalam kebenaran itu, tetapi masih ingin berjuang melawan nafsu diri yang berdosa yang terus merayunya. Nah kalau di dalam diri orang tertentu tidak mau berjuang melawan nafsu diri yang berdosa, malahan ingin masuk ke dalamnya (dengan alasan cocok), ya, tidak usah pakai istilah “bergumul” lah, itu benar-benar memalukan dan menjijikkan! Orang Kristen khususnya yang mengklaim diri Reformed, belajarlah mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dikatakannya, jangan meniru orang-orang postmodern yang seenaknya sendiri mempergunakan perkataan tanpa mengerti arti di balik perkataan itu.

 

3.             Manusia: untuk Allah

Manusia yang hidupnya difokuskan pada rencana dan kehendak-Nya, maka secara otomatis, hidupnya hanya difokuskan untuk memuliakan-Nya. Ini adalah tujuan akhir manusia Kristen yang normal. Mengutip perkataan Pdt. Erastus Sabdono, D.Th. di dalam judul artikelnya di website GBI Rehobot: Manusia yang Normal bagi Allah, maka manusia Kristen bisa disebut normal tatkala mereka hidup bagi Allah, bukan bagi diri sendiri. Jangan berani mengklaim diri Kristen apalagi Reformed, kalau hidupnya masih untuk diri sendiri. Bagaimana memiliki kehidupan yang diperuntukkan untuk kemuliaan Allah?

a)             Menyadari Status Kita

Hidup yang memuliakan-Nya didasarkan pada kesadaran kita bahwa siapakah kita sebenarnya di hadapan-Nya. Alkitab mengajarkan bahwa kita adalah manusia yang dicipta segambar dan serupa dengan-Nya, namun manusia ini telah berdosa dan rusak total, sehingga tidak ada jalan lain bagi manusia untuk diselamatkan. Allah dalam kedaulatan dan keadilan-Nya seharusnya menghukum semua manusia akibat dosa, namun karena kasih-Nya, Ia rela mengasihi manusia yang telah dipilih-Nya untuk diselamatkan-Nya dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa manusia pilihan-Nya, sehingga mereka dibenarkan di hadapan Allah dan memperoleh keselamatan kekal. Setelah diselamatkan oleh penebusan Kristus, Roh Kudus diutus untuk mengefektifkan karya penebusan Kristus ke dalam hati umat pilihan-Nya agar mereka bertobat dan menjadi percaya. Karya keselamatan inilah yang mengakibatkan kita bukan lagi berada di dalam status kegelapan (anak setan), melainkan menjadi anak-anak terang yang dipilih Allah sebelum dunia dijadikan. Karya keselamatan ini pula yang mengakibatkan kita terus berusaha hidup untuk Allah saja sebagai respons ucapan syukur kita atas anugerah-Nya.

 

b)             Berkomitmen Menyerahkan Seluruh Hidup Kita bagi Kemuliaan-Nya

Setelah menyadari status kita, langkah kita selanjutnya adalah kita berkomitmen menyerahkan seluruh hidup kita bagi kemuliaan-Nya. Berarti, kita bukan hanya menyadari status kita dan terlena di dalamnya, namun kita bangkit dan terus berusaha hidup bagi kemuliaan-Nya dengan menyerahkan seluruh hidup kita dipakai bagi kemuliaan-Nya. Dengan demikian, Allah lah yang berdaulat menguasai hidup kita sehari-hari melalui firman-Nya, Alkitab dan pimpinan Roh Kudus. Pdt. Thomy J. Matakupan, M.Div. di dalam salah satu kuliahnya tentang Surat Ibrani di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika pernah berujar bahwa orang Kristen paling mudah memercayai Allah sebagai Pencipta, namun sangat sulit memercayai Allah sebagai Pemelihara. Mengapa? Karena penciptaan Allah tidak ada kaitannya dengan hidup sehari-hari, namun pemeliharaan Allah sangat berkaitan secara langsung dengan hidup sehari-hari. Ketika pemeliharaan Allah sangat berkaitan secara langsung dengan hidup kita sehari-hari, maka kita menjadi pribadi yang benar-benar egois. Keegoisan kita ditandai dengan tindakan kita marah jika Tuhan menguasai hidup kita. Mungkin kita tidak berani secara eksplisit mengatakannya, karena kita sungkan mengakuinya. Namun sadar atau tidak sadar, iblis terus merayu kita untuk tidak lagi mengizinkan Allah berdaulat atas hidup kita dan kita pun dengan mudahnya terpengaruh oleh bujuk rayu iblis tersebut. Mengapa bisa demikian? Karena kita percaya bahwa hidup kita diatur oleh kita sendiri. Hal tersebut tidak akan terjadi jika pertama-tama kita menyadari status kita (bdk. poin a di atas).. Namun sayangnya, kita yang tidak mengakui pemeliharaan Allah adalah orang Kristen yang sebenarnya tidak menyadari statusnya atau mungkin sekali orang “Kristen” palsu yang sedang menyamar sebagai pengikut Kristus di dalam gereja. Berwaspadalah!

 

c)             Berusaha Mematikan Kehendak dan Kemuliaan Diri demi Kemuliaan-Nya

Setelah kita berkomitmen menyerahkan hidup kita bagi kemuliaan-Nya, maka langkah selanjutnya adalah kita berusaha mematikan kehendak dan kemuliaan diri demi kemuliaan-Nya. Mematikan kehendak dan kemuliaan diri tidak berarti kita menghilangkan kehendak kita sama sekali, sehingga kita tidak memiliki kehendak. Jangan dibodohi oleh agama Timur. Jika ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak memiliki kehendak apa pun, di titik pertama, orang tersebut secara tidak sadar sedang memiliki kehendak untuk mengatakan bahwa ia tidak memiliki kehendak apa pun. Suatu kontradiksi pemikiran yang lucu dan memalukan! Mematikan kehendak dan kemuliaan diri identik dengan menyangkal diri. Pdt. Dr. Stephen Tong dengan tepat sekali mendefinisikan menyangkal diri sebagai tindakan mencintai apa yang Tuhan cintai dan membenci apa yang Tuhan benci. Ketika kita telah dan terus-menerus berkomitmen menyerahkan hidup kita bagi kemuliaan-Nya, maka secara otomatis, hati kita terus dibakar oleh api Roh Kudus untuk makin mencintai apa yang Tuhan cintai dan membenci apa yang Tuhan benci. Di saat itu pulalah, dengan bantuan Roh Kudus, kita terus-menerus mampu mematikan kehendak kita yang melawan-Nya dan juga mematikan kemuliaan diri kita agar kemuliaan dan kehendak-Nya sajalah yang diutamakan. Mematikan kehendak dan kemuliaan diri memang tidak mudah. Mengapa? Karena dunia kita sedang meracuni kita dengan ide berpikir positif dan pengembangan diri yang selalu berorientasi pada kehebatan manusia. Oleh karena itu, Roh Kudus terus membimbing kita untuk bisa mematikan kehendak dan kemuliaan diri melalui firman Allah (Alkitab) dan pimpinan-Nya setiap hari dalam hidup kita. Yang menjadi tugas kita selanjutnya adalah peka terhadap pimpinan Roh Kudus dan rajin membaca Alkitab. Itulah cara bagaimana kita terus berusaha mematikan kehendak dan kemuliaan diri.

 

 

 

 

II.       EKSTREM: LEBAY

Jika hidup manusia Kristen yang normal adalah hidup untuk memuliakan Allah, maka apa yang menjadi hambatannya? Salah satu hambatannya adalah sikap lebay. Apa itu lebay? Apa penyebabnya? Apa ruang lingkupnya? Siapa sajakah yang termasuk orang-orang lebay itu? Apa akibatnya? Mari kita mengertinya.

A.       Definisi Lebay

Apa itu lebay? Jangan mencari kata ini di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karena dijamin tidak akan ada! HeheheJ So, apakah lebay itu? Lebay adalah suatu sikap berlebih-lebihan yang ditunjukkan oleh orang-orang tertentu. Artinya, sikap lebay adalah sikap yang melebihi batas normal seorang manusia. Jika diekstremkan dan dibesar-besarkan (di-lebay-kan), seorang lebay bisa dikategorikan sebagai orang gila yang cocok dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

 

 

B.        Penyebab Lebay

Nah, pertanyaannya adalah mengapa seseorang bisa lebay? Apa yang menyebabkannya? Saya menyoroti ada tiga penyebab:

1.             Pendidikan dan Tradisi Orangtua

Tindakan seorang anak tidak bisa dilepaskan dari pengajaran orangtuanya. Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. menyebutnya sebagai first decree (dekrit pertama) dari orangtua kepada anak. Jika anaknya seorang lebay, maka mungkin bisa diduga (salah satu atau semua) orangtuanya adalah seorang lebay. Mungkin penyebab ini sangat jarang dijumpai di dunia kita, tetapi bukan berarti hal ini tidak ada. Jika seorang anak dari kecil sudah dibiasakan oleh gaya hidup lebay dari salah satu orangtuanya, maka jangan heran, anak tersebut ketika tumbuh dewasa, mungkin sekali ia akan menjadi seorang lebay. Meskipun hal ini tidak 100% benar, namun kecenderungannya masih mungkin terjadi.

Di dalam hal pendidikan orangtua, ada orangtua yang mendisiplin anaknya secara ekstrem, sehingga anak-anaknya ikut tertular penyakit lebay tersebut dan ketika menjadi orangtua lagi, orang ini ikut lebay di dalam mendisiplin anaknya. Misalnya, pendidikan orangtua mendisiplin anaknya untuk tidak makan apa pun menjelang makan siang. Alhasil anaknya yang sudah diindoktrinasi oleh pendidikan seperti ini memiliki kebiasaan untuk memutlakkan pendidikan tersebut sampai anak ini menikah dan memiliki anak, meskipun untungnya konsep ini tidak diindoktrinasikan kepada anaknya. Memiliki prinsip tidaklah salah, tetapi kita mesti membedakan manakah prinsip yang sangat penting/primer dengan yang sekunder. Prinsip yang penting/primer HARUS dipertahankan, namun prinsip sekunder TIDAK perlu dipertahankan. Belajarlah bijaksana untuk bersikap paradoks dan jangan menjadi orang-orang freak!

Di dalam hal tradisi, biasanya hal ini terjadi pada tradisi Tionghoa yang sarat dengan pemberhalaan tradisi. Meskipun TIDAK semua orang keturunan Tionghoa memberhalakan tradisi, namun tetap ada orang-orang Tionghoa (bahkan “Kristen”) yang memberhalakan tradisi meskipun mereka tidak mengakuinya secara eksplisit. Tradisi keluarga inilah yang mengakibatkan tindakan lebay seorang anak ketika ia bertumbuh dewasa kelak. Contoh: tradisi Tionghoa (entah dari sebelah mana) mengajarkan bahwa angka 4 (si) itu berarti mati, maka ada satu pemilik mal di Surabaya yang lebay dan menerapkan konsep yang sudah diindoktrinasikan oleh tradisi lalu tidak meletakkan angka 4 di lantai mal yang dibangunnya. Juga ada orang tua yang biasanya berasal dari Tiongkok asli yang memercayai mati-matian (tanpa menggunakan rasio) tentang beruntungnya warna merah, sehingga konsep ini diindoktrinasikan mati-matian kepada anaknya. Jangan heran, anaknya ini, meskipun ada yang sudah menjadi “Kristen”, masih percaya pada warna merah sebagai warna keberuntungan, maka ia akan mencari seprei warna merah kalau ia menikah. Tindakan lebay seperti ini jelas tidak masuk akal. Secara akal, mana ada hubungannya antara angka dengan kematian, warna dengan keberuntungan, dll? Tetapi semuanya dihubung-hubungkan. Harap maklum, agama mistik tetap saja mistik, heheheJ

 

2.             Karakter Perfeksionis-Otoriter

Penyebab kedua dari tindakan lebay adalah masalah karakter. Karakter perfeksionis-otoriter dari seseorang yang menyebabkan orang tersebut menjadi lebay. Seorang yang berkarakter perfeksionis adalah orang yang menginginkan segala sesuatu harus sempurna dalam segala sesuatu, bahkan hal-hal terkecil sekalipun. Mungkin konsep ini diimpor dari konsep Kekristenan yang disalahtafsirkan. Kekristenan memang mengajarkan kesempurnaan, tetapi ingatlah, kesempurnaan itu terjadi di Sorga (bukan di dunia)! Di dunia ini, anak-anak Tuhan mengalami apa yang disebut sebagai proses menuju kesempurnaan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Orang bahkan orang Kristen yang mati-matian menekankan dan mementingkan kesempurnaan bahkan untuk hal-hal tidak penting itulah yang mengakibatkan orang lebay. Orang ini tidak akan mau orang lain berbeda dari dirinya, karena bagi orang lebay ini, orang lain itu salah dan dirinya sendiri yang paling benar (meskipun hal ini tidak ditekankannya secara eksplisit). Selain perfeksionis, tindakan lebay ini disebabkan oleh karakter otoriter dalam diri orang itu. Orang yang otoriter berarti orang ini mau agar orang lain menuruti semua permintaannya, seperti orang lain itu pembantunya dan dia adalah raja/ratunya! Jika boleh disamakan, seorang otoriter bisa disebut orang egois! Yang lebih parah lagi, jika kedua karakter ini digabungkan: perfeksionis dan otoriter, plus mengaku diri “Kristen.” Jika kedua karakter ini digabungkan, maka keluarlah tindakan lebay. Jangan harap orang ini akan menolerir segala kesalahan sekunder dari orang lain, karena itu tidak ada di dalam kamus seorang lebay!

 

3.             Paranoid

Penyebab terakhir seorang lebay adalah paranoid. Trauma akan masa lalu dan ketakutan yang berlebihan mengakibatkan seseorang menjadi seorang lebay. Misalnya, seseorang trauma dengan pengalamannya masa lalu yang mengalami kecelakaan, maka biasanya ia akan bersikap lebay di dalam segala sesuatu, karena takut kejadian kecelakaan yang dialaminya dahulu terulang kembali. Tindakan lebay yang saya maksud di sini BERBEDA dari sikap berhati-hati. Kita memang perlu berhati-hati di dalam segala sesuatu, namun jangan menjadi lebay. Lebay bukan solusi dari trauma dan paranoid, tetapi hanya menambah masalah saja, heheheJ

 

 

C.        Ruang Lingkup Lebay

Setelah mengerti penyebab lebay, maka kita akan mencoba mengerti ruang lingkup/wilayah di mana seseorang bisa bersikap lebay:

1.             Prinsip dan Iman

Ruang lingkup pertama yang saya akan soroti adalah masalah prinsip dan iman. Meskipun sangat jarang orang yang lebay dalam masalah prinsip dan iman, karena dunia kita adalah dunia postmodern yang merayakan pluralitas. Namun bukan berarti tidak ada orang yang lebay dalam masalah prinsip dan iman. Yang lebih parah adalah jika orang lebay ini adalah orang Kristen (mengaku Reformed pula) dan pendeta/hamba Tuhan. Biasanya orang ini memutlakkan suatu iman dan prinsip tertentu yang sebenarnya bukan hal-hal esensial yang Alkitab ajarkan. Saya akan memberikan contoh riilnya.  Pertama, tentang prinsip. Orang Kristen tertentu ada yang terlalu melebaykan prinsip hidupnya. Misalnya, ada seorang yang mengatakan prinsip hidupnya bahwa ia tidak akan makan apa pun (makanan ringan) menjelang makan siang. Mungkin prinsip ini ada sisi benarnya, karena kalau kita sudah nyemil, maka kita akan kekenyangan menjelang makan siang. Namun tidak berarti prinsip ini 100% benar. Prinsip ini sedikit mengandung unsur kebenaran, namun TIDAK perlu dimutlakkan seperti kita memutlakkan prinsip Kristen bahwa Kristus satu-satunya Juruselamat.

 

Contoh kedua, ada pendeta Reformed yang mengajar di atas mimbar bahwa gereja yang tidak menjalankan baptisan anak/bayi itu sesat. Waktu saya mendengar pernyataan itu, saya tertawa, karena pengajaran tersebut jelas kurang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada satu ayat Alkitab yang memutlakkan maupun melarang praktek baptisan anak. Namun dengan otoritas siapakah si pendeta ini berani mengajar demikian?

 

Contoh ketiga, pendeta yang sama yang sering kali mengerti theologi Reformed secara sepihak dan subyektif ini memiliki prinsip-prinsip yang aneh. Di gereja di tempat dia menggembalakan, tidak ada satu hamba Tuhan dari gereja lain (meskipun bertheologi sama) yang diundangnya.. Mengapa? Alasannya, hal tersebut adalah aturan dari gereja pusat. Namun, fakta menunjukkan gereja tersebut yang memiliki cabang di Singapore pernah mengundang pengkhotbah dari luar. Ini membuktikan ketidakkonsistenan prinsipnya sendiri. Saya berani menyimpulkan, biasanya orang lebay kalau membangun paradigma selalu berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, berhentilah menjadi orang lebay.

 

2.             Perkataan

Wilayah kedua yang dikuasai oleh seorang lebay adalah perkataan. Biasanya orang lebay kalau berbicara selalu dibesar-besarkan dari faktanya. Pdt. Dr. Stephen Tong sangat kesal terhadap orang seperti ini. Beliau memberi contoh praktisnya. Pada waktu itu, ada seorang yang berkata kepada beliau bahwa banyak pastor/romo yang berzinah. Pdt. Stephen Tong langsung membantah dan menanya balik kepada orang itu, jika banyak pastor/romo yang berzinah, berapa persen pastor/romo yang berzinah tersebut? Ternyata orang itu hanya bisa menyebutkan sedikit. Berarti, orang lebay ini hendak mengeneralisasi segala sesuatu. Saya juga menjumpai realitas akan hal ini di dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya orang lebay ini kurang memperhatikan kata-kata, seperti: “mayoritas”, “banyak”, “beberapa”, “mungkin”, dll yang mengindikasikan sesuatu yang spesifik. Di dalam kamus orang lebay, yang ada hanyalah “semua” atau/dan “banyak.” Orang Kristen yang normal berhentilah lebay di dalam berkata-kata. Bertanggungjawablah ketika kita menggunakan kata-kata, karena setiap kata (yang sia-sia) harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan! (Mat. 12:36) Ingatlah, bertanggungjawab (bahkan dalam hal berkata-kata, dll) TIDAK sama dengan tindakan lebay. Bertanggungjawab adalah pengajaran dan tuntutan Alkitab, sedangkan lebay adalah tindakan dunia berdosa.

 

3.             Gaya Hidup dan Tindakan

Ruang lingkup ketiga dari orang lebay adalah gaya hidup dan tindakannya. Kelebayan gaya hidup ditandai dengan gaya dan sikap nyentrik yang ditunjukkan oleh mayoritas kaum muda zaman sekarang. Mereka berkata bahwa hal tersebut gaul. Misalnya, rambut disemir warna yang beraneka ragam, celana jeans yang disobek-sobek sedikit, dll. Lama-kelamaan, jika benar-benar di-lebay-kan, sepatu mereka juga sengaja disobek-sobek sedikit biar gaul.

 

Bagaimana pandangan Kekristenan? Bolehkah orang Kristen gaul? Mengenai gaya hidup, ada dua ekstrem yang terjadi yang saya perhatikan khusus di dalam kubu Kekristenan (lebih spesifik: Reformed). Di satu sisi, ada orang Kristen yang hidup semaunya sendiri (semau gue), hang-out sampai malam, dll, tetapi sayang tidak memerhatikan iman dan kerohaniannya. Akibatnya, orang ini bisa dikatakan kurang memiliki prinsip hidup yang beres. Namun sayangnya ekstrem lain adalah ada orang Kristen (khususnya beberapa orang Reformed yang doyan baca buku) menjadi orang kaku dan statis. Relasi sosialnya bisa dikatakan parah. Jadul (jaman dulu) puol, kata anak muda zaman sekarang. Di antara dua ekstrem, saya menawarkan alternatif ketiga dan paradoks yaitu orang Kristen yang beres harus beriman beres, namun tidak berarti kita anti terhadap budaya dunia. Pdt. Thomy Job Matakupan, M.Div. di dalam khotbahnya tanggal 29 November 2009 sempat mengatakan bahwa orang Kristen yang berbeda dari dunia bukan berarti orang Kristen menjadi aneh, namun yang harus berbeda itu konsep berpikirnya. Itu benar. Prinsip hidup kita tetap harus berbeda dari prinsip hidup dunia, karena kita adalah orang Kristen yang percaya kepada Allah yang benar. Prinsip hidup ini sendiri pun harus kita bedakan, mana yang primer dan mana yang sekunder. Prinsip hidup ini harus kita aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip hidup yang primer harus kita pertahankan, sedangkan prinsip hidup yang sekunder TIDAK perlu terlalu kaku dipertahankan. Sekali lagi saya tekankan, belajarlah menjadi orang Kristen yang NORMAL! Dengan demikian, bolehkah orang Kristen gaul? Mengutip perkataan Ev. Ivan Kristiono, M.Div. di dalam Seminar: Panggilan, Waktu Luang, dan Gaya Hidup di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Ngagel, Surabaya, orang Kristen harus gaul. Mengapa? Karena kita harus berelasi sosial dengan orang lain sebagai pengikut Kristus. Ingatlah, Kristus sendiri berdoa kepada Bapa tentang para murid-Nya dan kita sebagai anak-anak-Nya, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.” (Yoh. 17:18-19) Perhatikan kedua ayat ini. Kristus mengutus kita ke dalam dunia dengan diperlengkapi satu sarana yang luar biasa dahsyat, yaitu Kebenaran Allah. Kita yang diutus Kristus ke dunia tentu harus berelasi dengan dunia kita. Jika tidak mau berelasi dengan dunia, bagaimana mau menginjili mereka? Namun ketika berelasi dengan dunia kita, kita TIDAK boleh terseret dan mengikuti pola pikir dan kebiasaan dunia, sebaliknya, kita tetap berpegang teguh pada Kebenaran. Baca kembali Roma 12:2. Ini yang saya sebut sebagai paradoxical Christian life-style (gaya hidup Kristen yang paradoks).

 

4.             Penafsiran

Ruang lingkup terakhir dari orang lebay adalah penafsiran. Mengingat dunia yang kita hidupi sekarang sarat dengan ide postmodernisme yang merayakan pluralitas, maka di bidang penafsiran pun, pluralitas ditekankan. Pluralitas ini di“baptis” dalam nama “yesus” dengan ide lebay oleh orang lebay, kloplah sudah, heheheJ Saya terus memerhatikan gejala penafsiran orang-orang lebay di zaman postmodern dan realitas yang terjadi benar-benar mengerikan. Apa yang dikatakan seseorang sering kali ditafsirkan hampir secara tidak bertanggungjawab. Misalnya, ada orang yang berkata X dengan maksud X (meskipun mungkin maksud perkataannya itu bisa diimplisitkan: Y, Z, dll), namun secara tidak bertanggungjawab, beberapa (atau mungkin banyak?) orang lebay dengan berani langsung menafsirkan perkataan orang ini bermakna Y, tanpa mengklarifikasi kepada orang yang berkata tersebut. Saya pribadi juga bisa salah dalam hal ini, namun saya terus-menerus berusaha untuk tidak sembarangan menafsirkan. Kesalahan penafsiran mungkin bisa disebabkan oleh kesalahan (atau lebih tepatnya, kekurangtelitian) perkataan dari seseorang yang bisa bermakna ganda (ambigu). Nah, itu susahnya hidup di zaman postmodern. Meskipun TIDAK semua ide postmodernisme itu salah, namun banyak aspek dan pengajaran postmodernisme itu salah dan berbahaya. Salah satu pengajarannya yang berbahayanya adalah masalah penafsiran ini. Orang bisa berkata sembarangan sesuka hatinya dengan maksud ganda dan orang lain yang menangkap perkataan orang ini juga bisa menangkapnya dengan maksud ganda. Saya terus-menerus berusaha untuk berkata dan menulis dengan hati-hati dan teliti, sehingga orang lain tidak salah menangkapnya. Namun meskipun demikian, masih ada juga orang lain yang menyalahartikan perkataan dan tulisan saya. Ya, susah juga sih hidup di era postmodern, heheheJ

 

 

D.        Macam-macam Orang Lebay

Setelah mengerti 4 ruang lingkup orang lebay, maka mari kita melihat dua macam orang lebay.

1.           Orang Lebay yang Biasa

Macam pertama adalah orang lebay yang biasa. Biasanya ciri orang lebay biasa ini tidak terlalu mencolok dan lebih bersifat introvert. Artinya, sikap lebay-nya ini tidak mau ditonjolkan keluar (sehingga orang lain tahu) atau/dan sikapnya ini tidak terlalu memaksa. Orang seperti ini masih memiliki tingkat toleransi yang cukup baik. Saya masih menghargai orang lebay seperti ini.

 

2.             Orang Lebay yang Otoriter dan Memaksa

Namun, di sisi lain, ada orang lebay yang otoriter dan memaksa. Nah, kalau ada orang lebay seperti ini biasanya tingkat toleransinya hampir tidak ada. Orang lebay macam ini biasanya sangat kelihatan jelas dan lebih bersifat extrovert. Orang lain dengan mudahnya menyebut orang ini sebagai orang lebay karena tingkah laku, perkataan, dan hal-hal di dalam dirinya menunjukkan sebagai orang lebay. Bukan hanya itu saja, sikap lebay-nya ditunjukkannya dengan memaksa orang lain untuk menuruti perkataan dan kemauannya (bahkan untuk hal-hal yang sangat tidak penting). Misalnya, untuk urusan memilih arah jalan pun, orang lebay macam ini benar-benar menjengkelkan, karena ia bukan hanya menyuruh orang lain untuk menuruti kemauannya, namun juga memerintah bahkan marah-marah jika kemauannya tidak dituruti. Kalau orang lain berbeda karakter dari orang lebay ini, biasanya orang lebay ini langsung menghina, tanpa mau mengerti orang lain yang berbeda. Bagi orang lebay ini, dirinya sendiri yang paling hebat, pandai, bijaksana, dll. Bukankah orang seperti ini benar-benar menjengkelkan dan menjijikkan? Selain narsis, orang ini jelas bukan orang Kristen yang beres, karena ia tidak benar-benar mengakui ketergantungannya kepada Allah saja dan tentunya tidak menghargai orang lain sebagai sesama peta dan teladan Allah.

 

 

E.         Akibat Tindakan Lebay

Setelah mengerti lebay-isme, maka kita perlu memikirkan, apa yang menjadi akibat dari tindakan lebay ini? Hanya satu akibat, yaitu: orang lebay biasanya TIDAK mengenal istilah kompromi dan toleransi. Biasanya (tentu tidak semua) orang lebay tidak mau menghormati orang lain dalam hal-hal sekunder (bahkan tersier) dalam prinsip dan tindakan. Di dalam kamus orang lebay, yang ada adalah kehebatan diri lebih daripada orang lain. Akibatnya, meskipun hampir tidak ada orang lain yang memuji dirinya, biasanya orang lebay macam ini dengan bangganya memuji dirinya sendiri yang hebat. Lama-kelamaan, bukan nama Tuhan yang harus dipuji dan dipermuliakan, tetapi nama dia sendiri yang diagungkan. Sungguh mengasihankan orang lebay macam ini. Selain harus diinjili, orang lebay macam ini harus benar-benar diajar untuk berserah total kepada Allah, karena konsep berserah total kepada Allah ini sangat sulit dilakukan oleh orang lebay macam ini.


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!

#12433 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sun Dec 6, 2009 7:37 am
Subject: Iman Kristen Vs Lebay-isme (Bagian 2) oleh: Denny Teguh Sutandio
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 

III.         KEKRISTENAN MENGOBATI LEBAY-ISME

Bagaimana Kekristenan menghadapi dan mengobati penyakit lebay­-isme? Saya akan memberikan dua hal, yaitu dasar presuposisi dan tindak lanjut sebagai reaksi/aplikasi dari dasar presuposisi tersebut.

A.       Dasar Presuposisi

Sebelum kita menentukan sikap menghadapi dan mengobati penyakit lebay-isme, mari kita memikirkan dasar pikir kita tentang sikap kita. Ada dua poin presuposisi kita:

1.             Ada Kemutlakan: Alkitab

Prinsip pertama Kekristenan yang jelas dan bertanggungjawab adalah Kekristenan yang orthodoks percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tertulis yang memberitakan Kebenaran kepada umat-Nya. Dengan demikian, Kekristenan yang sehat, normal, dan bertanggungjawab berpegang teguh pada otoritas Alkitab sebagai satu-satunya standar mutlak bagi doktrin (pengajaran) dan kehidupan Kristen yang sehat, normal, bertanggungjawab, dan memuliakan Allah. Semboyan Reformasi dari Dr. Martin Luther yang terkenal adalah Sola Scriptura (=hanya Alkitab). Namun, sayangnya semboyan ini hanya dipelajari di otak atau/dan diucapkan di mulut oleh beberapa orang Kristen bahkan “pemimpin gereja”, namun hampir tidak pernah diimplikasikan di dalam khotbah dan kehidupan Kristen sehari-hari. Patutkah jika seorang “Kristen” bahkan “pemimpin gereja” mulai meragukan otoritas Alkitab? TIDAK PATUT! Jika ada orang seperti demikian yang meragukan otoritas Alkitab, dengan otoritas apa/siapa si “pemimpin gereja” tersebut berkhotbah? Otoritas diri sendiri atau pengajarannya sendiri? Jika demikian, layakkah otoritas diri dan ajarannya dijadikan patokan kebenaran bagi jemaat Kristen? Jika orang demikian mengatakan layak, di titik tersebut, “pemimpin gereja” tersebut harus segera dicopot dari pemimpin gereja, karena sudah meninggikan diri dan menghina Allah. Kembali, ketika kita belajar dan mengakui otoritas Alkitab, maka kita harus menerima pengakuan iman tersebut beserta konsekuensi logis dan praktisnya. Ketika Alkitab menjadi otoritas bagi ajaran dan kehidupan Kristen kita, maka:

a)             Semua pengajaran (Kristen) harus diuji berdasarkan Alkitab

Konsekuensi pertama pengakuan iman tentang otoritas Alkitab adalah semua pengajaran baik Kristen maupun duniawi harus diuji berdasarkan Alkitab.

Pertama, pengajaran Kristen. Semua pengajaran Kristen yang beres harus dibangun di atas dasar Alkitab dengan penafsiran yang dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya. Memang benar di zaman postmodern, aliran-aliran Kristen bermunculan di mana-mana dan herannya mereka mengklaim “Alkitabiah.” Benarkah mereka Alkitabiah? Bukankah mereka yang mengklaim “Alkitabiah” juga mendasarkan ajaran-ajarannya pada Alkitab? Dari mana kita mengetahui bahwa mereka “Alkitabiah”? Semua yang mengklaim “Alkitabiah” tidak menjamin mereka benar-benar mengerti totalitas Alkitab. Saya harus mengatakan satu hal penting: tidak ada satu aliran Kristen yang seharusnya mengklaim diri Alkitabiah. Mengapa? Karena jika ada satu aliran Kristen mengklaim diri Alkitabiah menandakan bahwa aliran tersebut sudah merasa diri paling benar dan itu menunjukkan kesalahan aliran tersebut. Adalah lebih bijaksana, mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, jika kita mengganti kata “Alkitabiah” dengan kata “mendekati Alkitab” jika ajaran-ajaran kita benar-benar mendekati Alkitab dengan prinsip penafsiran yang ketat dan bertanggungjawab. Kembali, bagaimana kita mengetahui bahwa aliran yang mengklaim “Alkitabiah” itu benar-benar Alkitabiah? Apakah kita hanya melihat buktinya bahwa pendiri atau penganut aliran tersebut memegang dan membaca Alkitab? TIDAK. Tidak semudah itu. Kita bisa menguji suatu ajaran dari aliran tertentu dalam Kekristenan bukan hanya dengan membaca Alkitab, tetapi dengan mengerti Alkitab secata totalitas dan komprehensif. Artinya, kita mengerti Alkitab bukan asal main comot ayat lalu ditafsirkan seenaknya sendiri, seperti metode penafsiran ala postmodernisme yang semau gue. Namun, kita mengerti Alkitab secara terintegrasi dari Kejadian s/d Wahyu. Misalnya, keselamatan Kristen apakah karena iman atau iman + perbuatan baik atau perbuatan baik saja? Penganut Katolisisme dan Arminianisme percaya bahwa keselamatan Kristen karena iman + perbuatan baik. Jika orang Kristen hanya beriman saja tanpa berbuat baik, maka mereka akan kehilangan keselamatan. Mereka mendasarkan pengajaran mereka dari Filipi 2:12 dan Yakobus 2:14-26. Kedua nats Alkitab yang dikutip tersebut memang tidak salah dan benar-benar menjelaskan tentang pentingnya perbuatan baik demi kemuliaan Allah. Namun sayang, jika suatu doktrin dibangun hanya dari kedua nats Alkitab tersebut, maka doktrin tersebut berbahaya, karena tidak memerhatikan pengajaran lain di Alkitab. Di bagian lain, Rasul Paulus dengan jelas dan gamblang mengajarkan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Ef. 2:8-9) Perhatikan, Paulus mengajar bahwa keselamatan kita yang diperoleh melalui iman itu meliputi dua hal yang saling berkaitan erat, yaitu: pertama, merupakan anugerah/pemberian Allah dan kedua, bukan hasil pekerjaan manusia. Berarti keselamatan kita murni 100% adalah anugerah Allah dan tidak ada unsur jasa baik manusia sedikit pun juga. Bukankah pengajaran Paulus ini begitu jelas? Hal yang sama ditekankan Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Roma, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Rm. 3:23-24) Kembali, Paulus mengajar kita bahwa kita dibenarkan di hadapan Allah bukan karena jasa baik kita, namun karena kasih karunia Allah. Malahan, di bagian ini, Paulus dengan jelas mengaitkan ayat 23 dan 24 dengan menunjukkan satu prinsip: karena semua orang telah berdosa dan mengurangi kemuliaan Allah (mengikuti terjemahan Alkitab bahasa Inggris), maka kita dibenarkan di hadapan Allah bukan karena jasa baik kita (yang tentu berdosa), namun karena anugerah/kasih karunia Allah.

Lalu, benarkah jika kita hanya beriman dan tidak berbuat baik, kita bisa kehilangan keselamatan? Seolah-olah jika kita memerhatikan kutipan ayat Alkitab dari pihak Arminian yang mengajarkan tentang kehilangan keselamatan, kita mungkin dengan mudahnya terkecoh dan menyetujuinya. Namun sayang, sekali lagi, kutipan ayat Alkitab dari pihak Arminian selalu di luar konteks atau tidak memerhatikan konteks yang ada dan tidak memerhatikan bagian-bagian Alkitab yang sudah jelas mengajar bahwa keselamatan di dalam Kristus tidak akan pernah mungkin bisa hilang. Ada dua argumentasi menjawab konsep ini: argumentasi Alkitab dan argumentasi logika Kristen. Argumentasi pertama didasarkan pada perkataan Tuhan Yesus sendiri di dalam Yohanes 10:27-29, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” Konteks dari ketiga ayat ini adalah pada saat itu Tuhan Yesus sedang mengajar tentang diri-Nya sebagai Gembala (ay. 1 dan 14). Tuhan Yesus seperti gembala domba yang menggiring domba-dombanya. Penjelasan yang Ia berikan tentang gembala domba dan domba-dombanya begitu jelas mengajar kita bahwa gembala domba tidak akan pernah meninggalkan domba-dombanya bahkan rela berkorban demi domba-dombanya (ay. 11-12, 14-15, 17). Konsep ini juga ditekankan oleh Tuhan Yesus sendiri di dalam perumpamaan tentang domba yang hilang di Lukas 15:1-7. Perikop ini mengajarkan bahwa Kristus seperti gembala yang mencari domba yang tersesat dan bersukacita jika si gembala menemukan domba tersesat itu. Jika gembala domba rela mencari domba yang tersesat, maka logiskah jika gembala itu kemudian meninggalkan domba itu gara-gara domba itu nakal? Dengan demikian, dari dua pengertian ini, kita bisa mengerti alasan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Kristus yang mengenal dan memberikan hidup kekal kepada mereka adalah Kristus yang menjamin bahwa mereka PASTI tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan tidak seorang pun yang dapat merebut mereka dari tangan-Nya. Hal ini ditambah dengan penjelasan Kristus bahwa Bapa yang memberikan umat pilihan itu kepada Kristus dan Bapa itu lebih besar dari siapa pun. Kepastian inilah yang mengakibatkan tidak mungkin ada yang bisa merebut umat pilihan dari tangan Bapa. Bukankah jaminan ini benar-benar menguatkan dan menghibur umat-Nya bahwa mereka tidak akan pernah kehilangan keselamatan?

Kedua, argumentasi logika Kristen. Kalau kita mau menggunakan logika Alkitab, maka kita bisa menemukan dasar pikirnya. Di dalam Roma 3:23-24 dan Efesus 2:8-9, Paulus sudah menjelaskan bahwa kita dibenarkan di hadapan Allah dan diselamatkan bukan karena jasa baik kita, namun karena anugerah Allah. Nah, dari dasar pikir ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa keselamatan itu mutlak 100% adalah kedaulatan Allah. Jika demikian, jika Allah yang telah menyelamatkan umat-Nya, logiskah Ia sendiri menarik keselamatan itu karena umat-Nya tersebut murtad atau tidak berbuat baik? Jika pola pikir demikian “benar”, maka sungguh mengasihankan “Allah” demikian, karena “Ia” yang melakukan rencana agung-Nya, “Ia” pulalah yang mengubah rencana-Nya. Benarkah Allah bisa dengan mudahnya mengubah rencana-Nya hanya gara-gara “Ia” putus asa dan kecewa dengan tindakan manusia yang mendukakan hati-Nya? “Allah” seperti apakah itu? Itu jelas bukan Allah yang diberitakan Alkitab. Allah versi Alkitab adalah Allah yang Kekal, Mahatahu, Mahabijaksana, Mahakudus, Mahakasih, Mahaadil, Mahakuasa, dan Mahaagung yang tidak mungkin bisa terkaget-kaget dengan fenomena-fenomena yang terjadi. Ia sudah mengetahui segala sesuatu karena Dia Allah. Sedangkan kita adalah manusia biasa yang diciptakan-Nya yang bisa terkaget-kaget dengan fenomena. Jika “Allah” bisa terkaget-kaget kemudian mengubah rencana karena bete dengan umat-Nya, maukah Anda percaya pada “Allah” yang demikian? Kalau saya pribadi, saya tidak mau, karena “Allah” yang demikian tidak ada bedanya dengan manusia yang mudah berubah kalau lagi bete, heheheJ

 

Kedua, pengajaran dunia. Ada dua pandangan lebay dari Kekristenan berkenaan dengan pandangan dunia? Ada yang terlalu mudah menerima semua pengajaran dunia tanpa mau diuji berdasarkan Alkitab dan ada juga yang terlalu gegabah menolak semua pengajaran dunia karena semua pengajaran dunia, katanya, bertentangan dengan Alkitab. Pandangan lebay pertama diwakili oleh beberapa (atau mungkin banyak?) golongan Kristen Protestan arus utama (termasuk di dalamnya beberapa Katolik) yang hampir menjadi liberal terselubung. Tidak heran, seorang “pendeta” dari gereja Protestan bisa dengan mudahnya mendukung feminisme ekstrem dan (berencana) mengganti kata “Bapa” di dalam Doa Bapa Kami. Pandangan lebay kedua diwakili oleh beberapa (atau mungkin banyak) Pentakosta/Karismatik. Tentang pandangan kedua ini, saya memiliki contoh nyata yang saya dengar dari seorang teman kuliah saya dahulu yang bergereja di salah satu gereja Karismatik terkenal di Surabaya. Seorang pendeta yang masih muda dari gereja Karismatik terkenal di Surabaya pernah mengajar bahwa jemaatnya tidak diperbolehkan membaca atau menonton The Da Vinci Code. Lucu bukan? Jemaatnya tidak boleh membaca atau menonton The Da Vinci Code, tolong tanya, apakah si pendeta sudah membaca/menontonnya? Saya menduga, pasti sudah. Mengapa? Karena jika belum membaca atau menonton, maka si pendeta tidak mungkin bisa melarang jemaatnya untuk membaca atau menontonnya. Inilah gejala kekanak-kanakan iman.

Lalu, bagaimana sikap Kristen yang beres? Semua pandangan dunia harus diuji berdasarkan Alkitab. Mengapa? Karena mayoritas pengajaran dunia dibangun di atas dasar asumsi manusia berdosa, jadi, sebagai orang Kristen, sangatlah wajar jika kita meletakkan semua pengajaran dunia di bawah penghakiman Alkitab. Setelah menghakimi semua pengajaran dunia dengan dasar uji Alkitab, maka apa yang harus kita lakukan kemudian? Ada dua hal yang harus kita lakukan: mempelajari dan menerima pengajaran dunia yang tidak bertentangan dengan Alkitab dan kedua, tetap mempelajari dan menolak pengajaran dunia yang bertentangan dengan Alkitab. Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi. Bagi pengajaran dunia yang sesuai dengan Alkitab, kita harus mempelajari dan menerimanya. Namun bagi pengajaran dunia yang bertentangan dengan Alkitab, kita tetap mempelajarinya namun menolaknya. Mengapa demikian? Mengapa kita tetap mempelajari pengajaran dunia yang melawan Alkitab? Jika ada yang bertanya demikian, saya akan bertanya balik, mengapa kita tidak mau mempelajari pengajaran dunia yang melawan Alkitab? Apakah kita takut bahwa pengajaran dunia yang melawan Alkitab itu nantinya memengaruhi kita? Jika ya, itu membuktikan bahwa iman dan pengertian orang itu akan Alkitab masih rendah dan kekanak-kanakan yang mudah ditipu. Jika orang Kristen benar-benar dewasa dalam iman tidak akan takut ditipu oleh pengajaran dunia, maka ia akan tetap mempelajari semua pengajaran dunia yang melawan Alkitab sekalipun, namun bedanya ia TIDAK akan menyetujuinya. Lalu, apa tujuan mempelajari pengajaran dunia yang melawan Alkitab? Ya, untuk melihat kreativitas sekaligus keberdosaan manusia yang melawan Allah. Dari pengajaran dunia yang melawan Alkitab, kita bisa sisi positif dan banyak sisi negatif/kelemahan dari ajaran tersebut.

 

Biarlah kita semakin bijaksana mempergunakan Alkitab sebagai dasar uji bagi pengajaran baik Kristen maupun dunia.

 

b)             Semua praktik hidup Kristen harus diuji berdasarkan Alkitab

Bukan hanya pengajaran, seluruh praktik hidup Kristen harus diuji berdasarkan Alkitab. Artinya, Alkitab berhak menghakimi praktik hidup Kristen yang jelas-jelas tidak beres. Contoh, praktik KKN, aborsi, euthanasia, dll ditentang oleh Alkitab. Namun di zaman postmodern dengan hadirnya etika situasi dari Joseph Fletcher mengakibatkan beberapa atau mungkin banyak orang Kristen mulai mengkompromikan standar etika Kristennya. Etika tidak lagi didasarkan pada prinsip Alkitab yang tegas, namun didasarkan pada situasi dan kondisi. Tidak heran, di suatu negara, di dalam gereja, ada “pendeta/uskup” homo/lesbian atau yang melegalkan (memberkati) pernikahan sesama jenis. Belakangan ini saya mendengar dari seorang rekan dan dikonfirmasi oleh pendeta dari sebuah gereja Injili Karismatik, di Indonesia sendiri ada seorang “pemimpin gereja” yang juga menulis buku membentuk persekutuan di Surabaya yang terdiri dari mayoritas anak-anak muda (cewek), kemudian setelah persekutuan tersebut, si “pemimpin gereja” melakukan free-sex dengan para gadis tersebut. Namun si “pemimpin gereja” masih mengklaim dirinya “nabi.” Luar biasa mengerikan. Tidak hanya itu saja, konsep berdusta pun sekarang diperhalus. Sekarang ada pembedaan antara: bohong putih (white lies) dan bohong hitam. Bohong putih itu artinya berdusta demi tujuan kebaikan, sedangkan bohong hitam artinya berdusta bukan bertujuan kebaikan. Dengan kata lain, standarnya bukan lagi kebenaran, namun kebaikan. Seorang rekan gereja saya membedakan dua kata ini: kebenaran vs kebaikan. Kebenaran bisa mengandung unsur kebaikan (namun juga bisa tidak baik) menurut manusia. Namun, kebaikan TIDAK selalu mengandung unsur kebenaran. Baik menurut standar manusia belum tentu baik dan benar menurut standar Allah. Perbedaannya: baik menurut standar manusia biasanya berarti menyenangkan, menguntungkan, dan bermanfaat. Jika tidak bermanfaat dan terus merugikan, maka biasanya orang mencapnya tidak baik. Asas manfaat memang ada sisi positifnya, karena tidak mungkin sesuatu dikerjakan tanpa ada manfaat sama sekali, namun asas manfaat ini jangan dijadikan patokan segala-galanya. Jika asas manfaat dijadikan patokan segala-galanya, ada yang tidak beres dengan diri kita, karena dengan menjadikan asas manfaat sebagai patokan segala-galanya, kita terlalu memberhalakan fenomena lebih daripada esensi.

 

Setelah mengerti bahwa semua praktik hidup Kristen harus diuji berdasarkan Alkitab, maka apa yang harus kita lakukan?

Pertama, taat. Problematika utama Kekristenan bukan masalah ketidaktahuan atau ketidakmengertian, namun ketaatan. Fakta membuktikan beberapa (atau mungkin banyak?) orang Kristen sudah mengetahui dan mengerti begitu banyak doktrin Kristen yang beres, namun sayangnya, tidak mau menaatinya dengan menjalankannya. Bagi orang ini, mengenal Allah identik dengan mengerti begitu banyak doktrin. Padahal hal tersebut salah. Prof. J. I. Packer, D.Phil. di dalam bukunya Knowing God membedakan realitas antara mengenal Allah vs mengenal tentang Allah. Dr. Packer menyimpulkan satu prinsip, “Pengetahuan yang sedikit dari Allah lebih berharga daripada pengetahuan yang banyak tentang Dia.”[1] Dari prinsip ini, Dr. Packer mengemukakan dua hal: “Seseorang dapat mengetahui banyak tentang Allah tanpa banyak mengenal-Nya.”[2] dan “Seseorang dapat mengetahui banyak tentang kesalehan tanpa banyak mengenal-Nya.”[3] Lalu, apa arti mengenal Allah? Dengan bijaksana, Dr. Packer mengemukakan definisi dari mengenal Allah, “mengenal Allah mencakup, pertama, mendengarkan firman Allah dan menerimanya sebagaimana Roh Kudus menafsirkannya, serta menerapkannya pada diri sendiri; kedua, memperhatikan sifat dan karakter Allah, seperti dinyatakan melalui firman dan karya-Nya; ketiga, menerima undangan-Nya, dan melakukan apa yang Ia perintahkan; keempat, menyadari dan bersukacita di dalam kasih yang telah IA tunjukkan saat Ia mendekati Anda dan menarik Anda ke dalam persekutuan ilahi itu.[4] Saya akan meringkaskan empat hal yang Dr. Packer paparkan. Mengenal Allah mencakup: mendengar dan menerima Firman, mengerti Firman, menerima undangan Allah dan menjalankannya, dan bersukacita di dalam Allah melalui firman-Nya. Dari ringkasan ini, kita menemukan seluruh totalitas hidup kita (hati, pikiran, afeksi, dan tindakan) dikaitkan dengan Allah. Ketika kita mengenal Allah, secara otomatis kita terus berkomitmen untuk menaati apa yang diperintahkan-Nya, meskipun tentu hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketaatan membutuhkan suatu proses dan di dalam proses itu membutuhkan kerelaan dan komitmen. Relakah kita taat pada firman Allah atau pada nafsu diri kita? Kedua, berkomitmenkah kita untuk terus menjalankan firman-Nya meskipun ada pencobaan menghadang perjalanan iman kita?

 

Kedua, rendah hati. Bukan hanya taat, kita dituntut untuk rendah hati di hadapan-Nya. Ada orang Kristen yang sudah belajar banyak doktrin, namun kurang memperhatikan satu aspek ini: rendah hati. Dia tahu bahwa perbuatan tertentu itu salah, namun dia dengan mudahnya membuat suatu argumentasi untuk mendukung perbuatan itu. Jika orang ini ditegur, dia bukannya rendah hati, malahan berargumentasi, “who say, who pay.” Konsep “who say, who pay” memang ada benarnya dan hal ini menghindari agar orang Kristen jangan sembarangan memberikan usulan namun tidak mau terlibat dan bertanggungjawab. Namun jika konsep ini diekstremkan (di-lebay-kan) dan diaplikasikan di dalam kehidupan Kristen sehari-hari dengan motivasi dan tujuan tidak beres, misalnya: tidak mau menerima sumbangan saran apa pun, itu bisa berbahaya. Dengan kata lain, selain taat, orang Kristen yang beres harus rendah hati. Rendah hati bukan rendah diri! Rendah diri berarti minder dan tidak mengakui anugerah Allah berupa talenta dan kelebihan atas dirinya. Namun rendah hati berarti dengan kerelaan hati siap ditegur jika kita bersalah. Meskipun kita harus tetap berwaspada bahwa tidak semua teguran itu beres, komprehensif, dan benar, namun kita tidak boleh lebay lagi lalu menolak semua teguran dan menganggap bahwa konsep kita sendiri yang paling benar dan bijaksana.. Berhati-hatilah terhadap konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi lebay, karena itu bisa berbahaya. Mengapa kita perlu rendah hati menerima teguran dari orang lain? Karena kita harus mengakui keterbatasan kita sebagai manusia yang kadang lemah iman atau kurang bijaksana. Di saat itulah, Tuhan mengirim hamba Tuhan, orangtua, rekan, pasangan hidup, teman kita untuk menegur kita. Bagi orang yang menegur orang lain, camkan satu hal: jangan sombong! Saya menjumpai ada orang “Kristen” yang menegur kesalahan orang lain, lalu dia menjadi sombong dan berkata dengan terus terang bahwa tanpa dirinya, orang lain itu tidak bisa apa-apa. Dengan kata lain, kerendahan hati harus dimiliki oleh semua orang tanpa kecuali. Jangan berpikir bahwa karena kita menegur orang lain, maka kita bisa lepas dari sikap rendah hati. Sekali lagi, introspeksi diri kita masing-masing!

 

2.             Ada Kerelatifan

Selain kebenaran absolut/mutlak, Kekristenan juga mengakui adanya hal-hal yang relatif. Artinya, hal-hal relatif tersebut biasanya tidak ditekankan oleh Alkitab, namun diajarkan secara implisit di Alkitab. Contohnya, baptisan anak. Dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru, konsep ini berlanjut secara implisit. Rev. Prof. Richard L. Pratt, Jr., Th.D. di dalam kuliahnya Why Do We Baptize Our Children? menjabarkan bahwa di dalam PL, anak-anak dari kecil disunat, namun di dalam PB, sunat itu diganti dengan baptisan. Dan uniknya, baptisan ini, seperti hanya sunat, juga berlaku untuk anak kecil. Baik sunat maupun baptisan, kedua tanda ini adalah tanda perjanjian (kovenan) antara Allah dan manusia. Mari kita lihat di dalam PB tentang baptisan anak secara implisit. Di dalam Kisah Para Rasul 16:33, setelah Paulus memberitakan Injil kepada kepala penjara di Filipi, Alkitab mencatat, “Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” Secara logis, “ia dan keluarganya memberi diri dibaptis” berarti termasuk anak-anak juga dibaptis. Jika tidak demikian, maka tentulah Alkitab mencatat, “ia dan keluarganya, kecuali anak-anak, memberi diri dibaptis.” Namun Alkitab tidak memberi indikasi demikian. Pengajaran Reformed/Calvinis tentang baptisan anak didasarkan pada pengertian komprehensif akan Alkitab. Namun konsep tentang baptisan anak TIDAK pernah dimutlakkan di dalam Alkitab. Dengan kata lain, meskipun secara implisit, konsep baptisan anak diajarkan di Alkitab, namun Alkitab tetap silent di dalam mengajar tentang baptisan anak. Alkitab TIDAK pernah mengajar bahwa yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat atau sebaliknya yang menjalankan baptisan anak itu sesat. Sehingga dengan bijaksana, theologi Reformed yang beres TIDAK memutlakkan baptisan anak! Ini yang saya sebut sebagai hal relatif. Nah, menurut Pdt. Dr. Stephen Tong, yang relatif ya jangan dimutlakkan!

 

 

B.        Tindak Lanjut

Setelah mengerti dasar presuposisi Kristen menghadapi dan mengobati lebay-isme, maka apa yang harus kita lakukan?

1.             Peka Membedakan Mutlak Vs Relatif Berdasarkan Alkitab

Kemutlakan dan kerelatifan di dalam Kekristenan bukan hanya dimengerti di dalam pikiran kita saja, tetapi harus diaplikasikan. Aplikasi tersebut harus berupa suatu kepekaan membedakan mana yang mutlak dan relatif berdasarkan Alkitab.. Kecenderungan beberapa (atau mungkin banyak?) orang Kristen khususnya Reformed (terutama hamba-hamba Tuhan tertentu) adalah terlalu menyamaratakan segala sesuatu. Hal-hal relatif yang seharusnya bisa ditoleransi akhirnya menjadi hal-hal mutlak. Sebaliknya, di beberapa (mungkin juga banyak) kalangan Protestan arus utama (dan Katolik), hal-hal mutlak malahan direlatifkan. Pdt. Dr. Stephen Tong mengajar satu prinsip bagus dan bijaksana: yang mutlak jangan direlatifkan dan yang relatif jangan dimutlakkan! Berarti, kita harus peka membedakan mana yang mutlak dan relatif di dalam Kekristenan. Jangan menganggap semuanya relatif dan jangan pula menganggap semuanya mutlak! Tindakan lebay tersebut bisa berbahaya. Biasanya tindakan lebay ini berdampak pada beberapa (bahkan mungkin banyak) jemaat yang kurang dewasa. Akhirnya, beberapa (atau mungkin banyak) jemaat bukan lagi kritis terhadap zaman sesuai dengan Alkitab, tetapi sesuai dengan perkataan si pendeta. Waspadalah! Waspadalah!

 

Lalu, bagaimana kita bisa memiliki kepekaan tersebut? Ya, tidak ada jalan lain, belajarlah Alkitab. Galilah Alkitab dan belajarlah melalui buku-buku rohani/theologi yang berkualitas untuk memperkaya pengetahuan kita akan Kekristenan dan sekaligus membawa kita makin mencintai dan mengenal Tuhan dan firman-Nya. Percayalah, orang Kristen bahkan hamba Tuhan yang makin teliti dan ketat mengerti Alkitab, tak mungkin orang itu menjadi lebay, karena Alkitab anti dengan lebay-isme! HeheheJ

 

2.             Belajar Menghormati Orang Lain yang Berbeda dalam Hal-hal Primer maupun Sekunder

Setelah peka membedakan mana yang mutlak dan relatif, apa tindakan kita selanjutnya? Tindakan kita selanjutnya adalah belajar mengasihi dan menghormati orang lain. Namun, jangan salah mengerti jawaban saya ini. Saya tidak sedang mengajarkan relativitas, tetapi saya sedang menekankan sikap bijaksana. Kita harus belajar mengasihi dan menghormati orang lain dalam hal-hal primer maupun sekunder dengan bijaksana:

a)             Berbagi prinsip dan iman kita yang berdasarkan Alkitab (=memberitakan Injil) tanpa memaksa

Mengasihi dan menghormati orang lain dalam hal-hal primer ditandai dengan sikap kita yang penuh kasih membagikan prinsip dan iman kita yang berdasarkan Alkitab kepada orang-orang di sekitar kita yang belum mengenal Kristus atau pun “Kristen” yang tidak mengenal Kristus secara utuh yang masih memercayai bahwa di luar Kristus masih ada keselamatan. Kepada orang-orang demikian, kita harus memberitakan Injil Kristus dengan bijaksana. Artinya, kita memberitakan Injil dengan kasih, namun tegas, tidak kompromi namun tidak memaksa juga. Jika orang yang kita injili tidak mau menerima Injil yang kita beritakan, jangan pernah memaksa. Ingatlah, di dalam penginjilan, yang dipentingkan bukan teknik-teknik penginjilan, namun kuasa Roh Kudus, meskipun tidak berarti teknik penginjilan dan doktrin Kristen tidak diperlukan. Jangan menjadi lebay lagi ya, heheheJ Di dalam penginjilan, Roh Kudus bekerja dengan begitu rupa sesuai kehendak-Nya. Meskipun orang yang kita injili menolak apa yang kita sampaikan, percayalah, jika orang ini termasuk salah satu umat pilihan-Nya, Roh Kudus akan mencerahkan hati dan pikirannya tentang Injil melalui orang lain yang memberitakan Injil di kesempatan lain. Oleh karena itu, jangan pernah memaksa ketika kita menginjili orang lain.

 

Jika ada orang yang tidak mau menerima berita Injil yang kita sampaikan, selain tidak memaksa, bagaimana sikap kita terhadap orang tersebut? Sesuai dengan prinsip kasih, kita TIDAK perlu memusuhi bahkan mengutukinya. Kita bisa bersahabat dengannya, namun tetap TIDAK boleh kompromi untuk masalah iman.

 

b)             Belajar menghormati orang lain yang berbeda dari kita dalam hal-hal sekunder

Selain hal-hal primer, kita pun dituntut untuk belajar menghormati orang lain yang berbeda dari kita dalam hal-hal sekunder. Hal ini rupa-rupanya agak susah dijalankan oleh beberapa orang bahkan hamba Tuhan Reformed. Mengapa? Karena mereka terlalu kaku mempertahankan theologi Reformed, sehingga mereka tidak lagi berpegang pada Sola Scriptura (hanya Alkitab saja), namun sudah (sedang dan akan) menjadi Sola Reformed. Padahal prinsip Reformed selain Sola Scriptura juga begitu tegas: Ecclesia Reformata Semper Reformanda (gereja-gereja Reformed terus-menerus di-Reformed-kan) Dengan kata lain, proses di-Reformed-kan yang ditekankan oleh Reformed berarti gereja Reformed bukan gereja yang statis, namun dinamis, sesuai dengan gerakan Roh Kudus yang mencerahkan melalui Alkitab. Berarti, yang menjadi inti Kekristenan/Reformed seharusnya Alkitab, sebagaimana yang ditekankan oleh Dr. Martin Luther maupun Dr. John Calvin. Namun, entah mengapa beberapa pengikut Calvinisme menyimpang dari tujuan itu dan menciptakan rumusan-rumusan tersendiri yang menjadi lebay: Sola Reformed. Waspadalah! Waspadalah!

 

Jika Alkitab menjadi satu-satunya dasar, maka mengikuti dasar presuposisi kita di atas bahwa ada hal yang mutlak dan relatif, maka kita pun sebagai orang Kristen (bahkan Reformed) harus peka membedakan mana yang mutlak dan relatif, kemudian disusul dengan sikap kita terhadap mereka yang berbeda dari kita dalam hal-hal sekunder/relatif. Misalnya, kita yang bertheologi Reformed yang percaya akan baptisan anak, bagaimana kita memandang saudara Kristen kita yang menolak baptisan anak? Apakah kita memusuhi mereka? Jika ya, maka kita kurang mengasihi. Maka saya mengambil sikap untuk tetap mengasihi mereka, namun tetap tidak mau berkompromi. Artinya, kita memiliki pandangan sendiri yang tegas, namun tetap bisa menoleransi orang Kristen lain yang berbeda pendapat dari kita dalam hal baptisan anak tersebut. Begitu juga halnya dengan perbedaan konsep akhir zaman: Amillenialisme, Premillenialisme, Dispensasionalisme, dan Postmillenialisme. Perbedaan itu tidak perlu diperdebatkan.

 

Di dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal sekunder (bahkan tersier) pun jangan diperdebatkan sampai berkelahi. Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. di dalam salah satu khotbahnya pernah menceritakan bahwa di dalam konseling yang beliau layani, ada satu keluarga yang berkelahi hanya gara-gara beda cara meletakkan barang tertentu. Si suami meletakkan barang itu di X, sedangkan si istri meletakkan barang itu di Y. Hanya gara-gara itu, suami istri bertengkar. Ya, inilah lebay-isme dalam hidup berkeluarga. Belajarlah hidup menghormati orang lain dan bertoleransi (namun JANGAN sampai kebablasan!)

 

 

 

 

IV.       KESIMPULAN DAN TANTANGAN

Setelah mengerti konsep lebay-isme dan pengobatannya, maka sebagai kesimpulan dan tantangan, saya akan mengusulkan bagaimana orang Kristen hidup normal. Orang Kristen yang beres adalah orang Kristen yang hidup secara normal yaitu hidup yang selalu berfokus pada Allah dan firman-Nya. Orang ini akan menyadari bahwa hidup ini adalah dari Allah, oleh Allah, dan untuk/bagi Allah, sehingga hidupnya akan dipakai bukan mengurus hal-hal yang tidak penting, namun hanya untuk kemuliaan Allah. Ia lebih mementingkan esensi ketimbang fenomena (meskipun TIDAK berarti harus membuang semua fenomena—jangan lebay lagi ya…). Ia juga akan mewarnai hidupnya makin lama makin bijaksana di dalam melihat segala sesuatu. Ia tidak akan langsung mengeneralisasi segala sesuatu dan sok tahu dengan segala sesuatu, namun ia akan hidup secara paradoks. Artinya, ia akan hidup berpegang pada prinsip yang tegas dari firman Tuhan, namun ia TIDAK menjadi aneh di mata dunia. Seluruh aspek hidupnya hanya tertuju pada Kebenaran Firman Tuhan, namun ia tidak kaku di dalam hidupnya. Ia seorang yang peka terhadap pimpinan Roh Kudus, peka terhadap kondisi zaman, peka terhadap segala sesuatu, dan terakhir (dan terpenting) peka juga menebus zamannya kembali kepada Kristus. Ia seorang Kristen yang cinta Tuhan, taat, namun tetap gaul (sesuai batas).

 

Bagaimana dengan kita? Apa yang menjadi respons kita setelah merenungkan tema lebay-isme ini? Masihkah kita lebay di dalam hidup kita? Ataukah kita sudah bertobat dari kebiasaan lebay ini? Biarlah Roh Kudus memimpin kita untuk lebih mengerti firman-Nya dan arti menjadi seorang Kristen yang beres, normal, dan bertanggungjawab di hadapan-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.



[1] J. I. Packer, Knowing God: Tuntunan Praktis Untuk Mengenal Allah (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2008), hlm. 15.

[2] Ibid., hlm. 15.

[3] Ibid., hlm. 17.

[4] Ibid., hlm. 30..


"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)



Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!

#12432 From: MANG UCUP <mang.ucup@...>
Date: Sun Dec 6, 2009 3:33 am
Subject: GOd vs GOogle ! - Bag. 2/3
mangucup88
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Google Omniscience (Al Alim) Maha Tahu
Setiap manusia yang melek komputer pasti akan meng-Amin-kan, bahwa Google itu adalah sumber dari segala ilmu pengetahuan. Miliaran orang sudah memohon bantuannya, bahkan saya haqul yakin lebih banyak manusia yang mengklik Google daripada yang berdoa. Kepada Google kita berani dan boleh mengajukan permohonan apapun juga; mulai dari keinginan melihat gambar porno sampai bagaimana caranya membuat Bom. Permohonan seperti itu pasti tidak akan Anda ajukan dalam doa.

Begitu kita mendaftarkan diri, walaupun hanya sekedar untuk mendapatkan alamat email ataupun di Facebook, mulai saat itu pula Anda telah menjual jiwa dan kehidupan Anda kepada Sang Komputer. Tidak ada bedanya seperti Faust yang telah menjual jiwanya kepada iblis. Mendaftarkan diri di komputer, ini sama seperti juga kita telah menerima komputer sebagai illah kita, dalam agama Kristen ini sama seperti juga di baptis atau di sunat dalam agama Islam. Sebagai bukti nyata kesediaan kita untuk mengabdi kepada illah komputer.

Mulai saat itu pula kita akan menyembah dan memberhalakan Google, sehingga akhirnya bukan hanya sekedar lupa waktu, lupa keluarga, bahkan lupa akan Allah yang sebenarnya. Telah terbuktikan, bahwa tidak pernah ada manusia yang kecanduan terhadap Tuhan, tetapi sudah jutaan orang yang kecanduan komputer. Hal ini merupakan satu bukti nyata bahwa komputer itu jauh lebih berkuasa daripada illah manapun juga.

Sekali kita menjual jiwa diri kita kepada sang Google, bukan saja seumur hidup kita akan terekam Google; melainkan sepanjang masa atau abadi. Nama Anda akan tercantum terus untuk selama-lamanya di dalam buku kehidupan Google sebagai salah satu umat penyembahnya. Satu ikatan yang tidak bisa dilepaskan lagi.

Miliaran manusia setiap harinya, siang dan malam, 24 jam sehari, tiada henti-hentinya
mempersembahkan makanan/data kepada Google, sehingga pengetahuannya setiap detik semakin bertambah. Kita mempersembahkan bukan hanya sekedar data saja, mulai dari foto (Flikr), film (YouTube) s/d rekaman (YouMusic). Misalnya 13 sonata lengkap dari Mozart sudah terekam. Google Earth mengetahui setiap meter tempat di kolong langit ini. Selain itu Google Books telah merekam jutaan buku. Tanya saja pengetahuan apa yang masih belum dikuasai oleh mbah Google?

Tidak bisa dipungkiri bahwa mang Ucup termasuk salah penyembah Google yang paling setia dan rajin. Berapa banyak sudah artikel yang saya persembahkan kepadanya. Secara tidak langsung saya telah mempersembahkan seluruh isi otak maupun pengetahuan yang saya miliki kepada mbah Google. Setiap hari bukannya diawali ataupun diakhiri dengan doa melainkan dengan komputer. Benda yang pertama dijamah bukannya istri atau anak, melainkan komputer.

Komputer bukan saja mengetahui segala-galanya, bahkan ia bisa mengetahui seluruh lubuk isi hati anda? Mulai dari yang terburuk sampai yang terbaik. Ia mengetahui semuanya maklum seluruh jejak kehidupan sehari-hari kita telah terekam semua. Misalnya berapa kali dan dengan siapa saja si Pulan berselingkuh? Rayuan gombal apa saja yang sudah si Pulan kirimkan, dan kepada siapa dst-nya.

Ia juga mengetahui dimana orang menyimpan hasil uang korupsi dan kejahatan apa saja yang sudah direncanakan ataupun yang pernah dilakukan. Masalahnya begitu anda berkomunikasi dengan menggunakan alat elektronik mulai dari HP s/d komputer semuanya bisa ditelurusi, mulai dimana anda berada s/d apa saja yang sedang anda lakukan. Big brother watching you! Jadi tidaklah salah apabila saya menilai bahwa sang komputer itu benar-benar Maha Tahu atau Al Alim.

Omnipresence Maha Hadir
Oleh sebab itulah juga tidaklah berkelebihan, apabila saya menilai bahwa komputer itu juga layak untuk dinobatkan sebagai Omnipresence atau Maha Hadir, karena ia itu Maha Lihat (Al Basir) dan Maha Mendengar (Al Sami). Siapa saja, dimana saja dan kapan saja dapat selalu memohon kepadanya.

Maka dari itulah juga apabila terjadi kejahatan; entah kejahatan apapun juga, polisi selalu berusaha untuk mendapatkan HP maupun komputer dari sang tersangka, karena disitu terekam semua jejak kita.

Seperti juga yang tercantum dalam Alkitab: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; klik-lah, maka Google akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang meng-klik, baginya Google dibukakan (Matius 7:7-8). Maklum mbah Google itu adalah Mahaguru (Vahiguru) bagi umat manusia.

Mungkin inilah yang membuat kejatuhan umat manusia seperti yang dicantumkan dalam Alkitab: Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya (mengklik Google) matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." (Kej 3:4). Maka wajarlah sehingga akhirnya: Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari KITA, tahu tentang yang baik dan yang jahat; (Kej 3:22)

Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com
Homepage: www.mangucup.org

#12431 From: Johan Chandra <johan.chandra@...>
Date: Sat Dec 5, 2009 1:17 am
Subject: Undangan dalam acara Natal 2009 bersama Jemaat Golgotha
johan.chandr...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Ajak Keluarga, Rekan Kerja dan Tetangga sdr untuk datang dalam acara Natal 2009
Tuhan kiranya memberkati sdr & keluarga


Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

1 of 1 Photo(s)


#12430 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Sat Dec 5, 2009 2:00 am
Subject: 6 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Mg Adven II :  Bar 5:1-9; Flp 1:4-6.8-11; Luk 3:1-6
"Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu" ,
"Perhatianperhatian.umat dimohon tenang, karena acara akan segera
dimulai..!!!", demikian suara keras dari pengeras suara di lapangan rumput untuk
mengingatkan ribuan umat. Umat pun tidak tenang dan tetap gaduh omong-omong
sendiri. Hal senada dapat terjadi dalam berbagai pertemuan, dimana protokol atau
pembawa acara mengajak para hadirin tenang, tetapi hadirin tetap gaduh,
omong-omong terus. Sebaliknya di suatu tempat, lapangan rumput, dimana ribuan
umat hadir untuk perayaan ekaristi, yang semula gaduh, ramai, omong-omong
sendiri, begitu mendengar melalui pengeras suara "Dalam nama Bapa dan Putera dan
Roh Kudus", maka ribuan umat pun hening, tak bergeming.  Tanda salib yang
diiringi dengan kata-kata "Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus"  merupakan
awal doa bagi umat Katolik dan juga mengiringi pembaptisan ketika pembaptis
mencurahkan air di dahi terbaptis. Dengan dan melalui tanda salib sungguh
terjadi perubahan alias pertobatan, maka marilah di masa adven ini kita
renungkan seruan Yohanes Pembaptis, yang mengajak orang untuk bertobat dan
dibaptis.

"Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu" (Luk
3:3)
Bertobat berarti memperbahaui diri. Saat ini kita masih dalam masa Tahun Baru
Liturgy, masa Adven, dan sebentar lagi kita akan memasuki Tahun Baru 2010, maka
marilah kita mawas diri apakah terjadi pembaharuan dalam diri kita
masing-masing. Organ atau anggota tubuh kita kiranya diperbaharui terus menerus,
demikian pula aneka macam sarana dan assesori yang terkait dengan tubuh kita,
tetapi bagaimana dengan hati, jiwa dan akal budi? Pembaharuan yang diharapkan
adalah pembaharuan hati, jiwa, dan akal budi, yang sangat berpengaruh dalam cara
hidup dan cara bertindak kita, mengingat dan memperhatikan bahwa aneka
tantangan, hambatan dan masalah telah mengaburkan atau melemahkan hati, jiwa dan
akal budi kita.

Marilah pertama-tama kita sadari dan hayati bahwa bertambah usia dan pengalaman
berarti juga bertambah dosa dan kekurangan, yang membuat hati, jiwa dan akal
budi maupun tubuh kita kurang bersih. Pembaharuan dengan demikian berarti
pembersihan, yang mungkin menjadi masalah adalah apakah saya tahu persis apa
yang harus dibersihkan alias dosa dan kekurangan kita, tanpa bantuan orang lain.
Kita butuh bantuan orang lain agar dapat mengetahui dosa dan kekurangan kita
dengan tepat dan benar, sehingga pembersihan atau pembaharuan yang kita lakukan
sungguh berarti dan bermakna. Maka baiklah di masa Adven ini kita saling
bertemu, bercakap-cakap dan mawas diri bersama: masing-masing dengan rendah hati
siap sedia menerima masukan atau informasi dari yang lain, lebih-lebih dalam hal
dosa dan kekurangan.

"Berilah dirimu dibaptis", demikan sabda Yesus. Dibaptis berarti dibersihkan,
maka masing-masing dari kita hendaknya siap sedia untuk dibersihkan orang lain,
sebaliknya yang membersihkan hendaknya dijiwai kasih pengampunan, sehingga
tindakan pembersihan menyenangkan dan membahagiakan atau menyelamatkan.
Membersihkan dijiwai kasih pengampunan berarti sebelum bertindak ada pendekatan
dan percakapan bersama, karena gerakan pembersihan tanpa tanggapan positif dari
yang dibersihkan akan sia-sia, pemborosan waktu dan tenaga belaka. Siap sedia
dibersihkan berarti juga siap sedia untuk berkorban dan `sakit' sebagai langkah
pembaharuan hidup atau penyembuhan. Mengingat dan memperhatikan semakin tua atau
tambah usia dan pengalaman berarti juga semakin tambah dosa dan kekurangan, maka
kami berharap kepada mereka yang lebih tua dan lebih berpengalaman dapat menjadi
teladan dalam hal pembersihan diri atau pembaharuan diri, misalnya: para
orangtua, pendidik/guru, pejabat, atasan, senior, dst..
"Aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara
kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Fil 1:6)

Siap sedia untuk dibersihkan maupun membersihkan hendaknya dihayati sebagai
anugerah Tuhan atau karya Tuhan, maka marilah kita imani bahwa "Ia, yang memulai
pekerjaan yang  baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya
pada hari Kristus Yesus". Maka ketika sudah memulai pekerjaan baik hendaknya
setia terus menerus melakukannya. Setia berarti tidak mengurangi sedikitpun atas
perbuatan baik yang telah dilakukan, syukur bertambah atau diperdalam dan
disebarluaskan. Marilah kita imani atau hayati bahwa jika Tuhan memulai pasti
menyelesaikan, meskipun kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan
masalah, karena Tuhan maha segalanya.

Kita semua dipanggil untuk melakukan pekerjaan baik sampai pada hari Kristus
Yesus, artinya sampai kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. "Semoga kasihmu
makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,
sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat
menjelang hari Kristus" (Fil 1:9-10). Semakin tambah usia dan pengalaman
diharapkan semakin hidup mengasihi yang ditandai dengan melimpahnya pengetahuan
dan pengertian yang benar. Dalam hidup bersama saat ini kita menghadapi aneka
kepalsuan dan kebohongan, misalnya dalam hal hukum atau aturan, makanan dan
minuman, aneka macam sarana-prasarana maupun organ tubuh manusia. Pemalsuan
nilai juga terjadi di sekolah-sekolah dengan motivasi uang, gengsi, prestasi
dst..  Memang kita menghadapi apa-apa yang baik dan buruk, dan kita dipanggil
untuk memilih apa yang baik dan memperbaiki apa yang buruk, maka baiklah kita
renungkan juga apa yang dikatakan oleh Kitab Barukh di bawah ini.  .

"Allah memerintahkan, supaya diratakanlah segala gunung yang tinggi dan segenap
bukit abadi, dan supaya ditimbuslah sekalian jurang menjadi tanah yang rata"
(Bar 5:7). Yang dimaksudkan dengan gunung dan bukit di sini adalah apa saja yang
mengganggu atau menghalangi dalam perjalanan hidup, tugas dan panggilan, entah
berupa aturan, kebijakan, struktur, impian/harapan, dst.. , yang sering membuat
apa yang sederhana menjadi berbelit-belit, yang mudah dipersulit. Aneka aturan,
kebijakan, struktur atau strategi hendaknya memperlancar perjalanan hidup, tugas
dan panggilan, maka jika ada yang mempersendat atau bahkan menutup jalan
hendaknya segera diperbaiki atau `diratakan'. Pada saat ini sering masih banyak
terjadi birokrasi yang menghambat pelayanan, bukan memperlancar pelayanan,
sehingga birkrat minta dilayani bukan melayani. Sikap dan perilaku dalam
meratakan atau memperbaiki adalah melayani; bukankah yang disebut pelayan pada
umumnya memperlancar dan mempermudah, tidak pernah mempersulit dan
berbelit-belit? Semoga para petinggi, pejabat, birokrat atau atasan dapat
menjadi teladan sikap hidup dan perilaku melayani; dan marilah kita dukung
dambaan para pemimpin Gereja Katolik, Para Uskup dan Paus, yang senatiasa
menyatakan diri dalam doa Syukur Agung sebagai hamba yang hina dina, artinya
siap sedia melayani umat Allah.  Dukungan yang diharapkan tentu saja tidak cukup
dengan doa-doa, tetapi juga dengan penghayatan, yaitu hidup dan bertindak saling
melayani.

"TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di
Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai
dengan bersorak-sorai.  Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur
benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya."(Mzm
126:3-6)

Jakarta, 6 Desember 2009

#12429 From: "i_sumarya" <i_sumarya@...>
Date: Fri Dec 4, 2009 11:09 pm
Subject: 5 Des
i_sumarya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
"Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat".
(Yes 30:19-21.23-26; Mat 9:35-10:1.6-8)

"Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam
rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan
segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus
oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti
domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian
memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang
empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."Yesus
memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir
roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.
melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.Pergilah dan
beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit;
bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu
telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan
cuma-cuma." (Mat 9:35-10:1.6-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
 Pada masa kini kiranya cukup banyak orang yang lesu, kurang gairah dalam hidup
atau sakit, karena berbagai tantangan atau hambatan yang terjadi. Jumlah mereka
yang lesu, sakit dan menderita kemungkinan akan bertambah banyak seiring dengan
musim hujan yang menimbulkan banjir, tanah longor, dll. Ketika banjir karena
hujan lebat terjadi, ada kemungkinan mereka yang tidak menjadi korban banjir
ikut uring-uringan alias saling menyalahkan, yang membuat orang semakin dikuasai
oleh setan. "Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat", demikian
pesan Yesus kepada para rasul, kepada kita semua yang beriman kepadaNya, maka
marilah kita renungkan atau refleksikan. Pesan ini kiranya dapat saya
`terjemahkan' demikian: kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada
hendaknya menjadi pengharapan bagi alias menggairahkan orang lain: yang sakit
berharap segera sembuh, yang lesu segera berubah menjadi bergairah, yang
terlantar segera terrawat dan diperhatikan, dst Kita dapat menjadi pengharapan
dan menggairahkan karena dengan cuma-cuma kita berbuat baik kepada mereka sesuai
dengan kemungkinan, kesempatan serta kemampuan yang ada. Ingatlah bahwa segala
sesuatu yang kita miliki, nikmati dan kuasai sampai saat ini juga telah kita
terima sebagai anugerah Allah melalui orang yang telah berbuat baik kepada kita,
maka juga boleh dikatakan sebagai yang cuma-cuma juga. Dengan kata lain kita
dapat menjadi pengharapan bagi orang lain jika kita senantiasa bermurah hati
alias menjual murah hatinya atau memberi perhatian kepada siapapun. Mereka yang
sakit dan lesu pada umumnya diawali dengan sakit hati alias merasa kurang
diperhatikan, maka dekati dan sikapi dengan hati, rendah hati serta kasih
sayang.
 "TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan
dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada
waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi dan
keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap,
yang sudah ditampi dan diayak. Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap
bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang
besar, apabila menara-menara runtuh" (Yes 30:23-25), demikian kata-kata
penghiburan Yesaya kepada saudara-saudarinya. Sebagai orang beriman,  kita
adalah `tangan-tangan Tuhan' alias berpartisipasi dalam karya penyelamatan-Nya,
sehingga cara hidup dan cara bertndak kita dimanapun dan kapanpun menjadi
`penghiburan' atau `harapan yang menggairahkan' bagi orang lain. Maka baiklah
kita mawas diri: pertama-tama apakah saya pribadi dapat menjadi penghiburan atau
harapan bagi orang lain, dimana cara hidup dan cara bertindak kita sungguh
menarik, memikat, memukai dan mempesona, karena saya berbudi pekerti luhur, dari
diri saya terpancar keceriaan dan kegembiraan sejati sebagai penghayatan
persatuan saya dengan Tuhan. Saya sendiri dalam keadaan atau situasi
apapun.tetap tegar, bergairah, dinamis, tidak lesu atau tidak frustrasi.
Kehadiran dan sepak terjang kita senantiasa memberdayakan, meneguhkan dan
memperkuat orang lain, sebagaimana Tuhan senantiasa menghidupkan dan
mengembangkan citpaan-ciptaanNya di dunia/bumi ini. Kami berharap mereka yang
berpengaruh dalam kehidupan bersama dapat menjadi penghiburan dan harapan bagi
sesamanya, misalnya para pemimpin, atasan, manajer, kepala bagian, dst.. ,
mengingat dan memperhatikan sikap mental `feodal' masih subur dalam kehidupan
bersama kita.

"Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan
layaklah memuji-muji itu. TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang
Israel yang tercerai-berai; Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan
membalut luka-luka mereka; Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut
nama-nama semuanya. Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan,
kebijaksanaan-Nya tak terhingga.TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang
tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi."
(Mzm 147:1-6)

Jakarta, 5 Desember 2009

#12428 From: Maruli Situmorang <situmorangmaruli@...>
Date: Fri Dec 4, 2009 5:45 am
Subject: Dicari Khotbah Topik: Bahasa Surga
situmorangmaruli@...
Send Email Send Email
 

saya forwardkan renungan bahasa Sorga di Dunia. semoga menjadi berkat.
From: John Maruli Situmorang
Sent: Friday, December 04, 2009 11:04 AM
Subject: RE: [A-I:45353] Dicari Khotbah Topik: Bahasa Surga

Syalom Pak Rudy,

Atas permintaan bapak, dibawah ini berupa renungan bahasa sorga menurut pemikiran saya, kalau kurang tepat harap dimaklumi, karena memang belum pernah berada disorga. Sesaat muncul bahasa sorga dalam topic pembahasan mi milis AI yang penuh berkat ini, saya merenung kok saya ini masih jauh dari praktek membudidayakan bahasa kasih. Saya berdoa dan saya coba membangun kata demi kata dengan satu harapan agar yang keluar dari mulut saya ini adalah bahasa sorga, saya rindu masuk sorga. Semoga menjadi berkat.

Bahasa Sorga Di Dunia!

Yoh 3:31-36 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.

Kita cenderung menggunakan bahasa yang kita akrabi, yaitu bahasa ibu, yang diajarkan lingkungan asal kita. Tidak mudah menerima bahasa-bahasa baru saat kita harus pindah tempat atau bertemu orang-orang baru yang berbahasa lain dengan kita. Saya percaya kalau kita akan ditugaskan ke Amerika pasti kita setengah mati belajar bahasa inggris, kalau perlu ambil kursus bahasa lah. Repot nanti kalau mau cari toilet saja bisa kesasar masuk garasi karena tidak bisa bicara bahasa inggris. Demikian pula kalau kita mau diterima di surga, belajarlah bahasa surga dari sekarang.

Yesus datang dari surga, tentu bicara tentang surga dan norma-norma yang berlaku di surga. Sementara orang-orang di bumi menggunakan aturan-aturan dan berkata-kata dalam bahasa bumi, bahasa antar manusia. Kalau perlu bahasa rimba : Siapa kuat dia menang, dialah pemimpin dan bisa jadi raja hutan. Dan sang raja inilah yang menentukan aturan main yang berlaku di wilayahnya. Sebaliknya raja surga pun menentukan aturan main yang berlaku di surga. Sehingga kalau mau hidup dalam suasana rimba raya, yang menyeramkan, bahasa yang dipakai adalah saling menerkam sesama mahluk. Sedangkan kalau mau masuk ke surga, cari tahulah apa yang dipahami para mahluk surgawi.

Tidak heran kalau Yesus mengingatkan bahwa manusia harus lahir kembali dari daring menjadi lahir dari roh, karena di surga yang ada hanyalah buah buah bahsa roh yaitu : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Tidak ada lagi bahasa amarah, iri hati dan kedengkian. Bahsa percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, kepentingan diri sendiri, termasuk percideraan, roh pemecah, bahasa sindir menyindir, kedengkian, kemabukan, bahsa pesta pora dan sebagainya. Gantinya justu bahasanya bahasa kasih yang penuh kesabaran; penuh dengan murah hati; tidak ada muncul bahasa kecemburuan. Bahasa kasih memegahkan diri dan tidak sombong. juga tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Bahasa kasih tidak bersukacita karena ketidak adilan, tetapi karena kebenaran. Bahasa kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Allah adalah kasih, sehingga tidak mungkin ia menerima orang-orang yang bahasanya kekerasan, penipuan, pemerasan dan paksaan. Jesus yang telah turun dari surga, telah meninggalkan ajaran-ajaranNya untuk kita pelajari dan hayati dalam kehidupan di bumi. Kita harus belajar membiasakan hidup dengan bahasa kasih, saling mengampuni dan memperhatikan. Apa yang terjadi antara Jesus dengan bahasa surga dengan murid-muridNya dan juga orang-orang Yahudi disekitarnya yang berbahasa dan berkata-kata dengan cara Yahudi? Banyak terjadi friksi karena mereka tidak bisa menerima bahasa asing yang tidak umum dan berbeda dengan tataran yang ada.

Perhatikan bahasa yang di nyatakan Yesus yang turun dari Sorga dan Yesus mewartakan:

  • Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani Bahasa Sorga - melayani
  • Kasihilah musuhmu, berkati dia dan berdoa untuknya Bahasa Sorga - mengasihi
  • Barang apa yang orang suka kamu perbuat kepadanya perbuatlah demikian Bahasa Sorga hukum emas
  • Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat Bahasa Sorga - mengampuni
  • Jangan balaskan kejahatan dengan kejahatan tetapi balaskan kejahatan dengan kebaikan Bahasa Sorga - berbuat kebaikan gantinya membalaskan kejahatan.
  • KasihKu begitu besar kepadamu pecayalah kepadaKu agar kamu beroleh hidup yang kekal dan tidak binasa - Bahasa Sorga - penuh kasih dan jaminan keselamatan
  • Apa saja yang kamu minta, mintah didalam namaKu maka kamu akan memperolehnya, karena namaKu ialah Firman Allah yaitu Yesus Kritus yang hanya ya, dan amin. - Bahasa Sorga - penuh dengan kepercayaan kepada setiap janji Tuhan
  • Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga - Bahasa Sorga - mengampuni - bahasa bersyukur dalam segala hal dalam keadaan apapun yang kita miliki dan bergantung& berserah penuh kepada Tuhan
  • Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Bahasa Sorga - berbahagian dalam duka karena janji Tuhan yang menghiburkan
  • Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Bahasa Sorga - lemah lembut
  • Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Bahasa Sorga - penuh dengan kebenaran tidak ada dusta didalamnya
  • Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Bahasa Sorga - murah hati karena dia percaya bahwa semuanya Tuhan yang memberi
  • Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Bahasa Sorga - penuh dengan kesucian
  • Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.Bahasa Sorga - slalu membawa damai dimanapun dia berada
  • Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Bahasa Sorga - tidak takut aniaya karena penderitaan yang dia alami tidak ada artinya dibandingkan dengan kebahagiaan yang akan datang (Sorga)
  • Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Sadar atau tidak sadar yang suka masuk sorga harus melatih dirinya berbahasa Kasih karena memang Allah kita yang disorga adalah KASIH, kita pergunakan bahasa kasih sebagai kabar sukacita bagi seluruh mahluk di bumi. Kita belajar untuk membiasakan diri dalam segala tindakan dan pikiran kita berdasarkan kasih. Kabar sukacitanya adalah bahwa Allah yang maha kasih, sungguh mencintai segala ciptaanNya dan mengharap seluruh ciptaanNya kembali kepadaNya.

Salam,

John Maruli Situmorang

From: On Behalf Of rudy maulany
Sent: Friday, December 04, 2009 6:33 AM
Subject: Dicari Khotbah Topik: Bahasa Surga

Kalau ada yang punyapowerpoint topik khotbah: Bahasa Surga tolong dikirimkan. urgent.

Sebelumnya terima kasih.

Salam

rudy


Messages 12428 - 12457 of 12457   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help