Search the web
Sign In
New User? Sign Up
ekonomi-nasional
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want to share photos of your group with the world? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.

Messages

  Messages Help
Advanced
SBY : Bukan Peragu tapi Slumun-Slumun Slamet ???...   Topic List   < Prev Topic  |  Next Topic >
Reply < Prev Message  |  Next Message > 
SBY sebenarnya ‘bukan
peragu’, tetapi beliau adalah ‘savety personality’ alias slumun-slumun
slamet ?.
Karena, selama
tidak ada benturan kepentingan yang mengganggu savety personality itu, maka SBY
bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tegas ?.
Maka, SBY adalah
tokoh yang pandai menemukan dan memainkan momentum untuk tampil ke depan ?.

*

Alih-alih mensukseskan program
100 hari SBY-Boediono.

Kira-kira sampai hari ini 100
hari lewat sudah perseteruan Polri vs KPK (bibit-candra) yang tak kunjung
selesai, akankah hari ini atau besok SBY akan memberi keputusan penting
terhadap persoalan ini atau kembali SBY menyerahkan persoalan ini ke jalur
prosedur hukum (baca : sesuai keinginan
Kapolri dan kejagung).

Pembentukan Tim 8 oleh SBY
sebenarnya public sudah bernafas lega dan berharap hasil kerja tim 8 dapat
menjadi rekomendasi penting bagi SBY untuk segera menuntaskan persoalan ini.

Namun kehadiran tim 8, seolah menambah kusut persoalanini di mata SBY.

Maka tak pelak lagi sejumlah
kalangan baik personal maupun kelompok menuding SBY memang lamban karena
seorang peragu.

Pembentukan tim 8 memang terjadi diluar skenarioatau perkiraan SBY.

Tim ini dibentuk tiba masa tiba
akal karena munculnya kekuatiran semakin maraknya aksi massadan opini publicyang
mengecam Polri, ujung-ujungnya kemudian SBY menjadi sasaran sorotan publickarena
dianggap tidak peduli
dengan persoalan ini.

Hasil rekomendasi tim 8 kemudian tidak sepenuhnya di terimaoleh SBY.

Mungkin, ternyata hasilnya di luar dugaan yang diperkirakan sebelumnya.

Akhirnya pemunculan tim 8 hanya
menjadi sesijeda, mengulur-ngulur waktu, tentu harapannya akan ada solusi yang
tidak mempermalukanKapolri dan
Kejagung.

Ungkapan SBY yang ‘tidak ingin di dorong-dorong dan
dipaksa-paksa untuk mengambil keputusan’ sudah merupakan jawaban tegas, yaitu
SBY sangat sulit menerima dan merealisasikan
rekomendasi tim 8.

SBY mungkin menyesali membentuk tim 8, atau merasa terpaksatelah membentuk tim
tersebut.

Namun perlu diketahui inisiatif pemanggilanbeberapa tokoh ke
istana Negara sebagai titik awal terbentuknya tim 8 itu merupakan inisiatif SBY
sendiri.

Salah satu kesimpulan rekomendasi
tim 8 adalah menyoroti kinerja penyidik dan penuntut yang tidak profesional,
tentu hal ini terkait kasus penyidikan Bibit-Candra.

Klausul itu mengatakan bahwa tim
penyidik tidak bisa bekerja secara lepas, bebasdan independentdi dalam
mengembangkan penyidikan karena adanya tekanan dari atasan yang memiliki
benturan kepentingan.

Dengan kata lain, baik Kapolri maupun SBY dapat dikatakan ada
‘skenario’ kepentingan yang ingin dicapai sehingga Bibit-Candra perlu
dijadikan
tersangka.

Asumsi ini sudah jamak diamini
oleh para penggiat peduli KPK.

Benarkah SBY
seorang peragu sehingga dianggap lamban dan lelet mengambil kebijakan?.

Seperti yang juga diamini oleh
para pengamat politik, bagi saya yang awam tidak
sepenuhnya benar.

Seorang jenderal TNI (mantan)
mengakui bahwa sejak berkarir di militer, SBY memang dikenal peragudan lambandi
dalam mengambil keputusan.

Di jaman Orba Pak Harto menjadi lokus utama pengendalian jenjang karir baik
di birokrasi dan militer, tanpa restu beliau atau sedikit saja ada kata
terucap yang membuat pak harto tersinggung, jangan berharap seorang TNI bisa
mencapai jenjang kepangkatan perwira terutama perwira tinggi, jenderal.

SBY adalah mantu dari jenderal
Sarwo Edi Wibowo. Di jaman Orla pak Harto punya pengalaman buruk dengan pak
Sarwo
sehingga beliau ada rasa tidak suka. Kesuksesan pak Harto adalah masa
tenggelamnya
karir militer pak Sarwo di masa itu.

Kondisi ini secara cerdassangat dipahamioleh SBY, sehingga beliau sangat
hati-hati di dalam karirnya
dan pak Harto sangat diguguinya.

SBY sebagai perwira jenderal
tampil sebagai anak manis, namun
sikap itu tidak membuat pak Harto membawanya dalam ring satu gerbong kekuasaan
yang dimilikinya.

Menjelang kejatuhan pak Harto,
SBY sedikit demi sedikit mulai menampakkan tajinya.

Seorang jenderal kutu buku,
karena pak Harto jarang memposisikan beliau sebagai jenderal lapangan, SBY
menjadi penggagas merevitalisasi peran Dwi
Fungsi ABRI(TNI), sampai kemudian peran ini dibubarkan.

Pada masa pemilu 1999 bintang SBY
belum bersinar karena masa ini gerakan reformasi menguatkan ketokohan Amin
Rais, Gus Dur, dan Mega sebagai kekuatan sipil.

Sehingga SBY sebagai militer
masih menunggu momentum, waktu baik, untuk muncul sebagai pemimpin nasional.
Karena
masa ini adalah masa paceklik kepercayaan terhadap militer yang umumnya
merupakan kaki tangan pak Harto.

Gayung pun bersambut, SBY
dipercaya memegang jabatan Menko Polkam.

Posisi ini tidak disia-siakan
oleh SBY, ditengah carut-marut ketidak
puasan publicatas kepemimpinan Gus Dur, termasuk kepada partai politik
besar yang ada, tanggal 9 september 2001 SBY mendirikan Partai Demokrat.

Niat mendirikan partai ini sudah
merupakan pertanda SBY memiliki obsesi
besartampil sebagai pemimpin
nasional.

Sehingga di jaman Mega SBY berani
mundur sebagai Menko Polkam, kembali merapatkan barisan menyusun langkah
politik meraih bintang.

Pada pemilu 2004 diluar dugaan
semua orang, SBY berani dalam surat tertulis pribadi menawari JK sebagai
pasangan, yang saat itu JK mengikuti konvensi Golkar pemilihan capres-cawapres
yang akan diusung oleh Golkar.

Menguatnya isu KTI adalah
momentum bagi munculnya ketokohan JK, pilihan SBY saat itu dianggap sangat
cerdas sebagai solusi keluar dari kekusutan carut-marut politik di dalam
memilih pemimpin nasional.

Dari kisah diatas jelas SBY
sebenarnya ‘bukan seorang peragu’
apalagi ‘lamban’.

SBY adalah
tokoh yang pandai menemukan dan memainkan momentum untuk tampil ke depan.

Pada awalnya dijadikannya
Bibit-Candra sebagi tersangka, tidak mungkin dan anak kecil juga tahu, bahwa
Kapolri tidak mungkin bertindak sendiri tanpa konsultasi dari SBY.

Setelah peristiwa ini SBY malah ’bereaksi cepat’, akan segera
mengeluarkan Perppu dan kepres Plt
pengganti 3 pimpinan KPK.

Peristiwa terakhir SBY tak diduga
tiba-tiba mengganti 3 kepala staf TNI.

Dengan demikian rekomendasi tim 8
untuk menghentikan penyidikan Bibit-Candra sebagai temuan, tentu SBY tidak bisa
begitu saja mengikuti dan menyalahkan Kapolri, karena penyidikan itu memang atas
restunya.

Jadi sebenarnya SBY ‘bukan peragu’ tetapi beliau adalah ‘savety
personality’ alias slumun-slumun slamet.

Selama tidak ada benturan
kepentingan yang mengganggu savety personality itu, maka SBY bisa mengambil
keputusan cepat.

Selain itu ciri-ciri kepribadian
seperti ini adalah bersikap reaksioner,
contoh sikap ini barangkali saya tidak perlu ulas, karena untuk membangun
citradan rasa simpati publicsikap reaksioner memang dibutuhkan.

Wallahualam.

*
SBY; Peragu
atau Benturan Kepentingan?
http://politik.kompasiana.com/2009/11/23/sby-peragu-atau-benturan-kepentingan/
*****



…Terkait KPK,
saya wanti-wanti benar. Power must go uncheck. KPK ini sudah powerholder yang
luar biasa, Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati…
[Rabu, 24-Juni-2009]
***

…Kepala BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan), Didi Widayadi,
mengakui perintah mengaudit
KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi) datang dari
Presiden SBY…
[Kamis, 25-Juni-2009]
***

…Sekarang ini
barangkali sedikit ada gesekan antara KPK dengan Polri. Ini realitas, saya buka
saja, sebagai wujud transparansi kita, tetapi bukan tidak ada solusi, bukan
tidak ada jalan keluar, kita semua ingin betul-betul menjalankan tugas
sebaik-baiknya…Gesekan seperti
ini jangan dianggap kita tidak punya komitmen dan semangat untuk menjalankan
tugas kita masing-masing. Ini terjadi di manapun, di Negara manapun, pada
wilayah apapun…Rivalitas selalu
ada, bukan hanya di Indonesia antara mungkin kejaksaan, kepolisian, KPK dan
lain lain. Rivalitas itu, sepanjang untuk kebaikan, prestasi, untuk
masing-masing berbuat yang terbaik, tidak menjadi hambatan. Manakala rivalitas
menjadi negatif, ini yang harus kita cegah bersama-sama. Oleh karena itu
semangat kita di situ…
[Senin, 13-Juli-2009]
***

…Bagi saya
yang terpenting adalah mencegah, jangan menjebak seseorang sehingga korupsi
terjadi lagi, negara rugi, belum tentu yang rugi bisa kembali. Pemberantasan
korupsi harus mengutamakan pencegahan korupsi…
[Kamis, 29-Oktober-2009]
***

…Jangan
sampai saya sebagai presiden didorong, dipaksa untuk mengambil langkah yang
bukan kewenangan saya, karena itu berarti saya melanggar undang-undang. Harus
cepat memang, tidak boleh berlama-lama, tetapi ingat bahwa koridornya harus
jelas…
[Rabu, 18-Nopember-2009]
***

…Kalau masih
begitu dan sama sekali tak ada kebenarannya, cara yang lalu akan saya tempuh
demi kebenaran dan kehormatan sebagai kepala negara, tak boleh menolerasi ke
hal-hal yang tak bertanggung jawab…
[Rabu, 18-Nopember-2009]
***

…Demi Allah,
saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil
Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang
teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya
dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa…
[Selasa, 20 Oktober 2009]
***

Catatan Kaki =
* Rabu,
24-Juni-2009 : http://www.antaranews.com/view/?i=1246135385&c=ART&s=PUM
* Kamis,
25-Juni-2009
:http://www.republika.co.id/berita/58459/SBY_Perintahkan_BPKP_Segera_Audit_KPK
* Senin,
13-Juli-2009 :
http://www.detiknews.com/read/2009/07/13/164008/1164221/10/sby-sebut-ada-gesekan\
-kpk-dan-polri-rivalitas-jangan-jadi-negatif

* Kamis,
29-Oktober-2009 : http://web.bisnis.com/keuangan/ekonomi-makro/1id144167.html
* Rabu,
18-Nopember-2009
:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/19/03145060/presiden.jangan.paksa.saya
* Rabu,
18-Nopember-2009 :
http://www.republika.co.id/koran/33/90274/Presiden_Menebar_Peringatan
* Selasa,
20-Oktober-2009 :
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/20/10181161/Sumpah.SBY-Boediono.untu\
k.Indonesia

* Foto-foto
diatas hanyalah ilustrasi yang dimaksudkan sebagai pemanis tampilan postingan
saja.
* Foto-foto
diatas dicopy paste dari berbagai sumber di internet.
*
Pancen Oye… !!!
http://politik.kompasiana.com/2009/11/20/pancen-oye/
*****



Masyarakat Jawa memiliki kebiasaan untuk menilai
seseorang antara lain dari sosok lahiriah. Cara memandang seperti ini,
menyebabkan di kalangan
masyarakat Jawa ada istilah katuranggan.

Kata ini berasal dari kata dasar turangga yang
berarti kuda atau kendaraan. Kata ini dipilih untuk menegaskan bahwa dalam
kultur Jawa, penampilan lahiriah itu
tetap penting. Walaupun demikian bukan
menjadi satu-satunya pembenaruntuk menjatuhkan pilihan hanya dengan
melihat ciri-ciri fisik belaka.

Tetapi jelas, bahwa memberikan
penekanan pada keadaan fisik dengan simbolisasi turangga atau kuda ini, bukan
sembarangan, karena kuda
memang binatang peliharaan yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Jawa, dan
bahkan hampir di seluruh dunia.

Paling tidak, ada tiga kebanggaan
bagi orang Jawa, yaitu kukila(burung), turangga (kuda)
dan curiga (keris).

Ketiganya merupakan simbol kebangsawanan dan kepemimpinan.

Tidak mengherankan, jika dalam
berbagai epik cerita Jawa selalu terdapat ketiga simbol tersebut. Bahkan
keahlian seseorang pembuat keris (empu)
merupakan keahlian yang sangat terhormat. Tentu kita ingat kisah tentang Empu
Gandring yang membuat keris untuk menjadi simbol
kekuasaandan piyandel para pemegang tampuk kekuasaan di
Jawa.

Karena kita tidak akan berbicara
mengenai kukila dan curiga, maka kita akan
memfokuskan diri berbicara tentang turangga.

Kata dasar turangga yang kemudian mendapat
awalan ka dan akhiran an menjadi katuranggan,
yang dapat dipahami sebagai cara untuk melihat sisi kejiwaanseseorang melalui
penampilan lahiriahnya.

Para dalang di Jawa, selalu
menggambarkan katuranggan sosok
wayangsetiap kali memainkan wayang itu untuk menjelaskan seperti apa gambaran
sifat dan perilakumelalui
fisik tokoh yang dimaksudkan.

Cara ini dianggap sebagai cara
yang paling mudah untuk menilai seseorang, terutama ketika orang Jawa hendak
memilih seseorang sebagai pemimpin.

Walaupun demikian, hanya dengan
melihat katuranggan saja, orang seringkali salah.

Namanya juga ciri fisik –orang
Jawa menyebutnya wadag– jauh lebih banyak menipu dibandingkan
dengan kondisi riil si tokoh itu.

Sekedar contoh, dalam dunia
pewayangan, ada dua tokoh yang mempunyai dedeg piyadeg atau
ciri fisik yang nyaris sama. Tokoh yang dimaksud adalah Werkudaradan Duryudana.

Werkudara adalah anak kedua Pandu Dewanatadari Pandawa Limayang berbadan tinggi
dan tegap. Dia selalu digambarkan
sebagai penyangga keutuhan Pandawa Lima karena kekuatan fisiknya dan –tentu
saja– ilmunya.

Sehingga Werkudara selalu menjadi
benteng terakhir ketika keselamatan negara, rakyat dan keluarganya terancam.
Bahkan acapkali dia tidak memedulikan keselamatannya sendiri, asalkan negara,
rakyat dan keluarganya tetap berdidi tegak. Dalam keadaan ini, dia adalah
seorang satria pembela negara yang sangat
patriotik.

Werkudara memiliki beberapa nama,
tetapi yang sering digunakan adalah Bima, Werkudara, dan Bratasena.

Ilmunya juga sempurna, karena ia
seorang murid yang sangat taat kepada gurunya yaitu Pandita Durna.

Dia adalah sosok seorang yang
lugu, jujur dan selalu berbicara apa adanya. Apapun perintah gurunya akan
dilaksanakan sampai tuntas walaupun sulit dan berbahaya.

Karena keluguannya pula, dia
tidak curiga sedikit pun ketika gurunya memerintahkan untuk mencari air
kehidupan sampai ia harus bertapa di tengah samudera menghadapi amukan
badai dan gelombang yang dahsyat.

Tetapi justru di situlah dia
bertemu dengan Guru Sejati yang disebut Dewa Ruci.

Tokoh Dewa Ruci adalah sosok yang mirip Werkudara dalam bentuk’mini’.

Dari Guru Sejati inilah dia memperoleh ilmu yang tiada tara
bandingannya.
Itulah Werkudara, alias Bima,
alias Bratasena.

Banyak pemimpin Indonesia yang
mengidolakan sosok ini dan memajang tokoh wayang itu di rumah kediaman untuk
menegaskan keinginannya meniru wataksatria yang satu ini.

Padahal Werkudara bukan pemimpin negara. Apakah nantinya
sosok tokoh yang dipajang itu berdampak pada caradan sikapkepemimpinannya, itu
soal lain.

Bagaimana dengan tokoh yang satu
lagi, yaitu Duryudana?.

Duryudana adalah Raja Astinayang memiliki dedeg
piyadeg sama persis dengan
Werkudara. Tinggi besar, tegap dan tentu saja bertenaga.

Dia adalah anak tertua Prabu Destarata, kakak Pandu Dewanata, yang konon menurut
cerita mempunyai anak 100 orang banyaknya.

Dia digambarkan sebagai raja
gung binathara alias Raja yang terhormat memiliki kekuasaan mutlak.

Dia selalu didampingi oleh Patih Sangkuni, Pandita Durna, dan raja-raja kecil
yang menjadi mitra koalisinya.

Patih Sangkuni adalah seorang
yang memiliki keahlian mengatur siasat.

Maka, dalam Perang Baratayudha, dia adalah pengatur
strategiyang sangat piawai. Sayangnya, di dalam pikirannya tidak ada lain
kecuali jabatan, kekuasaandan kedekatandengan Sang Raja.

Maka demi memuaskan Raja, taktikdan strategi licikpun tidak
haramuntuk dilaksanakan demi melanggengkan
kedudukan.

Berbeda dengan Sri Kresna, yang menjadi penasehatKeluarga Pandawa.

Dia tahu apa yang harus
dikerjakan, karena sebagai titisan Wisnu, dia paham apa yang akan
terjadi dalam Perang Baratayudha, karena dia memegang Kitab Jitapsara yaitu
skenario yang dibuat para Dewa untuk
Perang Baratayudha.

Siapa lawan siapa dan siapa yang
akan kalah atau gugur di medan laga sudah ditulis disana.

Sehingga Sri Kresna selalu
menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kurawa(Astina).

Ketika Kurawa mengeluarkan Bismasebagai Panglima perang, Kresna
menunjuk Srikandi–isteri Arjuna–
untuk menandingi. Kresna memanfaatkan kelemahan Resi Bisma yang pernah
mengecewakan seorang wanita yang amat mencintainya.

Dia tidak mau menikahi wanita itu
karena terikat sumpahnya sendiri tidak akan menikah seumur hidupnya. Karena
kecewa, diapun bunuh diri dan bersumpah akan membalas sakit hatinya lewat
seorang wanita pula. Wanita yang
dimaksud itu adalah Srikandi, isteri Arjuna yang memang tangkas dan ahli
memanah. Bisma pun gugur.

Lalu, ketika Kurawa memajukan Prabu Salyayang memiliki ajian Sasra Birawa,
Kresna menunjuk Prabu Samiaji, anak tertua Pandawa untuk
menandingi.

Pilihan ini agak mengherankan,
karena Prabu Samiaji adalah orang yang tidak
pernah marah. Apapun yang dia miliki akan diberikankepada siapa pun yang
meminta. Itulah sebabnya, dia dan
keempat saudaranya terusir dari Astina ketika kalah bermain dadu karena
dicurangi oleh Kurawa atas akal licik Patih Sangkuni.

Justru Kresna memilih Prabu
Samiaji untuk maju perang untuk menghadapi ajian Sasra Birawa yang dimiliki
Prabu Salya, setelah dia mengutus si kembar Nakuladan Sadewakepada Prabu Salya
menyampaikan permintaan agar mereka berdua dibunuh karena tidak tahan melihat
penderitaan saudara-saudaranya akibat keperkasaan Prabu Salya yang adalah
uwaknya sendiri.

Nakula-Sadewa adalah anak kembar
keluarga Pandawa dari ibu yang bernama Dewi
Madrim, adik Prabu Salya.

Maka Salya pun memberitahu dua
keponakannya itu, agar Prabu Samiaji maju ke medan laga. Dialah satu-satunya
orang yang dapat menandingi ajian Sasra Birawa.

Ajian ini diperoleh oleh Salya
muda dari mertuanya seorang sakti berwajah raksasa Bagaspati. Sebenarnya ajian
ini diperoleh dengan cara licik, yakni
memanfaatkan kecantikan Setyawati,
anak Bagaspati yang cinta mati padanya. Salya muda hanya mau menikahi
Setyawati, jika Bagaspati menyerahkan ajian Sasra Birawa itu kepadanya. Demi
cintanya kepada anaknya, dengan berat hati, Bagaspati menyerahkan ajian itu
kepada Salya.

Dan dengan ajian itu pula,
Bagaspati tewas di tangan menantunya.
Saat meregang nyawa itulah Bagaspati menyatakan, kelak Salya akan bernasib sama
dengannya dalam perang Baratayuda ketika berhadapan dengan seorang satria
berdarah putih. Satria itulah
Prabu Samiaji.

Prabu Salya pun gugur, karena
ajian Sasra Birawa tidak mempanpada musuh yang tidak mudah digoda nafsu
amarahseperti Samiaji.

Bagaspati sendiri yang
menggerakkan tangan Samiaji untuk membunuh Prabu Salya.

Sebenarnya, Kurawa bukanlah orang
yang mudah dikalahkan, karena mereka pun murid Pandita Durna.

Mereka mudah dikalahkan, karena
Prabu Duryudana sebagai Raja yang memiliki kekuasaan mutlak itu tidak cekatan
mengambil keputusan.

Dia mudah dipengaruhi oleh mitra koalisinya, penasehatnya yaitu Patih Sangkuni.

Bahkan ketika dia harus
berhadapan dengan Werkudara dalam perang tanding, meskipun secara fisik dan
ilmu tidak kalah, dia jadi pecundang karena sikap
cengengnya.

Tiap sebentar dia bertanya kepada Sangkuni, kepada saudaranyaatau kepada raja
kecil mitra koalisinya.

Bisa ditebak jika akhirnya dia
pun gagal, dan menjadi pecundang.

Kita mengidamkan pemimpin kita
laksana Werkudara, bukan Prabu Duryudana.

Sebab meskipun secara fisik
serupa, tetapi ternyata kegagahan dan
ketampanan fisik saja tidak cukup memadai untuk mengatasi keadaan gawat.

*
SBY : Antara
Werkudara dan Duryudana
http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/23/sby-antara-werkudara-dan-duryudana/
*****


Kita tahu ia jadi presiden
sekarang, Allahsedang mengangkatnya
dan meninggikan martabatnya di hadapan manusia.

Ada yang gembira dan senang akan
kenyataan ini, ada juga yang sebaliknya.

Memang dunia seperti itu ada pro
dan kontra, ada siang dan ada malam, laki-laki dan perempuan.

Bisakah antara
yang pro dan kontra dapat digabung seperti laki laki dan perempuan atau bisakan
saling beriringan seperti siang dan malam ?.

Jawabannya adalah ada pada
kenyataan, maukah kita saling mengisi, maukah kita saling menghormati, maukah
kita saling menghargai, ingat kita ini di dunia fana bukan hakekat yang
sebenarnya, hanya sementara.

Oleh karena itu apakah patut yang kuat menginjak yang lemah,
yang mempunyai kesempatan membiarkan orang yang lagi kesusahan, yang kaya tidak
menghargai yang miskin?.

Cuma satu jawabannya, kita harus bertindak, semampu kita dan dalam
posisi apa kita pelaksanaannya itu.

Harus sadar akan posisi kita,
dimana kita berdiri sekarang, kalau memang kalah dalam pertarungan ya harus
sabar dan instrospeksi, jangan lewat jalan pintas, malu sungguh malu.

Selamat buat SBY, anda telah
diberi kesempatan, berbuatlah semampumu jangan lewat jalan pintas, sebab itu
kemunafikanyang akan dicap terhadapmu.

*
Tentang
SBY
http://politik.kompasiana.com/2009/11/23/tentang-sby/
****



Sudah begitu
banyak tuntutan dan permintaan masyarakat kepada presiden SBY tentang
permasalahan penegakan hukum di negara kita ini.

Sampai saat
ini, SBY masih belum memberikan sinyal
untuk mengikuti kehendak rakyat.

Entah apa yang dipertimbangkanoleh beliau sehingga
sulit mengubah wajah hukum kita yang penuh dengan karut marut.

Hukum kita
begitu mudah diperjual belikan. Begitu banyak orang yang terlibat menjadi
makelar kasus, serta mafia hukum yang dilakukan oleh oknum pejabat pemerintah.

SBY di pilih oleh rakyatdengan harapanuntuk memperbaiki keadaan
negara Ri yang demikian hancur.

Di pundak SBY
segala harapan itu diletakkan.

Mungkin dengan
kepercayaan rakyat yang demikian besar, sehingga SBY merasa kekuasaannya tidak
akan terusik.

Dengan bekal kepercayaan rakyat
tersebut, SBY yakin bahwa dirinya akan menjadi pemimpin yang tidak akan
dilengserkan, walaupun begitu gawatnya keadaan negara kita.

SBY merasa yakin bahwa
kepemimpinan yang diperolehnya merupakan dukungan rakyat yang tak akan luntur
sampai habis masa jabatannya.

Namun demikian,
melihat gelagatnya yang buta mata dan tebal telinga terhadap permintaan dan
permohonan rakyat, siapa yang bisa jamin
bahwa SBY akan memerintah sampai masa jabatannya berakhir?.

Cueknya SBY
terhadap jeritan rakyat yang menginginkan reformasi hukum secara cepat telah
mengiris dan membuat luka di hati rakyat.

Kelambanan yang
selalu diperlihatkan oleh SBY membuat beberapa orang merasa tak sabar.

Terlebih lagi
dengan adanya kasus KPK, bank Century, dan beberapa kasus lain yang mencoreng
muka aparat penegak hukum membuat rakyat semakin tak simpatik.

Semua
permintaan rakyat untuk mengganti pejabat di kepolisian dan kejaksaan
sepertinya tak terlihat, dan masuk dari kuping kanan keluar dari kuping kiri
SBY.

Ia tetap saja
memelihara oknum yang sudah mencoreng institusi kepolisian dan kejaksaan.

Dan sedihnya
lagi, pejabat kepolisian dan kejaksaan yang di duga mencoreng muka sendiri itu
tak bergeser dari kursinya.

Menyebalkan memang, tapi itulah
kenyataannya.

Kita sebagai rakyat
hanya mampu mengurut dada seraya berharap SBY mau membuka mata dan telinganya
untuk mengikuti keinginan sebagian besar rakyat Indonesia.

Mungkin SBY
memikirkan berbagai pertimbangan. Tapi dengan lambannya pengambilan keputusan
membuat rakyat semakin bertanya-tanya tentang kemana arah negara ini hendak di
bawa.

Apakah negara
hukum yang kita cita-citakan dapat tercapai, atau paling tidak di mulai pada
era pemerintahan SBY jilid II ini. Ataukah pada era pemerintahan kedua ini
penegakkan hukum semakin kabur ?. Semoga saja tidak.

Walau
bagaimanapun, rakyat tetap berharap kepada SBY mau melakukan apapun yang
diinginkan oleh mereka.

Dengan segala
daya upaya rakyat pasti akan memberikan bantuan kepada SBY dalam menegakkan
supremasi hukum. Namun demikian, SBY harus berjuang dan memberikan perhatian
penuh terhadap permintaan rakyatnya.

Selama ini
memang SBY sepertinya sedikit melupakan
janjinya.

Bukankah
sekarang saatnya SBY membuktikan janjinya untuk melakukan reformasi hukum dan
keadilan.

Kasus Candra
dan Bibit, serta kasus bank Century merupakan pintu masuk yang dapat dilalui
oleh SBY untuk melakukan reformasi hukum.

Melalui kasus
KPK, SBY diharapkan mampu melakukan reformasi di tubuh kepolisian dan
kejaksaan, dan melalui kasus bank Century diharapkan mampu menguak skandal yang
terjadi di tubuh lembaga keuangan RI yaitu Bank Indonesia dan departemen
keuangan.

Banyak hal yang
bisa dilakukan oleh SBY untuk memperbaiki Indonesia, tapi sampai saat ini SBY
sepertinya terlalu banyak pertimbangan.

Memang sebagai,
SBY harus hati-hati. Tapi melihat perkembangan dan kejadian yang ada di depan
mata kita sungguh sangat mengkhawatirkan. Masalah tersebut diantaranya adalah
penegakkan hukum yang carut marut.

Akan kah SBY mau memperbaiki
Indonesia?, waktulah yang akan menjawabnya.

*
SBY yang
Buta Mata dan Tebal Telinga
http://politik.kompasiana.com/2009/11/22/sby-yang-buta-mata-dan-tebal-telinga/
*****


” …Presiden harus segera mengambil langkah tegas dan berani. Jangan cuma
omdo (omong doang) alias NATO (No Action Talk Only)...“
” …Jangan kemudian panggil Kapolri, Jaksa Agung lagi. Kan itu yang dianggap
bermasalah. Malah meminta (pendapat) dari Kapolri dan Jaksa Agung lagi… “
” …SBY harus ingat slogan di Jatijajar itu. Kalau ragu, turun saja (sebagai
presiden)… “

Kalimat tersebut diatas yang terasa sangat keras dan menyengat itu diucapkan
oleh Mayor Jenderal (Purnawirawan) Syamsu Djalal, pada saat jumpa pers di Hotel
Nikko Jakarta, pada hari Jumat malam, tanggal 20-November-2009.

Mayjen (purn) Syamsu Djalal itu adalah mantan Komandan Pusat Polisi Militer, dan
pernah menjabat sebagai Jaksa Agung Muda bidang Intelejen.

Demikian yang dicopy paste dari sebuah berita di Vivanews.com yang disiarkannya
pada hari Jumat, tanggal 20-November-2009, pukul23:09 WIB.

Para Kompasioner yang budiman.

Terkait dengan pernyataan keras serta menyengat dari seorang purnawirawan TNI
tersebut diatas -terlepas apakah anda setuju atau tak setuju dengan pernyataan
tersebut diatas- namun tentunya semua sepakat, bahwa konteks dari bentuk sikap
ketegasan yang diharapkan dari Presiden SBY itu tentulah bukan berupa sikap
ketegasan dalam mempergunakan cara-cara lama yang intimidatif dan represif serta
otoriter terhadap aspirasi dan harapannya para rakyat yang dipimpinnya.

Akan tetapi, yang diharapkan adalah ketegasan Presiden SBY dalam menegakkan
hukum dan mengembalikan rasa keadilan yang terasa terciderai dari adanya kasus
perseteruan antara KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) dengan Kepolisian dan
Kejaksaan Agung.

Karena, pernyataan keras dari Mayor Jenderal (Purnawirawan) Syamsu Djalal
tersebut diatas itupun diucapkannya dalam konteks menanggapi cara Presiden SBY
yang dianggap tidak tegas dalam menangani kasus tersebut diatas, dan keraguan
Presiden SBY untuk menjalankan apa yang diberikan dalam rekomendasinya Tim
Delapan.

Para Kompasioner yang budiman.

Terkait dengan hal itu, bagaimanakah menurut pendapat anda ?.


*
Catatan Kaki :
* Slogan “Kalau Ragu, Pulang Saja” merupakan slogan bagi para Prajurit TNI
yang mengikuti pelatihan terjun di Jatijajar.
* Artikel terkait yang berjudul ‘Pancen Oye… !!!’ dapat dibaca dengan
mengklik di sini.
* Artikel terkait yang berjudul ‘Anggodo meng-Kriminal-kan Kompas’ dapat
dibaca dengan mengklik di sini.
* Artikel terkait yang berjudul ‘Polisi interograsi Kompas’ dapat dibaca
dengan mengklik di sini.
* Link dari sumber berita tersebut diatas yang berjudul ‘SBY Harus Tegas
Sebagai Prajurit TNI’ dapat dibaca dengan mengklik di sini , atau dapat juga
diakses melalui alamat linknya =
http://korupsi.vivanews.com/news/read/107638-sby_harus_tegas_sebagai_prajurit_tn\
i

* Foto diatas hanya ilustrasi yang dimaksudkan sebagai pemanis tampilan
postingan saja.
* Foto diatas dicopy paste dari sumber-sumber foto yang ada di internet.
*
Wallahulambishshawab

*
Presiden, ingat slogan ‘Kalau Ragu Pulang Saja !’
http://politik.kompasiana.com/2009/11/21/presiden-ingat-slogan-‘kalau-ragu-pul\
ang-saja-’/
*****




[Non-text portions of this message have been removed]




Mon Nov 23, 2009 5:52 am

rifkyprdn
Offline Offline
Send Email Send Email

< Prev Message  |  Next Message > 
Expand Messages Author Sort by Date

SBY sebenarnya ‘bukan peragu’, tetapi beliau adalah ‘savety personality’ alias slumun-slumun slamet ?. Karena, selama tidak ada benturan kepentingan...
rifky pradana
rifkyprdn
Offline Send Email
Nov 23, 2009
6:05 am
Advanced

Copyright 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help