Search the web
Sign In
New User? Sign Up
ekonomi-nasional
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Sudah pantaskah Gaji Pendapatanmu ?.   Message List  
Reply | Forward Message #13076 of 13658 |
Kita selalu tersilaukan oleh sesuatu yang bernuansa
internasional. Saat harga BBM dinaikkan orang ribut membelanya dengan
mengkaitkannya dengan standar harga internasional. Saat harga TDL (Tarif Dasar
Listrik) pun orang juga membelanya dengan standar harga internasional. Semua
serba internasional.

Dalam soal hutang Negara pun juga dipakai
standar internasional. Patokannya adalah Rasio Hutang terhadap PDRB. Tak
perduli dengan jumlah nominal hutangnya yang sebenarnya malahan naik tajam
jumlah nominalnya.

Bahkan dalam memilih pemimpin pun kita
juga mengargumentasikan pilihan kita dengan dicoba dikait-kaitkan dengan standar
yang dipaksa-paksakan bernuansa internasional. Sampai-sampai agar terlihat
mantap menginternasional dan terkesan sangat Amrik, maka menjadi tak sungkan
dan tak rikuh untuk berkata mantap “I love the United States, with all its
faults. I consider it my second country”.

Ndak masalah, itu pilihan anda, yang anda
yakini kebenarannya. Cuma barangkali anda perlu menyempatkan sedikit untuk
berfikir,
jika sudah menginternasional, biaya hidup juga menginternasional, harga
kebutuhan pokok juga menginternasional, BUMN juga diprivatisasi kepada pihak
asing agar menginternasional, maka apakah gajimu dan pendapatanmu sudah
menginternasional pula ?.

Jangan sampai, gaji standar lokal, tapi
biaya hidup dan harga kebutuhan pokok berstandar internasional.

Gimana ?, Gajimu dan pendapatanmu sudah
menginternasional ?.

Wallahualambishsawab.

***

Rabu, 1 Juli 2009 kemarin, saya menghadiri
peluncuran sebuah web yang mengupas seluk beluk gaji atau upah pekerja di
Indonesia. Nama situsnya gajimu.com.

Saya hadir bersama Mas Edi Taslim dan
Tommy ke Pisa Cafe, tempat dimana peluncuran itu berlangsung, karena gajimu.com
yang berafiliasi ke The WageIndicator Foundation itu bekerja
sama dengan rubrik Perempuan Kompas.com..

Konon, di era globalisasi dimana dunia
menjadi “desa dunia”, setiap pekerja
harus mengetahui berapa sesungguhnya standar
gaji yang diperoleh sesuai dengan profesi dan keahliannya.

Tagline situs ini adalah Share and Compare. Maksudnya tidak lain dari “bagi
dan bandingkan gajimu !”, begitulah kira-kira.

Daya tarik situs ini adalah, setiap
pekerja dapat membandingkan gaji pekerja di Indonesia atau di luar negeri
karena data diperoleh langsung dari pengunjung situs. Jadi semacam users
generated content-lah atau
testimoni para pengunjungnya sendiri.

Dengan demikian, penyadaran setiap pekerja
akan nilai dan harga diri mereka dibangkitkan lewat pertukaran informasi
terbaru.

Peluncuran yang menandai hadirnya situs
ini di Indonesia itu juga menghadirkan presenter sekaligus penyiar radio
Shahnaz Haque, mantan Putri Indonesia Santi Manuhutu, dengan host Anya Dwinov.
Shahnaz bercerita mengenai kiatnya membagi waktu antara keluarga dan kerja.
Sesibuk dan sesukses apapun, katanya, perhatian terhadap keluarga tetap harus
dinomorsatukan, khususnya perhatian terhadap perkembangan dan pendidikan anak.

Sedangkan Santi bercerita mengenai upahnya
sebagai Manajer Corporate Communication Chevron Indonesia, yang menurutnya
digaji berdasarkan kemampuan atau kapabilitasnya.

Pada perusahaan internasional seperti
Chevron, katanya, “Diterapkan semacam peringkat dari satu sampai 20. Kita
harus
tahu persis dimana posisi kita. Ada persyaratan khusus jika kita ingin naik ke
peringkat lebih tinggi yang harus kita penuhi.”

Saya sendiri mulai tersadarkan saat mengklik rubrik “Survei Gaji”, “Gaji
Minimum”,
“Gaji Pejabat” (khususnya gaji
anggota DPR itu), dan “Gaji Selebritis”
di Gajimu.com itu karena mulai
membanding-bandingkan (compare).

Besaran atau nilai nominal gaji memang
penting, karena darinya bisa diukur seberapa
sejahtera seseorang.

Tetapi pada akhirnya, setidak-tidaknya
bagi saya pribadi, saya harus banyak-banyak menengadahkan tangan ke atas,
bermunajat kepada Sang Empunya Semesta, bahwa apa yang saya terima dari
perusahaan tempat dimana saya bekerja selama 20 tahun, sudah cukuplah untuk
menghidupi keluarga (sendiri) dan menyekolahkan anak. Jadi cukup bersyukur
sajalah !.

Kalau terlalu membandingkan rezeki orang lain dengan gaji kita dan
dan kesimpulannya gaji kita ternyata kecil, maka akan menjadi benar-benar
terasa kecil.

Tetapi bagi kamu yang muda-muda, penuh
potensi dan vitalitas, memang tidak ada salahnya membanding-bandingkan gajimu
dengan gaji teman-temanmu.

Paling tidak jangan sampai gajimu di bawah
standar dari yang seharusnya bisa kamu dapatkan.

Wa bil khusus bagi para pekerja migran, perempuan pekerja migran sebagaimana
yang disasar situs
itu, kamu harus benar-benar tahu standar gaji yang akan diperoleh.

Jangan sampai gajimu lebih rendah dari
pekerja Filipina, Bangladesh, India atau bahkan Ethiopia, padahal apa yang kamu
kerjakan lebih berat dan berisiko lebih tinggi.

Mari berbagi dan membandingkan !.

Artikel ini dapat dibaca di :
Mau Tahu Seberapa Pantas Gajimu ?
http://pepihnugraha.kompasiana.com/2009/07/02/ingin-tahu-seberapa-pantas-gajimu/

***




[Non-text portions of this message have been removed]




Thu Jul 2, 2009 8:02 am

rifkyprdn
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #13076 of 13658 |
Expand Messages Author Sort by Date

Kita selalu tersilaukan oleh sesuatu yang bernuansa internasional. Saat harga BBM dinaikkan orang ribut membelanya dengan mengkaitkannya dengan standar harga...
rifky pradana
rifkyprdn
Offline Send Email
Jul 2, 2009
9:24 am
Advanced

Copyright 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help