Its sender and content will be shown only to you and you can delete it at any time. You can instantly reply to it, using the message exchange system. To find out what was written to you, just follow this link:
This email is a part of delivering a message sent by Dave Broos on the system. If you received this email by mistake, please just ignore it. After a short time the message will be removed from the system.
Have fun!
The Badoo Team
You have received this email, because a Badoo member has left a message for you on Badoo. This is a post-only mailing. Replies to this message are not monitored or answered. If you don't want to receive any more messages from Badoo, please notify us.
Peringatan Hari Anti-Korupsi Sedunia, 9 Desember :
INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI, BUDAYAKAN MALU KORUPSI! "koruptor lebih
kejam dari penjajah". Mendukung cita-cita mulia ini dengan pasukan doa.
Indonesia harus bersih. Satu suara dari tiap-tiap orang untuk
perubahan. Perjuangan bangsa Indonesia sekarang bukan lagi merdeka atau
mati, tetapi :
INDONESIA HARUS BERUBAH ATAU PUNAH!!
KORUPSI DI MASYARAKAT KITA
Sungguh memprihatinkan, negara Indonesia mempunyai masyarakat yang
religius tetapi banyak korupsi. Gereja setiap ada ibadah penuh, Masjid
juga penuh, tetapi korupsi jalan terus. Ini karena ajaran agama salah
dihayati. Korupsi adalah penyakit yang ditimbulkan oleh pemisahan
ajaran agama dari perilaku keseharian manusia. Memang, korupsi bisa
saja dilakukan semua orang baik yang beragama maupun yang tidak
beragama, tetapi ajaran-ajaran agama dengan jelas mengajarkan moralitas
yang baik, dengan jelas pula meng-haram-kan
praktek-praktek korupsi, mencuri dan sejenisnya. China, negara komunis
juga pernah menderita akibat praktek korusi, namun semenjak PM Zhu Rong
Zi menjabat, ditegakkan suatu hukum yang ketat untuk membasmi korupsi.
Bahkan dengan tegas ia mengatakan kalau saja ada yang bisa membuktikan
dia korupsi, dia bersedia dihukum mati. Dan dengan kejelasan hukum itu
menjadi salah-satu tonggak kemajuan The New Modern China saat ini.
Korupsi adalah merupakan masalah yang kompleks. Ia berakar dan
bercabang di seluruh masyarakat. Entah di organisasi yang berorientasi
keagamaan maupun sekuler. Dalam arti luas, korupsi mencakup praktek
penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruh. Bentuk korupsi yang paling umum
adalah nilep dana. Mencuri (menilep) uang kas, mark-up dana proyek
dsb. Hal tersebut sudah biasa dilakukan di negara kita ini. Dan dimata
internasional negara ini tidak bisa mengelak bahwa Indonesia termasuk
negara yang terkorup nomor sekian. Tidak ada bidang kehidupan di negara
ini yang belum tercemar virus korupsi jenis ini, baik yang kecil maupun
yang besar.
Belum lagi model korupsi yang sifatnya suap atau sogok yaitu
memberi sesuatu kepada pejabat agar ia melakukan sesuatu yang
sebenarnya wajib dilakukannya secara cuma-cuma. Pemberian itu tidak
terbatas pada uang, tetapi bisa berbentuk mobil, tanah, perhiasan,
rumah, seks, makanan dan minuman, emas, batu mulia, saham, dll. umumnya
yang dihargai oleh si pejabat. Suap semacam ini lazim oleh orang Jepang
disebut peanut, artinya peanut (kacang) itu kecil nilainya, yang
sebenarnya tidak layak jika dibanding dengan dampak yang diderita negara/rakyat secara keseluruhan.
Pembenaran suap beragam coraknya. Ada yang berpendapat bahwa suap itu
sebenarnya sekadar hadiah di antara kawan, sebagai balasan atas
kemurah-hatian yang tidak ada hubungan dengan jabatan si penerima.
Bahwa hal-hal itu merupakan imbalan pengganti tenaga dan pikiran yang
telah diberikan oleh si pejabat. Azas timbal-balik adalah norma dasar
yang dianuti setiap kebudayaan di sepanjang masa. Lazimnya, penerima
hadiah merasa berhutang pada pemberi hadiah. Menolak hadiah, atau
menerima hadiah tetapi kemudian tidak membalas dianggap sikap
permusuhan. Namun demikian memberi hadiah kepada seorang pejabat tinggi
juga dinilai negatif, yaitu sebagai upaya menjilat, menjalin hubungan,
atau mempengaruhi. Seorang penguasa yang menerima sogokan dan tidak
membalasnya dengan jasa, dianggap tidak bijaksana, dan tidak adil.
Ada sementara anggapan bahwa sogok atau suap baru dianggap tidak
bermoral apabila ia disoroti dan dikecam oleh masyarakat luas. Bila
tidak terjadi pengecaman, maka suap cuma dianggap sebagai cara yang
praktis untuk memperoleh tanggapan positif atas suatu permohonan dan
upaya untuk memuluskan suatu usaha tertentu.
Kasus yang terkenal pada jaman Yesus ini adalah "suap" kepada Yudas
Iskariot, ia menerima 30 keping uang perak untuk harga seorang Mesias.
Meskipun pada waktu itu istilah suap mungkin belum muncul, tetapi
inilah salah satu model suap. Dan kemudian penerima suap melakukan
sesuatu seperti yang diingini oleh pemberi suap. Transaksi ini mirip
dengan jual-beli.
Penegakan moral anti-suap jarang terjadi. Yang terjadi hanya sekedar
kasak-kusuk pembicaraan atau gossip, di negara ini belum ada rujukan
Hukum yang pasti mengenai suap ini. Yang dikecam adalah yang menerima
suap, sedangkan yang memberi suap bebas dari kutukan masyarakat. Hal
biasanya terjadi ialah seorang penyuap akan kecewa tatkala penerima
suap tidak melakukan sesuai yang dikehendakinya.
KORUPSI MENCURI
Akibat korupsi, hanya akan ada kekacauan hukum dan kekerasan, karena
orang menjadi serigala bagi sesamanya, karena orang mau menjajah
sesama warga masyarakat atau warga negara lainnya. Praktek-praktek
korupsi yang kita jumpai di negara ini adalah justru dilakukan oleh
orang-orang yang terpilih untuk mengemban amanat rakyat (wakil-wakil
rakyat) dan para pejabat. Praktek ini telah begitu mewabah dan mungkin
sudah menjadi tradisi di hampir seluruh lapisan masyarakat yang
memegang jabatan.
Korupsi bisa disamakan dengan mencuri, karena mereka telah mengambil
sesuatu yang bukan haknya. Indonesia adalah negara yang berketuhanan,
dan setiap agama tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan hal
ini. Dengan demikian memberantas korupsi menjadi tugas seluruh lapisan
masyarakat termasuk kaum agamawan yang selama ini dianggap umat
masyarakat mempunyai otoritas memberikan pengajaran dan teladan bagi
umat. Keadaan sekarang menuntut mereka untuk tidak hanya sekedar
menyampaikan hal-hal bersifat ritualistik tetapi penting para pembina
rohani itu mengajar dalam bentuk dorongan moral. Paradigma lama yang
menganggap pemberantasan korupsi tidak terlalu penting harus segera
diubah. Melalui keyakinan bahwa memberantas korupsi menjadi jihad/
perang rohani/ perang moral dan perlu diterapkan kepada seluruh lapisan
masyarakat untuk terlibat aktif.
Negara ini sudah terlalu lama menderita, rakyat berharap negara ini
maju, yaitu rakyat bebas dari segala penderitaan dan dapat menikmati
kesejahteraan. Sayangnya, justru penderitaannya diteruskan karena
cita-cita bangsa dengan segala aspirasinya dikorupsi oleh kelompok
bangsanya sendiri
KORUPSI DALAM GEREJA
Yang menarik adalah bahwa korupsi atau penyalahgunaan dana yang bukan
haknya terjadi pula dalam dunia "suci" seperti dana urusan naik haji di
Depag, misalnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa "Kekuasaan cenderung korup, kekuasaan mutlak selalu korup!" Keadaan semacam itu terjadi juga dalam sejarah gereja.
Ketika Kaisar Constantine memeluk agama Kristen, kemudian Istitusi
Gereja dan Imperium Romawi menyatu dan kekuasaan Gereja Katolik Roma
mulai menggusur bentuk-bentuk kekuasaan yang lain. Pada saat itu pula
praktek suap mulai berbentuk jual-beli jabatan gereja. Transaksi
jual-beli kedudukan dalam birokrasi gereja atau simoni tak tersentuh
hukum. Mereka menganggap hukuman hanya diberikan di akhirat. Di dunia,
seorang yang bersalah paling sial hanya diusir dari gereja, atau
dipecat dari jabatannya. Pada saat itu pula terjadi jual-beli surat
pengampunan dosa yang merajalela. Praktek yang menyebar pesat ini
merupakan sumber penghasilan gereja yang amat penting.
Bahwa ada bagian dari Yudas Iskariot dalam setiap pribadi kita umat
Allah, mungkin diantara anda tidak setuju dengan pendapat ini. Tetapi
mari kita pelajari karakter Yudas ini yang dikenal sebagai salah-satu
murid Yesus yang memegang uang-kas pelayanan Yesus bersama
murid-muridNya. Alkitab dengan jelas menulis bahwa ia adalah seorang
pencuri.
* Yohanes 12:6
.. karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
Berapapun besarnya kekuasaan/wewenang atau seberapa terbatasnya
kekuasaan, korupsi adalah salah satu penyalahgunaan kekuasaan. Yudas
diberi wewenang untuk mengelola uang kas, dan ia menyalahgunakan
wewenang yang diberikan kepadanya. Yudas dipanggil Yesus untuk menjadi
muridNya, tetapi kedekatannya dengan Yesus tidak juga membawanya
menjadi baik, karena memang ia sengaja menjauhkan dirinya daripada
mengikuti teladan-teladan yang diajarkan Yesus. Yudas membawa-bawa uang
kas, itu sama dengan anda dan saya, bukan?. Kita diberi berkat dari
Allah secara materi, namun apakah kita lebih mencintai harta daripada
Tuhan sendiri, sehingga kita mungkin punya kecenderungan menjadi
pencuri seperti Yudas.
Yang kita jumpai sekarang ini, betapa banyak Hamba Tuhan (pendeta,
diaken, pengurus, dll) yang menyarankan jemaat untuk setia memberi
persembahan, membayar perpuluhan rutin dan menyantuni orang miskin,
namun pada akhirnya justru mereka para penghimpun dana gereja ini jatuh
dalam dosa pencurian terhadap uang kas gereja. Bahkan tidak jarang
uang persembahan itu menjadi asset pribadi. Mereka menghimpun dana
diakonia dari jemaat, tetapi giliran ada jemaat/orang miskin/orang
sakit yang butuh disantuni, mereka akan berdalih banyak-banyak dengan
menggunakan strategi birokrasi gereja yang bertele-tele, padahal dana
diakonia itu dipersembahkan para jemaat dengan hati yang tulus.
Bukankah ini sering kita temui?
Memang, Tuhan memandang perlu akan pentingnya uang untuk pelayanan, dan
setiap hamba Tuhan yang melayani jemaat berhak mendapatkan upahnya (1
Korintus 9:9-14). Tetapi tidak sedikit para pelayan Tuhan ini
terjangkit penyakit "cinta uang" dan itu jahat dimata Tuhan (Roma
16:17-19).
Mengapa korupsi juga melanda gereja?
Ada permasalahan teologis terletak di sini, yaitu gereja secara
keseluruhan belum memberi pemahaman yang alkitabiah tentang Salib.
Pengertian Salib ialah Yesus yang menderita untuk keselamatan
ciptaan-Nya. Orang yang bersedia menderita dengan tidak mengikut cara
duniawi untuk memperoleh kehidupan layak, mewah, serba wah itulah
hidup dalam Salib. Salib berarti menderita. Untuk mencapai kepuasan di
dunia, kita tidak mengikuti arus duniawi. Korupsi, jelas merupakan
tindakan yang menanggalkan dan membuang jauh penghayatan kita tentang
Salib. Sebab kebahagiaan/ kepuasan tidak dapat terpenuhi hanya dari
segi materi saja.
Tuhan Yesus sudah memberi teladan bagi kita bagaimana hidup yang
berarti bagi orang lain yaitu melalui jalan salib untuk mana kitapun
diundang mengikutinya. Yesus Kristus dalam pengajaranNya yang sangat
terkenal Kotbah di Bukit menyatakan "Berbahagialah orang yang menderita oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 5:10).
Tindak korupsi, apalagi yang dilakukan didalam lingkungan gereja oleh
para hamba Tuhan, itu jelas bukan suatu pengabaran tentang Injil Salib!.
* Ibrani 13:5
"Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa
yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman:Aku sekali-kali tidak
akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan
engkau."
PENANGGULANGAN KORUPSI
Muncul ide dari beberapa pakar agar budaya korupsi itu pelan-pelan
dihilangkan lewat pendidikan. Mungkinkah? Apakah pendidikan kita dapat
menjadi sarana untuk menekankan nilai "anti korupsi" pada orang-orang
kita?
Romo Magnis pernah berpendapat bahwa agama telah gagal menjadi
pembendung moral bangsa dalam mencegah korupsi karena perilaku
masyarakat yang memeluk agama itu sendiri. Mereka mengangap bahwa agama
hanya berkutat pada masalah bagaimana cara beribadah saja, sehingga
agama nyaris tidak berfungsi dalam memainkan peran sosial. Karena
perannya tidak berarti, pesan-pesan/ ajaran-ajaran agama hanya sebatas
seruan saja. Karena hanya sebatas seruan saja, agama tidak memiliki
pengaruh apapun terhadap persoalan korupsi. Semestinya agama/gereja
bisa memainkan peran yang lebih besar dalam konteks kehidupan sosial
dibanding institusi lainnya. Sebab agama mempunyai korelasi atau
hubungan emosional dengan para pemeluknya. Jika diterapkan dengan
benar, maka kekuatan relasi emosional yang dimiliki agama bisa
menyadarkan umat, bahwa korupsi bisa membawa dampat yang sangat buruk.
Dampak itu bukan saja kepada kondisi masyarakat, bangsa dan negara
saja, tetapi terlebih kepada beban rohani setiap pemeluknya dimana
mereka harus mempertanggung-jawabkan dosa itu kepada Tuhan.
Selain itu Romo Magnis berpendapat bahwa, musti pula diciptakan opini
publik bahwa korupsi tidak sejalan dengan misi agama. Korupsi berdampak
buruk dilihat dari sudut pandang ajaran agama. Dengan demikian kiranya
opini tersebut dapat mempengaruhi keberanian para politisi dalam
memungkinkan terjadinya korupsi.
Kita perlu seorang pemimpin atau politisi yang mempunyai komitment anti korupsi dan menciptakan hukum
yang jelas terhadap tindak korupsi apapun, seperti mantan Perdana
Mentri China Mr. Zhu Rong Zi, tetapi beliau ini sampai sekarang
sepertinya masih komunis (atheis)
Top Secret
This underground super affiliate is about reveal the top secret free marketing
system that makes him $65000 a month
Click here >>> http://earthcrisis.info
Don't tell anyone about it
How to Lose Belly Fat ?
lose 9 lbs every 11 days,
FOOD is more powerful than any prescription weight loss pills, because the FOOD
that you eat can either make you THIN or FAT. You don't get fat because of a
lack of exercising, that's a myth. You get fat because you don't eat the right
foods at the right intervals each day
Click here: http://bestwwoww.info
T = Pada suatu kesempatan, saya terlibat diskusi cukup seru dengan
teman-teman mengenai benarkah Tuhan maha kuasa? Tanpa perlu sedikit pun
berpikir, teman-teman saya langsung setuju, "Benar, Tuhan memang maha
kuasa, apalagi yang perlu diragukan?" kata teman-teman saya.
Saya mencoba bertanya, bagaimana contohnya?
"Oh banyak contohnya" jawab teman saya. "Misalnya, ada seseorang yang
divonis mati karena penyakit oleh dokter, kemudian karena kekuasaan
dari Tuhan orang tersebut tetap hidup dan sembuh dari penyakitnya. Ada
lagi orang yang berjalan di atas bara api, tetapi orang tersebut sama
sekali tidak menderita luka sedikit pun, itu semua juga karena
kekuasaan Tuhan. Tuhan maha kuasa untuk berbuat apa pun" lanjut teman
saya.
"Bisakah Tuhan menghidupkan orang mati?" tanya saya lagi.
"Jika Tuhan berkehendak, pasti bisa. Karena Tuhan jugalah yang
menyebabkan orang bisa hidup. Di dalam Al Kitab, nabi Isa juga diberi
mujizat untuk bisa menghidupkan orang yang sudah mati" jawabnya.
J = Hmmm...
T = Kemudian pertanyaan saya lanjutkan lagi. "Bisakah Tuhan menetaskan
telur asin, atau bisakah Tuhan menghidupkan biji-bijian yang telah
dimatikan misalnya biji-bijian yang telah digoreng atau direbus? Atau
bisakah Tuhan menghidupkan atau menciptakan lagi binatang-binatang yang
telah punah seperti menghidupkan lagi dinosaurus?" tanya saya.
"Ya nggak bisa, bagaimana mungkin menetaskan telur asin dan menumbuhkan
biji-bijian yang telah dogoreng atau menghidupkan dinosaurus yang telah
menjadi fosil? Pertanyaanmu tidak masuk akal" jawabnya.
"Bukankah Tuhan menghidupkan orang yang sudah mati juga tidak masuk
akal? mengapa Tuhan tidak kuasa menetaskan telur asin? Katanya Tuhan
maha kuasa dan maha pencipta? Masa cuma menetaskan telur asin saja
tidak bisa" jawab saya.
Benarkah Tuhan maha kuasa dan maha pencipta? Jika benar, mengapa Tuhan
tidak bisa menciptakan kembali sesuatu yang telah punah dan Tuhan tidak
kuasa menghidupkan kembali yang sudah mati semisal menetaskan telur
asin? Meliputi apa saja sebenarnya kekuasaan tuhan? Tuhan sebenarnya
tidak maha kuasa, sebab pada kenyataannya (faktanya) kekuasaan Tuhan
sangat dibatasi dan dipengaruhi oleh interaksi hukum alam. Hukum alam
itu sendiri berjalan sesuai dengan sebab akibat, aksi reaksi dan pro
kontra. Tuhan tidak bisa ikut menentukan dalam proses sebab akibat itu.
Contoh, disebabkan kita telah membunuh seluruh sel kehidupan dari telur
asin itu, maka berakibat Tuhan tidak kuasa pada pembentukan sel
kehidupan yang baru yaitu tidak mungkin telur bisa menetas. Contoh
lain, disebabkan kondisi di bulan tidak ada oksigen maka berakibat
Tuhan tidak kuasa mencipta kehidupan. Syarat-syarat kehidupan
diantaranya harus ada oksigen (udara /O2), hydrogen (air/ H2O), cahaya,
tanah, dan mungkin ditambah satu lagi yaitu api (suhu ideal bagi
kehidupan). Ke lima unsur itulah diantaranya yang menyebabkan
terjadinya kehidupan. Lalu, apakah ke lima unsur tersebut juga
merupakan ciptaan Tuhan? Sekali lagi, ke lima unsur tersebut terbentuk
melalui proses yang sangat rumit dan memerlukan waktu yang sangat
panjang berdasarkan hukum sebab akibat, kait mengkait satu dengan
lainnya. Contohnya, tak ada hujan tanpa uap. Darimana asal air?
Jawabannya tidak sesederhana di alkitab yaitu "dari Tuhan" dengan sabda
"jadilah".
J = Ya, Tuhan memang tidak bisa menghidupkan telur asin. Tuhan tidak
bisa menghidupkan fossil dinosaurarus. Tuhan cuma permainan kata-kata
saja.
T = Kalau begitu, dimanakah Engkau Tuhan? Tuhan berada di angan-angan
kita. Semakin kuat kita mengangan-angankannya (yakin dan percaya) maka
semakin kuat pula keberadaannya pada tubuh kita. Mari kita rasakan.
Jika kita mengangankan Tuhan itu baik dan sayang kepada kita, maka
secara psikis jiwa kita akan tenteram dan damai. Sebaliknya jika kita
mengangankan Tuhan akan marah dan akan memasukkan ke dalam api neraka
bagi orang-orang yang menentang perintah-perintahnya, maka kita pun
akan ketakutan dan akhirnya akan menjalankan perintah-perintahNya.
J = Tuhan itu memang cuma konsep saja yg kita gunakan untuk mensugesti
pikiran kita sendiri. Kalau kita merasa diridhoi, ya jadilah kita
diridhoi. Kalau kita merasa dilaknati, ya jadilah. Yg meridhoi dan
melaknati itu kita sendiri.
Makanya saya bilang sangat najislah orang-orang yg mengkhotbahkan
Tuhan, dan bilang kepada semua orang bahwa Tuhan sangat ingin penerapan
syariat Islam. Tuhan yg mana itu? Tuhan buatan para ulama Islam sendiri
bukan? Kenapa begitu? Karena kalau syariat Islam diterapkan maka akan
sempurnalah para ulama Islam menjadi Tuhan yg bisa menetapkan bahwa
wanita tidak boleh pakai celana panjang, dan harus pakai jilbab.
Siapa yg jadi Tuhan di sini? Para ulama itu bukan?
Makanya sebaiknya kita cepat-cepat menghapuskan pembodohan massal yg
terakhir dan sempurna itu, dan bilang terus terang saja bahwa syariat
Islam itu buatan manusia belaka. Agama Islam itu buatan manusia. Agama
Kristen buatan manusia. Semua agama itu buatan manusia. Bahkan Tuhan
dalam agama-agama itu adalah buatan manusia belaka. Tuhan yg
dikonsepkan oleh manusia.
Kita mau buat Tuhan yg jenis apa, ya jadilah. Tapi tentu saja Tuhan
tidak akan bisa disuruh untuk menetaskan telur asin. Telur asin yg
sudah jadi asin, sudah tentu tidak bisa ditetaskan. Tuhan tidak bisa
itu. Tuhan cuma bisa menggunakan kekuatan tangan kita para pria untuk
memaksa wanita-wanita yg ingin menjadi diri sendiri. HAM wanita untuk
menjadi diri sendiri bisa kita lecehkan dengan alasan Tuhan ingin
wanita berjilbab.
Hidup Tuhan Buatan!
T = Saya pernah berdiskusi dengan teman-teman mengenai Tuhan sebagai
Maha Pencipta. Bagi teman saya, adalah merupakan keyakinan mutlak bahwa
"Bumi, matahari, bintang-bintang serta aneka kehidupan di jagat raya
ini adalah ciptaan Tuhan."
Lalu saya tanyakan, bagaimana Anda "mengetahui" bahwa semua itu yang
mencipta Tuhan? Teman saya menjawab, sebab hanya Tuhan yang mampu
menciptakan itu semua. Tak ada satu makhluk pun di atas bumi ini yang
mampu menciptakan sel kehidupan, apalagi mencipta matahari dan bintang
selain Tuhan.
Lantas saya tanyakan lagi, dengan cara bagaimana Tuhan menciptakan sel
kehidupan, bumi, matahari, bintang-bintang serta semua kehidupan
lainnya ini? Jawab teman saya, Tuhan maha kuasa, jadi cukup berfirman
"jadilah maka apa yang dikehendaki oleh Tuhan akan terjadi." Benarkah
asal usul penciptaan sesederhana itu?
J = Mereka cuma membeo saja bukan? Teorinya seperti itu. Itu teori
tentang Tuhan. Teori yg belum pernah bisa dibuktikan tapi bisa
dipertahankan sampai orang berbunuh-bunuhan. Pedahal Tuhan jenis itu
cuma berasal dari Timur Tengah. Agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Tao)
tidak mengenal Tuhan jenis itu. Tuhan jenis itu khas berasal dari
Barat, yaitu Tuhan yg dipostulasikan berada di luar ciptaan-Nya. Dan
bagaimana kita "tahu" (dalam tanda kutip).
Mudah saja. Kita tahu Tuhan berada di luar ciptaan-Nya karena kita
diajarkan seperti itu. Kita diajarkan bahwa Tuhan itu maha kuasa blah
blah blah... dan kalau Tuhan mau maka apa saja bisa. Bisa ini dan itu.
Pedahal Tuhan cuma ada di jidat manusia yg menteorikan tentang Tuhan.
Agama-agama Timur tidak seperti itu. Orang India, Cina dan Jepang tidak
suka bicara tentang Tuhan. Yg bisa dibicarakan itu tentang manusia
saja. Bagaimana manusia bisa menjalani kehidupannya relatif tidak
diganggu oleh yg namanya Tuhan. Caranya ya dengan hidup biasa-biasa
saja. Ada yin ada yang, ada kiri ada kanan. Ada dingin ada panas.
Semuanya soal persepsi belaka. Kalau dipersepsikan ada Tuhan ala Timur
Tengah, maka manusianya akan bersifat sok tahu yg terakhir dan
sempurna. Kalau dipersepsikan bahwa segalanya cuma alam semesta biasa
saja, maka manusianya akan lebih realistis. Akan lebih natural atau apa
adanya saja. Tidak akan memaksakan segala macam syariat yg konon Tuhan
inginkan agar manusia jalankan. Pedahal yg menginginkan the syariat
dijalankan cuma manusia tertentu yg kebetulan tidak punya malu.
Manusia yg berbicara seolah-olah dia itu Tuhan. Pedahal adanya cuma si
manusia itu sendiri, dan Tuhan itu boneka di tangannya. Konsep yg
dibuatnya sendiri.
T = Pertanyaan saya lanjutkan, adakah di dunia ini satu peristiwa atau
suatu materi/benda yang terjadi begitu saja secara spontanitas tanpa
melalui proses?
Coba tunjukkan kepada saya, adakah contoh sebuah benda yang semula
tidak ada tiba-tiba saja langsung menjadi ada tanpa melalui proses?
Kita membuat tape singkong saja melalui berbagai tahapan (proses),
bagaimana cara Tuhan membuat bumi ini? Benarkah cukup hanya berfirman
"jadilah" maka bumi yang semula tidak ada tiba-tiba langsung jedul
muncul bumi? Mustahil bukan, bumi, matahari dan bintang-bintang di
langit terjadi tanpa melalui proses?
Jadi kalau kita percaya Tuhan Maha pencipta, bagaimana sebenarnya cara
Tuhan mencipta sesuatu? Jika kita tidak bisa menjawab dengan pasti,
berarti keyakinan kita selama ini --yang mengatakan bahwa Tuhan maha
pencipta--, sangat lemah dan rapuh.
Kita beriman, kita percaya bahwa Tuhan maha pencipta. Tetapi, kita
tidak pernah mengetahui apakah keimanan kita selama ini benar atau
salah?
Orang-orang yang beriman sangat arogan dan sombong mengatakan bahwa
bumi ini hasil ciptaan Tuhan, tetapi mengapa mereka tidak bisa menjawab
ketika ditanyakan "bagaimana cara Tuhan menciptakan.
Keyakinan apa pun bisa benar bisa juga salah. Untuk menguji kebenaran
dari suatu keyakinan adalah melalui bukti nyata. Jika kita mengatakan
benar, konsekuensinya ya harus berani diuji! Selama keyakinan kita
tidak bisa dibuktikan kebenarannya melalui fakta, maka apa pun yang
kita yakini belumlah mencapai kebenaran murni. Yang ada hanya sekadar
kebenaran dalam angan-angan atau mimpi, asumsi atau keyakinan.
J = Segala macam pemaparan agama tentang Tuhan merupakan teori belaka.
Diteorikan bahwa ada Tuhan yg menciptakan segalanya blah blah blah...
Pedahal yg bilang begitu cuma sang manusia. Namanya fantasi yg terakhir
dan sempurna. Tentu saja tidak bisa dibuktikan karena orangnya sendiri
secara intuitif tahu bahwa apa yg dipercayainya cuma fantasi belaka.
Fantasi yg diajarkan secara turun temurun, lengkap dengan "ancaman"
(dalam tanda kutip).
Ancaman diberikan kepada mereka yg berani ke luar dari agama. Diancam
akan masuk Neraka. Pedahal Neraka dan Surga termasuk PAHE (Paket
Hemat). Tuhan, Neraka dan Surga merupakan PAHE yg terakhir dan
sempurna. Harus dipaksakan dengan iman. Iman artinya tidak menggunakan
otak. Kalau kita menggunakan otak untuk berpikir, namanya tidak
beriman. Kalau kita tidak menggunakan otak dan menjadi beo saja, maka
namanya kita orang beriman.
T = Mengapa orang-orang beriman tidak bisa membedakan antara mimpi dan
realitas? Mengapa orang-orang beriman tidak bisa membedakan antara
pengetahuan dengan keyakinan? Mengapa orang-orang beriman beranggapan
bahwa keyakinannya adalah suatu kebenaran absolut/ mutlak, meskipun
keyakinan itu hanya berdasarkan lembaran-lembaran kitab purbakala yang
katanya wahyu itu?
Jawabnya, karena orang-orang yang beriman telah terpengaruh atau berada
dalam kekuasaan ilmu sihir/guna-guna atau secara psikologis mereka
telah berada dalam ruang hipnotik.
J = Hmmm...
T = Maka selama-lamanya keyakinan tinggal keyakinan. Sebab, agama
selalu menekankan pada "keimanan" bukan bagaimana Cara berpikir dan
memecahkan persoalan dengan benar berdasarkan realita, hukum
sebab-akibat, aksi-reaksi, pro dan kontra. Yang tidak mau beriman,
berarti "kafir" itulah tabiat atau ciri khas dari agama dalam
menebarkan ilmu hipnotiknya.
J = Menurut saya, yg berperan adalah ancaman Neraka itu. Orang
ditakut-takuti akan masuk Neraka. Dan orang takut. Atau, orang sudah
tahu dibohongi, tetapi tidak mau menyakiti hati para ulama, akhirnya
berbondong-bondonglah orang hidup dalam kebohongan. Bilang percaya,
pedahal sudah tidak percaya lagi. Banyak sekali orang seperti itu. Saya
termasuk.
T = Agama mengajarkan Tuhan maha pencipta, tetapi agama tidak
memberikan pengetahuan secara detail bagaimana cara Tuhan mencipta
sesuatu. Adakah kitab-kitab agama yang memberikan teori astronomi atau
fisika secara lengkap? Penjelasan alkitab tentang penciptaan hanya
menggunakan kata "jadilah" maka apa yang dikehendaki oleh Tuhan
tiba-tiba berwujud. Ini pasti mustahil!
J = Namanya juga "kitab suci" (dalam tanda kutip). Walaupun isinya
tidak masuk akal, tetap saja dianggap suci. Pedahal cuma tulisan
manusia biasa saja, walaupun di ayat itu si manusia menyebut dirinya
sebagai "Tuhan" (dalam tanda kutip juga).
T = Kita beriman berdasarkan warisan kepercayaan atau agama yang
berasal dari para nabi yang kemudian diajarkan secara turun temurun
oleh nenek moyang kita. Dalam penerimaan warisan kepercayaan ini, kita
hanya menerima begitu saja apa kata nabi, tanpa kritisisme, tanpa
dialektika. Nabi atau siapapun tokoh agama adalah orang-orang yang
penuh ambisi dengan berbekal pada ilmu “hipnotik”.
Prinsip hipnotik adalah harus terjadi sebuah hubungan yang tidak imbang
yaitu superior yang berhadapan dengan inferior. Para nabi atau para
pemimpin agama pasti tidak mungkin bisa mengajarkan keimanannya
(menghipnotik) kepada orang lain dengan posisi sama-sama superior.
Hanya para inferior yang bisa dihipnotik dan digiring oleh agama untuk
dimasukkan dalam sangkar mistisisme. Pola ini terus berlanjut dari
jaman purbakala sampai dengan hari ini.
Para Nabi dan pemimpin agama dengan berbagai cara, entah dengan
kekuatan magis atau berbekal wahyu "Tuhan" telah menempatkan dirinya
pada posisi "superior" (sering menyebut dirinya sebagai utusan Tuhan)
sedangkan para pengikutnya dibuat mati rasionya/ inferior sehingga
akhirnya mudah dikendalikan untuk selanjutnya dihipnotik/ dikuasai.
Sudah begitu, mereka mengaku agamanya yang paling benar. Inilah
kekeliruan manusia beragama yang paling konyol/ nyata, karena
seolah-olah telah berhasil "menangkap" sosok Tuhan beserta seluruh
pemikiranNya. Dikiranya "WAHYU" bisa ditangkap oleh manusia. Wahyu
Tuhan, tidak bisa ditangkap, karena wahyu Tuhan hanya berupa
signal/tanda-tanda bukan produk kata-kata.
Signal itu misalnya ketika kita menderita suatu infeksi maka tubuh kita
akan memberi tanda/signal berupa demam. Gunung akan meletus pun pasti
memberikan tanda-tanda, alam akan terjadi gempa pun pasti ada
tanda-tanda, dst. Nah tanda-tanda itulah menurut saya yang disebut
wahyu. Dan jangan lupa, di dunia ini penuh diselimuti dengan
“TANDA-TANDA” alam, alias wahyu Tuhan. Namun, hanya sedikit orang yang
mampu menerjemahkan dan mau tahu dengan tanda-tanda alam itu. Tanda
alam pasti benar dan tidak pernah berbohong tetapi penafsirannyalah
yang sering tidak benar.
Para nabi tidak lebih banyak mengungkap tanda-tanda dari alam, yaitu
belajar fenomena alam semesta melalui ilmu fisika, kimia, biologi,
matematika, astronomi atau filsafat namun mereka lebih banyak merenung
dan kontemplasi untuk mendapatkan petunjuk goib. Akhirnya mereka
mengungkapkan melalui gagasan (produk kata-kata) atau konsep yang
selalu dikatakan bermula dari langit. Padahal yang terjadi sebenarnya,
bermula dari niat untuk berbuat sesuatu, baik untuk dirinya sendiri
atau untuk orang lain (sebuah tafsir realita kehidupan). Konsep itu
selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya faktor budaya,
sosial, pendidikan, lingkungan masyarakat maupun keluarga.
Produk kata-kata (wahyu) akhirnya menggelinding sebagai alat untuk
menyerang atau merendahkan kepercayaan/keyakinan dari umat lain
--tujuan keimanan-- dan sebagai alat politik untuk menciptakan tatanan
sosial dengan menghandel nama Tuhan --tujuan kekuasaan--. Sehingga
terjadilah perang yang seru diantara sesama umat beriman atau umat
beragama. Biasanya, ungkapan yang sering keluar adalah mereka golongan
"sesat" atau mereka golongan kaum kafir, ahli neraka, musuh Tuhan dan
hujatan-hujatan lainnya.
Padahal menurut saya, mereka sama-sama sesat. Mengapa? Sebab perilaku
mereka bukan dibimbing oleh ilmu alam tetapi oleh ilmu mistik.
J = Maksudnya ilmu klenik atau mempercayai apa yg seharusnya sudah
jelas tidak perlu dipercayai. Sudah jelas tidak ada Jibril yg
menurunkan ayat pakai gerekan dari atas langit, kok masih mau percaya,
begitu bukan?
T = Apakah ilmu alam itu? Ilmu alam adalah ilmu kenyataan yang tingkat
kebenarannya bisa dibuktikan secara nyata dan dasar kebijaksanaannya
bukan karena mendapat wahyu dari Tuhan, melainkan karena mereka paham
dan mengerti bahwa manusia harus bisa saling kerja sama untuk kebaikan.
Sebab, jika kita tidak bisa kerja sama maka akan terjadi saling
menindas dan memusnahkan antar sesama manusia (homo homini lupus),
kalau sudah demikian maka terjadilah perang, padahal memulai perang
jauh lebih mudah daripada mengakhirinya.
J = Of course. Anda tahu semuanya. Dan banyak juga yg sudah tahu.
Pertanyaannya sekarang, maukah kita bicara terus terang tentang itu.
Maukah kita konfrontir orang-orang yg jualan Tuhan?
Berikut daftar isi dari kumpulan notes yg pernah saya posting di
facebook dan berbagai milis dari tanggal 1 April 2009 s/d 12 Oktober
2009. Total ada 145 postings berisikan percakapan antara berbagai teman
di seluruh Indonesia dan mancanegara dengan saya. Teman bertanya dan
saya menjawab. Terkadang jawabannya panjang lebar, terkadang
pendek-pendek, depending on my mood dan something in me which is
sooo... unpredictable.
Intuition is always unpredictable. Datangnya seperti tsunami, seperti
gempa bumi. Tidak ada lalu bisa ada. Setelah itu tidak ada lagi. Dan
itulah yg namanya intuisi. Tiap orang dari kita memiliki intuisi. Asal
mau masuk ke dalam diri melalui meditasi, dan juga mau menjadi diri
sendiri saja meninggalkan segala macam dogma yg sudah tidak laku lagi
bahkan di Sorga, maka intuisi anda akan berkembang. Seperti layar.
Namanya layar terkembang, seperti judul sebuah roman di masa lalu.
Sailing the boat while singing: que sera sera, whatever will be will
be, the future's not ours to see, que sera sera... Kita berlayar
menyongsong 2012 ketika banyak orang bilang akan ada kiamat dan kita
bilang tidak. Kiamat kita sudah lewat ketika kita memutuskan menjadi
diri sendiri saja. So, kiamat ternyata datang satu persatu ke diri
kita. Ketika kita memilih menjadi diri sendiri saja, maka kiamatlah si
manusia lama, dan lahirlah manusia baru. Ada peran Imam Mahdi juga who
is none other than your own conscience. Nurani anda sendiri. Bukan
orang lain, bukan nabi, tetapi nurani yg ada di diri anda sendiri saja.
Isn't that great?
Ebook 'Menyongsong 2012' ini bisa langsung anda peroleh di mailbox anda apabila anda join milis Spiritual Indonesia di <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.
Apabila anda sudah menjadi member, maka anda bisa download ebook ini
dari bagian files di milis yg sama. Bisa juga meminta langsung dari
saya apabila anda mau mengirimkan email address anda kepada saya di
<leonardo_rimba@...>.
Seperti tiga ebooks sebelumnya yg berjudul: 'Pelangiku Warna Ungu';
'Mata Ketiga, Simbol dan Interpretasinya'; dan, 'Mencari Tuhan dalam
Kesadaran', ebook ini juga dipersembahkan kepada semua rekan-rekan yg
telah begitu antusiasnya membagi pengalaman spiritual pribadi mereka
kepada saya. Kita belajar dari pengalaman satu sama lain bukan?. I
learnt from you, even though some of you might have thought that you
learnt from me. I, from all people, am the one who have learnt the most
(jujur, jujur...)
Leo
Jakarta/ 14 Oktober 2009
(Leonardo Rimba adalah lulusan Universitas Indonesia dan the
Pennsylvania State University. Bersama Audifax, Leo menulis buku
'Psikologi Tarot' (Pinus, 2008). Buku berikutnya yg akan segera terbit
berjudul 'Tarot dan Psikologi Simbol', juga ditulis bersama Audifax.
Bersama Gede Jayadi Pramana Kusuma, Leo sedang mengerjakan buku dan
kartu 'Tarot Bali'.)
+
DAFTAR ISI:
1. Namanya Pluralisme dan Itu Haram
2. Indonesia ini bukan Islam, kita negara plural
3. Sehingga terjadilah affair...
4. Boleh Aja, Nggak Haram
5. Gereja Gay dan Lesbian
6. Dia Itu Seorang Avatar yg Sedang Menyamar
7. Paskah yg Jatuh pada Hari Ini merupakan Simbol
8. Sekulerisme Solusinya
9. Wacana Spiritualitas dan Gender
10. Langkah Kedua dan Ketiga
11. Hujat Itu Ternyata Memang Menyejukkan
12. Reinkarnasi dari Ibu Kita Kartini
13. Frekwensinya itu Frekwensi Buddha
14. Jalan Syariat, Tarekat dan Makrifat
15. Aku lagi jatuh cinta sama diriku sendiri
16. Om adalah Simbol Tuhan
17. Narcissus Optimalitus
18. Saya Dulu a Bad Girl
19. Berita Pagi dari Karang Tumaritis
20. Allah is another name for Aten
21. Idih, kecil kecil udah makrifat
22. Saya Sudah Mulai Tidak Mempercayai Agama
23. Otaknya itu lebih dipake gitu lho!
24. Isa dan Flu Babi
25. Saya Suka Sekali Sesuatu yang Berbau Mistik dan Magis
26. Kita Tidak Lagi Naik Unta Gitu Lho!
27. Haruskah Saya Bercerai Darinya?
28. Lompatan Quantum
29. Konsep Allah Tidak Relevan Lagi
30. Seorang Pria Idaman
31. Ibu, PSK Itu Apa?
32. Aku Juga Lagi Hanged
33. Rasanya a 24 Years Old Kid
34. Isa Masih Ada Bersama Kita
35. Jibril Sudah Cappe Bilang Iqro
36. Pengalaman Pas Ngumpul Sama Pa' Chodjim
37. Wejangan Resi Budianthika
38. Bagaimana Mengontrol Penampakan?
39. Untuk Menjadi Diri Sendiri Saja Masih Dihalangi
40. Rahasia Kebijaksanaan Nabi Sulaiman
41. Komunitas Gifted People di Semarang
42. Transformasi Diri
43. Sorong Ke Kiri, Sorong Ke Kanan, Tralalalalalalalalalala...
44. Melihat Ular Sexy
45. Mas, Saya Mau Meditasi
46. Antara Sunan Ampel dan Jakarta
47. Nyari Boy Friend Ganteng
48. Pernah Dong
49. Apakah Cinta Juga Konsep Saja?
50. Tiga Wanita Bingung
51. Mengungsi ke Ruang Biru
52. Ave Maria
53. Apa Bener Mas Leo Bisa Melihat Hantu?
54. SALOME
55. ESQ dan NLP juga tidak mempan
56. Akan Bisa Pregnant
57. Allah Ta'alla
58. A Delivery Boy from Heaven
59. Seperti Diinjak Gajah
60. Apa Bener Menurut Allah?
61. SBY Menihilkan Kebenaran?
62. Indomie Seleraku, SBY Pilihanku
63. Tanya-jawab Seputar Leo Rimba
64. The Drama Queen
65. Allah dan Kelas Menengah Bawah
66. Saya Sering Sedih Karena Hal Itu
67. Ditonton Orang Tertentu Saja
68. Orbs Itu Apa Sih?
69. Teror Bom Lagi, Mas Leo
70. Haram, Dibenci Allah
71. Jiwa Mereka Sakit
72. Daripada Masuk Neraka
73. Kalau Gak Bodoh Kamu Kafir!
74. Tidak Mencari Allah Lagi
75. Huwal Awwalu wal Akhiru
76. Anda Sangat Waras
77. Be Natural, Be Atheist
78. Suka Gelisah Sendiri
79. GANDRUNG
80. Woman Juga Simbol Emosi
81. Selamat Jalan, Mas Willy!
82. The Real God
83. Simbol Kesadaran Kita
84. Isro Mikraj
85. MUI Akan Rugi
86. Karena Bujuk Rayu Syaiton
87. Budaya Kesurupan Massal
88. My Papi, Kyai Rahmat
89. Not Even Disebut Jalan
90. Indonesia Bangsa Budak (Re: 17 Agustus 2009)
91. Selamat Berpluralisme!
92. Kemerdekaan Spiritual
93. Compang-Camping
94. Ada Iblis dan Jin
95. Allah Berubah Pikiran
96. Have a Nice Phony Ramadhan!
97. Budak Berdasi
98. Burung Onta
99. Kesepian dan Solusinya
100. The True Neraka
101. Tuhan Belajar Menjadi Manusia
102. Kalo Allah Ga Ikut Campur
103. Kekerasan dalam Rumah Tangga
104. Coli dan Relaksasi
105. ROSO
106. Tuhan as a Big Hole
107. Salah dan Bahagia
108. Layangan Putus Benangnya Panjang
109. Jahiliyah Deh Loe, Indonesia!
110. Om Shanti Om
111. Allah Seperti Boneka di Tangan Kita
112. Tidak Ada Lagi Nuansa Magis Itu
113. Si Om Sudah Makrifatullah
114. Saya Dulu Seorang Muslim
115. Bajakan yg Terakhir dan Sempurna
116. Memang Murtad
117. Amaterasu Omikami
118. Ritual dan Santet
119. Tuhan Tergantung Kita
120. Langit Terbelah di Semarang
121. Spiritualitas dan Agama
122. Habis Lebaran Jadi Setan Lagi
123. Konthol Bimo
124. Soul Mate
125. Metatron dan Alam Semesta
126. Orgasme Spiritual
127. Wanita Amazon
128. Be a Brilliant Woman!
129. Allah Minta Korban Manusia
130: Wanita Anti Poligami
131. NEHI NEHI...
132. Agama sebagai Folklore atau Cerita Rakyat
133. Cara Jadi Happy atawa Mimpi Pura Besakih
134. Dewa Thoth
135. Mao Belanja Tuhan
136. Sun Go Kong vs. Biksu Gundul
137. Hikmah dari Tiga Phase Mimpi Spiritual
138. Jaringan Islam Liberal
139. Gempa Sumbar dan QS 17:16
140. Sekarang Jangan Bilang Itu "Kota Hantu"
141. Sepatu Baru, Peran Baru...
142. Dari Paham Atheisme sampai ke Gerbang Alam Semesta
143. Nyi Roro Kidul
144. Gempa Padang, Lalat Ijo dan Blacky
145. Kebebasan Beragama di Indonesia
Kali ini ada interpretasi mimpi tentang abjad Mesir kuno atau hieroglyph, kiat melepaskan diri dari cengkeraman agama, dan wejangan bagaimana bersikap terhadap kemampuan luar biasa yg memang sudah ada di diri kita sendiri semuanya tanpa terkecuali. Enjoy!
+
PERCAKAPAN 1: NANTI JUGA AKAN MENGERTI SENDIRI
T = Hi Mas Leo,
Udah lama banget ya aku ga nanya... This time mo nanya lagi, singkatnya semalem di mimpi aku yang aku tau bahwa langit subuh itu ditutupin banyak sekali tulisan mirip hieroglyph, bukan bintang, dan huruf-huruf itu glowing dan sparkling seperti bintang dan warnanya ke-emasan. Jadi, di situlah aku melihat diriku sendiri. Menjelang pagi. Langit udah mulai terang dan lagi cepet-cepet mencatat semua huruf/ kata-kata yg berserakan di langit. It was a beautiful scene. Aku
sendiri ga ngerti apa artinya. Aku cuma terus aja nyatet dan dalam hati aku ngomong sendiri "biarin deh dicatet dulu, mungkin nanti lama-lama aku ngerti artinya". Ga lama sinar matahari udah mulai ada dan tulisan-tulisan itu jadi hilang karena langit jadi putih dan terang. Apa ya artinya mas?
J = Artinya apa yg ditemukan di dalam hidup anda sekarang ini semuanya dikumpulkan dahulu. Walaupun sekarang tidak mengerti, tetapi dikumpulkan saja, sebab suatu saat akan mengerti juga. Ada tulisan yg tidak dimengerti, contohnya, tetapi tulisan itu disimpan saja karena suatu saat akan mengerti juga ketika dibuka kembali. Things like that. Yg cukup menakjubkan bukan mimpinya itu, tetapi interpretasinya yg diberikan juga di dalam mimpi yg sama. Anda yg bermimpi, dan anda pula yg memberikan interpretasi. Interpretasinya di dalam mimpi juga. Berarti anda sadar di dalam alam mimpi. A great leap forward dibandingkan dengan orang-orang yg masih mau menjadi manusia
sakti mandra guna berbekalkan nama Allah. Kalo kita sih biasa-biasa aja dari dahulu sampai sekarang. We enjoy things coming and going. Biarpun sekarang tidak mengerti, nanti juga akan mengerti. Good luck!
+
PERCAKAPAN 2: CARA MEMBEBASKAN DIRI DARI AGAMA
T = Mau tanya...
Sejak kecil saya (dan pastinya kebanyakan manusia) sudah diprogram untuk takut pada ulama dan yakin sekali pada Allah yang gampang kecewa dan gemar menyiksa. Nah, gimana cara efektif dan termudah untuk menghilangkan ketakutan yang sudah berurat akar?
J = Langgar saja semua pantangan agama. Ada seorang teman saya yg memiliki latar belakang Muslim. Dia dibesarkan dengan cara ditakut-takuti bahwa ada Allah yg tidak boleh dipertanyakan. Tidak boleh membantah para ulama karenan nanti bisa masuk Neraka, dsb... Akhirnya teman itu justru melakukan apa yg dilarang. Kalau dilarang masuk tempat ibadah orang kafir, maka dia justru akan masuk dan ikut
ibadah. Kalau ke tempat-tempat keramat dibilang musyrik dan syirik, dia justru ke tempat-tempat yg dikeramatkan itu. Kalau babi dibilang haram, dia akhirnya malah makan babi. Ternyata orangnya tidak mati, sampai sekarang masih hidup biasa-biasa saja.
Ternyata semuanya tetap biasa-biasa saja. Ternyata tidak ada segala macam yg diancamkan kepadanya. Ternyata orang tua dan ulama tidak bisa apa-apa. Ternyata tidak ada Allah yg datang tergopoh-gopoh memberikan "hukuman" (dalam tanda kutip). Teman itu sekarang mengaku sebagai seorang HIndu. Sangat happy. So, saran saya untuk anda adalah langgar saja segala larangan agama yg dijejalkan kepada anda sejak masa kanak-kanak. Kalau anda mau, masuk saja ke dalam gedung gereja, vihara Buddha, pura Hindu. Ikut saja beribadat. Tidak akan ada yg mengusir anda ketika anda masuk gereja, vihara ataupun pura. Anda akan diterima dengan tangan terbuka. And, don't forget to eat pork. Makan babi akan mengakibatkan anda
kebal terhadap jin Muslim yg akan lari terbirit-birit dari hadapan anda sambil berteriak: haram, haram !!
Tentu saja saran saya ini berlaku untuk semua orang. Kalau anda dibesarkan dalam keluarga Muslim fanatik, maka cara me-netralkan segalanya adalah dengan melakukan segala apa yg dilarang oleh Islam. Kalau anda berasal dari Kristen fanatik, caranya juga sama, yaitu melakukan apa yg dilarang oleh Kristen. Kalau dibilang bahwa Buddha itu Setan, ya masuklah ke vihara Buddha dan ikut sembahyang di sana. Sembahyang kepada "Setan" (dalam tanda kutip). Akhirnya kita sendiri akan sadar bahwa ternyata segala larangan itu omong kosong belaka, dan tujuannya cuma untuk membuat kita menjadi robot seumur hidup. Menjadi robot agama, captured market yg tidak bisa membebaskan diri. Menjadi manusia yg tidak bisa merealisasikan dirinya. Semua agama sifatnya menginjak-injak kebebasan manusia, cuma memang ada yg keterlaluan sekali menginjaknya seperti Islam.
Makanya saya suka senang sekali ketika mendengar ada teman yg bisa membebaskan diri dari keracunan Allah. Akhirnya,...
T = Apakah notes Bang Leo ini juga terbit dalam bentuk blog atau situs? Maksudnya yang ditag hingga mudah disearch berdasarkan topik. Alamatnya di mana?
J = Belum ada. Yg saat ini ada barulah tiga ebooks yg akan bisa anda peroleh langsung di mailbox anda apabila anda join milis spiritual indonesia di <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. Judulnya: 1) Pelangiku Warna Ungu, 2) Mata Ketiga, Simbol dan Interpretasinya, dan 3) Mencari Tuhan dalam Kesadaran.
Di facebook sendiri ada sekitar 200 notes. Kalau mau baca klik saja di <http://www.facebook.com/home.php#/notes.php?id=583149371&style=1>
+
PERCAKAPAN 3: BAGAIMANA MENJADI ORANG BERKEMAMPUAN LUAR BIASA
T = Dear Leo,
Ini beberapa pertanyaanku setelah membaca e-book mu: Bagaimana kamu tahu bahwa kamu
tahu? Bagaimana kamu tahu bahwa kamu tidak tahu?
J = Gak pernah dipikirin, walaupun bisa juga dikatakan bahwa pengalaman dan pengetahuan berperan banyak. Contoh, saya bisa tahu bahwa semua konsep Allah itu buatan manusia belaka. Allah itu konsep yg dilahirkan dari budaya Timur Tengah. Darimana saya tahu itu? Dari belajar, dari membandingkan, dari membaca sendiri sumber-sumber aslinya dan tidak mengandalkan diri dari "katanya".
Pada pihak lain, saya tahu bahwa saya tidak tahu apabila saya belum pernah mengalaminya. Saya tidak bisa bilang bahwa setelah mati saya akan pergi ke mana, karena saya belum pernah mati gitu lho. Dan saya juga tahu bahwa saya tahu, bahwa orang-orang beragama itu cuma berfantasi saja ketika mereka berkhotbah tentang Sorga dan Neraka. Mereka tahu dari mana ayo? Dari fantasi belaka bukan? Dan daripada ber-fantasi, lebih baik saya bilang bahwa saya tidak tahu. Yg saya tahu bahwa saya saat ini sadar. Saya sadar bahwa saya
sadar. Dari dulu juga seperti itu.
Jadi, ada yg bisa kita ketahui secara pasti, dan ada juga yg tidak bisa kita ketahui. Kalau tentang segala macam nabi-nabi yg katanya menurunkan ayat-ayat dari Allah, saya bisa tahu pasti bahwa asalnya dari manusianya sendiri. Mereka sendiri yg bilang dari Allah, pedahal Allah itu cuma figment dari their own imaginations. Saya juga bisa, caranya mudah saja: Saya tinggal bilang saja bahwa ada Malaikat Jibril yg menurunkan ayat melalui saya, as simple as that...
T = Apakah munculnya sifat galak melulu lower? Apakah sifat tenang melulu higher?
J = Tidak selalu. Terkadang galak diperlukan, terutama dalam menghadapi manusia-manusia naluriah yg merasa dirinya kebal karena membawa-bawa nama Allah. Ternyata mereka biasa saja, dan bisa ditendang ke luar dengan sempurna. Galak dan tenang itu dua sisi dari mata uang yg sama. Tapi galaknya saya tentu saja berbeda dengan galaknya orang beragama. Mereka galak
karena merasa "terluka" ( dalam tanda kutip) karena ternyata saya bisa menelanjangi agama mereka. Ternyata agamanya itu buatan manusia belaka, dan tidak seperti yg diiklankan. Mereka merasa terluka karena diperlihatkan bahwa mereka selama ini menipu diri mereka sendiri.
Pada pihak lain, galaknya orang beragama adalah galak yg pengecut. Mereka tidak berani berhadapan langsung karena mereka mungkin secara intuitif juga tahu bahwa Allah yg mereka bawa-bawa itu cuma pemanis bibir saja. Cuma penipuan diri sendiri saja. Sudah ribuan tahun agama-agama menipu manusia di seluruh bagian dunia. Semua agama seperti itu kelakuannya.
Sifat tenang adalah tidak terpengaruh apapun yg mau orang lain bilang. Orang lain mau senang atau sedih bukanlah urusan kita. Orang lain mau berpendapat apapun bukanlah urusan kita. So, tidak ada yg lebih tinggi dan lebih rendah. Galak dan tenang cuma dua sisi dari mata uang yg sama.
T = Mengapa ada dikotomi yg
menempatkan sifat galak sebagai jelek/ rendah dan tenang sebagai baik/ tinggi?
J = Karena orang yg mengerti akan memberikan advis bahwa ketenangan akan bisa menghadapi segalanya. Kalau kita tenang, maka kita akan bisa memilih modus operandi apakah yg akan kita lakukan. Kita bisa tetap tenang saja, dan kita bisa berpura-pura galak sampai orang yg bawain kita Allah di atas sebuah talam akan lari terbirit-birit... Pedahal kita biasa saja. Tidak terpengaruh apapun. Galak yg dikeluarkan cuma action doang supaya orang tidak sembarangan main bluffing. Bluffing atau ancam mengancam merupakan spesialisasi orang beragama, dikiranya kita akan takut kalo dia bawa nama Allah. Ternyata akhirnya dia membuktikan sendiri bahwa kita tidak takut. Orangnya sendiri yg bawa-bawa nama Allah tidak takut bawa-bawa nama itu. Mengapa kita musti takut, ya gak? The thing is, nama yg begitu pasaran dan murah meriah seperti Allah tidak perlu ditakutkan. Itu bukan Tuhan,
melainkan memedi. Allah is memedi yg diciptakan oleh manusia pencipta agama agar manusia lainnya bisa diperbudak. Kalau manusianya sudah sadar bahwa dia selama ini dibohongin, ya udah. Game over. Tetapi terkadang perlu dikeluarkan galak lebih dahulu.
Saya galak ketika saya bilang bahwa Allah tidak bisa apa-apa ketika manusia yg mengiklankan Allah saya tendang dengan sempurna. I hope they will understand that the Allah is just a concept. Kita mau bilang apapun tentang Allah is ok karena Allah cuma konsep yg kita buat saja. Abstrak. Mati. Yg hidup itu kesadaran manusia. Dan kesadaran manusia itu ada di anda dan di saya. Bukan di Allah.
T = Bahwa semua mimpi dan petunjuk sebagai simbol, aku setuju, kita yang menginterpretasikannya; pertanyaannya bilamana interpretasi kita cukup akurat, tidak bias dan bagaimana memprosesnya?
J = Interpretasi mimpi tidak menggunakan patokan "akurasi" melainkan utilitas, kegunaan. Apakah suatu
interpretasi berguna bagi anda? Apabila berguna, ya pakailah. Kalau ternyata tidak berguna, ya buanglah. Akurasi sendiri tidak dipertanyakan karena harus ada standards. Lalu standards mana yg akan kita pakai? Standard interpretasi Freudian? Standard interpretasi primbon Jawa? Standard interpretasi dari New Age? ... So, akurasi merupakan istilah yg terlalu berat untuk dibawa-bawa, selain cuma akan membuat manusianya semakin bingung. Yg penting kita bisa artikan dan bermanfaat. Bermanfaat artinya interpretasi itu bisa terdengar sebagai benar di telinga manusia yg mengalaminya. Manusianya merasa terbantu, and that's all...
T = Mengapa kamu memilih hidup sebagai tarot reader? Apa pertimbangannya?
J = Saya tidak memilih hidup sebagai tarot reader, saya memilih hidup biasa-biasa saja. Tarot is only a medium, bisa digunakan bisa juga tidak. Malahan saya boleh dibilang jarang menggunakan tarot. Kalau tidak diminta, saya tidak akan mengeluarkan
tarot karena sebenarnya lebih mudah bila langsung bicara saja. Lebih cepat dan efisien. Tapi tarot bisa digunakan oleh mereka yg baru mulai belajar tentang simbol-simbol. Ternyata kita akan tahu bahwa segalanya di dunia ini cuma simbol belaka. Bahkan Allah itu cuma simbol, dan bukan essensi. Yg essensial itu ternyata kesadaran kita saja yg bisa menciptakan Allah. Bisa menciptakan Shiva. Bisa menciptakan Vishnu. Bisa menciptakan Durga. Bisa menciptakan Bunda Maria. Semuanya itu simbol yg diciptakan oleh kesadaran kita. Dan ketika kita fokus kepada simbol-simbol itu, bisa juga terjadi "interaksi". Ada sesuatu yg diolah oleh kesadaran kita dan menghasilkan sesuatu yg baru. Tetapi yg bekerja itu tetap kesadaran kita saja. Yg awal dan akhir itu kesadaran kita, our consciousness. Roh Kudus atau Roh Allah itu kesadaran kita. Nur Muhammad juga. Shiva itu simbol dari diri kita. Bunda Maria simbol dari diri kita. Semuanya simbol. Makanya kita tidak perlu takut
terhadap orang yg bawa-bawa simbol begituan untuk menjatuhkan kita. Our own kesadaran lebih besar daripada segala simbol yg kita ciptakan sendiri.
T = Bagaimana kamu dealing dengan kemampuan luar biasamu?
J = Susah sekali. Terkadang kemampuan saya yg luar biasa itu mau mengajak saya jalan-jalan ke angkasa luar, menembus bulan dan bintang. Tapi benernya cuma mau berada di sebelah seseorang yg very cute and very quiet. Akhirnya saya diam saja dan berdoa kepada Allah ta'alla. Saya bilang: Ya Allah, kalo memang bener saya musti berjodoh sama dia, jadikanlah. Tapi, as always, Allah diam saja. Mana pernah sih Allah menjawab kalo ditanya? ... So, akhirnya saya belajar bahwa Allah itu cuma boneka yg diajak bicara oleh kita. Kita sendiri yg bertanya, dan kita sendiri yg menjawab. Nothing luar biasa, melainkan kemampuan biasa-biasa saja. Semua orang juga bisa. You can do it too.
T = Pernahkah merasakan kebingungan?
J = Pernahlah. Kalo
gak pernah bingung namanya bukan manusia melainkan ulama. Ulama selalu yakin atas pilihannya karena Allah berbicara kepada mereka dan tidak bisa dilihat oleh orang lain. Berdasarkan ngomong-ngomong dengan Allah, the ulama akan berbicara dalam khotbah Jumat. Ingatlah bahwa Allah cuma menurunkan "cobaan" di Padang supaya umat semakin bertakwa kepada Allah, begitu kata si ulama.
Bertakwa apanya lagi? Kan barusan sembahyang lohor sambil nangis-nangis, eh udah gitu the surau runtuh. Mao takwa apanya lagi? Tapi the ulama membutakan telinganya, pura-pura budeg atawa memang sudah budeg sejak dia dikenal sebagai ulama.
T = Pernahkah merasa tidak yakin atas pilihan?
J = Pernahlah. Kalau selalu merasa yakin atas pilihan namanya bukan manusia melainkan ulama. Ulama harus selalu yakin akan apa yg diucapkan/ dituliskannya walaupun hati kecilnya tahu bahwa dia cuma membodohi umat. Kalau sudah menjadi ulama artinya sudah tidak lagi manusiawi, sudah
tidak bisa lagi membedakan benar dan salah. Sudah keracunan Allah dan ayat-ayat. Ulama adalah penjaja candu. Candu itu agama bagi rakyat. Sebagai pedagang candu, para ulama harus selalu yakin atas pilihannya. Kalo gak yakin, siapa yg mao beli the candu (agama) ayo?
T = Mengapa 'mata ketiga' kadang aktif, kadang tidak?
J = Mengapa mata fisik terkadang aktif terkadang tidak? Kalau aktif berarti kita sedang melek. Kalau tidak aktif artinya lagi bobo. Tetapi waktu bobo ternyata kita bisa melihat pemandangan juga. Yg melihat pemandangan ketika kita tidur itu adalah 'mata ketiga'. Melihatnya tanpa mata fisik, tetapi diproses di dalam otak sehingga muncul sebagai impressi berbentuk simbol-simbol. Pedahal the mata fisik merem. Hebat kan?
+
Leo @ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.
(Illustrasi): HAM Kebebasan Beragama di Indonesia masih terinjak-injak, walaupun
masih lebih bebas dibandingkan dengan situasi di Korea Utara, Cina dan Iran. Kebebasan beragama jauh lebih besar di Israel dibandingkan dengan di Indonesia. HAM Kebebasan Beragama (Religious Freedom) cuma bisa diterapkan kalau manusianya mau membuang segala macam pantangan yg di-haramkan dalam agama. Merupakan HAM untuk ke luar dari agama apa saja, masuk agama apa saja, dan membuang agama apa saja. Ini HAM yg dijamin oleh PBB dan negara-negara maju di seluruh dunia.
Berikut tanya jawab dengan dua orang rekan berbeda tentang aliran
liberalisme dan makna dalam hidup kita. Tentang pembaharuan dalam
praktek keagamaan bersama, dan tentang arti atau makna yg kita berikan
terhadap hidup kita sendiri. Apa dan mengapa? Kenapa saya harus jadi
liberal untuk menjadi manusia seutuhnya? Baca saja:
+
PERCAKAPAN 1: JARINGAN ISLAM LIBERAL
T = Saya ingin tanya pendapat Mas Leo tentang Islam Liberal. Selama ini
yang saya tahu, mereka berusaha untuk menyajikan alternatif lain dalam
beragama Islam.
J = Iklannya memang seperti itu, tetapi tidak semua orangnya ok. Ada
juga aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) yg masih bisa mengeluarkan
ucapan kafir, dsb... Banyak aktivis JIL merasa hidup di atas air
mendidiih yg sudah tidak perlu lagi. Mereka bilang sekarang jaman sudah
berubah. Bukan air yg mendidih tetapi lebih tepat es batu karena global
warming sudah melanda Indonesia juga. Tetapi, air itu tetap saja
mendidih karena ada kompor yg menyala terus.
Kompornya adalah para ulama konservatif yg selama ini meraup untung
dari pembodohan umat. Dunia Islam yg kalang kabut kebakaran jenggot itu
dikompori oleh kelas ulama yg selama ratusan tahun menempati kasta
tersendiri, dihormati seolah-olah mati hidupnya umat ditentukan oleh
mereka. Mereka merasa berhak menginterpretasikan ucapan "Allah" (dalam
tanda kutip).
Pedahal orang yg mengerti tahu bahwa Allah itu konsep saja, dan apapun
yg kita mau bilang tentang Allah tidak akan menjadi masalah bagi Allah.
Allah itu konsep mati, dan yg hidup adalah kesadaran di diri kita
manusia. Kalau dikatakan Allah meridhoi anda, contohnya, maka anda akan
merasa nyaman. Kalau dikatakan Allah melaknat anda, maka anda akan
merinding. Pedahal Allah di situ cuma satu kata saja, tidak memiliki
faedah apapun selain untuk membuat impressi di dalam kesadaran anda. Yg
bereaksi itu pikiran anda. Pikiran anda bisa mengkonsepkan apapun, dan
bereaksi sesuai dengan konsep atau "software" (dalam tanda kutip).
Agama dan Allah-nya itu software. Bisa di-revisi terus-menerus. Ada
penciptanya juga. Pencipta pertama yg digelari nabi maha besar,
pencipta kedua yg digelari imam maha besar, pencipta ketiga adalah imam
cukup besar, pencipta keempat imam besar ukuran biasa, pencipta kelima
imam kurang besar, dst... Revisi demi revisi sudah digulirkan dan
di-aplikasikan kepada "hardwares" (dalam tanda kutip).
Hardwares adalah pikiran umat. Software atau agama yg lebih up to date
akan menghasilkan output atau perilaku umat yg lebih relevan untuk
jaman. Software atau agama yg sudah terlalu konservatif atau
ber-orientasi ke masa lalu, otomatis akan menghasilkan output atau
perilaku manusia yg error. Penuh kemarahan dalam beragama. Mereka yg
beragama dengan penuh kemarahan adalah hardware yg menggunakan software
jenis lama atau ajaran yg sudah tidak cocok... Akibatnya orangnya
error, merasa diri manusia paling mulia satu dunia, merasa lebih tinggi
derajatnya dibandingkan manusia lain yg tidak memeluk Islam. Dan
akhirnya mereka menjadi badut saja. Badut paling lucu adalah para
teroris Islam semacam Noordin M. Top dan Jemaah Islamiyah. Badut yg
tidak terlalu lucu adalah para "pejuang" (dalam tanda kutip).
Pejuang Islam di facebook bergerilya memaki orang yg tidak sepaham.
Mereka memaki karena diajarkan oleh software yg dipasang di otak
mereka, bahwa pemeluk Islam berhak memaki orang lain. Bahwa mereka akan
masuk Sorga, dan orang lain akan masuk Neraka. Bahwa Allah akan membela
mereka. Pedahal tidak ada Allah, dan orang-orang yg berkelakuan tidak
senonoh ini akan mudah saja kita tendang. Tendang saja, block saja.
Saya sendiri sudah beberapa kali menendang unwanted persons yg memakai
software error berlabel Islam. Ternyata kita bisa tendang mereka.
Ternyata tidak ada Allah yg datang tergopoh-gopoh membela para teroris
Islam ini.
Agama dan Allah-nya itu software, hardware adalah kita manusia. Tetapi
mereka yg menangguk untung dari royalty yg dibayarkan kepada software
versi lama tentu saja akan mencak-mencak tidak mau terima ketika umat
beralih ke software versi baru. Royalty akan berpindah kantong, dan
itulah issue-nya. The issue is money. Uang dan kekuasaan. Mereka yg
merasa jualan mereka tergeser akan meributkan software jenis baru. Yg
diperebutkan adalah para pengguna, para hardwares, yaitu kita semua.
Air mendidih adalah emosi umat yg beragama dengan marah. Mereka adalah
pengguna software agama versi lama. Mereka marah karena sedari kecil
mereka diprogram oleh software jenis lama bahwa Islam itu agama yg
terakhir dan sempurna. Turun dari atas langit dibawa oleh Malaikat
Jibril. Karena terakhir dan sempurna seharusnya dihormati oleh satu
dunia. For your infformation, Allah SWT yg muncul di Al Quran itu gila
hormat luar biasa, sehingga tentu saja umat yg percaya Allah menurut
Islam harus dihormati juga. Begitu logikanya. Tetapi ternyata umat
Islam dianggap biasa saja, tidak ada bedanya dengan orang lain. Mau
atheist kek, mau Islam kek, orang satu dunia tidak perduli. Sama-sama
manusia. Pedahal menurut mereka seharusnya atheisme itu dinjak-injak
dan Islam dipuja-puji, tetapi nyatanya tidak begitu. Nyatanya justru
Islam yg jadi cemoohan satu dunia karena umatnya terbelakang dan
berkelakuan seperti hewan terluka.
Ada megalomania di Islam. Ulama Islam juga banyak yg terkena penyakit
kejiwaan itu sehingga mereka mau umat mencium tangan mereka, pedahal
jaman cium tangan sudah lama berlalu. Sekarang salaman saja sudah
cukup. Tetapi,... bahkan diajakin salaman sama wanita juga tidak mau.
Haram, katanya. Akhirnya jadi serba salah. Akhirnya orang akan bilang
Islam itu agama aneh. Agama yg sempurna kok kayak begitu? Kayak bait
lagu aja, ada kata sempurnanya. Atau, kayak iklan rokok Sampurna itu.
Iklan, segalanya iklan, dan buktinya boleh bilang cuma ada di
awang-awang.
Agama yg diskriminasi wanita kok sempurna? Orang beragama dengan penuh
kemarahan kok sempurna? Percaya takhayul bahwa ada malaikat Jibril yg
turun dari atas langit kok dibilang sempurna? Apalagi ketika dibilang
bahwa semua agama lain di dunia ini sudah ketinggalan jaman
dibandingkan dengan Islam yg paling akhir dan sempurna. Bukti yg tak
terbantahkan lagi justru memperlihatkan bahwa Islam yg paling
ketinggalan jaman. Wilayah terbelakang di dunia ditempati oleh mereka
yg menganut Islam secara turun temurun. Pakistan, Bangladesh, Iran,
Saudi Arabia,... semuanya terbelakang. Cupat. Fanatik. Penuh takhayul.
Mempraktekkan diskriminasi dan poligami. Menginjak-injak HAM (Hak Azasi
Manusia).
T = Islam Liberal selalu mengotak-atik ayat-ayat Al Qur'an yang
dirasakan sudah tidak up to date lagi atau yang dirasakan tidak
manusiawi, agar lebih sesuai dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.
Misalnya saja ayat tentang poligami. Mereka berusaha mengotak-atik ayat
tsb, yang istilah kerennya "menafsirkan ulang", agar sesuai dengan
zaman. Mereka katakan bahwa sebenarnya Islam itu agama yg mengajarkan
hidup monogamis. Karena Muhammad bermonogamis lebih lama daripada
berpoligami, dan berpoligami itu karena kondisi tertentu yang masih
bisa dibenarkan. Dikatakan pula bahwa poligami dalam Islam itu untuk
membatasi jumlah istri orang-orang sebelum Islam datang. Dsb...
dsb....yang akhirnya disimpulkan poligami itu haram dalam Islam.
J = Itu sah saja. Re-interpretasi itu sah saja karena semua agama
merupakan buatan manusia. Islam Liberal cuma mencontoh Kristen Liberal
yg sudah melakukan re-interpretasi sejak 100 tahun lalu. Tapi Kristen
sudah memulai usaha itu dari titik yg jauh lebih maju dibandingkan
dengan Islam. Kristen sudah re-interpretasi agama sejak hampir 2,000
tahun yg lalu ketika kitab-kitab Yahudi mereka ambil alih.
Kristen sudah mengeliminasi praktek poligami sejak hampir 2,000 tahun
yg lalu, sedangkan Islam masih mempraktekkannya sampai sekarang. Malah
sudah dilembagakan segala macam. So, tantangannya berat sekali untuk
membawa Islam ke abad post modern ini. Ibaratnya seperti membawa cara
berpikir Mekkah post Jahilliyah berpindah 1,300 tahun sekaligus. Susah
sekali. Dan itu juga sebabnya banyak orang Islam Liberal jadi stress.
Mereka mau re-interpretasi, tetapi tradisi re-interpretasi itu sendiri
boleh bilang langka di Islam. Apalagi penganut Islam biasanya dihimbau
dan dipaksa secara halus maupun kasar untuk tidak menggunakan otak
mereka dengan alasan Allah tidak bisa dijangkau oleh otak manusia.
Pedahal Allah itu cuma konsep saja. Asalnya dari konsep Yehovah Elohim
di agama Yahudi. Yehovah tidak boleh diucapkan, haram, dan sebagai kata
gantinya dipakailah antara lain kata Adonai dan Eloah. Dari Eloah lalu
menjadi Allah (lafal Arab). Dan itu kata ganti untuk merujuk Yehovah yg
tidak boleh diucapkan karena dianggap sangat sakral.
Di kepercayaan aslinya, yaitu agama Yahudi, segala syariat yg diberikan
oleh Musa atas nama Yehovah sudah sejak 2,500 tahun yg lalu mengalami
re-interpretasi. Ditulis ulang dengan pengertian berbeda oleh banyak
pembaharu atau yg sekarang dikenal sebagai para nabi... Yahudi sekarang
bermacam ragam, dan kelompok fanatik kecil sekali. Sebagian besar
Yahudi justru moderat. Dengan kata lain, manusia yg normal-normal saja.
Yg tidak normal itu Islam. Umat Islam justru diajarkan untuk menyangkal
bahwa Islam merupakan copy paste dari agama Yahudi dan Nasrani. Pedahal
asli copy paste. Ayat-ayat di dalam Al Quran itu asalnya dari
kitab-kitab Yahudi dan Nasrani yg susunannya berurutan. Tetapi di Al
Quran urutannya lompat-lompat sampai orang tidak bisa mengerti lagi
bahwa ada sejarah kepercayaan semitik yg melahirkannya. Tetapi untuk
mengajarkan kejujuran seperti itu berarti harus re-interpretasi tentang
kepercayaan Muhammad buta huruf. Tentang Jibril yg datang tiba-tiba
bawa ayat,... pedahal orang yg berpikir normal bisa tahu dengan
mudahnya bahwa ayat-ayat itu hampir semuanya berasal dari kitab-kitab
Yahudi dan Nasrani.
Orang-orang yg tidak pernah membaca Tanakh (kitab suci Yahudi) dan
Perjanjian Baru (kitab suci Nasrani) tentu saja tidak tahu. Saya tahu
karena saya menguasai kitab-kitab itu. Dan kalau orang menguasai
kitab-kitab asal dari Al Quran, orang akan mengerti bahwa agama Yahudi
itu diciptakan oleh manusia. Dan sudah ada reformasi berkali-kali di
dalam agama Yahudi bahkan sebelum Nasrani muncul. Yg sekarang dikenal
sebagai nabi-nabi dalam Islam itu adalah mereka yg melakukan reformasi
agama Yahudi. Dan semuanya dicatat di dalam kitab-kitab Yahudi itu.
Dicatat dengan jujur apa adanya segala jatuh bangun reformasi yg mereka
lakukan.
Nasrani boleh bilang kelanjutan dari agama Yahudi, reformasi terhadap
agama Yahudi yg saat itu sudah terlalu kaku diatur oleh syariat. Islam
adalah kelanjutan dari Yahudi dan Nasrani, walaupun lebih banyak
Yahudinya menurut saya. Di luar penerimaan terhadap Isa sebagai Imam
Mahdi, boleh bilang isi dari Islam itu Yahudi. Syariat Islam itu
syariat Yahudi yg merupakan hasil reformasi terhadap Yahudi awal. Dulu
yg diambil alih oleh Islam sudah merupakan kemajuan luar biasa bagi
penduduk Mekkah yg masih jahilliyah, tetapi sekarang sudah ketinggalan
jaman lagi. Harus direformasi lagi, harus di-update lagi. Agama itu
software, dibuat oleh manusia, dan harus dikeluarkan versi baru
terus-menerus.
T = Kalau saya perhatikan, Islam Liberal ini justru sedang melakukan
pembodohan umat. Karena kenyataannya tidaklah demikian. Karena nabinya
sendiri berpoligami itu karena memang pengen kawin lagi setelah melihat
perempuan cantik.
J = Re-interpretasi semacam itu sah saja. Kita bisa bikin mitos baru.
Agama itu isinya mitos-mitos. Ada mitos agama yg terakhir dan sempurna.
Ada mitos nabi yg gagah perkasa mengawini banyak wanita sekaligus. Dan
sekarang ingin dibuat mitos nabi yg aslinya monogami dan terpaksa
mempraktekkan poligami karena ingin mereformasi praktek jahilliyah
sebelumnya. Itu sah saja... Agama-agama itu dibuat oleh manusia biasa,
walaupun selalu dengan membawa nama Tuhan yg di sini lebih dikenal
sebagai Allah. Sang Tuhan ini pelengkap penderita saja dalam agama
semitik. Kalau tidak bawa nama Tuhan maka kurang afdol, umat tidak
percaya. Maka dibawalah Tuhan. Pedahal Tuhan itu konsep saja.
Dari Musa yg bilang Tuhan namanya Yehovah dan haram disebut, sampai
kata Eloah/ Allah sebagai pengganti untuk menyebut Yehovah, semuanya
itu konsep saja. Makanya bisa di-reformasi. Bisa di-tata ulang. Sah
saja. Memang seperti itu caranya.
T = Namun mungkin upaya mereka ini bisa dijadikan alternatif lain untuk
orang-orang yang masih ingin beragama Islam, sehingga orang-orang tsb
ber-Islam dengan cara yg lebih santun dan damai.
J = Iyalah. Saya secara moril selalu mendukung JIL. Saya dukung niat
mereka. Terkadang saya suka kesihan juga melihat beberapa aktivis JIL
yg dicaci-maki oleh orang Islam terbelakang dan fanatik. Mungkin mereka
sudah kebal sekarang. Semua pembaharu di agama semitik selalu
dicaci-maki, anyway... Caci maki itu tradisi semit, yaitu Yahudi dan
Arab. Nasrani juga agama semitik, penganutnya suka mencaci-maki orang
yg tidak sepaham juga. Tetapi itu jaman dulu karena sekarang umumnya
Nasrani sudah jauh lebih beradab. Relatif sudah liberal. Sudah jauh
lebih ok dibandingkan Islam.
+
PERCAKAPAN 2: MELIHAT BAHTERA NUH
T = Bicara mengenai mimpi, beberapa tahun lalu saya pernah bermimpi yg
cukup mengganjal fikiran saya. Pernah saya tanyakan hal ini kepada
salah satu rekan Mas Leo sebelum saya mengenal Mas Leo di facebook ini.
Tapi saya ingin tahu pandangan Mas Leo langsung tentang mimpi saya ini,
apakah ada satu kandungan arti di dalamnya.
J = Bagaimana mimpinya?
T = Suatu hari saya berada pada sebuah padang gurun pasir yg nyaris
tanpa ada pemandangan lain yg dapat saya lihat. Saya hanya melihat
satu-satunya bahtera mirip cerita nabi Nuh yg terdampar di tengah
padang gurun itu.
J = Bahtera nabi Nuh yg terdampar di tengah padang gurun merupakan
sesuatu yg impossible, tidak mungkin. Menurut pakem aslinya, bahtera
Nuh terdampar di gunung Ararat ketika air bah menyurut. Gunung Ararat
itu letaknya di Turki sekarang. Gunungnya tinggi sekali, dan atasnya
dilapisi salju abadi. Air bah melanda seluruh bumi, begitu yg tertulis
di kitab "Bereshith" di dalam Tanakh atau kitab suci Yahudi. Bereshith
artinya "kejadian", isinya tentang penciptaan bumi oleh Yehovah Elohim
dalam waktu tujuh hari saja. Ada mitos Adam dan Hawa di Firdaus. Ada
mitos Yakub yg bergulat dengan seorang malaikat ganteng sepanjang malam
dan bisa bertahan hidup sehingga akhirnya lalu diberi nama Israel oleh
sang malaikat itu. Israel itu nabi Yakub, nenek moyang orang Yahudi.
Dari sini muncullah mitos-mitos berikutnya, turun temurun semuanya
tentang orang Yahudi dan syariat mereka, tentang bagaimana mereka
sebagai bangsa dan pribadi-pribadi berhadapan dengan Tuhan semesta alam
yg mereka namakan Yehovah Elohim...
Yehovah Elohim terlalu sakral untuk disebut, sehingga dipakailah kata
ganti. Bisa disebut Adonai, bisa El Shaddai, bisa Eloah, dll.. Tetapi
ini mitos juga karena kita saat ini bisa saja berteriak-teriak
mengucapkan kata Yehovah, dan itu tanpa ada dampak apapun. Ternyata
Yehovah cuma sepotong kata saja, cuma konsep saja. Yg jelas bagi kita,
kata Yehovah itu sakral sekali bagi agama semit pertama yg menganut
monotheisme. Yahudi itu boleh bilang monotheist pertama di satu dunia
yg berhasil melembaga dan dijalankan ribuan tahun sampai saat ini.
Agama-agama semit sebelumnya politheistik. Agama Yahudi yg diciptakan
oleh Musa merupakan reformasi dari praktek politheisme di Timur Tengah.
Musa membawa essensi ajaran Mesir Kuno ke dalam agama baru itu, dan
para pembaharu berikutnya, yg sekarang kita kenal sebagai nabi-nabi
setelah Musa, memasukkan berbagai kepercayaan tambahan yg asalnya dari
Mesopotamia kuno. Ajaran Mesir kuno plus Mesopotamia kuno semuanya
masuk ke dalam agama Yahudi itu yg direformasi terus-menerus dan baru
dibukukan secara resmi sekitar 2,000 tahun lalu.
Berbagai macam kitab yg ditulis oleh para pembaharu kepercayaan Yahudi
akhirnya dikumpulkan dan disebut sebagai Tanakh. Isinya bermacam-macam,
ada Taurat yg berisikan hukum-hukum syariat Yahudi dan dipercaya
diberikan oleh Yehovah kepada Musa di gunung Sinai. Ada kisah raja-raja
Yahudi, termasuk Daud dan Sulaiman. Ada Zabur yg merupakan kumpulan
lagu yg digubah oleh Daud. Semuanya buatan manusia belaka, yg
menuliskan jatuh bangun perjuangan batinnya di hadapan Yehovah Elohim...
Bukan berarti bahwa benar ada Yehovah Elohim yg cuma istilah saja,
tetapi benar bahwa semua manusia itu pada hakekatnya spiritual, yaitu
bisa melakukan refleksi atas pikiran di dirinya sendiri. Refleksi diri
dilakukan oleh manusia yg berpikir. Berpikir lalu bertindak. Lalu
refleksi lagi. Lalu ada insights yg dituliskan dan dianggap suci oleh
manusia lainnya. Dianggap bahwa itulah perkataan yg berasal dari
Yehovah Elohim, pedahal asalnya dari si manusia itu sendiri. Refleksi
jatuh bangun si manusia rohaniah itu.
Kisah para nabi Yahudi adalah kisah spiritual, refleksi pribadi,
pergulatan batin. Ini semua ada di dalam kitab suci Yahudi (Tanakh) yg
kemudian di copy paste oleh Islam. Al Quran itu banyak sekali mengambil
ayat dari Tanakh. Pedahal Tanakh sendiri isinya refleksi pribadi
manusia-manusia biasa. Refleksi pribadi ketika para manusia biasa
melakukan reformasi di dalam masyarakat Yahudi. Para manusia yg
melakukan reformasi agama ini sekarang dikenal sebagai nabi-nabi atau
telah di-nabikan.
Reformasi agama adalah tema dari Tanakh atau kitab suci Yahudi.
Reformasi agama adalah juga tema dari Perjanjian Baru atau kitab suci
Nasrani. Mereka yg sekarang dipuja-puji sebagai orang suci di Nasrani:
Yesus, Petrus, Paulus, Yohanes,... semuanya adalah pembaharu. Mereka
adalah orang-orang liberal.
Semua pembaharu adalah orang liberal bagi jamannya. Yesus atau Isa juga
seorang liberal bagi jamannya, sangat liberal malahan, walaupun
kemudian Nasrani yg diciptakan berdasarkan ajarannya sempat juga
terpuruk menjadi agama terbelakang ketika reformasi yg seharusnya
digulirkan terus-menerus ditahan mati-matian oleh organisasi gereja.
Organisasi keagamaan selalu bersifat konservatif atau menolak
pembaharuan yg dibawa oleh orang-orang liberal. Selalu menolak karena
ada vested interests atau kepentingan pribadi yg dipertaruhkan.
Kepentingan pribadi ini dalam bentuk kekuasaan dan uang. Jabatan dan
materi. Hal-hal keduniawian semata-mata. Organisasi keagamaan itu
selalu membela kepentingan duniawi berupa kekuasaan dan uang. Bukan
kerohanian.
Balik kepada mimpi anda melihat bahtera Nuh di tengah padang pasir:
Bahtera adalah simbol dari diri anda sendiri yg telah berhasil selamat
dari air bah yg melanda seluruh bumi. Anda selamat, tidak kurang suatu
apapun. Tetapi anda terdampar di suatu padang pasir. Tidak ada apa-apa
di sana, selain pasir belaka. Mungkin ada minyak di sana, tetapi anda
tidak bisa makan minyak. Kita bukan mesin mobil, bukan robot syariat.
Kita manusia belaka. Menurut pakem aslinya, sebagai bahtera Nuh yg
selamat dari air bah, seharusnya anda terdampar di gunung Ararat yg
bersalju itu, tetapi anda justru terdampar di tempat kebalikannya,
yaitu di padang gurun yg tandus. Artinya, anda ternyata telah tiba di
tempat yg salah. Tempat itu salah, seharusnya anda tidak berada di sana.
Mimpi adalah pesan dari alam bawah sadar. Jadi seolah-olah bawah sadar
anda pada saat itu memperlihatkan bahwa anda berada di lingkungan yg
salah, bergaul dengan orang yg salah, bekerja di tempat yg salah,
dsb... Yg muncul di mimpi itu simbol saja, dan interpretasinya harus
dihubungkan dengan situasi anda secara fisik atau mental pada saat itu.
Yg jelas, dari mimpi ini kita bisa tahu bahwa pada saat itu anda berada
di suatu keadaan yg salah. Anda seharusnya berada di tempat lain,
secara fisik atau secara emosional dan intelektual.
T = Kemudian saya masuk ke dalam bahtera itu... dan saya melihat ada
tiga pintu saat itu, tapi hanya dua pintu yg berpenghuni sepasang
manusia yg sedang mengerjakan sesuatu. Di pintu 1 terdapat sepasang
manusia yg sedang berbenah, dan di pintu 2 terdapat sepasang manusia yg
terus-menerus sujud. Tapi ketika saya melihat pintu ke 3, saya hanya
melihat ruang gelap dari kejauhan dengan tulisan di atas pintu itu
"DAPUR TANPA MAKNA".
J = Yg anda lihat adalah tiga situasi alternatif yg anda hadapi saat
itu di dalam pikiran anda. Pintu-pintu itu adalah simbol dari
alternatif yg bisa anda ambil dalam kehidupan anda sendiri. Pintu atau
alternatif 1 adalah cara hidup berbenah, yaitu menyiapkan diri untuk
abandon the ship, meninggalkan bahtera yg terdampar itu dan pergi ke
tempat lain yg lebih layak untuk ditinggali. Bisa pergi ke negara Barat
di mana HAM sangat dihormati. Bisa pergi ke Indonesia di mana tanahnya
gemah ripah loh jinawi, walaupun terkadang ada bencana alam luar biasa
yg memperlihatkan bahwa Allah tidak setuju dengan penerapan syariat
Islam. Bencana Tsunami terbesar di dunia melanda Aceh beberapa bulan
setelah syariat Islam diterapkan di sana. Dan bagi orang beragama,
seharusnya hal itu menjadi pertanda bahwa Tuhan semesta alam muak
dengan syariat Islam sehingga memuntahkannya. Terjadilah tsunami. Itu
cara berpikir orang yg beriman kepada Tuhan semesta alam. Tetapi
organisasi keagamaan tentu saja tidak mau mengakuinya karena, sekali
lagi, ada kepentingan pribadi dalam bentuk kekuasaan dan uang. Semuanya
tentang keduniawian semata dan bukan kerohanian.
Pintu kedua adalah simbol dari orang yg sujud bersembahyang tanpa
berbuat apapun. Dan tentu saja orang itu akan mati kelaparan di tengah
padang gurun. Sujud saja terus seolah-olah ada Tuhan yg akan
mengirimkan malaikat Jibril, pedahal Jibril itu cuma hasil imajinasi
manusia yg sedang stress. Tidak akan ada Jibril yg datang bahkan sampai
manusia itu mati mengering di tengah padang pasir. Walaupun mati dengan
bersujud, orang itu tidak akan memperoleh apapun. Bahkan tidak pula
pencerahan karena jelas the person itu very goblok. Harusnya ke luar
dari bahtera dan mencari penghidupan yg layak dan bukannya sujud
menyembah "Tuhan" (dalam tanda kutip).
Tuhan yg asli berada di dalam kesadaran kita sendiri. Makanya mereka yg
sudah sadar sesadar-sadarnya bisa bilang ana al haq, bisa bilang kula
gusti, bisa bilang Abba and me are one. Bahwa Tuhan dan saya itu
satu... Mereka yg bilang seperti ini adalah orang-orang liberal. Al
Hallaj, Syekh Siti Jenar, Isa Almasih,... semuanya ini orang liberal yg
akan di-dzolimi oleh para ulama yg duduk di organisasi keagamaan itu.
Di-dzolimi karena orang-orang liberal ini tahu bahwa hidup kita
ditentukan oleh kita sendiri. Bahwa Tuhan itu ada di dalam kesadaran
kita, dan bukan di tangan para ulama konservatif yg masing-masing
merasa diridhoi untuk beristri sampai dengan empat orang.
Pintu ketiga adalah sesuatu yg belum anda jalani sampai saat itu. Anda
diperlihatkan oleh alam bawah sadar anda bahwa anda takut. Anda melihat
ada tulisan "Dapur Tanpa Makna" di atas pintu nomor 3, tetapi apakah
benar seperti itu belum anda buktikan. Anda belum pernah masuk ke sana,
atau paling tidak melongok apa benar ada manusia di dalam sana. Kalau
tidak ada manusia di sana, maka tulisan "Dapur Tanpa Makna" berarti
bohong belaka. Dapur kok kosong? ... Tetapi kalau benar itu dapur yg
berisi berbagai bahan makanan untuk dimasak, maka berarti anda
menemukan harta karun. Anda bisa berpesta pora memasak makanan untuk
diri anda sendiri. Dan maknanya tentu saja harus anda sendiri yg
memberikan. Dapur tanpa makna cuma seperti itu kalau anda melihat dari
kejauhan. Setelah anda masuk dan menikmati makanan di dalamnya, anda
akan tahu sendiri bahwa tempat itulah yg paling bermakna. Anda bisa
bertahan hidup, bisa makan. Pedahal mereka yg ada di pintu 1 dan pintu
2 akan mati kelaparan. Kelaparan tanpa makanan di tengah padang pasir.
Bagi anda saat itu, dan mungkin sampai saat ini juga, pilihan-pilihan
itu selalu terbuka. Mau berbenah saja, mau sujud saja, atau mau makan
saja? Berbenah saja dan sujud saja akan membuat anda mati. Makan saja
akan membuat anda hidup. Walaupun anda takut untuk masuk ke dalam dapur
itu karena diwanti-wanti bahwa dapur itu tanpa makna, cepat atau lambat
anda akan bisa memberikan makna juga.
Makna, meanings, diberikan oleh kita sendiri. Bukan oleh ulama
konservatif yg memegang teguh ajaran masa lalu yg sudah tidak relevan
lagi. Bukan oleh orang lain yg akan memuji anda kalau anda sujud terus
menerus tanpa perduli makan. Bukan oleh orang lain yg akan memuji
ketika anda selalu sibuk berbenah. Makna itu diberikan oleh diri kita
sendiri, oleh kesadaran yg ada di dalam diri kita. Para pembaharu agama
yg sekarang disebut sebagai para nabi itu sudah mencontohkan bahwa
makna, meanings, diberikan oleh diri kita sendiri. Kita bisa saja
menggunakan kata Yehovah atau Allah, dan itu sah saja... walaupun
sebenarnya yg melakukan refleksi itu kesadaran kita sendiri saja.
Kita refleksi, kita putuskan untuk melakukan pembaharuan, reformasi.
Kita menjadi orang liberal, kita memberikan makna atas hidup kita
sendiri. Dan itulah essensi dari spiritualitas atau kerohanian. Bukan
tentang syariat atau software agama versi lama, melainkan tentang
makna-makna baru yg ditemukan terus-menerus di dalam kesadaran kita
ketika kita melakukan dialog dengan Tuhan yg adanya di dalam kesadaran
kita sendiri saja.
Watch APL.DE.AP's (of The Black Eyed Peas) latest music video TAKE ME TO THE PHILIPPINES, made in collaboration with the Philippines' Department of
Tourism.
Seorang komponis dan profesor musik dari Jerman, Dieter Mack, bilang ke saya: I don't know what music is. I can make music, I can enjoy music. I can tell the difference between good and bad music, but I don't know what music is.
And that made me think.
Kalau seorang praktisi dan akademisi di bidang musik bisa berkata seperti itu, maka saya juga bisa
bilang bahwa I don't know what consciousness is. Saya tidak tahu kesadaran itu apa. Yg saya bisa tahu bahwa
saya sadar. Sadar karena memang sadar. Aware of being aware. Dari mana datangnya kesadaran itu dan akan ke mana perginya tidak saya pikirkan. Saya tidak tahu. Saya cuma bisa tahu bahwa saya sadar. Dan itu sudah cukup bagi saya.
Ada juga yg bilang bahwa saya Krislam (Kristen-Islam), but I don't care.
Saya tidak pegang satu agamapun karena saya tahu bahwa keduanya cuma bermain dengan imajinasi belaka yg bisa kita pakai sebagai referensi. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa, masih banyak metode lainnya. Tidak pakai metode berupa agama juga tidak apa-apa. Agama cuma software saja, dan tubuh kita hardware-nya. Kesadaran kita melihat hasil kerja software itu di layar monitor. Kalau programnya ternyata berjalan jelek, maka yg jelek itu softwarenya (agamanya). Buang aja dan ganti software yg lain.
Tubuh kita (hardware) tetap, tidak error.
Terkadang kita harus update hardware juga, tambah memory, dsb. Dan itu dilakukan oleh kesadaran
kita di luar segala software berupa agama.
Agama cuma software saja, bisa dipakai dan bisa dibuang. Versi software juga macam-macam. Ada software Islam primitif, Islam progresif, Islam liberal. Kristen juga begitu, versinya bervariasi. Harganya juga beda-beda.
+
AGAMA SEBAGAI FOLKLORE ATAU CERITA RAKYAT
T = Mas Leo,
Maaf kalo ini pertanyaan yang tak bermutu. Tapi ini yang bikin ngganjel otakku sapa tahu dengan pemaparan panjenengan ganjalan di otak ini bisa hilang heheheh... Kayaknya njenengan kok lebih free delam pembeberan tentang kesadaran.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa ada pemahaman tentang yang dinamakan sedulur papat limo pancer, ada lagi keblat papat limo pancer, kalo di agama Islam ada malaikat penunggu manusia, ada lagi nafsu empat: amarah, mutmainah, syufiah yg satu lupa hehehe... Kalo menurut pandangan Mas Leo tentang hal tersebut itu gimana, apa hanya sebatas teori buatan manusia saja
atao memang ada dalam pandangan psikologi kesadaran Mas Leo, minta penjelasannya dong?
J = Sadulur papat limo pancer adalah empat elemen alam semesta: udara, air, api, dan tanah. Plus roh. Roh inilah yg saya sebut sebagai kesadaran dan melihat saja segalanya datang dan pergi. Elemen udara artinya pemikiran kita. Kita berpikir terus, tapi apakah kesadaran kita sama dengan pikiran kita? Tentu saja tidak. Ternyata kesadaran kita tetap ada walaupun kita tidak berpikir. Kita tetap sadar bahwa kita sadar.
Yg termasuk elemen udara adalah agama dan ilmu pengetahuan. Apakah kesadaran kita sama dengan agama kita? Jawabannya of course tidak. Agama ya agama, adanya di luar kesadaran kita, dan ternyata kesadaran kita independen dari agama. Kita mau pakai agama A bisa, mau pakai agama B juga bisa. Bisa Islam, bisa pula Kristen, bisa pula agama lainnya. Dan apakah kesadaran kita menjadi lain ketika kita beralih memeluk agama lain? Itu juga
tidak.
Kesadaran kita ternyata independen dari agama.
Apakah ilmu pengetahuan bisa dipisahkan dari kesadaran kita? Bisa juga. Kita sadar bahwa kita sadar, bahkan tanpa perlu membawa-bawa ilmu pengetahuan.
Elemen air adalah emosi kita, perasaan-perasaan, hubungan antar manusia. Kita bisa bertanya apakah emosi kita sama dengan kesadaran kita? Ternyata tidak sama. Emosi datang dan pergi, dan ternyata kita tetap sadar juga. Sadar bisa melihat ketika kita marah dan ketika kita sedih. Hubungan antara manusia juga begitu. Ternyata walaupun kita putus cinta, itu tidak akan membawa masalah berlarut-larut karena kesadaran kita tetap ada. Kita sadar bahwa kita sadar.
Elemen api adalah tindakan fisik. Apakah kesadaran saya sama dengan jari-jari tangan saya yg mengetik? Kalau sama, berarti saya akan mengetik terus tanpa henti. Ternyata tidak sama. Ternyata kesadaran saya tetap ada walaupun saya berhenti mengetik.
Elemen tanah
adalah tubuh fisik kita. Apakah kesadaran saya sama dengan kaki saya? Kalau kaki saya harus diamputasi, apakah kesadaran saya akan hilang? Enak aja! ... Ternyata saya tetap saja sadar, bahkan setelah kaki saya dipotong. Apakah kesadaran saya sama dengan rasa lapar saya? Itu juga tidak. Ternyata rasa lapar, kenyang, haus,... birahi, dll.. yg berasal dari metabolisma dan pergerakan hormon di tubuh kita juga bukanlah kesadaran kita. Kita sadar bahwa kita sadar di luar semuanya itu.
Kita yg sadar inilah yg disebut roh. Pancer. Kesadaran. Itu pemahaman saya tentang sadulur papat limo pancer. Penjelasan saya mungkin beda dengan mereka yg berlatar-belakang kejawen. Mereka menggunakan berbagai macam trik masa lalu seperti berbagai jenis tapa atau meditasi. Saya bisa langsung memahami essensinya tanpa perlu mempraktekkan tapa yg aneh-aneh itu.
T = Bahkan di beberapa kepercayaan Jawa kalo kita ingin sukses harus pake minta bantuan sedulur papat itu,
dan bahkan ada ritual puasa patigeni, terus ada yang puasa mutih tujuh hari, puasa nganyep, puasa ndak pake garam dan masih banyak lagi. Bagaimana menurut pandangan Mas Leo tentang hal itu semua?
J = Biasa saja.
Puasa artinya membulatkan niat pada titik kesadaran atau pancer. Mungkin manusia masa lalu tidak bisa seperti kita sekarang yg berpikir secara rasional dengan planning. Tidak tahu bagaimana bisa secara rasional mencapai apa yg dituju. Cara mereka membulatkan keinginan dirinya adalah dengan puasa. Macam-macam puasa itu menurut saya merupakan tapa atau meditasi juga. Seharusnya disebut tapa dan bukan puasa.
Tapa patigeni adalah mematikan semua perasaan di tubuh. Dan ternyata hal itu tidak bisa dilakukan. Ternyata kita masih saja bisa merasakan sensasi di tubuh fisik. Walaupun demikian, niat berpatigeni itupun sudah bisa menghantarkan kita untuk mengerti bahwa kesadaran kita ternyata tetap dan tidak tergantung dari sensasi
tubuh. Sensasi fisik datang dan pergi, sedangkan kesadaran kita tetap. Dan itu yg dikultivasi ketika melakoni patigeni.
Ada lagi tapa kumkum, yaitu berusaha merasakan bahwa ternyata kesadaran kita tetap ada, mengambang, dan tidak terpengaruh oleh dinginnnya air. Air mengalir melewati tubuh kita yg terendam, tetapi ternyata kesadaran kita tetap.
Ada yg namanya tapa surya, jadi si pelaku akan dibungkus oleh kain hitam, dan ditaruh di bawah terik matahari. Akhirnya orangnya akan terpaksa diam saja. Diam saja dan mengamati kesadarannya yg ternyata tetap dan independen dari segalanya setelah orangnya dibungkus rapat seperti mayat dan dijemur di bawah matahari terik selama berjam-jam. Ketika dia diam kepanasan mengamati matahari dengan matanya yg tertutup, dia mungkin akan mengerti juga bahwa kesadaran di dirinya itu ternyata tetap saja... bahkan tidak terpengaruh oleh panasnya matahari.
T = Di tanah Jawa ada ilmu ketuhanan yang
diturunkan tiap bulan tertentu (biasanya Suro untuk inti ketuhanan ), terus nurunin mantranya biasanya lewat jam 12 malam s/d sekitar jam tiga-an dini hari, menunggu istilah 'sa’at' katanya. Dan mantra itu bila dibaca ndak pas saatnya bisa cilaka yang membacanya, dan bahkan membaca mantranya itu meski pas 'saatnya' tapi di sembarang tempat membacanya yg dengar bisa celaka, wong telur yang diengkrami induknya bisa ndak netas lho, dan binatang yg mengandung bisa keguguran. Kalo dak liat isi mantranya sih mengarahkan kita tuk suwung lewang lewong ndak ada apa apa, yg ada ya ke sadar tok itu. Yg jadi aneh kok pake mantra terus pake ritual puasa segala ya? Kalo menurutku ritual puasa dan mantra ini hanya untuk lebih focus dalam visualisasi ke kesadaran tok itu, kalo menurut pandangan Mas Leo gimana ya?
J = Ritual mantra dan puasa itu cuma prasyarat yg dibuat-buat oleh manusianya saja. Kalau yg membuatnya merasa harus begitu cara memakainya, ya
dipakailah cara itu. Keampuhannya akan tergantung dari seberapa besar pelakunya sendiri bisa kuat menjalankan apa yg disyaratkan itu. Yg bekerja itu bukanlah segala macam prasyarat dan mantera, melainkan kekuatan pikiran si manusia. Dengan kata lain, kesadaran manusialah yg membuat energi-energi itu bergerak. Kalau kita meniatkan sesuatu, dan kita percaya bahwa kita bisa melakukannya. Dan segala pra-kondisi telah terpenuhi, maka mau tidak mau akan jalanlah apa yg kita niatkan.
Tetapi kalau pra-kondisi tidak ada, orangnya bisa juga menjadi gila kalau masih tetap mau memaksakan diri memperoleh juga apa yg diinginkannya melalui cara-cara "klenik" (dalam tanda kutip).
Saya bilang segala prasyarat dan lakon ilmu-ilmu Jawa itu bersifat klenik karena didasarkan kepada "katanya" (dalam tanda kutip juga).
Katanya harus diturunkan di bulan Suro antara jam 12 malam sampai jam 3 pagi. Katanya tidak boleh dibaca sembarangan manteranya. Katanya
harus puasa senin kemis. Katanya tidak boleh menyentuh perawan, kalo menyentuh janda boleh... Ada lagi yg katanya tidak boleh menyentuh wanita, kalo pria yg didandani sebagai wanita boleh. Ada yg bilang tidak boleh makan babi karena kalau makan babi bisa jadi babi juga, pedahal tidak bisa. Pedahal tetap manusia biasa saja.
Ilmu-ilmu yg dianeh-anehkan seperti itu mungkin berfaedah di masa lalu tetapi tidak ada gunanya lagi di jaman post modern ini. Sama saja seperti agama-agama yg mengajarkan bahwa kalau tidak sholat dan puasa maka tidak akan masuk Sorga melainkan harus siap-siap masuk Neraka. Semuanya itu takhayul belaka. Bisa bermanfaat bagi manusia masa lalu yg tidak menggunakan facebook, tetapi tentu saja akan menjadi bahan tertawaan manusia masa kini yg sudah tahu bahwa segala guru-guru klenik aliran Kejawen dan guru-guru agama aliran Islam atau Kristen cuma bekerja menggunakan kekuatan pikiran manusia saja. Yg didaya-gunakan itu pikiran
murid-murid dari para "orang sakti" (dalam tanda kutip) itu.
Of course sakti dalam tanda kutip karena mereka juga manusia biasa saja. Dan mereka bisa mempertahankan sugesti yg ditanamkan kepada murid-murid mereka selama murid-murid itu mau mempercayainya. Kalau tidak mau percaya segala macam itu, tentu saja tidak akan ada pengaruhnya bagi kita. Ulama-ulama itu tidak memiliki pengaruh atas saya karena saya tidak percaya mereka. Orang-orang klenik juga begitu... - How could they influence me? ... Bagaimana mereka bisa mempengaruhi saya kalau saya sendiri bisa berpikir? That's the keyword: berpikir.
Segala sesuatu yg aneh, baik dari agama maupun adat, cuma bisa dijalankan oleh mereka yg tidak berpikir. Kalau kita bisa berpikir dan memutuskan bahwa kita tidak mau yg model seperti itu, maka kita tidak akan terpengaruh. Kita tetap bisa meditasi tanpa perlu perduli dengan segala macam praktek pantangan, puasa, sembahyang, amalan,... dan
sebagainya, yg cuma membuat orang menjadi takut berpikir. Kita bisa berpikir. Dan kita tidak perlu takut untuk membuang yg kita tidak suka. Kita pakai yg kita suka saja. Kita bahkan bisa membuat ritual kita sendiri saja, kalau mau.
T = Ada satu lagi, banyak di daerah saya itu orang pergi ke makam para orang ampuh katanya ngalab barokah, ada ke makam Bung Karno di Blitar, ada ke petilasan muksanya Sri Aji Joyo boyo di Kediri, dan makom makom lain yang dianggap orang sebagai orang yang linuwih dan sebagainya. Saya juga pernah ikutan tapi belum bisa ketemu sama yg 'mati', tapi ada yg sebagian orang waktu ziaroh itu bisa bertemu dan dialog sama orang ampuh yang sudah mati itu, dan kadang malah bilang wah orang ampuhnya ndak ada, akhirnya ziarohnya ndak jadi deh. Tentang hal ini bagaimana pendapat Mas Leo? Apa memang bisa kita dialog dengan yang sudah tiada, ajarin dong huakakakak?
J = Bisa aja kalo mao. Bilang aja anda dapet "bisikan" (dalam
tanda kutip).
Bisikan ini sifatnya goib, jadi tidak ada yg bisa mendengar. Anda sendiri juga tidak bisa mendengarnya. Yg anda bisa rasakan cuma munculnya kelebatan pikiran di dalam kepala anda. Itu yg asli, namanya intuisi. Intuisi yg muncul bukanlah berasal dari orang yg sudah mati itu sebenarnya, melainkan dari diri anda sendiri saja. Seolah-olah anda menempatkan diri sebagai si orang yg telah mati itu.
Mereka yg dinabikan di dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam juga begitu cara kerjanya.
Jadi nabi-nabi Yahudi itu akan bilang bahwa Allah marah, atau Allah minta korban kambing, atau Allah ngamuk-ngamuk karena dibilang punya anak, pedahal belom pernah kawin. The question is, apakah benar para nabi itu mendengar Allah ngomong? Of course not, yg berpikir dan berbicara cuma manusia saja yg memposisikan dirinya seolah-olah tempat curhat. Tempat curhat bagi Allah. Pedahal yg disebut Allah itu cuma istilah yg dimunculkan oleh intuisi di
kesadaran si nabi itu sendiri saja... Not even kesadaran dari manusianya, melainkan intuisi. Intuisi itu hasil dari kesadaran, dan bukan kesadaran itu sendiri. Kesadarannya sendiri tetap. Sadar bahwa dirinya sadar.
T = Ada pula keyakinan yg berkembang orang kalo dah sakti mandraguna itu dia sebenarnya tidak mati tapi muksa musno sirno sak ragane, bisa jadi sekehendak karepe atina bisa mancolo putro biso mancolo putri untuk memberi petunjuk kawulo sing ndak genah karuan polah tingkahe neng dunyo iki... (Seperti yg terdengar santer di daerah kami: Bung Karno di Blitar, Sri Aji Joyooyo di Kediri, Mahapatih Gajahmada, dan banyak lagi).
Ternyata Jawa saja banyak orang saktinya huakakakak... tapi kenapa sekarang jadi seperti ini ya hikss hiksssss... Wah enak ya jadi manusia yg abadi mukso sejati? Apakah ini semua hanya polah tingkah hasil pola pikir dan imaji serta belief system saja ato gimana?
J = Belief system saja, namanya kepercayaan
rakyat, folklore.
Kepercayaan rakyat Jawa namanya folklore Jawa. Kepercayaan rakyat Timur Tengah, namanya folklore Timur Tengah. Agama-agama Timur Tengah itu bermula sebagai folklore, kepercayaan rakyat. Ada orang yg dinabikan, ada ucapan yg direkam, diedit, dan disebar-luaskan. Lalu dipercayai dan akhirnya dilembagakan. Kalau sudah dilembagakan artinya sudah ada organisasi terpusat dan cabang-cabangnya, lengkap dengan para imam dan syariat. Ada hukuman bagi rakyat yg tidak patuh, dan ada pula uang yg dikumpulkan bagi kepentingan organisasi dan pengurusnya. Kepercayaan rakyat Jawa masih berupa folklore, belum dilembagakan. Kepercayaan rakyat Yahudi sudah dilembagakan sejak sekitar 3,000 tahun yg lalu. Kalau sudah dilembagakan akhirnya disebut sebagai agama. Malah sudah ada turunannya juga berupa agama Kristen dan Islam.
Pedahal asalnya semuanya folklore belaka, kepercayaan rakyat Yahudi.
Bisakah Mas Leo menjelaskan lebih rinci, mengapa poligami dapat tetap
dan terus berjalan hingga kini meski kita tahu bahwa mudharatnya lebih
besar daripada manfaatnya? Para pria pelaku poligami tetap dan terus
tumbuh seperti jamur. Padahal, jelas mereka melakukan prostitusi yg
dilembagakan secara sadar dan terang-terangan. Menjijikan.
J = Poligami dapat terus berjalan sampai kini karena masih banyak
wanita yg mau menerima poligami. Kalau sudah tidak ada wanita yg mau
menerima, maka habislah poligami. Wanita mau menerima poligami biasanya
dengan alasan ekonomi, yaitu tergantung dari si pria. Wanita-wanita yg
tidak mempunyai penghasilan sendiri, atau yg merasa penghasillannya
belum cukup, sangatlah mudah untuk menerima menjadi salah satu istri.
Motivasinya adalah uang, ekonomi. Ada juga wanita yg mau menerima
poligami dengan alasan "cinta" (dalam tanda kutip).
Cinta sebenarnya berarti napsu berahi. Jadi si wanita merasa
gatel-gatel melihat burung si pria. Dan si pria pemilik burung ini mau
saja mematuk kanan kiri, apalagi tidak harus mengeluarkan biaya
sepeserpun. Yg dilakukannya hanyalah memberikan jatah sex kepada wanita
yg mau diperistrinya. Poligami jenis ini juga cukup banyak.
Alasan lainnya adalah pria mudah bosan. Setelah beberapa tahun menikah
dengan wanita yg sama, biasanya pria akan mulai melirik ke kiri kanan,
siapa tahu ada wanita yg mau menawarkan diri. Lampu hijau selalu
diberikan oleh sang wanita terlebih dahulu. Kalau wanita tidak
memberikan green light, maka pria tidak berani maju. Dan green light
dari para wanita kesepian juga tidak kurang. Di mana-mana kita bisa
menemukan wanita-wanita yg melirik pria lain. Wanita bersuami yg
melirik pria beristri, maupun wanita single melirik pria bersuami.
Lirik-lirikan is the first step. Setelah itu curhat. And after that,
apa yg terjadi terjadilah. Bisa dilanjutkan dalan institusi poligami,
bisa juga diselesaikan di kamar hotel saja. Bisa ngamar sekali dua kali
saja, bisa juga ngamar dalam jangka waktu panjang.
T = Saya melihat dan dapat merasakan wanita-wanita yg menjadi korban
kasus ini. Bisa jadi, karena mereka bodoh dan berpikiran sempit,
sehingga merasa tidak ada jalan ke luar yg lain selain menerimanya.
J = Wanita yg menerima poligami biasanya menerimanya dengan "terpaksa"
(dalam tanda kutip). Sebenarnya keterpaksaan tetapi jarang diakui
karena masyarakat kita adalah masyarakat munafik. Bilang tidak pedahal
ya...
Alasan yg umum adalah faktor ekonomi atau ketergantungan si wanita
kepada pria. Ini yg paling umum. Alasan kedua, dan sama kuatnya, adalah
rasa malu. Malu kalau menjadi janda. Jadi, daripada menjadi janda,
lebih baik menerima suaminya kawin lagi. Pedahal menjanda bukanlah
suatu aib. Janda bisa menikah lagi, bisa juga punya banyak brondong.
Saya malah kenal seorang wanita bersuami yg punya sampai dua brondong.
Dan kelihatannya oke saja karena si wanita beralasan pria suaminya
dingin sekali. Dan si wanita tidak merasa harus bercerai dengan
suaminya.
Pernikahan tetap berlangsung, wanita dan pria itu tetap suami istri,
tetapi si wanita memiliki satu atau beberapa simpanan pria lain. Ini
kasus yg normal juga, walaupun, tentu saja, lebih banyak kasus pria yg
memiliki satu atau beberapa simpanan wanita lain. Perceraian tidak
diinginkan karena pasangan suami istri merasa sudah cukup stabil.
Pernikahannya stabil dan bisa dicapai saling pengertian dengan pasangan
masing-masing. Dan mungkin cara ini lebih oke dibandingkan dengan di AS
di mana satu diantara dua pernikahan beakhir dengan perceraian.
Daripada kawin cerai lebih baik punya piaraan aja.
T = Namun sebagian dari mereka yg telah menemukan dirinya dapat dengan
tegas berkata TIDAK. Meski harus sambil berjuang keras untuk
menyembuhkan luka bathinnya. Akibat yg jelas muncul akibat praktek
poligami yg dilakukan secara paksa oleh sang suami adalah dampak
psikologis yg menyebabkan sang wanita kehilangan kepercayaan dirinya.
Dan butuh waktu yang sangaaaaaattt lamaaaaa untuk menyembuhkannya.
J = Banyak juga wanita yg tidak mau menerima poligami dan memilih untuk
bercerai. Ada juga yg tidak bercerai tapi berpisah. Ibu Fatmawati tidak
menerima poligami, tetapi tidak bercerai. Dia ke luar dari istana
sebagai protes dari praktek obral burung pelatuk yg dilakukan oleh
Presiden Sukarno. Fatmawati statusnya tetap sebagai istri resmi, tetapi
tidak lagi hidup sebagai suami istri. Ini juga kasus pengecualian,
jarang terjadi.
Sang wanita tidak perlu trauma juga, sebenarnya. Kalau pria bisa
berpoligami, maka wanita juga bisa ber "poliandri" (dalam tanda kutip).
Poliandri artinya satu wanita yg digilir oleh banyak lelaki atawa
memiliki berbagai macam koleksi burung. Saya kenal ada satu wanita di
Jakarta yg memiliki anak hasil dari hubungan gelap dengan pria
cem-cemannya. Dan suami resmi si wanita tidak tahu. Malahan suami resmi
ini sayang sekali sama anak hasil hubungan gelap istrinya yg tentu saja
tidak perlu dibeberkan kepada khalayak ramai. Saya tahu, memang, tapi
saya tidak akan melaporkan hal itu. It's none of my business.
Cuma saya curious aja waktu itu, bagaimana caranya si wanita bisa
menentukan ini anak hasil dari hubungan gelap dan bukan dari si suami.
Si wanita bilang rasanya laen. Masuknya beda, something like that which
I still don't understand karena saya bukanlah ahli berhubungan badan,
apalagi dengan wanita istri orang.
T = Poligami paksa adalah bentuk lain dari pengkhianatan. Dan dapat
membunuh wanita secara perlahan. Tentu akibat perasaan inferior yg
terus menerus terpupuk. Adik perempuan saya memilih diceraikan setelah
menerima pengakuan suaminya yg telah menikah lagi dan punya anak dari
wanita lain. Meski harus melewati proses pengadilan yg panjang karena
si suami keukeuh mempertahankannya. Bagi adik saya hidup sendiri jauh
lebih baik dibandingkan menerima kenyataan bahwa si suami jelas-jelas
pulang ke rumah after having sex with another woman yg katanya secara
sah juga merupakan istrinya.
J = Jelas jauh lebih baik karena dia sendiri tidak mau menerimanya.
Kalau tidak mau menerima di-poligami, ya bercerailah, as simple as that.
T = Secara detil adik saya mengungkapkan rasa sakitnya dengan
menggambarkan seperti kulit lepas dari dagingnya. Ia sempat kehilangan
keseimbangan, masuk rumah sakit dan dirawat, rambutnya yg hitam legam
serta merta memutih tiba tiba padahal usianya baru 34 tahun. Sedikit
cerita tentang adik saya di atas hanyalah satu dari banyak kisah
menyakitkan yg dialami wanita yg dipaksa menerima poligami.
J = Bisa dimaklumi karena adik anda ditipu mentah-mentah oleh suaminya.
Menikah lagi secara diam-diam adalah salah satu bentuk penipuan. Kalau
tidak mau terima, ya cerailah, dan tidak perlu juga merasakan trauma
berkepanjangan. Masih banyak pria lain yg mau kepada seorang janda.
Mungkin adik anda bisa menikah kembali, walaupun agak susah juga di
Indonesia mengingat usianya sudah di pertengahan 30-an tahun. Tapi,
kalau mau cuma having fun saja, kesempatannya boleh bilang tidak
terbatas.
Menurut pendapat saya, kalau adik anda memiliki penghasilan sendiri,
lebih baik tidak usah menikah lagi. Kawin saja, dan tidak perlu menikah
lagi. Banyak pria-pria burung belang di luar sana yg akan menyatroni
adik anda dengan setia. Tapi harus diberikan lampu hijau dulu, green
light. Lampu hijau datangnya selalu dari sang wanita. Setelah itu mulai
curhat-curhatan, dan berakhir dengan apa yg kita kenal sebagai apa yg
terjadi terjadilah...
It usually works like that.
+
PERCAKAPAN 2: WANITA ANTI KAMUFLASE
T = Mas Rimba,
Ini profile photo JADUL sampean ? Enak nggih dunia anak-anak, rukun tidak dipolitisir ?
J = Itu udah dipolitisir juga, disuruh pake topi kerucut dan disuruh
makan kue taart, udah gitu dipotret. Namanya sosialisasi gaya hidup
borjuis atawa kelas menengah perkotaan. That was also part of
politics...
T = Jujur pada diri sendiri. Berbesar jiwa. Berendah hati. Tenyata
tidak mudah karena tidak disadari sejak kecil kita diajari KAMUFLASE.
J = Bahkan sejak dalam kandungan telah di-telepati-kan kepada sang
jabang bayi bahwa kita harus menjadi semacam robot syariat. Semua
pengaturan yg dibuat manusia adalah syariat, walaupun tentu saja ada
excuses semacam Allah, adat, dsb... Robotisasi itu sosialisasi, yg anda
bilang sejak kecil, dan saya bilang bahkan sejak dalam kandungan. Robot
harus selalu menggunakan program. Kalau tidak pakai program akhirnya
terbongkarlah segalanya bahwa ternyata kita bukan robot melainkan
manusia. Real human beings.
Kenapa harus terus jadi robot ? Kenapa harus terus ber-kamuflase ?
Lepaskan saja semuanya, dan kita tidak akan kemana-mana, tidak akan
bablas ke neraka para robot. Bahkan ketika segala kamuflase itu kita
lepaskan, kita cuma akan menjadi diri kita sendiri saja yg asli. Real
human beings.
Kita manusia Indonesia sampai saat ini tidak real, kita ber-kamuflase,
terutama kalau berbicara tentang Tuhan. Pedahal waktu lahir kita tidak
mengenal Tuhan. Kita cuma kenal orang tua kita, sanak-saudara, dan kita
ternyata biasa-biasa saja. Tetapi mulai masuk sekolah kita
diperkenalkan oleh gaya hidup munafik, yaitu sedikit-sedikit akan
berbicara tentang Tuhan. Kita diajarkan untuk ber-kamuflase dengan
mengucapkan bismillah, alhamdulilah, insyaallah, innalilahi, minal
aidin wal faizin, dll...
Ini semuanya kamuflase. Dan termasuk di sini segala belief systems
bahwa wanita adalah makhluk lemah yg harus dilindungi. Pedahal wanita
aslinya lebih kuat dibandingkan pria. Pria itu lemah sekali, makanya
harus menciptakan belief systems yg menekan wanita. Ketika wanita
ditekan, maka otomotis spiritualitas atau kerohanian kita ditekan.
Agama-agama yg menekan wanita semuanya bukanlah agama yg kultivasi
spiritualitas melainkan kamuflase belaka. Islam, Kristen masa lalu,
Hindu Buddha, bahkan Kejawen... yg menekan wanita untuk tunduk di bawah
kaki pria adalah kamuflase.
Kamuflase adalah penipuan diri sendiri, dan terutama dipraktekkan oleh
mereka yg berlindung di balik agama dan adat. Para ulama dari semua
agama itu mempraktekkan kamuflase. Mereka menekan wanita dengan
berbagai macam alasan, pedahal yg mereka tekan adalah spiritualitas
mereka sendiri. Karena ditekan, wanita tidak bisa menjadi diri mereka,
harus selalu berpura-pura tunduk kepada pria. Pada pihak lain, pria yg
menekan juga tidak bisa menjadi diri mereka sendiri.
Ulama-ulama Islam yg mempraktekkan poligami cuma berimajinasi dengan
"ridho" (dalam tanda kutip)... Ridho dari Allah itu cuma fantasi yg
dibuat oleh kaum pria pencipta agama Islam. Penipuan diri sendiri.
Kamuflase. Dan wanita merasa tidak berdaya menghadapinya. Pedahal bisa
berdaya juga. Bisa minta cerai, bisa ke luar dari Islam. Bisa minta
asylum di kedutaan negara Barat yg menghormati HAM.
Sampai sekarang banyak wanita Indonesia yg diinjak-injak HAM-nya oleh
para pria dengan alasan Islam belum tahu bahwa kita bisa minta
perlindungan PBB dan negara maju. Caranya mudah saja, yaitu masuk ke
salah satu kedutaan besar negara Barat, dan setelah ada di dalam lalu
membacakan pernyataan tentang segala macam kebiadaban pria berdasarkan
Islam yg telah dilakukan terhadapnya. Lalu si wanita menyatakan mencari
perlindungan karena dirinya tidak aman. Istilahnya meminta asylum atawa
suaka politik.
Kalau permohonan itu dikabulkan, maka si wanita akan eng ing eng...
ber-indehoy ke negara maju secara gratis atawa cuma-cuma, dan di sana
akan dielu-elukan sebagai seorang pejuang HAM yg berani melawan
kesewenang-wenangan para pria.
Dan, ini bonusnya, you would later know that, as a matter of fact,
bahwa ternyata pria bule itu jauh lebih manusiawi dalam memperlakukan
wanita. Dibandingkan pria beraliran Wahabi, pria bule sangat manusiawi.
You shall be treated as an equal. Sederajat. Sederajat artinya bukan
budak.
Dan di negara-negara Barat yg menghormati HAM tidak perlu lagi ada
kamuflase. Kamuflase cuma perlu di negara terbelakang seperti
Indonesia. Indonesia termasuk terbelakang dalam sikap dan perilaku
karena pengaruh Islam masih cukup dirasakan. Tetapi hal ini juga
berubah terus, semakin lama semakin oke... Semakin banyak pengaruh
Islam yg dibuang, maka semakin oke-lah negara dan masyarakatnya.
Ada satu mimpi yg ingin sekali saya tanyakan artinya. Saya pernah
bertanya ke orang tapi dia ngambang menerangkannya. Saya orang yg
jarang sekali mendapatkan mimpi tapi mimpi yg satu ini sama sekali
tidak bisa saya lupakan dan saya sangat penasaran sekali akan maknanya.
Saya bermimpi ini kira-kira enam bulan sebelum ibu saya meninggal dunia
(ibu saya meninggal pada 27 April 2004), dalam mimpi saya waktu itu
adalah saya melihat ibu saya meninggal terbujur di ruang tengah
ditutupi kain panjang batik tapi mama memberikan leontin hati berwarna
merah jernih pada saya. Yg saya agak konfius adalah waktu memberikan
itu saya merasa ibu saya bahagia sekali, demikian juga saya padahal
latar belakangnya adalah kematian ibu saya. Rasa bahagia damai itu
susah untuk saya describe. Terus saya terbangun dan sampai saat ini
saya masih ingat tentang mimpi itu.
J = Tentu saja semua orang akan bahagia kalau mau meninggalkan dunia
fisik ini, kenapa harus sedih ? Kesadaran kita tidak pernah dilahirkan,
dan tidak akan pernah mati. Kesadaran kita cuma berkunjung saja ke
dunia fisik yg kita alami ketika kita melek. Tetapi kita tetap
bersambung dengan alam non fisik di mana kesadaran kita memang selalu
ada dan tetap akan ada. Yg namanya mati secara fisik adalah pemutusan
hubungan antara kesadaran kita yg abadi dan tubuh fisik. The tubuh
fisik akan menjadi dead, decomposed, busuk, dan terurai kembali menjadi
komponen-komponen aslinya, unsur-unsur alam, molekul, atom.
Tetapi kesadaran kita yg asli justru senang karena tidak harus terpaksa
berkiprah di alam fisik ini, yg mungkin merupakan salah satu dimensi
terkasar yg bisa dirasakan oleh kesadaran. Kasar artinya kita tidak
bisa tembus segala macam dalam waktu sekejap seperti bisa dengan
mudahnya kita lakukan ketika kita tidur. Ini dimensi kasar karena kita
harus selalu membawa-bawa ego kita. Ego adalah apa yg kita definisikan
sebagai "aku". Aku, tubuhku, pikiranku, perasaanku, jabatanku,
penghasilanku, tujuanku, negaraku, sukuku, agamaku,... segalanya
berkaitan dengan "aku". Dan itulah ego.
Di dalam dimensi lain, segala macam keakuan itu tidak seperti di alam
fisik. Kalau kita mau jatuh ke dalam jurang, ya jatuhlah. Ternyata
ternyata masih tetap hidup juga. Masih bisa bangun di atas ranjang dan
terbang-terbang lagi ketika kita tidur. Terbang lagi di dalam dimensi
non fisik ketika kita tidur lelap. Kalau mau membawa ego atau keakuan
juga bisa. Kita bisa menjalankan berbagai "skenario" keakuan. Kalau
saya menjadi raja diraja yg bisa memusnahkan Malaysia, bagaimana the
result, for instance ? ... Ternyata Malaysia itu diri kita juga.
Ternyata diperlihatkan di mimpi bahwa kita menusuk pantat kita sendiri.
Kirain orang Malaysia, gak taunya diri kita sendiri saja.
And the dream puzzles us.
Banyak mimpi bersifat seperti itu, seperti rehearsals. Ada
skenario-skenario yg kita uji coba sampai kita menemukan yg pas.
Makanya ketika peristiwanya benar terjadi di dimensi fisik, kita merasa
mengalami deja vu, seperti pernah mengalaminya... Dan memang pernah,
dialaminya di alam mimpi ketika kita tidur lelap dan kesadaran kita
melakukan rehearsals. Alam fisik ini cuma salah satu alternatif, tentu
saja, banyak alternatif lainnya yg ternyata tidak kita pilih, dan kita
telah lihat semuanya di alam non fisik ketika kita tidur.
Itulah sebabnya dikatakan bahwa kehidupan kita ini cuma mimpi saja.
Memang benar mimpi, tidak ada bedanya dengan mimpi-mimpi yg kita alami
setiap malam. Cuma, ada mimpi-mimpi yg tidak kita pilih menjadi
kenyataan fisik, dan mereka tetap tinggal mimpi. Dan ada mimpi yg kita
pilih menjadi realita fisik.
Kita akan tahu juga ketika kita akan selamanya meninggalkan dimensi
fisik ini. Dan itu membuat kita bahagia. FYI, dimensi non fisik tidak
memerlukan agama yg cuma membuat kita capek itu. Tidak ada Allah. Tidak
ada Sorga. Tidak ada Neraka... yg semuanya itu cuma hasil dari
pemikiran kita belaka ketika kita berpegangan kepada ego di dimensi
fisik. Kita pusing karena kita ngotot bahwa ada Allah. Pedahal
kesadaran kita yg selalu ada itu tidak pernah bertemu dengan Allah. Yg
kita temui selalu manifestasi. Baik manifestasi fisik ketika kita
terjaga maupun manifestasi non fisik ketika kita tidur.
So, ternyata tidak ada Allah. Yg ada cuma kesadaran thok.
Kesadaran kita juga mulanya tidak tahu bahwa ternyata yg ada cuma
kesadaran kita saja. Ternyata benar bahwa Tuhan itu cuma satu biji, dan
itulah kesadaran kita. Saya. Ujung dari biji yg kita sebut Tuhan
ternyata memiliki mata, dan matanya ada di saya. Tapi itu juga setelah
sang saya menjalani jatuh bangun melakukan wiridan jutaan kali sampai
kesadarannya bisa hening. Hening karena capek, karena ternyata Jibril
sudah muncul dan pergi lagi. Allah juga sudah muncul dan pergi lagi.
Setan juga muncul dan pergi lagi. Akhirnya yg tinggal hanyalah sang
kesadaran thok. Dan itulah Tuhan yg asli. Tuhan yg ada di sang saya, yg
bahkan tidak tahu dirinya sendiri itu siapa.
Ketika hal itu sampai, Al Hallaj bilang: Ana al haq.
Syekh Siti Jenar bilang: Kulo gusti.
Yesus bilang: Bapa dan aku adalah satu.
Tetapi orang-orang yg gila agama karena ingin kedudukan dan harta tidak
mau terima, dan mereka yg telah menemukan kesadaran itu dikejar-kejar
terus, sampai sekarang... Tetapi orang yg mencapai kesadaran bahwa
dirinya sadar tidak putus asa. Sadar thok. Tidak bisa diapa-apakan.
Tidak bisa diancam karena tidak takut mati. Kenapa takut mati ? Karena
tidak pernah lahir maka tidak pernah mati bukan ? ... Yg ada hanyalah
saying goodbye to the physical dimension for good. Untuk
selama-lamanya. Dan itu maknanya indah. Indah karena sudah tidak perlu
lagi beragama. Indah karena sekarang bisa jalan-jalan ke dimensi yg
lebih halus. Lebih spirtual. Lebih bermartabat dibandingkan dimensi
fisik ini.
Dan itulah sebabnya mengapa anda dan ibu anda merasa bahagia di mimpi
itu, walaupun konteksnya adalah rehearsal perpisahan ibu anda dengan
dimensi fisik ini.
T = Apa yg saya liat di mimpi semua persis sama kenyataannya pada waktu
ibu meninggal sampai kain panjang yg digunakan pun sama, yg tidak sama
adalah soal leontin hati warna merah itu. Setelah saya cari di tempat
perhiasannya juga tidak ada. Saya percaya itu adalah suatu simbol yg
bermakna.
J = Tentu saja ada maknanya, dan ada energinya juga.
Liontin hati berwarna merah artinya jantung, kehidupan, cinta kasih.
Your mother gave hers to you, it is already in you. You are wearing
leontin hati berwarna merah. Kemana-mana anda pergi, anda selalu
mengenakan leontin itu. Adanya di alam astral. Energinya adalah energi
kehidupan. Life force. Anda bisa bagikan energi itu kepada siapa saja
yg merasa putus asa karena diganggu terus oleh teriakan orang-orang yg
berjualan agama.
Mereka yg diganggu terus oleh orang yg berjualan agama telah merasa
putus asa, rasanya mau mati saja, pedahal mereka tidak bisa mati.
Pedahal kesadaran mereka hidup terus, baik di dimensi fisik ini maupun
setelah cabut. Dan mereka inilah yg bisa anda bantu.
T = Dua bulan sebelum ibu meninggal saya bergabung dengan suatu
komunitas yg kebetulan salah satu ajarannya melakukan healing melalui
enerji, nah selama dua bulan terakhir terlebih setelah ibu koma selama
satu bulan, saya secara intensif full tercurah menyalurkan energi pada
beliau. Apakah soal arti leontin itu ada hubungannya dengan kejadian
ini ?
J = Tentu saja ada hubungannya.
Apa yg anda salurkan kepada ibu anda tidak hilang percuma, melainkan
terkumpul. Ibu anda mengumpulkannya dalam suatu bentuk simbol yg anda
lihat sebagai leontin berwarna merah. Ibu anda memang harus
meninggalkan dimensi fisik, dan tidak lagi membutuhkan energi
penyembuhan. Tetapi energi penyembuhan yg anda berikan telah bisa
di-convert olehnya menjadi suatu bentuk yg akan tetap tidak berubah.
Tetap karena telah menjadi suatu simbol, simbol dari suatu sumber
energi penyembuhan which is leontin berwarna merah itu, yg anda selalu
kenakan kemana-mana.
You are a healer already. You have been wearing that red leontin. It's the symbol of your own healing power.
+
PERCAKAPAN 2: HABIS LEBARAN JADI SETAN LAGI
T = Bung Leo,
Thanks telah mendengarkan dan memberi banyak masukan ke saya dalam beberapa hari kita kenal. Senang sekali !
J = Saya juga senang sekali.
T = Buat saya notes Bung Leo mengagetkan, tapi juga mampu bkin saya
senyum-senyum ketika tanggapan-tanggapan kepada Bung Leo tidak
bersahabat.
J = Good, you've got the point.
Notes saya memang berisikan percakapan antara banyak rekan dan saya.
Kalau orangnya sudah bebas merdeka dari penjajahan Allah Ta'alla, maka
apa yg saya tuliskan tidak ada apa-apanya alias biasa-biasa saja.
Tetapi mereka yg masih menjadi budak agama akan merasa dirinya
dipanggang di api neraka, pedahal saya tidak membawa panggangan. So,
kesimpulannya, mereka terpanggang oleh belief systems mereka sendiri.
Karena belief systems mereka cuma buatan belaka, make believe, akhirnya
mereka akan merasa terpanggang ketika membaca tulisan saya yg jujur apa
adanya.
Kita bisa juga memberikan nilai: Oh, yg ini sudah oke. Yg itu masih
jadi budak agama. Yg satu lagi masih fifty-fifty. Cara melihatnya juga
mudah sekali... Dan tentu saja apa yg mereka komentari itu merupakan
masukan yg sangat berharga bagi mereka sendiri. Not even MUI mau
berbicara terus terang seperti saya. Kalau para ulama terus terang
tentu saja orang akan menemukan siapa Tuhan itu bukan ? Dan kalau Tuhan
ternyata ada di dalam kesadaran kita sendiri akibatnya lembaga-lembaga
agama akan bubar dengan sendirinya bukan ? Akan bubar karena orang
sudah terlalu pintar.
Dan hal itu sangatlah tidak diharapkan karena menyangkut periuk nasi.
Kalau sumbangan tidak masuk, siapa yg mau kasih makan para ulama ?
Bahkan Allah tidak bisa ngasih makan mereka karena Allah cuma istilah
saja. Para ulama itu tetap harus cari makan sendiri juga. Caranya yg
paling mudah adalah dengan jualan Allah, dengan bilang bahwa orang
harus beribadah dan beramal. Dengan bilang bahwa orang berdosa, dll...
Pedahal itu semuanya trik saja, dan kita yg sudah tercerahkan sudah
tahu semuanya.
Cuma orang yg masih menapaki spiritualitas kelas bawah saja yg masih
mau mendengarkan para ulama berkhotbah as well as merogoh koceknya
untuk memberi derma. Dan jenis seperti inilah yg akan memaki-maki di
notes saya. Sekarang masih mending karena mereka puasa. Nanti setelah
Lebaran mereka akan jadi Setan lagi. Karena sudah bermaaf-maafan pada
hari Lebaran, maka mereka bisa jadi Setan lagi sampai Lebaran
berikutnya.
T = Pertama membaca notes Bung Leo ga sengaja, saya menemukan begitu
saja ketika bongkar-bongkar facebook. Waktu itu dialog tentang dulunya
saya adalah Muslim. Pandangan seperti ini tidak menganggu buat saya,
karena saya pikir tiap orangg itu punya alasan, dorongan, background,
dll... dan adalah hak mereka mengeluarkan pandangan-pandangannya.
J = Iyalah, itu urusan orang.
Yg saya shared di note itu adalah kesaksian dari seorang rekan wanita,
yg pernah menjadi korban agama padang pasir dan sekarang merasa bebas
merdeka mencampakkan jilbab for good dan menjadi diri sendiri saja.
Isn't it wonderful ? ... Tetapi tidak semua orang berani seperti itu,
kebanyakan orang justru lebih berani untuk menjadi munafik, seolah-olah
berjalan di jalan yg benar, pedahal mereka tahu bahwa yg namanya "jalan
yg benar" itu juga tidak benar.
Yg benar itu kalau kita mau menjadi diri sendiri saja, apapun
konsekwensinya. Selama masih di dalam domain pribadi, maka kita berhak
melakukan apapun. Kita semuanya manusia dewasa, yg sudah tahu sendiri
apa yg baik dan tidak baik bagi kita. Tetapi justru orang yg dewasa dan
mau mengambil sikap terhadap kehidupannya yg akan dicaci-maki oleh
masyarakat sekelilingnya.
T = Saya menyukai pemikiran-pemikiran bebas, wild dan tegas seperti
itu. Berarti manusianya telah merdeka menentukan sikap. Menurut saya
inilah yg manusia !
J = Iyalah, itulah hakekat menjadi manusia dewasa. Menentukan apa yg
kita mau untuk hidup kita sendiri saja tanpa perlu merisaukan orang
lain mau bilang apa.
T = Bung Leo, thanks juga telah memberi masukan tentang elemen fire di
diri saya. Buat saya itu a suprise, karena biasanya hal begini bukan
membuat kenyataan senang bagi orang, tapi seringnya menimbulkan dengki.
Bung Leo mengingatkan tanpa embel-embel disebut baik hati, saya tau itu.
J = Yes, you are a fire woman. A physical healer, memiliki kharisma
untuk menyembuhkan orang-orang yg letoy fisik maupun jiwanya.
T = Nah, hal seperti yg Bung Leo lakukan dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan dengan 'aura' seperti itu yg membuat Bung Leo
telah berhasil untuk disebut tulus. Saya tidak memuji, karena ini fakta.
J = Tulus is sincere, apa adanya. Saya memang seperti itu orangnya,
makanya masih tetap single terus sampe sekarang, belom laku juga (tapi
apa hubungannya yah?).
T = Ada sebuah beban dalam hidup saya yg kadang saya lupakan saja. The
man I love bilang saya gak bisa mengelak sebagai jendela alam. Dia
memprediksi beberapa hal dan dia tidak sepenuhnya Kristen, dengan
beberapa prinsip dia berbau agnostic.
J = Agnostic artinya suka-suka, saya juga begitu orangnya, suka suka saya saja.
T = Apakah Bung Leo bisa mengulas apa itu jendela alam ? Dan apa memang
jumlah mereka telah ditentukan, dipilih, atau tiap manusia adalah
jendela alam ? Kalau saya simpulkan, manusia itu tidak seragam
kualitasnya.
J = Jendela alam ? This is the first time I ever heard of that term.
Kalau mau pakai istilah itu, maka seharusnya setiap manusia adalah
jendela alam. Mata kita itu jendela, dan kita melihat ke alam sekitar.
Jadilah kita jendela alam. Tapi nanti saya dibilang diskriminasi
terhadap orang yg physically handicapped, yaitu terlahir tanpa memiliki
mata fisik alias tunanetra. Untuk tuna netra, istilahnya should have
been telinga alam. Telinganya very sensitive, bisa mendengarkan suara
alam.
Whatever your boyfriend means by that term "jendela alam" is his own
understanding, dan tidak berarti bahwa segalanya harus seperti itu.
Menurut saya, boyfriend anda cenderung New Age. Orang agnostik bisa
saja cenderung ke aliran New Age, bisa juga menjadi anggota organisasi
keagamaan, bisa juga total sekuler seperti saya. Semuanya oke saja.
Dan pemikiran yg dihasilkannya juga oke saja, berlaku bagi orangnya
sendiri, walaupun ada sebagian pemikirannya yg mungkin sifatnya seperti
agama, yaitu mengandung elemen ketakutan. Contohnya adalah kepercayaan
bahwa ada orang tertentu yg dipilih, ada takdir, ada pembuangan, ada
penderitaan, ada ini dan ada itu yg katanya, konon, harus dilakoni.
Pedahal tidak ada itu semua, dan segalanya cuma buat-buatan pikirannya
saja. Kalau mau percaya is ok. Mau tidak percaya juga ok. Belief
systems itu kurang lebih seperti kepercayaan agama, jadi ada sesuatu yg
dipaksakan. Kalau mau terima, ya terimalah. Kalau tidak mau, ya
buanglah.
T = Mungkinkah orang biasa ke Bermuda ? Yg saya lihat di sana real apa
halusinasi atau angan-angan doang ? Saya telah masuk ke pintu pertama
dari empat pintu berbentuk altar-altar luas, masing-masingnya dengan
pengawal yg banyak hilir mudik. Saya pernah ajak boy friend saya ke
sana, tapi 1/3 perjalanan dia balik lagi karena dia merinding, pedahal
saya riang gembira ke sana.
Katanya gelap sekali. Memang, tapi setelah itu kata ketemu bangunan
parabola yg terang, yg batasnya terbuat dari arus panas dan dingin
sehingga terjadi semacam filter tipis pembeda tempat itu dengan
sekelilingngnya. Apa pendapat Bung Leo ?
J = Biasa-biasa saja.
Anda cuma masuk ke dalam pikiran anda saja karena memang berbakat untuk
itu. Yg anda lihat adalah simbol-simbol belaka. Simbol dari
energi-energi yg bisa anda gunakan untuk membantu orang lain. Kalau
mau, ambillah energi yg ada di sana, caranya terserah, dan salurkan
kepada orang yg membutuhkan di dimensi ruang dan waktu ini. Apa yg anda
lihat adanya di dimensi non ruang dan waktu, dan anda masuk ke sana
melalui pikiran anda. Kalau anda cuma mau jalan-jalan saja, maka arti
konkritnya kecil sekali. Tetapi kalau anda bisa mengakses dan
menggunakan energi yg diambil dari sana untuk membantu orang-orang
sakit di dimensi ini, maka anda akan semakin ok. Saya melihat peran
anda seperti itu, dan bukan seperti dukun-dukun yg aneh dan bikin repot
banyak orang itu.
T = Saya sekarang berhati-hati ke tempat itu, karena pernah ada jin
menggiring saya ke luar dari tempat itu dengan paksa, katanya saya
sangat sok tau dan bertindak bodoh. Apa pendapat Bung Leo, segitiga
Berrmuda yg di laut dan di darat ? Saya menemukan segitiga di darat yg
ukuran luasnya sedikit lebih kecil dari yg di laut. Sebenarnya apa dua
tempat itu dan apa kekonyolan ?
J = Tidak konyol kalau anda kebetulan bisa datang ke sana.
Coba saja lagi perlahan-lahan, dan "negosiasi" saja dengan jin itu.
Bilang bahwa anda memiliki missi untuk mengambil energi dari sana yg
bisa digunakan untuk membantu penyembuhan manusia di dimensi fisik yg
kita tempati. Kalau ternyata ada energi yg bisa diambil, teruskanlah
usaha anda. Tetapi, kalau ternyata tidak ada apapun yg bisa anda ambil
dari sana yg bisa berguna bagi manusia lainnya, maka mungkin sebaiknya
anda jalan-jalan ke tempat lain saja.
There are innumerable places in the universe. Our own mind is the universe.
Apakah bila ingin menjadi orang spiritual saya mesti meninggalkan agama yang sekarang saya anut ?
J = It's up to you, tergantung dari anda sendiri.
Apakah yg anda maksudkan sebagai orang spiritual ? Apakah orang
spiritual menurut anda adalah orang yg memiliki ilmu sakti untuk
berhubungan langsung dengan Tuhan ? Kalau itu definisinya, maka kita
semua adalah orang spiritual. Tuhan adalah kesadaran yg ada di diri
semua manusia, baiik menggunakan istilah Tuhan ataupun tidak. Tuhan
bahkan ada di orang yg tidak beragama dan mengaku sebagai komunis
sejati. Tuhan bahkan ada di orang yg menjadi atheis fanatik. Tuhan
bahkan ada di orang yg dilecehkan dengan sebutan kafir, musyrik dan
syirik oleh orang Islam fanatik.
Tuhan ada di dalam kesadaran semua manusia. Yg bisa sadar bahwa dirinya
sadar adalah Tuhan yg berdiam di diri manusia. Di luar itu semuanya
adalah Tuhan buatan. Tuhan buatan memberikan berbagai syariat agama:
syariat Islam, syariat Katolik, syariat Hindu, syariat Buddha, dll...
ini semuanya berasal dari Tuhan buatan.
Tuhan buatan adalah pemikiran manusia. Pemikiran dan bukan kesadaran.
Kesadaran yg saya sebut Tuhan di diri manusia adalah yg sadar thok.
Sadar bahwa dirinya sadar, tanpa pernah tahu dirinya itu siapa, asalnya
dari mana, dan akan ke mana. Dia cuma tahu bahwa dia sadar. Full stop.
Titik.
T = Tidak bisakah menjadi orang spiritual di satu sisi saya tetap jadi
penganut agama ? Saya ingin sekali mendapatkan pencerahan dari anda.
Mohon berkenan menjawab kerisauan yang ada dalam batin saya. For your
information, saya adalah penganut Katolik selama kurang lebih 22 tahun.
J = Bisa saja anda mengaku sebagai seorang spiritual, yaitu orang yg
melakukan kultivasi kesadaran di dalam dirinya sendiri, belajar
memahami apa itu kesadaran, consciousness, dan bagaimana hubungannya
dengan segala macam hal yg dipaksakan oleh lingkungannya. Kalau anda
kultivasi spiritualitas dengan jujur, maka cepat atau lambat anda akan
menyadari bahwa agama lebih banyak memiliki aspek keduniawian daripada
kerohanian. Ada simbol-simbol yg digunakan dalam agama, tetapi
kebanyakan penganut agama tidak tahu apa makna dari simbol-simbol itu.
Simbol dianggap sebagai hal yg hakiki, pedahal cuma simbol saja. Makna
dari simbol ditemukan di dalam kesadaran kita sendiri. Meanings, makna,
arti. Dan ketika kita bisa menangkap artinya, maka simbol-simbol bisa
saja dilepaskan dan tidak dipegang lagi. Tetapi orang beragama justru
dipaksa dengan kasar maupun halus untuk selalu berpegang kepada
simbol-simbol itu. Akhirnya yg terjadi adalah pemutar-balikkan. Kepala
jadi kaki, dan kaki jadi kepala.
Agama Katolik Roma sudah eksis selama 2,000 tahun, menjalani jatuh
bangun habis-habisan. Perang salib, perang dengan Protestan, perang
dengan Modernisme, perang dengan Komunisme, perang dengan Agnostisme,
perang dengan Atheisme,... tetapi gereja tetap bisa bertahan. Bertahan
karena ada dogma-dogma dan tradisi. Dan ada pembaharu-pembaharu di
dalam gereja Katolik yg bisa melakukan modernisasi dari dalam sehingga
gereja bisa bertahan sampai sekarang.
T = Kiranya saya cepat memperoleh apa yang anda istilahkan dengan kesadaran.
J = Apa yg saya maksud dengan kesadaran adalah kesadaran thok. Sadar
bahwa anda sadar. Di luar itu ada yg namanya intuisi atau pengertian yg
muncul begitu saja di dalam kesadaran anda. Tetapi
pengertian-pengertian itu bukan merupakan bagian dari kesadaran,
melainkan bonus. Intuition is bonus. Tambahan belaka.
Kalau anda mengamati gereja Katolik, contohnya, anda akan bisa
memperoleh intuisi langsung. Anda akan tahu bahwa Yesus yg dikhotbahkan
itu hidup di dalam kesadaran anda. Yesus itu kesadaran tinggi di diri
anda, your own higher self. Anda bahkan bisa bilang bahwa kesadaran
anda adalah Yesus. Namanya kesadaran Kristus. Santo Paulus bilang:
Semoga kesadaran yg ada di diri Kristus hidup di dalam kesadaran kamu.
Artinya, semoga kita semua bisa tersadarkan bahwa kesadaran kita itu
adalah kesadaran Kristus.
Kristus itu selalu ada. Awal dan akhir. Tidak diciptakan dan tidak bisa
mati. Kristus adalah Allah. Karena Kristus seperti itu, maka kita juga
seperti itu. Kitalah Kristus. Kitalah Allah... At least gereja Katolik
secara implisit mengajarkan bahwa seluruh umat gereja adalah Kristus,
dan Kristus itu cuma ada satu. Kristus = Allah. Allah juga cuma ada
satu. Kalau ditarik kesimpulannya, maka kita semua adalah Allah.
Tetapi sayangnya, gereja Katolik menyisakan sedikit ruang bagi dirinya
untuk menarik "upeti" dari umat, yaitu berupa sakramen-sakramen.
Sakramen perjamuan kudus, contohnya. Melalui sakramen perjamuan kudus,
manusia diingatkan bahwa kita semua merupakan bagian dari Kristus.
Kristus hidup di dalam kesadaran kita. Dan itu benar. Tetapi gereja
menempatkan dirinya sebagai makelar bagi ritual itu. Pedahal tanpa
dimakelari oleh gerjea, kita memang sudah memiliki kesadaran Kristus.
Dari lahir sudah seperti itu.
Lalu ada sakramen pengakuan dosa, harus mengaku dosa kepada imam yg
lalu memberikan absolusi. Ini terlalu berlebihan, walaupun dampak
psikologisnya cukup baik juga bagi manusia masa lalu yg membutuhkan
afirmasi bahwa "dosa" (dalam tanda kutip) telah dihapuskan. Pedahal
kalau kita sadar bahwa apa yg kita lakukan tidak benar, dan kita mau
berubah, segala perasaan bersalah itu akan hilang dengan sendirinya.
Apa yg sudah terjadi, terjadilah. Tidak bisa kembali lagi. Dan kita
cuma bisa memaafkan diri kita sendiri saja.
Ada lagi sakramen perkawinan di mana dikatakan bahwa apa yg sudah
disatukan oleh Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Jadi, apabila
anda menikah di gereja Katolik Roma, maka sampai kapanpun anda tidak
bisa bercerai. Tidak bisa bercerai di mata gereja (baca Tuhan),...
kecuali Vatican memberikan dispensasi. Jadi, kalau ada dispensasi, maka
perkawinan anda akan dianggap tidak pernah ada oleh gereja yg
sebelumnya pernah menikahkan anda. Tetapi prosesnya rumit, bisa tahunan
dan, setahu saya, telah membuat entah berapa banyak manusia menderita.
Di negara-negara maju, perkawinan oleh gereja tidak sama oleh
perkawinan di catatan sipil. Jadi, mereka yg dinikahkan oleh gereja
harus dinikahkan lagi oleh pencatatan sipil baru diakui sebagai legal.
Tetapi di Indonesia yg terjadi adalah pelecehan HAM atas nama agama,
dan gereja Katolik ikut serta berkomplot. Anda bisa menikah secara
Katolik di Indonesia, dan dicatat juga oleh catatan sipil. Tetapi kalau
anda mau bercerai, maka gereja juga harus dimintakan persetujuannya.
Ini pelecehan HAM. Dan banyak orang yg menikah secara Katolik akhirnya
menjadi korban dari birokrasi itu. Harus menunggu bertahun-tahun. Kalau
gereja tidak mengijinkan perceraian, maka anda tidak bisa menikah
kembali. Tidak akan bisa menikah kembali kecuali anda menyatakan diri
ke luar dari gereja Katolik. Kurang lebih seperti itu situasinya,
sangat kabur memang karena orang malu untuk membicarakannya.
Agama-agama di Indonesia semuanya punya andil dalam mengekalkan rejim
Suharto yg melahirkan UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 di mana dikatakan
bahwa hanya yg seagama bisa dinikahkan secara sah dan diakui oleh
negara. Kalau tidak seagama maka tidak bisa menikah. Pedahal menurut
Konvensi HAM PBB yg juga telah diratifikasi oleh Indonesia, setiap
manusia berhak menikah tanpa diskriminasi berdasarkana SARA. Di
Indonesia, mereka yg mau menikah masih di-diskriminasi berdasarkan
agamanya.
Tentu saja hal ini bukanlah spiritualitas melainkan politik.
Agama-agama memperoleh fasilitas dari rejim Suharto. Fasilitas untuk
semakin mengekalkan cengkeraman mereka terhadap umat. Dan umat beragama
adalah rakyat yg juga dicengkeram oleh pemerintah ORBA. Dengan kata
lain, agama-agama dan pemerintah bejat memang selalu bekerjasama.
Kerjasama yg saling menguntungkan. Simbiosis mutualisma. Seperti di
Eropah pada masa lalu, gereja Katolik Roma juga bisa bekerja-sama
dengan rejim Suharto. Yg jadi korban adalah rakyat, umat, anda dan saya.
To be fair, di luar segala kebejatan dan kediktatoran gereja Katolik,
masih ada kelebihannya. Dibandingkan dengan agama-agama lain di
Indonesia, Katolik memiliki banyak sisi positif, terutama dalam hal
pengabdian masyarakat. Rumah sakit dan sekolah Katolik jumlahnya banyak
sekali, dan sudah ada di Indonesia sejak jaman Belanda. Intelektual
Katolik juga tidak terhitung. Soegijapranata yg menjadi seorang
pahlawan nasional itu seorang uskup Katolik. Beliau dekat sekali secara
pribadi dengan Presiden Sukarno dan Ibu Fatmawati. Orang Katolik sudah
membangun Indonesia bahkan jauh sebelum kemerdekaan.
Mayoritas penganut Katolik Indonesia ada di Jawa, berasal dari etnik
Jawa. Dan ini memberikan kestabilan yg luar biasa bagi Indonesia. Tanpa
ada penyeimbang berupa sumbangan pemikiran dan karya dari dunia Katolik
(dan Protestan juga), Indonesia akan sangat lebih miskin daripada
sekarang. Tetapi orang Katolik tidak semuanya agamis. Mungkin hampir
seluruhnya dari intelektual Katolik itu orang agnostik. Saya tahu
sendiri. Jadi, mereka bisa saja menghadiri misa kudus, bisa saja aktif
dalam kegiatan sosial, tetapi secara keimanan mereka mengerti bahwa
segalanya itu simbol belaka. Kristus itu kesadaran kita. Mau diputar
dengan ritual apapun, kesadaran kita tetaplah Kristus. Dan itu abadi.
Saya sendiri bersekolah di sekolah Katolik sampai lulus SMA. Saya bisa
enjoy segalanya kecuali satu, yaitu ritual mencium kaki salib Yesus
pada hari Jumat Agung. It's the most disgusting thing to me. Umat akan
maju satu-persatu ke depan, dan mencium kaki salib Yesus. Tetapi ketika
giliran saya sampai, saya akan pura-pura ke belakang. Ngapain itu kaki
patung diciumin ?
Jesus lives in our kesadaran, dan kita tidak perlu cium-cium kaki
patungnya. Biarpun dibilang bahwa ritual itu sudah ada lebih dari 1,000
tahun, saya tidak mau menjalaninya. I know Jesus lives in me, and I
don't need to kiss his feet or his ass...
+
PERCAKAPAN 2: GOD CAN'T DO IT FOR YOU
T = Halo Mas Leo,
Ada sedikit pertanyaan yang sering mengganggu pikiran saya, mungkin Mas
Leo bisa memberikan sedikit pencerahan: Apa yang kita cari di dunia ini
?
J = Saya tidak tahu saya mencari apa di dunia ini.
Karena saya sendiri tidak tahu saya mencari apa, bagaimana mungkin saya
berbicara bagi kita ? Bagi orang-orang lainnya ? Yg saya tahu, waktu
masih kecil tiba-tiba saya sadar bahwa saya sadar. Saya tahu bahwa saya
dipanggil Leo, dan saya melihat ke sekeliling saya wajah-wajah yg harus
dipanggil Mama dan Papa. Terus saya masuk SD, dan diajari bahwa kita
harus menurut sama guru dan orang tua. Lalu saya ikut upacara agama,
dan dikasih tahu bahwa saya harus menyembah Tuhan. Setelah saya puber,
saya jatuh cintrong sama teman satu kelas. Terus saya cium-cium dia dan
saya merasa berdosa. Dia juga suka kayaknya, tapi menurut agama itu
salah. Dan akhirnya kami berpisah tanpa pernah bisa meng-consume
segala-galanya.
Jaman sekarang lebih enak karena ada facebook, kita bisa baca bahwa
segalanya halal. Di jaman saya SMA semuanya masih haram jadah, kondom
jarang di jual. Tetapi di masa sekarang many things have become halal
dan tidak perlu menjadi obsessi lagi. Cinta is obsessi. Obsessi semacam
yg ada di lagu Arjuna Mencari Cinta sampai saya sadar sendiri bahwa
saya bukan Arjuna. Bukan Bima. Bukan wayang, in short... Ternyata saya
adalah saya, dan yg saya cari selalu berubah tergantung apa yg saya
butuhkan. Kalau saya butuh, maka saya cari. Kalau saya tidak butuh,
saya tidak cari.
T = Setelah kita mendapatkan apa yang kita cari, mau dibuat apa ?
J = Terserah kita dong.
Kita sudah dapatkan cinta itu, for instance, lalu kita pake siang malem
sampe kita bosen. Udah gitu kita bisa say goodbye, pisah secara
baik-baik. Udah gitu kita nyari yg lain lagi sampe emosi ingin diterima
oleh orang lain, baik sejenis maupun berlawanan jenis, akhirnya
menghilang dengan sendirinya dari diri kita. Tidak ada lagi keinginan
untuk mencari karena sudah pernah didapatkan, dinikmati, bosen, dan gak
kepengen lagi. Setahu saya, apa yg telah kita dapatkan dengan full
tidak akan mengakibatkan kita terobsessi.
Kalau sudah mendapatkan Tuhan, maka kita tidak akan terobsessi untuk ke
tanah suci lagi. Tanah yg kita pijak sudah suci, suci karena kita
bilang itu suci. Karena kita sudah full menginjak tanah suci di
mana-mana, ngapain pergi ke tanah suci yg disucikan oleh orang lain, ya
gak ?
Banyak hal yg tadinya kita inginkan akhirnya tidak lagi kita inginkan
ketika kita sadar bahwa kita cuma kena sugesti iklan saja. Sugesti
iklan MLM. Sugesti iklan agama. Sugesti bujuk rayu ulama untuk pakai
jilbab. Kena diiming-imingi oleh Sorga dan ditakut-takuti oleh Neraka.
Kita tidak inginkan lagi semuanya karena kita tahu kita pernah berada
di sana. I've been there. Saya sudah pernah masuk ke dalam jebakan
agama, baik yg fanatik maupun kurang fanatik, dan saya tahu rasanya
bagaimana berbangga diri menjadi penganut agama yg terakhir dan
sempurna. Setelah itu saya rasakan akhirnya saya bosan karena saya
mengerti bahwa saya cuma menipu diri saya sendiri saja. Akhirnya saya
buang saja semuanya.
T = Apa tugas kita sebetulnya ?
J = Tugas saya adalah melaksanakan apa yg saya anggap sebagai tugas saya.
Saya tahu ada hal-hal yg harus saya bereskan di dunia ini sebelum saya
moksa masuk Nirvana. Orang lain tidak bisa melakukannya, dan mau tidak
mau saya harus turun tangan dan kaki juga. Maka turunlah saya. I do it
myself. Itu tugas saya. Tugas anda tentulah apa yg anda putuskan
merupakan tugas anda, dan saya tidak bisa berbicara mewakili anda. You
have to decide what your duties are. You have to decide about it
yourself. Not even God can do it for you...
Saya mau tanya tentang mimpi saya nih semoga ngga bosan ya soalnya nanya mulu :)
Dulu sewaktu saya masih duduk di sekolah dasar, saya pernah bermimpi dan hingga saat ini masih sering keinget-inget dan curious banget artinya apa.
Begini mas, ceritanya saya ada di dalam sebuah mobil entah merk apa dengan atap terbuka dan sedang dalam perjalanan ga tau tujuannya ke mana dan sedang berada di mana. Kemudian tiba-tiba sampai ke suatu daerah.
Saya melihat langit saat itu seperti terbagi dua, yang satu sisi berwarna hitam dan yg satu berwarna putih. Tiba-tiba dalam hati saya bicara: Oh, ini daerah Semarang. Terus kendaraan saya berjalan di tengah-tengah garis pertemuan hitam dan putih tersebut.
Kira-kira artinya menurut Mas Leo apa ya ? Padahal saya ga pernah ke Semarang dan ga tau everything
about Semarang. Kok tiba-tiba di mimpi saya bilang gitu, apalagi saat itu saya masih SD ?
J = Anda merasa melihat langit terbelah di Semarang ketika anda masih SD.
Satu sisi berwarna hitam, dan satu lagi berwarna putih. Hitam dan putih adalah simbol kontras, perbedaan, pemisahan. Hitam adalah simbol dari spiritualitas yg asli karena tidak berwarna. Hitam itu bukan warna melainkan kekosongan, keabadian, baka, dan itulah spiritualitas yg asli. Putih adalah simbol dari spiritualitas yg palsu karena putih terdiri dari tiga warna dasar: merah, kuning dan biru.
Tiga warna dasar ini diputar dengan cepat sekali seperti roda mobil, dan walhasil kita melihatnya putih. Pedahal tidak bersih seperti putih, melainkan coreng-moreng dengan warna-warni merah, kuning dan biru. Hitam adalah spiritualitas asli dan putih adalah spiritualitas palsu.
Bisa kita lihat di semua bagian dunia bahwa mereka yg mempraktekkan spiritualitas palsu sangat
gemar menggunakan warna putih. Mereka pikir mereka suci, putih bersih, pedahal coreng moreng dengan berbagai warna yg dikaburkan dengan berbagai uraian keagamaan sehingga terlihat seolah-olah putih bersih. Pedahal berwarna-warni dengan merah, kuning dan biru,... keduniawian semata.
Keduniawian adalah yg dikandung oleh warna putih. Dan keabadian adalah yg dikandung oleh warna hitam. Hitam itu menyerap segalanya, semua warna itu akan habis oleh hitam. Masuk ke dalam lubang yg very great, tanpa dasar. Tanpa awal dan akhir, tanpa batas. Itulah makna hitam, simbol dari spiritualitas yg asli.
Karena secara intuitif kita mengerti simbolisme dari hitam dan putih, makanya orang-orang yg berpegang kepada agama-agama ciptaan manusia paling takut dengan warna hitam. Hitam diasosiasikan dengan Setan, dan putih diasosiasikan dengan Allah. Pedahal yg terbatas dan fana itu adalah yg putih, Allah. Dan yg baka atau tak terbatas itu adalah yg hitam,
Setan.
Anda bisa mendefinisikan Allah, tapi anda tidak bisa mendefinisikan Setan. Setan itu adalah Tuhan yg tak terbatas, dan Allah adalah Tuhan yg terbatas. Terbatas karena cuma konsep yg anda buat dengan pemikiran anda yg terbatas. Setan itu, pada pihak lain, tidak pernah anda definisikan. Adanya beyond your mind, cuma bisa dirasakan di kesadaran anda saja. Setan di dalam kesadaran andalah yg melahirkan berbagai konsep Tuhan, termasuk Asmaul Husna yg cuma memuat 99 asma Allah.
Pedahal asma Setan ada 99 juta kali 99 juta... dan kali 99 juta lagi. Tak terbatas. And that's the real God. Allah yg asli. Tapi Allah yg asli itu selalu berusaha untuk di-repressed, ditekan habis, karena kita takut untuk menghadapinya. Kita takut untuk menghadapi ther real God yg hidup di dalam kesadaran kita sendiri. Kita cuma berani menghadapi Allah yg sudah menjadi konsep mati hasil olah pikir kita belaka.
Semarang adalah simbol dari masuknya kesadaran
lebih tinggi dari peradaban manusia di belahan bumi lainnya. Kita di Indonesia semuanya merupakan keturunan manusia dari berbagai belahan bumi, tetapi kita tetap mengakui bahwa ada penduduk asli Indonesia yg bisa juga kita sebut sebagai nenek moyang kita. Nenek moyang kita sekarang telah menjadi fossil, banyak ditemukan di Trinil, Jawa Timur.
Sang nenek moyang jelas masih berbentuk manusia setengah kera, dan ditemukan oleh Eugene Dubois di tahun 1893. Sekarang terkenal sebagai the Java Man. Manusia Jawa yg masih dalam tahap evolusi menjadi manusia sesungguhnya.
Setelah Java Man hidup dan mati, datanglah manusia-manusia yg lebih maju dari Cina Selatan, dari India, dari Eropa, dari Arabia... semuanya bercampur baur dengan nenek moyang kita yg aslinya berbentuk setengah kera. Karena semuanya dicampur akhirnya ke-kera-an kita mengecil, dan ke-manusia-an kita membesar. Kita menjadi semakin manusiawi, semakin bisa berpikir untuk melemparkan
segala macam doktrin terakhir dan sempurna itu ke keranjang sampah karena segala yg datang lebih baru so pasti lebih terakhir dan sempurna.
Dan yg lebih terakhir dan sempurna itu masuk ke Indonesia lewat Semarang.
Semarang artinya Semar orang. Semar yg telah menjadi orang. Semar adalah simbol dari mata ketiga di diri kita. Mata ketiga itu mata batin, kesadaran, consciousness. Tuhan yg asli yg hidup di dalam kesadaran kita. Orang Semarang belum tentu Semar yg telah menjadi orang. Tetapi Semar yg telah menjadi orang bisa berasal dari Semarang seperti terlihat dari kesaksian di bawah ini.
+
Ditulis oleh seorang wanita muda dari Semarang:
"About the bunyi lonceng, well aku dah jadi puteri papiku dari tahun 2006, dan aku mengikuti jalan yang dibawa oleh beliau, karena aku secara KTP negara adalah Islam, as ini juga agama warisan dari ortu, so aku ikut ajah, lebih tepatnya ikut-ikutan, glundhung dot com… Bisa enjoy ya
syukur, ga yaaa lumayan benjoet pas kena batu. :D
Panggilan untuk menjadi agnostic Kristen sudah lumayan lama, sekitar satu tahun yang lalu, tapi baru bisa benar-benar terealisasi Ramadhan ini.
Tahu tidak bahwa kitab-kitab yang turun ke setiap Rasul (tidak hanya Muhammad) itu turun juga di bulan Ramadhan ? So, fenomena bulan suci itu tidak hanya untuk Muhammad bin Abdullah saja, tapi juga rasul-rasul pendahulunya.
So, dengan rujukan demikian mengikuti desakan dari dalam yang bersifat urgent, maka setelah nangis-nangis, flashback, etc... talking ini itu sama udara dan memutuskan aku harus berubah. Kalu aku terima segala sesuatunya yang datang padaku melaui mimpi, vision dll...
Aku terima dan aku gak lagi berlindung di balik kata-kata indah dan membuatku merasa di dalam comfort zone yang semu. Aku ki sopo ? Koq aku diharapkan ini itu, ah ga mungkin, aku butuh penegasan lagi... dan akhirnya aku berangkat tidur, sebelumnya aku
denger suara hujan gerimis.
Paginya, sepertinya aku masih harus bangun pagi seperti saudara-saudaraku Muslim yang masih saur. Well, kalu kemarin, saat belum declared sebagai seorang agnostic, aku langsung cari makanan, setelah declared meninggalkan syariat Islam, aku lebih mengutamakan meditation. Transformasinya aneh ? Tapi kayak ada alur kemantapan dalam diri, so aku ikutin ajah.
Aku ingin mengconfirm declarationku lewat meditasi dan memulainya dengan penyapaan yang berbeda (dengan bahasa Alkitab), well saat itulah aku dengar suara lonceng gereja yang riuh: Teng... kloneng-kloneng, teng... bersaut-sautan sampe gendhang telinga ini mau pecah dan akhirnya bunyi lonceng ntu memelan dengan sendirinya.
Tak ada yang istemewa dari cerita itu bukan ? ... Tapi dari situlah, kiblatku telah berubah, posisiku bergeser, agak ke kiri (dulunya tengah) dan sang Rasul yang selalu mendatangiku itu posisinya ada di depanku
sekarang..
Intisarinya, meby banyak orang yang mengalami kebingungan seperti diriku, dan aku ingin mengatakan: Di saat anda kebingungan tentang apa yang ingin anda percayai atau yakini maka tengoklah ke dalam hati anda. Setiap dari kita tak pernah lepas dari putaran reinkarnasi dan inkarnasi, jika anda telah mendatangi Guru Mursyid dan mengalami pencerahan, maka itu adalah suatu awal perjalanan bagi anda untuk menjadi diri anda sendiri.
Saya orang yang tak percaya diri, tapi saya harus memberanikan diri saat keberanian itu memang dibutuhkan. Memang, ada saatnya atau mungkin saja anda akan terjebak dalam perasaaan anda sendiri, bahwa guru anda telah membentangkan jalan kebenaran untuk anda – dan itu adalah jalan yang paling selamat, tapi seharusnya jalan yang anda tapaki adalah jalan yang sesuai untuk anda, sesuai dengan irama bathin anda, sesuai dengan segala yang membentuk anda."
+
J = Indah sekali kesaksian itu bukan ?
Kalau kita mengeluarkan ucapan atau tulisan yg asli berasal dari olah batin kesadaran kita sendiri, maka segalanya akan terlihat indah. Tidak dibuat-buat. Tanpa pretensi apapun. Kalau panggilan dari kesadaran di dalam dirinya ternyata untuk meninggalkan syariat Islam dan menjadi seorang agnostic, dan ketika hal itu diikutinya, maka yg akan muncul adalah perasaan bebas lepas. Perasaan bahwa kita telah jujur terhadap diri sendiri, berhadapan langsung dengan "Rasul". Rasul itu simbol dari kesadaran tinggi yg ada di diri kita, our own higher self.
Kita adalah rasul Allah, dan di hadapan kita cuma ada diri kita sendiri, sang rasul itu. Di atas kita juga cuma ada sang rasul. Di sebelah kiri dan kanan kita juga cuma ada sang rasul. Di belakang kita juga cuma ada sang rasul. Dan suatu saat,... kita akan sadar bahwa sang rasul itu ternyata kita sendiri. Kitalah rasulullah, Rasul Allah.
Very simple bukan ? Dan inilah spiritualitas yg asli.
Tanpa memikirkan tentang hidup dan mati, tanpa memikirkan tentang amal ibadah, tanpa meribetkan diri dengan puasa, zakat dan pahala. Untuk apa semuanya kalau kita sudah bisa menemukan yg asli itu, yg tidak pernah diciptakan ? Yg memang ada karena ada ? Dan, sekali lagi, ini datang dari Semarang.
Semarang, Semar di diri orang. Langit terbelah dua, di satu sisi hitam, dan sisi lainnya putih. Dan anda berjalan persis di tengah kedua sisi langit yg total hitam dan total putih itu. Anda bukanlah langit. Anda adalah diri anda, tetapi anda bisa lihat bahwa di sebelah anda itu warnanya putih, dan di sebelah anda yg satu lagi itu hitam. Dan anda tahu bahwa anda bukanlah keduanya. Anda berjalan saja terus, di antara hitam dan putih.
That's the spiritual path. Jalan spiritual. Your own spiritual path.
Saya orang Bali yg tinggal di lingkungan adat yg kuat. Sudah sekitar
lima tahun saya tidak sembahyang di pura ato "mrajan" karena bagi saya
kebanyakan ritual-ritual Hindu Bali justru membodohi dan menyusahkan
umatnya. Tapi saya tetap berpegang kepada beberapa ajaran Hindu yg
masih relevan menurut saya.
J = Bukan hanya anda saja yg seperti itu. Saya juga sudah tidak pernah
lagi ikut ritual keagamaan yg menurut saya isinya pembodohan massal
saja. Orang-orang di dunia Barat banyak yg sudah meninggalkan ritual
keagamaan, dan gedung-gedung gereja menjadi kosong. Gedung-gedung
gereja yg indah dan berusia ratusan tahun itu cuma menjadi tujuan
wisata bagi turis-turis dari Jepang, Taiwan, India, Cina, dll... ,
termasuk dari Indonesia. Kita bisa menyaksikan bahwa gedung-gedung
gereja menjadi saksi bisu bahwa pernah ada manusia-manusia yg keracunan
oleh pemikiran keagamaan dan menghasilkan berbagai karya seni yg begitu
indah.
Memang karya seni yg luar biasa, lukisan-lukisan frescoes di dinding
dan langit-langit yg memperlihatkan bagaimana Yesus dipuja-puji oleh
para orang suci dan malaikat. Patung-patung para orang suci yg terbuat
dari marmer. Pelukis dan pemahatnya juga tidak main-main. Leonardo da
Vinci, Michael Angelo, dan banyak lagi artis kelas dunia lainnya. Ada
juga gedung yg usianya sudah ribuan tahun, pernah digunakan sebagai
kuil Romawi, lalu menjadi gereja Katolik, dan sekarang cukup menjadi
atraksi pariwisata saja.
Eropa Barat merupakan bagian dunia yg paling maju, mereka merupakan
bagian dari Christendom atau Dunia Kristen. Penduduknya dibesarkan
dengan tradisi Kristen, baik dari aliran Katolik maupun Protestan.
Tetapi kita lihat saja situasinya sekarang, setelah masyarakat menjadi
maju, kaya raya, berpendidikan. Bukannya masyarakat menjadi semakin
agamis, tetapi justru menjadi semakin sekuler. Semakin memisahkan
dengan tegas antara urusan sekuler dengan urusan agama. Urusan agama
adalah urusan pribadi, dan negara tidak mencampuri agama yg mau dianut
ataupun tidak dianut oleh tiap orang. Tidak ada pemaksaan, dan itu ciri
dari masyarakat maju.
Tetapi di masyarakat terbelakang, termasuk di Indonesia saat ini, yg
terjadi adalah kebalikannya. Masyarakat akan memaksa para anggotanya
untuk beragama. Biasanya paksaan halus dan kasar itu akan diikuti oleh
berbagai khotbah tentang ajaran agama, tentang bagaimana kita akan
memperoleh hadiah berupa Sorga dan hukuman berupa Neraka. Itu bagi
mereka yg pemikirannya masih terbelakang dan berlatar belakang
agama-agama Timur Tengah.
Gereja-gereja sudah kosong di Eropa Barat, tetapi di Indonesia justru
sebaliknya. Setiap hari Minggu, gereja-gereja di Indonesia akan penuh
dengan umat yg mengharapkan untuk masuk Surga. Semuanya bernyanyi dan
berdoa memuja-muji Tuhan. Pedahal Tuhan yg dipuja-puji itu cuma bisa
terlihat di lukisan-lukisan karya seni yg luar biasa indahnya di
museum-museum di Eropa Barat. Gedung-gedung gereja di sana sudah
menjadi semacam museum juga, dikunjungi oleh turis di hari Minggu,
untuk melihat karya-karya seni yg ada di dalam gedung-gedung gereja
itu, dan bukan untuk beribadah.
Agama cuma dipeluk oleh manusia yg masih memiliki sentimen primordial
primiitif, masih merasa perlu untuk berpegangan kepada simbol-simbol yg
diciptakan oleh mereka yg di-nabi-kan di masa lalu. Manusia yg sudah
tercerahkan justru akan meninggalkan agama secara total. Yg berada di
tengah adalah hibrida antara manusia tercerahkan dan manusia primitif.
Kita di Indonesia memiliki manusia primitif dalam jumlah banyak sekali,
ciri-cirinya sangart jelas, yaitu mereka akan beribadah sesuai agamanya
masing-masing. Mereka benar-benar percaya bisa masuk Surga atau masuk
Neraka.
Sebagian dari kita sudah menjadi hibrida antara manusia primitif dan
manusia tercerahkan. Hibrida ini biasanya suka pura-pura relijius,
memuja-muji kehebatan agamanya, walaupun sebenarnya dia itu sudah tidak
percaya lagi. Tetapi karena diajarkan untuk memuji agamanya setinggi
langit, ya dipujilah. Kalau agamanya Islam, maka Islam akan dipujinya
habis-habisan. Kalau dia Kristen, maka Kristen akan disohorkannya. Yg
ada di mulutnya adalah agama yg secara resmi dianutnya, walaupun
sebenarnya dia sudah tidak percaya lagi.
Sebagian kecil dari kita sudah masuk menjadi species tercerahkan dengan
bilang terus terang bahwa kita sudah tidak percaya lagi kepada agama.
Agama itu diciptakan oleh manusia masa lalu agar bisa menggerakkan
manusia-manusia lainnnya. Agama Hindu di India diciptakan agar para
Brahmana dan Ksatria bisa mengatur masyarakat mereka menjadi tertib.
Agama Buddha di Srilanka, Tibet dan Indocina dipegang karena para raja
dan bhikku bisa bersepakat untuk menetapkan Buddhisme sebagai ideologi
negara, dan itulah yg diajarkan kepada rakyat kebanyakan yg oho oho
saja...
Rakyat kebanyakan, apalagi di masa lalu, selalu oho oho saja apabila
dijejalkan ajaran agama. Mereka tidak memiliki alternatif. Tidak ada
internet, tidak ada surat kabar, tidak ada TV. Yg ada cuma para pemuka
agama dan kasta ksatria yg juga tidak ragu-ragu untuk menggunakan
kekuatan fisik agar rakyat menurut. Eropa Barat juga seperti itu di
masa lalu, tetapi industrialisasi dan abad pencerahan membawa
terjungkalnya dinasti para raja dan ambruknya cengkeraman
gereja-gereja. Walaupun Inggris masih memiliki gereja negara, tetapi
sang gereja negara statusnya is kambing congek atawa seremonial belaka.
Denmark masih memiliki gereja negara, dan nasibnya juga sama seperti
Gereja Inggris which is none other than seremonial.
Seremoni itu upacara formal, dan bukan ritual. Ritualnya sendiri bisa
diikuti sesekali saja seperti ketika ada orang yg ingin membaptis
anaknya, atau ingin menikah di gereja, atau ingin dimakamkan dengan
upacara gereja. But no more than that. Selebihnya merupakan urusan
pribadi masing-masing. Mau percaya Yesus atau Buddha tidak akan menjadi
masalah. Tidak ada pemaksaan untuk menghadiri ritual gereja karena
masyarakat telah berobah, telah menjadi beradab, telah menjadi
masyarakat industri maju, telah berpendidikan, telah teratur, telah
menghormati HAM (Hak Azasi Manusia).
Masyarakat di negara-negara maju mengerti bahwa agama cuma menjadi
pegangan bagi orang-orang yg masih terbelakang. Agama itu pegangan bagi
mereka yg status sosial ekonominya rendah. Di India banyak orang yg
status sosial ekonominya rendah, miskin sekali, dan mereka terjebak
dalam ritual keagamaan yg penuh takhayul. Tetapi, India juga memiliki
kelas menengah terbesar di seluruh dunia. Kelas menengah di India
bahkan jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan kelas menengah di
Amerika Serikat. Kelas menengah dalam hal pendidiikan dan penghasilan.
Makanya tidak mengherankan bahwa kita sering menemukan orang India yg
sekuler. Sangat sekuler dan tidak perduli sama sekali dengan ritual
penuh takhayul yg dipraktekkan oleh banyak orang di India.
Orang India bisa saja memamerkan foto Sai Baba di rumah mereka, lengkap
dikalungi dengan bunga. Bisa saja mereka mengucapkan 'namaste', tetapi
dalam kehidupan sehari-hari sangatlah sekuler dan tidak memperdulikan
ritual lagi. Sama seperti orang Inggris yg bisa mengucapkan 'God bless
you' tanpa merasa perlu berjejal di gereja di hari Minggu. Mereka bisa
menyanyikan 'God Save the Queen', lagu kebangsaan Inggris. Tapi apakah
mereka benar percaya kepada God itu ? Tentu saja tidak. God itu cuma
istilah saja, tradisi saja, dan tidak perlu disembah-sembah lagi dalam
ritual yg menghabiskan waktu dan tenaga seperti yg masih dilakoni oleh
banyak orang di Indonesia.
Indonesia masih terpuruk dalam cengkeraman pembodohan agama, dan satu
dunia memakluminya. Indonesia masih terbelakang, kelas menengah masih
relatif terbatas jumlahnya, dan mayoritas masih kelas bawah. Kelas
bawah selalu memaksakan pendapatnya, selalu menciptakan huru hara
karena mereka pikir langit akan runtuh kalau Allah Ta'alla tidak
disembah. Pedahal yg mereka percayai itu cuma fatamorgana saja.
Fatamorgana kelas bawah.
T = Kemarin-kemarin saya bisa agak cuek akan gunjingan, cemooh, dsb
dari masyarakat sekitar akan ketidak-pernahnya saya ikut sembahyang,
karena saya jarang di kampung dan tinggal di Denpasar. Tapi sekarang
saya harus tinggal di kampung.
J = Alangkah malangnya nasib anda. Oh malangnya nasibku, hu hu hu...
T = Bagaimana cara saya menghadapi masyarakat sekitar saya yg merasa
"terganggu" dengan kehadiran saya, hanya karena saya tidak sembahyang
walau tanpa pernah mengganggu mereka. Terutama saya bingung akan
sanksi-sanksi adat yg dikaitkan dengan agama. Kalau saya tidak pernah
ke pura dan ikut gotong royong di pura saat odalan bsa dikenai sanksi
adat. Sedangkan saya tidak mau memaksakan diri sembahyang demi
penghargaan masyarakat sekitar. Saya minta pencerahan dari Bang Leo
atas kendala di atas dan saya juga tidak ingin mengecewakan orang tua
dan keluarga saya karena mereka sangat tergantung dengan hukum serta
lembaga adat yg ada.
J = Bali has been changing. Telah banyak yg berubah di Bali sejak
Belanda masuk ke Bali Selatan seratus tahun yg lalu. Perubahannya boleh
bilang cepat sekali, tetapi tidak cukup cepat untuk mereka yg sudah
bisa menangkap essensi dari pengajaran agama. Essensi dan bukan ritual.
Jaman dulu Belanda bahkan melarang misionaris Kristen untuk masuk ke
Bali karena dilihat akan merusak tatanan adat yg begitu kaku di Bali.
Tetapi gereja Katolik menyusup masuk, dan diam-diam merekrut banyak
orang Bali menjadi penganut Katolik. Kalau sudah menjadi penganut
Katolik akhirnya orang Bali akan bisa ke luar dari adat. Gereja
menyediakan fasilitas untuk ke luar dari segalanya yg dianggap
menyesakkan itu. Itu salah satu pilihan yg bisa diambil oleh orang Bali
yg merasa adat banjar terlalu "tidak manusiawi" (dalam tanda kutip).
Bali harus seperti itu karena dituntut oleh situasi di masa lalu.
Banjar harus independen mencukupi kebutuhan dirinya sendiri karena
orang lain tidak bisa bantu. Bahkan raja-raja dan para pedanda tidak
bisa membantu banjar. Banjar harus ditopang oleh para anggotanya, yaitu
anda dan tetangga kiri kanan anda. Itu Bali masa lalu, dan kelihatan
masih dipaksakan sampai sekarang. Tentu saja banyak hal yg dipaksakan
itu bukanlah agama melainkan adat. Sama saja seperti di Kristen dan
Islam, segala hal yg dipaksakan itu bukanlah kerohanian melainkan
tradisi dan kebiasaan kemasyarakatan belaka. Dengan kata lain, segala
sanksi itu sebenarnya berkaitan dengan tradisi gotong royong yg mutlak
dilakukan di masa lalu tetapi tidak lagi terlalu relevan di masa
sekarang ketika kita bisa membayar gantinya dengan uang.
Di Bali, apabila anda tidak ikut gotong royong, maka anda bisa membayar
denda berupa uang. Setahu saya seperti itu. Karena anda hidup di
lingkungan seperti itu, maka mau tidak mau anda harus membayar. Bayar
saja. Dan jelaskan juga bahwa anda memiliki "panggilan" untuk tidak
mengikuti segala ritual itu. Panggilan dalam tanda kutip itu adalah yg
harus anda jelaskan satu persatu kepada orang-orang yg akan datang
kepada anda.
Setahu saya orang Bali itu sangat curious, dan kalau anda mulai
terkenal sebagai orang yg memiliki ilmu, maka mungkin anda tidak akan
punya banyak waktu lagi untuk diri sendiri. Orang-orang akan datang
berganti-ganti ke tempat anda untuk konsultasi. Dari masalah jodoh,
santet, pelet, kesehatan, rejeki,... sampai ilmu kesaktian mandra guna
akan ditanyakan kepada anda. So, you could become a no nonsense
consultant to the people. Kalau anda mau, ambillah peran itu, yg sangat
memungkinkan di Bali.
Di Jakarta dan tempat lain anda akan dianggap sebagai orang nyentrik,
tetapi di tengah kampung di Bali anda akan bisa menjadi orang sakti.
Anda tidak mempan guna-guna bukan ? Karena anda kebal, maka anda akan
bisa membantu orang-orang yg histeris merasa dikirimi guna-guna.
Caranya terserah kepada anda sendiri, tetapi saya melihat peran semacam
itu yg bisa anda jalani di kampung anda, kalau mau.
Kalau anda dianggap sebagai orang "pintar", maka tidak akan ada yg
berani mencemooh anda lagi. But you have to stand up. Tunjukkan bahwa
anda memiliki panggilan untuk tidak ikut ritual, dan sebagai gantinya
anda bisa memberikan pertolongan kepada banyak orang yg datang kepada
anda. Saya percaya anda bisa menangkap apa yg saya maksudkan di sini.
If you have that calling, just do it.
+
PERCAKAPAN 2: PENANGKAL ILMU SANTET
T = Apa kabar Bung ?
Langsung aja saya mau nanya. Apa benar makanan mempengaruhi aura
seseorang ? Seperti contoh penari Bali yang katanya pantang memakan
daging sapi karena akan mempengaruhi taksu ketika menari. Atau seorang
pendeta alias orang suci pantang memakan daging karena akan
mempengaruhi taksunya juga. Dan kalau emang bener daging-daging
tertentu bisa mempengaruhi kualitas taksu, maka apa yang menyebabkannya
? Jenisnya binatangnya kah ? Wajahnya kah ? Atau sifatnya kah ? Atau
semua itu juga hanya simbol-simbol tertentu untuk mengeksklusifkan
dirinya (si manusianya) saja ?
J = Taksu merupakan istilah khas Bali, artinya bisa aura, kharisma,
kesaktian, keampuhan, dll... Kalau orangnya percaya bahwa taksu di
dirinya menuntut pantangan makan daging sapi, maka apa yg dipercayainya
itu akan bekerja just like that. Ini permainan pikiran saja. Kalau
orangnya percaya, maka apa yg dipercayainya akan menjadi kenyataan.
Penari yg makan daging sapi akan seperti sapi sehingga tidak bisa
bergerak dengan lincah, pedahal kelincahan dan kelenturan itu sangat
dibutuhkan, apalagi oleh seorang penari legong keraton yg pantatnya
harus goyang-goyang dengan frekwensi very fast. Penari Hawaian yg juga
goyang pantat belum tentu bisa menyamai goyangnya penari legong
keraton. Dan maybe, who knows, hal itu disebabkan karena penari Hawaian
doyan makan beef steak. Steak daging sapi.
Makan daging babi is haram buat orang yg suka mengaji Al Quran karena
nanti suaranya tidak bisa merdu lagi melainkan berbunyi ngrookkk
ngrookkk..., kurang lebih seperti bunyi seekor babi. Babi is halal
untuk penari legong kraton di Bali, on the other hand, yg haram itu
sapi. Sapi itu haram karena penari Bali harus bergerak cepat
pinggulnya. Suara tidak terlalu penting, makanya babi tidak haram.
Suara itu penting bagi mereka yg berasal dari Arabia karena segalanya
harus dikeluarkan melalui mulut, makanya babi di-haramkan. Suara babi
is ngrookkk ngroookkk... dan itu akan sangat mengganggu taksu orang yg
gemar meneriakkan assyaduana tiap subuh melalui corong mesjid.
Segalanya itu simbol-simbol saja, dan efektifitasnya tergantung apa yg
dipercayai oleh manusianya sendiri. Kalau percaya makan sapi akan
mengurangi kadar kelenturan tubuhnya, maka tidak usah dimakanlah sapi
itu. Masih banyak hewan lain yg bisa dimakan. Ada penyu laut, tetapi
ini sudah dilindungi sekarang, termasuk satwa langka, pedahal enak
sekali. Sang penyu dilindungi karena diuber-uber banyak orang Bali buat
dibikin sate penyu sebagai kelengkapan upacara keagamaan.
Sebenarnya ini juga berlaku di dalam dunia astral. Astral artinya tidak
terlihat atau cuma berada di dalam alam pikiran kita saja. So, kalau
anda memperoleh kesulitan dan percaya bahwa penyebabnya adalah santet
yg berasal dari Bali, maka penangkalnya itu daging sapi. Suruh orang yg
merasa dikirimi guna-guna itu untuk makan sapi sebanyak-banyaknya.
Sebaliknya, mereka yg merasa disantet oleh dukun Islam bisa makan babi
sebanyak-banyaknya. Itu penangkalnya, daging babi dan minyaknya. Sang
minyak babi yg baunya naudzubillah itu juga bisa disiramkan ke
sekeliling rumah dari korban santet itu, dan walhasil jin-jin Muslim yg
dikirimkan untuk berbuat jahil akan lari terbirit-birit sambil
berteriak: haram, haram...
Ritual
ngaben di Denpasar di bulan Januari 2009 yg lalu. Saya berdiri di
pinggir jalan raya yg akan dilewati oleh peti jenazah berbentuk sapi
itu. Jenazahnya sendiri berada di menara yg tinggi itu, ditaruh di
paling atas, dan digotong oleh puluhan orang sambil berlarian
berputar-putar. Walaupun tidak mengenalnya secara fisik, saya merasa
melihat orang yg meninggal itu, dan saya bilang kepadanya: You are one
of us. We come here just to say goodbye to you. Yours has finished, but
ours still have to continue in this world for some time more...
Bisa minta tolong untuk kasih tanggapan di wall saya di facebook yang sedang dibombardir oleh teman saya itu ?
Just FYI, saya dulu seorang Muslim, dan sekarang saya memilih untuk
menjadi agnostic, karena saya sudah muak dengan ajaran Padang Pasir
itu. Nah saya berusaha mengubah penampilan foto saya yg dulunya tampak
sebagai seorang Muslim, dan sekarang tampak beda. Mungkin karena inilah
teman saya itu tidak rela dan terus menerus menghantam saya yg di
matanya telah menghina Islam dengan seringnya saya menulis quote-quote
dari Mother Teresa, Buddha, Dalai Lama, dsb...
J = Alangkah bahagianya saya menerima kesaksian dari anda yg tadinya
seorang Muslim dan sekarang telah menjadi agnostic. Muak dengan ajaran
padang pasir sangatlah dimaklumi, dan bukan hanya anda sendiri saja
tetapi banyak juga yg lain. Tidak terhitung banyaknya orang di
Indonesia ini yg sudah muak dengan ajaran padang pasir. Saya juga muak.
Mendengar khotbah Jumat di mesjid secara sepintas lalu saja ketika saya
lewat sudah membuat kuping saya gatel-gatel, pedahal tidak digigit
nyamuk.
Para ulama Islam itu rupanya berdampak seperti nyamuk. Kalau mereka
bicara kita jadi gatel-gatel, terutama di bagian kuping. Karena ini
bukan nyamuk, maka tidak bisa ditepok. Kalo ditepok oleh seorang wanita
si ustad bisa lompat sambil mendelik. Haram, begitu katanya.
Kalo saya, karena saya bukan seorang Muslim ataupun Muslam, maka
tepokan dari seorang wanita cantik, apalagi yg agnostic, otomatis akan
membuat si Otong akan sedikit terjengkang. Mimpi apa daku sampai
ditepok-tepok, begitu katanya. Fyi, Otong ini sebatang reinkarnasi dari
Jin Kastubi. Kepalanya botak plontos, dan ada jenggotnya juga. Kalo doi
ketawa bikin repot, ho ho ho ho... But Otong bukan Muslim. Walopun
reinkarnasi Jin, dia itu bukan Muslim. Otong is Jin kafir, suka ereksi
di tempat. Dan itu halal. Ereksi is chemistry, ada yg bercampur di alam
astral sehingga si Otong ngaceng which is very normal, walaupun bukan
terhadap muhrimnya.
Muhrim dan non muhrim cuma konsep padang pasir yg tidak berlaku lagi
bagi kita. Kalo kita suka sama suka, biarpun muhrim orang bisa kita
embat aja. Namanya HAM, Hak Azasi Manusia untuk menikmati tubuhnya
sendiri. Kita ini semuanya manusia bebas. Baik menikah maupun tidak
menikah, kita manusia bebas. Kita bisa menggunakan tubuh kita untuk oho
oho dengan siapa saja asal ada chemistry which is suka sama suka.
Tetapi alam pemikiran padang pasir bilang itu haram.
Bagi orang padang pasir dan pengikutnya, yg tidak haram adalah menteror
orang lain. Orang yg meninggalkan Islam akan diteror, akan dicaki-maki,
dikhotbahin, dsb... Dan itulah yg sebenarnya melanggar HAM. Merupakan
HAM anda untuk meninggalkan Islam atau agama apapun yg anda anut
sebelumnya. Anda juga berhak untuk mengatakan hal itu secara terus
terang kepada teman-teman anda yg ingin memaksakan Islam kepada anda.
Tulis saja di wall mereka bahwa anda telah meninggalkan Islam karena
anda muak dengan agama padang pasir itu.
T = Saya rasa teman saya itu tampaknya belum tau saya telah keluar dari
keyakinan saya, tapi tampaknya dia gemar sekali menyerang keyakinan
lain. Kalau Mas Leo sempat, mungkin bisa membantu untuk menyumpal
mulutnya yg kotor itu.
J = Kita semua sudah tahu bahwa Islam adalah agama yg paling
terbelakang, penganutnya suka petantang petenteng membanggakan Islam
sebagai agama terakhir dan sempurna. Pedahal jelas Islam adalah agama
yg paling terbelakang satu dunia, dan terbuktikan oleh ulama-ulama
Islam yg selalu berkhotbah seolah-olah mereka itu Allah, pedahal Allah
sendiri tidak tahu apa-apa. Pedahal Allah cuma konsep buatan saja,
suatu konsep mati yg tidak pernah bisa protes ketika nama-Nya dibawa
khotbah.
Penganut Islam yg masih primitif selalu memaki-maki penganut agama
lain, at least selalu merasa diri mereka sebagai penganut agama yg
"benar", dan orang lain sebagai penganut agama yg "salah". Keduanya
dalam tanda kutip karena benar dan salah adanya cuma di dalam pikiran
si penganut Islam. Pedahal tidak begitu sebenarnya. Sebenarnya
segalanya cuma rekaan saja, buatan.
Saya sudah bilang berkali-kali bahwa Al Quran merupakan buatan manusia
biasa saja, walaupun di-iklankan jatoh gedebuk dari atas langit. Bilang
saja terus terang kepada teman anda yg syiar agama Islam di wall anda.
Walaupun mereka memaki-maki, bilang saja bahwa Islam merupakan agama
buatan manusia. Mengatakan bahwa Al Quran dan Islam merupakan buatan
manusia bukan merupakan fitnah melainkan fakta. Memang buatan manusia,
asli. Dan karenanya ucapkan saja, tuliskan saja.
Don't expect me to do it for you. Walaupun mulut teman-teman anda yg
mengaku beragama Islam itu sangat kotor, bukanlah kewajiban saya untuk
menyumpalnya. Sumpal menyumpal is not my specialty, walaupun sesekali
saya lakukan juga. Tapi saya musti liat-liat dulu orangnya. Kalo ada
chemistry dan suka sama suka, barulah saya bisa menyumpal. Bukan saya
sih, tapi si Otong yg bisa menyumpal. Dan itu halal. Asal ada chemistry
dan suka sama suka, that's halal.
Allah akan tetap tutup mulut karena Allah cuma boneka di tangan ulama
Islam, bisa digerak-gerakkan sesuai dengan kehendak si ulama. Dan semua
orang sudah tahu itu. So, bilang aja terus terang. Bilang bahwa anda
sudah fed up, sudah muak dengan segala kemunafikan dan kefanatikan
Islam. Bilang itu terus terang, dan tanya kepada teman anda yg Islam
dan memaki-maki anda itu, apakah dia ingin keluar dari daftar teman
anda. Tanya saja baik-baik.
Kalau dia bilang tidak ingin keluar, maka anda harus tegaskan bahwa dia
harus stop syiar Islam di wall anda. Kalau dia tetap syiar agama padang
pasir itu, maka anda akan bisa mengeluarkannya tanpa peringatan
terlebih dahulu. Bilang saja dengan tegas seperti itu. You have to do
that yourself.
+
PERCAKAPAN 2: ATHEISME DAN AGNOSTISME MERUPAKAN "AGAMA" JUGA
T = Kalu orang-orang agama bebas mengiklankan kecapnya sebagai yg nomer
1, kenapa orang atheis dan agnostic tidak bisa melakukan hal yg sama yg
orang agama lakukan ? Kenapa ? Mungkin Bung Leo harus mempelopori untuk
mengiklankan kecapnya secara terbuka seperti yg orang-orang agama
lakukan. Berani gak Bung Leo melakukanya secara terang-terangan ?
J = Orang atheist dan agnostic bisa saja mengiklankan "agama" mereka
secara terang-terangan. Itu tidak dilarang, bahkan di Indonesia.
Atheisme itu bukan Komunisme. Yg masih dilarang sampai saat ini adalah
ideologi Komunisme, dan pelarangan itupun merupakan suatu pelanggaran
HAM. Ideologi Komunis merupakan salah satu ideologi yg sah di dunia.
Tetapi Atheisme sendiri bukanlah Komunisme. Banyak orang kapitalis
adalah orang atheist. Sebagian besar orang terpelajar di dunia ini
adalah orang atheist. Sebagai suatu istilah, Atheisme dan Agnostisme
juga merupakan agama. Agama adalah apa yg dipercayai bulat-bulat,
di-imani, tanpa perlu ada nabi besar dan kitab suci.
Nabi besar dan kitab suci cuma diperlukan apabila anda ingin mencari
duit as well as budak. Budak itu manusia-manusia lain yg akan anda
cekoki dengan pengajaran dari "Allah". Pedahal segalanya berasal dari
anda sendiri saja, termasuk satu manusia yg kemudian akan anda beri
gelar sebagai "nabi besar". Allah mutlak perlu, dan itu juga sama
mudahnya seperti membalik telapak tangan. Allah is always available
untuk dikhotbahkan. Anda mau Allah yg jenis apa ? Itu bisa saja.
Tinggal karang saja. Kitab suci juga demikian, tinggal bilang saja apa
kitab suci anda, dan jadilah. Agama itu mudah sekali membuatnya, dan
mudah sekali mengiklankannya. Peminatnya juga membludak.
Banyak orang-orang yg merasa tidak yakin akan diri mereka sendiri dan
selalu mencari pegangan. Semakin keras teriakan anda maka mungkin akan
semakin banyak pengikut anda. Pengikut anda adalah orang yg ingin
mencari selamat. Keselamatan mereka itulah yg anda khotbahkan. Anda
bilang bahwa di luar agama yg anda khotbahkan hanyalah ada azab dari
Allah. Dan keselamatan hanyalah ada di dalam agama anda. Lalu, karena
ini organisasi yg perlu duit, dan anda juga perlu duit, maka anda perlu
khotbah tentang derma dan pahala yg akan diberikan kepada mereka yg
berderma. Derma itu akhirnya menjadi "kurban". Yg minta kurban itu
anda, tetapi lalu anda bilang bahwa segala kurban itu bagi Allah. Dan
Allah juga yg akan membalas semua kurban yg diberikan.
Very easy. Membuat agama dan mengiklankannya is very easy, makanya banyak juga orang yg tertarik untuk menjadi penjual agama.
Atheisme dan Agnostisme merupakan "agama" juga, dan itu tidak dilarang
di Indonesia. Banyak orang yg mengaku beragama ternyata sebenarnya
agnostic, mungkin juga atheist. Mereka mengaku beragama hanya karena
tradisi saja, ikut-ikutan saja, cuma untuk membuat keluarga dan handai
taulan memiliki perasaan tenteram. Kalau kita mengaku terus terang
sebagai seorang atheist atau agnostic, maka lingkungan sekitar akan
heboh, dikiranya kita akan masuk neraka. Pedahal tidak ada yg berobah.
Mao beragama apapun, ataupun mao menjadi atheist atau agnostic, tidak
ada yg akan berobah. Semuanya sama saja. Kita tetap akan menjadi
manusia biasa saja, walaupun ada agama tertentu yg membuat penganutnya
menjadi kurang manusiawi seperti Islam, dan ada agama tertentu seperti
Nasrani yg membuat penganutnya menjadi lebih manusiawi.
Saya sendiri tidak mengiklankan apapun. Tidak juga Atheisme ataupun
Agnostisme. Bidang saya spiritualitas atau kerohanian yg bisa saja
dikultivasi menggunakan agama. Bisa juga dikultivasi tanpa agama. Saya
sendiri tidak menggunakan agama sebagai pegangan, walaupun terkadang
saya menggunakan simbol-simbol yg berasal dari agama. Simbol adalah
perlambang, petunjuk saja, dan bukan the real thing. Itu yg seringkali
saya bagikan kepada teman-teman. Dan orang-orang beragama sering sewot
ketika saya telanjangi agamanya habis-habisan. Mereka selalu berpikir
bahwa simbol yg mereka pakai adalah the real thing, pedahal simbol itu
benda mati. Yg real itu kesadaran di dalam diri kita. Kesadaran kita
tetap ada walaupun kita buang segala agama dan simbol-simbolnya.
Puji Tuhan tidak terasa dua tahun sudah kami melayani pekerjaan Tuhan di
kota Kembang, Bandung. Kami mendapatkan banyak hal baru dan melakukan pekerjaan
Tuhan dengan pola yang baru juga. Bagaimana Tuhan banyak mengajar kami untuk
malayani Dia secara lebih natural dan fokus pada pelayanan di luar institusi
atau organisasi gereja. Ada banyak jiwa yang membutuhkan Kristus dan sebenarnya
mencintai Dia tetapi “terluka” oleh sistem gereja masa kini hingga mereka
menjauh dari Tuhan bahkan imannya mulai goyah sebab tidak merasakan kepedulian
Tuhan melalui umatNya.
Pelayanan kami (The Eagles Nest Ministries) bukanlah pelayanan besar yang
membuat orang berdecak kagum, lebih banyak orang berpikir untuk apa kami mengorbankan
“karier” dalam pelayanan untuk jiwa-jiwa yang belum tentu mau mendukung kami
secara finansial atau orang Kristen lebih suka menggunakan kata “memberkati”.
Memang seringkali kami yang harus berkorban tetapi bukankah itu “sikap
(attitude)” Tuhan kita? Yohanes 3:16 berkata,” Karena begitu besar kasih Allah
akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Teladan Tuhan kita adalah memberikan “yang terbaik” bahkan bagi orang-orang
yang belum mempercayai Dia. Karena demikian besar kasihNya bagi dunia yang
berdosa dan didorong oleh kerinduanNya untuk memulihkan hubungan (relationship)
dengan manusia yang Ia ciptakan segambar dengan diriNya.....Ia rela mati di
atas kayu salib untuk tebus kita dan Ia bangkit dari kematian hingga kita yang
percaya padaNya pun tidak akan mati tetapi bangkit suatu hari dan berkumpul
kembali denganNya.
Hidup kita di muka bumi ini hanya sementara saja, ada kehidupan kekal
selanjutnya dan itu ditentukan dari sekarang. Bagaimana kita menjalani hidup
saat ini akan menentukan kita di dalam hidup kekal? Apa yang sudah Anda
kerjakan bagi Tuhan?
Kami memang tidak memiliki kekuatan finansial tetapi kami menggunakan apa
pun yang kami miliki untuk menyatakan kasih Tuhan kepada dunia. Baik itu
melalui media tulisan (cetak), dunia maya (blog, mailing list, jejaring
sosial,dll), pelayanan doa, konseling dan penginjilan pribadi, komunitas
(gereja rumah) dan membantu memperlengkapi gereja dan umat Tuhan yang
membutuhkan. Kami tidak punya apa-apa secara duniawi tetapi kami memberikan
semua yang kami miliki ke dalam tangan Tuhan. Sebab kami hanyalah
penatalayanNya (His steward), apa yang kami miliki adalah milikNya dan kami
hanya mengaturnya untuk kemuliaan Dia.
Kami baru saja menyelesaikan sebuah buku berjudul “Evangelism As a Way of
Life” (Penginjilan sebagai Gaya Hidup). Akan menyusul buku kedua berjudul Be
The Church (Jadilah Gereja) yang tengah dalam proses penulisan.
Dukung doa agar dalam bulan ini kami dapat mengontrak sebuah rumah yang
lebih besar, sebab dari hasil Sekolah Alkitab Online ada beberapa orang yang
mau diutus ke daerah sebagai utusan missi tetapi selama ini kami tidak
mempunyai tempat untuk melatih dan mempersiapkan mereka secara langsung. Selain
itu ada banyak orang yang membutuhkan “safe house” (rumah perlindungan) sebab
mereka mengalami permasalahan seperti hamil di luar pernikahan, korban
pelecehan seksual, diusir akibat beriman pada Tuhan Yesus dll. Tetapi kami untuk
saat ini belum dapat melakukan banyak hal akibat keterbatasan tempat atau
fasilitas.
Kami telah melihat beberapa rumah untuk kami sewa dan kami membutuhkan dana
sekitar 10 juta rupiah untuk sewa selama setahun.
Keuangan kami terbatas tetapi kami tidak menyerah dengan keterbatasan
tersebut. Kami ingin menampung mereka di tempat kami tetapi tak mungkin. Ini
adalah doa dan pergumulan kami selama dua tahun terakhir pelayan kami di kota
Bandung.
Kami mungkin tidak memiliki donatur tetap tetapi bila selama dua tahun ini
kami masih dapat melayani Dia dengan tetap setia, itu semua hanya karena
anugerahNya semata. Setiap kali kami mau menyerah oleh karena keadaan saat itu
pula Tuhan akan menguatkan kami kembali, baik secara langsung saat kami berdoa
maupun dengan mengutus para hambaNya.
Bersama surat ini kami menghadiahkan e-book Evangelism as a way of life,
semoga dapat menjadi berkat bagi saudara-saudariku seiman.
Bagi Anda yang mau mendukung perkembangan pelayanan ini dapat berdoa bagi
kami maupun menyalurkan dana. Bila Anda merasa dorongan dari Tuhan maka berkat
tersebut dapat dikirimkan melalui BCA II no rek 0081824788, Jl.Asia Afrika
122-124 swift code CENAIDJA atas nama Dave Broos.
Tuhan Yesus memberkati kita semua untuk menjadi saluran berkat bagi dunia
yang terhilang.
Yg paling susah itu membuang kerak yg ada di hati. Meski dari kecil saya gak doyan makan "makanan" yg itu, tapi oleh orang tua dijejalin ke mulut saya setiap saat. Sampai saya gak tahu lagi mana sebenarnya "makanan" yg paling sehat itu. Yg saya tahu cuma "makanan" yg setiap saat dijejalin ke mulut saya. Meski sekarang ingin mencoba menu yg lain, tetep saja "makanan" yg dulu kadang-kadang pengen dicicipi lagi, susah. Ada saran ?
J = Anda berlatar belakang Islam, walaupun mungkin dari jenis tasawuf atau yg mementingkan olah batin. Tetapi walaupun alirannya tasawuf, kita yg sudah berpendidikan jauh di atas orang tua kita tetap bisa membedakan apa yg takhayul dan apa yg merupakan spiritualitas. Kita tahu bahwa spiritualitas yg asli adalah olah batin diri kita sendiri, dan bukan mencari selamat dengan cara mengharamkan berbagai hal yg sebenarnya tidak haram. Mungkin tidak bermanfaat, tetapi tidak haram.
Apa yg
diharamkan oleh manusia masa lalu selalu dengan embel-embel Tuhan atau Allah. Allah larang begini, Allah larang begitu. Pengharaman adalah seruan negatif. Ada lagi yg berupa suruhan. Allah suruh ini dan Allah suruh itu. Suruhan adalah seruan positif. Dan yg dijadikan ajang seruan dan suruhan itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi objek budaya, dengan Allah sebagai memedi atau junjungan. Yg harus diikuti kalau kita mau selamat. Pedahal kita tahu bahwa semuanya ciptaan budaya saja, dan dipaksakan kepada kita sejak kita masih kanak-kanak.
Apa yg dijejalkan kita di masa kanak-kanak selalu membekas seumur hidup.
Ada kenangan manis ketika kita percaya bahwa benar ada Allah yg mengharuskan kita beribadah di bulan Ramadhan. Ada kenangan manis ketika kita benar percaya bahwa segala dosa kita dihapuskan ketika kita berhasil menyelesaikan puasa dengan sempurna dan bermaaf-maafan di hari Idul Fitri. Itu bagi yg Muslim. Bagi yg Nasrani juga ada
kenangan manis ketika merayakan Natal. Buat anak-anak kecil, Natal selalu berarti mainan baru dan baju baru. Datangnya dari Sinter Klaas yg berjenggot itu.
Dari jauh sebelum Natal, anak-anak ditakut-takuti bahwa Zwarte Piet akan memasukkan mereka ke dalam karung. Sebaliknya, kalau mereka patuh kepada orang tua, Sinter Klaas akan memberikan mereka macam-macam hadiah, permen, mainan, baju baru...
Sinter Klaas asalnya dari budaya Belanda, dan dibawa ke New Amsterdam, koloni Belanda di benua baru Amerika. New Amsterdam didirikan pada saat yg bersamaan dengan Batavia yg sekarang kita kenal sebagai Jakarta. New Amsterdam akhirnya menjadi New York City setelah kota itu berpindah tangan ke Inggris. Di New York City, Sinter Klaas berganti rupa menjadi Santa Claus.
Santa Claus sudah jadi sekuler walaupun nuansa simboliknya masih terasa juga. Simbolik relijius, yaitu pengajaran budi pekerti kepada anak-anak kecil. Sosialisasi atau penanaman
nilai-nilai luhur yg apabila dijalankan dengan baik akan diberikan ganjaran berupa hadiah. Dan hukuman kalau ternyata gagal untuk berlomba mencapai target menjadi anak yg baik.
Bagi banyak orang di Belanda dan di Indonesia, Sinter Klaas akhirnya menjadi simbol dari Tuhan.
Kita tidak tahu Tuhan itu seperti apa, tetapi kita disosialisasi sejak kecil untuk mencoba mengerti bahwa Tuhan akan menghadiahi kita dengan berbagai berkat kalau kita baik, dan menghukum kita kalau kita jahat. Walaupun tidak terlalu pas, dan mungkin agak karikaturis, Sinter Klaas berhasil hidup dalam imajinasi kanak-kanak, termasuk saya juga. We were brought up to believe in God, dan caranya melalui akal-akalan semacam legenda Sinter Klaas yg dijalankan dengan tertib dan kontiniu setiap tahun sampai akhirnya kanak-kanak tumbuh menjadi besar dan menemukan sendiri bahwa ternyata "dibohongi".
Dibohongi dengan maksud baik, tentu saja. Maksudnya agar kita bisa tumbuh
menjadi anak yg berbudi pekerti luhur. Tidak berantem dengan adik dan kakak, bersikap manis dan sopan terhadap orang tua, rajin belajar, dsb... Ketika kita mengerti maksudnya itu, kita akhirnya cuma tertawa saja. Dan mungkin akhirnya kita meneruskan tradisi yg sama kepada anak-anak kita. Tetapi sekarang Sinter Klaas yg orisinil dari Belanda itu sudah jarang terlihat. Yg ada malahan Santa Claus, sang tiruan Sinter Klaas. Santa Claus itu dari Amerika Serikat, dan nilai relijiusnya sudah sangat berkurang walaupun kita tetap bisa menangkap nuansa-nuansa magis di sana.
Magickal nuances. Nuansa-nuansa magis.
Dan itulah yg kita cari sepanjang hidup kita, walaupun harus dengan tersenyum meringis ketika kita mencarinya di tumpukan sampah yg kita sebut sebagai "kerak". Kerak is nasi yg sudah kering. Tidak enak dimakan, tetapi kalau mau bisa. Dan bisa kenyang juga. Kerak bagi saya ditemukan di gereja Katolik. Saya bukan anggota gereja Katolik,
tetapi sampai lulus SMA saya bersekolah di sekolah Katolik, dan kami dididik untuk ikut Misa Kudus seminggu sekali.
Waktu masih sekolah, murid-murid disarankan untuk berdoa di dalam gedung gereja sebelum masuk kelas. Ceritanya berdoa kepada Tuhan. Saya juga begitu, saya pikir bisa ketemu Tuhan dengan cara masuk gedung gereja setiap pagi. Berlutut di tempat yg disediakan, lalu berdoa. Ternyata tidak ada Tuhan di sana.
Yg ada cuma nuansa-nuansa magis setiap kali Natal mendekat.
Saya ingat bahwa guru-guru sekolah minggu saya akan mempersiapkan anak-anak kecil sejak jauh hari sebelumnya. Latihan untuk pentas Natal. Ada yg ikut main drama, jadi Maria atau Yosep. Lalu ada boneka yg ceritanya menjadi bayi Yesus... Ada yg dapat tugas baca deklamasi. Lalu ketika saatnya tiba kami akan berpentas di depan tamu-tamu: para orang tua dan teman-teman lainnya yg semuanya diundang. Lagu-lagu Natal yg bernuansa magis dinyanyikan berulang-ulang. Kue
taart, kado, permen, hadiah-hadiah...
Ini semuanya magis bagi saya, tetapi saya tahu bahwa saat-saat itu tidak akan terulang kembali.
Saya bisa mengikuti sentimen relijius orang Amerika di dalam film-film bertemakan Natal yg selalu diputar di televisi kita setiap hari Natal karena saya mengalaminya sendiri, besar di lingkungan gereja yg sangat dipengaruhi oleh tradisi Belanda. Teman-teman sekolah minggu saya boleh bilang semuanya orang Indonesia Timur, mostly Menado dan Ambon. Dan orang-orang tua mereka kalau bicara masih suka pakai bahasa Belanda. Itu di gereja Protestan, gereja orang tua saya. Di gereja Katolik nuansanya lain lagi, walaupun pastornya masih orang bule saat itu. Gereja Katolik selalu bernuansa Jawa dari dahulu sampai sekarang.
Walaupun saya sejak kecil sudah tahu bahwa oom saya agamanya Islam, cuma belakangan saja saya tahu bahwa kakek buyut saya yg orang Gorontalo aslinya beragama Islam. Dia dan istrinya pindah
ke Kristen. Anak-anaknya menjadi Kristen juga, termasuk kakek saya, walaupun di tiap generasi selalu saja ada yg Islam. So, rupanya agama seperti baju saja di keluarga saya, bisa diganti-ganti.
Kita bisa berganti agama tanpa berganti Tuhan.
Tuhan itu ternyata sama saja, apapun agama kita. Itu pemahaman saya sejak masa kanak-kanak. Yg saya tidak tahu, ternyata nuansa-nuansa magis tentang Tuhan tidak bisa begitu saja dimunculkan. Ada personal history, sejarah pribadi sejak masa kanak-kanak di mana simbol tertentu akan bisa memunculkan sentimen tertentu.
Ketupat lebaran punya makna relijius tersendiri bagi saya, contohnya.
Walaupun keluarga kami tidak puasa, kami selalu ikut merayakan Idul Fitri. Makanan di rumah selalu berlimpah ruah karena teman-teman orang tua saya akan menghantarkan makanan. So, bagi saya bahkan sampai saat ini, Natal dan Tahun Baru, dan juga Lebaran sebenarnya merupakan hari raya yg patut saya rayakan.
Tetapi walaupun saya coba paksakan untuk rayakan sendiri, nuansa religi masa lalu itu tidak pernah muncul lagi. Tidak pernah muncul dengan pas walaupun saya akan selalu ingat bahwa teman-teman seumuran saya selalu diundang datang oleh ibu saya untuk ikut merayakan Natal. Natal used to be for everybody, Lebaran juga begitu.
Tetapi itu masa lalu.
Semuanya itu rusak akhir-akhir ini ketika Islam fundamentalis menginjak-injak hak orang untuk saling merayakan hari raya satu sama lain. Di masa saya kecil, Natal dirayakan oleh semua orang. Lebaran juga. Tidak ada pengkotak-kotakan agama. Tidak ada issu Kristenisasi. Tidak ada issu Islamisasi. Agama itu cuma baju yg dipakai oleh setiap orang. Bajunya bisa beda-beda, tetapi manusianya tetap saja sama, tetap manusia biasa. Kita saling melihat manusianya, dan bukan bajunya. But it no longer like that now. Tidak seperti itu lagi.
MUI yg gila kuasa dan harta semakin bikin runyam semuanya. Apa yg
tadinya benar-benar enjoyable akhirnya menjadi najis.
Perayaan Natal di gereja menjadi najis karena polisi berseragam memeriksa semua pengunjung dengan alat deteksi bom. Mungkin anda tidak percaya, tetapi kalau kita masuk Misa Natal, kita harus melewati penjagaan polisi yg membawa alat detektor. Diperiksa apakah kita membawa bom. Semuanya tanpa terkecuali harus melewati alat itu. Ini kenajisan yg diakibatkan oleh orang-orang Islam fanatik yg meledakkan bom di gereja-gereja pada malam Natal.
Dan pakaian Muslim bukannya menjadi suatu hal yg dikagumi sebagai pelengkap yg manis dilihat, melainkan telah menjadi cemoohan. Mereka yg tidak berjilbab akan melihat orang yg pakai jilbab dengan muak. Mesjid-mesjid di Jakarta yg dulu dikagumi sebagai tempat ibadah yg sopan dengan bedug aslinya yg terbuat dari kulit kambing itu akhirnya menjadi simbol dari kedegilan. Waktu saya kecil, bedug di mesjid dipukul bertalu-talu dengan tangan sehari lima kali.
Suaranya merdu. Dan ada nuansa relijiusnya. Sampai sekarang kalau saya mendengar suara bedug mesjid yg asli terbuat dari kulit kambing itu, saya akan bisa terdiam. Saya terdiam, saya ingat masa kecil saya. Dug dug dug... very beautiful. Tapi tak ada lagi.
Mana bedug mesjid saya ?
Tak ada lagi. Yg ada cuma loudspeaker mesjid yg suaranya laknatullah. Bukan nuansa magis relijius yg tercipta, tapi rasa muak dan mual. Muak karena segalanya menjadi begitu vulgar. Sahut-menyahut saling bersaing antara mesjid yg berdekatan, bersaing memanggil Tuhan seolah Tuhan itu tidak ada. Don't they know that God lives in our consciousness ? Apakah mereka tidak tahu ? Mereka pikir Tuhan itu siapa sampai harus diteriaki dengan begitu tidak sopan ? Menjerit-jerit allahuakbar dengan loudspeaker mesjid merupakan ritual yg tidak sopan. Tidak pantas dipersembahkan bagi Tuhan yg ada di dalam kesadaran kita sendiri. Tapi itulah yg terjadi sekarang ini. Jaman berubah,
nuansa berubah.
Tidak ada lagi nuansa magis itu.
Tapi kita masih tetap penasaran toh ? Apa benar tidak bisa lagi mencicipi nuansa yg pernah kita rasakan ketika kecil ? Apakah Natal telah kehilangan artinya karena polisi berseragam menjaga pintu masuk gereja dengan detektor bom ? Apakah Lebaran telah begitu vulgarnya sehingga suara bedug asli yg terbuat dari kulit kambing dan kayu sudah tidak pernah terdengar lagi, dan yg ada cuma tong kosong saja yg dipukul dengan histeris sambil teriak-teriak allahuakbar sampai kita bangun pagi di hari Idul Fitri dengan kuping yg sakit dan kepala migrain sebelah ? Apa benar semuanya sudah tidak ada ?
Untuk membuktikannya of course anda harus coba sendiri saja.
Coba lagi, coba lagi... Biar lupa syairnya tetap ingat kuncinya. Tiap Idul Fitri saya coba untuk ingat-ingat lagi, inikah Islam masa kecil saya ataukah sudah berubah menjadi kenajisan ketika kita tidak boleh saling mengucapkan
selamat hari raya karena dilarang oleh Allah melalui MUI sebagai agen tunggal-Nya ? Inikah Natal masa kecil saya ketika saya bisa lari-lari keliling gereja dan mendongak ke atas melihat oom-oom dan tante-tante yg semuanya bebas bicara pakai bahasa Belanda. Saat itu tidak ada pengkafir-kafiran. Tidak ada saling kecurigaan.
Oops, ada orang-orang Islam fanatik.
Mereka bikin semuanya hancur lebur berantakan. Belanda is kafir, katanya. Bahkan Jawa asli juga kafir. Akibat kepongahan orang-orang Islam fanatik itu, akhirnya "kerak" peninggalan memory masa kecil juga sudah susah untuk dimakan akhir-akhir ini. Susah tertelan keraknya. Walaupun rindu dan mau, sudah susah tertelan keraknya.
Tips menghadapi boss yang menyebalkan ;)
1. Jangan biarkan Boss yang menyebalkan bisa mempengaruhi suasana hati Anda.
Tetap positif dan sikap apapun dari Boss akan menjadi lebih mudah untuk
ditangani.
2. Diskusikan masalah ini dengan orang terdekat Anda, teman ataupun keluarga.
Anda perlu berbagi mereka karena sharing itu pun juga bersifat terapi. Keluarga
atau teman dekat dapat mendukung serta membantu Anda melalui hari-hari yang
paling sulit di tempat kerja.
3. Jika Boss anda memberikan kritikan yang tidak perlu atau bahkan tidak adil,
kadang mudah sekali Anda terlarut dalam debat kusir dengannya. Biasanya
konfrontasi seperti ini merupakan cerminan pribadi bos anda yang buruk
(insecurity). Jadi lebih baik Anda hindari perdebatan seperti ini terutama
tentang siapa yang benar atau salah. Langsung saja dengan membahas solusinya
dengan sikap tenang.
4. Ambil cuti jika masalah ini mulai membuat Anda stress, sama seperti yang
akan Anda lakukan jika Anda sakit secara fisik (demam,flu, dll). Karena stress
juga akan berdampak terhadap kesehatan jiwa anda (depresi).
5. Hindari melapor atau mengadu ke Bos-nya Boss. Kemungkinan besar mereka akan
mendukung atasan Anda dan ini bisa menyebabkan masalah lebih besar lagi. Lebih
baik jalin hubungan baik dengan senior di perusahaan Anda, tetapi diluar rantai
komando (beda department/divisi). Mereka biasanya akan lebih obyektif .
6. Jika Boss menyerang Anda secara tidak rasional, minta dia untuk menjelaskan
ulang. Ini akan membantu Boss Anda untuk bisa memahami kekurangan dalam
argumennya atau mungkin mendapat pemahaman lain dari sudut pandang anda.
8. Berbicara dengan teman dan rekan di tempat kerja. Cari tahu apakah mereka
menerima perlakuan yang sama dan apakah mereka setuju bahwa itu tidak adil. Hal
ini berguna untuk mengetahui apakah hal ini berlaku kepada anda secara khusus
atau bos berlaku tidak adil kepada semua orang.
9. Jangan bawa pekerjaan pulang. Ingat, boss anda hanya membayar waktu bekerja
anda di kantor, bukan di rumah. Mereka tidak memiliki hak atas waktu senggang
Anda di rumah.
Tetap Semangat!!
Rosa S Rustam (Ocha)
biz-and-career-only-at
http://www.indoentrepreneur.com
PS: Buat rekan-rekan yang mau sharing atau sekedar say hello, kontak langsung
yaa ke ocha@... atau di http://www.facebook.com/ochafelix
Saya selalu mengikuti Mas Leo di FB, dan semuanya bagus dan menarik. Sedikit bertanya: bagaimana dengan adanya badan jasad, badan jiwa, badan rasa... kalau dihubungkan dengan konsep ke-Tuhanan seperti yg ada dalam bahasan Mas Leo ?
J = Yg anda maksud sebagai jasad, jiwa dan rasa adalah tubuh, jiwa, dan roh. Spirit, soul and body. Soma, psyche dan pneuma.
Itu pengertian yg berasal dari filsafat Yunani kuno dan dibajak oleh para pemikir Nasrani. Lalu dijadikan sebagai bagian dari agama, pedahal asalnya dari filsafat. Nasrani berkembang di dunia Yunani. Bahkan setelah sampai ke kota Roma, pemikiran yg digunakan tetap yg berasal dari Yunani. Yunani itu marak dengan berbagai filsafat, dan yg paling populer adalah pengertian bahwa manusia terdiri dari jasad, jiwa dan rasa. Tubuh, jiwa dan roh.
Pengertian Nasrani itu lalu dibajak lagi oleh Islam. Islam dulu
berkembang di alam pemikiran Yunani pula, jadi bisa dimaklumi kalau Islam akhirnya membajak pemikiran Yunani yg sudah diadaptasi menjadi bagian dari agama Nasrani itu. Sekarang kita bisa mendengar khotbah-khotbah yg merendahkan tubuh dan menaikkan roh, tentang bagaimana manusia bisa kultivasi kerohanian dengan menjauhi keduniawian. Ini semua asalnya dari pengertian tubuh, jiwa dan roh... yg aslinya berasal dari filsafat Yunani.
Menurut pengertian aslinya dari Yunani kuno, semua manusia memiliki tubuh, jiwa dan roh. Semuanya ada tanpa kecuali. Tubuh adalah yg bisa merasakan segala sensasi panca indra. Jiwa adalah tempat segala macam belief systems, kepercayaan, hubungan antara manusia dengan hal-hal yg dirasanya bermanfaat atau penting, emosi-emosi. Dan roh adalah tempat di mana kesadaran kita berada. Kita sadar bahwa kita sadar. Just that.
Saya sendiri agak risih menggunakan istilah dari anda: jasad, jiwa, dan rasa. Menurut saya seharusnya
diterjemahkan sebagai tubuh, jiwa dan roh. Bahasa Inggrisnya: body, soul, and spirit... Kenapa saya risih ? Karena rasa itu artinya sensasi, sedangkan roh itu tidak merasakan sensasi apapun. Roh cuma sadar bahwa dirinya sadar. Kita cuma sadar bahwa kita sadar. Sadar is conscious. Conscious that it is conscious. Aware that it is aware if being conscious. Isi kesadarannya itu sendiri seperti apa termasuk bagian dari jiwa.
Jadi yg dimaksud jiwa adalah berbagai hal yg orang ngotot untuk percayai, termasuk di sini percaya ada Tuhan yg memberikan syariat untuk anda laksanakan supaya bisa masuk Sorga. Kepercayaan bahwa tubuh wanita harus dibungkus dan tidak boleh dipertontonkan. Kepercayaan bahwa anak lelaki harus disunat. Kepercayaan bahwa Allah mau kita berhubungan sex dengan lawan jenis dan bukan dengan sesama jenis. Ini semuanya merupakan bagian dari jiwa, dan bukan spirit.
Dengan kata lain, segala kepercayaan yg kita anut itu merupakan
bagian pertengahan dari spiritualitas kita. Bagian pertengahan artinya bagian yg akan kita buang kalau kita sudah bisa mencapai pengertian tertinggi. Tertinggi itu spirit di mana kita tidak akan perduli lagi mau telanjang di depan orang yg bukan muhrim. Orang-orang Barat itu banyak yg sudah mencapai pengertian tertinggi sehingga wanitanya tidak malu untuk pakai bikini di depan semua orang. Mereka tahu bahwa yg dipamerkan hanyalah tubuh belaka, dan karena telah mencapai pengertian tertinggi akhirnya mereka merasa tidak perlu ngotot dengan sumpah serapah bahwa benar ada Allah yg bilang bahwa tubuh bugil hanya khusus untuk muhrim sendiri.
Sumpah serapah yg dikeluarkan oleh orang-orang agama itu asalnya dari jiwa dan bukan dari spirit atau roh. Ini bagian pertengahan di mana kita bisa turun ke kebinatangan belaka atau naik ke kerohanian asli yg terakhir dan sempurna. Terakhir dan sempurna walaupun bukan dari Arab, melainkan dari Yunani kuno. Yunani
kuno juga berhak untuk bilang terakhir dan sempurna, by the way, walaupun akhirnya gelar itu direbut oleh orang Arab. Dan bahkan sekarang sudah direbut lagi oleh Sigmund Freud dan berbagai nabi-nabi modern lainnya, termasuk Karl Marx. Dua orang Yahudi ini adalah nabi asli yg terakhir dan sempurna. Asli karena Yahudi. Terakhir dan sempurna karena mereka adanya di abad ke 19 Masehi. Paling akhir dibandingkan dengan para nabi Yahudi sebelumnya.
Tetapi tentu saja mereka yg sudah membajak filsafat Yunani kuno tentang tubuh, jiwa dan roh tidak akan mau kalah. Agama Nasrani dan Islam sudah memberikan cap mereka kepada filsafat itu, plus menambahkan kata Allah di sana. Pedahal aslinya filsafat thok, dan sama sekali tidak ada Allah. Tetapi Nasrani bilang bahwa Allah ada di dalam spirit. Islam bilang bahwa Allah berada di sana juga. Dan cara untuk mencapai spirit itu adalah dengan mempraktekkan ajaran-ajaran agama. Pedahal aslinya segalanya yg berada di
bagian tengah atau jiwa itu harusnya untuk dibuang. Untuk dikenal, dipakai dan akhirnya dibuang.
Yg akhirnya harus dibuang saja, atau at least dianggap biasa-biasa saja serta tidak terakhir dan sempurna adalah segala macam kepercayaan yg kita sebut sebagai agama, tradisi, hubungan antar manusia. Semuanya ini kalau dikultivasi sampai membludak habis akan membawa emosi-emosi. Emosi gembira ria ketika mengumandangkan takbir. Allahuakbar ! ... Tetapi takbir itu adanya di dalam jiwa, dan bukan di dalam spirit. Takbir hanya untuk latihan agar orang sadar bahwa dirinya berharga, dan bukan cuma seonggok daging belaka yg tidak berhak protes ketika suaminya menikah lagi.
Sangat disayangkan, yg akhirnya terjadi justru sebaliknya. Agama Nasrani dan Islam justru akhirnya men-Tuhankan jiwa. Tubuh dan jiwa menjadi Tuhan yg asli dari agama Nasrani dan Islam. Yg termasuk tubuh dan jiwa adalah keharusan mengenakan pakaian jenis tertentu. Keharusan
berpegang pada kitab yg disucikan, dan berbagai keharusan lainnya seperti harus mengucapkan syahadat dan ber-ibadat. Haram makan babi itu termasuk bagian dari tubuh dan jiwa. Puasa juga. Dan semuanya itu membawa emosi-emosi belaka. Emosi sedih dan senang.
Senang ketika Ramadhan berakhir dan bisa mulai lagi caci maki orang yg agamanya beda, for instance. Senang ketika Islam dipuji sebagai agama yg rahmatanlil alamin. Senang ketika Nasrani diakui sebagai agama yg lebih manusiawi dibandingkan Islam. Ini semuanya berada di bagian jiwa, yaitu bagian dari diri kita yg tidak membawa faedah di dalam alam keabadian. Yg abadi itu cuma spirit, roh.
Pedahal spirit atau roh itu tidak merasakan apapun, tidak mempercayai apapun. Spirit cuma diam saja, cuma sadar bahwa dirinya sadar. Spirit bahkan tidak menyembah Allah, tidak mengenal Allah, tidak mengenal apapun. Spriit bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Dia cuma tahu bahwa dia sadar thok. Cuma itu
saja. Dan segala macam sensasi yg asalnya dari tubuh maupun jiwa itu tidak akan berpengaruh baginya.
Spirit cuma akan menjadi dirinya saja, menjalani apa yg dirasanya perlu dijalani saja. Apa yg perlu dilakukan akan dilakukannya. Sebagai jiwa atau tubuh, sang spirit itu akan enjoy saja, menikmati saja. Tidak ada haram dan halal. Yg ada cuma jalan saja, menikmati saja semuanya. Dan itulah kerohanian yg tertinggi. Menjadi diri sendiri saja.
Nah, karena saya mengerti apa maksudnya jasad, jiwa dan rasa... atau yg saya sebut dengan istilah tubuh, jiwa dan roh... maka akhirnya saya akan tertawa saja melihat kelakuan orang-orang beragama yg justru bertentangan dengan pengertian aslinya. Jasad, jiwa dan rasa itu kultivasi spirit. Bisa juga diartikan sebagai "rasa"... Ini "roso" kalau dalam Bahasa Jawa. Artinya kesadaran. Sadar thok. Tanpa terpengaruh ini atau itu. Tanpa amal ibadah. Tanpa membela agama dan tradisi,... bahkan tanpa membela Allah
yg cuma terminologi yg digunakan ketika manusia masih satu-satu melangkah di jenjang bawah. Ketika kita telah sampai kepada spirit atau roh, maka segalanya dilepaskan.
Bukankah pengertian seperti itu yg telah sering saya sharing selama ini ? Kesimpulan: Manusia terdiri dari body, soul and spirit. Bisa disebut sebagai tuibuh, jiwa dan roh (pengertian Nasrani). Atau jasad, jiwa dan rasa (pengertian Islami). Yg tertinggi itu spirit atau rasa. Dalam bahasa Jawa disebut roso.
+
PERCAKAPAN 2: TAT TVAM ASI
T = You are me,
Hmm jadi inget sama konsep pemikiran tat twam asi yg dibuat oleh tua-tua aku dulu di India. Kamu adalah aku, aku adalah kamu. So what's the biggest meaning of that ? All are a part of us, and we are a part of all. Andai semua orang tau ini, there will be no problem within; peace, love and kesadaran in the world. And just fuck them who told everything is me and mine, tak ada and gak boleh ada yg
lain, yeah just fuck them...
J = Tat tvam asi, you are that.
You are that spirit. You are that roh. You are that roso. Dan that spirit itu ada di dalam diri anda, di dalam diri saya, dan di dalam diri siapa saja. Segala macam agama dan belief systems hanyalah perangkat luar yg akhirnya harus ditanggalkan ketika kita masuk dan menyadari tat tvam asi, bahwa ternyata yg disebut Tuhan atau Allah itu kesadaran kita sendiri saja.
Tetapi orang yg memegang agama tidak mau terima hal itu. Mereka takut kalau agamanya dilepaskan maka mereka akan telanjang. Pedahal yg telanjang itu yg asli. Tat tvam asi. Kita memang telanjang. We are only spirit, cuma roh. Cuma roso. Cuma kesadaran thok. Memang tidak ada apa-apa lagi di sana. Cuma sadar bahwa kita sadar. Karena kita sadar akhirnya kita akan biasa-biasa saja, menjalani apa yg bisa dijalani saja. Truth is very simple. Tat tvam asi.
Memang susah ya om jadi cuek bebek dengan orang-orang ? Emang beneran
butuh pengalaman bertahun-tahun biar bisa kayak gitu ? Kasian sayanya
donk om, keburu tuir.. He he..
J = Don't worry !
Pengalaman bertahun-tahun untuk menjadi diri sendiri cuma dibutuhkan
oleh orang-orang yg ngotot dan ngoyo ingin masuk Sorga. Kalau kita
menjadi diri sendiri saja dan enjoy everything, maka proses jatuh
bangun to stay calm in the front of verbal abuses itu cuma akan makan
waktu sebentar. Bisa cuma beberapa bulan saja.
For instance, selama beberapa bulan teman-teman anda akan kaget ketika
jilbab anda dibuka. Pedahal itu kepala anda sendiri bukan ? Dan,
seperti telah diduga, maka akan mulailah segala macam omongan jorok
dikeluarkan oleh wanita-wanita yg masih berjilbab dan mengharap masuk
Sorga. Tapi anda akan cuek saja dan bilang: Pakai jilbab panas !
Yg merasa panas mengenakan jilbab adalah anda sendiri, dan akhirnya
anda memutuskan untuk melepaskan jilbab for good. Once and for all.
Tetapi orang-orang itu tidak mau terima karena kenyamanan anda dengan
diri anda sendiri "mengancam" (dalam tanda kutip).
Mengancam siapa ? Of course mengancam orang-orang yg masih berjilbab
itu. Mereka itu kan berjilbab didasarkan kepada kepercayaan yg
"dipaksakan" (dalam tanda kutip juga). Kenapa saya tulis dalam tanda
kutip ? ... Karena walaupun sebenarnya dipaksakan, tetapi akan diakui
sebagai tidak dipaksakan. Seolah-olah itu asli dari kepercayaan yakin
hakkul yakin. Teorinya seperti itu. Pedahal cuma tekanan teman-teman
dekat yg kebetulan telah jatuh terjerambab dalam gaya pemikiran sempit.
Pemikiran sempit itu yg bilang bahwa wanita mukmin harus berjilbab.
Plus tambahan bonus bahwa kalau berjilbab seumur hidup akan diterima
oleh Allah SWT kalo mati nanti. Plus akan dapat berkat berbentuk suami
sholeh. Plus ini dan plus itu. Persis janji janji MLM.
Agama itu seperti MLM.
Jilbab itu juga MLM. Jadi, orang pertama yg berjilbab berkatnya akan
bertambah sesuai dengan berapa banyak wanita-wanita lain yg bisa
mengikuti jejaknya berjilbab ria. Pedahal most of the women itu cuma
ikut-ikutan saja. Karena lagi mode ya ikutlah. Dan itu tidak salah. Yg
salah adalah memaksakan orang yg tidak mau berjilbab untuk memakai
jilbab.
Jilbab itu pilihan. Mao dipakai bisa. Mao tidak dipakai juga bisa. Dan
isi otak manusia tidak ditentukan oleh jilbab. Apalagi
spiritualitasnya. Saya tahu bahwa banyak orang yg berjilbab memiliki
spiritualitas sangat rendah. Saya juga tahu bahwa banyak orang yg tidak
berjilbab memiliki spiritualitas sangat tinggi. Tinggi rendah
spiritualitas itu ditentukan oleh cara pandang, cara berpikir, dan
bukan oleh segala macam perangkat dan perilaku lahiriah seperti jilbab,
jenggot, sembahyang, puasa, dsb...
Nah, kalau saya ngomong terus terang seperti ini tentang suatu hal
semacam jilbab, maka so pasti akan banyak komentar. Saya ok saja karena
berkomentar merupakan HAM Kebebasan Berbicara. Tetapi kita akan bisa
melihat isi dari spiritualitas manusia yg berkomentar. Orang yg
spiritualitasnya dewasa justru akan tertawa saja mendengar pendapat
saya tentang jilbab.
Memang tidak ada apa-apanya. Kalau mau dipakai ya dipakailah, kalau
tidak mau ya tidak usahlah. Itu komentar dari orang yg dewasa secara
mental dan spiritual.
Tetapi orang yg mental dan spiritualitasnya kelas bawah akan memiliki
alasan untuk mencaci maki saya. Lha ? ... Iyalah. Bukankah mental dan
spiritual mereka kelas rendah ? Kalau kelas rendah so pasti harus
memaki-maki. Dan biasanya yg dijadikan alasan bahwa saya menghujat
ajaran Allah.
Ajaran Allah ? Sejak kapan Allah ngajar ? ... Yg maybe lebih gila lagi
akan bilang bahwa saya menghujat agama Allah. Agama Allah ? Sejak kapan
Allah punya agama ?
Tetapi inilah yg namanya masyarakat manusia. Jenjang kedewasaan mental
dan spiritual kita memang berbeda-beda. Kita plural, majemuk. Dan itu
sah saja, tidak ada salahnya. Tidak ada salahnya untuk bilang bahwa
Allah menyuruh anda berjilbab. Dan tidak ada salahnya juga untuk bilang
bahwa Allah menyuruh anda buang jilbab. Keduanya sah saja untuk
dikatakan. Cuma perbedaan konsep bukan ?
Allah sendiri, as always, akan diam seribu bahasa karena Allah juga
cuma konsep thok. Allah is a concept, jadi anda mau bilang apapun
tentang Allah akan oke saja. So, bilang saja. As simple as that. And
because kita bisa bilang apa saja about Allah, then ngapain diributin
ya gak ? Everybody is entitled to his or her own pendapat. Tidak ada yg
salah or yg benar melainkan pilihan. Kita mau pakai yg mana.
Kalau suka pakai jilbab ya pakailah. Kalau tidak suka ya tidak usah
pakailah. Dan tidak perlu ribut kalau ada orang lain yg bilang bahwa
jilbab bentuknya seperti kondom. I even think that jilbab is a symbol
of condom yg digunakan oleh para pria supaya wanita yg dioho-oho tidak
hamil. And because wanita tidak bisa pake kondom di tempat yg
semestinya which is di penis (wanita have no penis, by the way), maka
diciptakanlah jilbab untuk sedikit menghibur gundah gulana itu.
At least ada sesuatu yg dibungkus secara botak plontos dan bisa membawa
rasa aman damai karena tidak akan bocor dan mengakibatkan kehamilan,
atau masuk angin melalui kepala in case of jilbab. Tidak akan
terinfeksi oleh berbagai aliran pemikiran orang lain, secara
konkritnya, dan akan tetap terbungkus rapat dan rapi di bawah sarung.
Sarung atas dan sarung bawah gunanya seperti itu, tidak lebih dan tidak
kurang. Kondom is sarung bawah, jilbab is sarung atas. Keduanya membawa
efek nikmat tanpa harus terkena resiko terkontaminasi.
Dengan kata lain, enaknya mau tetapi tidak enaknya ogah which is oke
aja. Tidak salah bukan ? Nah,... kalau para pria hidung belang dan
hidung totol-totol bisa mengenakan kondom when having sex with women,
dan kalau para wanita yg hidungnya pakai bedak or not bisa mengenakan
jilbab untuk menaikkan citra mereka sebagai wanita yg taat beribadah,
at least theoretically, maka tentu saja anda juga akan bisa mengenakan
apapun yg anda sukai.
Anda bisa pakai pakaian rok mini yg sekarang sedang in itu. I like this
one best sebab kalau anda duduk dengan mengangkat kaki di depan saya,
saya akan very easily melihat celana dalam anda. Bisa tebak-tebakan
dengan saya what color your underwear is. Tentu saja saya akan selalu
menang, wong saya bisa lihat kok. Anda bisa pula pakai baju dengan
leher rendah sampai toket anda belahannya terlihat. Bisa pakai apapun.
Dan semuanya itu halal bagi anda. Cuma berbagai konsep pilihan bukan ?
T = Dari om, aku belajar buat ngembangin empati, katanya biar bisa
masuk ke "dunia" orang itu. Emang berhasil sih om, tapi koq malah kayak
diinjek-injek ya ?
J = Empati artinya kita mengerti apa yg dirasakan oleh orang lain tanpa
perlu bilang itu benar atau salah. Saya mengerti bahwa ada sebagian
teman yg takut melepas jilbabnya dengan alasan teman-teman kantornya
akan heboh. Saya mengerti itu, tetapi saya tidak perlu sampai harus
tergopoh-gopoh ikut ngurusin dia sampe tidak bisa tidur dan tidak bisa
memikirkan yg lain. Saya tidak perlu merasa harus ikut-ikutan pakai
jilbab juga, walaupun bisa saja kalau saya mau.
Empati means understanding thok.
Dan itu tidak berarti bahwa kita harus ikut-ikutan orang lain. Saya
empati sama orang yg puasa dengan alasan sedang mengumpulkan tabungan
buat beli tiket masuk Sorga. Saya mengerti itu, tetapi saya bilang itu
omong kosong belaka. Tetapi, pendapat saya tidak saya paksakan kepada
orang lain. Itu yg namanya empati, understanding. Tetapi tentu saja
saya akan tetap makan minum dan merokok di depan orang yg sedang
berpuasa itu.
It's my life.
Kenapa orang lain yg puasa harus menyebabkan saya kerepotan, ya gak ?
Pada pihak lain, orang berpuasa yg kampungan tetap akan minta untuk
dihormati. Untungnya jenis seperti ini sudah jarang dijumpai di
Jakarta, jadi sudah ada kemajuan. Pedahal jaman dulu waktu saya masih
kecil, mereka yg puasa minta dihormati seolah-olah orang suci. Suci
apanya ? Suci means tidak korupsi, tidak menjadi teroris, tidak bilang
agamanya terakhir dan sempurna, tidak mengharamkan pluralisme. Kalau
semuanya dilanggar maka artinya orangnya is biasa-biasa saja. No
different than you and me. Yg puasa dia sendiri kenapa kita orang
semuanya musti ikut repot, ya gak ?
T = Huuufh ! Jadi aku teriak-teriak ke Tuhan, yg kata om cuma buatan kita aja ?
J = Ya, Tuhan atawa yg lebih dikenal dengan nama Allah itu cuma buatan kita saja, konsep saja.
Anda boleh teriak-teriak kepada Allah, dan itu tidak dilarang. Mesjid
di dekat rumah saya sehari lima kali berteriak-teriak kepada Allah
dengan loudspeaker yg suaranya audzubillah. And as far as I know Allah
belom pernah menyahut tuh. Not even menyahut bahkan satu kalipun.
Makanya the mesjid berteriak-teriak terus sampe sekarang, entah sampai
kapan.
T = Jadi kita minta tolong ke diri kita sendiri gitu om ?
J = Ya, kita minta tolong ke diri kita sendiri yg lebih "tinggi" (dalam tanda kutip).
Tuhan yg asli adanya di dalam kesadaran kita sendiri saja, dan itu
tidak bisa diteriakin. Kita bisa ngomong bisik-bisik saja kayak orang
pacaran. Yg mendengar kita sendiri saja. Kita yg berbicara dan kita yg
mendengar. Ketika kita berbicara kepada diri kita sendiri, maka kita
berbicara kepada Tuhan. Tuhan itu adanya di dalam kesadaran kita
sendiri.
T = Lha, gimana caranya bisa ketolong kalo gitu ?
J = Bisa aja.
Anda bisa hidup sampai sekarang karena apa ? Karena Tuhan itu hidup
bukan ? Dan hidupnya di mana ? Di dalam kesadaran anda sendiri saja
bukan? Tuhan itu tidak seperti yg di-dakwahkan oleh orang-orang agama,
walaupun kalau mau ambil yg model begitu juga bisa saja.
Dakwah itu isinya paparan tentang konsep Tuhan, dan bukan Tuhan itu
sendiri. Tuhan sendiri adanya di dalam kesadaran tiap orang dari kita.
Baik kita beragama maupun tidak. Baik kita beragama apapun.
Kita bisa bicara apapun dengan Tuhan, dan Tuhan of course akan
menjawab. Menjawabnya juga melalui pikiran kita sendiri saja. Kita
semua adalah Tuhan yg sedang belajar menjadi manusia.
Aku merasa jenuh... menunggu tapi ga tau apa yang aku tunggu. Yang
muncul di pikiranku cuma ga percaya cerita orang tentang Tuhan, padahal
aku sendiri ga tau Tuhan tu kayak apa.
J = Sama, saya juga begitu.
Saya menunggu tapi gak tau apa yg saya tunggu. Maybe saya tunggu saat
harus say good bye to the physical world dan moksha. Moksha is a
concept doang, no different than Sorga di dalam agama-agama Semit.
Moksha adalah konsep dari jazirah India while Sorga konsep dari jazirah
Arabia. The backgrounds to such are different kinds of kehidupan yg
dialami oleh manusianya. Jazirah India is full of gemah ripah loh
jinawi, segalanya berkelimpahan sehingga ada banyak maharajahs yg very
rich. The maharajahs mempunyai banyak hamba sahaya yg gratis bisa
dipake, bispak. Mao perawan or janda gak masalah. Laki perempuan juga
no problem. Segalanya berkelimpahan.
And not only the maharajahs yg bisa berpesta pora dengan sorga duniawi
itu, melainkan orang biasa-biasa saja juga bisa. Many things are cheap.
Bisa orgasme dengan harga murah tanpa harus dikatain berzinah.
Keperawanan is nothing. Keperjakaan juga nothing. Kita bisa enjoy other
people punya genitals as much as we like kalau kita cukup mempunyai
kedudukan dan harta di India. Kalau kita yg biasa saja bisa having all
those nikmats dari Allah, apalagi para maharajahs dan their cronies, ya
gak ?
And because of that, agama yg muncul di India menjanjikan Moksha alias
bebas dari segala macam kenikmatan duniawi. Allah memuliakan manusia
bukan dengan memberikan segala kenikmatan oral dan genital, melainkan
dengan memberikan pencerahan sejati sehingga manusianya akan sadar
bahwa all those bodily sensations are mere fleeting shadows, cuma
bayangan yg bergerak-gerak saja, no different seperti ketika kita
bergerak-gerak menggoyang alat kelamin untuk mencapai klimaks. And
after that nothing.
Nothing until the sexual craving comes again. And the procedure is
repeated, which is mencari what kind of hole we'd like to use today.
And because ini di jazirah India yg bertebaran dengan perawan dan
perjaka, maka kita akan bebas menentukan. Kalau mau bisa dipake. Bispak
is the rule. Kita bisa pake yg kiri in one night, and pake yg kanan at
another night. Habis pake dibuang, just like condoms... Makanan juga
begitu, berlimpah-limpahan dengan daging ayam, kambing, babi, bebek,...
For your information, dari sinilah asal mulanya lagu potong bebek
angsa. Bebek angsa yg benernya bukan bebek melainkan soang. Angsa is
soang atawa bebek seksi yg menjadi simbol dari gadis perawan when the
angsa dipotret sedang meluncur di atas telaga bening.
Begitu yg terjadi tahun demi tahun bagi manusia yg sedang disiksa oleh
Allah di jazirah India. Disiksa bukan dengan kekurangan melainkan
dengan kelimpahan. Makanan dan minuman tidak kekurangan, dan semuanya
enak-enak. Everybody knows how delicious is masakan India... Hidup di
istana yg dibangun di areal luas tak terkira dengan tenaga kerja
murah... Pesta-pesta semalam suntuk sampe cape dan bobo berhari-hari.
Bangun bobo pesta lagi. The judul is pesta tanpa henti dengan lagu-lagu
yg even sampe sekarang terkenal di seluruh dunia, including Indonesia.
Lagu India is always top punya. Bollywood is the dewa of lagu-lagu
India yg bisa disetel sepanjang malam dan siang hari without anybody
complaining. Plus the film yg namanya apa lagi kalo bukan film India.
Nehi, nehi...
Nehi artinya no, tidak. No, I am fed up with all these "nikmats" dari
Allah. Nikmat dalam tanda kutip. Allah ternyata menghukum manusia
dengan memberikan segala macam kenikmatan duniawi sehingga the next
ejaculation rasanya hambar. Klimaks terasa seperti buka keran biasa.
Keran dibuka, air mengalir. After that, it's gone. Now and it's gone,
sampe terasa pengen stop saja semuanya. Tetapi tidak bisa... Dunia
harus berputar terus, harus nonton film India setiap hari, denger lagu
India setiap hari, makan masakan India setiap hari. Having sex dengan
perawan or perjaka India setiap hari, or even with both at the same
time. So, walaupun semuanya enak ketika kita masih muda, akhirnya
terasa hambar dan menyakitkan ketika kita sudah dewasa dan berpikir: Oh
kejamnya dikau ya Allah !
Karena pengalaman budaya yg serba berkelimpahan inilah akhirnya
spiritualitas di India mengambil bentuk asketik, yaitu penolakan segala
macam kenikmatan duniawi. Keduniawian itu ternyata tidak ada
habis-habisnya. Seperti suka sama orang yg very cute, ternyata itu juga
tidak ada habis-habisnya. Ternyata tiap kali muncul orang yg cute saya
jatuh cinta lagi dan kepengen oho oho sama dia, pedahal di Indonesia
that's impossible. Di India mungkin it's probable di masa lalu apalagi
kalo saya dari jenis beruang dan yg very cute itu dari kalangan bispak,
the lower castes, kasta rendahan. Karena hal-hal sensual itu sangat
mungkin dan begitu mudahnya di India, akhirnya para spiritualis di sana
bilang bahwa itulah Samsara atawa Neraka Dunia. Neraka bagi orang India
adalah kenikmatan oral, genital, dan audiovisual yg tidak ada
habis-habisnya. Bollywood is neraka dunia. Nehi, nehi...
Saya tidak mau lagi ya Allah. Cabutlah segala kenikmatan dunia ini yg
cuma akan membawa saya lahir kembali dan lahir kembali. Lahir untuk
menikmati lagi dan menikmati lagi. Walopun lupa syairnya, ternyata
kuncinya tetap sama. And the same song is repeated from one life time
to another life time. Dulu jadi raja, nanti jadi ratu. Dulu jadi
pedanda, nanti jadi prostitute. Semuanya itu kenikmatan yg terasa
menyiksa karena begitu sensual dan tak ada habis-habisnya. Sometimes
ada yg mempersembahkan dirinya untuk saya pake, ada kalanya saya yg
total surrender kalo orangnya ganteng dan saya suka as well as dibayar
pake dollar.
Akhirnya saya bilang: Sampai kapan ya Allah ?
Akhirnya Allah yg muncul di jazirah India menurunkan ayat-ayat.
Ayat-ayat itu turun tidak melalui Malaikat Jibril melainkan langsung ke
dalam pikiran mereka yg tercerahkan seperti Sidharta Gautama yg
sekarang kita kenal sebagai Sang Buddha. Ayat itu bilang bahwa
pencerahan sejati dari Allah hanya akan diberikan kepada mereka yg
benar-benar dimuliakan. Asli dimuliakan sehingga tidak akan lahir
kembali ke dunia kenikmatan ini. Having sex berkali-kali cuma buat
mereka yg dibenci Allah. Punya istri banyak hanya bagi mereka yg sedang
disiksa. Makan dan minum berlimpah-limpah hanya untuk mereka yg
spiritualitasnya sedang digodok sehingga sadar bahwa segalanya itu cuma
fleeting sensations. Sensasi sesaat yg tidak abadi.
Yg abadi adalah Nibbana atawa kekosongan belaka. Kosong. Hampa. Habis
tanpa ada apa-apa. Tidak ada kelahiran kembali, tidak ada lagi pesta
pora, tidak ada lagi bidadari bugil maupun cowok bispak. Semuanya itu
sudah lewat dan manusia yg tercerahkan akhirnya moksha, masuk dalam
Nibbana atau keabadian di mana bahkan Allah juga tidak ada. Tidak ada
apapun. Complete nothingness. Dan itulah keabadian, pencapaian
spiritualitas tertinggi di mana Allah dan non Allah habis. Tidak ada
apa-apa lagi. Musnah. Moksha.
Pada pihak lain, budaya di jazirah Arab yg serba kekurangan justru
bilang kebalikannya. Karena segalanya serba susah di Arab, maka
pencapaian spiritualitas tertinggi justru akan dihadiahi dengan
bidadari. Harus bidadari karena Arab itu budaya lelaki, dan wanita
harus tetap menjadi budak di dunia maupun akhirat. So, Allah akan
memberikan kehidupan yg susah dan keras kepada mereka yg dimuliakannya
di dunia ini. Dan kalau mereka mati maka akan dihadiahi dengan
kehidupan penuh kelimpahan di dalam Sorga. Penuh susu dan madu. Susu
itu bisa berasal dari bidadari maupun susu Cap Nona, it does'nt matter,
pokoknya susu. The madu bisa asli madu tawon yg diimpor dari Indonesia.
Bisa juga diproduksi di peternakan tawon yg dibangun di perbatasan
antara Sorga dan Neraka. Itu juga tidak akan menjadi masalah. Yg pasti,
mereka yg dimuliakan Allah akan memperoleh Sorga complete dengan
bidadari yg selalu perawan plus susu en madu. The bidadari harus selalu
perawan supaya always enak dipake. Habis dipake perawannya akan balik
lagi, nutup lagi, pending the next penis intrusion. Something like that.
Agama itu lahir dari budaya.
Budaya di jazirah India yg serba berkelimpahan memunculkan pengertian
bahwa spiritualitas tertinggi tercapai ketika kita bisa melepaskan diri
dari kemelekatan terhadap kenikmatan duniawi yg memang mudah sekali
untuk diperoleh. Saking mudahnya orang jadi bosen. Bosen nyanyi lagu
India sehingga akhirnya akan meninggalkan segala macam lagu dan diam
saja, expecting Allah akan mengasihani dirinya sehingga membukakan
pintu moksha di mana segala kenikmatan itu tidak akan ada lagi. Yg ada
cuma kekosongan belaka. Daripada bosen having sex every day selama
ribuan tahun lahir berkali-kali, kan lebih enak masuk ke dalam
keabadian, kekosongan, nibbana ?
Tetapi agama yg lahir dari budaya kekurangan seperti di jazirah Arabia
justru mengajarkan sebaliknya. Hidup yg susah di dunia ini tidak
sebanding dengan nikmat yg akan diberikan oleh Allah ketika kita mati
dan masuk Sorga, begitu katanya. Air jernih akan mengalir tak
henti-hentinya di Sorga bagi orang yg percaya kepada Allah, lanjutnya.
Pedahal bagi kita it's nothing. Kita kebanjiran tiap taon sehingga air
mengalir without putus is not an incentive for us to worship Allah.
Tetapi Allah tidak putus asa, masih banyak janji-janji lainnya yg
diberikannya kepada mereka yg mau bertahan hidup serba susah di Arabia.
Pokoknya mereka yg hidupnya susah sekarang akan bisa pesta pora di
Sorga. Pedahal yg pesta pora model begituan adalah orang yg sedang
disiksa oleh Allah di jazirah India.
Kok bisa berkebalikan seperti itu ?
Ya bisalah, karena namanya budaya. Agama itu hasil ciptaan budaya,
makanya isinya selalu sesuai dengan budaya di mana agama itu
dilahirkan. Agama dilahirkan oleh pemikiran manusia yg dibentuk oleh
alam sekitar. Kalau alam sekitarnya serba mewah berkelimpahan, maka
Sorga yg dijanjikan adalah kekosongan abadi. Moksha ke Nibbana artinya
menghilang dari segalanya, bahkan dari pikiran kita sendiri. Mungkin
akhirnya yg ada cuma pure existence. Sadar bahwa sadar. Dan diam saja.
Hening.
Tetapi Sorga bagi mereka yg hidup dalam kekurangan adalah tempat di
mana segala macam keduniawian akan bisa dinikmati sampai puas tanpa
akhir: Bidadari telanjang. Masakan India. Bollywood. Film Nehi Nehi.
Anything is supposed to be available bagi para ustad dan ustadzah yg
takwa menjalani agama Allah di dunia ini. Available di alam barzakh
atawa setelah meninggal dunia dan masuk Sorga.
Untungnya the ustad dan ustadzah tidak tahu bahwa Allah yg menjanjikan
segala kenikmatan dunia di dalam Sorga itu ternyata cuma hasil
pemikiran thok. Hasil budaya manusia. In this case hasil budaya manusia
di padang pasir yg serba kekurangan.
Hasil budaya manusia yg serba berkecukupan justru akan bilang bahwa
bidadari telanjang dan segala kenikmatan indrawi yg tak berkeputusan
itu is the true neraka.
T = Lagi-lagi saya down mas. Kalo lagi alone sering down.
J = Sama, saya juga gitu.
T = Sama gimana ? Sometimes I feel your trouble. And I will be honest
to say that you are the same with me, being alone. Yes we live in one
consciousness, one with all people. But I think I have different
trouble with people. I don't know what that is, I can't say about my
mind and feeling. Sejujurnya yg saya rasakan masalah yg aneh !
J = Masalah apa ? Kalo mao cerita plis cerita aja. Saya sudah dengar
segala macam cerita yg very aneh-aneh jadi tidak akan kaget lagi. But
it's up to you.
T = Entah saya merasakan hal yg kadang membuat saya muak mengetahui masa depan. Entahlah.
Aku ingin memberikan cerita. Bayangan pribadiku terlihat dalam suatu
masa, sedang berdiri dalam sebuah zaman, entah zaman apa. Melihat
banyak hal berjatuhan dan penyembahan. Hujan turun saat itu, dengan
banyak orang-orang yg sedih dan tak berkesudahan.
Aku merasakan hal lain dalam diriku sendiri, tak mungkin aku ungkapkan
dengan kata-kata. Dan seolah diriku berkata untuk menunggu waktu capai
tiba.
Daku berdiri dalam dua jalan, layaknya simbol iblis dan malaikat. Yin
dan Yang. Terang dan gelap gulita. Saya merasakan daya kemampuan
mereka. Tapi apa maksudnya. Aku bertanya kepada alam dan semesta tapi
tanpa jawaban. Pikiranku sulit dikendalikan.
Dan yg bisa saya ungkapkan di hati hanya kalimat: Help me, anybody help me and please, control my mind.
J = Anda merasa bahwa pikiran anda tidak terkontrol.
Berjalan sendiri ke suatu "masa" (dalam tanda kutip). Dan masa itu anda
artikan sebagai suatu masa depan di mana anda berdiri di suatu
persimpangan jalan. Anda bisa jalan ke kiri ataupun ke kanan.
Pikiran anda tidak bisa anda kendalikan karena anda tidak tahu dengan
pasti ada apa di jalan yg kiri, dan ada apa di jalan yg kanan. Pedahal
tidak ada apa-apa yg menakutkan.
Baik anda mengambil jalan yg kiri maupun yg kanan, anda tetap akan
menjadi diri anda sendiri saja kalau anda tidak jatuh ke dalam jebakan
yg dipasang oleh orang-orang agama.
Agama selalu bekerja dalam kesempitan, menjanjikan kedamaian batin
kalau anda mau menyerahkan pikiran anda untuk dikontrol. Sekali anda
masuk dalam jebakan agama, maka akan perlu waktu bertahun-tahun untuk
melepaskan diri darinya.
Anda akan diiming-imingi dengan tiket masuk Sorga kalau anda puasa,
kalau sembahyang lima waktu, kalau membaca kitab suci, kalau ber-zakat.
Pedahal anda cuma akan menjadi budak agama. Bukan orang bebas melainkan
budak. Budak dari orang-orang yg menempatkan diri sebagai pemuka agama.
Kalau anda merasa kesepian, at least anda akan bisa menulis apa yg
menyebabkan anda kesepian. Tulis saja ! Tulis saja ketika anda merasa
bahwa tidak ada orang yg mengerti anda walaupun pada kenyataannya semua
orang lain memang tidak akan pernah mengerti diri kita yg sesungguhnya.
Bahkan kita sendiripun tidak mengerti siapa diri kita sesungguhnya.
Ada orang yg jujur seperti saya dan bilang bahwa kita tidak akan
mengerti siapa sesungguhnya diri kita. Yg kita bisa tahu cuma kenyataan
bahwa kita sadar. Dari mana asalnya kesadaran kita tidak bisa kita
ketahui, dan akan ke mana kesadaran kita setelah tubuh fisik kita mati
juga tidak kita ketahui.
Karena cuma itu yg kita bisa tahu, akhirnya kita akan melakukan apa yg
kita bisa lakukan di sini dan saat ini saja. Untuk apa dipikirkan dari
mana datangnya kesadaran kita ? Sampai kapanpun kita tidak akan tahu.
Yg kita ingat hanyalah kejadian ketika kita masih kecil sekali, dan
tahu-tahu kita sudah masuk sekolah dan bisa berbicara. Cuma itu saja.
Kita tidak tahu akan ke mana kesadaran kita setelah kita mati. Kita
cuma tahu bahwa kita sadar, selalu sadar. Bahkan di dalam tidurpun kita
selalu sadar, walaupun umumnya kita tidak ingat apa saja yg kita lihat
ketika kita tidur.
Dan karenanya saya selalu bilang bahwa yg abadi itu kesadaran kita thok. Aware of being aware. Sadar bahwa kita sadar.
Karena kita sadar akhirnya kita akan bisa mengalami apapun yg mau dan
bisa kita alami. Pengalaman itu bisa secara fisik ketika kita sedang
terjaga. Bisa pula secara non fisik ketika kita tidur. Dan siapa bilang
bahwa apa yg kita alami ketika tidur itu bukan pengalaman, experience ?
Mereka pengalaman juga yg dialami oleh kesadaran kita. Cuma dialaminya
di alam non fisik. Di dalam pikiran kita saja.
Dan siapa bilang bahwa apa yg kita alami secara non fisik itu kurang
nilainya dibandingkan dengan pengalaman fisik ? ... Malah, kemungkinan
besar, yg kita alami secara non fisik justru bernilai lebih tinggi bagi
kejiwaan kita. Yg fisik itu datang dan pergi, sama saja seperti kita
makan minum dan having sex. Datang dan pergi begitu saja. Tetapi yg non
fisik itu abadi.
Kita ingat ada keterkaitan emosional antara kejiwaan kita dengan
hal-hal tertentu. Ternyata, kalau diurutkan, hal-hal yg dekat dengan
kita secara emosional bukanlah hal fisik melainkan abstrak belaka.
Nah, ternyata ada orang-orang yg bisa menangkap "rahasia" itu. Rahasia
dalam tanda kutip. Ternyata kita manusia ini rindu dendam untuk
diberikan segala macam santapan "rohani" (dalam tanda kutip juga).
Perlu diberikan santapan karena kita tidak percaya kepada kesadaran yg
ada di diri kita sendiri, dan karena kita selalu merasa kesepian.
Pedahal tidak ada yg perlu disantap secara rohani selain kenyamanan
diri kita sendiri which is pengertian bahwa apapun yg kita lakukan
merupakan urusan kita sendiri saja, dan bukan urusan orang lain. Dan
segala macam santapan rohani yg dijejalkan kepada kita mostly akan
selalu membuat diri kita menderita sampai kita mau menerima bahwa ada
"Allah" dan syariatnya.
Allah seharusnya ditulis dalam tanda kutip karena kalau sudah
d-syiarkan dalam bentuk ayat-ayat, atau sudah di-khotbahkan dalam
ritual ibadah bersama... itu sudah bukan Allah yg asli melainkan
buat-buatan saja. Ada yg namanya mind control atau upaya pengendalian
pikiran anda yg dilakukan oleh manusia-manusia bertopeng agama.
Agama itu kejam, anda akan diiming-imingi Sorga as well as
ditakut-takuti dengan Neraka. Anda akan jadi budak seumur hidup anda.
Sampai anda mati. Sebagian orang menerima takdir menjadi budak agama
sampai mati, dan sebagian lagi tidak.
Kalau para ulama itu khotbah tentang Sorga dan Neraka biasanya kita
akan diam saja. Dan itu bukan berarti kita lebih goblok dibandingkan
dengan mereka, melainkan karena kita memiliki sopan santun. Pedahal
kita bisa saja bilang bahwa semuanya itu bullshit, omong kosong.
Bisa saja, dan itu bukan penghinaan agama melainkan HAM Kebebasan
Berbicara. Syiar dan khotbah agama itu HAM Kebebasan Berbicara, dan
kita juga berhak untuk bilang bahwa semuanya omong kosong. Sama-sama
HAM Kebebasan Berbicara bukan ?
Dan rupanya sekarang pemerintah Indonesia sudah cukup maklum bahwa para
ulama itu harus diawasi juga ceramahnya. Kalau tidak diawasi, umat yg
mendengarkan ulama khotbah akan berpikir bahwa apa yg dikhotbahkan itu
betul. Betul bahwa Kristen itu menyembah manusia. Pedahal yg disembah
oleh Kristen bukanlah manusia melainkan konsep saja.
Sama saja seperti Islam yg juga menyembah konsep. Allah itu konsep.
Biarpun menjanjikan Sorga dan mengancam dengan Neraka, Allah itu konsep
saja. Konsep abstrak. Konsep mati dan tidak ada apa-apanya. Yg ada
apa-apanya adalah kesadaran kita. Kesadaran anda yg bisa kesepian itu,
yg bisa mengajak bicara diri anda sendiri.
Yg asli dan berfaedah itu adalah ketika anda berbicara dengan kesadaran
yg ada di diri anda sendiri, dan bukan berbicara dengan "Allah". Allah
itu konsep, sedangkan kesadaran anda bukan konsep. Anda sadar karena
anda sadar. Itu real. The only real thing in your life.
Barusan saya lihat wajah ketua MUI di TV yg protes atas dilakukannya
pengawasan oleh kepolisian atas ceramah-ceramah yg dilakukan para
ulama. Tentu saja dia protes karena dia mau menjual konsep "Allah". Dan
konsep Allah yg ditawarkan oleh MUI dan para ulama itu tentu saja harus
nyerempet "terorisme" (dalam tanda kutip juga). Terorisme bisa berupa
teror fisik seperti peledakan bom. Bisa pula berupa teror mental dengan
bilang bahwa Islam itu agama terakhir dan sempurna sehingga agama-agama
lainnya statusnya lebih rendah. Itu inti dari ajaran Islam yg dijual di
ceramah-ceramah agama. Maksudnya supaya mereka yg memeluk Islam menjadi
PD dan tidak kesepian lagi.
Tetapi itu kan cuma isapan jempol saja.
Walaupun sudah dewasa ternyata banyak dari kita masih seperti anak
kecil yg mau percaya saja segala bohong-bohongan itu. Mau saja terima
bahwa kalau puasa akan mengumpulkan pahala sehingga nanti akan masuk
Sorga. That's nonsense. Omong kosong. Yg bukan nonsense adalah fakta
bahwa puasa diciptakan oleh pemuka agama agar kita bisa menjadi manusia
yg bisa disetir. Bisa disuruh semakin lama semakin takwa, semakin patuh
pada ulama, semakin menurut pada suami yg bebas kawin lagi. Semakin
rajin bayar zakat. Semakin lama semakin tidak menjadi diri sendiri.
Jalan menjadi diri sendiri memang jalan yg "sepi" (sekali lagi dalam tanda kutip).
Tetapi ini jalan yg benar-benar memberikan kita kesempatan untuk
menjadi manusia yg utuh. Yg bisa berpikir bagi diri kita sendiri tanpa
memperdulikan segala macam memedi yg disodorkan oleh agama maupun
budaya. Kita tahu bahwa kita manusia bebas, dan apapun yg kita pilih
merupakan HAM yg ada di diri kita. Tetapi jalannya memang sepi karena
tidak ada janji di situ.
Yg ada adalah kemungkinan-kemungkinan.
Kalau saya diam saja, kemungkinan yg terjadi adalah saya tidak akan
kemana-mana, saya akan tetap di sini-sini saja. Kalau saya bicara,
akhirnya saya akan diminta untuk berbicara terus. Kalau saya berbicara
terus, akhirnya banyak orang akan terbantu. Dan orang-orang yg terbantu
itu akan bisa membantu orang-orang lainnya lagi. Itu saja.
Tetapi kesepian awal yg ada di diri saya tentu saja akan tetap ada.
That's the loneliness of God. Memang ada dan akan selalu ada. Anda
adalah salah satu pucuk dari kesadaran universal dan abadi yg kita
sebut sebagai God. Ini Allah yg asli. Dan memang selalu kesepian
sehingga harus selalu kreatif menciptakan dan menciptakan. Apapun bisa
diciptakan oleh kesadaran kita. Selalu seperti itu sepanjang masa.
Orang yang menghujat mas itu lucu bin aneh ya ? Jadi temen di FB tapi nyela terus kerjaannya. Kayak orang bingung.
J = Biarin aja, urusan orang.
As a matter of fact, kita bisa melakukan analisa terhadap berbagai
tantangan kejiwaan yg dihadapi oleh berbagai manusia. Bisa melakukan
penelitian juga dengan samples yg berasal dari berbagai komentar orang
di notes saya di facebook.
Saya ini kan konselor bagi orang-orang bingung, jadi saya bisa tahu apa
yg membebani orang dan bagaimana solusinya. Tetapi tentu saja hal itu
tidak bisa saya tuliskan begitu saja kalau orangnya sendiri tidak
meminta. Lagipula, notes saya di facebook isinya topik yg umum, yg bisa
membantu kemaslahatan orang banyak. Jadinya seringkali saya tidak bisa
menukik as well as menyungsep ke dalam heart of the matter yg paling
relevan bagi tiap orang.
Kalau orangnya bertanya langsung kepada saya straight to the point, dan
saya merasa bahwa orangnya sudah siap to confront the truth, saya juga
akan bisa bilang: ini lho masalahnya which is your own frame of mind.
Frame of mind kita berubah terus. Ada yg namanya persepsi atau cara
pandang, dan itu berubah terus walaupun biasanya orang akan bersumpah
kerak keruk bahwa dirinya tidak akan berubah sampai mati karena sudah
memegang segala macam janji dari Allah. Nah, kalau kita bertemu dengan
orang seperti itu, kita akan tahu bahwa orangnya sedang berusaha untuk
meyakinkan dirinya sendiri saja.
Yg ingin dia yakinkan bukanlah orang lain melainkan dirinya sendiri
saja. Kenapa dia harus meyakinkan dirinya ? Karena dia melihat dengan
mata kepalanya sendiri bahwa ada banyak orang lain yg memiliki frame of
mind berbeda ternyata bisa jalan, dan bahkan jalannya lebih oke.
Nah, orang ini lalu merasa dirinya "tertantang" (dalam tanda kutip)
untuk membuktikan bahwa keyakinannya itu benar. Caranya bisa dengan
memaki orang lain yg berbeda pandangan, bisa dengan memasukkan
kepalanya ke dalam lobang pasir seperti burung onta.
For your information, burung onta ini hibrida antara burung dan onta,
jadi kelakuannya sedikit beda dibandingkan dengan onta yg hidup di
Arab. Burung onta adalah onta yg dikawinkan dengan burung. Dengan kata
lain, mereka yg sifatnya seperti burung onta adalah orang yg dibesarkan
dengan pemikiran Arab (onta) tetapi diajarkan di sekolah untuk berpikir
rasional seperti orang Barat (burung).
In the end jadilah burung onta yg, kalau saya tidak salah, suka
bermunculan juga di notes saya memberikan komentar sambil
menyembunyikan kepala mereka di dalam lubang pasir. Is that good, or is
that bad ? Neither. Saya tidak menghakimi orang.
Menurut saya mereka orang biasa saja walaupun mereka bertahan dengan
pendapatnya bahwa kita semua harus menjadi seperti onta. Pedahal dia
sendiri juga sudah bukan onta asli melainkan hibrida antara burung dan
onta. Makanya namanya burung onta.
T = Mas Leo inget ga saya pernah nanya, gimana caranya bisa cuek kayak
Mas Leo ? Seperti feel free bilang agnostik, kata mas kan itu semua
melalui proses puluhan taun.
J = Saya bisa cuek karena saya tahu bahwa semua manusia itu berproses.
Ada proses jatuh bangun, dan ketika sedang berada di tengah proses itu,
ketika lagi hot-hotnya bersetubuh dengan pikirannya sendiri, maka
orangnya akan tampil seperti orang kalap. Pokoknya harus jalan terus,
naik turun terus, oho oho terus.
Nah, kalau kita tidak mengerti kita akan bingung juga melihat orang itu
memaki-maki. Pedahal orang itu sedang merasakan kenikmatan. Nikmat
merasakan bahwa dirinya itu hidup. Hidup dan bergerak-gerak sampai
akhirnya dia mencapai klimaks. Begitu berulang kali.
Dan sebelum mencapai klimaks kita akan menyaksikan keluarnya
ucapan-ucapan yg terlihat agak menyeramkan. Seperti memuja muji tetapi
seperti memaki juga. Ada yg mendesis kayak ular cobra, dan bisa
mematuk-matuk juga seperti ayam.
But all these weird behaviors are for the person only. Cuma untuk diri
dia sendiri saja menyalurkan hormonnya. Dan itu bisa dilakukannya
bersama dengan orang lain, muhrim or not, bisa juga dilakukannya
seorang diri saja.
Dialog dengan diri sendiri seperti itu analoginya. Dialog dengan Allah
juga seperti itu, seperti menggosok-gosokkan our genital to Allah's
genital. Pedahal yg ada cuma genital kita sendiri saja, dan Allah itu
none other than our own syaraf. In this case syaraf genital kita yg
sangat sensitif. Dan itulah asal muasalnya sehingga kita bilang bahwa
Allah Maha Sensitif.
Allah Maha Sensitif tidak boleh disinggung karena kalo disinggung bisa mekar.
Kita bisa bayangkan bahwa Allah adalah yg memberikan kita segala
kenikmatan sentitit itu, pedahal yg ada cuma syaraf kita sendiri saja
dan, lagi pula, siapa tahu ternyata Allah itu jenis kelaminnya sama
dengan diri kita sehingga tanpa kita sadari ternyata kita telah
melakukan hubungan sejenis or homosex. Pedahal neither homo nor hetero,
melainkan masturbasi antara kita dan bayangan kita tentang Allah.
Lalu kita syiar apa pendapat kita tentang Allah yg kita peroleh ketika
kita bermasturbasi. Kita bilang bahwa Allah harus dicubit-cubit baru
bisa bereaksi karena dia itu frigid. Ada yg bilang musti dicupang dulu.
Ada yg bilang musti main oral. Other persons might say bahwa cukup diam
saja dengan sikap ikhlas dan pasrah sampai Allah berkenan datang dalam
suatu mimpi basah yg bisa juga dibilang sebagai malam yg penuh rahmat.
Lailatul something.
Tapi ini semuanya berasal dari imajinasi kita sendiri saja bukan ? Dan
karena saya tahu bahwa semua orang berimajinasi, dan berhak untuk
mengungkapkan hasil imajinasinya itu, dan juga berhak untuk bilang
bahwa imajinasi orang lain kurang oke dibandingkan dengan imajinasi
dirinya,... akhirnya saya bisa menerima segalanya. Segala hasil
imajinasi itu valid. Sama validnya seperti burung onta yg
menyembunyikan kepalanya di dalam pasir sambil mengkhayal sedang oho
oho sama Allah karena selama ini sudah berusaha untuk menjadi onta yg
baik walopun bentuknya burung.
T = Whedeew ! Trus, dulu gimana rasanya mas saat-saat pertama dihujatin
orang-orang, sempet sebel dan marah juga ga mas ? Boleh ngga saya tau
pengalamannya Mas Leo ?
J = Karena saya juga berproses, saya juga sempat marah-marah dulu waktu
saya masih kecil sekali. Untungnya saya cepat sadar karena Malaikat
Jibril datang tergopoh-gopoh membawa SMS dari Allah untuk saya. Isinya
tulisan dalam bahasa Arab yg saya tidak mengerti. Allah dari Arab kata
Jibril, makanya harus begitu tulisannya. Tapi the SMS dari Allah saya
kembalikan. Saya bilang: I don't need Allah yg dari Arab. Kalo bener
Tuhan, maka harus bicara langsung ke dalam kesadaran saya.
Akhirnya petunjuk dari Allah yg asli muncul di kesadaran saya. Saya
langsung mengerti bahwa tiap orang menjalani prosesnya masing-masing.
Ada jatuh bangun. Ada masa-masa di mana orangnya memaki-maki. Ada
perhentian-perhentian. Ada orang yg bertahan di syariat. Ada yg sampai
hakekat. Ada yg makrifat. Ada yg pakai alat bantu berupa ayat ayat
Tuhan. Ada yg pakai ayat ayat Setan.
Tapi saya akan biasa-biasa saja karena saya tahu bahwa semuanya adalah
pilihan bagi manusianya sendiri. Ada manusia yg mau bertahan di level
SD, ada yg mau masuk SMP. Ada yg sudah SMA tapi kembali lagi ke TK. Dan
ini semua sah saja, valid saja, karena berlaku bagi manusianya sendiri.
Saya sendiri tidak apa-apa. I am an observer of life changing forms.
Kesadaran yg berubah dari bentuk satu ke bentuk lainnya. Yg saya pegang
cuma kesadaran thok. Saya tahu bahwa bentuk yg bermacam-macam itu
semuanya valid bagi orangnya sendiri. And that's the true meaning of
pluralism. Pluralisme yg diharamkan oleh MUI itu.
Pluralisme mengakui bahwa segalanya valid bagi manusianya sendiri.
Tetapi MUI bilang bahwa yg valid hanyalah kelakuan para burung yg
berusaha untuk menjadi onta.
Saya lagi muak nih sama 'atmosfir' sekarang yang dengan mudahnya orang
bicara/ menulis mohon maaf lahir-bathin (most of them very shallow to
me). Kenapa mereka bisa berpikir kalo segala kesalahan mereka terhadap
sesama manusia ataupun terhadap mahluk hidup lainnya bisa otomatis
terhapuskan simply karena mereka akan melakukan ibadah tertentu ?
J = Biarin aja, urusan orang.
T = Orang ini terpuruk Mas Leo, and the saddest part is, mereka sudah
merasa cukup ! I've been there and I know how it felt like, dulupun aku
pernah merasakan hidup as a 'hamba'. Menjalankan perintahNya, menjauhi
laranganNya. Sampai akhirnya saya menyadari, beberapa perintahNya
menyakiti perasaan orang yang berbeda, orang yang memilikiNya yang
berbeda, dengan satu set perintah dan larangan yang berbeda pula.
J = Kalau sudah sadar artinya bagus, and then ?
T = I'm also sick of reading comments from your notes di facebook yang mostly
isinya kopian dari textbook, ajakan untuk dialog lintas-agama, mencoba
untuk membenarkan, etc.
Ini dialog di dalam diri orang itu sendiri. Kalau orangnya sudah sadar,
maka akan terlihat di tulisannya. Kalau orangnya masih terbutakan, itu
juga akan terlihat di tulisannya. Mereka melakukan dialog dengan diri
mereka sendiri saja, dengan persepsi (cara pandang) mereka sendiri.
Persepsi orang selalu bergerak dalam proses. Dari tidak oke menjadi
lebih oke. Dari lebih oke menjadi paling oke. Yg paling oke itu yg
tidak perduli lagi orang lain mau berpendapat apapun. Pendapat apapun
merupakan pendapat thok. Dan itu adanya di dalam pikiran orang lain,
dan bukan di dalam pikiran kita. Pikiran orang, persepsi orang, hidup
orang,... semuanya ada di luar diri kita. Dan tidak ada hubungannya
dengan kita.
So, apapun yg mau orang lain bilang tentang kita merupakan "milik"
(dalam tanda kutip). Milik orang itu sendiri dan bukan milik kita.
Kalau miliknya itu isinya pendapat klise, ya biar sajalah. Itu hidupnya
sendiri bukan ? Kalau ternyata pendapat klise itu nyaman bagi orangnya,
biar sajalah. Kalau orang itu tidak nyaman dengan pendapatnya sendiri,
dan akhirnya memaki-maki di notes saya, itupun sebaiknya dibiarkan
saja. Yg dia maki-maki adalah "saya" (dalam tanda kutip).
Tetapi apakah saya yg dia maki adalah saya sebagai saya sendiri ? Tentu
saja bukan. Yg dia maki adalah saya yg ada di dalam pikiran dia.
Persepsi dia sendiri saja. Dan tiap orang bisa mempersepsikan apapun
tentang diri saya. Itu termasuk HAM juga, namanya HAM Kebebasan
Berpikir.
Orang bebas berpikir apapun tentang saya dan mengekspresikannya melalui
ucapan dan tulisan, namanya HAM Kebebasan Berpendapat. Saya sama sekali
tidak keberatan karena saya tahu bahwa apapun yg orang pikir tentang
saya merupakan persepsi yg ada di dirinya. Jadi, seperti orang itu
melakukan "dialog" (dalam tanda kutip) dengan saya.
Pedahal yg dilakukannya cuma dialog antara orang itu dengan dirinya
sendiri. Orang itu berdialog dengan kesadaran di dirinya sendiri
menggunakan saya sebagai simbol. Seolah-olah saya yg diajak berbicara,
pedahal dia cuma berbicara dengan dirinya sendiri saja. Makanya bisa
ada komentar yg memuja-muji setinggi langit, bisa ada komentar yg
bernada misterius, seperti melecehkan tapi saya tahu sebenarnya
mengungkapkan kekaguman juga. Ada yg vulgar memaki seolah-olah saya
menginjak ekornya terus dan tidak saya lepaskan dari kemarin.
Pedahal saya tidak merasa berdialog dengan siapapun.
Mereka itu berdialog dengan "saya" yg ada di dalam imajinasi mereka.
Dan itu sah saja, valid saja. Sama saja seperti mereka melakukan
"dialog" (dalam tanda kutip) dengan Allah.
Kita bisa puja-puji as well as memaki Allah bukan ? Pedahal Allah yg
kita puja-puji dan maki-maki itu cuma simbol saja, sesuatu yg kita
anggap ada, pedahal cuma merupakan figment dari imajinasi kita saja.
Proyeksi dari pikiran kita saja. Kita bisa proyeksikan sesuatu dari
pikiran kita dan kita sebut itu "Allah" yg lalu kita ajak berdialog.
Anda juga bisa memproyeksikan sesuatu di dalam pikiran anda ke suatu
obyek yg anda sebut "Mas Leo" (dalam tanda kutip). Pedahal itu cuma
proyeksi dari kesadaran anda yg bisa anda ajak berdialog dengan penuh
kagum ataupun anda caci maki.
Allah seperti itu bagi anda. Saya juga seperti itu bagi anda. Allah dan saya adalah proyeksi dari pikiran anda saja.
T = Is it true Mas Leo, after 2012 there will be a world without religion ? Cause that would be heaven to me...
J = No, there will even be many more religions after 2012.
Bahkan akan ada lebih banyak lagi agama setelah tahun 2012. Sekarang
saja agama sudah tidak terhitung banyaknya. Setiap orang sedikit banyak
memiliki agama pribadi, apa yg benar diyakini dan dijalaninya. Dan
agama pribadi ini tidak perlu di-syiarkan dan di-khotbahkan. Kita semua
memilikinya bukan ? Dan kita nabi as well as Allah dari agama pribadi
kita. Umatnya juga cuma satu, yaitu diri kita sendiri. Kita menjadi
Allah, nabi dan umat dari agama pribadi kita.
Dan dari saat ke saat kita melakukan reformasi di dalam agama pribadi
kita. Kalau tadinya kita ikut cuap-cuap seperti radio rusak, maka
akhirnya kita akan mulai berpikir sendiri. In the end kita akan
mengambil kesimpulan bahwa memang benar segalanya merupakan buatan
pikiran kita saja. Buatan pikiran manusia.
Akhirnya kita akan menyadari juga setelah jatuh bangun puluhan tahun.
Kita akan menyadari bahwa ternyata Allah yg kita sembah itu cuma
figment dari imajinasi di diri manusia-manusia yg hidup sebelum kita.
Kita akan tahu dengan pasti karena Allah yg ada di dalam pikiran kita
juga cuma figment dari imajinasi kita saja. Ciptaan pikiran kita.
Segala asma Allah itu apa kalau bukan hasil olah pikir manusia ? Segala
syariat agama, haram halal, larangan dan kewajiban,... itu semua apa
kalau bukan hasil olah pikir manusia juga ? Dan Allah yg selalu namanya
dicantumkan ternyata memang cuma simbol dari sesuatu yg kita konsepkan
di dalam pikiran kita.
Tetapi ini semuanya proses. Ada yg dalam usia belasan tahun sudah bisa
mencapai pengertian seperti itu, dan ada juga yg sudah puluhan tahun
mempraktekkan amal ibadah tetapi masih belum bisa melihat essensi dari
semuanya itu. Ada yg sampai mati percaya bahwa benar ada Allah, pedahal
itu cuma proyeksi dari pikiran kita saja.
Yg mutlak dan abadi itu kesadaran di dalam diri kita dan bukan segala
macam ajaran agama dan Allah-nya. Tetapi untuk mencapai pengertian ini
tentu saja tidak instant. Dan kalau prosesnya harus dilalui melalui
acara caci maki, ya laluilah. Caci makilah orang-orang lain yg
berpendapat berbeda karena anda diajarkan untuk membela agama dengan
cara mencaci maki orang lain. Cara itu sah saja, namanya HAM juga. HAM
untuk mencaci-maki orang lain yg berbeda pendapat. Tetapi sebenarnya,
yg dicaci-maki bukanlah orang lain, melainkan bagian dari kesadaran di
diri orang itu sendiri.
Ada bagian dari kesadarannya yg tahu bahwa agamanya itu seperti
rekayasa belaka. Tetapi orangnya diajar untuk tidak bertanya dan tidak
berpikir. Dan ketika ada orang lain yg memperlihatkan bahwa agamanya
itu ternyata benar rekayasa, maka orang itu merasa memiliki kesempatan
untuk meyakinkan dirinya sekali lagi. Caranya bisa dengan memaki.
Tetapi yg dimakinya sebenarnya cuma dirinya sendiri saja. Dirinya
sendiri yg meragukan ajaran agamanya.
Dan tahun-tahun akan berlalu sampai sedikit demi sedikit orangnya akan
menyadari bahwa apa yg dipraktekkan dan dipercayainya semasa muda
ternyata isapan jempol belaka. Amal dan ibadah kepada siapa ? Kepada
Allah ? ... Ini semua akhirnya akan disadarinya sebagai isapan jempol.
Tapi itu nanti.
T = Trus mas, aren't you tired of being an online messiah ? Karena pola
pikir society di sini sangatlah 'Semit-Javanic'. Orang selalu mencari
something to worship or at least somebody to lead. Sehingga in case
something goes wrong, mereka bisa murtad/ mencaci pemimpinnya.
J = Am I an online messiah ?
As far as I know everybody is a messiah. You are a messiah too, an
almasih. Everybody reading this is a messiah. Kalau belum menyadarinya,
maka hal itu tidak akan membatalkan ke-messias-an dirinya. Even a
messiah needs time to realize his / her messiahship, ke-almasih-an
dirinya.
Almasih is Ratu Adil. Bukan Isa AS yg akan datang pada hari kiamat,
melainkan anda sendiri yg menyadari bahwa ternyata Isa AS itu diri anda
sendiri. Dan anda cuma bisa menyadarinya di sini dan saat ini saja.
Bukan di hari kiamat nanti melainkan di sini dan saat ini. Here and now.
Lately, saya selalu menunggu notes anda muncul. Bila sehari tidak ada saya kangen berat gitu. Rasanya something happens in my mind after reading your notes. Mirip racun yg menetralkan keracunan saya akan konsep-konsep ketuhanan.
Btw, beberapa notes anda sepertinya hanya menghajar mereka yg terperangkap kuasa gurun pasir. Ok sih, tetapi bagaimana dengan mereka yg tercengkeram kuasa gelap lainnya semisal kuasa sungai Gangga, kuasa Roma, kuasa Barat dll ? Berikan mereka pukulan yg sama kerasnya biar ego mereka tidak tumbuh karena senang lawan mereka (kuasa gurun pasir) ditelanjangi habis-habisan oleh notes anda.
J = Kuasa gurun pasir sedikit banyak mencengkeram kita semua, termasuk saya juga.
Can you believe it, masa saya sampai pernah percaya bahwa berpuasa itu ibadah ? Pedahal ibadah kepada siapa ? Kepada Allah? While, as a matter of fact, puasa berkala
memang baik bagi kesehatan kita. Dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama kecuali bagi mereka yg masih mau pikirannya tergantung kepada perkataan para ulama.
Ulama bilang pahala kita bertambah kalau kita puasa di bulan Ramadhan. Pahala kita bertambah kalau kita sembahyang. Pahala kita bertambah kalau kita berderma. In the end, kita seperti ngumpulin pahala buat masuk Surga. Pahala is tabungan buat beli tiket masuk Surga.
Tapi akhirnya saya sadar bahwa ternyata saya dibohongi. Ternyata itu semua akal-akalan dari institusi agama dan perangkatnya berupa belief systems. Gurun pasir is agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Dan bukan cuma Islam saja. Agama-agama Timur Tengah boleh bilang semuanya agama gurun pasir. Semuanya aslinya mengharamkan babi dan mewajibkan sunat. Yahudi, Nasrani awal dan Islam sama-sama mengharamkan babi dan mewajibkan sunat bagi pria dengan alasan Allah yg suruh. Pedahal Allah bisa berubah pikiran
juga.
Kalau kita berubah pikiran maka Allah berubah pikiran.
Contoh: Daging babi yg aslinya haram buat orang Yahudi akhirnya menjadi halal buat pengikut Nasrani. Pedahal ayat yg bilang babi itu haram jadah masih ada di kitab suci yg digunakan oleh orang Nasrani juga. Adanya di dalam hukum-hukum yg dikenal sebagai Taurat Musa. Musa ini seorang tokoh mitologis yg dipercaya memberikan hukum-hukum dari Allah untuk bangsa Yahudi.
Tetapi ribuan tahun setelah Musa menutup mata, seorang murid Yesus yg bernama Petrus tiba-tiba tertidur setelah sembahyang lohor. Tertidurnya di atap rumah di Palestina. Dalam mimpinya dia melihat ada berbagai macam hewan yg diharamkan oleh Allah dibawa turun ke hadapannya di atas selembar kain yg dibentangkan. Presumably ada juga hewan babi yg status up to date-nya haram jadah saat itu. Lalu Petrus mendengar suara yg bilang something like:
"Apa yg telah diciptakan Allah halal untuk dimakan."
Dan
itulah asal-usulnya sehingga babi menjadi salah satu menu santapan orang Nasrani sampai sekarang. Jadi, Allah bisa berubah pikiran juga. Apa yg Allah bilang kepada Musa kemudian dicabut lagi oleh sang Allah. Allah muncul kepada Musa dalam penglihatan atau pemikiran, dan Allah muncul di Petrus berupa suara: Makanlah !
Sunat yg diwajibkan oleh Allah juga akhirnya dianulir sendiri. Oleh Allah juga. In this case Allah berbicara melalui sekumpulan orang yg berembuk di Yerusalem tentang status titit orang-orang yg percaya kepada Yesus dan tidak disunat. Tidak disunat karena mereka bukan orang Yahudi. Pedahal Yesus itu Yahudi dan his titit disunat. Akhirnya dirembukkanlah issue sunat or not, dan ternyata berhasil dicapai kesepakatan bahwa hukum potong ujung penis tidak berlaku bagi pengikut Yesus yg bukan orang Yahudi. Dua contoh di atas memperlihatkan bahwa apa yg kita bilang Allah suruh ini atau suruh itu merupakan sesuatu yg munculnya di dalam
pikiran kita saja. Konsep saja.
Penglihatan yg dialami oleh Musa akhirnya ditulis. Ditulisnya ratusan tahun setelah Musa hidup. Kita sendiri tidak bisa membuktikan secara pasti bahwa Musa benar ada. Kemungkinan Musa cuma seorang tokoh mitologis saja yg dipercaya oleh suku-suku Ibrani sebagai orang yg membawa hukum-hukum dari Allah. Dan kepercayaan semacam itu sah saja.
Agama selalu bekerja seperti itu; bermula dari adanya orang-orang tertentu yg menciptakan mitos. Mitos bisa berupa datangnya malaikat Jibril membawa pesan dari Allah Remotullah. Bisa berupa Yesus yg mengaku sebagai anak dari Allah. Semuanya mitos belaka dan tidak ada salahnya.
Yg salah kalau kita tercengkeram oleh "kuasa gurun pasir" (dalam tanda kutip). Kuasa gurun pasir adalah sikap yg percaya mutlak bahwa kita tidak boleh menggunakan otak kita karena segalanya telah diberikan oleh Allah melalui para nabinya. Pedahal kisah para nabi itu juga mostly mitos saja.
Terjadinya ribuan tahun lalu, dan isinya bermacam-macam yg belum tentu relevan dengan kehidupan kita masa kini.
Daud membantai orang atas nama Allah, misalnya. Dan Allah di situ tertawa ha ha ha... Malah menjanjikan bahwa Dinasti Daud akan bertahan selama-lamanya.
Tetapi yg dituliskan itu adalah pemikiran dari si manusia sendiri. Pemikiran dari Daud yg berdialog dengan Allah yg ada di dalam pikirannya sendiri. Allah itu cuma konsep yg ada di kepala Daud. Tetapi Daud tidak mengerti itu, dia pikir bahwa benar ada Allah, ternyata cuma konsep saja. So,... kita sekarang sudah mengerti bahwa apa yg kita sebut sebagai Allah ternyata cuma suatu konsep yg berada di dalam pikiran kita. Kita ajak Allah berdialog. Kita sembahyang, mengumpulkan pahala, etc... Pedahal kita cuma berdialog dengan kesadaran di diri kita sendiri saja.
Pengertian di atas sangat basic bagi perjalanan spiritual seorang manusia. Kalau manusianya masih bertahan
mati-matian bahwa benar ada Allah yg datang ke nabi-nabi itu, maka berarti manusianya masih berada di level rendah. Level syariat. Ini tingkat terbawah dalam spiritualitas manusia. Dan tidak salah juga karena itu hidup dia sendiri. Sayangnya, manusia yg spiritualitasnya di level bawah ini merasa bahwa dia sudah memegang rahasia alam semesta karena mengikuti "petunjuk" (dalam tanda kutip) yg diberikan oleh Allah.
Petunjuk itupun, kalau mau diteliti, merupakan hasil pemikiran dari manusia juga. Berbagai macam orang memiliki vested interests di dalam agama. Demi kekuasaan, demi uang, demi penggalangan tenaga manusia. Dan pemikiran manusia-manusia yg memiliki vested interests itu dibakukan dalam ajaran agama. Kita yg spiritualitasnya sudah jauh lebih dewasa tentu saja tahu itu.
Kita tahu bahwa puasa di bulan Ramadhan dan sholat lima waktu merupakan metode ampuh untuk mengontrol populasi. Kalau masyarakat bisa diyakinkan bahwa apa yg kita
ajarkan berasal dari Allah dan mempraktekkannya dengan bukti puasa di bulan Ramadhan dan sholat lima waktu, maka berbagai kemungkinan lainnya akan terbuka bagi kita. Kita bisa minta untuk dipilih menjadi pemimpin. Kita bisa menggerakkan massa untuk mencaci-maki Amerika dan Israel, misalnya. Kita bisa membuat Bank Syariah. Bisa menikahi empat wanita sekaligus. Bisa saja.
Kuasa gurun pasir adalah yg ngotot mempertahankan bahwa segalanya berasal dari Allah, pedahal semuanya berasal dari manusia biasa-biasa saja, yg tidak ada bedanya dengan anda dan saya. Saya tidak bilang bahwa kuasa gurun pasir adalah kuasa "gelap" (dalam tanda kutip). Tidaklah. Kalau dilihatnya siang hari seperti sekarang, tentu tidak gelap bukan ?
Yg jelas, sebagai manusia yg berniat menapaki spiritualitas yg asli, kita sudah mengerti bahwa Allah bisa berubah pikiran. Allah yg berbicara kepada Musa tidak sama dengan Allah yg berbicara kepada Petrus. Alalh yg berbicara
kepada anda tidak sama dengan Allah yg berbicara kepada saya. As a matter of fact, Allah berbicara berbeda-beda, unik. Allah berbicara kepada tiap orang sesuai dengan kebutuhannya.
Allah cuma konsep saja yg kita gunakan untuk dialog dengan diri kita sendiri. Itu pengertian yg paling asli dan bebas merdeka.
Aliran-aliran keagamaan lainnya seperti Hindu dan Buddha lebih mengerti apa yg saya tuliskan. Mereka tahu bahwa ada kesadaran lebih tinggi yg bisa berbicara langsung kepada manusia. Tidak ada pemaksaan untuk "beriman" (dalam tanda kutip) seperti dipraktekkan oleh agama-agama Semit yg berasal dari gurun pasir. Yahudi, Nasrani dan Islam termasuk agama-agama gurun pasir karena mengharuskan syahadat dan syariat. Untungnya sebagian besar dunia Nasrani dan Yahudi sudah tercerahkan. Dan sekarang boleh bilang kita satu dunia bersatu membantu Islam untuk keluar dari bawah tempurung.
Cara saya cuma bilang bahwa kitab suci itu buatan
manusia, syariat itu buatan manusia, segala macam syariat tentang ibadah, puasa, zakat, qurban, haram halal, sunat, jilbab, etc... merupakan buatan manusia. Karena buatan manusia maka bisa kita ubah. Ketika kita ubah maka kita bilang bahwa Allah berubah pikiran.
+
PERCAKAPAN 2: MASIH KETINGGALAN JAUH
T = Kalu aku bisa menyimpulkan bahwa argumen yang Mas Leo tawarkan itu adalah soal agama Islam lebih tinggi derajatnya daripada agama lain, but yang aku concernkan adalah bahwa menurut fakta di lapangan bahwa agama itu bukanlah OBAT AMPUH untuk MEMBAIKKAN MORALITAS MANUSIA.
J = Saya terkadang menulis dengan gaya sarkastik. Dibandingkan dengan agama lain maka Islam derajatnya lebih "tinggi" (dalam tanda kutip). Yg bilang seperti itu adalah mereka yg fanatik Islam dan menjunjung tinggi agama di atas kepala mereka. Benar lebih tinggi bukan ? Lebih tinggi karena selalu dijunjung di atas kepala.
T = Kalu menurut
dakoe nie kita harus lebih honest melihat kenyataan. Kita harus berani ngomong kalu penerapan agama itu tidak bisa membaikkan moralitas manusia. Setuju Gak ?
J = Setuju.
Indonesia ini bukan kekurangan agama melainkan kelebihan. Agama di Indonesia sudah overdosis sehingga manusia menjadi keracunan. Kita terbelenggu oleh cara berpikir mereka yg hidup sebelum kita dan sumpah mati bahwa benar ada Allah yg memberikan kitab suci melalui Jibril, bahwa ada syariat yg harus diikuti kalau mau masuk ke dalam Surga. Ini semuanya pembodohan massal dan tidak membawa perbaikan moral. Yg ada justru pembusukan moral. Di mulut bilang demi Allah, tetapi tetap korupsi juga. Allah is semacam jajanan di Indonesia. Setiap orang bisa beli di warung dan menggunakannya. Just say it: demi Allah. Very easy.
T = Yang baik itu kalu orang sudah berkesadaran. Apapun kendaraan agama mereka kalu orangnya pingsan terhadap maksud dari dilahirkannya agama itu
sendiri... yaa sama juga bo’ong.
J = That's what I have been saying until now. Kesadaran,... itu yg penting. Kita semua memiliki kesadaran yg bisa dipakai untuk berpikir. Agama itu buatan manusia, bisa kita ubah. Alalh saja bisa kita bikin, kenapa tidak bisa kita ubah ?
Yg membikin dan mengubah Allah adalah kita sendiri. You, me, and everybody else. The problem is, ada yg sudah sadar bahwa kita sendirilah yg membuat Allah, dan ada yg bilang bahwa Allah yg membuat dirinya. Pedahal sebenarnya kitalah yg membuat Allah. Kita konsepsikan ada Allah yg menciptakan alam semesta dan segala isinya. Konsep itu dari kita, kita yg buat. Lalu kita bilang bahwa the Allah menurunkan syariat untuk dijalankan dengan susah payah oleh manusia supaya masuk Surga. Pedahal the syariat itu juga kita sendiri yg buat. Kita yg bilang seperti itu.
T = Topografi agama di Indonesia itu harus dilihat jelas ya khan. Meby kalu dikatakan gagal 100%, musti banyak
yang ga terima. Tetapi meby kalu kita bisa liat indikator dari moralitasnya... yaah we can see ourselves-lah, Indonesia urutan ke berapa soal korupsi dari negara-negara di dunia ?
J = Indonesia termasuk ranking teratas sebagai negara terkorup di dunia. Mungkin urutan ketiga atau keempat, I'm not sure. Dan itu atas ridho Allah.
T = Departemen Agama urutan ke berapa soal korupsi di Indonesia tercinta kita ini… nah itulah indikatornya.
J = Departemen Agama sangat tersohor sebagai salah satu departemen terkorup di Indonesia, kalau bukan yg terkorup. Dan itu atas ridho Allah juga.
T = So, meby penerapan agama itu gagal 85-90% , yang 10 % itu buat orang-orang yang bermoral baik setelah beragama. Bagaimanapun, mau tidak mau, tidak bisa lepas dari Islam yang menjadi sorotan, karena mayoritasnya beragama Islam getho loh…
J = Kalau saya pura-pura bodoh, maka saya akan selalu menyalahkan para oknum. Yg salah oknumnya dan
agamanya tetap benar. Kalau saya mau jujur, maka saya akan bilang bahwa ini semua disebabkan oleh terlalu banyaknya dosis agama di Indonesia.
T = Harusnya MUI itu lebih mementingkan kategori korupsi. Mana yang masih halal dan mana yang sudah haram, termasuk juga fee / komisi yang halal dan komisi yang haram, daripada hal-hal yang ga krusial diurusin ya khan ?
J = Bagi MUI hukumnya haram untuk bilang bahwa korupsi haram. Kalau korupsi diharamkan, maka pemasukan lembaga-lembaga agama akan berkurang. Don't you know bahwa setiap koruptor pasti akan menyumbang lembaga agama as well as anak yatim ? Korupsi yg disumbangkan sebagian demi agama akan bisa menyogok Allah sehingga mau menerima sang koruptor di sisinya kalo mati nanti.
T = So, kalu menyangkut organisasi apalagi, well cuman ada tiga kepentingan or trinitas dalam orang berorganisasi: politik / kekuasaan, agama, dan sosial – ekonomi. Itu juga menurutku dah jauh dari hakekat
kebebasan sebagai manusia. Mereka jadi terikat dengan peraturan organisasi. Dan apalagi mau disetir oleh kepentingan individu yang punya hajat mendirikan organisasi itu sendiri. Koq mau yak ?
J = Mau ajalah. Selama ribuan tahun agama telah membuktikan dirinya sebagai penggalang dana dan tenaga yg paling unggul. Tidak terhitung banyaknya manusia yg mau disetir oleh agama. Mau melakukan apa saja karena dijanjikan Surga.
Untungnya masyarakat maju sudah meninggalkan agama. Agama Nasrani boleh bilang sudah ditinggalkan di negara-negara maju di Eropa Barat, Amerika Utara dan Australia. Yg penting bagi mereka bukanlah agama melainkan pemerintahan bersih, keadilan sosial, hak azasi manusia,... termasuk di sini kebebasan berekspressi, kebebasan beragama, kesetaraan gender dan kesempatan sama bagi semua manusia tanpa diskriminasi.
Allah suka berubah pikiran. Tadinya bilang kiblat ke Yerusalem, terus dirubah ke Mekkah. Pedahal yg bilang begitu sang manusia saja, dengan mengatas-namakan Allah. Karena manusia yg dinabikan dengan alasan politik bisa bilang bahwa Allah berubah pikiran, maka kita juga bisa bilang begitu. Allah selalu berubah pikiran. Ketika kita berubah, maka Allah berubah. That's the principle.
T = ANAK-ANAKU BERJUANGLAH AGAR TERBEBAS DARI CENGKERAMAN KUASA GURUN PASIR.
J = Wow, suatu ayat suci rupanya.
Pertama kali saya agak bingung juga membaca ayat itu, mengingat bahwa
saat ini saya sudah tidak pernah merasa jatuh lagi ke dalam cengkeraman
kuasa gurun pasir. However, saya harap nasihat itu bisa berguna juga
kalau ada teman-teman lainnya yg selama ini ternyata masih tercengkeram
oleh kuasa gurun pasir, baik disadari maupun tidak.
Caranya mudah: Baca saja ayat di atas setiap kali anda mao bobo,
dijamin anda akan terbebas dalam waktu singkat. Bisa juga dibuat
wiridan, dibaca seratus kali setiap kali duduk. Insyallah anda akan
selamat dari segala macam kuasa gurun pasir yg biasanya berupa
pengharaman penggunaan otak manusia. Ciri cengkeraman kuasa gurun pasir
akan terlihat jelas kalau kita bilang bahwa otak kita terbatas dan
sebaiknya tidak usah dipake aja. Kalo kita masih mau pakai otak untuk
berpikir rasional dan logis, maka artinya kuasa gurun pasir tidak
berhasil menempel di diri kita.
Gaya hidup di gurun pasir mempengaruhi cara berpikir dan kultivasi
spiritualitas manusianya yg tentu saja tidak compatible dengan life
style manusia Indonesia pada umumnya. Kalau mengikuti petunjuk penghuni
padang pasir, akhirnya kita akan terbuai untuk stop berpikir dengan
alasan bahwa otak manusia terbatas. Pedahal yg terbatas kapasitasnya
cuma otak manusia yg hidup di gurun pasir saja dan bukan di bagian
dunia lainnya. Kita di Indonesia memiliki kapasitas otak yg jauh lebih
oke dibandingkan dengan penghuni gurun pasir.
+
PERCAKAPAN 2: KEMERDEKAAN SPIRITUAL
T = Merdeka !
Happy Independence Day ya bang. Apa arti menurut abang ?
J = Hari Kemerdekaan tidak terlalu berarti bagi saya dalam tahun-tahun
terakhir ini. Dulu saya selalu menyempatkan diri nonton upacara Hari
Kemerdekaan di Istana Merdeka melalui TV, tetapi tidak lagi. Useless.
Saya tahu ratusan orang yg hadir di sana adalah koruptor.
Pejabat-pejabat kotor. Tahun lalu orangnya pernah hadir di acara
serupa, dan tahun ini the person stays in the bui karena belangnya
terbukti. Tetapi ratusan yg lain belangnya tidak terbukti walopun
korupsi. Dan mereka duduk di tempat terhormat di upacara Hari
Kemerdekaan di Istana Merdeka.
I am very cynical about the meaning of independence for Indonesia.
Seharusnya kita sudah maju seperti India, Malaysia dan Singapura.
Mereka dulu menjadi koloni dari Inggris, dan Indonesia menjadi koloni
dari Belanda. Belanda itu kolonisator yg sangat tercerahkan, tidak jauh
berbeda dari Inggris. Tetapi ternyata segalanya dibubarkan oleh
pendahulu kita karena rasa rendah diri.
Soekarno membubarkan Uni Indonesia Belanda karena rasa rendah diri as
well as ada issue Irian Barat yg masih tertinggal. Perang dingin waktu
itu antara Blok Barat dan Blok Timur juga menjadi katalis sehingga
Indonesia akhirnya berhasil merebut Irian Barat dengan memedi berupa
persenjataan mutakhir dari Russia, plus tekanan Amerika Serikat yg
ingin agar Indonesia tidak masuk ke blok Komunis dan tetap menjadi
negara liberal.
Tetapi liberalisme kita berupa pemikiran bebas merdeka yg kita warisi
dari Belanda sempat sedikit demi sedikit hancur lebur berantakan ketika
Sukarno membungkam oposisi dan menjalankan Demokrasi Terpimpin which
was nothing but autoritarianisme ala Sukarno. Masyumi dan PSI
dibubarkan, tokoh-tokohnya ditangkapi. Pedahal mereka sohib dari the
president sendiri. Ditangkap karena berani mengkritik the government,
i.e. Yang Mulia Presiden Soekarno.
Lalu muncul era Soeharto yg dibangun dengan 1001 dusta yg diangkat dari
neraka jahanam. Katanya ada kudeta PKI, pedahal most possibly itu cuma
akal-akalan Soeharto saja agar Angkatan Darat bisa menduduki
jabatan-jabatan strategis di semua jenjang pemerintahan, termasuk di
BUMN. Ini era greedy go lucky. Yg greedy akan lucky. Saya lihat
anak-anak mantan pejabat lembaga tinggi negara di masa Soeharto masih
bisa hidup adil makmur dan gemah ripah loh jinawi sampe sekarang. Jadi
mungkin bener juga pameo yg bilang bahwa hasil korupsi dan sejenisnya
bisa menghidupi sampe tujuh turunan.
Pemikiran di Era Soeharto adalah prinsip "Trickle Down". Jadi, walopun
kekayaan negara diselewengkan oleh para pejabatnya, bantuan luar negeri
dicatut, dsb... dipercaya bahwa pada akhirnya akan terjadi tetesan ke
bawah yg akan mengenai tangan rakyat kecil juga. Kalo ada menteri
korupsi Rp 100 juta, misalnya. Kemudian Pak Menteri jajan ketoprak
seharga Rp 5 ribu. Artinya sebagian dari uang korupsinya itu dipake
buat jajan ketoprak sehingga bisa "menetes" ke bawah.
Tapi ternyata tidak menetes ke bawah melainkan terjadi pembusukan
massal. Korupsi merajalela dari atas sampai bawah, tradisi mana masih
berlangsung sampai sekarang. KPK itu basa basi doang, untuk membuat
perasaan nyaman bahwa ada lembaga yg menangani korupsi. Pedahal korupsi
yg tidak dikejar atawa yg bisa diselesaikan secara bawah tangan juga
tidak terhitung. Pemberitaan hasil investigasi KPK cuma pucuk gunung es
dari pelembagaan korupsi di Indonesia yg masih menduduki tempat sangat
terhormat sebagai salah satu negara yg paling korup di dunia sampai
saat ini.
T = Apakah kita sudah merdeka secara spiritual ?
Anda bertanya apakah kita sudah merdeka secara spiritual. Dan saya
balikkan pertanyaan itu ke anda, apakah anda berpikir kita sudah
merdeka secara spiritual kalau masih harus membahas banyak hal dari
sudut pandang agama ? Ketika kita masih menghitung waktu puasa, waktu
sembahyang, jumlah zakat, dsb... maka artinya kita belum bebas merdeka.
Kita masih terikat kepada kuasa gurun pasir. Ketika kita takut membuka
penutup tubuh kita sendiri di kolam renang umum dengan alasan Allah SWT
mengharamkan, maka artinya kita belum merdeka.
Tinggalkan saja semuanya daripada capek ngurusin segala macam ayat
tentang hal tetek bengek dan preseden yg sudah tidak relevan lagi itu.
Eropa Barat sudah sejak ratusan tahun lalu membuang jauh-jauh ke tong
sampah segala hukum-hukum agama dan dalil-dalilnya. Tidak usah
dibicarakan lagi, tapi langsung dibuang saja. Itu cara paling efektif
untuk menjadi bangsa yg modern. Eropa Barat sudah memperlihatkannya.
That's the only way to do it.
We shall lose nothing by getting rid of those religious laws and
thinkings. Tidak rugi malahan untung karena kita akan menjadi orang
bebas merdeka secara spriitual. Merdeka secara spiritual artinya kita
akan menjadi orang biasa-biasa saja, kita tidak akan sesumbar tentang
Allah yg juga cuma hasil fantasi kita saja, kita tidak akan
menginginkan dibilang sebagai orang mukmin, dan kita juga tidak akan
perduli dibilang sebagai orang kafir. Such terms have nothing to do
with us.
Mereka yg masih menjadi budak dari kuasa gurun pasir, on the other
hand, selalu akan berbicara tentang sembahyang, zakat, ibadah, amal,
sorga, neraka,... pahala. Kafir dan mukmin. Ini semua adalah
istilah-istilah yg dipakai untuk menjerat leher kita agar menjadi
manusia yg terbelenggu seumur hidup sampai mati. Kita akan bisa disetir
dengan mudahnya atau paling tidak bisa dibuat histeris dengan segala
macam issue, dari pemakaian jilbab yg konon sangat diridhoi Allah
sampai makanan mengandung babi yg konon bisa bikin orang masuk neraka.
Kalau masih seperti itu berarti manusianya belum merdeka. Mereka yg
seperti itu bukan manusia merdeka, melainkan budak agama, in this case
budak dari kuasa gurun pasir because the agama berasal dari gurun pasir.
You know what, kalau bertemu dengan orang seperti itu biasanya saya
cuma akan tertawa saja. Jadi, orang semacam itu akan berkhotbah tentang
"Agama Allah" (dalam tanda kutip), dan bahwa kita harus takwa kepada
Allah, harus begini, harus begitu. The kata kunci is "harus".
Pedahal, kalau kita sudah bebas merdeka secara spiritual, kita tidak
akan berbicara tentang keharusan ini atau itu. Tidak ada yg
mengharuskan kita untuk puasa atau sembahyang kecuali kita sendiri yg
mau. Dan segala macam khotbah tentang keharusan itu bisa kita buang
saja ke keranjang sampah, karena kita tahu bahwa mereka bukan untuk
kita melainkan untuk orang yg masih mau menjadi budak.
The key word untuk menjadi manusia bebas merdeka secara spiritual is to
think. Berpikir menggunakan otak. Kalau kita mau berpikir, maka kita
akan bisa tahu bahwa segala macam khotbah itu cuma akal-akalan saja
agar kita tetap menjadi budak, dan mereka yg duduk di organisasi
kegamaan itu tetap menjadi tuan. Pedahal kita semuanya adalah manusia
merdeka.
Kemerdekaan, secara politik kemasyarakatan maupun pribadi individual
merupakan suatu keputusan. Yg satu diputuskan bersama, dan yg satu lagi
diputuskan secara pribadi per pribadi. Kita semua cepat atau lambat
harus memutuskan apakah masih tetap mau menjadi budak dari kuasa gurun
pasir atau mau menjadi tuan bagi diri kita sendiri secara spiritual.