Dari: DODY ISKANDAR dinata <dody_ide@...> Topik: Bls: [dzikrullah] Re: Musik, Jalan Tembus Pintu Tauhid
Aswb, untuk pak Moderator, jawaban saya kemarin saya lengkapi ( tambahi
) di bawah ini, karena ada beberapa saudara yang mengirim email
pribadi/blog comment atas hal ini
Sekedar menjelaskan maksud
tulisan, bahwa musik sama halnya ilmu matematika, biologi, electrical
engineer atau bahasa inggris. Rasulullah pun tak pernah mempelajarinya. Ahli matematikapun bisa sangat sesat bila ilmunya hanya untuk mendukung
proses kekufuran. Misalnya seorang akuntan yang mendukung proses
tukarguling tanah gusuran yang melanggar hak warga sebagai pemilik
tanah.
Dalam beberapa kalimat saya tulis, bahwa musik sama sekali
tak bisa menandingi kecepatan ilham, karena musik adalah produk budaya
alias perabaan manusia terhadap eksistensi diri. jadi masih jauh dan
memang tak bisa di bandingkan dg sebuah sabda.
Jadi musik
hanyalah sebuah pencarian, seperti kalau kita bisa memecahkan kode
matematis kejadian alam. Akhirnya kita menjadi sangat gentar terhadap
Allah karena dibalik itu ternyata Allah Maha Kreator . Dan ilmu science
itu pun bukanlah sebuah kategori ibadah ritual atau bidah.
Wilayah
ini adalah wilayah penguakan keMaha Ilmuannya Allah. bahwa bila kita
belajar apapun sampe mentok ... eh ternyata Allah menghadang di puncak
pencapaian itu sambil sekan-akan berkata, "Hayo, mau kemana lagi
kamu ... disinilah perhentian puncak olah manusiamu ( ilmu dan budaya ). Sekarang tinggal mau nggak engkau bersujud dan melepaskan itu semua. Terpaksa atau iklhas ..."
Nah disinilah baru mulai terjadi proses
keimanan. Tunduk atau membantah ... Itu tergantung individu. Llha,
setelah mau tunduk, ya tinggal laksanakan saja rukun iman dan islam
semampunya dan sebaik2nya .. Akhirnya sesederhana itu, kembali pada
kesederhanaan saja .. Manut
Kalau tokoh musik di Islam : Aljabar,
beliau menggunakannya melalui metode matematis kemudian dilanjutkan
pengekspersiannya oleh Al mausili & Al maududi pada jaman keemasan
Islam Cordoba, dimana penemuan kembali perhitungan harpanya Daud di
petakan dengan penamaan "farida" atau yg kita sebut dengan fret pada
papan gitar.
Sangat
bisa ditelisik bahwa influence musik klasik eropa sangat dipengaruhi
oleh ekspansi Islam ke cordoba-andalusia. Nada phrygian/ spanish sangat
lekat dg kebudayaan timteng. Nalar sederhananya, kalau musik itu
dilarang, kenapa pada waktu mulai penakhlukan eropa oleh khalifah Umar
yang sangat punya kekuatan mutlak peradaban Islam, kok tidak melarang?.
Kan
sangat mudah sekali melarang hal itu, wong sangat berkuasa terhadap
hukum syariat dan sangat dekat dengan pengajaran Rasulullah daripada
kita yang berjarak ratusan tahun ini. Apakah kita meragukan kewibawaan
Umar untuk sekedar melanjutkan larangan Rasulullah ? kenapa kok musik
itu malah berkembang waktu jaman peradaban Islam ? Sebab sebelum islam
sampai dibarat, musiknya nggak karu2an. Filosofinya juga rumit tak
mencerahkan. bahwa ini fakta sejarah, wallahua'lam
Dalam
pengkajian Islam, saya pribadi memegang rukun iman, salah satunya
beriman kepada kitab Allah, terutama Quran. Jadi kalau quran itu sudah
inspiring buat saya, ya itu sudah terwajibkan menjadi rujukan utama. Karena selama ini banyak sekali orang lebih memulyakan hadits sampai
tingkat menafikan Quran. Padahal sampai saat ini banyak hadits shahih
tapi bagi sebagian kelompok dianggap meragukan,dan sebaliknya. Tergantung kelompok mana yang berbicara.
Misalnya, saya pernah
berdiskusi dg teman yg mempelajari menelisik ilmu hadits, ternyata ada
yg meriwayatkan bahwa Aisyah menabuh musik sebagai penyemangat perang
Badar. Ini hadits yg sangat-sangat tidak umum kalau kita hanya membaca
hadist, umpamanya hanya satu kitab seperti Riyadhusshalihin.
Atau seperti hadits perbedaan adalah rahmat. Beberapa
golongan menganggap sangat dhaif, padahal penguatan hadits tsb sangat jelas dalam quran ( al Hujurat 13 )
Bagi
apa yg telah saya pelajari, urutan mempelajari agama adalah Al quran -
hadits qudsi - baru hadits umum. Al quran adalah konsep Allah dan redaksinya
Allah. Qudsi adalah konsep Allah redaksinya Rasulullah. Hadits adalah
kebijakan Rasulullah atas konsep Allah. Dan kebijakan itu walau
universal tapi sifatnya selalu kontekstual.
Ijtihad ulama
meneguhkan bahwa tingkat pertama Alquran di jelaskan oleh ayat Quran
itu sendiri. Setelah itu Quran dicarikan peneguhannya oleh hadits
Qudsi. Pada akhir bila tak ada keterangan yg jelas dalam quran maka
hadits umum baru berlaku. Bukan dibalik. Karena kita sering hadits
menjadi rujukan utama, bukan Quran.
Hal ini selalu diturunkan
dari para ulama sampai timbul yang namanya ilmu fiqih ( 4 imam ). Dan
fiqih atau ijtihad ulama adalah sesuatu yang merujuk dari urutan di
atas, karena keimanan kita adalah percaya kepada kitab Allah.
Misalnya jaman dulu
ketika penjajahan Belanda, berdasar fatwa Hasyim Asyari, tepuk tangan
itu hukumnya haram. Hal ini karena ada semangat perlawanan budaya
penjajahan. Hal ini disarikan dari Rasulullah ketika perang dengan kaum
musyrik menganjurkan muslim menggunakan jenggot ... inilah yng dinamakan
kontekstual-fungsional
Lalu apa sekarang tepuk tangan haram? Ya
tergantung ... sudah tidak mutlak haram. Kalau kita menepuktangani
penguasa yg zalim ya haram.
Demikian dengan musik, karena ada hadits
yg mengharamkan tapi ada juga yg membolehkan. Itu fugsional
kondisional. Ya jelas haramlah kalau waktu keadaan genting kok malah
nyanyi2. Dan ternyata boleh ketika hari raya karena itu memang hari
untuk bergembira ...
Jadi musik kalau buat joget gak karuan ya
haram wong jadinya mudharat. Kalau kayak buat mengajak kebaikan seperti
Aa Gym, Opick gimana ? Atau nasyid ?
Yg unik ini nasyid (
walaupun saya pernah membantu proses pengerjaannya ), mengharamkan
memainkan alat musik tetapi mulutnya menirukan suara alat musik. Lah
hal ini kan kayak orang tidak berzina tetapi membayangkan wanita seksi
dengan segala penjabarannya. Dan nasyid sendiri berasal dari konsep
acapella. Padahal acapella berasa dari sebuah nyanyian gereja kecil. A
Capell. Kapel itu adalah semacam suraunya orang Nasrani.
Tapi sekali lagi wallahua'lam
Untuk
ini mohon kita sama2 mencari sumber yg pasti dan selengkap2nya. Karena
milis ini wilayah saling berbagi sebuah pemahaman dan sarana
pelengkapan kamus berislam. Semua tulisan yg beredar bukanlah mutlak
dan fatwa yg mengikat. Tidak ada yg kasyaf, tidak ada yg lebih unggul
juga tidak ada yang merasa tinggi hati atau rendah hati. Flat saja
seperti kita ngobrol cangkrukan di warung kopi ... lebih kearah mencari
teman. guyonan guyub tapi mendapat barokah dan manfaat.
Dan
untuk sekedar diketahui, pesan tulisan ini hanyalah menggugah manusia Indonesia yang konsumtif, minder, kurang pede dan segala penyakit
mental yang membuat kita tak pernah yakin akan diri sendiri. Kebetulan
saja temanya musik. Tulisan saya yang lain temanya kan juga sama. Ingin
membangkitkan manusia Indonesia yang konon menjadi muslim terbesar ...
Dan
karena saya ikut milis Dzikrullah, tentunya setiap ide, pertanyaan2 dan
gagasan2 harus dalam frame proses berislam. Nggak mungkinlah di milis
ini saya ngomong politik murni ataupun bisnis murni. Walaupun akhirnya
bisa digandengkan dengan musik, misalnya bagaimana industri musik
berkembang atau konsep pencitraan capres lewat iklan produk makanan
yang melegenda
untuk jawaban 2. Anda seolah-2 menuduh para mujtahid mendapatkan dana dari para saudagar sehingga ga ngeluarin fatwa.
Pertama,
maksud tulisan saya, saya tidak mempermasalahkan mujtahid yg
mengeluarkan fatwa diwaktu lampau. Tetapi saya sekedar bertanya2,
kenapa kok sekarang tak ada fatwa yg hebat tentang sebuah konsep
industrialisasi yang membuat umat Islam kalang kabut.
Namanya
bertanya, ya saya sekedar menunggu jawaban ... atau lebih GR nya menagih
jawaban. Sebab ini sudah menjadi masalah umat. Lha kalau masalah umat
tidak ada jawabannya, terus orang yang belajar agama seperti saya ini
mau bertanya kepada siapa lagi?
Posisi saya hanya sekedar
makmum paling belakang yang ingin bertanya pada imam, kenapa kita ini
kok nggak pernah ada andil terhadap kekacauan yang ada akibat proses
kapitalis industrialisasi, dalam hal ini kerusakan lingkungan akibat
kebisingan?
Saya yakin, Anda sendiri lebih khusyu ibadah di
dalam tempat yg tenang daripada di pasar/pinggir jalan yng suaranya
kacau. Dan Anda bisa cari info kenapa, misalnya Arab Saudi atau Mesir
yang selalu keras terhadap fatwa dan getol mengeluarkan beberapa
hadits utamanya ditujukan untuk mengcounter umat muslim yang tak
sealiran, tetapi selalu bergandengan tangan mesra dengan Amerika
tentang urusan minyak dan lintas jalur terusan Suez yang semua kearah
penguasaan keduniaan?.
Coba
lihat tempat bersejarah seperti rumah Rasulullah, rumah Hadijah, Abu Bakar telah tergantikan dengan tempat yg tak layak seperti toilet umum,
parkiran dlsb. Lalu darimana belajar Islam dengan baik kalau kita
selalu memotong sejarah dan menafikan dengan alasan syirik bidah? Kita
tak syirik dan bidah tapi hubuddunya .. akhirnya sama saja
Sederhananya,
apakah njenengan rela kalau anak Anda tidak mengakui Anda sebagai bapak
karena minimnya informasi yang menjelaskan bukti secara fisik? Atau
mungkin Anda tak mengerti asal usul ortu sendiri sehingga kita
mereka-reka kalut karena tak pasti di mana sejarah perjalanan dan
bukti2 prestasinya.
Dsinilah saya sekedar menelisik tarikh runutan bukti peninggalan nabi Daud
Di
sini seharusnya seorang imam/ustad/kyai memiliki segala ilmu untuk
menyelesaikan konsep ini. Seperti Rasulullah sendiri tidak sekedar bisa
bersabda menyampaikan masalah tauhid. Beliau juga bisa gulat dan bisa
mengalahkan jago gulat dari romawi. Hal ini karena seorang rasul medan
dakwahnya menyentuh seluruh model manusia. Kalau tidak bisa bergulat,
sedangkan pegulat itu tak tahu apa2 karena yang ia tahu hanyalah saya
akan tunduk pada orang yng mengalahkan saya, lalu bagaimana cara dakwah Beliau ?
Dalam
hal ini coba njenengan teliti lagi tulisan saya, bahwa musik hanyalah
jalan menggiring menuju tauhid hanya sampai pada pintunya, bukan
memasukinya. Jadi pintu bukan berarti area atau wilayah tauhid. Lha
kalau kita nggak ngerti musik sebagai salah satu kebudayaan banyak
manusia, bagaimana dan lewat jalan apa kita menyadarkan para musisi yg
membawa ribuan penggemar supaya mengutamakan rukun iman/islam?
Dengan pemamaparan yg coba saya jelaskan hal ini bertujuan agar musisi yg baca supaya tahu akhir
hidupnya harus kemana ...
untuk jawaban no 3 . Nabi Daud disuruh bertasbih bersama gunung-gunung dan burung-burung, anda artikan bermusik padahal bertasbih khan pakai mulut sehingga konotasi yang lebih tepat kali berdzikir bukan bermusik? (Jangan memperkosa ayat Alqur'an, untuk kepentingan pribadi) Sebelum dan sesudahnya mohon maaf...
Bertasbih
maknanya adalah mengagungkan Allah ( berasal dari rujukan kalimat
tasbih= mensucikan, mengangungkan, Subhanallah ). Gandengannya adalah
berzikir yg dalam arti dzkr= ingat. Lalu apa yang disucikan,diagungkan
dan diingat? Melalui jalan apa?. Bisakah kita berkata, "Oh ya .. saya
pernah bertemu si fulan yang hebat itu", sedangkan berjumpa dan
mengetahui sosok serta prestasinya saja tak pernah. Sah kah omongan itu
walau diucap ribuan kali melalui mulut?
Demikian juga dalam
Quran, terlalu banyak ayat yg menganjurkan afalaa t'qilun,
tataffakarun, tadabbaru, tubsiruun... ( apakah engaku tidak memikirkan,
menafakuri, menjabarkan, dlll ). Hal itu semua adalah proses pengenalan
kauniyah ke-Mahahebat-an Allah. Setelah otak dan hati kita bisa
sedemikian rupa menyaksikan hal itu ( syahid, sebagai awal berislam )
maka tasbih dan dzikr itu baru bermakna. Bukankah syahadat adalah
sebuah kesaksian?. Dan bisakah kesaksian itu dianggap sah bila sang
penyaksi tak pernah melihat sebuah kejadian ...?
Dalam
hal inilah nabi Daud bertasbih dan berzikir dengan mengelola gunung dan
burung2. Fakta sejarahnya, siapa sih yg meragukan warisan kerajaan Sulaiman ( warisan Daud ) atas hasil dari proses berzikr dan
bertasbihnya Daud? Mungkinkah nabi Daud hanya bertasbih dengan
mulutnya selama puluhan tahun, lalu tiba2 terjadilah peradaban madani
seperti apa yang diteruskan dan disempurnakan Rasulullah Muhammad ?
Paling
gampang, coba njenengan hanya berdzikir hanya sebatas mulut ( tanpa
kedalaman rasa, akal dan tindakan ). Ucapkan beribu kali berhari-hari
ber-minggu2 ber-bulan2. Coba tanya ke hati njenengan sendiri ... Adakah
setelah itu Allah menyambut kita, memberikan tampuk kekhalifahan kepada
kita atas pengayoman ( rahmatan lil alamain ) kepada seluruh umat
manusia mulai barat sampai timur ? .... Apakah kita akhirnya menjadi
tangan di bawah atau tangan di atas seperti yang Rasulullah anjurkan?.
Mohon
maaf, ini memang kewajiban saya untuk menjawab segala apa yg sudah saya
sebarkan. Hanya sekedar penambahan suatu penjelasan.
Kalau
njenengan nganggap saya memperkosa ayat untuk kepentingan pribadi,
mungkin saya dari dulu dah ngetop dan kaya sekali, sebab saya sudah
belajar dan sangat hafal trik2 orang2 yang memperkosa ayat untuk
membesarkan nama diri atau kelompok. Entah melalui jalur pengajian,
penyembuhan alternatif, politik, kesukuan, keimamaman, musik atau isyu2
mutakhir ...
Kalau sampean mau, nanti saya kasih tahu trik2nya ...
He .. he ..
wong saya ini cuman mamkum kelas sandal jepit yang sekedar ingin
bertanya pada para ahli agama ... Apalah kekuatan saya untuk menggugat
atau melawan sebuah ajaran suci ... Maturnuwun, tetap peace yah...
Dari: m_romi11 <m_romi11@...> Topik: Re: Musik, Jalan Tembus Pintu Tauhid
Membaca tulisan bung Dodi , saya hanya bisa istighfar
> Sampai sekarang diri ini > masih bingung kenapa ada orang yang mengilegalkan musik dengan > berbagai > fatwa.
--- kalau nabi yang mengharamkan melalui beberapa hadits, --- jadi anda bingung kenapa nabi mengharamkannya....? --- padahal nabi berkata berdasarkan wahyu dari Allah. --- apakah anda merasa
melebihi nabi?
>...... Di manakah > sebuah konsep Quran bisa mengantisipasi dan memberi fatwa atas hal ini? Mosok Quran yang salah? Nggak mungkin lah ... Tapi manakah fatwa > terhadap hal - hal seperti ini? Di mana kemampuan para mujtahid ? Apa > karena karena donatur saudagar muslim banyak yang memiliki jet > pribadi atau moge sehingga kita tak berani memberi teguran fatwa ? >
--- Seolah-olah anda menyalahkan para mujtahid, bahkan sepintas --- seolah menuduh mereka tidak mengeluarkan fatwa karena dana yang --- dikeluarkan oleh para saudagar --- benarkah demikian ??? ---
> Anehnya > ketika kita mendengar suara yang tertata rapi, indah, menyegarkan dan >
menundukkan keliaran fikiran, kok malah ada fatwa haram ? > > Kalau > kita mengharamkan musik apakah kita lupa bahwa konsep keimanan kepada > 25 rasul, salah satunya adalah Nabi Daud sebagai leluhur musik dunia. > Ada baiknya kalau kita tidak bisa mengakui hal ini, ya lebih baik cukup > beriman kepada 24 rasul seperti keyakinan tetangga yang menafikan > Muhammad SAW. > > Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada DAUD > kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan > burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama DAUD", dan Kami > telah melunakkan besi untuknya, ( QS. Saba' [34] : 10 ). > > > Ayat ini sudah terlalu > cukup dan sangat luar biasa bagi diri pribadi untuk menguak salah satu > jalan pribadi menuju Allah,-musik. >
--- Saya ga paham tafsir
Alqur'an..., --- tapi benarkah kata "bertasbih" diatas bisa diartikan BERMUSIK --- jangan-jangan surat ini hanya Anda perkosa untuk melegalkan --- anda bermain musik? --- Hanya anda yang tahu jawabannya... --- Hanya saja saya pernah dalam suatu pengajian... --- Bahwa "Barang siapa yang menafsirkan Alqur'an dengan --- otak(pikirannya) sendiri, maka berarti menyiapkan --- tempat duduknya di dalam neraka" (entah hadits/bukan?) ---
> Dalam > disiplin musik universal, burung adalah sebuah awal ilham musik. > Timbre, sound quality, dynamic range, lompatan interval, ambience > harmony, healing sound, daya resonansi dan masih banyak lagi sudah > terangkum sempurna pada spesies ini. Dalam beberapa hikayah, suara > burung ini oleh Nabi Daud diterjemahkan dengan alat yang bernama > psalterion. Kita mengenalnya dengan harpa. Bila dirunut psalterion ini > berasal dari kata psaltm yang berarti nyanyian. Sedangkan dalam tradisi > kuno, psaltm ini sebenarnya adalah kata lain dari zabur. > Jelasnya > zabur adalah wahyu Tuhan yang berupa keindahan nada. Tapi apa > sesederhana itu? Cuma sebuah terjemahan
kesenangan nyanyian burung kah? Wah, kalau gitu apa bedanya dengan kaum lelaki yang gemar memelihara > burung ? Walaupun di situ memang ada sisi jalan ketenangan bathin ..... > > Kalau > kita mengkonekkan psalterionnya nabi Daud dengan ilmu pengetahuan > modern, akan sangat jelas disitulah letak cikal bakal pengetahuan > matematis dan canggih yang mampu memetakan suara burung ini menjadi > sebuah kompleksitas dispilin ilmu. Displin ilmu yang sedikit kita kupas > adalah tehnologi gelombang beserta segala sifatnya seperti amplitudo, > sound pressure level, pemecahan partikel atom, dispersi, induksi dan > seputar itulah ... ( he ... he saya bingung sendiri kalau mulai menyebut > kata ilmiah ) >
--- --- Masalah nabi bermain musik,
saya kurang paham --- kalau suara Nabi Daud sangat indah merdu memang benar... --- Kalau memang benar Nabi Daud bermain musik... --- hal itu bukan berarti bermain musik lantas diperbolehkan --- karena hukum pada jaman Nabi Daud sudah tidak berlaku --- dijaman nabi Muhammad SAW --- seperti hukum diperbolehkan menikah dengan saudara kandung --- pada jaman nabi Adam, pada jaman nabi Muhammad diharamkan --- --- --- Tulisan-tulisan selanjutnya(dibawah), maaf belum sempet membaca --- lebih lanjut... --- --- --- maaf hanya sekedar bantahan tak berdasar --- ----
> Disiplin > ilmu suara ini ternyata sangat begitu menakjubkan. Dalam ilmu modern > disiplin ini telah dikembangkan menjadi alat seperti pengukur
kedalaman > serta jangkauan seperti radar dan sonar. Kita juga bisa melihat secara > ilmiah bahwa beberapa industri menggunakan induksi gelombang untuk > otomatisasi packaging produk. Juga pernahkah anda mendengar bahwa > gesekan violin pada frekwensi nada tertentu resonansinya mampu > memecahkan gelas ? > Tak heran bila Nabi Daud bisa melunakkan besi > dengan sebuah ketundukan ilham. Hal ini karena Beliau telah mengetahui > dan bisa mempraktekkan seluk beluk resonansi antara partikel benda > padat dengan impuls frekwensi tertentu yang tertata. Dan partikel padat > itu ditamsilkan sebagai gunung, dimana di situ ada gunung, di situlah > letak kekayaan dunia bisa digali secara luar biasa. > > Suatu > saat kalau ilmu kita sudah jangkep, kita juga tak perlu heran bagaimana > empu jaman dulu bisa melaksanakan sunatullah membuat keris tanpa >
peralatan berarti. Kenapa mereka selalu melakukan ritual nembang > melagukan syair ruhani terlebih dulu akhirnya juga bukan sesuatu yang > harus digelapkan pemahamannya. Sebab Ini hanya masalah metode kelimuan > saja. Metode resonansi alamiah vs metode mekanik. Tak lebih. > > Ah ... lagi-lagi > sebuah warisan budaya yang disalahartikan dan diselewengkan turun > temurun. Padahal struktur campuran keris ini baru bisa diaplikasikan > abad ini oleh tehnologi NASA dimana pencampuran tujuh logam bisa > dilebur jadi satu. > > Di > wilayah inilah kemudian nabi Daud dinobatkan Allah sebagai pemimpin > yang mampu menggabungkan kekuatan materi ( gunung ) dan gelombang > energi ( suara burung ). Dari sinilah tercipta peradaban yang kuat. > > Kabar > gembiranya, Alhamdulillah nusantara ini adalah rombongan gunung panjang > dari Aceh sampai Irian yang
menandakan Nusantara ini sangat kaya. > Alhamdulillah nya lagi, hanya dengan sedikit mencuplik bukit emas di > Irian, kita sudah bisa meng"kaya" kan saudara tua kita, Paman Sam. > Belum lagi hutan gunung di Riau, rempah di bagian timur, kilau lautan > pantai butiran logam di tempat kelahiran laskar > pelangi ... dlllll .... buanyaak .... > > Walah ! Alhamdulillah ... pokoknya > kita ini bangsa yang sangat besar sodaqohnya kok ... kitalah yang > menjadikan kaya penduduk bumi ini. Kita sudah begitu mendekati jiwa > kepemimpinan Rasulullah. Mendahulukan orang lain walau diri sendiri > kelaparan ... Kita ini sudah begitu banyak berjasa membantu kemakmuran > penduduk bumi. Saking gemarnya membantu orang, sampai-sampai begitu > banyak kita ekspor pembantu. > > Tapi > jangan kuatir, pembantu adalah pesuruh. Bukankah rasulullah juga > pesuruh Allah ? Dan memang
kita lah pewaris beliau karena faktanya kita > adalah negara muslim terbesar di dunia. > > Tapi di balik omongan > sembrono ini, yang paling penting bagaimana cara mengupgrade diri kita > yang hanya dari kelas pembantu kapitalis merubah diri menjadi pembantu > alias pesuruh Allah secara digdaya alias menjadi khalifah bumi ? > > Kalau > merunut ilmu Nabi Daud yang berakhir kesuksesan kekayaan Sulaiman, kita > ini kalau modal dasar gunung alias kekayaan sumber daya alam sudah > lebih - lebih. Tinggal kekayaan suara dan pengolahannya. Dan sebenarnya > basicnya telah dipersiapkan oleh pendahulu kita secara samar. Apaka > gerangan ? Tentulah musik nusantara.... > > Sesederhana itu ? > tentu tidak. Coba selidiki, adakah ragam musik dunia sekaya Nusantara ? > Beragamnya musik berarti beragamnya daya fikir, beragamnya sudut > pandang, beragamnya
lompatan kreatifitas, beragamnya pemetaan mind, > beragamnya konsep kekompakan team, beragamnya metode dirijen > kepemimpinan, beragamnya manajemen mental dan beragamnya mekanisme > penyelarasan pengolahan alam. > > Hal > ini adalah modal dasar DNA yang tak kita sadari. Struktur molekul tubuh > kita ini telah didefrag, di"cryogenic"kan, dan di"attunement"kan dengan > limpahan materi nusantara oleh para pendahulu - pendahulu kita melalui > keindahan tenaga harmoni musik, melalui kekhusyukan -kekhsuyukan mereka > atas limpahan modal awal kekhalifahan yang tak terhingga. > > Tapi > kenyataannya kita ini masih mental Malin Kundang. Sehingga begitu > mengingkarinya akan hal itu. Akhirnya corak kebudayaan kita masih > sebatas jadi anak batu alias filsafat materi doang. Dampaknya kita tak > bisa unggul dan bermartabat di mata dunia. Hal ini karena kita tak
bisa > mensinergikan antara materi ( gunung ) dan dinamika gelombang ( burung > ). Jadinya ya kita ini nggak punya pertahanan ( baju besi ). Lemah dan > mudah terluka. Dan ini fakta. > > Jadi > jangankan meniru Muhammad Sang Paripurna, lha wong menapaki jejak Daud > saja kita ini masih ketheteran seyek seyek termehek - mehek ... Padahal > seandainya kita mau menganalisa, memetakan, mengkonsolidasi dan > meneruskan modal awal ini, wah rruaarr biasyaahhh .... > > Tak perlu > dulu lah kita ngomong politik kekuasaan pendapatan daerah atas hasil > alam atau ngomong njlimet tentang iptek. Mulai dari diri sendiri dengan > merawat tanaman dan mendengar musik berkualitas itu sudah bisa > mengaktifkan gen -gen kita yang tertidur. Inilah modal dasar awal yang > menghampar tapi terlantar. > > Swear lho ! ini sekedar mekanisme > alam saja. Urutan
mudahnya, banyak tanaman = banyak udara bersih = > bagus untuk kerja otak dan ketahanan tubuh. Mendengar lagu berkualitas > = syaraf telinga rileks = aliran data syaraf menuju pusat otak lancar = > tersentuhnya daya kreatif dan kemerdekaan berfikir. > > Maka > muncullah manusia - manusia digdaya dari bumi nusantara yang siap > mengolah limpahan modal awal ini dengan sebijak -bijaknya ... > > * > > Hakekat > sederhananya, musik adalah melatih rasa. Itu prinsip dasar. Tapi rasa > apa yang dilatih ? Rasa benci, rindu, fanatisme perjuangaan ras bangsa, > snob elitis atau rasa "hub" kepada Allah ? Ini wilayah tanggungjawab > dan efek pribadi rek ! > > Hakikat dispilin ilmunya, musik adalah > metode mendefragmentasi alias menata rapi alias mengaspal mulus lagi > susunan ribuan syaraf telinga yang berujung pada pusat otak besar, >
dimana orang sering menganggap di situlah wilayah titik Tuhan alias God > Spot. > > Ketika sistem syaraf telinga kaku silang sengkarut dan > cairan dalam telinga tidak stabil, kondisi mental seseorang akan kacau, > paling tidak daya konsentrasi dan ketahanan tubuh akan menurun. > > Faktor perusak stabilitas kerja telinga > terbesar adalah seringnya manusia mendengar suara yang tak beraturan > dan melebihi ambang kemampuan dengar dalam jangka waktu tertentu dan > terus menerus. Tak heran kalau sopir yang hidupnya banyak di jalan > bertemperamen keras dan suka mengkonsumsi obat kuat atas kompensasi > kelemahan tubuhnya. > > Untuk itu, salah satu terapinya diperlukan > musik sebagai penyelaras sistem kerja tubuh. Dengan treatment > keteraturan nada dan resonansi frekwensi, maka secara bertahap urat > kekacauan -kekacauan itu akan dipijat refelksi oleh nada
- nada indah. > > Dengan > musik pula, otak bisa dipetakan menjadi kamar memori - memori yang > mudah dipanggil. Misalnya ketika seseorang mendengar lagu Si Unyil, > maka memori akan masa kecil, suasana rumah, teman -teman, jajanan, > mainan kesukaan akan mudah diingat kembali dengan spektrum yang > orisinil. > > Jadi ada baiknya kita belajar sambil mendengar musik > kesukaan. Ketika suatu saat kita lupa akan pelajaran tersebut, dengan > menyetel musik itu, sedikit demi sedikit memori yang kabur akan muncul > jelas kembali. Biasanya sih daripada digunakan mengingat pelajaran, > lebih baik nyetel lagu nostalgia jaman pacaran...he...he...jadi > terkenang semuanya deh.... > > Yang > perlu diingat, pembeda manusia dengan mahluk lain adalah memori. > Korelasi memori adalah kesadaran. Dan awal kali sebuah memori adalah > kesadaran akan perjanjian
mahluk dengan Khaliknya. Syahadat. ( Al A'raf > 172 ) > > * > > Jaya Suprana, seorang pianis komponis sudah > beberapa dekade ternyata tidak pernah lagi memainkan lagu klasik barat. > Ia lebih bangga dengan karya seperti Ismail Marzuki, Gesang, WR. > Soepratman dan kawan-kawan. Terutama ia sangat mengagumi sebuah > nyanyian yang diremehkan musisi modern seperti judul lagu gethuk asale > soko telo karangan Mantous. > > Dalam hal ini ia lebih mengetahui > makna judul syair tersebut secara ketuhanan sehingga mengapresiasi > dengan serius dalam mencari sebuah muasal. Gethuk asale soko telo itu > sebenarnya apresiasi dari ayat ... maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya > sebagian dari RuhKu....AT-Tahrim : 12 .... > Realitas > metaforanya, orang sering lupa bahwa gethuk, nogosari, horog-horog, kue > lapis dan sejenisnya itu berasal dari satu bahan.
Dan bahan itu > sebenarnya tak pernah terpisah dengan sang kue. Cuman bahan itu yang > memisahkan ya Adam ini dengan kemampuan penamaan benda. > Puncak > pencapaian Jaya Suprana dalam bermusik ketika ia memainkan suatu > reportoir tanpa not sama sekali. Alias ia hanya memandangi piano tanpa > membunyikan senada pun dalam beberapa menit. Mungkin kita protes, lho > seorang pianis kok karya terhebatnya malah cuman diam thok ! > > Filosofinya, > di dalam tanda diam itulah akan memunculkan suara terindah. Bayangkan > bila musik tanpa tanda henti. Pasti seperti suara tv yang ujicoba > siaran ... tuuuuuuut ..... nggak ada jeda kayak gelombang sinewave 1kHz. > Pasti semenit telinga kita sudah pekak, otak sudah jenuh. > > Rumusnya, > makin banyak rentetan nada tanpa henti, makin cepat telinga capek. > makin capek telinga, makin stresslah hidup kita. Sebaliknya
makin > banyak nada istirahat, makin nyamanlah telinga. Tapi siapa sih yang > betah mendengar dan menyetel mengulang - ulang komposisi Jaya Suprana > yang membosankan ini ? Padahal di dalam diamlah kita mengenal sebuah > penciptaan ... mengalami sebuah kesaksian sejati ... > > Inilah > paripurna musik. Urusan keilmiahan matematis harmoni dan rasa sudah > parkir terhenti disini. Dan memang musik sejati adalah diam, hening, > khusyu'. Sebuah suara tanpa bunyi tapi ada. Suara yang tanpa harus > mengikuti hukum aksi reaksi. Sebuah rasa tanpa perasaan. Sebuah > kendaran terindah menuju keahadan. > > * > > Musik sebagai > wilayah nabi Daud ini mengajarkan cara berfikir yang tidak sekedar > konsep satu sisi linear. Musik bisa membuat lompatan-lompatan ide yang > bagi sebagian orang dianggap nyleneh tak beraturan. Padahal itu adalah > file
masa depan yang dimunculkan lewat sebuah dunia otak kanan. Kata > orang disebut dunia ilham. > > Dan > memang dunia ide realitasnya jauh dari konsep berfikir seorang > administrator birokratif linear. Lompatan -lompatan ide ini hanya bisa > dipahami oleh para scientis yang pernah mempelajari hukum Phytagoras > tentang asas harmony. > > Dalam disiplin harmoni, sesuatu kelipatan > jarak pasti akan menimbulkan kesamaan bunyi walau dengan warna suara > yang berubah dan kecepatan frekwensi yang berbeda. Mudahnya ya kayak > lagunya Ian Antono dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya tetap, > lakonnya saja yang berubah, dan itu pasti berulang terjadi. > > Inilah > kenapa seorang musisi seperti Bethoveen atau Mozart mampu memberi > gambaran kejayaan kerajaan Eropa. Kalau di sini ya kayak seniman > Ronggowarsito yang sebenarnya beliau adalah salah
satu konseptor patrap > ruhani. > > He ... he ... bila bila diseriusi, mungkin para musisi > saat ini bisa dengan mudah mengasah ilmu weruh sak durunge winarah > alias kemampuan melongok masa depan yang masih menggantung di Lauhil > Mahfuz. > > Kalau dalam proses rekaman, ada sebuah fase yang > dinamakan mixing dan mastering. Di bagian ini seorang engineer dituntut > keseimbangan otak kiri kanan. Hal ini karena otak kiri memang bertugas > menghafal, mendefinisi, merumuskan konsep matematis musik beserta > segala istilahnya. Otak kiri harus menguasai ilmu engineer tentang apa > itu sebuah Radio Frequency Interference, delay, phase, bandwith, > jitter, dither, gain, compress ratio, noise floor, bit, sampling rate > dlsb. Sedang otak kanan berfungsi menangkap rasa keindahan musisi yang > sedang ditangani. > > Struktur kerjanya, otak
kanan menampung > kehendak -kehendak rasa musisi. Lalu ia memerintahkan otak kiri untuk > menerjemakan. Bila otak kanan tak bekerja dengan baik, gagallah otak > kiri dengan segala bekal kepandaian analisisnya. Logikanya, apa yang > mau dikerjakan otak kiri kalau tidak ada input dari otak kanan yang > bagus. Maka yang terjadi hanyalah "make wave, not music". Wave is real > mathematic, music is real dynamic. Ilmu itu kaku tak berujung, musik > itu hidup. > > Anda > yang tak paham musik pun akan mudah membedakan keindahan organ tunggal > atau electone vs musik live yang dimainkan musisi berkualitas. Mesin > keyboard electone takkan pernah salah karena di dalamnya telah > terumuskan dengan baku sebuah matematis harmony modern. Tanpa berlatih > sungguh -sungguh, asal pencet pun bisa berbunyi bagus. > > Tapi > apakah keyboard lebih dapat menyentuh
sebuah keindahan akan penciptaan > sebuah karya bila dibanding dengan musisi live band sesungguhnya ? > begitulah analaogi yang paling bisa kita praktekkan secara > gampang...entah secara hablumminannas atau hablumminallah.... > > Seandainaya > cara kerja audio engineer diterapkan dalam dakwah saat ini, betapa > harmoni dunia ini. Dan sebenarnya hal ini sudah pernah diwariskan awal > kali Islam masuk Nusantara. Keharmonian, keindahan, etos kerja dan > etika telah menyatu dengan alam nusantara. > > Sampai-sampai > Syech Mahmud Syaltout dari Mesir menganggap Nusantara adalah penggalan > surga. Bagaimana tidak, di tanah arab untuk merawat satu meter tanaman > butuh dana sampai puluhan juta. Sedang di sini kata Koes plus tongkat > kayu dan batu jadi tanaman tanpa keluar modal sepeserpun. > > Tapi > kenapa sekarang seperti penggalan neraka ya ? Banyak
hutan gundul dan > sampai-sampai saking panasnya, masjidpun banyak yang terbakar. ... > > Apa > mungkin kita ini karena kita sering mendengar orasi yang pemetaan nada > dan dinamiknya seperti musik death metal ...? Kenceng melulu tanpa jeda > alias monolog tak memberi kemerdekaan diam merenung .... isinya penuh > ketidakpuasan, nggak ridho ... > > ** > > Sangat jelas dalam surah Yaasin > [36] : 69 : > > "Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan > bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah > pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. > > Bahwa > Allah tidak mengajari syair Muhammad karena memang itu tidak layak, > dalam arti sudah sangat jelas perbandingan posisi sebuah keluhuran > ilham dengan proses budaya manusia dalam meraba-raba keberadaan Tuhan. > Bagi > saya
pengharaman itu hanyalah karena kita tak pernah mengetahui > kehebatan Al Quran. Sehingga seakan - akan buah karya budaya manusia > yang bernama musik, entah yang berupa nyanyian, instrument atau syair > sanggup menandingi kehebatan dan kecepatan sebuah ilham. > Hal ini > persis seperti kita yang terselubungi syirik halus dengan beranggapan > bahwa syetan dengan Allah adalah sebuah konsep pertarungan sederajat > sehingga kita merasa bisa membela Allah, meninggikan nama Allah dan > melindungi Allah dari godaan setan. Kita secara tak sadar melemahkan > kemampuan Allah ... kita sudah berfikir terbalik ... alam e njungkir, dunyo > kate kiamat rek ! > > Kalau kita > mengharamkan musik, lebih baik mulai sekarang kita copoti saja corong - > corong adzan yang ada di masjid. Sebab secara sejarah, alat itu > diciptakan untuk kegiatan musik dan aktifitas Yahudi Nasrani.
Kalau > perlu kita nggak usah pake mobil, listrik, hp, komputer, apalagi > internetan made in Pentagon ini .... toh ini semua bukan orang Islam yang > buat .... > > Memang di sinilah letak keheranannya. Bagaimana bisa > kegiatan yang sifatnya meng"healing" anugerah tubuh kok malah > diharamkan. Sedangkan kondisi polusi suara yang bikin sakit badan dan > mental malah tak pernah ada solusi fatwa agama. > > Kalau merunut > secara hadits, nabi sendiri selalu menganjurkan me"nada"kan bacaan > Quran bukan ?. Dalam makna, bawa sesuatu yang sangat berbobot haruslah > disampaikan dengan suatu keindahan supaya hal itu benar -benar membekas > di hati penyimak. Coba saja seumpama kita baca Quran seperti logat > naratif pembaca berita ... wah pasti sangat garing sekali. > > Yang jelas > anak kecil sebagai generasi penerus akan bertambah asing dan malas >
karena tidak ada ketertarikan awal. Bukti pribadi yang gampang, ketika > menyetel radio dan terdengar keindahan nada adzan, anak saya yang masih > umur satu tahun sering langsung menyimak diam, khusyu sekali > seakan-akan paham rintihan hati sang muadzin. > > Tapi ketika saya > membuka Al Quran sambil santai membaca dalam hati, dengan kesigapan > tangan mungilnya ... kreek .... sudah tiga kali ini kitab itu disobek. > Untung nggak saya marahi ... lha wong derajat kesucian saya kalah sama > dia hare ... namanya saja bayi masih fitrah .... dan fitrah itu perjalanan > pembelajarannya tanpa rekayasa. Persis kayak Musa yang makan api waktu > bayi .... semua membawa pesan tersembunyi. > > Tapi yang rada aneh > para jamaah haji kita. Suatu saat sang jamaah haji baru menginjakkan > tanah di Makkah. Tiba -tiba dari kejauhan ia melihat orang arab > berteriak -teriak
sambil membawa surban. Ia pun langsung mendekat dan > menegadahkan tangan sambil berucap lembut ... amien ... amien ... amien ... > Tiba - tiba teman sebelahnya nyeletuk " mas, orang itu lagi jualan > surban..ngapain sampeyan amin - amin ? oo rupanya pedagang toh ... kirain > pemfatwa ... > > *** > > Memang > sih pada perjalanannya, musik bisa menjadi godaan yang melenakan > tujuan. Dan itu lumrah saja, tergantung kesadaran ilahi masing - masing > penikmat. Sama persis seperti orang yang belajar fiqih, nahwu sharaf, > ilmu mantiq dll. Toh pada perjalanannya banyak yang tak sampai pada > kesadaran ilahi. > > Banyak yang akhirnya tertahan pada kekuasaan, > fasilitas wibawa, jual beli suara, nego jatah menteri atau kucuran dana > luar negeri yang semuanya masih menandakan
mental tangan di bawah > alias mengemis pada penduduk dunia untuk sebuah anggapan dunia yang tak > berujung berputar - putar. Alias tak begitu yakin akan Daya Allah > > Tapi > sekali lagi, sesuai judulnya, musik hanyalah jalan, hanyalah kendaran, > bukan tujuan. Persis seperti disiplin ilmu fisika, biologi dan renik > kebudayaan yang lain. Kalau tujuan billah sudah tercapai, kenapa sebuah > jalan dan kendaraan harus diributkan? kenapa harus ditandingkan ...? > > Biarkan > sajalah tiap orang mencari jalan menuju Tuhannya sesuai jatah ilmu dan > kebudayaan yang ia pahami ... karena kita tak pernah tahu seberapa besar > ketulusan mahluk dengan Khalik. Padahal inilah awal point penting > sebuah proses perjalanan ketauhidan. > > Waba'du, mohon maaf kalau > bahasan ini sifatnya campur aduk dengan menggunakan metode ilminik > alias ilmiah campur klenik
karena musik memang menyangkut dua dunia, > logis dan nonlogis. Rasa plus matematis. > > > Wassalam, semoga lebih harmoni > > Dody Ide > > |
|
|
Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
|
mardibros <patrapmania@...>
patrapmania
Offline Send Email
|