Kualitas Pendidikan Tinggi Indonesia Tertinggal Jauh
http://edukasi. kompas.com/ read/xml/ 2009/11/16/ 12133939/ kualitas.
pendidikan. tinggi.indonesia .tertinggal. jauh
Senin, 16 November 2009 | 12:13 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Perguruan-perguruan tinggi di Indonesia perlu melakukan
kerjasama internasional dengan universitas di luar negeri Selain bertujuan untuk
meningkatkan kualitas, hal itu juga demi daya saing.
Sampai saat ini, belum ada lembaga pendidikan di Indonesia yang masuk dalam
kategori 200 universitas terbaik dunia versi lembaga pemeringkat ternama The
Times Higher Education-QS World University (The-QS World University).
Sementara itu, Global Competitiveness Report 2009/2010, yang antara lain menilai
tingkat persaingan global suatu negara dari kualitas pendidikan tingginya, pun
cuma menempatkan Indonesia di peringkat ke-54 dari 133 negara, yaitu di bawah
Singapura (3), Malaysia (24), Cina (29),Thailand (36), serta India (49). Di sisi
lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, jumlah sarjana yang belum
bekerja per Februari 2009 hampir mencapai 13% dari total jumlah penganggur, atau
sekitar 1,2 juta orang.
Menurut Country Director British Council Indonesia Keith Davies dalam seminar
membahas peluang dan tantangan kerjasama internasional di Jakarta, Sabtu lalu
(14/11), kerjasama antara universitas di Indonesia dengan perguruan tinggi luar
negeri yang lebih berpengalaman bisa dilakukan melalui Double Degree, Franchise
atau Staff Exchange.
Sayangnya, di kata dia, bidang ini pun Indonesia masih tertinggal dibanding
negara tetangganya. Sebuah penelitian di Inggris menemukan, saat ini terdapat
270,000 mahasiswa asing yang mengambil double degree di sana. Dari jumlah itu,
Malaysia, Singapura, Hongkong, dan India menyumbang hampir setengahnya.
Kesiapan universitas
Mahasiswa asing yang universitasnya menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi
Inggris bisa meraih diploma ganda sekaligus mendapatkan salah satu pendidikan
terbaik di dunia. Menurut The-QS World University, peringkat 5 besar universitas
terbaik dunia saat ini didominasi oleh 4 perguruan tinggi Inggris yaitu
University of Cambridge, University College London, Imperial College London, dan
University of Oxford.
Untuk itulah, lanjut Davies, mulai tahun depan pemerintah Inggris melalui
British Council menyediakan bantuan "Prime Minister Initiative 2: Collaborative
Programme Delivery" hingga sebesar 1,2 juta poundsterling bagi perguruan tinggi
di Indonesia. Dana itu, kata dia, dipergunakan untuk membangun kerjasama
internasional hingga dua tahun berikutnya.
Sejak dicanangkan pada 2006 lalu, program Prime Minister Initiative ini berhasil
membiayai 235 kerjasama penelitian, pelatihan dosen, pertukaran mahasiswa, dan
beasiswa antar universitas di seluruh dunia.
"Melalui kemitraan ini kami berharap dapat mewujudkan internasionalisasi dunia
pendidikan yang lebih luas lagi. Program ini sebagai pembuka jalan untuk
kemitraan antar lembaga pendidikan kedua negara," ujar Davies.
Dia menambahkan, sudah ada beberapa perguruan tinggi yang sukses membangun
kerjasama dengan Inggris. Sebutlah misalnya, kata dia, Universitas Bina
Nusantara yang bekerjasama dengan Northumbria University untuk Design Studies
dan dengan Bournemouth University untuk Tourism & Hospitality. Contoh lainnya
adalah Universitas Indonusa Esa Unggul, yang bermitra dengan Heriot Watt untuk
Management Programme.
Mahasiswa jurusan desain Bina Nusantara, ujar Keith, bisa belajar dan
mendapatkan gelar dari Northumbria, --kampus yang menelorkan Jonathan Ives, si
perancang iPod dan iPhone yang tersohor itu. Sementara itu, mahasiswa di bidang
pariwisata pun bisa mendapatkan gelar dari Bournemouth yang belum lama ini
menginvestasikan 1.5 juta poundsterling untuk fasilitas teknologi komunikasi dan
informasinya.
Menanggapi hal itu, Dekan Program Binus Internasional Minaldi Loeis mengatakan,
bahwa segalanya kembali pada pengelola lembaga pendidikan itu sendiri.
"Tantangannya justru ada pada kesiapan universitas dalam menjalankan visi,
komitmen, pemasaran, serta manajemen programmya," tutur Loeis.
Dia menambahkan, biaya sebetulnya bukan menjadi kendala. Walaupun Binus
menaikkan biaya pendidikan internasionalnya hingga 10 persen demi menjaga
kualitas, lanjut Loeis, jumlah mahasiswa yang mendaftar setiap tahunnya
mengalami kenaikan antara 10 sampai 20 persen.