Bermata tapi tak melihat,bertelinga tapi tak mendengar….. Tiba-tiba saya jadi
ingat syair lagu milik Bimbo tersebut. Inti dari kalimat itu ialah orang yang
seharusnya mampu melihat dan mampu mendengar karena memiliki mata dan telingga.
Banyak sebab mengapa orang menjadi buta dan tuli meskipun memiliki panca indera
yang utuh. Makna yang lebih dalam lagi yaitu buta tuli soal hati nurani.
Dua hari menjadi pengawas ujian nasional SMA bagi saya sangat makan hati.
Segala perasaan sebagai guru menjadi campur aduk,antara yang kasihan melihat
beban psikologis anak juga perasaan tanggung jawab profesional sebagai pengawas.
Kebetulan saya menjadi pengawas di salah satu SMA swasta. Seperti kebanyakan
siswa-siswa di sekolah yang lain,betapa menakutkan dan menegangkan ketika anak
IPS sekolah tersebut harus mengerjakan soal matematika. Tahun ini untuk pertama
kalinya mata pelajaran matematika menjadi mapel ujian nasional. Banyak siswa IPS
yang dahulu memilih jurusan IPS hanya karena menghindari matematika meskipun di
program IPS tetap ada sampai kelas XII,namun tahun-tahun sebelumnya tidak
diujiankan nasional. Selama dua jam menjadi pengawas bersama satu pengawas yang
lain ,saya sangat menderita. Satu jam pertama saya berusaha mengendalikan
perasaan saya yang sedang berkecamuk. Bagaimana mungkin,secara vulgar mereka
saling memberikan jawaban meski tipe soal beda A dan
B ( kata anak-anak soalnya antara A dan B mirip hanya nomernya beda) mereka
dengan cueknya tengok kanan kiri. Kami sudah berusaha memperingatkan tapi seakan
mereka tidak peduli pada para pengawas. Kami masih berusaha sabar karena beban
psikologis mereka. Namun apakah karena kami memahami beban tersebut justru
sikap kami menjadi permisif? Seperti anak kecil yang berbuat kesalahan,kita
jarang mau berkata jujur bahwa itu salah. Kita dengan mudah memaafkan mereka
karena menyadari bahwa mereka masih kecil. Apakah anak-anak itu minta dikasihani
oleh para pengawas dengan membiarkan berbuat seenaknya? Akhirnya ketika waktu
hampir habis,30 menit kami tegas saja. Bukan berarti pengawas diam itu berarti
mereka bebas seenaknya. Saya sempat menatap mata salah seorang siswa yang dari
awal sibuk cari-cari jawaban. Alhasil malah saya yang gantian dipelotin oleh
dia. Saat itu sungguh saya merasa dilema menjadi seorang pengawas ujian. Kami
sebagai pengawas pun tidak hilir mudik kesana
kemari. Selama satu setengah jam kami duduk manis. Kurang lima menit waktu
habis,lembar jawab siswa yang duduk di depan meja guru,masih banyak yang belum
diisi. Saya sempat iba karena jelas dia tidak bisa seenaknya seperti teman yang
lain meminta jawaban kepada teman. Ketika bel tanda berakhir saya meminta mereka
untuk meninggalkan tempat ujian tapi beberapa anak berteriak ”sebentar Buk....”
saya berpikir positif bahwa mereka memang butuh waktu untuk menghitamkan jawaban
namun di pihak lain kesempatan itu digunakan untuk meminta jawaban secara
vulgar. Saya sempat ”gilapen” apa-apaan ini. Akhirnya dengan menepuk-nepuk meja
saya menghalau siswa yang sengaja mengambil jawaban teman. Pulang mengawasi
ujian,saya menitikan air mata. Saya tidak mengira kejadian tadi yang disebut
ujian nasional. Mengapa anak-anak menyikapi kegalauan dan kekuatiran tidak
lulus dengan sikap yang negatif? Mengapa kami para pengawas seakan-akan dihimbau
pengertiannya untuk memahami situasi berat
ini dengan memberi kelonggaran kepada mereka. Kami melihat sesuatu yang sangat
menyakitkan dalam proses belajar namun kami seakan tidak punya power. Kami harus
berdamai dengan situasi,kooperatif dengan mereka. Hati nurani saya tersiksa.
Saya tidak menduga,malam harinya saya ditelfon kepala sekolah saya dan
diingatkan jangan terlalu serius menjaga ujian. Kalau melihat anak-anak yang
saling memberi jawaban,pura-pura tidak tahu saja. Saya cukup kaget karena saya
harus berkompromi dengan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani saya. Saya
mohon kepala sekolah mencari pengganti pengawas yang sekiranya bisa kooperatif.
Tetapi permohonan saya tidak dikabulkan hanya dijanjikan tahun depan saya tidak
akan diusulkan jadi pengawas karena kebetulan mapel saya Bahasa Indonesia karena
biasanya di tempat kami tidak punya tugas mengawasi. Hanya karena ada beberapa
teman yang mengikuri prajabatan maka saya dan dua orang menggantikannya.
Hari kedua,sebelum masuk ke ruangan ,panitia mengingatkan kepada para pengawas
untuk tidak terlalu galak. Sejak tadi malam saya menduga pasti panitia
mendapatkan laporan anak-anak(meski belum tentu benar laporan mereka) dan
menghubungi kepala sekolah saya. Saya memaksakan diri datang meski setengah hati
mengingat perintah kepala sekolah saya untuk menjaga hubungan dengan sekolah
lain. Saat briefing ,para pengawas dimohon kerelaannya untuk menciptakan
suasana sejuk ,mbok yang familiar dengan anak-anak. Kasihan anak-anak yang dapat
pengawas yang sungguh-sungguh bekerja,ketika mengatakan hal itu panitia tersebut
sebenarnya sambil guyon tapi bagi saya sangat menyakitkan hati. Saya heran
dengan pernyataan itu, artinya ketika pengawas bekerja sesuai ketentuan malah
dianggap merugikan anak-anak. Saya jadi apatis,percuma juga kalau saya ingin
menjelaskan kepada panitia situasi yang terjadi kemarin karena menurut saya
mereka tidak butuh argumen saya,yang mereka butuhkan ya
guru-guru yang kooperatif dan krompromis.
Hari kedua saya lalui tanpa kesan karena saya menjadi begitu cuek jadi
pengawas. Teman pengawas yang lain juga banyak yang merasakan seperti saya,sikap
mereka ”porah-porah” artinya terserah aja deh.. Ternyata anak-anak tidak hanya
saling ngobrol,mereka sungguh tidak punya malu lagi. Bahkan sobekan kertas
saling dilempar. Gambaran tentang pendidikan di Indonesia tergambar sangat
jelas di hadapan saya. Mengapa yang namanya ujian nasional mengajari orang
bersikap tidak jujur. Kepanikan tidak hanya dirasakan murid tetapi guru sehingga
guru pun menjadi begitu tegang. Akibatnya menyerah kalah dengan membiarkan dan
memberi kelonggaran anak-anak saling memberi jawaban. Kasihan,biarkan saja.....
Beberapa tahun yang lalu di salah satu SMA pinggiran di kota saya,mobil milik
pengawas ujian sengaja dirusak oleh anak-anak yang merasa dirugikan karena tidak
bisa minta jawaban teman gara-gara diawasi oleh pemiliki mobil tersebut.
Kekanak-kanakan dan sungguh tidak dewasa,ironis sekali. Mengapa guru-guru
menjadi mudah menyerah, dan gentar dengan sikap anak-anak yang cenderung
anarkis? Kadang kesannya guru jadi cari amannya sendiri dengan berkompromi
membiarkan segala tingkah polah anak-anak ketika ujian. Sungguh dilematis
menjadi pengawas ujian nasional...
Salam,
y. maryati
wonosobo
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]