Search the web
Sign In
New User? Sign Up
budaya_tionghua · Budaya Tionghoa & Sejarah Tiongkok
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 46132 - 46161 of 46161   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#46161 From: "ardian_c" <ardian_c@...>
Date: Tue Dec 1, 2009 2:00 am
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
ardian_c
Offline Offline
Send Email Send Email
 
bener apeq, rasanya kita2 nanti mesti ketemuan ama cicitnya guangxu ya
heheheheheeh sape tau ada yg bisa dicatet lage getu.

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, liang u <liang_u@...> wrote:

>    Kalau ada waktu, saya kira moderator perlu mengirim orang untuk
mengetahui lebih dalam, ini adalah sejarah Tiongkok yang luput dari perhatian
orang. Di Tiongkok, dinasti Qing tidak lagi dianggap penjajahan, karena orang
Mancu adalah salah satu etnis resmi di Tiongkok. Demikian juga dinasti Utara,
seperti Wei utara, karena orang etnis yang menjadi raja sekarang adalah bagian
dari etnis bangsa Tionghoa. Mongolia agak lain, pendapat masih terpecah. Karena
etnis Mongol sekarang mempunyai negara Mongolia, tapi sebagian termasuk etnis
dalam wilayah Tiongkok, jadi adalah termasuk etnis bangsa Tionghoa (Zhonghua
Minzu).
>  
> Catatan:
>    Dinasti Qing (1616-1911),  Kangxi, kaisar ke-4 sejak berdirinya negara
Jin (Kim) II  dan Kaisar ke -3 setelah negara Jin diproklamirkan menjadi
dinasti Qing (Ceng atau Cing) , Yongzheng, kaisar ke 5, Jiaqing kaisar ke 7,
Guangxu kaisar ke 11 dan Puyi kaisar ke 12 (terakhir).
> Dinasti Qing ini diperintah oleh keluarga Aixinjioro (orang barat menulisnya
sebagai Aisingioro) .
>
>
>
>
> ________________________________
> From: save_mynit <save_mynit@...>
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> Sent: Sun, November 29, 2009 5:20:54 PM
> Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit
Kaisar Guang Xu di Jakarta
>
>  
> Salam teman2,
>
> Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu
ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia.
Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri
tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor
Pu Yi.
>
> Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya
dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek
buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu
mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak
menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya
air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya)
putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
> Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi
menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil.
Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita
selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh
mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan
pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak
menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat
berjualan kembang.
>
> Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit
ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang
Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam
pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan
dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
> Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut
"Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia
mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada
cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada
jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim
orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan
mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
> Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti
marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya,
bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol
(mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan
Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat
kembali ke Mongolia.
>
> Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe
it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan
kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi
dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang
wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
> Percaya gak percaya....
>
> Salam
> Abdi Christ
>

#46160 From: "ardian_c" <ardian_c@...>
Date: Tue Dec 1, 2009 1:57 am
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
ardian_c
Offline Offline
Send Email Send Email
 
kamsia, yg maksud owe ini adalah keheranan kalu emang sepupu kok beda jauh
umurnya hehehehe getu lho.

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Akhmad Bukhari Saleh" <absaleh@...>
wrote:
>
> ----- Original Message -----
> From: ardian_c
> To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
> Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
> Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan
cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
>
> > Lage guangxu mokad taon 1908,
> > itu cixi dah umur brp?
> > guangxu sendiri rasanya belon sampe
> > umur 40 taon, sekitar 30an.
>
>
> - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
>
> Tetapi Ardian-heng, kenyataan sejarah memang menunjukkan See Thayhouw Tjoe Hie
meninggal persis sehari setelah meninggalnya Hongtee Kong Sie!!
>
> Tjoe Hie meninggal 15 November 1908 dalam umur 73 tahun kurang 2 minggu,
sedangkan Kong Sie meninggal sehari sebelumnya, 14 November 1908 dalam umur 37
tahun lebih 2,5 bulan.
>
> Jangan lupa bahwa Kong Sie sudah menjadi kaisar sejak umur 3,5 tahun.
> Maka keheranan looheng: "... cixi dah umur brp? guangxu sendiri rasanya belon
sampe umur 40 taon ..." menjadi tidak heran lagi, karena ketika dia 'mokad',
Kong Sie jadinya sudah sempat bertahta selama 34 tahun (walau efektif berkuasa
tidak selama itu).
> Tentunya 34 tahun itu bukan waktu sebentar. Lebih lama dari 'bertahta'-nya
Soeharto! Hehehe...
>
> Tetapi memang cerita si cicitnya Kaisar Kong Sie ini banyak ngawurnya.
>
> Antara lain, pengganti Kong Sie, Kaisar Henry Puyi, bukanlah adik Kong Sie,
melainkan keponakan.
>
> Antara lain lagi, tidak mungkin nenek si cicit dendam pada Sun Yat Sen
gara-gara coup terhadap Kong Sie.
> Karena coup itu tidak dilakukan oleh Sun Yat Sen, melainkan oleh Ibusuri Tjoe
Sie dibantu oleh a.l. Yuan Si Kai.
>
> Antara lain juga, Henry Puyi tidak pernah kabur dari Tiongkok.
> Sejak diturunkan dari tahta tahun 1912, sampai naik tahta lagi untuk 2 minggu
di tahun 1917, dia tetap tinggal di Istana Terlarang, Beijing.
> Setelah peristiwa 1917 itu, dia tinggal di istana di Tianjin selama 15 tahun.
Lalu diangkat Jepang di tahun 1932 menjadi raja boneka di Mancuria sampai 1945.
>
> Antara lain pula, Henry Puyi juga tidak pernah dengan niatnya sendiri menolak
untuk menjadi kaisar.
> Setiap kali dia gagal menjadi kaisar adalah karena diturunkan orang dengan
paksaan.
>
> Namun, di segi lain, bisa dicatat bahwa memang betul sampai 40-an tahun yang
lalu, daerah Glodok, Jakarta Barat, disebut sebagai "Pancoran".
> Yaitu sebelum dikenalnya Pancoran sebagai nama daerah di persimpangan Tugu
Dirgantara, Jakarta Selatan.
>
> Bagaimana pun juga, bagi mereka yang punya 'modal' pengetahuan tentang sejarah
akhir dinasti Tjeng (Qing), kelihatannya akan menarik untuk bisa ngobrol dengan
si cicitnya Kaisar Kong Sie ini...
>
> Wasalam.
>
> =============================
>
>   ----- Original Message -----
>   From: ardian_c
>   To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
>   Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
>   Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan
cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
>
>
>   rasanya si guangxu bukan sdr.sepupu cixi, wong cixi itu ibusuri, dan guangxu
itu anak asuh dari ratu Ci An, bokapnya namanya kaisar Xianfeng getu.
>   Lage guangxu mokad taon 1908, itu cixi dah umur brp ? guangxu sendiri
rasanya belon sampe umur 40 taon, sekitar 30an.
>
>   trus jg kerajaan dinasti qing itu adalah orang manchu dan semua kaisar qing
marganya aishin gioro aixin jueluo.
>
>
>   --------------------------------------------
>
>
>   --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "save_mynit" <save_mynit@> wrote:
>   >
>   > Salam teman2,
>   >
>   > Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam
minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di
Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya
adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the
last emperor Pu Yi.
>   >
>   > Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut
katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang
Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang
Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak
menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya
air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya)
putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>   >
>   > Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi
menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil.
Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita
selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh
mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan
pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak
menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat
berjualan kembang.
>   >
>   > Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit
ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang
Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam
pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan
dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>   >
>   > Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut
"Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia
mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada
cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada
jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim
orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan
mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>   >
>   > Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk
ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa
tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari
Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang
perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan
sempat kembali ke Mongolia.
>   >
>   > Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you
believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal
jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol
lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur
tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>   >
>   > Percaya gak percaya....
>   >
>   > Salam
>   > Abdi Christ
>

#46159 From: "ardian_c" <ardian_c@...>
Date: Tue Dec 1, 2009 2:06 am
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
ardian_c
Offline Offline
Send Email Send Email
 
rasanya seh namanya alien itu hehehehehe ya dari jaman dinasti utara selatan
banyak para alien2 hehehehehe untungnya bukan dari planet nibiru.
ngemeng2 misalnya alien itu contohnya ya Hua Mulan sicewek jagoan yg dari suku
Xianbei.

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Akhmad Bukhari Saleh" <absaleh@...>
wrote:
>
> Bukan hanya 'alien' Boantjioe (Manchu) dari dinasti Tjeng (Qing), tetapi juga
'alien' Mongol dari dinasti Goan (Yuan), sudah dianggap sebagai 'pribumi'.
>
> Karena kedua dinasti penjajah itu lalu menyerapkan dirinya pada budaya Han,
maka mereka kemudian dianggap 'orang' Cina.
> Sehingga di kemudian hari prestasi kaisar Kublai Khan dari dinasti Goan,
misalnya, dan prestasi kaisar Kian Liong (Qianlong) dari dinasti Tjeng, misalnya
lagi, sudah menjadi kebanggaan seluruh Tiongkok.
>
> Walaupun di jamannya masing-masing ada saja pemberontakan untuk memerdekakan
bangsa Han.
>
> Wasalam.
>
> =========================
>
>   ----- Original Message -----
>   From: shinmen takezo
>   To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
>   Sent: Monday, November 30, 2009 11:17 AM
>   Subject: Re: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan
cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
>
>
>
>   apek liang u
>
>   yang menarik di bahas adalah apa pandangan tiongkok terhadap dinasti "alien"
qing , sebagai bagian dari sejarah tiongkok , apa kekalahan peperangan atau
penghinaan terhadap qing , juga bisa dianggap penghinaan juga terhadap tiongkok
>
>
>
>   2009/11/30 liang u <liang_u@...>
>
>
>
>     Dik Christ,
>       Sangat menarik ceritanya, sayang saya jauh di Singapore, kalau tidak
sudah datang minta  dikenalkan kepadanya. Mungkin yang aneh adalah dinasti Qing
dikuasai oleh orang Man (Mancu) atau Boan menurut logat Hokkian,bukan Monggol.
Yang diperintah Mongol adalah dinasti Yuan atau Guan.
>     Ketika saya ke Beijing, saya pernah mengunjungki Qing Xi Ling atau makam
barat kaisar dinasti Qing yang terletak di kabupaten Yi keresidenan Baoding
propinsi Hebei. Hari pertama pagi-pagi diantar tuan rumah meninjau waduk yang
sekarang menjadi tempat wisata, siang pulang makan di rumah penduduk, setelah
makan sorenya mau diajak ke Qing Xi Ling itu, tapi malang hari hujan, maka
sayapun tidur. Ketika bangun ada tamu di sana tadinya saya kira tamu tuan rumah
saja. Tapi saya terkejut kalau ia datang mencari saya. Katanya jangan tidur di
sini (di rumah petani tuan rumah) udara sudah dingin dan ranjang keras, tidur
saja di hotel, nanti dia yang urus, kalau mau saya telpon sekarang, jangan
pulang besok, kita ke Qing Xi Ling dulu, katanya kemudian.
>        Karena hari hujan dan sudah mulai gelap (maklum sudah Oktober) udara
cukup dingin, sebetulnya saya tak niat keluar, hanya kurang enak terhadap tuan 
rumah, tapi kelihatan tuan rumah seolah memberi isyarat untuk saya turut saja.
Akhirnya saya mengiakan, tamu  bilang, nanti saya pindahkan mobil ke depan
rumah. Ia pun membawa payung keluar, depan rumah adalah jalan tanah, kira-kira
100 meter dari jalan kampung yang diaspal. Setelah ia keluar, tuan rumah bilang,
ia orang kampung sini asalnya, ia ketua pengadilan negeri kabupaten katanya,
saya tertegun. Bagaimana ia tahu saya dan bagaimana ia tahu kedatangan saya?
Tuan rumah bilang mungkin dari mulut penduduk kampung, dikampung seorang asing
datang, seluruh kampung tahu, jangan khawatir katanya, orang kampung sini semua
sne Li , masih ada hubungan keluarga semua.
>        Ketika kami keluar, di depan sudah ada mobil dinas Pengadilan 1. Haha,
saya seorang kaypang diajak naik mobil pemerintah dan ditempatkan di hotel
sebagai tamu pemerintah daerah.
>        Di jalan ia bilang undur dua tiga hari, kita keliling dulu, di sini
banyak peninggalan sejarah. Kami libur nasional seminggu katanya. Tapi saya
terpaksa menolak, karena jadwal sudah pasti pesawat tak dapat diubah. Dengan
menyesal kelihatannya ia berkata, kalau begitu kita mampir sekarang. Kami mampir
ke makam pertama yang kami lewati, ialah makam kaisar Jiaqing, salah satu makam
terbesar di kompleks itu . Hari hujan, dan sudah gelap makam tak ada listrik,
lapangan luas, karena itu jalan agak licin, ia menunggu di depan dengan isteri
saya, karena isteri tak berani jalan di jalanan licin, kedua lututnya pernah
dioperasi. Saya pergi dengan putri tuan rumah petani tempat saya menginap sehari
sebelumnya. Makan sangat luas sayang aulanya yang penuh dengan gambar dan
keterangan tentang Jiaqing, tak dapat terbaca lagi karena sudah mulai gelap.
Akhirnya kamipun keluar. Di luar gerbang ada deretan rumah gedung, jelas bukan
rumah petani, ia bilang inilah turunan mantan pegawai istana dinasti Qing yang
sampai sekarang masih tinggal di situ mengurus makam. Dulu mereka kerja bakti,
tanpa gaji, tapi setelah reformasi mereka diberi honor lagi, sebagai penjaga
benda bersejarah. Di samping itu di sana ada makam ibusuri Cixi yang kenamaan
yang menyebabkan dinasi Qing murat marit. Cixi di makamkan disana, jenazah sudah
diangkut dengan kereta api. Jalan kereta api ke kabupaten ini adalah jalan
khusus untuk keluarga kerajaan yang mau sembahyang ke makam kaisar.
>        Keluar dari makam Jiaqing hari sudah gelap benar, sayang katanya dia
salah, harusnya ke makam Yongzheng dulu (Yong Ceng) kaisar tangan besi yang
berhasil mempertahankan kegemilangan dinasti Qing yang diwariskan oleh salah
satu kaisar yang paling berhasil dalam sejarah Tiongkok yaitu ayahnya Yong Ceng
kaisar Kangxi.  Pak Hakim bilang, lain kali datang lagi dan atur waktu jangan
terlalu mepet ia bilang, kami libur seminggu karena hari Nasional. Kalaupun saya
ada halangan, katanya lagi, ada supir yang akan mengantar.
>       Hari kedua pagi-pagi pak Hakim sudah datang ke hotel, mengajak makan
pagi dan langsung mengantar kami dengan mobil dinas ke Beijing. Jangan naik bis
katanya, hujan, bis becek. Supir libur tak ada di tempat saya antar sendiri
sampai ke hotel di Beijing. Jadilah pak Hakim supir dan saya sebagai tamu
pemerintah daerah. Dunia terbalik pikir saya, saya hanya heran, kabarnya pejabat
sombong-sombong bagaimana seorang ketua pengadilan negeri kabupaten, mau membawa
mobil sendiri, menjemput kami di kampung, mengantar ke makam kaiisar dan
akhirnya mengantar kembali ke hotel. Saya juga perhatikan, setiap lewat gerbang
tol, ia bayar, masuk ke halaman makam kaisar ia juga membeli karcis bahkan
membelikan kami karcis. Ketika sampai ke depan hotel, penjaga gerbang bertanya
mau masuk ke kompleks hotel ada urusan apa, baru portal di angkat. Sebetulnya
dari mobil sudah kelihatan tulisan yang besar. Pengadilan Negeri Kabupaten Yi
no. 1.
>       Sampai di hotel iapun mengantar kami masuk ke reseptionis untuk
mengambil kunci kamar. Ketika saya ajak makan dulu, di hotel ada rumah makan, ia
menolak dan pamitan pergi.
>       Kalau semua pejabat seperti itu, saya pikir, Tiongkok akan melesat lebih
cepat, selama ini saya dengar pejabat sombong, korup dan memandang rendah rakyat
miskin. Pengalaman yang sangat berbeda dengan masukan yang selalu saya dengar,
>       Di samping itu, di Beijing, saya kedatangan tamu lain yang di luar
dugaan. Seorang profesor dari Universitas Minoritas datang malam-malam menjenguk
kami di hotel di antar oleh seorang mahasiswi Mancu yang saya kenal. Surprise! 
Saya tak sempat bertanya termasuk etnis apa dia? Sedang hotel tempat menginap
saya hanya hotel bintang 2! Mahasiswi Mancu tsb juga menggunakan sne Wang
(Hokkian Ong) .
>        Cerita Sdr. Christ di atas saya rasa lebih banyak benarnya. Mereka
menggunakan sne Ong mungkin karena merasa masih keturunan dari kerajaan, ong
berarti raja.
>        Kalau ada waktu, saya kira moderator perlu mengirim orang untuk
mengetahui lebih dalam, ini adalah sejarah Tiongkok yang luput dari perhatian
orang. Di Tiongkok, dinasti Qing tidak lagi dianggap penjajahan, karena orang
Mancu adalah salah satu etnis resmi di Tiongkok. Demikian juga dinasti Utara,
seperti Wei utara, karena orang etnis yang menjadi raja sekarang adalah bagian
dari etnis bangsa Tionghoa. Mongolia agak lain, pendapat masih terpecah. Karena
etnis Mongol sekarang mempunyai negara Mongolia, tapi sebagian termasuk etnis
dalam wilayah Tiongkok, jadi adalah termasuk etnis bangsa Tionghoa (Zhonghua
Minzu).
>     Catatan:
>        Dinasti Qing (1616-1911),  Kangxi, kaisar ke-4 sejak berdirinya negara
Jin (Kim) II  dan Kaisar ke -3 setelah negara Jin diproklamirkan menjadi dinasti
Qing (Ceng atau Cing) , Yongzheng, kaisar ke 5, Jiaqing kaisar ke 7, Guangxu
kaisar ke 11 dan Puyi kaisar ke 12 (terakhir).
>     Dinasti Qing ini diperintah oleh keluarga Aixinjioro (orang barat
menulisnya sebagai Aisingioro) .
>
>
>
>
> ----------------------------------------------------------------------------
>     From: save_mynit <save_mynit@...>
>
>     To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
>
>     Sent: Sun, November 29, 2009 5:20:54 PM
>     Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan
cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
>
>
>
>     Salam teman2,
>
>     Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam
minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di
Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya
adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the
last emperor Pu Yi.
>
>     Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut
katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang
Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang
Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak
menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya
air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya)
putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
>     Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi
menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil.
Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita
selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh
mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan
pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak
menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat
berjualan kembang.
>
>     Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit
ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang
Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam
pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan
dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
>     Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut
"Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia
mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada
cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada
jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim
orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan
mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
>     Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk
ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa
tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari
Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang
perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan
sempat kembali ke Mongolia.
>
>     Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you
believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal
jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol
lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur
tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
>     Percaya gak percaya....
>
>     Salam
>     Abdi Christ
>

#46158 From: zhoufy@...
Date: Mon Nov 30, 2009 6:52 pm
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
zhoufy
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Pandangan orang tiongkok thd manzu atau Qing ber ubah2 sesuai zaman. Saat pertama kali masuk, pasti banyak yg mnolak, terjadilah perlawanan2 sengit. Namun secara per lahan2 penguasa baru mulai menyerap budaya Han, dan juga memakai orang2 Han sbg birokrat, pandangan pun berubah. Pada ujung dinasti Qing, tak ada lagi yg menganggap dinasti Qing adalah dinasti asing. Revolusi Sun yatsen bukan utk mendongkel kekuasaan asing, tapi utk menggulingkan sistem monarki. Maka di saat yg sama, banyak cendekiawan Han yg kolot mati2an membela kerajaan Qing, contohnya seperti kaum reformis terkenal Kang Youwei, yg menyerukan reformasi, tapi anti republik.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: shinmen takezo <hisashi.mitshui@...>
Date: Mon, 30 Nov 2009 11:17:07 +0700
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Subject: Re: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

 

apek liang u

yang menarik di bahas adalah apa pandangan tiongkok terhadap dinasti "alien" qing , sebagai bagian dari sejarah tiongkok , apa kekalahan peperangan atau penghinaan terhadap qing , juga bisa dianggap penghinaan juga terhadap tiongkok

2009/11/30 liang u <liang_u@yahoo.com>
 

Dik Christ,
  Sangat menarik ceritanya, sayang saya jauh di Singapore, kalau tidak sudah datang minta  dikenalkan kepadanya. Mungkin yang aneh adalah dinasti Qing dikuasai oleh orang Man (Mancu) atau Boan menurut logat Hokkian,bukan Monggol. Yang diperintah Mongol adalah dinasti Yuan atau Guan.
Ketika saya ke Beijing, saya pernah mengunjungki Qing Xi Ling atau makam barat kaisar dinasti Qing yang terletak di kabupaten Yi keresidenan Baoding propinsi Hebei. Hari pertama pagi-pagi diantar tuan rumah meninjau waduk yang sekarang menjadi tempat wisata, siang pulang makan di rumah penduduk, setelah makan sorenya mau diajak ke Qing Xi Ling itu, tapi malang hari hujan, maka sayapun tidur. Ketika bangun ada tamu di sana tadinya saya kira tamu tuan rumah saja. Tapi saya terkejut kalau ia datang mencari saya. Katanya jangan tidur di sini (di rumah petani tuan rumah) udara sudah dingin dan ranjang keras, tidur saja di hotel, nanti dia yang urus, kalau mau saya telpon sekarang, jangan pulang besok, kita ke Qing Xi Ling dulu, katanya kemudian.
   Karena hari hujan dan sudah mulai gelap (maklum sudah Oktober) udara cukup dingin, sebetulnya saya tak niat keluar, hanya kurang enak terhadap tuan  rumah, tapi kelihatan tuan rumah seolah memberi isyarat untuk saya turut saja. Akhirnya saya mengiakan, tamu  bilang, nanti saya pindahkan mobil ke depan rumah. Ia pun membawa payung keluar, depan rumah adalah jalan tanah, kira-kira 100 meter dari jalan kampung yang diaspal. Setelah ia keluar, tuan rumah bilang, ia orang kampung sini asalnya, ia ketua pengadilan negeri kabupaten katanya, saya tertegun. Bagaimana ia tahu saya dan bagaimana ia tahu kedatangan saya? Tuan rumah bilang mungkin dari mulut penduduk kampung, dikampung seorang asing datang, seluruh kampung tahu, jangan khawatir katanya, orang kampung sini semua sne Li , masih ada hubungan keluarga semua.
   Ketika kami keluar, di depan sudah ada mobil dinas Pengadilan 1. Haha, saya seorang kaypang diajak naik mobil pemerintah dan ditempatkan di hotel sebagai tamu pemerintah daerah.
   Di jalan ia bilang undur dua tiga hari, kita keliling dulu, di sini banyak peninggalan sejarah. Kami libur nasional seminggu katanya. Tapi saya terpaksa menolak, karena jadwal sudah pasti pesawat tak dapat diubah. Dengan menyesal kelihatannya ia berkata, kalau begitu kita mampir sekarang. Kami mampir ke makam pertama yang kami lewati, ialah makam kaisar Jiaqing, salah satu makam terbesar di kompleks itu . Hari hujan, dan sudah gelap makam tak ada listrik, lapangan luas, karena itu jalan agak licin, ia menunggu di depan dengan isteri saya, karena isteri tak berani jalan di jalanan licin, kedua lututnya pernah dioperasi. Saya pergi dengan putri tuan rumah petani tempat saya menginap sehari sebelumnya. Makan sangat luas sayang aulanya yang penuh dengan gambar dan keterangan tentang Jiaqing, tak dapat terbaca lagi karena sudah mulai gelap. Akhirnya kamipun keluar. Di luar gerbang ada deretan rumah gedung, jelas bukan rumah petani, ia bilang inilah turunan mantan pegawai istana dinasti Qing yang sampai sekarang masih tinggal di situ mengurus makam. Dulu mereka kerja bakti, tanpa gaji, tapi setelah reformasi mereka diberi honor lagi, sebagai penjaga benda bersejarah. Di samping itu di sana ada makam ibusuri Cixi yang kenamaan yang menyebabkan dinasi Qing murat marit. Cixi di makamkan disana, jenazah sudah diangkut dengan kereta api. Jalan kereta api ke kabupaten ini adalah jalan khusus untuk keluarga kerajaan yang mau sembahyang ke makam kaisar.
   Keluar dari makam Jiaqing hari sudah gelap benar, sayang katanya dia salah, harusnya ke makam Yongzheng dulu (Yong Ceng) kaisar tangan besi yang berhasil mempertahankan kegemilangan dinasti Qing yang diwariskan oleh salah satu kaisar yang paling berhasil dalam sejarah Tiongkok yaitu ayahnya Yong Ceng kaisar Kangxi.  Pak Hakim bilang, lain kali datang lagi dan atur waktu jangan terlalu mepet ia bilang, kami libur seminggu karena hari Nasional. Kalaupun saya ada halangan, katanya lagi, ada supir yang akan mengantar.
  Hari kedua pagi-pagi pak Hakim sudah datang ke hotel, mengajak makan pagi dan langsung mengantar kami dengan mobil dinas ke Beijing. Jangan naik bis katanya, hujan, bis becek. Supir libur tak ada di tempat saya antar sendiri sampai ke hotel di Beijing. Jadilah pak Hakim supir dan saya sebagai tamu pemerintah daerah. Dunia terbalik pikir saya, saya hanya heran, kabarnya pejabat sombong-sombong bagaimana seorang ketua pengadilan negeri kabupaten, mau membawa mobil sendiri, menjemput kami di kampung, mengantar ke makam kaiisar dan akhirnya mengantar kembali ke hotel. Saya juga perhatikan, setiap lewat gerbang tol, ia bayar, masuk ke halaman makam kaisar ia juga membeli karcis bahkan membelikan kami karcis. Ketika sampai ke depan hotel, penjaga gerbang bertanya mau masuk ke kompleks hotel ada urusan apa, baru portal di angkat. Sebetulnya dari mobil sudah kelihatan tulisan yang besar. Pengadilan Negeri Kabupaten Yi no. 1.
  Sampai di hotel iapun mengantar kami masuk ke reseptionis untuk mengambil kunci kamar. Ketika saya ajak makan dulu, di hotel ada rumah makan, ia menolak dan pamitan pergi.
  Kalau semua pejabat seperti itu, saya pikir, Tiongkok akan melesat lebih cepat, selama ini saya dengar pejabat sombong, korup dan memandang rendah rakyat miskin. Pengalaman yang sangat berbeda dengan masukan yang selalu saya dengar,
  Di samping itu, di Beijing, saya kedatangan tamu lain yang di luar dugaan. Seorang profesor dari Universitas Minoritas datang malam-malam menjenguk kami di hotel di antar oleh seorang mahasiswi Mancu yang saya kenal. Surprise!  Saya tak sempat bertanya termasuk etnis apa dia? Sedang hotel tempat menginap saya hanya hotel bintang 2! Mahasiswi Mancu tsb juga menggunakan sne Wang (Hokkian Ong) .
   Cerita Sdr. Christ di atas saya rasa lebih banyak benarnya. Mereka menggunakan sne Ong mungkin karena merasa masih keturunan dari kerajaan, ong berarti raja.
   Kalau ada waktu, saya kira moderator perlu mengirim orang untuk mengetahui lebih dalam, ini adalah sejarah Tiongkok yang luput dari perhatian orang. Di Tiongkok, dinasti Qing tidak lagi dianggap penjajahan, karena orang Mancu adalah salah satu etnis resmi di Tiongkok. Demikian juga dinasti Utara, seperti Wei utara, karena orang etnis yang menjadi raja sekarang adalah bagian dari etnis bangsa Tionghoa. Mongolia agak lain, pendapat masih terpecah. Karena etnis Mongol sekarang mempunyai negara Mongolia, tapi sebagian termasuk etnis dalam wilayah Tiongkok, jadi adalah termasuk etnis bangsa Tionghoa (Zhonghua Minzu).
 
Catatan:
   Dinasti Qing (1616-1911),  Kangxi, kaisar ke-4 sejak berdirinya negara Jin (Kim) II  dan Kaisar ke -3 setelah negara Jin diproklamirkan menjadi dinasti Qing (Ceng atau Cing) , Yongzheng, kaisar ke 5, Jiaqing kaisar ke 7, Guangxu kaisar ke 11 dan Puyi kaisar ke 12 (terakhir).
Dinasti Qing ini diperintah oleh keluarga Aixinjioro (orang barat menulisnya sebagai Aisingioro) .


From: save_mynit <save_mynit@yahoo.com>
Sent: Sun, November 29, 2009 5:20:54 PM
Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

 

Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ




#46157 From: "Akhmad Bukhari Saleh" <absaleh@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 6:37 pm
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
absaleh4
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Bukan hanya 'alien' Boantjioe (Manchu) dari dinasti Tjeng (Qing), tetapi juga 'alien' Mongol dari dinasti Goan (Yuan), sudah dianggap sebagai 'pribumi'.
 
Karena kedua dinasti penjajah itu lalu menyerapkan dirinya pada budaya Han, maka mereka kemudian dianggap 'orang' Cina.
Sehingga di kemudian hari prestasi kaisar Kublai Khan dari dinasti Goan, misalnya, dan prestasi kaisar Kian Liong (Qianlong) dari dinasti Tjeng, misalnya lagi, sudah menjadi kebanggaan seluruh Tiongkok.
 
Walaupun di jamannya masing-masing ada saja pemberontakan untuk memerdekakan bangsa Han.
 
Wasalam.
 
========================= 
 
----- Original Message -----
Sent: Monday, November 30, 2009 11:17 AM
Subject: Re: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

 

apek liang u

yang menarik di bahas adalah apa pandangan tiongkok terhadap dinasti "alien" qing , sebagai bagian dari sejarah tiongkok , apa kekalahan peperangan atau penghinaan terhadap qing , juga bisa dianggap penghinaan juga terhadap tiongkok

2009/11/30 liang u <liang_u@yahoo.com>
 

Dik Christ,
  Sangat menarik ceritanya, sayang saya jauh di Singapore, kalau tidak sudah datang minta  dikenalkan kepadanya. Mungkin yang aneh adalah dinasti Qing dikuasai oleh orang Man (Mancu) atau Boan menurut logat Hokkian,bukan Monggol. Yang diperintah Mongol adalah dinasti Yuan atau Guan.
Ketika saya ke Beijing, saya pernah mengunjungki Qing Xi Ling atau makam barat kaisar dinasti Qing yang terletak di kabupaten Yi keresidenan Baoding propinsi Hebei. Hari pertama pagi-pagi diantar tuan rumah meninjau waduk yang sekarang menjadi tempat wisata, siang pulang makan di rumah penduduk, setelah makan sorenya mau diajak ke Qing Xi Ling itu, tapi malang hari hujan, maka sayapun tidur. Ketika bangun ada tamu di sana tadinya saya kira tamu tuan rumah saja. Tapi saya terkejut kalau ia datang mencari saya. Katanya jangan tidur di sini (di rumah petani tuan rumah) udara sudah dingin dan ranjang keras, tidur saja di hotel, nanti dia yang urus, kalau mau saya telpon sekarang, jangan pulang besok, kita ke Qing Xi Ling dulu, katanya kemudian.
   Karena hari hujan dan sudah mulai gelap (maklum sudah Oktober) udara cukup dingin, sebetulnya saya tak niat keluar, hanya kurang enak terhadap tuan  rumah, tapi kelihatan tuan rumah seolah memberi isyarat untuk saya turut saja. Akhirnya saya mengiakan, tamu  bilang, nanti saya pindahkan mobil ke depan rumah. Ia pun membawa payung keluar, depan rumah adalah jalan tanah, kira-kira 100 meter dari jalan kampung yang diaspal. Setelah ia keluar, tuan rumah bilang, ia orang kampung sini asalnya, ia ketua pengadilan negeri kabupaten katanya, saya tertegun. Bagaimana ia tahu saya dan bagaimana ia tahu kedatangan saya? Tuan rumah bilang mungkin dari mulut penduduk kampung, dikampung seorang asing datang, seluruh kampung tahu, jangan khawatir katanya, orang kampung sini semua sne Li , masih ada hubungan keluarga semua.
   Ketika kami keluar, di depan sudah ada mobil dinas Pengadilan 1. Haha, saya seorang kaypang diajak naik mobil pemerintah dan ditempatkan di hotel sebagai tamu pemerintah daerah.
   Di jalan ia bilang undur dua tiga hari, kita keliling dulu, di sini banyak peninggalan sejarah. Kami libur nasional seminggu katanya. Tapi saya terpaksa menolak, karena jadwal sudah pasti pesawat tak dapat diubah. Dengan menyesal kelihatannya ia berkata, kalau begitu kita mampir sekarang. Kami mampir ke makam pertama yang kami lewati, ialah makam kaisar Jiaqing, salah satu makam terbesar di kompleks itu . Hari hujan, dan sudah gelap makam tak ada listrik, lapangan luas, karena itu jalan agak licin, ia menunggu di depan dengan isteri saya, karena isteri tak berani jalan di jalanan licin, kedua lututnya pernah dioperasi. Saya pergi dengan putri tuan rumah petani tempat saya menginap sehari sebelumnya. Makan sangat luas sayang aulanya yang penuh dengan gambar dan keterangan tentang Jiaqing, tak dapat terbaca lagi karena sudah mulai gelap. Akhirnya kamipun keluar. Di luar gerbang ada deretan rumah gedung, jelas bukan rumah petani, ia bilang inilah turunan mantan pegawai istana dinasti Qing yang sampai sekarang masih tinggal di situ mengurus makam. Dulu mereka kerja bakti, tanpa gaji, tapi setelah reformasi mereka diberi honor lagi, sebagai penjaga benda bersejarah. Di samping itu di sana ada makam ibusuri Cixi yang kenamaan yang menyebabkan dinasi Qing murat marit. Cixi di makamkan disana, jenazah sudah diangkut dengan kereta api. Jalan kereta api ke kabupaten ini adalah jalan khusus untuk keluarga kerajaan yang mau sembahyang ke makam kaisar.
   Keluar dari makam Jiaqing hari sudah gelap benar, sayang katanya dia salah, harusnya ke makam Yongzheng dulu (Yong Ceng) kaisar tangan besi yang berhasil mempertahankan kegemilangan dinasti Qing yang diwariskan oleh salah satu kaisar yang paling berhasil dalam sejarah Tiongkok yaitu ayahnya Yong Ceng kaisar Kangxi.  Pak Hakim bilang, lain kali datang lagi dan atur waktu jangan terlalu mepet ia bilang, kami libur seminggu karena hari Nasional. Kalaupun saya ada halangan, katanya lagi, ada supir yang akan mengantar.
  Hari kedua pagi-pagi pak Hakim sudah datang ke hotel, mengajak makan pagi dan langsung mengantar kami dengan mobil dinas ke Beijing. Jangan naik bis katanya, hujan, bis becek. Supir libur tak ada di tempat saya antar sendiri sampai ke hotel di Beijing. Jadilah pak Hakim supir dan saya sebagai tamu pemerintah daerah. Dunia terbalik pikir saya, saya hanya heran, kabarnya pejabat sombong-sombong bagaimana seorang ketua pengadilan negeri kabupaten, mau membawa mobil sendiri, menjemput kami di kampung, mengantar ke makam kaiisar dan akhirnya mengantar kembali ke hotel. Saya juga perhatikan, setiap lewat gerbang tol, ia bayar, masuk ke halaman makam kaisar ia juga membeli karcis bahkan membelikan kami karcis. Ketika sampai ke depan hotel, penjaga gerbang bertanya mau masuk ke kompleks hotel ada urusan apa, baru portal di angkat. Sebetulnya dari mobil sudah kelihatan tulisan yang besar. Pengadilan Negeri Kabupaten Yi no. 1.
  Sampai di hotel iapun mengantar kami masuk ke reseptionis untuk mengambil kunci kamar. Ketika saya ajak makan dulu, di hotel ada rumah makan, ia menolak dan pamitan pergi.
  Kalau semua pejabat seperti itu, saya pikir, Tiongkok akan melesat lebih cepat, selama ini saya dengar pejabat sombong, korup dan memandang rendah rakyat miskin. Pengalaman yang sangat berbeda dengan masukan yang selalu saya dengar,
  Di samping itu, di Beijing, saya kedatangan tamu lain yang di luar dugaan. Seorang profesor dari Universitas Minoritas datang malam-malam menjenguk kami di hotel di antar oleh seorang mahasiswi Mancu yang saya kenal. Surprise!  Saya tak sempat bertanya termasuk etnis apa dia? Sedang hotel tempat menginap saya hanya hotel bintang 2! Mahasiswi Mancu tsb juga menggunakan sne Wang (Hokkian Ong) .
   Cerita Sdr. Christ di atas saya rasa lebih banyak benarnya. Mereka menggunakan sne Ong mungkin karena merasa masih keturunan dari kerajaan, ong berarti raja.
   Kalau ada waktu, saya kira moderator perlu mengirim orang untuk mengetahui lebih dalam, ini adalah sejarah Tiongkok yang luput dari perhatian orang. Di Tiongkok, dinasti Qing tidak lagi dianggap penjajahan, karena orang Mancu adalah salah satu etnis resmi di Tiongkok. Demikian juga dinasti Utara, seperti Wei utara, karena orang etnis yang menjadi raja sekarang adalah bagian dari etnis bangsa Tionghoa. Mongolia agak lain, pendapat masih terpecah. Karena etnis Mongol sekarang mempunyai negara Mongolia, tapi sebagian termasuk etnis dalam wilayah Tiongkok, jadi adalah termasuk etnis bangsa Tionghoa (Zhonghua Minzu).
Catatan:
   Dinasti Qing (1616-1911),  Kangxi, kaisar ke-4 sejak berdirinya negara Jin (Kim) II  dan Kaisar ke -3 setelah negara Jin diproklamirkan menjadi dinasti Qing (Ceng atau Cing) , Yongzheng, kaisar ke 5, Jiaqing kaisar ke 7, Guangxu kaisar ke 11 dan Puyi kaisar ke 12 (terakhir).
Dinasti Qing ini diperintah oleh keluarga Aixinjioro (orang barat menulisnya sebagai Aisingioro) .


From: save_mynit <save_mynit@yahoo.com>
Sent: Sun, November 29, 2009 5:20:54 PM
Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

 

Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ




#46156 From: liang u <liang_u@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 1:21 pm
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
liang_u
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Dik Shinmen,
 
   Kalau menurut pandangan saya sekarang ya, penghinaan terhadap dinasti Qing adalah penghinaan terhadap pemerintah yang syah waktu itu, jadi penghinaan terhadap rakyat Tiongkok.
   Sebutan Man Qing Zhengfu 满清政府, sekarang juga sudah tak ada, sekarang disebut Qing zhengfu 清政府 saja. Jadi segala perbuatan pemerintah Qing , adalah tanggung jawab pemerintah yang berkuasa, bukan tanggung jawab semua orang Man (Boan).
   Ini keadaan di Tiongkok sekarang, karena persatuan antar etnis sedang digalakkan.
   Di kitapun sama, seharusnya perbuatan Anggodo dan pengusaha yang berbuat seperti dia adalah tanggung jawab pengusaha yang bersangkutan bukan tanggung jawab orang Tionghoa Indonesia seluruhnya. Jadi tak boleh dikatakan pengusaha Cina yang hitam.
  Kiongchiu
  Liang U


From: shinmen takezo <hisashi.mitshui@...>
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Mon, November 30, 2009 12:17:07 PM
Subject: Re: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

 

apek liang u

yang menarik di bahas adalah apa pandangan tiongkok terhadap dinasti "alien" qing , sebagai bagian dari sejarah tiongkok , apa kekalahan peperangan atau penghinaan terhadap qing , juga bisa dianggap penghinaan juga terhadap tiongkok

2009/11/30 liang u <liang_u@yahoo. com>
 

Dik Christ,
  Sangat menarik ceritanya, sayang saya jauh di Singapore, kalau tidak sudah datang minta  dikenalkan kepadanya. Mungkin yang aneh adalah dinasti Qing dikuasai oleh orang Man (Mancu) atau Boan menurut logat Hokkian,bukan Monggol. Yang diperintah Mongol adalah dinasti Yuan atau Guan.
Ketika saya ke Beijing, saya pernah mengunjungki Qing Xi Ling atau makam barat kaisar dinasti Qing yang terletak di kabupaten Yi keresidenan Baoding propinsi Hebei. Hari pertama pagi-pagi diantar tuan rumah meninjau waduk yang sekarang menjadi tempat wisata, siang pulang makan di rumah penduduk, setelah makan sorenya mau diajak ke Qing Xi Ling itu, tapi malang hari hujan, maka sayapun tidur. Ketika bangun ada tamu di sana tadinya saya kira tamu tuan rumah saja. Tapi saya terkejut kalau ia datang mencari saya. Katanya jangan tidur di sini (di rumah petani tuan rumah) udara sudah dingin dan ranjang keras, tidur saja di hotel, nanti dia yang urus, kalau mau saya telpon sekarang, jangan pulang besok, kita ke Qing Xi Ling dulu, katanya kemudian.
   Karena hari hujan dan sudah mulai gelap (maklum sudah Oktober) udara cukup dingin, sebetulnya saya tak niat keluar, hanya kurang enak terhadap tuan  rumah, tapi kelihatan tuan rumah seolah memberi isyarat untuk saya turut saja. Akhirnya saya mengiakan, tamu  bilang, nanti saya pindahkan mobil ke depan rumah. Ia pun membawa payung keluar, depan rumah adalah jalan tanah, kira-kira 100 meter dari jalan kampung yang diaspal. Setelah ia keluar, tuan rumah bilang, ia orang kampung sini asalnya, ia ketua pengadilan negeri kabupaten katanya, saya tertegun. Bagaimana ia tahu saya dan bagaimana ia tahu kedatangan saya? Tuan rumah bilang mungkin dari mulut penduduk kampung, dikampung seorang asing datang, seluruh kampung tahu, jangan khawatir katanya, orang kampung sini semua sne Li , masih ada hubungan keluarga semua.
   Ketika kami keluar, di depan sudah ada mobil dinas Pengadilan 1. Haha, saya seorang kaypang diajak naik mobil pemerintah dan ditempatkan di hotel sebagai tamu pemerintah daerah.
   Di jalan ia bilang undur dua tiga hari, kita keliling dulu, di sini banyak peninggalan sejarah. Kami libur nasional seminggu katanya. Tapi saya terpaksa menolak, karena jadwal sudah pasti pesawat tak dapat diubah. Dengan menyesal kelihatannya ia berkata, kalau begitu kita mampir sekarang. Kami mampir ke makam pertama yang kami lewati, ialah makam kaisar Jiaqing, salah satu makam terbesar di kompleks itu . Hari hujan, dan sudah gelap makam tak ada listrik, lapangan luas, karena itu jalan agak licin, ia menunggu di depan dengan isteri saya, karena isteri tak berani jalan di jalanan licin, kedua lututnya pernah dioperasi. Saya pergi dengan putri tuan rumah petani tempat saya menginap sehari sebelumnya. Makan sangat luas sayang aulanya yang penuh dengan gambar dan keterangan tentang Jiaqing, tak dapat terbaca lagi karena sudah mulai gelap. Akhirnya kamipun keluar. Di luar gerbang ada deretan rumah gedung, jelas bukan rumah petani, ia bilang inilah turunan mantan pegawai istana dinasti Qing yang sampai sekarang masih tinggal di situ mengurus makam. Dulu mereka kerja bakti, tanpa gaji, tapi setelah reformasi mereka diberi honor lagi, sebagai penjaga benda bersejarah. Di samping itu di sana ada makam ibusuri Cixi yang kenamaan yang menyebabkan dinasi Qing murat marit. Cixi di makamkan disana, jenazah sudah diangkut dengan kereta api. Jalan kereta api ke kabupaten ini adalah jalan khusus untuk keluarga kerajaan yang mau sembahyang ke makam kaisar.
   Keluar dari makam Jiaqing hari sudah gelap benar, sayang katanya dia salah, harusnya ke makam Yongzheng dulu (Yong Ceng) kaisar tangan besi yang berhasil mempertahankan kegemilangan dinasti Qing yang diwariskan oleh salah satu kaisar yang paling berhasil dalam sejarah Tiongkok yaitu ayahnya Yong Ceng kaisar Kangxi.  Pak Hakim bilang, lain kali datang lagi dan atur waktu jangan terlalu mepet ia bilang, kami libur seminggu karena hari Nasional. Kalaupun saya ada halangan, katanya lagi, ada supir yang akan mengantar.
  Hari kedua pagi-pagi pak Hakim sudah datang ke hotel, mengajak makan pagi dan langsung mengantar kami dengan mobil dinas ke Beijing. Jangan naik bis katanya, hujan, bis becek. Supir libur tak ada di tempat saya antar sendiri sampai ke hotel di Beijing. Jadilah pak Hakim supir dan saya sebagai tamu pemerintah daerah. Dunia terbalik pikir saya, saya hanya heran, kabarnya pejabat sombong-sombong bagaimana seorang ketua pengadilan negeri kabupaten, mau membawa mobil sendiri, menjemput kami di kampung, mengantar ke makam kaiisar dan akhirnya mengantar kembali ke hotel. Saya juga perhatikan, setiap lewat gerbang tol, ia bayar, masuk ke halaman makam kaisar ia juga membeli karcis bahkan membelikan kami karcis. Ketika sampai ke depan hotel, penjaga gerbang bertanya mau masuk ke kompleks hotel ada urusan apa, baru portal di angkat. Sebetulnya dari mobil sudah kelihatan tulisan yang besar. Pengadilan Negeri Kabupaten Yi no. 1.
  Sampai di hotel iapun mengantar kami masuk ke reseptionis untuk mengambil kunci kamar. Ketika saya ajak makan dulu, di hotel ada rumah makan, ia menolak dan pamitan pergi.
  Kalau semua pejabat seperti itu, saya pikir, Tiongkok akan melesat lebih cepat, selama ini saya dengar pejabat sombong, korup dan memandang rendah rakyat miskin. Pengalaman yang sangat berbeda dengan masukan yang selalu saya dengar,
  Di samping itu, di Beijing, saya kedatangan tamu lain yang di luar dugaan. Seorang profesor dari Universitas Minoritas datang malam-malam menjenguk kami di hotel di antar oleh seorang mahasiswi Mancu yang saya kenal. Surprise!  Saya tak sempat bertanya termasuk etnis apa dia? Sedang hotel tempat menginap saya hanya hotel bintang 2! Mahasiswi Mancu tsb juga menggunakan sne Wang (Hokkian Ong) .
   Cerita Sdr. Christ di atas saya rasa lebih banyak benarnya. Mereka menggunakan sne Ong mungkin karena merasa masih keturunan dari kerajaan, ong berarti raja.
   Kalau ada waktu, saya kira moderator perlu mengirim orang untuk mengetahui lebih dalam, ini adalah sejarah Tiongkok yang luput dari perhatian orang. Di Tiongkok, dinasti Qing tidak lagi dianggap penjajahan, karena orang Mancu adalah salah satu etnis resmi di Tiongkok. Demikian juga dinasti Utara, seperti Wei utara, karena orang etnis yang menjadi raja sekarang adalah bagian dari etnis bangsa Tionghoa. Mongolia agak lain, pendapat masih terpecah. Karena etnis Mongol sekarang mempunyai negara Mongolia, tapi sebagian termasuk etnis dalam wilayah Tiongkok, jadi adalah termasuk etnis bangsa Tionghoa (Zhonghua Minzu).
 
Catatan:
   Dinasti Qing (1616-1911),  Kangxi, kaisar ke-4 sejak berdirinya negara Jin (Kim) II  dan Kaisar ke -3 setelah negara Jin diproklamirkan menjadi dinasti Qing (Ceng atau Cing) , Yongzheng, kaisar ke 5, Jiaqing kaisar ke 7, Guangxu kaisar ke 11 dan Puyi kaisar ke 12 (terakhir).
Dinasti Qing ini diperintah oleh keluarga Aixinjioro (orang barat menulisnya sebagai Aisingioro) .


From: save_mynit <save_mynit@yahoo. com>
Sent: Sun, November 29, 2009 5:20:54 PM
Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

 

Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ





#46155 From: Teng Aina <teng.aina@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 10:45 am
Subject: Renungan minggu ini
teng.aina
Offline Offline
Send Email Send Email
 
" Bila mengerti berlakulah sebagai orang yang mengerti; bila tidak mengerti berlakulah sebagai orang yg tidak mengerti. itulah yang dinamai 'mengerti' " (Confucius) Sabda Suci II bab 17


Sojah,

Teng Aina


#46154 From: agoeng_set@...
Date: Mon Nov 30, 2009 6:59 am
Subject: Re: Re: pertanyaan: buku strategi militet sun tzu
agoeng_set
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Banyak tuh di gramed bagian literatur chinese. Atau di bagian bisnis
From: jackson_yahya@...
Date: Mon, 30 Nov 2009 04:23:01 +0000
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: pertanyaan: buku strategi militet sun tzu

 

Yang buat bisnis boss kali2 aja diterapin bisa sukses hehehe

Sent from my BlackBerry smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


From: "east_road" <east_road@yahoo.com>
Date: Mon, 30 Nov 2009 02:42:23 -0000
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Subject: [budaya_tionghua] Re: pertanyaan: buku strategi militet sun tzu

 

Banyak buku bagus, tujuan anda mempelajari apa ?, untuk kepentingan bisnis, atau dunia militer, ada perbedaan, kalo dalam dunia bisnis strategi bisnis memang perlu strategi,

Tapi tidak semua strategi sun tzu,
bisa dipakai buat kepentingan bisnis, kalo untuk bisnis diambil sebagian besar dari strategi beliau buat dianalisir bisa tidak dipakai, dan diterjemahkan dalam bahasa bisnis.

Sementara kalau buat militer tidak perlu penerjemahan, yang bahas militer justru di Indo tidak ada, kalau buat bisnis mah banyak.

Paling bagus buku bisnis berdasarkan strategi sun tzu " the art of management" saya lupa pengarangnya. orang singapura yang nulis, bukunya warna hitam, ada orang bisnis main catur sama pemain drama kayak jendral gitu, itu buku yang paling laris, dan cukup layak dibaca.

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, jackson_yahya@... wrote:
>
> Dear all,
> ada yang tahu buku yang bagus membahas tentang strategi militer sun tzu dalam bahasa indonesia?
>
> Mohon pencerahannya
> Sent from my BlackBerry smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>


#46153 From: saprizal saprizal <rizal_black@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 3:46 am
Subject: Re: Digest Number 3649
rizal_black
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Wahhh, pengalamannya menarik juga nih Pak Christ...
Kalau nanti selesai ngobrol sama beliau, jangan lupa di-share lagi ceritanya di milis ini.Thanks.

salam kenal,
Rizal

--- On Sun, 11/29/09, budaya_tionghua@yahoogroups.com <budaya_tionghua@yahoogroups.com> wrote:

From: budaya_tionghua@yahoogroups.com <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Subject: [budaya_tionghua] Digest Number 3649
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Date: Sunday, November 29, 2009, 2:17 AM

Budaya Tionghoa & Sejarah Tiongkok

Messages In This Digest (2 Messages)

Messages

1a.

Re: Fw: 56 Ethnic Group in China

Posted by: "huarenau" huarenau@...   huarenau

Sat Nov 28, 2009 3:00 am (PST)




Mungkin email anda di set hanya utk text only, coba dirubah utk rich text atau html, mungkin bisa buka, atau bisa dilihat di website milis.

Tujuan saya kirim gambar2 ethnic tsb sebetulmnya mau tanya pada yg bisa baca2 character, suku DAI itu bukan nya asal dari Yunan??
Pakaian yg di pakai sangat mirip sekali dgn pakaian di Jawa, apa ada hubungan dgn kedatanagn orang2 Yunan ke Jawa di masa lampau atau hanya kebetulan saja, juga banyak corak2 pakaian yg serupa dgn pakaian daerah2 di Indonesia... ...... entah apa ada hubungan.

ada yg tahu??...... ......

rgds. rc

--- In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, "Wira K. Teng" <wira@...> wrote:
>
> di saya kenapa gak kelouar ya gambar nya? tengkiuuuu
>
> On Fri, Nov 27, 2009 at 8:33 PM, San San <san.mitradewata@ ...> wrote:
>
> >
> > Salut buat anda yang bisa mengumpulkan Foto-foto ethnic group dari china
> > ini dengan pakaian traditional mereka....
> >
> > Salam,
> > San San
> >
> > --- In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, "joao_kho" <Joao.Kho@> wrote:
> > >
> > > Thank you .. very nice pictures..
> > >
> > > --- In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, rene chan <huarenau@> wrote:
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Rekan2 milis,
> > > >
> > > > Ini ada photo2 costume macam2 ethnic di China, moga2 gambar nay bisa
> > masuk milis, atau harus kirim ke modie dulu??
> > > >
> > > > RC
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > >
> > > > ____________ _________ _________ __

2.

OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu d

Posted by: "save_mynit" save_mynit@...   save_mynit

Sun Nov 29, 2009 2:10 am (PST)



Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ

Recent Activity
Visit Your Group
New business?

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Yahoo! Groups

Small Business Group

Own a business?

Connect with others.

Dog Groups

on Yahoo! Groups

discuss everything

related to dogs.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.



#46152 From: jackson_yahya@...
Date: Mon Nov 30, 2009 4:23 am
Subject: Re: Re: pertanyaan: buku strategi militet sun tzu
jackson_yahya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Yang buat bisnis boss kali2 aja diterapin bisa sukses hehehe

Sent from my BlackBerry smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


From: "east_road" <east_road@...>
Date: Mon, 30 Nov 2009 02:42:23 -0000
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Subject: [budaya_tionghua] Re: pertanyaan: buku strategi militet sun tzu

 

Banyak buku bagus, tujuan anda mempelajari apa ?, untuk kepentingan bisnis, atau dunia militer, ada perbedaan, kalo dalam dunia bisnis strategi bisnis memang perlu strategi,

Tapi tidak semua strategi sun tzu,
bisa dipakai buat kepentingan bisnis, kalo untuk bisnis diambil sebagian besar dari strategi beliau buat dianalisir bisa tidak dipakai, dan diterjemahkan dalam bahasa bisnis.

Sementara kalau buat militer tidak perlu penerjemahan, yang bahas militer justru di Indo tidak ada, kalau buat bisnis mah banyak.

Paling bagus buku bisnis berdasarkan strategi sun tzu " the art of management" saya lupa pengarangnya. orang singapura yang nulis, bukunya warna hitam, ada orang bisnis main catur sama pemain drama kayak jendral gitu, itu buku yang paling laris, dan cukup layak dibaca.

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, jackson_yahya@... wrote:
>
> Dear all,
> ada yang tahu buku yang bagus membahas tentang strategi militer sun tzu dalam bahasa indonesia?
>
> Mohon pencerahannya
> Sent from my BlackBerry smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>


#46151 From: Joe Sinatra <joe_sinatra3@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 4:51 am
Subject: Bls: pertanyaan: buku strategi militet sun tzu
joe_sinatra3
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Banyak , terjemahannya sudah banyak diterbitkan cuman itu versi yang sadur oleh Cao-Cao (kalau tidak salah), coba cari di Gramedia biasanya ada.

Peace
Hanto

--- Pada Ming, 29/11/09, jackson_yahya@... <jackson_yahya@...> menulis:

Dari: jackson_yahya@... <jackson_yahya@...>
Judul: [budaya_tionghua] pertanyaan: buku strategi militet sun tzu
Kepada: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Tanggal: Minggu, 29 November, 2009, 11:19 PM

Dear all,
ada yang tahu buku yang bagus membahas tentang strategi militer sun tzu dalam bahasa indonesia?

Mohon pencerahannya
Sent from my BlackBerry smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    budaya_tionghua-digest@yahoogroups.com
    budaya_tionghua-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    budaya_tionghua-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/



Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini!

#46150 From: shinmen takezo <hisashi.mitshui@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 4:52 am
Subject: Re: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
wirdja_robby...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
klo "eike" sih gak merujuk pada belanda yah ABS

bahasa gaul anak muda jaman sekarang , buat lucu2an ajah



2009/11/30 Akhmad Bukhari Saleh <absaleh@...>
 



----- Original Message -----
From: shinmen takezo
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Monday, November 30, 2009 3:40 AM
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta


> si ABS namanya itu di ganti pake dialek apa,
eike jadi pusing bacanya
 
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

He he he, yang pasti bukan dialek Jepang, Takezo-san!
Itu dialek Hokkian, mayoritasnya kaum Tionghoa Indonesia! Terutama di Jawa.
Jadi jangan pusing lah...
Betul, "Kong Sie" = Guangxu.
Dan "Tjoe Hie" = Ci Xi.
Sedangkan "Thayhouw" = Ibusuri = Empress Dowager.
Dan "Tee" = Kaisar = Emperor.

Memang dialek cina banyak sekali, sehingga sebetulnya hanya akan pasti kalau lihat hurufnya.
See Thayhouw Tjoe Hie =
西太后慈禧
Kong Sie Tee = 光緒
 
 
Eh iya, by the way Shinmen-heng, kalau nulisnya "eike", itu dr. Han Swie Song yang di Belanda sono bisa menegur tuh!
Seharusnya "ikke".
 
 
Wasalam.
 
==========================

----- Original Message -----
From: shinmen takezo
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Monday, November 30, 2009 3:40 AM
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta


waduh si ABS namanya itu di ganti pake dialek apa, eike jadi pusing bacanya......

Kong Xie = GuangXu?
Tjoe Hie = Ci Xi ?

1. GuangXu setelah mencoba menjalankan reform seperti restorasi di jepang , kekuasaannya di pangkas habis2an sama Ci Xi . Jadi walau berkuasa resmi sampai kematiannya 1908 , berkuasanya gak efektif.
2. Puyi tidak pernah kabur keluar tiongkok , yang ada jadi kaisar boneka manchukuo - jepang. Saat USSR sudah mulai aman dengan Jerman-Nazi , USSR declare war terhadap Jepang , dan mulai masuk ke wilayah manchukuo , Pu Yi sempat di tangkap USSR , tapi akhirnya "dikembalikan" ke RRT.


----------------------------------------------

2009/11/30 Akhmad Bukhari Saleh absaleh@...
 
----- Original Message -----
From: ardian_c
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta


> Lage guangxu mokad taon 1908,
> itu cixi dah umur brp?
> guangxu sendiri rasanya belon sampe
> umur 40 taon, sekitar 30an.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tetapi Ardian-heng, kenyataan sejarah memang menunjukkan See Thayhouw Tjoe Hie meninggal persis sehari setelah meninggalnya Hongtee Kong Sie!!

Tjoe Hie meninggal 15 November 1908 dalam umur 73 tahun kurang 2 minggu, sedangkan Kong Sie meninggal sehari sebelumnya, 14 November 1908 dalam umur 37 tahun lebih 2,5 bulan.

Jangan lupa bahwa Kong Sie sudah menjadi kaisar sejak umur 3,5 tahun.
Maka keheranan looheng: "... cixi dah umur brp? guangxu sendiri rasanya belon sampe umur 40 taon ..." menjadi tidak heran lagi, karena ketika dia 'mokad', Kong Sie jadinya sudah sempat bertahta selama 34 tahun (walau efektif berkuasa tidak selama itu).
Tentunya 34 tahun itu bukan waktu sebentar. Lebih lama dari 'bertahta'-nya Soeharto! Hehehe...

Tetapi memang cerita si cicitnya Kaisar Kong Sie ini banyak ngawurnya.

Antara lain, pengganti Kong Sie, Kaisar Henry Puyi, bukanlah adik Kong Sie, melainkan keponakan.

Antara lain lagi, tidak mungkin nenek si cicit dendam pada Sun Yat Sen gara-gara coup terhadap Kong Sie.
Karena coup itu tidak dilakukan oleh Sun Yat Sen, melainkan oleh Ibusuri Tjoe Sie dibantu oleh a.l. Yuan Si Kai.

Antara lain juga, Henry Puyi tidak pernah kabur dari Tiongkok.
Sejak diturunkan dari tahta tahun 1912, sampai naik tahta lagi untuk 2 minggu di tahun 1917, dia tetap tinggal di Istana Terlarang, Beijing.
Setelah peristiwa 1917 itu, dia tinggal di istana di Tianjin selama 15 tahun. Lalu diangkat Jepang di tahun 1932 menjadi raja boneka di Mancuria sampai 1945.

Antara lain pula, Henry Puyi juga tidak pernah dengan niatnya sendiri menolak untuk menjadi kaisar.
Setiap kali dia gagal menjadi kaisar adalah karena diturunkan orang dengan paksaan.

Namun, di segi lain, bisa dicatat bahwa memang betul sampai 40-an tahun yang lalu, daerah Glodok, Jakarta Barat, disebut sebagai "Pancoran".
Yaitu sebelum dikenalnya Pancoran sebagai nama daerah di persimpangan Tugu Dirgantara, Jakarta Selatan.

Bagaimana pun juga, bagi mereka yang punya 'modal' pengetahuan tentang sejarah akhir dinasti Tjeng (Qing), kelihatannya akan menarik untuk bisa ngobrol dengan si cicitnya Kaisar Kong Sie ini...

Wasalam.

=============================

----- Original Message -----
From: ardian_c
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta


rasanya si guangxu bukan sdr.sepupu cixi, wong cixi itu ibusuri, dan guangxu itu anak asuh dari ratu Ci An, bokapnya namanya kaisar Xianfeng getu.
Lage guangxu mokad taon 1908, itu cixi dah umur brp ? guangxu sendiri rasanya belon sampe umur 40 taon, sekitar 30an.

trus jg kerajaan dinasti qing itu adalah orang manchu dan semua kaisar qing marganya aishin gioro aixin jueluo.

--------------------------------------------

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "save_mynit" <save_mynit@...> wrote:
>
> Salam teman2,
>
> Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.
>
> Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
> Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.
>
> Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
> Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
> Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.
>
> Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
> Percaya gak percaya....
>
> Salam
> Abdi Christ


#46149 From: "Akhmad Bukhari Saleh" <absaleh@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 4:44 am
Subject: Re: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
absaleh4
Offline Offline
Send Email Send Email
 

----- Original Message -----
From: shinmen takezo
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Monday, November 30, 2009 3:40 AM
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta


> si ABS namanya itu di ganti pake dialek apa,
eike jadi pusing bacanya
 
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

He he he, yang pasti bukan dialek Jepang, Takezo-san!
Itu dialek Hokkian, mayoritasnya kaum Tionghoa Indonesia! Terutama di Jawa.
Jadi jangan pusing lah...
Betul, "Kong Sie" = Guangxu.
Dan "Tjoe Hie" = Ci Xi.
Sedangkan "Thayhouw" = Ibusuri = Empress Dowager.
Dan "Tee" = Kaisar = Emperor.

Memang dialek cina banyak sekali, sehingga sebetulnya hanya akan pasti kalau lihat hurufnya.
See Thayhouw Tjoe Hie =
西太后慈禧
Kong Sie Tee = 光緒
 
 
Eh iya, by the way Shinmen-heng, kalau nulisnya "eike", itu dr. Han Swie Song yang di Belanda sono bisa menegur tuh!
Seharusnya "ikke".
 
 
Wasalam.
 
==========================

----- Original Message -----
From: shinmen takezo
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Monday, November 30, 2009 3:40 AM
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta


waduh si ABS namanya itu di ganti pake dialek apa, eike jadi pusing bacanya......

Kong Xie = GuangXu?
Tjoe Hie = Ci Xi ?

1. GuangXu setelah mencoba menjalankan reform seperti restorasi di jepang , kekuasaannya di pangkas habis2an sama Ci Xi . Jadi walau berkuasa resmi sampai kematiannya 1908 , berkuasanya gak efektif.
2. Puyi tidak pernah kabur keluar tiongkok , yang ada jadi kaisar boneka manchukuo - jepang. Saat USSR sudah mulai aman dengan Jerman-Nazi , USSR declare war terhadap Jepang , dan mulai masuk ke wilayah manchukuo , Pu Yi sempat di tangkap USSR , tapi akhirnya "dikembalikan" ke RRT.


----------------------------------------------

2009/11/30 Akhmad Bukhari Saleh absaleh@...
 
----- Original Message -----
From: ardian_c
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta


> Lage guangxu mokad taon 1908,
> itu cixi dah umur brp?
> guangxu sendiri rasanya belon sampe
> umur 40 taon, sekitar 30an.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tetapi Ardian-heng, kenyataan sejarah memang menunjukkan See Thayhouw Tjoe Hie meninggal persis sehari setelah meninggalnya Hongtee Kong Sie!!

Tjoe Hie meninggal 15 November 1908 dalam umur 73 tahun kurang 2 minggu, sedangkan Kong Sie meninggal sehari sebelumnya, 14 November 1908 dalam umur 37 tahun lebih 2,5 bulan.

Jangan lupa bahwa Kong Sie sudah menjadi kaisar sejak umur 3,5 tahun.
Maka keheranan looheng: "... cixi dah umur brp? guangxu sendiri rasanya belon sampe umur 40 taon ..." menjadi tidak heran lagi, karena ketika dia 'mokad', Kong Sie jadinya sudah sempat bertahta selama 34 tahun (walau efektif berkuasa tidak selama itu).
Tentunya 34 tahun itu bukan waktu sebentar. Lebih lama dari 'bertahta'-nya Soeharto! Hehehe...

Tetapi memang cerita si cicitnya Kaisar Kong Sie ini banyak ngawurnya.

Antara lain, pengganti Kong Sie, Kaisar Henry Puyi, bukanlah adik Kong Sie, melainkan keponakan.

Antara lain lagi, tidak mungkin nenek si cicit dendam pada Sun Yat Sen gara-gara coup terhadap Kong Sie.
Karena coup itu tidak dilakukan oleh Sun Yat Sen, melainkan oleh Ibusuri Tjoe Sie dibantu oleh a.l. Yuan Si Kai.

Antara lain juga, Henry Puyi tidak pernah kabur dari Tiongkok.
Sejak diturunkan dari tahta tahun 1912, sampai naik tahta lagi untuk 2 minggu di tahun 1917, dia tetap tinggal di Istana Terlarang, Beijing.
Setelah peristiwa 1917 itu, dia tinggal di istana di Tianjin selama 15 tahun. Lalu diangkat Jepang di tahun 1932 menjadi raja boneka di Mancuria sampai 1945.

Antara lain pula, Henry Puyi juga tidak pernah dengan niatnya sendiri menolak untuk menjadi kaisar.
Setiap kali dia gagal menjadi kaisar adalah karena diturunkan orang dengan paksaan.

Namun, di segi lain, bisa dicatat bahwa memang betul sampai 40-an tahun yang lalu, daerah Glodok, Jakarta Barat, disebut sebagai "Pancoran".
Yaitu sebelum dikenalnya Pancoran sebagai nama daerah di persimpangan Tugu Dirgantara, Jakarta Selatan.

Bagaimana pun juga, bagi mereka yang punya 'modal' pengetahuan tentang sejarah akhir dinasti Tjeng (Qing), kelihatannya akan menarik untuk bisa ngobrol dengan si cicitnya Kaisar Kong Sie ini...

Wasalam.

=============================

----- Original Message -----
From: ardian_c
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta


rasanya si guangxu bukan sdr.sepupu cixi, wong cixi itu ibusuri, dan guangxu itu anak asuh dari ratu Ci An, bokapnya namanya kaisar Xianfeng getu.
Lage guangxu mokad taon 1908, itu cixi dah umur brp ? guangxu sendiri rasanya belon sampe umur 40 taon, sekitar 30an.

trus jg kerajaan dinasti qing itu adalah orang manchu dan semua kaisar qing marganya aishin gioro aixin jueluo.

--------------------------------------------

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "save_mynit" <save_mynit@...> wrote:
>
> Salam teman2,
>
> Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.
>
> Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
> Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.
>
> Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
> Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
> Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.
>
> Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
> Percaya gak percaya....
>
> Salam
> Abdi Christ

#46148 From: shinmen takezo <hisashi.mitshui@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 4:17 am
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
wirdja_robby...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
apek liang u

yang menarik di bahas adalah apa pandangan tiongkok terhadap dinasti "alien" qing , sebagai bagian dari sejarah tiongkok , apa kekalahan peperangan atau penghinaan terhadap qing , juga bisa dianggap penghinaan juga terhadap tiongkok

2009/11/30 liang u <liang_u@...>

Dik Christ,
Sangat menarik ceritanya, sayang saya jauh di Singapore, kalau tidak sudah datang minta dikenalkan kepadanya. Mungkin yang aneh adalah dinasti Qing dikuasai oleh orang Man (Mancu) atau Boan menurut logat Hokkian,bukan Monggol. Yang diperintah Mongol adalah dinasti Yuan atau Guan.
Ketika saya ke Beijing, saya pernah mengunjungki Qing Xi Ling atau makam barat kaisar dinasti Qing yang terletak di kabupaten Yi keresidenan Baoding propinsi Hebei. Hari pertama pagi-pagi diantar tuan rumah meninjau waduk yang sekarang menjadi tempat wisata, siang pulang makan di rumah penduduk, setelah makan sorenya mau diajak ke Qing Xi Ling itu, tapi malang hari hujan, maka sayapun tidur. Ketika bangun ada tamu di sana tadinya saya kira tamu tuan rumah saja. Tapi saya terkejut kalau ia datang mencari saya. Katanya jangan tidur di sini (di rumah petani tuan rumah) udara sudah dingin dan ranjang keras, tidur saja di hotel, nanti dia yang urus, kalau mau saya telpon sekarang, jangan pulang besok, kita ke Qing Xi Ling dulu, katanya kemudian.
Karena hari hujan dan sudah mulai gelap (maklum sudah Oktober) udara cukup dingin, sebetulnya saya tak niat keluar, hanya kurang enak terhadap tuan rumah, tapi kelihatan tuan rumah seolah memberi isyarat untuk saya turut saja. Akhirnya saya mengiakan,tamu bilang, nanti saya pindahkan mobil ke depan rumah. Ia pun membawa payung keluar, depan rumah adalah jalan tanah, kira-kira 100 meter dari jalan kampung yang diaspal. Setelah ia keluar, tuan rumah bilang, ia orang kampung sini asalnya, ia ketua pengadilan negeri kabupaten katanya, saya tertegun. Bagaimana ia tahu saya dan bagaimana ia tahu kedatangan saya? Tuan rumah bilang mungkin dari mulut penduduk kampung, dikampung seorang asing datang, seluruh kampung tahu, jangan khawatir katanya, orang kampung sini semua sne Li , masih ada hubungan keluarga semua.
Ketika kami keluar, di depan sudah ada mobil dinas Pengadilan 1. Haha, saya seorang kaypang diajak naik mobil pemerintah dan ditempatkan di hotel sebagai tamu pemerintah daerah.
Di jalan ia bilang undur dua tiga hari, kita keliling dulu, di sini banyak peninggalan sejarah. Kami libur nasional seminggu katanya. Tapi saya terpaksa menolak, karena jadwal sudah pasti pesawat tak dapat diubah. Dengan menyesal kelihatannya ia berkata, kalau begitu kita mampir sekarang. Kami mampir ke makam pertama yang kami lewati, ialah makam kaisar Jiaqing, salah satu makam terbesar di kompleks itu . Hari hujan, dan sudah gelap makam tak ada listrik, lapangan luas, karena itu jalan agak licin, ia menunggu di depan dengan isteri saya, karena isteri tak berani jalan di jalanan licin, kedua lututnya pernah dioperasi. Saya pergi dengan putri tuan rumah petani tempat saya menginapsehari sebelumnya. Makan sangat luas sayang aulanya yang penuh dengan gambar dan keterangan tentang Jiaqing, tak dapat terbaca lagi karena sudah mulai gelap. Akhirnya kamipun keluar. Di luar gerbang ada deretan rumah gedung, jelas bukan rumah petani, ia bilang inilah turunan mantan pegawai istana dinasti Qing yang sampai sekarang masih tinggal di situ mengurus makam. Dulu mereka kerja bakti, tanpa gaji, tapi setelah reformasi mereka diberi honor lagi, sebagai penjaga benda bersejarah. Di samping itu di sana ada makam ibusuri Cixi yang kenamaan yang menyebabkan dinasi Qing murat marit. Cixi di makamkan disana, jenazah sudah diangkut dengan kereta api. Jalan kereta api ke kabupaten ini adalah jalan khusus untuk keluarga kerajaan yang mau sembahyang ke makam kaisar.
Keluar dari makam Jiaqing hari sudah gelap benar, sayang katanya dia salah, harusnya ke makam Yongzheng dulu (Yong Ceng) kaisar tangan besi yang berhasil mempertahankan kegemilangan dinasti Qing yang diwariskan oleh salah satu kaisar yang paling berhasil dalam sejarah Tiongkok yaitu ayahnya Yong Ceng kaisar Kangxi. Pak Hakim bilang, lain kali datang lagi dan atur waktu jangan terlalu mepet ia bilang, kami libur seminggu karena hari Nasional. Kalaupun saya ada halangan, katanya lagi, ada supir yang akan mengantar.
Hari kedua pagi-pagi pak Hakim sudah datang ke hotel, mengajak makan pagi dan langsung mengantar kami dengan mobil dinas ke Beijing. Jangan naik bis katanya, hujan, bis becek. Supir libur tak ada di tempat saya antar sendiri sampai ke hotel di Beijing. Jadilah pak Hakim supir dan saya sebagai tamu pemerintah daerah. Dunia terbalik pikir saya, saya hanya heran, kabarnya pejabat sombong-sombong bagaimana seorang ketua pengadilan negeri kabupaten, mau membawa mobil sendiri, menjemput kami di kampung, mengantar ke makam kaiisar dan akhirnya mengantar kembali ke hotel. Saya juga perhatikan, setiap lewat gerbang tol, ia bayar, masuk ke halaman makam kaisar ia juga membeli karcis bahkan membelikan kami karcis. Ketika sampai ke depan hotel, penjaga gerbang bertanya mau masuk ke kompleks hotel ada urusan apa, baru portal di angkat. Sebetulnya dari mobil sudah kelihatan tulisan yang besar. Pengadilan Negeri Kabupaten Yi no. 1.
Sampai di hotel iapun mengantar kami masuk ke reseptionis untuk mengambil kunci kamar. Ketika saya ajak makan dulu, di hotel ada rumah makan, ia menolak dan pamitan pergi.
Kalau semua pejabat seperti itu, saya pikir, Tiongkok akan melesat lebih cepat, selama ini saya dengar pejabat sombong, korup dan memandang rendah rakyat miskin. Pengalaman yang sangat berbeda dengan masukan yang selalu saya dengar,
Di samping itu, di Beijing, saya kedatangan tamu lain yang di luar dugaan. Seorang profesor dari Universitas Minoritas datang malam-malam menjenguk kami di hotel di antar oleh seorang mahasiswi Mancu yang saya kenal. Surprise! Saya tak sempat bertanya termasuk etnis apa dia? Sedang hotel tempat menginap saya hanya hotel bintang 2! Mahasiswi Mancu tsb juga menggunakan sne Wang (Hokkian Ong) .
Cerita Sdr. Christ di atas saya rasa lebih banyak benarnya. Mereka menggunakan sne Ong mungkin karena merasa masih keturunan dari kerajaan, ong berarti raja.
Kalau ada waktu, saya kira moderator perlu mengirim orang untuk mengetahui lebih dalam, ini adalah sejarah Tiongkok yang luput dari perhatian orang. Di Tiongkok, dinasti Qing tidak lagi dianggap penjajahan, karena orang Mancu adalah salah satu etnis resmi di Tiongkok. Demikian juga dinasti Utara, seperti Wei utara, karena orang etnis yang menjadi raja sekarang adalah bagian dari etnis bangsa Tionghoa. Mongolia agak lain, pendapat masih terpecah. Karena etnis Mongol sekarang mempunyai negara Mongolia, tapi sebagian termasuk etnis dalam wilayah Tiongkok, jadi adalah termasuk etnis bangsa Tionghoa (Zhonghua Minzu).
Catatan:
Dinasti Qing (1616-1911), Kangxi, kaisar ke-4 sejak berdirinya negara Jin (Kim)II dan Kaisar ke -3 setelah negara Jin diproklamirkan menjadi dinasti Qing (Ceng atau Cing) , Yongzheng, kaisar ke 5, Jiaqing kaisar ke 7, Guangxu kaisar ke 11 dan Puyi kaisar ke 12 (terakhir).
Dinasti Qing ini diperintah oleh keluarga Aixinjioro (orang barat menulisnya sebagai Aisingioro) .


From: save_mynit <save_mynit@...>
Sent: Sun, November 29, 2009 5:20:54 PM
Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ




#46147 From: liang u <liang_u@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 4:09 am
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
liang_u
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Dik Christ,
  Sangat menarik ceritanya, sayang saya jauh di Singapore, kalau tidak sudah datang minta  dikenalkan kepadanya. Mungkin yang aneh adalah dinasti Qing dikuasai oleh orang Man (Mancu) atau Boan menurut logat Hokkian,bukan Monggol. Yang diperintah Mongol adalah dinasti Yuan atau Guan.
Ketika saya ke Beijing, saya pernah mengunjungki Qing Xi Ling atau makam barat kaisar dinasti Qing yang terletak di kabupaten Yi keresidenan Baoding propinsi Hebei. Hari pertama pagi-pagi diantar tuan rumah meninjau waduk yang sekarang menjadi tempat wisata, siang pulang makan di rumah penduduk, setelah makan sorenya mau diajak ke Qing Xi Ling itu, tapi malang hari hujan, maka sayapun tidur. Ketika bangun ada tamu di sana tadinya saya kira tamu tuan rumah saja. Tapi saya terkejut kalau ia datang mencari saya. Katanya jangan tidur di sini (di rumah petani tuan rumah) udara sudah dingin dan ranjang keras, tidur saja di hotel, nanti dia yang urus, kalau mau saya telpon sekarang, jangan pulang besok, kita ke Qing Xi Ling dulu, katanya kemudian.
   Karena hari hujan dan sudah mulai gelap (maklum sudah Oktober) udara cukup dingin, sebetulnya saya tak niat keluar, hanya kurang enak terhadap tuan  rumah, tapi kelihatan tuan rumah seolah memberi isyarat untuk saya turut saja. Akhirnya saya mengiakan, tamu  bilang, nanti saya pindahkan mobil ke depan rumah. Ia pun membawa payung keluar, depan rumah adalah jalan tanah, kira-kira 100 meter dari jalan kampung yang diaspal. Setelah ia keluar, tuan rumah bilang, ia orang kampung sini asalnya, ia ketua pengadilan negeri kabupaten katanya, saya tertegun. Bagaimana ia tahu saya dan bagaimana ia tahu kedatangan saya? Tuan rumah bilang mungkin dari mulut penduduk kampung, dikampung seorang asing datang, seluruh kampung tahu, jangan khawatir katanya, orang kampung sini semua sne Li , masih ada hubungan keluarga semua.
   Ketika kami keluar, di depan sudah ada mobil dinas Pengadilan 1. Haha, saya seorang kaypang diajak naik mobil pemerintah dan ditempatkan di hotel sebagai tamu pemerintah daerah.
   Di jalan ia bilang undur dua tiga hari, kita keliling dulu, di sini banyak peninggalan sejarah. Kami libur nasional seminggu katanya. Tapi saya terpaksa menolak, karena jadwal sudah pasti pesawat tak dapat diubah. Dengan menyesal kelihatannya ia berkata, kalau begitu kita mampir sekarang. Kami mampir ke makam pertama yang kami lewati, ialah makam kaisar Jiaqing, salah satu makam terbesar di kompleks itu . Hari hujan, dan sudah gelap makam tak ada listrik, lapangan luas, karena itu jalan agak licin, ia menunggu di depan dengan isteri saya, karena isteri tak berani jalan di jalanan licin, kedua lututnya pernah dioperasi. Saya pergi dengan putri tuan rumah petani tempat saya menginap sehari sebelumnya. Makan sangat luas sayang aulanya yang penuh dengan gambar dan keterangan tentang Jiaqing, tak dapat terbaca lagi karena sudah mulai gelap. Akhirnya kamipun keluar. Di luar gerbang ada deretan rumah gedung, jelas bukan rumah petani, ia bilang inilah turunan mantan pegawai istana dinasti Qing yang sampai sekarang masih tinggal di situ mengurus makam. Dulu mereka kerja bakti, tanpa gaji, tapi setelah reformasi mereka diberi honor lagi, sebagai penjaga benda bersejarah. Di samping itu di sana ada makam ibusuri Cixi yang kenamaan yang menyebabkan dinasi Qing murat marit. Cixi di makamkan disana, jenazah sudah diangkut dengan kereta api. Jalan kereta api ke kabupaten ini adalah jalan khusus untuk keluarga kerajaan yang mau sembahyang ke makam kaisar.
   Keluar dari makam Jiaqing hari sudah gelap benar, sayang katanya dia salah, harusnya ke makam Yongzheng dulu (Yong Ceng) kaisar tangan besi yang berhasil mempertahankan kegemilangan dinasti Qing yang diwariskan oleh salah satu kaisar yang paling berhasil dalam sejarah Tiongkok yaitu ayahnya Yong Ceng kaisar Kangxi.  Pak Hakim bilang, lain kali datang lagi dan atur waktu jangan terlalu mepet ia bilang, kami libur seminggu karena hari Nasional. Kalaupun saya ada halangan, katanya lagi, ada supir yang akan mengantar.
  Hari kedua pagi-pagi pak Hakim sudah datang ke hotel, mengajak makan pagi dan langsung mengantar kami dengan mobil dinas ke Beijing. Jangan naik bis katanya, hujan, bis becek. Supir libur tak ada di tempat saya antar sendiri sampai ke hotel di Beijing. Jadilah pak Hakim supir dan saya sebagai tamu pemerintah daerah. Dunia terbalik pikir saya, saya hanya heran, kabarnya pejabat sombong-sombong bagaimana seorang ketua pengadilan negeri kabupaten, mau membawa mobil sendiri, menjemput kami di kampung, mengantar ke makam kaiisar dan akhirnya mengantar kembali ke hotel. Saya juga perhatikan, setiap lewat gerbang tol, ia bayar, masuk ke halaman makam kaisar ia juga membeli karcis bahkan membelikan kami karcis. Ketika sampai ke depan hotel, penjaga gerbang bertanya mau masuk ke kompleks hotel ada urusan apa, baru portal di angkat. Sebetulnya dari mobil sudah kelihatan tulisan yang besar. Pengadilan Negeri Kabupaten Yi no. 1.
  Sampai di hotel iapun mengantar kami masuk ke reseptionis untuk mengambil kunci kamar. Ketika saya ajak makan dulu, di hotel ada rumah makan, ia menolak dan pamitan pergi.
  Kalau semua pejabat seperti itu, saya pikir, Tiongkok akan melesat lebih cepat, selama ini saya dengar pejabat sombong, korup dan memandang rendah rakyat miskin. Pengalaman yang sangat berbeda dengan masukan yang selalu saya dengar,
  Di samping itu, di Beijing, saya kedatangan tamu lain yang di luar dugaan. Seorang profesor dari Universitas Minoritas datang malam-malam menjenguk kami di hotel di antar oleh seorang mahasiswi Mancu yang saya kenal. Surprise!  Saya tak sempat bertanya termasuk etnis apa dia? Sedang hotel tempat menginap saya hanya hotel bintang 2! Mahasiswi Mancu tsb juga menggunakan sne Wang (Hokkian Ong) .
   Cerita Sdr. Christ di atas saya rasa lebih banyak benarnya. Mereka menggunakan sne Ong mungkin karena merasa masih keturunan dari kerajaan, ong berarti raja.
   Kalau ada waktu, saya kira moderator perlu mengirim orang untuk mengetahui lebih dalam, ini adalah sejarah Tiongkok yang luput dari perhatian orang. Di Tiongkok, dinasti Qing tidak lagi dianggap penjajahan, karena orang Mancu adalah salah satu etnis resmi di Tiongkok. Demikian juga dinasti Utara, seperti Wei utara, karena orang etnis yang menjadi raja sekarang adalah bagian dari etnis bangsa Tionghoa. Mongolia agak lain, pendapat masih terpecah. Karena etnis Mongol sekarang mempunyai negara Mongolia, tapi sebagian termasuk etnis dalam wilayah Tiongkok, jadi adalah termasuk etnis bangsa Tionghoa (Zhonghua Minzu).
 
Catatan:
   Dinasti Qing (1616-1911),  Kangxi, kaisar ke-4 sejak berdirinya negara Jin (Kim) II  dan Kaisar ke -3 setelah negara Jin diproklamirkan menjadi dinasti Qing (Ceng atau Cing) , Yongzheng, kaisar ke 5, Jiaqing kaisar ke 7, Guangxu kaisar ke 11 dan Puyi kaisar ke 12 (terakhir).
Dinasti Qing ini diperintah oleh keluarga Aixinjioro (orang barat menulisnya sebagai Aisingioro) .


From: save_mynit <save_mynit@...>
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Sent: Sun, November 29, 2009 5:20:54 PM
Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

 

Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ



#46146 From: "east_road" <east_road@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 2:42 am
Subject: Re: pertanyaan: buku strategi militet sun tzu
east_road
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Banyak buku bagus, tujuan anda mempelajari apa ?, untuk kepentingan bisnis, atau
dunia militer, ada perbedaan, kalo dalam dunia bisnis strategi bisnis memang
perlu strategi,

Tapi tidak semua strategi sun tzu,
bisa dipakai buat kepentingan bisnis, kalo untuk bisnis diambil sebagian besar
dari strategi beliau buat dianalisir bisa tidak dipakai, dan diterjemahkan dalam
bahasa bisnis.

Sementara kalau buat militer tidak perlu penerjemahan, yang bahas militer justru
di Indo tidak ada, kalau buat bisnis mah banyak.

Paling bagus buku bisnis berdasarkan strategi sun tzu " the art of management"
saya lupa pengarangnya. orang singapura yang nulis, bukunya warna hitam, ada
orang bisnis main catur sama pemain drama kayak jendral gitu, itu buku yang
paling laris, dan cukup layak dibaca.


--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, jackson_yahya@... wrote:
>
> Dear all,
> ada yang tahu buku yang bagus membahas tentang strategi militer sun tzu dalam
bahasa indonesia?
>
> Mohon pencerahannya
> Sent from my BlackBerry smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...!
>

#46145 From: ANDREAS MIHARDJA <mihardja@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 6:20 pm
Subject: Re: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
andreas_tth
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Menurut peraturan Qing  yg menjadi emperor dari kerajaan hanya anak dari emperor.
Guang Xu [no 9] dipungut sebagai anak oleh karena emperor Tong Zhi [no 8]  karena dia adalah childless. Cixi ambil dia sebagai anak dan karena itu mendapat pangkat DaiHo. Emperor Guang Xu juga childless dan karena itu Puyi yg menjadi no 10 dipungut anak oleh Guan Zu dan juga Tong Zhi dan karena itu Cixi tetap adalah Daiho.
Saya menemukan sebagian daftar dari keluarga mereka - silahkan baca sendiri. Saya kira jikalau dia betul ket. emperor dia paling sedikitnya ada buktinya. Memang sewaktu empire jatuh banyak harta dicolong dari forbidden city jadi banyak yg mempunyainya harta palace, tetapi jikalau betul keturunan pasti ada buktinya yg specific.  Lagi tidak mungkin ket. Qing adalah seorang Mongol. Dan jikalau dia betul orang Mongol cari tahu cara makannya. Keluarga saya ada yg ket suku dari Heilungchiang dan tradisi makannya 180 degrees berlainan dgn chinese Han.
Andreas
 
 
http://famous.adoption.com/famous/chinese-qing-dynasty.html

--- On Sun, 11/29/09, ardian_c <ardian_c@...> wrote:

From: ardian_c <ardian_c@...>
Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
To: budaya_tionghua@yahoogroups.com
Date: Sunday, November 29, 2009, 8:43 AM

tambahan lage, puyi diangkat jadi kaisar setelah si guangxu mampuslar.

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "save_mynit" <save_mynit@...> wrote:
>
> Salam teman2,
>
> Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.
>
> Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
> Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.
>
> Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
> Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
> Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.
>
> Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
> Percaya gak percaya....
>
> Salam
> Abdi Christ
>




------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    budaya_tionghua-digest@yahoogroups.com
    budaya_tionghua-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    budaya_tionghua-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/


#46144 From: shinmen takezo <hisashi.mitshui@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 8:40 pm
Subject: Re: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
wirdja_robby...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
waduh si ABS namanya itu di ganti pake dialek apa , eike jadi pusing bacanya......

Kong Xie = GuangXu?
Tjoe Hie = Ci Xi ?

1. GuangXu setelah mencoba menjalankan reform seperti restorasi di jepang , kekuasaannya di pangkas habis2an sama Ci Xi . Jadi walau berkuasa resmi sampai kematiannya 1908 , berkuasanya gak efektif.
2. Puyi tidak pernah kabur keluar tiongkok , yang ada jadi kaisar boneka manchukuo - jepang. Saat USSR sudah mulai aman dengan Jerman-Nazi , USSR declare war terhadap Jepang , dan mulai masuk ke wilayah manchukuo , Pu Yi sempat di tangkap USSR , tapi akhirnya "dikembalikan" ke RRT.

2009/11/30 Akhmad Bukhari Saleh <absaleh@...>

----- Original Message -----
From: ardian_c
Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
> Lage guangxu mokad taon 1908,
>itu cixi dah umur brp?
>guangxu sendiri rasanya belon sampe
>umur 40 taon, sekitar 30an.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Tetapi Ardian-heng, kenyataan sejarah memangmenunjukkan See Thayhouw Tjoe Hiemeninggalpersis sehari setelahmeninggalnya Hongtee Kong Sie!!
Tjoe Hiemeninggal 15 November 1908 dalam umur 73 tahun kurang 2 minggu, sedangkan Kong Sie meninggal sehari sebelumnya,14 November 1908 dalam umur 37 tahun lebih2,5 bulan.
Jangan lupa bahwa Kong Sie sudah menjadi kaisar sejak umur 3,5 tahun.
Makakeheranan looheng: "... cixi dah umur brp?guangxu sendiri rasanya belon sampeumur 40 taon ..." menjadi tidak heran lagi, karena ketika dia 'mokad', Kong Sie jadinyasudahsempat bertahta selama 34 tahun (walau efektif berkuasatidak selama itu).
Tentunya 34 tahun itu bukan waktu sebentar. Lebih lama dari 'bertahta'-nya Soeharto! Hehehe...
Tetapi memang cerita si cicitnya Kaisar Kong Sie ini banyak ngawurnya.
Antara lain, pengganti Kong Sie, Kaisar Henry Puyi, bukanlah adik Kong Sie, melainkan keponakan.
Antara lain lagi, tidak mungkin nenek si cicit dendam pada Sun Yat Sen gara-gara coup terhadap Kong Sie.
Karena coup itu tidak dilakukan oleh Sun Yat Sen, melainkan oleh Ibusuri Tjoe Sie dibantu oleh a.l. Yuan Si Kai.
Antara lainjuga, Henry Puyi tidak pernah kabur dari Tiongkok.
Sejak diturunkan dari tahta tahun 1912, sampai naik tahta lagi untuk 2 minggu di tahun 1917, dia tetap tinggal di Istana Terlarang, Beijing.
Setelahperistiwa 1917 itu, dia tinggal di istana di Tianjin selama 15 tahun. Lalu diangkat Jepang di tahun 1932 menjadi raja boneka di Mancuria sampai 1945.
Antara lain pula, Henry Puyi juga tidak pernah dengan niatnya sendiri menolak untuk menjadi kaisar.
Setiap kali diagagal menjadi kaisar adalah karena diturunkan orang dengan paksaan.
Namun, di segi lain,bisa dicatat bahwa memang betul sampai 40-an tahun yang lalu, daerah Glodok, Jakarta Barat,disebut sebagai "Pancoran".
Yaitu sebelum dikenalnya Pancoran sebagai nama daerah di persimpangan Tugu Dirgantara, Jakarta Selatan.
Bagaimana pun juga, bagi mereka yang punya 'modal' pengetahuan tentang sejarah akhir dinasti Tjeng (Qing), kelihatannya akan menarik untuk bisa ngobrol dengan si cicitnya Kaisar Kong Sie ini...
Wasalam.
=============================
----- Original Message -----
From: ardian_c
Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

rasanya si guangxu bukan sdr.sepupu cixi, wong cixi itu ibusuri, dan guangxu itu anak asuh dari ratu Ci An, bokapnya namanya kaisar Xianfeng getu.
Lage guangxu mokad taon 1908, itu cixi dah umur brp ? guangxu sendiri rasanya belon sampe umur 40 taon, sekitar 30an.

trus jg kerajaan dinasti qing itu adalah orang manchu dan semua kaisar qing marganya aishin gioro aixin jueluo.

--------------------------------------------


--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "save_mynit" <save_mynit@...> wrote:
>
> Salam teman2,
>
> Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.
>
> Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
> Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.
>
> Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
> Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
> Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.
>
> Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
> Percaya gak percaya....
>
> Salam
> Abdi Christ



#46143 From: "Akhmad Bukhari Saleh" <absaleh@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 8:08 pm
Subject: Re: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
absaleh4
Offline Offline
Send Email Send Email
 
----- Original Message -----
From: ardian_c
Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
 
> Lage guangxu mokad taon 1908,
> itu cixi dah umur brp?
> guangxu sendiri rasanya belon sampe
> umur 40 taon, sekitar 30an.
 
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
 
Tetapi Ardian-heng, kenyataan sejarah memang menunjukkan See Thayhouw Tjoe Hie meninggal persis sehari setelah meninggalnya Hongtee Kong Sie!!
 
Tjoe Hie meninggal 15 November 1908 dalam umur 73 tahun kurang 2 minggu, sedangkan Kong Sie meninggal sehari sebelumnya, 14 November 1908 dalam umur 37 tahun lebih 2,5 bulan.
 
Jangan lupa bahwa Kong Sie sudah menjadi kaisar sejak umur 3,5 tahun.
Maka keheranan looheng: "... cixi dah umur brp? guangxu sendiri rasanya belon sampe umur 40 taon ..." menjadi tidak heran lagi, karena ketika dia 'mokad', Kong Sie jadinya sudah sempat bertahta selama 34 tahun (walau efektif berkuasa tidak selama itu).
Tentunya 34 tahun itu bukan waktu sebentar. Lebih lama dari 'bertahta'-nya Soeharto! Hehehe...
 
Tetapi memang cerita si cicitnya Kaisar Kong Sie ini banyak ngawurnya.
 
Antara lain, pengganti Kong Sie, Kaisar Henry Puyi, bukanlah adik Kong Sie, melainkan keponakan.
 
Antara lain lagi, tidak mungkin nenek si cicit dendam pada Sun Yat Sen gara-gara coup terhadap Kong Sie.
Karena coup itu tidak dilakukan oleh Sun Yat Sen, melainkan oleh Ibusuri Tjoe Sie dibantu oleh a.l. Yuan Si Kai.
 
Antara lain juga, Henry Puyi tidak pernah kabur dari Tiongkok.
Sejak diturunkan dari tahta tahun 1912, sampai naik tahta lagi untuk 2 minggu di tahun 1917, dia tetap tinggal di Istana Terlarang, Beijing.
Setelah peristiwa 1917 itu, dia tinggal di istana di Tianjin selama 15 tahun. Lalu diangkat Jepang di tahun 1932 menjadi raja boneka di Mancuria sampai 1945.
 
Antara lain pula, Henry Puyi juga tidak pernah dengan niatnya sendiri menolak untuk menjadi kaisar.
Setiap kali dia gagal menjadi kaisar adalah karena diturunkan orang dengan paksaan. 
 
Namun, di segi lain, bisa dicatat bahwa memang betul sampai 40-an tahun yang lalu, daerah Glodok, Jakarta Barat, disebut sebagai "Pancoran".
Yaitu sebelum dikenalnya Pancoran sebagai nama daerah di persimpangan Tugu Dirgantara, Jakarta Selatan. 
 
Bagaimana pun juga, bagi mereka yang punya 'modal' pengetahuan tentang sejarah akhir dinasti Tjeng (Qing), kelihatannya akan menarik untuk bisa ngobrol dengan si cicitnya Kaisar Kong Sie ini...
 
Wasalam.
 
============================= 
 
----- Original Message -----
From: ardian_c
Sent: Sunday, November 29, 2009 10:50 PM
Subject: [budaya_tionghua] Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

rasanya si guangxu bukan sdr.sepupu cixi, wong cixi itu ibusuri, dan guangxu itu anak asuh dari ratu Ci An, bokapnya namanya kaisar Xianfeng getu.
Lage guangxu mokad taon 1908, itu cixi dah umur brp ? guangxu sendiri rasanya belon sampe umur 40 taon, sekitar 30an.

trus jg kerajaan dinasti qing itu adalah orang manchu dan semua kaisar qing marganya aishin gioro aixin jueluo.

--------------------------------------------


--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "save_mynit" <save_mynit@...> wrote:
>
> Salam teman2,
>
> Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.
>
> Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
> Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.
>
> Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
> Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
> Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.
>
> Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
> Percaya gak percaya....
>
> Salam
> Abdi Christ


#46142 From: "ardian_c" <ardian_c@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 4:43 pm
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
ardian_c
Offline Offline
Send Email Send Email
 
tambahan lage, puyi diangkat jadi kaisar setelah si guangxu mampuslar.

--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "save_mynit" <save_mynit@...> wrote:
>
> Salam teman2,
>
> Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu
ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia.
Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri
tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor
Pu Yi.
>
> Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya
dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek
buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu
mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak
menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya
air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya)
putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
> Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi
menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil.
Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita
selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh
mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan
pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak
menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat
berjualan kembang.
>
> Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit
ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang
Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam
pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan
dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
> Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut
"Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia
mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada
cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada
jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim
orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan
mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
> Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti
marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya,
bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol
(mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan
Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat
kembali ke Mongolia.
>
> Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe
it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan
kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi
dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang
wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
> Percaya gak percaya....
>
> Salam
> Abdi Christ
>

#46141 From: jackson_yahya@...
Date: Sun Nov 29, 2009 4:19 pm
Subject: pertanyaan: buku strategi militet sun tzu
jackson_yahya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Dear all,
ada yang tahu buku yang bagus membahas tentang strategi militer sun tzu dalam
bahasa indonesia?

Mohon pencerahannya
Sent from my BlackBerry smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

#46140 From: shinmen takezo <hisashi.mitshui@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 4:21 pm
Subject: Re: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
wirdja_robby...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
keknya ini yuan salah satu tokoh terpenting nan opor ayam dalam sejarah tiongkok ,

dia sempat di tugaskan menumpas boxer pada awalnya (sebelum boxer berkolaborasi dengan qing)
juga dalam great conspiracy penggulingan kekuasaan guang xu
dan akhirnya karya puncaknya adalah terlibat dalam merubuhkan mantan majikannya (qing)

jadi siapa sebenarnya wu san goei , ehhh salah ketik , maksud gw si yuan shi kai


2009/11/29 ardian_c <ardian_c@...>

hehehehe ada kemunginan si cixi ame guangxu mate dibunuh, tapi yg jelas kemungkinan guang xu dibunuh ama cixi lebih santer, soalnya si cixi dah bilang gak mau mate sebelon guangxu.

Nah ada issue kalu si yuan itu sebenernya dah lirik2an ama org2 nasionalist yg dipimpin ama sun yat sen. makanya sebenernya yg gulingin kerajaan qing mah aslinya si yuan shikai sendiri yg ngebelot en nusuk dari belakang. kalu gak ada dukungan yuan shikai, itu sun yatsen jg gak isa apa2, makanya sun tau kalu yg pegang militer itu si yuan jadi die ngalah huehehehehehehe gak jadi presiden.

Sayangnya nama yuan shikai bau kemana2, jadi peranan penting dia buat jatohin qing diapus or sedikit banyak dilupain ama banyak org.



--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, shinmen takezo <hisashi.mitshui@...> wrote:
>
> guangxu sama ci xi mokatnya hampir barengan , di curigai si yuan shi kai
> pelakunya
> menurut lu gimana ?
>
> 2009/11/29 ardian_c <ardian_c@...>

>
> >
> >
> > rasanya si guangxu bukan sdr.sepupu cixi, wong cixi itu ibusuri, dan
> > guangxu itu anak asuh dari ratu Ci An, bokapnya namanya kaisar Xianfeng
> > getu.
> > Lage guangxu mokad taon 1908, itu cixi dah umur brp ? guangxu sendiri
> > rasanya belon sampe umur 40 taon, sekitar 30an.
> >
> > trus jg kerajaan dinasti qing itu adalah orang manchu dan semua kaisar qing
> > marganya aishin gioro aixin jueluo.
> >
> >
> > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com <budaya_tionghua%40yahoogroups.com>,

> > "save_mynit" <save_mynit@> wrote:
> > >
> > > Salam teman2,
> > >
> > > Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam
> > minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di
> > Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya
> > adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum
> > the last emperor Pu Yi.
> > >
> > > Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut
> > katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya.
> > Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya,
> > Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia
> > sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa
> > ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia
> > memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si
> > cicit ini.
> > >
> > > Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi
> > menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil.
> > Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita
> > selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh
> > mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina,
> > dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda
> > menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata,
> > miskin dan sempat berjualan kembang.
> > >
> > > Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si
> > cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan
> > anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya
> > selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek
> > dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke
> > Indonesia.
> > >
> > > Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut
> > "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia
> > dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat
> > perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan
> > orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya,
> > Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga
> > Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.
> > >
> > > Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk
> > ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya
> > lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah
> > asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan
> > seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir
> > di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.
> > >
> > > Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you
> > believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya
> > tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran
> > untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis
> > tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit
> > agak hitam dan sipit).
> > >
> > > Percaya gak percaya....
> > >
> > > Salam
> > > Abdi Christ
> > >
> >
> >
> >
>



#46139 From: "ardian_c" <ardian_c@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 4:06 pm
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
ardian_c
Offline Offline
Send Email Send Email
 
hehehehe ada kemunginan si cixi ame guangxu mate dibunuh, tapi yg jelas
kemungkinan guang xu dibunuh ama cixi lebih santer, soalnya si cixi dah bilang
gak mau mate sebelon guangxu.

Nah ada issue kalu si yuan itu sebenernya dah lirik2an ama org2 nasionalist yg
dipimpin ama sun yat sen. makanya sebenernya yg gulingin kerajaan qing mah
aslinya si yuan shikai sendiri yg ngebelot en nusuk dari belakang. kalu gak ada
dukungan yuan shikai, itu sun yatsen jg gak isa apa2, makanya sun tau kalu yg
pegang militer itu si yuan jadi die ngalah huehehehehehehe gak jadi presiden.

Sayangnya nama yuan shikai bau kemana2, jadi peranan penting dia buat jatohin
qing diapus or sedikit banyak dilupain ama banyak org.


--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, shinmen takezo <hisashi.mitshui@...>
wrote:
>
> guangxu sama ci xi mokatnya hampir barengan , di curigai si yuan shi kai
> pelakunya
> menurut lu gimana ?
>
> 2009/11/29 ardian_c <ardian_c@...>
>
> >
> >
> > rasanya si guangxu bukan sdr.sepupu cixi, wong cixi itu ibusuri, dan
> > guangxu itu anak asuh dari ratu Ci An, bokapnya namanya kaisar Xianfeng
> > getu.
> > Lage guangxu mokad taon 1908, itu cixi dah umur brp ? guangxu sendiri
> > rasanya belon sampe umur 40 taon, sekitar 30an.
> >
> > trus jg kerajaan dinasti qing itu adalah orang manchu dan semua kaisar qing
> > marganya aishin gioro aixin jueluo.
> >
> >
> > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com <budaya_tionghua%40yahoogroups.com>,
> > "save_mynit" <save_mynit@> wrote:
> > >
> > > Salam teman2,
> > >
> > > Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam
> > minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di
> > Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya
> > adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum
> > the last emperor Pu Yi.
> > >
> > > Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut
> > katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya.
> > Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya,
> > Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia
> > sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa
> > ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia
> > memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si
> > cicit ini.
> > >
> > > Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi
> > menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil.
> > Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita
> > selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh
> > mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina,
> > dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda
> > menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata,
> > miskin dan sempat berjualan kembang.
> > >
> > > Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si
> > cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan
> > anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya
> > selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek
> > dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke
> > Indonesia.
> > >
> > > Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut
> > "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia
> > dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat
> > perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan
> > orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya,
> > Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga
> > Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.
> > >
> > > Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk
> > ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya
> > lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah
> > asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan
> > seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir
> > di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.
> > >
> > > Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you
> > believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya
> > tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran
> > untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis
> > tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit
> > agak hitam dan sipit).
> > >
> > > Percaya gak percaya....
> > >
> > > Salam
> > > Abdi Christ
> > >
> >
> >
> >
>

#46138 From: shinmen takezo <hisashi.mitshui@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 3:54 pm
Subject: Re: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
wirdja_robby...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
guangxu sama ci xi mokatnya hampir barengan , di curigai si yuan shi kai pelakunya
menurut lu gimana ?

2009/11/29 ardian_c <ardian_c@...>

rasanya si guangxu bukan sdr.sepupu cixi, wong cixi itu ibusuri, dan guangxu itu anak asuh dari ratu Ci An, bokapnya namanya kaisar Xianfeng getu.
Lage guangxu mokad taon 1908, itu cixi dah umur brp ? guangxu sendiri rasanya belon sampe umur 40 taon, sekitar 30an.

trus jg kerajaan dinasti qing itu adalah orang manchu dan semua kaisar qing marganya aishin gioro aixin jueluo.



--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "save_mynit" <save_mynit@...> wrote:
>
> Salam teman2,
>
> Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.
>
> Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
> Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.
>
> Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
> Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
> Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.
>
> Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
> Percaya gak percaya....
>
> Salam
> Abdi Christ
>



#46137 From: "ardian_c" <ardian_c@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 3:50 pm
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
ardian_c
Offline Offline
Send Email Send Email
 
rasanya si guangxu bukan sdr.sepupu cixi, wong cixi itu ibusuri, dan guangxu itu
anak asuh dari ratu Ci An, bokapnya namanya kaisar Xianfeng getu.
Lage guangxu mokad taon 1908, itu cixi dah umur brp ? guangxu sendiri rasanya
belon sampe umur 40 taon, sekitar 30an.

trus jg kerajaan dinasti qing itu adalah orang manchu dan semua kaisar qing
marganya aishin gioro aixin jueluo.




--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "save_mynit" <save_mynit@...> wrote:
>
> Salam teman2,
>
> Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu
ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia.
Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri
tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor
Pu Yi.
>
> Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya
dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek
buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu
mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak
menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya
air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya)
putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.
>
> Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi
menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil.
Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita
selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh
mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan
pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak
menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat
berjualan kembang.
>
> Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit
ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang
Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam
pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan
dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.
>
> Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut
"Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia
mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada
cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada
jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim
orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan
mobil dan diantar hingga ke Semarang.
>
> Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti
marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya,
bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol
(mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan
Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat
kembali ke Mongolia.
>
> Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe
it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan
kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi
dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang
wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).
>
> Percaya gak percaya....
>
> Salam
> Abdi Christ
>

#46136 From: shinmen takezo <hisashi.mitshui@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 3:45 pm
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
wirdja_robby...
Offline Offline
Send Email Send Email
 

1. guangxu itu masih terhitung paman dari pu yi , bukan adik
2. guangxu itu masih terhitung ponakan ci xi , bukan saudara
3. qing = manchu , walau akar manchu , jurchen atau whatsoever berakar dari mongol ratusan tahun sebelumnya
4. guangxu kekuasaannya di kebiri cixi karena berusaha mengadakan reform (seperti halnya restorasi meiji di jepang) , dan banyak petinggi2 yang terancam , meminta bantuan cixi

coba tolong tambahkan koreksi

2009/11/29 <agoeng_set@...>

Ceritanya bikin bingung, bisa diurut dengan lebih ok gak? Btw apa hubungan kaisar Guang Xu n mongol? Yg 1 kaisar manchu yg laen dari mongol, kok bisa si cicit jadi org mongol?


From: "save_mynit" <save_mynit@...>
Date: Sun, 29 Nov 2009 09:20:54 -0000
Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ



#46135 From: "Wira Kemala" <wira@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 10:12 am
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
kwiranata
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Nonetheless, good share boss. S ☺ L

Wira.
-----Original Message-----
From: "save_mynit" <save_mynit@...>
Date: Sun, 29 Nov 2009 09:20:54
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit
Kaisar Guang Xu di Jakarta

Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu
ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia.
Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri
tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor
Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya
dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek
buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu
mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak
menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya
air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya)
putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk
anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang
Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun
menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan
seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke
Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya
hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini,
pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu
dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada
Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh.
Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar
Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2
orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita
inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman
itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang
untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil
dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti
marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya,
bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol
(mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan
Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat
kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it?
Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki
sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi
dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang
wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ



------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links

#46134 From: Karang Terjal <karang0terjal@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 11:31 am
Subject: Re: Re: Fw: 56 Ethnic Group in China
karang0terjal@...
Send Email Send Email
 
Pak Rene,

Hanya ada 48 gambar ethnic, masih kurang 8 gambar ethnic.
Ada tambahan sisanya ga ya?

Thanks.

2009/11/28 huarenau <huarenau@...>


Mungkin email anda di set hanya utk text only, coba dirubah utk rich text atau html, mungkin bisa buka, atau bisa dilihat di website milis.

Tujuan saya kirim gambar2 ethnic tsb sebetulmnya mau tanya pada yg bisa baca2 character, suku DAI itu bukan nya asal dari Yunan??
Pakaian yg di pakai sangat mirip sekali dgn pakaian di Jawa, apa ada hubungan dgn kedatanagn orang2 Yunan ke Jawa di masa lampau atau hanya kebetulan saja, juga banyak corak2 pakaian yg serupa dgn pakaian daerah2 di Indonesia......... entah apa ada hubungan.

ada yg tahu??............

rgds. rc



--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "Wira K. Teng" <wira@...> wrote:
>
> di saya kenapa gak kelouar ya gambar nya? tengkiuuuu
>
> On Fri, Nov 27, 2009 at 8:33 PM, San San <san.mitradewata@...> wrote:
>
> >
> > Salut buat anda yang bisa mengumpulkan Foto-foto ethnic group dari china
> > ini dengan pakaian traditional mereka....
> >
> > Salam,
> > San San
> >
> > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, "joao_kho" <Joao.Kho@> wrote:
> > >
> > > Thank you .. very nice pictures..
> > >
> > > --- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, rene chan <huarenau@> wrote:
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Rekan2 milis,
> > > >
> > > > Ini ada photo2 costume macam2 ethnic di China, moga2 gambar nay bisa
> > masuk milis, atau harus kirim ke modie dulu??
> > > >
> > > > RC
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > >
> > > > ________________________________



#46133 From: agoeng_set@...
Date: Sun Nov 29, 2009 10:18 am
Subject: Re: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
agoeng_set
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Ceritanya bikin bingung, bisa diurut dengan lebih ok gak? Btw apa hubungan kaisar Guang Xu n mongol? Yg 1 kaisar manchu yg laen dari mongol, kok bisa si cicit jadi org mongol?
From: "save_mynit" <save_mynit@...>
Date: Sun, 29 Nov 2009 09:20:54 -0000
To: <budaya_tionghua@yahoogroups.com>
Subject: [budaya_tionghua] OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta

 

Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia. Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya) putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini, pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh. Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2 orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya, bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol (mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it? Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ


#46132 From: "save_mynit" <save_mynit@...>
Date: Sun Nov 29, 2009 9:20 am
Subject: OOT: Percaya ga Percaya: baru ngobrol dengan cicit Kaisar Guang Xu di Jakarta
save_mynit
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Salam teman2,

Boleh percaya atau tidak. Saya pun separuh percaya separuh tidak. Dalam minggu
ini baru bertemu dan berkenalan dengan seorang Mongol yg lahir di Indonesia.
Ketika dia menceritakan asal-usulnya, dia cerita kalau neneknya adalah putri
tertua Kaisar Guang Xu - kaisar yang memerintah tepat sebelum the last emperor
Pu Yi.

Alkisah, saat Kakek Buyutnya memerintah di Cina, pemerintahan tersebut katanya
dicemburui dan diambil alih lewat kelicikan XiCi saudara sepupunya. Sang Kakek
buyut (Guang Xu) akhirnya tewas diracun. Menurut ceritanya, Kaisar Guang Xu
mempunyai lebih dari satu istri. Dari istri pertama, dia sama sekali tidak
menghasilkan keturunan laki2 (bayi yang dilahirkan berupa ketuban yg isinya
air-tidak ada bayinya). Sedang dari istri ke dua ia memiliki 8 (lupa kayaknya)
putri dan putri tersulung adalah nenek dari si cicit ini.

Karena Kaisar Guang Xu tidak punya penerus laki2 maka secara licik XiCi menunjuk
anak laki2 dari adik kaisar Guang Xu, yakni Puyi yg masih kecil. Jadilah Guang
Xu dilengser diteruskan oleh kaisar kecil Puyi. Cerita selanjutnya, Puyi pun
menderita (ceritanya disiksa oleh Jepang, dituduh mendalangi pemberontakan, dan
seterusnya). Puyi pun sempat kabur dari Cina, dan pada suatu saat kembali ke
Cina tapi menyerahkan stempel kaisar (tanda menolak menjadi kaisar). Selanjutnya
hidup Puyi seperti rakyat jelata, miskin dan sempat berjualan kembang.

Bagaimana cicit Kaisar Guang Xu bisa sampai di Indonesia? Menurut si cicit ini,
pada masa coup di pemerintahan Guang Xu, seluruh keluarga dan anak2 Guang Xu
dibabat habis. Itu pula yang menurut si cicit ini, neneknya selalu dendam pada
Sun Yat Sen. Menurut kisahnya, 6 dari saudara2 sang nenek dikejar dan dibunuh.
Akhirnya si nenek memutuskan untuk lari sampai ke Indonesia.

Di Indonesia (ini uniknya) si Nenek turun Jakarta, di tempat yang disebut "Pasar
Pancoran" - katanya ini adalah Glodok jaman dulu. Dan di Indonesia dia mencari2
orang China yang cukup besar yang bisa jadi tempat perlindungan. Pada cerita
inilah sang cicit menyebut nama seorang mantan orang terkaya Asia pada jaman
itu: Oei Tiong Ham yang juragan gula. Katanya, Oei Tiong Ham mengirim orang
untuk menjemput si Nenek yang masih keluarga Kaisar Guang Xu itu dengan mobil
dan diantar hingga ke Semarang.

Selanjutnya, demi menghilangkan jejak maka sepakatlah si Nenek ini untuk ganti
marga. Kebetulan marga yang dipakai adalah marga Hokkian: Ong. Saya lupa tanya,
bagaimana jelasnya, kalau tidak salah si cicit ini punya ayah asli dari Mongol
(mungkin cucu langsung Kaisar Guang Xu) dan menikah dengan seorang perempuan
Tionghoa yang berasal dari Menado. Si cicit ini pun lahir di Sana dan sempat
kembali ke Mongolia.

Usia si cicit ini masih muda. Beda kira2 2 tahun dengan saya. Do you believe it?
Sekarang kalau saya mau ngobrol dengan si cicit ini, hanya tinggal jalan kaki
sekian puluh meter dari rumah. Dan saya masih penasaran untuk ngobrol lagi
dengan si cicit yang berwajah sangat totok dengan alis tinggi dan tekstur tulang
wajah yang sangat mirip orang Cina daratan (kulit agak hitam dan sipit).

Percaya gak percaya....

Salam
Abdi Christ

Messages 46132 - 46161 of 46161   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help