Sdr Xuan Tong:
Saya kutipkan disini berdasarkan buku "Tionghoa dalam Pusaran
Politik" karang Benny G. Setiono (catatan kaki hlm. 588-589) ttg.
Tony Wen atau Boen Kin To.
Tony Wen atau Boen Kin To, lahir di Sungailiat, Bangka, pada 1911
dari keluarga yang berada. Ayahnya seorang kepala parit Bangka
Biliton Tin Maatschapij. Setelah menyelesaikan sekolah menengah di
Sungailiat, dia meneruskan studinya di Singapore, kemudian di U Ciang
University, Shanghai dan Liang Nam University, Canton. Setelah
kembali ke Jkt ia menjadi guru olahraga di sekolah Pa Hoa (T.H.H.K.).
Sebelum PDII ia menjadi pemain sepakbola terkenal kesebelasan UMS
(Union Makes Strength). Pada masa pendudukan Jepang ia bekerja
sebagai jurubahasa di kantor urusan Hoa Kiao (Kakyo Hanbu) salah satu
bagian pusat intelijen Jepang (Sambu Beppan). Setelah Jepang menyerah
ia menghilang dari Jkt dan menetap di Solo memimpin Barisan
Pemberontak Tionghoa. Ia kemudian menjadi pembantu R.P. Suroso
membentuk kantor urusan minoritas di Dept. Dalam Negeri. Pada akhir
masa perjuangan fisik Tony Wen menjadi pembantu Mukarto, kepala Opium
en Zoutregie dan ia sering mondar-mandir ke Singapura untuk menukar
candu dg senjata yg diselundupkan ke daerah Republik. Ketika Presiden
Soekarno dan para pemimpin lainnya dibuang ke P. Bangka, ia yg
menyediakan seluruh keperluan para pemimpin tsb. Pada tahun 1950-an
ia diangkat menjadi anggota Komite Olimpiade Indonesia dan pengurus
PSSI. Pada 1952 ia masuk menjadi anggota PNI. Sejak Agustus 1954
sampai Maret 1956, ia diangkat menjadi anggota DPR mewakili PNI. Tony
Wen meninggal dunia krn sakit pada 30 Mei 1963 dan dimakamkan di
Menteng Pulo, Jkt. Keterangan dari Henry Boen, keponakan Tony Wen dan
lihat Siauw Giok Tjhan, Lima Jaman: Perwujudan Integrasi Wajar,
Yayasan Teratai, Jakarta-Amsterdam, 1981, hlm.100-101; Leo
Suryadinata, Eminent Indonesian Chinese: Biographical Sketches,
Gunung Agung Singapore, Singapore, 1981, hlm. 168 dan Drs. Sam
Setyautama, "Mengenang Tonny Wen (Boen Kim To), Guru Olahraga
Allround & Penyelundup Candu Untuk Beli Senjata" dalam Dewan Redaksi,
Buku Peringatan 100 Tahun Sekolah THHK/PAHOA, Yayasan Pancaran Hidup,
Agt 2000, hlm.308-309.
Apakah Alm. Tony Wen menjadi salah satu pemrakarsa merobek bagian
biru dari bendera Holland, dan mengibarkannya kembali sebagai Merah
Putih tidak ditulis dalam buku ini. Tentunya akan baik sekali kalo
kita dapat mendengar/membaca keseluruhan peristiwa ini. Sebenarnya
peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato (Oranye) itu terjadi tgl.
19 September 1945.
Sdr. Xuan Tong, ternyata memang banyak sekali keturunan Tionghoa yg
punya kontribusi dalam sejarah termasuk perkembangan budaya dan
ekonomi di Indonesia. Saya katakan ternyata krn lewat buku ini saya
membaca (data + tulisan) banyak nama keturunan Tionghoa yg tidak
familiar banyak jasa, paling tidak berjuang ber-sama2 bangsa
Indonesia di Indonesia.
Sebagai tambahan: Bung Tomo yg disebut sebagai pahlawan krn peristiwa
di Surabaya ini adalah Pemimpin Besar BPRI (Barisan Pemberontak
Rakjat Indonesia) yg melalui radio melakukan pidato yg ber-kobar
untuk membakar semangat para pemuda di Surabaya dan sekitarnya. Namun
sayangnya pidato2 Bung Tomo tersebut tidak bebas dari sikap
rasialisnya yg anti-Tionghoa. Tema2 anti Tionghoa dlm pidatonya sudah
tentu menumbuhkan sentimen anti Tionghoa di kalangan masyarakat Jawa
Timur.
Untuk menanggulanginya, Go Gien Tjwan sebagai jurubicara Angkatan
Muda Tionghoa (AMT) mengucapkan pidato yg menekaknkan bahwa musuh
rakyat Indonesia bukan etnis Tionghoa melainkan Belanda. Ia juga
menyatakan bahwa etnis Tionghoa juga menjadi korban penjajahan
Belanda dan tidak menginginkan kembalinya penjajahan Belanda.
Siaw Giok Tjhan bersama kawan2nya pergi menemui Bung Tomo agar
mengubah sikapnya terhadap etnis Tionghoa, namun Bung Tomo tidak bisa
diyakinkan dan tetap berpendapat bahwa sebagian besar entis Tionghoa
pro-Belanda. Pada akhir Okt 1945, Siauw Giok Tjhan memimpin delegasi
pemuda Tionghoa untuk bertemu dg Bung Tomo dan sejumlah tokoh Pemuda
Sosialis Indonesia (Pesindo) Soemarsono dan Soedisman di Nangkajajar,
sebuah kota kecil yg terletak antara Sby dan Malang. Di dalam
pertemuan tsb berhasil disepakati bahwa para pemuda Tionghoa akan
bergabung dg BPRI dan Pesindo.
Cheers,
Bebeth
--- In
budaya_tionghua@yahoogroups.com, "perfect_harmony2000"
<perfect_harmony2000@y...> wrote:
>
> sdr.Irawan ,
>
> bisakah anda memberikan sedikit masukan yang lebih jelas lagi
> mengenai Tony Wen ini.
>
>
>
>
> hormat saya ,
>
>
> Xuan Tong
> --- In
budaya_tionghua@yahoogroups.com, drirawan@a... wrote:
> > Terimakasih Bung IKRANAGARA yang telah mengingatkan ini.
> >
> > Benar adanya kita harus kembali mengenang 10 Nopember sebagai
hari
> Pahlawan
> > atas segala yang terjadi di Hotel Oranye di kota buaya itu.
> Berkenaan dengan
> > itu setidaknya etnis Tionghoa juga mempunyai tokoh pejuang yang
> namanya cukup
> > tenar dulu '"Tonny Wen" yang bertindak sebagai salah seorang
> pemrakarsa
> > merobek bagian biru dari bendera Holland , dan mengibarkannya
> kembali sebagai
> > Merah Putih. Hal ini saya dengar sendiri dari saksi mata Mr
Benny
> Ardy, (mantan
> > director group Mulia di LA), diperkuat oleh Henry Boon (Wen) ,
> salah satu
> > pengurus INTI, Jakarta, yang kebetulan keponakan dari Tonny Wen.
> >
> > Dengan ini Etnis Tionghoa juga boleh turut berbangga, bahwa ada
> juga saham
> > perjuangan Indonesia dari golongan Tionghoa.
> >
> > salam,
> > Dr.Irawan.