Tapi kalau dilihat dari situs dan peinggalan sejarah, kayaknya luar Jawa lebih dahulu kedatangan Imigran dari Tiongkok, ini bisa dlihihat dari salah buku berjudul : Budaya Indo China di Persimpangan. Hanya saja tidak dipublikasikan sehingga tidak diketahui oleh masyarakat luas. Sehingga yang lebih populer justru pendatang yang lebih baru. Harus juga diketahui bahwa persilangan budaya antara Tionghoa dan nusantara di Pulau Jawa dan diluar Jawa tidaklah sama.
Kalau kita jeli melihat ( tapi tentu butuh waktu ), kita akan melihat bahwa, ada persamaan budaya antara Vietnam ( yang berbatasan dengan Tiongkok, budaya di Pulau Bangka, Poso ( Sulawesi Tengah) dan Bugis ( Sulawesi Selatan). Budaya yang ada di daerah yang saya sebut diatas pada dasarnya berafiliasi ke Tiongkok ( misalnya dalam bercocok tanam, kesenian, kekerabatan dan hal-hal yang berhubungan larangan/pantangan, sedangkan budaya Pulau Jawa berafiliasi dengan Tanah Hindustan/India. Ciri khasnya adalah membuat kasta atau tingkatan masyarakat yang kemudian disedernahanakan menjadi wong cilik ( biasanya yang tertindas dari masa kemasa ) dan wong tidak cilik ( penguasa / diktator ) ini sebenarnya adopsi dari Budaya Hindustan. Bedanya adalah, kalo di India Wong terbagi atas 4 tingkatan ( kasta ) ini lebih parah lagi...:((
Kemudian dalam kehidupan sehari-hari kita juga bisa lihat cara membuat masakan yang kaya akan rempah2 itu dilakukan di Pulau Jawa pada umumnya dan di kecuali Tanah Minang (??), seperti halnya juga dengan di Tanah Hindustan. Di luar Jawa, pola masakannya adalah minimalis sebagaimana yang biasa dilakukan oleh masyarakat Tionghoa, tapi tentunya juga sudah dimodifikasi juga sehingga tidak terlalu sama betul dengan di Tiongkok.
Tambahan :
Kemudian setelah Islam/Kristen, masuk nusantara dan diterima oleh sebagian masyarakat nusantara ( termasuk di Malaysia ), namun mereka tidak semuanya mengadopsi ajaran Islam/Kristen. Mereka masih tetap menjalankan atau setidaknya mempercayai ajaran/tradisi leluhur misalnya sedekah laut, sedekah gunung dan lain-lain yang hingga kini tetap aja berlanjut.....istilahnya anjing menggonggong kapilah berlalu...hehehe
Saya mau mengatakan bahwa kita ini beruntung karena walau mengadopsi budaya dari mana-mana, kita tidak pernah diklaim mencuri Budaya Hindustan atau Tiongkok. Hanya kita yang sering mengklaim bahwa budaya kita dipatenkan oleh Malaysia...nah suatu saat kalau Malaysia bukan mustahil juga akan melarang penggunaan/serapan bahasa Melayu kedalam bahasa Indonesia . Termasuk penggunaan jenggot yang meniru budaya Arab...hati-hati karena bisa dikomplen ama Orang2 Timur Tengah...hehehe...=)) =))
--- On Sat, 11/14/09, alex ferry <alexferry@...> wrote:
|