--- In budaya_tionghua@yahoogroups.com, Rinto Jiang <rintojiang@y...>
wrote:
> Dear All yang menyimak,
>
Syair sebelah kiri "Wen Shan Gong Miau, Ri Zeng Fu Zhi Qian Kun Man"
saya tafsirkan adalah "Bio/Kelenteng yang dilindungi Gunung
Peradaban, semakin menambah kebahagiaan memenuhi alam semesta"
Syair sebelah kanan "De Shui Chao Tang, Yue Zhen Xiang Guang Tian Xia
Ping" saya tafsirkan adalah "Air moral/bakti berkumpul menuju
Bio/Kelenteng (Tang), semakin menambah kedamaian di bumi".
DK:
Tjiongwie/Zhongwei,
Mohon maaf, sayang saya belum membaca syair berpasangan (toey-
lian/duilian) tersebut, karena saya membaca post dari internet, bukan
dari e-mail, jadi attachment tidak disimpan (attachment not stored).
Saya hanya ingin menambahkan sedikit informasi di sini, arti Boen/Wen
dari nama kelenteng Boen Tek Bio/Wende Miao di Pasar Lama
adalah 'Kebajikan Benteng' (Benteng adalah nama lain dari kota
Tangerang, dalam huruf Tionghoa dituliskan Boen-teng/Wendeng), jadi
bukan sekadar Peradaban dalam arti umum. Informasi ini saya peroleh
dari Alm. Kim Tiang Oey Loosianseng/Jinchang Huang Laoxiansheng alias
OKT, seorang penerjemah kawakan cerita silat dari bahasa Tionghoa ke
bahasa Melayu/Indonesia yang sangat terkenal.
Itulah sebabnya kelenteng kedua di Tangerang yang letaknya di Pasar
Baru juga memakai kata Boen/Wen yakni Boen San Bio/Wenshan Miao
(artinya Gunung Peradaban/Tangerang) dan kelenteng ketiga (di
Serpong) Boen Hay Bio/Wenhai Miao (artinya Samudra
Peradaban/Tangerang). Yang kedua dan ketiga hanya meneruskan memakai
kata Boen + Gunung dan Boen + Samudera). Jadi, sesuai dengan prinsip
keselarasan dalam filsafat Tionghoa, ada gunung, ada lautan/samudera
(Yoe san yoe soey/you shan you shui).
Kiongtjhioe/Gongshou,
DK