Orang Tionghoa dan integrasi kedalam masyarakat Indonesia
Tulisan tulisan saya tentang Pecinan banyak mengandung perasaan kehangatan atau nostalgi pada periode Tempo Doeloe didaerah yang kaya dengan sejarah, kultur Tionghoa, kultur campuran Jawa dan Tionghoa, saya namakan kultur Baba atau Peranakan, persahabatan, sport dan specifik ialah perdagangan etc. etc.
saya mengerti bahwa proses evolusi, perobahan selalu membawah kemajuan dalam kehidupan masyarakat. Maka yang terpenting menulis sejarah, dengan maksud agar para pembaca tidak memgambil kesimpulan bahwa Tempo Doeloe itu semua lebih baik dari sekarang. Dari pengalaman-pengalam saya menulis saya merealisir bahwa kita harus tahu situasi dan mengerti Tempo Doeloe, agar kita juga bisa mengerti keadaan dan perobahan sekarang dan juga hari depan keturunan kita. Evolusi tidak lain ialah proses perobahan untuk menyesuaikan keadaan yang baru dengan akibat perkembangan kehidupan kita.
Kita Jangan meyayangkan bahwa keadaan yang unik dulu telah lalu dengan kedatangan yang baru, rumah-rumah yang besar-besar di samaratakan dengan tanah dan dibangun toko-toko yang kecil kecil, dan kedatangan supermarket, mall dan sifat manusia yang zakelijk, atau dalam perkataan dulu: Lu lu dan gua-gua.
Baiklah untuk menuju ke inti dari tujuan tulisan saya, saya akan bicarakan tiga faktor yang penting bagi kehidupan manusia: Kebebasan, identitas dan integrasi. Ketiga konsep tersebut sangat susah dimengerti dan dilaksanakan, ini dapat kita lihat mengapa sejak dulu para filosof politik membicarakan tiga faktor tersebut tidak ada habis-habisnya. Dari pengalaman manusia diseluruh dunia ketiga konsep ini disampingnya saling berhubungan tetapi karena saling mempengaruhi kadang-kadang hubungan itu bisa menegangkan keadaan dan bahkan bisa menimbulkan kekerasan. Karenanya perlu mendapatkan penerangan yang benar dari pemimpin-pemimpin yang bijaksana dan mengerti dalam tema kehidupan bermasyarakat.
Pikirlah kalau satu orang atau golongan orang yang menempatkan identitasnya lebih tinggi dari orang lain atau golongan yang lain, tidak memberikan ruang yang cukup pada yang lain untuk bergerak dengan bebas. Padahal kebebasan itu sangat penting bagi penghidupan manusia. Rakyat terjajah berjuang dengan berani dan bahkan memgorbankan jiwa untuk membebaskan negara dan bangsanya. Tanpa kebebasan identitas satu bangsa akan hilang. Tanpa kebebasan untuk bicara, untuk makan, untuk berkumpul, berkawin atas dasar kecintaan, bersekolah, hidup berkultur, beragama, berpergian, jelas identitas akan hilang atau sedikitnya berkurang banyak, karena itu identitasnya tidak dapat dikembangkan. Padahal identitas seseorang sangat penting untuk berintegrasi kemasyarakat yang lain. Kalau kita membangun rumah kita memerlukan fundamen yang kuat, dan fundamen itu adalah identitas kalau kita mau mengintegrasikan diri kemasyarakat dimana kita tinggal tetap. Pahlawan-pahlawan kita telah berkorban, memberikan jiwanya yang sangat disayangi untuk tindakan dan tujuan yang paling besar ialah kebebasan.
Banyak orang yang melarikan diri karena tekenan untuk mendapatkan kebebasan, sampai sekarangpun banyak orang yang tinggal diluar negeri karena mencari kebebasan dan identitasnya, sampai sekarangpun masih terjadi. Mereka tinggalkan keluarganya yang tercinta dan tinggal dinegara orang lain.Karena perjuangan demi kebebasan maka setiap negara mempunyai taman pahlawannya dan diperingati pengorbanan mereka.
Saya beranggapan bahwa Indonesia sangat penting bagi sumua rakyat Indonesia, termasuk WNI keturunan Tionghoa. Banyak pekerjaan-pekerjaan yang hanya dapat dikerjakan dengan sukses kalau semua etnis yang ada bekerja sama seperti saudara sekandung. Dalam hal ini saya katakan teknologi, economi, perobahan klimat, mileu (lingkungan), pemberantasan crisis ekonomi etc. Semua yang saya katakan ini adalah pekerjaan yang makan jangka waktu yang lama.
Demikian dari pengalamaman dari periode Hindia Belanda sampai perjuangan kemerdekaan dan sesudah Indonesia merdeka, WNI keturunan Tionghoa memainkan peranan yang penting, disampingnya itu juga didalam bidang teknologi, bidang kedokteran, hukum, politik dan budaya terdapat banyak ahli-ahli dan guru-guru besar dalam bidang bidang tersebut diatas. Bagi para senior generasi saya tidak sedikit dokter-dokter pribadi dari presiden Sukarno dan menteri-menteri beliau adalah ahli-ahli Tionghoa. Ahli-ahli Tionghoa bekerja sama dengan ahli-ahli Indonesia memperkembangkan teknologi baru, atau membawa sains dari luar negeri ketanah airnya Indonesia. Ternyata teknologi Indonesia periode saya tidak kalah, kalau tidak lebih tinggi dari teknologi dinegara-negara Asia tenggara, ituwaktu tidak ada turis medis ke Singapore, Malaisia, atau Thailand. Contoh lain lagi yang perlu saya tulis disini ialah Dr. Pouw Tek Hie, ahli bedah, dosen fakultas kedokteran Airlangga, Wei-guo atau pulang keRRT karena PP 20, dikerjakan sebagai wakil kepala bagian chirurgie dari rumah sakit Fu Wai, Beijing yang ternama. Adalah kebiasaan diRRT bahwa wakil kepala mengerjakan semua kerjaan kedokteran se-hari-harinya dan ketuanya berfungsi dalam managemen dan pekerjaan organisasi (partai). Ini menunjukkan kemahiran Dr. Pouw dalam keahliannya. Dr. Pouw sebelumnya tidak pernah keluar negeri untuk belajar, hanya di Indonesia saja. Kontribusi Dr. Pouw dipuji oleh Kantor Pusat Urusan Hua Chiao diBeijing! Ini saya dengar sendiri sewaktu saya berada di Beijing pada tahun 1966 waktu diundang ikut menghadiri perayaan hari berdirinya RRT di Tian An Men. Orang-orang Tionghoa generasi saya disurabaya tahu siapa Dr. Pouw Tek Hie itu, baik keahliannya maupun kesosialannya.
Dulu harus diakui adanya diskriminasi dari kedua belah fihak atau dalam bahasa Inggris "two ways traffic", masing masing mengatakan mereka adalah lain dengan kita, lain budayanya. Tetapi pikiran generasi mudanya jaman sekarang telah berobah, mereka merasakan pentingnya kesatuan dan kerja sama dan hidup berdampingan secara damai. Orang-orang Tionghoa adalah jembatan yang penting antara Indonesia dan Tiongkok, maka adalah satu kebaikan kalau WNI keturunan Tionghoa bersatu dengan rakyat Indonesia mengerjakan sesuatu yang besar pada negara Indonesia, terutama dalam perdagangan dengan luar negeri. Disampingnya itu diAsia Tenggara, dimana para Hua Yi dalam perdagangan telah merupakan jaringan yang erat, maka peranan orang-orang Tionghoa diIndonesia sangat penting. Kemajuan perdagangan baik RRT maupun Taiwan peranan para busines keturunan Tionghoa memberikan kontribusi yang tidak dapat disangkal!
Kalau kita analisir waktu Revolusi Besar Kebudayaan Proletar, para busines keturunan Tionghoa menjauhkan diri dari RRT, perdagangan Taiwan meningkat dengan pesat dan Taiwan disebut sebagai Macan dalam perkembangan teknologi dan perdagangan.. Sesudah Revolusi Besar Kebudayaan "dihentikan" dan The Gang of Four ditahan, pada jaman reformasi dibawah pimpinan Deng Xiao Ping, orang-orang Tionghoa mulai mendukung RRT, baik teknologi dan perdagangan RRT meningkat secara spektakuler. Para pedagang Hua Yi diluar negeri mulai invest di RRT dan ditambah lagi dengan transfer dari teknologi baru.
Tradisionil Tempo Doeloe kesedaran sosial dan politik manusia didunia masih "terbelakang" ada perbedaan antar saya dan anda, diantara mereka terdapat batas-batas cutturil, tetapi sebetulnya ini menurut Taoisme adalah di kepala kita, dus ini berarti kurangnya pengertian, pendidikan masyarakat dalam bidang sosial kulturil. Karena itu perlu adanya beleid pemerintah yang jelas dan penerangan-penerangan dari media ditulis oleh wartawan-wartawan yang mengerti dalam bidang integrasi untuk mempertinggi orientasi mereka pada negara dan kerja sama dengan damai. Memperkuat kesadaran dan kemauan dari mayoritas dan minoritas untuk bersatu dan kerja sama ini saya yakin akan memberi segi-segi positive bagi kemakmuran negara.
Dr. Han Hwie-Song
Breda, 9 juni 2009 Holland
Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.339 / Virus Database: 270.12.68/2175 - Release Date: 06/14/09 05:53:00