Sdr Irwan,
Saya setuju sekali dengan pandangan anda. Memang betul ada univ2 yang
lebih melihat ke IPK, ada yang ke pengalaman kerja, dan ada pula yang
kedua2nya. Jurusan teknik biasanya lebih melihat ke IPK ketimbang
pengalaman kerja. Kalau jurusan bisnis lebih melihat ke pengalaman
kerja.
Kalau IPK kurang, bisa saja dipoles dengan pengalaman kerja di bidang
yang sesuai, resume yang mantap, surat rekomendasi yang bagus dan
essay yang cemerlang. Ini terutama bagi mereka2 yang ingin
melanjutkan kuliah (S-2/S-3) tapi berbeda bidang dengan S-1-nya. Di
essay kemudian dijelaskan bahwa si calon benar2 menyukai pekerjaan
skrg dan ingin melanjutkan kuliah karena ingin menggali ilmu yg lebih
tinggi. That make sense. Tapi kalau bidang pekerjaan kurang sesuai
dengan jurusan yang dilamar, sepertinya sangat sulit chance-nya.
Kemudian (untuk jurusan teknik), nilai IPK tadi bisa ditutupi dengan
nilai GRE yang tinggi -- membuktikan bahwa si calon benar2 berbakat.
Selain itu di resume ditunjukkan bahwa si calon memang betul2
menggeluti pekerjaannya dan cukup sukses. Misal: Memimpin proyek
tertentu di bidang tsb.
Nah, ini sepertinya jadi kontradiksi. Karena di antara kita yang
sudah cukup "sukses" dalam kerjaan kayaknya sudah rada malas studi
lanjut :-). Karena berpikiran "ngapain sekolah cape2 toh gue skrg
udah hidup enak". Sedangkan yang sudah bekerja dan masih ingin
beasiswa pula kebanyakan nyangkut di posisi itu2 aja (ngga ada
kemajuan) -- yang mana pengalaman kerjanya belum bisa
dikatakan "mantap". Yah memang ngga semua seperti ini. Cuma, yang
saya ingin tekankan itu adalah kalau anda ingin memoles IPK dengan
pengalaman kerja, pikirkan dulu baik2.
Semoga membantu,
-- R