Search the web
Sign In
New User? Sign Up
batuhidup · Milis batu hidup
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 6277 - 6306 of 6306   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#6306 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sat Nov 14, 2009 12:10 am
Subject: PENDETA KAYA LUAR BIASA (Pdt. Bigman Sirait)
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
PENDETA KAYA LUAR BIASA

 

oleh: Pdt.
Bigman Sirait

 

 

 

ZAMAN ini tepat seperti yang digambarkan oleh Paulus dalam 2
Timotius 3:2; zaman uang. “Manusia akan menjadi hamba uang,” tegas Paulus.
Ya,
kecintaan akan uang memang telah menggilas habis nurani banyak orang. Dalam
surat yang sebelumnya kepada Timotius, Paulus juga telah menyinggung hal ini.
Dalam 1 Timotius 6:10, dia berkata: Karena akar segala kejahatan ialah cinta
uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan
menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Sebuah kenyataan yang
menggelisahkan.

 

Idealisme nyaris tak tersisa, bahkan jika ada yang memilikinya sering
kali dianggap bodoh, tidak realistis, melepas kesempatan emas, dan berbagai
penilaian lainnya. Orang tak segan-segan menjual kebenaran demi uang. Hati
nurani secara perlahan tapi pasti, teriris habis. Dengan mudah kita menemukan
pertengkaran hingga permusuhan karena uang. Bahkan kasus pembunuhan bermotif
uang semakin meninggi jumlahnya. Pertalian darah dengan mudah bisa “putus”
karena harta warisan yang juga sama dengan uang. Wajah dunia makin hari makin
menyedihkan, tak lagi mampu memancarkan kemurnian yang murni. Kehidupan terus
berubah, penuh basa-basi, semakin kehilangan arti kasih yang sejati, karena
semua bisa dibeli. Orang kini bisa membeli senyuman, bahkan “perkawanan”
hingga
“pernikahan”. Semboyan asal ada uang semua bisa datang, semakin mendapat
pembenaran dalam kenyataan. Namun yang paling menyedihkan adalah runtuhnya
tembok keimanan.

 

Iman, yang seharusnya membuat manusia beriman berdiri teguh di
tengah badai godaan uang, ternyata, juga turut mengalami goncangan. Banyak
orang “beriman” kini tak lagi menyukai iman. Iman dianggap menyingkirkan
diri
dari pergaulan zaman. Orang tak dihargai karena beriman, melainkan karena
beruang, begitu sinis yang muncul. Di lingkungan rohani virus ini terus
menyebar luas. Ironis. Kini ada guyonan pahit: Jika berbisnis bukalah gereja,
dijamin tak rugi, bahkan terkesan suci. Mengapa? Karena ternyata banyak
“petinggi gereja” yang memang berbisnis dalam membuka gereja. Jabatan
“pendeta”
menempel tanpa pernah jelas dari mana asalnya, dan bagaimana bisa meraihnya.
Pemahaman theologi tak ada, berkhotbah tak pernah, yang ada hanya kata bagaikan
mantera, “Roh Tuhan berbicara pada saya…” Visi diungkapkan seakan datang
dari
surga untuk digarap di Bumi. Namun jika dicermati, hati tersentak karena semua
bermuara pada sang pendeta.

 

Yang lain mungkin sedikit lebih baik dalam kemampuan. Sekalipun
tak memiliki pemahaman theologi, namun karena fasih lidah sang pendeta
berkhotbah. Yang dikisahkan selalu yang meninabobokkan umat. Sukses yang semu
dikumandangkan dalam apa yang disebut kesaksian, sementara kebenaran sebagai
buah hidup orang percaya, nyata-nyata, tak tampak. Pendekatan emosi selalu
menjadi pola karena sukses mendulang hasil. Lagi-lagi ungkapan rohani:
“sentuhan Roh Kudus”, menjadi kata-kata sakti yang membutakan umat untuk tak
lagi menguji segala sesuatu. Padahal Alkitab jelas berkata, “jangan padamkan
Roh, namun ujilah segala sesuatu” (1Tes. 5:19, 21). Umat percaya habis, dan
dana mengalir kencang. Tampaknya tak jelas berakhir di mana. Karena ada gedung
gereja, aset gereja dan lainnya. Seakan pemakaian uang tampak nyata, namun
ternyata, di balik semuanya tersisa masalah yang luar biasa. Aset atas nama
pribadi pendeta, sering terungkap setelah pendeta tiada. Terjadilah
tarik-menarik aset yang sungguh tak menarik sama sekali.

 

Yang sedikit lebih canggih, aset atas nama yayasan, atau bahkan
gereja. Namun dalam akte notaris ternyata susunan pengurus didominasi oleh
keluarga pendeta. Lagi-lagi untuk suara terbanyak, pengurus dan umat kecele.
Tapi ada yang lebih halus lagi, seakan pengurus tidak didonimasi keluarga
pendeta, namun ternyata bunyi klausul yang ada memberikan kekuasaan tak
terbatas pada pendeta atau segelintir orang dekat pendeta, atas aset yang ada.
Umat selalu berkata, itu urusan pendeta dengan Tuhan, dan tentu saja pendeta
senang karena memang pemahaman itu yang ditabur untuk dituai. Umat telah
digiring pada paham yang salah, sehingga tak lagi kritis, apalagi menguji
sesuai kata Alkitab. Belum lagi ketakutan akan kutuk yang selalu ditebar,
seperti “jangan mengganggu pendeta, karena dia adalah biji mata Tuhan”.
Pengultusan dilakukan dalam waktu yang lama lewat indoktrinasi. Sayangnya, umat
semakin teggelam dan gelap mata menghargai pendeta, sekalipun nyata-nyata
salah. Apalagi jika lingkungan pelayanan diwarnai suasana adan ajaran yang
mistis, dan lagi-lagi, obral kata-kata “kehendak Roh”.

 

Penguasaan pendeta atas umat, sudah tak bertepi. Nah, ketika
pendeta kaya raya, maka alasannya sangat mudah: itulah bukti pendeta diberkati,
pendeta beriman. Padahal kekayaan pendeta yang bertumpuk justru bukti
ketidakpedulian pada yang susah. Banyak umat yang susah, apalagi dalam konteks
Indonesia. Tidak salah pendeta memiliki mobil karena memang dia membutuhkannya.
Namun jika mobil itu mewah dan jumlahnya yang berlebih, bukankah itu tak lazim?
Pendeta harus memiliki rumah, karena dia dan keluarga memerlukannya. Tapi jika
rumah itu mewah dan ukurannya wah, bagaimana mungkin dia bisa berkata, sangat
peduli pada umat yang kebanyakan tak, atau, belum, memiliki rumah. Umat yang
dimaksud tentulah orang percaya yang baik, di berbagai tempat secara merata.
Terhadap berbagai hal ini, biasanya dengan mudah pula pendeta berkelit dan
berucap, ini adalah pemberian umat juga. Mungkin dia benar. Hanya saja, mengapa
umat memberi, itu tetap harus diuji. Jangan-jangan hasil indoktrinasi. Belum
lagi, namanya “diberi”, apakah dia tak bisa menerima yang pas, sesuai
kebutuhan, menolak yang berlebih, sehingga berkat bisa terdistribusi.

 

Dengan demikian juga menjadi
pembelajaran bagi umat untuk saling menolong. Karena ada juga umat yang suka
memberi pada pendeta ternyata pelit pada sesama. Mengapa? Anda pasti tahu
alasannya. Ini adalah kenyataan yang menyedihkan. Sudah waktunya kita
mengembalikan semuanya pada kebenaran. Gereja bukan kerajaan, sehingga yang ada
suksesi keturunan, kekeluargaan, padahal tidak ada panggilan yang jelas. Sangat
menyenangkan jika anak pendeta menjadi pendeta karena panggilan, tapi jangan
dengan motivasi melanggengkan kekayaan. Jangan lagi terucap kalimat “pendeta
harus kaya sebagai bukti diberkati”, karena yang benar adalah pendeta yang
diberkati akan menjadi berkat bagi banyak orang. Jangan lagi menumpuk kekayaan
untuk diri, karena Alkitab telah mengatakan, “adalah terlebih berkat memberi
daripada menerima”. Bukankah “Doa Bapa Kami” yang antara lain berkata
“Berilah
kami makanan kami yang secukupnya”, nadanya sangat indah? Atau mungkin kita
telah lupa pada apa yang diajarkan Yesus?

 

Biarlah para pebisnis hidup sesuai
dunia mereka (pakaian, mobil dan rumah mewah sebagai bukti prestasi) dan
pendeta di panggilannya (kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan). Berpunya tapi
tak berlebih, karena memilih fungsi bukan prestise. Mari menjadi pendeta, yang
adalah gembala, tapi bukan upahan tentunya. Berani menyatakan kebenaran dan
menjadi model dalam kehidupan. Selamat menjadi pak pendeta yang kaya rasa,
bukan kaya harta. Semoga umat jeli mengamati dan membantu pendeta agar berada
di jalurnya.

 

 



(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)

 

 

 

 



 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.
"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." (Prof. J. I.
Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)


       Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

#6305 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Wed Nov 18, 2009 8:27 am
Subject: Opportunities as Accounting Staff
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
We’re
one of the most Christian Book Publishing, Printing, Trading Company, and book
store,  Currently seeking the people who
have High motivation to Join With Us to Fullfill our requirement below :


Accounting Staff

     * Male or Female
     * Max 33 years old
     * Min D3 major of accounting from reputable university
     * Experience min 2 years in accounting field
     * Familiar with accounting software
     * Good knowledge about accounting cycle
     * Able to make finance report
     * Well knowledge of tax issues and Indonesia tax regulation  ( Having Brevet
A & B certificate would be advantage)
     * Analyticall thinking and Detailed Oriented
     * Hard worker, creative, Good in teamwork and ability to work with limited
supervision

DROP YOUR CV TO :
PO BOX 4093 JKP
10040

OR...SEND EMAIL TO recruitment@...
At Least 2 Weeks
AFTER this Information


We Welcome You to
Join With Us…….




[Non-text portions of this message have been removed]

#6304 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sun Nov 22, 2009 12:55 am
Subject: DOKTRIN TRITUNGGAL-8 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
DOKTRIN
TRITUNGGAL-8:

Keilahian
Yesus: Gelar “Anak Allah”

 

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko,
Th.M.

 

 

 

 

Alkitab mencatat beragam gelar yang dikenakan kepada Yesus. Sebagian gelar
ini merupakan sebutan yang dipakai oleh Yesus sendiri, sedangkan yang lain
diucapkan oleh orang lain untuk Yesus. Di antara semua gelar yang ada, beberapa
memiliki keterkaitan dengan keilahian Yesus, karena gelar-gelar tersebut
sekaligus menyiratkan bahwa Yesus adalah figur yang ilahi. Yang termasuk
kategori ini adalah gelar “Allah”, “Tuhan”, “Anak Allah”,
“Mesias”, dan “Anak Manusia”. Dua gelar pertama – “Allah” dan
“Tuhan” – akan dibahas secara terpisah dalam pembahasan
berikutnya. Kali ini kita hanya akan menyoroti sebutan “Anak Allah”

Yesus Sebagai Anak Allah Menurut non-Trinitarian

Kaum non-Trinitarian tidak menyangkal bahwa dalam Alkitab Yesus beberapa
kali disebut sebagai “Anak Allah”. Sebutan ini bukan hanya diucapkan oleh
murid-murid-Nya (Mat. 16:16), tetapi juga dari roh-roh jahat (Mat. 8:29; Mrk..
5:7; Luk. 8:28) maupun Bapa di surga (Mat. 3:17; Luk. 9:35). Yesus sendiri
berkali-kali menyebut diri-Nya sebagai “Anak”, terutama dalam Injil Yohanes.
Yesus jelas disebut sebagai “Anak Allah”.

 

Bagaimanapun, pihak non-Trinitarian berpendapat bahwa gelar “Anak Allah”
untuk
Yesus tidak membuktikan bahwa Dia adalah Allah. Bagi mereka, sebutan “Anak
Allah” sangat berbeda maknanya dengan sebutan “Allah Anak”. Sebutan
“Anak
Allah” berasal dari Alkitab, sedangkan “Allah Anak” adalah hasil rumusan
konsili gereja. Dua sebutan ini tidak identik.[1]

 

Untuk
membuktikan perbedaan tersebut, mereka memberikan beberapa argumen.[2] Pertama,
mitos Yunani tentang “anak dewa” tidak mengajarkan bahwa pribadi itu
memiliki
hakekat yang sama persis dengan dewa. Seorang pribadi dapat disebut sebagai
“anak dewa” sekalipun dia sebenarnya hanyalah hasil persetubuhan antara dewa
dan
seorang perempuan biasa. Sebagai contoh, Hercules disebut sebagai anak dewa
Zeus, tetapi hakekatnya tidak sama dengan hakekat Zeus.

 

Kedua,
Natanael yang baru berjumpa dengan Yesus dan menyadari pengetahuan Yesus yang
luar biasa langsung menyebut Yesus
sebagai “Anak Allah” (Yoh. 1:49). Pengakuan yang didasarkan pada mujizat
yang
kecil seperti ini pasti tidak menyiratkan bahwa “Anak Allah” sama dengan
Allah
sendiri, apalagi pada zaman itu pengetahuan supranatural seperti ini kadangkala
ditunjukkan oleh setan-setan (Kis. 16:16). Jika Natanael memaksudkan sebutan
“Anak Allah” sebagai Allah sendiri, maka Dia akan memakai sebutan
“Allah” yang
lebih jelas.

 

Ketiga,
sebutan “anak Allah” dalam Alkitab muncul berkali-kali dan
dikenakan pada pribadi-pribadi yang berlainan. Sebutan ini bisa dipakai untuk
bangsa Israel (Ul. 14:1), para malaikat (Ay 1:6; 2:1), Salomo (1Taw. 22:10)
atau orang-orang Kristen (Hos 1:10; Rm. 8:15; Gal 3:26). Dari semua penggunaan
ini terlihat bahwa sebutan “anak allah” tidak membuktikan suatu pribadi
memiliki hakekat ilahi, tetapi hanya menunjukkan bahwa mereka memiliki relasi
yang khusus dengan Allah.

 

Terhadap
pandangan non-Trinitarian di atas kita dapat memberikan beberapa jawaban..
Pertama, latar belakang sebutan “Anak Allah” untuk Yesus bukanlah dari
tradisi
mitos Yunani. Walaupun dalam mitos Yunani “anak dewa” tidak memiliki hakekat
yang sama dengan dewa, hal itu tidak memberikan pengaruh apa pun. Penggunaan
gelar “Anak Allah” dalam Alkitab secara jelas mengindikasikan latar belakang
Yahudi yang kental. Ketika Bapa memproklamasikan Yesus sebagai Anak Allah pada
peristiwa baptisan (Mat. 3:17), ucapan Bapa merupakan kutipan dari nubuat
mesianis di Mazmur 2:7 dan Yesaya 42:1. Ketika proklamasi ini kembali dilakukan
Bapa pada waktu Yesus
dimuliakan di gunung (Mat. 17:5), Yesus tampil bersama dua tokoh Perjanjian
Lama, yaitu Musa dan Elia. Dalam beberapa teks, sebutan “Anak Allah” muncul
bersama-sama dengan
sebutan “Mesias” (Mat. 16:16; 26:63; Yoh. 11:27; 20:31).

 

Kedua,
pemahaman Natanael tentang Yesus memang tidak menyiratkan makna yang
sesungguhnya dari ungkapan itu. Ada kemungkinan Natanael tidak sungguh-sungguh
memahami arti yang penuh dari gelar “Anak Allah”.[3] Dia mungkin memikirkan
makna lain dari sebutan itu.. Hal ini sama
dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mat.. 16:16), tetapi
setelah peristiwa selanjutnya membuktikan bahwa Dia tidak sepenuhnya memahami
hal itu (Mat. 16:21-23).

 

Ketiga,
gelar “Anak Allah” memang tidak selalu menyiratkan kesamaan hakekat dengan
Allah. Beberapa pribadi yang memakai sebutan ini jelas bukan Allah dalam arti
yang sesungguhnya. Bagaimanapun, kita perlu mengerti keunikan sebutan
“Anak Allah” yang dikenakan pada Yesus. Keunikan ini terlihat dari pemakaian
kata “Anak Tunggal” (huios monogenhs) yang dikenakan pada Yesus (Yoh.
3:16; 1Yoh 4:9). Walaupun kata monogenhsmemang tidak menyiratkan ide “anak
satu-satunya” seperti dalam kasus Ishak sebagaimonogenhs Abraham (Ibr.
11:17),[4] namun sebutan yang dikenakan pada Yesus ini tetap mengindikasikan
bahwa Dia unik di antara pribadi-pribadi lain yang disebut sebagai “anak
Allah”.

 

Keunikan
lain terlihat dari fakta bahwa Yesus tidak pernah mengelompokkan diri-Nya
bersama murid-murid-Nya sebagai “anak-anak Allah”.[5] Dalam Yohanes 20:17
Yesus menyatakan ini melalui ungkapan “kepada
Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu”. Seandainya ke-Anakan Yesus
tidak unik, maka kita berharap Yesus
akan memakai ungkapan yang lebih sederhana tetapi jelas, yaitu “kepada
Bapa kita dan kepada Allah kita”. Dalam doa yang Yesus ajarkan kepada
murid-murid-Nya, Dia memerintahkan mereka menyebut Allah sebagai
“Bapa kami yang
ada di surga” (Mat. 6:9), tetapi Dia sendiri tidak termasuk dalam kategori
“kami” dalam doa ini. Jika Dia termasuk dalam kategori “kami” di sini,
maka
permohonan “ampunilah kesalahan kami” (Mat. 6:12a) akan berkontradiksi
dengan
kesucian hidup Yesus (2Kor. 5:21; Ibr. 4:15; 7:26; 1Ptr. 2:22; 3:18; 1Yoh 3:5).

 

 

Sebutan
Anak Allah untuk Yesus Menyiratkan Kesetaraan Dengan Allah

Kita
sudah mempelajari bahwa gelar “Anak Allah” untuk Yesus adalah unik. Keunikan
ini tidak boleh diabaikan. Kita tidak boleh menyamakan status Yesus sebagai
“anak Allah” dengan pribadi-pribadi lain yang disebut “anak Allah”.
Pertanyaannya, sejauh mana ke-Anakan Yesus itu unik dibandingkan dengan yang
lain? Apakah keunikan ini mencakup hakekat-Nya yang ilahi? Beberapa bukti
berikut ini tampaknya mendukung gagasan bahwa Yesus sebagai “Anak Allah”
memang
berkaitan dengan hakekat keilahian-Nya.

 

Yohanes
5:18

 “Sebab
itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja
karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa
Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan
Allah”. Teks
ini sebenarnya secara eksplisit menyiratkan bahwa klaim sebagai “Anak Allah”
sama dengan menyamakan diri dengan Allah. Karena itulah orang-orang Yahudi
berusaha membunuh Yesus yang dianggap telah menghujat Allah.

 

Pihak
non-Trinitarian biasanya menyanggah pendapat di atas dengan mengatakan bahwa
orang-orang Yahudi telah salah menangkap maksud ucapan Yesus. Dia tidak
bermaksud menyamakan diri dengan Allah melalui sebutan “Anak (Allah)” tetapi
merekalah yang menafsirkan seperti itu. Untuk mendukung pandangan ini mereka
menyoroti tuduhan pertama di ayat ini – yaitu Yesus meniadakan Hari Sabat –
sebagai tuduhan yang tidak tepat. Jika tuduhan pertama saja sudah tidak tepat,
apakah tidak mungkin tuduhan yang selanjutnya – yaitu Yesus menyamakan diri
dengan Bapa – juga mengandung kesalahan yang sama?[6] Argumen lain didapat
dari beberapa catatan Alkitab tentang
kesalahpahaman orang-orang Yahudi, termasuk para pemimpin mereka (Yoh. 3:4,
10).[7]

 

Apakah
tuduhan bahwa Yesus meniadakan Sabat adalah salah? Untuk menjawab pertanyaan
ini kita harus memahami bahwa peraturan Sabat menyangkut dua aspek: beribadah
bersama dan tidak boleh melakukan aktivitas pekerjaan. Yang dipermasalahkan
orang
Yahudi pasti bukan aspek yang pertama. Mereka pasti tahu kalau Yesus tetap
beribadah pada Hari Sabat (Mrk. 1:21; 3:1-5). Mereka hanya mempermasalahkan
aspek yang kedua.

 

Apakah
benar Yesus meniadakan aspek yang kedua dari peraturan Sabat ini? Dari data
Alkitab yang tersedia, tuduhan ini tampaknya memang tepat. Ketika Yesus
menyembuhkan orang pada hari Sabat dan memerintahkannya untuk mengangkat
tilamnya (Yoh. 5:8-16), Dia tidak hanya
meniadakan tafsiran orang-orang Yahudi tentang Sabat;[8] Dia sekaligus
menyatakan otoritasnya yang melebihi Hari Sabat. Dia
menegaskan bahwa apa yang Dia lakukan merupakan pekerjaan Allah (ay. 17). Dalam
kontroversi seputar Hari Sabat di Yohanes 7:22-23 Yesus mengajarkan bahwa ada
hal-hal tertentu yang melebihi Sabat, misalnya peraturan sunat pada hari ke-8
yang sudah ada sebelum Taurat (bdk. Kej. 17:12). Dalam Matius 12:1-8 Dia secara
eksplisit mengklaim bahwa Dia melebihi bait Allah (ay. 6) maupun Sabat (ay.
8//Mrk.
2:28//Luk. 6:5). Setelah kebangkitan Yesus, orang-orang Kristen bahkan berani
mengganti Hari Sabat menjadi Hari Minggu (Hari Tuhan, Kis. 20:7; 1Kor. 16:2;
Why.
1:10).

 

Sekarang
mari kita menyelidiki tuduhan selanjutnya di Yohanes 5:18. Apakah Yesus
menyebut Allah sebagai Bapa-Nya? Dari ayat 17 terlihat dengan jelas bahwa Yesus
memang menyebut Allah sebagai Bapa-Nya. Seandainya Yesus sekadar menyebut Allah
sebagai  Bapa dari semua orang, maka orang-orang Yahudi pasti tidak
akan mempersoalkan pernyataan seperti itu.[9] Jadi, kalimat ini benar (bukan
sekadar tuduhan tanpa bukti). Apakah
kalimat ini berarti bahwa Yesus menyamakan diri-Nya dengan Bapa? Sekali lagi,
konteks memberi dukungan ke arah itu. Dalam bagian lain, Yesus menyatakan bahwa
Dia dan Bapa adalah satu (10:30) dalam arti setara (10:33), sehingga atas
pernyataan ini Dia juga sekali lagi akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi
(10:31).           

 

Berkaitan
dengan fenomena kesalahpahaman seputar ucapan Yesus secara umum,
kita harus mengakui bahwa orang-orang Yahudi memang kadangkala salah memahami
Yesus (Yoh. 2:18-21). Jangankan mereka, murid-murid-Nya pun berkali-kali salah
menangkap ucapan Yesus (Mat. 16:6-12; Yoh. 4:32-33). Secara khusus dalam Injil
Yohanes, kesalahpahaman seperti ini malah menjadi salah satu karakteristik,
sebagaimana dibahas oleh D. A. Carson dalam artikelnya.[10] Menariknya, Carson
sendiri meyakini bahwa tidak ada kesalahpahaman
seperti ini dalam kasus Yohanes 5:18. Ia bahkan berpendapat bahwa respons Yesus
di ayat 19-24 justru semakin membenarkan kesetaraan-Nya dengan
Bapa.[11] Pendapat berlawanan dikemukakan oleh Holt.[12] Jadi, yang paling
penting adalah memperhatikan konteks (jawaban Yesus
di ayat 19-24).

 

Apakah
jawaban Yesus menegaskan atau menyangkali kesetaraan-Nya dengan Bapa? Hal
pertama yang harus dipahami adalah bahwa ayat 19-24 berusaha menjawab dua isu
sekaligus: Yesus menyebut Allah sebagai Bapa dan menyamakan diri-Nya
dengan Allah. Dua hal ini akan sangat menolong kita ketika kita menemukan makna
subordinasi maupun kesetaraan Yesus terhadap Bapa di ayat 19-24. Dalam konteks
Allah sebagai Bapa, Ia jelas lebih besar daripada Anak (bdk. Yoh. 14:28b). Bapa
mengajarkan kepada Anak apa yang harus dilakukan (ay. 19a) sebab Anak bertugas
mengerjakan semua pekerjaan Bapa (ay. 19b-22). Sebagai seorang Bapa, Allah
mengasihi, memberi tugas dan kuasa kepada Anak-Nya (ay. 19b-22).

 

Bagaimanapun,
makna subordinasi di atas tidak meniadakan kesetaraan Anak dengan Bapa. Makna
tersebut hanya menjelaskan relasi Anak-Bapa. Ayat 19-24 memberikan beberapa
indikasi kuat tentang kesetaraan antara Yesus dan Bapa.[13]

(1)     Anak melakukan apa
saja yang dilakukan oleh Bapa (ay. 19b).[14] Untuk mampu melakukan apa saja
yang dilakukan Bapa, maka Yesus harus
memiliki kuasa yang setara dengan Bapa.

(2)     Anak memberi hidup kepada barangsiapa yang
dikehendaki-Nya (ay. 21). Otoritas ini setara dengan otoritas Bapa (bdk. “sama
seperti Bapa membangkitkan orang mati dan menghiudpkannya....”). Bukan hanya
itu, Anak juga memiliki kebebasan penuh
untuk menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.

(3)     Anak menjalankan penghakiman atas semua manusia (ay. 22).
Pernyataan ini menyiratkan kesetaraan dengan Bapa, karena bagi orang Yahudi
Hakim seluruh bumi adalah Allah (Kej. 18:25). Dalam tulisan para rabi
disebutkan bahwa hak ini merupakan prerogatif Allah yang tidak akan diberikan
kepada siapa pun, termasuk kepada mesias.

(4)     Anak dan Bapa menerima penghormatan yang sama (ay. 23). Ungkapan ini
bukan sekadar
menyiratkan konsep penghormatan kepada utusan karena yang mengutus,
tetapi kesetaraan antara yang diutus dan yang
mengutus. Makna ini diindikasikan oleh frase “sama seperti menghormati
Bapa”.
Selain itu, penegasan ulang di ayat 23b turut memperjelas makna tersebut.

Jika
semua poin di atas digabungkan, maka kita dapat melihat dengan jelas bahwa
Yesus memang meneguhkan “tuduhan” orang-orang Yahudi di ayat 18. Dia memang
Anak Allah dalam arti yang unik, yaitu memiliki kesetaraan dengan Bapa.

 

Markus
14:61-63 (Matius 26:63-65)

Dalam
teks ini beberapa sebutan Yesus muncul secara bersamaan, yaitu “Mesias”,
“Anak
dari Yang Terpuji” dan “Anak Manusia”. Walaupun ketiga gelar ini memiliki
kaitan yang erat,
tetapi kita hanya akan memfokuskan pada yang kedua. Yang menarik untuk disimak
adalah sikap diam yang ditunjukkan Yesus terhadap semua tuduhan yang ditujukan
kepada-Nya (ay. 60-61a). Dari konteks dapat dilihat bahwa sikap ini merupakan
respons
Yesus terhadap kepalsuan dari tuduhan-tuduhan tersebut (bdk. ayat 55-59). Yesus
merasa tidak perlu memberikan respons terhadap apa yang tidak benar.

 

Bagaimanapun,
sikap Yesus berubah ketika imam besar menanyakan apakah Dia mengklaim diri
sebagai Mesias, Anak Yang Terpuji.[15] Kita harus memahami apa yang diharapkan
oleh imam besar melalui
pertanyaan ini. Karena tidak ada satu kesaksian/tuduhan pun yang dapat
dibenarkan, maka dia harus menemukan tuduhan yang valid untuk menangkap Yesus.
Dia ingin menjebak Yesus melalui pertanyaan ini. Yang paling penting dari
pertanyaan ini bukanlah gelar “mesias”. Jika Yesus mengaku sebagai mesias,
maka
hal itu tidak dapat dikategorikan sebagai penghujatan,[16] karena sudah banyak
orang yang mengaku sebagai mesias. Sikap Mahkamah
Agama terhadap isu-isu seperti ini juga relatif cukup positif (bdk. Kis.
7:34-37). Jadi, yang menjadi inti jebakan adalah gelar “Anak Yang Terpuji”.

 

Pertanyaan
tentang “Anak Yang Terpuji” di sini jelas memiliki makna yang khusus. Jika
imam
besar hanya memaksudkan sebutan “Anak Allah” dalam arti “malaikat” atau
“hamba
Allah yang khusus”, maka jebakan ini akan kehilangan signifikansinya. Yesus
sangat mengerti apa yang mereka maksudkan. Ketika mendapat pertanyaan ini,
Yesus justru memberikan jawaban positif “ya” (ay. 62a). Ia bahkan memberi
penjelasan terhadap hal itu supaya imam besar tidak salah menangkap maksud-Nya
(ay.
62b). Sikap Yesus ini jelas sangat penting untuk
diperhatikan, karena sebelumnya Dia sama sekali tidak mau menjawab
tuduhan-tuduhan yang palsu. Jika Dia sampai mau menjawab “tuduhan” ini,
maka “tuduhan” ini memang benar. Di samping itu, jika Dia menolak untuk
menjawab pertanyaan ini, maka Mahkamah Agama pasti akan mencari cara lain untuk
menangkap Dia.[17]

 

Dari
jawaban Yesus ini imam besar langsung mengambil konklusi bahwa Yesus telah
menghujat Allah. Apakah konklusi ini sekadar kesalahpahaman dari pihak imam
besar? Sama sekali tidak! Jika ini sekadar salah paham, maka Yesus memiliki
kesempatan untuk mengoreksi hal itu dan dengan demikian akan terhindari dari
penghukuman.[18]

 

Yohanes 20:31

Dalam
teks ini Yohanes memberitahukan tujuan injilnya, yaitu untuk meyakinkan bahwa
Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Walaupun pihak non-Trinitarian menganggap
bahwa gelar “Anak Allah” tidak sama dengan “Allah”, namun pandangan ini
tidak
sesuai dengan karakteristik Injil Yohanes secara keseluruhan. Sebelum tujuan
ini dinyatakan, Yohanes menutup dengan kisah pengakuan Tomas sebagai klimaks
dari kesluruhan. Ternyata Tomas mengaku Yesus sebagai “Allah”, bukan “Anak
Allah” (20:28). Di samping itu, Yohanes memulai kitabnya dengan pernyataan
tegas bahwa Yesus adalah Allah (1:1). Jika “Anak Allah” tidak sama dengan
“Allah”, maka pendahuluan dan klimaks cerita di Injil Yohanes menjadi tidak
sesuai.  

 

Matius
11:25-27

Teks
ini merupakan salah satu teks yang menjelaskan keunikan status Yesus sebagai
“Anak Allah”. Robert Reymond memaparkan empat kesejajaran penting antara
Anak dan Bapa
dalam perikop ini.[19] Yang paling penting, Anak memiliki pengetahuan yang
eksklusif tentang
Bapa, begitu pula sebaliknya (ay. 27). Pengetahuan ini tidak dimiliki oleh
pribadi lain, sebagaimana tampak dari ungkapan “tidak ada seorang pun”.
Pengetahuan ini juga bersifat mutual. Artinya, sebagaimana Bapa mengenal
(epiginwskei) Anak, demikian pula Anak
mengenal (epiginwskei) Bapa.

 

Kedua,
baik Anak maupun Bapa sama-sama menjadi kunci keselamatan manusia dalam hal
pewahyuan. Mereka yang diselamatkan adalah mereka yang kepadanya Bapa
menyatakan diri (ay. 25-26). Jika Bapa tidak menyembunyikan diri, maka orang
tidak akan sampai pada keselamatan. Demikian pula dengan Anak. Orang hanya bisa
mengenal Bapa kalau Anak berkenan menyatakannya.

 

Ketiga,
baik Anak maupun Bapa sama-sama memiliki otoritas yang tertinggi. Bapa disebut
sebagai “Tuhan langit dan bumi” (ay. 25). Anak dikatakan telah menerima
segala otoritas dari Bapa (ay.
27a).

 

Keempat,
keduanya memiliki saling ketergantungan dalam hal pewahyuan. Bapa hanya
menyatakan diri kepada mereka yang Ia berkenan (ay. 26). Begitu pula Anak
berhak menyatakan Bapa kepada siapa saja yang Ia perkenan. #











[1]       Frans Donald, Menjawab Doktrin
Tritunggal (t.t.: Borobudur Indonesia Publishing, 2007), xxiv. Brian
Holt, seorang penganut Saksi Yehuwah yang setia, bahkan secara eksplisit
menyiratkan perbedaan makna antara dua sebutan di atas dalam judul
bukunya Jesus:
God or the Son of God? (Mt. Juliet: Tellway Publishing, 2002).

[2]       Holt, Jesus: God or the Son of
God?, 18-25.

[3]       D. A. Carson, The Gospel According
to John. Pillar New Testament Commentary (Leicester/Grand Rapids:
Apollos/Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1991), 162.

[4]       D. A. Carson, Exegetical Fallacies (2nd ed.,
Grand Rapids: Baker Books: 1996), 30-31. Ishak jelas bukan satu-satunya anak
Abraham, karena Abraham masih memiliki Ismael dari Hagar (Kej. 16) dan
anak-anak lain dari Ketura (Kej. 25:1-4). Dia disebut monogenhs dalam
arti memiliki relasi khusus dengan Abraham (anak perjanjian)..

[5]       George Eldon Ladd, A Theology of
the New Testament, revised by Donald A. Hagner (Grand Rapids: Wm. B.
Eerdmans Publishing Company, 1993), 84.

[6]       Holt, Jesus: God or the Son of
God?, 62-63.

[7]       Ibid.

[8]       Tentang berbagai peraturan Sabat Yahudi,
lihat C. K. Barrett, ed.,The New Testament Background (rev. ed.,
San Fransisco: HarperSanFransisco, 1987), 188, 226-228.

[9]       Leon Morris, The Gospel According
to John. New International Commentary on the New Testament (rev. ed., Grand
Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1995), 275.

[10]     “Understanding Misunderstandings in the
Fourth Gospel”, TynB 33 (1982), 59-89.

[11]     D. A. Carson, The Gospel According
to John, 249-255.

[12]     Jesus: God or the Son of God?, 190-191. Ia
justru melihat ayat 19-24 sebagai penjelasan Yesus bahwa Dia bukan menyamakan
diri dengan Bapa-Nya.

[13]     Dikembangkan dari Carson, The Gospel
According to John, 249-255; Morris, The Gospel According to John,
276-280.

[14]     LAI:TB tidak menerjemahkan kata ha...tauta yang
seharusnya diterjemahkan ”apa saja”. Lihat semua versi
Inggris.

[15]     Sebutan “Anak Yang
Terpuji” memiliki arti yang sama persis dengan “Anak Allah”. Ungkapan ini
mungkin dipakai untuk menghindari penyebutan nama ”Allah”.

[16]     Kalau
Yesus mengklaim sebagai mesias, maka Dia mungkin hanya akan didebat dan diminta
untuk memberikan bukti. R. Alan Cole, Mark. The Tyndale New
Testament Commentary (2nd ed., Surabaya: Momentum, 2007), 306.

[17]     Mark, EBC Vol. 8.. electronic edition.

[18]     Millard J. Erickson, Christian
Theology (2nd. ed., Grand Rapids: BakerBooks, 1998), 703.

[19]     A New Systematic Theology of the
Christian Faith (2nd ed., Nashville: Thomas Nelson
Publishers, 1998), 218-220.




Profil
Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:

Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di
Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja
Editor
dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.
"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." (Prof. J. I.
Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)


       Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

[Non-text portions of this message have been removed]

#6303 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sun Nov 15, 2009 12:33 am
Subject: DOKTRIN TRITUNGGAL-7 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
DOKTRIN
TRITUNGGAL-7:

Keilahian
Yesus: Kesetaraan Yesus dengan Allah

 

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko,
Th.M.

 

 

 

 

Mulai bagian
ini kita akan membahas tentang keilahian Yesus dari berbagai sisi. Pertama-tama
kita akan melihat dari sisi kesetaraan-Nya dengan Allah melalui ucapan dan
tindakan Yesus sendiri. Kita juga akan menyelidiki topik ini dari sisi
gelar-gelar Yesus dan identifikasi Yesus sebagai YHWH. Pada bagian terakhir
kita akan membahas tentang teks-teks yang secara eksplisit menyebut Yesus
sebagai Allah.. Pada pertemuan minggu ini kita hanya akan mempelajari dari sisi
yang pertama.

Ucapan dan Tindakan Yesus Sebagai Dasar

Sebelum membahas tentang bagaimana Yesus menyamakan
diri-Nya dengan Allah, kita lebih dahulu harus membahas dua masalah yang saling
terkait: kredibilitas historis kitab-kitab injil dan kesadaran Yesus terhadap
status diri-Nya. Apakah ucapan dan tindakan Yesus dalam kitab-kitab injil
sungguh-sungguh mewakili apa yang Dia katakan selama Dia di dunia? Seandainya
iya, apakah ada petunjuk-petunjuk dalam teks yang membuktikan bahwa Yesus
sungguh-sungguh
memiliki kesadaran bahwa diri-Nya adalah Allah?

 

Pertanyaan pertama di atas berkaitan dengan isu tentang
kualitas historis kitab-kitab injil. Theolog liberal membantah adanya
kontinuitas antara Yesus yang pernah hidup di dunia (Hisotrical Jesus) dengan
Kristus yang ditampilkan dalam kitab-kitab injil (The Christ of Faith). Yesus
yang ditampilkan dalam Alkitab sangat berbeda dengan Yesus yang pernah hidup
dalam sejarah. Menurut teori demitologisasi yang dipopulerkan Bultmann,
gambaran tentang Yesus dalam kitab-kitab injil hanyalah merupakan refleksi
theologis
para penulis terhadap Yesus. Refleksi ini tidak selalu mencerminkan perkataan
atau tindakan Yesus
yang sebenarnya. Lebih jauh, refleksi ini juga sangat dipengaruhi oleh pola
pikir Hellenis (Yunani) yang dipegang oleh para penulis Alkitab. Mereka
dianggap hanya mempresentasikan Yesus sesuai kultur hidup mereka waktu
itu.[1] Theolog
liberal lain yang memiliki pandangan senada dengan Bultmann – walaupun dengan
pednekatan yang berbeda – adalah mereka yang tergabung dalam Jesus Seminar.
Kelompok ini telah menerbitkan ”kitab injil” yang membedakan antara ucapan
Yesus yang benar berasal dari Dia dan yang hanya sekedar karangan para penulis
Alkitab.[2]

 

Pertanyaan kedua berkaitan dengan isu tentang kesadaran
diri Yesus. Para theolog berusaha menjawab satu pertanyaan: apakah selama
inkarnasi Yesus Dia sungguh-sungguh menyadari siapa diri-Nya yang sebenarnya?
Para theolog liberal memberikan jawaban negatif: Yesus tidak menyadari semua
atribut keilahian yang selama ini dikenakan kepada-Nya. Semua atribut tersebut
merupakan hanyalah gagasan para penulis Alkitab – terutama Paulus - yang
dialamatkan kepada Yesus setelah kebangkitan-Nya.[3] Di sisi lain, sebagian
theolog
tetap meyakini bahwa Yesus sungguh-sungguh menyadari status ilahi-Nya.[4]

 

Terhadap pertanyaan pertama kita harus menegaskan
kredibilitas historis kitab-kitab injil dalam Alkitab. Walaupun kita tidak
mungkin membahas isu ini secara detail dalam tulisan ini, namun paling tidak
beberapa poin berikut ini dapat memberikan petunjuk yang mendukung kredibilitas
historis Alkitab.

(1)   Kriteria otentisitas yang dipakai
tidak konklusif.

Para theolog berusaha untuk menerapkan pedoman-pedoman
tertentu untuk menemukan ucapan atau tindakan Yesus yang asli. Pedoman-pedoman
ini dikenal dengan nama kriteria otentisitas. Mereka berharap melalui semua
kriteria ini akan dihasilkan ucapan atau tindakan Yesus yang murni
(sungguh-sungguh dilakukan Yesus selama Dia ada di dunia).

Kenyataannya, kriteria yang diterapkan mereka tidak valid
maupun representatif bagi semua teks yang ada. Sebagai contoh, kriteria
ketidaksamaan. Berdasarkan kriteria ini, ayat-ayat Alkitab yang diterima adalah
yang menunjukkan bahwa ucapan Yesus berbeda dengan Yudaisme maupun ajaran
gereja mula-mula. Darrell Bock, salah seorang theolog injili, dengan tepat
menunjukkan kesalahan dari kriteria ini. Kriteria ini mengasumsikan bahwa Yesus
mengajarkan sesuatu dalam kevakuman (tidak memiliki akar pada
Yudaisme/Perjanjian Lama) dan tidak ada ajaran-Nya yang mempengaruhi para
pengikut-Nya [5] Contoh kesalahan lain
adalah kriteria kemajemukan yang hanya hanya mengakui otentisitas suatu ayat
jika ayat itu muncul dalam sumber-sumber lain. Kriteria seperti ini jelas sulit
diaplikasikan pada teks-teks tertentu yang hanya ada di satu kitab, karena
tidak semua sumber tertulis yang dipakai seorang penulis Alkitab sudah
ditemukan melalui arkeologi.[6]

Selain itu, mereka yang mempraktikkan kriteria
otentisitas sering kali tidak konsisten dalam menerapkan kriteria tersebut
(suatu teks yang seharusnya menurut kriteria mereka otentik ternyata
diktegorikan sebagai tidak otentik). Contoh: Lukas 5:33-39 (murid-murid Yesus
tidak berpuasa) seharusnya memenuhi kriteria ketidaksamaan, karena orang Yahudi
maupun gereja mula-mula sangat menekankan puasa, tetapi para theolog liberal
tetap menganggap teks ini tidak otentik. Begitu pula dengan sebutan “Anak
Manusia”
yang seharusnya diterima otentisitasnya, karena ditemukan di semua kitab Injil
dan Q (Mat. 11:19//Luk. 7:34; Luk. 19:10; Mrk. 10:45).[7] 

 

(2)   Beban
terletak pada mereka yang menolak kredibilitas historis kitab injil.

Robert Stein dan Craig Blomberg dengan tepat menyatakan
bahwa tidak ada petunjuk apa pun dalam kitab-kitab injil yang mengarah pada
nilai historis mereka yang rendah. Semua data yang ada sejauh ini tidak
menimbulkan
masalah pelik yang membuat kita meragukan kredibilitas historis kitab-kitab
injil. Berdasarkan hal ini, mereka berpendapat bahwa beban untuk membuktikan
terletak pada mereka yang meragukan Alkitab. Mereka berdua juga memaparkan
beberapa argumen yang mendukung hal ini, misalnya: (1) penghargaan para rasul
yang sangat tinggi terhadap ajaran yang berasal dari Yesus (mereka kadangkala
membedakan apakah suatu ajaran berasal dari Yesus atau tafsiran mereka sendiri,
1Korintus 7:10, 12); (2) kesetiaan para penulis terhadap tradisi dari Yesus
yang kadangkala sulit untuk dipahami (Mrk. 6:56; 10:10-12, 18; 13:32);
keberadaan gereja di Yerusalem sebagai sebagai pengontrol ajaran (Kis. 8:14;
11:1-3; 15:1-2; 21:17-25).[8] 

 

(3)   Perjanjian
Baru telah melewati ujian historis yang objektif.

 Suatu kitab kuno yang dapat dipercaya harus lulus
dalam tiga ujian: bibliographical test
(jarak peristiwa, penulisan dan salinan yang dekat; jumlah salinan yang
banyak), internal evidence test
(indikasi dalam teks yang menunjukkan kejujuran penulis atau ketertarikannya
pada fakta) dan external evidence test (sesuai bukti lain di luar kitab itu).
Dari tiga pengujian ini, Alkitab muncul sebagai kitab yang paling dapat
dipercaya. Jika kredibilitas historis Alkitab diragukan atau ditolak, maka
semua kitab kuno lain juga harus ditolak, karena kualitas historis mereka jauh
di bawah Alkitab.[9]

 

Sekarang tentang pertanyaan kedua, yaitu kesadaran Yesus
tentang status diri-Nya. Jika semua ucapan Yesus yang dicatat oleh para penulsi
kitab injil diterima historisitasnya, maka kita dapat memulai diskusi tentang
kesadaran diri-Nya. Upaya untuk mengetahui kesadaran diri (self-consciousness)
Yesus bukanlah hal yang mudah. Salah satu faktor yang menjadi kendala
adalah perbedaan kultur antara abad ke-1
dan abad modern. Sebagian theolog modern menuntut bukti yang eksplisit
menurut perspektif modern. Yang termasuk bukti eksplisit ini misalnya ucapan
Yesus yang berkata “Akulah Allah Anak”, “Akulah Allah yang sejati” atau
“Akulah
Allah Yang Mahakuasa, sama seperti YHWH” atau “Aku memiliki hakekat yang
sama
dengan Bapa dan Roh Kudus”.[10] Jika yang dituntut adalah
ungkapan-ungkapan seperti ini, jelas semua itu tidak akan ditemukan dalam
ucapan Yesus. Bagaimanapun, penyelidikan di bawah ini dalam perspektif Yahudi
abad ke-1 M sudah sangat jelas menunjukkan
kesadaran Yesus terhadap status keilahian-Nya.

 

 

Yesus Menyamakan Diri dengan Allah

Walaupun Yesus tidak pernah membuat klaim eksplisit
(menurut perspektif modern) bahwa Dia adalah Allah, namun dari ucapan dan
tindakannya jelas menunjukkan bahwa Dia memandang diri-Nya lebih dari sekedar
manusia atau malaikat. Pernyataan-pernyataan Yesus tidak pantas jika diucapkan
oleh seorang pribadi yang lebih rendah daripada Allah.[11] Begitu jelasnya
bukti
keilahian ini sampai-sampai John Frame mengkategorikan hal ini sebagai
bukti-bukti keilahian Yesus yang diasumsikan kebenarannya tanpa dibuktikan (is
taken for granted)..[12]

 

Pertama, kotbah Yesus di bukit (Mat. 5 – 7). Dalam salah
satu kotbah bahagia yang Dia sampaikan Yesus menjanjikan kebahagiaan bagi
mereka yang menderita aniaya karena Dia (Mat. 5:11). Menariknya, Yesus kemudian
menyamakan hal ini dengan para nabi yang telah menderita karena Allah (Mat.
5:12). Dengan demikian Yesus secara tidak langsung sedang membandingkan
diri-Nya dengan Allah di Perjanjian Lama.[13]

 

Selanjutnya di ayat 17 Yesus mengantisipasi
kesalahpahaman yang mungkin muncul bahwa Dia datang untuk meniadakan Hukum
Taurat dan kitab para nabi. Dia menegaskan bahwa Dia tidak meniadakan kitab
suci. Kalimat ini jelas akan menjadi percuma jika Yesus hanyalah seorang
manusia, karena tidak ada seorang manusia pun yang layak maupun mampu
meniadakan firman Tuhan.[14] Pernyataan ini hanya dapat
dipahami dalam konteks keilahian Yesus yang sebenarnya “dapat” meniadakan
kitab
suci, tetapi Dia tidak melakukan itu.

 

Yesus selanjutnya menunjukkan otoritas-Nya dengan
mengoreksi tafsiran para ahli agama Yahudi maupun memberikan pengertian yang
lebih mendalam tentang Taurat (Mat. 5:22-48). Perubahan terhadap Hukum Taurat
yang disiratkan dengan ucapan “tetapi Aku berkata kepadamu...” (Mat. 5:22,
28,
32, 34, 39, 44) merupakan tindakan yang menyiratkan keilahian Yesus, sebab
sebelumnya Dia sendiri menyatakan bahwa “satu iota pun dari Hukum Taurat tidak
akan lenyap” selama belum lenyap
langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari
hukum Taurat” (Mat. 5:18).

 

Pihak non-Trinitarian berusaha menyanggah pandangan di
atas dengan menyatakan bahwa Yesus hanya menyampaikan apa yang berasal dari
Bapa (Yoh. 7:16-17).[15] Dengan kata lain, Yesus
hanya bertindak sama seperti para nabi. Sanggahan ini jelas tidak sesuai dengan
ciri khas pemberitaan para nabi. Para nabi biasanya menyatakan “Firman TUHAN
datang kepada-Ku” (Yer 1:11; Yeh 1:3), sedangkan Yesus, “Aku berkata
kepadamu...”.[16]

 

Sanggahan lain yang diberikan pihak non-Trinitarian
didasarkan pada sikap para rasul yang juga meniadakan Hukum Taurat. Secara
khusus Holt memberi contoh dari keputusan konsili Yerusalem yang tidak mau
menuruti tuntutan Taurat berdasarkan keputusan Roh Kudus (Kis. 15:1, 5, 19-20,
28). Holt berpendapat bahwa jika pengubahan Taurat oleh Yesus di Matius 5:18-48
membuktikan Yesus adalah Allah, maka pengubahan oleh Yakobus juga seharusnya
membuktikan bahwa Yakobus adalah Allah.[17] Sanggahan seperti ini
mengabaikan apa yang Yesus katakan di Matius 5:18 “Sesungguhnya selama belum
lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan
dari hukum Taurat,sebelum semuanya terjadi (lit. “digenapi”)”.
Kedatangan Yesus ke
dalam dunia jelas untuk menggenapi Hukum Taurat (Mat. 5:17), sehingga setelah
karya Yesus di dunia ada perbedaan sikap terhadap Taurat. Apa yang diputuskan
dalam konsili Yerusalem harus dipahami dalam konteks bahwa Taurat telah
digenapi di dalam Yesus.                      

 

Kedua, tuntutan dalam mengikuti Yesus. Suatu kali seorang
muda yang kaya mendatangi Yesus untuk mengetahui rahasia memperoleh hidup
kekal. Yesus memerintahkan Dia untuk menjalankan seluruh perintah Allah. Yesus
secara khusus hanya menyebutkan  perintah-perintah
yang berhubungan dengan relasi horizontal (antar sesama manusia, hukum ke-5
sampai ke-10, Mat. 19:18-19). Ketika orang tersebut mengakui bahwa dia sudah
melakukan semua perintah horizontal itu, maka Yesus seharusnya menyatakan
“kalau begitu lakukan perintah lain yang bersifat vertikal (relasi dengan
Allah, hukum ke-1 sampai ke-4)” atau “kasihilah Allah”. Ternyata, Yesus
justru
memerintahkan orang itu untuk menjual seluruh kekayaannya supaya dia
dapat mengikuti Yesus (Mat. 19:21).[18] Dari jawaban ini terlihat
bahwa melakukan hukum ke-1 sampai ke-4 (mengasihi Allah) sama dengan mengasihi
Yesus.

 

Bagi mereka yang mau mengikuti Dia, Yesus menuntut
loyalitas yang tertinggi, bahkan melebihi loyalitas terhadap orangtua (Mat.
10:37//Luk. 14:26). Dalam budaya Yahudi yang sangat menekankan penghormatan
terhadap orangtua (Kel. 20:12),[19] tuntutan Yesus tampak
sangat janggal.. Yesus sendiri bahkan pernah menegur orang-orang Farisi yang
memberikan persembahan untuk Allah tetapi melupakan tanggung jawab terhadap
orangtua mereka (Mat. 15:4-6//Mrk. 7:11-13). Tuntutan Yesus
hanya dapat dipahami jika Yesus memang menyamakan diri-Nya dengan Allah, karena
itu Dia menuntut loyalitas tertinggi atas segala sesuatu.[20]

Ketiga, klaim Yesus tentang kekekalan-Nya. Dalam Yohanes
8:58 Yesus mengatakan bahwa “sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”. Secara
hurufiah ayat ini seharusnya diterjemahkan “sebelum Abraham dulu jadi, Aku
terus-menerus ada”. Perhatikan dengan seksama! Ketika menunjuk pada eksistensi
Abraham, penulis Injil Yohanes memakai kata “menjadi” (ginomai), sedangkan
untuk Yesus dipakai kata “adalah” (eimi). Kata pertama menyiratkan proses
dari
yang tidak ada menjadi ada, sedangkan yang kedua menyiratkan keadaan yang tetap
ada. Lebih jauh, keberadaan Yesus memakai bentuk present. Jika Yesus hanya
ditampilkan sebagai Pribadi yang sudah ada sebelum Abraham, maka penulis tidak
akan memakai bentuk present untuk keberadaan Yesus. Ayat ini secara eksplisit
menunjukkan bahwa keberadaan Yesus bersifat kekal.[21] Dengan kata lain, Yesus
sedang mengklaim diri sebagai Allah.

 

 Teks di atas akan semakin jelas menunjukkan
keilahian Yesus apabila kita menghubungkan ucapan Yesus “Aku adalah” (ego
eimi) dengan ucapan YHWH di Keluaran 3:14 “egw eimi ho wn.[22] Sebelumnya
Yesus telah
mengatakan bahwa “Akulah Dia” (ayat 24, 28, egw
eimi, lit. “Aku adalah”), sekarang Dia
menjelaskan identitas-Nya yang sebenarnya dalam cara yang mutlak, yaitu bahwa
Dia terus-menerus ada, bahkan sebelum Abraham ada. Ucapan ini sangat berkaitan
dengan ucapan YHWH bahwa “Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang
terkemudian Aku tetap Dia juga” (Yes 41:4; frase “Aku tetap Dia” di ayat
ini
dalam LXX memakai ego eimi)..[23] Begitu jelasnya maksud
Yesus dalam ucapan-Nya, tidak heran orang-orang Yahudi berusaha melempari Dia
dengan batu karena dianggap menghujat Allah.

 

Kekekalan Yesus di atas juga mendapat dukungan dari
penulis Alkitab yang sama. Dalam Wahyu 22:13 Yesus berkata “Aku adalah Alfa
dan
Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir”. Ucapan
yang sama muncul di pasal 21:6, walaupun konteks tidak memberi indikasi jelas
apakah ucapan ini berasal dari mulut Bapa atau Yesus. Dalam pasal 1:8 ucapan
“Aku adalah Alfa dan Omega” keluar dari mulut Bapa.[24]      

 

Keempat, klaim Yesus tentang kemahahadiran-Nya. Yesus
pernah berjanji bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya,
maka Dia akan hadir di tengah mereka (Mat. 18:20). Setelah kebangkitan Yesus
menjanjikan penyertaan yang terus-menerus sampai akhir zaman (Mat. 28:20).
Janji ini hanya dapat dipenuhi jika Yesus maha hadir. Mengapa? Cakupan
murid-Nya adalah segala bangsa. Mereka juga tersebar di semua tempat.. Jika
Yesus tidak maha hadir, maka Dia tidak akan bisa berada di semua tempat secara
bersamaan.[25]

 

Kelima, tindakan Yesus menunjukkan keilahian-Nya. Dalam
Yohanes 5:19 Yesus mengatakan bahwa Dia melakukan apa saja yang dikerjakan oleh
Bapa. Ungkapan ini merupakan kalimat yang sangat berani apabila yang
mengucapkannya hanyalah seorang ciptaan. D.. A. Carson menyatakan,
“satu-satunya
yang mungkin dapat melakukan apa
pun yang Bapa lakukan harus
sama besarnya dengan Bapa, sama ilahinya dengan Bapa”.[26]

 

Ada beberapa tindakan Yesus yang menyiratkan
keilahian-Nya. Yesus berkali-kali menunjukkan bahwa Dia mengetahui segala
sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam hati manusia. Dia tahu dari jauh
bahwa Natanael berada di bawah pohon ara (Yoh. 1:48). Dia mengetahui apa yang
ada dalam pikiran orang (Mrk. 2:8). Dia mengetahui isi hati manusia, termasuk
kesungguhan mereka dalam mengikuti Dia. Dia tahu siapa yang akan tidak
sungguh-sungguh mengikuti Dia (Yoh. 2:24-25) maupun yang akan menyerahkan Dia
(Yoh.
6:64). Berdasarkan semua pengalaman ini, murid-murid-Nya sampai pada pengakuan,
“Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu” (Yoh. 16:30;
bdk.
21:17).[27]

 

Tindakan lain dicatat dalam Markus 2:5. Dalam kisah ini
diceritakan tentang Yesus yang mengampuni dosa seorang yang sakit lumpuh.
Tindakan ini langsung memantik reaksi para ahli Taurat yang berpikir dalam hati
mereka bahwa Yesus telah menghujat Allah,
karena tindakan itu hanya boleh dilakukan oleh Allah saja (Mrk. 2:6-7). Dalam
Perjanjian Lama (Kel. 34:6-7; Yes 43:25; 44:22) maupun kitab-kitab Yahudi di
luar Alkitab (Tg Isa 53:5-12) ditegaskan bahwa tidak ada yang layak mengampuni
dosa selain Allah, bahkan mesias pun hanya dapat berdoa syafaat supaya orang
lain diampuni.[28]

 

Apakah ini hanya sekedar kesalahpahaman dari pihak ahli
Taurat (dalam arti Yesus sebenarnya tidak memposisikan diri sebagai Allah)?
Apakah otoritas yang dimaksudkan Yesus dalam kisah ini hanya menyiratkan bahwa
Dia adalah utusan Allah yang memberitakan pengampunan, sama seperti
murid-murid-Nya (Yoh. 20:23)? Tidak! Jika ini hanyalah sebuah kesalahpahaman,
maka ini adalah kesempatan emas bagi Yesus untuk menjelaskan kesalahpahaman
tersebut.[29] Ternyata Yesus tidak menggunakan
kesempatan ini. Sebaliknya, indikasi di dalam teks justru memberikan dukungan
terhadap keilahian Yesus. Yesus ditampilkan sebagai Pribadi yang mengetahui
hati manusia (Mrk. 2:6, 8). Dia menegaskan bahwa Dia berkuasa mengampuni dosa
(Mrk.
2:10). Bagi Dia, menyembuhkan maupun mengampuni dosa merupakan tindakan yang
sama mudahnya (Mrk. 2:9, 11).

 

Tindakan Yesus yang lain yang menunjukkan keilahian-Nya
adalah sikap-Nya yang mau menerima sembah. Beberapa orang dalam Alkitab pernah
menyembah (proskynew) Yesus selama Dia ada di dunia. Walaupun kata ini
memang dapat ditujukan kepada manusia biasa sebagai bentuk rasa hormat (Why.
3:9; 13:4b) atau kepada  iblis
(Mat. 4:9; Why. 9:20) dan berhala (Kis. 7:43), namun dalam kata ini sering kali
dipakai sebagai penyembahan kepada Allah (Mat. 4:10; Yoh. 4:20-24; 12:20; Kis.
8:27). Dalam beberapa konteks terlihat jelas bahwa orang yang menyembah
(proskynew)
Yesus menyembah Dia sebagai Allah. Salah satunya adalah Matius 9:18. Dalam
kisah ini ada seorang kepala rumah ibadat yang menyembah Yesus dan memohon agar
Ia membangkitkan anaknya yang baru saja meninggal dunia. Orang ini tidak
memohon supaya Yesus berdoa kepada Allah. Dia minta agar Yesus
menumpangkan tangan-Nya, maka anaknya akan bangkit kembali. Apa yang dicatat di
sini jelas sangat berbeda dengan kisah kebangkitan anak janda Sarfat di 1
Raja-raja 17:17-24, karena Yesus hanya perlu memegang anak itu, persis
seperti yang diyakini oleh ayahnya (Mat. 9:25). Jadi, kita harus menyadari
bahwa ketika kata proskynew dipakai dalam konteks keagamaan, maka
hal itu memiliki makna penyembahan (bukan sekedar penghormatan) dan hanya boleh
dilakukan terhadap Allah.[30]

 

Tindakan Yesus yang mau menerima sembah dari orang lain
merupakan sesuatu yang perlu digarisbawahi. Alkitab sendiri memberikan beberapa
contoh dari para rasul atau malaikat yang menolak penyembahan. Dalam Kisah
Rasul 10:25-26 Petrus melarang Kornelius menyembah (proskynew) dia
karena dia adalah manusia biasa. Paulus dan Barnabas juga menolak diperlakukan
seperti dewa (Kis. 14:13), walaupun kata tidak muncul dalam konteks ini.
Malaikat juga melarang Yohanes menyembah (proskynew), karena malaikat hanyalah
ciptaan saja (Why. 19:10; 22:8-9). Ketika Yesus disembah dan dia tidak melarang
hal itu, maka Yesus jelas menerima penyembahan tersebut dan dengan demikian
memposisikan diri-Nya sebagai Allah.

 

Tindakan lain yang dilakukan Yesus untuk menunjukkan
keilahian-Nya adalah menghakimi semua manusia. Dalam Perjanjian Lama, hakim
seluruh bumi adalah Allah (Kej. 18:25; Mzm. 94:2). Dalam Perjanjian Baru, Yesus
beberapa kali disebut sebagai Pribadi yang akan menghakimi semua manusia (Mat.
25:31-46). Walaupun Alkitab menyatakan Bapa menyerahkan penghakiman kepada Anak
(Yoh. 5:22), namun hal ini tetap tidak meniadakan bukti-bukti tentang keilahian
Yesus. Untuk menjadi hakim semua manusia, maka hakim itu haruslah mahatahu.
Supaya Dia dapat memberikan keputusan yang adil Dia harus mempertimbangkan
jumlah dosa, kualitas dosa (Kel. 21:12; 22:1), tingkat pemahaman pelaku
terhadap kebenaran (Luk. 12:47-48; Yak. 3:1), pengaruh dosa yang ditimbulkan
(Mrk.
12:40b; Luk. 20:47b), tingkat godaan yang mendorong terjadinya dosa (Rm.
1:32).[31]
Selain itu, kemahatahuan juga diperlukan karena yang
dihakimi termasuk hal-hal yang tersembunyi dalam hati manusia (bdk. Rm.
2:16).

 

Tindakan terakhir yang ditunjukkan Yesus untuk
membuktikan keilahian-Nya adalah berbagai mujizat yang Dia lakukan.
Pertama-tama kita harus memulai dengan sebuah pemahaman bahwa tidak semua
pribadi yang melakukan mujizat berarti memiliki hakekat keilahian. Para nabi,
rasul maupun nabi palsu dan iblis dapat melakukan hal-hal yang ajaib. Dengan
demikian ada dua kriteria yang harus dipakai untuk menyelidiki apakah mujizat
yang dilakukan seorang pribadi membuktikan hakekat keilahian-Nya: (1) apakah
mujizat itu dimaksudkan untuk membawa orang pada kebenaran atau Allah? Walaupun
nubuat nabi palsu digenapi tetapi apabila dia mengajak orang berpaling dari
Taurat (Ul. 13:1-5); (2) apakah mujizat itu dilakukan dengan kuasa mereka
sendiri? Para rasul jelas tidak dapat dianggap sebagai Allah, karena kuasa
mereka
berasal dari Yesus (Mat. 10:1).

 

Bagaimana mujizat Yesus dilihat dari dua kriteria
tersebut? Mujizat Yesus jelas lolos dari kriteria pertama, karena
mujizat-mujizat itu justru menjadi tanda kedatangan Kerajaan Allah sekaligus
tawaran untuk masuk ke dalamnya (Mat. 12:28). Dari sisi kriteria kedua, kita
harus mengakui bahwa Alkitab menyatakan bahwa Yesus melakukan mujizat oleh
kuasa Allah (Mat. 12:28; Luk. 4:14, 18, 40; Kis. 2:22). Bagaimanapun, kita juga
tidak boleh mengabaikan petunjuk Alkitab yang lain bahwa mujizat-mujizat itu
juga mendemonstrasikan keilahian sendiri sendiri. Perhatikan beberapa contoh
berikut ini. Ketika Yesus mengubah air menjadi anggur, Alkitab mencatat “Hal
itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari
tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan
kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya” (Yoh. 2:11). Ketika
Dia meredakan angin ribut, murid-murid-Nya takjub dan berkata, “Orang apakah
Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat
kepada-Nya?” (Mat. 8:27). Ketakjuban ini sangat dapat dipahami karena
Alkitab berkali-kali mengajarkan bahwa Allahlah yang berkuasa atas laut maupun
meredakan badai (Mzm. 65:8; 89:10; 107:29).[32]  #

 











[1]         Beberapa tulisan Bultmann
yang penting seputar topik ini antara lain Theology of the New Testament (SCM
Press, London, vol. I, 1952,
vol. II, 1955); Essays –
Philosophical and Theological, translated by C. G. Greig (New York:
Macmillan, 1955), Jesus Christ
and Mythology (New York:
Scribners, 1958 ; London: SCM Press, 1960).

[2]         Robert
W. Funk, Roy W.. Hoover and The Jesus Seminar, The
Five Gospels: What Did Jesus Really Say?  (New York: Macmillan, 1993).

[3]         Lihat Jacques
Guillet, S. J., The
Consciousness of Jesus, translated by Edmond Bonin  (Paramus, N.J.: Newman
Press, 1972). William Wrede, The
Messianic Secret (London: J. Clarke,
1971). John Hick (ed.), The
Myth of God Incarnate (Philadelphia:
Westminster, 1977)

[4]         Aquila H. I. Lee, From Messiah to Pre-existent Son:
Jesus' Self-Consciousness and Early Christian Exegesis of Messianic
Psalms, WUNT
2.192 (Tubingen: Mohr Siebeck, 2005).

[5]         Darrell L. Bock, Studying the
Historical Jesus: A Guide to Sources and Methods (Grand Rapids/Leicester: Baker
Academic/Apollos, 2002), 201.

[6]         Robert
H. Stein, Gospels and
Tradition: Studies on Redaction Criticism of the Synoptic Gospels (Grand
Rapids: Baker Book House,
1991), 158-162.

[7]         Bock, “The Words of Jesus in the Gospels: Live,
Jive, or Memorex”,Jesus Under Fire, ed. by Michael J. Wilkins and J. P.
Moreland (Grand
Rapids: Zondervan Publishing House, 1995), 90-93.

[8]         Stein, Gospels,
155; Blomberg, “Where Do We Start Studying Jesus”, Jesus Under Fire, 30-34.

[9]         Untuk pembahasan detail tentang hal ini, lihat Josh
McDowell dan Bill
Wilson, He Walked Among Us:
Evidence for the Historical Jesus (San
Bernardino: Here’s Life Publishers, Inc., 1988), 112-118; Josh McDowell, A
New Evidence that Demands the
Verdict, 33-45.

[10]        Penganut non-trinitarian sering kali menyatakan
bahwa Yesus hanya mengaku sebagai Anak Allah, tetapi bukan Allah Anak. Lihat
Frans Donald,Menjawab Doktrin Tritunggal (t.t.: Borobudur Indonesia Publishing,
2007), xxiv; Brian Holt, Jesus:
God or the Son of God (Mt.
Juliet, Tennessee: TellWay Pablishing, 2002).

[11]        Millard J. Erickson, Christian Theology (2nd ed., Grand
Rapids: Baker Books, 2002
dari 1998), 701.

[12]        The Doctrine of God (Phillipsburg: P&R
Publishing, 2002), 647.

[13]        Ibid.

[14]        Ibid.

[15]        Holt, Jesus:
God or the Son of God?, 29.

[16]        Erickson, Christian
Theology, 704.

[17]        Holt, Jesus:
God or the Son of God?, 29-30.

[18]        Frame, The
Doctrine of God, 647.

[19]        Di antara enam perintah yang berkaitan dengan
relasi antar manusia, perintah untuk menghormati orangtua diletakkan di bagian
awal untuk menunjukkan betapa pentingnya perintah ini.

[20]        Frame, The
Doctrine of God, 648.

[21]        Leon Morris, The
Gospel According to John, The New International Commentary on the New
Testament (rev. ed., Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1995),
419-430.

[22]        Ibid.
Wayne Grudem, Systematic
Theology (Nottingham:
InterVarsity Press, 1994), 546.

[23]        Carson, The
Gospel According to John, 358. Carson juga menyebutkan Yesaya 43:13 (“Juga
seterusnya Aku tetap Dia”) sebagai latar belakang dari ucapan Yesus di Yohanes
5:58, namun dalam LXX hal itu tidak terlalu jelas, karena frase egw eimi tidak
muncul di sana.

[24]        Grudem, Systematic
Theology, 546.

[25]        Ibid.

[26]        The Gospel According to John, Pillar New Testament
Commentary (Leicester/Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing
Company/Apollos, 1991), 251.

[27]        Grudem, Systematic
Theology, 548.

[28]        Robert A. Guelich, Mark 1-8:26, Word Biblical
Commentary (Waco: Word, 1989), electronic edition.

[29]        Erickson, Christian
Theology, 701.

[30]        Anthony A. Hoekema, The Four Major Cults (Exeter: The
Paternoster Press, 1963),
42.

[31]        Budi Asali, Christology (rev. ed.), tidak diterbitkan,
12-13.

[32]        Grudem, Systematic
Theology, 547-548.

 

 

 


Profil
Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:

Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang,
23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus
Editor
dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.
"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." (Prof. J. I.
Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)


       Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis.
Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

[Non-text portions of this message have been removed]

#6302 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Thu Nov 26, 2009 10:08 am
Subject: Opportunities as Accounting Staff
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
--- On Wed, 11/18/09, Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...> wrote:

From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Subject: Opportunities as  Accounting Staff
To: "Head Hunter" <head-hunter@yahoogroups.com>, "job vacancy"
<job-vacancy@yahoogroups.com>, "karunia  panggilan"
<KaruniaPanggilan@yahoogroups.com>, "KDM  GKI" <kdm-gki@yahoogroups.com>,
"KOMUNITAS  KRISTEN" <komunitaskristen@yahoogroups.com>, "Bisnis Karir"
<Bisnis-Karir@yahoogroups.com>, "KOMUNITAS  KRISTEN"
<komunitaskristen@yahoogroups.com>, "alumni ukdw" <alumniukdw@yahoogroups.com>,
"PAKUUP alumni kristen univ.pancasila" <PAKUP@yahoogroups.com>, "BATU  HIDUP"
<batuhidup@yahoogroups.com>
Date: Wednesday, November 18, 2009, 8:27 AM






We’re
one of the most Christian
  Book Publishing, Printing, Trading Company, and book
store,  Currently seeking the people who
have High motivation to Join With Us to Fullfill our requirement below :


Accounting Staff

    * Male or Female
    * Max 33 years old
    * Min D3 major of accounting from reputable university
    * Experience min 2 years in accounting field
    * Familiar with accounting software
    * Good knowledge about accounting cycle
    * Able to make finance report
    * Well knowledge of tax issues and Indonesia tax regulation  ( Having
Brevet A & B certificate would be advantage)
    * Analyticall thinking and Detailed Oriented
    * Hard worker, creative,
  Good in teamwork and ability to work with limited supervision
 
DROP YOUR CV TO :
PO BOX 4093 JKP
10040

OR...SEND EMAIL TO recruitment@...
At Least 2 Weeks
AFTER this Information
 
 
We Welcome You to
Join With Us…….









[Non-text portions of this message have been removed]

#6301 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Fri Nov 20, 2009 8:03 am
Subject: Marketing Executive_Jakarta
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
We’re
one of the most Christian Book Publishing, Printing, Trading Company, and book
store,  Currently seeking the people who
have High motivation to Join With Us to Fullfill our requirement below :


Marketing
Executive


	 * Male/Female
	 * Age max 30 years old
	 *  Min D3 From any major
	 * Having a driving lisence C and having own motorcycle

	 * Able to speak english would be advantage
	 * Experience in book retail would be advantage
	 *  Fresh graduate are welcome (will be trained)
	 * Oriented to achieve goals, strong motivation, confidence, high task
commitment
	 * Can work under pressure, good communication, and  creative person


DROP YOUR CV TO :
PO
BOX 4093 JKP 10040


OR...SEND EMAIL TO recruitment@...
At
Least 2 Weeks AFTER this Information


We Welcome You to Join With Us…….




[Non-text portions of this message have been removed]

#6300 From: Divoriyo Abe <divoriyo@...>
Date: Thu Nov 19, 2009 9:12 am
Subject: Bless You...
divoriyo
Offline Offline
Send Email Send Email
 
God Bless Who see this ckip..

may you be strengthed thru this songs..
GOD BLESS YOU

For see
http://www.youtube.com/watch?v=DnxVRN6sBnE&feature=PlayList&p=B134E38BD58AEBAA
http://www.youtube.com/watch?v=L8v-rAZ522g

For Download
http://www.4shared.com/file/155114752/362e7b3e/KAU_SERTAKU_-_Arpeggio_Testified.\
html





[Non-text portions of this message have been removed]

#6299 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Fri Nov 20, 2009 8:01 am
Subject: Marketing Executive_Surabaya
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
We’re
one of the most Christian Book Publishing, Printing, Trading Company, and book
store,  Currently seeking the people who
have High motivation to Join With Us to Fullfill our requirement below :


Marketing
Executive


	 * Male/Female
	 * Age max 30 years old
	 *  Min D3 From any major
	 * Having a driving lisence C and having own motorcycle

	 * Able to speak english would be advantage
	 * Experience in book retail would be advantage
	 *  Fresh graduate are welcome (will be trained)
	 * Oriented to achieve goals, strong motivation, confidence, high task
commitment
	 * Can work under pressure, good communication, and  creative person


DROP YOUR CV TO :
PO
BOX 4093 JKP 10040


OR...SEND EMAIL TO recruitment@...
At
Least 2 Weeks AFTER this Information


We Welcome You to Join With Us…….




[Non-text portions of this message have been removed]

#6298 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sun Nov 8, 2009 2:03 am
Subject: DOKTRIN TRITUNGGAL-5 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
DOKTRIN
TRITUNGGAL-5:

Bapa
Sebagai Allah

 

oleh: Ev.. Yakub Tri Handoko,
Th.M.

 

 

 

 

Dalam diskusi seputar Tritunggal,
pembahasan tentang keilahian Bapa seringkali terlupakan. Para teolog biasanya
langsung memberikan bukti-bukti tentang keilahian Yesus dan Roh Kudus. William
G. T. Shedd dengan tepat menjelaskan alasan di balik fenomena ini (meskipun dia
sendiri tetap memberikan penjelasan sedikit tentang keilahian Bapa),
“keilahian
Allah Bapa tidak dipertentangkan, karena itu kurang ada kebutuhan untuk
memaparkan bukti-bukti tentang hal ini”.[1]

 

Dalam bagian ini kita akan menyelidiki konsep umum
Alkitab tentang Allah sebagai Bapa. Berdasarkan hasil penyelidikan di atas kita
akan menyinggung beberapa kesulitan atau hal-hal yang harus diperhatikan dalam
mendiskusikan keilahian Bapa. Selanjutnya kita akan memaparkan bukti-bukti
Alkitab tentang keilahian Bapa.

 

 

Allah sebagai Bapa

Penyebutan Allah sebagai Bapa bukan hanya
diajarkan dalam Perjanjian Baru.. Konsep ini dapat kita jumpai dalam agama kafir
maupun Yudaisme.[2] Agama kafir kuno mengakui Dewa El dari Ugarit
sebagai bapa dari semua manusia. Dewa bulan Babel yang bernama Sin dipercaya
sebagai bapa yang melahirkan dewa-dewa dan manusia. Sebutan yang sama juga
dikenakan pada Dewa Zeus dalam tradisi Yunani. Para penganut aliran gnostik
juga menyebut allah yang tertinggi sebagai bapa atau bapa yang pertama. Dalam
kepercayaan Mesir kuno, Firaun dipercaya sebagai anak dewa dalam arti secara
fisik.

 

Perjanjian Lama juga mengajarkan konsep
tentang Allah sebagai bapa, walaupun konsep seperti ini tidak terlalu dominan
(hanya 15 kali). Dalam Perjanjian Lama Allah disebut bapa hanya dalam kaitan
dengan orang Israel (Ul. 32:6; Yes 63:16; 64:8; Yer 3:4, 19; 31:9; Mal 1:6;
2:10). Secara khusus, Allah adalah bapa bagi raja Israel dalam teks-teks yang
dikemudian hari dipahami orang Yahudi sebagai nubuat mesianis (2Sam 7:14//1Taw
17:13; 22:10; 28:6; Mzm. 2:7; 89:27).

 

Pada masa intertestamental (sekitar 400
tahun antara akhir Perjanjian Lama dan permulaan Perjanjian Baru), orang-orang
Yahudi tetap mengenakan sebutan bapa kepada Allah. Penyebutan seperti ini
beberapa kali muncul dalam kitab-kitab Yahudi pada masa tersebut, misalnya
Apokrifa, Pseudepigrafa maupun Naskah Laut Mati. Josephus, seorang sejarawan
Yahudi abad ke-1, juga memakai sebutan ini.

 

Jika kita menyelidiki konsep Allah sebagai
bapa dari sisi pemunculan kata “anak Allah”, maka kita akan menemukan hasil
yang kurang lebih sama dengan penjelasan di atas. Gerhard Vos, sebagaimana
dikutip George Ladd, memaparkan empat makna sebutan anak Allah yang disebutkan
dalam Alkitab:[3]

(1)     Arti nativistik: semua ciptaan – terutama
manusia - adalah anak-anak Allah, karena mereka berhutang eksistensi kepada
Allah yang menciptakan mereka (Luk. 3:38; Kis. 17:28; band. Ay 1:6; 2:1).

(2)     Arti moral-relijius: orang-orang tertentu
sebagai objek kasih Allah yang khusus, misalnya bangsa Israel (Kel. 4:22) dan
orang-orang Kristen (Rm. 8:14, 19; Gal 3:26; 4:5).

(3)     Arti mesianis: mesias yang dijanjikan
adalah anak Allah dalam arti yang khusus (2Sam 7:14; Mzm. 2:7).

(4)     Arti teologis: sebutan anak Allah ini hanya
dikenakan untuk Yesus.

 

Keberagaman makna Allah sebagai bapa di
atas akan sangat membantu kita pada saat kita mempelajari keunikan status Yesus
sebagai Anak Allah.[4] Untuk sekarang, keberagaman ini juga bermanfaat
untuk mengetahui perbedaan makna sebutan “Bapa” yang diajarkan dalam
Alkitab.
Menurut Shedd, penyebutan Allah sebagai Bapa harus dipahami dalam dua arti: (1)
Bapa dalam arti keseluruhan diri Allah dalam relasi dengan ciptaan; (2) Bapa
dalam arti Pribadi pertama dalam Tritunggal dalam relasi antar Pribadi
dalam Tritunggal.[5]Walaupun pembagian Shedd ini sangat dipengaruhi oleh asumsi
dasarnya
terhadap Tritunggal dan ayat-ayat yang diberikan masih dapat diperdebatkan,
namun pembagian ini tetap memiliki unsur objektivitas dalam taraf tertentu.
Jika segala sesuatu – termasuk manusia – diciptakan oleh Yesus (Yoh. 1:3;
Kol
1:16), maka Yesus paling tidak layak untuk disebut sebagai Bapa dalam arti
nativistik (band. Kis. 17:28). Alkitab pun pernah menyebut Yesus sebagai Bapa
(Yes 9:6 “Bapa yang kekal”).[6]

 

 

Kesulitan Metodologi

Jika sebutan “Bapa” memang tidak selalu
merujuk pada Pribadi pertama dalam Tritunggal, maka penyelidikan terhadap
keilahian Bapa menjadi sesuatu yang tidak semudah yang dibayangkan. Kita harus
mengetahui lebih dahulu apakah sebutan Bapa di suatu teks merujuk pada diri
Allah atau hanya pada Pribadi pertama dalam Tritunggal. Tugas ini jelas sangat
berat untuk dilakukan. Cara lain yang dapat ditempuh adalah memfokuskan pada
teks-teks tertentu yang memuat sebutan “Bapa” dan yang secara jelas
dibedakan
dari Yesus. Tugas ini lebih mudah, namun ada kemungkinan kita melewatkan
beberapa bukti keilahian Bapa yang terdapat dalam teks-teks lain yang tidak
memuat sebutan “Bapa”.

 

Kesulitan lain yang menghadang kita adalah
ketidakjelasan makna “Allah” dalam beberapa teks. Apakah setiap kata Allah
yang
tidak dikenakan pada Yesus secara otomatis merujuk pada Allah Bapa? Pihak
non-Trinitarian akan menjawab “ya”, sedangkan pihak Trinitarian mungkin akan
mempertanyakan hal ini, khususnya dalam kasus-kasus tertentu yang mungkin
memaksudkan sebutan “Allah” pada keseluruhan Allah Tritunggal. Sebagai
contoh:
apakah Allah yang membangkitkan Yesus dari kematian (Kis. 2:24; 3:26; 13:30)
adalah
Allah Bapa? Kalau memang demikian, mengapa para rasul tidak memakai sebutan
“Bapa” yang lebih jelas? Mengapa di bagian lain diajarkan bahwa Yesus
bangkit
dengan kuasa-Nya sendiri (Yoh. 2:19, 21; 5:21) atau dibangkitkan oleh Roh Allah
(Rm. 1:4; 8:11)?

 

Mempertimbangkan semua kesulitan di atas,
kita harus lebih berhati-hati dalam memahami sebutan “Bapa” atau “Allah”
yang
ada dalam Perjanjian Baru. Belum tentu semua sebutan itu pasti merujuk pada
Allah Bapa. Dengan demikian penyelidikan tentang keilahian Bapa harus
benar-benar memperhatikan konteks munculnya sebutan “Bapa” atau “Allah”.

 

 

Bukti Keilahian Bapa

Sesuai dengan pembahasan di bab sebelumnya
tentang sifat-sifat Allah yang tidak dapat dibagikan pada pribadi lain di luar
diri Allah (incommunicable attributes), kita hanya akan memfokuskan
penyelidikan pada sifat-sifat tersebut. Kita akan menyelidiki bagaimana Alkitab
memaparkan Bapa sebagai Allah dalam arti yang sesungguhnya.

Kebebasan (interdependensi) Bapa

Bapa di dalam Alkitab dinyatakan sebagai Pencipta
segala sesuatu (Why 4:11; 14:7). Yesus secara khusus menyebut Bapa sebagai
Tuhan langit dan bumi (Mat. 11:25//Luk. 10:21). Jemaat mula-mula juga mengakui
hal ini dalam doa mereka (Kis. 4:24).[7] Dalam Kisah Rasul 17:24-25 dinyatakan
secara jelas
bahwa sebagai Pencipta Dia tidak terbatas dan tidak membutuhkan
apapun.[8] Sebaliknya, segala sesuatu justru bergantung pada
Bapa (Ef 4:6). Segala sesuatu adalah dari, oleh dan untuk Dia (Rm. 11:36).
Tidak ada seorang pun yang memberi Dia petunjuk atau nasehat (Rm. 11:33-34;
1Kor.
2:16a) sehingga tindakan-Nya dipengaruhi oleh saran tersebut. Tidak ada satu
Pribadi pun yang pernah memberi sesuatu kepada-Nya sehingga Dia wajib membayar
hal itu (Rm. 11:35). Dia mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan
kehendak-Nya tanpa dipaksa/dipengaruhi oleh faktor lain di luar diri-Nya (Ef
1:11), termasuk ketika Dia memilih kita untuk diselamatkan “sesuai rencana
kerelaan-Nya” (Ef 1:9).

 

Cara lain yang menunjukkan kebebasan Allah
adalah sebutan “Yang Mahakuasa”. Sebutan ini muncul beberapa kali dalam
Perjanjian Baru.. Dalam beberapa konteks, Pribadi yang disebut “Yang
Mahakuasa”
ini dibedakan dari Yesus, misalnya Yesus akan duduk di sebelah kanan Yang
Mahakuasa (Mat. 26:64//Mrk. 14:62//Luk. 22:69). Dalam suatu konteks, perbedaan
antara keduanya cukup jelas tetapi sulit dijelaskan (Why 21:22). Dalam beberapa
konteks yang lain, sebutan “Yang Mahakuasa” tidak terlalu jelas, tetapi
kemungkinan besar merujuk pada Pribadi pertama dalam Tritunggal (Why 4:8;
11:17; 15:3; 16:7, 14; 19:6, 15). Karena Bapa adalah mahakuasa, maka tidak ada
yang mustahil bagi Dia (Mrk. 14:36; Luk. 1:37).

 

Ketidakberubahan Bapa

Roma 1:20 mengajarkan bahwa ciptaan
menyatakan kekuatan Allah bersifat kekal (tidak berubah). Yakobus 1:17 menyebut
Bapa sebagai Bapa segala terang yang tidak mungkin mengalami perubahan. Ibrani
6:18 menyinggung tentang sifat Allah yang tidak mungkin
berdusta.[9] 1Yohanes 4:8 “Allah adalah [present tense = terus-menerus]
kasih”.
Dalam ayat-ayat ini ketidakberubahan yang dimaksud berkaitan dengan sifat Bapa,
yaitu kekuatan, kebaikan, kesetiaan dan kasih-Nya.

Ketidakberubahan dalam diri Bapa juga
mencakup rencana atau tujuan-Nya. Segala sesuatu terjadi untuk menggenapi semua
yang sudah Allah tentukan, termasuk dalam hal kematian Yesus (Kis. 2:23;
4:28).[10] Ibrani 6:17 turut menegaskan bahwa keputusan Allah
bersifat pasti (terjemahan LAI:TB “kepastian” agak tidak tepat; yang tepat
adalah “ketidakberubahan”, lihat semua versi Inggris). Dalam
konteks keselamatan, semua yang diberikan Bapa pasti akan selamat (Yoh. 6:37;
10:28-29) dan dimuliakan (Rm. 8:29-30; 2Tim. 1:9), begitu pula dengan mereka
yang ditentukan untuk binasa (Yoh. 17:12b). 

 

Kekekalan Bapa

Yesus menyatakan bahwa Bapa memiliki hidup
dalam diri-Nya sendiri (Yoh. 5:26). Pernyataan ini mengajarkan bahwa Bapa ada
dengan sendirinya dan keberadaan-Nya ini bersifat kekal. Sebelum segala sesuatu
ada, Bapa sudah ada bersama-sama dengan Yesus (Yoh. 1:1). Bapa adalah Yang Awal
dan Yang Akhir (Why 1:8). Dia disebut sebagai Allah yang kekal, Raja segala
jaman (1Tim. 1:17). Roma 1:20 mengajarkan bahwa
melalui ciptaan manusia dapat memahami kekekalan keilahian (qeioths, “natur
keilahian”) Allah.

Karena Bapa adalah kekal, maka Dia tidak terbatas oleh
waktu dan semua rencana-Nya sudah genap sejak kekekalan. Rencana Allah bersifat
abadi (Ef 3:11). Dia menentukan waktu yang tepat di mana Yesus harus menjadi
manusia (Gal 4:4) dan datang kembali kedua kalinya (Mrk. 13:32; Kis. 1:7). Dia
mengatur jalan hidup semua bangsa dan menentukan “musim-musim bagi mereka”
(lit. “waktu
yang ditentukan”, Kis. 17:26).[11]

 

Kemahaadaan Bapa

Stefanus dalam kotbahnya mengutip kitab
suci dan menyatakan bahwa Yang Mahatinggi tidak tinggal dalam
buatan tangan manusia (Kis. 7:48).[12] Keyakinan senada diucapkan Paulus di
Kisah Rasul 17:24-25. Di dalam
Allah kita hidup, ada dan bergerak (Kis. 17:28a).

Kebenaran di atas membawa kita pada
kebenaran Alkitab yang lain, yaitu tentang kemahatahuan Allah. Bapa yang
mahaada dapat mengetahui apapun yang kita lakukan
di tempat yang tersembunyi (Mat. 6:4, 6, 18). Tidak ada sesuatu pun yang
tertutup atau tersembunyi yang tidak dapat dibuka oleh Bapa (Mat.
10:26).[13] Allah – oleh Yesus Kristus – mengetahui segala sesuatu yang
tersembunyi dan menghakimi menurut pengetahuan-Nya itu (Rm. 2:16), karena
segala sesuatu adalah telanjang di hadapan-Nya (Ibr 4:13).[14] Allah
menyelidiki hati kita dan mengetahui semua yang ada di dalamnya (Luk. 16:15;
1Yoh 3:20).

 

 

Bapa sebagai Yahweh

Sebagaimana kita telah mempelajari dalam
bab sebelumnya, sebutan YHWH dalam LXX dan tulisan Yahudi seringkali
diterjemahkan dengan kata kurios. Hal yang sama berlaku pada tulisan
Perjanjian Baru. Kutipan dari Perjanjian Lama yang memuat kata YHWH
diterjemahkan memakai kata kurios. Yang paling jelas adalah sebutan Tuhan
Allah (kuriosho qeos) yang merupakan adopsi dari ungkapan Perjanjian
Lama (YHWH ‘Elohim).

 

Berdasarkan kebiasaan di atas, kita akan
mencoba menyelidiki beberapa penggunaan sebutan YHWH yang dikenakan pada Bapa.

o       Lukas
1:32. Dalam konteks ini sebutan Tuhan Allah merujuk pada Pribadi pertama dalam
Tritunggal, karena Dia dibedakan dari Yesus (ayat 32b) maupun Roh Kudus (ayat
35).

o       Lukas
10:21. Yang dimaksud “Tuhan langit dan bumi” di ayat ini adalah Bapa. Dia
dibedakan dari Roh Kudus dan Yesus.

o       Yohanes
4:21. Bapa diidentikkan dengan YHWH yang disembah oleh orang Samaria di Gunung
Gerizim dan orang Yahudi di Yerusalem.

o       Yohanes
6:32. Bapa diidentikkan dengan YHWH yang memberikan manna kepada orang Israel.

o       Yohanes
20:17. Bapa adalah Allah yang disembah oleh Yesus dan murid-murid-Nya.

o       Kisah
Rasul 3:22. Tuhan Allah adalah Pribadi yang mengutus Yesus (ayat 26).

o       Kisah
Rasul 13:33. Dalam ayat ini YHWH di Mazmur 2:7 diidentikkan dengan Allah yang
membangkitkan Yesus. #











[1]       Dogmatic Theology, translated by
Alan W. Gomes (3rd ed., Phillipsburg: P&R Publishing,
2003), 253.

[2]       O. Hofius, “Father”, The New
International Dictionary of New Testament Theology Vol. 1. ed. by Collin
Brown (Exeter: The Paternoster Press, 1980), 616-618.

[3]       A Theology of the New Testament,
rev. by Donald Hagner (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1993),
159-160

[4]       Topik ini akan dibahas
tersendiri di bab-bab berikutnya. Kita akan membuktikan bahwa status Yesus
sebagai Anak Allah hanyalah cara lain untuk menyatakan bahwa Dia adalah
sungguh-sungguh Allah.

[5]       Dogmatic Theology, 253-257.

[6]       Saksi Yehuwah mengakui Yesus sebagai Bapa
yang kekal hanya dalam pengertian Yesus sebagai bapa bagi semua orang beriman,
sama seperti Adam menjadi bapa bagi semua manusia. WT 6/15/2005,
19. Tafsiran ini akan dibahas secara lebih mendetail di bab-bab selanjutnya.

[7]       Sebutan “Tuhan” di sini sangat mungkin
merujuk pada Bapa, karena Dia dibedakan dari Yesus (ayat 30) maupun Roh Kudus
(ayat 31).

[8]       Sebutan “Allah” di ayat 24-25, 28 dan 30
kemungkinan besar merujuk pada “Bapa”, karena di ayat 31 “Allah” disebut
sebagai yang membangkitkan Yesus. Sebutan “Allah” di sini dapat dianggap
sebagai rujukan pada Allah secara secara umum apabila kita mempertimbangkan
bahwa yang membangkitkan Yesus adalah Allah Tritunggal (Yoh. 2:19, 21-22; Rm.
8:11).

[9]       Dalam konteks ini
“Allah” dibedakan dari Yesus (ayat 20).

[10]     “Allah” di Kisah Rasul
2:23 jelas dibedakan dari Yesus, sedangkan di Kisah Rasul 4:28 ”Allah”
dibedakan dari “Yesus, Hamba-Mu yang kudus” (ayat 27).

[11]     “Allah” dalam bagian ini dibedakan dari
Yesus (ayat 31).

[12]     “Yang Mahatinggi” di ayat ini dibedakan dari
Roh Kudus (ayat 51) maupun Yesus = Orang Benar (ayat 52).

[13]     Berdasarkan ayat 29, yang mampu membuka hal
ini adalah Bapa.

[14]     “Allah” dibedakan dari Yesus sebagai Imam
Besar Agung (ayat 14-15).

 

 

 

Sumber:

htp:/ww.gk ri-exo dus.org/pa ge.ph p?DOC-TRI UNGG AL- 6

 

 

 

 

Profil
Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:

Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di
Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja

 

Editor
dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.
"Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang
bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah
hamba-Nya."(1Kor. 7:22)


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

#6297 From: "Prangko C" <management@...>
Date: Tue Nov 10, 2009 12:23 am
Subject: OOT: Beasiswa Pelajar Sekolah Dasar
filateli
Offline Offline
Send Email Send Email
 
OOT: Beasiswa Pelajar Sekolah Dasar

Sekolah bahasa Jepang Pandan College memberikan kembali Beasiswa 2010 bagi para
pelajar sekolah dasar Indonesia.

Informasi lengkap silakan mengacu kepada web ybs di

http://beasiswa.ws/

Terima kasih
Management
Pandan College
Tel.0361-255-225
Japan Education Fair
FB: http://www.facebook.com/group.php?gid=62524633497&v=info
.

#6296 From: Dr Ali Senjaya <ali_senjaya@...>
Date: Tue Nov 10, 2009 12:51 am
Subject: Trs: FREE Dinner Seminar Awam : Autis bisa disembuhkan
ali_senjaya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
for your info,
semoga bermanfaat

cara berbeda tentu hasilnya juga beda, dapatkan informasinya langsung dari
pakarnya.

free - free - free - free - free - free

Dinner Seminar Awam
TERBUKTI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (AUTIS) BISA
DISEMBUHKAN
14 November 2009 l Hotel Le Grandeur, Mangga Dua – Jakarta
Pk. 17.00 – 21.00 WIB
Bersama Pakar Internasional di Bidang Autis dari Australia



Dr Andrew Barrie, PhD
( Didampingi
Dra. Imaculata Umiyati – Public Speaker dan Pendiri Yayasan Imaculata, Sekolah
& Asrama )

Andy menyelesaikan pendidikannya di Skotlandia dan
memiliki gelar  BSc di bidang kimia dan
gelar PhD di bidang fisika atom. Andy menghabiskan lebih dari 26 tahun melakukan
riset fisika dan kimia untuk memecahkan masalah lingkungan
dan penelitian medis setelah itu Andy mendalami terapi Bioresonance.
Andy  adalah
orang tua dari anak penyandang autis,  yang sama seperti orang tua lainnya,
mencari solusi untuk menyembuhkan
anaknya. Sampai pada akhirnya, Andy mengenal BICOM yang bisa mengeliminasi
virus, logam berat, toxin, dan allergen, serta memperbaiki fungsi saluran
cerna,  memperbaiki sistem imun tubuh,
dan sebagainya.
Andy melakukan penelitian pada anaknya yang berusia
8 tahun, kemudian melakukan penelitian pada sebuah group yang terdiri dari lima
anak laki-laki yang terdeteksi autis dan akhirnya menemukan bahwa mental
illnesses berasal dari  virus dan
alergi, yang kemudian diwujudkan dalam protokol pengobatan bioresonance
untuk mental disorders seperti ADHD,  disleksia
dan autis, yang juga akan dibicarakan dalam seminar ini.
INFO
& PENDAFTARAN :
SARAH  TEL : 021-31934788, 31934808  FAX : 021-31934788  HP : 081319204062
  Note:
free dinner seminar awam = untuk mengantisipasi jumlah peserta dan seleksi
peserta (bukan hanya untuk mendapatkan free meals)
biaya pendaftaran sebesar Rp 350 rb dan diberikan voucher tes - terapi alergi
senilai Rp 350 rb

website panitia:
www.medikaedukasi.blogspot.com


wass,
Dr Ali Senjaya
www.bio-e.net
allergy solution





----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Susan Wibowo <susan.wibowo@...>
Kepada: Dr Ali Senjaya <ali_senjaya@...>
Terkirim: Sen, 9 November, 2009 20:56:21
Judul: FREE Dinner Seminar Awam : Autis bisa disembuhkan



--
Susan Wibowo
MD
JPM & Partners
Client & Training Center :
Menara BDN, 12thA floor
Jl MH Thamrin kav 5
Jakarta 10110
Operations :
Jl H Agus Salim 16 A, 2nd floor
Jakarta 10340
Tel        : 021 31934788, 31934808
Fax       : 021 31934788
Email     : jpm_indonesia@..., info@...
Website : www.jpmlearning.com

_________________________________________________________________
The information contained in this communication is intended solely for the use
of the individual or entity to whom it is addressed and others authorized to
receive it. It may contain confidential or legally privileged information. If
you are not the intended recipient you are hereby notified that any disclosure,
copying, distribution or taking any action in reliance on the contents of this
information is strictly prohibited and may be unlawful. If you have received
this communication in error, please notify us immediately by responding to this
email and then delete it from your system. JPM & Partners is neither liable for
the proper and complete transmission of the information contained in this
communication nor for any delay in its receipt.



       Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

#6295 From: Yohanes Adhi Nugraha <myjc_adonai@...>
Date: Sat Nov 7, 2009 9:40 am
Subject: Re: [BATUHIDUP] Kuasa Doa
myjc_adonai
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Kesulitan orang dihadapan Tuhan adalah ketika Tuhan berhadapan dengan ego orang.
Sama seperti Yakub bergumul dengan Tuhan, begitulah yang kira-kira terjadi
ketika seseorang berdoa memohon sesuatu di hadapan Tuhan, terutama, ketika
permohonannya berbeda dengan arah yang Tuhan berikan.

Ketika Tuhan mengajari kita berdoa, Tuhan mengajarkan "Datanglah KerajaanMu,
jadilah kehendakMu.". Hal terpenting dalam kehidupan bersama dengan Tuhan, bahwa
Tuhan akan mendatangkan Kerajaan kedalam hidup kita. Kerajaan itu beraspek di
dalam dan di luar. Di dalam, ada satu penggarapan, yaitu peleburan hayat kita
dengan hayat Tuhan, sehingga sifat-sifat kita dibereskan, dan kita dipersiapkan
kapasitas untuk menghadapi kedatangan Kerajaan yang diluar kita.

Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan
sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah
menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.
Yeremia 1:5

Telah "Mengenal" dan telah "Menetapkan". Kedua hal inilah yang telah diberikan
kepada kita, dan makin tahun hidup kita, kita diantarkan kepada ketetapan Tuhan
yang sudah ditetapkan dari mulanya. Tetapi, persoalan Tuhan adalah karena kita
banyak maunya. Betul tidak?

Tuhan sebenarnya, betul2 mau untuk mengabulkan doa kita. Sebab apa yang
ditetapkan Tuhan di luar hidup kita, (artinya Kerajaan yang dapat kita nikmati
di dunia ini, perkara di luar) bukan semerta-merta menyelesaikan urusan Tuhan
yang dititipkan pada kita, tetapi juga mendapat masa depan, jodoh yang baik,
pekerjaan yang baik, kecukupan... Tuhan benar-benar ingin memberikan semua pada
kita. Tetapi... dengan caranya Tuhan.

Kita sebenarnya tidak cukup tahu apa yang sebenarnya terbaik untuk kita. Yang
kita tahu cuma: rasanya yang terbaik bagi kita adalah ini atau itu, maka kita
maunya ini atau itu. Dan hal itulah yang mempersulit kita untuk menikmati
kebaikan Tuhan yang Tuhan sudah siapkan buat kita sejak mulanya.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,
demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan
kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yeremia 29:11

Tuhan tidak mau, kalau kita mendapat berkat nantinya kita malah jadi renggang
dengan Tuhan karena menikmati dunia ini. Karena mendapat berkat berlimpah adalah
satu tantangan anak Tuhan yang sangat berat.

Karena itu, untuk bisa mendapat pengabulan doa ataupun menerima berkat, harus
memiliki hal-hal sebagai berikut:
1. Harus memiliki kapasitas ilahi untuk menerima berkat Tuhan
Nah, mengenai hal ini, kapasitas ilahi didapatkan dari sifat-sifat ilahi yang
datangnya dari Roh Kudus. Karena itu, kita harus selalu mendoakan Firman Tuhan
yang kita baca, peka terhadap teguran Firman Tuhan, selalu berdoa minta Tuhan
bertambah dan kita berkurang, itulah yang hari demi hari harus kita doakan. Nah
nanti tidak semerta-merta terus jadi baik, namun akan ada banyak ujian iman atas
Firman. Kita lulus tidak? Satu demi satu Tuhan akan menguji kita, membangun kita
menjadi pribadi yang berguna bagi Dia.

Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia
mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas
seluruh kerajaannya.
Daniel 6:3

Tujuan Tuhan bukanlah membuat kita jadi baik, (meski nantinya jadi baik) namun
supaya kita punya Roh Tuhan yang luar biasa. Karena itu, coba dipikirkan mana
yang lebih baik, punya banyak sifat baik, atau hikmat kebijaksanaan yang luas
dengan mendisiplin sifat kita, atau punya roh yang luar biasa? Saya lebih pilih
yang kedua. Sebab kesalehan kita bagi Tuhan kaya kain kotor, kog. (Yes 64:6)
Jadi, dibentuk sesuai kehendak Tuhan aja deh.

2. Harus dengar-dengaran dan tidak mengeraskan hati.
Jika kita doanya tidak / belum dikabulkan, ada indikasinya bahwa perjalanan
hidup kita sudah selaras dengan Tuhan. Yaitu sifat-sifat kita banyak yang
berubah, sukacita kita besar dihadapan Tuhan, kita bertumbuh dan melihat banyak
mujizat meski doa kita belum terjawab.

Namun, jika hidup kita stagnan, kita kering, coba dicek lagi apakah kita sudah
menyimpang terlalu jauh dari kehendak Tuhan, atau kita diam ditempat dan tidak
bergerak, karena Tuhan inginnya kekiri, kita inginnya ke kanan. Saya pernah
bilang bahwa setiap orang yang meminta pada Tuhan, kalau bertahun-tahun
menghadapi masalah tidak selesai-selesai, wajib buka hati dan tanya, Tuhan, apa
yang perlu saya belajar? Sebab Tuhan juga tidak ingin kita lama2 di masalah yang
sama. Kalau bisa, secepat kita sadar dan bertobat Tuhan akan arahkan kita ke
jalan yang benar. (Amsal 3:5,6,7) Kalau tidak, rugi. Kelamaan di sana ngga
belajar apa2, ngga menang-menang.

3. Harus berdoa demi Tuhan
Saudari, kalau seseorang itu tidak mendapat jawaban Tuhan sampai kering, orang
itu harus mengesampingkan permohonan itu dulu. Coba dicek lagi, apakah diri kita
sudah terlalu egois di hadapan Tuhan, atau semata2 sudah tahu permohonan kita
salah tapi ngeyel? Kita ini, sebagai anak-anak Tuhan, memang keras kepala
semuanya. Seperti Yakub, nanti pangkal paha kita akan dipukul Tuhan sampai
terpelecok (kej 32:25). Pangkal paha itu kekuatan kita, keinginan daging kita,
segala ego kita. Tuhan akan pukul itu hingga kita tidak ada kekuatan lagi.

Saya sangat khawatir karena hal ini selalu menimpa semua Anak Tuhan. Tuhan
betul-betul mengkondisikan banyak Anak Tuhan sampai parah sekali, dalam hal ini
Tuhan benar-benar mengambil resiko besar. Tujuan Tuhan adalah supaya manusia
tidak lagi bersandar pada diri sendiri, tetapi kepadaNya. Bukan sekedar teori,
bukan sekedar ucapan mulut dan kemunafikan, namun memang karena dalam segalanya
seseorang jadi bersandar pada Tuhan.

Tetapi sepanjang pengalaman, begitu seorang Anak Tuhan tidak punya apa-apa,
tidak bisa apa-apa lagi, mereka malah meninggalkan Tuhan. Tetapi, seluruh
Saudara-Saudari jangan begitu ya. Karena kemuliaan dibalik itu besar, dan saya
sungguh rindu mendengar kesaksian orang-orang yang menang, jangan yang kalah
mulu diuji Tuhan kaya begitu.

Biasanya berdoa demi Tuhan adalah doa minta Tuhan bertambah, kehendak Tuhan
jadi, diberi hikmat akan rencana Tuhan, MENGUCAP SYUKUR. (nah ini.) Mohon ampun
atas dosa hari ini, minta ditutup bungkus Darah Tuhan...

Setelah doa demikian, masuklah ke dalam komunitas, berteman dengan banyak Anak
Tuhan lainnya. Nanti lihatlah akan menikmati banyak mujizat Tuhan.

Jika setelah mengikuti semua ini, hati masih ada ganjalan, kan sudah tidak
kering lagi tuh, coba sharingkan ke teman-teman dalam Tuhan yang rohani, dapat
dipercaya dan dekat, bahwa kita hendak mendoa puasakan masalah tersebut dua
sampai tiga hari. Doakan sampai beban itu terangkat, namun soal apakah akan jadi
nyata atau tidak, dilepaskan saja jangan menjadi beban.

5. Hati-hati dalam pertemanan, atau pergaulan yang mempengaruhi sikap hati.
Nah ini problemo... banyak Anak Tuhan menjadi kering karena hidup di komunitas
yang tidak tepat. Tidak kondusif untuk bertumbuh menjadi Anak Tuhan yang sesuai
kehendak Tuhan dan takut akan Tuhan.

Karena itu, pikirkan kembali dengan siapa kita bergaul, kita curhat sama orang
yang rohani atau tidak? Karena dalam banyak kasus, pergaulan dapat menentukan
bagaimana cara kita menghadapi kehidupan. Karena itu, pikirkan kembali mengenai
pergaulan kita. Kalau kita bergaul dengan pencemooh, semua pergumulan kita yang
rohani dihina terus sama mereka, nanti kita jadi pahit hati terus bisa jadi
skeptis terhadap Tuhan, iya ga?

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
1 Kor 15:33

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak
berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
Mazmur 1:1

Terakhir kali, sulit berdoa, seperti kelelahan dan malas itu bisa karena dua
hal:
Pertama, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, karena jiwa kita bergumul
dengan Tuhan. Berkelahi terus dengan Tuhan sehingga kita kering dan menderita.

Kedua, karena diganggu iblis. Ingat, iblis tidak suka Anak-Anak Tuhan bergaul
dengan Tuhan. Mereka mengganggu secara rohani doa kita, memberi pikiran yang
buruk dan mencuri iman. Itulah sebabnya sepanjang pengalaman saya, setelah
selesai berdoa merasa cape luar biasa atau bahkan merasa ada rasa angker,
pikiran buruk bermunculan dll.

Berikut beberapa tips dari pengalaman saya:

Jika sulit mulai berdoa, panggil Tuhan Yesus, minta dibasuh dengan Darah Yesus,
minta diberi tenaga dan kuasa untuk berdoa.

Jika merasa kecapaian setelah berdoa, berdoalah minta tenaga dan kuasa untuk
bergerak dan melakukan hal-hal keseharian kita, jangan malah abis doa tidur.
Tenaga dan kuasa itu pemberian Tuhan untuk pengutusan, ayatnya Lukas 9:1.

Jika perasaan angker, pertama minta ditutup bungkus dengan darah Yesus, minta
Tuhan meruntuhkan kubu-kubu kita dan menawan pikiran, serta mengusir pikiran dan
roh yang bukan dari Roh Allah dalam nama Yesus. Juga, seperti Daud, menguatkan
kepercayaan kepada Tuhan.

Jika kehilangan iman setelah berdoa, pertama menguatkan kepercayaan seperti
Daud, yang kedua mempercayai sifat Tuhan, bahwa Dia murah hati dan tidak menunda
kebaikanNya. Mintalah hikmat agar pikiran kita diganti dengan pikiran Allah.

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia
memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah
hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan
kepadanya.
Yakobus 1:5


Kiranya memberkati Saudara-Saudari semuanya.

Salam sejahtera,

Yohanes Adhi Nugraha





--- On Thu, 5/11/09, titin hasanah <titinhsn@...> wrote:

From: titin hasanah <titinhsn@...>
Subject: Re: [BATUHIDUP] Kuasa Doa
To: batuhidup@yahoogroups.com
Date: Thursday, 5 November, 2009, 8:32 AM
       ada satu lagi konsistensi dalam berdoa

ini yg masih sulit sy lakukan secara pribadi ada kelelahan setelah lama berdoa
tp blm terkabul jg





       Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

#6294 From: titin hasanah <titinhsn@...>
Date: Thu Nov 5, 2009 1:32 am
Subject: Re: [BATUHIDUP] Kuasa Doa
titinhsn
Offline Offline
Send Email Send Email
 
ada satu lagi konsistensi dalam berdoa
ini yg masih sulit sy lakukan secara pribadi ada kelelahan setelah lama berdoa
tp blm terkabul jg




________________________________
From: Yohanes Adhi Nugraha <myjc_adonai@...>
To: batuhidup@yahoogroups.com
Sent: Wed, November 4, 2009 12:48:05 PM
Subject: [BATUHIDUP] Kuasa Doa

Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah
tenang, supaya kamu dapat berdoa.
1 Petrus 4:7

Kesudahan segala sesuatu sudah dekat, hal itu berarti bahwa Tuhan segera datang.
Namun jika Tuhan tidak datang 1000 tahun lagi, sungguh kita harus tetap waspada
karena tanda-tanda akhir jaman telah bermunculan.
Persoalan terbesar dari  tanda-tanda akhir jaman bukanlah mengenai apakah jemaat
akan ditakut-takuti untuk bertobat, justru tidak demikian. Namun, yang menyertai
akhir jaman adalah kesusahan besar, orang akan lebih mementingkan dirinya
sendiri, dosa dibeberkan secara vulgar dan tidak malu, banyak bencana alam dan
lain sebagainya.

Hal itulah yang dapat memicu goyahnya iman kita, Anak-Anak Tuhan yang
dikasihiNya. Hari-hari ini saya pribadi banyak melihat hal-hal buruk dari akhir
jaman. Banyak kerabat dan keluarga yang memisahkan diri dari Kasih Tuhan, mereka
tidak lagi bersekutu dengan Dia, tidak lagi bersekutu di Gereja, karena
kesulitan yang besar pada masa-masa ini. Bagi mereka, ikut Tuhan itu tidak
berguna.

Dalam suratnya, Petrus berkata, karena itu... Dengan kalimat tersebut, Petrus
mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menghadapi akhir jaman ini.
1. Kuasailah dirimu
Jika hari-hari ini kita mengalami kesulitan, baik terlibat hutang, memerlukan
kemenangan, kesembuhan, perlu pasangan hidup, jika masalah menghampiri kita,
kita perlu menguasai diri kita. Jangan kita menjadi panik dan ribut ke sana
kemari, berpikiran kotor dengan bikin cerita sendiri, "wah kalau saya tidak
melakukan ini, maka hal buruk itu bisa terjadi, dll" bahkan mengambil keputusan
ceroboh yang menambah sulit persoalan tersebut.

Selain itu Saudaraku, seringkali ketika kita mengalami masalah, kita mulai
ngomel. Saudara, jika kita ngomel dihadapan manusia, kita menjadi berdosa. Saya
menyarankan ketika Anda mulai ngomel, ngomelnya jangan cari manusia.
Ngomelnya dihadapan Tuhan saja. Selain Anda akan didengarkan, ketika Anda ngomel
dan Anda salah, Tuhan akan mengarahkan Saudara ke jalan yang benar. Tetapi jika
Anda mengomel kepada manusia, selain hati Anda makin kosong, Anda juga bisa
memfitnah orang, dan gosip akan menyebar kemana-mana. Anda sedang membuat
situasi Anda semakin buruk.

Kuasailah diri Anda.

Jika masalah menimpa Anda, pertama kali yang harus dilakukan adalah memandang
Allah Bapa. Mengalihkan pandangan dari masalah Anda dan mengubah pandangan Anda
kepada Bapa. Apa yang membuat Daud berhasil dan berkemenangan? Mengapa dia dapat
menumbangkan Goliath? Karena dia tidak pernah melihat ukuran dari masalahnya.
Dia selalu melihat masalah dari
cara Tuhan melihat. Tidak seperti bangsa Israel dan Saul, mereka melihat ukuran
Goliath besar, maka hati mereka jadi kecil, dan Tuhan jadi kecil dalam pandangan
mereka. Tapi Tuhan kita sesungguhnya besar. Dalam Dia tidak ada yang mustahil,
dan bersama Tuhan kita sanggup menanggung segala perkara. Maka alihkan pandangan
kita dari masalah kepada Tuhan.

2. Jadilah tenang
Jadilah tenang merujuk pada pengendalian emosi kita. Jika kita mengalami
masalah, bukankah kita begitu mudah terpancing untuk marah, untuk panik, namun
kita perlu mengendalikan emosi kita untuk kita dapat berdoa. Banyak orang
Kristen begitu tertimpa masalah mengalami banyak kepanikan, mereka cepat marah
dan memicu pertengkaran. Coba dipikirkan, jika kita bertengkar, bukankah kita
jadi sulit berdoa? Kemarahan dan pertengkaran adalah cara iblis untuk memisahkan
kita dari kasih Tuhan. Dengan bertengkar kita jadi tidak damai, sulit berdoa,
dan kemudian kita mulai tidak berdoa, dan masalah semakin besar, persoalan makin
kacau balau... Segala sesuatu akan makin buruk jika kita gagal mengendalikan
emosi kita.

Sebetulnya, dalam pertengkaran, Tuhan tidak menjadi masalah kita. Tuhan tidak
semerta-merta kemudian menjauh ketika kita berkelakuan seperti setan kepada
orang yang kita kasihi. Ketika kita memutuskan untuk tidak mengendalikan emosi,
dan melakukan kesalahan, Roh Kudus di dalam diri kita berduka, dan roh kita
menderita. Itulah sebabnya dalam pertengkaran, Orang Kristen tidak bisa berdoa.
Tuhan selalu menerima kita ketika kita datang di dalam Darah Tuhan. Jadi Tuhan
bukan masalah kita, kitalah masalah diri kita sendiri.

Karena itu, jadilah tenang.

3. Berdoa
Berdoa adalah bergaul dengan Tuhan, dia mengubahkan hati Tuhan dan membuat Tuhan
berperang bagi kita. Saudara, doa itu perkara dahsyat yang Tuhan berikan kepada
kita. Paling tidak ada lima hal kuasa doa yang dapat kita raih ketika kita
berdoa.

a. Doa menghasilkan mujizat
Dalam 1 Samuel 1, ada anak Tuhan yang bernama Hana. Sepanjang hidupnya, Tuhan
mengijinkan Hana dihina dan disakiti hatinya oleh Penina; Penina memiliki anak,
namun Hana tidak. Namun Hana mengalihkan pandangannya kepada Tuhan, dan Tuhan
menyelamatkan dia. Ketika Hana memiliki anak Samuel, Tuhan sendirilah yang
mempermalukan Penina untuk selamanya. Tuhan kita adalah Tuhan yang membela
umatNya. Haleluya!

b. Doa mengubah hati Tuhan
Yunus 3.
Ketika bangsa Niniwe mendengar kabar dari Yunus bahwa mereka akan membinasakan,
mereka berkabung, bahkan raja mereka membuka jubahnya dan seluruh mahluk hidup
di niniwe tidak makan dan minum. Maka Tuhan mengubah hatiNya dan membatalkan
rencanaNya menghancurkan Niniwe.

c. Doa memenangkan peperangan
Keluaran 17:8-16
Dalam kisah ini, bangsa Israel berperang menghadapi Amalek, dan Musa berdiri di
atas bukit. Ketika tangan musa terangkat, menanglah bangsa Israel, ketika tangan
Musa turun, menanglah bangsa Amalek. Ayat 16 mengatakan :
(16) Ia berkata: "Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan
Amalek turun-temurun."
Saudara, Doa lah yang mengurapi tangan kita untuk berperang, bersama Tuhan kita
akan mengalami kemenangan demi kemenangan.

d. Doa mengubahkan hati kita
Lukas 19
Sama seperti Zakheus yang bertemu dengan Yesus, ya, berdoa adalah bertemu dengan
Tuhan. Pertemuan dengan Tuhan menghasilkan perubahan dalam hidup kita.

Saudara, jika kita berdoa, kita jangan melulu minta berkat. Berdoalah demikian,
"Tuhan penuhi aku." Jangan salah paham, berkat adalah hal yang penting dalam
kehidupan kita. Namun yang lebih penting lagi adalah doa yang menuntut hidup
baru di hadapan Tuhan. Tuhan sesungguhnya telah memberikan hidup baru kepada
kita, namun hidup itu hanya memperbarui roh kita. Sebab jiwa kita terlalu kuat,
kita terlalu percaya diri, terlalu banyak kesulitan, terlalu banyak kejahatan,
hidup baru itu sulit tertampil dalam hidup kita. Justru hidup lama kita yang
usang dan justru mempersulit orang lain lah yang seringkali muncul. Karena
itulah Saudaraku, menjalani hidup di hadapan Tuhan tidak boleh mengeraskan hati
kita. Kita harus berlutut, dihadapan Tuhan dan berdoa, "Tuhan, penuhi aku." Agar
Tuhan menawan pikiran kita, dan sedikit demi sedikit memperbaharui hidup kita
dan mengubah sifat-sifat lama kita. Terlebih lagi, supaya Roh Kudus terpancar
dari dalam hidup kita dan
selain melepaskan dahaga kita, juga menjadi berkat bagi semua orang. (Yoh 4:14)
-----------------------------------------------------------------------

Tulisan ini dituliskan dan dikembangkan bebas dari sari Khotbah Yeremia Cenby
dalam acara Family Blessing tanggal 2 November 2009 di Purwokerto. Saya minta
maaf karena dua hal, pertama isi khotbahnya tidak persis sama dengan yang saya
tuliskan, justru banyak perbedaan dalam pembahasannya, meski poin-poin intinya
sama. yang kedua, saya kehilangan satu point di catatan saya mengenai lima kuasa
doa. Jika ada Saudara-Saudari yang turut hadir, mohon bantuannya untuk
menambahkan.

Pada akhirnya, supaya tulisan ini memberkati semuanya.

Salam sejahtera,

Yohanes Adhi Nugraha


       Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/


------------------------------------

Mailing List  Batu Hidup ---suatu persekutuan lewat internet untuk membangun –
untuk lebih mengenal Kristus dan Gereja Nya
=”Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan
suatu rumah rohani….”( 1 Petrus 2:5)
Jadi bagaimana sekarang saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah
tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu :………………….., tetapi
semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun . ( I Kor 14:26)



Untuk bergabung : batuhidup-subscribe@yahoogroups.com

Nice to Visit: http://batuhidup.blogspot.com/


Yahoo! Groups Links






[Non-text portions of this message have been removed]

#6293 From: Novan Tampubolon <novan_sda@...>
Date: Thu Nov 5, 2009 3:59 am
Subject: Mencari PENULIS SCRIPT BERPENGALAMAN..
novan_sda@...
Send Email Send Email
 
Urgent:

Kami sedang mencari Penulis Script BERPENGALAMAN:
Persyaratannya:
1. Beragama Kristen
2. Tinggal di Jakarta.


Jika ada diantara Saudara/i yang mempunyai kenalan seorang Penulis Script
Berpengalaman, mohon menghubungi kami di: 021-91111300.
Terimakasih, Tuhan memberkati.



Novan Tampubolon
No Action, Nothing Happen..
But When U Take Action,
Miracle Happen...!!!




[Non-text portions of this message have been removed]

#6292 From: Suryana DJ <suryanadj@...>
Date: Thu Oct 29, 2009 3:03 am
Subject: file ppt tentang training management
suryanadj
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Dengan hormat,

Mohon maaf barangkali email ini mengganggu.

Siapa yang mau, file-file ppt tentang training management

Syaratnya, kirim email ke: suryanadj@... (suryanadj at gmail dot com)

TRN-01-chap001-Introduction to Employee Training and Development.ppt
TRN-01-chap002-Strategic Training.ppt
TRN-01-chap003-Needs Assessment.ppt
TRN-01-chap004-Learning - Theories and Program Design.ppt
TRN-01-chap005-Transfer of Training.ppt
TRN-01-chap006-Training Evaluation.ppt
TRN-01-chap007-Traditional Training Methods.ppt
TRN-01-chap008-E-learning and Use of Technology in Training.ppt
TRN-01-chap009-Employee Development.ppt
TRN-01-chap010-Special Issues in Training and Employee Development.ppt
TRN-01-chap011-Careers and Career Management.ppt
TRN-01-chap012-Special Challenges in Career Management.ppt
TRN-01-chap013-The Future of Training and Development.ppt

Terima kasih
Hormat saya

suryana dj
021 93 22 64 38

#6291 From: Yohanes Adhi Nugraha <myjc_adonai@...>
Date: Wed Nov 4, 2009 5:48 am
Subject: Kuasa Doa
myjc_adonai
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah
tenang, supaya kamu dapat berdoa.
1 Petrus 4:7

Kesudahan segala sesuatu sudah dekat, hal itu berarti bahwa Tuhan segera datang.
Namun jika Tuhan tidak datang 1000 tahun lagi, sungguh kita harus tetap waspada
karena tanda-tanda akhir jaman telah bermunculan.
Persoalan terbesar dari  tanda-tanda akhir jaman bukanlah mengenai apakah jemaat
akan ditakut-takuti untuk bertobat, justru tidak demikian. Namun, yang menyertai
akhir jaman adalah kesusahan besar, orang akan lebih mementingkan dirinya
sendiri, dosa dibeberkan secara vulgar dan tidak malu, banyak bencana alam dan
lain sebagainya.

Hal itulah yang dapat memicu goyahnya iman kita, Anak-Anak Tuhan yang
dikasihiNya. Hari-hari ini saya pribadi banyak melihat hal-hal buruk dari akhir
jaman. Banyak kerabat dan keluarga yang memisahkan diri dari Kasih Tuhan, mereka
tidak lagi bersekutu dengan Dia, tidak lagi bersekutu di Gereja, karena
kesulitan yang besar pada masa-masa ini. Bagi mereka, ikut Tuhan itu tidak
berguna.

Dalam suratnya, Petrus berkata, karena itu... Dengan kalimat tersebut, Petrus
mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menghadapi akhir jaman ini.
1. Kuasailah dirimu
Jika hari-hari ini kita mengalami kesulitan, baik terlibat hutang, memerlukan
kemenangan, kesembuhan, perlu pasangan hidup, jika masalah menghampiri kita,
kita perlu menguasai diri kita. Jangan kita menjadi panik dan ribut ke sana
kemari, berpikiran kotor dengan bikin cerita sendiri, "wah kalau saya tidak
melakukan ini, maka hal buruk itu bisa terjadi, dll" bahkan mengambil keputusan
ceroboh yang menambah sulit persoalan tersebut.

Selain itu Saudaraku, seringkali ketika kita mengalami masalah, kita mulai
ngomel. Saudara, jika kita ngomel dihadapan manusia, kita menjadi berdosa. Saya
menyarankan ketika Anda mulai ngomel, ngomelnya jangan cari manusia.
Ngomelnya dihadapan Tuhan saja. Selain Anda akan didengarkan, ketika Anda ngomel
dan Anda salah, Tuhan akan mengarahkan Saudara ke jalan yang benar. Tetapi jika
Anda mengomel kepada manusia, selain hati Anda makin kosong, Anda juga bisa
memfitnah orang, dan gosip akan menyebar kemana-mana. Anda sedang membuat
situasi Anda semakin buruk.

Kuasailah diri Anda.

Jika masalah menimpa Anda, pertama kali yang harus dilakukan adalah memandang
Allah Bapa. Mengalihkan pandangan dari masalah Anda dan mengubah pandangan Anda
kepada Bapa. Apa yang membuat Daud berhasil dan berkemenangan? Mengapa dia dapat
menumbangkan Goliath? Karena dia tidak pernah melihat ukuran dari masalahnya.
Dia selalu melihat masalah dari
cara Tuhan melihat. Tidak seperti bangsa Israel dan Saul, mereka melihat ukuran
Goliath besar, maka hati mereka jadi kecil, dan Tuhan jadi kecil dalam pandangan
mereka. Tapi Tuhan kita sesungguhnya besar. Dalam Dia tidak ada yang mustahil,
dan bersama Tuhan kita sanggup menanggung segala perkara. Maka alihkan pandangan
kita dari masalah kepada Tuhan.

2. Jadilah tenang
Jadilah tenang merujuk pada pengendalian emosi kita. Jika kita mengalami
masalah, bukankah kita begitu mudah terpancing untuk marah, untuk panik, namun
kita perlu mengendalikan emosi kita untuk kita dapat berdoa. Banyak orang
Kristen begitu tertimpa masalah mengalami banyak kepanikan, mereka cepat marah
dan memicu pertengkaran. Coba dipikirkan, jika kita bertengkar, bukankah kita
jadi sulit berdoa? Kemarahan dan pertengkaran adalah cara iblis untuk memisahkan
kita dari kasih Tuhan. Dengan bertengkar kita jadi tidak damai, sulit berdoa,
dan kemudian kita mulai tidak berdoa, dan masalah semakin besar, persoalan makin
kacau balau... Segala sesuatu akan makin buruk jika kita gagal mengendalikan
emosi kita.

Sebetulnya, dalam pertengkaran, Tuhan tidak menjadi masalah kita. Tuhan tidak
semerta-merta kemudian menjauh ketika kita berkelakuan seperti setan kepada
orang yang kita kasihi. Ketika kita memutuskan untuk tidak mengendalikan emosi,
dan melakukan kesalahan, Roh Kudus di dalam diri kita berduka, dan roh kita
menderita. Itulah sebabnya dalam pertengkaran, Orang Kristen tidak bisa berdoa.
Tuhan selalu menerima kita ketika kita datang di dalam Darah Tuhan. Jadi Tuhan
bukan masalah kita, kitalah masalah diri kita sendiri.

Karena itu, jadilah tenang.

3. Berdoa
Berdoa adalah bergaul dengan Tuhan, dia mengubahkan hati Tuhan dan membuat Tuhan
berperang bagi kita. Saudara, doa itu perkara dahsyat yang Tuhan berikan kepada
kita. Paling tidak ada lima hal kuasa doa yang dapat kita raih ketika kita
berdoa.

a. Doa menghasilkan mujizat
Dalam 1 Samuel 1, ada anak Tuhan yang bernama Hana. Sepanjang hidupnya, Tuhan
mengijinkan Hana dihina dan disakiti hatinya oleh Penina; Penina memiliki anak,
namun Hana tidak. Namun Hana mengalihkan pandangannya kepada Tuhan, dan Tuhan
menyelamatkan dia. Ketika Hana memiliki anak Samuel, Tuhan sendirilah yang
mempermalukan Penina untuk selamanya. Tuhan kita adalah Tuhan yang membela
umatNya. Haleluya!

b. Doa mengubah hati Tuhan
Yunus 3.
Ketika bangsa Niniwe mendengar kabar dari Yunus bahwa mereka akan membinasakan,
mereka berkabung, bahkan raja mereka membuka jubahnya dan seluruh mahluk hidup
di niniwe tidak makan dan minum. Maka Tuhan mengubah hatiNya dan membatalkan
rencanaNya menghancurkan Niniwe.

c. Doa memenangkan peperangan
Keluaran 17:8-16
Dalam kisah ini, bangsa Israel berperang menghadapi Amalek, dan Musa berdiri di
atas bukit. Ketika tangan musa terangkat, menanglah bangsa Israel, ketika tangan
Musa turun, menanglah bangsa Amalek. Ayat 16 mengatakan :
(16) Ia berkata: "Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan
Amalek turun-temurun."
Saudara, Doa lah yang mengurapi tangan kita untuk berperang, bersama Tuhan kita
akan mengalami kemenangan demi kemenangan.

d. Doa mengubahkan hati kita
Lukas 19
Sama seperti Zakheus yang bertemu dengan Yesus, ya, berdoa adalah bertemu dengan
Tuhan. Pertemuan dengan Tuhan menghasilkan perubahan dalam hidup kita.

Saudara, jika kita berdoa, kita jangan melulu minta berkat. Berdoalah demikian,
"Tuhan penuhi aku." Jangan salah paham, berkat adalah hal yang penting dalam
kehidupan kita. Namun yang lebih penting lagi adalah doa yang menuntut hidup
baru di hadapan Tuhan. Tuhan sesungguhnya telah memberikan hidup baru kepada
kita, namun hidup itu hanya memperbarui roh kita. Sebab jiwa kita terlalu kuat,
kita terlalu percaya diri, terlalu banyak kesulitan, terlalu banyak kejahatan,
hidup baru itu sulit tertampil dalam hidup kita. Justru hidup lama kita yang
usang dan justru mempersulit orang lain lah yang seringkali muncul. Karena
itulah Saudaraku, menjalani hidup di hadapan Tuhan tidak boleh mengeraskan hati
kita. Kita harus berlutut, dihadapan Tuhan dan berdoa, "Tuhan, penuhi aku." Agar
Tuhan menawan pikiran kita, dan sedikit demi sedikit memperbaharui hidup kita
dan mengubah sifat-sifat lama kita. Terlebih lagi, supaya Roh Kudus terpancar
dari dalam hidup kita dan
  selain melepaskan dahaga kita, juga menjadi berkat bagi semua orang. (Yoh 4:14)
-----------------------------------------------------------------------

Tulisan ini dituliskan dan dikembangkan bebas dari sari Khotbah Yeremia Cenby
dalam acara Family Blessing tanggal 2 November 2009 di Purwokerto. Saya minta
maaf karena dua hal, pertama isi khotbahnya tidak persis sama dengan yang saya
tuliskan, justru banyak perbedaan dalam pembahasannya, meski poin-poin intinya
sama. yang kedua, saya kehilangan satu point di catatan saya mengenai lima kuasa
doa. Jika ada Saudara-Saudari yang turut hadir, mohon bantuannya untuk
menambahkan.

Pada akhirnya, supaya tulisan ini memberkati semuanya.

Salam sejahtera,

Yohanes Adhi Nugraha


       Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

#6290 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Fri Oct 30, 2009 4:07 am
Subject: IT STAFF
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
LOWONGAN KERJA

Kami
perusahaan Penerbitan dan Percetakan Buku Kristiani, mengajak anda yang
menyukai TANTANGAN bergabung bersama kami dengan posisi sebagai


IT STAF / PROGAMMER



Qualifications:
	 * Pria, max 28 years old

	 * Min D3 Teknik Informatika atau Manajemen Informatika

	 * Familiar with Word, Excel, and Internet Literate

	 * Having min 1 year experience as IT-Support / Programmer

	 * dapat bekerja dengan detail, akurat, dan pekerja keras

send your cv complete to :

recruitment@... or PO BOX 4093 JKP 10040



We welcome you to join with us...........................




[Non-text portions of this message have been removed]

#6289 From: Divoriyo Abe <divoriyo@...>
Date: Mon Nov 2, 2009 2:13 am
Subject: Bagi anda yang memiliki kesusahan hidup, berbeban berat.. lagu ini sungguh menguatkan saya..
divoriyo
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Bagi anda yang memiliki kesusahan hidup, berbeban berat, tidak mendengar suara
tuhan..
  mungkin firman lewat lagu ini., dapat  menguatkan saudara.. selamat
mendengarkan .. semoga tuhan memberkati.

Langsung klik aja link ini ya...
GOD BLESS US

http://www.4shared.com/file/144762279/bece6924/Kau_tahu.html





[Non-text portions of this message have been removed]

#6288 From: <yka@...>
Date: Thu Oct 29, 2009 1:24 am
Subject: Re: [BATUHIDUP] DOKTRIN TRITUNGGAL-3 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
yka@...
Send Email Send Email
 
> Rekan-rekan di Batu Hidup,

Ijinkan saya menurut pandangan Alkitab menyampaikan perihal
Allah Tritunggal yang saya pahami selama ini. Ada 2 kata
mengenai Allah Tritunggal secara faktual :1. co exist - hidup berdampingan pada
saat yang sama
2. co inhere -  saling menghuni

Co exist terdapat pada Matius 3:16-17
Pada saat dibaptis, Yesus sang Putra (Anak) ada di situ, ada
suara dari surga yang mengatakan :"Inilah Anak yang Kukasihi
......" dan Roh Kudus turun seperti burung merpati. Jadi ada
tiga oknum berada pada saat yang bersamaan. Ada Bapa, ada
Putra, dan ada Roh Kudus.
Co inhere terdapat di Yohanes 14:20, ( bandingkan dengan 2
Korintus 3:17)Yang mengatakan bahwa "Aku di dalam Bapa-Ku, kamu di dalam Aku,
dan Aku di dalam kamu. (Yohanes 14:20)Sebab Tuhan adalah Roh (2 Korintus)
Aku dan Bapa adalah satu (Yohanes 10:30)
Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan
Roh Kudus menyertai kamu sekalian (2 Korintus 13:13). Yang
menertai kita adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Yang satu mengatakan co exist dan yang satu lagi co inhere. Ini
menyatakan bahwa otak (brain) manusia tidak mampu memahami
perihal Allah Tritunggal secara logika, Efesus 1:17, yang
menyatakan bahwa kita dapat mengenal Dia dengan benar hanya
melalui Roh hikmat dan wahyu.
Ini sekedar pemahaman saya. Kiranya bisa diterima. Mungkin yang
lain boleh nebanvahkan agar saling melengkapi.
Sutawijaya


___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id

#6287 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Fri Oct 23, 2009 10:36 am
Subject: GA Coordinator
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
We’re
one of the most Christian Book Publishing, Printing, Trading Company, and book
store,  Currently seeking the people who
have High motivation to Join With Us to Fullfill our requirement below :

GA Coordinator
	 * Pria / Wanita usia max 30 tahun
	 * Pendidikan minimal D3-S1 Teknik Listrik, Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik
Elektro dan Teknik Telelomunikasi
	 * Pengalaman General Affairs terutama dibidang pemeliharaan gedung dan
telekomunikasi minimal 2 tahun
	 * IPK Minimal 2.75
	 * Berbadan sehat dan tidak buta warna
	 * Berpenampilan menarik dan rapi
	 * Good Attitude & Good Personality
	 * Berdedikasi tinggi dan bertanggung jawab
	 * Dapat berkomunikasi dengan baik
	 * Mampu berbahasa Inggris dengan aktif

DROP YOUR CV TO :
PO
BOX 4093 JKP 10040


OR...SEND EMAIL TO recruitment@...
At
Least 2 Weeks AFTER this Information


We Welcome You to Join With Us…….










__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com




[Non-text portions of this message have been removed]

#6286 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Fri Oct 23, 2009 10:49 am
Subject: Pramuniaga at Jakarta, Surabaya
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
We’re
one of the most Christian Book Publishing, Printing, Trading Company, and book
store,  Currently seeking the people who
have High motivation to Join With Us to Fullfill our requirement below :


Pramuniaga
(U/Penempatan Jakarta : Citra Land&Kwitang,
Malang,Surabaya,Manado,Semarang,Makasar, Medan, Kupang)

	 * Pria / Wanita
	 * Usia : 19 - 23 Tahun
	 * Pendidikan min : SMA Sederajat
	 * Ramah, suka bergaul
	 * Mempunyai kemampuan berhitung dengan cepat dan tepat serta komunikatif
	 * Menguasai Bahasa Indonesia (aktif) dan  Bahasa Inggris (pasif)
	 * Tinggi badan min: Wanita  155 cm dan Pria 165 cm
	 * Tidak berkacamata



DROP YOUR CV TO :

PO
BOX 4093 JKP 10040


OR...SEND EMAIL TO recruitment@...
At
Least 2 Weeks AFTER this Information


We Welcome You to Join With Us…….

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

#6285 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Fri Oct 23, 2009 9:57 am
Subject: Maintenance Coordinator
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
LOWONGAN
KERJA
Kami
perusahaan Penerbitan dan Percetakan Buku Kristiani, mengajak anda yang
menyukai TANTANGAN bergabung bersama kami dengan posisi sebagai



Kepala Maintenance & Engineering
·         Pria
·         Pend Min S1 Teknik Mesin/Industri/Tehnik Grafika
·         Pengalaman di Proses Produksi (Percetakan Min 5
Tahun)
·         Menguasai perbaikan mesin – mesin percetakan,
antara lain Mesin cetak, sord, kord, mesin lipat, mesin Jilid, platemaker
·         Menguasai Maintenance Pabrik spt genset, kompresor,
dan listrik
·         Mampu menganalisa masalah dan kreatif
menciptakan solusi – solusi yang tepat untuk setiap permasalahan yang terjadi
·         Mampu bekerja sama baik perorangan maupun tim
·         Memepunyai skill leadership yang tinggi
·         Cekatan, tekun, tidak gampang mengeluh, detailed
oriented


Kirim
dengan segera surat  lamaran, CV / Daftar
Riwayat Hidup, Fotocopy KTP, Transkip Nilai, dan dokumen pendukung lainnya ke :
PO
BOX 4093 JKP 10040 (tulis kode posisi di bagian kiri atas amplop)
Atau
kirim email ke : recruitment@...(tulis kode posisi sebagai subject email)

…………..Come & Join with us………..




[Non-text portions of this message have been removed]

#6284 From: Dr Ali Senjaya <ali_senjaya@...>
Date: Tue Oct 27, 2009 6:40 am
Subject: [INFO] : Seminar Awam Autis bisa SEMBUH
ali_senjaya
Offline Offline
Send Email Send Email
 
dear all,

semoga iinformasi ini dapat bermanfaat

TERBUKTI : penelitian dapat di download di

www.bio-e.net/images/downloads/succesfull BICOM treatment of central nervous
system.pdf

acara tgl 14 november 2009 jam 17 - 20.30 WIB
di hotel Le Grandeur ManggaDua Jakarta

sudah ada penyandang autis di Indonesia yang di terapi dan menunjukkan
keberhasilan terapi (TESTIMONI)

info lebih detil di

www.medikaedukasi.blogspot.com



salam,
Dr Ali Senjaya
certified bicom therapist


       Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

#6283 From: Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
Date: Sat Oct 24, 2009 11:52 pm
Subject: DOKTRIN TRITUNGGAL-3 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)
dennyteguhsu...
Offline Offline
Send Email Send Email
 
DOKTRIN
TRITUNGGAL-3:

Perkembangan
Konsep Tentang Tritunggal:

Bagian-2:
Pada Masa Kekristenan Awal (Abad 1 M)

 

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko,
Th.M.

 

 

 

 

Tritunggal
Dalam Perjanjian Baru

Kehadiran
Yesus di dunia dengan semua yang Dia lakukan dan ajarkan telah memaksa para
rasul dan jemaat mula-mula untuk memahami Perjanjian Lama dalam perspektif yang
baru. Mula-mula mereka pasti tidak langsung menyadari keilahian Yesus. Seiring
dengan interaksi mereka bersama Yesus mereka terus bergumul tentang identitas
Yesus yang sebenarnya. Bagi mereka, apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus
tampak sangat luar biasa. Sebagai contoh, di awal kebersamaan mereka dengan
Yesus mereka menyaksikan Yesus meredakan angin dan danau dengan kuasa-Nya
sendiri, sehingga memaksa mereka untuk bertanya, “Orang apakah Dia ini,
sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” (Mat. 8:27).

 

Siapakah Yesus di mata
para pengikut-Nya? Ada tiga alternatif[1] yang pasti ada
di benak mereka: (1) Yesus adalah manusia biasa; (2) Yesus adalah malaikat atau
makhluk surgawi; (3) Yesus adalah Allah. Kita akan menyelidiki masing-masing
alternatif ini berdasarkan tulisan para rasul.

 

 

Apakah Yesus adalah
nabi/manusia biasa?

Baik penganut
Trinitarian maupun non-Trinitarian (Unitarian maupun Saksi Yehuwah) mengakui
bahwa Yesus bukan manusia biasa. Kehidupan-Nya dari awal sampai akhir
membuktikan bahwa Dia bukan manusia biasa. Alkitab mencatat dengan jelas bahwa
kelahiran Yesus adalah unik, karena itu Dia disebut Anak Allah (Mat. 1:18, 20;
Luk.
1:35). Sebelum Dia lahir, Dia sudah ada, bahkan Dia ada sebelum segala sesuatu
ada (Yoh. 1:1-3; Yoh. 8:58). Ketika Yesus masih anak-anak, pengetahuan-Nya
tentang Alkitab melampaui kecerdasan para pemuka agama (Luk. 2:46-47). Yesus
sendiri pun sudah menyadari keilahian-Nya sejak Dia kanak-kanak (Luk. 2:49).

 

Selama pelayanan-Nya
Yesus menunjukkan bahwa Dia lebih dari sekadar manusia atau nabi biasa. Dia
menghentikan angin ribut dengan kuasa-Nya sendiri (Mat. 8:26-27).
Dia membangkitkan orang mati dengan kuasa-Nya sendiri (Mrk. 5:35-43//Luk.
8:49-56; Luk. 7:11-17). Dia mengetahui apa yang ada dalam pikiran (Mat.
8:3-4//Luk.
5:21-22; Luk. 6:7-8) atau hati manusia (Mat. 22:18; Yoh. 2:24-25). Dia lebih
besar daripada tokoh-tokoh Alkitab: Yakub (Yoh. 4:12-14), Musa (Yoh. 6:32-35),
Elia (Mat. 17:1-9), dsb.

 

 

Apakah Yesus adalah
malaikat atau makhluk surgawi?

Para rasul tampaknya
tidak mengadopsi kemungkinan ini. Hal ini tampak dari data Alkitab berikut ini:

·       Yesus justru
yang menciptakan malaikat dan sudah ada sebelum segala sesuatu ada (Yoh. 1:3;
Kol.
1:16).

·       Yesus menerima
sembah dari para rasul (Mat. 14:33), sedangkan malaikat tidak mau menerima itu
(Why 19:10; 22:8-9).

·        Para malaikat
bahkan harus menyembah Dia (Ibr. 1:6).

·       Yesus duduk di
sebelah kanan Bapa (Mat. 26:64//Mrk. 14:62//Luk. 22:69; Rm. 8:34; Kol. 3:1; Ibr.
1:3; 8:1; 12:2; 1Pet 3:22); suatu hak istimewa yang tidak disediakan untuk
seorang malaikat pun (Ibr. 1:13).

·        Selama inkarnasi Yesus di dunia, Dia
disebut “untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah daripada
malaikat-malaikat” (Ibr. 2:7, 9).[2] Hal ini
menyiratkan bahwa Dia secara hakekat lebih mulai daripada para malaikat, tetapi
dalam kapasitasnya sebagai manusia, Dia lebih rendah daripada malaikat yang
memang lebih kuat dan berkuasa daripada manusia (2Ptr. 2:11a).

·        Yang tidak kalah
penting, Yesus tidak pernah disebut sebagai angelos (malaikat), padahal kata
ini cukup sering muncul dalam Perjanjian Baru (lebih dari 150 kali).[3]

 

Kaum non-Trinitarian
mengakui bahwa Yesus lebih tinggi daripada para malaikat, tetapi mereka menolak
untuk mengakui Yesus sebagai Allah dalam kapasitas yang sama dengan Bapa.
Sebagai gantinya, mereka mengusulkan bahwa Yesus adalah makhluk surgawi
tertentu yang hakekat-Nya lebih rendah daripada Allah, tetapi lebih tinggi
daripada semua malaikat. Beberapa secara eksplisit menganggap Yesus sebagai
penghulu malaikat (Mikhael).[4]

 

Usulan pertama tidak
akan kita bahas, karena terlalu spekulatif (mengada-ada). Alkitab tidak pernah
mengajarkan keberadaan suatu pribadi khusus yang kemuliaannya terletak di
antara Allah dan malaikat. Konsep seperti ini (biasa disebut “lesser god”)
justru populer di kalangan
filsuf Yunani yang mengadopsi paham dualisme. Menurut mereka, Allah adalah roh
(baik), sehingga Dia tidak mungkin bersentuhan dengan manusia yang bersifat
materi (jahat). Sebagai jalan keluar, Allah yang roh ini memercikkan hakekat
keilahian-Nya menjadi Logos (dalam
neo-platonisme) atau Demiurgos (dalam
Gnosticisme). Jika pihak non-Trinitarian memilih solusi ini, maka ini merupakan
sebuah ironi. Mereka sering kali menuduh pihak Trinitarian yang terpengaruh
filsafat Yunani sehingga merumuskan doktrin Tritunggal yang tidak diajarkan
dalam Alkitab, namun kenyataannya justru merekalah yang terpengaruh oleh
pemikiran filsafat Yunani.

 

Usulan kedua – Yesus
adalah penghulu malaikat [Mikhael] – akan kita bahas sekarang. Argumen pihak
non-Trinitarian dinyatakan secara jelas dalam majalah Saksi Yehuwah yang
terkenal, Menara Pengawal 4/15/1991 halaman 28, “Mengapa kami menyimpulkan
bahwa Yesus adalah Penghulu Malaikat Mikhael?. Firman Allah menyebut hanya satu
penghulu malaikat dan Firman Allah
menyebut malaikat itu dalam hubungan dengan kebangkitan Yesus Kristus: ‘Tuhan
sendiri akan turun dari surga dengan seruan panggilan, dengan suara
penghulu malaikat dan dengan sangkakala
Allah (1Tes. 4:16). Di Yudas 9 kita menemukan bahwa nama penghulu malaikat ini
adalah Mikhael”. Dari kutipan ini terlihat bahwa inti argumen terletak pada:
(1) penghulu malaikat hanya ada satu; (2) penghulu malaikat ini akan datang
kembali sesuai dengan 1Tesalonika 4:16.

 

Berdasarkan penyelidikan
Alkitab yang teliti, kita harus menolak ide bahwa Yesus adalah penghulu
malaikat. Kata Yunani arcangelos (penghulu malaikat)
hanya muncul dua kali dalam Perjanjian Baru (1Tes. 4:16; Yud 9). Meskipun
kata arcangelos dalam dua ayat
tersebut memang muncul dalam bentuk tunggal, tetapi dua ayat tersebut tidak
menginformasikan apa-apa tentang jumlah penghulu malaikat di surga. Kita perlu
bukti-bukti lain untuk memastikan bahwa penghulu malaikat hanya ada satu.

 

Penyelidikan seksama
justru mengarah pada kemungkinan bahwa penghulu malaikat itu lebih dari
satu. Pertama,
dalam 1 Tesalonika 4:16 kata arcangelos muncul
tanpa artikel, sehingga kemugkinan besar menunjuk pada salah satu penghulu
malaikat.[5] Mayoritas
versi Inggris memang menerjemahkan arcangelos di ayat
ini dengan ‘the archangel’,
namun ini tidak sesuai dengan kalimat Yunani yang ada. Ayat ini seharusnya
diterjemahkan “seorang penghulu malaikat”.[6]

 

Kedua,
dalam tradisi Yahudi diajarkan bahwa penghulu malaikat jumlahnya lebih dari
satu. F. F. Bruce, seorang ahli Perjanjian Baru, memberikan penjelasan yang
bermanfaat dalam tafsirannya.

 

Ini meragukan jikalau kita berpikir tentang
[hanya] satu penghulu malaikat malaikat di sini, apakah itu Mikhael atau yang
lainnya...Tradisi
Yahudi mengenal tujuh penghulu
malaikat, “tujuh malaikat yang membawa doa-doa orang-orang kudus dan berdiri
di
hadapan hadirat yang Mahakudus” (Tob. 12:15; bdk. Why. 8:2). Dalam 1 Enoch
20:1-7 (Yunani) mereka disebut sebagai avrcaggeloi (para penghulu
malaikat) dan nama-nama mereka ditulis Uriel, Raphael, Raguel, Michael, Sariel,
Gabriel dan Remiel (Penghulu malaikat di 4 Ezra 4:36 mungkin harus dilihat
sebagai Remiel).[7]

 

Kita memang tidak boleh menjadikan tradisi
Yahudi sebagai standar kebenaran, namun kita tetap perlu merenungkan bahwa
kalau orang-orang Yahudi waktu itu menganggap penghulu malaikat itu adalah
jamak, dari mana para rasul – yang juga adalah orang Yahudi – memiliki ide
bahwa penghulu malaikat itu hanya ada satu? Dari mana mereka mendapat ide bahwa
penghulu malaikat ini adalah Yesus?

 

Ketiga, Perjanjian Lama secara jelas menyebut
Mikhael sebagai salah satu penghulu malaikat. David A. Reed menulis, “walaupun
ia adalah satu-satunya penghulu malaikat yang [namanya] disebut dalam Kitab
Suci, Mikhael ditunjukkan sebagai ‘salah satu pangeran-pangeran
terkemuka’ (Dan 10:13, huruf miring ditambahkan).[8] Hampir
semua versi dengan tepat menerjemahkan frase Ibrani ‘ahad
hasarim di ayat ini dengan “one of the chief princes”
(KJV/NKJV/ASV/NIV/RSV/NASB). Ironisnya, terjemahan Alkitab resmi Saksi Yehuwah
– Terjemahan Dunia Baru - juga menerjemahkan ungkapan ini dengan makna yang
sama.

 

Sehubungan dengan pengidentifikasian Yesus
sebagai penghulu malaikat berdasarkan 1 Tesalonika 4:16, tafsiran ini sangat
tidak logis dan tidak sesuai konteks. Seandainya frase ‘[turun] dengan suara
penghulu malaikat’ berarti Yesus sama
dengan penghulu malaikat, apakah kaum non-Trinitarian mau mengakui bahwa frase
‘[turun] dengan sangkakala Allah’ berarti Yesus sama dengan
Allah?[9] Lihatlah struktur kalimat berikut ini yang dibuat
berdasarkan struktur kalimat dalam bahasa aslinya:

 

Dan Tuhan sendiri

                                        \
        dalam seruan perintah

                                        \
        dalam suara penghulu malaikat

                                        \
        dalam sangkakala Allah

                                akan turun dari
surga                         

 

Argumen lain
untuk membuktikan bahwa Yesus bukan penghulu malaikat Mikhael dapat dilihat
dari perbedaan sikap keduanya dalam penghakiman, khususnya yang berhubungan
dengan iblis. Mikhael tidak berani menghukum Iblis – ia hanya menghardik
dengan
nama Tuhan (Yud 1:)  – tetapi ini
berbeda dengan Yesus. Yesus berkali-kali menghardik setandengan kuasa-Nya
sendiri (Mrk. 1:25; 5:7;
9:25; Mat. 17:18; Luk. 4:35; 9:42).[10]

 

Terakhir, Alkitab
memberikan bukti yang eksplisit bahwa Yesus berbeda dengan Mikhael.Dalam Wahyu
12:1-9 Yesus ditampilkan sebagai
Anak dari seorang perempuan yang sedang berusaha dibunuh oleh naga (ay. 4b-5),
sedangkan Mikhael adalah pemimpin para malaikat yang memerangi dan mengalahkan
naga tersebut (ay. 7-9). Beberapa orang mungkin tergoda untuk melihat ayat 1-9
sebagai dua cerita yang terpisah (seperti disiratkan dalam pembagian perikop
LAI:TB), namun keterkaitan antara dua perikop ini sudah merupakan pendapat umum
di kalangan para penafsir. Hal ini didukung oleh kata sambung “maka” dan
penyebutan “naga itu”
di ayat 7.

 

 

Apakah Yesus adalah
Allah?

Jika Yesus bukan manusia
biasa, bukan malaikat, bukan penghulu malaikat dan bukan pula makhluk surgawi
khusus yang berada di antara Allah dan malaikat, lalu siapakah Yesus itu?
Satu-satunya alternatif yang tertinggal adalah Yesus sebagai Allah. Dalam
bagian ini kita memang tidak membahas bukti-bukti bahwa Yesus adalah Allah
(topik ini akan dibahas tersendiri di bab-bab selanjutnya), namun kita memiliki
alasan kuat untuk mengasumsikan bahwa para rasul sedikit demi sedikit mulai
sampai pada pengakuan bahwa Yesus adalah Allah. Contoh yang paling indah dapat
dilihat dari pengakuan Tomas bahwa Yesus adalah Allah dan Tuhan (Yoh.
20:28).[11] Pengakuan
terhadap keilahian Yesus ini bukan sekadar didasarkan pada kehidupan Yesus,
tetapi juga dukungan yang melimpah dari Perjanjian Lama. Hal ini tersirat dari
kebiasaan mereka yang “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul” (Kis. 2:42)
dan
“penyelidikan kitab suci” (Kis. 17:11; 18:28). Yesus memang titik tolak
dalam
memahami Perjanjian Lama, tetapi hal itu tidak berarti bahwa Perjanjian Lama
telah dipaksa sedemikian rupa oleh Yesus dan para rasul agar sesuai dengan
kehidupan dan pelayanan Yesus.

 

Ketika para rasul dan
gereja mula-mula sudah sampai pada kesimpulan bahwa Yesus adalah Allah, mereka
selanjutnya pasti bergumul dengan isu ketunggalan Allah yang menjadi ciri khas
ajaran Perjanjian Lama (Ul. 6:4). Jika Yesus adalah Allah dalam arti yang
sesungguhnya, maka Dia berhak mendapatkan penyembahan dari umat-Nya.
Persoalannya, mereka dari dulu sudah diajarkan untuk tidak memiliki allah lain
selain TUHAN (Ul. 20:3-5). Jika Yesus adalah “Allah” dalam pengertian
lain,[12] maka Dia tidak
layak untuk disetarakan dengan Allah yang benar maupun menerima penyembahan
dari kita. Yesaya 42:8 “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan
memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain
atau kemasyhuran-Ku kepada patung” (48:11). Yesaya 40:18 “Jadi dengan
siapakah
hendak kamu samakan Allah dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?”
(40:25).

 

Bagaimana para rasul
mengharmonisasikan keilahian Yesus dengan konsep monoteisme Yahudi yang
sedemikian ketat? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahui bahwa
tidak ada satu pun penulis Perjanjian Baru yang memberikan penjelasan secara
khusus dan sistematis tentang doktrin Tritunggal. Hal ini cukup menarik untuk
diperhatikan karena para rasul bersusah-payah dan berkali-kali membicarakan
doktrin ini secara panjang lebar dan khusus, misalnya tentang pembenaran oleh
iman (Rm. 1-5; keseluruhan kitab Galatia), inkarnasi Yesus (1Yoh. 5), dsb. Apa
yang menyebabkan mereka tidak merasa perlu untuk membahas doktrin Tritunggal
secara lebih khusus? Jawabannya adalah mereka sudah menerima keilahian Yesus
secara penuh, paling tidak pada saat kebangkitan-Nya (sama seperti Tomas)! Jika
tidak demikian, maka mereka pasti akan terus mempersoalkan identitas Yesus yang
“tidak jelas”. John Frame mengatakan bahwa mereka tidak berusaha menjelaskan
doktrin Tritunggal secara sistematis, karena doktrin ini memang tidak
kontroversial pada masa awal kekristenan.[13] Doktrin ini baru
menjadi isu hangat dan membutuhkan penjelasan pada abad ke-2 M setelah para
bidat mempermasalahkan kesatuan antara ketiga Pribadi dalam Tritunggal.

 

Dari keyakinan di atas
tidak salah kalau kita menegaskan bahwa doktrin Tritunggal diajarkan di semua
bagian Perjanjian Baru; atau, meminjam istilah B. B. Warfield, “seluruh kitab
memiliki inti yang bersifat Trinitarian”.[14] Dalam bagian ini
kita hanya memfokuskan pada pemunculan Allah Tritunggal secara bersamaan dalam
suatu konteks.[15]

 

Pertama, Matius 28:19.
D. A. Carson mengingatkan kita bahwa pemunculan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus
secara bersamaan di ayat ini pada dirinya sendiri tidak
membuktikan doktrin Tritunggal. Dia lalu memberikan contoh di 1Timotius 5:21
yang memuat “Allah, Yesus Kristus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya”, namun
ketiganya tidak setara.[16] Kita juga tidak
boleh berpikir bahwa “dibaptis ke dalam nama...” menunjukkan pemilik nama
tersebut adalah Allah, karena dalam 1 Korintus 10:2 disebutkan “semua
dibaptis ke Musadalam awan dan
laut” (lihat semua versi Inggris). Bagaimanapun, ayat ini tetap Trinitarian.
Inti dari argumen terletak pada bentuk tunggal dari kata onoma (“nama”).
Pemakaian bentuk tunggal ini jelas menyiratkan kesatuan antara Bapa, Anak dan
Roh Kudus. Dari bentuk tunggal ini paling tidak kita dapat melihat kesetaraan
atau kesatuan antara tiga Pribadi dalam Tritunggal.

 

Frans Donald menolak
nuansa Trinitarian dalam ayat ini dengan memberikan dua argumen: (1) tidak ada
kata “Allah” yang muncul di depan kata Bapa, Anak, dan Roh Kudus; (2)
penyebutan “Bapa, Anak dan Roh Kudus”
harus dipahami dalam arti keselamatan harus melalui pengenalan Bapa sebagai
satu-satunya Allah yang benar (Yoh. 17:3), Yesus sebagai yang diutus Bapa dan
Roh Kudus yang membimbing.[17]  

 

Sanggahan ini didasarkan
pada asumsi logis yang salah dan tidak konsisten. Jika tidak ada kata
“Allah”
di depan Anak dan Roh Kudus berarti mereka bukanlah Allah, bagaimana dengan
kasus Bapa? Bukankah dalam ayat ini pun Bapa tidak disebut memakai kata
“Allah”? Bagaimana dengan teks-teks lain yang memuat kata “Bapa” tanpa
kata
“Allah” di depannya?[18] Jika tiga nama di ayat
ini disebut karena keterkaitan atau peranan mereka dalam keselamatan, mengapa
Matius tidak menambahkan kata “para rasul” atau “para pemberita Injil”?
Bukankah mereka juga berperan dalam
keselamatan seseorang? Paulus bahkan menolak bahwa jemaat Korintus dibaptis
dalam nama-Nya (1Kor. 1:13).

 

Kedua, 1 Korintus
12:4-6. Dalam teks ini Paulus menyatakan bahwa karunia bersumber dari Roh
Kudus, pelayanan dari Tuhan dan perbuatan ajaib dari Allah (Bapa). Dilihat dari
konteks yang ada, teks ini secara eksplisit menyiratkan konsep Tritunggal
(walaupun dalam bagian ini Paulus tidak sedang membicarakan tentang Tritunggal
secara khusus). Para penafsir sepakat bahwa kata “karunia”, “pelayanan”
dan
“perbuatan ajaib” bukanlah tiga hal yang berbeda dan secara eksklusif hanya
berasal dari salah satu Pribadi yang disebut dalam ayat 4-6. Sebagai bukti, di
ayat 9-10 disebutkan bahwa penyembuhan dan mujizat diberikan oleh Roh Kudus
(padahal dua hal ini “seharusnya” masuk kategori perbuatan ajaib di ayat 6).
Selain itu, baik Allah maupun Roh Kudus adalah sama-sama subjek dari kata kerja
“mengerjakan” di ayat 6 dan 11.[19] Kebenaran penjelasan ini
akan semakin terlihat apabila menyadari bahwa ayat 4-6 ditulis dalam gaya
bahasa yang sejajar (paralel). Jika kata benda “karunia”, “pelayanan”
dan
“perbuatan ajaib” merujuk pada hal yang sama/sejajar (atau paling tidak
saling
berkaitan), bukankah teks ini sangat jelas mengindikasikan kesatuan antara
Bapa, Anak dan Roh Kudus?

 

Ketiga, Efesus 4:4-6.
Teks ini menyiratkan makna yang sama dengan 1 Korintus 12:4-6. Kita tidak boleh
mengotak-kotakkan apa yang ditulis di ayat ini, misalnya kesatuan tubuh hanya
berkaitan dengan Roh Kudus saja. Orang-orang percaya di tempat lain justru
disebut sebagai tubuh Kristus (1Kor. 12:27). Demikian pula baptisan tidak boleh
hanya dikaitkan dengan Yesus, tetapi juga dengan Bapa dan Roh Kudus (Mat.
28:19; 1Kor. 12:13). Konteks Efesus 4:1-6 justru menekankan kesatuan orang
percaya
yang terletak pada kesatuan dalam diri Roh Kudus, Tuhan Yesus dan Allah Bapa.
Walaupun Paulus dalam teks ini tidak menyatakan secara eksplisit bahwa
ketiga-Nya adalah satu hakekat, namun kesatuan seperti itu kemungkinan besar
ada dalam pikiran Paulus ketika dia menulis bagian ini.

 

Keempat, teks-teks
tertentu yang menunjukkan bahwa berkat rohani berasal dari Allah Tritunggal
atau paling tidak dari dua Pribadi di antara Tritunggal. Hal ini sering kita
jumpai pada pembukaan surat para rasul yang dimulai dengan ungkapan seperti
“kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus” (1Kor.
1:3;
2Kor. 1:2; Gal. 1:3; Ef. 1:3; 6:23-24; 1Tes. 1:1; 2Tes. 1:2; 1Tim. 1:2; 2Tim.
1:2; Tit. 1:4). Dalam 2 Korintus 13:14 Paulus bahkan menyebutkan ketiga Pribadi
dalam Tritunggal.

 

Kumpulan teks tadi
memang tidak secara eksplisit mengatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah
satu hakekat. Bagaimanapun, kita patut memperhatikan bahwa ketiga-Nya merupakan
sumber berkat. Banyak ayat menunjukkan bahwa posisi Bapa dan Anak adalah sama,
yaitu sebagai pemberi/sumber berkat (bukan sekadar Bapa sebagai sumber dan
Anak/Roh
Kudus sebagai instrumen). Contoh: salam
pembukaan di surat kiriman sering dimulai dengan “kasih karunia dan damai
sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus
Kristus”. Bagaimana dua/tiga Pribadi bisa sama-sama menjadi sumber berkat jika
ketiganya tidak memiliki kesatuan dan kesejajaran?

 

Khusus untuk 2 Korintus
13:14, kita perlu menegaskan bahwa “kasih karunia/anugerah” (caris),
“kasih” (agaph) dan “persekutuan” (koinwnia)
tidak secara eksklusif muncul dari masing-masing Pribadi dalam
Tritunggal. Caris sering dikaitkan
dengan Bapa (Luk. 1:30; Luk. 2:40, 52; Kis. 7:46; 11:23; 13:43; Rm.
5:15), agaph juga sering
dikaitkan dengan Anak (Yoh. 13:34; 15:12; Why 3:9), begitu pula koinwnia tidak
selalu
berhubungan dengan Roh Kudus saja (1Kor. 1:9; 10:16; 1Yoh. 1:6). Semua ayat ini
membuktikan adanya kesatuan yang luar biasa antara Bapa, Anak dan Roh Kudus,
sehingga berkat rohani yang sama dapat muncul secara bersamaan dari ketiga-Nya.
Jika tidak ada kesatuan atau kesejajaran antara ketiga-Nya, bagaimana semua ini
dapat dijelaskan?

 

Terakhir, teks-teks
tertentu yang menyebut Bapa, Yesus dan Roh Kudus secara bergantian seolah-olah
tidak ada perbedaan antara ketiganya atau paling tidak menunjukkan kesatuan
antara ketiganya. Yang termasuk kategori ini adalah Kisah Rasul 16:6-10. Dalam
bagian ini tampak bahwa perjalanan misi Paulus dipimpin oleh Roh Kudus (ay. 6),
Roh Yesus (ay. 7) dan Allah (ay. 10). Perubahan penyebutan seperti ini bukan
sekadar
gaya penulisan, tetapi juga ekspresi spontan gereja mula-mula yang menunjukkan
embrio iman yang bersifat trinitarian.[20]

 

Ayat lain yang penting
untuk diperhatikan adalah 1
Korintus
2:10-16. Di konteks ini Paulus sedang membicarakan tentang rahasia manusia
dapat mengerti pikiran Allah, yaitu melalui Roh Kudus (ay. 10-11). Di ayat 16
Paulus menutup diskusi ini dengan pertanyaan “siapa yang dapat mengetahui
pikiran Tuhan?”. Pertanyaan ini merupakan kutipan dari Yesaya 40:13
menurut LXX.[21] Dalam teks Ibrani,
sebutan yang dipakai bukan “Tuhan” tetapi “Roh TUHAN”. Dari sini
terlihat bahwa
bagi penerjemah LXX dan Paulus, sebutan “Roh TUHAN” sama dengan
“TUHAN”.[22] Menariknya, setelah
Paulus menyamakan “Allah” di 1
Korintus
2:10-11 dengan “Roh TUHAN” (teks Ibrani) maupun “TUHAN” (LXX), dia
justru
menutup pembahasan dengan pernyataan tegas: “kami memiliki pikiran Krisus”.
Menurut Gordon Fee, cara penyebutan seperti ini mengindikasikan keyakinan yang
kuat terhadap doktrin Tritunggal, sekalipun 1 Korintus 2:6-16 tidak secara
khusus
berbicara tentang Tritunggal.

 

 

Teks yang bermasalah: 1 Yohanes 5:7b-8a

Ayat ini terdapat dalam
LAI:TB dan KJV/NKJV, tetapi tidak ada dalam mayoritas versi Inggris yang baru
(RSV/NIV/NASB). Seandainya teks ini asli, maka ayat ini bisa menjadi salah satu
ayat penting dalam membela doktrin Tritunggal. Kenyataannya, ayat ini hampir
dapat dipastikan tidak ada dalam naskah asli Alkitab yang ditulis oleh Rasul
Yohanes. Ayat ini merupakan gubahan atau tambahan dari penyalin Alkitab
beberapa abad setelah surat 1
Yohanes
ditulis.

 

Beberapa argumen yang
mendukung hal ini antara lain:[23]

(1)    Ayat 7b-8a hanya
ditemukan dalam 8 salinan. Empat di antaranya meletakkan ayat ini di bagian
margin sebagai indikasi bahwa ayat ini adalah tambahan.

(2)    Dari gaya bahasa
yang dipakai terlihat bahwa penambahan ini didasarkan pada terjemahan bahasa
Latin Vulgata.

(3)    Di antara
salinan yang memiliki ayat ini, semua salinan tersebut berasal dari abad ke-10
ke atas.

(4)    Ayat ini tidak
pernah dikutip oleh satu bapa gereja pun, padahal kalau mereka mengetahui ada
ayat ini mereka pasti akan memakainya dalam kontroversi seputar doktrin
Tritunggal. Kalau mereka tidak memakai ayat ini, hal itu memberi indikasi yang
jelas bahwa pada zaman mereka ayat ini memang belum ada.

(5)    Ayat ini tidak
ditemukan dalam berbagai terjemahan kuno Alkitab.

(6)    Jika ayat ini
memang ada di naskah aslinya, sulit dimengerti mengapa begitu banyak penyalin,
penerjemah, dan bapa-bapa gereja
tidak mengetahui keberadaan ayat ini. Seandainya mereka mengetahui ayat ini
tetapi sengaja tidak memakai atau bahkan menghilangkan ayat ini, sulit dipahami
mengapa mereka melakukan hal itu. Lebih masuk akal jika kita berpikir bahwa
penyalinan di kemudian hari menambahkan ayat ini daripada berpikir sebaliknya.

(7)    Ayat ini membuat
alur berpikir dan struktur kalimat di ayat 7a ke ayat 8b menjadi terputus.

#











[1]      Sebenarnya masih ada dua alternatif lain, tetapi dua hal ini
tidak mungkin sesuai untuk Yesus, yaitu Yesus sebagai iblis (ini penghujatan
serius!) dan Yesus sebagai binatang (ini tidak kalah merendahkan Yesus!).

[2]      Lebih rendah daripada
malaikat bukan berarti bahwa Dia meninggalkan keilahian-Nya selama inkarnasi
(bdk.
bentuk present tense “[berada] dalam rupa Allah” di Flp 2:6).

[3]      Satu-satunya ayat yang menyebut Yesus sebagai malaikat adalah
dalam terjemahan LXX (Septuaginta) Maleakhi 3:1 di mana mesias yang dijanjikan
disebut Malaikat Perjanjian (ho angelos
ths diaqhkhs).

[4]      Misalnya Saksi Yehuwah yang meyakini bahwa Yesus adalah penghulu
malaikat Mikhael  (WT 11/1879, 48; lihat juga WT 2/15/1979, 31;
WT 12/15/1984, 29; WT 2/1/1991, 17). Mereka berpendapat bahwa nama ‘Mikhael’
adalah nama Yesus Kristus sebelum ia meinggalkan surga dan setelah ia kembali
ke surga (WT 5/15/1969, 307).

[5]      Bandingkan A. Robertson, Word Picture in the New Testament. Vol.
V c1932, Vol. VI c1933 by Sunday School
Board of the Southern Baptist Convention. Oak Harbor: Logos Research System,
1997.

[6]      New King James Version dan Young Literal Translation
menerjemahkan dengan “an archangel” atau “a chief messenger”. Suatu kata
yang tidak
memiliki artikel memang tidak secara otomatis menyiratkan bahwa jumlahnya lebih
dari satu. Beberapa benda sudah sedemikian popular sehingga dengan atau tanpa
artikel pun orang tetap akan tahu benda yang dimaksud. Bagaimanapun, penggunaan
kata arcangelos tanpa artikel di ayat ini tetap signifikan
jika digabung dengan bukti-bukti lain.

[7]      Word Biblical Commentary Vol. 45: 1 and 2 Thessalonians(electronic
ed.). Logos Library System.
Dallas: Word Incorporated.

[8]      Answering Jehovah’s Witnesses: Subject by subject (electronic
ed.). Grand Rapids: Baker Book
House, 1997, c1996.

[9]      Ibid.

[10]     Andhika
Gunawan, Draft Hasil Research tentang Saksi-saksi
Yehuwa (Diktat
Kuliah ‘Bidat dan Aliran’ STT Injili Abdi Allah, tidak diterbitkan), 40-41.
Kaum non-Trinitarian biasanya memakai ayat-ayat tertentu seperti Zakaria 3:2
untuk menunjukkan bahwa Malaikat TUHAN – yang dipercaya kaum Trinitarian
sebagai Allah/Yesus – juga tidak berani menghardik Setan. Sanggahan ini
didasarkan pada terjemahan LAI:TB yang tidak tepat. Di ayat 2a kata “Malaikat
TUHAN” tidak muncul. Dalam teks Ibrani yang muncul adalah kata “TUHAN”
(bdk.
semua versi Inggris memakai “Jehovah” [ASV/YLT] atau “LORD”
[KJV/NKJV/RSV/NASB/NIV]).
Jika ini diterima, maka ucapan di ayat 2 tidak boleh ditafsirkan sebagai
ketidakberanian TUHAN untuk menghardik setan.

[11]     Kelompok
non-Trinitarian mencoba menafsirkan ayat ini sedemikian rupa agar mengaburkan
konsep keilahian Yesus. Mereka memberikan beberapa argument yang terlalu
dipaksakan dan mengada-ada. Lihat pembahasan detil tentang ayat ini di bab-bab
selanjutnya.

[12]     Kelompok
non-trinitarian menganggap bahwa kata “allah” (qeos) yang diterapkan pada
Yesus
memiliki makna yang berbeda dengan kata qeosyang dipakai untuk Bapa. Mereka
mendasarkan
pendapat mereka pada penggunaan kata ‘elohim (Ibrani) atau qeos (Yunani)
yang dalam Alkitab tidak selalu
merujuk pada Allah yang benar. Kata itu dapat dipakai untuk allah kafir (Kel
15:11; Bil. 33:4; Hak 10:6), dewa-dewa (Kej. 35:4; Im 19:4; Kis. 7:43; 14:13;
19:26), iblis (2Kor. 4:4), malaikat atau makhluk surgawi (KJV/NKJV/NIV Mzm 8:6;
Ibr. 2:7), roh tertentu (1Sam. 28:13) atau manusia (Kel 7:1).  

[13]     The Doctrine of God (Phillipsburg: P&R Publishing, 2002),
639.

[14]     “Biblical
Doctrine of the Trinity”, Biblical Doctrines (Grand Rapids: Baker, 1981),
143.

[15]     Dalam
bagian ini kita hanya akan melihat pemunculan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam
kesejajaran yang bersifat umum. Tentang apakah kesatuan dan kesejajaran di
antara ketiga-Nya merupakan kesatuan hakekat akan dibahas secara khusus dalam
bab-bab selanjutnya. 

[16]     “Matthew”, Expositor’s Bible Commentary Vol. VIII,
electronic edition.

[17]     Menjawab
Doktrin Tritunggal (cetakan ke-3; tt:, Borobudur Indonesia
Publishing, 2007), 27-28.

[18]     Frase
“Allah Bapa” hanya muncul kurang dari 30 kali dalam Alkitab. Pemunculan
terbanyak justru kata Bapa yang tidak memakai kata “Allah” di depannya.

[19]     Gordon D.
Fee, The First Epistle to the Corinthians, NICNT (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans
Publishing Company, 1987), 587.

[20]     Expositor’s
Bible Commentary, electronic edition.

[21]     LXX tis egnw noun kyriou kai tis autou symboulos
egeneto hos
symbiba auton. 1 Korintus 2:16a memakai tis gar egnw noun kyriou symbibasei
auton.

[22]     Hal ini mendapat dukungan dari teks Ibrani
Yesaya 40:13-14 yang memakai dua sebutan itu secara bergantian

[23]     Bruce M.
Metzger, A Textual Commentary on the Greek New
Testament (2nd.
ed.; Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1998), 647-649.

 

 

 

Sumber:

h t p ://www.gk ri-ex odus.or g/pag e.php ?DOC-TRI TUNGG L-03

 

 

 

Profil
Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:

Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di
Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja
 

 

 

 

Editor
dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.
"Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang
bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah
hamba-Nya."(1Kor. 7:22)


       Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

#6282 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Wed Oct 21, 2009 9:29 am
Subject: Posisi Pemasaran untuk Cabang Jakarta
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
We’re
one of the most Christian Book Publishing, Printing, Trading Company, and book
store,  Currently seeking the people who
have High motivation to Join With Us to Fullfill our requirement below :


Marketing
Executive


	 * Male/Female
	 * Age max 30 years old
	 *  Min D3 From any major
	 * Having a driving lisence C and having own motorcycle

	 * Able to speak english would be advantage
	 * Experience in book retail would be advantage
	 *  Fresh graduate are welcome (will be trained)
	 * Oriented to achieve goals, strong motivation, confidence, high task
commitment
	 * Can work under pressure, good communication, and  creative person


DROP YOUR CV TO :
PO
BOX 4093 JKP 10040


OR...SEND EMAIL TO recruitment@...
At
Least 2 Weeks AFTER this Information


We Welcome You to Join With Us…….




[Non-text portions of this message have been removed]

#6281 From: Yohanes Adhi Nugraha <myjc_adonai@...>
Date: Wed Oct 21, 2009 1:45 pm
Subject: Re: [BATUHIDUP] tanya neh
myjc_adonai
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Mengenai Pengakuan Iman Rasuli, sepanjang saya tahu GBI mengakuinya. Untuk
Bethany, mereka menggunakannya sebagai pengakuan iman juga. Denominasi yang lain
saya kurang tahu.

Gereja karismatik dan pantekosta, yang mengakui pengakuan iman, tidak
memasukkannya ke dalam liturgi mungkin karena menginginkan ibadah yang lebih
hidup dan mengalir dalam pujian dan penyembahan, jadi mereka tidak ingin kaku
atau mengikuti tradisi tertentu.

Tidak seperti Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli meski maknanya sangat
alkitabiah, tidak ada di dalam Kitab Suci. Konon, pengakuan ini dihafalkan
secara lisan turun temurun di awal kelahiran Gereja untuk menguatkan iman.

Ini adalah Pengakuan Iman Rasuli versi Bethany:
Aku percaya kepada Allah Bapa yang mahakuasa, Khalik langit dan bumi,
Dan kepada Yesus kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita,
Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria,
Yang menderita dibawah pemerintahan Pontius pilatus, disalibkan, mati dan
dikuburkan, turun kedalam kerajaan maut,
Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati,
Naik ke sorga, duduk disebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa
Dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan mati
Aku percaya kepada Roh Kudus;
Gereja yang kudus dan am; persekutuan orang kudus;
Pengampunan dosa;
Kebangkitan daging;
Dan hidup yang kekal.

Salam sejahtera,

Yohanes Adhi Nugraha


--- On Tue, 20/10/09, titin hasanah <titinhsn@...> wrote:

From: titin hasanah <titinhsn@...>
Subject: [BATUHIDUP] tanya neh
To: batuhidup@yahoogroups.com
Date: Tuesday, 20 October, 2009, 1:21 PM













 





                   gw mo tanya knp greja pantekosta gak ada liturgi n pengakuan
iman rasuli?



[Non-text portions of this message have been removed]


































       Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

#6280 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Wed Oct 21, 2009 10:04 am
Subject: Posisi Pemasaran untuk Cabang Kupang
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
We’re
one of the most Christian Book Publishing, Printing, Trading Company, and book
store,  Currently seeking the people who
have High motivation to Join With Us to Fullfill our requirement below :


Marketing
Executive


	 * Male/Female
	 * Age max 30 years old
	 *  Min D3 From any major
	 * Having a driving lisence C and having own motorcycle

	 * Able to speak english would be advantage
	 * Experience in book retail would be advantage
	 *  Fresh graduate are welcome (will be trained)
	 * Oriented to achieve goals, strong motivation, confidence, high task
commitment
	 * Can work under pressure, good communication, and  creative person


DROP YOUR CV TO :
PO
BOX 4093 JKP 10040


OR...SEND EMAIL TO recruitment@...
At
Least 2 Weeks AFTER this Information


We Welcome You to Join With Us…….




[Non-text portions of this message have been removed]

#6279 From: Eva Anggi <eva_ang91@...>
Date: Wed Oct 14, 2009 10:32 am
Subject: Vacancy For Medan - Joint Venture Company Korea
eva_ang91
Offline Offline
Send Email Send Email
 
VACANCY Opened on 10 October 2009


We are a Joint Venture company, Korea -
Indonesia (PMA) located at KIM II-Mabar (Medan), urgently looking for
experienced,
highly qualified, and professionals candidates to fill following positions:


1.Production Manager
 Degree in Mechanical Engineering or Chemical Engineering or equivalent.
 Minimum 5 years in oleochemical industry, with at least 3 years in
managerial capacity.
 Exposure with involvement in newly factory, product / process setup is much
preferred.
 In-depth understanding of manufacturing cycle and good budgetting control is
a must.
 Strong leadership with good analytical and problem solving skill, as well as
dynamic in
planning and result oriented.

2.Accounting & Finance Staff
 Degree in Accountancy or equivalent from reputable university.
 Should have a solid background in Accounts Payable, Accounts Receivable,
General Accounting, Supply Accounting, Manufacturing Accounting and Financial
Reporting
Good knowledge on Corporate Tax
 Knowledge in any accounting / financial software
 Experience in the related field is required for this position
 Proficient in Microsoft Office applications
 Excellent command of written and spoken English

3. EXIM Staff
Min Diploma holder (D3)
Experience in the same position or in shipping or in forwarding is preferred
Able to process all import/export /shipments/ consol docs.
Good knowledge in EXIM and Custom Rule
(Especially about Bounded Zone).
Excellent command of written and spoken English
Excellent in MS Office
Must be honest, responsible, willing to learn, work hard

4. Supervisor
 Minimum Diploma in Industrial engineering or Mechanical Engineering or
Chemical Engineering or equivalent.
 Minimum 3 years experience in the same field
Excellent in MS Office
Able to communicate in English
 Have experience or knowledge in packing process, Logistic or production
process in chemical manufacturing will an advantage

5.Warehouse/Logistic Staff
 Min Diploma holder (D3) in logistic/trade/ economic or equivalent
qualification
 Minimum 3 years experience in the same field
 Posses professional logistic knowledge or procurement processes (warehouse
management system)
Excellent in MS Office
Able to communicate in English

6.Laboratory Chemist
Min Diploma holder (D3) in Analyst Chemistry or Chemistry Industrial or
equivalent qualification
Experience in the same position
Excellent command of written and spoken English
Excellent in MS Office

7.Technical / Maintenance Staffs
Minimum Diploma holder (D3) in Polytechnic Engineering or Mechanical
Engineering or
electro engineering or equivalent
Experience in the same position
Excellent knowledge of boiler system and industrial machinery
Able to work in a team


Interested candidates are invited to send the
application letter within 14 days of this advertisement, attaching copies of
certificates, resume, recent photograph and contact number, quoting the code
positions applied on "Subject" to email : hrd_staffrecruitmen t@...



Only
very shortlist candidates will be contacted


       &quot;Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com&quot;

[Non-text portions of this message have been removed]

#6278 From: Hephata <pkhephata@...>
Date: Fri Oct 23, 2009 5:11 am
Subject: Fw: Newsletter Hephata
pkhephata
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Dear all,

Kami dari Panti Karya Hephata yang melayani orang Batak dan warga penyandang
cacat yang ada di Tapanuli hendak menyambaikan berita pelayanan kami.
Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membacanya.. God bless

Pdt Alaris Sinaga
-
















[Non-text portions of this message have been removed]

#6277 From: Bpk Gunung Mulia <bpkgm@...>
Date: Thu Oct 22, 2009 11:57 am
Subject: GA Coordinator
bpkgm
Offline Offline
Send Email Send Email
 
We’re
one of the most Christian Book Publishing, Printing, Trading Company, and book
store,  Currently seeking the people who
have High motivation to Join With Us to Fullfill our requirement below :

GA Coordinator
	 * Pria / Wanita usia max 30 tahun
	 * Pendidikan minimal D3-S1 Teknik Listrik, Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik
Elektro dan Teknik Telelomunikasi
	 * Pengalaman General Affairs terutama dibidang pemeliharaan gedung dan
telekomunikasi minimal 2 tahun
	 * IPK Minimal 2.75
	 * Berbadan sehat dan tidak buta warna
	 * Berpenampilan menarik dan rapi
	 * Good Attitude & Good Personality
	 * Berdedikasi tinggi dan bertanggung jawab
	 * Dapat berkomunikasi dengan baik
	 * Mampu berbahasa Inggris dengan aktif

DROP YOUR CV TO :
PO
BOX 4093 JKP 10040


OR...SEND EMAIL TO recruitment@...
At
Least 2 Weeks AFTER this Information


We Welcome You to Join With Us…….

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Messages 6277 - 6306 of 6306   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help