Skip to search.
ambon · ambon.com

Group Information

  • Members: 305
  • Category: Indonesia
  • Founded: Aug 31, 1998
  • Language: English
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Messages

  Messages Help
Advanced
Wawancara Dr Tamrin Amal Tomagola di Washington DC   Message List  
Reply Message #9891 of 57169 |
JAWA POS
Rabu, 02/08/2000 - 09:33 WIB

Wawancara Dr Tamrin Amal Tomagola di Washington
Pentolan Konflik Maluku, Satu Mantan, 3 Jenderal Aktif

Washington. Berlarut-larutnya konflik Maluku sama sekali bukan bersumber
dari perang antar agama Kristen dan Islam, melainkan lebih pada skenario
Angkatan Darat TNI. Agama hanya dipakai sebagai alat, baju, dan Angkatan
Darat lah yang memantiknya dengan korek api. Tragedi kemanusiaan yang sudah
mengorbankan ribuan nyawa umat Islam dan Kriten di Maluku, harus diakhiri
secepatnya. Adu domba terhadap kelompok Islam dan Kristen ini pun harus
diketahui masyarakat.

Dosen FISIP-UI DR Tamrin Amal Tomagola menyatakan itu dalam wawancara
dengan wartawan Jawa Pos di Washington DC Ramadhan Pohan. Tamrin yang orang
Maluku dan beragama Islam, kini berada di Amerika Serikat dan melakukan
pelbagai pertemuan. Ilmuwan yang sering terjun ke lapangan ini, berkunjung
ke AS ditemani oleh dokter palang merah di Ambon dr Alex H. Manuputty yang
berlatar belakang Kristen. Karena berasal dari Kristen dan Islam, Tomagola
dan Manuputty sedianya bisa hearing di Kongres AS, namun batal karena
DPR-AS baru memasuki reses.

Dr Tamrin Tomagola berani bicara blak-blakan dan memegang sejumlah data
penting menyangkut konflik Maluku. Bahkan Tamrin menyebut nama mantan dan
para jenderal aktif seperti Wiranto, Daja Suparman, Sudi Silalahi dan Suady
Marasabessy sebagai pentolan yang dalam pengadilan HAM bisa diseret. Tamrin
bahkan berani menceritakan nada ancaman Djaja Suparman terhadap dirinya
ketika bertemu di Jakarta.

Tamrin dan Alex diundang oleh masyarakat kristiani dan muslim Maluku yang
berdomisili di Amerika Serikat. Selama di AS, semua agenda diatur oleh Mary
Tahapary bekerjasama dengan kantor LSM AS, Human Right Watch di Washington
DC.

Selama di AS, DR Tamrin Tomagola dan dr Alex bertemu dengan pihak-pihak
kompeten di Deplu-AS, Kongres dan kalangan LSM-LSM terkenal Amerika di
Washington DC. Wawancara dengan JP berlangsung di taman Dupont Circle,
Tamrin didampingi dr Alex Manuputty, Mary Tahapary Whittinger dan dua
pemuda Maluku pendamping.

Berikut petikannya:

JP: Bisa diceritain kedatangan Anda ke Washington DC ini.
Tamrin: Ini murni masyarakat. Waktu saya diundang. Sus Mary kasih tahu
bahwa sebenarnya keadaan pembantaian dan pembunuhan yang sekarang
berlangsung di Ambon itu, itu tidak bisa diteolerir. Sesuatu harus
dilakukan untuk menghentikan itu, bisa dilakukan dari dalam dan bisa juga
dengan menggunakan tekanan dari luar. Dalam rangka itu kita datang,
menghentikan pembantaian di Ambon, tetapi dengan menggunakan kekuatan dari
luar.

Kekuatan luar itu bisa bersifat 'force' (kekuatan), dan bisa juga berupa
bantuan-bantuan kemanusiaan. Ini yang kita jajaki di sini.Saya mau menerima
tawaran ini, karena, betul, bahwa pembantaian disana sudah berada di luar
batas. Dan perkembangan makin hari makin jelek, karena dua pihak yang
sebenarnya sangat bertanggung jawab di sana itu: Laskar Jihad dan
tentara Angkatan Darat. Ini memperburuk keadaan di sana. Kedua pihak ini
harus dihentikan, dan segala macam ulah mereka di sana.

JP: Bertemu dengan siapa saja di Washington DC?
Tamrin: Bertemu dengan beberapa pihak. Karena yang mengorganisir itu Bu
Mary, tanya sama dia apakah bersedia memberi tahu siapa yang ditemui.
Pertimbangan kedua saya datang ke sini, orang di Indonesia itu kalau
mendengar campur tangan internasional atau bantuan internasional, itu
langsung pikirannya bahwa internasional itu berarti Kristen. Kemudian yang
datang itu adalah Kristen dari Barat yang mau membantu orang-orang Kristen
di Ambon sana. Pikiran seperti ini terlalu apriori, dan tidak benar. Karena
nggak harus otomatis bahwa internasional itu berarti Kristen kan? Nah ada
beberapa kemungkinan. Jadi saya pikir,
barangkali, diskusi tentang kemungkinan bantuan internasional, itu jangan
dianggap lagi diskusi yang tabu. Biasa saja, dan itu sebenarnya suatu hal
yang sebenarnya bisa kita
perbincangkan.

JP: Pihak di Kongres dan pemerintah AS, pertemuannya bagaimana? Apa yang
disampaikan?
Tamrin: Dua-dua nya sudah. Kita sampaikan, menurut penilaian kita secara
pribadi masing-masing tanpa membawa nama lembaga, penilaian saya bahwa
tragedi di Maluku itu tidak bisa lagi dibatasi sebagai tragedi nasional.
Tetapi itu sudah merupakan tragedi kemanusiaan. Karena itu tragedi
kemanusiaan, (maka) setiap manusia di dunia itu punya hak untuk mencampuri.
Jadi kalau dirumuskan dalam bahasa Inggris, saya selalu bilang ''Moluccas
tragedy is a human tragedy'. Therefore, every human being has the right to
interfere. Kedua, tragedi di Maluku, apakah bisa diselesaikan oleh
pemerintah nasional kita? Dengan kekuatan nasional kita itu, dengan tentara
dan polisi? Nah menurut saya, kekuatan nasional kita itu nggak akan mampu
diselesaikan oleh pemerintah RI dengan menggunakan kekuatan tentara kita
dan polisi kita

JP: Mengapa?
Tamrin: Karena tentara sudah berpihak kepada kelompok Islam dan kemudian
membantai kelompok Kristen di Ambon kan? Dalam keadaan di mana aparat
negara sudah berpihak kepada salah satu kelompok, itu bukan lagi konflik
horizontal. Tetapi sudah ada konflik vertikal dengan pihak aparat negara.
Begitu. Jadi, ini bukan lagi social terrorism' saja yang antara sesama
kelompok sosial atau kelompok agama. Tetapi ini sudah tambah lagi (menjadi)
State Terrorism, di mana aparat negara menembaki dan menghujani mortir
desa-desa di sana. Itu nggak bisa dibiarkan.

JP: Lalu?
Tamrin: Jadi, karena itu kalau kita misalnya, secara nasional kita nggak
mampu, wajar kan kita minta tolong pada tetangga kita yang paling dekat,
ASEAN atau lebih jauh lagi ke negara-negara yang mempunyai kekuatan dan
kemampuan untuk itu. Saya pikir, lambat atau cepat, kayaknya, pemerintah
kita itu pada akhirnya harus minta tolong.

JP: Itu yang disampaikan di Washington DC?
Tamrin: Kemudian kita mengusulkan beberapa langkah ke arah itu. Yaitu, apa
artinya bantuan internasional itu. Tadinya banyak orang memakai istiah
intervensi internasional. Mungkin karena sekarang kata 'intervensi' itu
terlalu keras dan mungkin banyak pihak dalam negeri yang tidak mau-- karena
itu menyinggung rasa kebangaan dan kedaulatan nasional-- (maka) sebenarnya
kita bisa pakai istilah 'international partnership' (Kemitraan
Internasional). Jadi tekanannya pada 'kemitraan' dan bukan 'intervensi'.
Kalau pun nanti masuk kekuatan-kekuatan dari luar, itu sebagaian dari yang
luar itu (akan) kerjasama dengan yang di dalam.

JP: Maksudnya?
Tamrin: Jadi misalnya NGO internasional kerjasama dengan NGO nasional. Lalu
international force, itu bekerjasama dengan national force. Jadi ada
kombinasi. Sehingga yang masuk ke Maluku itu bukan semata-mata
internasional. Bukan. Tetapi semacam kemitraan internasional. Itu kalau
misalnya keadaan tidak makin buruk. Kalau keadaan makin buruk dan tidak ada
pihak Indonesia yang bisa bersikap netral, memang sudah agak susah.

JP: Tekanan dari luar itu berarti bisa pasukan, begitu?
Tamrin: Kalau saya pikir, barangkali jangan juga pakai kata tekanan.
Kata-kata seperti 'intervention' dan 'pressure' itu kan nanti orang-orang
Indonesia merasa, terutama kelompok Islam, akan merasa ada sesuatu kekuatan
asing yang mencoba mencampuri dan menekan kita. Kata 'partnership' itu,
saya kira paling bagus. Yakni bukan melulu kekuatan asing, tetapi juga
termasuk kita.

JP: Konkritnya?
Tamrin: Step yang kita usulkan itu begini. Pertama, International Red Cross
(Palang Merah Internasional). Itu harus dibolehkan masuk ke Ambon, masuk
untuk tujuan kemanusiaan. Kedua, kita minta supaya NGO internasional dan
NGO nasional jangan dilarang untuk berkiprah untuk tujuan-tujuan
kemanusiaan di Ambon. Dua langkah ini, ini harus dilakukan sebelum Sidang
Tahunan MPR. Karena, sambil kita ngomong ini sekarang di sini, orang mati
di Maluku. Jadi dua pihak ini, harus dimasukkan segera. Pada saat
petugas-petugas ini masuk, baik dari Palang Merah internasional, NGO
internasional dan NGO nasional, mereka harus diberi jaminan keamanan
minimum. Untuk jaminan keamanan ini, barulah kita ngomong tentang
international force dan national force.

JP: Maksudnya?
Tamrin: Sekarang kan Amerika Serikat dengan militer Indonesia sedang
melakukan latihan di Surabaya dan Jakarta (Marinir). Sebagian dari mereka
itukan sebenarnya bisa dibawa ke Maluku untuk menjaga keamanan
petugas-petugas kemanusiaan tadi. Karena ada 35 ribu orang Ambon Kristen
yang sedang (terancam, red), di hutan antara Wai dan Paso (Gunung-gunung di
Ambon, Buru dan Seram, ditambahkan sendiri oleh dr Alex Manuputty, red).
Mereka terjebak dan memang lari. Kalau mereka turun ke pantai, mereka
dibantai. Jadi, palang merah internasional, NGO internasional dan NGO
nasional mustinya harus dijamin keamanannya oleh suatu 'special force'.
Sesudah itu, kita juga minta supaya Sekjen PBB itu menunjuk atau mengangkat
suatu special envoy untuk melakukan rapid assesment di sana. Jadi,
kemungkinan international intervention dengan internasional force, itu
kemungkinan yang paling akhir. Special envoy itu, bagusnya diambil dari
negara Islam, misalnya Pakistan.
Supaya ini menetralisir kekuatiran orang Islam di Indonesia.

JP: Bagaimana tanggapan dari pihak di Kongres?
Tamrin: kalau prinsip-prinsip tadi bahwa ini tragedi kemanusiaan, itu
setuju. Tetapi gagasan kita mengenai jalan keluar, itu mereka lebih banyak
mendengarkan dan pikirkan. Jadi tidak ada suatu jaminan apa gitu, nggak.

JP: Bagaimana dengan kolaborasi Laskar Jihad dan faksi di dalam militer?
Tamrin: Itu Angkatan Darat sebenarnya. Kalau bilang lebih jelas, bilang
Angkatan Darat.

JP: Apakah itu disampaikan juga dengan pihak Washington soal kolaborasi
itu?
Tamrin: Nggak perlu ya.Hal yang kayak itu nggak perlu disampaikan. Itu
urusan di dalam. Soal siapa di belakang itu, itu nanti kita usahakan di
dalam negeri lah.

JP: Kongresman AS, Joseph Pitts mengatakan konflik Maluku juga sebagai isu
agama. Dia mengaitkan ini dengan Amien Rais yang ditudingnya mendukung
Laskar Jihad.
Tamrin: Sebenarnya, kemarin, dalam penjelasan saya, saya selalu
menganalogikan agama dan suku itu sebenarnya diapakai sebagai sumbu untuk
membakar. Masalah dasarnya itu sebenarnya bukan di agama, tetapi sebenarnya
soal ketidakadilan yang dialami oleh umat Kristen di Maluku selama 10 tahun
terakhir ini. Karena mereka memang banyak didorong keluar dari berbagai
macam lembaga. Dimarginalkan. Jadi bisa dimengerti kalau mereka. Agama
hanya dipakai sebagai kemasan.

JP: Isu agama hanya dipakai?
Tamrin: Isu yang mendasar sebenarnya bukan agama.

JP: Tetapi yang terjadi kan, pihak Kristen dan Islam saling bunuh di
Maluku?
Tamrin: Itu kan pintarnya intelijen Angkatan Darat. Mengobah itu dan
mengadu-domba itu. Kita (Tamrin menyebut suatu lembaga, red) mempunyai data
cukup banyak itu. Bahwa ini semua pekerjaan intelijen Angkatan Darat. Jadi
begini. Di suatu tempat itu banyak jerami kering-- yaitu pertikaian konflik
antar kelompok di suatu tempat tertentu. Angkatan Darat tahu itu, (lalu)
datang bawa geretan (korek api, red), (lalu) dia sulut. Itu sebenarnya yang
disesalkan. Konflik itu tidak diselesaikan secara baik-baik, tetapi
kemudian diselesaikan dengan kekerasan. Kontribusinya Angkatan Darat itu di
situ. Jadi wacananya itu jangan didorong ke wacana Islam-Kristen.
Sebenarnya Islam-Kristen dua-duanya diperalat oleh tentara, untuk
diadu-domba. Untuk agenda mereka (AD, red) sendiri.

JP: Apa agenda tentara itu?
Tamrin: Kalau saya melihat, ada tiga agenda mereka itu. Mereka itu kan akan
kehilangan dwifungsi di tingkat politik nasional. Untuk itu mereka harus
cari substitusi di akar rumput yang mantap. Substitusi itu adalah
territorial grip (cengkeraman teritorial). Cengkeraman teritorial itu hanya
bisa di dapat kalau di suatu tempat ada kerusuhan, kemudian dikirim
tentara. Makin banyak tentara, sampai suatu saat jumlah tentara itu tidak
pantas lagi dengan status daerah militer. Yang tadinya itu Kodim, kalau di
situ sudah enam batalion (maka) harus naik (ke) Korem. Tadinya Korem, kalau
di situ sudah 16 batalion, naik lagi Kodam. Itu kan berarti territorial
grip dari militer makin mantap. Walaupun di tingkat nasional, mereka
kehilangan dwifungsi itu.

JP: Agenda kedua?
Tamrin: Agenda kedua, itu sebenarnya banyak jenderal terkait dengan
Soeharto, itu sangat ketakutan dengan penyeretan Soeharto ke pengadilan.
Karena kalau Soeharto diseret diadili, itu sama dengan kita membuka penutup
'pandora box (kotak pandora). Begitu dibuka, maka semuanya terurai. Dan
yang terurai itu adalah birokrat-birokrat sipil dan militer yang selama ini
memang mendukung dia. Oleh sebab itu, pengadilan Soeharto itu, selama
mungkin diulur. Buying time, ulur waktu terus. Jadi tujuannya untuk
mengalihkan pemerintah pusat, sehingga sibuk dengan itu, lalu masalah ini
tidak diutik-utik. Gitu.

JP: Agenda ketiga?
Tamrin: Agenda ketiga. Ini lebih mutakhir, lebih kontemporer. Yaitu pada
saat jenderal-jenderal yang terlibat dalam kejahatan di Timtim diseret ke
KPP HAM. Penyeretan jenderal-jenderal itu sebenarnya bisa distop oleh Gus
Dur. Tetapi Gus Dur tidak menyetop itu. Itu membuat tentara marah,
jenderal-jenderal marah. Pihak kedua yang membuat mereka marah adalah
Komnas HAM, karena berani-beraninya menyeret jenderal-jenderal ke Komnas
HAM. Negara kita ini kan mayoritas nya Islam. Kemudian kalau terjadi suatu
pembantaian terhadap umat Islam di suatu tempat tertentu, umat Islam
seluruh Indonesia akan bangkit. Coba kita lihat, bulan Desember-Januari,
pada waktu umat Islam di Halmahera dibantai, itu hanya berjarak satu
minggu, ada apel akbar di Monas yang di situ Amien Rais datang. Itu kan
jelas itu. Waktu Apel Akbar
itu, itu kan Gus Dur bilang, ''Ini orang-orang mau menggoyang saya', gitu.
Jadi dampaknya yang dinginkan itu sebenarnya dampak di tingkat nasional.
Dengan cara membantai umat Islam yang ada di Halmahera Utara itu. Umat
Kristen hanya dipakai untuk sebagai pembantai. Sebenarnya bukan mereka,
yang menyuruh-nyuruh ini adalah tentara.

JP: Di masyarakat soal ini masih kabur, siapa yang bertanggung jawab dalam
pembantaian Maluku ini. Kenapa kita tidak ada keberanian menyebut nama
orang, lembaga? Apakah Panglima TNI, KASAD atau siapa?

Tamrin: Saya kira, kita tunjuk saja kelompoknya. Ini kelompok Wiranto
(mantan Pangab, red),
kelompok Sudi Silalahi ( Pangdam V Brawijaya Mayjen Sudi Silalahi, red) ,
kemudian
kelompok Suady Marasabessy (Kasum TNI Letjen Suady Marasabessy, red),
kelompok Djaja Suparman (mantan Pangkostrad yang kini menjabat Dansesko
TNI, red), dan juga orang-orang itu, yang di belakang ini semua.

JP: Mereka itu masih bermain?
Tamrin: Iya. Dan dana yang dicurahkan itu, besar.

JP: Penyandang dananya siapa?
Tamrin: Penyandang dananya itu, kalau menurut George Junus Aditjondro,
menduga dari kelompok kroni-kroni Soeharto. Konglomerat. Sekarang ditambah
lagi dugaan bahwa itu Fuad Bawazier, Ginandjar Kartasasmita, orang-orang
dari Poros Tengah itu. Memang pihak Poros Tengah ini perlu dicurigai
sebagai penyandang dana. Kenapa. Poros Tengah ini dari awal itu sebenarnya
tidak ingin Megawati jadi Wapres.Mereka kutak-katik segala macam, akhirnya
GUs Dur yang naik. Megawati itu adalah orang yang bertanggung jawab untuk
penyelesaian konflik Maluku, Papua dan Riau. Nah kalau Maluku ini nggak
selesai-selesai, itu kan angka merah buat Megawati. Jadi di situ ada target
politik terhadap Megawati dari kelompok Poros Tengah.

JP: Dalam ledakan konflik Maluku yang masih terjadi sekarang, bagaimana
posisi dan kontribusi Presiden Gus Dur?
Tamrin: Kalau bilang bahwa dia punya kontribusi, itu ada istilah HAM yang
by omission (kelalaian, red) dan by commission. Kalau pun dia punya
kontribusi, itu by omission, artinya kelalaian melakukan secara cepat.
Tetapi kita nggak boleh berhenti di situ kan, kenapa dia sampai lalai?
Karena dia (Presiden Gus Dur, red) itu sebenarnya tidak mempunyai jenderal
lapangan untuk menyelesaikan ini. Dia hanya punya jenderal pemikir seperti
Agus Wirahadikusumah, yang kalau di ruang seminar omongannya hebat. Tetapi
kalau misalnya menggerakkan pasukan dan bagaimana menyelesaikan secara
operasional pertikaian di lapangan, jenderal itu dia (Gus Dur, red) nggak
punya. Kolonel-kolonel dan letkol seperti itu (pun) dia nggak punya.

JP: Itu dipunyai oleh Wiranto?
Tamrin: Oleh Wiranto. Dan kebanyakan pangdam itu kan pangdam-nya Wiranto
dan kolonelnya Wiranto. Sehingga tidak ada artinya, misalnya, Pangdam
Pattimura itu diganti, tapi dua orang kolonel yang beroperasi di situ tidak
diganti. Itu nggak ada artinya apa-apa. Karena dua orang kolonel itu yang
kutak-katik, kenapa nggak diganti?

JP: Di media massa disebut tentara berpihak Islam, sedangkan polisi
berpihak Kristen. Benar itu?
Tamrin: Pak Manuputty yang di Ambon menjawabnya. (Tamrin mempersilahkan dr
Alex Manuputty yang kemudian menjawabnya, red).

dr Manuputty: Sebenarnya itu tidak bisa dibenarkan. Kalau kita lihat
kenyataan lapangan, jelas-jelas tentara berkolaborasi dengan Jihad.
Sepanjang bantuan militer satu setengah tahun, kalau kita bandingkan dengan
darurat sipil yang berlaku 1 Juli, saya hitung selama 17 hari darurat
sipil, itu sudah 9 daerah Kristen yang porak-poranda. Rumah habis, harta
benda habis, orangnya mengungsi, naik ke gunung. Kenapa demikian. Itu
karena tentara dicabut oleh (Pangdam) I Made Yasa. Di seluruh daerah
perbatasan, tentara dicabut, dan di tarik ke titik-titik kuat. Nggak tahu
apa yang dia maksud titik kuat itu. Menurut dia, kalau ada konflik, dia
perintahkan tentara ke daerah konflik. Bagaimana bisa? Fasilitas terbatas.
Nah sedangkan polisi itu terbagi dua, kesan saya, asrama polisi dan
instalasi polisi di Tantui, itu juga diobrak-abrik sama tentara dan Jihad.
Dari polisi terbagi, yang Kristen lari ke Kristen, yang Islam lari ke
Islam. Karena apa? Karena perasaan-perasaan yang tidak puas atas tindakan
tentara. Jadi soal bahwa tentara ke Islam dan polisi ke Kristen, itu tidak
sepenuhnya benar. Polisi, terbagi dua. Sedangkan tentara, sudah jelas
melabrak Kristen. Sudah jelas. Jadi orang Kristen di sana kalau tidak
di-backup, mati semua. Kalau buat saya, Gubernur (Latuconsina, red),
Pangdam dan Kapolda, tidak mampu melakukan sesuatu. Mereka beretorika, tapi
nggak pernah dijalankan.

JP: Anda menyebut skenario tentara. Pangdam baru di Maluku dan Gubernur
Saleh Latuconsina ada di poros mana? Apakah mereka ada dalam agenda AD?
Tamrin: Gubernur Latuconsina itu kan dalam kerangka pertarungan dengan
Pangdam yang lama. Saya kira di Pattimura isunya bukan Pangdam. Isunya
adalah dua orang kolonel di bawah itu. Itu yang harus diganti, satunya
asisten intel, satunya asisten teritorial. Asisten teritorial itu yang
memprovokasi yang Kristen, sedangkan asisten intel itu memprovokasi yang
Islam. Pada level leadership yang pertama dari dua kelompok, mereka tahu,
mereka dapat order dari siapa. Tapi oleh perwira yangb kedua dan ketiga di
bawah, itu mereka nggak tahu. Jadi kapitan lapangan sama anak-anak yang
bunuh-bunuhan di bawah itu nggak tahu siapa yang mengadu-domba mereka. Tapi
yang menerima order langsung dari asisten teritorial dan asisten intel, itu
tahu. Jadi kalau mau ganti, sebenarnya yang dua orang itu.

JP: Soal ini sudah disampaikan ke Presiden Gus Dur?
Tamrin: Sudah, dari bulan Maret. Kita (ada dua lembaga yang disebut Tamrin,
red) kasih ada seribu halaman, 40 halaman summary dan selebihnya itu
sebenarnya data, secara kronologis. Kita tunggu tindakan dari Gus Dur,
sampai sekarang nggak ada tindakan.

JP: Kenapa bisa begitu?
Tamrin: Karena di dalam Angkatan Darat, dia (Gus Dur) mempunyai cengkeraman
yang cukup lemah. Karena itu sekarang, saya lihat kemungkinannya, Gus Dur
itu, dengan isu Maluku ini, concern dari pihak luar (terutama Amerika
Serikat) kan besar. Nah padahal AS itu sedang menerapkan embargo senjata
terhadap Indonesia. Yang paling menderita terhadap embargo ini, bukan
Angkatan Darat. Tetapi Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Sehingga dari segi

kekuatan, Angkatan Darat lebih kuat dari ini. Dan yang dua ini (AL dan AU,
red), sebenarnya basis kekuatan Gus Dur. Bukan di Angkatan Darat. Karena
itu, Maluku ini tidak bisa diselesaikan, sebab Angkatan Darat ini menguasai
masalah Maluku sepenuhnya. Jadi dengan begitu AS ribut tentang Maluku, dia
punya kekuatan: Oke, kalau gitu, cabut dulu itu embargo senjata, supaya
saya bisa bangun Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Di situ dia cari
basisnya. Kalau ini dia bisa gunakan untuk menyelesaikan Maluku, bisa.
Sedangkan Angkatan Darat itu tidak diikutkan dalam training barusan.

JP: Apa artinya ini semua?
Tamrin: Jadi ini agak tricky (rumit, red) ini. Dengan kasus Maluku, AS dan
dunia luar ribut, tapi AS punya embargo. Dia (Gus Dur, red) bilang oke,
kamu perduli, (maka) cabut dulu
embargo, dan saya mau bangun Angkatan Laut ini, mereka kuat, supaya ini
menjadi kekuatan yang bisa saya pakai. Bukan hanya untuk menyelesaikan
Maluku, tetapi seluruh masalah Indonesia lainnya yang dicengkeram oleh
Angkatan darat selama ini. Jadi, tricky nya ini di situ. Saya bilang begitu
ke (NGO AS), kalau kamu tetap dengan embargo senjata, dia nggak bisa buat
apa-apa. Karena Angkatan Darat, dia (Gus Dur) nggak kuasai. Dia cuma kuasai
bagian pemikirnya itu. Operasional itu nggak dikuasainya, karena itulah
Maluku terkatung-katung. Itulah sebabnya dia mencari basis yang kuat di dua
angkatan ini (AL dan AU, red).

JP: Bagaimana dengan Panglima TNI Widodo? Apa dia terkait konspiasi
militer?
Tamrin: Jelas dia sangat setuju dengan ide itu (ide penguatan AL dan AU,
red). Dia nggak termasuk (konspirasi, red). (Masalah Maluku red) Ini
kelompok Wiranto.

JP: Bagaimana dengan Kasad Tyasno Sudarto? Menurut Anda, dia tersangkut?
Tamrin: Saya kurang tahu, soal Tyasno Sudarto. Yang saya tahu persis itu
Wiranto, Sudi Silalahi, Suady Marasabessy, Djaja Suparman. Saya kira, empat
orang itu pentolan. Pentolan itu. Kalau dalam (pengadilan internasional,
red) HAM, itu sudah musti harus diseret ke pengadilan itu. Nggak bisa lagi
dibiarkan. Itu mereka berlumuran (darah, artinya terlibat, red). Saya kan
pernah diundang Dajaja Suparman ke rumahnya, jam 11 malam, ngomong sampai
jam 3 pagi. Kurang lebih, message (pesan, red) nya itu, dia ngancam saya.
Dia ngutip satu lagu populer: Jangan ada dusta di antara kita. Kalau ada
dusta di antara kita, (maka, red) cinta bisa berubah menjadi benci. Selama
pembicaraan dia mendominir, dan saya biarkan saja. Waktu saya mau pulang,
saya yakin bahwa orang ini harus dilawan, at all cost. Selama kita bicara
dia pegang sebuah koran, yang ada wawancara saya, bahwa kasus Ambon
tergantung militer. Koran itu dia pegang, dia kipas-kipas, dan bilang: Ini
anak buah saya sudah kenal kamu semua ini dan habib-habib sudah tanya orang
ini mau diapakan. Nah, dari situ saya tahu bahwa Djaja Suparman punya link
dengan habib-habib, termasuk Front Pembela Islam itu. Dia sendiri bilang
kok, waktu itu, sama saya. Saya bilang orang (Djaja Suparman, red) ini
berbahaya. (pohan/JP13)

http://www.jawapos.com/hotnews/20000802-093308.htm
Jawa Pos Online Copyright © 1996-2000 Jawa Pos



--------------------------------------------------------------------
Do you do business in Greater China ?
Get more customers by using Domain Name in Chinese
Protect your company name and register before it is taken.
Go to http://www.chinese-dns.com and register online in real time!



Wed Aug 2, 2000 6:13 am

tali_hulaleng@...
Send Email Send Email

Message #9891 of 57169 |
Expand Messages Author Sort by Date

JAWA POS Rabu, 02/08/2000 - 09:33 WIB Wawancara Dr Tamrin Amal Tomagola di Washington Pentolan Konflik Maluku, Satu Mantan, 3 Jenderal Aktif Washington....
tali_hulaleng
tali_hulaleng@... Send Email
Aug 2, 2000
6:14 am
Advanced

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help